Mutu Puskesmas Mutu Puskesmas setelah Kebijakan Kesehatan Dasar Gratis

Document Sample
scope of work template
							                           Working Paper Series No. 5
                             April 2008, First Draft




          Mutu Puskesmas
Mutu Puskesmas setelah Kebijakan Kesehatan
      Dasar Gratis di Kota Banjarbaru



                 Oda Rahmaniah
           Dewi Marhaeni Diah Herawati
                     Juanita




              Tidak untuk disitasi
                                                                                      Daftar Isi
Daftar Isi.............................................................................................. 2
Daftar Tabel......................................................................................... 3
Abstract ............................................................................................... 4
Latar Belakang .................................................................................... 6
Metode................................................................................................. 7
Hasil Penelitian.................................................................................... 7
 Gambaran Kebijakan Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis ................ 7
   Persepsi stakeholder tentang kebijakan pelayanan gratis di
    puskesmas .................................................................................... 8
     Persepsi stakeholder tentang kelanjutan kebijakan pelayanan gratis
      ..................................................................................................... 9
  Sistem Insentif terhadap Motivasi Petugas ..................................... 10
   Pemberian insentif terhadap motivasi petugas............................ 10
     Persepsi stakeholder tentang dasar pemberian insentif .............. 11
  Strategi Puskesmas untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan ............ 11
  Akses Masyarakat Miskin terhadap Pelayanan Puskesmas ............ 14
  Pelaksanaan Supervisi .................................................................... 16
   Aspek yang dilakukan supervisi ................................................. 16
     Cara supervisi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota... 17
 Mutu Puskesmas setelah Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis .. 17
Kesimpulan........................................................................................ 18
Saran.................................................................................................. 19
Daftar Pustaka ................................................................................... 20
Lampiran ........................................................................................... 22




 2                                       Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
                                                                            Daftar Tabel
Tabel 1. Dokumen yang di Observasi dalam rangka Kebijakan
Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis Tahun 2006 – 2007.....................22
Tabel 2. Dana Operasional Melalui DASK Puskesmas Tahun 2005-
2007 ....................................................................................................22
Tabel 3. Matrik strategi / Upaya Puskesmas pada Kebijakan Gratis..23
Tabel 4. Matrik Aspek yang Dilakukan Supervisi..............................24
Tabel 5. Jumlah Pemeriksaan Laboratorium Sederhana di Puskesmas
Tahun 2006-2007 (s/d Juli) ................................................................25
Tabel 6. Jumlah Kunjungan yang Memiliki KTP dan Tanpa KTP pada
Puskesmas Bulan Maret s/d Juni 2006 ...............................................26
Tabel 7. Jumlah Kunjungan Puskesmas pada Pelayanan Kesehatan
Dasar Gratis Tahun 2006 – s/d Juli 2007 ...........................................26
Tabel 8. Cakupan Pelayanan, Manajemen dan Mutu Puskesmas
Tahun 2006.........................................................................................27




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                                     3
                             Abstract
    Quality Of Primary Health Service After The Policy Of Free
                Health Service In Banjarbaru City
           Oda Rahmaniah1, Dewi Marhaeni2 , Juanita3
Background. At the decentralization era on the region autonomous
frame to support the achievability of fair evenly distribute and quality
health services, the government of Banjarbaru made policy based on
the Mayor of Banjarbaru Decision number 33 of 2006, about free Ba-
sic Health Services at the Primary health service with no exception re-
garding the social economic status of its society. This policy comes
with an incentive or an add-on income for functionaries, as a motiva-
tor on their duties and responsibilities. Many efforts are conditioning
by primary health service to provide fair and quality health services.
This research objective is to learn the service quality condition after
implementation of the incentive system and efforts or strategies con-
ducting by primary health service to maintain its quality of services.
Methods. this research using a descriptive qua;itative approach with
case study design. Research locations on 3 primary health service, lo-
cated at Banjarbaru, Cempaka, and Landasan Lilin. Research subjects
were Head of City Health Office, Head of Health Service Division,
Head of Sub Division of Planning and Finance, Head of primary
health services, doctors, nurses, pharmacist assistants, health analyst
and others. Data analyzed with qualitative technique which was narra-
tive interpretation, conclusion and data validation by triangulation
technique.
Results. Insentive system can provide motivation for functionaries to
increase their service’s performance, incentive given were expected to
be on their work load bases because the implemented system was still
considered unfair. Primary health service strategies to improve service
quality are services socialization, service mechanism arrangement,
advocacy on primary health services budget toward executive and leg-

4                          Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
islative, and an increasement on physical facility, health tools and
means. Poor people access are still low in the community, services
were conducted with no discriminative. Supervisors were not compe-
tent enough on their field of duties.
Conclusion. Primary health services quality on these free service pol-
icy, the society was satisfactory enough on the officers services.

