Sejarah Pemikiran Islam by aryas

VIEWS: 15,996 PAGES: 22

									                             MAKALAH
                   SEJARAH PEMIKIRAN ISLAM:
                     Sejarah Empat Mazhab Fiqih
       Disusun Oleh : Muh. Asroruddin / 095112032


A. PENDAHULUAN
          Belakangan ini penelitian tentang sejarah fiqih Islam mulai dirasakan
  penting. Paling tidak, karena pertumbuhan dan perkembangan fiqih
  menunjukkan pada suatu dinamika pemikiran keagamaan itu sendiri. Hal
  tersebut merupakan persoalan yang tidak pernah usai di manapun dan
  kapanpun, terutama dalam masyarakat-masyarakat agama yang sedang
  mengalami modernisasi. Di lain pihak, evolusi historikal dari perkembangan
  fiqih secara sungguh-sungguh telah menyediakan frame work bagi pemikiran
  Islam, atau lebih tepatnya actual working bagi karakterisitik perkembangan
  Islam itu sendiri.
          Kehadiran fiqih ternyata mengiringi pasang-surut perkembangan
  Islam, dan bahkan secara amat dominan, fiqih -- terutama fiqih abad
  pertengahan -- mewarnai dan memberi corak bagi perkembangan Islam dari
  masa ke masa. Karena itulah, kajian-kajian mendalam tentang masalah
  kesejahteraan fiqih tidak semata-mata bernilai historis, tetapi dengan
  sendirinya menawarkan kemungkinan baru bagi perkembangan Islam
  berikutnya.
          Jika kita telusuri sejak saat kehidupan Nabi Muhammad saw, para
  sejarahwan sering membaginya dalam dua priode yakni periode Mekkah dan
  periode Madinah. Pada periode pertama risalah kenabian berisi ajaran-ajaran
  akidah dan akhlaq, sedangkan pada periode kedua risalah kenabian lebih
  banyak berisi hukum-hukum. Dalam mengambil keputusan masalah amaliyah
  sehari-hari para sahabat tidak perlu melakukan ijtihad sendiri, karena mereka
  dapat langsung bertanya kepada Nabi jika mereka mendapati suatu masalah
  yang belum mereka ketahui.



                                                                             1
         Sampai dengan masa empat khalifah pertama hukum-hukum syariah
  itu belum dibukukan, dan belum juga diformulasikan sebagai sebuah ilmu
  yang sistematis. Kemudian pada masa-masa awal periode tabi'in (masa Dinasti
  Umayyah) muncul aliran-aliran dalam memahami hukum-hukum syariah serta
  dalam merespon persoalan-persoalan baru yang muncul sebagai akibat
  semakin luasnya wilayah Islam, yakni ahl al-hadis dan ahl al-ra'y. Aliran
  pertama, yang berpusat di Hijaz (Mekkah-Madinah), banyak menggunakan
  hadis dan pendapat-pendapat sahabat, serta memahaminya secara harfiah.
  Sedangkan aliran kedua, yang berpusat di Irak, banyak menggunakan rasio
  dalam merespons persoalan baru yang muncul.
         Perbedaan pendapat dalam lapangan hukum tersebut merupakan
  sebuah hasil penelitian (ijtihad), hal ini tidak perlu dipandang sebagai faktor
  yang melemahkan kedudukan hukum Islam, akan tetapi sebaliknya bisa
  memberikan     kelonggaran    kepada    orang   banyak    sebagaimana     yang
  disampaikan oleh Nabi pada sebuah hadis :



  Yang maksudnya : “Perbedaan pendapat di kalangan umatku adalah rahmat”
  (HR. Baihaqi dalam Risalah Asy‟ariyyah).
         Ini berarti, bahwa orang bebas memilih salah satu pendapat dari
  pendapat yang banyak itu, dan tidak terpaku hanya kepada satu pendapat saja.
         Pada pembahasan selanjutnya akan dijelaskan tentang pengertian
  mazhab, latar belakang dan sejarah awal kemunculan mazhab-mazhab dalam
  fiqih, bilkhusus pada empat mazhab yaitu Mazhab Hanafi, Mazhab Maliki,
  Mazhab Syafi‟i dan Mazhab Hambali serta beberapa hal lain yang
  berhubungan dengan keempat mazhab tersebut.


B. POKOK PERMASALAHAN
         Sebelum sampai kepada pembahasan, terlebih dahulu penulis tentukan
  pokok permasalahan sebagai tolak ukur agar pembahasan tidak melabar dan
  menyimpang. Sebagai pokok permasalahan dalam makalah ini adalah
  Bagaimanakah latar belakang dan sejarah munculnya empat mazhab fiqih?


                                                                               2
  Selain itu adalah apakah dasar-dasar hukum empat mazhab?, karena
  bagaimanapun juga setiap imam mazhab pasti memiliki pendapat masing
  dalam hal pengambilan dan menetapkan pijakan dasar sebuah hukum.


C. PEMBAHASAN
  1. Pengertian Mazhab
                  Kata mazhab berasal dari bahasa Arab yaitu isim makan (kata
        benda keterangan tempat) dari akar kata dzahab (pergi) (Al-Bakri, I‘ânah
        ath-Thalibin, I/12). Jadi, mazhab itu secara bahasa artinya, “tempat pergi”,
        yaitu jalan (ath-tharîq) (Abdullah, 1995: 197; Nahrawi, 1994: 208).
                  Secara terminologis pengertian mazhab menurut Huzaemah Tahido
        Yanggo, adalah pokok pikiran atau dasar yang digunakan oleh imam
        mujtahid dalam memecahkan masalah, atau mengistinbatkan hukum
        Islam1.
                  Sedangkan menurut istilah ushul fiqih, mazhab adalah kumpulan
        pendapat mujtahid yang berupa hukum-hukum Islam, yang digali dari
        dalil-dalil syariat yang rinci serta berbagai kaidah (qawâ’id) dan landasan
        (ushûl) yang mendasari pendapat tersebut, yang saling terkait satu sama
        lain sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh (Nahrawi, 1994: 208;
        Abdullah, 1995: 197). Menurut Muhammad Husain Abdullah (1995:197),
        istilah mazhab mencakup dua hal: (1) sekumpulan hukum-hukum Islam
        yang digali seorang imam mujtahid; (2) ushul fikih yang menjadi jalan
        (tharîq) yang ditempuh mujtahid itu untuk menggali hukum-hukum Islam
        dari dalil-dalilnya yang rinci 2.
                  Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani menegaskan dua unsur mazhab ini
        dengan berkata, “Setiap mazhab dari berbagai mazhab yang ada mempunyai
        metode penggalian (tharîqah al-istinbâth) dan pendapat tertentu dalam
        hukum-hukum syariat.” (Asy-Syakhshiyah Al-Islamiyah, II/395)3.



