Docstoc

Provinsi Sumatera Utara - PDF

Document Sample
Provinsi Sumatera Utara - PDF Powered By Docstoc
					EVALUASI TIGA TAHUN PELAKSANAAN RPJMN 2004-2009 DI PROVINSI SUMATERA UTARA

EKPD 2008

Laporan Akhir
Universitas Sumatera Utara Medan

KATA PENGANTAR

Pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Periode 2004-2009 telah menyelesaikan tahun ketiga. Sebagaimana tertera dalam siklus proses pembangunan, setelah pelaksanaan maka dilakukan evaluasi untuk mengetahui seberapa jauh tujuan dan sasaran dan target-target pembangunan yang direncanakan dapat dicapai, dan masalah-masalah apa yang dihadapi. Berdasarkan hasil evaluasi ini maka dapat disusun kebijakan dan perbaikan/penyesuaian rencana tahun berikutnya. Dengan demikian, pelaksanaan pembanguan pada tahun berikutnya akan semakin berhasil mencapai tujuan, sasaran dan target yang ditetapkan. Laporan ini adalah hasil evaluasi pelaksanaan RPJMN 2004-2009 tahun ke tiga di Daerah Sumatera Utara. Dalam evaluasi ini, kondisi pembangunan di Daerah Sumatera Utara pada awal RPJMN yaitu tahun 2004 dievaluasi dan dijadikan sebagai basis untuk dibandingkan dengan capaian pelaksanaan pembangunan tahun ke tiga yaitu 2007. Dari hasil pembandingan ini diperoleh gambaran tentang tingkat keberhasilan pembangunan pada tahun ketiga. Berdasarkan hasil evaluasi ini kemudian disusuun rencana tindak lanjut untuk pelaksanaan pembangunan pada tahun berikutnya. Data-data yang digunakan dalam pelaksanaan evaluasi ini sebagian besar berupa data formal yang dikeluarkan oleh Kantor Biro Pusat Statistik Sumatera Utara dilengkapi dengan informasi dari berbagai kalangan pemangku kepentingan di Daerah Sumatera Utara serta pengalaman tim evaluasi yang telah cukup banyak terlibat dalam berbagai kegiatan yang berhubungan dengan pembangunan Daerah Sumatera Utara. Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bappenas atas kepercayaan yang diberikan kepada Universitas Sumatera Utara untuk melakukan evaluasi kegiatan pembangunan nasional di daerah ini. Kami sangat mengharapkan agar hasil evaluasi ini berguna bagi baik bagi kepentingan nasional maupun bagi daerah Suamtera Utara tidak terkecuali bagi Uinversitas Sumatera Utara.

Medan, 21 Desember 2008 Rektor,

Prof. Chairuddin P. Lubis, DTM&H, Sp.A(K) NIP. 130 365 289.

i   

DAFTAR ISI

Halaman Kata Pengantar ................................................................................................................................. i Daftar isi ............................................................................................................................................. ii Daftar Tabel ........................................................................................................................................ v Daftar Gambar/Grafik........................................................................................................................... vii BAB I Pendahuluan ........................................................................................................................ 1 Bab1.1. Pengantar............................................................................................................... 2 Bab1.2. Evaluasi internal pembangunan............................................................................. 5 Bab1.3. Tujuan / Sasaran Hasil Evaluasi Internal .............................................................. 8 Bab1.4. Metodologi dan Pendekatan Evaluasi..................................................................... 9 Bab1.5. Sistematika /Outline Laporan.................................................................................. 12 BAB II Agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai ...................................................... 14 Bab 2.1. Pengantar agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai......................... 15 Bab 2.2. Peningkatan rasa saling percaya............................................................................ 16 Bab 2.3. Pengembangan kebudayaan yang berdasarkan pada nilai - nilai luhur.................. 23 Bab 2.4. Peningkatan keamanan ketertiban dan penanggulangan kriminalitas................... 28 Bab 2.5. Pencegahan dan penanggulangan separatisme .................................................. 40 Bab 2.6. Pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme .......................................... 44 Bab 2.7. Peningkatan kemampuan pertahanan negara ....................................………….... 48 Bab 2.8. Pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional ........... 53 BAB III Agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis ..................................…………. 56 Bab 3.1. Pengantar agenda mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis ………........ 57 Bab 3.2. Pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum ...………...…………........ 60 Bab 3.3. Penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk ………...…………………......... 65 ii   

Bab 3.4. Penghormatan, pemenuhan dan penegakan atas hukum dan pengakuan atas HAM ..………...…………..………...………...…………………...... 72 Bab 3.5. Peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak ……..………...………...………………….... 76 Bab 3.6. Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah ………...………………….. 81 Bab 3.7. Pencapaian tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa ...…………………..... 85 Bab 3.8. Perwujudan lembaga demokrasi yang semakin kokoh ...………………………...... 91 BAB IV Agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat ………...……………………………………….. 94 Bab 4.1 Pengantar agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat …………………………… 95 Bab 4.2 Penanggulangan kemiskinan ………...……………………………………………….. 102 Bab 4.3 Peningkatan investasi dan ekspor non migas ……………………………………..... 115 Bab 4.4 Peningkatan daya saing industri manufaktur ………………………………………... 123 Bab 4.5 Revitalisasi pertanian ………...………………………………………… ……….. 134

Bab 4.6 Pemberdayaan kooperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah .……………….. 163 Bab 4.7 Peningkatan pengelolaan BUMD……………………………………………...………..151 Bab 4.8 Peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi ……………………….. 154 Bab 4.9 Perbaikan iklim ketenagakerjaan………………………………………………………. 157 Bab 4.10 Pemantapan stabilitas ekonomi makro……………………………………………….. 163 Bab 4.11 Penanggulangan perdesaan ………………………………………………………….. 168 Bab 4.12 Pengurangan ketimpangan wilayah ………………………………………………….. 173 Bab 4.13 Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan yang berkualitas ………..... 176 Bab 4.14 Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih berkualitas………………………………………………………………………… 191 Bab 4.15 Peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial ……………………………... 204 Bab 4.16 Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga ………………………………………………………….. 212 Bab 4.17 Peningkatan kualitas kehidupan beragama ………………………………………… 220 iii   

Bab 4.18 Perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan Pelestarian mutu lingkungan hidup …………………………………………………………………. 224 Bab 4.19 Percepatan pembangunan infrastruktur……..……………………………………….. 229 BAB V Isu-Isu Strategis Sumatera Utara ………………….…………………………………………… 249 5.1 Pengantar ……………………………………………….…………………………………….. 250 5.2 Isu-isu Strategis ……………………………………………….……………………………… 251 5.3 Urgensi Penanganan Isu Strategis ………………………….…………………………….. 270

iv   

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Banyaknya peristiwa kejahatan/pelanggaran yang dilaporkan menurut jenis kejahatan/pelanggaran…………………………………………………………………………... 31 Tabel 1.2 Banyaknya peristiwa kejahatan/pelanggaran yang dilaporkan menurut jenis kejahatan/pelanggaran ………………………………………………………………………….. .32 Tabel 1.3 Perkara perdata yang masuk dan telah diputuskan menurut daerah pengadilan tahun 2005..……………………………………………………………………….. 32 Tabel 1.4 Perkara perdata yang masuk dan telah diputuskan menurut daerah pengadilan tahun 2006..…………………………………………………………….………….. 33 Tabel 1.5 Total perkara perdata yang masuk dan telah diputuskan menurut daerah pengadilan tahun 2005…………………………………...…………………………………….. 33 Tabel 1.6 Perkara pidana yang masuk dan telah diputuskan menurut daerah pengadilan tahun 2006…………………………………………………………………………. 34 Tabel 1.7 Total perkara pidana yang masuk dan telah diputuskan menurut daerah pengadilan tahun 2005………………………….…………………………………….. 34 Tabel 1.8 Jenis kejahatan yang dilakukan anak-anak (usia 18 tahun ke bawah)…………………….. 35 Tabel 1.9 Total kejahatan yang dilakukan anak-anak (usia 18 tahun ke bawah)…………………….. 35 Tabel 1.10 Kasus tindak pidana yang dilakukan anak di LAPAS kelas II Medan…………………….. 36 Tabel 1.11 Kasus trafficking yang ditangani lembaga…………………………………........................... 37 Tabel 1.12 Kasus kekerasan dalam rumah tangga yang ditangani lembaga………………………….. 37 Tabel 3.1 Jumlah anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara menurut jenis kelamin.......................... 66 Tabel 3.2 Trafficking anak di Sumatera Utara……………………………………………......................... 70 Tabel 4.1 Perkembangan IPM Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004-2007………….......................... 96 v   

Tabel 4.2 Tingkat melek Huruf provinsi Sumatera Utara 2004-2007………………….......................... 97 Tabel 4.3 Perkembangan tingkat harapan hidup provinsi Sumatera Utara tahun 2004-2007......….... 98 Tabel 4.4 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Utara …………………......................... 111 Tabel 4.5 Jumlah tenaga kerja pada PMDN di Sumatera Utara ………………………......................... 119 Tabel 4.6 Jumlah industri sedang dan besar di wilayah barat dan wilayah timur di provinsi Sumatera Utara 1983-2004 (unit).……………………………….............................. 125 Tabel 4.7Jumlah industri, value added industri dan tenaga kerja 1994-2004………………................ 126 Tabel 4.8 Investasi penanaman modal dalam negeri di provinsi Sumatera Utara (juta Rp.).………... 127 Tabel 4.9 Penyebaran jenis industri PMDN di wilayah barat dan timur provinsi Sumatera Utara 1984-2004…………............................................................................... 129 Tabel 4.13.1 Tingkat pendidikan masyarakat Sumatera Utara 2004………………….......................... 178 Tabel 4.13.2 Jumlah sarana sekolah di Sumatera Utara ………………………………......................... 179 Tabel 4.13.3 Jumlah guru dan dosen di Sumatera Utara………………………………......................... 182 Tabel 4.13.4 Rasio guru per sekolah si Sumatera Utara……………………………….......................... 189 Tabel 4.14.1 Statistik sarana kesehatan di Sumatera Utara…………………………......................... 193 Tabel 4.14.2 Jumlah dokter di Sumatera Utara………………………………………….......................... 194 Tabel 4.15.1 Penyandang masalah kesejahteraan sosial………………………………........................ 206 Tabel 4.15.2 Penyandang masalah kesejahteraan sosial 2007……………………….......................... 209 Tabel 4.15.3 Jumlah keluarga pra sejahtera/sejahtera 1 menurut kabupaten/kota di Sumatera Utara...... 211 Tabel 4.16.1 Banyaknya pasangan usia subur dan akseptro aktif di Sumatera Utara……………….. 214 Tabel 4.16.2 Pasangan usia subur dan akseptor aktif di Sumatera Utara hingga tahun 2006………. 217 Tabel 4.17.1 Perkembangan rumah ibadah di Sumatera Utara……………………….......................... 222 Tabel 4.19.1 Kategori jalan di Sumatera Utara……………………………………………………………. 231 Tabel 4.19.2 Jenis pembangkit tenaga listrik dan daya (MW) di Sumatera Utara…………………….. 245 Tabel 5.1 Isu-isu strategis dan skala prioritas penanganan……………………………………………. 270 vi   

DAFTAR GAMBAR / GRAFIK

Gambar 4.1 Peta provinsi wilayah Sumatera Utara…………………………………........................... 95 Gambar 4.2 PDRB wilayah Sumatera Utara……….……………………………………………………. 103 Gambar 4.3 Pertumbuhan ekonomi per wilayah Sumatera Utara …………………........................... 104 Gambar 4.4 Pertumbuhan ekonomi sektoral Sumatera Utara ………………………......................... 105 Gambar 4.5 Klasifikasi wilayah kabupaten dan kota provinsi Sumatera Utara ……......................... 107 Gambar 4.6 Jumlah dan Presentase Orang Miskin…………………………………….......................... 110 Gambar 4.7 Trend pertumbuhan ekonomi provinsi Sumatera Utara ……………….......................... 112 Gambar 4.8 Nilai rencana dan realisasi PMDN…………………………………………........................ 116 Gambar 4.9 Rencana dan realisasi jumlah proyek PMA………………………………......................... 118 Gambar 4.10 Jumlah tenaga kerja pada PMA di Sumatera Utara……………………......................... 119 Gambar 4.11 Trend ekspor import sumatera utara…………………………………….......................... 120 Gambar 4.12 Penyebaran PMDN wilayah di provinsi Sumatera Utara …………….......................... 128 Gambar 4.13 Jumlah industri besar dan sedang di Sumatera Utara ……………….......................... 132 Gambar 4.14 Jumlah industri besar dan sedang menurut golongan…………………......................... 132 Gambar 4.15 Pertumbuhan subsektor pertanian Sumatera Utara ………………….......................... 142 Gambar 4.16 Kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Sumatera Utara ………......................... 143 Gambar 4.17 PDRB Sektor pertanian Sumatera Utara ……………………………….......................... 143 Gambar 4.18 Jumlah kredit UMKM di Sumatera Utara ………………………………......................... 148 Grafik 4.13.1 Jumlah murid sekolah di Sumatera Utara ………………………………........................ 180 Grafik 4.13.2 Jumlah mahasiswa PTN di Sumatera Utara ……………………………........................ 181 Grafik 4.13.3 Tingkat pendidikan guru SD di Sumatera Utara 2004………………........................... 183 Grafik 4.13.4 Tingkat pendidikan guru di Sumatera Utara ……………………………........................ 184 vii   

Grafik 4.13.5 Tingkat pendidikan Sumatera Utara ……………………………………......................... 187 Grafik 4.13.6 Tingkat pendidikan guru Sumatera Utara ………………………………........................ 188 Grafik 4.13.7 Jumlah sekolah di Sumatera Utara ……………………………………........................... 189 Grafik 4.13.8 Jumlah mahasiswa PTN di Sumatera Utara ……………………………........................ 190 Grafik 4.14.1 Jumlah dokter, bidan dan perawat di Sumatera Utara 2004…………......................... 194 Grafik 4.14.2 Perkembangan jumlah apotik umum, apoteker dan sarjana lainnya…......................... 195 Grafik 4.14.3 Saran rumah sakit umum di Sumatera Utara ………………………….......................... 198 Grafik 4.14.4 Eksistensi pusat kesehatan masyarakat di Sumatera Utara ………............................ 200 Grafik 4.14.5 Pertambahan dokter di Sumatera Utara ……………………………….......................... 201 Grafik 4.14.6 Pertambahan dokter di Sumatera Utara berdasarkan klasifikasi………........................ 201 Grafik 4.14.7 Jumlah bidan dan perawat di Sumatera Utara ………………………........................... 202 Grafik 4.14.8 Jumlah apotek dan apoteker di Sumatera Utara ………………………........................ 203 Grafik 4.15.1 Jumlah panti asuhan di Sumatera Utara ………………………………......................... 207 Grafik 4.15.2 Jumlah keluarga pra-sejahtera atau sejahtera 1…………………………....................... 208 Grafik 4.16.1 Angka kelahiran total dan target 2009……………………………………....................... 216 Grafik 4.16.2 Pasangan usia subur dan akseptor aktif di sumatera utara hingga tahun 2006........... 217 Grafik 4.16.3 Jumlah klinik KB di Sumatera Utara………………………………………....................... 218 Grafik 4.19.1 Panjang jalan menurut status………………………………………………...................... 239 Grafik 4.19.2 Panjang jalan kabupaten/kota menurut jenis permukaan…………….......................... 240 Grafik 4.19.3 Kondisi jalan di Sumatera utara………………………………………….......................... 241 Grafik 4.19.4 Jenis dan peningkatan kendaraan di Sumatera Utara…………………........................ 242 Grafik 4.19.5 Jumlah penerbangan Internasional dan domestik………………………........................ 243 Grafik 4.19.6 Perkembangan daya terpasang PLN di Sumatera Utara………………........................ 244 Grafik 4.19.7 Jenis pembangkit tenaga listrik……………………………………………....................... 246

viii   

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

1

BAB I PENDAHULUAN
Bab 1.1. Pengantar Kabinet Indonesia Bersatu yang kini sedang berada dalam tahun ke empat telah memiliki dan

mengimplementasikan rencana dan program-program pembangunan nasional berjangka waktu lima tahun berdasarkan dokumen yang disusun dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2004-2009. RPJMN 2004-2009 tersebut secara jelas memuat visi, misi, strategi, agenda, sasaran dan program-program prioritas yang akan dilakukan dari tahun ke tahun. Penyusunan RPJMN 2004-2009 didasarkan kepada fakta dan situasi tentang permasalahan nasional baik yang yang dihadapi atau yang diperkirakan akan dihadapi dalam lima tahun ke depan yaitu: 1. Rendahnya pertumbuhan ekonomi nasional yang menyebabkan rendahnya tingkat kesejahteraan rakyat secara rata-rata yang kemudian berdampak terhadap munculnya masalah-masalah sosial seperti pengangguran, anak putus sekolah, gangguan kesehatan, kriminalisme dan lain-lain. 2. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia yang ditandai dari sulitnya meningkatkan angka Indeks Pembangunan Manusia Indonesia (IPM) secara agregat diseluruh wilayah Indonesia. 3. Rendahnya kemampuan masyarakat dalam mengelola sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang ditandai dari pincangnya penggalian potensi sumberdaya alam nasional dan meluasnya kerusakan lingkungan hidup akibat penggalian yang tidak terencana. 4. Masih lebarnya kesencangan pembangunan dan hasil-hasilnya antar daerah baik dalam skala nasional maupun skala daerah. 5. Rendahnya dukungan infrastruktur ekonomi dan sosial yang berdampak negatif terhadap upaya peningkatan investasi untuk pembangunan. 6. Belum tuntasnya penyelesaian masalah-masalah sparatisme yang menjadi ancaman potensial terhadap keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. 7. Masih tingginya tingkat kejahatan konvensional dan transnasional yang sangat mengganggu percepatan proses pembangunan nasional. 8. Masih kurangnya kemampuan, jumlah dan personil TNI serta terbatasnya alat sistem pertahanan negara. 9. Masih banyaknya peraturan perundang-undangan yang belum mencerminkan keadilan, kesetaraan, dan penghormatan serta perlindungan terhadap hak azasi manusia. 10. Rendahnya kualitas pelayanan umum kepada masyarakat. 11. Belum menguatnya pelembagaan politik lembaga penyelengaraan negara dan lembaga kemasyarakatan.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 2

Kabinet Indonesia Bersatu juga secara jelas telah menetapkan visi, misinya yang dituangkan dalam RPJMN 2004-2009, yang untuk pewujudannya dilakukan melalui tiga agenda pembangunan nasional disertai dengan rincian program untuk masing-masing prioritas. Ketiga agenda pembangunan tersebut ialah: 1. Menciptakan Indonesia yang aman dan damai. 2. Mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. 3. Meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Uraian secara rinci dari masing-masing agenda denagn sasaran dan prioritas adalah sebagai berikut: . Agenda Pembangunan pertama ialah Mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam agenda ini ialah : Sasaran Pertama : Meningkatkan rasa aman dan damai, dengan prioritas 1) Peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat, 2) Pengembangan kebudayaan yang berlandasakan nilai-nilai luhur bangsa, 3) Peningkatan keamanan, ketertiban dan penangggulangan kriminalitas. Sasaran Kedua : Semakin kokohnya NKRI, dengan prioritas 1) Pencegahan dan penaggulangan separatisme, 2) Pencegahan dan penaggulangan gerakan terrorisme dan 3) Peningkatan ketahanan negara. Sasaran Ketiga : Semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia, dengan prioritas 1) Pemantapan politik luar negeri dan 2) Peningkatan kerjasama internasional. . Agenda Pembangunan Kedua : Mewujudkan Indonesia yang adil dan demokratis. Sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam agenda ini ialah : Sasaran Pertama : Meningkatkan keadilan dan penegakan hukum, dengan prioritas 1) Pembenahan sistem hukum nasional dan politik hukum, 2) Penghapusan diskriminasi dalam berbagi bentuk, 3) Penghormatan, pemenuhan dan penegakan atas hukum dan pengakuan atas hak azasi manusia. Sasaran Kedua : Terjaminnya keadilan gender, dengan prioritas, 1) Peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan, 2) Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak. Sasaran Ketiga : Meningkatnya pelayanan kepada masyarakat dengan menyelenggarakan otonomi daerah dan kepemerintahan daerah yang baik, dengan prioritas,1) Revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 3

Sasaran Keempat : Meningkatnya pelayanan birokrasi kepada masyarakat, dengan prioritas, 1) Penciptaan tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Sasaran Kelima : Terlaksananya pemilihan umum tahun 2009, dengan prioritas, 1) Perwujudan Lembaga Demokrasi yang makin kokoh. . Agenda Pembangunan Ketiga : Meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam agenda ini ialah: SasaranPertama : Menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi hanya 8.20 % pada tahun 2009, serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi hanya 5.10 % pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga, dengan prioritas. 1) Penanggulangan kemiskinan, 2) Peningkatan investasi dan ekspor non-migas, 3) Peningkatan daya saing industri manufaktur,4) Revitalisasi pertanian, 5)Pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah, 6) Peningkatan pengelolaan BUMN, 7) Peningkatan kemampuan ilmu pengetahuan dan teknologi, 8) Perbaikan iklim ketenagakerjaan dan 9) Pemantapan stabilitas ekonomi makro. Sasaran Kedua : Berkurangnya kesenjangan antara wilayah dengan prioritas, 1) Pembangunan pedesaan dan 2) Pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah. Sasaran Ketiga : Meningkatnya kualitas manusia secara menyeluruh dengan prioritas, 1) Peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan berkualitas, 2) Peningkatan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan yang lebih berkualitas, 3) Peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, 4) Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olah raga, 5) Peningkatan kualitas kehidupan beragama. Sasaran Keempat: Membaiknya mutu lingkungan hidup dan pengelolaan sumberdaya alam yang mengarah kepada pengarusutamaan (mainstreaming) prinsip pembangunan berkelanjutan di semua sektor dan bidang pembangunan dengan prioritas, 1)Perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup. Sasaran Kelima : Membaiknya infrastruktur yang ditunjukkan oleh meningkatnya kuantitas dan kualitas berbagai sarana penunjang pembangunan, dengan prioritas, 1) Percepatan pembangunan infrastruktur, 2) Peningkatan aksesibilitas ke jasa pelayanan dan 3) Peningkatan kapasitas, kualitas dan jangkauan pelayanan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

4

Bab 1.2. Evaluasi Internal Pembangunan Sebagaimana lazimnya sebuah proses manajemen pembangunan, setelah fase perencanaan yang disusul oleh fase pelaksanaan rencana dilakukan maka fase evaluasi harus segera dilakukan untuk mengetahui sejauh mana capaian-capaian dalam pelakasanaan rencana tersebut mendekati target-target kuantitatif dan kualitatif yang telah ditetapkan. Evaluasi pembangunan dapat diklasifikasi atas evaluasi secara internal yaitu dilakukan sendiri oleh lembaga yang bertindak sebagai pelaksana pembangunan dan evaluasi seara eksternal yang dilakukan oleh komponen bangsa diluar lembaga kepemerintahan. Evaluasi internal terhadap capaian pembangunan bertujuan untuk mendapatkan data/informasi tentang capaian pembangunan, permasalahan yang dihadapi dan hal-hal lain yang perlu diketahui untuk menilai derajad keberhasilan pelaksanaan pembangunan dengan merujuk kepada target-target yang ingin dicapai dalam skala waktu ditetapkan. Salah satu manfaat penting dari hasil evaluasi ini ialah sebagai masukan dalam perencanaan untuk siklus berikutnya guna lebih menjamin tercapainya kualitas dan hasil yang lebih tinggi. Secara lebih spesifik, pentingnya dilakukan evaluasi internal terhadap capaian pembangunan tahunan dari RPJMN 2004-2009 ini ialah: Pertama : Evaluasi internal merupakan bagian penting dalam menciptakan good governance yang merupakan jiwa dari proses reformasi yang telah dirintis sejak sepuluh tahun lalu. Good governance mensyaratkan dua unsur utama yaitu 1) Tranparency (keterbukaan) dan 2) Accountability (peranggungjawaban). Kedua unsur tersebut mensyaratkan sebuah mekanisme dan pendekatan evaluasi tentang kinerja dan proses implementasi rencana dan program-program yang dilakukan pemerintah seperti tertuang dalam RPJMN 2004-2009. Kedua : Proses evaluasi memungkinkan pemaparan kinerja dan hasil-hasil yang telah dicapai sehingga seluruh lapisan masyarakat dapat mengukur kemampuan diri (self-evaluation) untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Ketiga : Dengan tergambarnya kemajuan yang telah dicapai maka akan dapat pula diukur seberapa besar gap antara apa yang ingin dicapai seperti tertera dalam RPJMN 2004-2009 dan apa yang telah dicapai sebagai hasil dari implementasi RPJMN 2004-2009 tersebut. Keempat : Apabila gap antara sasaran (apa yang ingin dicapai) dan apa yang telah dicapai telah diketahui maka identifikasi atas berbagai faktor yang menimbulkan gap tersebut akan lebih mudah diidentifikasi baik yang bersumber dari lingkungan eksternal maupun dari lingkungan internal.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

5

Kelima : Apabila faktor-faktor penyebab terjadinya gap telah diidentifikasi maka langkah-langkah dan sasaran yang lebih konkrit untuk mengatasi atau memperkecil gap tersebut dalam perencanaan tahunan berikutnya lebih mudah dirumuskan. Salah satu aspek penting dalam evaluasi internal RPJMN 2004-2009 ialah pengukuran hasil-hasil atau capaian pembangunan di setiap daerah. Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan nasional yang dimaksud oleh RPJMN 2004-2009 ialah pembangunan di setiap daerah di Indonesia yang diintegrasikan secara nasional. Daerah-daerah merupakan lokasi dari sebagian program-program pembangunan yang ditetapkan dalam rencana pembangunan tersebut. Sumatera Utara adalah salah satu daerah berstatus provinsi di Indonesia. Meskipun Sumatera Utara secara umum tidak berbeda dengan daerah-daerah lain di Indonesia misalnya dalam hal IPM, pendapatan per kapita, basis ekonomi, tingkat pertumbuhan ekonomi serta permasalahan yang dihadapi dari tahun ke tahun antara lain kualitas infrastruktur, kerusakan lingkungan dari tahun ke tahun seperti telah diuraikan dalam RPJMN 2004-2009, daerah ini memiliki berbagai keunikan. Diantara keunikan yang dimaksud ialah, Sumatera memiliki areal perkebunan terbesar di Indonesia, lokasinya sangat berdekatan dengan Singapura yaitu salah satu pusat ekonomi dunia, dan penduduknya sangat heterogen. Keunikan tersebut dapat dipastikan mempunyai pengaruh baik terhadap proses implementasi pembangunan maupun terhadap capaian. Pembangunan daerah Sumatera Utara dalam periode 2005 didasarkan pada Program Pembangunan Daerah (Propeda) Tahun 2004-2006 dan Rencana Strategis Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2009. Dalam Tahun 2005, setelah RPJMN 2004-2009 mulai diberlakukan maka disusun pula RPJMD Sumatera Utara 2006-2009 dengan menggunakan RPJMN 2004-2009 dan Rencana Strategis Sumatera Utara 20062010 sebagai dasar perencanaan. RPJMD Sumatera Utara Tahun 2006-2009 disebut sebagai RPJMD transisi karena penyusunannya harus dilakukan walaupun Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) 2005-2025 belum tersedia (masih dalam proses penyusunan). Dengan demikian, dasar rencana pembangunan daerah Sumatera Utara periode 2006 dan 2007 adalah RPJMD Sumatera Utara Tahun 2006-2009 yang tidak lain adalah turunan dari RPJMN 2004-2009 ditambah dengan muatan-muatan khusus Daerah Sumatera Utara yang berkaitan dengan potensi, aspirasi, dan keunikan daerah. Sehubungan dengan hal tersebut, evaluasi capaian / kinerja pelaksanaan RPJMD 2006-2009 Sumatera Utara tidak lain adalah bagian dari evaluasi capaian / kinerja pelaksanaan RPJMN 2004-2009 di daerah Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

6

Evaluasi terhadap capaian pembangunan RPJMN 2004-2009 telah dilakukan secara berturut-turut pada tahun 2006 dan 2007. Evaluasi pada tahun 2006 mencakup analisis dan evaluasi terhadap capaian pembangunan yang dilakukan pada tahun 2005 dan evaluasi tahun 2007 mencakup analisis dan evaluasi terhadap kumulatif capaian dari rencana dan program-program pembangunan tahun 2005 dan 2006. Evaluasi terhadap capaian RPJMN 2004-2009 untuk tahun 2008 meliputi analisis dan evaluai terhadap capaian kumulatif dari pelaksanaan rencana dan program-program pembangunan 2005, 2006 dan 2007. Laporan akhir yang akan disusun adalah hasil analisis dan evaluasi terhadap kinerja pembangunan sebagai hasil dari pelaksanaan tiga tahun pertama RPJMN 2004-2009 di daerah Sumatera Utara.

Bab 1.3. Tujuan / Sasaran Hasil Evaluasi Internal a. Tujuan dan Sasaran Evaluasi Berdasarkan uraian diatas maka tujuan yang ingin dicapai dari evaluasi internal pelaksanaan RPJMN 2004-2009 hingga tahun ketiga ialah untuk mendapatkan gambaran yang jelas dan akurat tentang capaian hingga tahun ketiga dari pelaksanaan RPJMN Tahun 2004-2009, dengan sasaran sebagai berikut: 1). Tersedianya berbagai data dan informasi yang akurat dan objektif tenang upaya, capaian serta permasalahan dalam pelaksanaan hingga tahun ke tiga RPJMN 2004-2009 di daerah Sumatera Utara. 2). Teridentifikasinya sinkronisasi arah dan tujuan pembangunan daerah dengan pembangunan nasional. 3). Teridentifikasinya isu-isu strategis daerah Sumatera Utara. 4). Tersusunnya berbagai rekomendasi tindak lanjut dalam perumusan kebijakanan Nasional dan Daerah. b. Hasil Evaluasi Yang Ingin Dicapai Empat butir penting yang akan menjadi hasil dari evaluasi yang dituangkan dalam laporan akhir kegiatan evaluasi yang dimaksud ialah: 1). Informasi, data, serta analisis tentang upaya, capaian, dan permasalahan dalam pelaksanaan RPJMN Tahun 2004-2009 sejak tahun pertama implementasi hingga tahun ketiga. 2). Identifikasi konsistensi arah dan tujuan pembangunan Sumatera Utara dengan pembangunan nasional. 3). Isu-isu strategis daerah Sumatera Utara. 4). Rekomendasi tindak lanjut untuk perbaikan pelaksanaan RPJMN tahun 2004-2009 dan bahan masukan penyusunan RPJMN Tahun 2010-2014.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

7

Bab 1.4. Metodologi dan Pendekatan Evaluasi c. Metode Evaluasi 1. Metode Pengumpulan Data a. Dua Tipe Data Dua tipe data yang digunakan dalam proses analisis dan evaluasi terhadap kinerja pembangunan RPJMN 2004-2009 hingga tahun ketiga yaitu : . Data Primer Data primer adalah data-data mengenai kondisi dan situasi yang dialami secara langsung baik oleh para pelaksana pembangunan maupun masyarakat yang menjadi objek pembangunan yang relevan untuk digunakan sebagai variabel dalam pengukuran, analisis dan evaluasi terhadap capaian dan kinerja pembangunan dalam periode 2005-2007. Para responden yang menjadi sumber data primer ialah pejabat Bappeda, pejabat SKPD, anggota Kadin, anggota DPRD, para pengusaha baik skala besar maupun kelompok UMKM, pengelola pelayanan kesehatan rakyat, tokoh agama, tokoh pendidikan, pakar lingkungan hidup, LSM dan lain-lain. Data-data yang termasuk dalam data primer antara lain ialah persepsi masing-masing kelompok tentang peningkatan kualitas pelayan publik seperti keamanan dan ketertiban, penegakan hukum, kesehatan, pendidikan, perijinan, ketersediaan fasilitas transportasi, kualitas prasarana sosial dan ekonomi wilayah, kualitas lingkungan, ketersediaan barang /jasa kebutuhan masyarakat, perumahan, ketersediaan sarana produksi masyarakat dalam bidang pertanian, pengolahan dan jasa dan lain-lain serta kendala dan permasalahan yang terkait.. . Data Sekunder Data sekunder adalah data-data mengenai volume, distribusi dan konsumsi barang dan jasa pada masing-masing sektor serta permasalahan yang terkait berdasarkan laporan resmi dari intansi / lembaga yang berwenang selama tahun 2005-2007. Sumber-sumber data sekunder antara lain Laporan Biro Pusat Statistik Sumatera Utara, Laporan Tahunan SKPD, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur kepada DPRD, masukan dari masyarakat dan lain-lain.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

8

b. Metode Pengumpulan Data Proses pengumpulan data dilakukan dengan pendekatan sebagai berikut: . Pengumpulan Data Primer Pengumpulan data primer dilakukan melalui Focus Group Discussion (FGD). Kepada masing-masing kelompok stakeholder diberikan kuesioner yang berisi pertanyaan tentang hal-hal yang bersifat strategis yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. Responden yang berpartisipasi dalam FGD ini ialah berasal dari berbagai kalangan antara lain ialah para staf Bappeda Provinsi Sumatera Utara, SKPD, akademis, anggota Kadin Sumatera Utara, para tokoh agama, tokoh pendidikan, pengelola kesehatan, para pakar lingkungan hidup, anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara, LSM, dan lain-lain. Para responden kemudian diundang menghadiri pertemuan untuk mendiskusikan pandangan mereka seperti dinyatakan dalam jawaban terhadap kuesioner yang diberikan kepada mereka. Dalam diskusi, responden juga diberi kesempatan untuk menyampaikan hal-hal lain yang relevan dengan materi evaluasi termasuk kritikan dan saran sesuai dengan pandangan /persepsi atau pengalaman mereka sehubungan dengan implementasi RPJMN 2004-2009 dari tahun ke tahun. Berbagai masukan tambahan dari sumber-sumber lain termasuk para pelaku usaha skala besar, pengamat pembangunan dan lain-lain juga dikumpulkan untuk melengkapi informasi yang diperlukan dalam proses evaluasi. . Pengumpulan Data Sekunder Data-data sekunder yang dikumpulkan yang menjadi asupan utama analisis ialah data-data yang dipublikasi secara resmi oleh lembaga pemerintah seperti BPS Sumatera Utara, Laporan SKPD, Laporan Keterangan Pertanggungjawaban Gubernur kepada DPRD Provinsi Sumatera Utara dan lainlain. Laporan-laporan tersebut mencakup tahun 2005, 2006 dan 2007.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

9

2. Metode Analisis dan Evaluasi . Kerangka Pikir RPJMN 2004-2009 RPJMD 2004-2009 RKP 2005
RKPD 2005

RKP 2006 RKPD 2006

RKP 2007 RKPD 2007

RKP 2008

RKP 2009 RKPD 2009

RKPD 2008

Hasil

Hasil

Hasil

EKPD 2008

Analisis terhadap data dan informasi yang dikumpulkan dari Focus Group Discussion dan Data Sekunder diarahkan kepada beberapa sasaran kuantitatif dan kualitatif untuk mengukur seberapa jauh target-target yang telah ditatapkan dalam RPJMN 2004-2009 dapat dicapai. Hasil pengukuran tersebut kemudian dievaluasi dengan menggunakan berbagai indikator kinerja yang sudah standar maupun indikator kinerja yang dikembangkan sendiri oleh Tim Evaluasi Provinsi sesuai dengan kepentingannya. Berdasarkan evaluasi capaian dengan indikator kinerja ini dapat diketahui derajad keberhasilan implementasi RPJMN 2004-2009 hingga tahun ketiga. Bab 1.5. Sistematika / Outline Laporan Laporan Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah (EKPD) 2008 ini ditulis dalam enam bagian dengan sistematika/outline sebagai berikut: Bagian I : Pendahuluan Bagian ini memuat penjelasan tentang permasalahan, tujuan/sasaran dan prioritas pembangunan berdasarkan RPJMN 2004-2009, metodologi evaluasi, hasil akhir yang ingin dicapai dan penjelasan tentang sistematika laporan evaluasi. Bagian II : Agenda Mewujudkan Indonesia yang Aman dan Damai
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 10

Bagian ini memuat penjelasan tentang Agenda I Pembangunan dari RPJMN 2004-2009 yaitu agenda mewujudkan Indonesia Aman dan Damai dengan prioritas pembangunan nasional yang terdiri dari peningkatan rasa saling percaya, pengembangan kebudayaan yang berlandaskan nilai-nilai luhur, peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas, pencegahan dan penanggulangan separatisme, pencegahan dan penanggulangan gerakan terorisme, peningkatan kemampuan pertahanan negara, pemantapan politik luar negeri dan peningkatan kerjasama internasional. Isi dari masing-masing bab dalam Agenda I ini berfokus pada pencapaian prioritas pembangunan nasional di daerah Sumatera Utara. Bagian III : Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis Bagian ini memuat penjelasan tentang Agenda II Pembangunan dari RPJMN 2004-2009 yaitu agenda mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis dengan prioritas pembangunan nasional yang terdiri dari pembenahan sistem hukum dan politik hukum, penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, penghormatan, pemenuhan dan penegakan atas hukum dan pengakuan atas HAM, peningkatan kualitas kehidupan dan peran perempuan serta kesejahteraan dan perlindungan anak, revitalisasi proses desentralisasi dan otonomi daerah, pencapaian tata pemerintahan yang bersihan yang bersih dan berwibawa, dan perwujudan lembaga demokrasi yang kokoh. Isi dari masing-masing agenda ini berfokus pada pencapaian prioritas pembangunan nasional di daerah Sumatera Utara Bagian IV : Agenda Meningkatkan Kesejahteaan Masyarakat Bagian ini memuat penjelasan mengenai Agenda II Pembangunan dari RPJMN 2004-2009 yaitu agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat dengan prioritas pembangunan nasional yang terdiri dai penanggulangan kemiskinan, peningkatan investasi dan ekspor non-migas, peningkatan daya saing industri manufaktur, revitalisasi pertanian, pemberdayaan koperasi dan usaha mikro, kecil dan menengah, peningkatan pengelolaan BUMN, peningkatan kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, perbaikan iklim ketenagakerjaan, pemantapan stabilitas ekonomi makro, penanggulangan pedesaan, pengutangan ketimpangan wilayah, peningkatan akses masyarakat terhadap pendidikan berkualitas, peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas, peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial, pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olah raga, peningkatan kualitas kehidupan beragama, perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian mutu lingkungan hidup dan percepatan pembangunan infrastruktur wilayah. Isi dari masing-masing bab dalam agenda ini berfokus pada pencapaian prioritas pembangunan nasional di daerah Sumatera Utara. Bagian V : Isu-isu Strategis di Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

11

Bagian ini memuat semua isu yang bersifat strategis baik berupa permasalahan, hambatan, tantangan maupun potensi atau peluang yang dinilai bersifat strategis yaitu berdampak besar dan bersifat jangka panjang yang ditemukan didaerah ini sehingga mendesak untuk segera diselesaikan. Dalam bagian ini akan dilakukan evaluasi terhadap tingkat potensi setiap isu strategis baik dari sudut peluang yang dapat dimanfaatkan atauapu tingkat keparahan yang ditimbulkan apabila isu strategis tersebut mengenai permasalahan dan hambatan. Bagian VI: Penutup Bagian ini memuat penjelasan ringkasan dari capaian-capaian kinerja pembangunan sesuai dengan RPJMN 2004-2009 di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

12

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

13

BAB II AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG AMAN DAN DAMAI
Bab 2.1. Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Aman Dan Damai
Agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai di tuangkan dalam beberapa pokok bahasan yaitu: 1. Peningkatan Rasa Saling Percaya 2. Pengembangan Kebudayaan Yang Berlandasakan Pada Nilai-Nilai Luhur 3. Peningkatan Keamanan, Ketertiban Dan Penanggulangan Kriminalitas 4. Pencegahan Dan Penanggulangan Separatisme 5. Pencegahan Dan Penanggulangan Gerakan Terorisme 6. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara 7. Pemantapan Politik Luar Negeri Dan Peningkatan Kerjasama Internasional Agenda pembahasan masing-masing pokok bahasan disesuaikan dengan apa yang tercantum pada RPJMD Transisi Pemerintah Propinsi Sumatera Utara 2006-2009. Format laporan dan agenda program RPJMD yang berbeda mengharuskan pembahasan evakuasi RPJMD dilakukan dengan memisahkan unsur-unsur program yang dapat dimasukan dalam setiap pokok bahasan. Secara umum Propinsi Sumatera Utara berada dalam kondisi yang aman dan damai. Sebagai salah satu Provinsi Terbesar di Indonesia, Sumatera Utara menjadi barometer dalam permasalahan keamanan. Potensi etnis, agama dan kelompok yang beragam dapat dikelola dengan baik, meskipun dalam beberapa hal terjadi friksi, namun hal tersebut masih dalam tahap yang wajar. Potensi gangguan kemanan dan ketertiban dapat muncul dari dalam daerah maupun luar daerah, apalagi Sumatera Utara berbatasan langsung dengan negara tetangga Singapura dan Malaysia. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa Sumatera Utara Menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan negara.

Bab 2.2. Peningkatan Rasa Saling Percaya
I. Pengantar Dalam agenda pembangunan nasional tercantum agenda mewujudkan Indonesia yang aman dan damai. Aman yang diterjemahkan sebagai bebas dari rasa bahaya, ancaman dari luar negeri dan gangguan dalam

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

14

negeri. Sementara damai mencerminkan tidak terjadi konflik dan kerusuhan, tidak bermusuhan dan rukun dalam sistem negara hukum. Prioritas pembangunan diletaknan pada peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi antar kelompok masyarakat. Rasa saling percaya antar kelompok dan golongan masyarakat merupakan faktor penting untuk menciptakanrasa aman dan damai. Sumatera Utara sebagai propinsi yang sangat majemuk penduduknya mempunyai tantangan yang sangat besar dalam menjaga rasa saling percaya, kebersamaan, kesetaraan rasa persatuan dalam masyarakat. Harus disadari bahwa kebhinekaan Sumatera Utara yang multi etnik memiliki kerawanan, sehingga upaya untuk menjaga persatuan kita dapat dijaga. Peningkatanan rasa saling percaya tersebut dapat dibagi kedalam beberapa model hubungan yang secara garis besar akan mempengaruhi kualitas peningkatan rasa saling percaya. Model hubungan tersebut dapat dibagi menjadi: 1. Peningkatan rasa saling percaya umat beragama 2. Peningkatan rasa saling percaya etnis/suku, budaya 3. Peningkatan rasa saling percaya kelompok/organisasi masyarakat 4. Peningkatan rasa saling percaya kelas/golongan

II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008)
Pada awal penyusunan RPJMD Tansisi Sumatera Utara 2006-2009, kondisi Sumatera Utara tidak begitu jauh berbeda dengan kondisi nasional yang diwarnai dengan kesenjangan sosial dan ekonomi yang berpotensi memecah-belah masyarakat. Ketidakadilan yang dirasakan oleh sebagaian masyarakat dapat memicu pergerakan yang dapat menjadi pemicu disintegrasi di Sumatera Utara. Konflik Sosial dan Politik dalam pemilihan kepala daerah berpotensi menjadi pemicu kerenggangan baik secara laten maupun terbuka. Pendidikan politik yang tidak dijalankan secara benar oleh partai, pemerintah dan organisasi terkait mengakibatkan Sumatera Utara dapat menjadi menjadi daerah konflik kepentingan/kekuasaan. Beberapa kebijakan yang berhubungan dengan pembagian bantuan juga mengakibatkan berkurangnya kepercayaan masyarakat kepada pemerintah dan aparatnya. Kurangnya koordinasi dan saling percaya antar lembaga pemerintah, ornop dan kurangnya kualitas hubungan dengan masyarakat sipil berdampak

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

15

kurang efektifnya penyelesaian konflik (terutama konflik-konflik yang berhubungan dengan agraria, kasus PTPN dan pendudukan lahan oleh petani, dll) Persoalan kemampuan dan kredibilitas pemerintah dalam memberikan pelayanan publik terutama yang berhubungan dengan pelayanan dasar (kesehatan, pendidikan, pangan, dll) merupakan salah satu pemicu konflik. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam bidang peningkatan rasa saling percaya dalam RPJMD Transisi Provinsi Sumatera Utara adalah sebagai berikut: 1. Terwujudnya rasa saling percaya dan harmoni serta terjalinnya komunikasi dan peningkatan informasi antar kelompok dan golongan masyarakat. 2. Terwujudnya kesadaran masyarakat, dan peningkatan fungsi lembaga dan sistem peradilan. 3. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan publik serta 4. Terlaksananya pemilihan umum Gubernur, Bupati dan Walikota yang demokratis, jujur dan adil. 5. Terwujudnya hubungan yang baik antara Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam kapasitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah. 6. Meningkatnya suasana kehidupan keagamaan yang kondusif bagi pembinaan kerukunan intern dan antar umat beragama. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2004-2009 adalah sebagai berikut: a. Peningkatan Harmonisasi Antar Kelompok diarahkan ada upaya-upaya untuk: 1. Memperkuat harmoni dan mencegah tindakan-tindakan yang menimbulkan ketidakadilan dalam masyarakat; 2. Peningkatan kerukunan antar kelompok dan golongan masyarakat yang saling hormat menghormati dalam menciptakan suasana yang aman dan damai; 3. Mencegah terjadinya konflik antar kelompok dan golongan masyarakat serta meningkatkan kualitas pelayanan kehidupan bermasyarakat. b. Pembangunan Penghapusan Diskriminasi dan Peningkatan Peran serta semua Lapisan Masyarakat diarahkan pada upaya-upaya:
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 16

1. Penghapusan berbagai praktek diskriminasi dalam segala bidang pembangunan 2. Memfasilitasi peningkatan fungsi lembaga dan sistem peradilan di Sumatera Utara c. Arah kebijakan terwujudnya hubungan yang baik antara Pemerintah Daerah dengan Masyarakat dalam kapasitas penyelenggaraan pemerintahan di daerah diarahkan pada: 1. Memfasilitasi peningkatan kualitas fungsi dan peran lembaga DPRD; 2. Memfasilitasi pemberdayaan masyarakat agar dapat menerapkan budaya politik demokratis; 3. Meningkatkan kemampuan aparatur pemerintah daerah yang professional dan netral. d. Arah kebijakan meningkatnya suasana kehidupan keagamaan yang kondusif bagi pembinaan kerukunan intern dan antarumat beragama: 1. Melakukan internalisasi ajaran agama di kalangan umat beragama; 2. Mendorong terciptanya hubungan antar umat beragama, majelis agama dengan pemerintah melalui forum dialog dan temu ilmiah; 3. Memfasilitasi sekretariat bersama antar umat beragama di Propinsi; 4. Memfasilitasi sosialisasi dan pengembangan wawasan multikultural bagi umat dan guru-guru agama; 5. Meningkatkan potensi budaya setempat untuk kerukunan hidup umat beragama; 6. Mendorong tumbuh kembangnya wadah-wadah kerukunan sebagai penggerak pembangunan;

V. Pencapaian Tahun 2006-2008 Salah satunya pengejawantahan keharmonisan kelompok dan golongan tercermin dari kebersamaan dan kesetaraan dalam jajaran pemerintah maupun kehidupan masyarakat sendiri (penempatan personil pada jabatan struktural menggambarkan kemajemukan). Pendidikan agama belum dapat dilaksanakan secara optimal adalah dikarenakan muatan kurikulum yang kurang komprehensif, keterbatasan sarana dan prasarana, lemahnya penguasaan materi dan metodologi pengajaran, belum optimalnya kegiatan belajar dan mengajar, serta belum memadainya jumlah dan mutu tenaga pendidik bidang agama. Kegiatan-kegiatan dialog dan pertemuan kerukuan juga dilakukan salah satunya adalah silaturrahmi dan Dialog Kerukunan tokoh-tokoh agama dan pimpinan Ormas keagamaan se-Sumut 9-11-2006 di Asrama Haji Medan. Ancaman konflik yang disebabkan fenomena ajaran dan aliran sesat yang bertentangan dengan salah satu ajaran agama dapat diredam dan diselaikan tanpa menimbulkan permasalahan ayang berarti.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

17

Pembangunan kemasyarakatan di dorong untuk terciptanya rasa saling percaya dan harmoni antar kelompok dan golongan masyarakat yang akan mengurangi pertikaian dan konflik antargologan dan kelompok. Permasalahan yang masih ditemukan, masih belum teratasinya persoalan kesenjangan sosial dan ekonomi yang berpotensi menimbulkan kerenggangan hubungan antar masyarakat dan menimbulkan ketidakadilan, kurang optimalnya kebijakan komunikasi dan informasi antara pemerintah dengan kelompok dan golongan masyarakat sehingga memperbesar kesenjangan informasi yang mempengaruhi penurunan rasa saling pengertian dan rasa saling percaya antar berbagai kelompok yang ada. Contoh pelaksanaan bantuan-bantuan pemerintah (BLT, Subsidi) banyak mengalami permasalahan dikalangan masyarakat terutama pada masalah kriteria penerima. Kredibilitas pemerintah sebagai pelaksana menjadi sangat berkurang. Dalam suasana dinamis pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah bagi perwujudan jati diri bangsa dengan berlandaskan kepada budaya lokal. Diskriminasi masih sering terjadi dan menimbulkan ketidak adilan di dalam masyarakat. Permasalahan diskriminasi yang terjadi seperti masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang hukum dan belum tegaknya supremasi hukum, masih rendahnya kewibawaan lembaga dan sistem peradilan. Partisipasi daerah Propinsi Sumatera Utara dalam memperkuat keberadaan dan kelangsungan Negara Republik Indonesia, sejalan dengan meningkatnya pendidikan politik masyarakat untuk mengembangkan budaya politik yang demokratis, sehingga masyarakat Sumatera Utara semakin mampu menghormati keberagaman aspirasi serta semakin dituntut menjunjung tinggi supremasi hukum dan hak asasi manusia berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Ancaman perpecahan yang dikuatirkan pada saat terjadinnya beberapa pilkada di daerah Sumatera Utara dapat diselesaikan dengan baik meskipun pada beberapa pilkada terjadi sengketa pilkada yang berlanjut ke pengadilan. Hanya perlu dicatat bahwa secara umum pelaksanaan pilkada yang dilaksanakan di Daerah Sumatera Utara terlaksana demngan baik. Perbedaan pada saat pilkada ternyata tidak menjadi sumber sengketa yang berakhir pada aktivitas anarkis seperti Maluku. Sumatera Utara diincar banyak oknum yang ingin membuat ketidakkondusifan seperti di Poso, Ambon dan lainnya. Alasannya, kalau ini berhasil disulut, akan sangat sulit memberhentikannya karena keberagaman etnik dan agama masyarakat Sumatera Utara, tetapi syukur saja dari dulu hingga kini Sumatera Utara tetap kondusif dan bahkan jadi barometer di seluruh Indonesia. Itu tak terlepas dari kesadaran masyarakat serta dorongan yang dilakukan pemerintah antara lain membentuk forum komunikasi lintas agama, lintas adat dan lintas pemuda, juga didukung keharmonisan jajaran Muspida.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

18

Pemekaran yang terjadi dibeberapa Kabupaten dapat menghasilkan pergesekan antar kabupaten pemekaran. Sebagai contoh pemekaran Kabupaten Deliserdang dan Serdang Bedagai menyisakan sengketa 9 desa dan permasalahan tapal batas. Meskipun seudah ada keputusan hukum tetapi tetap saja permasalahan tersebut dapat menjadi pemicu sengketa antara dua kabupaten. Hal yang dikuatirkan apabila terjadi konflik batas antar daerah, baik antar propinsi, kabupaten/ kota maupun antar desa/kelurahan, akan berdampak pada kurang harmonisnya hubungan antar pemerintah daerah, misalnya terjadi perebutan sumber daya alam yang terdapat pada wilayah perbatasan, tumpang tindih pengeluaran perizinan maupun bukti hak atas tanah, bahkan dapat terjadi konflik sosial masyarakat, serta kurang terorganisasinya penanganan bencana, ketenteraman dan ketertiban umum maupun penegakan peraturan perundang-undangan. Sengketa Agraria merupakan masalah krusial yang berpotensi mengakibatkan ketidakharmonisan beberapa kelompok. Perebutan dan penggunaan lahan yang tidak sesuai dengan peraturan masih banyak terjadi. Perebutan lahan PTPN yang telah dibebaskan Hak Guna Usahanya menjadi persoalan yang tidak terselesaikan dan meninggalkan potensi konflik di antara masyarakat penggarap. Persoalan Hak ulayat juga masih perlu diperhatikan dibebarapa tempat yang mempunyai hak ulayat atas tanah. VI. Tindak Lanjut Dalam kaitannya ke depan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara perlu terus menggalakan beberapa fokus program yang berhubungan dengan agenda peningkatan rasa aling percaya. Pemprovsu perlu mempertahankan atau menyempurnakan kebersamaan dan kesetaraan dalam jajaran pemerintah. Keragaman dan kesetaraan tersebut juga harus disertai kemampuan yang sesuai dengan jabatan yang diduduki. Pendidikan bidang agama perlu mendapat perhatian dengan usaha meningkatkan mutu tenaga pendidik bidang agama, menyusun kurikulum yang komprehensif dan menyediakan sarana yang memadai. Kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan dialog dan pertemuan kerukunan tokoh-tokoh dan penganut agama perlu dilestarikan untuk memberikan ruang yang lebih dalam memahami dan menghormati ajaran agama masing-masing. Perbedaan yang muncul bukan alasan untuk menghilangkan rasa saling percaya yang telah ada. Penguatan lembaga-lembaga keagamaan menjadi sangat penting dengan maraknya fenomena ajaran sesat, sehingga lembaga-lembaga keagamaan tersebut dapat segera mengkaji dan mencegah penyebaran ajaran aliran sesat tersebut. Polemik ajaran aliran sesat dikuatirkan akan memecah dan mengurangi rasa saling percaya yang telah terbentuk di masyarakat Sumatera Utara. Selanjutnya pemerintah Propinsi harus mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai agen pembangunan dengan menekan kesenjangan sosial ekonomi. Kesenjangan antar kelompok (kelas) yang semakin lebar akan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 19

menghilangkan kepercayaan terhadap kemampuan pemerintah dan menimbulkan kecurigaan antar kelas. Transparansi program pembangunan akan meningkatkan kredibilitas pemerintah di mata masyarakat. Peran Partai Politik, pemerintah, perguruan tinggi dan institusi lainnya yang menjalankan fungsi pendidikan politik pada masyarakat masih perlu ditingkatkan, terutama untuk kalangan partai yang kecenderungannya lebih fokus pada urusan kekuasaan daripada pendidikan politik masyarakat. Pendidikan politik yang baik diharapkan akan membangun kepercayaan dan masyarakat yang demokratis. Ajang Pilkada di Sumatera Utara yang berjalan dengan baik tanpa menghasilkan konflik yang signifikan perlu dipertahankan, mengingat ujian-ujian mengenai kepercayaan dan persatuan sering sekali diuji saat pilkada. Even-Even Pemilihan Umum tahun 2009, Pilkada Kabupaten/Kota perlu menjadi perhatian serius, sehingga ancaman perpecahan dan konflik yang dikuatirkan tidak akan terjadi. Untuk permasalahan sengketa Kabupaten Pemekaran sebaiknya diselesaikan dengan tidak mengorbankan semangat otonomi yang lebih mementingkan kepentingan masyarakat. Sengketa pemekaran harus diselesaikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan dan secepatnya dilaksanakan. Sehingga pada kura dampak kurang harmonisnya hubungan antar pemerintah daerah karena sengketa tidak terjadi. Misalnya terjadi perebutan sumberdaya alam yang terdapat pada wilayah perbatasan, tumpang tindih pengeluaran perizinan maupun bukti hak atas tanah, bahkan dapat terjadi konflik sosial masyarakat, serta kurang terorganisasinya penanganan bencana, ketenteraman dan ketertiban umum maupun penegakan peraturan perundang-undangan. Rasa Saling Percaya (Trust) yang merupakan karakteristik utama dari modal sosial (social capital) sebenarnya sudah melekat di budaya etnis yang ada di Sumatera Utara. Hanya saja peningkatan modal sosial di masyarakat Sumatera Utara perlu ditingkatkan kembali. Hal ini berhubungan dengan karakteriktik masyarakat Sumatera Utara yang majemuk sehingga untuk menghasilkan Trust diantara kemajemukan menjadi tantangan tersendiri. Hal-Hal yang berhubungan dengan segketa agraria sebaiknya diselesaikan dengan tuntas agar tidak memicu ketegangan atau konflik. Penghargaan pada hak ulayat juga merupakan hal yang patut diperhatikan dalam kehidupan masyarakat Sumatera Utara. VII. Penutup Untuk Mewujudkan Indonesia yang aman dan damai maka upaya peningkatan rasa saling percaya dan harmonisasi anta kelompok masyarakat merupakan salah satu faktor penting. Sikap ini harus dikembangkan dan dipelihara sehingga pembangunan bidang ini dapat tercapai dengan baik.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

20

Secara umum tingkat kepercayaan yang ada di Sumatera Utara terjaga dengan baik. Potensi masyarakat Sumatera Utara yang beragam dan multikultural tidak menjadikan Sumatera Utara menjadi daerah rawan. Hanya saja perlu kebijaksanaan dalam mengkelola perpedaan dan keragaman tersebut. Komitmen pemerintah Sumatera Utara dalam pembangunan bidang ini sudah cukup memuaskan dan perlu dipertahankan.

Bab 2.3. Pengembangan Kebudayaan Yang Berlandasakan Pada Nilai-Nilai Luhur I. Pengantar Perkembangan masyarakat yang sangat pesat sebagai akibat dari globalisasi dan pesatnya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi membutuhkan penyesuaian tata nilai dan perilaku. Dalam suasana dinamis tersebut pengembangan kebudayaan diharapkan dapat memberikan arah bagi perwujudan jati diri bangsa dengan berlandaskan kepada budaya lokal. Diharapkan dengan tetap berlandaskan kepada budaya luhur bangsa maka berbagai macam konflik baik horizontal maupun vertikal dapat dihindari sehingga terbina masyarakat madani yang aman dan sejahtera. II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008) Sumatera Utara merupakan daerah dengan kemajemukan etnis dan terkenal dengan kemampuan mengakomodasi nilai-nilai etnis tersebut. Harus disadari bahwa budaya etnis yang berbeda dapat memicu konflik dan pergesekan di masyarakat. Etnis/Suku asli yang berdiam di Sumatera Utara adalah Batak, Mandailing, Melayu, Karo, Pak-Pak dan Nias. Sementara suku pendatang yang ada diantaranya adalah suku Jawa, Sunda, Minang, Aceh, dan lainlain. Selain itu juga dilengkapi dengan etnis China (Tionghoa) dan Tamil (India). Pengembangan kebudayaan lokal tetap menjadi perhatian penerintah, hal ini dibuktikan dengan dukungan terhadap perkumpulan-perkumpulan semarga dan budaya lainnya. Kelestarian budaya yang merupakan ciri khas suatu etnis tetap dikembangkan. Selain itu event-event yang berhubungan dengan pengembangan budaya dan nilai-nilai luhur juga dilaksanakan seperti event Pesta Danau Toba, Pesta Buah Berastagi dan lain sebagainya. Karakteristik dan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

21

image masyarakat Sumatera Utara yang keras tidak menjadi penghalang untuk mengembangkan nilai-nilai luhur yang ada dengan memadukannya dengan nilai-nilai modern.

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Untuk dapat menjawab permasalahan dalam bidang pengembangan kebudayaan berlandaskan pada nilainilai luhur yang dihadapi, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah menetapkan sasaran utama dalam RPJMD 2004-2009, yaitu: 1. Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar masyarakat; 2. Meningkatnya pelestarian dan pengembangan kekayaan budaya lokal daerah; 3. Semakin berkembangnya penerapan nilai baru yang positif dan produktif dalam rangka memantapkan budaya nasional yang berakar dari budaya lokal daerah dalam setiap aspek kebijakan pembangunan. 4. Terwujudnya jati diri dan ketahanan budaya sehingga mampu menangkal budaya asing yang bernilai negatif dan pelestarian budaya tradisional/lokal. 5. Meningkatnya peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan kekayaan budaya, dan pengembangan industri budaya. 6. Berkembangnya keterikatan berbagai model budaya lokal dalam memperkokoh ikatan kebangsaan. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2004-2009 adalah sebagai berikut: 1. Memfasilitasi dan mengembangkan modal sosial dengan mendorong terciptanya ruang yang terbuka dan demokratis bagi dialog kebudayaan. 2. Peningkatan dan pengembangan nilai-nilai kearifan lokal sebagai salah satu dasar etika pergaulan sosial untuk memperkuat identitas daerah. 3. kecintaan masyarakat terhadap budaya dan produk-produk dalam negeri. 4. Revitalisasi/pelestarian nilai-nilai budaya tradisional yang bernilai luhur; 5. Penanaman nilai-nilai budaya dalam pembangunan ekonomi; 6. Penegakan peraturan Peraturan Daerah di bidang kebudayaan; 7. Pengembangan dan menggali serta melestarikan budaya lokal;

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

22

8. Peningkatan peranan Forum Komunikasi Antar Lembaga Adat dalam mempertahankan tradisi dan budaya masyarakat ; 9. Peningkatan misi kebudayaan ke dunia internasional 10. Peningkatan apresiasi dan pelestarian aset budaya; 11. Peningkatan peranserta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan dan pemeliharaan aset budaya; 12. Peningkatan sistem informasi dan database bidang kebudayaan; 13. Peningkatan kapasitas kelembagaan melalui penanganan dan pengelolaan aset budaya; 14. Peningkatan harmonisasi budaya antar budaya lokal; 15. Pengembangan berbagai model budaya antar budaya lokal dalam merekatkan ikatan kebangsaan; 16. Peningkatan budaya lokal untuk menumbuhkembangkan keanekaragaman budaya masyarakat. V. Pencapaian Tahun 2005-2008 Salah satu keunikan dan sekaligus keunggulan Sumatera Utara adalah penduduknya terdiri dari ragam etnis/budaya seperti enis Batak, Jawa, Melayu, Cina, India, Minang, Aceh dan lain-lain. Karena itu Sumatera Utara bukan hanya miniatur Indonesia bahkan miniatur Asia Tenggara. Keberagaman/kebhinekaan penduduk Sumatera Utara selama ini terkelola dengan baik sehingga melebur menjadi ” Orang Sumut” atau ”Orang Medan” yang menjadi identitas masyarakat Sumatera Utara. Keunikan dan sekaligus keunggulan Sumatera Utara yang penduduknya terdiri dari ragam etnis/budaya seperti etnis Batak, Mandailng, Jawa, Melayu, Cina, India, Minang, Aceh dan lain-lain semestinya harus dikelola dengan baik. Keragaman tersebut harus dibarengi dengan budaya kompestisi yang sehat Keragaman etnis dan budaya Sumatera Utara yang demikian merupakan modal sosial (social capital) yang penting dalam pembangunan ke depan. Keragaman yang harmonis akan melahirkan pemikiran-pemikiran yang inovatif, membangun kepercayaan yang dinamis, memperkuat team work pembangunan, tidak ekslusif dan membangun budaya kompetisi yang sehat. Selain keragaman etnis/budaya, masyarakat Sumatera Utara juga memiliki keragaman agama/kepercayaan. Semua agama-agama besar ada di Sumatera Utara seperti Islam, Kristen, Katholik, Budha, Hindu, Konghucu dan lain-lain, yang hidup secara berdampingan, toleran dan saling menghargai. Konflik antar umat beragama hampir terjadi sepanjang sejarah Sumatera Utara. Keragaman agama/kepercayaan yang harmonis tersebut, merupakan modal spritual (Spritual Capital) yang sangat ini dibutuhkan pembangunan di segala bidang. Selama ini modal spritual tersebut belum banyak
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 23

didayagunakan untuk pembangunan pada pelaksanaan pembangunan di Sumatera Utara kedua modal tersebut juga dikembangkan. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengembangan nilai budaya tetap menjadi perhatian dengan dilaksanakan kegiatan-kegiatan rutin yang berhubungan dengan budaya lokal. Adat istiadat dan perkumpulan kedaerahan selalu didukung untuk berkembang dengan memperhatikan penerimaan masyarakat terhadap budaya tersebut. Contoh ikatan keluarga dan perkumpulan etnis yang ada antara lain: Hikma, Mergasilima, Himpak, Pujakesuma, dan lain sebagainya. Event-event yang berhubungan dengan pengembangan budaya dan nilai-nilai luhur juga tetap dilaksanakan seperti event Pesta Danau Toba, Pesta Buah Berastagi dan lain sebagainya. Karakter masyarakat Sumatera Utara, khususnya Medan yang terkenal dengan slogan yang sedikit negatif “Ini Medan Bung” perlahan-lahan diarahkan menjadi “Ini Baru Medan” yang menunjukkan kemampuan Medan untuk berubah dari nilai yang negatif menjadi positif. VI. Tindak Lanjut Keunikan dan sekaligus keunggulan Sumatera Utara yang penduduknya terdiri dari ragam etnis/budaya seperti etnis Batak, Mandailng, Jawa, Melayu, Cina, India, Minang, Aceh dan lain-lain semestinya harus dikelola dengan baik. Keragaman tersebut harus dibarengi dengan budaya kompestisi yang sehat agar satu etnis tidak menjadi eksklusif dengan etnis lainnya. Kegiatan-kegiatan keagamaan juga harus terus didukung dengan mengedepankan semangat hidup berdampingan. Modal sosial dan modal spiritual harus tetap ditanamkan dalan kehidupan sehari-hari. Pemerintah Propinsi Sumatera Utara sebaiknya mulai menggiatkan kegiatan-kegiatan yang mampu menimbulkan semangat membangun bersama. Kesadaran Kolektif (Collective Consciousnes) sebagai warga Sumatera Utara akan memberikan semangat membangun bersama Sumatera Utara ke depan. Jargon Ini Baru Medan yang menggantikan Ini Medan Bung masih perlu terus disosialiasasikan dengan harapan image dan persepsi sebagai masyarakat keras yang cenderung negatif menjadi lebih positif. Perekat rasa saling percaya ini adalah nilai-nilai luhur dan supremasi hukum. Untuk itu penegakan supremasi hukum di Sumatera Utara harus terus dijalankan. Pelaksanaan kegiatan-kegiatan pengembangan nilai budaya lokal sebaiknya tetap dilaksanakan dengan dukungan organisasi masyarakat kedaerahan. Pelestarian nilai luhur budaya melalui event-event daerah maupun nasional (pesta danau toba, pesta buah, dll) menjadi sangat penting melihat atensi masyarakat yang
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 24

kian menurun terhadap nilai budaya daerah. Pemerintah juga harus mewaspadai pengaruh nilai-nilai global yang masuk melalui media. VII. Penutup Pembangunan karakter bangsa tidak akan pernah terlepas dari karakter daerah. Warna karakter daerah Sumatera Utara dapat bercampur/berasimilasi dengan baik dengan karakter bangsa. Harus disadari pembangunan karakter bangsa menghadapi tantangan dengan mulai lunturnya identitas bangsa. Warna karakter daerah sebaiknya memberikan nilai positif untuk mengembalikan identitas tersebut. Tantangan pembangunan kebudayaan adalah menyatukan potensi kebhinekaan untuk membangun kondisi yang kondusif yang mampu merespon nilai globalisasi dengan mempertahankan karakter bangsa.

