Docstoc

PANCA YADNYA (Made Manik Datu Yasa)smagi

Document Sample
PANCA YADNYA (Made Manik Datu Yasa)smagi Powered By Docstoc
					Panca Yadnya

               Made Manik Datu Yasa



                                      2010




                                                                        “ Om Swastiastu “
                                                 Artikel ini membahas tentang pembahasan dan pengertian dari
                                                 aspek – aspek panca yadnya dan hubungannya di dalam kehidupan
                                                 sehari-hari yang memaknai arti penting dari yadnya tersebut .




                          Made Manik Datu Yasa
                       SMAN 1 GIRI BANYUWANGI
Om Swastyastu

Salah satu bagian dan merupakan aspek terakhir dari unsur keimanan (sraddha) di dalam agama Hindu, Atharwa
Weda XII,1.1 adalah mengenai yajna (baca : yadnya). Dalam pengertian populernya istilah ini dipersamakan dengan
pengertian rituil. Kalau kita perhatikan secara lebih mendalam lagi, istilah yadnya mempunyai arti yang sangat luas
karena dengan kata yadnya dapat pula diterjemahkan dengan kata kurban atau berkurban. Dengan pengertian ini
istilahnya mengandung pengertian yang sangat luas.

Menurut etimologi, Yajna berasal dari bahasa Sanskerta, dengan urat kata ―yaj‖, yang artinya memuja atau
memberi penghormatan atau menjadikan suci. Kata ini juga diartikan mempersembahkan ; bertindak sebagai
perantara. Dari urat kata itu timbul kata yajna (kata-kata dalam pemujaan), yajata (layak memperoleh
penghormatan) yajus (sacral, ritus agama) dan yajna (pemujaan, doa, persembahan), yang kesemuanya berarti
sama dengan Brahma. Di dalam Rg Weda VII1,40,4 kata yaja berarti kurban atau pemujaan. Dari istilah Yajus
yang juga bersumber dari urat kata yaj, timbul pula istilah yajur weda, yaitu himpunan weda mantra yang
menguraikan mengenai pokok-pokok ajaran tentang beryadnya atau hubungan antara manusia dengan yang
disembah.

Di samping itu, kata yajna juga dihubungkan pula dengan konsepsi penciptaan alam semesta ini. Yajna adalah
semacam simbol bahasa yang mengandung pengertian sebagai satu proses kejadian. Di dalam Rg Weda X.92
(Nasadiya Sukta) mengemukakan bahwa penciptaan ini terjadi dari yajna. Yajna adalah satu proses, satu
phenomena yang dinamis mengenai penciptaan alam semesta.

Adapun pengertian yajna yang dipergunakan dalam bahasa sehari-hari, kata yadnya dimaksudkan sebagai upacara
keagamaan yang sama artinya dengan samskara atau sangaskara. Terjemahan arti kata yadnya menjadi samskara
kurang tepat karena kata samskara itu sendiri masih sangat kabur pengertiannya.

Di dalam berbagai terjemahan yang dilakukan, kata samskara diterjemahkan dengan kata ceremony di dalam
bahasa Inggris, sedangkan di dalam bahasa Latin disebut caerimonia. Kalau kata ―ceremony‖ diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia, kata itu berarti ―upacara‖, sehingga dengan demikian kata samskara berarti upacara
pula.

Di samping istilah yajna yang diterjemahkan sebagai samskara, terdapat juga pengertian lain, di mana kata itu
diterjemahkan atau diganti dengan istilah ―karman‖. Kata karman berarti upacara keagamaan yang di dalam
bahasa Jawa Kuno ditulis ―krama‖, misalnya dipergunakan dalam penulisan Wedaparkrama.

Dari semua istilah itu, kata yajna mengandung pengertian yang lebih luas dari pada istilah lain-lainnya, tetapi
penggunaannya tetap dalam pengertian yang lebih sempit, yaitu yang diartikan sama dengan samskara. Kata
samskara itu sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang mempunyai arti yang luas pula. Dari berbagai
terjemahan atas kata samskara itu, kata itu menurut beberapa penulis ada yang berarti melatih, mensucikan,
membiasakan, menjadikannya sempurna, memberi bentuk, melengkapi, memperindah, membentuk, membudayakan,
dan sebagainya. Kalau kita rumuskan dari berbagai terjemahan itu maka kata samskara adalah karman pula, yaitu
semacam rituil yang bertujuan untuk membuat sempurna atau mensucikan badan ini sehingga layak untuk dapat
memuja Tuhan.

Dengan dinyatakannya di dalam Atharwa Weda, bahwa yajna merupakan bagian dari pada dharma sehingga
merupakan unsur ajaran keimanan yang penting, ini menyebabkan ajaran yajna merupakan bagian dari penghidupan
beragama menurut agama Hindu. Yajna bukan sekadar ajaran formalistis, melainkan masalah ibadah yang
hukumnya adalah wajib. Hanya saja di dalam melaksanakan ajaran yadnya itu terjadi variasi yang berbeda-beda
menurut daya pemikirnya, karena dinyatakan bahwa ajaran yajna itu supaya dikembangkan dan disempurnakan.
   Tujuan yajna atau samskara
Yajna merupakan aspek ajaran karma margha karena yajna adalah sama dengan karman. Di dalam Rg. Weda X,71
dikemukakan ada empat macam cara untuk mencapai tujuan atau pemujaan kepada Tuhan, yaitu :
    1. Dengan melalui cara pengucapan mantra-mantra. Cara ini dikenal pula dengan istilah bhakti margha.
    2. Dengan melalui cara menyanyikan lagu-lagu pujaan (hymn), misalnya melagukan mantra dan stotra. Cara
    ini dikenal dengan istilah wibhuti margha.
    3. Dengan melalui cara keilmuan, misalnya mengamati dan mengamalkannya. Cara ini dikenal dengan jnana
    margha.
    4. Dengan melalui cara melakukan yajna, yaitu yang disebut ajaran karma margha.

Jadi berdasarkan kitab Rg Weda di atas, yajna adalah salah satu di antara empat jalan yang dapat dipergunakan
untuk memuja Tuhan. Dalam melaksanakan margha itu, dapat dilakukan dengan menggabungkan dari berbagai cara
itu dan dapat pula dilakukan dengan hanya memilih satu di antara empat jalan itu. Di samping itu, peranan yajna
dianggap penting di dalam agama Hindu karena di dalam Rg. Weda VIII, 19 ditegaskan bahwa yajna mempunyai
peranan penting karena yajna adalah laksana kapal yang merupakan kapal yang suci yang akan mengantar manusia
kepada tujuannya.