    1
      http://diaz2000.multiply.com
    2
      Http://www.hayatulislam.net/persoalan-seputar-mazhab.html
    3
      Ibid.


                                                                                  3
2. Biografi Empat Imam Mazhab Fiqih
           Mengingat betapa masyhurnya nama keempat imam mazhab ini,
     berikut akan dijelaskan lebih lanjut bagaimana pribadi dan pemikiran
     mereka.
     a. Imam Hanafi (Tahun 80 – 150 H.)
               Nama beliau yang sebenarnya adalah Imam Abu Hanifah al-
        Nu‟man bin Sabit bin Zauti lahir pada tahun 80 H. di kota Kuffah pada
        masa Dinasti Umayyah4. Semua literatur yang mengungkapkan
        kehidupan Abu Hanifah menyebutkan bahwa Abu Hanifah adalah
        seorang „alim yang mengamalkan ilmunya, zuhud, „abid, wara‟, taqiy,
        khusyu‟ dan tawadhu‟.
               Metode ushul yang digunakan Abu Hanifah banyak bersandar
        pada ra’yun, setelah pada Kitabullah dan As Sunnah. Kemudian ia
        bersandar pada qiyas, yang ternyata banyak menimbulkan protes di
        kalangan para ulama yang tingkat pemikirannya belum sejajar dengan
        Abu Hanifah. Begitu pula halnya dengan istihsan yang ia jadikan
        sebagai sandaran pemikiran mazhabnya, mengudang reaksi kalangan
        ulama5.
               Imam Hanafi disebutkan sebagai tokoh yang pertama kali
        menyusun kitab fiqh berdasarkan kelompok-kelompok yang berawal
        dari kesucian (taharah), shalat dan seterusnya, yang kemudian diikuti
        oleh ulama-ulama sesudahnya seperti Malik bin Anas, Imam Syafi'i,
        Abu Dawud, Bukhari, Muslim dan lainnya 6.
               Pada akhir hayatnya Abu Hanifah diracuni, sebagaimana yang
        disampaikan dalam Kitab Al-Baar Adz-Dzahabi berkata, diriwayatkan
        bahwa khalifah Al-Manshur memberi minuman beracun kepada imam
        Abu Hanifah dan dia pun meninggal sebagai syahid. Semoga Allah
        memberikan rahmat kepadanya. Latar belakang kematiannya karena
        ada beberapa penyebar fitnah yang tidak suka pada Abu Hanifah,
 4
   Abdullah Musthafa Al-Maraghi, Pakar-pakar Fiqih sepanjang sejarah, 2001, Hal. 72
 5
   Mustofa Muhammad Asy Syak‟ah, Islam Tidak Bermazhab, 1995, Hal. 333
 6
   http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hanifah


                                                                                      4
       memberi keterangan palsu pada Al-Manshur, sehingga Al-Manshur
       melakukan pembunuhan itu, dan ada sebuah riwayat shahih
       mengatakan bahwa ketika merasa kematiannya dekat, Abu Hanifah
       bersujud hingga beliau meninggal dalam keadaan bersujud 7.
              Para ahli sejarah bersepakat beliau meninggal pada bulan rajab
       tahun 150 H dalam usia 70 tahun.


    b. Imam Maliki (Tahun 93 – 179 H.)
              Nama lengkapnya adalah Malik bin Anas Abi Amir al Ashbahi,
       dengan julukan Abu Abdillah. Ia lahir pada tahun 93 H, Ia menyusun
       kitab Al Muwaththa', dan dalam penyusunannya ia menghabiskan
       waktu 40 tahun, selama waktu itu, ia menunjukan kepada 70 ahli fiqh
       Madinah8.
              Dalam sumber lain menyebutkan bahwa nama lengkap beliau
       adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu „Amir bin „Amr bin Al
       Harits bin Ghaiman bin Khutsail bin „Amr bin Al Harits Al Himyari Al
       Ashbahi Al Madani 9.
              Malik bin Anas lahir di Madinah pada tahun 93 H. Sejak muda
       ia sudah menghafal Al-Qur‟an dan sudah nampak minatnya dalam
       ilmu pengetahuan. Ia dipandang ahli dalam berbagai cabang ilmu,
       khususnya ilmu hadits dan fiqih. Karya-karya Imam Malik begitu
       banyak, di antaranya yang paling populer adalah Al Muwatta’ yang
       berarti „kemudahan‟ atau „kesederhanaan‟. Keistimewaan Al-Muwatta‟
       adalah bahwa Imam Malik merinci berbagai persoalan kaidah-kaidah
       fiqhiyah yang di ambil dari hadits-hadits dan atsar.


    c. Imam Syafi‟i (Tahun 150 – 204 H.)
              Ia bernama Abu Abdullah, Muhammad ibnu Idris bin Abbas
       bin Usman bin Syafi‟i bin Saaib bin „Abiid bin Abdu Yazid bin Hasim
7
  http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg08055.html
8
  http://id.wikipedia.org/wiki/Malik_bin_Anas
9
  http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/02/04/ biografi-al-imam-malik-bin-anas/