Bab 2.4. Peningkatan Keamanan, Ketertiban Dan Penanggulangan Kriminalitas

I. Pengantar Peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas merupakan bagian program yang tidak terpisahkan dari RPJMD Transisi Sumatera Utara Tahun 2006-2009. Peningkatan keamanan dan ketertiban di Sumatera Utara dilakukan oleh aparat kepolisian, TNI, Pemerintah dan masyarakat. Kemanan dan ketertiban merupakan tugas integral kepolisian dengan sasaran keamanan dan ketertiban masyarakat sipil. Sementara untuk menegakkan perda pemerintah mempunyai Satpol PP yang dalam pelaksanaan tugasnya sering berbenturan dengan masyarakat. Untuk pencegahan dan penanganan kemananan, ketertiban dan kriminalitas masyarakat juga membentuk PAM Swakarsa dan Siskamling yang bertujuan menjaga ketertiban dan keamanan di lingkungannya. Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam penanganan keamananan, ketertiban dan penanganan kriminalitas adalah masalah OKP, Judi (togel, KIM, Hwa-Hwe, judi bola), pencurian kendaraan bermotor, demonstrasi, dan lain sebagainya. Ketertiban lalu lintas juga merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan karena kesemerawutan dan kesadaran berlalu lintas yang buruk.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

25

II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008) Iklim kondusif dalam kehidupan sosial politik masyarakat Sumatera Utara selalu menjadi barometer nasional. Sumatera Utara secara umum berada dalam kondisi aman dan tenteram. Meskipun demikian Sumatera juga mempunyai catatan dalam tindak kriminal. Dibeberapa tempat telah digalakkan PAM Swakarsa dan Siskamling yang bertujuan menjaga ketertiban dan keamanan yang terbentuk dari unsur masyarakat. Fenomena Judi (togel, KIM, Hwa-Hwe, judi bola) yang merebak di masyarakat Sumatera Utara mulai berhenti pada saat Jendral Polisi Sutanto menjabat sebagai Kapolri yang secara terang-terangan menyatakan perang terhadap Judi. Selanjutnya pencurian kendaraan bermotor menunjukkan angka yang mengkhawatirkan, apalagi pencurian tersebut juga berlaku di Kampus dan Lembaga Pendidikan. Aksi premanisme juga masih banyak terjadi dengan maraknya perkembangan OKP yang identik dengan aktivitas premanisme. Di kota Medan dan sekitarnya saja, menurut catatan, sejak 11 Juli hingga Agustus 2005, Polri telah melakukan penanganan terhadap 102 kasus premanisme dengan menetapkan 442 tersangka, menyita 951 botol minuman keras, 51 unit senjata tajam, 33 sepeda motor dan satu senjata api rakitan. Peredaran narkoba juga sangat memprihatinkan, data Poldasu menunjukkan grafik penanganan kasus Narkoba yang cenderung menaik tersebut terhitung sejak tahun 2004 sebanyak 1.303 kasus dengan tersangka 1.757 orang, tahun 2005 sebanyak 2.089 kasus dengan tersangka 2.982 orang, tahun 2006 sebanyak 3.207 kasus dengan tersangka 4.842 orang, dan tahun 2007 hingga akhir November tercatat 2.769 kasus dengan jumlah tersangka 3.875 orang. Seperti daerah lainnya, aktivitas prostitusi juga merupakan salah satu persoalan klasik yang dihadapi. Upaya pemberantasan prostitusi yang dilakukan hanya bersifat lip service, sehingga tetap saja praktek prostitusi berjalan. Apalagi bila dikaitkan degan posisi Sumatera Utara yang dapat menjadi Daerah asal, daerah tujuan dan daerah transit bagi kegiatan perdagangan anak dan perempuan. Ketertiban lalu lintas juga merupakan hal yang sangat perlu diperhatikan karena kesemerawutan dan kesadaran berlalu lintas yang buruk. Disiplin pengguna jalan yang buruk sering mengakibatkan kemacetan dan kecelakaan lalu lintas, terutama di kota Medan. III. Sasaran yang Ingin Dicapai
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 26

Untuk dapat menjawab permasalahan dalam bidang peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah menetapkan sasaran utama dalam RPJMD 20042009, yaitu: 1. Berkembang dan meningkatnya sistem keamanan dan perlindungan masyarakat yang kondusif demi terciptanya ketertiban umum yang memberikan pembinaan kepada masyarakat/aparat tentang pentingnya Wawasan Kebangsaan. 2. Terwujudnya keterpaduan antara aparat keamanan dan masyarakat dalam pelaksanaan fungsi keamanan dan ketertiban sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. 3. Terwujudnya aparat pertahanan sipil dan keamanan ketertiban lainnya yang professional sebagai komponen fungsi pertahanan negara yang mampu menghadapi setiap gangguan, dan siap membantu masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, (penyelamatan, relokasi, dan rehabilitasi). 4. Terlaksananya pelatihan bagi unsur yang terkait dengan perlindungan dan keamanan rakyat serta penyediaan fasilitas dan peralatan dalam pelaksanaan pengamanan keamanan dan ketertiban masyarakat. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara sebagaimana tertuang dalam RPJMD Transisi 2004-2009 adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan pembinaan organisasi masyarakat dalam penciptaan keamanan yang kondusif; 2. Meningkatkan kerjasama dengan Instansi terkait dalam pelaksanaan deteksi dini untuk mewujudkan situasi yang kondusif; 3. Meningkatkan kesiagaan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi setiap akibat kejadian bencana dan kerusuhan sosial. 4. Peningkatan professionalisme dan kuantitas aparat daerah dalam melaksanakan fungsi keamanan dan ketertiban; 5. Meningkatkan koordinasi antar badan di dalam dan luar lembaga pemerintahan untuk menanggulangi kriminalitas, narkoba dan judi serta premanisme dan gangguan keamanan lainnya; 6. Fasilitasi penyelesaian kasus-kasus sengketa tanah 7. Peningkatan sarana dan prasarana Linmas; 8. Peningkatan kualitas aparatur dalam menjaga ketertiban umum dan kesatuan bangsa; 9. Peningkatan Peran serta masyarakat dalam bela negara.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 27

V. Pencapaian Tahun 2005-2008 Pembangunan bidang keamanan dan ketertiban umum pada umumnya berjalan dengan baik, sehingga kehidupan politik masyarakat Sumatera Utara sudah semakin demokratis dan kondusif. Hal ini dicapai karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan wawasan kebangsaan, hak dan kewajiban serta semakin tingginya kepercayaan terhadap keberadaan infra dan suprastruktur politik yang semakin kondusif di Propinsi Sumatera Utara. Disamping itu koordinasi tugas linmas terhadap Kabupaten/Kota semakin terpadu.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

28

Data mengenai tindakan kriminal dapat dilihat pada Tabel 1.1. Tabel 1.1. Banyaknya Peristiwa Kejahatan/Pelanggaran yang Dilaporkan Menurut Jenis Kejahatan/Pelanggaran No Jenis Kejahatan/Pelanggaran Tahun 2005 1 14 141 6 14 3 32 53 24 29 68 142 10 11 19 288 109 5 224 1.193 Tahun 2006 3 4 164 16 5 38 2 20 96 52 29 84 264 16 20 13 21 381 158 28 219 1 2 1.984 1. Kejahatan politik 2. Kejahatan terhadap kepala negara 3. Kejahatan terhadap ketertiban umum 4. Pembakaran 5. Kebakaran 6. Penyuapan 7. Kejahatan mata uang 8. Kejahatan materai dan merk 9. Melanggar kesopanan, perzinahan 10. Perkosaan 11. Perjudian 12. Penculikan 13. Pembunuhan 14. Penganiayaan berat 15. Penganiayaan ringan 16. Pencurian ringan 17. Pencurian dengan kekerasan 18. Pencurian dengan pemberatan 19. Penghinaan 20. Pemerasan 21. Penggelapan 22. Penipuan 23. Merusak 24. Penadah 25. Kejahatan ekonomi 26. Pencurian kenderaan bermotor 27. Pencurian kawat telepon 28. Kejahatan narkotik 29. Penyeludupan 30. Lain-lain kejahatan 31. Pelanggaran KUHP 32. Pelanggaran ekonomi 33. Kejahatan surat-surat sejenis Jumlah Sumber : BPS/Kepolisian Daerah Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

29

Dari Tabel 1.1. terlihat adanya peningkatan peristiwa kejahatan/pelanggaran yang dilaporkan. Peningkatan ini terlihat jelas pada kejahatan pencurian kendaraan bermotor dan pencurian dengan pemberatan. Tabel 1.2. Banyaknya Peristiwa Kejahatan/Pelanggaran yang Dilaporkan Menurut Jenis Kejahatan/Pelanggaran No Tahun Kasus 1. Tahun 2004 21.742 2. Tahun 2005 1.193 3. Tahun 2006 1.984 4. Tahun 2007 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2006/2007 Pada Tabel 1.2. terlihat ada penurunan yang sangat drastis peristiwa kejahatan/pelanggaran yang dilaporkan antara tahun 2004 dan 2005. Jumlah kasus yang dilaporkan secara kumulatif pada tahun 2004 adalah 21.724 kasus dan turun menjadi 1.193 kasus pada tahun 2005. Selanjutnya di bawah ini disajikan data mengenai Perkara Perdata yang diputuskan Menurut Daerah Pengadilan. Tabel 1.3. Perkara Perdata yang Masuk dan Telah Diputuskan Menurut Daerah Pengadilan Tahun 2005 Sisa Tahun Lalu 1. Nias 2 2. Padang Sidempuan 4 3. Tarutung 24 4. Rantau Parapat 3 5. Sidikalang 3 6. Kabanjahe 12 7. Sibolga 47 8. Tanjung Balai 1 9. Pematang Siantar 10 10. Tebing Tinggi 1 11. Medan 26 12. Binjai 6 13. Lubuk Pakam 7 14. Kisaran 4 15. Simalungun 13 16. Stabat 7 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2006. No Daerah Pengadilan Masuk 11 80 143 63 30 80 26 45 46 50 300 19 380 80 30 7 Jumlah 13 84 167 66 33 92 73 46 56 51 326 25 387 84 43 74 Diselesaikan 7 79 160 61 30 92 73 40 46 51 300 15 380 80 30 70 Belum Selesai 6 5 7 5 3 6 10 26 10 7 4 13 4

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

30

Pada Tabel 1.3. Terlihat kemampuan pengadilan di masing-masing Kabupaten Kota dalam menyelesaikan kasus-kasus perdata yang masuk pada tahun 2005. Prestasi penyelesaian yang sangat baik dicapai oleh Kabanjahe, Sibolga dan Tebing Tinggi yang mampu menyelesaikan seluruh kasus yang masuk di Pengadilan. Tabel 1.4. Perkara Perdata yang Masuk dan Telah Diputuskan Menurut Daerah Pengadilan Tahun 2006 Sisa Tahun Lalu 1. Nias 9 2. Padang Sidempuan 24 3. Tarutung 37 4. Rantau Parapat 20 5. Sidikalang 2 6. Kabanjahe 19 7. Sibolga 4 8. Tanjung Balai 5 9. Pematang Siantar 11 10. Tebing Tinggi 103 11. Medan 405 12. Binjai 4 13. Lubuk Pakam 71 14. Kisaran 3 15. Simalungun 9 16. Stabat 4 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2007 No Daerah Pengadilan Masuk 77 67 59 88 41 62 23 96 101 99 919 102 442 76 68 61 Jumlah 86 91 96 108 43 81 27 101 112 202 1.324 106 513 79 77 65 Diselesaikan 78 61 67 85 25 44 19 98 86 82 823 93 433 71 61 59 Belum Selesai 8 30 29 23 18 37 8 3 26 120 501 13 80 8 16 6

Pada Tabel 1.4. Terlihat kemampuan pengadilan di masing-masing Kabupaten Kota dalam menyelesaikan kasus-kasus perdata yang masuk pada tahun 2006. Tabel 1.5. Total Perkara Perdata yang Masuk dan Telah Diputuskan Menurut Daerah Pengadilan Tahun 2005 No Tahun Sisa Tahun Lalu 632 170 730 Masuk 2.250 1.450 2.381 Jumlah 2.892 1.620 3.111 Diselesaikan 2.165 1.514 2.185 Belum Selesai 727 106 926

1. 2004 2. 2005 3. 2006 4. 2007 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2007

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

31

Pada Tabel 1.4. Terlihat kemampuan pengadilan secara kumulatif dalam menyelesaikan kasus-kasus perdata yang masuk mulai tahun 2004-2006. Data tersebut menunjukkan adanya keterbatasan pengadilan dalam menyelesaikan permasalahan perdata yang mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. . Selanjutnya di bawah ini disajikan data mengenai Perkara Pidana yang Masuk dan telah diputuskan Menurut Daerah Pengadilan. Tabel 1.6. Perkara Pidana yang Masuk dan Telah Diputuskan Menurut Daerah Pengadilan Tahun 2006 Sisa Masuk Tahun Lalu 1. Nias 88 263 2. Padang Sidempuan 769 9.887 3. Tarutung 55 548 4. Rantau Parapat 217 1.286 5. Sidikalang 25 182 6. Kabanjahe 74 311 7. Sibolga 139 477 8. Tanjung Balai 66 4.779 9. Pematang Siantar 169 503 10. Tebing Tinggi 126 702 11. Medan 794 3.341 12. Binjai 37 431 13. Lubuk Pakam 554 2.214 14. Kisaran 181 971 15. Simalungun 55 589 16. Stabat 5 76 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2007 Tabel 1.7. Total Perkara Pidana yang Masuk dan Telah Diputuskan Menurut Daerah Pengadilan Tahun 2005 No Tahun Sisa Tahun Lalu 2.283 352 3.354 Masuk 59.718 4.162 28.560 Jumlah 61.701 4.484 31.914 Diselesaikan 26.685 4.255 59.806 Belum Selesai 5.229 229 1.935 No Daerah Pengadilan Jumlah 351 10.656 603 1.503 207 385 616 4.845 672 828 6.135 468 2.768 1.152 644 81 Diselesaikan 257 9.715 501 1.195 202 239 347 4.616 350 694 4.996 338 1.816 903 447 69 Belum Selesai 94 941 102 308 5 146 269 229 322 134 1.139 130 952 249 197 12

1. 2004 2. 2005 3. 2006 4. 2007 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2007

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

32

Pada Tabel 1.6. dan Tabel 1.7. terlihat kemampuan pengadilan dalam menyelesaikan kasus-kasus pidana yang masuk mulai tahun 2004-2006. Data tersebut menunjukkan adanya keterbatasan pengadilan dalam menyelesaikan permasalahan pidana yang mungkin membutuhkan waktu yang cukup lama. . Selanjutnya di bawah ini disajikan data mengenai jenis Kejahatan yang Dilakukan Anak-anak (Usia 18 tahun ke bawah).

Tabel 1.8. Jenis Kejahatan yang Dilakukan Anak-anak (Usia 18 tahun ke bawah) No Jenis Kejahatan 1. Narkotika 2. Pencurian 3. Pembunuhan 4. Penganiayaan 5. Pemerasan 6. Penggelapan 7. Penipuan 8. Terhadap ketertiban umum 9. Perampokan 10. Lain-lain Sumber : Pengadilan Tinggi Sumatera Utara 2006 Laki-laki 115 53 8 15 1 5 2 4 14 6 Perempuan 4 1 1 1 Jumlah 119 54 9 16 1 5 2 4 14 6

Dari data pada Tabel 1.8. tergambar kasus yang paling dominan adalah Narkotika. Ancaman bahaya narkotika merupakan ancaman terbesar yang harus dihadapi anak-anak, untuk itu pencegahan dan penanggulangan ancaman bahaya narkotika terhadap anak perlu mendapat perhatian serius. Apalagi dengan posisi Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga yang memungkinkan terjadinya lalulintas perdagangan narkotika dan obat terlarang. Tabel 1.9. Total Kejahatan yang Dilakukan Anak-anak (Usia 18 tahun ke bawah) No Tahun Laki-laki 1. 2004 217 2. 2005 256 3. 2006 223 4. 2007 Sumber : Sumatera Utara Dalam Angka 2007 Perempuan 90 113 7 Jumlah 307 369 230

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

33

Aktivitas perjudian turun dengan dengan drastis, agen-agen judi yang pada awalnya sangat banyak dan terang-terangan melakukan aktivitas sudah tidak tampak lagi di lingkungan masyarakat. Hanya saja perjudian gelap masih saja ada dengan modus yang lebih tersembunyi. Walaupun dalam data terlihat ada kenaikan dari angka perjudian yang dilaporkan tetapi secara umum perjudian yang di Sumatera Utara turun drastis. Aksi premanisme yang mendapat perhatian khusus semakin menurun dengan program Anti Preman, dimana masyarakat dapat melaporkan langsung kepada polisi untuk penangan premanisme. Kehidupan OKP secara kualitatif lebih tertib dengan intensnya pemerintah membina kegiatan pemuda. Pencurian kendaraan bermotor masih tetap saja berlangsung yang diduga dijalankan oleh sindikat pencurian kendaraan bermotor. Kasus penyalahgunaan Narkoba di Sumatera Utara (Sumut) dari tahun ke tahun terus menunjukkan grafik menaik. Sejak tahun 2004 hingga tahun 2007 terjadi trend peningkatancukup signifikan. Hingga akhir November tercatat kasus penyalahgunaan Narkoba yang ditangani Polda Sumut sepanjang tahun 2007 mencapai 2.769 kasus dengan jumlah tersangka 3.875 orang. Kasus Narkoba ini menjadi momok bagi kehidupan masyarakat, beberapa kasus juga melibatkan aparat kepolisian, aparat pemerintah dan TNI. Kasus Narkoba tidak saja melibatkan orang dewasa tetapi juga anak-anak. Data yang diperoleh dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah Sumatera Utara menunjukkan keterlibatan anak-anak dalam kasus NAPZA. Tercatat Korban NAPZA untuk Daerah Tapanuli Tengah saja berjumlah 634 anak. Angka kriminalitas yang dilakukan anak dapat dilihat dari jumlah anak yang dibina di LAPAS Kelas II Anak di Medan dimana data terakhir tanggal 23 Juli 2008 menunjukkan data sebagai berikut: Tabel 1.10. Kasus Tindak Pidana yang Dilakukan Anak di LAPAS Kelas II Medan No. Kasus Tindak Pidana Jumlah Narkoba Pencurian Kesusilaan Perampokan Pembunuhan Ketertiban umum Penggelapan Penganiayaan Penculikan Penipuan Senjata tajam Pemalsuan Lalulintas/kelalaian Penadahan Perjudian Dll Jumlah Sumber : KPAID Propsu 2008
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13 14. 15. 16.

371 278 68 57 20 13 12 10 9 8 8 6 6 4 3 3 876
34

Aktivitas Prostitusi tetap saja ada meskipun telah dilaksanakan razia dan pembinaan bagi pekerja seks komersial. Program yang dilaksanakan tidak mampu menghentikan aktivitas prostitusi yang cenderung naik/bertambah. Apalagi pada tahun-tahun terakhir kegiatan trafficking cenderung meningkat. Kepolisian, Pemerintah, LSM dan masyarakat yang mempunyai perhatian terhadap masalah ini sangat dipusingkan. Data trafficking anak dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1.11. Kasus Trafficking yang di Tangani Lembaga No Lembaga Pendamping 2005 1. PKPA 2. Pusaka Indonesia 3. KKSP 4. KPAID Propsu Sumber : KPAID Propsu 2008 97 Tahun 2006 33 18 12 10 2007 26 2 5

Kasus kekerasan rumah tangga yang terjadi di Sumatera Utara menunjukkan trend yang harus diperhatikan hal ini terlihat dari jumlah kasus yang ditangani oleh lembaga-lembaga yang fokus menangani permasalahan Kekerasan dalam rumah tangga. Tabel 1.12. Kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang ditangani Lembaga Lembaga 2004 Biro Pemberdayaan Perempuan Pempropsu Poldasu LBH APIK PKPA Pusaka Indonesia KKSP Sumber : KPAID Propsu 2008 86 Jumlah Kasus 2005 2006 1 5 90 193 189 145 11 12 2007 14 275 87 9 1

Kesadaran berlalu lintas masih pada taraf yang rendah. Disiplin berlalu lintas yang buruk masih melekat pada kebiasaan masyarakt Sumatera Utara, terutama para supir angkot. Hal ini diperparah dengan kinerja polisi lalu lintas yang belum mampu menjawab tantangan tersebut.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

35

VI. Tindak Lanjut Peran serta masyarakat dalam menjaga kemanan dan ketertiban perlu ditindak lanjuti dan didukung. Kesadaran untuk menjaga keamanan dan ketertiban dilingkungannya sendiri akan sangat membantu aparat penjaga ketertiban dan keamanan. Gerakan anti judi dan premasnisme sudah selayaknya tetap dilaksanakan, bahkan bila perlu ditingkatkan. Dengan hilangnya judi dan premanisme di Sumatera maka akan membawa dampak positif bagi kehidupan masyarakat Sumatera Utara. Dalam beberapa pemberitaan untuk mengantisipasi aksi premanisme di tanah air, Kapolri Jenderal Pol Sutanto juga telah memerintahkan jajaran Polda se Indonesia melakukan penertiban premanisme, sehingga warga masyarakat tidak ada lagi yang merasa tidak aman di negeri tercinta ini. Langkah tersebut, katanya, merupakan suatu tekad atau program bagi Polri dalam tahun 2005 ini, dan masalah itu harus benar-benar dapat terlaksana dengan baik. Keberhasilan atau kerja keras yang dilakukan jajaran Kepolisian tersebut, juga menyangkut kredibilitas Kabinet Indonesia Bersatu yang dibentuk oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Secara khusus untuk penanganan kasus narkoba ke depan perlu kerjasama yang erat antara Kepolisian, TNI dan masyarakat. Hal ini berhubungan dengan semakin meningkatnya kasus yang berhubungan dengan narkoba. Melihat grafik yang terus menaik itu, segenap komponen masyarakat sangat dituntut untuk secara terus-menerus mewaspadai bahaya Narkoba. Karena bahaya penyalahgunaan zat berbahaya ini masih terus mengintai semua lapisan usia. Karena itu peran semua pihak untuk mengantisipasi kasus-kasus penyalahgunaan Narkoba sangat dibutuhkan. Antisipasi barang-barang haram (Ganja, Heroin, Sabu, dll) dari dari daerah tetanga seperti Aceh, Singapura, Malaysia, Thailand sangat perlu diwaspadai. Sumatera dapat menjadi daerah tujuan pengedaran narkoba. Untuk itu razia dan tindakan tegas perlu dilakukan kepada oknum yang melakukan kegiatan tersebut. Razia dan pembinaan terhadap pekerja seks komersial harus dilakukan secara komprehensif. Ketegasan untuk menghapuskan praktek prostitusi jangan hanya lip service saja. Hal ini juga berhubungan dengan penangan dan pencegahan trafficking yang juga harus dilaksanakan secara komprehensif. Selanjutnya penanganan jaringan pencurian kendaraan bermotor juga diusut dengan tuntas. Perlu dicanangkan program Disiplin Berlalulintas yang diharapkan dapat menggugah kesadaran pengemudi, terutama supir angkutan agar menjadi lebih disiplin dan tertib. Polisi sudah saatnya bertindak tegas untuk menegakkan disiplin lalulintas. Hanya saja perlu dicatat untuk kesemuanya itu juga dibutuhkan unsur Kepolisian Lalu lintas yang juga tertib dan berani menegakkan displin.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 36

VII. Penutup Secara umum upaya peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas menunjukkan hasil yang lebih baik. Namun peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulanagn kriminalitas masih perlu ditingkatkan karena permasalahan ini semakin lama juga semakin berkembang. Meskipun gangguan kemanan, ketertiban dan kriminalitas masih dapat dikendalikan pemerintah perlu mengadakan koordinasi dengan seluruh stake holder bidang ini untuk mengantisipasi variasi kejahatan dan perkembangannya. Salah satu hal penting dalam upaya peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulakangan kriminalitas adalah kesadaran dan partisipasi masyarakat. Dukungan masyarakat dalam menjaga keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas akan menjadi penopang penting dalam pembangunan bidang ini.

2.5. Pencegahan Dan Penanggulangan Separatisme I. Pengantar Masalah separatisme yang terjadi dibeberapa daerah di Indonesia menjadi pelajaran bagi Propinsi Sumatera Utara dalam melakukan pencegahan dan penanggulangan sepatarisme. Seperti yang diketahui beberapa gerakan separatis yang ada seperti OPM (Organisasi Papua Merdeka), RMS (Republik Maluku Selatan) dan Gerakan Aceh Merdeka merupakan gerakan politik yang mempunyai aspirasi separatis untuk memisahkan diri dari Republik Indonesia. Basis masalah separatis yang bermacam-macam seperti ideologi agama atau regionalisme, atau campuran keduanya, sosial-ekonomi menyangkut problem kesenjangan vertikal maupun horisontal. Kebanyakan akar permasalahan gerakan separatisme adalah ketidakadilan ekonomi yang tidak membawa kesejahteraan pada rakyat di daerah rawan separatisme. Pemerintah harus menciptakan keadilan dan kesejahteraan di seluruh masyarakat Indonesia. Sumatera Utara sampai saat ini masih terjaga dari hal-hal yang bersifat separatis. Gerakan Separatis Aceh Merdeka tidak membuat Masyarakat Sumatera terbawa atau termotivasi untuk melakukan hal yang sama. Hal yang perlu diperhatikan adalah munculnya bibit ketidakpuasan terhadap kesenjangan daerah dan pusat, orientasi ideologi dan agama yang berbeda harus segera disikapi agar gerakan separatisme tidak terjadi di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

37

II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008) Kondisi Sumatera Utara pada awal RPJMD Transisi sangat kondusif. Tidak ada tanda-tanda gerakan separatisme yang akan muncul di wilayah pemerintahan Sumatera Utara. Kesadaraan berbangsa dan bernegara yang baik pada masyarakat Sumatera Utara menjauhkan isu separatisme dari Sumatera Utara. Gerakan Separatis yang terjadi di daerah tetangga (Aceh) tidak mempengaruhi masyarakat Sumatera Utara untuk ikut melakukan gerakan separatisme. Apalagi setelah ditanda tangaini perjanjian damai antara Gerakan aceh Merdeka dengan Pemerintah Indonesia. Tidak ada tanda-tanda yang mengarah pada terbentuknya satu kelompok separatisme di wilayah Sumatera Utara. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Secara eksplisit tidak ada tercantum hal yang berhubungan dengan penanganan dan pencegahan gerakan separatisme di RPJMD Transisi Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2009. Hanya secara implisit dapat dicerna bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara sangat memperhatikan keamanan dan ketertiban masyarakat serta keutuhan Masyarakat Sumatera Utara sebagai bagian dari Negara Indonesia. Secara implisit sasaran yang akan dicapai dalam penanggulangan dan pencegahan gerakan separatisme ini adalah munculnya rasa kebangsaan yang tinggi dan hilangnya bibit-bibit separatisme dengan memperhatikan kepentingan masayarakat (kesejahteraaan), nilai-nilai dan ajaran agama. IV. Arah Kebijakan Secara eksplisit tidak ada tercantum arah kebijakan yang berhubungan dengan penanganan dan pencegahan gerakan separatisme di RPJMD Transisi Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2009. Hanya secara implisit dapat dicerna bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara mengarah kebijakan pencegahan dan penangan separatis pada peningkatan nilai-nilai kebangsaan dan mengeliminir hal-hal yang dapat menyebabkan berkembangan gerakan separatis. VI. Pencapaian Tahun 2005-2008 Sumatera Utara berada dalam kondisi yang kondusif, tidak ada gerakan separatisme yang terjadi di Sumatera Utara. Demonstrasi dan aksi yang terjadi di Sumatera Utara tidak pernah ada yang menggunakan isu untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Walaupun ada ketidak puasan terhadap beberapa kebijakan yang dikeluarkan dan ketimpangan kesejahteraan, masyarakat Sumatera Utara tidak terpancing untuk melakukan gerakan separatisme.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 38

Dalam pencegahan gerakan separatisme, pemerintah Sumatera Utara melakukannya dengan menjaga nilai-nilai kebangsaan yang sudah ada. Pelestarian nilai-nilai tersebut menjadi sangat penting dikarenakan motivasi atau ancaman separatis bisa dilakukan secara sistematis melalui penyusupan ideologi yang bertentangan. Apalagi media informasi sudah semakin canggih, penyusupan ideologi tersebut dapat dilakukan melalui internet. Secara umum daerah Sumatera Utara juga tidak pernah terpancing dan terpengaruh dengan gerakan separatis yang ada di Aceh (Gerakan Aceh Merdeka). Apalagi perjanjian damai sudah dilakukan, bahkan saat ini beberapa petinggi Gerakan Aceh Merdeka sudah menjadi Kepala Daerah di Aceh. Peran koordinasi dengan badan intelejen menjadi sangat penting untuk segera mendeteksi hal-hal yang berhubungan dengan gerakan separatis dan terorisme. VI. Tindak Lanjut Sebagai tindak lanjut pencegahan dan penanggulangan separatisme pemerintah sebaiknya melanjutkan program penanaman nilai-nilai kebangsaan. Fungsi Kesbanglinmas sebaiknya dioptimalkan. Kerjasama masyarakat dan aparat keamanan dapat menjadi bagian penting dalam penanganan separatisme. Dengan adanya kerjasama antara pemerintah, masyarakat dan aparat keamanan maka masyarakat tidak akan mudah terpancing massuk kedalam gerakan separatis. Kesenjangan kesejahteraan ada dalam kehidupan masyarakat sudah saatnya direduksi, mengingat salah satu isu yang dapat memicu separatisme adalah kesenjangan sosial dan ekonomi. Kepercayaan daerah terhadap pusat dan distribusi yang adil dari hasil pembangunan selayaknya menjadi perhatian. Bimbingan masyarakat untuk pencerahan dan penanaman rasa kesatuan sebaiknya dilaksanakan secara intens. Bimbingan masyarakat juga dapat menjadi ujung tombak untuk menjelaskan mengenai isu dan permasalahan yang terjadi. Pengawasan terhadap media-media penyebar informasi yang dianggap potensial dapat menyebarkan ideologi yang berbahaya harus terus dilaksanakan. Bahaya laten ideologi ini memang sangat sulit dideteksi, untuk itulah kerjasama pemerintah propinsi dengan aparat keamanan, badan intelejen, dan masyarakat merupakan hal yang mutlak harus dilakukan. Untuk kedepan ada baiknya aparat pemerintahan yang berhubungan langsung dengan masyarakat dibekali dengan pengetahuan intelijen. Pengetahuan intelijen amat strategis dan penting, mengingat jajaran aparat pemerintah yang langsung berhadapan dengan masyarakat merupakan mata dan telinganya pimpinan. Misalnya Humas dan Kesbanglinmas, dengan dibekali pengetahuan intelejen aparat pemerintah dapat
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 39

melakukan deteksi dini terhadap berbagai isu, sehingga setiap isu maupun fenomena yang berkembang dan terjadi di masyarakat dapat diperoleh secara akurat dan detil. Saat ini masalah-masalah yang mucul saat ini tidak hanya pada aspek gerakan nyata, tetapi dari sisi informasi dan komunikasi termasuk pemberitaan di media cetak maupun elektronik bisa menimbulkan kerawanan-kerawanan. VII. Penutup Secara umum upaya pencegahan dan penanggulangan separatisme di Sumatera Utara berjalan dengan baik. Tidak ada tanda-tanda gerakan yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hanya saja yang perlu mendapat perhatian adalah penanggulangan kesenjangan yang terjadi yang dapat menjadi faktor pemicu gerakan separatisme. Pendeteksian dini gerakan separatisme dan koordinasi dari seluruh elemen yang terlibat. Penanganan yang bijaksana dan pendekatan terhadap masyarakat dengan memperhatikan kesejahteraan pembangunan yang memperhatikan rasa keadilan merupakan fokus penting yang harus dilakukan.

Bab 2.6. Pencegahan Dan Penanggulangan Gerakan Terorisme I. Pengantar Masalah terorisme menjadi agenda penting untuk dunia internasional. Isu terorisme menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam kehidupan bernegara, ancaman terorisme menjadi mimpi buruk yang selalu mengancam. Posisi Sumatera Utara Secara geografis yang terletak terletak pada 1-4° Lintang Utara dan 98-100 ° bujur timur merupakan bagian dari wilayah pada posisi silang di kawasan Palung Pasifik Barat, dengan batas wilayah. Daerah ini berbatasan di sebelah utara dengan Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, di sebelah selatan dengan Propinsi Riau, di sebelah timur dengan Selat Malaka dan di sebelah barat dengan Samudera Indonesia. Dengan posisi demikian maka Sumatera Utara menjadi daerah yang sangat strategis sekaligus daerah yang dapat menjadi sasaran terorisme. Sumatera Utara yang berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga Indonesia, juga dapat dijangkau dengan mudah melalui udara, laut, dan darat. Terorisme Internasional bukan tidak mungkin dapat menyusup, bersembunyi, merencanakan aksi, atau beraksi Sumatera Utara, atau

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

40

Terorisme biasanya menyebar ancaman dengan menyerang sarana-sarana vital. Sasaran vital tersebut dapat berupa pusat bisnis, gedung perkantoran, hotel, perbankan, pusat perbelanjaan dan tempat hiburan serta kedutaan/konsul negara sahabat. Untuk itu penjagaan keamanan di daerah-daerah tersebut harus menjadi perhatian meskipun sampai saat inii ancaman terorisme di Sumatera Utara dapat dikendalikan. Dalam perjalanannya Pempropsu memiliki komitmen meningkatkan kualitas aparatur melalui pendidikan dan pelatihan untuk mengantisipasi dan mencegah aksi bom yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat termasuk di Sumut. Harus disadari bahwa memerangi teroris merupakan kepentingan nasional dan internasional sehingga penanganannya diperlukan tindakan konfrehensif dengan melibatkan aparat terkait sebagai tenaga terampil dalam penanganan aset-aset yang menjadi lingkup pengamanannya. II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008) Agenda pencegahan dan penanggulangan masalah terorisme dilaksanakan sejalan dengan kebijakan nasional. Ancaman terorisme yang dikuatirkan karena letak Sumatera Utara yang strategis membuat aparat keamanan memberi perhatian khusus. Penjagaan sarana-sarana vital seperti pusat bisnis, gedung perkantoran, hotel, perbankan, pusat perbelanjaan dan tempat hiburan serta kedutaan/konsul negara sahabat dilaksanakan sesuai dengan prosedur standar yang telah ditetapkan. Pempropsu memiliki komitmen pencegahan dan penanggulangan terorisme dengan melakukan pelatihan untuk mengantisipasi dan mencegah aksi bom. Hal tersebut dilakukan untuk menjaga aset-aset negara yang berharga. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Secara eksplisit tidak ada tercantum hal yang berhubungan dengan penanganan dan pencegahan terorisme di RPJMD Transisi Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2009. Hanya secara implisit dapat dicerna bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara sangat memperhatikan keamanan dan penanganan masalah terorisme. Secara implisit sasaran yang akan dicapai dalam penanggulangan dan pencegahan masalah terorisme ini adalah terbangunya komitmen bahwa terorisme merupakan musuh bersama. Selain itu sasaran lainnya adalah terjaganya aset-aset vital/berharga yang ada di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

41

IV. Arah Kebijakan Secara eksplisit tidak ada tercantum arah kebijakan yang berhubungan dengan penanganan dan pencegahan terorisme di RPJMD Transisi Propinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2009. Hanya secara implisit dapat dicerna bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara mengarah kebijakan pencegahan dan penangan terorisme sesuai dengan kebijakan nasional dengan melakukan koordinasi antara instansi terkait. V. Pencapaian Tahun 2005-2008 Dalam kurun waktu RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006-2009 tidak terjadi aksi terorisme yang membahayakan masyarakat luas. Aset-aset negara yang berharga terjaga dengan baik. Meskipun demikian pengawasan dan penjagaan terhadap asset negara tetap dilaksanakan dengan menggunakan aparat keamanan (hansip, satpam, polisi, TNI dll). Profesionalisme penanganan terorisme dilaksanakan dengan tetap mengikuti kebijakan nasional dalam penanganan terorisme. Kesadaran untuk melatih aparat keamanan juga dilakukan dengan melakukan pelatihan untuk mengantisipasi dan mencegah aksi bom. Ini merupakan komitmen Pempropsu untuk meningkatkan kualitas aparatur. Penanganan yang komprehensif memang seharusnya melibatkan aparat terkait dan masyarakat. VI. Tindak Lanjut Tingkat kejahatan terus meningkat dari waktu ke waktu baik dari segi kualitas maupun kuantitas khususnya kejahatan teroris dengan sasaran utama objek-objek vital yang berdampak langsung terhadap perekonomian dan jaminan keamanan. Untuk itu kualitas aparat penjaga keamanan harus ditingkatkan. Pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan peningkatan keahlian aparat sebaiknya terus dilakukan dengan berkoordinasi dengan Kepolisian, TNI dan Satuan khusus anti teroris. Untuk penjagaan aset pemerintah-pemerintah daerah anggota Satpol PP, aparat keamanan yang berperan sebagai lini terdepan dalam memelihara dan menyelenggarakan ketentraman dan ketertiban umum akan selalu berhubungan langsung dengan masyarakat sehingga perlu adanya kemampuan deteksi dini (early warning) bagi setiap personil. Tindakan pencegahan akan lebih baik dilakukan sebelum segala sesuatunya terjadi. Dengan memberikan pembekalan pengetahuan tentang berbagai jenis bahan peledak, peralatan dan perlengkapannya anggota Satpol PP. Untuk itu, Satpol PP diharapkan memiliki pengetahuan dalam mengidentifikasi dan mengenal

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

42

benda-benda/barang/material yang berhubungan dengan bom serta mampu membaca dan mengantisipasi situasi yang berpotensi dapat mengganggu kondisi ketentraman dan ketertiban. Oknum-oknum yang dengan sengaja menyebarkan isu teror (bom) di pusat perbelanjaan, perkantoran, pusat hiburan dan lain sebagainya perlu mendapat tindakan tegas agar masyarakat sadar bahwa isu terorisme merupakan hal yang serius. Kesadaran memerangi teroris merupakan bagian dari kepentingan nasional dan internasional. Selain itu dukungan semua elemen warga masyarakat terutama unsur pemuda, tokoh agama, tokoh masyarakat memberikan penerangan kepada masyarakat agar mempertahankan keamanan di Sumatera Utara tetap kondusif seperti yang selama ini berjalan dengan baik. Aksi terorisme bisa saja terjadi dimanamana, dan kewaspadaan semua pihak dan dukungan untuk menyampaikan informasi terhadap pihak-pihak yang diragukan keberadaanya sangat diperlukan.Sebab ancaman teror bom ini, selain bisa nyata dan aktif, spektrumnya juga luar dan komplet serta sulit di deteksi. VII. Penutup Letak Sumatera Utara yang strategis menuntut pemerintah harus ekstra hati-hati dan awas terhadap tindakan terorisme. Pemerintah dituntut meningkatkan upaya pencegahan dna penanggulangan terorisme secara komprehensif. Untuk koordinasi dengan seluruh elemen keaman menjadi sangat penting untuk dilakukan. Kerjasama dengan masyarakat dalam penanganan aksi terorisme akan memberikan dampak pada pendeteksian dan penanganan dini terhadapa derakan terorisme.

Bab 2.7. Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara I. Pengantar Pertahanan negara erat kaitannya dengan kemampuan seluruh elemen pertahanan negara dalam menjaga keutuhan wilayah negara Indoensia. Dengan letak geografis Propinsi Sumatera Utara yang strategis, maka Propinsi Sumatera Utara memegang bagian penting dalam pertahanan negara. Secara langsung Sumatera Utara berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Hal penting yang perlu dilakukan adalah menjaga pulau-pulau terluar yang berada dalam wilayah Sumatera Utara. Penjagaan dan pemeliharaan pulau-pulau terluar tersebut sangatlah penting, karena akan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 43

berhubungan dengan batas negara dan zonasi kelautan. Pengalaman mengenai Pulau Sipadan dan Ligitan jangan sampai menimpa pulau-pulau terluar yang ada di Sumatera Utara. Salah satu pulau terluar yang penuh daya tarik adalah pula berhala. Koordinasi pertahanan negara pada daerah perbatasan tentunya menjadi sangat penting. Pada daerah perbatasan akan muncul permasalahan seperti masalah penyelundupan barang, pencurian kayu (illegal logging), dan human trafficking. Oleh sebab itu bantuan pemerintahan daerah (Sumatera Utara) di kawasan perbatasan sangat diperlukan. Pemerintah daerah juga harus mampu meningkatkan wawasan kebangsaan dan juga peningkatan kualitas kesejahteraan melalui peningkatan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, kualitas aparatur pemerintah dan juga masalah pendanaan di daerah perbatasan tersebut. Selanjutnya perhatian lain ditujukan pada semakin menguatnya kemampuan militer negara tetangga yang secara signifikan melebihi kemampuan pertahanan yang kita miliki, telah melemahkan posisi tawar dalam ajang diplomasi internasional negara Indonesia dan daerah Sumatera Utara. Potensi ancaman pertahanan negara dapat juga seperti terorisme, konflik manual, kejahatan internasional, kejahatan terhadap kekayaan negara, terutama di wilayah yurisdiks laut Indonesia dan perbatasan, maupun berkembangnya variasi tindakan kriminal konvensional. Pemerintah daerah sebaiknya harus mampu menuntaskan pembangunan karakter dan kebangsaan, terutama pemahaman mengenai masalah multikulturalisme juga dapat berdampak pada munculnya gerakan separatisme dan konflik II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008) Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang menjadi barometer pertahanan dan keamanan negara Indonesia. Secara umum kondisi pertahanan dan kemananan negara untuk daerah Sumatera Utara berjalan dengan baik. Sebagai salah satu daerah yang berbatasan dengan negara tetangga, maka Sumatera Utara memegang peranan penting dalam posisi pertahanan dan keamanan negara. Permasalahan yang banyak terjadi masalah penyelundupan barang, pencurian kayu (illegal logging), dan human trafficking. Infra struktur yang tidak memadai untuk mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan perbatasan tersebut menjadi kendala besar, sehingga masalah-masalah yang berhubungan dengan perbatasan tidak dapat semuanya diselesaikan. Masih banyak terjadi ilegal fishing di perairan Indonesia, penyelundupan berbagai barang/komoditi juga sangat menyusahkan. Aparat keamanan dan pemerintah merasa sangat kewalahan dengan luas daerah perbatasan yang harus diawasi.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 44

Pertahanan negara erat kaitannya dengan kemampuan seluruh elemen pertahanan negara dalam menjaga keutuhan wilayah negara Indoensia. Dengan letak geografis Propinsi Sumatera Utara yang strategis, maka Propinsi Sumatera Utara memegang bagian penting dalam pertahanan negara. Secara langsung Sumatera Utara berbatasan dengan Singapura dan Malaysia. Pulau-pulau terluar yang berada di Sumatera Utara belum semuanya dikelola dengan baik. Potensi pulaupulau terluar ini tentunya harus dikembangkan, tetapi keterbatasan sumber daya mengakibatkan pengelolaaannya belum seperti yang diharapkan. Beberapa pulau memang telah dikelola, seperti Pulau Berhala. Hal yang berhubungan dengan wewenang pemerintah pusat, yaitu kekuatan militer seharusnya dapat mengimbangi negara tetangga. Semakin menguatnya kemampuan militer negara tetangga secara signifikan melebihi kemampuan pertahanan yang kita miliki, telah melemahkan posisi tawar dalam ajang diplomasi internasional negara Indonesia dan daerah Sumatera Utara. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran pertahanan dan keamanan negara berhubungan dengan agenda peningkatan keamanan, ketertiban dan penanggulangan kriminalitas. Untuk dapat menjawab permasalahan dalam bidang pertahanan dan keamanan yang dihadapi, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah menetapkan sasaran utama dalam RPJMD 2004-2009, yaitu yaitu: 1. Berkembang dan meningkatnya sistem keamanan dan perlindungan masyarakat yang kondusif demi terciptanya ketertiban umum yang memberikan pembinaan kepada masyarakat/aparat tentang pentingnya Wawasan Kebangsaan. 2. Terwujudnya keterpaduan antara aparat keamanan dan masyarakat dalam pelaksanaan fungsi keamanan dan ketertiban sesuai dengan perubahan lingkungan strategis. 3. Terwujudnya aparat pertahanan sipil dan keamanan ketertiban lainnya yang professional sebagai komponen fungsi pertahanan negara yang mampu menghadapi setiap gangguan, dan siap membantu masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, (penyelamatan, relokasi, dan rehabilitasi). 4. Terlaksananya pelatihan bagi unsur yang terkait dengan perlindungan dan keamanan rakyat serta penyediaan fasilitas dan peralatan dalam pelaksanaan pengamanan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

45

IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2004-2009 adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan pembinaan organisasi masyarakat dalam penciptaan keamanan yang kondusif; 2. Meningkatkan kerjasama dengan Instansi terkait dalam pelaksanaan deteksi dini untuk mewujudkan situasi yang kondusif; 3. Meningkatkan kesiagaan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi setiap akibat kejadian bencana dan kerusuhan sosial. 4. Peningkatan professionalisme dan kuantitas aparat daerah dalam melaksanakan fungsi keamanan dan ketertiban; 5. Meningkatkan koordinasi antar badan di dalam dan luar lembaga pemerintahan untuk menanggulangi kriminalitas, narkoba dan judi serta premanisme dan gangguan keamanan lainnya; 6. Fasilitasi penyelesaian kasus-kasus sengketa tanah 7. Peningkatan sarana dan prasarana Linmas; 8. Peningkatan kualitas aparatur dalam menjaga ketertiban umum dan kesatuan bangsa; 9. Peningkatan Peran serta masyarakat dalam bela negara. VI. Pencapaian Tahun 2005-2006 Pencapaian dalam dalam bidang pertahanan dan keamanan negara tidak lepas dari capaian program nasional pemerintah Pusat Republik Indonesia. Kondisi pertahan dan keamanan di Propinsi Sumatera Utara tidak mengalami maslah yang berarti. Permasalahan yang masih tetap terjadi adalah permasalahan penyelundupan barang, pencurian kayu (illegal logging), dan human trafficking. Infra struktur yang tidak memadai untuk mengatasi permasalahan yang berhubungan dengan perbatasan tersebut menjadi kendala besar, sehingga masalah-masalah yang berhubungan dengan perbatasan belum optimal diselesaikan. Masalah ilegal fishing di perairan Indonesia juga masih menjadi kendala, walaupun pemerintah sudah berusaha untuk menyelasikannya. Luas daerah memang menjadi kendala utama, perbandingan infra struktur, sdm dan luas biasa masih sangat besar. Pulau-pulau terluar mulai diberdayakan dengan melakukan program-program pembangunan.

Pemberdayaan pulau-pulau terluar ini mengalami kendala jarak dan transportasi. Kerjasama dengan Angkatan Laut RI untuk menjaga pulau-pulau terluar terus dilaksanakan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

46

Pemerintah Sumatera Utara berkoordinasi dengan kekuatan militer dalam penanganan pertahanan dan keamanan negara. Pendidikan dan pelatihan bela negara untuk masyarakat dan aparat pemerintahan juga terus digalakan sehingga muncul kesadaran kebangsaan dan bela negara yang tinggi. VI. Tindak Lanjut Pemerintah Sumatera Utara harus meningkatkan koordinasi dengan militer dan pemerintah usat dalam penanganan pertahanan dan keamanan negara. Permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan perbatasan dan negara tetangga harus diselesaikan sesuai dengan kebijakan nasional. Pemerintah Sumatera Utara sebaiknya sudah mulai memikirkan pengembangan pulau-pulau terluar dengan memberdayakan potensi pulau terluar tersebut. Dengan terjadanya pulau terluar tersebut maka perbatasan dan zonasi kelautan dapat terjaga dengan baik. Perhatian pembangunan kawasan perbatasan dilakukan dengan tujuan untuk menjaga keutuhan wilayah NKRI dan juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat dengan menggali potensi ekonomi, sosial dan budaya serta lokasi yang strategis untuk berinterkasi dengan negara tetangga. Penambahan aparat dan SDM yang mengawasi sumber daya yang ada di daerah perbatasan perlu mendapat perhatian khusus. Luasnya daerah cakupan yang harus diawasi diikuti dengan infra struktur dan sdm yang mencukupi untuk pengawasan tersebut, sehingga ilegal fishing, penyeludupan, trafficking dan kegiatan lain yang merugikan dapat dicegah dan diberantas. Ada baiknya pemerintah Sumatera Utara berkordinasi dengan militer dan pemerintah pusat mengenai kekuatan militer baik personil maupun peralatan yang tertinggal dengan kekuatan militer negara tetangga.

VII. Penutup Pertahanan negara merupakan hal pokok dalam menegakkan kedaulatan negara dan melindungi segenap komponen bangsa. Pembangunan kekuatan pertahan negara harus diselenggarakan secara terpadu. Peran daerah menjadi sangat penting dalam menjaga pertahan negara, apalagi Sumatera Utara berbatasan langsung dengan negara-negara tetangga. Harus disadari bahwa Indonesia mempunyai keterbatasan sehingga kemampuan pertahanan negara belum optimal. Potensi ancaman keamanan dari luar dan dalam negeri harus diperhatikan dan dideteksi dari awal.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

47

Bab 2.8. Pemantapan Politik Luar Negeri Dan Peningkatan Kerjasama Internasional I. Pengantar Politik Luar Negeri merupakan bagian wewenang pemerintah pusat, dan pemerintah daerah hanya melakukan program-program yang berhubungan dengan kerjasama luar negeri sesuai dengan kebijakan nasional. Beberapa daerah kabupaten/kota menjalankan kerjasama dengan kota luar negeri melalui program Kota Kembar, sebagai contoh Medan dengan Penang dan Ichikawa Jepang. Kerjasama yang dilakukan berkisar pada bidang perdagangan, pariwisata, pendidikan, perhubungan/transportasi dan lain sebaginya. Sumatera Utara yang merupakan bagian dari Negara Indonesia juga turut ambil bagian dalam konteks kerja sama tiga negara yang tergabung dalam Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle (IMT-GT) yang sepakat melakukan kerjasama disegala bidang. Dikeranakan letaknya yang berdekatan dengan negara tetangga yang tergabung dalam IMT-GT, Sumatera sangat sering sekali menjadi tempat kegiatan-kegiatan kerjasama dilakukan. II. Kondisi Awal RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006–2009 (Tahun 2006-2008) Sumatera Utara sudah mempunyai hubungan kerjasama dengan negara-negara lain terutama negaranegara tetangga. Kerjasama yang terjalin tersebut berkisar pada hubungan perdagangan. Banyak investor yang menginvestasikan modalnya di Sumatera Utara. Hal ini didukung dengan kondisi Sumatera Utara yang kondusif. Pengembangan investasi di Sumatera Utara sangat didukung potensi sumber daya, sarana dan prasarana daerah. Daerah Sumatera Utara terkenal dengan potensi eksport minyak kelapa sawit, coklat, karet dan hasil perkebunan lainnya. Penguatan sub sektor perkebunan yang menjadi primadona ekspor menjadi daya tarik tersendiri dalam kerjasama perdagangan dengan luar negeri. Beberapa kabupaten/kota melakukan kerjasama dengan kota negara sahabat dengan memperhatikan kepentingan perkembangan kota dan manfaat yang diterima dari hasil kerjasama tersebut. Sebagai contoh, Kota Medan telah melakukan kerjasama dan program kota kembar dengan Penang dan Ichikawa.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

48

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Untuk dapat menjawab permasalahan dalam bidang sistem dan politik hukum yang dihadapi, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah menetapkan sasaran utama dalam RPJMD 2004-2009, yaitu meningkatnya jumlah minat investor untuk melakukan investasi di Sumatera Utara. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Provinsi Sumatera Utara sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2004-2009 adalah sebagai berikut: 1. Pengembangan strategi pemantauan ekspor terutama ke negara-negara non tradisional. 2. Peningkatan kualitas kelembagaan pusat promosi ekspor 3. Peningkatan kualitas pelayanan kepada para eksportir 4. Fasilitasi peningkatan mutu produk komoditi pertanian, perikanan dan industri yang berpotensi ekspor. 5. Penguatan kapasitas laboratorium penguji produk ekspor-import 6. Peningkatan jaringan informasi ekspor dan impor. 7. Menyiapkan potensi sumberdaya, sarana dan prasarana daerah yang terkait dengan investasi; 8. Memfasilitasi terwujudnya kerjasama strategis usaha besar dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM); 9. Melakukan promosi investasi yang terkoordinasi baik di dalam dan di luar negeri; 10. Meningkatkan kerjasama di bidang investasi dengan instansi pemerintah dan dunia usaha baik di dalam maupun di luar negeri. V. Pencapaian Tahun 2005-2006 Provinsi Sumatera Utara yang memiliki luas 71.680 Km2 berada pada posisi strategis yakni pada jalur lalu lintas perdagangan dunia yang cukup padat yakni Selat Malaka. Selain itu Sumatera Utara juga berada dalam kawasan pertumbuhan ekonomi regional Indonesia, Singapura, Malaysia dan Thailand. Sampai saat ini daerah Sumatera Utara telah dihubungkan transportasi darat, laut dan udara dengan negara Singapura, Malaysia, dan Thailand yang memfasilitasi perdagangan antar daerah/negara tersebut. Dengan posisi yang strategis tersebut, Sumatera Utara akan lebih mudah berintegrasi dengan perekonomian global dan memanfaatkan potensi yang cukup besar di negara Singapura, Malaysia dan Thailand. Sumatera Utara yang memiliki produk yang dibutuhkan di Negara-negara tersebut seperti sayuran, daging, produk perkebunan, pariwisata dan lain-lain, posisi strategis tersebut akan dapat memberi manfaat maksimal bagi Sumatera Utara.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 49

Secara umum kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang ada di Sumatera Utara dengan luar negeri memberikan hasil yang positif. Dengan seemangat otonomi darah seluruh daerah yang ada di propinsi Sumatera Utara sudah membuka lebar peluang kerjasama dan investasi luar negeri. Kerjasama yang dilakukan berkisar pada hubungan perdagangan dan pariwisata. Potensi minyak kelapa sawit, coklat, karet dan hasil perkebunan lainnya menarik banyak investor untuk berinvestasi. Kerjasama kota-kota kembar tetap dilakukan oleh kabupaten/kota dengan negara sahabat. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan juga banyak melakukan kerjasama dengan lembaga sejenis di luar negeri. VI. Tindak Lanjut Kerjasama daerah dengan luar negeri sebaiknya tetap dilaksanakan dengan memegang prinsip nilai dan kepentingan daerah. Pemerintah Sumatera harus menyadari bahwa investasi menjadi bagian penting bagi kemajuan Sumatera Utara. Secara umum kerjasama yang dilakukan oleh pemerintah daerah yang ada di Sumatera Utara dengan luar negeri memberikan hasil yang positif. Dengan seemangat otonomi darah seluruh daerah yang ada di provinsi Sumatera Utara sudah membuka lebar peluang kerjasama dan investasi luar negeri. Kerjasama yang dilakukan berkisar pada hubungan perdagangan dan pariwisata. Potensi minyak kelapa sawit, coklat, karet dan hasil perkebunan lainnya menarik banyak investor untuk berinvestasi. Kerjasama kota-kota kembar tetap dilakukan oleh kabupaten/kota dengan negara sahabat. Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan juga banyak melakukan kerjasama dengan lembaga sejenis di luar negeri. VII. Penutup Peran strategis Sumatera Utara dalam kerjasama luar negeri seharusnya dapat ditingkatkan. Pemerintah Sumatera Utara hanya merupakan pendukung pelaksana dalam pembangunan bidang ini karena kebijakan hubungan dan politik luar negeri merupakan wewenang pemerintah pusat. Pemerintah Propinsi Sumatera Utara ke depan juga dapat memotivasi kerjasama-kerjasama

kabupaten/kota dengan kota-kota di luar negeri dalam bidang-bidang unggulan. Penegasan komitmen kerjasama juga harus didukung dengan prinsip saling menguntungkan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

50

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

51

BAB III AGENDA MEWUJUDKAN INDONESIA YANG ADIL DAN DEMOKRATIS

Bab 3.1 Pengantar Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis
Propinsi Sumatera Utara merupakan salah satu propinsi yang ada di Indonesia, yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Sebagai salah satu propinsi yang ada di Indonesia, Sumatera Utara tentunya memberi andil dalam perwujudan agenda nasional untuk ”Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis”. Bagaimanapun juga pembangunan daerah tidak terlepas dari pada pembangunan nasional, oleh karena itu RPJM transisi Propinsi Sumatera Utara juga akan sangat memperhatikan arahan-arahan yang terdapat dalam pembangunan nasional (RPJM Nasional). Hal tersebut jelas dinyatakan dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah transisi Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara pada Bab IV Arah Kebijakan Umum. Menciptakan rasa adil untuk semua masyarakat Indonesia merupakan amanat yang jelas-jelas nyata dituangkan pada sila kelima dari Pancasila yang menjadi dasar dan idiologi negara. Keadilan harus dipahami sebagai tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bentuk, baik yang sifatnya gender (jenis kelamin), kaya-miskin, penguasa-masyarakat, etnis, agama, kelompok, dan sebagainya. Mendapatkan keadilan merupakan hak-hak dasar dari manusia. Keadilan di mata hukum, keadilan dalam menerima sumber-sumber ekonomi, keadilan dalam menerima pelayanan, dan sebagainya, tanpa ada diskriminasi seperti telah disebutkan di atas. Meskipun untuk beberapa hal Pemerintah Daerah Sumatera Utara sudah berhasil dalam memenuhi rasa keadilan masyarakatnya, yang antara lain dapat dilihat dari tetap terpeliharanya keharmonisan masyarakat Sumatera Utara baik lintas agama, lintas etnik, dan lintas kelompok sosial lainnya, meskipun ada pihak-pihak yang tak bertanggungjawab mencoba untuk memicu konflik di Sumatera Utara. Selain itu, Pemerintahan Sumatera Utara juga terus melakukan upaya memasyarakatkan dan memantapkan prinsip persamaan serta anti diskriminasi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Prinsip ini memberikan peluang yang sama kepada setiap lapisan masyarakat untuk berperan dan berpartisipasi dalam semua bidang kehidupan di Daerah Provinsi Sumatera Utara. Namun demikian, di sisi lain, rasa keadilan juga masih menjadi persoalan, khususnya yang berkaitan dengan keadilan hukum. Kasus vonis bebas terhadap Adlin Lis dalam perkara ilegal logging pada tingkat pengadilan Sumatera Utara, merupakan contoh betapa keadilan hukum masih perlu mendapat perhatian serius.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

52

Transformasi Era Orde Baru ke Era Reformasi merupakan titik awal pencerahan demokrasi di Indonesia. Perubahan sistem pemerintahan dari yang sentralistis ke desentarilis, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, serta kepala daerah dari sistem perwakilan ke sistem pemilihan langsung, merupakan gambaran semakin menguatnya demokrasi di Indonesia. Penguatan proses demokrasi juga menjalar ke dalam berbagai segi kehidupan di tengah-tengah masyarakat. Terpenuhinya rasa keadilan masyarakat dan semakin berkembangnya iklim yang demokratis menuntut kesiapan pemerintah sebagai orang yang diberi mandat untuk melakukan perbaikan dan pengembangan pada bidang dimaksud. Karena itu, tata pemerintahan yang baik (good governance) merupakan keharusan yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Dalam konteks ini tentunya diperlukan agenda peningkatan kapasitas (capacity building) Pemerintahan Sumatera Utara, baik di tingkat individu, tingkat kelembagaan, maupun di tingkat sistem. Untuk mensinkronkan agenda pembangunan nasional dengan agenda pembangunan di daerah dalam hal Agenda Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis, Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara juga telah membuat sasaran pokok dengan prioritas dan arah kebijakan yang mendukung agenda tersebut, meskipun belum mengikuti secara penuh agenda pembangunan nasional. Hal ini dapat dilihat dari agenda pembanguan daerah yang merupakan titik sentral dari rencana pembangunan jangka menengah daerah yang memuat prioritas utama daerah sebagai berikut: Pertama, Agenda Pertama Menciptakan Good Governance dan Mendorong Penegakan Hukum, dengan 3 (tiga) prioritas utama yaitu: 1). Upaya penciptaan Good Governance; 2). Peningkatan menjadi aparatur yang bersih dan berwibawa; dan kompetensi aparatur pemerintah

3). Peningkatan kesadaran masyarakat akan taat hukum. Kedua, Agenda Kedua Pembinaan Sumber Daya Manusia yang Berkualitas, dengan 3 (tiga) prioritas utama yaitu: 1). Pembinaan Masyarakat; 2). Peningkatan Penuntasan Wajib Belajar 9 Tahun dan Kualitas dan kuantitas SDM yang Beriman dan Bertaqwa; dan 3). Peningkatan Kehidupan Beragama. Ketiga, Agenda Ketiga Membina Masyarakat yang Harmonis Dengan Rasa Keadilan, Kesetaraan, dan Rasa Persatuan, dengan prioritas utama yaitu: Peningkatan Keharmonisan Antar Golongan, Kelompok dan Antar Umat Beragama dan Perwujudan Demokrasi. Keempat, Agenda Keempat Membangun Ekonomi Daerah Termasuk Pengentasan Kemiskinan, dengan prioritas utama yaitu: 1). Revitalisasi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan; 2). Pembangunan Industri berbasis pertanian; 3). Pembangunan Kepariwi-sataan; 4). Peningkatan Pendapatan Daerah; dan 5). Pengentasan Kemiskinan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 53

Kelima, Agenda Kelima Membangun Prasarana Dan Sarana Daerah, dengan prioritas utama yaitu: 1. Peningkatan dan Percepatan Pembangunan Prasarana dan Sarana Transportasi Darat, Laut dan Udara; 2. Peningkatan dan Percepatan Pembangunan Sumber Daya Air dan Energi; 3. Percepatan Pembangunan Kawasan Tertinggal dan Perbatasan; 4. Pengendalian dan pemanfaatan tata ruang; 5. Penyem-purnaan dan Pengembangan statistik. Bila merujuk pada agenda pembangunan nasional yang kedua, yaitu Mewujudkan Indonesia Yang Adil dan Demokratis, maka Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara belum membuat agenda yang mengakomodasi sepenuhnya agenda pembangunan nasional. Meskipun untuk beberapa prioritas utama pada 5 agenda pembangunan Sumatera Utara, agenda pembangunan nasional yang kedua sudah terakomodasi. Namun pengakomodasian tersebut tidak terkonsentrasi pada satu agenda pembangunan saja, seperti halnya dalam agenda pembangunan nasional.

Bab 3.2 Pembenahan Sistem Hukum Nasional dan Politik Hukum

I. Pengantar Pembangunan sistem hukum menurut Laporan Evaluasi RPJM Nasional 2004-2009 (2008) pada dasarnya meliputi pembangunan materi hukum, pembangunan struktur hukum, dan pembangunan budaya hukum. Pembangunan ini juga terkait dengan proses penyusunan, sinkronisasi, dan harmonisasi berbagai peraturan dan perundang-undangan, baik yang berlaku secara nasional maupun Peraturan Daerah (Perda). Sementara itu pembangunan struktur hukum meliputi pembangunan kelembagaan hukum yang ada, baik itu berupa hubungan atau koordinasi antara satu lembaga hukum dengan lembaga hukum lainnya, pemberdayaan lembaga hukum, maupun peningkatan kualitas dan profesionalisme sumber daya manusia (SDM) di bidang hukum. Sedangkan pembangunan budaya hukum pada dasarnya merupakan persepsi masyarakat terhadap substansi hukum maupun struktur hukum yang melaksanakan hukum tersebut. Perspektif masyarakat ini merupakan unsur penting mengingat keberhasilan pembangunan hukum tidak hanya tergantung pada aparat hukum yang melaksanakannya, akan tetapi juga partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan hukum merupakan salah satu kunci keberhasilan. Bila supremasi hukum dapat ditegakkan di tengah-tengah masyarakat, niscaya akan terwujud ketertiban, menguatkan rasa saling percaya (trust), kedamaian, rasa aman, dan hidup rukun dalam masyarakat akan dapat terwujud. Hal tersebut menunjukkan adanya keterkaitan antara damai, adil dan sejahtera.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

54

Persoalan yang paling umum dalam rangka pembenahan sistem hukum adalah masalah sinkronisasi antara daerah dan pusat (nasional), dimana akibat euporia otonomi daerah yang berlebihan, atau karena kurangnya pemahaman terhadap peraturan perundangan-undangan nasional, membawa akibat pada banyaknya produk Peraturan Daerah (Perda) yang tidak sinkron dengan perundang-undangan nasional. Hal ini akan membawa dampak bagi ketidakpastian hukum, dan akhirnya akan bermuara pada munculnya ketidakpercayaan stakeholders terhadap produk-produk Peraturan Daerah. Hal ini akan berpengaruh besar terhadap iklim investasi, bila produk peraturan tersebut terkait dengan persoalan inverstasi di daerah. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Sistem hukum yang baik akan berkontribusi bagi terwujudnya kedamaian, ketertiban dan keadilan di tengah-tengah masyarakat. Proses awal dalam upaya terciptanya sistem hukum yang baik adalah produk perundang-undangan yang dihasilkan, baik pada tingkat nasional maupun pada tingkat daerah. Untuk tingkat daerah, produk hukum yang paling utama adalah sejauhmana Pemerintahan Daerah (Legislatif) mampu menghasilkan Peraturan Daerah (Perda), baik Peraturan Daerah yang diusulkan oleh eksekutif maupun dari inisiatif legislatif (DPRD) sendiri. Pada tahun 2004 tercatat ada 9 (sembilan) Peraturan Daerah (Perda) yang yang dikeluarkan oleh DPRD Propinsi Sumatera Utara. Sedangkan pada tahun 2005, DPRD Propinsi Sumatera Utara hanya berhasil mensyahkan 4 (empat) Perda. Bila dibandingkan produk Perda antara tahun 2004 dan 2005, terjadi penurunan yang sangat signifikan. Hal yang sama juga terjadi pada keputusan DPRD (Parliament Decree), terjadi penurunan, dari 27 (dua puluh tujuh) keputusan pada tahun 2004 menjadi 9 (sembilan) keputusan pada tahun 2005. Hal yang cukup menggembirakan pada tahun 2004 (khususnya di era reformasi) adalah meningkatnya peranan komunikasi melalui media massa untuk mencerdaskan kehidupan politik masyarakat, meningkatnya peranan pers yang bebas sejalan dengan peningkatan kualitas insan pers, memperkukuh persatuan dan kesatuan, membentuk kepribadian bangsa, serta meningkatkan kualitas komunikasi pada semua bidang melalui penguasaan teknologi informasi dan komunikasi guna memperkuat daya saing bangsa dalam menghadapi tantangan global. Tata pemerintahan yang baik (good governance) sebagai prasyarat bagi terwujudnya sistem hukum dan politik hukum masih belum berjalan dengan baik. Reformasi birokrasi yang dilakukan dirasakan kurang memadai sehingga diperlukan berbagai penyempurnaan. Di sisi internal, berbagai faktor seperti demokrasi, desentralisasi dan internal birokrasi itu sendiri, masih berdampak pada tingkat kompleksitas permasalahan antara lain pelanggaran disiplin; penyalahgunaan kewenangan dan penyimpangan yang tinggi; rendahnya kinerja sumber daya aparatur; kurang memadainya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan; rendahnya kesejahteraan PNS; dan banyaknya peraturan perundang-undangan yang sudah
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 55

tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dan tuntutan pembangunan. Sedangkan di sisi eksternal, faktor globalisasi dan revolusi teknologi informasi juga akan kuat berpengaruh terhadap pencarian alternatifalternatif kebijakan dalam bidang aparatur negara seperti masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang; masih maraknya praktek KKN; dan masih rendahnya kinerja aparatur negara. Kondisi awal yang dirasakan terkait dengan agenda sistem hukum dan politik adalah bahwa kepastian penegakan hukum belum seperti yang diharapkan dan masih banyak pelanggaran hukum yang tidak ditindaklanjuti dan tidak tuntas. Kurang mantapnya penegakan hukum memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh, karena berdampak sangat luas terhadap bidang kehidupan lainnya seperti kurangnya minat para investor untuk mengadakan investasi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Berkurangnya wibawa pemerintah berakibat pada kurang efektifnya pelaksanaan pemerintahan, timbulnya resistensi masyarakat terhadap program Pemerintah, sehingga pelaksanaan program menjadi kurang berdaya guna dan berhasil guna. Faktor penyebab belum mantapnya kepastian hukum ini cukup kompleks antara lain adalah sikap aparat penegak hukum yang belum semuanya bertekad untuk menegakkan hukum secara konsisten. Faktor lain ialah kurangnya prasarana dan sarana penegakan hukum sehingga kemampuan penegakan hukum belum seimbang dengan permasalahan hukum yang muncul. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Untuk dapat menjawab permasalahan dalam bidang sistem dan politik hukum yang dihadapi, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah menetapkan sasaran utama dalam RPJMD 2004-2009, yaitu: (1) berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas; (2) terciptanya sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien dan berwibawa; (3) terhapusnya aturan, peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat; (4) meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik; (5) terjaminya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan peraturan dan perundangan diatasnya; (6) terciptanya kelembagaan dan ketatalaksanaan yang baik dalam mendukung penyelenggaran pemerintahan yang bersih (good governance); (7) tersedianya prasarana dan sarana dalam mendukung pelaksanaan pemerintahan umum dan pembangunan. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintahan Propinsi Sumatera Utara sebagaimana tertuang dalam RPJMD 2004-2009 adalah sebagai berikut:
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 56

1. Meningkatkan Kerjasama dan memberi bantuan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan penegakan hukum secara konsisten; 2. Memberi dukungan kepada aparat penegak hukum untuk menyelesaikan masalah-masalah KKN dan pelanggaran HAM serta mengupayakan penyelesaian kasus-kasus tanah yang berkaitan dengan perkebunan; 3. Peningkatan pendidikan dan penyadaran politik secara intensif dan komprehensif kepada masyarakat untuk mengembangkan budaya politik yang demokratis; 4. Menyempurnakan kebijakan mediasi dan fasilitasi pelaksanaan pembauran bangsa, demokratisasi dan wawasan kebangsaan; 5. Mengefektifkan forum komunikasi antara Pemerintah Provinsi dengan Pimpinan Parpol, Ormas, LSM dan Tokoh Masyarakat; 6. Meningkatkan koordinasi serta kerjasama dengan badan-badan di dalam dan di uar lembaga pemerintahan untuk kelancaran pelaksanaan tugas

V. Pencapaian Tahun 2005 – 2007 Produk hukum berupa Peraturan Daerah (Perda) dan Keputusan DPRD merupakan indikator yang dapat digunakan untuk melihat bagaimana pembenahan sistem hukum di Propinsi Sumatera Utara. Bedasarkan Data BPS Propinsi Sumatera Utara (2007) dapat diketahui bahwa terjadi fluktuasi jumlah produk Perda dan Keputusan DPRD selama kurun waktu 2004 – 2007, yaitu 9 Perda (2004), 4 Perda (2005), dan 8 Perda (2006); sedangkan Keputusan DPRD, 27 Keputusan DPRD (2004), 9 Keputusan DPRD (2005), dan 12 Keputusan DPRD (2006). Data tersebut menunjukkan penurunan pada tahun 2005, dan kembali menunjukkan angka peningkatan pada 2006, meskipun belum mampu menyamai pada tahun 2004. Banyaknya jumlah Perda dan Keputusan DPRD yang dihasilkan pada tahun 2004 lebih disebabkan pada tahun tersebut merupakan tahun awal bekerjanya DPRD baru hasil Pemilihan secara langsung. Bila dilihat dari terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan peraturan dan perundangan diatasnya, ternyata produk Perda yang dihasilkan di Sumatera Utara (Kabupaten/Kota dan Propinsi) masih ada yang bertentangan dengan peraturan pusat. Dari laporan yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan pada tahun 2008, disebutkan bahwa masih ada produk Perda Sumatera Utara yang bermasalah dengan peraturan pusat. Tentunya Perda yang bertentangan dengan peraturan pusat tersebut harus dicabut. VI. Tindak Lanjut

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

57

Persoalan hukum, khususnya yang terkait dengan penegakan (supremasi) hukum yang masih lemah oleh aparat penegak hukum dan belum konsisten produk-produk hukum di daerah dengan hukum nasional akan membuat masyarakat termasuk para pelaku dunia usaha semakin tidak percaya terhadap pemerintah. Ikutan dari semua itu adalah terganggunya ketertiban di dalam masyarakat, enggannya dunia usaha berinvestasi di daerah, yang pada akhirnya akan berakibat semakin jauhnya cita-cita mewujudkan kesejahteraan masyarakatnya. Karena itu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai sasaran yang telah dibuat untuk dua tahun terakhir adalah: 1. Peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) yang berkaitan dengan produk hukum dan politik. 2. Menyelenggarakan pelayanan publik dan pelayanan hukum yang dapat memberi rasa keadilan bagi setiap masyarakat melalui perbaikan pelayanan publik dan pelayanan hukum. 3. Pembinaan aparatur penegak hukum yang memiliki integritas pribadi yang jujur, moral yang tinggi, berdisiplin dan teguh pendirian dengan keputusan-keputusan yang berkualitas dan memenuhi rasa keadilan dan kepastian hukum masyarakat, khususnya masalah pemberantasan korupsi. 4. Meningkatkan pengawasan terhadap aparat penegak hukum dan aparatur daerah dalam rangka perwujudan pemerintahan daerah yang berwibawa, bersih dan bebas KKN. 5. Melakukan evaluasi terhadap Perda-Perda yang dinyatakan bermasalah oleh Pemerintah Pusat. VII. Penutup Rasa ketidakadilan masyarakat terhadap proses dan penegakan hukum masih terus berlanjut. Artinya, masyarakat masih merasakan adanya perlakuan diskriminasi hukum. Meskipun upaya-upaya untuk penegakan hukum secara konsisten dan adil telah diupayakan, namun disana-sini masih terjadi ketidakkonsistenan beberapa oknum penegak hukum dan aparat pelayan publik. Keinginan masyarakat yang begitu besar akan perubahan yang mendasar dalam penegakan hukum di era reformasi ini menuntut pemerintah daerah harus bekerja lebih ekstra sehingga dapat memenuhi harapan masyarakat tersebut. Dalam upaya peningkatan kualitas penegakan hukum dan produk-produk hukum (Perda) pemerintah daerah harus terus mengupayakan perbaikan-perbaikan secara konsisten. Untuk itu diperlukan dukungan dan kontrol segenap lapisan masyarakat, termasuk media massa, sehingga sasaran pembenahan sistem hukum dapat tercapai. Pemerintah pusat hendaknya juga segera membuat PP, Juklak, dan Jukdis setiap produk perundangundangan yang baru, sehingga daerah segera dapat mengimplementasikannya.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

58

Bab 3.3 Penghapusan Diskriminasi Dalam Berbagai Bentuk I. Pengantar Diskriminasi merupakan bentuk ketidakadilan. Pancasila sebagai idiologi bangsa Indonesia dan Undangundang Dasar (UUD) 1945 secara tegas mengutamakan kesetaraan dan keadilan dalam kehidupan bermasyarakat di segala bidang. Untuk itu Pancasila dan UUD 1945 beserta amandemennya sangat penting untuk menjadi acuan universal para penyelenggara negara dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Ratifikasi yang telah dilakukan pemerintah Indonesia terhadap Konvensi Internasional berkaitan dengan diskriminasi terhadap perempuan dan diskriminasi rasial mengharuskan pemerintah membuat peraturan nasional yang mengakomodasi ratifikasi tersebut. Hal itu sudah dilakukan oleh pemerintah pusat dengan mengeluarkan beberapa produk perundang-undangan. Produk peraturan perundangan-undangan nasional tersebut sudah seharusnya pula diikuti oleh produk hukum di tingkat daerah (Propinsi dan Kabupaten/Kota) berupa lahirnya Peraturan Daerah yang mengakomodir perlakuan yang adil dan setara bagi setiap kesempatan untuk memperoleh sumber-sumber daya yang tersedia, pelayanan publik dan penegakan hukum. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Diskriminasi dalam praktek dapat terjadi secara eksplisit maupun secara implisit baik pada peraturan perundang-undangan atau pemberlakuannya yang membeda-bedakan warga negara (etnis, agama, gender, lapisan sosial, dsb.) yang akhirnya melahirkan ketidakadilan. Akibat konstruksi sosial budaya yang bersifat diskriminatif terhadap kaum perempuan sudah begitu lama berlangsung, seringkali masyarakat, termasuk pemerintah kurang tanggap atau tidak mau tanggap terhadap hadirnya praktek-praktek diskriminasi di dalam masyarakat, khususnya yang terkait dengan diskriminasi gender. Dalam bidang politik misalnya, meskipun perundang-undangan mengamanatkan kuota minimal 30 % bagi perempuan di legislatif, ternyata belum ada Partai Politik yang dapat memenuhi kuota tersebut di Propinsi Sumatera Utara. Secara keseluruhan komposisi perempuan dan laki-laki pada DPRD Propinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

59

Tabel 3.1 Jumlah Anggota DPRD Provinsi Sumatera Utara Menurut Jenis Kelamin No. 1 2 3 4 5 6 7 8 Daerah Pemilihan Dapem I Medan Dapem II Deli Serdang Dapem III Serdang Bedagei, Tebing Tinggi Dapem IV Asahan, Tanjung Balai Dapem V Labuhan Batu Dapem VI Tapanuli Selatan, Sidimpuan, Mandailing Natal Dapem VII Nias, Nias Selatan Dapem VIII Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, Toba Samosir, Samosir, Humbang Hansundutan Dapem IX Simalungun, Pematang Siantar Dapem X Karo, Dairi, Pakpak Barat Dapem XI Langkat, Binjai Laki-laki 12 11 5 8 7 7 5 8 Perempuan 2 1 Jumlah 14 11 5 8 7 8 5 8

9 10 11

7 4 6 80

2 5

7 6 6 85

Jumlah Sumber: Sumatera Utara Dalam Angka 2007

Hal yang hampir sama juga terjadi di pemerintahan (eksekutif), dimana sebagian besar Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menduduki jabatan-jabatan strategis setingkat eselon II dan eselon III di Pemerintah Daerah Propinsi Sumatera Utara masih didominasi oleh kaum laki-laki. Emiyanti (2008) menyebutkan Jumlah Perempuan yang menduduki eselon II ada 3 orang (4,1%); eselon III 33 orang (10,9%); dan eselon IV 231 orang (22,29%). Terjadinya ketimpangan tata hubungan sosial laki-laki dan perempuan (relasi gender) yang berlangsung selama ini merupakan akar masalah yang menjadikan kaum perempuan: pertama, Sebagai sumberdaya
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 60

insani pembangunan yang memiliki kualitas rendah, sehingga tidak memiliki daya saing, akibatnya produktifitasnya rendah; kedua, perempuan tertinggal jauh dibanding dengan laki-laki di seluruh sektor pembangunan: politik, pendidikan, ketenagakerjaan, ekonomi, kesehatan, hukum, pertahanan keamanan; ketiga, Di tengah masyarakat, baik dilingkungan keluarga maupun dilingkungan umum muncul perilaku kekerasan terhadap perempuan (violence), perdagangan orang (trafficking). Perempuan memiliki beban ganda (double burden), dimana ia terlibat dalam pekerjaan dirumah tangga (domestic) dan disektor publik juga bekerja untuk menambah penghasilan keluarga; keempat, Perempuan memiliki akses, peran, dan kontrol yang rendah pada semua dimensi pembangunan sehingga hasil pembangunan belum dapat dinikmati secara adil oleh kaum perempuan. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Ada beberapa sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMD 2004-2009 berkaitan dengan penghapusan diskriminasi dalam berbagai bentuk, yaitu : 1. Penghapusan diskriminasi dan peningkatan peran serta semua lapisan masyarakat untuk terwujudnya kesadaran masyarakat, dan peningkatan fungsi lembaga serta sistem peradilan. 2. Terciptanya kemudahan akses fasilitas pendidikan bagi keluarga miskin 3. Meningkatnya kualitas, keterjangkauan dan pemerataan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana/konflik serta masyarakat pekerja IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan dalam RPJMD 2004-2009 adalah: 1. Penghapusan berbagai praktek diskriminasi dalam segala bidang pembangunan 2. Memfasilitasi peningkatan fungsi lembaga dan sistem peradilan di Sumatera Utara 3. Peningkatan kualitas hidup, peran, dan kedudukan perempuan diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan dan perlindungan perempuan terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. 4. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak sebagai bentuk pemenuhan hak-hak anak, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, hukum dan ketenagakerjaan. 5. Penguatan kelembagaan dan jaringan Pengarusutamaan Gender dan anak termasuk ketersediaan data gender dan profil anak.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

61

6. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan anak dan Pemberdayaan Perempuan serta penyerasian kebijakan peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak diberbagai bidang pembangunan. 7. Peningkatan pelayanan pendidikan formal maupun non formal bagi penduduk miskin, daerah terpencil, kepulauan, dibawah rata-rata nasional, serta pada anak cacat, anak-anak yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental dan sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa baik laki-laki maupun perempuan. 8. Peningkatan kualitas, keterjangkauan, dan pemerataan pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender melalui pelaksanaan program prioritas nasional yang disesuaikan dengan masalah dan ketersediaan sumber daya lokal; peningkatan kegiatan luar gedung; peningkatan advokasi, sosialisasi dan informasi kesehatan; pengembangan dan pemenuhan sumber daya. V. Pencapaian Tahun 2005-2007

Peningkatan penyediaan fasilitas pendidikan yang dapat terjangkau oleh semua lapisan masyarakat merupakan bagian dari upaya untuk mengurangi adanya diskriminasi dalam masyarakat. Bila melihat angka yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik Sumatera Utara (2007), maka telah terjadi peningkatan jumlah fasilitas pendidikan di Sumatera Utara yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

62

Untuk fasilitas kesehatan, khususnya fasilitas Rumah Sakit Umum (Pemerintah) justru terjadi penurunan, yaitu dari 34 Rumah Sakit Umum pada tahun 2004, menjadi 29 Rumah Sakit Umum pada tahun 2005 dan 2006. Untuk Rumah Sakit Umum (swasta) terjadi peningkatan jumlah, dari 93 Rumah Sakit Umum pada tahun 2004 menjadi 102 Rumah Sakit Umum pada Tahun 2005 dan 2006 (BPS Sumatera Utara, 2007). Sementara itu, untuk fasilitas Pusat Kesehatan Masyarakat dan sejenisnya (Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Balai Pengobatan Umum dan Posyandu), keseluruhannya mengalami peningkatan bila dilihat pada tahun 2004 – 2006. Meskipun belum tersedia sumber data yang secara akurat dapat menjelaskan angka tafficking khususnya trafficking anak di Sumatera Utara, namun dari berbagai informasi yang dikumpulkan oleh M. Zahrin Piliang (Ketua KPID Sumatera Utara) diperoleh data sebagai berikut:

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

63

Tabel 3.2 Trafficking Anak di Sumatera Utara No. 1. 2. 3. 4. Lembaga Pendamping PKPA Pusaka Indonesia KKSP KPAID Prov. Sumatera Utara Total 2005 97 97 2006 33 18 12 10 73 2007 26 2 5 33

Sumber: M. Zahrin Piliang, Makalah pada Seminar Kependudukan, KB, PP, dan PA, Bappedasu (2008) Data pada Tabel 2 tersebut menunjukkan bahwa telah terjadi penurunan angka trafficking anak di Sumatera Utara. Hal ini tidak terlepas dari perhatian semua pihak, termasuk LSM yang konsern dengan trafficking. Namun demikian, persoalan trafficking ini harus terus mendapat perhatian dari pemerintah propinsi. Mengingat Sumatera Utara merupakan salah satu daerah yang dianggap sebagai tempat transit para korban trafficking, saat ini di Kota Medan telah tersedia rumah penampungan bagi korban trafficking yang dikelola oleh civil society dan mendapat fasilitasi dari Pemerintah Daerah melalui Dinas Sosial, walaupun kondisi dan fasilitasnya masih jauh dari layak. Di samping itu telah terbentuk pula forum kerjasama dengan berbagai pihak, utamanya LSM dalam menangani trafficking dan eksploitasi anak yang difasilitasi oleh Biro Pemberdayaan Perempuan Propinsi Sumatera Utara. VI. Tindak Lanjut Upaya yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran dimaksud pada dua tahun terakhir adalah: 1. Meningkatkan upaya-upaya penghapusan berbagai praktek diskriminasi dengan pembangunan dan peningkatan kualitas pelayanan publik (public services). 2. Memfasilitasi peningkatan pelayanan hukum dan fungsi peradilan yang dapat memberi rasa keadilan pada semua pihak. 3. Peningkatan pemberian bantuan hukum bagi golongan masyarakat yang kurang mampu. 4. Membuat dan merevisi Perda-Perda yang masih mengandung kebijakan-kebijakan yang diskriminatif.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

64

VII. Penutup Diskriminasi sebagai salah satu bentuk ketidakadilan seringkali menjadi peraoalan dalam kehidupan masyarakat yang membuatnya hidup tidak nyaman. Upaya-upaya untuk menghapuskan distriminasi seringkali pula mendapat hambatan dari pihak-pihak yang merasa diuntungkan dengan adanya perlakukan diskriminasi tersebut. Upaya-upaya untuk menghapus diskriminasi telah dilakukan, diantaranya dengan meningkatkan pelayanan publik dan pelayanan hukum, seperti pengadaan fasilitas pendidikan dan kesehatan, mempermudah pengurusan izin, memberikan bantuan hukum pada masyarakat kurang mampu dan sebagainya. Dengan demikian, upaya-upaya untuk menghapuskan diskriminasi pada dua tahun terkahir sudah semakin membaik, dan akan terus ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang dengan program-program yang lebih konkrit dan terukur.