Setiap penyelenggaraan yajnya dilakukan untuk tujuan tertentu dan untuk memperoleh suasana kesucian alam
lahir dan bathin. Kesucian ini dicapai karena dalam yajna tardapat pula salah satu disiplin mental yang disebut
brata (wrata) sehingga dengan kesucian itu mereka dapat melakukan yadnya. Jadi suasana suci itu ditimbulkan
karena melakukan yajna.
      Kalau kita pelajari baik-baik tentang berbagai macam yajna yang patut dilakukan, tujuan yajna samskara
dapat kita bagi atas dua macam, yaitu :
    1. Tujuan yajna menurut pengertian populer dan bersifat ghaib .
    2. Tujuan yajna menurut pengertian pembudayaan dan kesucian.

Di dalam pengertian populer dan yang bersifat ghaib, tujuan samskara adalah untuk menciptakan suasana suci
sehingga memungkinkan seseorang yang melakukan yajna dapat memperoleh tujuannya sebaik mungkin. Dalam hal
ini maka tujuan samskara itu mempunyai arti yang sangat luas dan banyak, yaitu :
     a. untuk melenyapkan atau mengusir pengaruh jahat dari rokh-rokh jahat.
     b. untuk menarik atau mendatangkan pengaruh yang baik dari pada rokh-rokh suci yang bersifat baik dan
     penolong.
     c. untuk mencapai tujuan materiil.
     d. untuk sebagai pernyataan tanda syukuran atau terima kasih.

Adapun cara pelaksanaannya tidak ada petunjuk-petunjuknya dan karena itu pengembangannya dapat bersifat
lokal. Mengusir atau menarik rokh tergantung pada jenis rokh yang dihadapi. Untuk rokh-rokh yang bersifat tidak
baik diadakan upacara pengusiran atau pemindahan atau pembersihan yang dapat dilakukan melalui pengucapan
mantra atau lafal, pemberian sedekahan yang disebut caru atau lainnya seperti melakukan segahan, dan lain-
lainnya. Sebaliknya bagi rokh-rokh yang baik, seperti dewa-dewa, Bidadari, Arwah leluhur seperti Pitara, dan lain-
lainnya didatangkan untuk membuat suasana menjadi suci.

Di samping itu, yajna dalam arti dimaksudkan sebagai pembudayaan dan kesucian, karena tujuan yajna adalah
sebagaimana artinya sendiri, yaitu untuk menjadikan lebih baik. Dalam hal ini kita lihat upacara pensucian
(playascitta) dan lain-lainnya.

Pensucian yang merupakan tujuan dari pada hidup beragama dapat dicapai dengan berbagai cara. Di dalam kitab
Manawadharma sastra dikemukakan berbagai cara untuk melakukan pensucian, yaitu, dengan cara mandi untuk
mensucikan badan, dengan pengucapan mantra atau doa untuk pensucian pikiran, dengan cara membakar untuk
mensucikan benda-benda metal, dengan mengendalikan tingkah laku untuk mensucikan diri. Dengan semua cara itu
akan terwujud kepribadian yang menjadi sifat hakiki dari pada hidup beragama itu. Dengan kata lain, upacara
menurut tujuan ini ialah :
   a. untuk pembinaan dan pengembangan moral
   b. untuk penumbuhan atau pengembangan kepribadian diri seseorang
   c. untuk tujuan spirituil
   d. untuk sebagai tanda peningkatan dari satu fase ke fase yang baru (diksa).
Adapun yang dimaksud dengan pembinaan moral yang menjadi dasar dari pada upacara yajna itu ialah karena
didasarkan atas penumbuhan delapan sifat-sifat yang baik, yaitu suka memaafkan, gembira, tenang, suci,
berprilaku yang benar, tidak serakah, tidak terikat, dan lain-lainnya. Kesemuanya itu akan menumbuhkan bentuk-
bentuk pribadi tertentu pada diri manusia itu.

Di samping tujuan yang bersifat penumbuhan moral dan kepribadian itu, yajna juga merupakan dasar yang
bertujuan untuk menanamkan rasa suci dan iman yang disebut sraddha dan sadhana. Upacara yajna adalah
merupakan ajaran jalan tengah antara ekstrim materialisme dengan ekstrim spiritualisme yang banyak dilakukan
oleh seorang sanyasi. Karena itu yajna itu merupakan jalan yang paling populer dan yang paling banyak dapat
dilakukan oleh orang-orang awam dalam lingkungan masyarakat Hindu.
Macam-macam yajna samskara
Banyak buku yang menjelaskan mengenai macam-macam yajna itu. Kitab yang penting yang memuat ajaran Yajna
dan samskara itu antara lain adalah kitab Manawadharmasastra, kitab Grihyasutra, dan lain-lainnya, kesemuanya
merupakan kitab Wedasmriti.

Menurut kitab Dharmasastra, kitab ini memerinci adanya lima macam jenis upacara besar yang disebut Panca
Maha Yajna. Adapun kelima macam yajna itu, masing-masingnya ialah :
   a. Dewayajna
   b. Rsi yajna
   c. Pitri yajna
   d. manusya yajna
   e. bhuta yajna.

Penguraian dari pada masing-masing jenis yajna itu macam-macam. Tiap-tiap jenis itu merupakan kelompok jenis
yang masing-masingnya terdiri dari berbagai macam jenis yajna dan samskara pula. Di samping cara penggolongan
yang lima itu, kitab Dharma sastra itu membedakan pula cara pengelompokannya menurut cara pelaksanaan dari
pada upacara itu sendiri, yang dibedakan menjadi lima macam pula. Adapun nama-namanya yang disebut di dalam
kitab Manusmsriti itu ialah :
    1. Upacara yang dinamakan AHUTA, yaitu upacara rituil yang dilakukan tanpa mempergunakan kesaksian api
    (Agni), misalnya bila upacara itu hanya dilakukan dengan cara pembacaan mantra-mantra pujaan saja. Dasar
    dari pada ajaran ini adalah bersumber pada kitab Rg. Weda IV.25.
    2. Upacara yang dinamakan HUTA, yaitu upacara rituil yang dilakukan dengan mempergunakan api sebagai
    unsur yang penting, misalnya dengan mempergunakan dupa, dipa atau api iainnya (membakar kemenyan). Dalam
    upacara ini ada pula benda-benda upacara yang kemudian dibakar (dimasukkan ke dalam api upacara).
    3. Upacara yang dinamakan PRAHUTA, yaitu jenis upacara rituil yang dilakukan dengan cara penyebaran
    benda-benda upacara di tanah, misalnya pada waktu upacara bhuta yajna dan lain-lainnya.
    4. Upacara yang dinamakan BRAHMAHUTA, yaitu upacara rituil yang ditujukan sebagai penghormatan
    kepada para pendeta Brahmana, misalnya dengan mengundang para Brahmana dalam satu upacara dan
    kemudian dalam kesempatan itu kepadanya diberikan dana berupa apa saja. Umumnya upacara ini dilakukan
    pada waktu melakukan Pitra yajna atau Sraddha.
    5. Upacara yang dinamakan PRASITA, yaitu upacara rituil yang diselenggarakan dengan cara penyuguhan
    jenis-jenis makanan, buah-buahan, kapur sirih, dan lain-lainnya, terutama ditujukan kepada yang meninggal.
    Prasita ini adalah semacam ―tarpana‖.