                                                                                  5
            bin Muthalib bin Abdu Manaf, yang merupakan kakek dari kakek
            Nabi10.
                      Sebagian besar riwayat menyebutkan bahwa Imam Syafi‟i lahir
            di daerah Ghazza, Syam (Palestina) dari keturunan Quraisy dan
            Nasabnya bertemu dengan Nabi Muhammad saw. pada kakeknya,
            Abdi Manaf ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Pada usia dua
            tahun ia dibawa oleh ibunya untuk pindah ke Makkah11.
                      Pada umur sekitar tujuh tahun Imam Syafi‟i sudah menghafal
            Al-Qur‟an, selain itu ia juga banyak menghafal hadits-hadits Nabi.
            Selain pengembaraan intelektual dan keilmuan yang sedemikian rupa ,
            fiqih Imam Syafi‟i juga merupakan refleksinya. Dengan kata lain,
            kehidupan      sosial    masyarakat      dan    keadaan      zamannya       amat
            mempengaruhi Imam Syafi‟i dalam membentuk pemikiran dan mazhab
            fiqihnya. Sejarah hidupnya menunjukkan bahwa ia amat dipengaruhi
            oleh masyarakat sekitar terbukti dengan munculnya dua kecendrungan
            dalam mazhab Syafi‟i yang dikenal dengan qaul qadim (mazhab lama)
            dan qaul jadid (mazhab baru).
                      Menurut para ahli sejarah fiqih, mazhab qadim Imam Syafi‟i
            dibangun di Irak pada tahun 195 H. Kedatangan Imam Syafi‟i ke
            Baghdad pada masa pemerintahan khalifah Al-Amin itu melibatkan
            Syafi‟i dalam perdebatan sengit dengan para ahli fiqih rasional Irak.
                      Sedangkan mazhab jadid adalah pendapat selama berdiam di
            Mesir yang dalam banyak hal mengoreksi pendapat-pendapat
            sebelumnya. Pemikiran-pemikiran baru Imam Syafi‟i di antaranya di
            muat dalam bukunya Al-Umm. Pada tahun 195 H. ia kembali ke
            Baghdad dan berdiam di sana selama tiga tahun.
                      Karakteristik pemikiran Syafi‟i tahapan kedua ini lebih bersifat
            pengembangan atau pengetrapan pemikirannya yang global terhadap


      10
            29
      11
        Mun‟im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, Risalah Gusti:Surabaya, Cet.2,
2006. Hal. 100


                                                                                            6
              masalah-masalah furu’iyah. Pluralisme pemikiran yang ada di Irak
              adalah faktor utama yang menyebabkan kematangan pemikiran Syafi‟i.
                      Kemudian pada tahun 199 H. ia pindah ke Mesir hingga wafat
              pada tahun 204 H. Tahun-tahun terakhirnya di Mesir ia gunakan
              sebagian besar untuk menulis dan merevisi buku-buku yang pernah
              ditulisnya. Bukunya Ar-Risalah yang ditulis ketika di Makkah direvisi
              ulang, dikurangi dan ditambah sesuai dengan perkembangan baru di
              Mesir 12.


           d. Imam Hambali ( Tahun 164 – 241 H.)
                      Nama lengkap imam besar ini adalah Ahmad bin Hambal bin
              Hilal bin Usd bin Idris bin Abdullah bin Hayyan ibn Abdullah bin
              Anas bin Auf bin Qasit bin Mazin bin Syaiban. Ia terlahir di Baghdad
              Irak pada tahun 164 H/780 M13. Ayahnya meninggal dunia ketika
              Ahmad masih kecil, ia kemudian diasuh oleh ibunya.
                      Ilmu yang pertama kali dikuasai adalah Al Qur‟an hingga
              beliau hafal pada usia 15 tahun, beliau juga mahir baca-tulis dengan
              sempurna hingga dikenal sebagai orang yang terindah tulisannya. Lalu
              beliau mulai konsentrasi belajar ilmu hadits di awal umur 15 tahun itu
              pula. Beliau telah mempelajari Hadits sejak kecil dan untuk
              mempelajari Hadits ini beliau pernah pindah atau merantau ke Syam
              (Syiria).
                      Imam Ahmad bin Hambal berguru kepada banyak ulama,
              jumlahnya lebih dari dua ratus delapan puluh yang tersebar di berbagai
              negeri, seperti di Makkah, Kufah, Bashrah, Baghdad, Yaman dan
              negeri lainnya. Di antara mereka adalah: Ismail bin Ja‟far, Abbad bin
              Abbad Al-Ataky, Umari bin Abdillah bin Khalid, Husyaim bin Basyir
              bin Qasim bin Dinar As-Sulami, Imam Asy-Syafi‟i, Waki‟ bin Jarrah,


      12
       Ibid, Hal. 109-110
      13
       Abdullah Musthafa Al-Maraghi, Pakar-pakar Fiqih sepanjang sejarah, LKPSM:
Yogyakarta, 2001, Hal. 105


                                                                                   7
               Ismail bin Ulayyah, Sufyan bin „Uyainah, Abdurrazaq, Ibrahim bin
               Ma‟qil14
                       Umumnya ahli hadits pernah belajar kepada imam Ahmad bin
               Hambal, dan belajar kepadanya juga ulama yang pernah menjadi
               gurunya, yang paling menonjol adalah: Imam Bukhari, Muslim, Abu
               Daud, Nasai, Tirmidzi, Ibnu Majah, Imam Asy-Syafi‟i. Imam Ahmad,
               Putranya, Shalih bin Imam Ahmad bin Hambal, Putranya, Abdullah
               bin Imam Ahmad bin Hambal, Keponakannya, Hambal bin Ishaq.
                       Setelah      sakit    sembilan   hari,   beliau   Rahimahullah
               menghembuskan nafas terakhirnya di pagi hari Jum‟at bertepatan
               dengan tanggal dua belas Rabi‟ul Awwal 241 H pada umur 77 tahun.
               Jenazah beliau dihadiri delapan ratus ribu pelayat lelaki dan enam
               puluh ribu pelayat perempuan. 15


       3. Sejarah Empat Mazhab Fiqih
                   Ilmu fiqih baru muncul pada periode tabi' al-tabi'in yaitu sekitar
           abad kedua Hijriyah, dengan munculnya para mujtahid di berbagai kota,
           serta terbukanya pembahasan dan perdebatan tentang hukum-hukum
           syariah. Pada masa-masa itulah di Irak muncul seorang mujtahid besar
           bernama Abu Hanifah al-Nu'man ibn Tsabit (80-150 H atau 700-767 M)
           yang merupakan orang pertama yang memformulasikan ilmu fiqih, tetapi
           ilmu ini belum dibukukan.
                   Sementara itu, di Madinah muncul juga seorang mujtahid besar
           bernama     Malik     ibn Anas (93-178       H   atau   713-795   M) yang
           memformulasikan ilmu fiqih dan membukukan kumpulan hadis berjudul
           al-Muwaththa', yang terutama berisi hukum-hukum syariah. Pembukuan
           kitab ini dilakukan atas permintaan khalifah Abu Ja'far al-Manshur (137-
           159 H atau 754-775 M), dengan maksud sebagai pedoman bagi kaum
           Muslimin dalam mengarungi kehidupan mereka.