Bab 3.4 Penghormatan, Pemenuhan dan Penegakan Atas Hukum dan Pengakuan Atas HAM I. Pengantar Penghormatan terhadap hukum dan hak azasi manusia (HAM) meru-pakan suatu keharusan dan tidak perlu ada tekanan dari pihak manapun untuk melaksanakannya. Hak azasi merupakan hak-hak dasar yang dimiliki setiap individu sejak ia dilahirkan ke muka bumi ini. Karena itu, pembangunan pada hakekatnya juga ditujukan untuk memenuhi hak azasi warganya. Dan pembangunan itu bukan hanya menjadi tanggungjawab pemerintah, tetapi merupakan tanggungjawab semua komponen masyarakat. Penegakan hukum dan ketertiban masyarakat merupakan syarat mutlak bagi upaya-upaya penciptaan Indonesia yang damai dan sejahtera. Pembangunan hanya akan dapat dilaksanakan dengan baik di tengah-tengah suasana dimana penegakan hukum konsisten dilakukan dan ketertiban masyarakat dapat terpelihara dengan baik. Ini menunjukkan bahwa penegakan hukum dan ketertiban merupakan prasyarat pembangunan, yang berarti pula prasyarat bagi terwujudnya masyarakat yang sejahtera dan berkeadilan.

II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Pemerintah di Era Reformasi ini telah berupaya secara terus menerus untuk untuk meningkatkan

penghormatan, pengakuan, dan penegakan atas hukum dan HAM dengan proses yang lebih transparan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

65

dan melibatkan tidak hanya instansi pemerintah, tetapi juga melibatkan organisasi non pemerintah (NGOs) dan organisasi lainnya. Kondisi awal yang terlihat adalah masih banyak pelanggaran hukum yang tidak ditindaklanjuti dan tidak tuntas. Kondisi ini menunjukkan keadaan masih kurang mantapnya penegakan hukum. Karena itu memerlukan perhatian yang sungguh-sungguh, karena berdampak sangat luas terhadap bidang kehidupan lainnya seperti kurangnya minat para investor untuk mengadakan investasi yang sangat diperlukan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Faktor penyebab belum mantapnya kepastian hukum ini cukup kompleks antara lain adalah sikap aparat penegak hukum yang belum semuanya bertekad untuk menegakkan hukum secara konsisten. Faktor lain ialah kurangnya prasarana dan sarana penegakan hukum sehingga kemampuan penegakan hukum belum seimbang dengan permasalahan hukum yang muncul. Persepsi menyimpang tentang pengertian reformasi dari sebagian anggota dan kelompok masyarakat bahwa untuk memperjuangkan aspirasinya tidak perlu mengindahkan norma-norma hukum, yang menambah permasalahan hukum pula. Bila dilihat dari indikator perkara yang masuk ke pengadilan di berbagai daerah pengadilan di Sumatera Utara, pada tahun 2004 ada 59.718 perkara pidana yang masuk, sedangkan pada tahun 2005 ada 4162 perkara pidana yang masuk. Untuk perkara perdata, pada tahun 2004 ada 2.250 perkara yang masuk, sedangkan pada tahun 2005 ada 1450 perkara yang masuk. Banyaknya peristiwa kejahatan/pelanggaran yang dilaporkan ke kepolisian tercatat 21. 742 kasus pada tahun 2004 dan 1.195 kasus pada tahun 2005 (Sumatera Utara Dalam Angka, 2007).

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Untuk mewujudkan Penghormatan, Pemenuhan dan Penegakan Atas Hukum dan Pengakuan Atas HAM, maka RPJMD 2004-2009 memiliki beberapa sasaran yang akan dicapai, yaitu: 1. Terselesaikannya berbagai kasus pelanggaran hukum dalam upaya merebut kembali kepercayaan masyarakat, termasuk kalangan pengusaha, melalui penegakan hukum yang tegas, tidak diskriminatif serta konsisten. 2. Tumbuh dan berkembangnya kerjasama dalam penegakan hukum. 3. Terbangunnya kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam turut membangun kesadaran hukum. 4. Terpeliharanya prasarana dan sarana hukum untuk menjamin tegaknya pelaksanaan hukum. 5. Terbentuknya jaringan komunikasi antar kelompok maupun golongan dalam upaya menekan aksi kekerasan, dan aksi massa.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

66

IV. Arah Kebijakan Untuk mewujudkan sasaran di atas, maka arah kebijakan yang ditetapkan adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan Kerjasama dan memberi bantuan kepada aparat penegak hukum untuk melakukan penegakan hukum secara konsisten. 2. Memberi dukungan kepada aparat penegak hukum untuk menyelesaikan masalah-masalah KKN dan pelanggaran HAM serta mengupayakan penyelesaian kasus-kasus tanah yang berkaitan dengan perkebunan. 3. Menyempurnakan kebijakan mediasi dan fasilitasi pelaksanaan pembauran bangsa, demokratisasi dan wawasan kebangsaan. 4. Mengefektifkan forum komunikasi antara Pemerintah Provinsi dengan Pimpinan Parpol, Ormas, LSM dan Tokoh Masyarakat. 5. Meningkatkan koordinasi serta kerjasama dengan badan-badan didalam dan diluar lembaga pemerintahan untuk kelancaran pelaksanaan tugas V. Pencapaian Tahun 2005-2007 Bila dilihat dari indikator perkara yang masuk ke pengadilan di berbagai daerah pengadilan di Sumatera Utara, pada tahun 2004 ada 59.718 perkara pidana yang masuk, dan pada tahun 2005 ada 4.162 perkara pidana yang masuk, sedangkan tahun 2006 ada 28. 560 perkara yang masuk. Angka-angka tersebut menunjukkan terjadinya fluktuasi perkara pidana yang masuk ke berbagai pengadilan di Sumatera Utara. Untuk perkara perdata, pada tahun 2004 ada 2.250 perkara yang masuk, pada tahun 2005 ada 1.450 perkara yang masuk, sedangkan pada tahun 2006 ada 2381 perkara yang masuk. Sama halnya dengan keadaan perkara pidana, pada perkara perdata juga terjadi fluktuasi angka perkara yang masuk dengan kecenderungan yang meningkat pada tahun 2006. Ada beberapa kemungkinan penyebab kecenderungan naiknya perkara yang masuk ke pengadilan, pertama, semakin percayanya masyarakat dengan penegak hukum sehingga mereka mengajukan perkara yang dihadapi pada lembaga formal; kedua, semakin banyaknya kasus silang sengketa dan kejahatan yang terjadi. Bila ini penyebabnya, ada indikasi bahwa penegakan hukum belum berjalan dengan baik. Ketiga, semakin tingginya kesadaran masyarakat akan hukum, sehingga perkara yang muncul baik perdata maupun pidana diajukan ke lembaga peradilan. Banyaknya peristiwa kejahatan/pelanggaran yang dilaporkan ke kepolisian tercatat 21. 742 kasus pada tahun 2004 dan 1.195 kasus pada tahun 2005, sedangkan pada tahun 2006 tercatat 1.984 kasus kejahatan. Angka-angka tersebut juga menunjukkan angka yang berfluktuasi, namun ada penurunan yang cukup besar, bila dibandingkan antara angka pada tahun 2004 dan 2005. Namun kembali meningkat walaupun tidak terlalu signifikan pada tahun 2006 dibandingkan tahun 2005.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 67

Untuk menghindari terjadinya konflik/kekerasan yang berbasis perbedaan agama yang seringkali berakibat pada pelanggaran HAM, di Propinsi Sumatera Utara telah dibentuk Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKUB) yang beranggotakan seluruh agama yang ada di Sumatera Utara.

VI. Tindak Lanjut Untuk lebih meningkatkan kepercayaan (trust) masyarakat kepada pemerintah khususnya kepada aparat penegak hukum, maka agenda ke depan yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut: 1. Meningkatkan dukungan kepada aparat penegak hukum sehingga mereka mampu menyelesaikan perkara-perkara hukum (pidana, perdata), khususnya perkara korupsi secara adil dan konsisten. 2. Memberikan dukungan dan fasilitasi terhadap forum-forum lintas agama, etnik, dan pemuda untuk tindakan preventif terjadinya konflik dan kekerasan.

VII. Penutup Keamanan dan ketertiban yang cukup kondusif di Sumatera Utara merupakan gambaran bahwa terlah tercipta penghormatan, pengakuan, dan penegakan hukum. Namun peningkatan dan perbaikan harus terus dilakukan karena dari angka-angka statistik menunjukkan terjadinya fluktuasi baik untuk angka kejahatan maupun untuk angka perkara pidana dan perdata yang masuk ke kepolisian dan ke pengadilan. Penegakan hukum di bidang korupsi merupakan kasus yang banyak menarik perhatian masyarakat. Karena itu dituntut kesiapan, komitmen, dan konsistensi aparat penegak hukum untuk secara tegas dan adil dalam menangani perkara-perkara korupsi sehingga keadilan hukum dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat tanpa pandang bulu.

Bab 3.5 Peningkatan Kualitas Kehidupan dan Peran Perempuan Serta Kesejahteraan dan Perlindungan Anak I. Pengantar Sedikitnya keterlibatan perempuan dalam pembangunan semakin dipertanyakan. Pandangan bahwa ranah kaum perempuan adalah sektor domestik harus ditransformasi ke ranah bahwa perempuan juga berhak menempati sektor publik. Konstruksi sosial budaya masyarakat yang selama ini menempatkan kaum perempuan sebagai subordinasi kaum laki-laki membentuk perilaku masyarakat bahwa pendidikan menjadi prioritas bagi anak laki-laki. Akibatnya, kualitas dan kuantitas kaum perempuan untuk bersaing memasuki
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 68

sektor publik menjadi rendah. Kalaupun secara kuantitatif banyak kaum perempuan yang memasuki sektor publik, umumnya mereka berada pada posisi yang rendah, tidak menduduki jabatan-jabatan strategis. Dengan kata lain, akses kaum perempuan terhadap berbagai layanan (pendidikan, kesehatan, dan kegiatan publik) masih terbatas. Komitmen pemerintah untuk lebih melibatkan kaum perempuan dalam pembangunan terlihat dari kebijakankebijakan yang lebih responsif gender dan pengarusutamaan gender. Komitmen Pemerintah Daerah terhadap isu gender dalam pembangunan antara lain dapat dilihat dari struktur organisasi pemerintah daerah yang menempatkan ”pemberdayaan perempuan” sebagai SKPD tersendiri atau tidak. Untuk peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak juga perlu mendapat perhatian serius mengingat masih banyaknya anak-anak yang terpaksa bekerja untuk membantu ekonomi keluarga, atau dipaksa bekerja oleh kelompok-kelompok tertentu untuk mengeruk keuntungan. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Bila dilihat dari jumlah murid yang sedang berada dibangku Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) dan Sekolah Menengah Umum (SMU) di Sumatera Utara, terdapat perbedaan jumlah murid laki-laki dan murid perempuan, dimana jumlah murid laki-laki lebih banyak dari jumlah murid perempuan. Untuk tahun 2004, jumlah murid laki-laki untuk tingkat SLTP ada 323.122 orang, sedangkan perempuan hanya 306.502 orang. Pada tahun 2005, murid laki-laki 284.970 orang, murid perempuan ada sebanyak 272.492 orang. Sedangkan untuk tingkat SMU, tahun 2004 ada 158.767 orang murid laki-laki dan 132.392 orang murid perempuan. Pada Tahun 2005 ada 235.403 orang murid laki-laki dan 236.812 orang murid perempuan. Untuk tingkat SMU terjadi peningkatan jumlah murid perempuan pada tahun 2005. Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk usia 7 – 12 tahun pada tahun 2006 memiliki angka APS mencapai 99,40 persen, sedangkan untuk APK 7 – 15 tahun memiliki angka APS mencapai 96,50 persen. Angka kematian bayi juga masih cukup tinggi di sumatera Utara. Tercatat angka kematian bayi pada tahun 2004 sebesar 36 per seribu kelahiran hidup, pada tahun 2005 menurun menjadi 35,5 per seribu kelahiran hidup. Untuk angka kematian ibu, tahun 2004 tercatat sebesar 345 per seratus ribu kelahiran hidup, dan tahun 2005 menurun menjadi 330 per seratus ribu kelahiran hidup. Usia harapan hidup pada tahun 2004 mencapai 68,2 tahun, dan pada tahun 2005 meningkat menjadi 70,5 tahun. Pada UUD 1945 pasal 28 dan Visi, Misi Gubsu Tahun 2003 - 2008 mengakui adanya kesamaan hak dan prinsip non diskriminasi bagi semua masyarakat. Mengingat pola budaya patriarkhi yang memposisikan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 69

dominasi peran dan kedudukan laki-laki dengan perempuan yang tidak setara, maka terdapat kesenjangan kondisi laki-laki dan perempuan. Meskipun pada awal tahun 2004 terlihat adanya peningkatan yang dicapai oleh perempuan, namun harus diakui bahwa pencapaian tersebut masih tertinggal dibanding laki-laki dan masih banyaknya masalah-masalah yang menimpa perempuan dan anak. Dibidang politik dan pengambilan kebijakan, hukum, sosial budaya, dan sebagainya, perempuan juga masih rendah partisipasi, akses maupun kontrol yang dimilikinya. Secara umum kondisi awal yang ada di Sumatera Utara terkait dengan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak adalah: Masih rendahnya kualitas hidup perempuan; Masih adanya kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan; Masih tingginya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; Masih rendahnya kesejahteraan dan perlindungan anak; dan Masih lemahnya kelembagaan dan jaringan Pengarusutamaan Gender di daerah, termasuk ketersediaan data dan partisipasi masyarakat. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai dalam RPJMD 2004-2009 terkait dengan agenda Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan anak adalah sebagai berikut: 1. Menurunnya kesenjangan gender diberbagai bidang pembangunan. 2. Menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. 3. Meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan perempuan dan anak. 4. Meningkatnya Angka Partisipasi Sekolah Anak Usia 7 – 15 Tahun dan anak usia dini.

IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah kebijakan yang ditetapkan adalah meliputi: 1. Peningkatan kualitas hidup, peran, dan kedudukan perempuan diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan dan perlindungan perempuan terhadap berbagai bentuk kekerasan, eksploitasi dan diskriminasi. 2. Peningkatan kesejahteraan dan perlindungan anak sebagai bentuk pemenuhan hak-hak anak, terutama dalam bidang pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, hukum dan ketenaga kerjaan. 3. Penguatan kelembagaan dan jaringan Pengarusutamaan Gender dan anak termasuk ketersediaan data gender dan profil anak.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

70

4. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pembangunan anak dan Pemberdayaan Perempuan serta penyerasian kebijakan peningkatan kualitas hidup perempuan dan anak diberbagai bidang pembangunan. 5. Peningkatan pendidikan bagi anak usia dini yang lebih merata dan bermutu agar seluruh potensi anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat usianya sehingga mereka memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya. V. Pencapaian 2005-2007 Meskipun belum sangat memuaskan, namun upaya-upaya yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan peran perempuan sudah menunjukkan perbaikan-perbaikan. Hal in terlihat dari sudah tersedianya sarana perlindungan perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan terhadap perempuan, perdagangan manusia (trafficking), baik yang ditangani langsung oleh pemerintah daerah maupun yang dikelola oleh organisasi sipil dengan fasilitasi pemerintah daerah. Upaya lain yang sudah dilakukan adalah melakukan sosialisasi, advokasi, fasilitasi, workshop, seminar dan pembekalan, berbagai kebijakan peningkatan kualitas hidup dan perlindungan dalam upaya peningkatan pemberdayaan perempuan dan peningkatan kesadaran gender. Meningkatnya peran masyarakat dalam mendukung upaya peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan, terutama di bidang pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, sosial, budaya, agama, hukum dan ekonomi. Terbentuknya Koordinasi Pengarusutamaan Gender (PUG) lintas Lembaga dan Forum masyarakat peduli Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Perlindungan Anak di tingkat Provinsi. Berbagai upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dalam upaya pengarusutamaan gender telah memberi hasil yaitu: angka IPM Sumut 2006: 72,5 (peringkat 8 dari 32 Prov.); GDI Sumut 2006: 63,0 (peringkat 7 dari 32 Prov.); GEM Sumut 2006: 54,8 (peringkat 20 dari 32 Prov.) [Biro Pemberdayaan Perempuan Sumut dan Kapuslit PSW Lembaga Penelitian USU, 2008). Perbandingan murid yang sedang sekolah antara murid laki-laki dan murid perempuan juga mengalami peningkatan, dimana telah terjadi peningkatan jumlah murid perempuan untuk tingkat SMU pada tahun 2005, yaitu dari 158.767 orang murid laki-laki dan 132.392 orang murid perempuan pada tahun 2004 meningkat menjadi 235.403 orang murid laki-laki dan 236.812 orang murid perempuan pada tahun 2005. Persentase angkatan kerja pada tahun 2006 juga masih didominasi oleh kaum laki-laki yaitu: 60, 9 persen dan perempuan 39,1 persen.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

71

Sementara itu, kekerasan terhadap perempuan (KDRT) masih saja tetap berlangsung, bahkan ada kecenderungan terus meningkat dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2004 tercatat 2004 kasus, 2005 tercatat 292 kasusu, tahun 2006 tercatat 354 kasus, dan pada tahun 2007 tercatat 386 kasus (Emiyanti, Makalah pada Seminar Kependudukan, KB, PP, dan PA, Bappedasu , 2008). Ada beberapa kemungkinan terjadinya peningkatan angka kasus KDRT ini, yaitu: 1) Memang terjadi peningkatan KDRT; 2) Semakin tinggi kesadaran kaum perempuan untuk melaporkan kasus yang dialaminya; 3) Semakin intensifnya berbagai pihak termasuk LSM dalam melakukan penyadaran kepada kaum perempuan. Namun demikian, peningkatan angka tersebut harus menjadi perharian yang serius bagi Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Meskipun UU telah mengamanatkan pembentukan Pokja (focal point) gender, namun hingga tahun 2007 belum semua terbentuk. PUG juga belum menjadi mainstream dalam perencanaan yang dilakukan oleh SKPD. Komitmen yang belum kuat dari Pemerintah Daerah terhadap PUG juga dapat dilihat dari belum semua Pemberdayaan Perempuan menempati eselon II, bahkan beberapa kabupaten/kota masih menempatkannya pada eselon IV. Pada bidang politik, keterwakilan perempuan di DPRD juga masih relatif kecil. Hasil Pemilu 2004 untuk DPRD Propinsi, hanya diisi oleh 5 orang perempuan dari total 85 orang anggota. VI. Tindak Lanjut Berbagai upaya dan tindak lanjut yang akan dilakukan dalam upaya pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak antara lain: 1. Penguatan kelembagaan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. 2. Melakukan kerjasama lintas sektor dalam rangka peningkatan kualitas perempuan. 3. Mengembangkan berbagai kebijakan dalam rangka peningkatan kualitas hidup dan perlindungan perempuan di berbagai bidang pembangunan. 4. Meningkatkan pengarusutamaan gender dalam segala bidang pembangunan. VII. Penutup Partisipasi perempuan dalam pembangunan masih rendah. Adanya diskriminasi terhadap kaum perempuan, baik yang eksplisit maupun inplisit membuat posisi tawar (bargaining position) dan akses perempuan terhadap berbagai sektor (pendidikan, kesehatan, Publik) menjadi lemah.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 72

Eksploitasi terhadap anak juga masih terus berlanjut, pekerja anak jermal merupakan salah satu contoh bagaimana anak yang seharusnya masih bermain dan mengenyam pendidikan, Namur karena situasi terpaksa atau dipaksa akhirnya harus meninggalkan itu semua untuk menjadi pekerja di jermal. Sektor-sektor pekerjaan lain juga masih banyak yang mengeksploitasi pekerja anak. Dengan berbagai keterbatasan, maka upaya-upaya baik yang sifatnya kebijakan ataupun aksi akan terus dilkaukan oleh pemerintah daerah bersama segenap komponen masyarakat yang ada sehingga pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak dapat lebih baik. Pemerintah daerah perlu melakukan penguatan kelembagaan dan jejaring pengarusutamaan gender dan anak, dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya-upaya pemberdayaan perempuan. Program-program sosialisasi harus terus dilakukan sehingga muncul persamaan tafsir terhadap PUG. Komitmen politik Pemerintah dan Legislatif terhadap PUG dapat diwujudkan melalui produk Perda.

Bab 3.6 Revitalisasi Proses Desentralisasi dan Otonomi Daerah I. Pengantar Disyahkannya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-Undang No. 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pusat dan Daerah merupakan langkah awal dimulainya desentralisasi dan otonomi daerah. Otonomi Daerah dan desentralisasi dianggap sebagai jawaban atas pemerintahan yang selama ini sangat sentralistis dan bercorak otoriter ke pemerintahan yang lebih terdesentralisasi dan demokratis. Perubahan sistem pemerintahan tersebut menuntut adanya perubahan-perubahan baik dalam struktur dan kultur pemerintahan, peraturan perundang-undangan, dan kebijakan pemberdayaan masyarakat sipil. Di samping itu, desentralisasi juga menuntut kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) aparatur pemerintahan di tingkat daerah. Karena itu, peningkatan dan pengembangan kapasitas (capacity building) kepemerintahan daerah menjadi suatu keharusan. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Sebagai sesuatu yang baru, desentralisasi dan otonomi daerah masih dimaknai/dipersepsi secara berbeda, baik oleh pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten kota. Pemerintah Kabupaten/Kota memaknai desentralisasi dan otonomi daerah yang dilandasi oleh UU No. 22 Tahun 1999 sebagai desentralisasi
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 73

penuh sehingga berhak untuk membuat kebijakan-kebijakan sendiri dan tanpa perlu berkoordinasi dengan pemerintah propinsi. Akibatnya muncul istilah ”lahirnya raja-raja baru” di daerah. Gubernur sebagai kepala daerah di tingkat propinsi kehilangan kewibawaannya dalam menjalankan fungsi koordinasi terhadap kabupaten/kota. Gubernur mengeluhkan bahwa kabupaten/kota (Bupati/Walikota) yang tidak mau hadir ketika diundang rapat di tingkat propinsi. Situasi yang tidak pernah terjadi pada masa sebelum desentralisasi dan otonomi daerah. Kabupaten/Kota lebih memusatkan hubungan mereka dengan pemerintah pusat dibanding dengan pemerintah propinsi. Daerah juga tidak mampu melakukan aktivitas-aktivitasnya secara optimal akibat regulasi-regulasi yang belum tuntas dilakukan oleh pusat, baik yang terkait dengan masalah kewenangan, pengelolaan APBD, pengaturan pembagian sumber daya alam dan pajak, dan lain sebagainya. Tumpang tindih kewenangan antara pemerintah pusat, propinsi, dan kabupaten/kota sering menimbulkan konflik berbagai pihak dalam pelaksanaan suatu aturan, seperti bidang pendidikan, pekerjaan umum, pertanahan, pertambangan, kehutanan dan perkebunan. Eporia pemekaran wilayah juga menjadi sumber konflik antara pihak-pihak yang berbeda kepentingannya, yaitu pihak yang pro terhadap pemekaran dan yang menolak pemekaran, yang kesemuanya sangat mengganggu bagi proses pembangunan. Pemekaran wilayah juga menimbulkan persoalan dalam hal tapal batas kedua wilayah, dan seringkali berujung pada konflik yang melibatkan masyarakat. Kapasitas kepemerintahan daerah juga belum semuanya mampu mengimplementasikan perubahan-

perubahan dan menjalankan tugas dan fungsi pemerintahan dengan baik, yang berakibat pada rendahnya kualitas pelayanan publik (kinerja birokrasi). III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Adapun sasaran yang ingin dicapai adalah: 1. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik; 2. Terjaminya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan peraturan dan perundangan diatasnya; 3. Tersedianya prasarana dan sarana dalam mendukung pelaksanaan pemerintahan umum dan pembangunan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

74

IV. Arah Kebijakan 1. Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi negara melalui penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan, 2. Peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemerintahan, 3. Peningkatan dan penataan kapasitas sumber daya aparatur, V. Pencapaian 2005-2007 Peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan sudah mengarah pada keadaan yang lebih baik, yang antara lain dapat dilihat dari keterlibatan masyarakat (stakeholder) dalam proses penyusunan program pembangunan melalui kegiatan Musyawarah Pembangunan, baik yang dilaksanakan di tingkat Desa/Kelurahan, Kecamatan, dan Kabupaten/Kota. Pemerintah daerah/kota atas persetujuan pemerintah pusat juga telah bekerjasama dengan lembaga-lembaga lokal, nasional, dan internasional untuk meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan dan pembangunan. Kerjasama tersebut antara lain dengan USAID melalui kegiatan Local Government Support Program (LGSP) yang antara lain program kegiatannya adalah melakukan fasilitasi terhadap peningkatan keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan yang berdasarkan perencanaan partisipatif. Ada tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara yang terlibat kerjasama dengan LGSP-USAID dalam rangka peningkatan kinerja pemerintahan di kabupaten/kota tersebut. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik yang merupakan tujuan desentralisasi dan otonomi daerah, Sumatera Utara telah berhasil membuat regulasi-regulasi yang terkait pelayanan publik yang lebih sederhana dengan membuat Standar Pelayanan Minimum (SPM) untuk beberapa kegiatan pelayanan publik, seperti di kantor Samsat, Kesehatan, Perpajakan, dan lain sebagainya. Dalam urusan perizinan, salah satu kabupaten yaitu Kabupaten Serdang Bedagei telah membuat regulasi dan pelayanan izin satu atap. Terkait dengan Daerah Otonomi Baru (pemekaran daerah), Sumatera Utara juga telah berhasil menuntaskan pemekaran daerah, dimana hingga tahun 2007 telah terselesaikan 8 kabupaten pemekaran, yaitu, Mandailing Natal, Toba Samosir, Nias Selatan, Humbang Hasudutan, Pakpak Barat, Samosir, Serdang Bedagei dan Batu Bara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

75

Konflik yang sempat terjadi antar kabupaten/kota yang terkait dengan tapal batas akibat pemekaran sudah dapat dieliminir dan dituntaskan melalui upaya-upaya peningkatan koordinasi antara daerah yang difasilitasi oleh pemerintah propinsi. VI. Tindak Lanjut Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan ada beberapa hal yang harus dilakukan sebagai tindak lanjut, yaitu: 1. Meningkatkan partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan kebijakan dan pembangunan. 2. Melakukan sinkronisasi dan harmonisasi peraturan-peraturan daerah dengan peraturan pusat. 3. Melakukan pengkajian terhadap usulan-usulan pemekaran wilayah sesuai dengan peraturan perundang-undangan 4. Mengimplementasikan Pemerintah Pemerintah terkait dengan penyusunan organisasi perangkat daerah. 5. Meningkatkan kualitas pelayanan publik melalui penyusunan Sandar Pelayanan Minimum (SPM) untuk berbagai bidang dan mempermudah urusan perizinan melalui sistem pelayanan satu atap (one stop services). 6. Meningkatkan koordinasi antar pemerintah daerah Kabupaten – Kota – Propinsi.

VII. Penutup Desentralisasi dan otonomi daerah memiliki tujuan mulia untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik, akomodasi terhadap keanekaragaman di daerah, dan peningkatan demokrasi. Tujuan yang mulia itu membutuhkan waktu untuk dapat diwujudkan, dan belum dapat terwujud secara merata untuk semua daerah. Kapasitas SDM yang tidak merata antar daerah, ketersediaan SDA yang tidak merata, dan belum adanya kemauan dan komitmen yang kuat dari segenap komponen masyarakat khususnya pemerintahan yang memiliki kewenangan dalam mengelola daerahnya merupakan hambatan bagi percepatan realisasi tujuan mulia di atas. Namun demikian, upaya-upaya ke arah itu terus dilakukan oleh segenap komponen masyarakat, khususnya pemerintahan daerah sehingga tujuan itu dapat segera tercapai.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

76

Bab 3.7 Pencapaian Tata Pemerintahan Yang Bersih dan Berwibawa I. Pengantar Terwujudnya tata pemerintahan yang bersih (clean governance) merupakan bagian dari Visi gubernur terpilih Sumatera Utara, dan menjadi visi dalam penyusunan RPJMD Transisi Sumatera Utara 2006-2009. Visi ini sejalan dengan RPJM Nasional yang juga menghendaki terwujudnya tata pemerintahan yang baik di Indonesia. Untuk dapat mewujudkan tata pemerintahan yang bersih (clean governance) dan berwibawa, antara lain dilakukan melalui reformasi birokrasi. Reformasi birokrasi dilakukan agar prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance), yaitu keterbukaan, akuntabilitas, profesionalisme, efektifitas, efisiensi, transparansi, demokratisasi, penegakan hukum, partisipasi, dan keseteraaan gender dapat segera terwujud dalam rangka menunjang keberhasilan pembangunan. Langkah-langkah strategis seperti penataan kelembagaan dan sistem ketatalaksanaan, peningkatan kapasitas SDM, peningkatan kesejahteraan, serta pengawasan dan pengendalian pemerintahan yang efektif dan efisien perlu disusun dan diimplementasikan dengan baik. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Sejalan dengan semangat reformasi, maka pemerintah daerah Sumatera Utara telah berkomitmen untuk melaksanakan reformasi birokrasi. Namun reformasi birokrasi yang telah dilakukan dirasakan kurang memadai sehingga diperlukan berbagai penyempurnaan. Di sisi internal, berbagai faktor seperti demokrasi, desentralisasi dan internal birokrasi itu sendiri, masih berdampak pada tingkat kompleksitas permasalahan antara lain pelanggaran disiplin; penyalahgunaan kewenangan dan penyimpangan yang tinggi; rendahnya kinerja sumber daya aparatur; kurang memadainya sistem kelembagaan dan ketatalaksanaan pemerintahan; rendahnya kesejahteraan PNS; merit sistem yang belum berjalan dengan baik dalam penentuan karir, dan banyaknya peraturan perundang-undangan yang sudah tidak sesuai dengan perkembangan keadaan dan tuntutan pembangunan. Sedangkan di sisi eksternal, faktor globalisasi dan revolusi teknologi informasi juga akan kuat berpengaruh terhadap pencarian alternatif-alternatif kebijakan dalam bidang aparatur negara seperti masih tingginya tingkat penyalahgunaan wewenang; masih maraknya praktek KKN; dan masih rendahnya kinerja aparatur negara.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 77

Untuk mengatasi dan memperbaiki kondisi tersebut pemerintah Sumatera Utara telah menetapkan agenda tata pemerintahan yang baik sebagai agenda prioritas dalam RPJMD 2006-2009. III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Tata pemerintahan yang baik (good governance) merupakan agenda pertama dalam RPJMD transisi 20062009. Sasaran pembangunan Bidang Pemerintahan pada tahun 2006-2009 dalam RPJMD tersebut adalah: 1. Berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi, dan dimulai dari tataran (jajaran) pejabat yang paling atas; 2. Terciptanya sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien dan berwibawa; 3. Terhapusnya aturan, peraturan dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat; 4. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik; 5. Terjaminya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan peraturan dan perundangan di atasnya; 6. Terciptanya kelembagaan dan ketatalaksanaan yang baik dalam mendukung penyelenggaran pemerintahan yang bersih (good governance); 7. Tersedianya prasarana dan sarana dalam mendukung pelaksanaan pemerintahan umum dan pembangunan. IV. Arah Kebijakan Pembangunan Bidang Pemerintahan tahun 2006-2009, dengan arah kebijakan sebagai berikut: 1. Penerapan prinsip-prinsip tata pemerintahan yang baik (good governance) pada semua tingkat dan lini pemerintahan serta penegakan sanksi bagi pelaku KKN, peningkatan efektivitas pengawasan aparatur negara, peningkatan budaya kerja aparatur, pemberdayaan penyelenggaraan negara. 2. Peningkatan kualitas penyelenggaraan administrasi negara melalui penataan kembali fungsi-fungsi kelembagaan, peningkatan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan dan prosedur pada semua tingkat dan lini pemerintahan, peningkatan dan penataan kapasitas sumber daya aparatur, peningkatan kesejahteraan pegawai dan pembinaan pola karir yang jelas melalui penerapan merit system serta penataan tapal batas. 3. Peningkatan keberdayaan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan daerah melalui peningkatan kualitas pelayanan publik dan peningkatan kapasitas masyarakat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

78

V. Pencapaian 2005-2007 Untuk mencapai sasaran dimaksud dilakukan upaya-upaya perbaikan melalui beberpa program sebagai berikut: 1. Program Penerapan Pemerintahan Yang baik yang bertujuan untuk mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, responsif, bertanggungjawab dalam menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan yang meliputi kegiatan pokok: a. Meningkatkan pemahaman, penghayatan dan pelaksanaan prinsip-prinsip penyelenggaraan kepemerintahan yang baik, antara lain: keterbukaan, kebertanggungjawaban, dan ketaatan hukum, serta membuka partisipasi publik seluas-luasnya pada semua kegiatan pembangunan. b. Memantapkan penerapan nilai-nilai etika aparatur guna memba-ngun budaya kerja yang mendukung produktifitas kerja yang tinggi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi penyelenggaraan negara khususnya dalam rangka pemberian pelayanan umum kepada masyarakat. c. Memantapkan administrasi kependudukan, memfasilitasi permasalahan pertanahan serta penetapan tapal batas Provinsi, Kabupaten/Kota. 2. Program Peningkatan Pengawasan Dan Akuntabilitas Aparatur yang bertujuan untuk menyempurnakan dan mengefektifkan sistem pengawasan dan audit dalam mewujudkan aparatur negara yang bersih, akuntabel, dan bebas KKN, yang meliputi kegiatan pokok: a. Meningkatkan intensitas dan kualitas pelaksanaan pengawasan dan audit internal, eksternal, dan pengawasan masyarakat; b. Menyempurnakan kebijakan sistem, struktur kelembagaan dan prosedur pengawasan yang independen, efektif, efisien, dan transparan; c. Meningkatkan tindak lanjut temuan pengawasan secara hukum; d. Meningkatkan koordinasi pengawasan yang lebih komprehensif; e. Meningkatkan efektifitas pengawasan melekat; f. Meningkatkan professionalisme tenaga pemeriksa internal; g. Meningkatkan dan mengembangkan sistem informasi dan kualitas informasi pengawasan; dan h. Melakukan evaluasi berkala atas kinerja dan temuan hasil pengawasan. 3. Program Penataan Kelembagaan Dan Ketatalaksanaan dengan tujuan untuk menyempurnakan sistem kelembagaan dan manajemen pemerintahan Provinsi dan pemerintahan kabupaten/kota agar lebih proporsional, efisien dan efektif sehingga terintegrasi dengan Pemerintah Pusat yang meliputi kegiatan pokok: a. Menyempurnakan sistem kelembagaan sehingga efektif, efisien, fleksibel berdasarkan prinsip goodgovernance;

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

79

b. Penataan jabatan-jabatan struktural dan fungsional; c. Menyempurnakan tata laksana dan hubungan kerja antar instansi/lembaga di tingkat provinsi dan Kabupaten/Kota dan antar Provinsi-Kabupaten/Kota; d. Menciptakan sistem administrasi pendukung dan kearsipan yang efektif dan efisien; dan e. Menyelamatkan dan melestarikan dokumen/arsip daerah. 4. Program Pengelolaan Sumber Daya Manusia Aparatur yang bertujuanuntuk meningkatkan kapabilitas Aparatur Pemerintah Daerah yang terbebas dari unsur KKN, bekerja dalam tatanan sistem kerja yang berorientasi kepada kinerja yang efisien dan efektif serta didukung oleh sistem dan kualitas pengawasan yang akuntabel dan kesejahteraan yang meningkat dalam melaksanakan pemerintahan umum dan pembangunan, dengan kegiatan pokok: a. Menata kembali sumber daya aparatur sesuai dengan kebutuhan akan jumlah dan kompetensi, serta perbaikan distribusi PNS; b. Menyempurnakan sistem manajemen pengelolaan sumber daya aparatur sehingga semakin mengarah kepada sistem karier berbasis merit system dan remunerasi; c. Meningkatkan kompetensi sumber daya aparatur dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya; d. Menyempurnakan sistem dan penyelenggaraan sistem kualitas materi diklat PNS; e. Meningkatkan kualitas sistem komunikasi antar pimpinan, pimpinan-pegawai dan antar pegawai; f. Meningkatkan kesejahteraan PNS; g. Peningkatan kualitas dan profesionalisme PNS Pempropsu; h. Menata ulang dan meningkatkan Sistem Informasi Kepegawaian (SIMPEG) seiring dengan perkembangan akan kebutuhan dalam pemberian pelayanan. 5. Program Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik yang bertujuan untuk mengembangkan manajemen dan penyelenggaraan pelayanan publik kepada masyarakat yang bermutu, akuntabel, mudah, murah, cepat, patut dan adil kepada seluruh masyarakat guna menunjang kepentingan masyarakat dan kemudahan kegiatan usaha, serta mendorong partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, dengan kegiatan pokok: a. Meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat dengan berdasarkan pada prinsip cepat, pasti, mudah, murah, patut dan adil; b. Mendorong pelaksanaan prinsip-prinsip good governance bagi semua Unit Kerja yang terkait dengan pelayanan publik dalam setiap proses pemberian pelayanan yang mudah, efisien dan berkualitas; c. Mengurangi hambatan terhadap penyelenggaraan pelayanan publik melalui deregulasi dan debirokratisasi;
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 80

d. Memantapkan koordinasi antar Instansi dalam pelayanan publik; e. Optimalisasi pemanfaatan teknologi informasi dalam pelayanan publik; f. Menertibkan gangguan terhadap pelayanan publik serta mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat; 6. Program Peningkatan Prasarana Dan Sarana Aparatur Negara yang bertu-juan untuk mendukung pelaksanaan tugas dan administrasi pemerintahan secara lebih efisien dan efektif serta terpadu, dengan kegiatan pokok: a. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendukung pelayanan; b. Meningkatkan fasilitas pelayanan umum dan operasional termasuk pengadaan, perbaikan dan perawatan gedung dan peralatan; c. Melakukan penyediaan database terpadu di data centre secara on line sesuai dengan aplikasi terkait di masing-masing Unit Kerja; d. Meremajakan dan mengefektifkan pemeliharaan kendaraan dinas untuk mendukung ketepatan dan kecepatan operasional pelayanan umum; e. Meremajakan data wilayah Provinsi dan Kabupaten/Kota.

VI. Tindak Lanjut Upaya-upaya yang akan dilakukan untuk mewujudkan agenda tata pemerintahan yang bersih dan berwibawa adalah melanjutkan program-program dan kegiatan pokok untuk memaksimalkan pencapaian tujuan. Adapun upaya-upaya yang perlu dilakukan untuk mempercepat capaian tersebut antara lain: 1. Meningkatkan sarana dan prasarana pendukung bagi upaya penciptaan tata pemerintahan yang baik (good governance), melalui sarana E-Governance. 2. Meningkatkan kualitas pelayanan publik (public services) umunya dan pelayanan perizinan pada khususnya, sebagai daya tarik investor untuk menanamkan investasinya. 3. Melakukan capacity building (sistem, kelembagaan, dan individu pemerintahan untuk mendukung desentralisasi dan otonomi daerah, serta reformasi birokrasi. VII. Penutup Upaya-upaya yang telah dilakukan selama ini dalam rangka tata pemerintahan yang baik sudah menunjukkan adanya perbaikan-perbaikan yang antara lain dapat dilihat dari peningkatan kualitas pelayanan publik pada beberapa sektor. Namun demikian, peningkatan tersebut belum merata pada

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

81

semua sektor atau bidang dan belum pula merata pada semua kabupaten/kota yang ada di Sumatera Utara. Upaya perbaikan akan terus dilakukan sehingga apa yang menjadi Visi dan Misi Pemerintahan Daerah Sumatera Utara dapat terwujud, yang berarti pula akan memberi perbaikan pada kualitas pelayanan publik untuk akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Diperlukan komitmen penyelenggara pemerintahan daerah untuk good governance dan harus ditindaklanjuti dengan membuat peraturan yang mengikat (Perda). Pemerintah pusat harus memiliki komitmen dalam pembiayaan keuangan daerah, dengan melihat sumber potensi keuangan daerah. Untuk Sumatera Utara yang unggul di sektor perkebunan maka pemerintah pusat harus mengkaji lagi sistem bagi hasil dari sektor perkebunan. Memfasilitasi forum komunikasi lintas daerah untuk membica-rakan pembangu-nan dalam konteks regional Sumatera Utara.

Bab 3.8 Perwujudan Lembaga Demokrasi Yang Semakin Kokoh I. Pengantar Perwujudan lembaga demokrasi yang semakin kokoh ditandai oleh tetap terpeliharanya momentum awal konsolidasi demokrasi dengan terlaksananya secara efektif fungsi dan peran penyelenggara negara dan lembaga kemasyarakatan. Selain itu, keberhasilan agenda ini juga ditandai oleh semakin tingginya partisipasi masyarakat dalam penyusunan kebijakan, terselenggaranya pilkada dan pemilu secara demokratis, jujur dan adil yang bermuara pada demokrasi yang semakin kokoh. Perwujudan lembaga demokrasi yang semakin kokoh akan memperkuat ketahanan bangsa dan sekaligus akan mempercepat pencapaian tujuan masyarakat Indonesia yang adil dan sejahtera. II. Kondisi Awal 2004-2005 Euporia reformasi telah membuka ruang yang lebih luas bagi munculnya perbedaan tapsir tentang demokrasi dan otonomi daerah, serta hubungan-hubungan kekuasaan (eksekutif – legislatif – judikatif). Akibatnya muncul tudingan bahwa proses reformasi telah kebablasan. Semua ingin bebas sebebas

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

82

bebasnya. Norma dan aturan yang ada seringkali tidak dipatuhi dan dianggap tidak sesuai lagi sitausi saat ini, sementara produk perundang-undangan yang baru belum juga muncul. Media massa yang dianggap sebagai agen demokrasi dan diberi kebebasan dalam menyampaikan berita kepada publik, ternyata juga belum cukup dewasa, sehingga netralitas media masih banyak dipertanyakan. Bila sebelum reformasi hubungan eksekutif – legislatif cenderung didominasi oleh eksekutif, di era reformasi justru sebaliknya, kekuasaan legislatif (DPRD) sangat kuat, terutama fungsi pengawasannya. Demikian pula dalam penyusunan anggaran dan kebijakan harus terlebih dahulu mendapat persetujuan legislatif (DPRD). Akibatnya, pada beberapa daerah terjadi ketidakharmonisan hubungan eksekutif dan legislatif. Komunikasi politik, baik antar pemerintahan maupun antar pemerintah dan masyarakat belum terbina dengan baik, padahal sesungguhnya, komunikasi politik yang baik merupakan prasyarat bagi semakin kukuhnya demokrasi.

III. Sasaran Yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai adalah terlaksananya fungsi-fungsi lembaga kepemerintahan dan lembaga politik masyarakat di daerah sesuai konstitusi dan peraturan-perundangan yang berlaku secara profesional, efektif dan efisien, serta terbangunnya mekanisme kerjasama antar lembaga politik. IV. Arah Kebijakan a. Peningkatan pendidikan dan penyadaran politik secara intensif dan komprehensif kepada masyarakat untuk mengembangkan budaya politik yang demokratis. b. Menyempurnakan kebijakan mediasi dan fasilitasi pelaksanaan pembauran bangsa, demokratisasi dan wawasan kebangsaan. c. Mengefektifkan forum komunikasi antara Pemerintah Provinsi dengan Pimpinan Parpol, Ormas, LSM dan Tokoh Masyarakat. d. Meningkatkan koordinasi serta kerjasama dengan badan-badan didalam dan diluar lembaga pemerintahan untuk kelancaran pelaksanaan tugas

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

83

V. Pencapaian 2005-2007 Untuk lebih meningkatkan partisipasi masyarakat pada penyusunan kebijakan, maka telah dibentuk berbagai forum diskusi dan konsultasi publik yang melibatkan instansi/lembaga pemerintahan, LSM, akademisi, pemuda dan dunia usaha dalam pembahasan Ranperda dan sosialisasi Perda. Semantara itu, untuk mengurangi perbedaan tapsir di dalam masyarakat terhadap produk perundang-undangan yang lama, dilakukan pencabutan peraturan daerah yang tidak relevan dengan perkembangan dan paradigma baru, termasuk otonomi daerah. Terlaksananya fungsi-fungsi lembaga kepemerintahan dan lembaga politik masyarakat di daerah sesuai konstitusi dan peraturan-perundangan yang berlaku secara profesional, efektif dan efisien, serta terbangunnya mekanisme kerjasama antar lembaga politik. Untuk menghindari munculnya konflik-konflik baik konflik vertikal maupun horizontal, pemerintah daerah telah memfungsikan lembaga-lembaga adat agar dapat turut berperan serta menyelesaikan konflik-konflik yang timbul dalam masyarakat. Agar penegakan hukum dapat berjalan dengan baik diperlukan peningkatan kapasitas SDM bidang hukum. Dan hal itu telah dilakukan dengan melakukan berbagai kegiatan pelatihan, seminar, dan workshop yang melibatkan berbagai stakeholder. Capaian lain yang terkait dengan agenda ini adalah terselenggaranya Pilkada di beberapa Kabupaten/Kota dengan demokratis dan aman, meskipun untuk beberapa daerah masih tetap ada aksi-aksi demonstrasi yang tidak puas dengan penyelenggaraan Pilkada tersebut. Namun ketidakpuasan tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara hukum dan dialog. VI. Tindak Lanjut Untuk dapat mewujudkan sasaran yang telah ditetapkan pada RPJMD Sumatera Utara 2006 – 2009, maka diperlukan beberapa upaya tindak lanjut, antara lain: 1. Diperlukan kepastian legal yang menjamin hak-hak masyarakat mendapatkan informasi yang diperlukannya (right to know) dan kewajiban pemerintah untuk menyampaikan informasi publik yang dibutuhkan oleh masyarakat (obligation to tell), serta jaminan penyelenggaraan kebebasan pers dan media massa. 2. Penguatan fungsi kelembagaan dan mekanisme komunikasi serta arus informasi yang dapat mendorong masyarakat untuk memenuhi kebutuhan informasi dan pemerataan akses informasi. 3. Meningkatkan kapasitas dan lembaga-lembaga demokrasi.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 84

4. Meningkatkan kualitas penyelenggaraan Pemilu 2009, termasuk partisipasi masyarakat dan penyelengaraan Pemilu yang demokratis, bersih, jujur, dan adil. VII. Penutup Meskipun upaya-upaya untuk memperkokoh demokrasi telah dan terus diupayakan, namun belum mampu mewujudkan seperti apa yang dicita-citakan. Hal ini dapat dilihat dari masih maraknya protes-protes ketidakpuasan terhadap penyelenggaraan pemerintahan, produk perundang-undangan (Perda), penyelenggaraan Pemilu, dan lain sebagainya. Namun demikian, pemerintahan daerah akan terus berupaya semaksimal mungkin, tentu dengan dukungan segenap komponen masyarakat sehingga demokrasi yang kukuh dapat terwujud. Bagaimanapun, demokrasi yang kukuh hanya dapat diperoleh melalui suatu proses. Panjang atau pendeknya proses tersebut tergantung pada semua komponen masyarakat, utamanya pemerintahan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

85

gian 4 Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Raky

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

86

BAB IV AGENDA MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

Bab 4.1. Pengantar Agenda Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

87

Gambar 4.1 Peta Luas Wilayah Provinsi Sumatera Utara Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis,
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 88

gender, dan kondisi lingkungan. Mengacu pada strategi nasional penanggulangan kemiskinan definisi kemiskinan adalah kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Konsep pembangunan manusia mempunyai cakupan yang sangat luas melingkupi hampir seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari kebebasan untuk menyatakan pendapat, untuk menyatakan kesetaraan jender, untuk memperoleh pekerjaan, untuk menjaga gizi anak, untuk dapat membaca dan menulis. Pembangunan yang dilakukan telah dapat meningkatkan status pembangunan manusia sebagai bukti kemajuan yang terjadi karena pembangunan pada periode tersebut. Secara umum status pembangunan manusia di Provinsi Sumatera Utara yang pada tahun 1990-an masih termasuk pada kualitas menengah Indeks Pembangunan Manusia merupakan alat ukur yang peka untuk dapat memberikan gambaran perubahan yang terjadi, hal ini dapat dilihat dari menurunnya komponen daya beli pada saat terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 ini juga berarti terjadinya penundaan upaya peningkatan kapasitas fisik dan kapasitas intelektual penduduk. Penurunan beberapa komponen IPM sebagai akibat kepekaan IPM sebagai alat ukur yang dapat menangkap perubahan nyata yang dialami penduduk dalam jangka pendek. Tabel 4.1 Perkembangan IPM Provinsi Sumatera Utara Tahun 2004 – 2007 No 1. 2. 3. 4. Tahun 2004 2005 2006 2007 IPM 71.4 72,0 72,3 72.98

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara, Tahun 2008

Dari tabel diatas dapat kita lihat perkembangan Indeks Pembangunan Manusia dari tahun 2004 hingga 2007. Indeks tersebut mengalami fluktuasi selama periode tersebut dan status pembangunan manusia tentu saja
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 89

meningkat dari tahun sebelumnya yaitu dari status menengah bawah menjadi menengah atas. Hal ini bisa saja disebabkan oleh kondisi kesejahteraan masyarakat pada tahun tersebut bisa dikatakan cukup baik. Namun pada tahun 1999 indeks pembangunan manusia mengalami penurunan yang cukup signifikan hal ini bisa saja diakibatkan oleh gejolak ekonomi yang terjadi pada tahun tersebut. Terjadinya krisis ekonomi mengakibatkan kesejahteraan masyarakat menurun secara drastis. Pada tahun 2004 IPM Provinsi Sumatera Utara mengalami peningkatan sebanyak 3 point karena pada tahun tersebut kondisi perekonomian sudah mulai membaik jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada tahun 2006 IPM Provinsi Sumatera Utara meningkat dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2005 dari 72,0 menjadi 73,0 dan pada tahun 2007 mencapai 72.98. Angka IPM ini ditagretkan mencapai angka 73,4 pada tahun 2009.

Melek Huruf Melek huruf merupakan salah satu indikator yang digunakan dalam pengetahuan. Kondisi melek huruf Provinsi Sumatera Utara sendiri relatif cukup tinggi yaitu sekitar 97% pada tahun 2001. ini berarti masih ada sekitar 3% penduduk yang masih dalam keadaan buta huruf (tidak mampu menulis dan membaca). Tabel 4.2 Tingkat Melek Huruf Provinsi Sumatera UtaraTahun 2004-2007 (%) No 1. 2 3. Tahun 2004 2006 2007 Melek Huruf 96.60 97,45 97,50

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara, Tahun 2008

Tingkat melek huruf Provinsi Sumatera Utara dari tahun 2004 – 2007 secara umum meningkat. Ini berarti bahwa tingkat pendidikan ataupun pengetahuan di Provinsi Sumatera Utara terus mengalami peningkatan, hal ini tidak terlepas dari upaya pemerintah dalam meningkatkan tingkat pendidikan masyarakat dalam program pendidikan minimal 9 tahun serta pemberantasan buta huruf. Pada tahun 2004 angka melek hurup adalah 96,6 % dan kemudian mengalami peningkatan dari tahun ke tahun yaitu dari 97,45 % pada tahun 2007 meningkat lagi menjadi 97,50% dan tahun 2009 ditargetkan mencapai 9,60%

Harapan Hidup

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

90

Kondisi kesehatan makro yang diilustrasikan dengan angka harapan hidup penduduk Provinsi Sumatera Utara dari tahun ke tahun menunjukkan kondisi yang semakin meningkat. Pada tahun 1990 angka harapan hidup penduduk Provinsi Sumatera Utara masih berkisar 62.1 tahun. Pembangunan khususnya pada bidang kesehatan mampu menunjukkan hasil dengan meningkatnya angka harapan penduduk menjadi sekitar 67.0 pada tahun 1998. dengan melihat angka ini dapat dikatakan bahwa kondisi kesehatan makro di Provinsi Sumatera Utara cukup meningkat secara nyata pada kurun waktu kurang lebih 8 tahun. Krisis yang melanda pada pertengahan tahun 1998 mempunyai dampak yang menyebabkan menurunnya kesehatan penduduk, yang diindikasikan dengan menurunnya angka harapan hidup menjadi 66.3 tahun pada tahun 1999. Pemulihan ekonomi yang mulai terjadi pada tahun 2000 berdampak pada peningkatan derajat kesehatan penduduk menyebabkan angka harapan hidup penduduknya meningkat namun belum mampu kembali pada kondisi sebelum krisis. Perkembangan tingkat harapan hidup di Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada tabel berkut ini. Tabel 4.3 Perkembangan Tingkat harapan hidup Provinsi Sumatera UtaraTahun 2004-2007 No 1. 2. 3. 4. Tahun 2004 2005 2006 2007 Tingkat Harapan Hidup 68.2 70,2 71,2 71,5

Sumber : BPS Propinsi Sumatera Utara, Tahun 2008

Pada tahun 2004 harapan hidup Provinsi Sumatera Utara mengalamii peningkatan dari tahun sebelumnya. Hal ini sejalan dengan adanya peningkatan kesehatan penduduk dan juga adanya perbaikan sarana kesehatan penduduk. Pada tahun 2004 juga mengalami peningkatan yaitu dari 67 tahun menjadi 68,2 tahun dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2005 harapan hidup di Provinsi Sumatera Utara juga mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya walaupun tidak signifikan yaitu dari 68,2 tahun menjadi 70.2 tahun.Angka harapan hidup Provinsi Sumatera Utara sudah berada diatas rata-rata kondisi nasional. Pada tahun 2009 angka ini ditargetkan menjadi 71,79. Pembangunan di bidang Pendidikan tahun 2004-2009 adalah 1) terlaksananya wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun; 2) Meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk usia 7-12 tahun dengan tingkat partisipasi sekolah tahun 2006 mencapai 99,40 persen dan tahun 2009 mencapai 99,80 persen, penduduk usia 7-15 tahun mencapai 96,50 persen pada tahun 2006 dan pada
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 91

tahun 2009 mencapai 97,50 persen, dan penduduk usia 7-24 tahun pada tahun 2006 mencapai 66,60 persen dan tahun 2009 mencapai 67,10 persen serta meningkatnya keadilan dan kesetaraan antarkelompok masyarakat termasuk antara penduduk laki-laki dan perempuan; 3) Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 10 tahun keatas pada tahun 2006 mencapai 97,45 persen dan tahun 2009 menjadi 97,60 persen; 4). Meningkatnya Pendidikan yang ditamatkan penduduk umur 10 tahun keatas menurut jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, Diploma, D.IV/Sarjana. Tidak/belum tamat SD pada tahun 2006 sebesar 21,0 persen dan diharapkan tahun 2009 sebesar 19,50 persen, demikian juga tamat SD tahun 2006 mencapai 27,80 persen dan 27,00 persen tahun 2009, tamat SLTP 2006 sebesar 24,50 persen dan 2009 sebesar 26,00 persen, tamat SLTA tahun 2006 mencapai 23,40 persen dan 23,90 persen diharapkan tahun 2009, tamat Diploma (I,II,III) sebesar 1,45 persen pada tahun 2006 dan tahun 2009 sebesar 1,60 persen, dan tamat DIV/Sarjana pada tahun 2006 sebesar 1,85 persen dan pada tahun 2009 meningkat mencapai 2,00 persen; 5) Meningkatnya Rata-rata lama sekolah pada tahun 2006 mencapai 9,2 tahun dan tahun 2009 diperkirakan sudah mencapai 9,8; 6) Meningkatnya proporsi pendidik formal dan non formal yang memiliki kualifikasi sesuai standar untuk setiap jenjang pendidikan. Kondisi Kesehatan masyarakat seperti tingkat kesakitan penduduk pada tahun 2004 mencapai 16,00 persen dan 15,50 persen pada tahun 2005. Angka kematian bayi pada tahun 2004 sebesar 36 per seribu kelahiran hidup tahun 2004, dan pada tahun 2005 menjadi 35,5 per seribu kelahiran hidup angka kematian ibu tahun 2004 sebesar 345 per seratus ribu kelahiran hidup dan tahun 2005 menjadi 330 per seratus ribu kelahiran hidup. Usia Harapan Hidup pada tahun 2004 mencapai 68,2 tahun, dan pada tahun 2005 menjadi 70,5. Pembangunan bidang Kesehatan tahun 2004-2009 adalah 1) Meningkatnya upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan; 2) meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dan status gizi; 3) Meningkatnya upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, utamanya bagi penduduk miskin melalui pemberian subsidi terhadap pelayanan kesehatan dasar dan rujukan serta upaya jaminan pemeliharaan kesehatan; 4) Meningkatnya upaya pencegahan dan penyembuhan akibat penyakit, terutama untuk penurunan angka kematian ibu menjadi 315 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2006 dan angka kematian bayi pada tahun 2006 sebesar 25,72 per seribu kelahiran hidup dan tahun 2009 diharapkan angka kematian ibu sebesar 260 per seratus ribu kelahiran hidup sedangkan angka kematian bayi sebesar 22,49 jiwa per seribu kelahiran hidup, serta penurunan angka kesakitan berbagai penyakit pada tahun 2006 mencapai 17,00 persen dan pada tahun 2009 diharapkan semakin menurun mencapai 15,00 persen; 5). Meningkatnya Usia Harapan Hidup pada tahun 2006 diharapkan mencapai 70,86 tahun, dan pada tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 71,79 tahun; 6) Meningkatnya upaya lingkungan sehat di kawasan pariwisata, industri, perumahan dan permukiman, serta perbaikan sarana sanitasi dasar untuk permukiman kumuh dan keluarga miskin di perkotaan maupun di perdesaan; 7) Meningkatnya kualitas, keterjangkauan dan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 92

pemerataan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana/konflik serta masyarakat pekerja; 8) Meningkatnya upaya dan kecepatan penanggulangan masalah kesehatan akibat terjadinya wabah, Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana; 9) Meningkatnya upaya pemerataan dan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan; 10) Meningkatnya perumusan kebijakan/program pembangunan kesehatan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan; 11) Meningkatnya upaya penyediaan dan pemanfaatan obat, obat tradisional, terutama obat asli Indonesia, kosmetik, produk komplemen, produk pangan dan alat kesehatan yang berkualitas serta terjamin keamanan produk tersebut yang beredar; 12) Terjaminnya mutu, keamanan dan khasiat/kemanfaatan produk terapetik/obat, obat tradisional, kosmetik, perbekalan kesehatan rumah tangga, produk komplemen dan produk pangan yang beredar. Serta tercegahnya masyarakat dari penyalahgunaan dan penggunaan obat keras, narkotika, psikotropika, precursor, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya; 13) Dimanfaatkannya tanaman obat Indonesia sebagai produk obat bahan alam bermutu tinggi dalam pelayanan kesehatan masyarakat. Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan Sumber Daya Manusia. Kondisi kesejahteraan rakyat seperti kependudukan menurut Badan Pusat Statistik hasil Sensus Penduduk (SP) 2000, jumlah penduduk Sumatera Utara sebanyak 11,5 juta jiwa dengan luas wilayah 71.680 Km2 per segi. Jumlah penduduk tersebut bertambah menjadi sekitar 11,9 juta jiwa pada tahun 2003, dan pada tahun 2006 diperkirakan sebesar 12,6 juta jiwa serta pada tahun 2009 sebesar 13,0 juta jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk 1,20 persen. Dimana pada tahun 2004 terdata jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara mencapai 1,8 juta jiwa atau sekitar 14,93 persen dari total jumlah penduduk, angka mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif dari tahun 2003 yang mencapai 1,89 juta jiwa atau sekitar 15,89 persen dari total penduduk. Permasalahan Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Berkualitas adalah masih tingginya laju pertumbuhan penduduk dan jumlah penduduk, masih tingginya tingkat kelahiran penduduk hal ini ditandai dengan tingginya angka kelahiran total Total Fertility Rate (TFR) pada tahun 2006 sebesar 2,78 rata-rata kelahiran Pasangan Usia Subur dan diharapkan pada tahun 2009 sebesar 2,40 rata-rata kelahiran Pasangan Usia Subur. Kurangnya pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi, rendahnya partisipasi pria dalam ber-KB, masih kurang maksimalnya akses dan kualitas pelayanan KB, masih lemahnya ekonomi dan ketahanan keluarga, belum serasinya kebijakan kependudukan dalam mendukung pembangunan berkelanjutan, dan belum tertatanya administrasi
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 93

kependudukan dalam rangka membangun sistem pembangunan, pemerintahan dan pembangunan berkelanjutan. Pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berkualitas tahun 2004-2009 adalah 1) Terlayaninya peserta KB aktif Pasangan Usia Subur (PUS) dan KB Baru dan peningkatan peserta KB pria; 2) Meningkatnya penggunan metode kontrasepsi yang efektif serta efisien; 3) Meningkatnya jumlah remaja yang mendapatkan informasi tentang Kesehatan Reproduksi: 4) Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuhkembang anak; 5) Meningkatnya jumlah keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I yang aktif dalam usaha ekonomi produktif; 6) Meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas, pengendalian pertumbuhan dan kuantitas, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan; 7) mendorong peningkatan cakupan jumlah Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan.

Bab 4.2. Penanggulangan Kemiskinan

I. Pengantar Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan, antara lain: tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, akses terhadap barang dan jasa, lokasi, geografis, gender, dan kondisi lingkungan. Mengacu pada strategi nasional penanggulangan kemiskinan definisi kemiskinan adalah kondisi di mana seseorang atau sekelompok orang, laki-laki dan perempuan, tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan mengembangkan kehidupan yang bermartabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis hak yang mengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama dengan anggota masyarakat lainnya. Kemiskinan tidak lagi dipahami hanya sebatas ketidakmampuan ekonomi, tetapi juga kegagalan memenuhi hak-hak dasar dan perbedaan perlakuan bagi seseorang atau sekelompok orang dalam menjalani kehidupan secara bermartabat. Hak-hak dasar yang diakui secara umum meliputi terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumberdaya alam, dan lingkungan hidup, rasa aman dari perlakukan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik, baik bagi perempuan maupun laki-laki. Penduduk miskin yang umumnya berpendidikan rendah harus bekerja apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Kondisi tersebut menyebabkan lemahnya posisi tawar masyarakat miskin dan tingginya
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 94

kerentanan terhadap perlakuan yang merugikan. Masyarakat miskin juga harus menerima pekerjaan dengan imbalan yang terlalu rendah, tanpa sistem kontrak atau dengan sistem kontrak yang sangat rentan terhadap kepastian hubungan kerja yang berkelanjutan. Di sisi lain kesulitan ekonomi yang dihadapi keluarga miskin seringkali memaksa anak dan perempuan untuk bekerja. Pekerja perempuan, khususnya buruh migran perempuan maupun pembantu rumahtangga dan pekerja anak menghadapi resiko sangat tinggi untuk dieksploitasi secara berlebihan, tidak menerima gaji atau digaji sangat murah, dan bahkan seringkali diperlakukan secara tidak manusiawi

II. Kondis Awal Tahun 2004-2005 Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara mengalami peningkatan dari 4,81 persen pada tahun 2003 menjadi 5,74 persen pada tahun 2004 dan pada tahun 2006 sebesar 6,18 persen serta pada tahun 2009 ditargetkan sebesar 7,79 persen, dengan perkembangan PDRB pada tahun 2003 dengan harga berlaku sebesar Rp. 103,401 triliun dan pada tahun 2004 meningkat menjadi Rp. 118,10 triliun, pada tahun 2006 sebesar Rp. 160,304 triliun serta tahun 2009 diperkirakan meningkat sebesar Rp. 234,31 triliun. Pada periode tahun 1984-2004 rata-rata Produk Doestik Regional Bruto per Wilayah di Provinsi Sumatera Utara dapat dilihat pada gambar berikut ini.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

95

Gambar 4.2 PDRB Wilayah Provinsi Sumatera Utara Untuk rata-rata pertumbuhan ekonomi wilayah di Provinsi Sumatera Utara juga menunjukkan pertubuhan yang beragam dan data menunjukkan wilayah di pantai timur dengan perkembangan yang relative tinggi bila dibandingkan dengan pertumbuhan di wilayah pantai barat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

96

Gambar 4.3 Pertumbuhan Ekonomi per Wilayah Provinsi Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

97

Pertumbuhan Ekonomi Sektoral (%)

14

12

10

8

6

4

2

0
Pertanian Perdagangan, Hotel & Rest Industri Pengolahan Konstruksi Angkutan & Komunikasi Keu., Real Est & Jasa Prsh PDRB

2001 3,6 3,2 4,48 4,01 6,71 1,92 3,72

2002 2,26 4,89 5,08 4,26 6,65 2,94 4,07

2003 2,51 2,88 4,29 6,01 10,45 6,84 4,81

2004 3,75 6,11 5,38 7,65 13,49 6,9 5,74

2005 3,38 4,95 4,76 12,96 10,11 7,15 5,48

2006 2,32 6,95 5,47 10,33 11,91 9,87 6,18 12

Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.4 Pertumbuhan ekonomi sektoral Provinsi Sumatera Utara Sedangkan struktur ekonomi masih tetap didominasi oleh sektor pertanian, 24,94 persen diikuti sektor industri pengolahan 33,22 persen dan sisanya sektor jasa 41,84 persen pada tahun 2003, dan angka ini akan mengalami perubahan sejalan dengan semakin membaiknya sektor riil, kondisi tersebut mendorong perbaikan pada sektor industri pengolahan dan mengalami peningkatan pada tahun 2004 mencapai 24,47 persen, 33,49 persen dan 42,04 persen untuk sektor pertanian, industri pengolahan dan jasa sedang untuk tahun 2006 sebesar 23,42 persen, 33,26 persen dan 43,32 persen serta tahun 2009 ditargetkan akan 22,91 persen, 33,58 persen dan 43,51 persen. Demikian juga terhadap Pendapatan Perkapita pada tahun 2003 berdasarkan atas harga berlaku sebesar Rp. 8,67 juta meningkat menjadi Rp. 9,74 juta pada tahun 2004 sedangkan untuk tahun 2006 sebesar Rp. 12,11 juta serta tahun 2009 ditargetkan menjadi Rp. 17,93 juta. Sejalan dengan meningkatnya perekonomian, volume ekspor juga mengalami peningkatan. Pada tahun 2003, volume ekspor mencapai 5,49 juta ton dengan nilai 2,69 milyar US$. Pada tahun 2004, volume ekspor mencapai 7,51 juta ton dengan nilai 4,24 milyar US$, sedangkan untuk tahun 2006 ditargetkan volume ekspor mencapai 8,70 juta ton dengan nilai ekspor sebesar 5,52 milyar US$ serta tahun 2009
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 98

ditagetkan volume ekspor mencapai 9,08 juta ton dengan nilai sebesar 4,93 milyar US$. Sementara itu, volume impor tahun 2003 sebesar 2,34 juta ton dengan nilai 0,68 milyar US$, tahun 2004 volume impor mencapai 3,22 juta ton dengan nilai 0,95 milyar US$, sedang untuk tahun 2006 volume impor sebesar 4,40 juta ton dengan nilai sebesar 1,46 milyar US$ serta tahun 2009 ditargetkan volume impor sebesar 3,94 juta ton dengan nilai 1,72 milyar US$. Laju Inflasi di Sumatera Utara tahun 2003 berada pada posisi satu digit atau sebesar 4,23 persen, sedangkan tahun 2004 naik menjadi 6,80 persen, dan untuk tahun 2006 mencapai 6,11 persen, tahun 2007 sebesar 6,50 persen serta tahun 2009 ditargetkan akan mencapai 6,00 persen. Nilai Tukar Petani (NTP) Sumatera Utara sudah mengalami peningkatan, pada tahun 2003 Nilai Tukar Petani telah mencapai 100,8 persen, ini berarti bahwa kenaikan harga yang diterima Petani (It) relatif masih lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga yang dibayar petani (Ib) untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan makin stabil dan membaiknya kondisi perekonomian, pada tahun 2004 NTP Sumatera Utara mencapai 101,0, dan untuk tahun 2006 mencapai 102,50, tahun 2007 sebesar 103,0 serta tahun 2009 ditargetkan akan mencapai 103,50. Perekonomian suatu wilayah terbentuk dari berbagai macam aktivitas/ kegiatan ekonomi yang timbul di wilayah tersebut. Kegiatan ekonomi dikelompokkan kedalam sembilan sektor/lapangan usaha. Adanya perbedaan geografis maupun potensi ekonomi yang dimiliki suatu daerah mengambarkan keadaan sektorsektor ekonomi yang menentukan dan berpengaruh di daerah tersebut.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

99

11.00 Binjai Tj Balai 9.00 Asahan

Pertumbuhan Ekonomi (%

P Siantar Deli Serdang 7.00 Karo Labuhan Batu

Sibolga Tapteng Simalungun TTinggi Taput Langkat Nias

Medan

5.00

3.00

1.00

Tapanuli Selatan Dairi 0 1000000 2000000 3000000 4000000 5000000 6000000 7000000 8000000

-1.00

PDRB Per Kapita (Rp)

Gambar 4.5 Klasifikasi Wilayah Kabupaten dan Kota Provinsi Sumatera Utara 1984-2004 Dari Gambar di atas dapat diketahui tentang gambaran pola dan struktur pertumbuhan ekonomi masingmasing daerah kabupaten/kota. Salah satu alat analisis yang lazim dipergunakan adalah Tipologi Klassen. Pada prinsipnya tipologi Klassen membagi daerah berdasarkan dua indicator utama yaitu pertumbuhan ekonomi dan pendapaan perkapita yang dalam hal ini dipergunakan PDRB per kapita. Untuk periode waktu tertentu terlebih dahulu dihitung rata-rata pertumbuhan ekonomi kabuaten/kota untuk sumbu vertical dan rata-rata pendapatan per kapita daerah untuk sumbu horizontal. Kedudukan dari masing-masng daerah kemudian dibagi menjadi empat klasisfikasi yaitu : daerah dengan pertumbuhan ekonomi cepat dan pendapatan perkapita tinggi (daerah maju dan tumbuh cepat (high growth and high income), daerah maju tapi tertekan (high growth and low incme) , daerah berkembang cepat (high growth and low income), dan daerah yang relative tertinggal (low growth and low income). Dengan demikian dapat dianalis untuk membuat klasifikasi daerah di Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut : daerah cepat maju dan cepat tumbuh yaitu daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi dan penapatan per kapita lebih tinggi dari rata-rata Provinsi Sumatera Utara, daerah maju tapi tertekan :
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 100

yaitu daerah dengan pendapatan per kapita lebih tinggi akan tetapi tingkat pertumbuhan ekonominya lebih rendah dari rata Provinsi Sumatera Utara, daerah berkembang cepat : yaitu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi akan tetapi pendapatan per kapitanya lebih rendah dari rata-rata Provinsi Sumatera Utara, dan daerah tertinggal : yaitu daerah dengan tingkat pertumbuhan dan pendapatan perkapitanya lebih rendah dari rata-rata Provinsi Sumatera Utara. Perkembangan PDRB dan pertumbuhan ekonomi dari setiap daerah untuk periode 1983-2004, maka dapat diklasifikasikan wilayah di Provinsi Sumatera Utara sebagai berikut : Daeah yang termasuk dalam klasifikasi daerah cepat tumbuh dan sepat maju adalah Kota Binjai, Kota Tanjung Balai, Kota Medan, Kota Tebing Tinggi, Kabupaten Labuhan Batu, Kabupaten Asahan, dan Kabupaten Langkat. Sedangkan daerah yang termasuk daerah berkembang cepat adalah Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga. Untuk daerah yang relatif tertinggal adalah Kabupaten Nias dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

III. Sasaran yang ingin Dicapai Sasaran pertama dalam RPJMD 2004-2009 adalah menurunnya jumlah penduduk miskin menjadi 10,0 persen pada tahun 2009, serta terciptanya lapangan kerja yang mampu mengurangi pengangguran terbuka menjadi 5,1 persen pada tahun 2009 dengan didukung oleh stabilitas ekonomi yang tetap terjaga. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menjaga peningkatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 ditargetkan sebesar 7,54 % dan tahun 2009 meningkat menjadi 7,79 %. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2004 sebesar 758.092 atau 13,75 persen dan pada tahun 2006 sebesar 741.035 jiwa atau 11,51 persen, tahun 2007 sebesar 10,00 persen dan tahun 2009 ditargetkan menurun menjadi sebesar 666.931 jiwa atau 9,60 persen. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran di atas, maka arah dan kebijakan yang ditetapkan adalah meliputi : a. Kebijakan Pemenuhan hak-hak dasar 1. Pemenuhan hak atas pangan 2. Pemenuhan hak atas layanan kesehatan 3. Pemenuhan hak atas layanan pendidkan 4. Pemenuhan hak atas pekerjaan dan usaha 5. Pemenuhan hak atas perumahan 6. Pemenuhan hak atas air bersih
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 101

7. Pemenuhan hak atas tanah 8. Pemenuhan hak atas rasa aman 9. Pemenuhan hak untuk berpartisipasi b. Kebijakan pengembangan wiilayah untuk mendukung pemenuhan hak dasar 1. Percepatan pembangunan perdesaaan 2. Revitalisasi pembangunan perkotaan 3. Pengembangan kawasan pesisir 4. Percepatan pembangunan daerah tertinggal Disamping itu program-program penanggulangan kemiskinan yang dilakukakan pemerintah adalah pemberdayaan masyarakat, penanggulangan kemiskinan perkotaan, bantuan operasional sekolah, asuransi masyarakat miskin, beras miskin dan infrastruktur desa. V. Pencapaian Tahun 2005-2007 Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara mengalami peningkatan dari 4,81 persen pada tahun 2003 menjadi 5,74 persen pada tahun 2004 dan pada tahun 2006 sebesar 6,49 persen serta pada tahun 2007 sebesar 6,90 persen lebih rendah dari yang ditargetkan yaitu 7,02%.Angka pertumbuhan ekonomi ini di tahun 2009 diharapkan mencapai 7,79%. Pada tahun 2005, PDRB perkapita (harga konstan tahun 2000 ) provinsi ini sebesar Rp. 87,89 triliun lebih tinggi dari tahun 2004 yaitu sebesar Rp 78,81 triliun,dengan kontribusi terbesar disumbang dari sektor pertanian sebesar 25,2%, atau sama dengan Rp. 22,19 trilyun, diikuti sektor industri pengolahan sebesar Rp. 21,30 triliun (24,2%) serta sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar Rp. 15,98 triliun (18,2%). PDRB ini diharapkan pada tahn 2009 mecapai angka sebesar Rp 116,62 triliun. Perkembangan PDRB pada tahun 2003 dengan harga berlaku sebesar Rp. 103,4 triliun dan pada tahun 2004 meningkat menjadi Rp. 118,10 triliun, pada tahun 2006 sebesar Rp. 160,304 triliun dan pada tahun 2007 meningkat menjadi 181,82 triliun rupiah dan di tahun 2009 ditargetkan menjadi Rp 234,31 triliun.. Pada tahun 2005, nilai ekspornya mencapai US$ 4,56 miliar lebih baik dari tahun 2004 berjumlah US $ 4,24 milyar, disumbang dari Minyak Lemak, Minyak Nabati dan Hewani sebesar US$ 1,76 juta, bahan baku senilai US$ 987 juta, barang hasil industri senilai US$ 623 juta, bahan makanan dan binatang hidup senilai US$ 606 juta. Tahun 2007 nilai ekspor mencapai US $4,45 miliar dan ditaretkan pada tahun 2009 mencapai US $ 4,93 miliar.Tanaman Palawija juga menjadi salah satu andalan ekspor. Terdapat 2 (dua) unggulan di provinsi ini untuk sektor pertanian yaitu sub sektor perkebunan dan perikanan. Untuk sub sektor
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 102

perkebunan terdapat 5 (lima) komoditi unggulan, antara lain kakao, karet, kelapa sawit, kopi dan tebu. Sedangkan dari sub sektor perikanan Provinsi Sumatera Utara mempunyai unggulan untuk perikanan laut danbudidaya. Sebagai pendukung kegiatan perekonomian, provinsi ini memiliki 4 (empat) kawasan industri yaitu Kawasan Industri Medan, Medan Star Industrial estate, Binjai dan Pulahan Seruai Industrial Estate dengan dukungn sarana perhubungan yang memadai berupa pelabuhan laut sebanyak 22 (dua puluh dua) pelabuhan dan 7 (tujuh) Bandar Udara baik nasional maupun perintis yaitu Bandara Sibisa, Binaka, Silangit, Pulau Batu, Aek Gondang, Pinang Sori, dan Bandara Polonia sebagai bandar udara utama. Penduduk miskin Sumatera Utara pada tahun 2004 mencapai 1.800.100 jiwa atau 14,93 %, kondisi ini sudah lebih baik dari saat krisis ekonomi penduduk miskin mencapai 16,74 % tahun 1998, tahun 2006 menurun menjadi 13,90 persen dan tahun 2007 sebesar 12,55 persen. serta tahun 2009 ditargetkan menurun menjadi 10,0 persen. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tahun 2004 sebesar 758.092 atau 13,75 persen dan pada tahun 2006 sebesar 15,66 persen, tahun 2007 sebesar 10,00 persen dan tahun 2009 ditargetkan menurun menjadi sebesar 666.931 jiwa atau 9,60 persen.