Di samping cara pembagian tersebut, ada pula cara pembagian yang lebih lengkap, yaitu dengan menyebutkan
semua macam upacara yang harus dilakukan. Jumlah jenis macam upacara ini sangat banyak macamnya dan tidak
sama antara berbagai buku. Umumnya jenis yang banyak itu dihubungkan dengan samskara, yaitu mulai dari
melakukan upacara Brahmacari sampai pada upacara antyesti (kematian). Dari jenis-jenis upacara ini, yang penting
adalah yang ada hubungannya dengan pembentukan diri pribadi seseorang, mulai dari garbhadana (upacara bayi
dalam kandungan) sampai dengan anak itu lahir dan berakhir pada upacara kematian. Jumlah upacara ini sangat
banyak dan tidak semuanya dapat dilakukan.

Di samping kitab Dharmasastra, kitab Grihyasutra memberikan berikan keterangan yang lain pula tentang
berbagai yajna itu. Di dalam kitab ini kits jumpai istilah Panca bhusamskara dan paka samskara. Jenis paka yajna
menurut Grihyasutra sama dengan jenis-jenis upacara yang digolongkan Huta, Prahuta, Ahuta dan Prasita. Jadi
banyak istilah yang sama yang masih dipergunakan. Penggolongan berbagai jenis upacara itu hanya diperlukan
untuk sistematisasinya saja sedangkan makna dan tujuannya tetap sama.

                                                                           Yang berbeda dari semua kitab
                                                                           itu ialah masalah penulisan
                                                                           upacara       yang        mencoba
                                                                           menguraikan mengenai upacara
                                                                           kematian. Pada umumnya kitab-
                                                                           kitab itu memisahkan upacara
                                                                           kematian itu dari berbagai jenis
                                                                           upacara lainnya. Di samping itu
                                                                           masih banyak aspek dari pada
                                                                           yajna yang perlu kita ketahui
                                                                           seperti masalah bentuk serta
                                                                           unsur-unsur dalam yajna, ke
                                                                           semuanya itu merupakan unsur-
                                                                           unsur penting dalam memahami
                                                                           arti yajna, baik sebagai dasar
                                                                           keimanan maupun sebagai ritus
                                                                           dalam pembentukan kepribadian
                                                                           manusia itu sendiri. Kesemuanya
                                                                           itu akan dibahas dalam buku
                                                                           tersendiri, dalam buku pengantar
                                                                           agama Hindu V1. Yang terpenting
                                                                           dalam peninjauan kita ialah bahwa
                                                                           berdasarkan uraian yang telah
                                                                           kita   lihat   di   atas,    yajna
                                                                           merupakan unsur yang amat
                                                                           penting di dalam penumbuhan
                                                                           pengertian pokok-pokok ajaran
                                                                           Hindu itu sebagai salah satu dari
                                                                           pada unsur sraddha dalam agama
                                                                           Hindu.
Om Santih Santih Snatih Om
        Pengertian Dewa Yadnya
Dewa asal kata dalam bahasa Sanskrit ―Div‖ yang artinya sinar suci, jadi pengertian Dewa adalah sinar suci yang
merupakan manifesttasi dari Tuhan oleh umat hindu


Upacara Dewa Yadnya adalah pemujaan atau persembahan sebagai perwujudan bakti kepada Hyang Widhi dalam
berbagai manifestasinya, yang diwujudkan dalam bermacam-macam bentuk upakara. Bakti, bertujuan untuk
mengucapkan terima kasih kepada Hyang Widhi terhadap hamba-Nya dan mohon Kasih-Nya agar kita
mendapatkan berkah, rahmat dan karunia-Nya sehingga kita dapat hidup dengan selamat.

Upacara Dewa Yadnya dapat dilaksanakan di Sanggah atau Pemerajan, di Pura atau Khayangan-khayangan dan
ditempat-tempat suci yang setingkat dengan itu. Upacara Dewa Yadnya dapat dilakukan pada tiap-tiap hari dan
ada pula yang dilakukan secara periodik (berkala). Upacara Dewa Yadnya yang dilakukan setiap hari dapat
dilaksanakan dengan melakukan Puja Tri Sandya dan Yadnya Sesa. Sedangkan Upacara Dewa Yadnya yang
dilaksanakan secara periodik, dapat dilakukan pada hari-hari tertentu, misalnya kebaktian yang dilakukan pada
Hari Galungan, Kuningan, Saraswati, Ciwarartri, Purnama, Tilem, Piodalan-piodalan dan lain sebagainya, demikian
pula dengan mengadakan Tirtha Yatra ke tempat-tempat suci.