14
     http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal
15
     Ibid.


                                                                                   8
            Kitab ini kemudian menjadi dasar bagi faham fiqih di kalangan
     umat Islam di Hijaz (aliran ahl-hadis). Sedangkan yang menjadi pedoman
     bagi faham fiqih di kalangan umat Islam di Irak (aliran ahl al-ra'y) adalah
     buku-buku yang ditulis oleh murid-murid Abu Hanifah, terutama
     Muhammad ibn al-Hasan al-Syaibani (102-189 H) dengan bukunya antara
     lain al-Jâmi' al-Kabîr dan al-Jâmi' al-Shaghîr dan Abu Yusuf (112-183 H)
     dengan bukunya berjudul Kitab al-Kharâj (Kitab tentang Pajak
     Penghasilan). Abu Hanifah sendiri pernah diminta menjadi qâdhî (hakim)
     oleh seorang khalifah Dinasti Abbasiyyah, tetapi permintaan ini ditolak,
     sementara Abu Yusuf pernah menjadi qâdhî pada masa khalifah Harun al-
     Rasyid. Baik Abu Hanifah maupun Malik ibn Anas kemudian oleh para
     pengikutnya masing-masing dijadikan sebagai pendiri mazhab Hanafi dan
     Maliki16.
            Sejak periode tabi'in sering terjadi perdebatan antara kedua aliran
     tersebut. Sementara kalangan ahl al-hadis mencela kelompok ahl al-ra'y
     dengan tuduhan bahwa ahl al-ra'y meninggalkan sebagian hadis, maka ahl
     al-ra'y pun menjawab dengan mengemukakan argumentasi tentang 'illah-
     'illah hukum (legal reasons) dan maksud-maksud syariah. Pada umumnya
     ahl al-ra'y dengan kemampuan debatnya dapat mengalahkan argumentasi
     ahl al-hadîts, sebagaimana contoh di atas. Maka munculnya Muhammad
     ibn Idris al-Syafi'i atau yang dikenal dengan Imam Syafi‟i (150-204 H atau
     767-820 M), yang di satu segi menguasai banyak hadis dan di lain segi
     memiliki kemampuan dalam menggali dasar-dasar dan tujuan-tujuan
     hukum, dapat menghilangkan supremasi ahl al-ra'y terhadap ahl al-hadis
     dalam perdebatan. Karena jasanya membela hadis, maka ia dijuluki
     sebagai "nâshir al-sunnah" (pembela Sunnah).
            Keempat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali) inilah yang
     sampai kini dianggap sebagai mazhab fiqih yang beraliran Ahl al-Sunnah
     wa al-Jama'ah.


16
     http://www.hupelita.com


                                                                              9
     1. Latar Belakang dan Sejarah Munculnya Empat Mazhab Fiqih
                 Sebagaimana diketahui, bahwa ketika agama Islam telah
        tersebar meluas ke berbagai penjuru, banyak sahabat Nabi yang telah
        pindah tempat dan berpencar-pencar ke nagara yang baru tersebut.
        Dengan       demikian,      kesempatan   untuk   bertukar   pikiran   atau
        bermusyawarah memecahkan sesuatu masalah sukar dilaksanakan.
        Sejalan dengan pendapat di atas, Qasim Abdul Aziz Khomis
        menjelaskan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan ikhtilaf di
        kalangan sahabat ada tiga yakni :
             1. Perbedaan para sahabat dalam memahami nash-nash al-Qur‟an
             2. Perbedaan para sahabat disebabkan perbedaan riwayat
             3. Perbedaan para sahabat disebabkan karena ra’yu.
                  Sementara Jalaluddin Rahmat melihat penyebab ikhtilaf dari
         sudut pandang yang berbeda, Ia berpendapat bahwa salah satu sebab
         utama ikhtilaf di antara para sahabat prosedur penetapan hukum untuk
         masalah-masalah baru yang tidak terjadi pada zaman Rasulullah
         SAW17.
                  Setelah berakhirnya masa sahabat yang dilanjutkan dengan
         masa Tabi‟in, muncullah generasi Tabi‟it Tabi‟in. Ijtihad para Sahabat
         dan Tabi‟in dijadikan suri tauladan oleh generasi penerusnya yang
         tersebar di berbagai daerah wilayah dan kekuasaan Islam pada waktu
         itu. Generasi ketiga ini dikenal dengan Tabi‟it Tabi‟in. Di dalam
         sejarah dijelaskan bahwa masa ini dimulai ketika memasuki abad
         kedua hijriah, di mana pemerintahan Islam dipegang oleh Daulah
         Abbasiyyah.
                  Dari mata rantai sejarah ini jelas terlihat bahwa pemikiran
         fiqih dari zaman sahabat, tabiin hingga munculnya mazhab-mazhab
         fiqih pada periode ini. dan dari sini pula kita dapat merumuskan apa
         sebab-sebab munculnya mazhab pada periode ini. Namun mazhab-
         mazhab muncul pada periode ini tidak terbatas pada empat mazhab –

17
     http://diaz2000.multiply.com


                                                                               10
             Mazhab Hanafi, Maliki, Syafi‟ie dan Hambali – seperti yang ada
             sekarang.
                      Dr. Thaha Jabir Fayyadh al-„Ulwani berkesimpulan bahwa saat
             itu muncul sekitar tiga belas mazhab yang semuanya berafiliasi
             sebagai mazhab yang “Ahlu Sunnah”, tetapi hanya delapan atau
             sembilan mazhab saja yang dapat diketahui dengan jelas dasar-dasar
             dan metode fiqhiyah yang mereka pergunakan. Para imam mazhab-
             mazhab itu adalah : Imam Abu Sa‟id bin Yasar al-Bashir (wafat 110
             H.), Imam Abu Hanifah al-Nu‟man bin Tsabit bin Zuthi (wafat 150
             H.), Imam Auza‟ie Abu Amr Abdur Rahman bin Amru bin
             Muhammad (wafat 157 H.), Imam Sufyan bin Said bin Masruq al-
             Tsauri (wafat 160 H.), Imam Laits bin Sa‟d (wafat 157 H.), Imam
             Malik bin Anas al-Anshari (Wafat 179 H.), Imam Sufyan bin Uyainah
             (wafat 198 H.), Imam Muhammad bin Idris al Syafi‟ie (wafat 204 H.),
             dan Imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal (wafat 241 H.) 18.
                     Muhammad Khudari Beik (ahli fiqh dari Mesir) membagi
            periodisasi fiqh menjadi enam periode. Yaitu Periode risalah, Periode
            khulafaurrasyidun,       Periode     awal     pertumbuhan       fiqih,   Periode
            keemasan, Periode tahrir, takhrij dan tarjih dalam mazhab fiqih, dan
            yang terakhir adalah periode kemunduran fiqih 19.
            1. Periode risalah. Periode ini dimulai sejak kerasulan Muhammad
                 SAW sampai wafatnya Nabi SAW (11 H./632 M.). Pada periode
                 ini kekuasaan penentuan hukum sepenuhnya berada di tangan
                 Rasulullah SAW. Sumber hukum ketika itu adalah Al-Qur'an dan
                 sunnah Nabi SAW.
                 Periode awal ini juga dapat dibagi menjadi periode Makkah dan
                 periode Madinah. Pada periode Makkah, risalah Nabi SAW lebih
                 banyak tertuju pada masalah aqidah. Ayat hukum yang turun pada
                 periode ini tidak banyak jumlahnya, dan itu pun masih dalam
      18
         Mun‟im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, Risalah Gusti:Surabaya, Cet.2,
2006. Hal. 79
      19
         http://www.cybermq.com