Jumlah dan Persentase Orang Miskin
2.000 16,74 17 Jumlah Orang Miskin Persetanse Orang Miskin 15,84 15,89 16,5 16 15,5

1.950

1.900

(ribu orang)

14,93 1.850 14,28 1.800

15,66 15 14,5 14

1.750 13,5 1.884 1.973 1.889 1.800 1.700 1.760 1.980 13 12,5 1999 2002 2003 2004 2005 2006
7

1.650

Gambar 4.6 Jumlah dan Presentase Orang Miskin

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

%

103

Untuk sasaran kesenjangan antar wilayah diharapkan meningkatnya peran perdesaan sebagai basis pertumbuhan ekonomi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pembangunan pada daerahdaerah tertinggal dan kepulauan, pengembangan wilayah yang didorong daya saing dan produk-produk unggulan daerah serta meningkatnya keseimbangan pertumbuhan antara pantai Barat, Pantai Timur dan Dataran Tinggi. Disisi lain terjadi peningkatan indeks kesejahteraan di Sumatera Utara selama beberapa tahun terakhir melalui peningkatan angka Indek Pembangunan Manusia (IPM). Pada awal tahun 2004 indeks kesejahteraan berada pada angka 71,4 dan ketika itu Sumatera Utara berada pada ranking ke tujuh secara nasioal. Angka IPM ini mengalami peningkatan yang sangat significan pada tahun 2007 yaitu sebesar 72,98 dan menempatkan Sumatera Utara pada posisi ke empat pada tingkat nasional dan angka IPM tersebut mencapai angka 73,0 pada tahun 2009. Tabel 4.4 Indeks Pembangunan Manusia Provinsi Sumatera Utara

Indeks Pembangunan Manusia
Tahun 2002 2003 2004 2005 2009 Indeks Pembangunan Manusia 68,6 69,8 71,4 72,0 78,0 Ranking 7 8 4

6

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

104

Trend Pertumbuhan Ekonomi Sumut (%)

6,18 5,74 5,48

4,42 4,07 3,72

2001

2002

2003

2004

2005

10 2006

Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.7 Trend Pertubuhan Ekonomi Provinsi Sumatera Utara VI. Tindak Lanjut Upaya penanggulangan kemiskinan masa lalu, saat ini dan masa yang akan datang menjadi suatu perhatian yang sangat serius. Dalam penanganannya diperlukan upaya yang berkesinambungan dan komprehensip melalui pemberdayaan masyarakat miskin. Hal ini bertujuan agar masyarakat miskin mengetahui dengan baik apa yang menjadi keinginan dan kebutuhannya, sehingga terlepas dari lingkaran perangkap kemiskinan. Pemberdayaan masyarakat tersebut tidak terlepas dari pemanfaatan sumberdaya produktif yang ada dan sumberdaya lain yang disediakan oleh pemerintah melalui paket program yang telah digulirkan. Dalam kaitan tersebut di atas, maka upaya penanggulan kemiskinan ke depan haruslah menitikberatkan pada : 1. Menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok 2. Mengembangkan usaha produktif untk masyarakat miskin 3. Mengembangkan akses masyarakat miskin terhadap pelayanan dasar 4. Mengembangan sisitim jaringan bagi perlindungan sosial masyarakat miskin
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 105

5. Pemberdayan rumah tangga terpadu (sosial ekonomi) rumah tangga miskin, meliputi pemberdayaan akan peningkatan pendidikan, penekanan jumlah anggota rumah tangga, peningkatan produktivitas hasil pertanian dan pemberdayaan sumber daya ekonomi rumah tangga. 6. Program wajib belajar 9 tahun yang dicanangkan pemerintah, perlu ditindak lanjuti pemerintah daerah secara riil. Diperlukannya upaya memotivikasi masyarakat agar sadar akan pentingnya peningkatan pendidikan formal guna meningkatkan kualitas hidup melalui peningkatan pengetahuan. Selain itu bantuan biaya pendidikan untuk rumah tangga miskin sangat dibutuhkan baik oleh pemerintah maupun dengan adanya “Bapak Asuh” dalam bidang pendidikan. Pembangunan sekolah khususnya sekolah lanjutan sangat dibutuhkan segera mungkin. Pemerintah Daerah harus mampu mengalokasikan Anggaran Pembangunan Belanja Daerah (APBD) yang lebih besar terhadap pembangunan di bidang pendidikan, minimuni 20 persen dari total nilai APBD. Perlunya manajement pengelolaan dana BOS yang lebih baik, sehingga pemenfaatan dana BOS efektif. 7. Program Keluarga Berencana perlu digalakkan kembali. Sosialisasi Program Keluarga Berencana digencarkan dan jangkauan sosialisasi diperluas, bukan hanya wanita kawin tapi juga terhadap pria kawin serta kepada wanita atau pria yang belum kawin sebagai calon berkeluarga. 8. Upaya pembinaan di bidang pengelolaan usaha pertanian baik untuk petani dan nelayan agar peningkatan produktivitas pertanian dapat ditingkatkan dan pemasaran hasil pertanian dapat dilakukan dengan tepat guna dengan tingkat harga yang memadai sehingga pendapatan rumah tangga tersebut dapat dinaikan. Perlu adanya Program “Perkebunan Inti rakyat”. Selain itu pemerintah daerah mulai dari tingkatan terendah baik Kepala Desa ataupun Camat perlu menciptakan lapangan pekerjaan yang baru di luar sektor pertanian, karena resiko rumah tangga yang bekerja di luar sektor pertanian menjadi rumah tangga miskin lebih kecil sehingga pengurangan rumah tangga miskin dapat dicapai. 9. Bantuan dana dalam bentuk kredit lunak dengan tingkat bunga yang rendah, dan proses yang sederhana dan tidak memerlukan jaminan aset.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

106

VII. Penutup Kondisi kemiskinan di Sumatera Utara menunjukkan angka yang cukup beragam dan berfluktasi, artinya sangat bergantung dan dipengaruhi oleh kondisi makro Indonesia. Ketika kondisi makro Indonesia mengalami perbaikan, maka jumlah dan persentase penduduk miskin di Sumatera Utara mengalami penurunan. Lemahnya akses terhadap kebutuhan dasar seperti pelayanan pendidikan, kesehatan dan pekerjaan sangat mempegaruhi keberadaan masyarakat miskin. Bab 4.3. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas 1. Pengantar Pembangunan daerah adalah merupakan bagian integral dari pembangunan nasional yang pada hakekatnya merupakan upaya untuk meningkatkan kapasitas pemerintah daerah, sehingga tercipta suatu kemampuan yang handal dan profesional dalam manajemen pemerintahannya serta mampu memberikan pelayanan prima kepada masyarakat. Pembangunan daerah juga mempunanyai arti kemampuan daerah dalam mengelola sumber daya ekonomi yang dimiliki dalam rangka kemajuan ekonomi daerah dan kesejahteraan masyarakat. Salah satu sebab utama dari lambatnya pemulihan ekonomi sejak krisis 1997 adalah buruknya kinerja investasi akibat sejumlah permasalahan yang mengganggu pada setiap tahapan penyelenggaraannya. Keadaan tersebut menyebabkan lesunya kegairahan melakukan investasi, baik untuk perluasan usaha yang telah ada maupun untuk investasi baru. Masalah ini akan sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian yang selama ini lebih didorong oleh pertumbuhan konsumsi ketimbang investasi atau ekspor. Rendahnya investasi dalam beberapa tahun terakhir sejak krisis ekonomi juga telah mempengaruhi daya saing produk Indonesia di pasar dalam maupun luar negeri. Investasi sangat dibutuhkan untuk memacu perekonomian yang pada akhirnya dapat mengatasi berbagai permasalahan di daerah, baik dibidang ekonomi maupun sosial. Dinamika investasi sangat mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

107

II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Pada tahun 2005 nilai realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp. 14,3 milyar dan nilai realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2005 mencapai sebesar US$ 58,42 milyar.

Nilai Rencana dan Realisasi PMDN di Sumut (miliar Rp)
Rencana Realisasi
7.469,04

3.683,54 2.940,31 2.571,76

3.632,64

1.321,32 427,05 132,16 0,05

529,74

339,60

504,56

Sumber : Badan Pusat Statistik

2001

2002

2003

2004

2005

2006

16

Gambar 4.8 Nilai Rencana dan Realisasi PMDN Program Peningkatan Iklim Investasi Dan Realisasi Investasi bertujuan menciptakan iklim investasi usaha yang berdaya saing global dan upaya untuk membuka lapangan kerja. Realisasi PMDN di Provinsi Sumatera Utara sampai dengan tahun 2002 adalah 301 proyek dengan total realisasi investasi Rp. 5,47 triliun rupiah (27%), realisasi penggunaan tenaga kerja adalah 187.841 orang dimana 98 orang diantaranya merupakan tenaga kerja asing Menurut sektornya terdiri dari industri makanan sebanyak 59 proyek, industri kimia sebanyak 53 proyek, perkebunan sebanyak 53 proyek, jasa sebanyak 19 proyek dan perhotelan sebanyak 11 proyek.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

108

Sampai dengan bulan September 2003, rencana investasi yang disetujui pemerintah di Provinsi Sumatera Utarayang berupa PMDN mencapai 23,20 triliun rupiah, dan yang berupa PMA sebesar 7,76 juta US$. Jumlah rencana investasi jenis PMDN pada tahun 2003 dibandingkan keadaan September 2002. Peningkatan pada rencana juga diikuti oleh peningkatan pada realisasi investasi di Propinsi Sumatera Utara. Sampai akhir tahun 2003, realisasi investasi yang disetujui pemerintah di Provinsi Sumatera Utara yang berupa PMDN mencapai lebih 5,97 triliun rupiah. Jumlah rencana investasi jenis PMDN pada tahun 2003 tersebut meningkat sebesar 12,36 persen dibandingkan keadaan-keadaan tahun 2002. Pada tahun 2004 sampai dengan tahun 2005 investasi PMDN mengalami penurunan sehingga tidak mencapai target yang diharapkan oleh semua pihak yang terkait khususnya yang dirugikan adalah para investor-investor. Investasi terbesar PMDN terdapat disektor industri yaitu sebanyak 3,11 triliun rupiah (52,11%), selanjutnya sektor pertanian menerima investasi sebesar 2,15 triliun rupiah (35,99 persen). Dari uraian penjelasan diatas tentang perkembangan investasi di Provinsi Sumatera Utara khususnya investasi PMDN dapat dijelaskan pada gambar berikut ini . tersebut meningkat sebesar 1,51 persen

Rencana dan Realisasi Jumlah Proyek PMA di Sumut

39 31

31 29 26 24

12 11 6 10 9 6

Rencana Realisasi
2001 2002 2003 2004 2005 18 2006
Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.9
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 109

Rencana dan Realisasi Jumlah Proyek PMA Dari sejumlah investasi yang telah dilakukan baik investasi domestik (dalam negeri) maupun investasi asing, maka daya serap tenaga kerja menunjukkan pola yang beragam artinya penanaman modall dalam negeri lebih sedikit menyerap tenaga kerja dibandingkan penanaman modal asing seperti terlihat pada gambar berikut ini : Tabel 4.5 Jumlah Tenaga Kerja pada PMDN di Sumatera Utara
Jumlah Tenaga Kerja pada PMDN di Sumatera Utara
WNI Tahun Rencana 2001 2002 2003 2004 2005 2006 Jumlah 1.656 3.872 5.709 6.373 3.272 7.717 28.599 Realisasi 14 31 24 69 0 1 139 Rencana 564 1.032 1.082 540 276 140 3.634 WNA Realis a si 0 2 0 0 0 1 3 Jumlah Rencana 2.220 4.904 6.791 6.913 3.548 7.857 32.233 Realisasi 14 33 24 69 0 2 142

Sumber : Badan Pusat Statistik

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

110

Gambar 4.10 Jumlah Tenaga Kerja pada PMA di Sumatera Utara
Jumlah Tenaga Kerja pada PMA di Sumatera Utara
WNI T ahun 2001 2002 2003 2004 2005 2006 J umlah R enc ana 8.434  2.440  10.019  5.534  3.299  7.176  36.902  R ealis as i 2.683  489  1.400  1.561  1.157  1.440  8.730  WNA R enc ana 2.683  489  1.400  1.561  1.157  1.440  8.730  R ealis as i 30  5  5  14  ‐ ‐ 54  J um lah R enc ana 11.117 2.929 11.419 7.095 4.456 8.616 45.632 R ealis as i 2.713 494 1.405 1.575 1.157 1.440 8.784

Sumber : Badan Pusat Statistik

Trend Ekspor - Impor Sumut (juta US$)
Impor Ekspor 1.457

1.178 953 5.524 819 861 2.892 2.295 2.688 4.563 4.239

680

2001

2002

2003

2004

2005

19 2006

Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.11 Trend Ekspor Impor Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

111

III. Sasaran yang ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya jumlah investor yang mendukung terciptanya kesempatan berusaha dan kesempatan kerja. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: 1. Meningkatkan sosialisasi dan penyuluhan kebijakan dan Peraturan Perundang-Undangan di Bidang penanaman modal sehingga investasi pada tahun 2009 mencapai 49,73 triliun rupiah. 2. Peningkatan kualitas SDM/Aparatur Bidang Penanaman Modal dalam pelayanan; 3. Pemutakhiran dan peningkatan kualitas data profil potensi investasi daerah dan sistem informasi realisasi data penanaman Modal; 4. Mengintensifkan/meningkatkan frekuensi pengawasan pengendalian dan pemantauan serta evaluasi kerja perusahaan PMDN/PMA di Provinsi Sumatera Utara; 5. Menyelenggarakan Koordinasi Perencanaan Penanaman Modal Daerah (RKPPMD), 6. Menguatkan kelembagaan pengelola penanaman modal di daerah. Mengupayakan peningkatan daya saing global produk Sumatera Utara serta meningkatkan peranan ekspor dalam memacu pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan perluasan pasar diversifikasi mata dagangan ekspor non migas dan mendorong peningkatan nilai ekspor melalui kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: 1. Pengembangan strategi pemantauan ekspor terutama ke negara-negara non tradisional sehigga nilai ekspor tahun 2009 mencapai angka 4,93 miliar US $. 2. Peningkatan kualitas kelembagaan pusat promosi ekspor 3. Peningkatan kualitas pelayanan kepada para eksportir 4. Fasilitasi peningkatan mutu produk komoditi pertanian, perikanan dan industri yang berpotensi ekspor. 5. Penguatan kapasitas laboratorium penguji produk ekspor-import 6. Peningkatan jaringan informasi ekspor dan impor. IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan untuk meningkatkan kegiatan investasi dan peningkatan ekpor yang berdaya saing global dan upaya untuk membuka lapangan kerja melalui upaya : 1. Peningkatan Promosi Dan Kerjasama Investasi 2. Pembinaan Kerjasama Perdagangan Internasional Dan Ekspor-Impor

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

112

V. Pencapaian Tahun 2005-2007 Pada tahun 2005 nilai realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp. 14,3 milyar dan nilai realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) pada tahun 2005 mencapai sebesar US$ 58,42 milyar.Pada tahun 2007 nilai investasi Sumatera Utara meningkat dari tahun sebelumnya menjadi 30,87 triliun rupiah atau tumbuh sebesar 7,43 %. Kemudian pada tahun 2009 ditargetkan nilai investasi berjumlah 49,73 triliun rupiah. Sementara itu dalam hal perdagangan luar negeri melalui kegiatan ekspor dan impor Sumatera Utara terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2005 angka ekspor Sumatera Utara hingga tahun 2007 menunjukkan tren yang meningkat yaitu dari 4,23 miliar US dollar di tahun 2005 meningkat menjadi 5,06 miliar US dolar. Sedangkan kegiatan impr Sumatera Utara pada tahun 2005 sebesar 1,18 miliar US dollar dan kemudian meningkat menjadi 1,32 miliar US dolar pada tahun 2007. Pada tahun 2009 ditargetkan nilai ekpor Sumatera Utara sebesar 4,93 miliyar US $ dan impor berjumlah 1,72 milyar US $. Hal ini berartii bahwa nilai ekspor Sumatera Utara lebih besar dari nilai impor sehingga terjadi surplus di dalam neraca perdagangannya. Komoditi utama ekspor Sumatera Utara adalah minyak/lemak nabati dan hewani yang mencapai 1.957,94 juta dollar Amerika (35,44 persen) dan diikuti oleh bahan mentah sebesar 1.502,27 juta dollar Amerika serta barang hasil industri sebesar. 778,80 juta dollar Amerika. Sumatera Utara umumnya mengekspor komoditinya ke Jepang, yang mencapai 894,04 juta dollar Amerika (16,19 persen) dan China yang mencapai 545,98 juta dollar Amerika (9,88 persen). VI. Tindak Lanjut Dalam upaya meningkatkan jumlah investasi dan ekspor, maka dipandang penting untuk terus menerus melakukan sosialisasi dan penyuluhan kebijakan dan Peraturan Perundang-Undangan di Bidang penanaman modal; peningkatan kualitas SDM/Aparatur Bidang Penanaman Modal dalam pelayanan; pemutakhiran dan peningkatan kualitas data profil potensi investasi daerah dan sistem informasi realisasi data penanaman Modal; mengintensifkan/meningkatkan frekuensi pengawasan pengendalian dan pemantauan serta evaluasi kerja perusahaan PMDN/PMA di Provinsi Sumatera Utara; menyelenggarakan Koordinasi Perencanaan Penanaman Modal Daerah (RKPPMD),menguatkan kelembagaan pengelola penanaman modal di daerah. Upaya lain yang harus dilakukan adalah melalui beberapa hal berikut ini : 1. Menyiapkan potensi sumberdaya, sarana dan prasarana daerah yang terkait dengan investasi; 2. Memfasilitasi terwujudnya kerjasama strategis usaha besar dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM);
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 113

3. Melakukan promosi investasi yang terkoordinasi baik di dalam dan di luar negeri; dan 4. Meningkatkan kerjasama di bidang investasi dengan instansi pemerintah dan dunia usaha baik di dalam maupun di luar negeri dalam menggerakkan kegiatan perdagangan luar negeri melalui kegiatan ekspor impor VII. Penutup Investasi dan ekspor sangat dibutuhkan untuk memacu perekonomian yang pada akhirnya dapat mengatasi berbagai permasalahan di daerah, baik dibidang ekonomi maupun sosial. Dinamika investasi sangat mempengaruhi tinggi rendahnya pertumbuhan ekonomi. Perlu adanya trobosan baru untuk lebih menciptakan iklim yang kondusif bagi para investor baik asing maupun domestik dan meningkatkan daya saing ekspor melalui keberpihakan atas dasar regulasi dan kebijakan pemerintah yang tepat serta diatasinya berbagai permasalahan yang masih melekat selama ini seperti : kendala infrastruktur, perizinan, peraturan daerah, perpajakan dan ketimpangan wilayah. Bab 4.4. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur I. Pengantar Kurang kondusifnya lingkungan usaha memiliki implikasi besar terhadap penurunan daya saing ekonomi, terutama bagi sektor-sektor industri sebagai lapangan kesempatan kerja utama dan sektor manufaktur yang merupakan salah satu motor bagi pertumbuhan ekonomi. Menurut catatan World Economic Forum (WEF) tahun 2004, posisi daya saing Indonesia masih berada pada urutan ke-69 dari 104 negara yang diteliti. Posisi tersebut sesungguhnya telah naik dari urutan ke-72 pada tahun sebelumnya. Namun demikian, dibandingkan dengan beberapa negara pesaing di kawasan ASEAN, posisi ini relatif lebih buruk. Sebagai contoh, Malaysia pada tahun 2004 berada pada urutan ke-31 sedangkan Thailand berada di posisi ke-34. Negara ASEAN yang posisi daya saingnya dibawah Indonesia adalah Filipina (urutan ke-76) dan Vietnam (urutan ke-77). Adapun menurut catatan International Institute for Management Development (IMD) yang juga menerbitkan World Competitiveness Report 2004, posisi Indonesia berada pada urutan ke-58 dari 60 negara yang diteliti. Sejak tahun 2000, peringkat daya saing ekonomi Indonesia berturut-turut turun dari posisinya ke-43 pada tahun 2000, urutan ke-46 pada tahun 2001, urutan ke-47 pada tahun 2002, dan urutan ke-57 pada tahun 2003.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

114

Peringkat Indonesia hanya berada di atas Argentina (59) dan Venezuela (60). Dalam pengamatan lembaga ini, posisi Filipina relatif lebih baik (yaitu pada urutan ke-52), walaupun peringkatnya juga terus mengalami penurunan dari posisinya di urutan ke-35 pada tahun 2000. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Di Indonesia, sektor industri dikelompokkan atas industri skala besar, sedang, kecil dan rumah tangga, Pengelompokan didasarkan pada jumlah tenaga kerja yang bekerja pada industri tersebut. Data mengenai industri besar dan sedang (BS) tersedia setiap tahun. Jumlah usaha industri besar dan sedang di Sumatera Utara pada tahun 2005 tercatat sebanyak 966 perusahaan, yang berarti mengalami penambahan 37 perusahaan jika dibandingkan dengan tahun 2004 yangberjumlah 929 perusahaan. Pada tahun 2005, nilai outputindustri besar dan sedang mencapai 49,57 triliun rupiah dengan nilai tambahatas dasar harga pasar sebesar 15,98 triliun rupiah. Nilai tambah terbesarpada tahun 2005 terdapat pada golongan industri makanan, minuman dan tembakau golongan (31) yaitu sebesar 8,11 triliun rupiah. Kemudian diikuti oleh industri kimia, batu bara, karet, dan plastik (golongan 35) sebesar 2,40 triliun rupiah. Nilai tambah terkecil pada tahunyang sama terdapat pada golongan 39 yaitu industri pengolahan lainnya sebesar 9,96 milyar rupiah.Hingga tahun 2004 sektor industri pengolahan di Sumatera Utara merupakan sektor yang cukup strategis dalam perekonomian makro. Hal ini terlihat dari besarnya peranan sektor ini dalam pembentukan PDRB Sumatera Utara yakni sebesar 26,33 %. Demikian juga dalam hal upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara, sektor ini memberikan peranan yang cukup signifikan karena pada tahun 2004 pertumbuhan sektor ini adalah mencapai 5,08 %. Bila dilihat menurut golongan industri, maka industri besar dan sedang merupakan subsektor yang terbesar menyumbang terhadap PDRB yakni mencapai 95,70 %, industri kecil 3,05 % dan industri kerajinan rumah tangga sebesar 1,25 %. Berdasarkan survei industri besar dan sedang tahun 2004, banyaknya perusahaan industri besar dan sedang sektor pengolahan yang aktif di Sumatera Utara adalah 947 perusahaan terdiri dari 28 perusahaan besar dan 619 perusahaan sedang, tersebar di 21 Kabupaten/Kota dan bergerak di 36 jenis industri menurut Klasifikasi Lapangan Usaha Indonesia (KLUI). Jenis industri tersebut adalah industri pengolahan dan pengawetan daging, ikan, buah-buahan, sayuran, minyak dan lemak (KKI 151) dengan jumlah 150 perusahaan (15,83%), disusul industri tersebut adalah industri makanan lainnya (KKI 154) dengan jumlah 128 perusahaan (13,52%) dan industri susu dan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 115

makanan dari susu, penggilingan padi-padian, jagung dan makanan ternak (KKI 153) dengan 80 perusahaan (8,45%). Selama tahun 2004 jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor industri pengolahan besar dan sedang di Sumatera Utara adalah 158.598 orang, terdiri dari pekerja produksi sebanyak 126.656 orang (79,86%) dan tenaga kerja lainnya sebanyak 31.942 orang (20,14 %). Daerah konsentrasi industri tinggi diasumsikan akan mempunyai aglomerasi ekonomi yang lebih besar dibandingkan wilayah atau daerah yang memiliki konsentrasi industri yang lebih rendah atau daerah yang bukan konsentrasi industri. Oleh karena itu wilayah dengan konsentrasi industri yang lebih tinggi intensitasnya akan mempunyai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah dengan konsentrasi industri yang lebih rendah.

Perbedaan penyebaran dan konsentrasi industri baik industri sedang maupun besar di Wilayah Barat dan Wilayah Timur Provinsi Sumatera Utara dari Tahun 198-2004 disajikan pada tabel berikut ini. Tabel 4.6 Jumlah Industri Sedang dan Besar di Wilayah Barat dan Wilayah Timur di Provinsi Sumatera Utara 1983-2004 (Unit) No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Wilayah Wilayah Barat Nias Tapanuli Selatatan Tapanuli Tengah Sibolga Wilayah Timur Asahan Deli Serdang Langkat Labuhan Batu Tanjung Balai Tebing Tinggi Medan Binjai Total 698 95 369 196 38 15,554 1,870 5,226 833 805 458 506 5,259 597

Sumber : Data diolah dari BPS berbagai penerbitan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

116

Konsentrasi industri sedang dan besar secara absolut terbanyak jumlahnya di Wilayah Timur dibandingkan dengan Wilayah Barat. Total industri yang berada di Wilayah Timur berjumlah 15.554 unit industri dibandingkan dengan di Wilayah Barat yang hanya berjumlah 698 unit industri. Konsentrasi industri di Wilayah Timur terutama berada di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang, dan Kabupaten Asahan yaitu kabupaten/kota dengan jumlah industri berada di atas 500 unit industri. Dari kenyataaan tersebut dapat dinyatakan penyebaran industri di kedua wilayah sangat timpang dan hal tersebut akan berdampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi di masing-masing wilayah. Tabel 4.7 Jumlah Industri, Value Added Industri dan Tenaga Kerja 1994-2004 No. Wilayah Kab/Kota Nias Tapanuli Selatan Tapanuli Tengah Sibolga Wilayah Barat Tapanuli Utara Simalungun Dairi Pematang Siantar Karo Wil.Dat. Tinggi Deli Serdang Labuhan Batu Asahan Langkat Tanjung Balai Tebing Tinggi Medan Binjai Wilayah Timur
Sumber : Data diolah dari BPS berbagai penerbitan

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17

Jumlah industri (unit) 1994-2004 47 174 134 15 370 91 603 0 565 49 1308 3,402 496 1,219 467 366 264 2,828 411 9453

VA industri (milyar Rp) 1994-2004 9.91 2,087 396 3 2,495 965 4,143 0 4,466 383 9,957 13,233 8,198 15,768 4,952 868 627 20,951 112 64,708

TK industri (0rang) 1994-2004 1619 23,027 24,920 507 50.073 10,266 161,827 0 65,026 5,472 242.591 579,770 134,399 128,564 120,650 24,141 23,881 486,400 16,352 1.514.157

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa jumlah industri untuk periode 1994-2004 di Wilayah Barat yaitu 370 unit lebih kecil dibandingkan dengan di Wilayah Timur yang berjumlah 9453 unit. Dari nilai tambah yang dihasilkan sudah tentu industri di Wilayah Timur menyumbangkan lebih besar yaitu berjumlah 64,708 milyar
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 117

rupiah dibandingkan dengan Wilayah Barat hanya 2,495 milyar rupiah. Begitu pula dalam hal penyerapan tenaga kerja di Wilayah Timur menyerap tenaga kerja sebesar 1.514.157 orang sedangkan di Wilayah Barat menyerap tenaga kerja sebesar 50.073 orang. PMDN di Provinsi Sumatera Utara secara umum telah memberi arti yang cukup positip terhadap penyerapan tenaga kerja lokal. Selama tahun 1968-2004, jumlah tenaga kerja lokal yang telah terserap mencapai 169.527 orang.. Apabila dibandingkan dengan jumlah angkatan kerja yang bekerja pada tahun 2004, yang mencapai 4.756.078 orang (BPS, 2006), jumlah tenaga kerja yang terserap oleh PMDN masih tergolong kecil. Penyerapan tenaga kerja oleh PMDN paling banyak terdapat di Kabupaten Deli Serdang, Kota Medan. Kabupaten Labuhan Batu dan Kabupaten Langkat. Lebih lanjut, apabila ditinjau dari rasio antara realisasi dan rencana penyerapan tenaga kerja, Kota Tebing Tinggi, Kota Medan dan Kota Tajung Balai mengalami rasio yang tertinggi. Minat investasi yang kemudian diaktualisasikan melalui realisasi investasi di ketiga kota ini menunjukkan potensi PMDN yang cukup baik dan investasi oleh PMDN masih sangat diharapkan dalam merangsang pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja di daerah. Tabel 4.8 Investasi Penanaman Modal Dalam Negeri di Propinsi Sumatera Utara 1992-2004 (juta Rp) 2000-2004 7,500

No.

Wilayah Wilayah Barat

1983-1992 63,930

1993-1999 25,085

1 2 3 4 10 11 12 13 14

Nias Tapanuli Selatatan Tapanuli Tengah Sibolga Wilayah Timur Asahan Deli Serdang Langkat Labuhan Batu Tanjung Balai
118

175,435

329,143

273,442

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

15 16 17

Tebing Tinggi Medan Binjai Sumatera Utara 241,716 362,636 284,799

Sumber : Data BPS dan diolah kembali dari beberapa penerbitan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

119

Gambar 4.12 Penyebaran PMDN Wilayah di Provinsi Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

120

Apabila dianalisis lebih jauh industri PMDN manakah yang dilakukan di berbagai wilayah di Provinsi Sumatera Utara,maka seberan industri PMDN tersebut dapat digambarkan melalui tabel berikut ini. Tabel 4.9 Penyebaran Jenis Industri PMDN di Wilayah Barat dan Wilayah Timur Provinsi Sumatera Utara1984 – 2004 Wilayah Kabupaten/Kota Wilayah Timur Industri Barang Logam Industri Farmasi Industri Kayu Industri Kertas Industri Kimia Industri Logam Dasar Industri Makanan Industri Mineral Nonlogam Industri Tekstil Jasa Konstruksi Pengangkutan Perhotelan Perumahan Peternakan Industri Barang Logam Industri Kayu Industri Kertas Industri Kimia Industri Logam Dasar Deli Serdang Industri Makanan Industri Mineral Nonlogam Jasa Konstruksi Pengangkutan Perhotelan Perikanan Perkebunan Peternakan Industri Barang Logam Industri Makanan Perkebunan Industri Kayu Industri Kimia Industri Makanan Jasa Konstruksi Perkebunan Perikanan
121

Jenis Industri

1. Medan

2. Deli Serdang

3. Tebing Tinggi

4. Asahan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

5. Langkat

6. Labuhan Batu 7. Binjai 8. Tanjung Balai Wilayah Barat 1. Tapanuli Tengah

Perkebunan Industri Kayu Industri Kimia Industri Makanan Kehutanan Perikanan Industri Mineral Nonlogam Perkebunan Industri Kimia Industri Makanan Industri Makanan Industri Kimia Industri Makanan Industri Kimia Industri Kayu Industri Makanan Perkebunan Industri Kayu Industri Makanan Kehutanan Perkebunan Industri Kimia Perikanan Perhotelan Perkebunan

2. Tapanuli Selatan 3. Sibolga 4. Nias
Sumber : Data diolah dari BKPMD dari beberapa tahun

Ketertarikan investor asing terhadap kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Utara masih terkonsentrasi di beberapa wilayah saja terutama di Wilayah Timur. Dari total realisasi investasi di Provinsi Sumatera Utara yang mencapai 4,028 miliar dollar, lebih dari separuhnya terealisasi di Kabupaten Asahan. Selebihnya terkonsentrasi di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Sedangkan di Kabupaten Nias, Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah sama sekali tidak diminati oleh investor asing. III. Sasaran yang ingin Dicapai Sasaran pembangunan sektor industri adalah meningkatkan industri yang berbasis pertanian serta pengolahan produk primer menjadi produk sekunder yangs memberikan nilai tambah dan meningkatnya sistem informasi potensI produk industri dan memfasilitasi pengembangan prasarana klaster industri. Kontribusi sektor industri padai tahun 2007 sebesar 25,33 persen dan tahun 2009 ditargetkan meningkat menjadi 25,41 persen.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

122

IV. Arah Kebijakan Mendorong dan memfasilitasi perbaikan struktur industri nasional baik dalam hal konsentrasi penguasaan pasar maupun dalam hal kedalaman jaringan pemasok bahan baku dan bahan pendukung, komponen, dan barang setengah jadi bagi industri hilir. Disamping hal tersebut maka kegiatan-kegiatan pokok yang dilakukan adalah : 1. mendorong pengembangan sistem informasi potensi produksi industri penunjang dan industri terkait; 2. Mendorong terjalinnya kemitraan industri penunjang dan industri terkait; 3. Memfasilitasi pengembangan industri Crude Palm Oil dan turunannya serta industri Karet berbasis klaster V. Pencapaan Tahun 2005-2007 Hingga tahun 2007 jumlah industri besar dan industri sedang di Sumatera Utara mengalami peningkatan yang berfluktuasi, pada tahun 2003 jumlah industri sedang dan besar berjumlah 919 industri, tahun 2004 mengalami peningkatan jumlah industri menjadi 989 industri, mkemudian pada tahun 2005 sedikit mengalami penurunan menjadi 966 industri. Akan tetapi pada tahun 2006 jumlah industri sedang dan besar di Sumatera Utara mengalami peningkatan yang cukup signifikan menjadi 1056 industri. Disamping itu kontribusi sektor industri terhadap PDRB pada tahun 2007 mencapai 25,33 % dan pada tahun 2009 menjadi 25,41 %.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

123

Jumlah Industri Besar dan Sedang di Sumut
1.100

1.050
1.056

1.000
1.001

950

969 959 947

966

900

919

850

2000

2001

2002

2003

2004

2005

49 2006

Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.13 Jumlah Industri Besar dan Sedang di Sumatera Utara
Jumlah Industri Besar dan Sedang Menurut Golongan di Sumut (dalam unit)
450 400 350 300 250 200 150 100 50 0
Industri Tekstil, Pakaian Jadi dan Kulit Industri Kertas, Percetaka dan Penerbit Industri Barang Galian Bukan Logam Industri Logam Dasar Industri Pengolahan Lainny a Industri Makanan, Minuman dan Tembakau Industri Kay u, Perabot Rumah Tangga Industri Kimia, Batubara, Karet, dan Plastik 2000 69 44 40 14 14 393 146 182 2001 57 34 35 14 12 385 139 182 2002 55 32 34 16 22 387 136 174 2003 55 32 32 13 17 379 131 174 2004 52 33 36 17 20 405 141 179 2005 60 33 35 13 17 398 138 186 2006 53 38 38 12 35 470 131 189

75

50

25

0

50

Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.14 Jumlah Industri Besar dan Sedang Menurut Golongan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 124

VI. Tindak Lanjut Pembangunan sektor industri adalah menjadi sesuatu yang sangat penting, artinya sektor industri mempunyai kaitan yang luas dengan sektor lainnya, baik dengan sektor pertanian, sektor perdagangan maupun jasa. Dilain pihak perkembangan disektor industri mampu memacu perkembangan pertumbuhan aktivitas dalam rangka menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berbasis kepada penciptaan tenaga kerja. Oleh sebab itu, maka perhatian yang serius dan optimal perlu mendapat perhatian terhadap hal-hal sebagai berikut : 1. menciptakan produk industri yang berbasis pada persaingan global dengan menghasilkan produk yang bermutu tinggi. 2. melakukan efisiensi disegala bidang 3. melakukan penguatan terhadap industri yang ada 4. memberikan perhatian terhadap pengembangan industri 5. menciptakan iklim berusaha yang kondusif melalui peraturan, perundangan dan kebijakan yang tepat. VII. Penutup Pengembangan sektor industri adalah menjadi sesuatu yang sangat penting, artinya sektor industri mempunyai kaitan yang luas dengan sektor lainnya, baik dengan sektor pertanian, sektor perdagangan maupun jasa. Dilain pihak perkembangan disektor industri mampu memacu perkembangan pertumbuhan aktivitas dalam rangka menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berbasis kepada penciptaan tenaga kerja. Peningkatan daya saing industri suatu hal yang harus terus menerus diupayakan dalam rangka mencptakan produk indstri yang berguna dan berdaya saing tinggi. Untuk menunjang hak tersebut maka penguatan sektor industri apakah yang bersiifat inward looking maupun outward looking serta mencipaakan iklm yang kondusif dengan ditopang oleh kebijakan yang tepat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

125

Bab 4.5. Revitalisasi Pertanian I. Pengantar Revitalisasi pertanian dalam arti luas dilakukan untuk mendukung pencapaian sasaran penciptaan lapangan kerja terutama di perdesaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Sektor pertanian, yang mencakup tanaman bahan makanan, peternakan, hortikultura, perkebunan, perikanan, dan kehutanan, pada tahun 2003 menyerap 46,3 persen tenaga kerja dari total angkatan kerja, menyumbang 6,9 persen dari total nilai ekspor non migas, dan memberikan kontribusi sebesar 15 persen dari PDB nasional. Sektor pertanian juga berperan besar dalam penyediaan pangan untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam rangka memenuhi hak atas pangan. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Pertumbuhan ekonomi tahun 2005 sebesar 5,48 persen, PDRB atas harga berlaku sebesar Rp.136,90,Trilyun. Sedangkan struktur ekonomi yang terdiri dari 9 (sembilan) indikator tahun 2005 masih didominasi sektor industri pengolahan sebesar 25,97 persen; pertambangan dan penggalian sebesar 23,44 persen; Perdagangan, Hotel dan Restoran sebesar 18,51 persen dan sisanya sektor lainnya sebesar 32,08 persen meliputi sektor pertambangan dan penggalian, listrik, gas dan air bersih, bangunan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan dan jasa perusahan dan jasa-jasa. Pembangunan pertanian, perkebunan dan peternakan berperan besar dalam rangka penyediaan pangan untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Konsumsi bahan pangan secara umum belum mengacu kepada pola kosumsi pangan yang beragam, bergizi dan berimbang dan masih didominasi konsumsi karbohidrat (beras) walaupun tingkat konsumsi energi perkapita perhari sudah melebihi rata-rata kecukupan yaitu mencapai 2200 kkal/hari Sektor pertanian menyumbang penerimaan devisa 26,45 % dan Produk Domestik Bruto Daerah (PDRB) sebesar 24,69 % pada tahun 2005. Sektor ini juga menyerap sekitar 52,68 % tenaga kerja pada tahun 2005. Tingkat swasembada beras pada tahun 2004 sebesar 127,57 % sedangkan tahun 2005 menurun menjadi 127,39 %. Masalah yang dihadapi ialah tingkat pengusahaan lahan pertanian semakin sempit yaitu rata-rata 0,7 ha per KK disamping dukungan dana untuk sektor pertanian masih sangat terbatas.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

126

Sektor pertanian masih memiliki potensi besar untuk ditingkatkan apabila kendala-kendala yang ada ditangani dengan baik misalnya pemenuhan sarana dan prasarana, perbaikan kelembagaan, penyuluhan, akses permodalan,dan penanggulangan bencana alam dan organisme pengganggu tanaman. Provinsi Sumatera Utara juga merupakan salah satu kantong produksi utama perkebunan di Indonesia dengan luas areal tahun 2005 sebesar 1.738.149 ha atau 10,11 % dari luas areal perkebunan nasional (17.181.000 ha). Komoditi utama perkebunan Sumatera Utara adalah kelapa sawit, karet, kopi, kakao dan kelapa. Perkebunan tersebut dikelola 3 jenis pengusahaan yaitu perkebunan rakyat 53,50%, PTPN sebesar 21,15 % dan Perusahaan Swasta Besar Nasional/Asing sebesar 25,00%. Masalah utama adalah rendahnya produktifitas perkebunan rakyat disebabkan umur tanaman yang sudah tua, rendahnya pemanfaatan teknologi, keterbatasan kemampuan SDM dan modal. Di sub sektor peternakan potensinya di Provinsi Sumatera Utara masih cukup besar ditinjau dari ketersediaan lahan, kesesuaian iklim dan minat masyarakat. Namun demikian, tingkat pertumbuhan populasi ternak sampai tahun 2005 relatif masih rendah yaitu 0,34 %/tahun. Masalah yang dihadapi ialah terbatasnya bibit unggul, pakan ternak yang relatif mahal, serta seringnya terjadi wabah penyakit ternak secara sporadis seperti Aviant Influenza, hog cholera, dan penyakit kuku dan mulut. Pola pemanfaatan teknologi peternakan juga belum dilakukan secara intensif. Jenis utama ternak yang dikembangkan ialah sapi, domba/kambing, kerbau, babi dan unggas. Potensi padang pengembalaan yang relatif luas untuk dimanfaatkan ialah lahan perkebunan dan lahan marginal. Produksi hasil hutan Sumatera Utara menurut jenis yaitu kayu log, kayu gergajian, kayu lapis, PULP dan hasil ikutan lainnya seperti rotan, arang dan getah tusam. Produksi hasil hutan terbesar tahun 2006 adalah kayu log pinus yakni sebesar 1.172.316,74 M3 . Populasi ternak besar yang terdiri dari kuda, sapi potong, kerbau dan sapi perah. Pada tahun 2006 populasi sapi potong ternak sebanyak 251.488 ekor, kuda sebanyak 4.053 ekor, kerbau sebanyak 261.794 ekor dan sapi perah sebanyak 6.526 ekor. Populasi ternak kecil kambing/ domba dan babi pada 2006 terjadi sedikit kenaikan sebesar 0,87% dan 1,62 % dibandingkan pada tahun 2005. Produksi ikan Sumatera Utara pada tahun 2006 tercatat 421.296,74 ton, yang terdiri atas 362.082,53 ton ikan laut dan 37.375,78 ton perairan darat darat serta 21.283,99 ton ikan budi daya air payau dan budi daya laut sebesar 554,44 (tabel 5.6.5). Jumlah nelayan di Sumatera Utara tahun 2006 adalah 138.687 nelayan yang terdiri dari 95.738 nelayan penuh, 37.103 nelayan sambilan utama dan 6.847 nelayan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 127

sambilan tambahan. Jumlah rumahtangga budidaya perikanan tahun 2006 sebanyak 33.494 rumah tangga yang terdiri dari 1.775 rumah tangga petambak, 14.539 rumah tangga pemelihara ikan di kolam, 18.905 rumah tangga pemelihara ikan di sawah, 83 rumah tangga di kolam air deras dan 1.075 rumah tangga yang memelihara ikan dengan cara jaring apung, 390 rumah tangga memelihara ikan di keramba dan 487 rumah tangga yang memelihara ikan dengan budi daya laut. III. Sasaran yang ingin Dicapai Sasaran pembangunan sektor pertanian adalah tingkat pertumbuhan rata-rata mencapai 3,6 %/tahun dalam kurun waktu 2004-2009. Untuk mencapaii target tersebut sasaran per subsektor ditetapkan sebagai berikut: 1). Tercapainya tingkat pertumbuhan produksi beras rata-rata sebesar 1,45 %/tahun. 2). Meningkatnya luas areal perkebunan sebesar 0,3 %/tahun dan produksi sebesar 2,57 %/tahun. 3). Meningkatnya populasi ternak rata-rata sebesar 2,4 %/tahun, produksi susu ternak 3,03 %/tahun, produksi daging ternak sebesar 2,2 %/tahun dan telur unggas 3,34 %. 4). Meningkatnya ekspor hasil pertanian. 5). Meningkatnya daya saing dan nilai tambah produk pertanian, perkebunan dan peternakan. IV. Arah Kebijakan 1). Meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani, melalui: 1. Peningkatan ketersediaan bahan pangan dengan cara intensifikasi, diversifikasi bahan pangan serta melalui pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (KADTBBSU), Kawasan Agropolitan Dataran Rendah, Kawasan Agropolitan di Sumatera Utara. 2. Peningkatan diversifikasi produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada beras. 3. Optimalisasi pemanfaatan, rehabilitasi dan pengembangan prasarana dan sarana pendukung ketahanan pangan seperti prasarana distribusi, transportasi, pergudangan, dan sarana produksi pupuk, benih, permodalan, dan rumah potong hewan. 4. Peningkatan akses petani terhadap modal, teknologi, benih/bibit, pasar dan informasi bisnis pangan serta peningkatan efisiensi teknologi, benih/bibit, dan informasi bisnis pangan, melalui penyediaan kredit agribisnis dan penerapan teknologi spesifik lokasi. 5. Pengembangan dan Pembinaan kemitraan usaha dan kelembagaan bisnis pertanian, serta pembinaan perilaku bisnis pertanian sesuai kebutuhan pasar.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

128

6. Peningkatan populasi dan produksi ternak (sapi, kerbau, kambing dan domba) serta pengolahan hasil-hasil ternak. 7. Pengembangan dan penyebaran industri pakan ternak di berbagai Kab/Kota di Sumatera Utara. 8. Koordinasi kebijakan dan pelaksanaan antara Kab/Kota, Provinsi dan Pusat. 9. Pengembangan produk olahan (agroindustri) pangan karbohidrat dan protein dalam rangka diversifikasi pangan. 10.Peningkatan kemampuan petani untuk menghasilkan komoditas yang berdaya saing tinggi. 2). Peningkatan Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan, Hortikultura, Peternakan dan Perkebunan, diarahkan untuk: 1. Peningkatan akses dan optimalisasi sumberdaya lahan dan air bagi komoditi komersial 2. Peningkatan akses terhadap modal 3. Peningkatan akses terhadap sarana dan prasarana 4. Peningkatan penyediaan dan akses terhadap teknologi 5. Revitalisasi Penyuluhan 6. Peningkatan produksi dan produktivitas pertanian 7. Peningkatan akses terhadap pasar 8. Peningkatan usaha agribisnis/agroindustri 9. Peningkatan/perbaikan data statistik pertanian. 10. Pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (KADTBBSU), Kawasan Agropolitan Dataran Rendah dan Kawasan Agropolitan Pesisir serta Pantai di Sumatera Utara. 3). Pengembangan Agribisnis Program Pengembangan Agribisnis bertujuan untuk mengembangkan agribisnis yang mampu menghasilkan produk pertanian yang berdaya saing, nilai tambah bagi masyarakat petani dan nelayan khususnya di perdesaan, mengembangkan kegiatan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Sasaran Program adalah 1) meningkatnya produktivitas, kualitas dan produksi komoditas unggulan tanaman pangan dan holtikultura, peternakan dan perkebunan, yang melalui penggunaan pupuk organik; 2) meningkatnya pangsa pasar bagi komoditas unggulan. 3) meningkatnya peranan lembaga keuangan di perdesaan. 4) meningkatnya kesmpatan berusaha dan kesempatan kerja di perdesaan; 5) meningkatnya investasi swasta dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan pertanian dan perdesaan, dan 6) terpeliharanya sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 129

Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: 1. Peningkatan keterampilan petani dalam penerapan teknologi terutama pada komoditi unggulan dan pemanfaatan informasi pertanian oleh lembaga pertanian. 2. Peningkatan industri perbenihan tanaman pangan, holtikultura, peternakan dan perkebunan. 3. Pengembangan standarisasi produk tanaman pangan, hortikultura, peternakan dan perkebunan sesuai standar pasar. 4. Peningkatan kemampuan pengusaha mikro, kecil dan menengah dan koperasi untuk bermitra dengan pelaku pasar dalam dan luar negeri. 5. Pengembangan lembaga pembiayaan agribisnis dan usaha ekonomi yang berorientasi agribisnis. 6. Peningkatan peran investasi swasta dalam kegiatan usaha agribisnis termasuk pengadaan pasar induk untuk hortikultura dan ternak. 7. Pengembangan kawasan terpadu ternak dengan perkebunan, tanaman pangan dan hortikultura. 8. Pembinaan industri pengolahan pangan skala rumah tangga/mikro, kecil dan menengah. 9. Pengembangan industri pengolahan produk-produk hortikultura dan peternakan. 4). Peningkatan Ketahanan Pangan Program ini bertujuan untuk 1) meningkatkan keanekaragaman produksi, ketersediaan dan konsumsi pangan bersumber dari ternak, tanaman pangan, hortikultura dan kebun serta produk-produk olahannya; 2) mengembangkan kelembagaan produksi pangan yang mendukung peningkatan, ketersediaan, dan distribusi, serta konsumsi pangan; 3) mengembangkan usaha bisnis pangan yang kompetitif dan menghindarkan monopoli usaha bisnis pangan; dan 4) menjamin ketersediaan pangan dan gizi yang baik bagi masyarakat. Sasaran program ini adalah (1) meningkatnya produksi dan ketersediaan pangan, beras secara berkelanjutan serta mempertahankan swasembada pangan; (2) meningkatnya keanekaragaman dan kualitas konsumsi pangan masyarakat perkapita dan menurunnya konsumsi beras; (3) meningkatnya skor mutu pola pangan harapan dan berkurangnya jumlah keluarga rawan pangan dan gizi; (4) meningkatnya pemanfaatan teknologi produksi pertanian dan pengolahan bahan pangan; (5) meningkatnya kuantitas dan kualitas pangan yang dipasarkan; (6) berkembangnya industri dan bisnis pangan dan penyebarannya meliputi semua Kabupaten/Kota di Sumatera Utara; (7) meningkatnya partisipasi masyarakat dan investasi swasta dalam pengembangan bisnis pangan; dan (8) terciptanya sistem usaha perikanan yang saling mendukung antar perikanan, penangkapan dan budidaya dalam upaya mendukung ketahanan pangan.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 130

Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut: 1. Peningkatan produktivitas faktor-faktor produksi pangan pada masyarakat tani. 2. Diversifikasi konsumsi pangan menuju pola pangan beragam, bergizi dan berimbang (B3). 3. Mengembangkan prasarana dan sarana pendukung ketahanan pangan. 4. Memanfaatkan lahan tidur dan lahan kurang produktif yang mengacu pada Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) 5. Peningkatan bantuan tambahan pangan dalam jangka pendek kepada keluarga miskin/rawan pangan. 6. Pengamanan sistem persediaan pangan melalui pengembangan lumbung desa dan cara pengamanan lainnya. 7. Penegakan peraturan larangan tentang pemotongan hewan betina produktif serta pengamanan kelestarian sumber daya hayati. 8. Peningkatan upaya pengendalian terpadu terhadap hama, penyakit dan gulma. 9. Peningkatan ketrampilan petani dan petugas pelayanan pertanian. 10. Pengembangan prasarana dan sarana pertanian, peternakan, dan perkebunan. 11. Pengembangan bengkel-bengkel Alat Mesin Pertanian (Alsintan). 12. Pembinaan lembaga perkreditan yang menunjang peningkatan ketahanan pangan. 5). Peningkatan Kesejahteraan Petani Program ini bertujuan untuk 1) penguatan kelembagaan, penumbuhan kembali sistem penyuluhan 2) pendampingan pertanian dan peningkatan kemampuan petani. Sasaran program ini adalah : 1. Meningkatnya kualitas sumberdaya manusia pertanian, peternakan dan perkebunan di pedesaan. 2. Penguatan sistem penyuluhan di daerah. 3. Pendidikan, pelatihan dan pembinaan petani, dan peternak. 4. Penyempurnaan dan pengembangan basis data dan informasi lingkup pertanian. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut : 1. Penerapan teknologi dan spesifik lokasi; internasional; 3. Pembinaan penanganan pasca panen, pemasaran dan pengolahan hasil pertanian; 4. Pengembangan kelembagaan pedesaan; 5. Pemberdayaan penyuluh pertanian;
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 131

2. Penyempurnaan standar mutu dan perbaikan mutu komoditas pertanian sesuai standar

6. Pelatihan farmer to farmer; 7. Peningkatan kapasitas dan posisi tawar petani; 8. Demonstrasi Plot, Dem-area dengan penerapan teknologi tepat guna; 9. Pemberian bantuan langsung masyarakat berupa pangan lokal, lumbung pangan, tunda jual, pemanfaatan pekarangan dan stabilitas harga gabah melalui Dana Penguatan Modal –Lembaga Usaha Ekonomi Produktif (DPM-LUEP); 10. Pengembangan dan penguatan kelembagaan peternak dan usahanya; 11. Manajemen peningkatan kesejahteraan peternak; 12. Peningkatan akses petani terhadap modal, teknologi, benih/bibit dan informasi bisnis pangan. 6) Pembangunan Perikanan dan Kelautan Sasaran pembangunan perikanan dan kelautan Provinsi Sumatera Utara adalah : 1). Meningkatnya produksi perikanan baik perikanan budidaya sebesar 6,5 % maupun tangkap 6,4 % per tahun dalam kurun waktu tahun 2006 – 2009. 2). Meningkatnya kemampuan pembudidaya ikan dan nelayan untuk menerapkan teknologi budidaya perikanan dan penangkapan ikan. 3). Meningkatnya mutu hasil pengolahan hasil perikanan guna memenuhi standar ekspor. 4). Meningkatnya penataan jalur penangkapan ikan dan zonasi budidaya. 5). Meningkatnya penyediaan bibit/benur untuk budidaya air tawar, payau dan laut. 6). Meningkatnya tingkat konsumsi ikan masyarakat 7). Meningkatnya penyerapan tenaga kerja dibidang perikanan 8). Meningkatnya ekspor hasil perikanan. 9). Meningkatkan pembangunan sarana dan prasarana Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan dan mendorong terwujudnya fungsi Pelabuhan Perikanan Samudera di Kawasan Pantai Barat Sumatera Utara. V. Pencapaian Tahun 2005-2007 Sektor pertanian menyumbang penerimaan devisa 26,45 % dan Produk Domestik Bruto Daerah (PDRB) sebesar 24,69 % pada tahun 2005. Sektor ini juga menyerap sekitar 52,68 % tenaga kerja pada tahun 2005. perikanan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

132

Tingkat swasembada beras pada tahun 2004 sebesar 127,57 % sedangkan tahun 2005 menurun menjadi 127,39 %. Masalah yang dihadapi ialah tingkat pengusahaan lahan pertanian semakin sempit yaitu rata-rata 0,7 ha per KK disamping dukungan dana untuk sektor pertanian masih sangat terbatas. Sektor pertanian masih memiliki potensi besar untuk ditingkatkan apabila kendala-kendala yang ada ditangani dengan baik misalnya pemenuhan sarana dan prasarana, perbaikan kelembagaan, penyuluhan, akses permodalan,dan penanggulangan bencana alam dan organisme pengganggu tanaman. Provinsi Sumatera Utara juga merupakan salah satu kantong produksi utama perkebunan di Indonesia dengan luas areal tahun 2005 sebesar 1.738.149 ha atau 10,11 % dari luas areal perkebunan nasional (17.181.000 ha). Komoditi utama perkebunan Sumatera Utara adalah kelapa sawit, karet, kopi, kakao dan kelapa. Perkebunan tersebut dikelola 3 jenis pengusahaan yaitu perkebunan rakyat 53,50%, PTPN sebesar 21,15 % dan Perusahaan Swasta Besar Nasional/Asing sebesar 25,00%. Masalah utama adalah rendahnya produktifitas perkebunan rakyat disebabkan umur tanaman yang sudah tua, rendahnya pemanfaatan teknologi, keterbatasan kemampuan SDM dan modal. Di sub sektor peternakan potensinya di Provinsi Sumatera Utara masih cukup besar ditinjau dari ketersediaan lahan, kesesuaian iklim dan minat masyarakat. Namun demikian, tingkat pertumbuhan populasi ternak sampai tahun 2005 relatif masih rendah yaitu 0,34 %/tahun. Masalah yang dihadapi ialah terbatasnya bibit unggul, pakan ternak yang relatif mahal, serta seringnya terjadi wabah penyakit ternak secara sporadis seperti Aviant Influenza, hog cholera, dan penyakit kuku dan mulut. Pola pemanfaatan teknologi peternakan juga belum dilakukan secara intensif.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

133

Pertumbuhan Sub Sektor Pertanian Sumatera Utara
16 14 12 10 8 % 6 4 2 0 -2 -4 -6

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Bahan Makanan
Sumber : Badan Pusat Statistik

Peternakan

Perikanan

Perkebunan

Kehutanan 32

Gambar 4.15 Pertumbuhan Subsektor Pertanian Sumatera Utara Produksi perikanan Provinsi Sumatera Utara pada tahun 2005 sebesar 401.527,2 Ton yang terdiri dari Produksi perikanan budidaya sebesar 44.730,9 ton dan produksi tangkap sebesar 356.796,3 ton. Potensi perikanan laut Sumatera Utara cukup besar dengan potensi lestari Selat Malaka 276.030 ton dan Samudera Hindia sebesar 1.076.890 ton. Jenis-jenis ikan yang potensial adalah ikan pelagis, ikan demersal, ikan karang,udang, cumi-cumi dan lobster, sedangkan luas perairan umum adalah 155.797 Ha, yang terdiri dari danau, sungai, rawa dan waduk. Potensi budidaya air tawar adalah 84.912 Ha dan tambak adalah 20.000 Ha. Permasalahan utama dalam pembangunan perikanan di Provinsi Sumatera Utara adalah pencurian ikan oleh kapal asing, penggunaan alat tangkap yang dilarang, keterbatasan fasilitas Pangkalan Pendaratan ikan (PPI) dan Tempat Pelelangan Ikan (TPI), teknologi dan peralatan tangkap yang terbatas, zonasi budidaya yang belum jelas dan terbatasnya bibit/benur ikan yang diproduksi daerah Sumatera Utara. Penyakit udang/ikan yang belum tuntas diatasi dan keterbatasan permodalan nelayan dan pembudidaya ikan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

134

Kontribusi Sub Sektor Pertanian Terhadap PDRB Sumut
3,17 1,36 2,88 3,25 1,40 2,79 3,01 1,38 2,85 2,67 1,39 2,66 2,41 1,27 2,40 2,42 1,19 2,24 2,26 1,07 2,06

9,86

9,37

9,67

9,08

9,87

9,50

9,06

10,15

10,14

10,02

9,15

8,52

8,63

7,72

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Bahan Makanan
Sumber : Badan Pusat Statistik

Perkebunan

Peternakan

Kehutanan

Perikanan

33

Gambar 4.16 Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Sumatera Utara

PDRB Sektor Pertanian Sumut Atas Dasar Harga Berlaku (miliar Rp)
40 35 30 25 20 15 10 5 Perikanan Kehutanan Peternakan Perkebunan Bahan Makanan 2000 2.190 941 1.995 6.815 7.022 2001 2.579 1.109 2.212 7.433 8.046 2002 2.703 1.241 2.551 8.675 8.987 2003 2.763 1.436 2.749 9.384 9.457 2004 2.841 1.498 2.836 11.653 10.066 2005 3.382 1.657 3.133 13.268 12.047 2006 3.623 1.711 3.294 14.504 12.360 34

Sumber : Badan Pusat Statistik

Gambar 4.17 PDRB Sektor Pertanian Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

135

VI. Tindak Lanjut Pembangunan sektor pertanian adalah menjadi prioritas dalam rangka pembangunan ekonomi naik di tingkat nasional maupun ditingkat daerah. Banyak upaya yang sudah dilakukan, namun demikian masih diperlukan berbagai upaya untuk lebih memberdayakan sektor ini dangan melakukan penguatan yang lebih terhadap hal-hal berikut ini : 1. Meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani 2. Peningkatan Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan 3. Peningkatan Ketahanan Pangan 4. Pengembangan Agribisnis 5. Peningkatan Kesejahteraan Petani 6. Pembangunan Perikanan dan Kelautan VII. Penutup Data menunjukan bahwa sektor pertanian di Sumatera Utara masih memainkan peranan yang relatif besar. Hal ini dapat dilihat dari masih besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap Produk Domestik Regional Bruto sebesar 24,69 % pada tahun 2005 dan pada tahun 2009 ditargetkan perannya akan semakin berkurang yaitu 22,91 % .bagi Dengan demikian sektor pertanian masih memberikan dukungan besar pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara sekaligus menyerap tenaga kerja yang relatif besar pula. Oleh sebab itu, maka revitalisasi sektor pertanian harus terus menerus diupayakan dalam kaitannya menciptakan lapangan kerja terutama di wilayah perdesaan serta meningkatkan sektor peranian yang tinggi guna memenuhi hak dasar pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat. Peternakan dan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

136

Bab 4.6. Pemberdayaan Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah I. Pengantar Perkembangan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup rakyat banyak. Hal ini ditunjukkan oleh keberadaan UMKM dan koperasi yang telah mencerminkan wujud nyata kehidupan sosial dan ekonomi bagian terbesar dari rakyat Indonesia. Peran UMKM yang besar ditunjukkan oleh kontribusinya terhadap produksi nasional, jumlah unit usaha dan pengusaha, serta penyerapan tenaga kerja. Kontribusi UMKM dalam PDB pada tahun 2003 adalah sebesar 56,7 persen dari total PDB nasional, terdiri dari ontribusi usaha mikro dan kecil sebesar 41,1 persen dan skala usaha menengah sebesar 15,6 persen. Atas dasar harga konstan tahun 1993, laju pertumbuhan PDB UMKM pada tahun 2003 tercatat ebesar 4,6 persen atau tumbuh lebih cepat daripada PDB nasional yang tercatat sebesar 4,1 persen. Sementara pada tahun yang sama, jumlah UMKM adalah sebanyak 42,4 juta unit usaha atau 99,9% dari jumlah seluruh unit usaha, yang bagian terbesarnya berupa usaha skala mikro. UMKM tersebut dapat menyerap lebih dari 79,0 juta tenaga kerja atau 99,5% dari jumlah tenaga kerja, meliputi usaha mikro dan kecil sebanyak 70,3 juta tenaga kerja dan usaha menengah sebanyak 8,7 juta tenaga kerja. UMKM berperan besar dalam penyediaan lapangan kerja. II. Kondisi Awal Tahun 2004-2005 Struktur perekonomian di Provinsi Sumatera Utara pada dasarnya didominasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peran strategis UMKM dalam perekonomian Sumatera Utara dapat dilihat dari konstribusinya dalam pembentukan PDRB, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Selain itu pada masa krisis usaha mikro kecil dan menengah telah terbukti tangguh sebagai jaring pengaman perekonomian Sumatera Utara. Ketika usaha besar tidak sanggup bangkit dari keterpurukan akibat ketergantungannya pada pinjaman luar negeri, UMKM justru mampu mengangkat perekonomian Sumatera Utara dari keterpurukan yang semakin dalam. Pada tahun 2005 jumlah koperasi di Sumatera Utara sebanyak 7.795 unit dengan jumlah anggota sebanyak 961.620 orang, volume usaha sebesar Rp. 761,2 milyar dan jumlah karyawan sebanyak 6.382 orang.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

137

Sedangkan jumlah usaha mikro kecil dan menengah pada tahun 2005 sebesar 2,96 juta unit dengan produksi sebesar Rp. 48,12 triliun dan menyerap tenaga kerja sebanyak 4,73 juta orang. Namun demikian terdapat berbagai permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang antara lain sebagai berikut : rendahnya produktifitas diakibatkan karena rendahnya kualitas sumber daya manusia UMKM khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi dan pemasaran serta rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM; terbatasnya akses UMKM kepada sumber daya produktif terutama terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pemasaran; masih rendahnya kinerja; serta kurang kondusifnya iklim usaha. III. Sasaran yang ingin Dicapai Sasaran umum pembangunan Koperasi, Usaha Mikro Kecil dan Menengah dalam periode tahun 2004-2009 adalah sebagai berikut : 1). Meningkatnya produktifitas koperasi dan UMKM 2). Meningkatnya penyerapan tenaga kerja per unit koperasi dan UMKM. 3). Meningkatnya daya saing dan nilai ekspor produk Koperasi dan UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai tambahnya. 4). Meningkatnya proporsi usaha menengah dan usaha kecil yang formal dengan laju pertumbuhan lebih tinggi daripada laju pertumbuhan jumlah unit usaha 5). Berfungsinya sistem untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi sebanyak 100.000 unit. 6). Meningkatnya sinergi lintas pelaku dan peran aktif masyarakat dalam pembangunan koperasi dan UMKM 7). Terbentuknya 2.000 koperasi berkualitas. 8). Terbentuknya 125 koperasi simpan pinjam (KSP) yang memfasilitasi UMK di sektor agrobisnis, industri kecil dan kerajinan. 10). Terbentuknya sentra menjadi kluster sebanyak 10 unit.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

138

IV. Arah Kebijakan 1). Meningkatkan akses terhadap permodalan, pemasaran dan menambah Kualitas Manajemen melalui kerjasama dengan Kab./Kota; 2) Meningkatkan kemampuan manajemen dan penguatan permodalan yang didukung penjaminan secara selektif; 3) Mendorong sistem jaringan antar Lembaga Keuangan Mikro (LKM) dan antar LKM dan Bank agar terjalin kerjasama keuangan; 4) Mendorong pengembangan jaringan produksi dan distribusi melalui pemanfaatan teknologi informasi, pengembangan usaha kelompok dan jaringan antar PKMK dalam wadah koperasi melalui integrasi usaha secara vertikal dan horizontal, serta jaringan antara UKMK dan usaha besar melalui kemitraan usaha. 5). Memperluas basis dan kesempatan berusaha serta menumbuhkan wirausaha baru yang kompetitif. V. Pencapaian Tahun 2005-2007 Perkembangan sektor Kooperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah menunjukkan perkembangan yang cukup berarti. Hal ini dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain dari jumlah kredit yang disalurkan. Jumlah kredit yang diaslurkan dari tahun menunjukkan tren yang meningkat. Tahun 2004 jumlah kredit yang disalurkan untuh usaha mikro meningkat dari 2.107 miliar rupiah menjadi 2.871 pada tahun 2005. Begitu pula untuk kelompk usaha kecil meingkat dari 1.008 miliar rupiah pada tahun 2004 meningkat menjadi 1.498 miliar rupiah di tahun 2005. Usaha menengah meningka dari 872 miliar rupiah pada tahun 2004 menjadi 1.257 miliar rupiah pada tahun 2005.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

139

Jumlah Kredit untuk Usaha Mikro, Kecil dan Menengah di Sumut (miliar Rp)
4.000 3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 500 0 MIKRO (<=Rp 50 Juta) KECIL (Rp 50 -Rp 500 Juta) MENENGAH (Rp 501 juta - Rp 5 Milyar) Sumber : Badan Pusat Statistik

2002 1.302 539 421

2003 1.628 749 723

2004 2.107 1.006 872

2005 2.871 1.456 1.257

2006 3.608 1.877 1.514

65

Gambar 4.18 Jumlah Kredit UMKM di Sumatera Utara

VI. Tindak Lanjut Perekonomian Sumatera Utara pada dasarnya didominasi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Peran strategis UMKM dalam perekonomian Sumatera Utara dapat dilihat dari konstribusinya dalam pembentukan PDRB, penciptaan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan. Selain itu pada masa krisis usaha mikro kecil dan menengah telah terbukti tangguh sebagai jaring pengaman perekonomian Sumatera Utara. Ketika usaha besar tidak sanggup bangkit dari keterpurukan akibat ketergantungannya pada pinjaman luar negeri, UMKM justru mampu mengangkat perekonomian Sumatera Utara dari keterpurukan yang semakin dalam. Agar perkembangan dari sektor ini semakin mantap maka upaya pembinaan menjadi sangat penting melalui berbagai usaha seperti : peningkatan kualitas sumber daya manusia, manajemen, pengelolaan modal, corporate planning, pemasaran, peningkatan kualitas produk dan lain-lain.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 140