Keywords : free service policy, incentive system, strategy, primary
health service quality




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                5
                                                 Latar Belakang
Kota Banjarbaru sebagai salah satu kota di Provinsi Kalimantan Sela-
tan yang menjadi percontohan dalam hal pelayanan publik dan mem-
bangun pemerintahan yang good governnace berupaya untuk mense-
jahterakan masyarakatnya khususnya di bidang kesehatan agar terca-
pai visi Banjarbaru Sehat 2008. Upaya tersebut dituangkan dalam ben-
tuk kebijakan pelayanan kesehatan dasar gratis di puskesmas sesuai
dengan Surat Keputusan Walikota Banjarbaru Nomor 33 Tahun 2006
tanggal 7 Pebruari 2006 dan mulai berlaku 1 Maret 2006.
Disamping untuk kesejahteraan masyarakat berkaitan dengan hal
tersebut Pemerintah Kota juga mengeluarkan kebijakan untuk petugas
pemberi layanan sesuai Surat Keputusan Walikota Banjarbaru Nomor
29A, 30A, dan 35A Tahun 2006 tentang tunjangan kinerja daerah
yang kemudian di revisi menjadi Surat Keputusan Walikota Banjabaru
Nomor 30 dan 34 Tahun 2007 tanggal 7 Pebruari 2007 tentang pem-
berian tambahan penghasilan bagi PNS dan PTT Dinas Kesehatan dan
jaringannya. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan motivasi bagi
petugas pemberi layanan agar dapat meningkatkan kinerja dan mem-
berikan pelayanan yang bermutu. Dalam manajemen SDM salah satu
strategi implementasi sistem pemberian insentif dapat memotivasi
petugas untuk meningkatkan produktivitas kerja1.
Kualitas merupakan prinsip utama sistem pelayanan kesehatan2.
Dalam visi “Indonesia Sehat 2010” disebutkan bahwa gambaran
masyarakat Indonesia yang ingin dicapai adalah masyarakat yang
memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang
bermutu secara adil dan merata. Pelayanan kesehatan bermutu adalah
pelayanan kesehatan yang memuaskan pemakai jasa pelayanan. Mutu
pelayanan kesehatan harus dipelihara dan ditingkatkan melalui pen-
ingkatan kualitas tenaga kesehatan, ketersediaan obat, serta peningka-
tan dan pemeliharaan sarana dan peralatan kesehatan.
Berbagai upaya dilakukan puskesmas dan Dinas Kesehatan untuk
menjaga mutu pelayanan puskesmas sesuai harapan Pemerintah Kota
dengan adanya kebijakan pelayanan gratis. Upaya tersebut didukung
adanya komitmen politik Pemerintah Kota dan stakeholder baik dari
segi pembiayaan maupun penyelenggaraan proses pelayanannya agar
tujuan dari kebijakan dapat tercapai yaitu membantu masyarakat Kota
Banjarbaru dalam menjangkau pelayanan kesehatan yang adil, merata,
dan bermutu.

6                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
                                                               Metode
Penelitian ini merupakan kajian studi kasus dengan analisis deskriptif
kualitatif3 yang menggambarkan kondisi atau mutu puskesmas pada
kebijakan pelayanan kesehatan dasar gratis dengan adanya sistem
insentif apakah dapat memotivasi petugas agar memberikan pelayanan
yang baik, bagaimana strategi puskesmas untuk memberikan
pelayanan yang berkualitas, bagaimana akses masyarakat miskin ke
puskesmas dan mengamati apakah pelayanan yang diberikan non
diskriminatif, bagaimana supervisi yang dilakukan Dinas Kesehatan
Kota untuk menjaga kualitas pelayanan.
Lokasi penelitian pada tiga puskesmas dari lima puskesmas yang ada
di Kota Banjarbaru provinsi Kalimantan Selatan, meliputi puskesmas
Banjarbaru, Cempaka, dan Landasan Ulin. Puskesmas dipilih secara
purposive4. Subjek penelitian adalah Kepala Dinas Kesehatan Kota,
Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Kepala sub Bagian Perencanaan
dan Keuangan, Kepala Puskesmas, Dokter, Perawat, Asisten
Apoteker, Analis Kesehatan, dan petugas loket puskesmas.
Data penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi,
dan telaah dokumen. Alat Bantu yang digunakan adalah pedoman
wawancara mendalam, daftar tilik (check list), catatan lapangan dan
tape recorder. FGD dilakukan kepada masyarakat. Validasi terhadap
data hasil penelitian dilakukan triangulasi5. Data yang terkumpul di
analisis secara deskriptif.

                                                       Hasil Penelitian
Gambaran Kebijakan Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis
Kebijakan ini berdasarkan Surat Keputusan Walikota Banjarbaru
Nomor 33 Tahun 2006 Tanggal 7 Pebruari 2006 yang memuat 12
macam pelayanan dasar puskesmas yaitu : 1). Konsultasi medis dan
pemeriksaan fisik rawat jalan Puskesmas, Pustu, Pusling dan Polindes
berdasarkan setiap kali kunjungan pasien; 2). Laboratorium sederhana
(darah rutin, urine rutin,     pemeriksaan tinja); 3). Tindakan
medis       ringan; 4). Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut; 5).
Pelayanan IGD; 6). Rawat inap kelas 3 di Puskesmas rawat inap
Cempaka; 7). Pemberian obat sesuai ketentuan dan persediaan; 8).
Pemeriksaan ibu hamil, nifas, menyusui dan balita; 9). Pelayanan KB