                                                                                           11
   rangkaian mewujudkan revolusi aqidah untuk mengubah sistem
   kepercayaan masyarakat jahiliyah menuju penghambaan kepada
   Allah SWT semata. Pada periode Madinah, ayat-ayat tentang
   hukum turun secara bertahap. Pada masa ini seluruh persoalan
   hukum diturunkan Allah SWT, baik yang menyangkut masalah
   ibadah maupun muamalah.
2. Periode al-Khulafaur Rasyidun. Periode ini dimulai sejak wafatnya
   Nabi Muhammad SAW sampai Mu'awiyah bin Abu Sufyan
   memegang tampuk pemerintahan Islam pada tahun 41 H./661 M.
   Sumber fiqh pada periode ini, disamping Al-Qur'an dan sunnah
   Nabi SAW, juga ditandai dengan munculnya berbagai ijtihad para
   sahabat. Ijtihad ini dilakukan ketika persoalan yang akan
   ditentukan hukumnya tidak dijumpai secara jelas dalam nash. Pada
   masa ini, khususnya setelah Umar bin al-Khattab menjadi khalifah
   (13 H./634 M.), ijtihad sudah merupakan upaya yang luas dalam
   memecahkan berbagai persoalan hukum yang muncul di tengah
   masyarakat.
3. Periode awal pertumbuahn fiqh. Masa ini dimulai pada
   pertengahan abad ke-1 sampai awal abad ke-2 H. Periode ketiga ini
   merupakan titik awal pertumbuhan fiqh sebagai salah satu disiplin
   ilmu dalam Islam. Dengan bertebarannya para sahabat ke berbagai
   daerah semenjak masa al-Khulafaur Rasyidun (terutama sejak
   Usman bin Affan menduduki jabatan Khalifah, 33 H./644 M.),
   munculnya berbagai fatwa dan ijtihad hukum yang berbeda antara
   satu daerah dengan daerah lain, sesuai dengan situasi dan kondisi
   masyarakat daerah tersebut.
4. Periode keemasan. Periode ini dimulai dari awal abad ke-2 sampai
   pada pertengahan abad ke-4 H. Dalam periode sejarah peradaban
   Islam, periode ini termasuk dalam periode Kemajuan Islam
   Pertama (700-1000). Seperti periode sebelumnya, ciri khas yang
   menonjol pada periode ini adalah semangat ijtihad yang tinggi


                                                                 12
   dikalangan ulama, sehingga berbagai pemikiran tentang ilmu
   pengetahuan berkembang. Perkembangan pemikiran ini tidak saja
   dalam bidang ilmu agama, tetapi juga dalam bidang-bidang ilmu
   pengetahuan umum lainnya.
   Dinasti Abbasiyah (132 H./750 M.-656 H./1258 M.) yang naik ke
   panggung pemerintahan menggantikan Dinasti Umayyah memiliki
   tradisi keilmuan yang kuat, sehingga perhatian para penguasa
   Abbasiyah terhadap berbagai bidang ilmu sangat besar. Para
   penguasa awal Dinasti Abbasiyah sangat mendorong fuqaha untuk
   melakukan ijtihad dalam mencari formulasi fiqh guna menghadapi
   persoalan sosial yang semakin kompleks. Perhatian para penguasa
   Abbasiyah terhadap fiqh misalnya dapat dilihat ketika Khalifah
   Harun ar-Rasyid (memerintah 786-809) meminta Imam Malik
   untuk mengajar kedua anaknya, al-Amin dan al-Ma'mun.
   Periode keemasan ini juga ditandai dengan dimulainya penyusunan
   kitab fiqh dan usul fiqh. Diantara kitab fiqh yang paling awal
   disusun pada periode ini adalah al-Muwaththa' oleh Imam Malik,
   al-Umm oleh Imam asy-Syafi'i, dan Zahir ar-Riwayah dan an-
   Nawadir oleh Imam asy-Syaibani. Kitab usul fiqh pertama yang
   muncul pada periode ini adalah ar-Risalah oleh Imam asy-Syafi'i.
   Teori usul fiqh dalam masing-masing mazhab pun bermunculan,
   seperti teori kias, istihsan, dan al-maslahah al-mursalah.
5. Periode tahrir, takhrij dan tarjih dalam mazhab fiqh. Periode ini
   dimulai dari pertengahan abad ke-4 sampai pertengahan abad ke-7
   H. Yang dimaksudkan dengan tahrir, takhrij, dan tarjih adalah
   upaya yang dilakukan ulama masing-masing mazhab dalam
   mengomentari, memperjelas dan mengulas pendapat para imam
   mereka. Periode ini ditandai dengan melemahnya semangat ijtihad
   dikalangan ulama fiqh. Ulama fiqh lebih banyak berpegang pada
   hasil ijtihad yang telah dilakukan oleh imam mazhab mereka
   masing-masing, sehingga mujtahid mustaqill (mujtahid mandiri)