Salah satu dari Upacara Dewa Yadnya seperti Upacara Hari Raya Saraswati yaitu upacara suci yang dilaksanakan
oleh umat Hindu untuk memperingati turunnya Ilmu Pengetahuan yang dilaksanakan setiap 210 hari yaitu pada
hari Sabtu, yang dalam kalender Bali disebut Saniscara Umanis uku Watugunung, pemujaan ditujukan kehadapan
Tuhan sebagai sumber Ilmu Pengetahuan dan dipersonifikasikan sebagai Wanita Cantik bertangan empat
memegang wina (sejenis alat musik), genitri (semacam tasbih), pustaka lontar bertuliskan sastra ilmu
pengetahuan di dalam kotak kecil, serta bunga teratai yang melambangkan kesucian.
                        ―Umat Makna Banten bagi Hindu‖

                                 Upakara yang
                                 dikatakan di Bali sebagai banten, pada banten disebut sebagai
                                 Bali. Dalam
                                 Bhuwana Tattwa Maha Rsi Markandeya disebutkan bahwa Maha
                                 Rsi bersama pengikutnya
                                 membuka daerah baru pada Tahun Saka 858 di Puakan (Taro,
                                 Tegallalang, Gianyar).
                                 Kemudian mengajarkan cara membuat berbagai bentuk upakara
                                 sebagai sarana upacara.
                                 Mula-mula terbatas kepada para pengikutnya. Lama-kelamaan
                                 berkembang ke penduduk
                                 lain di sekitar Desa Taro. Apakah filosofi banten bagi umat
                                 Hindu? Apa itu
                                 banten jika ditinjau dari sudut sastra agama?

                                 ================================================
                                 Menurut Ketua Umum PHDI Kabupaten Buleleng Ida Pandita
                                 Sri Bhagawam Dwija Warsa
                                 Nawa Sandhi, jenis upakara yang menggunakan bahan baku
                                 daun, bunga, buah, air,
                                 dan api disebut Bali, sehingga penduduk yang melaksanakan
                                 pemujaan dengan
                                 menggunakan sarana upakara itu disebut sebagai orang-orang
                                 Bali. Jadi yang
                                 dinamakan orang Bali mula-mula adalah penduduk Taro.

   Lama-kelamaan ajaran Maha Rsi Markandeya ini berkembang ke seluruh pulau,
     sehingga pulau ini dinamakan Pulau Bali (pulau yang dihuni oleh orang-orang
   Bali-red). Lebih tegas lagi, pulau di mana penduduknya melaksanakan pemujaan
dengan menggunakan sarana upakara (Bali). Tradisi beragama dengan menggunakan
 banten. Selanjutnya dikembangkan oleh Maha Rsi lain seperti Mpu Sangkulputih,
 Mpu Kuturan, Mpu Manik Angkeran, Mpu Jiwaya, dan Mpu Nirartha. Sejak kapan
sarana upakara itu berubah nama dari Bali menjadi Banten dan mengapa demikian,
  sulit mencari sumber sastranya? Menurutnya, beberapa sulinggih dihubungi ada
 yang menyatakan bahwa banten asal kata dari wanten, mengalami perubahan dari
 kata wantu atau bantu. Jadi banten adalah alat bantu dalam pemujaan, sehingga
  timbul pengertian bahwa Bali atau banten adalah niyasa atau simbol keagamaan.




      Menurut Ketua III Paruman Pandita PHDI Propinsi Bali ini, umat Hindu
 melaksanakan ajaran agamanya antara lain melalui empat jalan atau cara (marga).
Keempat cara itu yakni Bhakti Marga, Karma Marga, Jnana Marga dan Raja Marga.
  Bhakti Marga dan Karma Marga dilaksanakan sebagai tahap pertama yang lazim
 disebut sebagai Apara Bhakti. Tahap berikutnya sesuai dengan kemampuan nalar
diri masing-masing dilaksanakan Jnana Marga dan Raja Marga yang disebut sebagai
                                  Para Bhakti.

    Dikatakan, pada tahap apara bhakti pemujaan dilaksanakan dengan banyak
   menggunakan alat-alat bantu seperti banten, simbol-simbol dan jenis upakara
lainnya. Seterusnya pada tahap para bhakti penggunaan banten dan simbol-simbol
   lainnya berkurang. Umumnya di Bali, keempat marga itu dilaksanakan sekaligus
 dalam bentuk upacara agama dengan menggunakan sarana banten yang terdiri atas
    bahan pokok daun, bunga, buah, air dan api. Sarana-sarana mempunyai fungsi
persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi. Sebagai alat konsentrasi
 memuja Hyang Widhi. Sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya. Sebagai
                                 alat penyucian.

     Oleh karena demikian sakralnya makna banten maka dalam Yadnya Prakerti
 disebutkan bahwa mereka yang membuat banten hendaknya dapat berkonsentrasi
kepada siapa banten itu akan dihaturkan atau dipersembahkan. Dalam buku Kesatuan
  Tafsir terhadap Aspek-aspek Agama Hindu sebagai hasil Paruman Sulinggih yang
disahkan PHDI disebutkan, seorang tukang banten hendaknya sudah menyucikan diri
        dengan upacara pawintenan (sekurang-kurangnya ayaban bebangkit).

   Lebih lanjut Ketua PHDI Bulelang ini mengatakan, tujuan penyucian agar tukang
   banten sudah mengetahui tata cara dan aturan-aturan dalam membuat banten.
 Misalnya dengan konsentrasi penuh melaksanakan amanat pemesan banten yang akan
 mempersembahkannya kepada Hyang Widhi. Di kala membuat banten, kesucian dan
    kedamaian hati tetap terjaga. Misalnya, tidak mengeluarkan kata-kata kasar.
     Tidak dalam keadaan kesal atau sedih. Tidak sedang cuntaka, tidak sedang
berpakaian yang tidak pantas. Menggaruk-garuk anggota badan, atau membuat banten
                               di sembarang tempat.

  Disimpulkan bahwa ketika membuat banten, dikondisikan situasi yang suci, sakral,
     konsentrasi penuh, rasa bakti dan kasih sayang kepada Hyang Widhi. Lihatlah
  ketika banten disiapkan untuk upacara besar di Besakih. Tempat membuat banten
 disebut Pensucian yang tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang atau orang yang
tidak berkepentingan. Bahkan, dewasa atau hari baik untuk memulai membuat banten
    ditetapkan dengan teliti oleh para sulinggih. Dalam puja-stuti pereresik banten
   juga diucapkan doa agar banten tidak dilangkahi anjing, ayam atau dipegang oleh
                     anak kecil, atau orang yang sedang cuntaka.

    Dikatakan, beberapa jenis banten utama bahkan hanya boleh dibuat oleh sang
     Dwijati, misalnya Catur, dan Pangenteg gumi. Untuk menegaskan penting dan
  sakralnya banten, Mpu Jiwaya — salah seorang tokoh pemimpin agama pada abad
  ke-10 — mengajarkan membuat reringgitan dengan bahan daun kelapa, anau atau
    lontar. Reringgitan itu kadang demikian sulit sehingga konsentrasi kita harus
      penuh. ‖Jika tidak, bisa reringgitan-nya rusak atau tangannya yang teriris
 pisau,‖ katanya. Ditambahkan, makna membuat banten seperti yang dikemukakan di
   atas tiada lain agar kita dapat mewujudkan rasa bakti dan kasih sayang kepada
                                     Hyang Widhi.

