Docstoc

legenda puger

Document Sample
legenda puger Powered By Docstoc
					Cerita Rakyat Banyuwangi



PRABU TAWANG ALUN (1655-1691)


Prabu Tawang Alun dahulu pernah berkuasa dan menjadi raja Blambangan (1655-1691)
yang pada saat itu pusat kerajaan terus berpindah, mulai dari Umpak Songgon, Muncar,
Kedawung, Songgon lalu Macanputih. Pada tahun 1676 Prabu Tawang Alun bergelar
Sesuhunan Blambangan yang lepas dari Mataram dan Bali, setelah Prabu Tawang Alun
merasakan penyesalan akibat terbunuhnya Mas Wilo, Mas Tanjung Sari (dalam
peperangan antara Prabu Tawang Alun dengan adik-adiknya yang searing disbut perang
saudara), beliau bertapa dilereng gunung raung di hutan Sudyamara atas petunjuk Hyang
Maha Batara, dengan menunggangi macanputih Prabu Tawang Alun menuju ke Sudimara
dan membangun istana macanputih, beliau membangun istana itu selama 5 tahun 10
bulan dengan menggunakan batu bata merah setal 6 kaki, tinggi 12 kaki, dan dikelilingi
pagar tenbok sepanjang 4,5 km.


Didekat gerbang macan putih terdapat sisa peninggalan Belanda berupa prasasti. Karena
bentuknya bundar seperti bola, maka warga macanputih menyebutnya Prasasti Penthol.
Prabu Tawng Alun wafat pada tanggal 18 Desember 1691 di Pelecutan.




PANGERAN JAGAPATI


Nama aslinya yaitu Mas Rempeg, beliau adalah putra dari Mas Bagus Dalem Wiroguno
atau Mas Bagus Puri dari istri selirnya. Beliau juga keturunan murni Prabu Tawang Alun
dari jalur selir. Sejak remaja ia menjadi pengikut Wong Agung Wilis, kedekatannya
dengan Wong Agung Wilis menjadikan ia sangat anti Belanda. Pada tahun 1768 Mas
Rempeg ikut berperang bersama Wong Agung Wilis, ia adalah mantri muka Wong
Agung Wilis, maka ia menjadi orang pertama dalam peperangan dengan Wong Agung
Wilis. Setelah Wong Agung Wilis tertangkap perjuangan melawan VOC dilanjutkan
olehnya. Kekecewaan terhadap penangkapan dan pembuangan Wong Agung Wilis
mendorongnya pergi ke daerah Bayu tepatnya pada tanggal 18 Mei 1768. Sebab pada saat
Wong Agung wilis tertangkap parajagabela dan orang-orang terdekatnya menyingkir ke
Bayu.


Demikianlah setelah menetap di Bayu dan didukung oleh paraajar sosok Mas Rempek
menjadi kepercayaan rakyat. Ia mengatakan bahwa dalam dirinya bersemayam arwah
Wong Agung Wilis. Berbagai cara dilakukan oleh Mas rempeg menarik simpati rakyat
Blambangan ke pihaknya karena ia juga berjanji akan terus melanjutkan perjuangan
Wong Agung Wilis. Maka banyak penduduk Ulupampang dan dari daerah-daerah lainnya
diseluruh Blambangan berbondong-bondong sambil membawa senjata bergabung dengan
Mas Rempeg di Bayu. Ketika itu Mas Rempeg telah benar-benar siap berperang, terbukti
Ia telah membangun benteng yang sangat kuat serta perlengkapan perang lainnya. Atas
pengaruhnya itu Mas rempek dianugerahi Pangeran Jagapati oleh pengikutnya. Akhirnya,
pada tanggal 19 Desember 1771 Pangeran Jagapati tewas akibat luka yang sangat parah
setelah berperang.