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                  7
dan efek samping pelayanan KB (kecuali alat suntik, alat kontrasepsi,
obat suntik, dan pil dibayar pasien); 10). Persalinan di Puskesmas,
Polindes, Pustu pada jam kerja; 11). Pelayanan ambulan untuk
rujukan pada jam kerja; dan 12). Imunisasi bayi, balita, WUS, bumil,
(termasuk alat suntik).
Pelayanan kesehatan dasar yang tidak tercantum dalam lampiran SK
tersebut masih dipungut biayanya berdasarkan Peraturan Daerah Kota
Banjarbaru No. 17 Tahun 2000 tentang Retribusi Pelayanan
Kesehatan dan Keputusan Walikota Banjarbaru No 15 Tahun 2001
tentang Retribusi Pelayanan Kesehatan di Puskesmas, Pustu, dan
Pusling dalam wilayah Kota Banjarbaru. Bagi pasien peserta Askes
dan Askeskin tetap dilayani sesuai dengan peraturan perundang-
undangan / prosedur yang berlaku.
Berkaitan dengan kebijakan pelayanan gratis untuk masyarakat
Pemerintah Kota juga membuat kebijakan untuk petugas pemberi
layanan yaitu tentang pemberian tambahan penghasilan berdasarkan
SK Walikota Banjarbaru Nomor 32A, 35A, dan 37A tahun 2006 yang
direvisi menjadi SK Walikota Nomor 30 dan 34 tahun 2007. Hal ini
dimaksudkan agar dapat memotivasi petugas dalam memberikan
pelayanan yang berkualitas. Dokumen yang dapat di observasi pada
Dinas Kesehatan Kota dan puskesmas penelitian dalam kondisi
kebijakan pelayanan gratis dapat dilihat lebih jelas pada Lampiran 1.
Persepsi stakeholder tentang kebijakan pelayanan gratis di puskesmas
Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76,19%                 stakeholder
menyatakan mempunyai persepsi terhadap kebijakan gratis untuk
membantu masyarakat dari segi ekonomi. Masyarakat diharapkan
dapat menjangkau pelayanan kesehatan dan membantu terhadap
keluhan obat mahal. Masyarakat diharapkan memiliki kemampuan
untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan
merata. Kebijakan inipun harus ditunjang dengan tersedianya
pembiayaan yang cukup dan komitmen dalam era desentralisasi
bahwa sumber pembiayaan yang utama adalah dari pemerintah
Kabupaten/Kota.
Hal ini berbeda dengan pendapat Sujatmiko (2006) yang menyatakan
jaminan pembiayaan kesehatan tidak berkaitan dengan pemanfaatan
pelayanan kesehatan6. Namun penelitian ini sesuai dengan
Departemen Kesehatan [Depkes RI] (2004) bahwa puskesmas adalah



8                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota yang bertanggung jawab
menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya7.
Sedangkan 23,81% stakeholder berpendapat kebijakan pelayanan
gratis ini ada segi politisnya dan tidak mendidik. Menurut mereka
masyarakat jadi ketergantungan. Masyarakat diharapkan dapat
mandiri dalam menjaga kesehatannya dan mereka sebenarnya mampu
membayar retribusi berobat.
Masyarakat dapat membentuk opini publik terkait dengan
keberhasilan birokrasi atau pejabat publik dalam memenuhi kebutuhan
dan aspirasi pelayanannya dan akan berpengaruh terhadap perilaku
memilihnya dalam pilkada. Kebijakan inipun dianggap tidak mendidik
masyarakat untuk mandiri dalam menjaga kesehatan. Hal ini sesuai
dengan penelitian Elfian (2006) yang dalam penelitiannya juga
menemukan hal serupa dan merupakan pembodohan kepada
masyarakat8.                    Kebijakan                 pelayanan
gratis walaupun bertujuan untuk membantu masyarakat dari segi
ekonomi tetapi pada dasarnya bersifat politis9.
Persepsi stakeholder tentang kelanjutan kebijakan pelayanan gratis
Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar stakeholder (80,95%)
menyatakan setuju kebijakan pelayanan gratis ini dilanjutkan. Mereka
mempunyai alasan agar masyarakat dengan uang untuk berobat dapat
memenuhi kebutuhan yang lainnya, agar mereka mau berobat ke
puskesmas, dan pelayanan gratis petugas bisa lebih cepat dalam
melayani. Walaupun tidak gratis puskesmas tetap harus menyetorkan
biaya retribusi sesuai aturan dan tidak ada dana yang dikelola
puskesmas kecuali dana pengembalian sebesar 50% dari retribusi yang
hampir tidak mencukupi untuk kebutuhan operasional puskesmas
dibandingkan dengan sistem pembiayaan sekarang.
Kebijakan publik adalah ”Public policy is whatever the government
choose to do or not to do” (Kebijakan publik adalah apapun pilihan
pemerintah untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu)10.
Apabila pemerintah memilih pelayanan gratis tentu ada tujuannya,
karena kebijakan publik merupakan tindakan pemerintah.
Stakeholder yang tidak setuju kebijakan gratis dilanjutkan karena
dianggap orang tertentu saja yang memanfaatkan dan agar masyarakat
menghargai cara menjaga kesehatan, yang digratiskan sebaiknya
masyarakat miskin saja sebesar 19,05% .


Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan              9
Dana pemerintah lebih banyak mensubsidi pembiayaan kesehatan bagi
orang mampu karena jumlah Askeskin hanya 7,20 % saja dari jumlah
penduduk Kota Banjarbaru, dan untuk masyarakat miskin walaupun
tidak ada kebijakan pelayanan kesehatan gratis inipun mereka sudah
dijamin pemerintah pembiayaan kesehatannya melalui mekanisme PT.
Askes (Persero). Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Elfian
(2006) bahwa masyarakat yang status sosial ekonomi menengah
keatas seharusnya tidak lagi ditanggung oleh pemerintah karena
mereka bisa mencari pelayanan kesehatan yang lebih baik.
Sistem Insentif terhadap Motivasi Petugas
Pemberian insentif terhadap motivasi petugas.
Hasil penelitian ini menunjukkan sebagian besar petugas (66,67%)
menyatakan termotivasi untuk bekerja memberikan pelayanan.
Petugas termotivasi dengan adanya insentif karena menurut mereka
sangat bermanfaat sebagai tambahan penghasilan, menjadi rajin dan
bersemangat untuk kerja sehingga kalau tidak penting sekali tetap
masuk kerja.
Pengaruh insentif untuk motivasi kerja sebagai indikator kedisiplinan
berdasarkan tingkat kehadiran karena jika tidak masuk kerja ada
sanksi-sanksi berupa pemotongan insentif dan sanksi administrasi
lainnya sesuai SK Walikota tentang pemberian tambahan penghasilan.
Kedisiplinan dan kehadiran petugas merupakan indikasi dalam
meningkatkan kinerja karena dengan hadirnya petugas di unit
pelayanan sehingga masyarakat yang berobat dapat terlayani sesuai
dengan      tujuan  Pemko       Banjarbaru     dalam    meningkatkan
profesionalisme petugas, disiplin PNS guna mendukung penerapan
good governance untuk menjaga kualitas pelayanan yang baik.
Masalah insentif juga merupakan salah satu aspek yang paling berarti
bagi karyawan maupun organisasi.Sistem insentif ini terbukti lebih
efektif dalam pemeliharaan tenaga kerja dengan memotivasi karyawan
mencapai tingkat prestasi kerja lebih tinggi.
Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Elfian (2006) yang menyatakan
bahwa untuk mencapai pelayanan prima perlu lebih dahulu
mensejahterakan petugas dimana petugas akan bekerja maksimal jika
kompensasi yang diterimanya ada. Suatu cara untuk meningkatkan




10                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
prestasi kerja / kinerja dan motivasi karyawan adalah melalui
kompensasi berupa insentif sebagai balas jasa untuk kerja mereka11.
Sistem insentif yang ada saat ini menurut mereka dasar pemberiannya
masih belum adil karena tidak sesuai dengan beban kerja.Mereka
menginginkan berdasarkan target dan beban kerja atau kinerja.
Petugas dapat termotivasi dengan adanya pemberian insentif tetapi
dianggap belum adil karena beban kerja mereka di unit-unit pelayanan
berkaitan satu dengan lainnya dalam pengertian merupakan suatu
sistem pelayanan. Beban kerja dianggap sama beratnya dalam arti
tanggungjawab dalam melayani masyarakat. Jika salah satu unit
pelayanan tidak melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik maka
akan berdampak pula pada unit pelayanan lainnya. Penetapan
kebijakan sistem insentif harus memperhatikan prinsip keadilan
(Handoko, 2001).
Persepsi stakeholder tentang dasar pemberian insentif
Pemberian insentif menurut persepsi stakeholder dalam penelitian ini
menyatakan berdasarkan pendidikan / profesi, jabatan dan golongan /
pangkat (42,86%), menyatakan berdasarkan profesi dan beban kerja
(33,33%), menyatakan berdasarkan status kepegawaian, pendidikan
dan beban kerja (23,81%). Data diatas menunjukkan bahwa persepsi
tentang dasar pemberian insentif kepada petugas bervariasi antara satu
dengan lainnya.
Untuk kepentingan pengembangan dan penerapan sistem imbalan
bahwa secara internal para pegawai yang melaksanakan tugas sejenis
didasarkan pada nilai relatif dari berbagai jenis pekerjaan dalam
organisasi. Untuk mengembangkan suatu sistem imbalan maka perlu
melakukan analisis pekerjaan dengan cara menyusun deskripsi
jabatan, uraian pekerjaan, dan standar pekerjaan yang terdapat dalam
suatu organisasi. Melakukan penilaian pekerjaan dikaitkan dengan
keadilan internal, diusahakan tersusunnya urutan peringkat pekerjaan,
susunan perbandingan dengan pekerjaan lain dalam organisasi.
Strategi Puskesmas untuk Meningkatkan Mutu Pelayanan
Sosialisasi pelayanan. Puskesmas Banjarbaru melakukan upaya agar
masyarakat dapat terlayani dengan baik dan mudah yaitu dengan
sosialisasi dan menjalin komunikasi antara petugas dengan pasien,
memberikan penyuluhan / siaran berupa informasi tentang pelayanan
dalam gedung puskesmas setiap hari selama 15 menit sekitar 2 bulan
pada awal pelayanan gratis. Membuat selebaran tentang syarat-syarat


Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan               11
mendapat pelayanan gratis pada puskesmas dan jaringannya, dan
kerjasama dengan lintas sektor seperti kecamatan dan kelurahan.
Puskesmas Cempaka dan Landasan Ulin juga melakukan hal yang
sama tetapi tidak melakukan penyuluhan dalam gedung seperti
puskesmas Banjarbaru.
Sosialisasi pelayanan melalui penyebaran informasi dan bantuan
kerjasama dengan lintas sektor lebih efektif dalam memberikan
pemahaman kepada masyarakat yang berobat ke puskesmas dalam
pelayanan gratis.
Merubah mekanisme layanan. Berdasarkan hasil observasi
mekanisme layanan di bagian loket pada puskesmas Banjarbaru dan
Cempaka masih menggunakan sistim family folder dan antri nomor.
Sistim family folder yaitu pasien dalam satu keluarga menggunakan
satu kartu berobat yang sama atas nama kepala keluarganya.
Puskesmas Landasan Ulin selain antri nomor juga dengan sistim
indeks yaitu setiap pasien yang datang berobat ke puskesmas
mempunyai satu nomor berobat. Walaupun serumah tetap diberikan
satu orang satu kartu berobat. Dalam meletakkan kartu status pasien
pada rak dibuat per alamat (Kelurahan, RT/RW) selengkapnya
sedangkan sebelumnya memakai sistim family folder. Hal ini
dimaksudkan                                                    untuk
menyiasati mempercepat proses pelayanan. Kemudian dicatat lagi
dalam buku register pasien lengkap nama pasien, alamat dan nomor
kartunya untuk memudahkan petugas jika pasien datang untuk
kunjungan ulang lupa membawa kartu berobat. Puskesmas Banjarbaru
dan Landasan Ulin walaupun masih menggunakan sistim family folder
tetapi melakukan hal yang sama dengan puskesmas Landasan Ulin
dalam penataan kartu status pasien.
Mekanisme pelayanan dengan menggunakan sistim indeks pada unit
medical status atau loket pendaftaran pasien terbukti lebih baik dan
memperlancar proses pelayanan untuk petugas dan mengurangi waktu
tunggu pasien.
Pembagian ruang poli pemeriksaan sesuai kebutuhan pelayanan pasien
dapat mengurangi waktu tunggu proses pelayanan dan tidak terjadi
penumpukan pasien. Hal seperti ini selain memudahkan petugas juga
untuk kenyamanan dan kepuasan pasien. Hasil observasi di bagian
poli pemeriksaan pada puskesmas Banjarbaru dan Landasan Ulin
dibagi menjadi poli umum dewasa, poli anak, poli KIA, poli KB, poli
gigi. Poli anak diatur dekat dengan ruangan pojok gizi dan ruang

12                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).Pada puskesmas Cempaka
poli umum tidak dibedakan untuk dewasa dan anak jadi satu ruangan.
Pelayanan apotik dibagi menjadi tiga bagian khusus yaitu untuk
pasien Askeskin, Askes dan umum gratis, tetapi tetap satu pintu
dimaksudkan untuk kemudahan pasien agar pelayanan lebih cepat dan
waktu relatif lebih singkat. Pelayanan laboratorium tersedia dan di
upayakan oleh puskesmas untuk membeli reagensia sendiri agar
pasien bisa mendapatkan pelayanan di puskesmas. Tujuan tersebut
hanya untuk kepuasan pasien agar bisa dilayani di puskesmas
walaupun harus membayar karena bahan yang tidak mencukupi
bahkan tidak disediakan oleh Dinas Kesehatan. Unit laboratorium
diperlukan sebagai penunjang diagnostik dan merupakan rujukan dari
poli pemeriksaan sesuai dengan keluhan dan anamnesa dokter yang
memeriksa pasien. Skema alur pelayanan berobat dari loket
pendaftaran, poli pemeriksaan, laboratorium (jika diperlukan), apotik
sampai pasien selesai (pulang) dibuat sejelas mungkin agar
masyarakat dapat dengan mudah memperoleh layanan.
Pelayanan Pustu pada puskesmas Banjarbaru dibuat sistim rolling
untuk dokter yang bertugas, sedangkan puskesmas Landasan Ulin
pelayanan Pustu dijadualkan dua hari sekali dikunjungi dokter.
Puskesmas Cempaka pelayanan Pustu hanya dilayani oleh perawat
dan bidan. Pelayanan apotik dan laboratorium pada ketiga puskesmas
juga menggunakan sistim antrian.
Dalam memberikan pelayanan puskesmas harus dapat merespon
kebutuhan masyarakat akan pelayanan. Puskesmas berupaya untuk
memenuhi kebutuhan pelayanan dengan membuat strategi yang tepat
dengan tujuan untuk kepuasan pasien.
Hal ini sesuai menurut pandangan Albrecht dan Zemke (1990) dalam
Subarsono (2005) kualitas pelayanan publik merupakan hasil interaksi
dari berbagai aspek, yaitu sistem pelayanan, sumber daya manusia
pemberi layanan, strategi dan pelanggan (customers). Sistem
pelayanan yang baik akan menghasilkan kualitas pelayanan yang baik
pula12.
Mekanisme anggaran puskesmas. Puskesmas diberi kewenangan
untuk membuat perencanaan anggaran kegiatan sesuai kebutuhan
masing-masing puskesmas yang berupa RASK dan DASK puskesmas.
Ketiga puskesmas terjadi peningkatan anggaran tahun 2006 yaitu
puskesmas Banjarbaru (19,96%), puskesmas Cempaka (92,08%),


Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan              13
puskesmas Landasan Ulin (134,83%) dan tahun 2007 puskesmas
Banjarbaru (32,85%), puskesmas Cempaka (37,75%), puskesmas
Landasan      Ulin     (76,01%)    dibandingkan     tahun   2005
pada saat sebelum gratis. DASK tahun 2007 belum termasuk anggaran
perubahan yaitu adanya anggaran tambahan yang dikenal dengan
ABT.
Advokasi anggaran dilakukan oleh Kepala Puskesmas langsung
kepada eksekutif dan legislatif sesuai usulan kebutuhan dalam
perencanaan masing-masing puskesmas. Puskesmas membuat
pertanggungjawaban kegiatan langsung ke Pemerintah Kota.
Komitmen Pemerintah Kota untuk memberikan pelayanan yang
berkualitas harus didukung dengan pembiayaan yang memadai. Sejak
tahun 2006 puskesmas diberi kewenangan untuk merencanakan dan
mengusulkan kegiatan yang menunjang pelayanan kepada masyarakat
baik kegiatan dalam gedung maupun luar gedung melalui RASK
Puskesmas. Pembiayaan terus mengalami peningkatan dibandingkan
tahun 2005 dengan adanya advokasi Kepala Puskesmas kepada
eksekutif dan legislatif. Sejak tahun 2006 masing-masing puskesmas
sudah mempunyai DASK sendiri sehingga dana dapat dikelola sendiri
kecuali pengadaan obat-obatan dan alat kesehatan masih dikelola
Dinas Kesehatan. Hal ini sesuai menurut Depkes RI (2004) untuk
terselenggaranya berbagai upaya kesehatan perorangan dan upaya
kesehatan masyarakat yang menjadi tanggung jawab puskesmas perlu
ditunjang dengan tersedianya pembiayaan yang cukup.
Fasilitas fisik, sarana, dan alat kesehatan. Kegiatan pelayanan juga
ditunjang dengan adanya perbaikan dan penambahan fisik gedung
ruangan, alat-alat kesehatan, sarana roda duadan empat untuk
menunjang kegiatan luar gedung, tenaga dan sumber dana juga sangat
menentukan keberhasilan pelayanan yang bermutu. Sarana berupa
alat-alat kesehatan, alat transportasi dan fasilitas fisik gedung
puskesmas serta tenaga medis telah dilengkapi dengan tujuan
peningkatan mutu layanan. Kualitas dan kuantitas peralatan yang
digunakan akan mempengaruhi prosedur, kecepatan proses dan
kualitas keluaran (output) yang akan dihasilkan lebih baik dan lebih
banyak dalam waktu yang relatif lebih cepat.
Akses Masyarakat Miskin terhadap Pelayanan Puskesmas
Akses masyarakat miskin dalam menggunakan puskesmas masih
rendah yaitu rata-rata masih dibawah 15 % per bulan namun ada


14                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
peningkatan. Kunjungan masyarakat miskin ke puskesmas baik yang
sudah ada kartu Askeskin maupun yang menggunakan Surat
Keterangan Tidak Mampu (SKTM) masih rendah sesuai data
masyarakat miskin yang sudah ada baik data dari Pemko Banjarbaru
maupun data dari BPS. Kurangnya sosialisasi kepada masyarakat
miskin yang dilakukan oleh stakeholder terkait dalam hal ini baik PT
Askes sendiri, puskesmas, dan kelurahan sehingga akses mereka
masih rendah untuk mendapatkan pelayanan puskesmas. Jarak ke
puskesmas bisa ditempuh dengan roda dua dan empat tetapi faktor
ekonomi atau biaya transportasi lebih menjadi hambatan bagi
masyarakat miskin yang tempat tinggalnya jauh dari puskesmas dan
Pustu.
Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian Sujatmiko (2006) yang
menyatakan bahwa pemanfaatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat
miskin secara keseluruhan di Kabupaten Kutai Kartanegara masih
rendah.
Menurut Depkes RI (2006) sebagai patokan dalam menilai
keberhasilan dan pencapaian dari pelaksanaan program secara
nasional,
ditentukan dengan indikator antara lain angka utilisasi (visit rate) rata-
rata 15 % perbulan13.
Pelayanan yang Non Diskriminatif. Semua stakeholder (100%)
menyatakan pelayanan yang diberikan pada pelayanan gratis tidak
membedakan status pasien, melayani secara manusiawi, semua pasien
harus mengantri kecuali yang insidentil, dan tidak ada yang di
istimewakan. Pernyataan diatas didukung oleh pernyataan informan di
pelayanan apotik bahwa pelayanan obat diberikan dari sumber yang
tersedia, dan yang banyak sumber obat dari umum bantuan
Pemerintah Kota. Sistem yang non diskriminatif ini dilakukan dengan
berbagai cara yaitu semua pasien yang berobat dilayani sesuai antrian
tidak ada yang istimewa, kecuali yang insidentil. Pelayanan dan
persediaan obat-obatan dengan sistem subsidi silang, stok obat dari
sumber yang ada di pakai untuk semua pasien yang membutuhkan.
Pelayanan publik model baru (new public service) harus bersifat non
diskriminatif sebagaimana dimaksud oleh teori demokrasi yang
menjamin adanya persamaan hak warga negara tanpa membeda-
bedakan asal-usul, kesukuan, ras, etnik, agama dan latar belakang
lainnya. Ini berarti setiap warga negara diperlakukan sama ketika
berhadapan dengan birokrasi publik untuk menerima pelayanan