VII. Penutup Koperasi dan UMKM memiliki potensi dan peran strategis dan mampu menjadi sebuah kekuatan besar dalam menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat sekalgus dalam meningkatkan kesejahteraan sosial dan ekonomi. Namun demikian disadari bahwa peran dari sektor koperasi dan UMKM ke depan akan semakin besar dalam mendukung kehidupan ekonomi rakyatdan penyerapan tenaga kerja alam pengembangan ekonomi daerah. Pemberdayaan koperasi dan UMKM menjadi perhatian penting dalam rangka keberlanjutannya sehingga mendukung pencapaian sasaran-sasaran pembangunan dalam RPJMD 2004-2009. Kondisi ini cukup menggembirakan bila dibandingkan dengan beberapa daerah lain di Indonesia. Namun bila dilihat dari jumlah penduduk dan ekonomi masyarakat saat ini. Ini cukup memprihatinkan karena sebagian besar warga Sumut belum memahami apalagi memanfaatkan koperasi. Hal ini, katanya, terkait berbagai kendala antara lain belum terciptanya iklim usaha yang kondusif bagi koperasi dan UMKM. Disamping itu masih lemahnya kemampuan koperasi dan UMKM dalam memanfaatkan kesempatan yang terbuka dan potensi sumber daya, terutama potensi sumber daya lokal yang tersedia. Di samping itu kemampuan dalam penguatan akses permodalan, produksi dan akses pasar yang dimiliki koperasi dan UMKM sangat terbatas. Selain itu rendahnya kemampuan koperasi dan UMKM dalam mengembangkan semangat dan perilaku kewirausahaan dalam menumbuhkan wirausaha baru. Hal ini disebabkan kemampuan dan kualitas manajemen serta daya saing koperasi dan UMKM relatif rendah. Beberapa permasalahan masih akan dihadapi oleh koperasi dan UMKM dalam tahun berikut, baik yang bersifat internal maupun bersifat eksternal. Dari sisi internal, secara umum UMKM masih menghadapi rendahnya kualitas sumberdaya manusia seperti kurang terampilnya SDM dan kurangnya jiwa kewirausahaan, rendahnya penguasaan teknologi serta manajemen dan informasi pasar. Masalah SDM ini akan berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas dan kualitas pengelolaan manajemen. Kemampuan UMKM yang berkembang saat ini belum cukup merata kepada seluruh UMKM, terutama karena terbatasnya jumlah dan kualitas dari lembaga pengembangan bisnis. Permasalahan eksternal UMKM yang masih akan dihadapi adalah seperti: (1) belum tuntasnya penanganan aspek legalitas badan usaha dan kelancaran prosedur perizinan, pelaksanaan persaingan usaha yang sehat, penataan lokasi usaha dan pelaksanaan otonomi daerah, khususnya kemajuan daerah melaksanakan pemberdayaan koperasi dan UMKM; (2) kecepatan pulihnya kondisi perekonomian secara makro akibat kenaikan BBM dan dan energi lainnya yang sangat berpengaruh kepada kegiatan produksi UMKM;
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 141

(3) masih terbatasnya penyediaan produk jasa lembaga keuangan, khususnya kredit (4) terbatasnya ketersediaan dan kualitas jasa pengembangan usaha bagi UKM; dan (5) keterbatasan sumber daya financial untuk usaha mikro.

investasi;

Di samping permasalahan-permasalahan tersebut, pemberdayaan koperasi dan UMKM juga akan menghadapi tantangan untuk berperan mengatasi persoalan sosial ekonomi, seperti penyediaan lapangan kerja dan penanggulangan kemiskinan. Dalam rangka itu, perlu didorong pertumbuhan UMKM melalui penyaluran skim kredit investasi untuk keperluan peningkatan kapasitas produksi, peningkatan nilai tambah serta pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah yang antara lain sebagai berikut : rendahnya produktifitas diakibatkan karena rendahnya kualitas sumber daya manusia UMKM khususnya dalam bidang manajemen, organisasi, penguasaan teknologi dan pemasaran serta rendahnya kompetensi kewirausahaan UMKM; terbatasnya akses UMKM kepada sumber daya produktif terutama terhadap permodalan, teknologi, informasi dan pemasaran; masih rendahnya kinerja; serta kurang kondusifnya iklim usaha.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

142

Bab 4.7. Peningkatan Pengelolaan BUMD
I. Pengantar Dalam perspektif otonomi daerah, BUMD didirikan dalam kerangka pemenuhan dan penyediaan barangbarang dan jasa yang menyangkut hidup orang banyak dengan harapan besar akan bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat di samping mendapat keuntungan dari hasil usahanya. BUMD sebagai perangkat otonomi daerah berfungsi meningkatkan pendapatan daerah, memberdayakan potensi ekonomi daerah dan mengangkat kesejahteraan rakyat. Sebagai lokomotif ekonomi daerah, BUMD harus dapat mendayagunakan seluruh potensi dan aset daerah guna kemaslahatan dan kesejahteraan rakyat. Maka, ia harus sehat, berdaya, dan menguntungkan. Keuntungan tersebut akan menambah jumlah Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersama-sama dengan unsur pendapatan lainnya akan bisa membiayai program-program yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat, seperti pendidikan, kesehatan, dan lainnya. Dengan demikian, baik produksi barang dan jasa yang dihasilkan dari BUMD maupun keuntungan yang diperoleh semuanya bermuara kepada peningkatan kesejahteraan masyarakat. II. Kondisi Awal RPJMD 2004 – 2009 (Tahun 2004 – 2006) Pada awal RPJMD 2004 – 2009, Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Sumatera Utara memiliki 6 BUMD yaitu, PDAM Tirtanadi, PT. Bank Sumut, PD. Perkebunan, PD. Aneka Industri dan Jasa (AIJ), PT. KIM dan PD. Perhotelan. Peranan keenam BUMD tersebut terhadap PAD cukup baik dan juga terjadi peningkatan konstribusi untuk setiap tahunnya. Namun untuk lebih meningkatkan keuangan keenam perusahaan tersebut, perlu dilakukan restrukturisasi atau peningkatan posisi yang lebih kompetitif melalui perbaikan skala usaha dan penciptaan core competence.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

143

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran pembinaan dan pengembangan BUMD dalam RPJMD 2004 – 2009 adalah peningkatan efisiensi usaha dan daya saing sehingga mampu bersaing di pasar global dan mampu meningkatkan kontribusinya setiap tahun terhadap PAD Propinsi Sumatera Utara. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan pengelolaan BUMD diarahkan untuk membuat BUMD menjadi badan usaha yang profesional sehingga meningkatkan keuntungan dan kesehatan usaha serta kualitas pelayanan perusahaan daerah di Propinsi Sumatera Utara. V. Pencapaian 2004 – 2006 5.1. Upaya yang dilakukan hingga 2007. 1. Meningkatkan manajemen dan pengawasan kinerja perusahaan daerah dengan memperbaiki sistem manajemen yang progresif dan inovatif. 2. Mencari peluang kerjasama operasional dalam rangka revitalisasi Badan Usaha Milik Daerah yang tidak sehat, seperti PDAM Tirtanadi dan PD. Perhotelan. 3. Melakukan privatisasi BUMD untuk akses pendanaan, pasar, teknologi, serta kapabilitas untuk bersaing di tingkat dunia. 4. Mengurangi subsidi dan perlindungan kepada BUMD yang di privatisasi. 5. Mendorong hubungan kemitraan antara BUMD dan usaha- usaha lainnya berdasarkan kompetensi. 6. Penyertaan modal pemerintah daerah pada BUMD-BUMD yang benar-benar sehat. 5.2. Posisi capaian hingga 2007 Selama kurun waktu 2005 – 2007, pembinaan BUMD menunjukkan kemajuan yang signifikan, terutama bila dilihat dari sisi kontribusinya terhadap PAD Sumatera Utara dan fungsinya dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

144

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran Adapun permasalahan yang dihadapi untuk mencapai sasaran tersebut adalah : 1. Belum adanya kesamaan pandangan para stakeholders dalam menetapkan kebijakan pengelolaan BUMD. 2. Belum berorientasi pada pengembangan core competencies dengan fokus pada industri sekunder dan tertier (hilir). 3. Masih terfokus dan terintegrasi dalam satu sektor usaha tertentu. 4. Belum diterapkannya prinsip-prinsip GCG secara baik dalam pengelolaan BUMD. 5. Kurangnya perangkat hukum dalam pengelolaan BUMD yang lebih profesional. VI. Tindak Lanjut Dari sasaran dan permasalahan yang ada, maka upaya-upaya yang harus dilakukan untuk menindaklanjutin adalah : 1. Melakukan koordinasi antar para stakeholders dalam pengelolaan BUMD. 2. Berorientasi pada penciptaan nilai dengan kinerja finansial dan operasional. 3. Berorientasi pada pengembangan core competencies dengan fokus pada industri sekunder dan tertier (hilir). 4. Mengimplementasikan prinsip-prinsip GCG dalam pengelolaan BUMD secara benar. 5. Adanya payung hukum yang tegas untuk mendukung BUMD yang profesional. VII. Penutup Tujuan didirikannya BUMD adalah salah satunya untuk berkontribusi dalam perekonomian daerah melalui sumbangannya terhadap pendapatan asli daerah. Disamping itu adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat daerah dalam rangka mewujudkan kesejahteraan berupa penyediaan barang-barang publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Untuk itu peran BUMD kedepan sangat strategis dalam mendorong pemenuhan kebutuhan lokal dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

145

4.8. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi I. Pengantar Peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang lebih besar semakin dituntut untuk meningkatkan daya saing dalam menghadapi era globalisasi. Pembangunan iptek merupakan sumber terbentuknya iklim inovasi yang menjadi landasan bagi tumbuhnya kreativitas sumberdaya manusia (SDM), yang pada gilirannya dapat menjadi sumber pertumbuhan dan daya saing ekonomi. Selain itu iptek menentukan tingkat efektivitas dan efisiensi proses transformasi sumberdaya menjadi sumberdaya baru yang lebih bernilai. Dengan demikian peningkatan kemampuan iptek sangat diperlukan untuk meningkatkan standar kehidupan bangsa dan negara, serta kemandirian dan daya saing bangsa Indonesia di mata dunia. Disisi lain, pasar yang semakin terbuka mendorong kompetisi yang semakin ketat, sehingga diperlukan dukungan Iptek yang memadai dan handal dalam menghadapi situasi yang cepat berubah. II. Kondisi Awal RPJMD 2004 – 2009 (Tahun 2004 – 2006) 1. Masih rendahnya daya saing kualitas indeks pembangunan manusia Sumatera Utara yang menduduki urutan kedelapan nasional. Hal ini menunjukkan masih rendahnya kualitas manusia Sumatera Utara dalam pemanfaatan IPTEK dalam pembangunan daerah. 2. Belum optimalnya lembaga penelitian dan pengembangan di daerah untuk mendorong percepatan pembangunan dan sebagai dasar pengambilan kebijakan. 3. Masih rendahnya pemanfaatan IPTEK untuk pengembangan produk-produk hasil industri dan pertanian sehingga daya saing produk ekspor daerah kurang mampu bersaing di pasar global. 4. Masih rendahnya kesadaran masyarakat di daerah tentang pemanfaatan IPTEK bagi kemajuan sehingga lambat dalam mengakses informasi. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Meningkatkan pengaplikasian dari ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka memperkuat daya saing terhadap perkembangan zaman dan globalisasi.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

146

IV. Arah Kebijakan Arah kebijakan yang akan diambil dalam tahun 2006-2009 antara lain : 1. Mendorong penggunaan teknologi berbasis pertanian dalam menunjang produksi pertanian dan sektor-sektor produksi lainnya. 2. Menggalakkan perlombaan inovasi teknologi guna merangsang minat remaja. 3. Menyusun kebijakan dalam memajukan dunia ilmu pengetahuan dan teknologi yang kondusif bagi perkembangannya. V. Pencapaian 2004 – 2006 5.1. Upaya yang dilakukan hingga 2007. 1. Peningkatan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi a. Meningkatnya jenis dan kualitas jasa teknologi. b. Mengembangkan berbagai insentif legal. c. Mendorong dunia usaha dan unit kerja memanfaatkan hasil litbang sesuai dengan kebutuhan dan objektifitas. 2. Diseminasi Informasi Teknologi 1. Menyediakan informasi peluang usaha, jaringan sistem informasi teknologi dan meningkatkan nilai tambah teknologi dari berbagai industri sesuai dengan karekteristik sumberdaya lokal dan struktur industri kecil, menengah dan koperasi; menyediakan bantuan informasi teknologi sebagai pelengkap berbagai skim kredit usaha (terutama usaha ekcil, menengah) dan meningkatkan jumlah kerjasama riset dengan dunia usaha. 2. Menyediakan bantuan informasi teknologi bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). 3. Meningkatkan jumlah kerjasama riset dengan Perguruan Tinggi (PT) dan dunia usaha. 5.2. Posisi capaian hingga 2007 1. Tumbuhnya kesadaran dikalangan mahasiswa dan birokrat akan pentingnya IPTEK bagi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya kalangan masyarakat yang memiliki sarana teknologi, seperti komputer dan laptop. 2. Tumbuhnya kesadaran akan pentingnya IPTEK dengan terbentuknya kelembagaan riset di daerah dengan berdirinya Dewan Riset Daerah dan Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

147

3. Tumbuhnya kesadaran dari para pengusaha di daerah untuk menggunakan hasil-hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga-lembaga riset untuk pengembangan produk-produk dari perusahaan tersebut. 4. Adanya kamauan dari para pemilik gedung, seperti plaza dan perkantoran untuk menyediakan jaringan internet. VI. Tindak Lanjut 1. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya inovasi dan kreatifitas masyarakat di daerah dengan pemanfaatan IPTEK. 2. Adanya kesadaran dari semua pihak untuk memanfaatkan hasil-hasil penelitian dan kajian bagi pengembangan daerah terutama bagi pemerintah dan dunia usaha. 3. Adanya upaya dari pihak pemerintah dan swasta untuk memperluas pusat-pusat IPTEK di daerah terpelosok sehingga membuka akses informasi. VII. Penutup Di era globalisasi ini, IPTEK memiliki arti penting dalam mengejar ketertinggalan pembangunan dari negaranegara lain. Untuk itu upaya peningkatan kemampuan penguasaan IPTEK senantiasa perlu mendapat perhatian dari semua pihak sehingga mampu meningkatkan daya saing dan kemandirian bangsa dan daerah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

148

Bab 4.9. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan I. Pengantar Permasalahan pembangunan yang cukup serius yaitu menyangkut tingginya angka pengangguran terbuka yang berpotensi menimbulkan permasalahan sosial lainnya. Karena itu pemerintah berupaya untuk menciptakan kesempatan kerja sebagai salah satu sasaran pokok dalam agenda meningkatkan kesejahteraan rakyat yang dijabarkan ke dalam berbagai prioritas pembangunan. Upaya yang dilakukan pemerintah untuk menurunkan tingkat pengangguran adalah dengan menciptakan iklim usaha dan menciptakan kesempatan kerja seluas-luasnya. Penciptaan iklim ketenagakerjaan yang sehat dan kondusif merupakan salah satu sarana untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat sehingga bekerja adalah jembatan bagi terwujudnya suatu kehidupan yang lebih baik. II. Kondisi Awal RPJMD 2004 – 2009 (Tahun 2004 – 2006) 1. Tingkat angkatan kerja di Sumatera Utara sebagian besar masih berpendidikan SD ke bawah. Persentase angkatan kerja golongan SD mencapai 37,89 persen, angkatan kerja yang berpendidikan setingkat SMP dan SMA masing-masing sekitar 23,80 persen dan 32,90 persen, sedangkan sisanya 5,4 persen berpendidikan di atas SMA. Sehingga dengan masih rendahnya pendidikan angkatan kerja memungkinkan produktivitasnya masih belum optimal.
Pendidikan Angkatan Kerja
70,00 SD + SMTP 60,00 SMTA Perguruan Tinggi 6,00 7,00

50,00

5,00

40,00

4,00

%

%
30,00 3,00

20,00

2,00

10,00

1,00

0,00 SD + SMTP SMTA Perguruan Tinggi

2001 54,43 24,08 3,95

2002 52,70 25,99 5,07

2003 52,89 27,73 4,49

2004 52,89 27,73 4,49

2005 55,42 26,49 5,14

2006 48,11 32,90 5,40

0,00

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

149

2. Dilihat dari status pekerjaannya, sepertiga (31,57 persen) penduduk yang bekerja di Sumatera Utara adalah buruh atau karyawan. Penduduk yang berusaha dengan dibantu anggota keluarga mencapai sekitar 15,92 persen, sedangkan penduduk yang bekerja sebagai pekerja keluarga mencapai 19,48 persen. Hanya 3,3 persen penduduk Sumatera Utara yang menjadi pengusaha yang mempekerjakan buruh tetap/bukan anggota keluarganya. 3. Penduduk Sumatera Utara yang bekerja sebagian besar bekerja pada sektor pertanian yaitu 49,64 persen. Sedangkan sektor terbesar kedua yang menyerap tenaga kerja adalah sektor perdagangan, hotel dan restoran yaitu sebesar 19,21 persen dan diikuti sektor jasa-jasa sebesar 11,81 persen. Sementara penduduk yang bekerja di sektor industri pengolahan hanya sekitar 7,08 persen. 4. Untuk tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Utara pada tahun 2004 sebanyak 758 ribu jiwa dan mengalami penurunan sedikit menjadi 637 ribu jiwa pada tahun 2005 dan 632 ribu jiwa pada tahun 2006. Hal ini memperlihatkan semakin meningkatnya kesempatan kerja yang tersedia selama kurun waktu tersebut.
Kondisi Angkatan Kerja
12.000.000 4.500.000

4.000.000 10.000.000 3.500.000

8.000.000

3.000.000

2.500.000 6.000.000 2.000.000

4.000.000

1.500.000

1.000.000 2.000.000 500.000

-

-

2001 Penduduk Usia Kerja Angkatan Kerja Bekerja Mencari Kerja Bukan Angkatan Kerja 9.006.428 5.196.709 4.967.686 229.023 3.809.719

2002 9.119.076 5.283.857 4.928.353 355.504 3.835.219

2003 7.890.583 5.239.910 4.835.793 404.117 2.650.673

2004 7.997.002 5.514.170 4.756.078 758.092 2.482.832

2005 8.067.008 5.803.112 5.166.132 636.980 2.263.896

2006 8.208.651 5.491.696 4.859.647 632.049 2.716.955

Sementara itu, dilihat dari persentase tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Utara mengalami perkembangan yang fluktuatif selama periode 2004 - 2006. Untuk tahun 2004, tingkat pengangguran di Sumatera Utara sebesar 13,75 % dan mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi sebesar 10,98 %. Sedangkan pada tahun 2006, tingkat pengangguran di Sumatera Utara meningkat menjadi 11,51 %. 5. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) di Sumatera Utara masih mengalami fluktuasi setiap tahunnya selama kurun waktu 2004 – 2006. Pada tahun 2004, TPAK Sumatera Utara sebesar 68,95 persen naik menjadi 71,94 persen di tahun 2005 dan mengalami penurunan pada tahun 2006 menjadi 66,90 persen.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 150

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TAPK) dan Tingkat Pengangguran Terbuka (%)
80,00 70,00 60,00 14,00 50,00 12,00 10,00 8,00 6,00 20,00 4,00 10,00 TPAK (%) TPT (%) 2,00 20,00 18,00 16,00

40,00 30,00

2001 57,70 4,41

2002 69,45 6,73

2003 66,41 7,71

2004 68,95 13,75

2005 71,94 10,98

2006 66,90 11,51

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai adalah menurunnya tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2006 menjadi sebesar 10,50 persen dan menjadi 10,0 persen pada tahun 2007. Sedangkan untuk tahun 2008 menjadi 9,60 persen dan menjadi sebesar 9,10 persen pada tahun 2009. Sementara untuk peningkatan sentrasentra produksi baru di daerah terisolasi pada tahun 2006 sejumlah 9 lokasi dan menjadi 22 lokasi pada tahun 2009. IV. Arah Kebijakan Dengan kondisi pasar tenaga kerja yang sebagian besar adalah angkatan kerja yang memiliki tingkat pendidikan dan ketrampilan yang rendah, maka kebijakan pembangunan ketenagakerjaan tahun 2006 – 2009 diarahkan pada upaya-upaya : 1. Menciptakan kesempatan kerja melalui peningkatan investasi dan pembangunan sentra-sentra produksi baru. 2. Meningkatkan kualitas dan produktivitas Sumber Daya Manusia (employment based development) yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja melalui peningkatan pelayanan pendidikan, kesehatan dan prasarana dan sarana pelatihan ketenagakerjaan. 3. Mendorong peningkatan dan pembaharuan program-program perluasan kesempatan kerja melalui pengembangan UKM, kredit mikro serta program pengentasan kemiskinan. 4. Mendorong perbaikan kebijakan yang berkaitan dengan migrasi tenaga kerja melalui program peningkatan penempatan kerja dan pendukung pasar kerja dengan mendorong terbentuknya informasi pasar kerja dan bursa kerja.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 151

V. Pencapaian 2004 – 2006 5.1. Upaya yang Dilakukan hingga Tahun 2007 a. Program Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja 1. Mendorong penyempurnaan peraturan dan kebijakan serta program ketenagakerjaan. 2. Meningkatkan pembinaan dan pemantauan dinamika pasar kerja dalam penciptaan lapangan kerja formal. 3. Melakukan koordinasi penyusunan rencana kerja dan informasi pasar kerja. 4. Peningkatan kerjasama antara lembaga bursa kerja dengan industri/perusahaan. 5. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. b. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja 1. Mendorong pengembangan standar kompetensi kerja dan sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja. 2. Peningkatan program-program pelatihan kerja berbasis kompetensi. 3. Peningkatan relevansi dan kualitas lembaga pelatihan kerja. 4. Peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan dan instruktur latihan kerja. 5. Peningkatan sarana dan prasarana lembaga latihan kerja. c. Program Perlindungan dan Pengembangan Lembaga Tenaga Kerja 1. Peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum ketenagakerjaan. 2. Peningkatan fungsi lembaga-lembaga ketenagakerjaan. 3. Penyelesaian permasalahan industrial secara ideal, konsisten, dan transparan. 4. Mendukung tindaklanjut pelaksanaan Rencana Aksi Nasional (RAN) penghapusan bentukbentuk pekerjaan terburuk untuk anak (Keppres RI No. 59/2002). d. Program Penataan Penyebaran Penduduk Angkatan Kerja yang serasi dan Seimbang 1. Pembangunan sarana dan prasarana permukiman. 2. Pengerahan dan penempatan tenaga kerja. 3. Pengembangan dan pembinaan sosial budaya dan ekonomi transmigrasi serta masyarakat sekitar. 4. Peningkatan kualitas masyarakat transmigrasi.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

152

5.2. Posisi capaian hingga 2006 Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah selama 3 tahun terakhir telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Adapun hasil yang telah dicapai dalam memperbaiki iklim ketenagakerjaan sampai tahun 2006 adalah sebagai berikut : 1. Berdasarkan sasaran RPJMD Sumatera Utara 2004 – 2009, yakni menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi 9,10 % pada akhir tahun 2009. Adapun posisi capaian hingga tahun 2006 adalah 11,51 %. Bila dibandingkan dengan target dalam RPJMD tersebut, tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Utara masih diatas target yang ditetapkan selama 2004 – 2006, kecuali pada tahun 2005 yang realisasinya di bawah target, yakni 10,98 % dari target sebesar 11,0 %. Tingkat Pengangguran Terbuka di Sumatera Utara Periode 2004 – 2006 (%)

2. Meningkatnya tingkat pendidikan untuk angkatan kerja di Sumatera Utara, dimana tingkat pendidikan SD semakin menurun dan semakin bertambahnya angkatan kerja tamatan SMA dan perguruan tinggi. 3. Bertambahnya penduduk yang menjadi pengusaha dengan mempekerjakan buruh tetap/bukan anggota keluarga dari hanya 2,85 persen pada tahun 2004 menjadi 3,43 persen dari total angkatan kerja di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

153

5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. Permasalahan ketenagakerjaan adalah kecenderungan meningkatnya jumlah pengangguran terbuka. 2. Semakin menciutnya lapangan kerja formal di perkotaan dan di perdesaan. 3. Adanya indikasi menurunnya produktivitas di industri pengolahan. 4. Adanya kecenderungan meningkatnya mobilitas angkatan kerja dari desa ke kota. VI. Tindak Lanjut Upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran perbaikan iklim ketenagakerjaan sesuai dengan RPJMD adalah : 1. Memperbaiki iklim investasi yang ada di daerah dengan penegakan kepastian hukum dan aturan berusaha di daerah. 2. Peningkatan kualitas hubungan industrial antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah daerah, seperti menyelesaikan perselisihan secara bipartit. 3. Peningkatan standar kompetensi kerja dengan membekali pekerja melalui sertifikasi kompetensi. 4. Meningkatkan peran Balai Latihan Kerja guna memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja yang sesuai dengan keinginan dunia kerja. VII. Penutup Membaiknya iklim ketenagakerjaan tentunya dapat mendorong penciptaan kesempatan kerja baru dan menurunkan tingkat pengangguran. Berbagai upaya yang dilakukan oleh pemerintah telah memberikan hasil yang nyata walaupun belum optimal seperti yang diharapkan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

154

Bab 4.10. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro I. Pengantar Stabilitas perekonomian merupakan prasyarat dasar untuk tercapainya peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan peningkatan kualitas pertumbuhan. Stabilitas perekonomian sangat penting untuk memberikan kapasitas berusaha bagi para pelaku ekonomi. Stabilitas ekonomi makro dicapai ketika hubungan variabel ekonomi makro yang utama berada dalam keseimbangan. Mengingat pentingnya stabilitas ekonomi makro bagi kelancaran dan pencapaian sasaran pembangunan nasional, pemerintah bertekad untuk terus menciptakan dan memantapkan stabilitas ekonomi makro. Salah satu arah kerangka ekonomi makro dalam jangka menengah adalah untuk menjaga stabilitas ekonomi makro dan mencegah timbulnya fluktuasi yang berlebihan didalam perekonomian. II. Kondisi Awal RPJMD 2004 – 2009 (Tahun 2004 – 2007) 1. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara menunjukkan trend yang terus meningkat dari tahun ke tahun selama periode 2004 – 2006. Pada tahun 2004, pertumbuhan ekonomi tumbuh sebesar 5,74 persen dan sedikit mengalami penurunan pada tahun 2005 menjadi 5,48 persen. Akan tetapi pada tahun 2006 pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara mengalami pertumbuhan yang cukup tinggi hingga 8,18 persen dan jauh lebih tinggi dari laju pertumbuhan ekonomi nasional.
Trend Pertumbuhan Ekonomi Sumut (%)

6,18 5,74 5,48

4,42 4,07 3,72

2001

2002

2003

2004

2005

2006

2. Pertumbuhan ekonomi sektoral memperlihatkan perkembangan yang fluktuatif dari semua sektor ekonomi. Tetapi pertumbuhan ekonomi sektoral yang paling tinggi adalah sektor transportasi dan komunikasi, diikuti sektor konstruksi (bangunan), dan sektor keuangan, real estate dan jasa perusahaan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

155

Pertumbuhan Ekonomi Sektoral (%)

14

12

10

8

6

4

2

0
Pertanian Perdagangan, Hotel & Rest Industri Pengolahan Konstruksi Angkutan & Komunikasi Keu., Real Est & Jasa Prsh PDRB

2001 3,6 3,2 4,48 4,01 6,71 1,92 3,72

2002 2,26 4,89 5,08 4,26 6,65 2,94 4,07

2003 2,51 2,88 4,29 6,01 10,45 6,84 4,81

2004 3,75 6,11 5,38 7,65 13,49 6,9 5,74

2005 3,38 4,95 4,76 12,96 10,11 7,15 5,48

2006 2,32 6,95 5,47 10,33 11,91 9,87 6,18

3. Perkembangan inflasi di Sumatera Utara mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada tahun 2004, inflasi di Sumatera Utara sebesar 6,8 persen dan mengalami peningkatan yang cukup tinggi pada tahun 2005 hingga mencapai 22,41 persen. Hal ini dikarenakan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM dan berdampak pada kenaikan harga-harga kebutuhan hidup. Akan tetapi pada tahun 2006, inflasi mengalami penurunan yang cukup drastis hingga pada tingkat 6,11 persen. 4. Pendapatan per kapita masyarakat Sumatera Utara menunjukkan perkembangan yang terus meningkat. Pada tahun 2004, pendapatan per kapita masyarakat Sumatera Utara sebesar Rp. 9,74 juta dan meningkat menjadi Rp. 12,66 juta pada tahun 2006.

PDRB per Kapita Masyarakat Sumut (ribu Rp)
8.000 7.000 6.000 5.000 8.000 4.000 6.000 3.000 2.000 1.000 PDRB per Kapita Harga Konstan PDRB per Kapita Harga Berlaku 4.000 14.000

12.000

10.000

2.000

2001 5.704 6.742

2002 5.936 6.735

2003 6.166 7.750

2004 6.873 9.742

2005 7.131 11.327

2006 7.382 12.657

-

5. Perkembangan APBD Sumatera Utara mengalami trend peningkatan dari tahun ke tahun selama kurun waktu 2004 – 2006 baik dari sisi penerimaan maupun pengeluaran. Pada tahun 2004, sisi
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 156

penerimaan anggaran Sumatera Utara sebesar Rp. 8,39 triliun dan meningkat menjadi Rp. 10,85 triliun pada tahun 2006. Seiring dengan meningkatnya penerimaan anggaran maka sisi pengeluaran juga mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2004 sebesar Rp. 7,58 triliun meningkat Rp. 10,68 triliun pada tahun 2006.

Grafik APBD Sumut (miliar Rp)
10.846 8.896 8.141 6.391 5.230 5.851 4.768 Penerimaan Pengeluaran 462 540 499 803 158 2005 Sisa 167 2006 7.642 8.386 8.738 7.583 10.679

2001

2002

2003

2004

6. Perkembangan trend ekspor – impor Sumatera Utara mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, tetapi perkembangan ekspor Sumatera Utara masih lebih tinggi dibandingkan dengan perkembangan impor untuk kurun waktu yang sama. Pada tahun 2004, ekspor Sumatera Utara sebesar 4,24 miliar US$ dan impor sebesar 953 juta US$ atau mengalami net ekspor yang surplus. Sedangkan pada tahun 2006 juga mengalami surplus yang relatif besar, dimana ekspor Sumatera Utara sebesar 5,52 miliar US$ dan impornya sebesar 1,46 US$.
Trend Ekspor - Impor Sumut (juta US$)
Impor Ekspor 1.457

1.178 953 5.524 819 861 2.892 2.295 2.688 4.563 4.239

680

2001

2002

2003

2004

2005

2006

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

157

7. Jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara secara jumlah dan persentase mengalami perkembangan yang fluktuatif seiring dengan kondisi perekonomian Sumatera Utara. Pada tahun 2004, jumlah orang miskin sebanyak 1,8 juta jiwa atau 14,93 persen dari jumlah penduduk Sumatera Utara. Pada tahun 2005 sempat menurun tetapi pada tahun 2006 jumlah orang miskin di Sumatera Utara mengalami peningkatan yang cukup besar hingga 1,98 juta jiwa atau 15,66 persen dari total penduduk Sumatera Utara.

Jumlah dan Persentase Orang Miskin
2.000 16,74 17 Jumlah Orang Miskin Persetanse Orang Miskin 15,84 15,89 16,5 16 15,5

1.950

1.900

(ribu orang)

14,93 1.850 14,28 1.800

15,66 15 14,5 14

1.750 1.884 13,5 1.889 1.800 1.760 1.980 13 12,5 1999 2002 2003 2004 2005 2006 1.973

1.700

1.650

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Sasaran yang ingin dicapai dalam perekonomian adalah terpeliharanya stabilitas ekonomi makro yang dapat mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas dengan diiringi penurunan tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, dan ketimpangan pendapatan dan pembangunan yang semakin kecil antar wilayah di Sumatera Utara. IV. Arah Kebijakan Untuk mencapai sasaran yang telah ditetapkan dalam RPJMD Sumatera Utara, maka arah kebijakan yang diambil adalah adanya sinkronisasi kebijakan anggaran dan pembangunan antara pemerintah pusat dan daerah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

%

158

V. Pencapaian 2004 – 2006 Adapun hasil yang telah dicapai dalam pemantapan stabilitas ekonomi makro di Sumatera Utara sampai tahun 2006 adalah sebagai berikut : 1. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat selama kurun waktu tersebut. 2. Tercapainya kestabilan harga-harga yang ditunjukkan dengan perkembangan inflasi Sumatera Utara dari tahun ke tahun yang relatif stabil dan terkendali. 3. Meningkatnya pertumbuhan ekspor Sumatera Utara dibandingkan dengan perkembangan impor. Hal ini semakin memperkuat fundamental ekonomi Sumatera Utara dengan meningkatnya devisa yang dihasilkan dari kinerja ekspor Sumatera Utara. 4. Perkembangan penduduk miskin yang masih berada di bawah rata-rata nasional dan adanya gambaran yang menunjukkan penurunan untuk tahun mendatang. 5. Adanya koordinasi yang secara berkala dilakukan antara pihak eksekutif dan legislatif serta otoritas moneter (BI Cabang Medan) dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara melalui sinkronisasi kebijakan anggaran dan kebijakan perbankan dan moneter. VI. Tindak Lanjut Dari sasaran dan permasalahan yang ada, maka upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran pemantapan stabilitas ekonomi makro adalah : 1. Perlunya melakukan skala prioritas dalam pengalokasian anggaran untuk pembangunan infrastruktur agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut berkualitas. 2. Pemantapan efektivitas pengeluaran anggaran melalui peningkatan perencanaan dalam APBD sehingga anggaran yang dibuat menyentuh sektor riil di Sumatera Utara. 3. Perlunya upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor sehingga mampu menggerakkan gairah dunia usaha di Sumatera Utara. 4. Perlunya menjaga kesinambungan produksi akan kebutuhan masyarakat sehingga mampu menjaga stabilitas harga-harga di Sumatera Utara. 5. Tetap melakukan koordinasi antara para pengambil kebijakan, yakni pihak eksekutif, legislatif dan pihak otoritas moneter dan perbankan (BI) agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

159

VII. Penutup Stabilitas ekonomi makro adalah salah satu prasyarat untuk tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkualitas, sehingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi harus diiringi dengan penurunan angka kemiskinan, tingkat pengangguran, dan ketimpangan antar wilayah yang semakin kecil. Untuk mewujudkan itu semua, maka harus ada koordinasi yang baik antara eksekutif dan legislatif di daerah dalam membuat peraturan yang menyangkut kebijakan ekonomi.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

160

Bab 4.11. Penanggulangan Perdesaan I. Pengantar Pembangunan pedesaaan merupakan salah satu agenda pemerintah guna mendukung peningkatan perekonomian nasional dan pengembangan wilayah. Sebagian besar penduduk Sumatera Utara saat ini masih bertempat tinggal di kawasan permukiman perdesaan. Pada tahun 2006, jumlah penduduk Sumatera Utara yang tinggal di pedesaan sebesar 6,94 juta jiwa (54,89 %) dan yang tinggal di daerah perkotaan sebesar 5,70 juta jiwa (45,11 %). Kawasan perdesaan dicirikan antara lain oleh rendahnya tingkat produktivitas tenaga kerja, masih tingginya tingkat kemiskinan, dan rendahnya kualitas lingkungan permukiman perdesaan. Penduduk dan angkatan kerja perdesaan yang akan terus bertambah, sementara luas lahan pertanian relatif tidak meningkat secara signifikan, maka penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tidak produktif. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengembangkan lapangan kerja non pertanian (non-farm activities) guna menekan angka kemiskinan dan migrasi ke perkotaan yang terus meningkat. II. Kondisi Awal RPJMD 2004 – 2009 (Tahun 2004 – 2006) 1. Berdasarkan data penduduk tahun 2004, sekitar 56,76 persen (6,88 juta jiwa) penduduk Sumatera Utara bertempat tinggal dikawasan perdesaan dan mengalami sedikit penurunan pada tahun 2006 menjadi sekitar 54,89 persen (6,94 juta jiwa). 2. Rendahnya produktivitas tenaga kerja di perdesaan yang dapat dilihat dari besarnya kontribusi sektor pertanian terhadap perekonomian Sumatera Utara pada tahun 2004 sebesar 24,47 persen dan semakin menurun pada tahun 2006 menjadi 22,18 persen (BPS, 2007). 3. Berdasarkan Susenas tahun 2004, jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara sebesar 1,8 juta jiwa atau 14,93 persen dari total penduduk Sumatera Utara. Dari jumlah penduduk miskin tersebut, sebesar 1,17 juta jiwa atau 17,19 persen berada dikawasan perdesaan. Pada tahun 2006, jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara mengalami peningkatan menjadi 1,98 juta jiwa atau 15,66 persen dari total penduduk di Sumatera Utara. 4. Selama periode 2004 – 2006, penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian pada tahun 2004 sebesar 51,60 persen dan mengalami penurunan menjadi 49,64 persen pada tahun 2006. Hal ini menunjukkan bahwa penyerapan tenaga kerja di sektor pertanian menjadi tidak produktif dikarenakan peningkatan jumlah penduduk dan angkatan kerja di perdesaan yang tidak diikuti dengan perluasan lahan pertanian.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

161

III. Sasaran yang Ingin Dicapai Adapun sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan pedesaan adalah : 1. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. 2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur di kawasan permukiman di perdesaan khususnya pada 2.164 desa tertinggal. 3. Meningkatnya akses, kontrol dan partisipasi seluruh elemen masyarakat yang tinggal di perdesaan. IV. Arah Kebijakan Kebijakan pembangunan perdesaan tahun 2006-2009 diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat perdesaan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Meningkatkan kerjasama dengan Kab./Kota membangun sarana dan prasarana pemukiman serta menggerakkan masyarakat untuk membangun pemukiman yang sehat. 2. Peningkatan kemitraan pemerintah, masyarakat dan swasta dalam pembangunan kota dan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk turut merencanakan, melaksanakan dan mendukung biaya pembangunan lingkungannya. 3. Penyusunan dan sosialisasi Norma, Standar, Pedoman, Manual (NSPM) bidang Permukiman. 4. Memprioritaskan pengembangan dan pembangunan perdesaan. 5. Memprioritaskan pertumbuhan pengembangan pusat ekonomi perdesaan. 6. Peningkatan pembinaan kualitas aparatur dan pemekaran desa baru serta penguatan lembaga kemasyarakatan desa. 7. Memperluas akses masyarakat terhadap sumber daya produktif untuk pengembangan usaha seperti lahan, prasarana sosial ekonomi, permodalan, informasi, teknologi dan inovasi, serta akses masyarakat ke pelayanan publik dan pasar. 8. Meningkatkan keberdayaan masyarakat perdesaan melalui peningkatan kualitasnya, dan penguatan kelembagaan serta modal sosial masyarakat perdesaan berupa jaringan kerjasama untuk memperkuat posisi tawar. 9. Meningkatkan kesejahteraan masyarakat perdesaan dengan memenuhi hak-hak dasar. 10. Terciptanya lapangan kerja berkualitas di perdesaan, khususnya lapangan kerja non pemerintah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

162

V. Pencapaian 2005 – 2006 5.1. Posisi Capaian hingga Tahun 2006 Adapun hasil yang telah dicapai dalam pembangunan perdesaan sampai tahun 2006 adalah sebagai berikut : 1. Terbentuknya kawasan agropolitan di kawasan Sumatera Utara yang meliputi daerah pertanian. 2. Meningkatnya lembaga dan organisasi berbasis masyarakat, seperti paguyuban petani, koperasi, lembaga adat dalam menyuarakan aspirasi masyarakat di perdesaan. 3. Meningkatnya akses masyarakat perdesaan pada informasi, seperti jaringan komunikasi selular. 4. Meningkatnya pelayanan lembaga keuangan termasuk lembaga keuangan mikro, kepada pelaku usaha di perdesaan. 5. Meningkatnya akses pasar dan promosi produk-produk perdesaan. 6. Meningkatnya sarana dan prasarana pendidikan serta layanan kesehatan yang dapat terjangkau bagi penduduk perdesaan. 5.2. Permasalahan Pencapaian Sasaran Permasalahan di dalam pembangunan perdesaan adalah rendahnya aset yang dikuasai masyarakat perdesaan ditambah lagi dengan masih rendahnya akses masyarakat perdesaan ke sumber daya ekonomi seperti lahan/tanah, permodalan, input produksi, keterampilan dan teknologi, informasi, serta jaringan kerjasama. Disisi lain, masih rendahnya tingkat pelayanan prasarana dan sarana perdesaan dan rendahnya kualitas SDM di perdesaan yang sebagian besar berketrampilan rendah (low skilled), lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat, lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan perdesaan. VI. Tindak Lanjut Dari sasaran dan permasalahan yang ada, maka upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mencapai sasaran pembangunan perdesaan sesuai dengan RPJMD adalah : 1. Pemberdayaan lembaga-lembaga keuangan mikro yang ada di perdesaan dan penguatan organisasi masyarakat. 2. Percepatan pembangunan sosial ekonomi daerah tertinggal dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur berupa sarana jalan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 163

3. Pengembangan sarana dan prasarana kawasan agropolitan. 4. Memfasilitasi pengembangan potensi ekonomi desa dan pengembangan produk unggulan dengan meningkatkan promosi ke luar wilayah. VII. Penutup Pembangunan perdesaan merupakan suatu program pemerintah untuk mengurangi ketimpangan pembangunan antar daerah dan mempercepat pembangunan nasional. Keberhasilan pembangunan di perdesaan diharapkan akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di perdesaan sehingga akan mempermudah terwujudnya masyarakat yang adil dan bermartabat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

164

Bab 4.12. Pengurangan Ketimpangan Wilayah I. Pengantar Pembangunan daerah diupayakan untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah melalui berbagai kebijakan yang dilakukan secara menyeluruh, terpadu dan tepat sasaran dalam upaya penanggulangan kemiskinan serta menggerakkan kembali kegiatan ekonomi secara merata. Konsep pembangunan yang telah dilakukan dalam mensejajarkan antar wilayah melalui pembangunan Pantai Barat, Pantai Timur dan Dataran Tinggi merupakan bahagian yang tidak terpisahkan. Di wilayah Provinsi Sumatera Utara masih terdapat 13 kabupaten yang mempunyai kawasan wilayah tertinggal dengan jumlah kecamatan sebanyak 108. Umumnya kawasan tertinggal atau Kecamatan tersebut masih kurang tersentuh pembangunan sehingga sarana dan prasarana infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain sangat terbatas yang pada akhirnya mengakibatkan roda perekonomian di wilayah tertinggal tersebut kurang bergulir. Pada kawasan tertinggal tingkat sumber daya manusia masih rendah yang menyebabkan keikutsertaan dalam kegiatan pembangunan relatif rendah sekali. Pada beberapa wilayah, ketimpangan pembangunan telah berakibat langsung pada munculnya semangat kedaerahan yang pada titik yang paling ekstrim diwujudkan dalam bentuk gerakan separatisme. Sementara itu, upaya-upaya percepatan pembangunan pada wilayah yang relatif masih tertinggal tersebut, meskipun telah dimulai sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu, hasilnya masih belum dapat sepenuhnya dinikmati oleh masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut. II. Kondisi Awal RPJMD 2004 – 2009 (Tahun 2004 – 2006) 1. Masih terdapat 13 kabupaten yang memiliki wilayah tertinggal dengan jumlah kecamatan sebanyak 108. 2. Masih adanya ketidakseimbangan pertumbuhan antar kabupaten/kota di Sumatera Utara terutama daerah kawasan pantai barat dan pantai timur. III. Sasaran yang Ingin Dicapai Dengan kondisi pembangunan yang masih belum merata, maka diperlukan suatu kebijakan pembangunan yang dapat mempercepat pembangunan di wilayah-wilayah tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, sasaran pengembangan wilayah untuk mengurangi ketimpangan pembangunan adalah : 1. Meningkatnya pembangunan sarana dan prasarana perekonomian seperti jalan, irigasi, lembagalembaga perekonomian baik formal maupun informal.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 165

2. Meningkatnya kemampuan dan kualitas sumber daya manusianya melalui perbaikan pendidikan dan kesehatan serta melakukan penyuluhan teknologi tepat guna. 3. Berkurangnya jumlah daerah tertinggal dan daerah terisolasi. 4. Berkurangnya kesenjangan sosial dan ekonomi antar daerah tertinggal. IV. Arah Kebijakan Kebijakan pengurangan ketimpangan pembangunan antar wilayah pada tahun 2006-2009 diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat antar wilayah, maka kebijakan yang dilaksanakan diarahkan untuk : 1. Meningkatkan alokasi dana-dana pada kawasan wilayah tertinggal. 2. Meningkatkan pembinaan dan penyuluhan pada kawasan wilayah tertinggal. 3. Meningkatkan akses masyarakat kepada sumber-sumber permodalan, pasar, informasi dan teknologi. 4. Meningkatkan kerjasama antar daerah dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal. V. Pencapaian 2005 – 2006 5.1. Upaya yang dilakukan hingga 2007 1. Program pengembangan kecamatan yang bertujuan untuk mengembangkan perekonomian dan pasarana pada daerah kecamatan yang relatif tertinggal sehingga dapat berkembang. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut : a. Pembangunan jalan desa b. Pengembangan koperasi simpan pinjam c. Pengembangan ternak d. Pembuatan sarana air bersih e. Pembuatan saluran tali air persawahan. f. Pengembangan Usaha Ekonomi Produktif masyarakat 2. Program Pengembangan Desa Tertinggal Program ini bertujuan untuk mengembangkan dan memberdayakan perekonomian pada desa tertinggal. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut : a. Pemberdayaan masyarakat desa. b. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat desa. c. Pemberian fasilitas sarana pendidikan dan kesehatan.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 166

3. Program Bantuan Dana Bergulir Program ini bertujuan meningkatkan perekonomian masyarakat pada daerah tertinggal. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut : a. Pendirian usaha simpan pinjam. b. Bantuan modal untuk usaha produktif. 4. Program PKS-BBM komponen wilayah tertinggal Program ini bertujuan mengurangi kesenjangan pendapatan antara daerah perkotaan dengan daerah tertinggal. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut : a. Pemberian kartu sehat bagi masyarakat miskin (gratis berobat). b. Pemberian beasiswa bagi anak didik. c. Pembelian beras yang lebih murah dari harga di pasaran. 5. Program Pemberdayaan Masyarakat Program ini bertujuan memberdayakan masyarakat daerah tertinggal. Program ini memuat kegiatan-kegiatan pokok sebagai berikut : a. Mendorong pemenuhan kebutuhan sosial dasar masyarakat, keterampilan masyarakat serta meningkatkan pelayanan umum daerah tertinggal. b. Mendorong peningkatan kepastian hukum hak atas tanah yang adil dan transparan. 5.2. Posisi Capaian hingga Tahun 2006 Adapun hasil yang telah dicapai dalam pengurangan ketimpangan pembangunan wilayah sampai tahun 2006 adalah sebagai berikut : 1. Semakin sedikitnya wilayah tertinggal dan terisolasi di Sumatera Utara. 2. Semakin terbukanya akses transportasi yang menghubungkan antar wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju. 3. Meningkatnya pembangunan antar wilayah tertinggal dengan prioritas pembangunan berdasarkan potensi daerahnya. 4. Adanya kerjasama antar daerah dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal dengan membentuk kawasan agropolitan. 5.3. Permasalahan Pencapaian Sasaran 1. Terbatasnya kemampuan manajerial pembiayaan untuk memberikan pembiayaan sosial ekonomi yang memadai dan merata di seluruh lapisan masyarakat. 2. Pengangguran, kemiskinan dan kerawanan sosial tetap menjadi masalah yang belum terpecahkan, dan jaminan kelancaran aliran investasi oleh usaha swasta.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 167

3. Sejalan dengan upaya pengembangan wilayah berbagai kegiatan masyarakat dan pemerintah selalu terjadi ketidaktepatan rencana dan ketertiban pemanfaatan ruang dapat mengurangi efisiensi kegiatan sosial ekonomi dan dapat menyebabkan penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan yang pada gilirannya akan dihadapkan pada berbagai kompleksitas, dinamika dan keanekaragaman persoalan sosial ekonomi, dan politik yang bersifat kontradiktif yang memerlukan perhatian dan penanganan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah, serta seluruh potensi masyarakat di berbagai daerah. 4. Masih rendahnya pelayanan dasar pada daerah tertinggal, terpencil serta daerah perbatasan. 5. Batas daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota belum tertata dengan baik. 6. Meningkatkan pelayanan administrasi pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/Kota. VI. Tindak Lanjut Berdasarkan perkembangan pelaksanaan kebijakan yang telah dilaksanakan dan hasil-hasil capaian pembangunan, maka beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mencapai sasaran RPJMD yang telah ditetapkan, antara lain : 1. Melakukan upaya percepatan penyediaan infrastruktur di wilayah-wilayah yang masih tertinggal dan terisolasi. 2. Peningkatan koordinasi antar wilayah yang menjadi kawasan agropolitan sehingga mempercepat pembangunan di kawasan tersebut. 3. Mempercepat upaya peningkatan kualitas SDM dengan pemamfaatan potensi SDA dan potensi kelembagaan daerah tertinggal secara arif dan berkelanjutan. 4. Pemberdayaan lembaga-lembaga keuangan mikro yang ada di wilayah tertinggal. VII. Penutup Hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai di Sumatera Utara, ternyata belum semua wilayah menikmati hasil pembangunan tersebut. Hal ini masih menyebabkan kesenjangan pertumbuhan dan tingkat pembangunan antar wilayah di Sumatera Utara. Umumnya ketimpangan pembangunan ini terjadi antar wilayah pantai barat dan pantai timur serta antara perkotaan dan perdesaan. Untuk itu, guna mencapai sasaran pembangunan sesuai dengan RPJMD, diharapkan para pengambil kebijakan di daerah harus konsisten untuk melaksanakan program-program yang telah ditetapkan sehingga mempercepat pengurangan ketimpangan pembangunan antar wilayah yang ada di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

168

Bab 4.13. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan Yang Berkualitas I. Pengantar Proses pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Usaha ini harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan memerlukan sokongan semua pihak agar tujuan proses pendidikan itu tercapai secara maksimal yang pada akhirnya akan bermanfaat dalam proses pembangunan negara. Sumber daya manusia yang berkualitas sebagai produk akhir dari proses pendidikan akan menjadi motor dan pelaksana pembangunan yang berkelanjutan. Oleh sebab itu amanat yang tertuang dalam UUD 1945 untuk memberikan pendidikan yang baik bagi semua warga negara wajib dilaksanakan dan mendapat perhatian serius dari semua pihak terutama pemerintah. Berbagai kebijakan yang mengarah kepada peningkatan kualitas pendidikan harus dilakukan secara maksimal pada setiap tingkat pemerintahan karena pendidikan ini merupakan pilar terpenting untuk mewujudkan bangsa yang maju, sejahtera, dan mandiri. Proses pendidikan harus disadari dan dijunjung tinggi sebagai satu cara untuk meningkatkan harkat dan martabat bangsa dalam dunia internasional. Oleh karena itu, proses pendidikan harus mampu menjamin terwujudnya kesejahteraan dan juga mampu mengatasi berbagai masalah sosial seperti pengangguran, kemiskinan, kesenjangan gender, ketergantungan negara dan sebagainya. Cita-cita dan tujuan seperti ini akan dapat tercapai dengan proses pendidikan yang seksama, merata, dan berkualitas serta relevan dengan tuntutan dan perkembangan zaman yang dinamik. Oleh karena proses pendidikan seperti disebutkan di atas sangat menentukan kondisi kesejahteraan hidup bangsa dan negara baik pada masa sekarang maupun masa yang akan datang maka pembangunan bidang pendidikan selayaknya mendapat prioritas dan penanganan yang konprehensip. Kerja sama berbagai instansi terkait baik secara lokal, nasional maupun internasional perlu diwujudkan dan berkelanjutan sehingga pembangunan bidang pendidikan berhasil secara optimal dan melahirkan sumber daya manusia yang beriman, bertaqwa dan berkualitas. II. Kondisi Awal Pembangunan bidang pendidikan merupakan satu tugas yang harus dilaksanakan dengan seksama sehingga kualitas sumber daya manusia semakin baik. Tugas ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja karena semua pihak harus terlibat dan memberi kontribusi yang maksimal sesuai dengan bidang atau kedudukan masing-masing. Menyadari hal ini, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah melakukan berbagai langkah dan kebijakan pembangunan pendidikan yang berterusan agar tingkat

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

169

pendidikan dan kesejahteraan hidup masayarakat Sumatera Utara semakin baik dan maju. Sehingga tahun 2004-2005, berbagai pencapaian dan keberhasilan pembangunan bidang pendidikan di Sumatera Utara dapat dideskriftifkan pada uraian-uaraian berikut. • Tingkat Pendidikan

Persentase tingkat pendidikan masyarakat Sumatera Utara dapat dibandingkan mulai dari tingkat masyarakat yang tidak tamat SD sampai tingkat sarjana. Data tahun 2004 menunjukkan bahwa masyarakat Sumatera Utara yang tidak tamat SD sebanyak 15,6% sedangkan yang tamat SD sebanyak 28,8%. Dari sini dapat diketahui bahwa untuk tahun 2004 terdapat 44,4% masyarakat yang belum berhasil mengikuti program “Wajib belajar 9 tahun”. Kondisi ini memberi makna bahwa pemerintah Propinsi Sumatera Utara mempunyai tugas dan tanggung jawab yang berat dalam meningkatkan taraf pendidikan warganya. Pada tingkat sekolah lanjutan, sebanyak 24,0% masyarakat Sumatera Utara berhasil memperoleh dan menyelesaikan pendidikannya pada tingkat SMP dan 27,1% untuk tingkat SMA. Walaupun jumlah persentase masyarakat yang lulus pendidikan lanjutan relatif lebih banyak dari persentase masyarakat yang berpendidikan SD ke bawah, namun pencapaian ini masih perlu mendapat perhatian serius terlebih-lebih lagi jika dikaitkan dengan kondisi pendidikan masyarakat untuk tingkat diploma dan sarjana. Data tahun 2004 menunjukkan bahwa hanya 2,3% saja masyarakat Sumatera Utara yang berhasil mencapai tahap pendidikan Diploma dan 2,2% untuk tingkat sarjana. Lebih jelas data statistik tingkat pendidikan masyarakat Sumatera Utara untuk tahun 2004 ini dapat dilihat pada Tabel 4.XIII.1. Tabel 4.13.1 Tingkat Pendidikan Masyarakat Sumatera Utara 2004 Tingkat Pendidikan Tidak Tamat SD SD SMP SMA Diploma Sarjana Pasca Sarjana Sumber: BPS Sumatera Utara 2004.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 170

Persentase 15,6 28,8 24,0 27,1 2,3 2,2 Na

Rangkin Tertinggi 4 1 3 2 5 6 -

Tabel 4.13.1 di atas sekaligus menunjukkan kondisi kualitas SDM Sumatera Utara dalam melaksanakan pembangunan daerah khususnya dan pembangunan negara umumnya. Data ini menunjukkan bahawa Sumatera Utara baru memiliki 2,2% SDM yang terdidik sampai peringkat sarjana. Jumlah ini dipastikan tidak memadai karena Sumatera Utara merupakan satu propinsi yang relatif besar dan luas serta memiliki berbagai sumber daya yang memerlukan penanganan dan pemanfaatan yang maksimal dan berkelanjutan. • Sarana dan Prasarana

Pada tahun 2004-2005 seluruh kategori sekolah mengalami peningkatan dari segi jumlah sarana dan prasarana berbanding tahun 2003-2004. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), Sumatara Utara memiliki 9436 unit SD atau meningkat sebanyak 127 unit (1,35%) berbanding tahun 2003-2004 yang hanya memiliki sebanyak 9309 unit. Peningkatan yang sama juga berlaku untuk jenis sekolah SMP dan SMA di mana Sumatera Utara memiliki 1876 unit SMP dan 1418 unit SMA atau kedua-duanya mengalami peningkatan masing-masing 101 unit (5,7%) dan 51 unit (3,7%). Statistik peningkatan sarana pendidikan di Sumatera Utara ini lebih jelas dapat dilihat pada Tabel 4.13.2. Tabel 4.13.2 Jumlah Sarana Sekolah di Sumatera Utara Jenis / Jumlah Sekolah Tingkatan 2002 2003 SD 9343 9309 SMP 1699 1775 SMA 1197 1367 Jumlah 12239 12451 Sumber: BPS-Sumatera Utara 2004 2004 9436 1876 1418 12730

Tabel 4.13.2 di atas menunjukkan kondisi statistik sarana sekolah di Sumatera Utara untuk tahun 2002 sampai 2004. Secara keseluruhan jumlah sarana sekolah ini menunjukkan peningkatan walaupun untuk tahun 2003 sarana sekolah SD terlihat berkurang sebanyak 34 unit. Peningkatan sarana dan prasarana sekolah ini dimaksudkan selain untuk mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk juga untuk menjamin agar semua masyarakat Sumatera Utara memperoleh hak pendidikan yang wajar dan merata. Untuk tingkat Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta (PTN/PTS), Sumatera Utara memiliki PTN/PTS yang dari segi jumlah sarana dianggap relatif tetap. Tahun 2004-2005 Sumatera Utara memiliki 5 PTN (USU, Unimed, IAIN, Polmed, STAIN-Padangsidimpuan) dan 186 PTS yang terdiri dari 24 unit Universitas, 82 unit Sekolah Tinggi, 3 unit Institut, 66 unit Akademi dan 11 unit Politeknik. Eksistensi
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 171

PTN/PTS ini telah memberikan jasa pendidikan tinggi bagi mahasiswa-mahasiswa lokal, nasional maupun mahasiswa luar negeri terutama dari negara-negara ASEAN. • Jumlah Murid dan Mahasiswa

Sasaran pembangunan pendidikan di Sumatera Utara antara lain adalah mewujudkan terlaksananya pendidikan dasar sembilan tahun, meningkatkan Angka Partisipasi Sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Kasar (APK), menurunnya persentase masyarakat buta aksara dan lain-lain. Sejalan dengan sasaran pembangunan ini, jumlah murid dan mahasiswa yang mengikuti berbagai tingkat pendidikan di Sumatera Utara secara keseluruhan mengalami peningkatan untuk tahun 2004-2005 berbanding pada tahun 2003-2004. Untuk tingkat Taman Kanak-Kanak (TK), Sumatera Utara memiliki 53.269 orang murid TK. Angka ini meningkat sebanyak 5.964 orang berbanding tahun 20032004 yang hanya berjumlah 47.305 orang. Namun demikian untuk tingkat SD, Sumatera Utara mengalami penurunan murid sebanyak 40.230 berbanding tahun 2003-2004. Jumlah murid SD di Sumatera Utara untuk tahun 2004-2005 adalah 1.818.071 sedangkan tahun 2003-2004 jumlah murid SD ini mencapai 1.858.301 orang. Sebaliknya, untuk tingkat SMP dan SMA jumlah murid ini mengalami peningkatan masing-masing sebanyak 26.944 dan 8.853 orang. Lebih jelas kondisi murid-murid untuk berbagai tingkatan ini dapat dilihat dalam bentuk Grafik 4.13.1 berikut:

2000000 1800000 1600000 1400000 1200000 1000000 800000 600000 400000 200000 0
TK SD 2002 45061 2003 47305 2004 53269 1836595 1858301 1817971

SMP 592017 697333 724277 SMA 264225 280304 289157
Grafik 4.13.1 Jumlah Murid Sekolah di Sumatera Utara
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 172

Grafik di atas menunjukkan jumlah murid untuk berbagai tingkatan pendidikan mulai dari tingkat TK sampai tingkat SMA. Dari Grafik di atas dapat diketahui bahwa jumlah murid yang memperoleh pendidikan Taman Kanak-Kanak relatif masih sangat sedikit setiap tahunnya. Khusus untuk tahun 2004, hanya 2,9% dari seluruh murid SD yang ada pernah mendapat pendidikan TK sebelum mereka memasuki SD. Selain itu, pada tahun yang sama hanya 39,8% jumlah murid SMP berbanding jumlah murid SD yang bermakna bahwa masyarakat Sumatera Utara masih relatif terbatas atau sedikit yang memberikan pendidikan lanjutan pertama bagi anak-anak mereka. Untuk peringkat mahasiswa, Grafik 4.XIII.2 menunjukkan kondisi / jumlah mahasiswa yang belajar pada tiga perguruan tinggi utama di Sumatera Utara. Untuk tahun 2004, Universitas Sumatera Utara memiliki jumlah mahasiswa yang paling banyak yaitu 27.434 orang diikuti oleh Univeristas Negeri Medan sebanyak 18.411 orang dan Institut Agama Islam Negeri sebanyak 4.892 orang. Tingkat fluktuasi jumlah mahasiswa yang paling besar terlihat terjadi pada Institut Agama Islam Negeri sementara pada dua PTN lainnya yaitu USU dan Unimed menunjukkan tren yang relatif stabil.

Jumlah Mahasiswa PTN di Sumut
35.000 30.000 25.000 20.000 5.500 15.000 10.000 5.000 2000 UNIMED USU IAIN 11.568 23.634 4.844 2001 15.263 25.918 4.370 2002 17.640 27.451 4.580 2003 18.543 28.662 4.289 2004 18.411 27.434 4.892 2005 19.240 29.141 5.031 2006 19.807 29.674 5.113 5.000 4.500 4.000 7.000 6.500 6.000

UNIMED
Sumber : Badan Pusat Statistik

USU

IAIN

94

Grafik 4.13.2 Jumlah Mahasiswa PTN di Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

173

• Jumlah Guru dan Dosen Selain faktor jumlah, kualitas guru dan dosen akan berpengaruh signifikan kepada kualitas anak didik khususnya dan kualitas sumber daya manusia pada umumnya. Oleh karena itu berbagai kebijakan senantiasa dilakukan oleh Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah untuk terus meningkatkan jumlah dan kualitas guru maupun dosen karena hal ini dapat dianggap sebagai investasi. Berkaitan dengan masalah ini, untuk tahun 2004, Propinsi Sumatera Utara mempunyai 76.327 orang guru SD, 33.134 orang guru SMP, 14.942 orang guru SMA dan 4.985 orang dosen tetap dan 2.487 orang dosen tidak tetap. Tabel 4.13.3 Jumlah Guru dan Dosen di Sumatera Utara 2004 Institusi Pendidikan SD SMP SMA PTN / PTS *) Dosen tetap dan tidak tetap Sumber: BPS Sumatera Utara 2004 Jumlah (orang) 76.327 33.134 14.942 7.472*) Rasio Dengan Murid 23,8 21,9 19,4 11,98

Tabel 4.13.2 di atas menunjukkan jumlah guru / dosen berserta rasio dengan murid / mahasiswa. Rasio guru SD dengan jumlah murid terlihat paling tinggi berbanding rasio guru pada tingkat SMP dan SMA bahkan tingkat PTN/PTS. Kondisi ini menunjukkan bahwa para guru SD mempunyai beban tugas dan tanggung jawab yang berat yang memerlukan kebijakan penanganan pada periode selanjutnya. Kondisi ini tentunya akan berpengaruh kepada keberhasilan proses belajar-mengajar terlebih-lebih jika hal ini dikaitkan lagi dengan tingkat pendidikan para guru. Grafik di bawah ini menunjukkan kondisi atau gambaran tingkat pendidikan guru SD di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

174

Grafik 4.13.3 Tingkat Pendidikan Guru SD di Sumatera Utara 2004 Grafik di atas menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan guru SD di Sumatera Utara adalah lulusan SMA / PGSLP. Kondisi ini berbeda dengan tingkat pendidikan guru SD swasta yang mayoritas berpendidikan lulusan Sarjana Muda. Selain itu grafik tersebut juga menunjukkan bahwa jumlah guru SD negeri yang berpendidikan SMP lebih banyak berbanding jumlah guru SD swasta yang mempunyai tingkat kelulusan yang sama. Secara mudah diketahui bahwa kondisi tingkat kelulusan para guru ini memerlukan peningkatan yang lebih baik dengan memberikan fasilitas pendidikan lanjutan terutama kepada guru-guru lulusan SMP. Kebijakan seperti ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan di Sumatera Utara. Selain melihat tingkat pendidikan guru secara parsial (khusus untuk guru SD) seperti ditunjukkan dalam grafik di atas, kondisi pendidikan keseluruhan guru di Sumatera Utara dapat dilihat pada Grafik 4.13.4. Grafik 4.13.4 menunjukkan bahwa untuk tahun 2004 tingkat pendidikan guru sebagai ujung tombak dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat didominasi oleh tingkat pendidikan SLTA sebanyak 50.780 orang. Sedangakan guru yang berpendidikan D4 dan S1 masing-masing sebanyak 9.847 orang dan 4.770 orang.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

175

Tingkat Pendidikan Guru di Sumut
70.000 40.000 35.000 30.000 25.000 40.000 20.000 30.000 15.000 20.000 10.000 5.000 -

60.000

50.000

10.000

SLTP SLTA D4 S1

2001 6.676 59.950 35.262 3.348

2002 6.765 60.410 5.119 3.663

2003 6.480 53.548 9.147 2.449

2004 6.605 50.780 9.847 4.770

2005 87 62.976 6.084 10.297

2006 87 62.976 6.084 10.297

92

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.13.4 Tingkat Pendidikan Guru di Sumatera Utara

III Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang Pendidikan tahun 2006-2009 adalah 1)Terlaksananya wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun; 2) Meningkatnya angka partisipasi sekolah (APS) dan Angka Partisipasi Kasar (APK) penduduk usia 7-12 tahun dengan tingkat partisipasi sekolah tahun 2006 mencapai 99,40 persen dan tahun 2009 mencapai 99,80 persen, penduduk usia 7-15 tahun mencapai 96,50 persen pada tahun 2006 dan pada tahun 2009 mencapai 97,50 persen, dan penduduk usia 7-24 tahun pada tahun 2006 mencapai 66,60 persen dan tahun 2009 mencapai 67,10 persen serta meningkatnya keadilan dan kesetaraan antarkelompok masyarakat termasuk antara penduduk laki-laki dan perempuan; 3) Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 10 tahun keatas pada tahun 2006 mencapai 97,45 persen dan tahun 2009 menjadi 97,60 persen; 4). Meningkatnya Pendidikan yang ditamatkan penduduk umur 10 tahun keatas menurut jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, Diploma, D.IV/Sarjana. Tidak/belum tamat SD pada tahun 2006 sebesar 21,0 persen dan diharapkan tahun 2009 sebesar 19,50 persen, demikian juga tamat SD tahun 2006 mencapai 27,80 persen dan 27,00 persen tahun 2009, tamat SLTP 2006 sebesar 24,50 persen dan 2009 sebesar 26,00 persen, tamat SLTA tahun 2006 mencapai 23,40 persen dan 23,90 persen diharapkan tahun 2009, tamat Diploma (I,II,III) sebesar 1,45 persen pada tahun 2006 dan tahun 2009 sebesar 1,60 persen, dan tamat DIV/Sarjana pada tahun 2006
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 176

sebesar 1,85 persen dan pada tahun 2009 meningkat mencapai 2,00 persen; 5) Meningkatnya Rata-rata lama sekolah pada tahun 2006 mencapai 9,2 tahun dan tahun 2009 diperkirakan sudah mencapai 9,8; 6) Meningkatnya proporsi pendidik formal dan non formal yang memiliki kualifikasi sesuai standar untuk setiap jenjang pendidikan; 7) Meningkatnya fokus dan kapasitas kegiatan penelitian dan pengembangan yang strategis sesuai potensi daerah; 8) Terwujudnya tatanan mekanisme intermediasi yang dapat mendorong peningkatan aliran lalulintas dan transaksi iptek beserta hasil penelitian yang berkualitas, akurat, valid, aktual, dan dapat dipertanggungjawabkan; 9) terciptanya kemudahan akses fasilitas pendidikan bagi keluarga miskin; 10) tersedianya kurikulum pendidikan yang sangat komprehensif; 11) terciptanya tenaga pendidikan dalam jumlah yang memadai dan ideal; 12) tersedianya prasarana dan sarana yang ideal; 13) terpenuhinya tingkat kesejahteraan guru, khususnya guru yang berada di daerah terpencil dan kepulauan. VI Arah Kebijakan Pembangunan Bidang Pendidikan Tahun 2006-2009, diarahkan pada upaya-upaya : 1. Peningkatan pendidikan bagi anak usia dini yang lebih merata dan bermutu agar seluruh potensi anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal sesuai dengan tingkat usianya sehingga mereka memiliki kesiapan untuk memasuki pendidikan selanjutnya; 2. Mendorong peningkatan perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar yang berkualitas sebagai bentuk pemenuhan hak warga negara untuk mengikuti Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun sebagaimana diamanatkan dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional; 3. Peningkatan perluasan dan pemerataan pendidikan menengah baik umum maupun kejuruan untuk mengantisipasi meningkatnya lulusan sekolah menengah pertama sebagai dampak keberhasilan Program Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun, dan penyediaan tenaga kerja lulusan pendidikan menengah yang berkualitas; 4. Peningkatan pelayanan pendidikan formal maupun non formal bagi penduduk miskin, daerah terpencil, kepulauan, dibawah rata-rata nasional, serta pada anak cacat, anak-anak yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik, emosional, mental dan sosial dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa baik laki-laki maupun perempuan; 5. Peningkatan kualitas pendidikan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang memenuhi kebutuhan pasar kerja; 6. Peningkatan pendidikan non formal yang merata dan bermutu bagi warga masyarakat terutama bagi yang tidak pernah sekolah, putus sekolah yang ingin meningkatkan pengetahuan, dan kecakapan/keterampilan; 7. Peningkatan profesionalisme jenjang pendidikan guru dan pengawasan mutu kelulusan; 8. Pemerataan distribusi guru dan tenaga pendidikan pada semua jalur, jenis, jenjang pendidikan;
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 177

9. Peningkatan pendidikan yang berorientasi pada ketrampilan dan Kewirausahaan; 10. Pengembangan dan sosialisasi Teknologi Tepat Guna (TTG) dan melakukan penelitian serta akreditasi; 11. Meningkatkan jaringan kerjasama pembangunan pendidikan dengan Kab./Kota dan pengembangan produk-produk unggulan; 12. Memberdayakan lembaga-lembaga sekolah yang mendorong terbangunnya budaya inovatif; 13. Pengembangan budaya baca masyarakat guna menciptakan masyarakat belajar, berbudaya, maju dan mandiri

V. Pencapaian 2004 – 2007 Pemerintah Propinsi Sumatera Utara telah melakukan berbagai kebijakan pembangunan pendidikan secara berterusan baik program wajib belajar dan pendidikan dasar sembilan tahun, pendidikan menengah, pendidikan tinggi dan juga pendidikan informal. Selain itu, pemerintah juga telah melakukan kebijakan peningkatan kualitas pendidikan dengan melalukan berbagai perbaikan sarana dan prasarana pendidikan dan juga peningkatan mutu para pendidik. Berbagai keberhasilan dan pencapaian yang telah dilaksanakan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dalam bidang pendidikan ini antara lain berkaitan dengan tingkat pendidikan masyarakat Sumatera Utara. Pada tahun 2006/2007 kondisi umum tingkat pendidikan masyarakat Sumatera Utara dapat dilihat pada Grafik 4.13.5. Grafik ini menunjukkan bahwa persentase masyarakat Sumatera Utara yang memperoleh pendidikan untuk tingkat SMA, Diploma dan Sarjana meningkat dengan baik walaupun untuk tingkat SMP dan ke bawah menunjukkan persentase perubahan yang tidak memuaskan. Persentase masyarakat Sumatera Utara yang tidak lulus SD justru meningkat dari 13,6% menjadi 16,8% pada tahun 2006/2007. Kondisi ini bermakna bahwa usaha perbaikan pendidikan masyarakat diperingkat level yang paling bawah perlu lebih serius dan sungguh-sungguh.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

178

Tingkat Pendidikan Masyarakat
35,0 30,0 Persen 25,0 20,0 15,0 10,0 5,0 0,0
Tidak Sekolah / belum tamat SD Tamat SD Tamat SMTP Tamat SMTA Diploma Sarjana 2003 15,6 28,8 24,0 27,1 2,3 2,2 2004 15,6 28,8 24,0 27,1 2,3 2,2 2005 13,6 29,2 26,0 26,0 2,5 2,7 2006 16,8 25,3 21,5 30,6 2,5 3,4

87

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.13.5 Tingkat Pendidikan Masyarakat Sumatera Utara Selain kondisi di atas, kondisi pembangunan dunia pendidikan di Sumatera Utara dapat juga dilihat dari segi tingkat pendidikan keseluruhan guru. Dalam bidang ini telah terjadi pergeseran ke arah yang lebih baik. Keberhasilan yang paling signifikan adalah perubahan jumlah guru yang berbendidikan SMP karena pada tahun 2004 angka statistiknya menunjukkan sebanyak 6.605 orang namun pada tahun 2006/2007 jumlah ini menurun drastis menjadi 87 orang saja. Dari gambar grafik 4.13.5 terlihat bahwa para guru-guru ini telah berhasil meningkat status pendidikan mereka dari SMP menjadi SMA ditandai dengan peningkatan drastik jumlah guru berpendidikan SMA pada tahun 2006/2007. Peningkatan yang lain juga terjadi untuk guru-guru yang berpendidikan sarjana dimana untuk tahun 2004 jumlah guru yang berpendidikan sarjana sebanyak 4.770 orang kemudian meningkat menjadi 10,297 orang pada tahun 2006/2007.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

179

Tingkat Pendidikan Guru di Sumut
70.000 40.000 35.000 30.000 25.000 40.000 20.000 30.000 15.000 20.000 10.000 5.000 -

60.000

50.000

10.000

SLTP SLTA D4 S1

2001 6.676 59.950 35.262 3.348

2002 6.765 60.410 5.119 3.663

2003 6.480 53.548 9.147 2.449

2004 6.605 50.780 9.847 4.770

2005 87 62.976 6.084 10.297

2006 87 62.976 6.084 10.297

92

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.13.6 Tingkat Pendidikan Guru di Sumatera Utara Jika pencapaian lainnya dilihat dari sudut pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, Propinsi Sumatera Utara juga telah memperoleh kemajuan. Penambahan berbagai fasilitas dan sarana pendidikan terjadi diberbagai daerah kabupaten/kota. Penambahan yang terjadi antara lain jumlah bangunan SD, SMK dan sebagainya walaupun untuk sarana pendidikan SMA mengalami fluktuasi yang cukup signifikan. Penambahan atau perubahan berbagai sarana ini dapat dilihat dari peningkatan jumlah sekolah SD, SMP dan SMK seperti ditunjukkan dalam Grafik 4.XIII.6.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

180

Jumlah Sekolah di Sumut
12.000 1.400

10.000

1.200

1.000 8.000 800 6.000 600 4.000 400 2.000

200

SD SLTP SMU SMK

2000 9.714 1.836 1.309 489

2001 9.714 1.836 1.309 489

2002 9.343 1.699 665 532

2003 9.309 1.775 803 564

2004 9.436 1.876 843 575

2005 9.594 1.818 784 585

2006 9.691 1.844 1.237 569

-

88

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.13.7 Jumlah Sekolah di Sumatera Utara Indikator pencapaian pembangunan pendidikan dapat juga dilihat dari perkembangan rasio guru per sekolah. Dalam hal ini Propinsi Sumatera Utara terlihat menghadapi masalah karena rasio guru dengan sekolah semakin menurun yang bermakna tugas dan tanggung jawab guru semakin luas dan berat berbanding tahun-tahun sebelumnya. Untuk tahun 2006/2007, rasio guru dengan sekolah SD 21,96 sedangkan pada tahun 2004 rasio ini sebanyak 23,80. Untuk sekolah SMP rasio guru ini adalah 14,53 pada tahun 2006/2007 sedangkan pada tahun 2004 adalah 15,10. Rasio-rasio guru untuk setiap tingkatan sekolah ini dapat dihimpun dalam bentuk Tabel 4.13.3 berikut: Tabel 4.13.4 Rasio Guru Per Sekolah di Sumatera Utara Sekolah SD SMP SMA 2004 23,80 15,10 19,40 2006/2007 21,96 14,53 13,50

Selain dari berbagai indikator di atas, keberhasilan pembangunan pendidikan di Sumatera Utara dapat juga dilihat dari peningkatan jumlah mahasiswa yang masuk keberbagai institusi Perguruan Tinggi Negeri. Jumlah mahasiswa pada 2 PTN umum (USU dan UNIMED) menunjukkan tren yang semakin meningkat
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 181

walaupun tren tersebut relatif perlahan. Jumlah mahasiswa USU tahun 2004 adalah 27.434 orang kemudian meningkat menjadi 29.675 orang pada tahun 2006/2007. Mahasiswa UNIMED pula untuk tahun 2004 berjumlah 18.411 orang kemudian meningkat menjadi 19.807 pada tahun 2006/ 2007. Sedangkan mahasiswa IAIN menunjukkan tren yang meningkat perlahan sejak tahun 2004 setelah mengalami berbagai fluktuasi yang signifikan beberapa tahun sebelumnya. Gambaran perubahan jumlah mahasiswa PTN di Sumatera Utara ini dapat dilihat pada Grafik 4.13.8.