                                                                 13
   tidak ada lagi. Sekalipun ada ulama fiqh yang berijtihad, maka
   ijtihadnya tidak terlepas dari prinsip mazhab yang mereka anut.
   Artinya ulama fiqh tersebut hanya berstatus sebagai mujtahid fi al-
   mazhab (mujtahid yang melakukan ijtihad berdasarkan prinsip
   yang ada dalam mazhabnya). Akibat dari tidak adanya ulama fiqh
   yang berani melakukan ijtihad secara mandiri, muncullah sikap at-
   ta'assub al-mazhabi (sikap fanatik buta terhadap satu mazhab)
   sehingga setiap ulama berusaha untuk mempertahankan mazhab
   imamnya.
   Mustafa Ahmad az-Zarqa mengatakan bahwa dalam periode ini
   untuk pertama kali muncul pernyataan bahwa pintu ijtihad telah
   tertutup. Menurutnya, paling tidak ada tiga faktor yang mendorong
   munculnya pernyataan tersebut.
   o   Dorongan para penguasa kepada para hakim (qadi) untuk
       menyelesaikan perkara di pengadilan dengan merujuk pada
       salah satu mazhab fiqh yang disetujui khalifah saja.
   o   Munculnya sikap at-taassub al-mazhabi yang berakibat pada
       sikap kejumudan (kebekuan berpikir) dan taqlid (mengikuti
       pendapat imam tanpa analisis) di kalangan murid imam
       mazhab.
   o   Munculnya gerakan pembukuan pendapat masing-masing
       mazhab yang memudahkan orang untuk memilih pendapat
       mazhabnya dan menjadikan buku itu sebagai rujukan bagi
       masing-masing mazhab, sehinga aktivitas ijtihad terhenti. Dari
       sini muncul sikap taqlid pada mazhab tertentu yang diyakini
       sebagai yang benar, dan lebih jauh muncul pula pernyataan
       haram melakukan talfiq.
6. Periode kemunduran fiqh. Masa ini dimulai pada pertengahan abad
   ke-7 H. sampai munculnya Majalah al-Ahkam al- 'Adliyyah
   (Hukum Perdata Kerajaan Turki Usmani) pada 26 Sya'ban l293.
   Perkembangan fiqh pada periode ini merupakan lanjutan dari


                                                                   14
perkembangan        fiqh     yang semakin menurun pada                    periode
sebelumnya. Periode ini dalam sejarah perkembangan fiqh dikenal
juga    dengan          periode        taqlid    secara       membabi       buta.
Pada masa ini, ulama fiqh lebih banyak memberikan penjelasan
terhadap kandungan kitab fiqh yang telah disusun dalam mazhab
masing-masing. Penjelasan yang dibuat bisa berbentuk mukhtasar
(ringkasan) dari buku-buku yang muktabar (terpandang) dalam
mazhab atau hasyiah dan takrir (memperluas dan mempertegas
pengertian      lafal   yang      di    kandung        buku    mazhab),    tanpa
menguraikan tujuan ilmiah dari kerja hasyiah dan takrir tersebut.
Mustafa Ahmad az-Zarqa menyatakan bahwa ada tiga ciri
perkembangan fiqh yang menonjol pada periode ini.
o   Munculnya upaya pembukuan terhadap berbagai fatwa,
    sehingga banyak bermunculan buku yang memuat fatwa ulama
    yang berstatus sebagai pemberi fatwa resmi (mufti) dalam
    berbagai mazhab.
o   Muncul beberapa produk fiqh sesuai dengan keinginan
    penguasa Turki Usmani, seperti diberlakukannya istilah at-
    Taqaddum (kedaluwarsa) di pengadilan. Disamping itu, fungsi
    ulil amri (penguasa) dalam menetapkan hukum (fiqh) mulai
    diakui, baik dalam menetapkan hukum Islam dan penerapannya
    maupun menentukan pilihan terhadap pendapat tertentu.
    Sekalipun ketetapan ini lemah, namun karena sesuai dengan
    tuntutan kemaslahatan zaman, muncul ketentuan dikalangan
    ulama fiqh bahwa ketetapan pihak penguasa dalam masalah
    ijtihad wajib dihormati dan diterapkan. Contohnya, pihak
    penguasa      melarang        berlakunya      suatu       bentuk   transaksi.
    Meskipun pada dasarnya bentuk transaksi itu dibolehkan syara',
    tetapi atas dasar pertimbangan kemaslahatan tertentu maka
    transaksi     tersebut     dilarang,        atau    paling    tidak    untuk
    melaksanakan transaksi tersebut diperlukan pendapat dari pihak


                                                                              15
                     pemerintah.     Misalnya,      seseorang     yang    berutang     tidak
                     dibolehkan mewakafkan hartanya yang berjumlah sama dengan
                     utangnya tersebut, karena hal itu merupakan indikator atas
                     sikapnya yang tidak mau melunasi utang tersebut. Fatwa ini
                     dikemukakan oleh Maula Abi as-Su 'ud (qadi Istanbul pada
                     masa kepemimpinan Sultan Sulaiman al-Qanuni [1520-1566]
                     dan Salim [1566-1574] dan selanjutnya menjabat mufti
                     Kerajaan Turki Usmani).
                 Di akhir periode ini muncul gerakan kodifikasi hukum (fiqh) Islam
                 sebagai mazhab resmi pemerintah. Hal ini ditandai dengan prakarsa
                 pihak pemerintah Turki Usmani, seperti Majalah al-Ahkam al-
                 'Adliyyah yang merupakan kodifikasi hukum perdata yang berlaku
                 di seluruh Kerajaan Turki Usmani berdasarkan fiqh Mazhab
                 Hanafi.