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                   15
sepanjang syarat-syarat yang dibutuhkan terpenuhi. Hal ini sesuai
dengan pendapat Subarsono (2005) bahwa pelayanan publik yang non
diskriminatif dapat dilihat dari indikator : adanya akses yang sama
bagi semua orang untuk mendapatkan pelayanan, pemberian
pelayanan publik kepada pelanggan berdasarkan nomor urut, tidak
diberlakukannya dispensasi pelayanan kepada pelanggan14. Sesuai
pula dengan pendapat Tjiptono (2006) yang menyatakan sistem
antrian menganut prinsip yang datang duluan akan dilayani terlebih
dahulu (first come- first served)15. Strategi antrian juga memberikan
prioritas berbeda kepada pasien atas dasar tingkat urgensi
pelayanan misalnya pasien gawat darurat akan mendapatkan prioritas
utama untuk dilayani.
Pelaksanaan Supervisi
Aspek yang dilakukan supervisi
Kesesuaian ruang lingkup pelayanan gratis pada ketiga puskesmas
dari 12 item pelayanan gratis ada 11 item sesuai dan 1 item tidak
sesuai yaitu pelayanan pemeriksaan laboratorium ternyata masih
membayar.
Data tersebut didukung laporan dari register laboratorium puskesmas
tentang jumlah dan jenis pemeriksaan laboratorium yang telah
dilaksanakan di puskesmas seperti terlihat pada tabel berikut.
Pelayanan laboratorium yang tidak gratis menurut pernyataan
informan adalah karena reagen tidak dipenuhi Dinas Kesehatan,
kalaupun diberi sangat sedikit dan tidak mencukupi.
Kesesuaian pelaksanaan dan persyaratan pelayanan harus ada KTP
jika berobat gratis pada puskesmas Banjarbaru sudah sesuai,
puskesmas Cempaka dan puskesmas Landasan Ulin masih belum
sepenuhnya sesuai. Data diatas didukung laporan dari telaah dokumen
laporan pelayanan gratis pada tiga bulan pelaksanaan kebijakan
pelayanan gratis seperti pada tabel berikut.
Kesesuaian laporan dan pelaksanaan pelayanan berdasarkan hasil
observasi belum selengkapnya dibuat laporan ke Dinas Kesehatan
seperti laporan pelayanan laboratorium yang tidak gratis ternyata tidak
dilaporkan setiap bulannya. Laporan yang dikirimkan setiap bulan
oleh ketiga puskesmas adalah laporan bulanan SP2TP.
Dampak dan manfaat pelayanan gratis secara umum jumlah
kunjungan meningkat, ada kecenderungan jumlah pasien umum gratis


16                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
lebih banyak menggunakan pelayanan puskesmas sesuai data dari
laporan bulanan puskesmas seperti pada tabel berikut.
Cara supervisi yang dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan Kota
Supervisi yang dilakukan Dinas Kesehatan ada yang dalam bentuk
rapat atau pertemuan bulanan puskesmas (23,81%), menanyakan
langsung dengan Kepala Puskesmas dan petugas unit pelayanan
(33,33%), sekedar melihat/ inspeksi sekilas (28,57%), telaah
dokumen/ laporan atau data puskesmas (14,29%).
Dinas Kesehatan ada supervisi tetapi tidak melakukan pembinaan
secara maksimal. Hal ini terlihat tidak adanya solusi permasalahan dan
feed back laporan supervisi kepada puskesmas yang di supervisi.
Kondisi tersebut belum seluruhnya sesuai dengan definisi menurut
Depkes RI (2007) supervisi adalah kegiatan penting (utama/tertinggi)
dari atasan atau jajaran yang lebih tinggi dengan cara mendatangani /
melihat langsung operasional kegiatan dan hasil-hasil pelaksanaan
kegiatan sehingga ditemukan permasalahan dan diberikan pengarahan
serta perbaikan demi untuk tercapainya hasil-hasil kegiatan yang
maksimal16.
Hal ini disebabkan supervisor yang melakukan kegiatan tidak secara
profesional dengan pengertian bahwa dalam rangka kegiatan
supervisi. Dinas Kesehatan seharusnya menetapkan dan membuat ren-
cana supervisi secara jelas. Teknik supervisinya yaitu dengan meng-
gabungkan beberapa cara yang sesuai dengan kondisi lapangan seperti
inspeksi sekilas, tanya jawab atau periksa dokumen/laporan. Produk
supervisi yaitu kumpulan masukan yang ditemukan pada saat supervi-
si yang telah diklarifikasi dengan pihak puskesmas.
Hal ini sesuai menurut Ramos supervisi merupakan suatu proses yang
menunjang manajemen dimana sebagian besar kegiatannya adalah un-
sur pembimbingan dan sebagian kecil saja yang merupakan unsur
pengawasan17. Demikian juga menurut Dharma (1991) bahwa super-
visi memiliki keterampilan analisa dan keterampilan interaksi18.
Mutu Puskesmas setelah Kebijakan Pelayanan Kesehatan Gratis
Dokumen laporan penilaian kinerja puskesmas tahun 2006 dapat dike-
tahui bahwa kinerja puskesmas dinilai dari aspek cakupan pelayanan,
manajemen puskesmas dan mutu pelayanan. Cakupan pelayanan pus-
kesmas Banjarbaru (87,14%) dan puskesmas Cempaka (81,83%) ter-
masuk dalam kategori cukup, puskesmas Landasan Ulin (94,47%) ka-
tegori baik. Khusus untuk cakupan pelayanan pengobatan ketiga pus-