                         Sesuaikan dengan Kondisi Zaman

Bagaimana dengan di zaman Kali ini? Menurut Ida Pedanda Sri Bhagawan Dwija Warsa
  Nawa Sandhi, zaman beredar dan kini kita hidup di era milenium. Kemampuan kita
    menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi zaman ini diuji dengan berbagai
masalah. Misalnya, kelangkaan bahan-bahan baku banten. Waktu yang terbatas untuk
   membuat banten. Tidak semua umat Hindu di Bali bisa membuat banten sendiri.

  Tentang kelangkaan bahan-bahan baku banten, katanya, sudah dimaklumi, karena
       busung, pisang, kelapa, telur, bebek dan ayam, tidak sedikit yang sudah
 didatangkan dari luar Bali (Sulawesi, Lombok dan Jawa). Waktu yang terbatas bagi
 umat Hindu di Bali dalam menyiapkan sarana-sarana upakara menyebabkan sebagian
    besar umat Hindu membeli banten dari tukang-tukang banten, istilahnya nunas
                                     puput.

 Dikatakan, generasi muda mulai bertanya-tanya, mengapa kok melaksanakan ajaran
   agama Hindu (di Bali) dalam bentuk ritual atau upacara menjadi sangat sulit dan
   mahal. ‖Model‖ umat Hindu-Bali di perkotaan melaksanakan upacara yadnya kini
  terlihat sudah lumrah seperti sewa tenda, sewa korsi, pesan katering, dan nunas
  ayaban di geria lengkap dengan sulinggih yang muput. Serba praktis dan ekonomis
 walaupun segi-segi adat-dresta kegotong-royongan hilang, dan segi sakral membuat
                                   banten hilang.

  Jika dikaitkan dengan ajaran Maha Rsi Markandeya dan Mpu Jiwaya, agaknya hal
   yang paling patut dipikirkan adalah segi sakralnya suatu banten. Apalah artinya
banten jika sang yajamana tidak mengerti makna banten yang dipersembahkan kepada
   Hyang Widhi. Ibaratnya kita memberikan sesuatu kepada orangtua kita, tetapi
 ketika ditanya orang lain, apa yang kamu berikan kepada orangtuamu? Jawabannya,
                           ya… enggak tahu tuh. Aneh kan?

 Fenomena seperti itu, katanya, akan terus berkembang. Lebih-lebih bilamana dalam
 suatu rumah tangga sang ayah dan sang ibu masing-masing sibuk dengan profesinya
 mencari nafkah karena tuntutan kebutuhan hidup yang makin banyak. Konsep-konsep
Manawa Dharmasastra yang mengatur pembagian tugas pekerjaan rumah tangga antara
                     suami dan istri banyak tidak berlaku lagi.

 Suami mestinya menghidupi keluarga, dan istri mestinya mengurus rumah, terutama
 masalah panca yadnya dan dengan sendirinya membuat banten. Adakah jalan keluar
     menghadapi fenomena seperti itu? Untuk ini ada beberapa hal yang perlu
 dikemukakan. Dalam banyak kitab suci antara lain Manawa Dharmasastra, Parasara
 Dharmasastra disebutkan bahwa cara kita beragam, di setiap zaman tidaklah sama.
 MANUSA YADNYA


Oleh : Jro Mangku Made Sudiada


                                                    Om Swastyastu,
                                                    Om Agni Wijaya Jagatpati ya namaha, Om Visvadeva
                                                    ya namaha, Om Aim Kalim namo Durgayai namaha, Om
                                                    Shri Guru Bhyo namah Harih Om, Namame smaranam
                                                    padame sharanam


                                                    A. Pendahuluan Nara yadnya
                                                    Ajaran Agama tidak cukup hanya diketahui dan
                                                    dimengerti saja, harus dibarengi dengan
                                                    penghayatannya, dari semua itu pengamalan dalam
                                                    bentuk perilaku sehari-hari kita di dalam
                                                    bermasyarakat itulah yang paling utama. Semakin
                                                    sering kita sembahyang, beryajña, membuat Upakāra
                                                    hendaknya kita dapat meningkatkan sikap, moral dan
                                                    perilaku kita menuju kualitas yang lebih baik dan
                                                    benar sesuai dengan kaidah Dharma. Karena setiap
Upacāra dan Upakāra yang kita buat pada dasarnya merupakan penjabaran ajaran agama dan memiliki
hakekat sebagai pembelajaran diri, dalam menata hidup dan kehidupan sehingga dapat meniti ke tujuan
utama kelahiran ini, yaitu ‖Mokshartam Jagadhita‖


Setiap Upacāra (proses untuk mendekatkan diri dengan Brahman) agama selalu disertai dengan Upakāra
(sarana yang dipakai sebagai media pemujaan Brahman), baik dalam wujud kecil (sederhana/kanistama),
menengah (madhyama) maupun besar (mewah/uttama), hendaknya dibarengi dengan memahami akan
tujuan Upacāra tersebut dan memahami makna Upakāra nya. Oleh karena itu Upacāra dan Upakāra harus
mengacu kepada sastra-sastra agama, bukan hanya dilandasi dengan ‖Gugon Tuwon, Anak Mula Keto‖
untuk itulah dalam topic Nara Yadnya ini mari kita mulai membedah tema tama yadnya yang kelihatanya
kurang mendapat perhatian dalam pemaknaanya sehingga kental sekali dengan nuansa Tenget dan mule
keto khususnya yang berkaitan dengan Ritual upakaranya


Bila dihayati secara mendalam, banten merupakan wujud dari pemikiran yang lengkap yang didasari dengan
hati yang tulus dan suci. Mewujudkan banten yang akan dapat disaksikan berwujud indah, rapi, meriah dan
unik mengandung simbol, diawali dari pemikiran yang bersih, tulus dan suci. Bentuk banten itu mempunyai
makna dan nilai yang tinggi mengandung simbolis filosofis yang mendalam. Banten itu kemudian dipakai
untuk menyampaikan rasa cinta, bhakti dan kasih terutama yg dipergunakan untuk Nara Yadnya.


Apa itu Manusia/Nara yadnya Kenapa ada manusia yadnya……?.