    4. Dasar-Dasar Fiqih Empat Mazhab
           a. Dasar-dasar Fiqih Mazhab Hanafi
                     Abu Hanifah memang belum menetapkan dasar-dasar pijakan
              dalam berijtihad secara terperinci, tetapi kaidah-kaidah umum (ushul
              kulliyah) yang menjadi dasar bangunan pemikiran fiqhiyah tercermin
              dalam pernyataannya berikut, “Saya kembalikan segala persoalan pada
              Kitabullah, saya merujuk pada Sunnah Nabi, dan apabila saya tidak
              menemukan jawaban hukum dalam Kitabullah maupun Sunnah Nabi
              saw. maka saya akan mengambil pendapat para sahabat Nabi, dan
              tidak beralih pada fatwa selain mereka. Apabila masalahnya sampai
              pada Ibrahim, Sya‟bi, Hasan Ibnu Sirin, Atha‟ dan Said bin Musayyib
              (semuanya adalah tabi‟ien), maka saya berhak pula untuk berijtihad
              sebagaimana mereka berijtihad.” 20



      20
        Mun‟im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, Risalah Gusti:Surabaya, Cet.2,
2006. Hal. 87


                                                                                          16
                  Dari sini kita ketahui bahwa dasar-dasar istidlal yang
         digunakan Abu Hanifah adalah Al-Qur‟an, Sunnah dan Ijtihad dalam
         pengertian luas. Artinya jika nash Al-Qur‟an dan Sunnah secara jelas-
         jelas menunjukkan pada suatu hukum, maka hukum itu disebut
         “diambil dari Al-Qur‟an dan As-Sunnah”. Tetapi bila nash tadi
         menunjukkan secara tidak langsung atau hanya memberikan kaidah-
         kaidah dasar berupa tujuan-tujuan moral, illat dan lain sebagainya,
         maka pengambilan hukum disebut “melalui qiyas”.
                  Semua imam sepakat tentang keharusan merujuk pada Al-
         Qur‟an dan As-Sunnah. Yang membedakan dasar-dasar pemikiran Abu
         Hanifah dengan imam-imam yang lain sebenarnya terletak pada
         kebenarannya menyelami suatu hukum, mencari tujuan-tujuan moral
         dan kemaslahatan yang menjadi sasaran utama disyariatkannya suatu
         hukum. Termasuk dalam hal ini adalah penggunaan teori qiyas,
         istihsan, „urf (adat-kebiasaan), teori kemaslahatan dan lainnya.
         Perbedaan lebih tajam lagi adalah bahwa Abu Hanifah banyak
         menggunakan teori-teori tadi dan sangat ketat dalam penerimaan hadits
         ahad. Tidak seperti imam yang lain, Abu Hanifah sering menafsirkan
         suatu nash dan membatasi konteks aplikasinya dalam kerangka illat,
         hikmah dan tujuan-tujuan moral dan bentuk kemaslahatan yang
         dipahaminya 21.
                  Perlu ditambahkan bahwa betapapun Abu Hanifah terkenal
         dengan mazhab rasionalis yang menyelami di balik arti dan illat suatu
         hukum serta sering mempergunakan qiyas, akan tetap itu tidak berarti
         ia   telah     mengabaikan   nash-nash   Al-Qur‟an   dan   Sunnahatau
         meninggalkan ketentuan hadits dan atsar. Tidak ada riwayat sahih yang
         menyebutkan bahwa Abu Hanifah mendahulukan rasio daripada Al-
         Qur‟an dan Sunnah.
                  Bahkan jika ia menemukan pendapat atau qaul (pernyataan)
         sahabat yang benar, ia menolak untuk melakukan ijtihad. Dengan kata

21
     Ibid, Hal. 87-88


                                                                           17
   lain, pemikiran fiqih Abu Hanifah tidak berdiri sendiri tetapi berakar
   kuat pada pendahulu-pendahulunya di Irak dan juga para ahli hadits di
   Hijaz.   Muhammad     bin   Hasan     seperti    dikutip     Abu   Zahrah,
   membenarkan bahwa        dalam    masalah       hukum      seseorang   yang
   berhubungan dengan istrinya sebelum tawaf ziarah, Abu Hanifah
   mengambil pendapat Ibnu Abbas, seorang ulama ahli hadits Makkah,
   dan menolak pendapat Ibrahim yang dikenal banyak mewariskan
   pemikiran fiqih rasional kepadanya.


b. Dasar-dasar Fiqih Mazhab Maliki
            Seperti halnya Imam Hanafi, Imam Malik sebenarnya belum
   menuliskan dasar-dasar fiqhiyah yang menjadi pijakan dalam
   berijtihad, tetapi pemuka-pemuka mazhab ini, murid-murid Imam
   Malik dan generasi yang muncul sesudah itu menyimpulkan dasar-
   dasar fiqhiyah Imam Malik kemudian menuliskannya.
            Dari beberapa isyarat yang ada dalam fatwa-fatwanya dan
   bukunya Al-Muwattha‟, fuqaha Malikiyah merumuskan dasar-dasar
   mazhab Maliki. Sebagian fuqaha Malikiyah menyebutkan bahwa
   dasar-dasar mazhab Maliki ada dua puluh macam, yaitu : Nash literatur
   Al-Qur‟an, mafhumul mukhalafah, mafhumul muwafaqah, tambih alal
   „illah (pencarian kuasa hukum), demikian juga dalam sunnah, ijma‟
   qiyas, tradisi orang-orang Madinah, qaul sahabat, istihsan, istishab,
   sadd al dara-i‟, mura‟at al khilaf, maslahah mursalah dan syar‟u man
   qablana. Al-Qurafidalam bukunya Tanqih Al-Ushul, menyebutkan
   dasar-dasar mazhab maliki sebagai berikut : Al-Qur‟an, Sunnah, Ijma‟,
   perbuatan orang-orang Madinah, qiyas, qaul sahabat, maslahah
   mursalah, „urf, sadd ad-dara‟i, istihsan dan istihsab. Bahkan Syatibi,
   seorang ahli hukum mazhab Maliki, menyederhanakan dasar-dasar




                                                                            18
       mazhab Maliki itu ke dalam empat hal, yaitu Al-Qur‟an, Sunnah,
       ijma‟, dan ra‟yi (rasio) 22.