WONG AGUNG WILIS


Sumber-sumber tradisional seperti Babad Blambangan dan Babad Tawang Alun
menyebutkan nama kecil Wong Agung Wilis ialah Mas Sirna anak dari Mas Purba. Mas
Purba merupakan penguasa Blambangan yang dilantik pada tahun 1697 oleh penguasa
Bali dan bergelar Pangeran Danurejo. Dahulu terjadi perkimpoian politik antara Pangeran
Danurejo dengan Putri Mengwi yang dikarunia seorang anak bernama Mas Sirna, Wong
Agung Wilis merupakan nama ketika ia beranjak dewasa. Tulisan yang dikarang oleh
Brandes menyebutkan bahwa nama Wong Agung Wilis didapat ketika ia menjadi Patih
Blambangan. Sedangkan perkimpoian Pangeran danurejo dengan permaisurinya (putri
Untung Suropati) memiliki anak bernama Mas Ayu Gana, Mas Nuyang, Mas
Padhawajaya dan Mas Ayu Dupati.


Setelah Pangeran Danurejo meninggal tahun 1736, kekuasaan diambil alih oleh putranya
yang bernama Nuyang atau sering disebut Mas Jingga. Kemudian ia bergelar Danuringrat
ketika menjadi penguasa Blambangan yang diangkat oleh Cokroda Mengwi dan berkuasa
pada tahun 1736-1764. Sedangkan Mas Sirna (adiknya) diangkat menjadi Patih
Blambangan dengan gelar Pangeran Patih Wong Agung Wilis.


Pemerintahan Danuningrat ini penuh dinamika politik yang melibatkan kekuatan kerajaan
Bali, Mataram, Madura dan VOC sampai akhirnya mempengaruhi Wong Agung Wilis.
Karena merasa tidak nyaman, Wong Agung Wilis mengasingkan diri ke pantai selatan
melalui rute Lampon selama tujuh hari, Gunung Dogong selama dua puluh lima hari,
Gunung tumpang Pitu selama lima puluh hari, selajutnya setelah mengakhiri
perjalanannya ia mendirikan pedukuhan Prawingan di Pesisir Manis.


Karena Danuringrat ingin sekali melepaskan Blambangan dari Kerajaan Mengwi, ia
membunuh Rangga Satata seorang wakil kerajaan Mengwi. Danuningrat kemudian
melarikan diri dan meminta perlindungan kepada VOC, namun sama sekali tidak
dihiraukan oleh mereka. Akhirnya, Danuningrat ditangkap ketika berada di Blambangan
serta dibawa ke mengwi untuk ditahan. Danuningrat dan keluarganya kemudian dibunuh
di pantai Seseh pada tahun 1764. Pada tanggal 23 Maret 1767 pasukan VOC mendarat di
Banyualit dan merebut Blambangan dari kekuasaan orang-orang Bali. Setelah mengusai
kota Lateng dan Ulupampang VOC mendirikan benteng disana. Blanke, pemimpin VOC
kemudian mengangkat Mas Anom dan Mas Weka sebagai Regen pertama di
Balambangan. Tahun 1767 Blanke meninggal dan digantikan oleh Adrian Van Rijks dan
wakilnya Cornelis Van biesheuvel. Pada tahun itu juga Wong Agung Wilis yang berada
di Mengwi datang ke Blambangan untuk melawan VOC. Kegigihannya membuat Mas
Weka dan Mas Anom yang semula menjadi pengikut VOC bergabung. Pada akhir bulan
Maret 1768 Wong Agung Wilis menyerang benteng VOC yang berada di Banyualit,
tetapi karena tembakan gencar meriam serdadu VOC mengakibatkan pasukan Wong
Agung Wilis tercerai berai dan lari kearah selatan menuju Ulupampang.


Pada tanggal 17 mei 1768, VOC menyerang Ulupampang, dalam pertempuran ini, karena
persenjataan terbatas, pasukan Wong Agung Wilis mengalami kekalahan perang. Perang
demi perang telah dijalani, dan pada akhirnya pada tanggal 18 mei 1768 kekuatan Wong
Agung Wilis ditaklukkan dan kota Lateng dibumi hanguskan. Mas Anom dan Mas Weka
menyerah kepada VOC. Tetapi Wong Agung Wilis dapat lolos kearah selatan. karena
tipudaya Mas Weka tersebut maka akhirnya Wong Agung Wilis tertangkap di
Blimbingsari. Sebagai hukuman wong Agung Wilis dikirim dan ditawan ke Banda.
Namun demikian, dengan semangatnya akhirnya Wong Agung Wilis dapat meloloskan
diri dari pulau Banda menuju ke Seram dan mendarat ke Bali. Tokoh ini dikabarkan
meninggal pada tahun 1780 di Mengawi, Bali karena lanjut usia.