Jumlah Mahasiswa PTN di Sumut
35.000 30.000 25.000 20.000 5.500 15.000 10.000 5.000 2000 UNIMED USU IAIN 11.568 23.634 4.844 2001 15.263 25.918 4.370 2002 17.640 27.451 4.580 2003 18.543 28.662 4.289 2004 18.411 27.434 4.892 2005 19.240 29.141 5.031 2006 19.807 29.674 5.113 5.000 4.500 4.000 7.000 6.500 6.000

UNIMED
Sumber : Badan Pusat Statistik

USU

IAIN

94

Grafik 4.13.8 Jumlah Mahasiswa PTN di Sumatera Utara VI. Tindak Lanjut Berdasarkan kepada kondisi pencapaian yang dilihat dari beberapa aspek indikator di atas, maka banyak kebijakan yang perlu dilakukan sebagai tindak lanjut untuk masa yang akan datang. Antara lain perlu adanya kebijakan yang yang berterusan kearah peningkatan dan pemerataan pendidikan bagi anak usia dini (TK) dengan mutu yang lebih baik dan konprehensip. Demikian juga untuk tingkat SD, SMP, SMA dan Perguruan Tinggi. Kebijakan dimaksud tidak hanya terbatas pada pendidikan umum saja tetapi termasuk kejuruan baik formal maupun informal. Kebijakan dan berbagai fasilitas yang sesuai juga perlu ditengahkan lebih luas terutama untuk kepentingan orang miskin, orang cacat serta masyarakat terpencil sehingga hak untuk memperoleh pendidikan lebih merata tidak hanya dari sudut geografi tetapi juga dari sudut pandang gender.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 182

Peningkatan kualitas dan kuantitas sarana dan prasarana pendidikan harus tetap menjadi salah satu prioritas pembangunan daerah Sumatera Utara sehingga rasio murid dengan berbagai fasilitas yang ada tetap selaras. Peningkatan ini juga harus diikuti dengan usaha peningkatan kualitas guru dan dosen dengan tidak menyampingan hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan hidup mereka. Hasil pendidikan yang optimal akan terwujud melalui keberhasilan pembentukan kerja sama antara berbagai instansi lokal, nasional maupun internasional.

VII Penutup Pendidikan merupakan hak azasi manusia sehingga pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas pendidikan tersebut secara maksimal dan merata. Di samping itu, pendidikan merupakan faktor penentu kepada peningkatan kwalitas sumber daya manusia sehingga wajar jika hal ini mendapat prioritas dan perhatian yang serius. Semua pihak harus menyokong dan ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan pendidikan ini karena tugas dan tanggung jawab tersebut tidak sepenuhnya berada dipundak pemerintah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

183

Bab 4.14. Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Layanan Kesehatan Yang Lebih Berkualitas I. Pengantar Undang-undang Dasar 1945 Pasal Pasal 28H dan Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan merupakan dasar dan landasan dalam pelaksanaan pembangunan bidang kesehatan di Indonesia. Seperti mana bidang pendidikan, pembangunan bidang kesehatan juga merupakan satu bentuk investasi kearah mencapai kondisi sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Dalam Indeks Pembangunan Manusia faktor kesehatan masyarakat merupakan salah satu komponen yang sangat menentukan nilai indeks tersebut sehingga harus mendapat perhatian dan penangangan yang serius dari semua pihak yang terkait karena kesehatan merupakan hak dasar semua lapisan masyarakat tanpa kecuali. Pembangunan dalam bidang kesehatan akan mendukung keberhasilan pembangunan negara secara keseluruhan sehingga pembangunan bidang kesehatan ini tidak hanya terbatas pada pembangunan sarana dan prasarana kesehatan tetapi termasuk berbagai kebijakan yang bertujuan membangunan dan mengubah persepsi masyarakat untuk hidup sehat. Selain itu, perubahan sosial yang dinamik baik diperingkat lokal, nasional maupun internasional merupakan satu tantangan yang besar bagi semua pihak khususnya pemerintah untuk melakukan berbagai kebijakan dan pendekatan pembangunan kesehatan yang sesuai dan relevan. II. Kondisi Awal 2004 Kondisi awal (2004) tentang kesehatan masyarakat Sumatera Utara dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Misalnya tingkat kesakitan masyarakat Sumatera Utara relatif tinggi iaitu 16,0% walaupun pada tahun 2005 angka ini berhasil diturunkan menjadi 15,5%. Penurunan ini menunjukkan adanya upaya pemerintah dan masyarakat untuk meningkat taraf kesehatan ke arah yang lebih baik dalam periode yang singkat iaitu hanya setahun. Dari sudut pandang lainnya, angka kematian bayi di Sumatera Utara pada tahun 2004 mencapai 36 per seribu kelahiran hidup dan pada tahun 2005 menjadi 35,5 per seribu kelahiran hidup. Demikian juga dengan angka kematian ibu telah dapat diturunkan dari 345 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2004 menjadi 330 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2005. Usia Harapan Hidup pula rata-rata 68,2 tahun. Gambaran awal kondisi kesehatan masyarakat ini tidak dapat dipisahkan dari berbagai sarana dan prasarana kesehatan yang dimiliki baik oleh pemerintah maupun pihak swasta diberbagai daerah di seluruh Sumatera Utara. Ketersediaan sarana dan prasarana kesehatan dalam jumlah dan kualitas yang layak akan memberikan kenyamanan pelayanan kesehatan bagi semua lapisan masyarakat termasuk di daerah
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 184

terpencil. Berbagai kondisi sarana dan prasarana kesehatan di Sumatera Utara dapat dilihat dalam Tabel 4.14.1. Tabel 4.14.1 Statistik Sarana Kesehatan di Sumatera Utara Sarana RSU (Pemerintah) RSU (Swasta) Puskesmas Puskesmas Pembantu Balai Pengobatan Umum Posyandu Sumber: BPS Sumatera Utara Tabel di atas menunjukkan jumlah sarana kesehatan di Sumatera Utara berupa Rumah Sakit Umum milik pemerintah, Rumah Sakit Umum milik swasta, Puskesmas, Puskesmas Pembantu dan lain-lain. Pada tahun 2004 RSU milik pemerintah sebanyak 34 unit dengan kapasitas tempat tidur 3.930 sedangkan RSU Swasta sebanyak 93 unit dengan kapasitas tempat tidur 6.835. Dari data ini dapat diketahui bahwa pihak swasta sangat signifikan dalam memberikan fasilitas kesehatan kepada masyarakat Sumatera Utara. Dari data yang ada pula dapat diketahui bahwa pada tahun 2004 masih ada dua daerah Kabupaten yang belum mempunyai RSU milik pemerintah iaitu Kabupaten Serdang Bedagai dan Kabupaten Pakpak Bharat. Pada tahun yang sama, RSU milik swasta pula belum ada di 10 Kabupaten/Kota antara lain di Nias, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Sibolga, Humbang Hasundutan dan lain-lain. Di samping itu, penyebaran keseluruhan sarana RSU milik pemerintah dan swasta ini sangat tidak merata karena dari 34 RSU milik Pemerintah yang ada, sebanyak 6 unit (17,6%) diantaranya berada di Medan sedangkan dari 93 unit RSU milik Swasta, sebanyak 41 unit (44%) juga berada di Medan. Dari segi jumlah dokter, pada tahun 2004 Sumatera Utara mempunyai 1,207 Dokter Umum, 534 Dokter Gigi, dan 383 Dokter Spesialis. Seperti penyebaran sarana kesetahan di atas, penyebaran tenaga dokter ini juga tidak merata karena paling banyak bertumpu pada Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Khusus unutuk Dokter Gigi, beberapa kabupaten hanya memiliki satu atau dua Dokter Gigi saja seperti Kabupaten Samosir dan Nias Selatan hanya memiliki satu saja sedangkan Kabupaten Humbang Hasundutan dan Pakpak Bharat masing-masing dua orang. Tabel 4.14.2 menunjukkan statistik Dokter di Sumatera Utara secara umum untu bebarapa tahun sampai tahun 2004. 2002 30 141 408 1789 495 17243 2003 04 32 149 428 1689 765 16852 34 93 437 1808 765 14640 20

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

185

Tahun 2004 2003 2002

Tabel 4.14.2 Jumlah Dokter di Sumatera Utara Dokter Dokter Dokter Umum Gigi Spesialis 1207 532 383 1039 442 426 1020 467 630

Jumlah 2122 1907 2117

Tabel 4.14.2 di atas menunjukkan jumlah Dokter Umum dan Dokter Gigi yang bertambah secara perlahan namun untuk Dokter Spesialis menunjukkan tren yang berfluktuasi. Eksistensi dan pelayanan kesehatan yang diberikan para dokter ini harus dibantu dan didukung oleh tenaga medis lainnya seperti bidan dan perawat. Di Sumatera Utara, dua Kabupaten yang memiliki jumlah bidan paling banyak adalah Kabupaten Deli Serdang dan Karo sedangkan dua Kabupaten yang paling sedikit adalah Pakpak Bharat dan Samosir. Diagram 4.14.1 di bawah ini menunjukkan perbandingan jumlah dokter, bidan dan perawat di Sumatera Utara untuk tahun 2004.

Grafik 4.14.1 Jumlah Dokter, Bidan dan Perawat di Sumatera Utara 2004

Selain indikator-indiktor di atas, pencapaian pembangunan bidang kesehatan di Sumatera Utara dapat juga dilihat dari keberadaan sarana lainnya seperti jumlah apotik dan tenaga apoteker. Sarana apotik merupakan ujung tombak dalam pendistribusian obat-obatan bagi masyarakat sehingga ia harus tersedia dalam jumlah
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 186

yang cukup dan relatif merata sehingga masyarakat mendapatkan kemudahan kesehatan yang memadai. Data tentang sarana apotik di Sumatera Utara menunjukkan tren yang terus bertambah dalam beberapa tahun sampai tahun 2004. Namun sebaliknya, jumlah tenaga apoteker yang tersedia dan melayani masyarakat Sumatera Utara semakin sedikit sedangkan jumlah sarjana lain yang bertugas dalam bidang kesehatan ini melonjak secara dratis. Kondisi ini ditunjukkan dalam bentuk Grafik 4.14.2.

Grafik 4.14.2 Perkembangan Jumlah Apotik Umum. Apoteker dan Sarjana Lainnya

III. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang Kesehatan tahun 2006-2009 adalah 1) Meningkatnya upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan; 2) meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dan status gizi; 3) Meningkatnya upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, utamanya bagi penduduk miskin melalui pemberian subsidi terhadap pelayanan kesehatan dasar dan rujukan serta upaya jaminan pemeliharaan kesehatan; 4) Meningkatnya upaya pencegahan dan penyembuhan akibat penyakit, terutama untuk penurunan angka kematian ibu menjadi
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 187

315 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2006 dan angka kematian bayi pada tahun 2006 sebesar 25,72 per seribu kelahiran hidup dan tahun 2009 diharapkan angka kematian ibu sebesar 260 per seratus ribu kelahiran hidup sedangkan angka kematian bayi sebesar 22,49 jiwa per seribu kelahiran hidup, serta penurunan angka kesakitan berbagai penyakit pada tahun 2006 mencapai 17,00 persen dan pada tahun 2009 diharapkan semakin menurun mencapai 15,00 persen; 5). Meningkatnya Usia Harapan Hidup pada tahun 2006 diharapkan mencapai 70,86 tahun, dan pada tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 71,79 tahun; 6) Meningkatnya upaya lingkungan sehat di kawasan pariwisata, industri, perumahan dan permukiman, serta perbaikan sarana sanitasi dasar untuk permukiman kumuh dan keluarga miskin di perkotaan maupun di perdesaan; 7) Meningkatnya kualitas, keterjangkauan dan pemerataan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana/konflik serta masyarakat pekerja; 8) Meningkatnya upaya dan kecepatan penanggulangan masalah kesehatan akibat terjadinya wabah, Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana; 9) Meningkatnya upaya pemerataan dan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan; 10) Meningkatnya perumusan kebijakan/program pembangunan kesehatan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan; 11) Meningkatnya upaya penyediaan dan pemanfaatan obat, obat tradisional, terutama obat asli Indonesia, kosmetik, produk komplemen, produk pangan dan alat kesehatan yang berkualitas serta terjamin keamanan produk tersebut yang beredar; 12) Terjaminnya mutu, keamanan dan khasiat/kemanfaatan produk terapetik/obat, obat tradisional, kosmetik, perbekalan kesehatan rumah tangga, produk komplemen dan produk pangan yang beredar. Serta tercegahnya masyarakat dari penyalahgunaan dan penggunaan obat keras, narkotika, psikotropika, precursor, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya; 13) Dimanfaatkannya tanaman obat Indonesia sebagai produk obat bahan alam bermutu tinggi dalam pelayanan kesehatan masyarakat;

VI. Arah Kebijakan 1. Meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya arti hidup sehat; 2. Peningkatan upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan melalui pengembangan media dan forum KIE, peningkatan jejaring dan kemitraan pihak lintas sektor, swasta dan lembaga swadaya masyarakat (LSM), serta peningkatan upaya kesehatan bersumber masyarakat serta gerakan generasi muda; 3. Peningkatan upaya pemeliharaan, perlindungan/kesehatan/keselamatan kerja, dalam rangka peningkatan status kesehatan dan status gizi melalui upaya perbaikan dan peningkatan gizi; peningkatan kebugaran dan kesehatan jiwa; peningkatan keselamatan dan keamanan terutama keluarga miskin dan kelompok rentan;

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

188

4. Peningkatan upaya pencegahan dan penyembuhan penyakit melalui penemuan kasus, imunisasi, surveilens, penatalaksanaan, pengobatan dan pengurangan dampak penyakit, terutama untuk percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi; 5. Peningkatan upaya lingkungan sehat di kawasan pariwisata, industri, perumahan dan permukiman serta perbaikan sarana sanitasi dasar untuk permukiman kumuh dan keluarga miskin di perkotaan maupun di perdesaan melalui surveilens epidemiologi, peningkatan sistem kewaspadaan dini, peningkatan lingkungan sehat dan upaya pengendalian faktor resiko; 6. Peningkatan kualitas, keterjangkauan, dan pemerataan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana dengan memperhatikan kesetaraan dan keadilan gender melalui pelaksanaan program prioritas nasional yang disesuaikan dengan masalah dan ketersediaan sumber daya lokal; peningkatan kegiatan luar gedung; peningkatan advokasi, sosialisasi dan informasi kesehatan; pengembangan dan pemenuhan sumber daya; 7. Peningkatan upaya dan kecepatan penanggulangan masalah kesehatan akibat terjadinya wabah, Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana melalui pengembangan sistem kewaspadaan dini, pemetaan, dan pengembangan model pelayanan kesehatan; 8. Peningkatan upaya pemerataan dan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan melalui pendayagunaan dan peningkatan daya saing tenaga kesehatan serta memberikan pelayanan kepegawaian yang prima; 9. Peningkatan perumusan kebijakan/program pembangunan kesehatan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan melalui regulasi sistem dan pengaturan penelitian dan pengembangan kesehatan yang didukung oleh manajemen SDM dan sarana serta prasarana penelitian dan pengembangan kesehatan; 10. Peningkatan upaya penyediaan dan pemanfaatan obat esensial termasuk obat-obatan jangka panjang yang tidak terjangkau oleh daya beli masyarakat dan obat-obatan langka (orphan drugs) melalui penyediaan obat generik esensial dan sangat esensial di unit-unit pelayanan kesehatan dasar terutama untuk pelayanan kesehatan bagi keluarga miskin; 12. Menjamin mutu, keamanan dan khasiat/kemanfaatan produk terapetik/obat, obat tradisional, kosmetik, produk komplemen, dan produk pangan yang beredar, serta mencegah masyarakat dari penyalahgunaan dan penggunaan obat keras, narkotika, psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

189

VI Pencapaian 2004-2007 Pencapaian pembangunan dalam bidang kesehatan di Sumatera Utara dapat dilihat dari beberá aspek. Misalnya dari segi jumlah sarana Rumah Sakit Umum baik milik Pmerintah maupun Rumah Sakit Umum milik swasta. Berbanding tahun 2004, jumlah sarana kesehatan berupa Rumah Sakit Umum Swasta bertambah dari 93 unit menjadi 102 unit atau naik 8,6%. Namun sebaliknya untu Rumah Sakit Umum milik Pemerintah justru berkurang dari 34 unit tahun 2004 menjadi 29 unit tahun 2006/2007 atau berkurang 15%. Pengurangan RSU milik pemerintah ini terjadi di kota Medan, Sibolga dan Pematang Siantar. Namun demikian, ada juga beberapa Kabupaten yang sebelumnya tidak mempunyai RSU kemudian berhasil mendirikan RSU baru milik pemerintah seperti Kabupaten Serdang Bedagai dan Pakpak Baharat. Untuk RSU swasta, pertambahan yang paling banyak terjadi di Kota Medan dan di Kabupaten Deli Serdang masing-masing 10 dan 3 unit. Perbandingan sarana RSU milik pemerintah dan RSU swasta untu beberapa tahun sehingga tahun 2006/2007 dapat dilihat dalam bentuk Grafik 4.14.3.

Jumlah Rumah Sakit di Sumut
80 141 141 143 93 40 26 20 83 30 30 32 34 29 29 102 102 160 140 120 100 80 60 40 20 0 2000 2001 2002 2003 Pemerintah
Sumber : Badan Pusat Statistik

60

0 2004 Swasta 2005 2006
97

Grafik 4.14.3 Sarana Rumah Sakit Umum di Sumatera Utara Penurunan jumlah RSU milik pemerintah ini dengan sendiri akan mempersulit masyarakat dalam memperoleh pelayanan kesehatan yang relatif murah terutama bagi kalangan masyarakat ekonomi lemah.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 190

Mengingat pertambahan jumlah penduduk Sumatera Utara yang semakin banyak maka sarana RSU pemerintah ini semsetinya semakin banyak sehingga sasaran peningkatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat dapat terwujud. Penurunan RSU milik pmerintah di satu sisi dan pertambahan RSU swasta di sisi lain tidak akan menguntungkan terutama bagi masyarakat golongan lemah karena mereka akan menanggung biaya jasa pelayanan kesehatan yang relatif lebih mahal berbanding jika jasa tersebut mereka dapatkan dari RSU pemerintah. Tidak berlebihan jika hal ini dianggap sebagai satu kemundurun yang perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah terutama Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Jika data yang ada dianalisis lebih detail, maka beberapa Kabupaten ternyata tidak berhasil membangun sarana kesehatan yang baru berupa RSU atau tidak berhasil menambah sarana kesehatan yang telah ada selama tiga tahun (2004-2006/2007) terakhir. Disamping itu, ada Kabupaten yang mengalami penurunan jumlah RSU swasta yang cukup signifikan (50%) dari 6 unit menjadi 3 unit. Penurunan yang signifikan ini terjadi di Kabupaten Labuhan Batu. Keadaan ini tentunya akan sangat berpengaruh bagi masyarakat setempat untuk mendapatkan fasilitas layanan kesehatan. Jika gambaran kondisi statistik sarana kesehatan ini dilihat lebih jauh termasuk Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu sampai ke Balai Penguban Umum, maka diketahui bahwa peningkatan yang singnifikan hanya terjadi untuk sarana Balai Pengobatan Umum. Saran Kesehatan berupa Balai Pengobatan Umum ini menunjukkan tren pertambahan sejak tahun 2003 sehingga tahun 2006/2007. Sedangkan untuk Posyandu menunjukkan tren yang realtif stabil sejak tahun 2003 setelah mengalami penurunan yang drastis pada tahun sebelumnya (2002). Grafik 4.14.3 menunjukkan perubahan kondisi berbagai sarana kesehatan ini selain RSU sehingga tahun 2006/2007.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

191

Kategori Pusat Kesehatan Masyarakat di Sumut
2.500 20.000

2.000 15.000 1.500 10.000 1.000 5.000 500

Puskesmas Pukes.Pembantu Posyandu BPU

2000 409 1.856 16.162 640

2001 408 1.789 17.243 599

2002 408 1.789 17.243 495

2003 430 1.698 12.981 765

2004 437 1.872 12.618 765

2005 449 1.917 13.011 886

2006 449 1.937 13.011 888

-

96

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.14.4 Eksistensi Pusat Kesehatan Masyarakat di Sumatera Utara Indikator keberhasilan pembangunan dalam bidang kesehatan ini dapat juga dilihat dari segi peningkatan jumlah tenaga medis yang memberikan pelayanan kepada masyarakat Sumatera Utara. Jumlah tenaga medis ini harus meningkat sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk agar rasio tenaga medis dengan masyarakat tetap sesuai sehingga pelayanan yang terima masyarakat relatif baik dan memuaskan. Dari data terakhir, jumlah tenaga medis yang ada di Sumatera Utara mengalami kenaikan seperti ditunjukkan dalam Grafik 4.14.4 dan Grafik 4.14.5.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

192

2006 2005 2004 2003 0 500 1000 1500 1812 1643 2000

2261 2181

2500

Jumlah Dokter

Grafik 4.14.5 Pertambahan Dokter di Sumatera Utara

Kategori Dokter di Sumatera Utara (orang)
1.500 1.018 1.301 1.328

937 1.000

500

399 307

411 383

475 405

510

423

2003
Sumber : Badan Pusat Statistik

2004
DOKTER UMUM DOKTER GIGI

2005
DOKTER SPESIALIS

2006
99

Grafik 4.14.6 Pertambahan Dokter di Sumatera Utara Berdasarkan Klasifikasi

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

193

Data dan grafik di atas menunjukkan bahwa untuk semua kategori Dokter yang ada mengalami peningkatan sehingga secara teori pelayanan yang kesehatan yang diterima masyarakat tentunya akan semakin baik. Dari tiga kategori Dokter yang ada, peningkatan jumlah Dokter Gigi terlihat relatif paling baik. Peningkatan ini tentunya akan lebih baik lagi jika tenaga medis lainnya seperti Bidan, Perawat dan lain-lainnya juga meningkat. Namun berdasarkan data yang ada jumlah Perawat di Sumatera Utara hanya meningkat dalam jumlah yang sangat sedikit yaitu 171 orang atau naik 2,1% saja. Sebaliknya untuk tenaga Bidan ternyata berkurang sangat signifikan dari 10.246 orang pada tahun 2004 menjadi 6.410 orang pada tahun 2006/2007 atau berkurang sebanyak 37,4%. Kondisi ini tentunya akan berpengaruh buruk terhadap pelayanan kesehatan terutama bagi kalangan ibu dan anak-anak. Perubahan ini lebih jelas dapat dilihat dalam Grafik 4.XIV.6.

Grafik 4.14.7 Jumlah Bidan dan Perawat di Sumatera Utara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

194

Jumlah Apotik dan Apoteker
600 506 500 400 300 200 100 0 438 343 540 511 520 544 498 504

492

2002
Sumber : Badan Pusat Statistik

2003

2004
Apotik Apoteker

2005

2006
101

Grafik 4.14.8 Jumlah Apotik dan Apoteker di Sumatera Utara Selain indikator-indikator di atas, perkembangan jumlah sarana apotik dan tenaga apoteker dapat juga dilihat untuk menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan di Sumatera Utara. Kondisi ini ditunjukkan dalam Grafik 4.XIV.7. Data dan Gambaran grafik menunjukkan bahwa berbanding tahun 20004, jumlah sarana apotik dan tenaga apoteker bertambah walaupun pertambahan tersebut tidak terlalu signifikan. Hal ini bermakna bahwa sarana pendistribusian obat-obatan ketengah masyarakat semakin banyak dan petugas yang bertanggung jawab dalam penangangannya juga bertambah. Namun demikian, tingkat pertambahan kedua hal ini harus tetap mendapat perhatian dari pemerintah atau instansi terkait agar pertambahan tersebut tetap sebanding dengan pertambahan jumlah penduduk sehingga rasionya tetap baik.

VI Tindak Lanjut Seperti mana dalam pembangunan bidang pendidikan, penangangan masalah kesehatan menjadi tanggung jawab pemerintah bersama masyarakat. Dalam konteks pembangunan kesehatan di Sumatera Utara, berberapa hal yang perlu dilakukan sebagai tindak lanjut pembangunan adalah antara lain:

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

195

• Menambah berbagai sarana kesehatan yang berkualitas baik secara merata dan seimbang dengan pelayanan tenaga medis yang cukup, profesional dan bersahabat. • Menyusun dan melaksanakan program promosi kesehatan yang memberdayakan semua pihak baik individu, kelompok, maupun swasta sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan dan dapat membina sikap, perilaku dan budaya sehat untuk semua jenis lingkungan. • Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan dalam semua aspek yang semakin merata serta terjangkau oleh segenap lapisan masyarakat sampai ke daerah pedesaan. • Melakukan kebijakan pengawasan terpadu terhadap peredaran obat dan makanan sehingga masyarakat terlindung dari berbagai bahaya dan penipuan. • Melakukan program penelitian dan pengembangan kesehatan dalam semua aspek seperti masalah kesadaran masyarakat, kondisi gizi keluarga, kondisi lingkungan, pemberantasan penyakit, produksi dan distribusi obat dan lain-lain. VII Penutup

Pembangunan bidang kesehatan akan mendukung keberhasilan pembangunan negara secara keseluruhan sehingga pembangunan kesehatan ini tidak hanya terbatas pada pembangunan sarana dan prasarana kesehatan tetapi termasuk berbagai kebijakan yang bertujuan membangun dan mengubah persepsi, sikap dan budaya masyarakat untuk hidup sehat. Keberhasilan pembangunan ini sangat ditentukan kesadaran, sikap dan perilaku masyarakat sehingga pendekatan dan kebijakan yang dilakukan harus meliputi semua aspek lingkungan baik lingkungan individu, keluarga, tempat kerja dan sebagainya. Kondisi ini memerlukan kordinasi dan keterlibatan berbagai pihak agar keberhasilan yang dicapai lebih cepat dan maksimal.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

196

Bab 4.15. Peningkatan Perlindungan dan Kesejahteraan Sosial I. Pengantar

Perlindungan dan kesejahteraan sosial merupakan satu bentuk hak azasi manusia yang harus diwujudkan dan diberikan oleh negara kepada seluruh rakyat. Hal ini telah diatur dan diamanatkan dalam UndangUndang Dasar 1945 sehingga pemerintah berkewajiban melaksanakannya secara maksimal. Perlindungan dan kesejahteraan sosial ini harus diwujudkan dalam berbagai bentuk untuk seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan suku, etnik, agama, keturunan dan lain-lain. Dalam hal ini, setiap individu atau warga negara mempunyai hak yang sama untuk mendapatkannya sehingga mereka terlindung dari berbagai bencana baik bencana alam maupun bencana sosial lainnya seperti kriminalitas, keterlantaran, kecacatan, fakir miskin, kecemburuan sosial dan masalah-masalah sosial lainnya seperti keterasingan dan keterbelakangan. Pembangunan peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial sebagai bagian integral dari pembangunan nasional akan semakin sulit selaras dengan perkembangan sosial masyarakat yang dinamik. Penyandang masalah kesejahteraan sosial dapat bertambah dan meluas sebagai akibat kemiskinan, konflik, bencana alam dan sebagainya. Kondisi dan masalah ini akan semakin berat jika berbagai masalah lain seperti penyalahgunaan narkotik, alkohol dan obat-obat terlarang lainnya tidak berhasil dikendalikan. Oleh karena itu, berbagai kebijakan dan pendekatan pembangunan harus terlaksana secara berterusan yang dapat menciptakan kemandirian, kesetiakawanan, gotong royong dan hidup layak berdasarkan nilainilai kemanusiaan. II Kondisi Awal 2004-2005 Kondisi awal berkaitan dengan perlindungan dan kesejahteraan masyarakat ini dapat dilihat dilihat berbagai unsur. Tahun 2004 jumlah anak terlantar di Sumatera Utara sebanyak 266.592 orang yang terdiri dari 64.740 orang balita dan 201.852 orang anak usia 6-18 tahun. Sedangkan jumlah lanjut usia terlantar sekitar 138.038 jiwa dan penyandang cacat sebanyak 60.676 orang. Jumlah fakir miskin yang belum tertangani mencapai 859.970 orang. Kondisi ini lebih berat lagi karena masih ada masalah lain seperti korban narkoba, tuna susila, korban kekerasan dan lain-lain. Perbandingan berbagai masalah ini dapat dilihat pada Tabel 4.XV.1

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

197

Tabel 4.15.1 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial Penyandang Masalah Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Jalanan Anak Jermal Anak Nakal Anak Korban Kekerasan Korban Narkotika Tuna Susila Penyandang Cacat Bekas Penderita Penyakit Kronis Sumber: BPS-SU 2004 Angka penyandang masalah kesejahteraan sosial dalam Tabel 1.15.1 di atas relatif sangat tinggi dan sebagian besar dialami oleh mereka yang masih dikategorikan sebagai anak. Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara maka semua pemerintah baik pemerintah pusat dan daerah berkewajiban menanggulanginya. Ketelantaran anak-anak, korban narkoba, tuna susila, penyandang cacat dan sebagainya harus mendapat pembelaan dan perlindungan yang cukup sehingga masa depan golongan ini lebih baik. Melihat tingginya jumlah anak-anak dan golongan lain yang menjadi penyandang masalah kesejahteraan ini, maka sarana dan prasarana sebagai penampungan, perlindungan dan pengembangan mereka seharusnya cukup dan memadai. Data 2004 menunjukkan bahwa Panti Asuhan milik pemerintah sebanyak 6 unit sedangkan pihak swasta memiliki sebanyak 81 atau rata-rata 3,2 unit per kabupaten/kota. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa perhatian pemerintah dalam hal ini relatif kurang memuskan. Data terperinci tentang Panti Asuhan ini dapat dilihat pada Grafik 4.15.1. 2004 64.740 266.592 4.525 524 17.877 189 1.316 3.678 60.676 6.259 426376

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

198

Grafik 4.15.1 Jumlah Panti Asuhan Di Sumatera Utara Masalah lain berkaitan dengan kesejahteraan sosial ini adalah relatif banyaknya masyarakat atau keluarga yang masih dalam tahap pra-sejahtera / sejahtera 1. Data tahun 2004 menunjukkan ada sebanyak 645.796 keluarga yang masih dalam kategori pra-sejahtera atau sejahtera 1. Berbanding tahun 2003 angka ini memang mengalami pe menurun sebanyak 20.503 keluarga namun keadaan ini menjadi beban berat bagi pemerintah untuk menanggulangi pada tahun-tahun mendatang. Gambaran keluarga pra-sejahtera atau sejahtera 1 ini dapat dilihat dalam Grafik 1.XV.2.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

199

Grafik 1.15.2 Jumlah Keluarga Pra-Sejahtera atau Sejahtera 1 III Sasaran

Sasaran yang ingin dicapai oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dalam pembangunan peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial ini adalah 1) Meningkatnya kualitas hidup penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) sehingga mampu melaksanakan fungsi sosialnya dengan baik; 2) Menurunnya jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS); 3) Terjaminnya bantuan sosial dan meningkatnya penanganan korban bencana alam dan sosial; 4) Meningkatnya kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial. VI Arah Kebijakan Pembangunan Kesejahteraan Sosial tahun 2006-2009, diarahkan pada upaya-upaya: 1. Peningkatan kualitas perlindungan, pelayanan, dan jaminan sosial, termasuk pengembangan sistem perlindungan sosial yang terpadu, yang mampu menjangkau seluruh masyarakat, terutama penyandang masalah kesejahteraan sosial; 2. Meningkatkan pemberdayaan fakir miskin, penyandang cacat, dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya; 3. Meningkatkan kualitas pelayanan dan rehabilitasi serta bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 200

4. Meningkatkan kualitas manajemen pelayanan kesejahteraan sosial dalam mendayagunakan sumbersumber kesejahteraan sosial; 5. Meningkatkan prakarsa dan peran aktif masyarakat termasuk masyarakat mampu, dunia usaha, perguruan tinggi, dan Ormas/LSM dalam penyelenggaraan pembangunan kesejahteraan sosial secara terpadu dan berkelanjutan; 6. Pengembangan tenaga pelayanan sosial dasar seperti tenaga pendidik, tenaga medis, dan pekerja sosial yang menunjang peningkatan jumlah, mutu dan kompetensi, serta penyebaran yang merata sesuai dengan kebutuhan. V. Pencapaian 2004-2007 Pencapaian Pemerintah Sumatera Utara dalam pembangunan peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial sampai tahun 2007 dapat dilihat dari berbagai aspek antara lain perkembangan penyandang masalah kesejahteraan sosial. pencapaian tahun 2007 berbanding tahun 2004. Tabel 4.15.2 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial 2007 Penyandang Masalah Balita Terlantar Anak Terlantar Anak Jalanan Anak Jermal Anak Nakal Anak Korban Kekerasan Korban Narkotika Wanita Rawan Sosial Ekonomi Wanita Korban Kekerasan Tuna Susila Penyandang Cacat Bekas Penderita Penyakit Kronis Sumber: BPS-SU 2004 Jika Tabel 1.15.2 di atas diperhatikan, dari 13 jenis penyandang masalah kesejahteraan ini, hanya tiga poin saja yang data berubah yaitu anak jermal, anak nakal dan penyandang cacat. Sedangkan sepuluh jenis lainnya tetap atau sama sekali tidak mengalami perubahan dari tahun 2004 ke 2007. Satu kondisi yang
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 201

Tabel 4.15.2 di bawah ini menunjukkan perbandingan

2004 64.740 266.592 4.525 524 17.877 189 1.316 45.316 233 3.678 60.676 6.259

2007

Kondisi Pencapaian

64.740 Tetap 266.592 Tetap 4.525 Tetap 554 Semakin Buruk 18.741 Semakin Buruk 189 Tetap 1.316 Tetap 45.316 Tetap 233 Tetap 3.678 Tetap 36.476 Semakin Baik 6.259 Tetap

menimbulkan pertanyaan. Penyandang masalah kesejahteraan untuk kategori anak jermal dan anak nakal terjadi peningkatan atau kondisinya semakin buruk. Semantara untuk penyandang cacat terjadi penurunan yang sangat drastik sebanyak 24.200 orang. Perubahan drastik ini sangat mengkagumkan, sekaligus Sumatera Utara dapat dijadikan percontohan penanganan masalah penyandang cacat sekiranya data tersebut benar dengan asumsi bahwa pada periode ini tidak pernah terjadi kematian massal penyandang cacat di Sumatera Utara. Indikator lain dalam pembangunan peningkatan perlindungan dan kesejahteraan sosial ini dapat dilihat dari pertambahan jumlah sarana panti asuhan bagai anak-anak yatim, terlantar dan sebagainya. Untuk jenis sarana ini, data yang ada menunjukkan tidak adanya perubahan sama sekali baik dari segi jumlah sarana maupun jumlah kapasitas. Data menunjukkan bahwa sama sekali tidak ada perubahan baik kapasitas penampungan panti asuhan maupun jumlah penghuni. Tidak ada pertambah maupun pengurangan anak yang diasuh oleh panti asuhan di seluruh Sumatera Utara. Selain indikator di atas, jumlah keluarga pra-sejahtera atau sejahtera 1 pula dapat dibandingkan antara kondisi tahun 2004 dengan kondisi tahun 2007. Tabel 4.15.3 menunjukkan perbandingan perkembangan yang terjadi.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

202

Tabel 4.15.3 Jumlah Keluarga Pra Sejahtera / Sejahtera 1 Menurut Kabupaten/Kota di Sumatera Utara Jumlah Keluarga Pra Kabupaten / Kota Sejahtera/Sejahtera 1 Keterangan Nias 2004 2007 Nias 71704 88565 Semakin Buruk Secara Kuantitas Mandailing Natal 27653 46196 Semakin Buruk Secara Kuantitas Tapanuli Selatan 34975 63733 Semakin Buruk Secara Kuantitas Tapanuli Tengah 14793 38241 Semakin Buruk Secara Kuantitas Tapanuli Utara 16403 28771 Semakin Buruk Secara Kuantitas Toba Samosir 8817 14048 Semakin Buruk Secara Kuantitas Labuhan Batu 34226 64947 Semakin Buruk Secara Kuantitas Asahan 39996 69528 Semakin Buruk Secara Kuantitas Simalungun 51189 71665 Semakin Buruk Secara Kuantitas Dairi 20216 34415 Semakin Buruk Secara Kuantitas Karo 10002 22046 Semakin Buruk Secara Kuantitas Deli Serdang 49848 98569 Semakin Buruk Secara Kuantitas Langkat 61058 98651 Semakin Buruk Secara Kuantitas Nias Selatan 48688 55631 Semakin Buruk Secara Kuantitas Humbang Hasundutan 10998 16924 Semakin Buruk Secara Kuantitas Pakpak Bharat 4168 6644 Semakin Buruk Secara Kuantitas Samosir 7589 14479 Semakin Buruk Secara Kuantitas Serdang Bedagai 28290 50925 Semakin Buruk Secara Kuantitas Batu Bara Na Na Na Sibolga 2932 9438 Semakin Buruk Secara Kuantitas Tanjung Balai 10671 16802 Semakin Buruk Secara Kuantitas Pematang Siantar 6718 13645 Semakin Buruk Secara Kuantitas Tebing Tinggi 4566 8152 Semakin Buruk Secara Kuantitas Medan 68670 113312 Semakin Buruk Secara Kuantitas Binjai 6438 12122 Semakin Buruk Secara Kuantitas Padang Sidimpuan 5188 12588 Semakin Buruk Secara Kuantitas TOTAL 645796 1070037 Semakin Buruk Secara Kuantitas

Berdasarkan Tabel 4.15.3 di atas, dapat diketahui bahwa Pemerintah Propinsi Sumatera Utara secara kuantitasnya belum berhasil meningkatkan taraf hidup masyarakat miskin secara umum. Semua kabupaten / kota menunjukkan peningkatan jumlah keluarga pra-sejahtera untuk tahun 2007 berbanding tahun 2004 secara kuantitas. Namun demikian disadari bahwa kesimpulan ini hanya dari sudut pandang kuantitasnya dan hal ini perlu kajian lebih dalam apakah keluarga prasejahtera 2004 tersebut masuk dalam jumlah yang ditunjukkan dalam angka 2007. Sekiranya masuk, maka program pemerintah tidak berhasil tetapi sekiranya tidak masuk dan data 2007 adalah keluarga prasejahtera yang baru maka program yang dijalankan berhasil.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

203

VI Tindak Lanjut Dari uraian di atas, beberapa tindak lanjut yang perlu dilakukan antara lain peningkatan kualitas perlindungan, pelayanan, dan jaminan sosial, termasuk pengembangan sistem perlindungan sosial yang terpadu sehingga mampu menjangkau seluruh masyarakat termasuk mereka yang tinggal di daerah terpencil. Selain itu upaya peningkatan pemberdayaan fakir miskin, penyandang cacat, dan penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) lainnya harus diteruskan dengan lebih melibatkan pihak yang semakin banyak agar sasaran keberhasilan dapat dicapai dalam tempoh yang lebih singkat. Kualitas pelayanan dan rehabilitasi serta bantuan dasar kesejahteraan sosial bagi penyandang masalah kesejahteraan sosial perlu ditingkatkan dan lebih terjamin sepanjang kelompok masyarakat ini belum benarbenar dapat dihapuskan.

VII Penutup Penanganan masalah kesejahteraan sosial ini bukan tugas yang mudah dan cepat berhasil. Oleh karena itu, semua instansi terkait dan lapisan masyarakat harus berperan aktif sesuai dengan fungsinya masingmasing. Pihak-pihak yang menangani masalah ini baik secara langsung maupun tidak langsung perlu menjalankan tugas dengan amanah dan harus dilihat sebagai pegabdian bukan saja kepada negara tetapi juga pengabdian pada agama karena hal ini menyangkut kesejahteraan masyarakat miskin dan lemah.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

204

Bab 4.16. Pembangunan Kependudukan dan Keluarga Kecil Berkualitas Serta Pemuda dan Olahraga I. Pengantar Pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas merupakan langkah penting dalam mencapai pembangunan berkelanjutan. Hal ini diselenggarakan melalui pengendalian kuantitas penduduk dan peningkatan kualitas insani dan sumber daya manusia secara keseluruhan dan merata. Proses pembangunan antara lain dilaksanakan melalui pengendalian pertumbuhan penduduk, pemantapan keluarga berencana melalui pengembangan kualitas penduduk. Sehubungan itu, aspek penataan administrasi kependudukan juga merupakan hal penting dalam mendukung perencanaan dan pelaksanaan pembangunan baik di tingkat daerah maupun secara nasional. Kependudukan juga menyangkut eksistensi pemuda. Para pemuda dilihat sebagai bagian dari penduduk dan merupakan aset pembangunan bangsa. Pernan pihak pemuda dalam pembangunan cukup signifikan dan luas terbukti dari pencapaian berbagai prestasi yang mengharumkan nama bangsa dan membawa bangsa relative sejajar dengan bangsa-bangsa lainnya. Oleh karena itu berbagai upaya menumbuhkan budaya olahr aga yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat menjadi aspek penting dalam peningkatan kualitas penduduk Indonesia secara keseluruhan. II. Kondisi Awal 2004-2005 Menurut Badan Pusat Statistik hasil Sensus Penduduk (SP) 2000, jumlah penduduk Sumatera Utara sebanyak 11,5 juta jiwa dengan luas wilayah 71.680 Km2 per segi. Jumlah penduduk tersebut bertambah menjadi sekitar 11,9 juta jiwa pada tahun 2003, dan pada tahun 2006 diperkirakan sebesar 12,6 juta jiwa serta pada tahun 2009 sebesar 13,0 juta jiwa dengan rata-rata laju pertumbuhan penduduk 1,20 persen. Dari jumlah ini, berdasarkan data tahun 2004 jumlah penduduk miskin di Sumatera Utara mencapai 1,8 juta jiwa atau sekitar 14,93 persen dari total jumlah penduduk. Tingkat kemiskinan ini mengalami penurunan baik secara absolut maupun relatif dari tahun 2003 yang mencapai 1,89 juta jiwa atau sekitar 15,89 persen dari total penduduk Sumatera Utara. Pada periode yang sama laju pertumbuhan penduduk Suamatera Utara masih tinggi sehingga berpengaruh kepada jumlah penduduk secara keseluruhan. Angka kelahiran total Total Fertility Rate (TFR) pada tahun 2005/2006 sebesar 2,78 rata-rata kelahiran Pasangan Usia Subur. Angka ini diharapkan akan semakin kecil pada tahun 2009 sebesar 2,40 rata-rata kelahiran Pasangan Usia Subur. Beberapa faktor yang dianggap sebagai penyebab kepada kondisi penduduk yang sedemikian ini antara lain kurangnya

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

205

pengetahuan dan kesadaran pasangan usia subur dan remaja tentang hak-hak reproduksi dan kesehatan reproduksi. Selain itu, di Sumatera Utara partisipasi kaum pria dalam ber-KB dianggap relative rendah di samping akses dan kualitas pelayanan KB yang sudah ada masih perlu dimaksimalkan. Lebih jauh dari itu administrasi kependudukan Sumatera Utara belum tertata secara maksimal dan memuaskan. Tabel 4.16.1 Banyaknya Pasangan Usia Subur dan Akseptro Aktif di Sumatera Utara Tahun 2002 2003 2004 PUS 1.745.604 1.760.576 1.786.746 Sumber: BPS-SU 2004 Di sisi lain, berbagai masalah sosial lainnya juga tidak dapat dipisahkan dengan golongan pemuda yaitu mereka berusia 15-35 tahun. Selain masalah angka putus sekolah yang memerlukan penanganan serius, masalah-masalah sosial lainnya seperti kriminalitas, premanisme, narkotika, psikotropika, zat adiktif (NAPZA) dan HIV/AIDS, seringkali tidak dapat dipisahkan dari masalah sosial kepemudaan. Di samping itu, rendahnya kemajuan pembangunan olahraga Sumatera Utara juga dapat dikatakan sebagai masalah kepemudaan. Dalam hal ini, beberapa kendala dan hambatan yang harus diatasi ialah rendahnya keinginan masyarakat untuk mengikuti olahraga prestasi, kualitas SDM pelatih yang masih rendah, belum terselenggaranya pola latihan terpadu, ketidakmampuan institusi keolahragaan untuk melakukan pembinaan berdasarkan sistem manajemen yang mantap dan sebagainya. III. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang Kependudukan dan Keluarga Berkualitas sehingga tahun 2009 di Sumatera Utara adalah: 1) Terlayaninya peserta KB aktif Pasangan Usia Subur (PUS) dan KB Baru serta terjadi peningkatan peserta KB pria; 2) Meningkatnya penggunan metode kontrasepsi yang efektif serta efisien; 3) Meningkatnya jumlah remaja yang mendapatkan informasi tentang Kesehatan Reproduksi: 4) Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan pertumbuhan kepribadian anak; 5) Meningkatnya jumlah keluarga Pra-Sejahtera dan Keluarga Sejahtera-I yang aktif dalam usaha ekonomi produktif; 6) Meningkatnya keserasian kebijakan kependudukan dalam rangka peningkatan kualitas, pengendalian pertumbuhan dan kuantitas, pengarahan mobilitas dan persebaran penduduk yang serasi dengan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan; 7) Mendorong peningkatan cakupan jumlah Kabupaten/Kota dalam pelaksanaan Sistem Informasi Administrasi Kependudukan; Akseptor Aktif 1.059.488 1.101.414 1.123.819 % Terhadap PUS 60,69 62,31 62,90 Akseptor Baru 197.235 195.574 191.747

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

206

Di sisi lainnya, sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang Pemuda dan Olah Raga tahun 2006-2009 adalah 1) Meningkatnya kualitas dan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan; 2) Meningkatnya kesehatan jasmani masyarakat dan prestasi olahraga; 3) Terciptanya budaya olahraga dan meningkatnya prestasi olah raga IV. Arah Kebijakan Pembangunan Bidang Kependudukan dan Keluarga Berkualitas Tahun 2006-2009 di Sumatera Utara, diarahkan pada upaya-upaya: 1. Peningkatan kualitas penduduk melalui pengendalian kelahiran dan memperkecil angka kematian; 2. Meningkatkan kualitas pelayanan KB dan Kesehatan Reproduksi bagi keluarga rentan, yaitu keluarga miskin pendidikan rendah, terpencil dan tidak terdaftar; 3. Meningkatkan akses pria terhadap informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi; 4. Meningkatkan pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan dan penumbuhkembangan anak serta peningkatan pendapatan keluarga; 5. Meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja dalam rangka menyiapkan kehidupan berkeluarga yang lebih baik, pendewasaan usia perkawinan; 6. Penguatan kelembagaan dan jaringan KB dalam meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam upaya pengendalian jumlah dan laju pertumbuhan penduduk; 7. Menata kebijakan persebaran dan mobilitas penduduk secara lebih seimbang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung lingkungan, melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi wilayah dan penataan kebijakan administrasi kependudukan. Sedangkan Pembangunan Pemuda dan Olah Raga, diarahkan pada upaya; 1. Peningkatan kualitas pemuda melalui peningkatan partisipasi pemuda di berbagai bidang pembangunan, serta pengembangan sikap keteladanan, kemandirian, akhlak mulia, dan disiplin dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. 2. Pembinaan olah raga untuk meningkatkan budaya olah raga, kesehatan jasmani dan mental masyarakat, membentuk watak dan kepribadian, disiplin dan sportivitas yang tinggi.

V. Pencapaian 2004-2007 Penanganan masalah kependudukan dan peningkatan keluarga kecil berkualitas merupakan satu tugas yang benar-benar harus mendapat dukungan dan kesadaran penuh dari masyarakat. Upaya-upaya Pemerintah tidak akan berhasil jika masyarakat luas tidak mendukung sepenuhnya dan dana yang
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 207

dibelanjakan tidak akan efektif. Keberhasilan penanganan masalah ini tidak sepenuhnya terletak pada kesungguhan dan keseriusan pelaksanaan program pembangunan dengan dana yang besar tetapi sangat bergantung pada kemauan dan kesadaran masyarakat untuk memperbaiki kualitas kehidupan mereka. Berkaitan dengan masalah ini, keberhasilan pencapaian Sumatera Utara dapat dinilai dari beberapa aspek yang relevan seperti tingkat angka kelahiran total (TFR), angka kematian bayi, peningkatan akseptor KB aktif, peningkatan akseptor baru, peningkatan angka harapan hidup dan sebagainya. Grafik 4.16.1 berikut menunjukkan pencapaian / keberhasilan pengendalian angka kelahiran tahun 2006 berbanding tahun 2004 dan target 2009. Tingkat kelahiran bayi di Sumatera Utara thun 2004 adalah 2,96% kemudian menurun 2,58% pada tahun 2006/2007 sedangkan target 2009 adalah 2.40%. Angka ini menunjukkan pergerakan menurun dan mengindikasikan keberhasilan pengendalian tingkat kelahiran.

Grafik 4.16.1 Angka Kelahiran Total dan Target 2009 Pencapaian lainnya dapat dilihat dari upaya penekanan terhadap tingkat kematian bayi. Data menunjukkan bahwa tingkat kematian bayi di Suamtera Utara untuk tahun 2004 adalah 36,7 kemudian turun menjadi 28,20 pada tahun 2006 sedangkan target 2009 adalah 22,49. Dalam hal ini ada tren penurunan angka kematian dan mendekati target 2009 yang menunjukkan keberhasilan uapaya yang dilaksanakan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara. Hal ini ditunjukkan dalam Grafik 4.XVI.2.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 208

Grafik 4.16.2. Angka Kematian Bayi Per 1000 Kelahiran dan Target 2009 Sasaran yang lain yang ingin dicapai Pemereintah adalah peningkatan Akseptor Baru. Tabel 4.16.2 menunjukkan perbandingan banyaknya akseptor aktif untuk berberapa tahun terakhir di Sumatera Utara. Data Tabel 4.16.2 menunjukkan penambahan akseptor baru mulai dari tahun 2003 sampai 2006. Tabel 416.2 Pasangan Usia Subur dan Akseptor Aktif di Sumatera Utara Hingga Tahun 2006 % Terhadap Tahun 2002 2003 2004 2005 2006 PUS 1.745.604 1.760.576 1.786.746 1.799.450 1.914.002 Akseptor Aktif 1.059.488 1.101.414 1.123.819 1.150.089 1.187.815 60,69 62,31 62,90 63,91 62,06 197.235 195.574 191.747 201.628 231.310 Upaya Kurang Berhasil Upaya Berhasil Upaya Berhasil Upaya Berhasil PUS Akseptor Baru Indikasi Perubahan Data

Sumber : BPS 2007

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

209

Berdasarkan data dalam Tabel 4.16.2 terlihat bahwa sejak tahun 2002 sehingga 2007/2007 persentase akseptor aktif terhadap PUS di Sumatera Utara terus meningkat keculai untuk tahun 2006. Walaupun peningkatan persentase ini tidak terlalu signifikan namun hal ini menunjukkan usaha pemerintah yang tetap berjalan. Akseptor baru pada tabel tersebut menurun secara berturut-turut mulai tahun 2002 sampai tahun 2004 namun meningkatkan signifikan untuk tahu 2005 dan 2006.

Grafik 4.16.1 Jumlah Klinik KB di Sumatera Utara Selain dari segi peserta akseptor, penilaian pencapaian dapat juga dilihat dari jumlah klinik keluarga berencana yang memberi pelayanan. Semakin banyak klinik ini maka akan semakin mudah masyarakat memdapatkan akses layanan dan akan berpengaruh kepada tingkat kelahiran. Grafik 4.16.1 menunjukkan perkembangan pertambahan klinik keluarga berencana di Sumatera Utara 4 tahun terakhir. Tahun 2005 jumlah klinik KB di Sumatera Utara berkurang drastis namun setahun berikutnya kembali bertambah signifikan. Pertambahan jumlah klinik KB ini merupakan jawaban kepada salah satu sasaran yang ditetapkan Pemerintah Propinsi Sumatera Utara berkaitan dengan peningkatan keluarga kecil berkualitas yaitu sasaran terlayaninya peserta KB aktif Pasangan Usia Subur (PUS) dan KB Baru.Selain indikator di atas, salah satu sasaran dalam RPJM Sumatera Utara adalah meningkatnya jumlah masyarakat pengguna metode kontrasepsi yang efektif serta efisien. Berdasarkan data yang ada, jumlah pengguna alat kontrasepsi ini menunjukkan peningkatan dan hal ini dapat dilihat pada grafik 4.XVI.2. Jumlah pemakai alat

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

210

kontrasepsi ini meningkat yakni 1.123.819 pada tahun 2004 menjadi 1.193.810 pada 2006/2007 atau terjadi peningkatan sebanyak 69.991 orang.

Indikator lain yang dapat dilihat berkaitan dengan peningkatan keluarga kecil berkualitas ini adalah peningkatan jumlah akseptor baru. Peningkatan akseptor baru ini merupakan satu sasaran yang ingin dicapai dalam RPJM Suamtera Utara. Akseptor baru untuk tahun 2006/2007 adalah 231.310 orang sedangkan pada tahun 2004 akseptor baru adalah 191.747 orang atau terjadi peningkatan sebanyak 39.563 orang atau 17,10%.

VI. Tindak Lanjut Berdasarkan kondisi beberapa pencapaian keberhasilan yang telah disebutkan di atas, beberapa hal yang perlu lebih mendapat perhatian untuk mencapai target RPJM yang lebih baik dan menyeluruh adalah berkaitan dengan: 1. Upaya peningkatan akses kaum pria terhadap informasi, pendidikan, konseling dan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi. 2. Upaya peningkatan pemberdayaan dan ketahanan keluarga dalam kemampuan pengasuhan, perlindungan dan penumbuhkembangan anak serta peningkatan pendapatan keluarga. 3. Meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi remaja dan pendewasaan usia perkawinan ke arah pembentukan keluarga yang lebih baik.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

211

VII. Penutup Upaya pembangunan kependudukan dan keluarga kecil berkualitas serta pemuda dan olahraga

merupakan satu program pembangunan yang relative berat karena memerlukan kesadran dan partisipasi yang tinggi dari semua lapisan masyarakat. Dalam hal ini, berbagai upaya yang telah dilakukan Pemerintah Propinsi Sumatera sehingga tahun 2006/2007 relatif menunjukkan keberhasilan dan menunjukkan tren ke arah pencapaian target RPJM Sumatera Utara 2009. Agar Target RPJM 2009 benar-benar dapat dicapai semua pihak perlu memberikan dukungan secara langsung maupun tidak langsung karena peningkatan kesejahteraan hidup masyarakat tidak semata-mata tanggungjawab pemerintah saja.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

212

Bab 4.17. Peningkatan Kualitas Kehidupan Beragama I. Pengantar

Agama sebagai pedoman hidup harus difahami dan dapat diamalkan secara baik oleh semua penganutnya secara bebas karena hal ini merupakan salah satu bentuk hak dasar. Oleh karena itu, pembangunan aspek agama merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu hak memeluk agama dan beribadat menurut keyakinan mereka masing-masing. Hak dasar ini diatur di dalam UUD 1945, Bab XI Pasal 29 (1) dan (2), yang menegaskan bahwa ”Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” dan ”Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu.” Pembangunan agama merupakan satu bentuk investasi kearah meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena kesejahteraan tersebut tidak hanya berdimensi materi atau zahiriyah saja tetapi juga berdimensi bathiniyah atau spiritual. Oleh karena itu pembangunan aspek agama harus ditujukan untuk pengembangan nilai-nilai keagaaman sehingga kerukunan hidup beragama dapat terwujud. Pembangunan aspek keagamaan ini juga akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kemajemukan yang ada. Keberhasilan pembangunan aspek agama ini pada akhirnya akan menunjang stabilitas nasional dengan terbinanya kerukunan, keharmonisan maupun tenggang rasa di kalangan sesama masyarakat. II. Kondisi Awal Kondisi awal pembangunan aspek keagamaan di Sumatera Utara dapat disimpulkan sebagai berikut; 1. Pendidikan agama belum dapat dilaksanakan secara optimal karena muatan kurikulum yang kurang komprehensif. 2. Sumatera Utara mengalami keterbatasan sarana dan prasarana dalam peningkatan kualitas hidup beragama. 3. Penguasaan materi dan metodologi pengajaran agama tergolong relatif lemah. 4. Jumlah dan mutu tenaga pendidik bidang agama belum memadai sehingga proses belajarmengajar belum optimal. III. Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang agama tahun 2006-2009 adalah: 1. Tertatanya sistem kelembagaan dalam pembangunan keagamaan; 2. Meningkatnya komunikasi dan hubungan antar umat beragama;
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 213

3. Tersedianya kurikulum agama yang komprehensif; 4. Tersedianya tenaga pendidik agama dalam jumlah yang memadai. IV. Arah Kebijakan Pembangunan bidang agama tahun 2006-2009 diarahkan kepada upaya-upaya: 1. Memfasilitasi peningkatan keimanan dan ketaqwaan melalui kerjasama dengan lembaga-lembaga keagamaan dan tokoh agama; 2. Memfasilitasi penyuluhan dan bimbingan hidup beragama bagi masyarakat; 3. Memfasilitasi peningkatan kualitas penyuluh, pembimbing, dan pemuka agama sebagai penggerak dinamisasi kehidupan beragama; 4. Meningkatkan pembinaan kerukunan dan toleransi ummat beragama melalui kerjasama antar pemimpin ummat beragama dan lembaga-lembaga keagamaan; 5. Peningkatan kualitas pelayanan kehidupan beragama; 6. Peningkatan kualitas penelitian dan pengembangan agama. V. Pencapaian 2004-2007 Salah satu arah kebijakan yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dalam pembangunan peningkatan kualitas hidup beragama ini adalah memfasilitasi peningkatan keimanan dan ketaqwaan masyarakat. Kebijakan yang tergolong dalam hal ini tentunya sangat banyak termasuk penanganan pelayanan ibadah haji, penanganan berbagai perkara dipengadilan agama, pembangunan rumah ibadah dan sebagainya. Pencapaian Suamtera Utara dalam upaya memfasilitasi peningkatan keimanan dan ketaqwaan dapat dilihat misalnya dalam pembangunan pertambahan rumah ibadah. Tabel menunjukkan peningkatan atau perkembangan statitik rumah ibadah di Sumatera Utara. Tabel 4.17.1 Perkembangan Rumah Ibadah di Sumatera Utara Tahun 2006 2005 2004 2003 Mesjid 9199 8328 8328 7319 Musalla 10325 5540 5540 5702 Gereja Potestan 9812 9812 10812 9912 Gereja Katolik 2092 2055 3040 2064 58 52 52 215 206 157 249 247 71 Na Na Na Kuil Vihara Cetiya 4.17.1

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

214

Dari Tabel 4.XVII.1 di atas, dapat diketahui bahwa sarana rumah ibadah di Sumatera Utara secara keseluruhan bertambah bahkan untuk tahun 2006 ada penambahan jenis rumah ibadah baru (Cetiya) yang belum pernah ada datanya pada tahun-tahun sebelumnya. Secara mudah mengindikasikan berlangsungnya kehidupan beragama yang harmonis baik sesama umat maupun antara umat. Selain upaya pembangunan sarana agama seperti di uraikan di atas untuk memfasilitasi peningkatakan keimanan di atas, pencapaian Pemerintah Propinsi Sumatera Utara dapat juga dilihat dari segi pelayanan dan penanganan jemaah haji Sumatera Utara. Dari segi kuantitasnya, jumlah jemaah haji di Sumatera Utara untuk beberapa tahun ternyata mengalami peningkatan yang bermakna Pemerintah Propinsi Sumatera Utara juga melakukan penanganan yang semakin luas dan memberikan layanan yang semakin banyak. Kondisi perkembangan jumlah haji ini dapat dilihat pada Grafik 4.XVII.1.

VI. Tindak Lanjut Pembangunan bidang keagamaan ini terus dilaksanakan oleh Pemerintah untuk meningkatkan ketaqwaan dan mewujudkan keharmonian masyarakat ditengah-tengah kemajemukan yang ada. Dalam hal ini sasaran-sasaran yang ditetapkan sebelumnya perlu lebih terukur sehingga relatif tidak terlalu kualitatif sehingga dapat diketahui tingkat keberhasilan sekarang berbanding target yang ada dalam RPJM. Upaya memfasilitasi peningkatan keimanan dan ketaqwaan melalui kerjasama antar
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

lembaga-lembaga
215

keagamaan yang terkait dan juga para tokoh agama diyakini akan lebih meningkatkan kerukunan dan keharmonisan masyarakat pada masa-masa yang akan datang. VII. Penutup Pada bagian I disebutkan bahwa pembangunan agama merupakan satu bentuk investasi kearah meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena kesejahteraan tersebut tidak hanya berdimensi materi atau zahiriyah saja tetapi juga berdimensi bathiniyah atau spiritual. Oleh karena itu berbagai upaya yang dilakukan pemerintah bertujuan untuk pengembangan nilai-nilai keagaaman sehingga kerukunan hidup beragama dapat terwujud. Keberhasilan upaya ini akan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kemajemukan masyarakat. Sejauh ini, upaya yang dilakukan Pemerintah Sumatera Utara dianggap selaras dengan apa yang dikehendaki dalam RPJM dan pencapaian yang ada cenderung mengarah pada pencapaian target.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

216

Bab 4.18. I.

Perbaikan Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Pelestarian Mutu Lingkungan Hidup

Pengantar

Berbagai jenis sumber daya alam yang ada, harus dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kemakmuran rakyat dengan tetap memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dengan kebijakan seperti ini, sumber daya alam memiliki peran ganda, pertama sebagai modal pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan kedua sebagai penopang sistem kehidupan (life support system). Sumber daya alam yang mempunyai fungsi ganda tersebut dengan sendirinya menuntut agar sumber daya alam tersebut senantiasa dikelola secara seimbang untuk menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development) di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat utama akan kelestariannya sehingga tetap menjadi pendorong investasi pembangunan jangka menengah (2004-2009). Sumber daya alam sangat berperan sebagai tulang punggung perekonomian nasional dan regional dan masih terus diandalkan untuk masa-masa yang akan datang. Sumber daya alam memberikan kontribusi yang signifikan kepada Produk Domestik Bruto. Misalnya, pada tahun 2002 hasil hutan, hasil laut, perikanan, pertambangan, dan pertanian memberikan kontribusi 24,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional dan menyerap 45 persen tenaga kerja dari total angkatan kerja yang ada. Kontribusi seperti ini juga terjadi dalam pembentukan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) diberbagai daerah termasuk di Sumatera Utara. Namun demikian eksistensi dan penggunaan sumber daya alam ini tidak terlepas dari berbagai masalah dan ancaman yang memerlukan penanganan dan kebijakan yang tepat. Misalnya, orientasi pada pembangunan dan pertumbuhan jangka pendek telah memicu pola produksi dan konsumsi yang agresif, eksploitatif, dan ekspansif sehingga daya dukung dan fungsi lingkungan hidup semakin menurun karena berbagai kerusakan yang terjadi bahkan hal ini telah mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan. Berbagai upaya harus dilakukan semua pihak baik untuk jangka pendek, jangka menengah maupun jangka panjang kearah pelestarian dan perlindungan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan pola pemanfaatan yang amanah dan bertanggung jawab. Pemanafaatan dan penggunaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup ini harus dapat memenuhi kebutuhan hidup saat ini tanpa mengabaikan kehidupan generasi yang akan datang. II. Kondisi Awal Pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup haruslah menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor pembangunan agar tercipta keseimbangan kelestarian fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin. Hal-hal yang telah dicapai guna menuju
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 217

sasaran keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup di laksanakan melalui 4 (empat) program yaitu program pencegahan, pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan hidup, program penataan kelembagaan dan penegakan hukum dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup, program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan kelestarian lingkungan hidup serta program pendidikan lingkungan hidup. Hasil-hasil yang dicapai selama tahun 2003, melalui berbagai program dan kegiatan bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup di Provinsi Sumatera Utara telah berhasil memformulasikan berbagai permasalahan lingkungan dalam kerangka implementasi kebijakan pembangunan berkelanjutan di daerah. Eksistensi lingkungan hidup sebagai modal dasar pembangunan semakin dirasakan. Eksistensi hutan misalnya telah memberikan kontribusi yang optimal dalam proses pembangunan daerah karena Sumatera Utara mempunyai kawasan hutan yang cukup luas yang diklasifikasikan kepada hutan produksi, hutan lindung, hutan konservasi dan hutan produksi konversi. Secara statistik keluasan jenis masing-masing jenis hutan ini adalah hutan produksi 1.788.016,19 ha, hutan lindung 1.481.737,69 ha, hutan konservasi 362.333,36 ha dan hutan produksi konversi 47.251,24 ha. Dalam RPJM Sumatera Utara keadaan luasan tersebut sudah sesuai dengan RTRW Provinsi Sumatera Utara berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2003. Kawasan hutan Sumatera Utara setiap tahunnya memberikan hasil yang cukup baik dan secara statistik untuk tahun 2003/2004 hasil hutan ini adalah log rimba 70.900,76 M3, log primer 1.011.910,61 M3, kayu gergajian 52.448,45 M3, kayu lapis 148.094,25 M3, pulp 113.266,77 ton dan Bock Board 199,13 M3. Di samping hasil utama ini, masih ada juga hasil lainnya yang disebut hasil ikutan hutan. Pada tahun yang sama hasil ikutan ini antara lain rotan 672.955 batang, arang 185,57 ton dan getah tusam 174.067 kg. Data-data di atas merupakan contoh kontribusi sumber daya alam bagi pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sehingga memerlukan jaminan kelestarian secara terus menerus. Upaya mencegah kerusakan, perambahan dan sebaginya harus dapat menekan kemerosotan dan penurunan kualitasnya dan hal ini juga berlaku untuk lingkungan perairan, udara, tanah, pantai dan laut. Berbagai implikasi yang mungkin terjadi baik terhadap kehidupan manusia, flora dan fauna serta masalah lingkungan sosial lainnya menyebabkan seumber daya alam dan lingkungan hidup menjadi fokus perhatian yang semakin serius untuk ditangani secara terpadu. Pada masa ini, kualitas udara semakin menurun dengan indikator meningkatnya konsentrasi polutan udara (Sox, Nox, Debu, Kebisingan) sejalan dengan peningkatan sarana tranportasi dan pembangunan industri. Selain itu, ancaman lainnya adalah banyaknya jumlah titik api (Hot Spot) akibat kebakaran hutan dan lahan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

218

sehingga kondisi lahan semakin mengkhawatirkan. Indikator yang ada menunjukkan semakin berkurangnya luas kawasan hutan dan meningkatnya lahan kritis akibat aktivitas kehutanan dan perkebunan yang kurang memperhatikan aspek keseimbangan lingkungan terutama di daerah pedesaan. Di sisi lain, di daerah perkotaan terjadi penurunan kondisi lahan berkaitan dengan pengelolaan sampah dan penataan estetika yang belum maksimal. Kawasan pantai pula mengalami penurunan kualitas dengan menurunnya luas hutan bakau yang sangat mempengaruhi perubahan ekosistem pantai dan kehidupan masyarakat nelayan yang kurang menguntungkan. Kualitas air sungai terutama di perkotaan mengalami gangguan yang cukup mengkhawatirkan dengan indikator parameter BOD, COD, TSS, DO dan PH air sungai melampaui ambang batas baku mutu lingkungan. Demikian juga halnya Danau Toba sebagai kawasan dan daerah tujuan wisata internasional. Parameter kualitas air Danau Toba memang belum melampaui ambang batas, namun beberapa parameter kimia dan biologi menunjukkan indikasi adanya peningkatan pencemaran dari limbah organik yang bersumber dari kawasan lokal karena adanya peternakan dan perikanan. Institusi lingkungan belum dapat berperan optimal sebagaimana yang diharapkan karena berbagai keterbatasan antara lain, eksistensi instansi PLH belum sepenuhnya ada di Kab/Kota, jumlah SDM yang berkualifikasi LH, PPLHD dan PPNS Lingkungan sangat terbatas. Kondisi ini semakin buruk lagi karena perusahaan yang memiliki Dokumen Lingkungan dan ISO 14000 EMS khususnya di kawasan persekitaran Danau Toba masih sangat sedikit. Kondisi di atas merupakan dampak dari meningkatnya kegiatan pembangunan dan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan penduduk yang semakin meningkat. Pembangunan yang dilaksanakan cenderung mencapai target-target ekonomi sehingga kurang memperhatikan pentingnya pelestarian fungsi lingkungan hidup. Sebagian masalah ini disebabkan sikap yang mementingkan diri sendiri, berpikir untuk keperluan jangka pendek dan bahkan adanya keserakahan meraup keuntungan yang maksimal dengan melakukan eksploitasi sumber daya alam secara tidak bertanggungjawab. Sistem manajemen lingkungan dan teknologi lingkungan yang belum berkembang baik telah memperburuk keadaan ditambah pengawasan dan pengendalian lingkungan hidup serta penegakan hukum yang belum berjalan secara efektif. III Sasaran Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup di Sumatera Utara adalah mengembangkan dan meningkatkan pemanfaatan sumber daya alam serta peningkatan pengelolaan pembangunan berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Beberapa sasarna yang ingin diwujudkan antara lain:

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

219

1. Terpulihkannya kondisi SDA dan LH yang rusak pada ekosistem kawasan Danau Toba, Taman Nasional Gunung Leuser, Taman Nasional Batang Gadis, DAS Deli, DAS Belawan, DAS Belumai dan kawasan konservasi lainnya. 2. Terlaksananya pencegahan kerusakan SDA dan LH yang lebih parah, sehingga laju kerusakan dan pencemaran semakin menurun; mempertahankan SDA dan LH yang masih dalam kondisi baik; dan meningkatnya kualitas lingkungan hidup yang ditandai dengan meningkatnya kualitas udara ambien dan membaiknya kualitas air pada badan-badan air. 3. Tercapainya pemanfaatan ruang di daratan serta wilayah pesisir dan laut dalam pemanfaatan SDA dengan memperhatikan perencanaan tata ruang di daerah yang disesuaikan dengan kondisi ekosistemnya. 4. Terciptanya pendanaan untuk pengelolaan lingkungan, dengan pertimbangan adanya pembayaran untuk biaya lingkungan sebagai pengganti biaya kelangkaan atau pengurangan SDA dan kemerosotan kondisi lingkungan berupa pajak/retribusi lingkungan yang dikembalikan untuk pengelolaan lingkungan.

5. Terlaksananya penguatan kemampuan kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup di tingkat Provinsi
dan Kabupaten/Kota.

IV.