c. Dasar-dasar Fiqih Mazhab Syafi‟i
                Bagi Imam Syafi‟i Al-Qur‟an dan Sunnah berada dalam satu
       tingkat, dan bahkan merupakan satu kesatuan sumber syari‟at Islam.
       Sedangkan teori-teori istidlal seperti qiyas, istihsan, istishab, dan lain-
       lain    hanyalah     merupakan    suatu    metode     merumuskan       dan
       menyimpulkan hukum-hukum dari sumber utamanya tadi.
                Pemahaman integral Al-Qur‟an dan Sunnah ini merupakan
       karakteristik menarik dari pemikiran fiqih Syafi‟ie. Menurut Syaafi‟ie,
       kedudukan Sunnah, dalam banyak hal, menjelaskan dan menafsirkan
       sesuatu yang tidak jelas di dalam Al-Qur‟an, merinci yang global,
       mengkhususkan yang umum dan bahkan membuat hukum tersendiri
       yang tidak ada di dalam Al-Qur‟an.
                Hipotesa menarik lainnya dalam pemikiran metodologi Syafi‟ie
       adalah pernyataannya, “Setiap persoalan yang muncul akan ditemukan
       ketentuan hukumnnya di dalam Al-Qur‟an.” 23 Untuk membuktikan
       hipotesanya itu, Syafi‟ie menyebut empat cara Al-Qur‟an dalam
       menerangkan suatu hukum. Pertama, Al-Qur‟an menerangkan suatu
       hukum dengan nash-nash hukum yang jelas, seperti nash-nash yang
       mewajibkan shalat, puasa, zakat, dan haji, atau nash-nash yang
       mengharamkan zina, minum khamar, makan bangkai, darah dan yang
       lainnya.
                Kedua, suatu hukum yang disebut secara global dalam Al-
       Qur‟an dan dirinci dalam Sunnah Nabi. Misalnya, jumlah rakaat dalam
       shalat, waktu pelaksanaannya, demikian pula zakat, apa dan berapa



22
     Ibid, Hal. 97
23
     Ibid. Hal. 111


                                                                               19
       kadar yang harus dikeluarkan. Semua itu disebut secara global dalam
       Al-Qur‟an dal Nabi-lah yang menerangkan secara terinci.
                   Ketiga, Nabi Muhammad saw juga sering menentukan suatu
       hukum yang tidak ada nash hukumnya di dalam Al-Qur‟an. Bentuk
       penjelasan Al-Qur‟an untuk masalah seperti ini dengan mewajibkan
       taat kepada perintah Nabi dan menjauhi larangannya. Di dalam Al-
       Qur‟an disebutkan : (4:80)


       Yang maksudnya : “Barang siapa yang taat kepada Rasul, berarti ia
                               taat kepada Allah.”
                   Dengan demikian, suatu hukum yang ditetapkan oleh Sunnah
       berarti      juga   ditetapkan   oleh   Al-Qur‟an,   karena   Al-Qur‟an
       memerintahkan untuk mengambil apa yang diperintahkan oleh Nabi
       menjauhi yang di larang 24.
                   Keempat, Allah juga mewajibkan kepada hamba-Nya untuk
       berijtihad terhadap berbagai persoalan yang tidak ada ketentuan
       nashnya dalam Al-Qur‟an dan Hadits. Penjelasan Al-Qur‟an dalam
       masalah yang seperti ini, yaitu dengan membolehkan ijtihad (bahkan
       mewajibkan) sesuai dengan kapasitas pemahaman terhadap maqashid
       al-Syari’ah (tujuan-tujuan umum syariat), misalnya dengan qiyas atau
       penalaran analogis, dalam Al-Qur‟an di sebutkan dalan 4:59


d. Dasar-dasar Fiqih Mazhab Hambali
                   Sikapnya yang tegas dan fundamentalis tercermin pemikiran-
       pemikiran fikihnya. Para ulama Hanabilah berkesimpulan bahwa
       fatwa-fatwa Imam Ahmad bin Hambal dan pemikiran-pemikiran
       fiqihnya dibangun atas sepuluh dasar, yaitu lima dasar ushuliyah dan
       lima dasar lainnya sebagai pengembangan. Dasar-dasar mazhab
       Hambali aitu adalah : (1) Nushus, yang terdiri dari nash Al-Qur‟an,
       Sunnah dan nash ijma‟, (2) fatwa-fatwa sahabat, (3) apabila terjadi

24
     Q.S. 59 : 7


                                                                           20
              perbedaan, Imam Ahmad memilih yang paling dekat dengan al-Qur‟an
              dan Sunnah; dan apabila tidak jelas, dia hanya menceritakan ikhtilaf itu
              dan tidak menentukan sikapnya secara khusus, (4) hadits-hadits mursal
              dan dhaif, (5) qiyas, (6) istihsan, (7) sadd al-dara-i‟, (8) istishab, (9)
              ibthal al ja‟l, (10) maslahah mursalah. 25
                      Dari dasar-dasar dan metode-metode pengambilan hukumnya
              ini, terlihat bahwa Imam Ahmad bin Hambal mempersempit
              penggunaan rasio sampai pada batas tertentu. Ia lebih mendahulukan
              penggunaan qiyas.


D. KESIMPULAN
              Dari paparan di atas, dapat penulis mengambil beberapa poin
    kesimpulan di antaranya adalah sebagai berikut :
    1.


E. PENUTUP
              Demikian makalah ini penulis susun, dengan harapan semoga ada
    manfaatnya bagi pembaca, khususnya bagi penulis sendiri.
              Saran-saran dan kritik yang bersifat konstruktif sangat penulis
    harapkan untuk melengkapi makalah ini dan untuk kemajuan ilmu
    pengetahuan kedepan.


F. DAFTAR PUSTAKA




    Asy Syak‟ah, Mustofa Muhammad, Islam Tidak Bermazhab, Cet. 2, Gema
              Insani Press: Jakarta, 1995
    Mustofa Al Maraghi, Abdullah, Pakar Pakar Fiqih Sepanjang Sejarah, Cet. 1,
              LKPSM: Yogyakarta, 2001

         25
        Mun‟im A. Sirry, Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, Risalah Gusti:Surabaya, Cet.2,
2006. Hal. 126


                                                                                          21
Sirry, Mun‟im A., Sejarah Fiqih Islam Sebuah Pengantar, Cet.2, Risalah
      Gusti: Surabaya, 1996
http://diaz2000.multiply.com/journal/item/20/Sejarah_Singkat_Munculnya_M
      azhab-Mazhab_dalam_Islam
http://apat-kedahi.blogspot.com/2009/04/mazhab-mazhab-fiqih-dan-
      pengertiannya.html
http://www.hupelita.com/baca.php?id=495
http://www.cybermq.com/pustaka/detail//100/sejarah-perkembangan-fiqh
http://neobyadver.blog.plasa.com/2009/05/26/sejarah-singkat-munculnya-
      mazhab-mazhab-dalam-islam/
http://id.wikipedia.org/wiki/Abu_Hanifah
http://id.wikipedia.org/wiki/Malik_bin_Anas
http://id.wikipedia.org/wiki/Ahmad_bin_Hanbal
http://www.mail-archive.com/sarikata@yahoogroups.com/msg08055.html
http://www.hayatulislam.net/persoalan-seputar-mazhab.html




                                                                         22

								
To top