Manusia yadnya merupakan korban suci yang dilaksanakan dengan cara tulus dan ihklas yang berkaitan
dengan siclus pertumbuhan dan perkembangan manusia, dari mulai dengan petemon kame Bang kelawan
petak ( predana & Purusa ) sampai dgn Wiwaha samskara.
Dalam hindu ada suatu sradah yang mengatakan bahwa kita menjelma sebagai manusia dengan dibekali tiga
hutang ( Tri Rna ) dan kemudian merupakan kewajiban kita untuk melunasinya yaitu :


1, Dewa Rna – Pencipta alam semesta dengan segala isinya termasuk manusia, Binatang, tumbuh tumbuhan
( sarwa prani hitang karah ) ada unsur Dewa dan Alam semesta shg hal ini kemudian Dilunasi dengan Dewa
Yadnya dan Bhuta Yadnya


2. Pitra Rna - disini ada unsur Pitatara / Leluhur kemudian ada unsur samsara turunan, sehingga selain kita
melakukan Pitra yadnya juga memberikan yadnya kepada keturunan kita yang merupkan leluhur kita yang
sudah mengambil wujud samsara.


Dilunasi dengan Pitra Yadnya dan Manusia Yadnya


3. Rsi Rna - Dilunasi dengan Rsi Yadnya




B. Tujuan Nara Yajña


Tujuan pokok NaraYajña, antara lain:


1. Sebagai sarana untuk menciptakan keseimbangan (tri Rna- khususnya Pitra Rna).
2. Untuk menjabarkan dan menyebarluaskan ajaran Veda yang bersifat rahasia
3. Sebagai sarana menyeberangkan Ātma untuk mencapai Moksha
4. sebagai sarana untuk menyampaikan permohonan kepada Hyang Widhi.
5. Sebagai sarana untuk menciptakan suasana kesucian dan penebusan dosa.
6. Sebagai sarana pendidikan yang bersifat praktis (Ida Pandita Mpu Jaya Wijayananda)


C. Landasan Nara Yajña:


Setiap Yajña yang ingin dibuat/diadakan harus memenuhi kriteria yang terdapat dalam Veda, hal ini
dimaksudkan agar yajña tersebut berkualitas Śāttvam, karena hanya kualitas yajña yang Śāttvamlah yang
dapat menghantarkan orang yang mengadakan yajña mencapai kemanunggalan dengan Brahman, adapun
landasan yajña sesuai dengan Manavadharmasastra, VII.10, yaitu:


1. Iksa; tujuan yang ingin dicapai melalui yajña tersebut harus jelas
2. Sakti; harus disesuaikan dengan tingkat kemampuan yang dimiliki, baik kualitas SDM, maupun
pendanaannya, jangan sampai meninggalkan hutang.
3. Desa; disesuaikan dengan tempat dimana yajña itu akan dilakukan, kearifan daerah setempat (lokal
genius) harus dihargai sehingga tidak ada kesan pemaksaan
4. Kala; situasi atau keadaan wilayah, masyarakatnya juga harus diperhatikan sehingga yajña tersebut
efektif dan efisien serta bermanfaat positif
5. Tattva; harus merujuk pada ketentuan sastra agama baik Sruti, Smrti, maupun Nibandha.


Disamping hal tersebut di atas, agar yajña tersebut berkualitas Śāttvam harus memenuhi standar/mutu
seperti apa yang telah ditetapkan dalam Bhagavadgītā, XVII. 11-14, yaitu:


l Sraddha; dilakkan dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati
l Sastra; sesuai dengan petunjukk sastra


l Gita; terdapat lagu-lagu pujian kepada Hyang Widhi


l Mantra;terdapat doa-doa pujaan yang dihaturkan untuk memeuliakan Hyang Widhi


l Lascarya; dilakukan dengan penuh kesadaran dan ketulusan hati


l Daksina; pemberian penghormatan berupa rsi yajña kepada Sang Sadhaka (pandita/pinandita)


l Annaseva; menjamu dengan senang dan tulus setiap tamu dengan makanan dan minuman yang
menyehatkan badan dan rohani


l Nasmita; tidak ada unsur pamer atau jor-joran.




E. Tujuan Upacāra Nara yadnya


Secara umum tujuan diadakanya Upacāra Nara yadnya menyangkut empat hal, yaitu:


1. Yang bersifat umum dan kepercayaan adalah: untuk melenyapkan pengaruh yang kurang baik kepada
anak anak kita; mengundang atau menambahkan pengaruh-pengaruh yang baik dan memberikan kekuatan;
untuk memperoleh tujuan hidup sekala-niskala; sebagai pernyataan umum yang dimaksud menurut tujuan
Upacāra itu sendiri.


2. Sebagai pembinaan moral (budhi kepada anak anak kita) sehingga memungkinkan berkembangnya sifat-
sifat: welas asih dan pengampunan; tahan uji; bebas dari iri hati; meningkatnya kesucian rohani; wajar dan
tenang dalam menghadapi segala cobaan hidup; suka berderma dan tidak rakus/lobha.


3. Untuk pengembangan kepribadian anak anak kkita dari Avidya (kegelapan bati) menuju Vidya (memiliki
pengetahuan) menuju Vijñana (bijaksana) menuju Kstrajña (kesadaran illahi).


4. Untuk pengembangan spiritual sehingga terbebasnya Ātma dari belenggu samsara atau manunggaling
kawulo lan gusti




F. Jenis Jenis Nara Yadnya secara garis besarnya adalah sebagai berikut


1. Pagedong – Gedongan Prenatal education Ceremony
2. Bayi Lahir – Ritual Pemendeman ari ari / Placenta
3. Puput Puser – Batas Cuntaka sang ayah.
4. Pelepas aon – Bayi suci semua damah sudah dianggap hilang sekaligus
pemberian nama serta pemasangan gelang Tridatu
5. Dedinan Syiklus pancawara dan saptawara ketemu ( satu bulan 35 hari )
6. Tutug akambuhan 42 hari, batas cuntaka sang istri
7, Tiga Bulan ( 105 ) hari
8. Wetuan – Otonan 210 hari
9. Menek bajang – Rajasewala Ngeraja singa
10. Potong gigi – Mepandes.
11. Wiwaha sanskara.