Arah Kebijakan

Pembangunan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup diarahkan pada upaya-upaya: 1) peningkatan pengawasan yang ketat terhadap pemanfaatan sumber daya alam serta pengelolaan lingkungan hidup; 2) Pengembangan program kali bersih, langit biru, kota hijau, bumi lestari dan pantai lestari dan pengelolaan pesisir dan pulau-pulau kecil; 3) Pengendalian kerusakan tanah, tata air, habitat serta perlindungan keanekaragaman hayati. V. Pencapaian 2004 – 2007 Pemerintah Sumatera Utara telah melakukan berbagai upaya untuk melindungi sumber daya alam dari kerusakan yang disebabkan oleh aktivitas pengelolaan yang kurang memperhatikan dampak negatif terhadap potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah berhasil memformulasikan berbagai permasalahan lingkungan dalam kerangka implementasi kebijakan pembangunan berkelanjutan di daerah.Selain itu pemerintah Sumatera Utara juga telah berupaya menyelenggarakan pengelolaan kawasan konservasi untuk menjamin keragaman ekosistem, sehingga terjaga fungsinya sebagai penyangga sistem kehidupan. Di antara upaya yang dilakukan antara lain merehabilitasi sumber daya alam yang rusak dan mempercepat pemulihan cadangan sumber daya alam sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai penyangga sistem
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 220

kehidupan, di samping menjadi potensi bagi pengelolaan yang berkelanjutan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat luas. Tindakan ini disertai juga dengan upaya pencegahan kerusakan dan/atau pencemaran lingkungan hidup baik di darat, perairan tawar dan laut, maupun udara sehingga masyarakat memperoleh kualitas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Untuk mencapai berbagai maksud di atas, Pemerintah Propinsi Sumatera Utara juga telah melakukan peningkatan akses informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup kepada masyarakat dalam rangka mendukung pemanfaatan sumber daya alam dan perlindungan fungsi lingkungan hidup. Dengan berbagai program dan tindakan ini, sumber daya alam dan lingkungan hidup diharapkan dapat bermanfaat secara optimal bagi kepentingan masyarakat luas dan berbagai kerusakan yang terjadi dapat ditanggulangi. VI. Tindak Lajut Eksistensi, kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup ini harus mendapat perhatian dan penanganan yang sungguh-sungguh dari semua instansi yang terkait dan juga masyarakat luas. Dalam hal ini, beberapa tindakan yang perlu dilakukan antara lain menghentikan kegiatan illegal logging yang masih ada sehingga kerusakan hutan tidak semakin luas. Upaya-upaya reboisasi dan rehabilitasi dan pemulihan cadangan sumber daya alam yang sudah dilakukan sebelumnya harus tetap dilakukan secara optimal sehingga dapat memulihkan kawasan-kawasan yang kritis yang ada dan menjamin cadangan sumber daya alam tetap baik dan berkelanjutan. Kebijakan ini harus pula dibarenagi dengan upaya perlindungan dan konservasi sumber daya alam yang maksimal dari seluruh masyarakat. VII. Penutup Eksistensi, kelestarian dan keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan hidup menyangkut kepentingan semua pihak tanpa kecuali. Kelangsungan hidup dan kualitas kehidupan sangat ditentukan oleh kualitas sumber daya alam dan lingkungan hidup yang ada sehingga upaya pelestarian, reahabilisasi, perlindungan dan sebagainya menjadi tanggung jawab senua pihak. Aktivitas pengrusakan, pencemaran, pengurasan dan pemanfaatan yang tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kelestarian dan keselamatan serta kepentingan umum harus dihentikan sehingga sumber daya alam dan lingkungan hidup yang baik dan layak dapat dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

221

Bab 4.19. Percepatan Pembangunan Infrastruktur I. Pengantar

Pembangunan infrastruktur harus dilakukan karena hal ini merupakan bagian integral dari pembangunan nasional dan menyangkut kepentingan semua pihak. Infrastruktur yang baik akan dapat menjadi salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi di setiap daerah karena kegiatan sektor transportasi merupakan tulang punggung pendistribusian barang-barang kepada semua lapisan masyarakat. Upaya modernisasi yang berterusan terhadap semua struktur lainnya seperti kelistrikan dan telekomunikasi juga harus dilakukan. Katersediaan infratruktur ini merupakan salah satu aspek terpenting untuk meningkatkan produktivitas sektor produksi di semua lini. Demikian juga ketersediaan sarana perumahan dan permukiman, antara lain fasilitas air minum dan sanitasi harus tersedia dalam jumlah yang cukup serta merata. Lebih jauh dari itu, pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan akan sangat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat keseluruhan. Singkatnya semua infrastruktur harus tersedia, terjamin memenuhi standard terkini. Pembangunan infrastruktur ini mempunyai peran yang sangat penting karena akan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa. Secara teori, infrastruktur diyakini merupakan pemicu pembangunan semua kawasan. Kondisi infrastruktur ini juga dapat mengidentifikasi kesenjangan yang terjadi antara wilayah sehingga pembangunan bidang infrastruktur ini juga harus berbasis wilayah dan hal ini semakin penting untuk diperhatikan pemerintah. Pembangunan infrastruktur transportasi berperan besar untuk membuka isolasi suatu wilayah merupakan prasyarat kesuksesan peningkatan kesejahteraan masyarakat. II. 1. Kondisi Awal Transportasi Kondisi jaringan jalan di Sumatera Utara untuk tahun tahun 2004 ditunjukkan dalam Tabel 4.19.1. Data yang ada menunjukkan bahwa total panjang jalan Kabupaten /Kota (27.177,275 km) jauh melebihi panjang jalan nasional (2.098,05 km) dan jalan propinsi (2.752,41 km). Aktivitas perekonomian dan kesejahteraan masyarakat Sumatera Utara sangat tergantung pada kondisi infrastruktur jalan ini dari tahun ke tahun.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

222

Tabel 4.19.1 Kategori Jalan di Sumatera Utara Keadaan/Kondisi Baik Sedang Rusak Rusak Berat Jumlah Sumber: BPS-SU 2004 Selain itu, jaringan sarana transportasi lainnya adalah fasilitas terminal yang terdiri dari terminal Nasional (Km) 1.095,70 418,60 279,40 304,35 2.098,05 Provinsi (Km) 1.237,60 558,46 410,40 545,95 2.752,41 Kab/Kota (Km) 7.772,750 8.201,059 5.775,623 5.427,843 27.177,275

penumpang dan terminal barang yang kesemuanya berjumlah 33 lokasi yang tersebar di seluruh Kabupaten/Kota. Seluruh terminal ini menyumbang kepada pergerakan roda ekonomi Sumatera Utara karena menjadi tumpuan hampir semua jenis angkutan barang maupun armada penumpang walaupun jumlahnya ternyata berkurang. Jumlah armada penumpang untuk 5 tahun terakhir mengalami penurunan dari 2.178 bus pada tahun 1999 menjadi 1.225 bus pada tahun 2003. Sedangkan dari segi jumlah seat, pada tahun 1999 berjumlah 87.120 seat yang kemudian menurun menjadi 49.000 seat pada tahun (2003. Kondisi ini terjadi disebabkan perpindahan penggunaan moda dari transportasi jalan menjadi transportasi udara. Di sisi lain, realisasi pelayanan angkutan Kota dan Pedesaan sampai saat ini masih di bawah 50% dari yang direncanakan. Selain infratsruktur dan sejumlah kenderaan di atas, Sumatera Utara mempunyai 7 (tujuh) jaringan pelayanan penyeberangan yang meliputi: pelayanan Lintas Negara dan Lintas Kabupaten. Fasilitas ini didukung pula oleh jaringan transportasi angkutan kereta api sepanjang 505,429 Km yang terdiri dari lintas utama dan lintas cabang. Lintas utama melayani angkutan jarak jauh dan sedang yang menghubungkan antar stasiun yang berfungsi sebagai pengumpul. Sedangkan lintas cabang melayani angkutan jarak sedang atau dekat. Lintas Utama adalah : • • • Medan – Kisaran dengan panjang rel 153,739 Km Kisaran – Rantau Parapat dengan panjang rel 113,872 Km Medan - Belawan dengan panjang rel 21,607 Km
223

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

• • •

Medan - Besitang dengan panjang rel 122,311 Km Kisaran – Tanjungbalai dengan panjang rel 20,703 Km Tebing Tinggi – Pematangsiantar dengan panjang rel 73,197 Km

Lintas Cabang adalah :

Untuk transportasi laut, Sumatera Utara mempunyai pelabuhan umum dan pelabuhan khusus yang semuanya berjumlah 24 pelabuhan. Jumlah pelabuhan umum 22 dan pelabuhan khusus ada 2 yaitu; Pangkalan Susu di Langkat dan Kuala Tanjung di Asahan, 1 pelabuhan internasional Belawan, 13 pelabuhan nasional dan 10 pelabuhan regional. Tingkat pelayanan transportasi laut masih didominasi Pelabuhan Belawan sedangkan beberapa pelabuhan Nasional dan Regional yang strategis dan potensial dikembangkan sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal. Infrastruktur penting lainnya adalah infrastruktur transportasi Udara karena data statistik menunjukkan jumlah penerbangan dan jumlah penumpang dari dan ke Bandara Polonia relatif tinggi. Volume lalulintas yang relatif tinggi ini tidak bisa lagi diimbangi dengan ketersediaan prasarana dan fasilitas yang seharusnya karena keterbatasan lahan yang ada (144 Ha). Kondisi ini menyebabkan turunnya tingkat pelayanan bahkan membahayakan keselamatan penerbangan sehingga rencana pembangunan Bandara Baru merupakan program prioritas. III. Sasaran

1. Prasarana Jalan Sasaran umum pembangunan prasarana jalan di Sumatera Utara adalah : • Meningkatnya daya dukung, kapasitas, dan kualitas pelayanan prasarana jalan terutama pada kawasan andalan, pariwisata ataupun daerah yang cepat berkembang serta jalan lintas timur, tengah dan lintas barat. • • Meningkatnya aksesibilitas wilayah pedesaan, wilayah perbatasan, terpencil maupun kepulauan serta wilayah perkotaan sesuai dengan perkembangan kebutuhan prasarana jalan. Meningkatnya partisipasi BUMN, BUMD maupun Swasta dalam penyelenggaraan pelayanan prasarana jalan termasuk pembangunan jalan tol.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

224

Lalu Lintas Angkutan Jalan 1. Meningkatnya keterpaduan antar moda 2. Meningkatnya keterjangkauan pelayanan transportasi umum 3. Meningkatnya fasilitas keselamatan lalulintas jalan 4. Meningkatnya kualitas pelayanan angkutan jalan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan 1. Meningkatnya kelancaran dan kapasitas lintas penyeberangan 2. Meningkatnya kelaikan sarana dan fasilitas keselamatan ASDP 3. Meningkatnya peran serta swasta dalam pembangunan dan pengelolaan ASDP Lalulintas Angkutan Kereta Api 1. Meningkatnya kapasitas jaringan rel kereta api 2. Meningkatnya frekuensi pelayanan angkutan kereta api 3. Meningkatnya pengembangan jaringan rel kereta api baru 4. Meningkatnya fasilitas keselamatan jaringan rel kereta api Transportasi Laut 1. Meningkatnya pelayanan angkutan laut 2. Meningkatnya peran serta swasta dalam pembangunan dan pengelolaan transportasi laut 3. Meningkatnya pembangunan prasarana dan sarana transportasi laut Transportasi Udara 1. Terbangunnya Bandara Baru Medan pengganti bandara Polonia 2. Terjaminnya keselamatan, kelancaran dan kesinambungan pelayanan transportasi udara baik untuk angkutan penerbangan Lokal, Regional dan internasional maupun perintis 3. Meningkatnya peranan swasta dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan transportasi udara

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

225

IV.

Arah Kebijakan Prasarana Jalan dan Jembatan 1. Meningkatkan daya dukung jalan dan jembatan sesuai dengan kebutuhan 2. Meningkatkan dan mengembangkan keterpaduan sistem jaringan prasarana jalan dan jembatan antar Provinsi dan kabupaten/kota 3. Mengoptimalkan pemanfaatan hasil penelitian dan pengembangan teknologi jalan dan jembatan 4. Meningkatkan jaringan jalan fungsi kolektor primer II, III dan jembatan yang sangat strategis serta jaringan jalan distribusi antar kabupaten/kota 5. Meningkatkan pemeliharaan dan pelayanan jalan dan jembatan Lalu Lintas Angkutan Jalan 1. Meningkatkan pengendalian muatan melalui sistem pengawasan terpadu 2. Meningkatkan kelancaran dan keselamatan lalulintas jalan melalui pembinaan penegakan hukum serta peningkatan fasilitas keselamatan dan operasional LLAJ 3. Meningkatkan aksesibilitas pelayanan kepada masyarakat melalui penyediaan pelayanan angkutan ke daerah terpencil dan perbatasan Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan 1. Meningkatkan prasarana, sarana dan fasilitas keselamatan serta kualitas pelayanan ASDP 2. Meningkatkan ASDP untuk menunjang program wisata dan peningkatan ekonomi masyarakat 3. Mendorong peran serta swasta dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan ASDP Lalulintas Angkutan Kereta Api 1. Meningkatkan keselamatan angkutan dan kualitas pelayanan melalui peningkatan kapasitas dan pemulihan kondisi pelayanan prasarana dan sarana pengangkutan perkeretaapian Regional dan Lokal 2. Meningkatkan frekuensi pelayanan angkutan perkeretaapian yang terjangkau (angkutan massal), terutama pada kawasan MEBIDANG 3. Mendorong peran swasta dibidang perkeretaapian 4. Pengembangan jaringan kereta api yang diarahkan ke wilayah-wilayah kawasan andalan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

226

Transportasi Laut 1. Meningkatkan peranan pelabuhan Nasional, Regional dan Lokal dalam sistem transportasi laut dalam negeri maupun ekspor dan impor 2. Terselenggaranya pelimpahan/penyerahan aset pelabuhan Regional dan Lokal yang dikelola unit pelaksana teknis kepada Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kab/Kota 3. Meningkatkan peranan swasta dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan angkutan laut termasuk usaha penunjang angkutan laut 4. Meningkatkan keamanan dan keselamatan baik di Laut maupun di Pelabuhan Transportasi Udara 1. Meningkatkan standar pelayanan, keamanan dan kenyamanan guna meningkatkan keselamatan penerbangan baik selama penerbangan maupun di bandara. 2. Meningkatkan peranan swasta dalam penyelenggaraan pembangunan dan pengelolaan transportasi udara. 3. Meningkatkan cakupan pelayanan angkutan udara di wilayah Sumatera Utara 2. Peningkatan dan Percepatan Pembangunan Sumber Daya Air 1. Terselenggaranya pengaturan kembali berbagai kelembagaan dan peraturan perundangan tentang pengembangan dan pengelolaan sumber daya air yang serta pengaturan hak guna air yang adil dan berkelanjutan 2. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan perlunya konservasi sumber-sumber air 3. Meningkatnya pemanfaatan sumber daya air melalui peningkatan efisiensi dan efektifitas 4. Terbentuk dan beroperasinya wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air yang beranggotakan wakil pihak yang berkepentingan baik dari usur pemerintah maupun non pemerintah sehingga dapat mengatasi konflik pemanfaatan sumber daya air 5. Meningkatnya kemampuan pengelolaan dan konservasi sumber daya air 6. Tersedianya data base dan sistem informasi Sumber Daya Air yang terpadu pada satuan wilayah sungai. 7. Penyusunan /pembuatan Perda yang berkaitan dengan Sumber Daya Air (Ranperda hidrologi, air permukaan, kewenangan pengelolaan irigasi dan rawa) 8. Pengembangan dan pengelolaan hidrologi dan hidrometri serta data dan sistem informasi sumber daya air secara terpadu pada setiap wilayah sungai. 9. Pembentukan dan operasionalisasi wadah koordinasi pengelolaan sumber daya air di tingkat Provinsi maupun Kabupaten/Kota.
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 227

10.Penguatan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air dan peningkatan kemampuan masyarakat untuk berpartisipasi dalam kegiatan pengembangan, pemanfaatan/penggunaan dan pelestarian sumber daya air 11.Penyiapan dan memfasilitasi pembentukan kelembagaan pengelolaan sumber daya air dalam satuan wilayah sungai secara terpadu dari hulu sungai sampai dengan hilir 12.Penyelenggaraan perkotaan. 13.Operasi dan pemeliharaan, rehabilitasi waduk, danau, situ, telaga, embung serta bangunan penampungan air lainnya 3. Program Pengembangan dan Pengelolaan Jaringan Irigasi, Rawa dan Jaringan Pengairan lainnya. 1. Rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana irigasi, rawa dan sumber daya air lainnya 2. Pembuatan studi investigasi dan design rencana peningkatan, pengembangan dan pembangunan jaringan irigasi, rawa dan jaringan pengairan lainnya. 3. Operasi dan pemeliharaan serta rehabilitasi jaringan irigasi, rawa dan jaringan sumber daya air lainnya. 4. Peningkatan kemampuan organisasi pemakai air untuk berpartisipasi dalam pengelolaan jaringan irigasi, rawa dan jaringan sumber daya air lainnya. 4. Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Baku 1. Rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana air baku (bangunan pengambilan dan saluran pembawa air) antara lain di Kab. Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, Tobasa dan Samosir. 2. Penyusunan Studi Rencana Pengembangan dan Pengelolaan Air Baku antara lain di Kab. Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, Tobasa dan Samosir. 3. Operasi dan Pemeliharaan serta rehabilitasi prasarana air baku antara lain di Kab. Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, Tapanuli Utara , Tobasa dan Samosir. 4. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyediaan dan pengelolaan air baku. konservasi sumber daya air melalui pembangunan, penataan/pengaturan dan penegakan hukum khususnya didaerah tangkapan air dan

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

228

5.

Program Pengendalian Banjir dan Pengamanan Pantai 1. Pembuatan studi investigasi dan design dari rencana rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana pengendalian banjir dan pengamanan pantai pada daerah rawan banjir. 2. Rehabilitasi, peningkatan dan pembangunan prasarana dan sarana pengendalian banjir pada daerah rawan banjir dan pengamanan pantai antara lain di pantai Barus, Pandan, Pantai Cermin dan Natal. 3. Operasi dan pemeliharaan serta rehabilitasi prasarana pengendalian banjir pada SWS dan pengamanan pantai antara lain di Kab. Tapanuli Tengah, Mandailing Natal dan Serdang Bedagai. 4. Meningkatkan kemampuan dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sungai dan pantai dalam rangka pengendalian banjir dan pengamanan pantai.

6.

Peningkatan dan Percepatan Pembangunan Sumber Daya Energi dan Mineral 1. Penyediaan data sumber daya mineral yang lengkap dan menyeluruh serta penguasaan teknologi yang memadai termasuk interpretasi data informasinya 2. Peningkatan kemampuan tenaga atau Sumber Daya Manusia pertambangan dan energi melalui pendidikan di pusat pendidikan tenaga pertambangan dan energi serta tenaga pendidikannya 3. Peningkatan sarana dan prasarana Laboratorium serta penunjang pertambangan dan energi 4. Mendukung sarana dan prasarana dasar bagi pertambangan rakyat 5. Pelayanan informasi teknologi lingkungan dan pertambangan tepat guna 6. Pengembangan teknologi serta penyediaan sarana dan prasarana pertambangan dan energi yang didukung oleh kemampuan industri 7. Meningkatkan pencarian sumber-sumber baru mineral dan energi 8. Penertiban usaha pertambangan rakyat dan pertambangan tanpa izin 9. Menggalakkan industri yang menggunakan bahan tambang sebagai bahan utama ataupun sebagai bahan penolong 10.Penyediaan sarana dan prasarana air bersih melalui pembangunan sumur bor air tanah

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

229

7.

Program Peningkatan Aksesibilitas Pemerintah Daerah, Koperasi dan Masyarakat Terhadap Jasa Pelayanan Sarana dan Prasarana Ketenagalistrikan 1. Mendorong penyediaan tenaga listrik, terutama daerah-daerah yang belum mendapat pelayanan kelistrikan 2. Melakukan kerjasama kelistrikan dengan PT. PLN 3. Membangun/memanfaatkan potensi energi setempat untuk pembangkit tenaga listrik, termasuk pembangkit skala kecil melalui skema Pembangkit Skala Kecil Teknologi Energi untuk rakyat dengan sumber energi terbarukan.

IV. Pencapaian 2005-2007 Pembangunan infrastruktur seperti infratsruktur jalan, jembatan, pelabuhan, jaringan kereta api, lapangan udara, listrik dan telekomunikasi terus dilaksanakan pemerintah karena disadari ianya sebagai penentu keberhasilan perputaran roda ekonomi daerah. Pemerintah menyadari akan sangat pentingnya pembangunan sektor ini sehingga terpaksa menggunakan dana yang besar. Berikut ini akan ditunjukkan keberhasilan dan pencapaian pembangunannya sehingga tahun 2006/2007 sehingga dapat dibandingkan dengan kondisi tahun 2004. Bahkan untuk hal-hal yang terukur dalam RPJM dapat dibandingkan dengan target pencapaian tahun 2009.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

230

Status Jalan di Sumut

4.000 3.500 3.000 2.500 2.000 1.500 1.000 500 Negara Provinsi Kab/Kota 2000 1.306 3.346 23.411 2001 1.306 3.346 26.628 2002 1.306 3.346 27.923 2003 1.306 3.346 28.246 2004 2.098 2.753 28.711 2005 2.098 2.753 29.113 2006 2.098 2.753 29.113

35.000 30.000 25.000 20.000 15.000 10.000 5.000 -

103

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.19.1 Panjang Jalan Menurut Status Dari grafik 4.19.1 menunjukkan bahwa mulai tahun 2004 sampai tahun 2006 panjang jalan negara dan jalan propinsi konstan sedangkan panjang jalan Kabupaten Kota sedikit bertambah. Demikian juga status permukaannya mengalami peningkatan perbaikan. Misalnya, jalan kabupaten yang diaspal pada tahun 2004 adalah 11.620,829 km yang kemudian naik menjadi 13.221,576 pada tahun 2006. Lebih rinci hal ini ditunjukkan dalam Grafik 4.19.2.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

231

Grafik 4.19.2 Panjang Jalan Kabupaten/Kota Menurut Jenis Permukaan Grafik 4.19.2 menunjukkan kondisi Jalan Kabupaten/Kota di Sumatera Utara. Dapat dilihat bahwa Jalan Kabupaten Kota yang diaspal semakin panjang dari tahun 2004 sampai tahun 2006/2007. Sedangkan jalan kerikil semakin pendek terutama pada tahun 2006. Secara lebih rinci dan menyeluruh berkaitan dengan panjang jalan dan kondisi jalan baik Jalan Kab/Kota, Jalan Propinsi dan Negara digambarkan pada Grafik 4.19.3.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

232

Kondisi Jalan di Sumut
(km)
12.000 12.000

10.000

10.000

8.000

8.000

6.000 4.000

6.000 4.000

2.000

2.000

Baik Sedang Rusak Rusak Berat

2000 4.179 6.332 6.764 4.699

2001 6.331 7.295 10.146 2.733

2002 7.721 6.291 10.311 3.034

2003 7.773 8.201 5.776 5.428

2004 8.131 7.135 5.507 7.432

2005 9.041 6.228 6.474 5.977

2006 10.000 6.277 7.945 2.843

-

105

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.19.3 Kondisi Jalan Di Sumatera Utara Di sisi lain, semua jenis kenderaan meningkat secara statistik kecuali kenderaan jenis bus. Peningkatan yang paling signifikan terjadi adalah untuk jenis kenderaan sepeda motor dan mobil penumpang. Pertambahan ini dianggap wajar mengingat jumlah penduduk Sumatera Utara yang semakin banyak. Pertambahan jumlah kenderaan bermotor meningkat signifikan mulai tahun 2003 yang dapat dianggap sebagai salah satu indikator peningkatan pendapatan masyarakat Sumatera Utara terutama golongan menengah ke bawah. Lebih jelas kondisi ini digambarkan dalam Grafik 4.19.4.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

233

Jenis Kenderaan di Sumut
400 350 300 Ribuan Unit 250 200 150 100 50 Bus Gerobak Sepmor Mobil Penumpang 2000 25.679 2001 26.035 2002 26.566 2003 27.106 2004 27.621 2005 28.160 2006 28.616 172.999 500 1.000 Ribuan Unit 1.500 2.000

123.307 128.985 873.452 952.361 149.741 169.761

135.838 144.233

154.420 166.221

1.084.05 1.300.99 1.568.04 1.864.98 2.113.77 180.521 192.596 207.614 226.043 240.066
107

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.19.4 Jenis dan Peningkatan Kenderaan di Sumatera Utara. Lebih jauh pembangunan berkaitan infrastruktur transportasi ini bertujuan meningkatkan cakupan

pelayanan angkutan udara di wilayah Sumatera Utara. Data menunjukkan bahwa mulai tahun 2002 terjadi peningkatan jumlah penerbangan internasional dan domestik yang signifikan sampai tahun 2005 walaupun sedikit menurun kembali pada tahun 2006. Peningkatan intensitas penerbangan ini memberi makna bahwa pembangunan Bandara Baru Medan harus segera terwujud disebutkan karena dalam bagain terdahulu telah bahwa berbagai sarana pada Bandara Polonia Medan relatif terbatas dan tidak dapat

dikembangkan lagi karena lokasi yang terbatas. P emindahan Bandara Polonia ke Kuala Namu harus secepatnya direalisasikan dan menjadi prioritas utama pembangunan Sumatera Utara karena infrastruktur ini sangat menentukan kelancaran dan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara. Grafik 4.19.5 menunjukkan peningkatan intensitas penerbangan di Sumatera Utara beberapa tahun terakhir ini. Pembangunan Bandara Baru Medan di Kuala Namu dengan sendiri akan meningkatkan cakupan pelayanan angkutan udara di wilayah Sumatera Utara sebagai mana hal ini menjadi salah satu sasaran dalam RPJM Sumatera Utara. Selain itu Bandara Baru Medan yang lebih baik dan berkualitas akan menjadi salah satu unsur peningkatan martabat bangsa di mata internasional. Prioritas pembangunan Bandara Baru Medan ini tidak sepatutnya mengalami penundaan karena Kota Medan merupakan salah satu pintu masuk utama para wisatawan manca negara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

234

Jumlah Penerbangan Internasional dan Domestik di Sumut
23.041 20.904 17.973 15.221 11.554 7.628 8.294 4.139 4.821 4.420

2.743

3.347

3.381

2.968

2000

2001

2002

2003

2004

2005

2006
108

Sumber : Badan Pusat Statistik

Internasional

Domestik

Grafik 4.19.5 Jumlah Penerbangan Internasional dan Domestik Di samping pembangunan infrastruktur Bandara yang perlu harus segera diselesaikan seperti mana diuraikan di atas, pembanguan infrastruktur lainnya yang juga sangat vital terhadap kehidupan masyarakat dan perekonomian Sumetera Utara dalah pembangunan infrastruktur listrik. Untuk beberapa tahun terakhir ini Sumatera Utara berhadapan dengan masalah besar yaitu kurangnya daya listrik sehingga sangat sering terjadi pemadaman bergilir dan yang mengakibatkan terganggunya aktivitas produksi, akitvitas belajar mengajar, aktivitas harian dan sebagainya. Gangguan ini dialami secara merata baik oleh perusahaanperusahan, perkantoran, rumah tangga, sarana traffic light dan sebagainya. Data dan garafik 4.19.6 menunjukkan perkembangan daya terpasang PLN di Sumatera Utara yang meningkat, namun peningkatan yang terjadi sama sekali belum mampu memenuhi tingkat permintaan masyarakat yang terus bertambah. Permasalahan infrastuktur listrik yang sangat terbatas ini menjadi salah satu penyebab utama rendahnya tingkat investasi di Sumatera Utara dan hal ini harus mendapat prioritas utama pembangunan yang tidak dapat ditunda. Pembenahan infrastruktur listrik sehingga mencukupi tingkat permintaan dan tidak mengganggu aktivitas produksi maupun aktivitas harian lainnya, diyakini akan dapat memacu pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara yang lebih tinggi lagi pada masa-masa yang akan datang.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

235

Perkembangan Daya Terpasang PLN di Sumut (MW)

1.381,5 1.296,9 1.263,5 1.263,5 1.299,5

2001

2002

2003

2004

110 2005

Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.19.6 Perkembangan Daya Terpasang PLN di Sumatera Utara Jika dilihat dari jenis-jenis pembangkit tenaga listrik yang ada, Sumatera Utara mempunyai 5 jenis tenaga pembangkit listrik yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD), Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Pengakit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU), Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), dan Pembangkit Listrik Tenaga Air Mini (PLTAM). Grafik 4.19.7 menunjukkan kelima jenis pembangkit listrik ini beserta daya yang produsksi. Grafik menunjukkan bahwa masing-masing pembangkit yang ada mengahasilkan tenaga listrik tetap sejak tahun 2001 sehingga tahun 2006 kecuali Pembangkit Listrik Tenaga Air Mini yang menunjukkan sedikit peningkatan daya pada tahun 2006. Kondisi ini telah menyebabkan keterbatasan infrastruktur listrik merupakan masalah utama dan telah berlangsung relatif lama di Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

236

Tabel 4.19.1 Jenis Pembangkit Tenaga Listrikdan Daya (MW) di Sumatera Utara Jenis Pembangkit PLTD PLTU PLTG PLTGU PLTAM 2001 38,0 260 123,1 817,9 7,5 2002 38,0 260 123,1 817,9 24,5 2003 38,0 260 123,1 817,9 24,5 2004 38,4 260 123,1 817,9 57,5 2005 41,0 260 123,1 817,9 57,5 2006 41,4 260 123,1 817,9 139 Keterangan Peningkatan Sangat Kecil Konstan Konstan Konstan Ada Peningkatan

Sumber: BPS-SU beberapa tahun Tabel 4.19.1 menunjukkan bahwa daya listrik yang dihasilkan oleh PLTU, PLTG dan PLTUG di Sumatera Utara konstan dari tahun 2001 sehingga tahun 2006 sedangkan daya listrik yang diproduksi PLTD dan PLTAM hanya bertambah dalam kapasitas yang sangat kecil. Di sisi lain, kebutuhan dan permintaan permintaan masyarakat terhadap fasilitas listrik ini meningkat drastik. Kondisi ini menyebabkan Sumatera Utara mengalami krisis tenaga listrik yang berpanjangan dan sangat menggangu aktivitas dan perekonomian.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

237

Jenis Pembangkit Tenaga Listrik
300.0
817.9 817.9 817.9 817.9 817.9 817.88

900.0 800.0

250.0
260.0 260.0 260.0 260.0 260.0 260

700.0 600.0 500.0

200.0

150.0
123.1 123.1 123.1 123.1 123.1 123.13

Megawatt

400.0 300.0 200.0

100.0

50.0

38.0

38.0 24.5

38.0 24.5

38.4 57.5

41.0 57.5

41.4

139.5

100.0 -

7.5

-

2001

2002

2003
Tenaga Diesel PLTD Tenaga Gas (PLTG) Tenaga Air Mini (PLTM)

2004

2005

2006

Tenaga Uap (PLTU) Tenaga Gas Uap (PLTGU)

111
Sumber : Badan Pusat Statistik

Grafik 4.19.7 Jenis Pembangkit Tenaga Listrik Berbeda dengan infrastruktur listrik, pembangunan infrastruktur air bersih untuk semua golongan pengguna baik golongan sosial, niaga, non niaga, industri, dan khusus meningkat dengan baik. Peningkatan signifikan terjadi pada tahun 2003, 2004 dan 2005 khususnya pemintaan golongon peniaga dan golongan khusus. Berkaitan dengan infrastruktur air bersih ini, sehingga sekarang Sumatera Utara relatif tidak menghadapi masalah dan kebutuhan masyakat relatif dapat dipenuhi. Masalah yang ada biasanya berkaitan dengan peningkatan tarif air bersih dan kualitas pelayanan pegawai instansi yang berkaitan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

238

Jumlah Penggunaan Air Bersih Menurut Kelompok Konsumen (ribuan m3)
160000 140000 2500 120000 2000 100000 80000 60000 1000 40000 500 20000 0 Sosial Non Niaga Niaga Industri 0 1500 3000

2001 1901 39349 3724 240

2002 2110 43333 4062 269 7

2003 4264 77786 4411 419 1444

2004 9169 142200 12653 716 1440

2005 9068 148495 13442 662 2419

114

Khusus Sumber : Badan Pusat Statistik 9

VI. Tindak Lanjut Berdasarkan kondisi pencapaian pembangunan bidang infrastruktur sebagaimana diuraikan di atas, maka beberapa upaya yang harus dilaksanakan sebagai tindak lanjut untuk mencapai sasaran RPJM 2009 adalah: • Peningkatan dan penambahan infrastruktur tenaga listrik sehingga mencukupi kebutuhan dan permintaan masyarakat. Defisit tenaga listrik di Sumatera Utara harus segera diatasi sehingga tidak mengganggu aktivitas perekonomian dan aktivitas harian masyarakat. • Percepatan pembangunan Bandara Baru Medan (Kuala Namu) yang berkualitas dan bertaraf internasional sehingga menjadi motor utama penggerak roda perekonomian Sumatera Utara secepatnya. Bandara baru ini diharapkan akan dapat mengantisipasi perkembangan dan pertambahan permintaan layanan transportasi udara yang pada akhir-akhir ini terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. • Realisasi pembangunan jalan tol terutama ruas Medan-Binjai dan Medan Tebing Tinggi sehingga memperlancar arus transportasi dan meningkatkan efisiensi biaya, waktu, tenaga dan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 239

sebagainya. Pembangunan sarana jalan tol ini merupakan hal yang sangat mendesak dan mutlak sehingga dapat meningkatkan daya dukung, kapasitas, dan kualitas pelayanan sarana jalan. Pembangunan ini tidak menyampingkan realisasi pembangunan jalan lintas timur, tengah dan lintas barat. • Pembinaan penegakan hukum serta peningkatan fasilitas keselamatan dan operasional LLAJ sehingga dapat menjamin kelancaran dan keselamatan lalulintas jalan. Upaya ini juga harus diikuti peningkatan penyediaan pelayanan angkutan ke daerah terpencil dan perbatasan secara lebih merata misalnya dengan pengembangan tambahan jaringan kereta api termasuk ke kawasan andalan. VII. Penutup Pembangunan infrastruktur sebagai salah satu bidang yang diprioritaskan dengan cepat merupakan satu kebijakan yang tepat karena infrastruktur yang tersedia dengan baik akan menjadi roda penggerak bagi pembangunan ekonomi. Infrastruktur jalan misalnya, merupakan tulang punggung bagi pergerakan arus barang maupun penumpang. Selain itu infrastruktur lainnya seperti kelistrikan dan sarana komunikasi merupakan aspek yang sangat penting pula untuk mendukung proses produksi di berbagai sektor. Tidak dapat diingkari bahwa sebagain besar aktivitas ekonomi akan terkendala jika infrastruktur ini tidak cukup atau tidak tersedia sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, pemerintah dan masyarakat harus berupaya keras dan melakukan berbagai upaya inovatif kea rah pembangunan, penambahan dan perawatan berbagai infrastruktur yang ada di tengah-tengah keterbatasan dana yang tersedia.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

240

BAB V ISU-ISU STRATEGIS SUMATERA UTARA

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

241

Bab 5.1. Pengantar Seperti telah dijelaskan dalam uraian di muka bahwa Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat besar baik dari sudut sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Juga lokasinya strategis karena dekat dengan Singapura yang merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia, dan berada ditepi Selat Malaka yang merupakan salah satu alur pelayaran internasional yang paling sibuk. Dalam posisi yang demikian, Sumatera Utara selayaknya mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi dan dalam hal sumberdaya manusia telah mengalami internasionalisasi nilai-nilai yang membawa daerah tersebut kepada kemajuan pesat dalam bidang sosial dan ekonomi. Tetapi fakta-fakta lapangan belum menunjukkan bahwa potensi tersebut belum termanfaatkan sesuai dengan harapan . Berbagai masalah yang sebagian diantara bersifat strategis masih tetap tersisa karena belum tersentuh walaupun setiap tahun masuk dalam daftar prioritas program pembangunan yang menyebabkan berbagai potensi strategis tadi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan beberapa sumberdaya yang dulunya bersifat strategis kini telah tergerus tanpa pernah memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraaan masyarakat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

242

Bab 5.2. Isu-isu Strategis 1. Bidang Sosial Seperti telah dijelaskan dalam uraian di muka bahwa Sumatera Utara memiliki potensi yang sangat besar baik dari sudut sumberdaya alam dan sumberdaya manusia. Juga lokasinya strategis karena dekat dengan Singapura yang merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi dunia, dan berada ditepi Selat Malaka yang merupakan salah satu alur pelayaran internasional yang paling sibuk. Dalam posisi yang demikian, Sumatera Utara selayaknya mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi dan dalam hal sumberdaya manusia telah mengalami internasionalisasi nilai-nilai yang membawa daerah tersebut kepada kemajuan pesat dalam bidang sosial dan ekonomi. Tetapi fakta-fakta lapangan belum menunjukkan bahwa potensi tersebut belum termanfaatkan sesuai dengan harapan. Berbagai masalah yang sebagian diantara bersifat strategis masih tetap tersisa karena belum tersentuh walaupun setiap tahun masuk dalam daftar prioritas program pembangunan yang menyebabkan berbagai potensi strategis tadi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Bahkan beberapa sumberdaya yang dulunya bersifat strategis kini telah tergerus tanpa pernah memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesejahteraaan masyarakat. a. Konflik Pertanahan Sumatera Utara merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang memiliki usaha perkebunan yang amat luas yang terdiri dari usaha perkebunan milik negara, swasta nasional, swasta asing dan perkebunan rakyat. Sebagian usaha perkebunan milik negara berada di sekitar kawasan permukiman rakyat. Karena jumlah penghuni kawasan permukiman cenderung semakin meningkat karena pertumbuhan penduduk maka kebutuhan tanah semakin terasa sangat menekan. Situasi ini mendorong masyarakat untuk memanfaatkan lahan perkebunan khususnya perkebunan milik pemerintah yng ada di sekitar mereka. Peluang untuk memanfaatkan lahan perkebunan ini menjadi terbuka lebar ketika Kantor Reorganisasi Pemakaian Tanah (KRPT) berdasarkan UU Darurat No.8/1954 Tentang Penyelesaian Pemakaian Tanah Perkebunan oleh Rakyat memberikan Kartu Penguasaan dan Pemakaian Tanah (KPPT) kepada masyarakat sekitar untuk memanfaatkan tanah perusahaan perkebunan yang HGUnya telah berakhir karena tidak akan diperpanjang lagi. Tercatat luas tanah yang memenuhi ketentuan tersebut lebih dari 10.000 Ha. Penyerahan lahan tersebut yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat tidak menjadi kenyataan. Situasi ini kemudian memunculkan konflik vertikal antara mayarakat dan aparat penegak hukum ketika masyarakat kemudian mencoba
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 243

menduduki lahan yang ‘dipekarakan’ yaitu lahan perkebunan yang HGU-nya tidak diperpanjang lagi walaupun secara hukum belum masyarakat belum mendapat keabsahan untuk mendudukinya. Pemberian hak pemakaian tanah kepada rakyat semakin menguat karena berbagai surat dukungan menyusul kepada KPPT yaitu Surat Keputusan Mendagri Tahun 1965, dan 1981, Surat Keputusan Gubsu No. 26/IVAGR/ Jo No.36/K/AGR, Surat Keterangan Bupati Deli Serdang dan Walikota Binjai tentang pembagian sawah dan ladang dan Surat Sultan Deli selaku Pemangku Adat tentang Pemberian hak ulayat atas tanah PTPN II. Menguatnya tuntutan rakyat atas lahan tersebut mencapai puncaknya sehubungan dengan pernyataan pemerintah di era pemerintahan Presiden Abdul Rahman Wahid tentang penyerahan 40 % dari lahan perusahaan perkebunan milik negara yang telah berakhir HGU nya kepada masyarakat setempat . Konsekwensi dari pernyataan tersebut, luas lahan PTPN II di Kabupaten Deli Serdang dan Kota Binjai yang diklaim oleh masyarakat sangat luas yaitu mencapai 21.792 Ha dari 62.214 Ha luas seluruh PTPN II. Lahan tersebut kemudian menjadi ajang perebutan baik antar sesama anggota masyarakat maupun antar masyarakat dengan PTPN II karena PTPN II tidak dengan sendirinya bersedia melepaskan haknya atas lahan tersebut. Pro-kontra kemudian merebak dan terjadi secara berkepanjangan karena tetap tidak mendapat kejelasan dalam penyelesaiannya. Hal sangat meresahkan karena melibatkan jumlah anggota masyarakat yang cukup besar. Pemerintah Provinsi bersama dengan Badan Pertanahan Nasional Sumut kemudian mencoba menjadi mediator penyelesaian dengan membentuk sebuah tim peneliti yang disebut Tim B+ yang diketuai oleh Kepala BPN Sumatera Utara. Hasil penyelidikan tim B+, ialah luas tanah yang dapat diserahkan kepada masyarakat hanya 5.875,56 Ha dengan syarat penyerahan hanya dapat dilakukan apabila telah keluar Surat Keputusan dari Menteri Keuangan selaku pemilik aset dan BPN Pusat selaku administrator dalam pengaturan peruntukan lahan. Surat keterangan yang dimaksud ternyata hingga kini belum keluar namun masyarakat telah secara tegar bertekad untuk tetap menduduki lahan tersebut. Akibatnya konflik antara PTPN II dan masyarakat merebak berulang-ulang. Walaupun demikan, cara penyelesaian tuntas tetap belum di temukan. Dalam suasana seperti ini tidak sedikit pula pihak-pihak tertentu untuk kepentingan tertentu pula secara tidak bertanggungjawab membakar emosi masyarakat untuk berbuat anarkis. b. Ancaman Epidemi Sumatera Utara tercatat sebagai salah satu provinsi tidak jarang diserang oleh berbagai penyakit menular yang sangat mencemaskan masyarakat. Dua penyakit yang sering muncul ialah demam berdarah (DBD) dan flu burung (AI). Penyakit demam berdarah yang bersumber dari nyamuk setiap

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

244

tahun menyerang berbagai kota dan desa di Sumatera Utara dan terjadi beberapa kali dalam satu tahun. Sepanjang tahun 2004 hingga tahun 2007 telah tercacat jumlah korban meninggal puluhan orang per tahun. Kendati jumlah serangan penyakit ini semakin meningkat, rumah sakit rujukan yang efektif menangani penyakit ini tidak bertambah. Karena setiap pasien sangat membututhkan penanganan yang bersifat seger maka kekurangan falilitas ini menyebabkan korban sulit dihindarkan pasien terutama di daerah pedesaan. Berbeda dengan epidemi demam berdarah, penyakit flu burung (Avian Influenze) bersumber atau menggunakan ternak sebagai media tumbuh dan menyebar kepada manusia. Wabah penularan yang paling hebat terjadai pada akhir tahun 2007 lalu yang mencatat sejumlah jumlah korban. Ada dua hal besar yang menjadi kekhawatiran pemerintah daerah dan masyarakat tentang penyakit ini. Pertama ialah berhubungan dengan informasi yang menyebutkan bahwa penyakit flu burung sangat mudah menjalar melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan ternak domestik peliharaan masyarakat seperti ternak unggas segala jenis (ayam, bebek, angsa, burung dan lain-lain). Sebagian besar masyarakat khususnya di pedesaan akrab dengan ternak tersebut karean merupakan ternak peliharaan merereka sebagai salah satu sumber pendapatan rumah tangga. Cara efektif untuk memutus mata rantai penyakit dari unggas kepada manusia dikabarkan belum ditemukan. Pasien yang teinfeksi hanya diberi treatment untuk penguatan daya tahan tubuh guna melawan penyebaran penyakit tersebut dalam tubuh korban. Dengan demikian, untuk mnghidari perluasan wabah ini masyarakat harus dijauhkan dari unggas tersebut. Atas dasar pemikiran ini muncul kekhawatiran masyarakat yang kedua yaitu berkenaan dengan keluarnya instruksi pemerintah untuk memusnahkan seluruh unggas di sekitar wilayah dimana penyakit ini sedang mengalami penularan. Instruksi pemerintah dalam menghadapi penularan wabah tahun 2007 di Kabupaten Karo ialah memusnahkan seluruh unggas yang ada dalam area 1 km dari lokasi penjangkitan. Instruksi ini mendapatkan perlawanan dari masyarakat karena hal ini berarti membunuh ratusan ribu unggas peliharaan masyarakat yang juga berarti membunuh total perekonomian mereka baik yangbekerja sebagai peternak unggas maupun sebagai pedagang unggas. Hal ini memunculkan konflik vertikal antar masyarakat dan pemerintah karena bagi pemerintah keselamatan umum tidak dapat dipertaruhkan sedangkan bagi masyarakat kehancuran ekonomi keluarga mungkin lebih berbahaya dari ancaman virus flu burung. Penyelesaian tuntas belum diperoleh, tetapi kerena ancaman serangan sudah mereda maka ketegangan menurun. Ancaman mereda bukan berarti ancaman telah berhenti melainkan berhenti sesaat untuk muncul lagoi kemudian hari apabila environment-nya kondusif untuk berkembang lagi.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

245

c. Peredaran Narkoba Peredaran narkotika dan obat-obat terlarang da berbahaya (narkoba) seperti psikotropika, ganja dan lain-lain walupun terus menerus diberantas secara melembaga tidak pernah mengalami kemusnahan. Bahkan di setiap kantor pemerintah dibentuk badan tertentu yang bertugas memantau, mengawasi dan melaporkan setiap pristiwa yang berkaitan dengan peredaran (traficking), transaksi (jual-beli), penggunaan dan korban dari bahan berbahaya tersebut kepada pihak yang berkompeten untuk menanganinya. Wilayah peredaran narkoba yang pada awalnya terbatas hanya di wilayah perkotaan khususnya kota-kota besar kini telah merambah ke kota-kota kecil dan pedesaan. Kasus-kasus yang terungkap kepermukaan juga menunjukkan keterlibatan masyarakat awam tidak terkecuali para petani pedesaan, anak sekolah baik di tingakat SLTA maupun tingkat SD. Data tahun 2004-2007 menunjukkan bahwa kasus kejahatan narkotika di Sumatera Utara menduduki posisi ketiga terbesar dalam kejahatan yang terungkap kepermukaan dan sampai ke meja pengadilan. Dantara semua kasus kejahatan, hanya kejahatan narkotika yang tidak mengalam penurunan intensitas bahkan mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sehubungan dengan merebaknya korban-korban narkotika tersebut maka bermunculan pula lembagalembaga rehabilitasi korban narkotika baik yang didirikan oleh organisasi keagamaan maupun oleh individu yang melihat masalah rehabilitasi ini sebagai peluang untuk berbakti antar sesama atapun mungkin juga sebagai peluang ekonomi. Tidak sedikit dana yang dihabiskan oleh keluarga untuk merehabilitasi korban yang telah kecanduan dan banyak pula yang gagal. Beberapa kasus menunjukkan bahwa korban yang gagal mengalami rehabiltasi yang awalnya hanya sebagai pemakai sebagian tumbuh menjadi pengedar yang sangat mencemaskan masyarakat. d. Kriminalisme Bentuk kriminalisme yang terbesar ialah pencurian baik disertai dengan kekerasan, pemberatan menyusul penganiyaan dan pembunuhan, kejahatan ekonomi/pemalsuan, penggelapan dan lain-lain. Kejahatan berupa perjudian tela merosoot drastis 809 kasus pada tahun 2004 menjadi haya 38 kasus pada tahun 2007. Penurunan kasus ini dirasakan sejak Kapolri Republik Indonesia memberikan instruksi kepada setiap Kapolda pada tahun 2006 yang lalu di seluruh wilayah Indonesia untuk memberantas habis setiap bentuk perjudian di Indonesia. Hasilnya semua bentuk judi baik yang dilakukan secara terbuka maupun terselubung menurun drastis. Kondisi pada tahun 2005 menunjukkan situasi yang sangat mengenaskan karena judi telah terang-terangan dilakukan di muka

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

246

umum seperti warung-warung kopi, dan terminal bus yang tersebar tidak hanya di kota besar juga di kota-kota kecil. Sebaliknya kejahatan berupa pencurian dan perampokan disertai penganiayaan dan pembunuhan terlihat semakin meningkat. Pencurian kendaraan bermotor baik roda empat maupun roda dua hampir terjadi setiap hari dengan 2-5 kasus per hari. Kantor-kantor polisi dipadati dengan pengaduanpengaduan yang jarang berakhir dengan ditemukannya pelaku kejahatan tersebut. Masyarakat sangat diresahkan dengan ancaman pencurian tersebut sehingga menurunkan kerja produktif mereka. Aparat penegak hukum khususnya polisi hanya menghimbau agar masyarakat melipat-gandakan pengamanan kendaraan masing-masing. Jumlah tenaga aparat yang menangani kasus-kasus pencurian dengan besarnya jumlah pengaduan sangat tidak sebanding sehingga masyarakat tidak percaya apabila mereka mengalami kejahatan tersebut mereka akan mendapat keadilan. Akibat ketidakpercayaan ini maka apabila sipelaku kejahatan secara kebetulan tertangkap maka nyawa dia sering menjadi taruhan. Hal ini tentu tdak sejalan dengan status negara Republik Indonesia sebagai negara hukum. e. Pengangguran Pengangguran adalah salah satu situasi yang amat ditakuti oleh masyarakat khususnya mereka yang mempunyai pendidikan formal mulai dari SLTA hingga pasca sarjana. Situasi lapangan menunjukkan bahwa masyarakat berdesak-desakan mengajukan lamaran terhadap setiap lowongan pekerjaan dibuka tanpa melihat atau mempertimbangkan apakah lowongan pekerjaan yang ditawarkan tersebut memiliki potensi pengembangan karir atau tidak. Misalnya dalam penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Kantor Gubernur Sumatera Utara, jumlah pegawai yang dibutuhkan hanya 114 orang. Jumlah pelamar yang mendaftarkan diri untuk mengikuti seleksi lebih dari 5.500 orang, suatu jumlah yang sangat fantastis untuk memperebukan jabatan hanya sebagai pegawai negeri biasa. Jika dijumlahkan dengan calon-calon di 18 kabupaten / kota yang melakukan seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil di Sumatera Utara maka tercatat lebih dari 87.000 orang dengan tingkat persaingan rata-rata 1:20. Ketika kepada beberapa calon lulusan Perguruan Tinggi ternama ditanyakan alasan melamar pegawai negeri diperoleh jawaban yang sangat mengenaskan bahwa mereka tidak yakin bahwa dalam waktu dekat akan ada lowongan yang terbuka. Berprofesi pegawai negeri menurut mereka sebenarnya bukan idaman tetapi dalam suasana seperti sekarang, menjadi pegawai negeri akan efektif mengurangi tekanan hidup.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

247

Di Provinsi Sumatera Utara, data resmi BPS menunjukkan jumlah pengangguran terbuka pada tahun 2004 mencapai 13.75 % dan pada tahun 2007 sedikit menurun menjadi 10.10 % dari jumlah tenaga kerja. Jika dihitung bersama pengangguran yang tidak terbuka (pengangguran yang tidak terdaftar di Dinas Tenaga Kerja di tambah dengan pengangguran tersamar) maka jumlah pengangguran di Sumatera jauh lebih besar. Dalam berbagai seminar diungkapkan angka lebih dari 40 % dari jumlah angkatan kerja 2. Bidang Infrastruktur a. Kerusakan Jalan dan Jembatan Kendati semua pihak menyadari arti pentingnya infrastruktur jalan dan jembatan bagi kelancaran roda perekonomian setiap daerah, hampir setiap tahun masyarakat dan pelaku ekonomi di Sumatera Utara mengeluhkan kualitas infrastruktur jalan dan jembatan di daerah ini karena dinilai yang sangat buruk. Data statistik BPS menunjukkan bahwa pada tahun 2004, dari 33.561,779 Km panjang jalan yang ada,hanya 11.262,122 km (33.56 %) saja yang berada dalam keadaan baik. Sepanjang 13.696,549 km (40.80 %) dalam keadaan rusak dan rusak berat. Data tahun 2007 tidak menunjukkan kemajuan yang berarti. Persentase panjang jalan dalam keadaan baik hanya 39.85 % sedangkan jalan yang rusak tetap tinggi yaitu 34.26 %. Hal ini sangat kontras dengan kondisi infrastruktur di negara-negara tetangga yang terus memacu laju pertumbuhan ekonomi mereka dengan memprioritaskan peningkatan kualitas infrastruktur sampai kepada tingkat mantap. Kerusakan infrastruktur sering dituding sebagai akibat dari ketidakdisiplinan kendaraan angkutan yang bermuatan melebihi standar kualitas jalan. Tudingan ini terasa aneh karena justru pengadaan infrastruktur jalan adalah untuk melayani arus lalu lintas barang dan orang. Meningkatnya arus muatan dan orang melalui suatu ruas jalan pada dasarnya adalah sebuah keberhasilan pembangunan ekonomi sehingga standar daya dukung jalan di kawasan dimana arus produksi meningkat harus ditingktkan. Di samping itu, teknologi perbaikan dan perawatan jalan masih jauh dari kaidah-kaidah perbaikan dan perawatan yang normatif. Menurut kaidah akademik, strategi perbaikan ialah mengurangi faktor yang mempercepat terjadinya kerusakan. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa faktor penyebab kerusakan terbesar bukan pada muatan yang berlebih tetapi tidak tersedianya sistem drainase di di pinggir kiri-kanan jalan. Hampir semua ruas jalan di Sumatera Utara kecuali di wilayah perkotaan tidak di lengkapi dengan sistem drainase yang memadai.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

248

Akibatnya, ketika hujan turun, arus air hujan mengalir di sepanjang badan jalan ataupun melintang diberbagai bagian jalan sehingga permukaan jalan secara perlahan terus digerus. Ketika masalah ini dikonfirmasikan kepada instansi terkait (Dinas Jalan dan Jembatan Provinsi Sumatera Utara) diperoleh informasi bahwa dana untuk membangun sistem drainase yang tangguh sungguh mahal sehingga anggaran yang tersedia setiap tahun tidak mampu menjangkau. Hal ini berarti Sumatera Utara telah menempatkan diri untuk terus-menerus bergelut dengan kerusakan jalan dan menerima secara ikhlas dampak negatifnya terhadap perlambatan pembangunan di sektor-sektor produktif yang sangat tergantung kepada ketersediaan jalan dan jembatan yang berkualitas baik. b. Pembangunan Bandara Udara Kuala Namo Bandar udara Polonia adalah salah satu bandar udara internasional dan merupakan pintu gerbang utama wilayah Sumatera Bagian Utara. Bandar udara ini mempunyai luas areal sekitar 600 Ha dan berdampingan dengan lapangan udara milik Angkatan Udara Republik Indonesia. Bandar udara ini berada di tengah kota Medan dengan jarak sekitar hanya 2 km dari pusat kota. Dengan luas areal yang demikian sempit maka semakin terasa ketidakmampuan fisik bandar udara untuk mengakomodasi peningkatan frekuensi penerbangan setiap tahun termasuk menampung kendaraan pengunjung di lapangan parkir. Ketidakmampuan ini berujung kepada kesemrautan di mana-mana sehingga situasi bandar udara jauh dari kesan bandar udara internasional. Disamping itu, lokasi bandar udara yang berada di tengah kota menimbulkan masalah bagi pembangunan lingkungan sekitar karena tidak diperkenankan mendirikan bangunan lebih dari dua tingkat. Dua korban telah terjadi yaitu sebuah plaza yang berlantai empat harus dipotong menjadi hanya dua tingkat, kemudian sejumlah rumah mewah di sebuah kawasan permukiman disekitarnya juga harus dipotong satu tingkat. Ancaman yang paling serius ialah lokasi naik-turus pesawat udara yang melintasi kawasan permukiman yang padat penduduk. Peristiwa kegagalan take-off pesawat Mandala penerbangan Medan-Jakarta pada tanggal 5 September 2006 lalu yang menewaskan sebagian besar penumpang termasuk Gubernur Sumatera Utara Tengku Rizal Nurdin, mantan Gubernur yang juga anggota DPD-RI perwakilan Sumatera Utara Raja Inal Siregar, seorang koleganya yang juga anggota DPD perwakilan Sumatera Utara dan sejumlah anggota masyarakat yang lalu lalang di sekitar lokasi jatuhnya pesawat telah menimbulkan trauma masyarakat setiap kali ada pesawat yang take-off dan landing. Untuk mengatasi masakah diatas dan sekali gus meningkatkan peran bandar udara ini dalam melaksanakan kontribusinya dalam menunjang perekonomian Sumatera Utara, Pemerintah Provinsi
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 249

Sumatera Utara telah menyusun rencana pemindahan lokasi Bandar Udara Polonia ke suatu lokasi di daerah Batang Kuis Kabupaten Deli Serdang. Telah tersedia (dibebaskan) lahan seluas kurang lebih 1.100 ha disertai dengan rancangan pembangunan termasuk pengadaan jalan tol dari pusat kota Medan ke lokasi bandar udara. Berbagai pendekatan telah dilakukan baik terhadap sejumlah investor maupun Pemerintah Pusat agar pembangunan bandar udara pengganti ini segera di realisasi. Berdasarkan informasi yang disampaikan kepada masyarakat pada tahun 2006, bandar udara ini akan rampung dan dapat dioperasikan pada tahun 2009. Namun, tanda-tanda akan rampungnya bandar udara ini belum terlihat bahkan sangat jauh dari meyakinkan. Masih belum jelas dari mana sumber-sumber pendanaan yang jumlahnya diperkirakan sangat besar. Masyarakat Sumatera Utara akan tetap menuntut agar pembangunan bandar udara ini segera dilakukan mengingat beberapa provinsi tetangga seperti Sumatera Barat dan Sumatera Selatan telah memiliki bandar udara baru dan telah beroperasi sejak beberapa tahun lalu. Pembangunan bandar udara baru di Provinsi Nangro Aceh Darussalam sedang menuju perampungan. Mengapa Medan sebagai kota terbesar ke tiga di Indonesia masih memiliki bandar udara yang berukuran kecil, dan terkesan jauh dari kualitas bandar udara yang bertaraf internasional, pada hal Sumatera Utara memiliki potensi ekonomi sangat tinggi? c. Pelabuhan Peti Kemas Belawan Pelabuhan Belawan adalah sebuah Pelabuhan Nusantara yang terbesar di wilayah Sumatera dan dikenal sebagai gerbang laut Sumatera Bagian Utara. Melalui pelabuhan ini, sebagian besar barangbarang kebutuhan pembangunan serta produksi masyarakat Sumatera Utara dan Nangro Aceh Darussalam disalurkan dari dan keluar daerah. Pelabuhan ini memiliki sebuah terminal peti kemas. Permasalahan yang dihadapi oleh terminal ini ialah langkanya fasilitas modern yang memungkinkan bongkar-muat kargo dapat dilakukan secara lancar, waktu yang singkat dan dokumentasi yang akurat. Hal ini membuat pelabuhan ini tetap tidak berhak mendapatkan sertifikat internasional. Akibat kelangkaan fasilitas ini, sebagian besar importir luar negeri tidak menghendaki barang-barang impor mereka dikapalkan dari Pelabuhan Belawan tetapi melalui Pelabuhan Singapura. Hal ini dapat dilihat dari angkutan peti kemas yang berisi komoditas ekspor Sumatera Utara yang diangkut dari Pelabuhan Belawan harus diarahkan dan dibongkar ulang di Pelabuhan Singapura. Untuk pemindahan (bongkar muat ulang) ini Pelabuhan Singapura mengenakan biaya jasa sebesar US $ 500 per peti kemas ukuran ekivalen 20 ft. Situasi yang demikian bukan hanya terjadi di Pelabuhan Belawan tetapi juga pelabuhan-pelabuhan lain di Indonesia. Berdasarkan informasi dari PT Pelindo I (2006), dari 5 juta petikemas ekivalen 20 ft yang di ekspor Indonesia ke berbagai negara, sebanyak 80 % atau 4 juta peti kemas diharuskan untuk dikapalkan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 250

dari Pelabuhan Singapura. Dengan demikian akan terjadi bongkar-muat ulang dan pengangkutan melalui pelabuhan tersebut. Jika setiap unit ekivalen 20 ft harus dibayar $ 500 maka total pembayaran Indonesia sebagai biaya ketidakpercayaan luar negeri terhadap kualitas pelayanan pelabuhan Indonesia ialah $ 2.000 juta suatu jumlah yang amat fantastis. Masihkah Pelabuhan tetap bersikukuh pada keadaan tidak ada dana pembangunan / moderinisasi sistem dan fasilitasnya? d. Jalan Tol Medan-Binjai Ruas jalan Medan-Binjai yang panjangnya sekitar 22 km adalah salah satu urat nadi utama lalu lintas di Kawasan Mebidang (Medan-Binjai-Deli Serdang). Ruas jalan ini juga merupakan urat nadi utama lalu lintas darat dari Medan ke Provinsi Nangro Aceh Darussalam melalui Besitang, Lhok Sukon dan seterusnya menuju Banda Aceh. Karena merupakan urat nadi utama lalu lintas yang setiap tahun mengalami peningkatan arus kendaraan baik angkutan orang maupun barang maka sesuai dengan rencana jangka panjang pembangunan Kawasan Mebidang telah disusun rancangan pembangunan jalan tol sepanjang ruas jalan tersebut. Dengan adanya jalan tol ini maka ruas jalan lama akan berfungsi sebagai jalan alternatif. Pembangunan jalan tol ini berdasarkan hasil rancangan yang disusun telah ditenderkan pada tahun 2007 lalu untuk mendapatkan calon investor yang tertarik dan mampu. Hasilnya sungguh tidak memuaskan karena tidak ada satu penawaranpun yang diterima panitia. Alasan ketidak-tertarikan investor untuk memasukkan penawaran adalah karena panitia tender mempersyaratkan masalah pembebasan lahan diserahkan atau menjadi kewajiban para pemenang tender. Masalah pembebasan lahan sudah lama dikenal sebagai masalah yang sangat rumit di Sumatera Utara. Berbagai kasus pembebasan lahan termasuk lahan untuk pembangunan infrastruktur kepentingan masyarakat seperti jalan lingkar luar kota Medan dan lainnya tidak ada yang tidak mengalami konflik yang berkepanjangan, sangat melelahkan dan sangat rawan untuk disusupi oleh unsur politis. Belajar dari pengalaman kasuskasus yang telah muncul kepermukaan maka sangat wajar apabila para calon investor tidak tertarik untuk berpartisipasi dalam pembangunan jalan tol Medan-Binjai. Jika panitia tender tetap berpendirian sesuai dengan konsep semula maka kecil kemungkinan jalan tol ini akan jadi dibangun. Bila demikian halnya maka dalam waktu tidak terlau lama, arus lalu-lintas Medan-Binjai akan menghadapi kemacetan yang sangat serius dan rawan akan kecelakan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

251

e. Jalan Lingkar Danau Toba Danau Toba adalah salah satu objek wisata utama di Sumatera Utara. Danau ini berada di pegunungan Bukit Barisan terletak sekitar 1.000 m diatas permukaan laut dan sekaligus merupakan danau air tawar terbesar di dunia. Dari danau ini mengalir sungai Asahan yang bermuara ke Selat Malaka melalui Kota Di Sungai Asahan terdapat sejumlah air terjun yang dinamakan Air Terjun Sigura-gura Tanjung Balai.

dan Air Terjun Tangga. Air terjun Sigura-gura telah dimanfaatkan menjadi sumber tenaga listrik berkekuatan 600 MW yang hampir seluruhnya digunakan oleh Industri Smelter Aluminium yang merupakan proyek Joint Venture Indonesia-Jepang. Kendati Danau Toba memiliki keunikan yang tiada tara, pembangunan Kawasan Danau Toba sebagai kawasan tujuan wisata internasional tidak berjalan dengan baik bahkan terkesan gagal. Daerah sempadan danau yang seharusnya merupakan daerah terbuka dan hijau untuk membangun panoramic scenery yang indah ternyata berkembang secara liar. Kawasan sempadan tersebut dipadati dengan bangunan hotel dan penginapan yang tidak memiliki standar kepariwisatan. Akibatnya kawasan tersebut terkesan sumpek dan jauh dari keindahan sebuah danau yang unik. Potensi besar kepariwisataan danau ini tidak muncul kepermukaan. Upaya penertiban bangunan hotel dan penginapan yang menjamur di kawasan sempadan pantai danau ternyata juga luar biasa sulitnya karena terkait dengan berbagai kepentingan sempit pihak-pihak tertentu. Untuk memunculkan kembali potensi besar kepariwisataan Danau Toba maka perlu digali potensi di kawasan sempadan pada bagian lain. Hal ini di mungkinkan karena garis pantai Danau Toba sangat sangat panjang dan dibagian tepi lainnya tidak kalah indahnya dengan bagian pantai yang telah dtaburi oleh bangunan hotel dan penginapan tersebut. Untuk memungkinkan penggalian ini maka langkah pertama yang harus dibangun ialah jalan tol lingkar luar danau. Ide untuk pembangunan jalan lingkar luar ini telah dimunculkan lebih dari 10 tahun silam. Bahkan telah menjadi salah satu isu yang diangkat oleh calon gubernur dalam kampanye politik untuk memenangkan Pilkada. Hingga kini kejelasan realisasi pembangunan jalan lingkar luar ini belum diperoleh kendati tetap menjadi program penting dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Sumatera Utara Tahun 2006-2025 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Sumatera Utara Tahun 2006-2013. f. Ketersediaan Pasokan Listrik Sejak sepuluh tahun lalu yaitu pada awal pemerintahan Gubernur Alm. Tengku Rizal Nurdin, PT. PLN telah menyampaikan warning kepada beliau bahwa dalam waktu tidak terlau lama Sumatera Utara akan
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 252

mengalami krisis tenaga listrik apabila peremajaan mesin pembangkit tenaga yang ada sekarang yaitu PLTU Sicanang Belawan berkekuatan sekitar 800 MW tidak dilakukan. Mesin pembangkit tersebut sudah sangat tua (dibangun disekitar tahun 1940 an) dan belum pernah diremajakan. Warning PT PLN tersebut ternyata tidak direspon secara wajar sehingga mulai tahun 2007 terjadi krisis tenaga listrik yang amat serius. Dari empat buah mesin yang ada, setiap mesin harus diservice satu kali per tahun dan setiap kali service kota Medan harus mengalami penghentian pasokan tenaga listrik secara bergilir. Karena service membutuhkan waktu selama 20 hari maka setiap bagian wilayah kota Medan diatur jadwal pemutusan pasokan yang ditetapkan berselang 4 jam. Artinya sekali pemadaman dibutuhkan waktu tunggu empat jam agar mendapat giliran pasokan kembali. Giliran pemutusan pasokan dapat terjadi 2-3 kali per hari sehingga menimbulkan kegelisahan pada masyarakat khususnya para pelajar, dan pengusaha UMKM. Akibat semakin frustrasinya masyarakat menghadapi krisis tenaga listrik ini maka sebagian anggota masyarakat membeli mesin generating set berkekuatan kecil hingga sedang. Hal ini memunculkan beban tambahan rumah tangga untuk pembelian bahan bakar minyak disamping pemborosan penggunaan bahan bakar fosil tersebut karena penggunaan bahan bakar sebagai sumber tenaga listrik tidak pada skala ekonomis. Pemerintah memberikan berbagai janji mengenai upaya penanggulangan secara darurat antara lain pembangunan jaringan interkoneksi dengan sistem pembangkit tenaga listrik Sumatera Selatan, penghentian sebagian kegiatan industri smelter untuk menyalurkan pasokan listrik dari PLTA Sigura-gura dan lain-lain. Semua kebijakan ini hanya bersifat temporer dan yang dibutuhkan oleh masyarakat Sumatera Utara untuk memutar roda perekonomian lebih lancar adalah adanya jaminan pasokan listrik yang berkualitas dan mampu memenuhi peningkatan kebutuhan sesuai dengan peningkatan laju pembangunan ekonomi Sumatera Utara.

3. Bidang Ekonomi a. Pembangunan Kawasan Agropolitan Berdasarkan kesepakatan para Bupati dari delapan kabupaten di Dataran Tinggi Bukit Barisan yaitu Karo, Simalungun, Dairi, Pakpak Bharat, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Toba Samosir dan Samosir, dibentuk sebuah kawasan agropolitan yang diberi nama Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Bariasan. Tujuan dari pembentukan kawasan tersebut ialah memajukan wilayah pedesaan dari delapan kabupaten tersebut sebagai kawasan produksi sesuai dengan potensi masing-masing yang didukung oleh sarana produksi dan infrastruktur fisik yang berkualitas. Dengan sistem produksi yang
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 253

dirancang dalam konsep agropolitan ini, desa-desa akan menjadi pusat produksi berkualitas yang didukung oleh sistem distribusi dan pemasaran dalam skala ekonomi yang memungkinkan biaya produksi minimum. Master plan pengembangan kawasan ini telah selesai disusun sesuai potensi dan kesepakatan ke delapan kabupaten yang terlibat. Pada tahun 2007 lalu Presiden Susilo Bambang Yudohono telah berkenan meresmikan keberadaan kawasan ini sebagai sebuah kawasan unggul di Sumatera Utara serta menyarankan agar segera ditindak lanjuti. Arahan dan dukungan dari berbagai instansi Pemerintah Pusat antara lain ialah Departemen Dalam Negeri, Departemen Pekerjaan Umum dan Dewan Perwakilan Rakyat telah diterima oleh Tim Pengelola yang dibentuk dan disahkan oleh Gubernur Sumatera Utara. Kiranya pembangunan kawasan ini dapat segera terwujud karena sangat diyakini akan menjadi model pembangunan dan kerjasama yang efektif antar kabupaten berbatasan untuk peningkatan produksi dan daya saing pedesaan di Sumatera Utara pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

b. Pembangunan Kawasan Agromarinpolitan Pembangunan kawasan unggulan bebasis desa pantai yang dikenal sebagai Kawasan Agromarinpolitan adalah sebuah kesepakatan Bupati / Walikota dari kabupaten / kota yang berada di kawasan pantai Timur dan Barat Sumatera Utara. Model pembangunan kawasan unggulan ini tidak berbeda secara prinsipil dengan model pembangunan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan. Kerjasama pembangunan kawasan ini juga telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudohono bersamasama dengan Kawasan Agropolitan Bukit barisan. Motivasi pembangunan kawasan ini adalah sulitnya masyarakat pesisir baik di Pesisir Timur maupun di Pesisir Barat untuk bangkit dari kegiatan produksi yang digeluti dari waktu ke waktu. Bahkan terlihat tanda-tanda sulitnya mereka keluar dari keterpurukan baik karena ketiadaan sarana dan infratruktur poduksi maupun ketidak jelasan sistem distribusi dan marketing hasil produksi mereka yang bersumber dari kawasan pesisir. Masyarakat sangat mengharapkan perubahan besar berupa pemberdayaan mereka yang dapat diciptakan melalui pembangunan kawasan agromarinpolitan ini.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

254

c. Pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus Sumatera Utara telah ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai salah satu Kawasan Ekonomi Khusus (Special Economic Zone) bersama-sama dengan sejumlah provinsi lain di Indonesia. Sesuai dengan namanya, zona ekonomi ini berupa sebuah kawasan yang dikelola secara khusus dengan fasilitas yang mencukupi guna memberikan daya saing yang tinggi bagi investor yang memanfaatkannya. Di luar negeri salah satu kawasan ekonomi khusus yang berhasil dengan baik ialah Shenzhen Economic Zone yang dibangun pada tahun 1982 di RRC. Kawasan Ekonomi Khusus merupakan sebuah kawasan yang relatif luas dilengakap dengan sarana-prasarana yang baik dan di kenakan peraturan-peraturan tersendiri untuk memungkinkan kegiatan produksi di kawasan tersebut memiliki daya saing yang tinggi di pasar global. Kawasan ini pada umumnya disediakan oleh pemerintah provinsi dan dapat bekerjasama dengan para investor. Kawasan Ekonomi Khusus di Sumatera Utara pada saat ini sedang dalam taraf persiapan pembuatan rancangan termasuk penentuan lokasi yang paling sesuai. Telah tersedia beberapa calon lokasi yang dipandang memenuhi ketentuan untuk dipilih secara cermat dengan memperhatikan semua kebutuhan fisik, manajemen dan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

d. Pertanian Organik (Nature Farming System) Sistem pertanian yang dilaksanakan oleh masyarakat khususnya pertanian tanaman pangan hampir seluruhnya dikategorikan pertanian berbasis kimia (chemical-based farming) artinya kegiatan pertanian sepenuhnya mengandalkan produktivitas lahan kepada pupuk kimia baik pupuk nitrogen, pupuk kalium maupun pupuk fosfat. Kebutuhan pupuk semakin meningkat dari tahun ke tahun karena pertanian semakin sulit menghandalkan faktor kesuburan tanah dalam menunjang produktivitas lahan yang tinggi. Dalam era 1980-an sistem pertanian berbasis kimia tidak menghadapi masalah karena pupuk tersedia dalam jumlah yang mncukupi, harga yang wajar dan dapat dijangkau petani dan yang lebih penting para konsumen termasuk konsumen luar negeri masih dapat menerima produk-produk pertanian yang menggunakan bahan kimia baik berupa pupuk maupun pestisida kimia. Produk-produk pertanian Sumatera Utara seperti sayur-sayuran yaitu kubis, kentang, wortel, tomat, cabai dan lain-lain masih dapat diterima oleh pasar. Data tahun 1980-an mencatat bahwa sekitar 60 % dari kebutuhan sayursayuran di Singapura dan Malaysia diimpor dari Sumatera Utara.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

255

Keadaan pasar luar negeri mengalami perubahan sejak pertengahan tahun 1990-an yaitu ketika negara China mulai bangkit dengan merubah sistem ekonominya dari sistem komando (the command economic system) mejadi sistem ekonomi pasar (the market economic system). Di sektor pertanian, China berproduksi dalam sistem pertanian alami (the nature farming system). Sistem pertanian alami ini tidak menggunakan pupuk kimia tetapi pupuk organik yang bebas dari bahan kimia karena dibuat dari bahanbahan limbah pertanian seperti batang jagung atau merang padi, kotoran ternak, bahan starter untuk proses fermentasi dan lain-lain. Pergeseran sistem pertanian kearah pertanian alami ini dimotivasi oleh fakta-fakta lapangan. Pertama ialah hasil-hasil pertanian berbasis kimia mengandung residu kimia baik dari bahan pupuk kimia maupun dari pestisida kimia pada produk yang dihasilkan. Para konsumen luar negeri yang semakin sadar kesehatan secara perlahan telah mencoba mengurangi / menghindari konsumsi hasil-hasil pertanian kimia. Kedua, pertanian kimia semakin merusak struktur lahan karena pupuk kimia mematikan unsur-unsur makro dan micro oranisme pada lahan yang membuat lahan semakin kurus. Akibatnya kebutuhan pupuk per ha lahan semakin tinggi. Penggunaan pupuk kimia yang semakin banyak akan menghancurkan struktur lahan yang semakin parah pula. Ketiga, pupuk kima yang bersumber dari bahan baku gas alam (natural gas) akan semakin sulit diperoleh karena gas alam adalah juga sumber energi yang tak terbarukan sehingga semakin dibutuhkan dalam pengadaan energi dalam situasi krisis energi yang semakin sulit dihadapi. Ketiga faktor diatas menyebabkan situasi yang paradoksikal terhadap pertani yaitu harga komoditi yang semakin rendah tetapi biaya produksi semakin naik dan produktivitas lahan semakin turun seperti terlihat dalam diagram dibawah ini. Berbeda dengan sistem pertanian kimia, pada sistem pertanian alami yang juga sring disebut pertanian organik, harga komoditi terpelihara dengan baik, biaya produksi lebih rendah dan produktivitas lahan juga terpelihara karena struktur tahan dapat dipertahankan secara berkelanjutan. Dengan demikian margin yang tinggi dapat dipelihara.