SAYU WIWIT


Setelah kota lateng dikuasai oleh Belanda, sisa-sisa pejuang Belambangan menghimpun
kekuatan kembali di Gunung Raung, di kaki sebelah Timur Bayu. Pada saat itu muncul
seorang pejuang wanita yang bernama Sayu Wiwit. Dia adalah putri dari Mas Gumuk
Jati. Ia bertekat untuk membela dan mempertahankan tanah airnya walaupun ia harus
meninggalkan hartanya. Pergerakan yang dilakukan Sayu Wiwit, dibantu oleh
Leboksamiran, seorang Madura yang anti Belanda. Ia adalah sahabat Mas Surawijaya (
putra Wong Agung Wilis). Mereka memimpin pergerakan pasukan di Jember. Di Jember
Sayu Wiwit bisa menguasai pos penjaga milik Belanda. Sayu Wiwit meneruskan ke Nusa
Burung, dan akhirnya menguasai wilayah Nusa Burung juga. Pertengahan Agustus 1771,
setelah kemenangan di Jember, Sayu Wiwit dan Mas Suryawijaya menikah di Candi
Bang. Mereka berdua meneruskan perjuangannya. Mas Suryawijaya menuju Puger,
sedengkan Sayu Wiwit di Sentong.
Dalam perang, Sayu Wiwit meminta nasehat kepada pangeran Jagapati tentang,
bagaimana cara atau taktik melawan Belanda. Sayu Wiwit sebagai panglima perang
sedangkan Pangaran Jagapati yang memegang komando umum. Mereka pergi berperang
sampai ke Songgon, desa tegal perangan dukuh duren. Meraka melakukan serangan yang
mendadak dan membabibuta sehingga membuat pasukan belanda kacau balau dan banyak
yang meniggal. Namun dalam penyerangan ini, Pangeran Jagapati terluka parah terkena
senjata Alap-alap dari Madura. Alap-alap sendiri terbunuh oleh senjata pangeran
Jagapati, si kelabang jenis biring lanangan. Pangeran Jagapati yang terluka dibawa ke
benteng Bayu. Keesoka harinya, pangeran Jagapati mengangkat patih Jagalara dan Sayu
Wiwit sebagai wakilnya untuk melanjutkan peperangan. Setelah perang mereka kembali
ke benteng dan menemukan Pangeran Jagapati telah meninggal.


Sedangakan berita lainnya adalah Mas Surawijaya meninggal di Puger oleh
pengkhianatan Leboksamirana. Namun Leboksamirana juga terbunuh ditempat itu.
Setelah mendengar kematian suaminya, Sayu Wiwit berperang melawan pasukan kapten
Marhailu. Sayu Wiwit berhasil membunuh kapten tersebut, namun akhirnya ia meninggal
karena tertembakmeriam oleh pasukan kapten Heinrich.




ROWO BAYU


Prabu Tawang Alun berkuasa di kerajaan Kedawung selama empat tahun. Akibat adu
domba belanda, Mas Wila, adik kandung prabu Tawang Alun ingin menguasai
Kedawung, maka menyingkirlah prabu Tawang Alun ke Rowo Bayu beserta empat puluh
pengikutnya dan berkuasa selama 6 tahun di Bayu. Mendengar kabar tersebut, Mas Wilo
menyerang untuk merebut kekuasan Prabu Tawang Alun. Mas Wilo menyerbu bersama
4000 tentaranya. Dalam perang ini, Mas Wilo, Wiloteruno, Mas Ayu Melok dan patihnya
Mas Ayu Gringsing Retno terbunuh.


Dilereng gunung raung (tepatnya diRowo bayu ) terdapat tempat bersemedi prabu
Tawang Alun.Karena penyesalan yang amat sangat atas meninggalnya adik – adiknya
yaitu Mas Wilo dan Mas Ayu Tunjungsari. Persemedian itu dilakukan selama tujuh hari.
Dalam semedinya ia mendapat petunjuk dari Hyang Maha Batara berjalan kearah utara
dan akan bertemu dengan seekor macan putih yang akan membawanya kehutan
Sudimoro dan disana diperintahkan untuk membangun istana macan putih.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:1043
posted:5/12/2010
language:Indonesian
pages:4