Demikian kupasan upakāra Narayadnya, sehingga dengan pemahaman ini dapat menumbuhkan kesadaran,
keyakinan, dan kemantapan umat Hindu dalam membuat dan menghaturkan Nara yadnya dan melaksanakan
ajaran Narayadnya agama Hindu yang penuh dengan simbol-simbol, sehingga dapat mengikis dogma ―Anak
                                               Mula Keto‖, di masa yang akan datang. Dan yang
                                               terpenting umat dapat menjadi sumber tauladan bagi
                                               keluarga dan anak-anaknya, dengan memberikan
                                               pelatihan secara konfrehensif sebagai bentuk
                                               kepedulian akan tradisi Veda yang penuh dengan
                                               Nyasa/simbol, serta dalam penerapan Sistem
                                               Pembelajaran Tuntas. Dengan demikian akan terlahir
                                               umat yang memiliki kualifikasi kecerdasan IQ
                                               (kecerdasan intelek), EQ (kecerdasan emosional), SQ
                                               (kecerdasan spiritual), ETQ (kecerdasan etetika)
                                               sehingga eksisitensinya sebagai umat Hindu tidak akan
                                               memudar.
         BHUTA YADNYA

                                                 Caru, dalam bahasa Jawa-Kuno (Kawi) artinya : korban
                                                 (binatang), sedangkan 'Car' dalam bahasa Sanskrit artinya
                                                 'keseimbangan/keharmonisan'. Jika dirangkaikan, maka dapat
                                                 diartikan : Caru adalah korban (binatang) untuk memohon
                                                 keseimbangan dan keharmonisan.
                                                 'Keseimbangan/keharmonisan' yang dimaksud adalah
                                                 terwujudnya 'Trihita Karana' yakni keseimbangan dan
                                                 keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan),
                                                 sesama manusia (pawongan), dan dengan alam semesta
                                                 (palemahan).
                                                 Bila salah satu atau lebih unsur-unsur keseimbangan dan
                                                 keharmonisan itu terganggu, misalnya : pelanggaran
                                                 dharma/dosa, atau merusak parahyangan (gamia-gamana, salah
                                                 timpal, mitra ngalang, dll), perkelahian, huru-hara yang
                                                 merusak pawongan, atau bencana alam, kebakaran dll yang
                                                 merusak palemahan, patut diadakan pecaruan.

Kenapa dalam pecaruan dikorbankan binatang ? Binatang terutama adalah binatang peliharaan/kesayangan
manusia, karena pada mulanya, justru manusia yang dikorbankan. Jadi kemudian berkembang bahwa manusia
digantikan binatang peliharaan.

Terlebih dulu perlu kiranya dijelaskan batasan-batasan yang disebut segehan, caru, maupun tawur:

Segehan
Segehan ini adalah persembahan sehari-hari yang dihaturkan kepada Kala Buchara / Buchari (Bhuta Kala) supaya
tidak mengganggu.
Penyajiannya diletakkan di bawah / sudut- sudut natar Merajan / Pura atau di halaman rumah dan di gerbang
masuk bahkan ke perempatan jalan.
Bahan utamanya adalah nasi berwarna beberapa kepal.
Yang umum segehan: putih dan kuning.

Dalam Lontar Carcaning Caru, penggunaan ekasata (kurban dengan seekor ayam yang berbulu lima jenis warna, di
Bali disebut ayam brumbun, yakni: ada unsur putih, kuning, merah, hitam, dan campuran keempat warna tadi)
sampai dengan pancasata (kurban dengan lima ekor ayam masing-masing dengan bulu berbeda, yakni unsur putih,
kuning, merah, hitam, dan campuran keempatnya, sehingga akhirnya juga menjadi lima warna) ini masih
digolongkan segehan **khusus untuk kelengkapan piodalan saja, sehingga memiliki fungsi sebagai runtutan
proses piodalan (ayaban atau tatakan piodalan) yang memilki kekuatan sampai datang piodalan berikutnya.



Caru
Sedangkan pancasanak sampai dengan pancakelud dalam lontar Carcaning Caru tersebut mulai digolongkan
sebagai caru yang berfungsi sebagai pengharmonis atau penetral buwana agung (alam semesta), di mana caru
ini bisa dikaitkan dengan proses pemlaspas maupun pangenteg linggihan pada tingkatan menengah (madya).
Usia caru ini 10-20 tahun, tergantung tempat upacara.
Penyelenggaraan caru juga dapat dilaksanakan manakala ada kondisi kadurmanggalan dibutuhkan proses
pengharmonisan dengan caru sehingga lingkungan alam kembali stabil.

Tawur
Adapun yang digolongkan tawur dimulai dari tingkatan balik sumpah sampai dengan marebu bumi—sesuai dengan
yang tersurat dalam lontar Bhama Kertih digolongkan sebagai upacara besar (utama) yang diselenggarakan pada
pura-pura besar.
Tawur ini memiliki fungsi sebagai pengharmonis buwana agung (alam semesta).
Adapun tawur ini memiliki kekuatan mulai dari 30 tahun, 100 tahun (untuk eka dasa rudra), dan 1000 tahun untuk
marebu bumi.
Adapun tawur dilaksanakan pada tingkatan utama, baik sebagai pangenteg linggih maupun upacara-upacara rutin
yang sudah ditentukan oleh aturan sastra atau rontal pada berbagai pura besar di Bali. Tawur ini memiliki makna
sebagai pamarisuddha jagat pada tingkatan kabupaten/kota, provinsi, maupun negara.

Rsi Gana

Dalam upacara agama Hindu memang ada dikenal istilah Rsi Gana.
Patut dipahami terlebih dulu bahwa Rsi Gana itu bukanlah caru, melainkan suatu bentuk pemujaan kepada Gana
Pati (Penguasa/Pemimpin para Gana) sebagai Vignesvara (raja atas halangan). Upacara ini diselenggarakan dengan
tujuan supaya manusia terhindar dari berbagai halangan.
Namun dalam penyelenggaraan upacara Rsi Gana memang tidak pernah terlepas dari penggunaan caru sebagai
landasan upacaranya, sehingga seolah-olah Rsi Gana itu sama dengan caru ~ kebanyakan orang menyebut dengan
istilah caru Rsi Gana.

Upacara Rsi Gana bisa diikuti berbagai macam caru. Adapun jenis caru yang mengikuti upacara Rsi Gana ini
tergantung tingkatan Rsi Gana bersangkutan.

      Rsi Gana Alit diikuti dengan caru ekasata yang lazim dikenal dengan sebutan ayam abrumbunan (seekor
       ayam dengan bulu lima jenis warna).
      Rsi Gana Madya diikuti dengan caru pancasata (lima ekor ayam dengan bulu berbeda).
      Rsi Gana Agung diikuti dengan caru pancakelud ditambah seekor bebek putih, menggunakan seekor
       kambing sebagai dasar kurban caru.