Harga jual Rp Biaya produksi
Margin

Harga jual Rp Biaya produksi waktu b. Sistem Pertanian Organik (Margin Cenderung Meningkat)
Margin

waktu a. Sistem Pertanian Berbasis Kimia (Margin Cenderung Menurun)

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

256

e. Pembangunan Industri Hilir Suatu hal yang umum ditemui di negara-negara yang telah mengalami kebangkitan ekonomi yang baik ialah kebijakan untuk mengembangkan industri hilir terhadap setiap bahan baku yang mereka hasilkan. Misalnya Italy dan Spanyol yang banyak memproduksi kulit sapi hasil peternakan dalam negeri, berkembang dengan pesat industri penyamakan kulit, industri-indutri pembuatan barang-barang kulit kelas wahid, industri pembuatan mesin-mesin pengolahan kulit dan sekolah-sekolah kejuruan tentang keterampilan membuat disain produk-produk kulit (related and supporting industries). Mereka menyadari bahwa setiap bahan mentah apabila dijual tanpa pengolahan akan memberikan nilai tambah yang rendah sehingga harus diolah menjadi produk jadi. Hal yang sama ditemui di Jerman untuk bahanbahan kimia dan di Inggris untuk bahan-bahan ekstraktif. Di Indonesia termasuk Sumatera Utara hal yang sama tidak terjadi. Berbagai komoditi hasil pertanian / perkebunan yang jumlahnya melimpah seperti crude palm oil, lateks/crumb rubber, biji coklat dan lainlain tetap dijual sebagai bahan mentah atau bahan baku yang memberikan nilai tambah yang sangat rendah. Bahkan ketika harga pasar internasional komoditi-komoditi tersebut jatuh, upaya untuk mengembangkan industri hilir juga tidak muncul. Masalah ini terus-menerus dibicarakan dalam berbagai kesempatan dalam seminar-seminar pembangunan ekonomi dan bisnis bahkan di Perguruan Tinggi. Tetapi derajat urgensi untuk implementasi masih sangat jauh dan terkesan masih tetap dalam taraf wacana atau sekedar dibicarakan. Bappenas sebagai lembaga perencanaan nasional harus jeli melihat masalah ini dan mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan nilai tambah dari komoditas dalam negeri yang telah lama dinikmati oleh negara importir luar negeri. Suatu hal yang cukup mengenaskan terlihat dari data ekspor-impor Sumatera Utara ialah, ekspor utama daerah ini adalah bahan mentah /bahan baku yang mencakup nilai kontribusi terbesar yaitu 54 % dan pada sisi impor kontribusi terbesar juga pada komoditi bahan baku yang besarnya 18 %. Tingkat pertumbuhan ekspr dan impor bahan baku di daerah ini juga tidak rendah yaitu lebih dari 26 % per tahun. f. Komoditi Unggulan Sumatera Utara Hingga kini Sumatera Utara masih belum memliki komoditas unggulan kendati kaya dengan sumberdaya alam baik di sektor pertanian / perkebunan maupun sektor penggalian dan pertambangan. Wacana untuk menemukan komoditas unggulan sudah cukup lama berkembang tetapi belum pernah dibahas secara intensif dan profesional. Pentingnya komoditas unggulan terlihat dari pengalaman negara-negara yang telah maju ekonominya seperti Jepang yang dikenal sebagai negara penghasil robot dan elektronik, Jerman sebagai negara penghasil bahan-bahan kimia, Italy dan Spanyol sebagai
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 257

negara penghasil barang-barang kulit dan Inggris penghasil barang-barang ekstraktif. Kata ‘penghasil’ dalam konteks komoditi unggulan bukan berarti sekadar menghasilan tetapi memiliki keunggulan tertinggi diantara negara-negara penghasil lainnya sehingga negara tersebut menjadi quality leader dan sekali gus market leader dalam komoditas. Komoditas unggulan yang sering disebut sebagai leading comodity tidak diukur dari besarnya volume produksi daerah terhadap komoditas tertentu dan juga bukan dari sudut besarnya kontribusi penghasilan daerah dari hasil produksi komoditas tertentu. Suatu komoditas dapat dikategorikan sebagai ungulan suatu daerah apabila daerah bersangkutan memiliki potensi yang tinggi untuk memproduksi komoditas tersebut pada kualitas yang prima, secara berkesinambungan atau dalam jangka waktu yang lama. Hal ini hanya terjadi apabila seluruh input untuk memproduksi komoditas yang diunggulkan tersebut sepenuhnya telah dikuasai oleh negara atau daerah penghasil termasuk dalam hal pengembangan dan pemanfaatan teknologi mulai dari industri hulu sampai industri hilir. Hanya situasi ini yang dapat menciptakan suatu komoditas yang unggul baik dalam mutu maupun dalam pemasaran (quality and market leader). Banyak kalangan berpendapat bahwa komoditas kelapa sawit adalah komoditas unggulan Indonesia dan juga Sumatera Utara karena produksi komoditas ini (crude palm oil) terus mengalami peningkatan dan kontribusinya dalam pendapatan nasional dan daerah juga dominan. Luas lahan untuk perkebunan kelapa sawit juga sangat besar dan dapat terus ditingkatkan. Demikian pula halnya dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam sub-sektor perkebunan kelapa sawit, juga cukup banyak. Walaupun demikian, potensi ini belum seutuhnya memenuhi persyaratan komoditas unggulan karena Indonesia dan juga Sumatera Utara hanya ‘unggul’ dalam salah satu input yaitu lahan perkebunan kelapa sawit sedangkan penguasaan teknologi mulai dari pembuatan bibit unggul, teknologi budidaya, sampai kepada teknologi pengolahan industri hilir dari turunan crude palm oil sama sekali belum dikuasai atau belum dapat dikembangkan sendiri oleh Indonesia. Karena tidak menguasai teknologi-teknologi tersebut maka ketergantungan kepada pihak luar sangat tinggi. Hal ini menyebabkan Indonesia tidak uggul dalam komoditas tersebut dan komoditas kelapa sawit masih hanya sebatas komoditas andalan sebagai sumber pendapatan.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

258

g. Konversi Lahan Pertanian Pangan Kebijakan pemerintah dalam bidang pertanian menetapkan Provinsi Sumatera Utara sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Kebijakan tersebut didasari oleh kenyataan bahwa Sumatera Utara selalu surplus dalam produksi pangan khususnya padi-padian. Walaupun besarnya surplus sering bervariasi, peranan Sumatera Utara dalam menciptakan ketahanan pangan tidak dapat dianggap kecil. Pada tahun 2007, besar surplus mencapai lebih dari 400.000 ton gabah, suatu jumlah yang sangat berarti dalam memenuhi kebutuhan bahan pangan di wilayah Sumatera Bagian Utara. Dibalik keberhasilan berproduksi pangan tersebut tersembunyi masalah besar yang menjadi ancaman ke depan bagi kemampuan Sumatera Utara dalam mempertahankan statusnya sebagai lumbung nasional yaitu meningkatnya konversi lahan-lahan pertanian termasuk lahan subur menjadi lahan kegiatan ekonomi lain seperti perkebunan (seperti perkebunan jeruk, kelapa sawit dan lain-lain) , real estate, perumahan/permukiman dan lain-lain. Konversi peruntukan lahan juga terjadi pada bagian wilayah yang telah memiliki prasarana irigasi yang baik sehingga infrastruktur yang dibangun dengan biaya yang sangat mahal tersebut menjadi sia-sia. Banyak faktor yang mendorong masyarakat pemilik lahan pertanian terdorong untuk melakukan konversi peruntukan lahan dari lahan pertanian pangan. Seringnya terjadi kemerosotan harga gabah membuat masyarakat pemilik lahan tidak segan-segan menjual lahan pertaniannya kepada pengusaha real estate. Demikian pula tentang meningkatnya harga pasar komoditas tertentu seperti jeruk, cengeh, coklat, vanili dan lain-lain. Setiap kali informasi tentang kenaikan harga pasar salah satu komoditas tersebut, para pemilik lahan baik lahan persawahan ataupun tegalan segera mengubah komoditas pertaniannya menjadi komoditas perkebunan. Pada hal kenaikan harga pasar komoditi diatas tidak pernah bertahan lama. Jika hal tersebut tetap berlanjut maka sangat dikhawatirkan, peran strategis Sumatera Utara sebagai lumbung nasional akan terancam bahkan bukan mustahil akan menjadi ‘pengimpor’ beras untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

259

2.4 BidangTata Ruang dan Lingkungan Hidup a. Konflik Tapal Batas Antar Kabupaten-Kota Sumatera Utara tidak pernah luput dari konflik tapal batas antar kabupaten-kota terutama setelah kebijakan pemekaran secara intensif berkembang di daerah ini. Walaupun semua wilayah Kabupaten telah memiliki masing-masing telah memiliki Rencana Tata Ruang (RTRW / RTRK) kejelasan tapal batas belum sepenuhnya tercerminkan. Misalnya, tapal batas Kota Sibolga dan Kabupaten Tapanuli Tengah, tapal batas Kota Padang Sidempuan dan Tapanuli Selatan. Demikian juga batas-batas hutan lindung di Kabupaten Dairi. b. Kerusakan Taman Nasional Gunung Lauser Taman Nasional Gunung Lauser di Kabupaten Langkat, berbatasan dengan Provinsi Nangro Aceh Darussalam adalah sebuah taman cagar alam yang semakin sulit diamankan dari kegiatan illegal logging. Kawasan ini mempunyai luas areal relatif luas. Diperkirakan sekitar 30 % dari hutan lindung ada telah mengalami kerusakan atau penggundulan akibat penebangan kayu secara liar. Upaya untuk mencegah kegiatan penebangan kayu liar ini terus-menerus ditingkatkan tetapi pengerusakan hutan tetap saja terjadi. c. Ancaman Banjir dan Tanah Longsor Sumatera Utara yang pada masa lalu hampir tidak mengenal ancaman banjir, kini telah menjadi pengalaman rutin. Banjir terjadi tidak hanya di daerah aliran sungai tetapi juga di bagian wilayah yang jauh dari sungai termasuk di daerah terbangun seperti di pusat kota Medan. Curah hujan yang semakin tinggi dan daya serap air di lereng bukit yang semakin rendah akibat penggundulan hutan telah menyebabkan genangan air di bagian badan jalan yang lebih rendah dan pusat-pusat permukiman penduduk menghadapi ancaman banjir secara rutin. Di kawasan pegunungan terjadi pula tanah longsor yang khususnya pada tebing-tebing di pinggir jalan misalnya di daerah perbukutan Bandar Baru, Tanah Karo dan lain-lain yang meyebabkan hambatan lalu lintas hingga berjam-jam.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

260

d. Pencemaran Air Danau Toba Pengelolaan Danau Toba sebagai sebuah objek wisata mungkin dapat disebut telah mengalami kegagalan melihat kepada fakta lapangan bahwa masyarakat lebih tertarik memanfaatkan danau air tawar terbesar di dunia ini sebagai tempat kerambah ikan dari pada objek wisata yang selalu diharapkan mampu memberikan pekerjaan dan pendapatan bagi masyarakat sekitarnya. Hampir semua orang yang pernah berkunjung ke Danau Toba berpendapat betapa indahnya danau tersebut. Tetapi mereka juga sepakat betapa minimnya sarana dan prasarana wisata tersedia di objek tersebut serta betapa tidak terencananya tata ruang wilayah kawasan wisata tersebut. Pemerintah Provinsi Sumatera Utara bersama-sama dengan lembaga dan instansi lain telah menyusun berbagai konsep perencanaan mulai dari rencana induk pengembangan, sampai kepada rencana umum tata ruang dan rencana detail tata ruang wilayah Kawasan Wisata Danau Toba. Semua rencana tersebut hingga kini masih tersimpan rapi di Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sumatera Utara dan belum pernah diimplementasikan sampai rencana tersebut mencapai usia berlakunya. Mengingat kesulitan ekonomi yang semakin menghimpit masyarakat di kawasan tersebut sedangkan peluang kesejahteraan yang sering didengungkan akan diperoleh dari kegiatan kepariwisataan tidak kunjung tiba maka masyarakat mengambil jalan pintas untuk menggunakan danau tersebut sebagai kerambah ikan air tawar. Pengalihan ‘peruntukan’ tersebut mendapat tanggapan negatif dari berbagai pihak khususnya mereka yang menamakan diri pencinta Danau Toba. Tidak dapat dibantah bahwa air Danau Toba kemudian menjadi tercemar oleh limbah dari hasil perikanan tersebut. Ketika virus koi menyerang ikan di kerambah tersebut, yang menyebabkan jutaan ekor ikan mati persoalan kemudian menjadi lebih rumit. Walaupun banyak pihak berkeberatan terhadap keberadaan kegiatan kerambah ikan tersebut, belum ada pihak yang mampu memberikan jalan keluar bagaimana memanfaatkan potensi Danau Toba yang sangat menawan ini menjadi potensi ekonomi sesuai dengan keunggulan yang dimilikinya. Dengan cara penanganan seperti sekarang Danau Toba tidak lebih dari sebuah danau yang tidak berbeda dengan sebuah kolam yang produksinya adalah ikan dan bukan devisa dari kunjungan wisata asing.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

261

Bab 5.3. Urgensi Penanganan Isu Strategis Ditinjau dari urgensi atau prioritas penanganannya, isu-isu diatas dapat dibagi atas tiga kategori yaitu isuisu yang sangat mendesak untuk segera ditangani (prioritas tinggi), isu-isu yang mendesak untuk ditangani (prioritas moderat) dan isu-isu yang kurang mendesak untuk ditangani (prioritas rendah) seperti terlihat dalam Tabel 5.I. Tabel 5.I Isu-isu Strategis dan Skala Prioritas Penanganan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Isu Strategi Pembangunan Bandar Udara Kuala Namo Kerusakan Jalan dan Jembatan Pasokan Tenaga Listrik Sarana dan Prasarana Pelabuhan Belawan Konflik Lahan Ancaman Epidemi Kriminalisme Konversi Lahan Tanaman Pangan Konflik Tapal Batas Kabupaten-Kota Ancaman Banjir / Tanah Longsor Pencemaran Danau Toba Pembangunan Jalan Lingkar Danau Toba Kerusakan TNGL Pembangunan Komoditi Unggulan Pembangunan Industri Hilir Kawasan Agropolitan Kawasan Agromarinpolitan Kawasan Ekonomi Khusus Prioritas Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Moderat Moderat Moderat Moderat Moderat Moderat Rendah Rendah Rendah Rendah Rendah Alasan Sangat ditunggu oleh masyarakat Sangat mengganggu aktivitas ekonomi Sangat mengganggu aktivitas ekonomi Sangat mengganggu aktivitas ekspor Sangat meresahkan masyarakat Sangat meresahkan masyarakat Sangat meresahkan masyarakat Mengancam ketahanan pangan Menggangu pembangunan daerah perbatasan Meresahkan masyarakat dan kegiatan produksi Menurunkan daya tarik potensi wisata Meningkatkan daya tarik wisata Mengancam sistem lingkungan Membutuhkan persiapan dan modal besar Membutuhkan persiapan infrastruktur besar Membutuhkan sosialisasi dan infrastruktur besar Membutuhkan sosialisasi infrastruktur besar Membutuhkan infrastruktur dan modal besar

Sangat sulit diukur derajad keberhasilan pemerintah daerah dalam menangani masing-masing isu strategis diatas karena berbagai alasan. Pertama, profesionalisme para teknokrat daerah dalam menyusun rencana penanganan yang rinci, teliti dan jadwal yang meyakinkan masih belum memadai. Hal ini dapat dilihat dari dokumen-dokumen rencana pembangunan yang dipersiapkan secara periodik yang tidak memuat isu-isu strategis secara utuh, keterpaduan jadwal pelaksanaan proyek / kegiatan, ukuran target
Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009 262

yang akan dicapai dan lain-lain. Kedua, keterbatasan dana daerah sangat menghambat kelancaran proses penangangan karena sering kali dana yang tersedia berdasarkan alokasi APBD sangat tidak memadai bahkan dalam penanganan awal terhadap masalah yang serius juga tidak cukup untuk memberikan hasil yang berarti kepada masyarakat. Suatu contoh ialah pada waktu penanganan wabah flu burung di Kabupaten Karo pada tahun 2007, pemerintah menyatakan semua unggas peliharaan penduduk harus dimusnahkan dengan ganti rugi yang sangat rendah sebesar Rp 10.000 per ekor (ekivalen ayam) dari harga pasar rata-rata Rp 40.000 . Rendahnya tawaran ganti rugi ini menimbulkan stess tinggi para pemilik unggas karena seluruh sendi ekonomi rumah tangga mereka bertumpu pada ternak tersebut. Akibatnya, mereka berupaya keras menyembunyikan unggas tersebut ke tempat-tempat yang sangat sulit di jangkau para petugas. Sekiranya epidemi tersebut berkelanjutan, dengan situasi yang demikian wabah flu burung tersebut akan gagal dibasmi sehingga kemungkinan menjalar ke daerah-daerah lain. Ketiga, masalah ganti rugi tanah masyarakat yang terkena proyek / kegiatan pembangunan sering sekali sangat sulit diselesaikan sehingga pada bagian yang bermasalah kegiatan terpaksa dibiarkan (kadang-kadang sampai bertahun-tahun). Dalam pelaksanaan pembangunan, khususnya dalam penanganan isu-isu strategis, kendala-kendala diatas kiranya segera dituntaskan. Tidak ada yang mustahil kalau pemerintah daerah serius membangun profesionalisme dalam melaksanakan tanggung-jawab. Melaksanakan pembangunan dengan pola pikir project-oriented yang masih terlihat sangat kental yang semestinya telah lama ditinggalkan perlu segera diakhiri dan diganti dengan value-oriented. Penanganan sebuah isu strategis dengan prioritas tinggi jangan lagi diartikan hanya sebatas perlunya alokasi dana yang besar tetapi pada jadwal pengerjaan yang lebih awal tetapi dengan tetap mengacu kepada azas ketergantungan antar kegiatan serta nilai hasil yang sesuai dengan diharapkan masyarakat.

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

263

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

264

LAMPIRAN

TIM EKPD 2008 PROVINSI SUMATERA UTARA

1. Prof. Dr. Ir. Sukaria Sinulingga, M.Eng 2. Prof. Dr. Badaruddin, MS 3. Irsyad Lubis, SE, M.Soc.Sc,Ph.D 4. Paidi Hidayat, SE, MS 5. Ir. Gembira Sinuraya, MS

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2008

Evaluasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Propsu 2004-2009

265

Matriks Keluaran Evaluasi Kinerja Pembangunan 2008
Agenda 1 : Mewujudkan Indonesia Yang Aman Dan Damai No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Menurunnya ketegangan dan ancaman konflik antar kelompok maupun golongan masyarakat, menurunnya kriminalitas secara nyata di perkotaan dan perdesaan, serta menurunnya secara nyata angka perampokan dan kejahatan di lautan, dan penyeludupan lintas batas

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
- Angka Kriminalitas - Angka Kasus Narkoba - Perjudian - Premanisme

Upaya
- Pembinaan Organisasi Masyarakat - Membangun jejaring dgn instansi terkait - Pembentukan Forum Komunikasi - Operasi Pemberantasan premanisme dan perjudian oleh Polisi

Capaian
- Angka peristiwa kejahatan yang dilaporkan,21.742 kasus (2004) 1.193 kasus (2005), 1.984 kasus (2006) - Narkoba: 1.313 kasus (2004), 2.089 kasus(2005) 3.207 kasus(2006), 2.769 kasus Nop. 2007 - Jumlah perkara perdata dan yang berhasil diselesaikan pengadilan: 2.892 : 2.165(2004) 1.620 : 1.514(2005) 3.111 : 2.185(2006) - Terbentuknya Forum Komunaksi Antar Umat Beragama, dan Forum-Forum Komunikasi lainnya (Pemuda, Budaya, dll) - Secara kualitatif

Permasalahan
Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memelihara keamanan kolektif (siskamling) Modus kejahatan yang semakin canggih dan sadis Masih kurangnya efektifnya koordinasi antar instansi terkait. Pendataan dan Update data yang masih kurang baik sehingga terjadi kesulitan dalam melihat perkembangan angkaangka untuk indikator yang sudah ditetapkan

Rekomendasi Tindak Lanjut
Revitalisasi sistem keamanan yang berbasis masyarakat. Mengefektifkan forum-forum komunikasi yang telah terbentuk, karena terbukti kondusif dalam memelihara perdamaian dan mencegah konflik di Sumatera Utara yang sangat multikultural.

Meneruskan gerakan-gerakan anti judi, anti premanisme, dan anti narkoba, dengan dukungan penuh dari aparat keamanan. Penegakan hukum secara tegas dan adil harus konsisten dilakukan.

2.

Semakin kokohnya NKRI berdasarkan Pancasila, UUD’45, Bhineka Tunggal Ika yang tercermin tertanganinya kegiatankegiatan yang ingin memisahkan diri dari NKRI, meningkatnya daya cegah dan tangkal terhadap ancaman bahaya terorisme, bagi setiap tegaknya kedaulatan NKRI dari ancaman dakam dan luar negeri

Secara eksplisit tidak ada indikator yang secara langsung dapat digunakan untuk mengukur kinerja untuk sasaran pembangunan ini, namun secara inplisit hal ini terlihat dari indikator tingkat kriminalitas dan kejahatan.

Membuat kebijakan pengamanan yang lebih ketat, khususnya di daerah perbatasan dengan NAD sebagai daerah konflik bernuansa separatisme. Meningkatkan pengamanan pada lokasi-lokasi strategis seperti hotel, perkantoran, gedung konsul, dll. Melakukan pemantauan pada daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan luar (pulau-pulau terluar)

masyarakat SU merasa lebih aman dan damai, karena berkurangnya premanisme dan hilangnya judi (togel) Kondisi Sumatera Utara yang cukup aman. Tidak munculnya gerakan-gerakan separatisme, meskipun bersentuhan langsung dengan NAD. Terbangunya pemantauan pada pulau-pulau terluar (Pulau Berhala di Kabupaten Serdang Bedagei) Terbentuknya forum kerjasama antar tiga negara Indonesia – Malaysia – Thailand (IMT-GT) dalam berbagai bidang, utamanya bidang ekonomi.

Perlu ditingkatkan koordinasi antar daerah dengan pusat untuk mengantisipasi tindakan-tindakan terorisme dan gerakan separatisme. Pemberdayaan masyarakat di pulaupulau terluar, baik sosial, ekonomi, dan politik.

3.

Semakin berperannya Indonesia dalam menciptakan perdamaian dunia

Secara eksplisit tidak ada indikator yang secara langsung dapat digunakan untuk mengukur kinerja untuk sasaran pembangunan ini, namun secara inplisit hal ini terlihat dari indikator kerjasama yang dibuat oleh Pemerintah daerah dengan negara lain.

Membangun kerjasama dengan negara tetangga (Malaysia, dan Thailand)

Forum-forum kerjasama seperti IMT-GT dengan negara-negara tetangga lainnya perlu dibentuk untuk meningkatkan kerjasama dalam berbagai bidang (ekonomi dan budaya).

Agenda 2 : Mewujudkan Indonesia Yang Adil Dan Demokratis No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Meningkatnya keadilan dan penegakan hukum yang tercermin dari terciptanya sistem hukum yang adil, konsekwen dan tidak diskriminatif serta yang memberikan perlindungan dan penghormatan terhadap hak azasi manusia, terjaminnya konsistensi seluruh peraturan perundangundangan di tingkat pusat dan daerah sebagai bagian dari upaya memulihkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap kepastian hukum

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
Produk hukum daerah yang dihasilkan dan yang tidak konsisten dengan produk hukum pusat. Produk hukum daerah yang mengadopsi hukum adat Kasus hukum yang diskriminatif Pelanggaran HAM Angka Korupsi Angka eksploitasi seksual anak Angka eksploitasi pekerja anak

Upaya
Capacity building aparat pembuat Perda (birokrasi dan legislatif)

Capaian
Perda yang dihasilkan fluktuatif: 9 (2004); 4 (2005); 8 (2006). Ada Perda yang tidak konsisten dengan pusat.

Permasalahan
Masih munculnya multitafsir terhadap produk perundanganundangan nasional antara pusat dan daerah. Kemampuan SDM (birokrasi dan legislatif) yang masih kurang dalam menjalankan fungsi pembuatan Perda. Eporia Reformasi di kalangan masyarakat yang menuntut penyelesaian kasuskasus KKN secara tuntas, yang terkadang tanpa melihat azas praduga tak bersalah. Komitmen penegakan hukum yang masih belum kuat, sehingga masih muncul diskriminasi hukum Kualitas pelayanan publik yang masih rendah. Keterbatasan dana dalam penyediaan

Rekomendasi Tindak Lanjut
Pemerintah pusat hendaknya segera membuat PP, Juklak, dan Jukdis setiap produk perundang-undangan yang baru.

Dukungan bagi aparat penegak hukum menyelesaikan kasus KKN dan HAM

Dalam membuat UU, hendaknya Pemerintah Pusat berpikir jangka panjang, sehingga sering terjadi perubahan yang membingungkan daerah. Penerapan sanksi yang lebih tegas dan adil bagi pelaku KKN serta memberikan informasi secara transparan kepada publik. Meningkatkan kerjasama (pemerintah – aparat keamanan dan LSM) untuk menangani dan mencegah kasus eksploitasi anak.

Penegakan hukum secara tegas dan adil

Masih ada perlakuan hukum yang diskriminitaf (Mis: kasus Adlin Lis) yg divonis bebas.

Menyediakan fasilitas publik yang dapat diakses semua lapisan dan kelompok masyarakat Melakukan koordinasi dengan berbagai pihak ( aparat keamanan dan LSM) untuk pencegahan dan advokasi)

Fasilitas pendidikan dan kesehatan sudah cukup memadai, meskipun secara kualitatif masyarakat masih mengeluh-kan kualitas pelayanan yang diberikan Angka Trafficking

Anak menurun: 97 kas (2005); 73 kas(2006); 13 kas(2007)*. 2. Terjaminnya keadilan gender bagi peningkatan peran perempuan dalam berbagai bidang pembangunan yang tercermin dalam berbagai perundangan, program pembangunan, dan kebijakan publik; membaiknya angka GDI dan angka GEM, dan menurunnya tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak; serta meningkatnya kesejahteraan dan perlindungan anak Angka GDI Angka GEM Keterlibatan Perempuan di Parpol (DPRD) Peningkatan kualitas hidup perempuan dan perlindungan perempuan dari tindak kekerasan dan eksploitasi Penguatan kelembagaan dan jaringan pengarusutamaan gender Terbentuknya forum kerjasama dengan berbagai pihak, utamanya LSM dalam menangani trafficking dan eksploitasi anak.

sarana dan prasarana utk fasilitasi anak korban trafficking dan eksploitasi seksual. Pemahaman terhadap isu dan konsep PUG belum sama untuk setiap instansi/SKPD Belum semua stakeholder memiliki komitmen yang kuat terhadap kesetaraan dan keadilan gender. Implementasi Peraturan Perundangan yang belum maksimal di daerah Kurangnya pengetahuan para perencana dalam menafsirkan pengang gender garan gender. Kurangnya kemauan politik pemerintah dan legislatif dalam penganggaran gender. Program-program sosialisasi harus terus dilakukan sehingga muncul persamaan tafsir terhadap PUG. Komitmen politik Pemerintah dan Legislatif terhadap PUG dapat diwujudkan melalui produk Perda.

Pengarus Utamaan Gender (PUG)

Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pemberdayaan perempuan Peningkatan kesejahte-raan dan perlindungan anak

IPM Sumut 2006: 72,5 (peringkat 8 dari 32 Prov.); GDI Sumut 2006: 63,0 (peringkat 7 dari 32 Prov.); GEM Sumut 2006: 54,8 (peringkat 20 dari 32 Prov.). % angkatan kerja (2006): Pr.: 39,1 % Lk.: 60,9 %*. Perempuan di Parlemen: 5,9% Keterwakilan perempuan di kepemimpinan masih rendah: Eselon II: 4,1% Eselon III: 10,9% Eselon IV: 22,29% Jaksa: 44,54% Hakim: 26,32%

Melakukan penguatan kelembagaan dan jejaring pengarusutamaan gender dan anak. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam upaya-upaya pemberdayaan perempuan.

KDRT: 2004: 86 kasus 2005: 292 kasus 2006: 354 kasus 2007: 386 kasus Pokja (focal point) gender hingga tahun 2007 belum semua terbentuk. PUG belum menjadi mainstream dalam perencaan yang dilakukan oleh SKPD. 3. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dgn menyelenggarakan otoda dan good governance serta terjaminnya konsistensi seluruh peraturan pusat dan daerah, dan tidak bertentangan dengan peraturan dan perundangan yang lebih tinggi dlm rangka meningkatkan keadilan bagi daerah-daerah untuk membangun. Tingkat kepuasan pelayanan publik. Konsistensi peraturan perundang-undangan. Kerjasama antar daerah. Kapasitas aparatur Biaya Pembangunan Daerah otonomi baru Peningkatan kualitas penyeleng-garaan administrasi negara melalui penataan kembali fungsifungsi kelembagaan Membuat peraturan (Perda) terkait dengan Otda Menciptakan sistem pemerin-tahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, efisien, dan berwibawa. Meningkat-kan partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik Menciptakan tata pemerintahan yang baik (good governance). Belum semua Pemberdayaan Perempuan menempati eselon II, bahkan beberapa kabupaten/kota masih menempatkannya pada eselon IV. Secara kualitatif masih cukup banyak masyarakat yang belum puas dengan public service, Sistem Perizinan Satu Atap juga belum diimplementasikan . Komitmen penyelenggara pemerintahan dan jajarannya belum maksimal untuk mewujudkan good governance. Sumber-sumber pembiayaan untuk melakukan reformasi birokrasi juga terbatas. Sektor perkebunan sebagai sektor andalan Sumatera Utara, sistem bagi hasilnya masih didomonasi pusat. Eporia Otonomi Daerah, membuat koordinasi antar Propinsi dan Kabupaten/ Kota menjadi lebih sulit (Ego Kabuapten/ Kota). Komitmen penyelenggara pemerintahan daerah untuk good governance harus ditindaklanjuti dengan membuat peraturan yang mengikat (Perda). Komitmen Pusat dalam pembiayaan keuangan daerah, terutama bagi hasil dari sektor perkebunan. Memfasilitasi forum komunikasi lintas daerah untuk membica-rakan pembangu-nan dalam konteks regional Sumatera Utara. Menyelenggarakan E-Governance untuk mendukung tata pemerintahan yang baik.

Mamfasilitasi koordinasi antar daerah pemekaran baru dengan induk. Kasus korupsi yang melibatkan Pemerintah Daerah 4. Meningkatkan pelayanan birokrasi kepada masyarakat yang tercermin dari: (1) berkurangnya secara nyata praktek korupsi di birokrasi dan dimulai dari jajaran yang paling atas; (2) terciptanya sistem pemerintahan dan birokrasi yang bersih, akuntabel, transparan, episien, dan berwibawa; (3) terhapusnya aturan, peraturan, dan praktek yang bersifat diskriminatif terhadap warga negara, kelompok, atau golongan masyarakat; (4) Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik. Tingkat transparansi dan akuntabilitas Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan Meningkatkan pengawasan terhadap aparatur daerah. Meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pelayanan publik. Mendorong pelaksanaan prinsip-prinsip Good Governance pada setiap SKPD Menertibkan gangguan terhadap pelayanan publik serta mengintensifkan penanganan pengaduan masyarakat.

Meskipun ada upaya-upaya untuk sistem pemerinta-han yang lebih baik, namun belum sepenuhnya terimplemen-tasi. Partsisipasi masyarakat dalam pengambilan kebijakan publik masih minim.

Belum bulatnya komitmen pimpinan dan aparatnya untuk mewujudkan good governance. Keterbatasan sumber pendanaan untuk membangun IT bagi upaya peningkatan transparansi dan akuntabilitas. Masih rendahnya kesadaran dan tingkat partisipasi masyarakat dalam pemba-ngunan

Dibutuhkan komitmen aparat pemerintah, khususnya Pemimpin tertinggi untuk mewujudkan Good Governance. Dibutuhkan penggunaan IT (EGovernance) untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik. Pengawasan dan sanksi yang tegas dan adil harus dilakukan bagi pelaku-pelaku tindak korupsi.

Partisipasi masyarakat pada pemilu dan pilkada 5. Terlaksananya Pemilihan Umum tahun 2009 secara demokratis, jujur, dan adil dengan menjaga momentum konsolidasi demokrasi yang sudah terbentuk berdasarkan hasil pemilihan umum secara langsung tahun 2004. Jumlah Parpol

Peningkatan dan penyadaran politik kepada masyarakat Sosialisasi Pemilu dan Pilkada kepada masyarakat Mengefektifkan forum komunikasi antar parpol, LSM, dan Ornop, dan tokoh masyarakat

Masih terjadi praktek Korupsi di jajaran Pemprov (Kasus Dinas Pendidikan yang sedang bergulir di pengadilan) Masih banyak keluhan masyarakat terhadap pelayanan publik. Bekerjasama dengan aparat keamanan, telah mampu membawa masyarakat lebih aman dari gangguan

Adanya kecende-rungan semakin rendahnya partisipasi masyarakat dalam Pemilu. Banyaknya Parpol peserta Pemilu pada 2009 (38 Parpol) Meskipun Partisipasi Masyarakat rendah pada

Perlu peningkatan sosialisasi pelaksanaan Pemilu secara lebih intensif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, baik di Perdesaan maupun perkotaan. Di tingkat pusat perlu kebijakan yang mengarah pada penyederhanaan jumlah Parpol.

premanisme. Partisipasi masyarakat pada Pemilu Legislatif dan Presiden Tahun 2004 sangat tinggi. Terjadi penurunan partisipasi masyarakat pada penyelenggaraan Pilgubsu 2008 (Golput: ± 40%) Meningkatkan koordinasi serta kerjasama dengan badan-badan di luar lembaga pemerintahan untuk kelancaran pelaksanaan tugas-tugas Pemilu dan Pilkada.

Pilgubsu 2008, namun Pilgubsu berjalan aman dan lancar.

Agenda 3 : Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat 1. Penanggulangan Kemiskinan Sasaran Pembangunan dalam Indikator Kinerja No. RPJMN Pembangunan Daerah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. Menurunnya persentase penduduk yang berada di bawah kemiskinan menjadi 8,2 % pada tahun 2009 Terpenuhinya kecukupan pangan yang bermutu dan terjangkau Terpenuhinya pelayanan kesehatan yang bermutu Tersedianya pelayanan pendidikan dasar yang bermutu dan merata Terbukanya kesempatan kerja dan berusaha Terpenuhinya kebutuhan perumahan dan sanitasi yang layak dan sehat Terpenuhinya kebutuhan air bersih yang aman bagi masyarakat miskin Terbukanya akses masyarkat miskin dalam pemanfaatn SDA dan terjaganya kualitas lingkungan hidup Terjamin dan terlindunginya hak perorangan dan hak komunal atac tanah Terjaminnya rasa aman dan tindak kekerasan. Meningkatnya partisipasi masyakat miskin dalam pengambilan keputusan 1. IPM 2. Jumlah pengangguran terbuka 3. Jumlah penduduk miskin 4. Pertumbuhan PDRB 5. PDRB perkapita 6. Struktur PDRB Pertanian industri 7. Investasi

Upaya
Perluasan Akses Masyarakat Miskin Atas Pendidikan, Kesehatan dan Infrastruktur Dasar 1).Peningkatan akses dan kualitas pendidikan, 2).Peningkatan pelayanan kesehatan, 3).Peningkatan sarana dan prasarana dasar bagi masyarakat 4).Pengembangan program (uji coba) subsidi langsung tunai

Capaian
70,3 - 72,98 11,10 - 10,0 14,93-13,90 jt orang 5,74 - 6,90 % 8,67 -13,73

Permasalahan
1)Rendahnya akses terhadap kebutuhan dasar, seperti : pelayanan pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan yang layak. 2)Rentannyanya sebagian masyarakat terhadap goncangan, baik ekonomi maupun bencana alam lainnya.

Rekomendasi Tindak Lanjut
1) Melanjutkan Program Kompensasi Penurunan Subsidi BBM (PKPS BBM). Pada tahun 2006, untuk bidang kesehatan dialokasikan dana sebesar Rp. 3,319 triliun dengan sasaran 60 juta penduduk miskin dan tidak mampu. Sedangkan untuk bidang pendidikan dialokasikan dana sebesar Rp. 11,123 triliun dengan sasaran 40,6 juta siswa. Beberapa penyempurnaan yang dilakukan antara lain mencakup: penyiapan data yang lebih baik, persiapan organisasi tim PKPS BBM. 2) Usaha dan program peningkatan kesejahteraan yang berbasis masyarakat. Program seperti pengembangan UMKM dan Koperasi serta pemberdayaan masyarakat memiliki nilai lebih. Meningkatkan peran aktif masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan yang berkelanjutan. Upaya berbasis masyarakat yang lebih bersifat jangka panjang bila dibanding dengan program bantuan dalam bentuk tunai ( seperti BLT=Bantuan Langsung Tunai )

jtRp
24,9-22,92 % 25,27-25,3 % 20,55 - 34,78 trilyun Rp 7.274-8.085 u 68,2-68,68 thn 36,732,5/1000 305/100000 5,0 - 5,52 3,39 – 3,01 9,0-9,4 tahun 86,78-88,10% 23,41-25,0 % 19,19-16,0 % 66,90 2,96-2,45%

8. Peningkatan jumlah UKM 9. Umur Harapan Hidup 10.Angka Kematian Bayi 11.Angka Kematian Ibu 12.APK akses pendidikan 13.Angka Melek Huruf 14.Rata-rata lama sekolah 15. RT layanan listrik 16. RT layanan PAM 17. Tingkat kesakitan 18. TPAK 19.Angka Kelahiran

2. Peningkatan Investasi dan Ekspor Non Migas Sasaran Pembangunan dalam Indikator Kinerja No. RPJMN Pembangunan Daerah
1. Terwujudnya iklim investasi yang sehat dengan reformasi kelembagaan ekonomi di berbagai tingkatan pemerintahan yang mampu mengurangi praktik ekonomi tinggi Peningkatan efisiensi pelayanan ekspor impor kepelabuhanan, kepabeanan dan administrasi perpajakan ketingkatan efisiensi Peningkatan prosedur perizinanan start up dan operasi bisnis ketingkatan efisiensi Meningkatnya investasi secara bertahap sehingga peranannya terhadap PNB meningkat dari 20,5 % tahun 2004 menjadi 27,4 % tahun 2009 Meningkatnya efisien dan efektivitas sisitim distribusi nasional. Meningkatnya kontribusi pariwisata dalam perolehan devisa menjadi sekitar USD 10 miliar tahun 2009. Meningkatnya distribusi kiriman devisa dari TKI hingga USD 1 miliar. Nilai investasi PMDN Nilai Investasi PMA Nilai Ekspor pertanian Ekspor industri

Upaya
1) Mengelola sumber keuangan daerah secara efisien, efektif dan optimal. 2).Meningkatkan promosi dalam dan luar negeri untuk menarik investasi ke daerah Sumatera Utara. 3).Membuat BUMD menjadi badan usaha yang profesional sehingga dapat menghasilkan laba bagi pembangunan daerah. 4). Memberikan kemudahan pelayanan kepada calon investor. 5) Menyediakan sarana maupun prasarana yang mendukung kegiatan investasi 6) Menciptakan iklim investasi yang kondusif.

Capaian
Rp 7.469.043,7 Rp 1.498.583,63 Rp 1.077.964 Rp 6.980.430

Permasalahan
1)Minimnya dukungan infrastruktur. Seperti energi listrik dan gas, kemudian keterbatasan sarana dan prasarana transportasi baik darat, laut dan udara serta masalah lain meliputi kepastian hukum berusaha, pungutan liar dan tumpang tindih peraturan daerah. (2) masih rendahnya diversifikasi dan kualitas produk ekspor, (3) masih terbatasnya akses pasar.

Rekomendasi Tindak Lanjut
Strategi keterbukaan dengan selalu memperbaiki iklim usaha secara sehat dan dinamis. Selain itu, peningkatan peran perdagangan dalam negeri dalam memperlancar arus barang dan jasa Upaya lain yang harus dilakukan adalah melalui beberapa hal berikut ini : 1. Menyiapkan potensi sumberdaya, sarana dan prasarana daerah yang terkait dengan investasi; 2. Memfasilitasi terwujudnya kerjasama strategis usaha besar dengan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM); 3. Melakukan promosi investasi yang terkoordinasi baik di dalam dan di luar negeri; dan 4. Meningkatkan kerjasama di bidang investasi dengan instansi pemerintah dan dunia usaha baik di dalam maupun di luar negeri dalam menggerakkan kegiatan perdagangan luar negeri melalui kegiatan ekspor impor

2.

3. 4. 5. 6. 7. 8.

3. Peningkatan Daya Saing Industri Manufaktur Sasaran Pembangunan dalam Indikator Kinerja No. RPJMN Pembangunan Daerah
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Sektor industri manufaktur (non migas) ditargetkan tumbuh dengan laju rata-rata 8,56 % pertahun. Target penyerapan tenaga kerja dalam lima tahun mendatang adalah 500 ribu pertahun. Terciptanya iklim usaha yang lebih kondusif. Peningkatan pangsa sektor industri manufaktur di pasar domestik, Meningkatnya volume ekspor produk manufaktur dalam total ekspor nasional. Meningkatnya proses alih teknologi. Meningkatnya penerapan standarisasi prduk industrimanufaktur. Meningkatnya penyebaran sektor indusri manufaktur ke luar pulau Jawa, VA Industri manufaktur Jumlah Industri Kontribusi industri Jumlah Tenaga Kerja

Upaya
1).Meningkatkan penerapan standarisasi dan memanfaatkan teknologi yang sesuai dan tepat yang didukung sistem pelayanan pemerintahan yang prima; 2)Meningkatkan pembinaan pengembangan industri kecil dan rumah tangga; 3)Membangun pola kemitraan antar pelaku ekonomi dalam kegiatan produksi dan pemasaran; 4).Mengembangkan jaringan informasi peluang usaha, sistem informasi teknologi dan meningkatkan nilai tambah teknologi dari berbagai industri sesuai dengan karakteristik sumberdaya lokal dan struktural industri kecil, menengah dan koperasi daerah; 5)Mengembangkan Industri CPO dan turunannya serta industri karet berbasis Klaster

Capaian
Rp 17 717.77 1 056 unit 25,33 % 161 892 orang

Permasalahan
Permasalahan sektor industri terutama agroindustri ialah bahwa produk Sumatera Utara masih sangat dekat dengan beragam produk murni sehingga produk primer belum memberikan nilai tambah yang tinggi. Sementara itu, ekspor Sumatera Utara pada tahun 2002 masih juga berbentuk produk primer yang nilai tambahnya relatif rendah. Rendahnya investasi dan kapasitas produksi yang diakibatkan belum pulihnya fungsi intermediasi perbankan. Masih terbatasnya kemampuan industri dalam negeri untuk mengantisipasi perubahanperubahan didunia bisnis serta belum optimalnya pemanfaatan pasar dalam negeri.

Rekomendasi Tindak Lanjut
Diperlukannya upaya yang lebih baik untuk meningkatkan daya saing industri baik di pasar domestik maupun si pasar global. Hal ini mengingat besarnya pengaruh dan kontribusi sektor industri pada perekonomiaan Sumatra Utara. Kontribusi ini tidak hanya terbatas pada meningkatnya pendapatan regional daerah, namun dapat memperluas lapangan usaha, dan menyerap banyak tenaga kerja. Dan dengan pengembangan industri yang berbasis pada hasil- hasil pertanian dapat mengembangkan daerah pedesaan yang menjadi basis sektor pertaniaan. Dan hal ini tentu akan membantu pengembangan regional baik itu kota maupun pedesaan. Oleh sebab itu, maka perhatian yang serius dan optimal perlu mendapat perhatian terhadap hal-hal sebagai berikut : 1.Menciptakan produk industri yang berbasis pada persaingan global 2.Melakukan efisiensi disegala bidang 3.Melakukan penguatan terhadap industri yang ada 4.Memberikan perhatian terhadap pengembangan industri 5.Menciptakan iklim berusaha yang kondusif melalui peraturan, perundangan dan kebijakan yang tepat.

4. Revitalisasi Pertanian No. Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Meningkatnya kemampuan petani untuk dapat menghasilkan komoditas yang bersaing tinggi. Terjaganya tingkat produksi beras dalam negeri dengan tingkat ketersediaan minimal 90 % dari kebutuhan domestik. Dversivikasi produksi,ketersedian dan konsumsi pangan untuk menurunkan ketergantungan pada beras. Meningkatnya ketersediaan pangan lemak dan ikan dari dalam negeri. Meningkatnya konsumsi masyarakat terhadap protein hewani yang berasal dari ternak dan ikan Meningkatnya daya saing dan nilai tambah produk pertanian dan perikanan. Meningkatnya produksi dan ekspor hasil pertanian dan perikanan. Meningkatnya kemampuan petalam dan nelayan dalam mengelola sda secara lestari dan bertanggung jawab. Optimalnya nilai tambah dan manfaat dari hasil hutan kayu. Meningkatnya hasil hutan non kayu 30 % dari produksi tahun 2004. Bertambahnya hutan tanaman minimal 5 jt ha.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
Produksi beras (ton) Kontribusi pertanian (%)

Upaya
1). Meningkatkan ketahanan pangan dan pendapatan petani, melalui melalui pengembangan Kawasan Agropolitan Dataran Tinggi Bukit Barisan Sumatera Utara (KADTBBSU), Kawasan Agropolitan Dataran Rendah, Kawasan Agropolitan di Sumatera Utara. 2). Peningkatan Pengembangan Agribisnis Tanaman Pangan, Hortikultura, Peternakan dan Perkebunan, 4). Peningkatan Ketahanan Pangan 5). Peningkatan Kesejahteraan Petani 6). Pembangunan Perikanan dan Kelautan

Capaian
Produksi padi Sumatera Utara selama periode 1998 - 2007 rata-rata mengalami penurunan sebesar minus 23% per tahun. Penurunan ini disebabkan turunnya produksi padi sawah dengan rata-rata pertumbuhan pertahun sebesar minus 1,13 %, sedangkan produksi padi ladang mengalami penurunan rata-rata sebesar minus 3,14 %. Kontribusi sektor pertanian 22,92 % PDRB

Permasalahan
Kendala – kendala meliputi produktivitas, efesiensi usaha, konversi lahan pertanian, keterbatasan sarana dan prasarana pertanian serta terbatasnya kredit dan infrastruktur pertanian.

Rekomendasi Tindak Lanjut
(1) meningkatkan kualitas usaha pertanian dengan melakukan penyuluhan dan pendampingan; (2) dukungan peningkatan produktivitas melalui penyebaran bibit/benih bermutu dan melakukan dukungan dan pembinaan peningkatan nilai tambah; (3) menjamin ketersediaan pangan bagi seluruh masyarakat dengan tetap mengutamakan produksi dari dalam negeri, (4) mengembangkan diversifikasi pangan baik pada aspek produksi dan ketersediaan maupun pada aspek konsumsi untuk meningkatkan ketahanan pangan di tingkat daerah dan tingkat rumah tangga; (5) mensosialisasikan tentang pentingnya kesadaran gizi dan memperkuat sistem kewaspadaan rawan pangan dan gizi yang mengutamakan partisipasi aktif masyarakat; (6) meningkatkan pendapatan petani melalui peningkatan usaha peternakan dan perkebunan; (7) memperkuat sistem pengendalian hama penyakit tanaman, hasil ikan, dan ternak serta sistem pengendalian keamanan produk ternak; dan (8) melakukan penguatan sistem standar mutu dan keamanan komoditas pertanian, perikanan dan kehutanan untuk meningkatkan daya saing di pasaran.

1. 2.

3.

4. 5. 6. 7. 8.

9. 10. 11.

5. Pemberdayaan Koperasi dan UMKM No. Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Meningkatnya produktivitas UMKM dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan produktivitas nasional. Meningkatnya proporsi usaha kecil formal. Meningkatnsahya nilai ekspor produk usaha kecil dan menengah dengan laju pertumbuhan lebih tinggi dari laju pertumbuhan nilai tambahnya. Berfungsinya sistim untuk menumbuhkan wirausaha baru berbasis iptek. Meningkatnya kualitas kelembagaan dan organisasi koperasi sesuai dengan jatidiri koperasi.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
Jumlah UMKM Tenaga kerja Simpanan koperasi Jumlah anggota

Upaya
Perlu didorong pertumbuhan UMKM melalui penyaluran skim kredit investasi untuk keperluan peningkatan kapasitas produksi, peningkatan nilai tambah serta pengembangan koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah

Capaian
8 085 unit 4,73 juta orang 1 785 718 (jt Rp) 1 028 353 orang

Permasalahan
(1) belum tuntasnya penanganan aspek legalitas badan usaha dan kelancaran prosedur perizinan, pelaksanaan persaingan usaha yang sehat, penataan lokasi usaha dan pelaksanaan otonomi daerah, khususnya kemajuan daerah melaksanakan pemberdayaan koperasi dan UMKM; (2) kecepatan pulihnya kondisi perekonomian secara makro akibat kenaikan BBM dan dan energi lainnya yang sangat berpengaruh kepada kegiatan produksi UMKM; (3) masih terbatasnya penyediaan produk jasa lembaga keuangan, khususnya kredit investasi; (4) terbatasnya ketersediaan dan kualitas jasa pengembangan usaha bagi UKM; dan (5) keterbatasan sumber daya financial untuk usaha mikro.

Rekomendasi Tindak Lanjut
(1) memberikan program khusus dalam rangka pengembangan usaha kecil. (2) membentuk sentra-sentra pengembangan ukm. (3) melakukan kajian yang lebih mendalam tentang program-program pengembangan ukm (4) membuat program peningkatan akses kepada sumber daya produktif (5) membuat program pembangunan kewirausahaan dan pkmk (6) membuat program pemasaran dan pengembangan pusat informasi, (7) pengendalian harga pasar dan pengembangan informasi komoditi.

1.

2. 3.

4. 5.

6. Peningkatan Pengelolaan BUMD
No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Peningkatan efisiensi usaha dan daya saing sehingga mampu bersaing di pasar global dan mampu meningkatkan kontribusinya setiap tahun terhadap PAD Propinsi Sumatera Utara.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
1. Jumlah, jenis dan nilai asset BUMD di daerah. 2. Dukungan kebijakan daerah dalam meningkatkan kinerja BUMD. 3. Kontribusi keberadaan BUMD terhadap PAD. 4. Tersedianya perangkat hukum yang mengatur pengelolaan BUMD.

Upaya
pengawasan kinerja perusahaan daerah dengan memperbaiki sistem manajemen yang progresif dan inovatif. Mencari peluang kerjasama operasional dalam rangka revitalisasi Badan Usaha Milik Daerah yang tidak sehat, seperti PDAM Tirtanadi dan PD. Perhotelan. Melakukan privatisasi BUMD untuk akses pendanaan, pasar, teknologi, serta kapabilitas untuk bersaing di tingkat dunia. Mengurangi subsidi dan perlindungan kepada BUMD yang di privatisasi. Mendorong hubungan kemitraan antara BUMD dan usaha- usaha lainnya berdasarkan kompetensi. Penyertaan modal pemerintah daerah pada BUMD-BUMD yang benar-benar sehat.

Capaian
BUMD menunjukkan kemajuan yang signifikan, terutama bila dilihat dari sisi kontribusinya terhadap PAD Sumatera Utara dan fungsinya dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Permasalahan
1. Belum adanya kesamaan pandangan para stakeholders dalam menetapkan kebijakan pengelolaan BUMD. 2. Belum berorientasi pada pengembangan core competencies dengan fokus pada industri sekunder dan tertier (hilir). 3. Masih terfokus dan terintegrasi dalam satu sektor usaha tertentu. 4. Belum diterapkannya prinsip-prinsip GCG secara baik dalam pengelolaan BUMD. 5. Kurangnya perangkat hukum dalam pengelolaan BUMD yang lebih profesional.

Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Melakukan koordinasi antar para stakeholders dalam pengelolaan BUMD. 2. Berorientasi pada penciptaan nilai dengan kinerja finansial dan operasional. 3. Berorientasi pada pengembangan core competencies dengan fokus pada industri sekunder dan tertier (hilir). 4. Mengimplementasikan prinsipprinsip GCG dalam pengelolaan BUMD secara benar. 5. Adanya payung hukum yang tegas untuk mendukung BUMD yang profesional.

1. Meningkatkan manajemen dan 1. pembinaan

2.

2.

3.

4. 5. 6.

7. Peningkatan Kemampuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Meningkatkan pengaplikasian dari ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka memperkuat daya saing terhadap perkembangan zaman dan globalisasi.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
1. Jumlah dan jenis penemuan IPTEK dari litbang daerah. 2. Bentuk dan kerjasama dalam pemanfaatan hasil litbang. 3. Frekuensi pendidikan dan pelatihan bagi aparatur litbang. 4. Kelembagaan IPTEK di daerah.

Upaya
1. Meningkatnya jenis dan kualitas jasa teknologi. 2. Mengembangkan berbagai insentif legal. 3. Mendorong dunia usaha dan unit kerja memanfaatkan hasil litbang sesuai dengan kebutuhan dan objektifitas. 4. Menyediakan bantuan informasi teknologi bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM). 5. Meningkatkan jumlah kerjasama riset dengan Perguruan Tinggi (PT) dan dunia usaha.

Capaian
1. Tumbuhnya kesadaran dikalangan mahasiswa dan birokrat akan pentingnya IPTEK bagi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Hal ini ditunjukkan dengan semakin banyaknya kalangan masyarakat yang memiliki sarana teknologi, seperti komputer dan laptop. 2. Tumbuhnya kesadaran akan pentingnya IPTEK dengan terbentuknya kelembagaan riset di daerah dengan berdirinya Dewan Riset Daerah dan Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah. 3. Tumbuhnya kesadaran dari para pengusaha di daerah untuk menggunakan hasilhasil penelitian yang dilakukan oleh lembagalembaga riset untuk pengembangan produkproduk dari perusahaan tersebut. 4. Adanya kamauan dari para pemilik gedung, seperti plaza dan

Permasalahan

Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Menciptakan lingkungan yang kondusif untuk berkembangnya inovasi dan kreatifitas masyarakat di daerah dengan pemanfaatan IPTEK. 2. Adanya kesadaran dari semua pihak untuk memanfaatkan hasil-hasil penelitian dan kajian bagi pengembangan daerah terutama bagi pemerintah dan dunia usaha. 3. Adanya upaya dari pihak pemerintah dan swasta untuk memperluas pusat-pusat IPTEK di daerah terpelosok sehingga membuka akses informasi.

perkantoran menyediakan internet.

untuk jaringan

8. Perbaikan Iklim Ketenagakerjaan
No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Sasaran yang ingin dicapai adalah menurunnya tingkat pengangguran terbuka pada tahun 2006 menjadi sebesar 10,50 persen dan menjadi 10,0 persen pada tahun 2007. Sedangkan untuk tahun 2008 menjadi 9,60 persen dan menjadi sebesar 9,10 persen pada tahun 2009. Sementara untuk peningkatan sentrasentra produksi baru di daerah terisolasi pada tahun 2006 sejumlah 9 lokasi dan menjadi 22 lokasi pada tahun 2009.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
1. Jumlah penduduk bekerja pada sektor informal. 2. Jumlah kesempatan kerja pada sektor kecil dan menengah. 3. Tingkat upah pekerja (UMP).

Upaya
Program Perluasan dan Pengembangan Kesempatan Kerja 1. Mendorong penyempurnaan peraturan dan kebijakan serta program ketenagakerjaan. 2. Meningkatkan pembinaan dan pemantauan dinamika pasar kerja dalam penciptaan lapangan kerja formal. 3. Melakukan koordinasi penyusunan rencana kerja dan informasi pasar kerja. 4. Peningkatan kerjasama antara lembaga bursa kerja dengan industri/perusahaan. 5. Pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Program Peningkatan Kualitas dan Produktivitas Tenaga Kerja 1. Mendorong pengembangan standar kompetensi kerja dan sistem sertifikasi kompetensi tenaga kerja. 2. Peningkatan program-program pelatihan kerja berbasis kompetensi. 3. Peningkatan relevansi dan kualitas lembaga pelatihan kerja. 4. Peningkatan profesionalisme tenaga kepelatihan dan instruktur latihan kerja. 5. Peningkatan sarana dan prasarana lembaga latihan kerja. Program Perlindungan dan

Capaian
1. Berdasarkan sasaran RPJMD Sumatera Utara 2004 – 2009, yakni menurunkan tingkat pengangguran terbuka menjadi 9,10 % pada akhir tahun 2009. Adapun posisi capaian hingga tahun 2006 adalah 11,51 %. Bila dibandingkan dengan target dalam RPJMD tersebut, tingkat pengangguran terbuka di Sumatera Utara masih diatas target yang ditetapkan selama 2004 – 2006, kecuali pada tahun 2005 yang realisasinya di bawah target, yakni 10,98 % dari target sebesar 11,0 %. 2. Meningkatnya tingkat pendidikan untuk angkatan kerja di Sumatera Utara, dimana tingkat pendidikan SD semakin menurun dan semakin bertambahnya angkatan kerja tamatan SMA dan perguruan tinggi. 3. Bertambahnya penduduk yang menjadi pengusaha dengan

Permasalahan
1. Permasalahan ketenagakerjaan adalah kecenderungan meningkatnya jumlah pengangguran terbuka. 2. Semakin menciutnya lapangan kerja formal di perkotaan dan di perdesaan. 3. Adanya indikasi menurunnya produktivitas di industri pengolahan. 4. Adanya kecenderungan meningkatnya mobilitas angkatan kerja dari desa ke kota.

Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Memperbaiki iklim investasi yang ada di daerah dengan penegakan kepastian hukum dan aturan berusaha di daerah. 2. Peningkatan kualitas hubungan industrial antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah daerah, seperti menyelesaikan perselisihan secara bipartit. 3. Peningkatan standar kompetensi kerja dengan membekali pekerja melalui sertifikasi kompetensi. 4. Meningkatkan peran Balai Latihan Kerja guna memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja yang sesuai dengan keinginan dunia kerja.

Pengembangan Lembaga Tenaga Kerja 1. Peningkatan pengawasan, perlindungan dan penegakan hukum ketenagakerjaan. 2. Peningkatan fungsi lembagalembaga ketenagakerjaan. 3. Penyelesaian permasalahan industrial secara ideal, konsisten, dan transparan. 4. Mendukung tindaklanjut pelaksanaan Rencana Aksi Nasional (RAN) penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak (Keppres RI No. 59/2002). Program Penataan Penyebaran Penduduk Angkatan Kerja yang serasi dan Seimbang 1. Pembangunan sarana dan prasarana permukiman. 2. Pengerahan dan penempatan tenaga kerja. 3. Pengembangan dan pembinaan sosial budaya dan ekonomi transmigrasi serta masyarakat sekitar. 4. Peningkatan kualitas masyarakat transmigrasi.

mempekerjakan buruh tetap/bukan anggota keluarga dari hanya 2,85 persen pada tahun 2004 menjadi 3,43 persen dari total angkatan kerja di Sumatera Utara.

9. Pemantapan Stabilitas Ekonomi Makro
No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
Terpeliharanya stabilitas ekonomi makro yang dapat mendukung tercapainya pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkualitas dengan diiringi penurunan tingkat kemiskinan, tingkat pengangguran, dan ketimpangan pendapatan dan pembangunan yang semakin kecil antar wilayah di Sumatera Utara.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
1. Tingkat pengangguran terbuka. 2. Jumlah penduduk miskin. 3. Persentase kesempatan kerja di Sumatera Utara. 4. Persentase tenaga kerja sektor pertanian dan industri pengolahan. 5. Pertumbuhan ekonomi daerah 6. Pendapatan per kapita. 7. Tingkat inflasi.

Upaya

Capaian
1. Meningkatnya pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara seiring dengan meningkatnya pendapatan per kapita masyarakat selama kurun waktu tersebut. 2. Tercapainya kestabilan harga-harga yang ditunjukkan dengan perkembangan inflasi Sumatera Utara dari tahun ke tahun yang relatif stabil dan terkendali. 3. Meningkatnya pertumbuhan ekspor Sumatera Utara dibandingkan dengan perkembangan impor. Hal ini semakin memperkuat fundamental ekonomi Sumatera Utara dengan meningkatnya devisa yang dihasilkan dari kinerja ekspor Sumatera Utara. 4. Perkembangan penduduk miskin yang masih berada di bawah rata-rata nasional dan adanya gambaran yang menunjukkan penurunan untuk tahun mendatang.

Permasalahan

Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Perlunya melakukan skala prioritas dalam pengalokasian anggaran untuk pembangunan infrastruktur agar pertumbuhan ekonomi yang tinggi tersebut berkualitas. 2. Pemantapan efektivitas pengeluaran anggaran melalui peningkatan perencanaan dalam APBD sehingga anggaran yang dibuat menyentuh sektor riil di Sumatera Utara. 3. Perlunya upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor sehingga mampu menggerakkan gairah dunia usaha di Sumatera Utara. 4. Perlunya menjaga kesinambungan produksi akan kebutuhan masyarakat sehingga mampu menjaga stabilitas harga-harga di Sumatera Utara. 5. Tetap melakukan koordinasi antara para pengambil kebijakan, yakni pihak eksekutif, legislatif dan pihak otoritas moneter dan perbankan (BI) agar tercapai pertumbuhan ekonomi yang berkualitas dan berkesinambungan.

5. Adanya koordinasi yang secara berkala dilakukan antara pihak eksekutif dan legislatif serta otoritas moneter (BI Cabang Medan) dalam menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara melalui sinkronisasi kebijakan anggaran dan kebijakan perbankan dan moneter.

10. Penanggulangan Perdesaan
No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
1. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat perdesaan. 2. Meningkatnya kualitas dan kuantitas infrastruktur di kawasan permukiman di perdesaan khususnya pada 2.164 desa tertinggal. 3. Meningkatnya akses, kontrol dan partisipasi seluruh elemen masyarakat yang tinggal di perdesaan.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
1. Tersediannya lembaga keuangan mikro didaerah pedesaan. 2. Tersedianya sarana dan prasarana di pedesaan. 3. Tersedianya sarana telekomunikasi dan energi listrik di pedesaan.

Upaya

Capaian
1. Terbentuknya kawasan agropolitan di kawasan Sumatera Utara yang meliputi daerah pertanian. 2. Meningkatnya lembaga dan organisasi berbasis masyarakat, seperti paguyuban petani, koperasi, lembaga adat dalam menyuarakan aspirasi masyarakat di perdesaan. 3. Meningkatnya akses masyarakat perdesaan pada informasi, seperti jaringan komunikasi selular. 4. Meningkatnya pelayanan lembaga keuangan termasuk lembaga keuangan mikro, kepada pelaku usaha di perdesaan. 5. Meningkatnya akses pasar dan promosi produk-produk perdesaan. 6. Meningkatnya sarana dan prasarana pendidikan serta layanan kesehatan yang dapat terjangkau bagi penduduk perdesaan.

Permasalahan
1. Rendahnya aset yang dikuasai masyarakat perdesaan ditambah lagi dengan masih rendahnya akses masyarakat perdesaan ke sumber daya ekonomi seperti lahan/tanah, permodalan, input produksi, keterampilan dan teknologi, informasi, serta jaringan kerjasama. 2. Masih rendahnya tingkat pelayanan prasarana dan sarana perdesaan dan rendahnya kualitas SDM di perdesaan yang sebagian besar berketrampilan rendah (low skilled). 3. Masih lemahnya kelembagaan dan organisasi berbasis masyarakat, lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan perdesaan.

Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Pemberdayaan lembagalembaga keuangan mikro yang ada di perdesaan dan penguatan organisasi masyarakat. 2. Percepatan pembangunan sosial ekonomi daerah tertinggal dengan memprioritaskan pembangunan infrastruktur berupa sarana jalan, pendidikan, dan pelayanan kesehatan. 3. Pengembangan sarana dan prasarana kawasan agropolitan. 4. Memfasilitasi pengembangan potensi ekonomi desa dan pengembangan produk unggulan dengan meningkatkan promosi ke luar wilayah.

11. Pengurangan Ketimpangan Wilayah
No.
1.

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
1. Meningkatnya pembangunan sarana dan prasarana perekonomian seperti jalan, irigasi, lembaga-lembaga perekonomian baik formal maupun informal. 2. Meningkatnya kemampuan dan kualitas sumber daya manusianya melalui perbaikan pendidikan dan kesehatan serta melakukan penyuluhan teknologi tepat guna. 3. Berkurangnya jumlah daerah tertinggal dan daerah terisolasi. 4. Berkurangnya kesenjangan sosial dan ekonomi antar daerah tertinggal.

Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
1. Adanya kerjasama sub regional dalam pengembangan kawasan. 2. Adanya master plan kawasan untuk pengembangan kawasan. 3. Tersedianya infrastruktur kawasan strategis. 4. Adanya perencanaan strategis untuk pengembangan wilayah.

Upaya
1. Program pengembangan kecamatan yang bertujuan untuk mengembangkan perekonomian dan pasarana pada daerah kecamatan yang relatif tertinggal sehingga dapat berkembang. 2. Program Pengembangan Desa Tertinggal 3. Program Bantuan Dana Bergulir 4. Program PKS-BBM komponen wilayah tertinggal 5. Program Pemberdayaan Masyarakat

Capaian
1. Semakin sedikitnya wilayah tertinggal dan terisolasi di Sumatera Utara. 2. Semakin terbukanya akses transportasi yang menghubungkan antar wilayah tertinggal dengan wilayah yang relatif lebih maju. 3. Meningkatnya pembangunan antar wilayah tertinggal dengan prioritas pembangunan berdasarkan potensi daerahnya. 4. Adanya kerjasama antar daerah dalam rangka percepatan pembangunan daerah tertinggal dengan membentuk kawasan agropolitan.

Permasalahan
1. Terbatasnya kemampuan manajerial pembiayaan untuk memberikan pembiayaan sosial ekonomi yang memadai dan merata di seluruh lapisan masyarakat. 2. Pengangguran, kemiskinan dan kerawanan sosial tetap menjadi masalah yang belum terpecahkan, dan jaminan kelancaran aliran investasi oleh usaha swasta. 3. Sejalan dengan upaya pengembangan wilayah berbagai kegiatan masyarakat dan pemerintah selalu terjadi ketidaktepatan rencana dan ketertiban pemanfaatan ruang dapat mengurangi efisiensi kegiatan sosial ekonomi dan dapat menyebabkan penurunan kualitas dan daya dukung lingkungan yang pada gilirannya akan dihadapkan pada berbagai kompleksitas, dinamika dan keanekaragaman persoalan sosial ekonomi, dan politik yang bersifat kontradiktif yang memerlukan perhatian dan penanganan dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah, serta seluruh

Rekomendasi Tindak Lanjut
1. Melakukan upaya percepatan penyediaan infrastruktur di wilayah-wilayah yang masih tertinggal dan terisolasi. 2. Peningkatan koordinasi antar wilayah yang menjadi kawasan agropolitan sehingga mempercepat pembangunan di kawasan tersebut. 3. Mempercepat upaya peningkatan kualitas SDM dengan pemamfaatan potensi SDA dan potensi kelembagaan daerah tertinggal secara arif dan berkelanjutan. 4. Pemberdayaan lembagalembaga keuangan mikro yang ada di wilayah tertinggal.

potensi masyarakat di berbagai daerah. 4. Masih rendahnya pelayanan dasar pada daerah tertinggal, terpencil serta daerah perbatasan. 5. Batas daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota belum tertata dengan baik. 6. Meningkatkan pelayanan administrasi pemerintahan Provinsi dan Kabupaten/Kota.

12. Peningkaan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang Berkualitas
No
4.13

Sasaran Pembangunan dalam RPJMN
1.Terlaksananya wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun.

I Indikator Kinerja Pembangunan Daerah
Penduduk usia 7-12 tahun dengan APS tahun 2006 mencapai 99,40 % dan tahun 2009 mencapai 99,80 %. Usia 7-15 tahun mencapai 96,50 % pada tahun 2006 dan pada tahun 2009 mencapai 97,50 %. Usia 7-24 tahun pada tahun 2006 mencapai 66,60% dan tahun 2009 mencapai 67,10%.

Upaya
1. Peningkatan pendidikan bagi anak usia dini yang lebih merata 2. Mendorong peningkatan perluasan dan pemerataan pelayanan pendidikan dasar 3. Peningkatan perluasan dan pemerataan pendidikan menengah baik umum 4. Peningkatan pelayanan pendidikan formal maupun non formal bagi penduduk miskin, daerah terpencil 5. Peningkatan kualitas pendidikan tinggi 1. Peningkatan pendidikan non formal yang merata 2. Peningkatan profesionalisme jenjang pendidikan guru 3. Pemerataan distribusi guru dan tenaga pendidikan 4. Memberdayakan lembagalembaga sekolah

Capaian
9,2 Tahun

Permasalahan
1. Prasarana dan sarana, gedung mengalami kerusakan mencapai lebih kurang 80 %. 2. Jumlah tenaga guru masih kurang ideal bila dibandingkan dengan rasio murid 3. Terbatasnya Buku Pokok, Perpustakaan dan Laboratorium serta Alat Peraga

Rekomendasi Tindak Lanjut
Pendidikan merupakan hak azasi manusia sehingga pemerintah berkewajiban menyediakan fasilitas pendidikan tersebut secara maksimal dan merata. Di samping itu, pendidikan merupakan faktor penentu kepada peningkatan kwalitas sumber daya manusia sehingga wajar jika hal ini mendapat prioritas dan perhatian yang serius. Semua pihak harus menyokong dan ikut berpartisipasi dalam proses pembangunan pendidikan ini karena tugas dan tanggung jawab tersebut tidak sepenuhnya berada dipundak pemerintah.

2 Meningkatnya APS dan APK.

Pada tahun 2006 mencapai 97,45 persen dan tahun 2009 menjadi 97,60 persen; Tidak/belum tamat SD pada tahun 2006 sebesar 21,0 persen dan diharapkan tahun 2009 sebesar 19,50 persen, demikian juga tamat SD tahun 2006 mencapai 27,80 persen dan 27,00 persen tahun 2009, tamat SLTP 2006 sebesar 24,50 persen dan 2009 sebesar 26,00 persen, tamat SLTA tahun 2006 mencapai 23,40 persen dan 23,90

persen diharapkan tahun 2009, tamat Diploma (I,II,III) sebesar 1,45 persen pada tahun 2006 dan tahun 2009 sebesar 1,60 persen, dan tamat DIV/Sarjana pada tahun 2006 sebesar 1,85 persen dan pada tahun 2009 meningkat mencapai 2,00 persen; Tahun 2006 mencapai 9,2 tahun & tahun 2009 sudah mencapai 9,8; 3.Menurunnya angka buta aksara penduduk usia 10 tahun keatas. 4.Meningkatnya Pendidikan yang ditamatkan penduduk umur 10 tahun keatas menurut jenjang pendidikan SD/MI, SMP/MTs, SMA/SMK/MA, Diploma, D.IV/Sarjana. 5.Meningkatnya Ratarata lama sekolah. 6.Meningkatnya proporsi pendidik formal dan non formal. 7.Meningkatnya fokus dan kapasitas kegiatan R and D yg trategis sesuai potensi daerah. 8.Terwujudnya tatanan mekanisme intermediasi yg dapat mendorong peningkatan aliran lalu Memiiliki kualifikasi sesuai standar untuk setiap jenjang pendidikan; Melek huruf 97,45

lintas dan transaksi iptek beserta hasil penelitian yg berkualitas, akurat, valid, aktual, dan dapat dipertanggungjawabkan 9.Terciptanya kemudahan akses fasilitas pendidikan bagi keluarga miskin; 10.Tersedianya kurikulum pendidikan yang sangat komprehensif; 11.Terciptanya tenaga pendidikan dalam jumlah yang memadai dan ideal; 12.Tersedianya prasarana dan sarana yang ideal; 13.Terpenuhinya tingkat kesejahteraan guru, khususnya guru yang berada di daerah terpencil dan kepulauan. 4.14 1. Meningkatnya upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat dalam pembangunan kesehatan; 2. Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat dan status gizi; Persentase tingkat kesakitan tahun 2004 = 19,19% sedangkan tahun 2009 = 15% 1.Menyusun kerangka kebijakan promosi kesehatan dan mengembangkan media promosi kesehatan. 2. Menumbuhkan dan mengembangkan model promosi kesehatan menurut spesifik daerah; 3.Mengembangkan upaya kesehatan bersumber Pembangunan bidang kesehatan akan mendukung keberhasilan pembangunan negara secara keseluruhan sehingga pembangunan kesehatan ini tidak hanya terbatas pada pembangunan sarana dan prasarana kesehatan tetapi termasuk berbagai kebijakan yang bertujuan membangun dan mengubah persepsi, sikap dan budaya masyarakat untuk hidup sehat. Keberhasilan pembangunan ini sangat ditentukan kesadaran, sikap dan perilaku

3. Meningkatnya upaya pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, utamanya bagi penduduk miskin 4. Penurunan angka kematian ibu menjadi 315 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2006 dan angka kematian bayi pada tahun 2006 sebesar 25,72 per seribu kelahiran hidup dan tahun 2009 diharapkan angka kematian ibu sebesar 260 per seratus ribu kelahiran hidup sedangkan angka kematian bayi sebesar 22,49 jiwa per seribu kelahiran hidup, serta penurunan angka kesakitan berbagai penyakit pada tahun 2006 mencapai 17,00 persen dan pada tahun 2009 diharapkan semakin menurun mencapai 15,00 persen; 5. Meningkatnya Usia Harapan Hidup pada tahun 2006 diharapkan mencapai 70,86 tahun, dan pada tahun 2009 diperkirakan akan mencapai 71,79 tahun; 6. Meningkatnya upaya lingkungan sehat di TFR tahun 2004 = 2,96 sedangkan tahun 2009 = 2,38 IMR tahun 2004 36,7 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan tahun 2009 = 22,49

masyarakat dan generasi muda. 4. Pembinaan promosi hygienes dan sanitasi. 5. Pembinaan mutu lingkungan perumahan, permukiman dan tempattempat kerja. 6. Pembinaan hygienes dan sanitasi tempat-tempat umum dan pengelolaan makanan. 7. Pembinaan kesehatan dan keselamatan kerja. 8.Menyusun kerangka kebijakan pencegahan dan pemberantasan penyakit serta kesehatan matra; .

masyarakat sehingga pendekatan dan kebijakan yang dilakukan harus meliputi semua aspek lingkungan baik lingkungan individu, keluarga, tempat kerja dan sebagainya. Kondisi ini memerlukan kordinasi dan keterlibatan berbagai pihak agar keberhasilan yang dicapai lebih cepat dan maksimal.

Angka harapan hidup tahun 2004 = 68,2 tahun sedangkan tahun 2009 = 71,79 tahun

kawasan pariwisata, industri, perumahan dan permukiman, serta perbaikan sarana sanitasi dasar 7. Meningkatnya kualitas, keterjangkauan dan pemerataan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama bagi keluarga miskin, kelompok rentan dan penduduk di daerah terpencil, perbatasan dan rawan bencana/konflik serta masyarakat pekerja; 8. Meningkatnya upaya dan kecepatan penanggulangan masalah kesehatan akibat terjadinya wabah, Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana; 9. Meningkatnya upaya pemerataan dan profesionalisme sumber daya manusia kesehatan; 10. Meningkatnya perumusan kebijakan/program pembangunan kesehatan berdasarkan hasil penelitian dan pengembangan kesehatan;

11. Meningkatnya upaya penyediaan dan pemanfaatan obat, obat tradisional, terutama obat asli Indonesia, kosmetik, produk komplemen, produk pangan dan alat kesehatan yang berkualitas serta terjamin keamanan produk tersebut yang beredar; 12. Terjaminnya mutu, keamanan dan khasiat/kemanfaatan produk terapetik/obat, obat tradisional, kosmetik, perbekalan kesehatan rumah tangga, produk komplemen dan produk pangan yang beredar. Serta tercegahnya masyarakat dari penyalahgunaan dan penggunaan obat keras, narkotika, psikotropika, precursor, zat adiktif dan bahan berbahaya lainnya; 13. Dimanfaatkannya tanaman obat Indonesia sebagai produk obat bahan alam bermutu tinggi dalam pelayanan kesehatan masyarakat;


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Evaluasi, Sumut
Stats:
views:26724
posted:1/27/2009
language:Indonesian
pages:302
Description: Evaluasi Tiga Tahun Pelaksanaan RPJMN 2004-2009 di Provinsi Sumatera Utara