       Jadi, pelaksanaan upacara Rsi Gana adalah bertujuan untuk memuja Dewa Gana Pati atau Ganesa yang
       merupakan Dewa Penguasa para Gana atau para abdi Dewi Durga, Dewa Siwa, dan Gana Pati sendiri.
        PITRA YADNYA

                                                   Kematian merupakan mata rantai terakhir dalam siklus
                                                   kehidupan manusia, karenanya ritus kematian selalu ditandai
                                                   dengan upacara tradisional yang meriah. Hampir setiap suku
                                                   bangsa di Indonesia menempatkan ritus kematian sebagai
                                                   upacara besar, meriah, dan tentu saja mengeluarkan banyak
                                                   biaya. Di Toraja kita mengenal upacara Rambu Solo’ dengan
                                                   mengorbankan puluhan kerbau. Di pedalaman Kalimantan
                                                   Timur (Dayak Tunjung), upacara in dikenal dengan nama
                                                   Kwangkai, di Jawa puncak pelepasan arwah ditandai dengan
                                                   upacara Nyewu, bertepatan dengan 1000 hari setelah hari
                                                   kematian. Sementara itu, di Bali puncak ritus kematian
                                                   populer dengan nama Ngaben (kremasi) yang ditandai dengan
                                                   upacara Pitra Yadnya.

Pitra Yadnya merupakan upacara yang yang bertujuan untuk mengembalikan jasad pada asal-usulnya. Ketika roh
kembali pada Sang Pencipta, maka jasad juga harus dikembalikan pada alam yang merupakan unsur-unsur Panca
Maha Bhuta: Pertiwi (bumi), Apah (air), Teja (api), Bayu (angin), dan Akasa (kekal). Melepasnya jasad dengan roh,
akan mengantar pada kehidupan baru setelah kematian (reinkarnasi) yang diyakini masyarakat Hindu Bali. Karena
orang Bali percaya adanya kehidupan baru setelah kematian, upacara Ngaben berlangsung dengan penuh suka cita.
Ngaben merupakan ritual terakhir dan terpenting bagi keluarga Balisebagai bentuk rasa kasih sayang.

Prosesi upacara Ngaben berlangsung selama beberapa hari dan membutuhkan biaya hingga puluhan juta. Mahalnya
biaya upacara ini membuat orang Bali tidak dapat secara langsung menyelenggarakan Ngaben begitu kerabatnya
meninggal. Umumnya mereka menunggu beberapa saat, kadang hingga bertahun-tahun, untuk mengumpulkan biaya.
Upacara ini pun sering diselenggarakan secara massal untuk meringankan biaya.

Persiapan Ngaben dimulai dengan pengangkatan kerangka jenasah dan pencarian air suci sejak tiga hari
sebelumnya. Sementara itu, piranti upacara berupa tiruan binatang lembu dan wadah menyerupai menara berhias
kain dan janur mulai dipersiapkan oleh anggota keluarga dan seluruh warga banjar. Konon, tinggi rendahnya
menara menunjukkan status sosial keluarga penyelenggara Ngaben. Dahulu para bangsawan Bali biasanya membuat
menara hingga setinggi 20 meter, bahkan lebih.

Pada hari upacara Ngaben, menara dan lembu yang sudah dihias disiapkan di pinggir jalan untuk diupacarai
sebelum diarak ke setra, tempat dilangsungkannya Ngaben. Sesaat kemudian, dimulailah keriuhan dan kemeriahan
arak-arakan menara menuju setra. Alunan musik gong mengiringi puluhan orang yang mengusung menara yang
berisi jenasah/kerangka. Di atas menara itu pula seorang anak/cucu lelaki tertua berdiri membawa seekor burung
sebagai simbol penghantar arwah menuju ke tempat tertinggi. Di setiap persimpangan jalan yang dilalui, wadah
dan arak-arakan ini diputar ke empat penjuru mata angin sebanyak tiga kali untuk mengusir roh jahat yang dapat
mengganggu jalannya upacara.

Setibanya di setra, kerangka jenasah dimasukkan ke dalam badan lembu dan siap untuk dibakar. Prosesi
pembakaran dan upacara di setra ini berlangsung kurang lebih 2 jam. Abu dan tulang jenasah yang telah
dikumpulkan selanjutnya dilarung ke laut. Rangkaian upacara diakhiri dengan sembahyang bersama di pura
keluarga, mendoakan arwah agar menemukan tempat yang layak di sisi Sang Hyang Widhi. Om Shanti Shanti
Shanti Om.
 RSI YADNYA
                                   Rsi yadnya adalah korban suci yang tulus iklas yang dipersembahkan
                                   kepada para rsi/guru. Dalam ajaran rsi yadnya, khususnya umat hindu
                                   untuk menghormati dan berbakti kepada para rsi dan mengamalkan
                                   semua jasa-jasa yang telah beliau berikan kepada kita semua. Disini
                                   orang-orang yang tergolong kedalam rsi yadnya yaitu merupakan, para
                                   guru-guru,rsi,maupun orang yang kita hormati dan kita anggap sebagai
                                   seseorang yang telah berjasa telah membantu kita untuk belajar
                                   untuk hidup di hari mendatang. Maka dari itu kita akan sadar untuk
                                   memberikan rasa timbale balik kepada guru yang telah membimbing
                                   kita.
Contoh hal yang mungkin dapat berikan kepada beliau:
   Membangun tempat suci
   Memperbaiki dan merenovasi pura-pura
   Berbakti dan patuh terhadap perintahnya
   Mengamalkan semua jasa-jasanya dengan baik dan tulus
   Mengunjungi kediaman beliau untuk bersilaturahmi



Beberapa kebajikan yang telah rsi/guru lakukan untuk kita:

       Memberikan ilmu pengetahuan yang tinggi kepada murid-muridnya, dengan hati dan perasaan yang
        tulus dan indah
       Menjadi panutan murid-muridnya maupun masyarakat
       Berusaha untuk menganjarkan ilmu pengetahuan dengan sebaik-baiknya
       Tidak mengharapkan jasa/imbalan
       Menjadi pihak pendorong terhadap keberhasilan musid-muridnya
       Memberikan bekal dan pedoman hidup kepada murid-muridnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:6881
posted:5/12/2010
language:Malay
pages:17
Description: copyright from Made Manik Datu Yasa SMAGI