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan               17
kesmas tersebut melebihi 100%. Manajemen dan mutu pelayanan
puskesmas Banjarbaru masing-masing adalah pada skala (8,6 dan 8,9)
dan puskesmas Landasan Ulin pada skala (9,3 dan 8,7) termasuk kate-
gori baik, puskesmas Cempaka pada skala (7,8 dan 8,2) kategori cu-
kup. Hal tersebut dapat dilihat pada tabel Lampiran.
Kondisi ini didasarkan pada pedoman penilaian kinerja puskesmas
menurut Depkes RI (2006) dan didukung pernyataan bahwa masyara-
kat sebagai penerima layanan puskesmas merasa puas dengan kondisi
yang ada sebagai indikator mutu pelayanan yang dapat dirasakan. Me-
reka menyatakan sikap petugas cukup ramah, tidak lama menunggu
dan adanya ruangan puskesmas yang nyaman dan bersih sehingga me-
reka memilih puskesmas untuk berobat walaupun ada biaya untuk
pemeriksaan kesehatan bagi mereka tidak menjadi masalah.
Keadaan ini tentu sangat didukung oleh komitmen semua stakeholder
puskesmas dengan menjalin komunikasi yang baik antara petugas
dengan pasien, meningkatkan dan mengatur manajemen layanan agar
pasien merasa nyaman serta adanya kenyamanan ruangan dan
kelengkapan peralatan medis/alat-alat kesehatan serta ketersediaan
obat-obatan. Hasil penelitian ini berbeda dengan hasil penelitian
Muntahaza (2003) di Sleman19, Saharudin (2005) di Bengkulu
Selatan20, Saimi (2005) di Kabupaten Lombok Tengah21 yang
menyatakan bahwa mutu pelayanan di puskesmas rendah atau kurang
berkualitas.
Namun hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Blank (1999)
dalam Depkes RI (2002) bahwa pasien menilai mutu layanan dari
karakteristik non teknis atau hubungan interpersonal dan kenyamanan
pelayanan22. Pernyataan di atas juga didukung oleh pendapat Dona
Bedian (1988) dalam Wijono (1999) bahwa mutu berhubungan
dengan proses pelayanan yaitu di samping manajemen hubungan
interpersonal ditentukan pula oleh pelayanan teknis medis23, di mana
ada pernyataan bahwa obat-obatnya lumayan baik dan sembuh jika
berobat di puskesmas. Sedangkan menurut Sarwono (1992) kepuasan
pasien juga dipengaruhi oleh karakteristik individu antara lain latar
belakang sosial, tingkat ekonomi, dan tingkat pendidikan24.

                                                       Kesimpulan
Mutu puskesmas pada kebijakan gratis sudah cukup baik. Sebagian
besar masyarakat menyatakan cukup puas dengan pelayanan yang

18                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
diberikan puskesmas, walaupun masih ada biaya yang harus mereka
bayar. Kebijakan sistem insentif dapat memotivasi kerja petugas untuk
memberikan pelayanan yang baik kepada pasien. Dasar pemberiannya
masih ada yang berpendapat belum adil. Strategi / upaya puskesmas
untuk meningkatkan mutu pelayanan dengan cara :
o Mengintensifkan sosialisasi pelayanan gratis kerjasama dengan
   lintas sektor kecamatan dan kelurahan
o Merubah berbagai sistem mekanisme layanan
o Kemampuan puskesmas melakukan advokasi sistim anggaran
   sesuai kebutuhan operasional puskesmas langsung kepada eksekutif
   dan legislatif terlihat adanya peningkatan anggaran puskesmas
o Dipenuhinya peningkatan fasilitas fisik, sarana, dan alat kesehatan
   untuk menunjang perbaikan mutu pelayanan
Akses masyarakat miskin ke puskesmas masih rendah (rata-rata
kurang 15% per bulan). Pelayanan yang diberikan non diskriminatif
tetapi sama dengan pasien umum lainnya. Supervisi dilakukan oleh
Dinas Kesehatan dalam bentuk rapat/pertemuan bulanan di
puskesmas, tanya jawab, inspeksi sekilas, dan telaah laporan.
Supervisor belum mempunyai rencana yang jelas dan terarah dalam
mengatasi permasalahan puskesmas.

                                                            Saran
Kepada Pemerintah Kota, ada 3 alternatif yaitu : 1). Kebijakan gratis
tetap dilanjutkan, tetapi konsistensi anggaran terhadap penyediaan
logistik (trutama reagensia laboratorium) disiapkan sesuai
perencanaan kebutuhan puskesmas agar konsep gratis dapat terlaksana
sesuai aturan yang berlaku; 2). Kebijakan gratis tetap dilanjutkan,
tetapi jenis pelayanannya agar ditinjau kembali/revisi yang sesuai
dengan kemampuan dan komitmen Pemerintah Kota; 3). Kebijakan
gratis tetap dilanjutkan, semua puskesmas agar membuat kontrak
layanan (citizen’s charter) antara Pemerintah Kota dengan masyarakat
untuk menjamin hak dan kewajiban masing-masing pihak. Kebijakan
sistem insentif selain yang sudah ada sebaiknya juga berdasarkan
prestasi kerja/kinerja petugas. Puskesmas dan lintas sektor terkait
seperti PT Askes (Persero) agar meningkatkan sosialisasi terhadap
masyarakat miskin agar mendapatkan pelayanan puskesmas, misalnya
kerjasama penyuluhan dengan aparat kelurahan bahkan ke tingkat
RT/RW.



Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan              19
                                                 Daftar Pustaka
1. Ayuningtyas D : FKM-UI (2006), Sistem Pemberian Insentif yang
   Berpihak pada Sumber Daya Manusia Kesehatan di Daerah Ter-
   pencil (Studi Kasus Provinsi Lampung), Jurnal Manajemen Pe-
   layanan Kesehatan Vol.09, No.02 (6), hal. 90
2. Murti B : FK Universitas Sebelas Maret (2003), Mengembangkan
   Indikator Kualitas Pelayanan Kesehatan, Jurnal Manajemen Pe-
   layanan Kesehatan Vol.06, No.02, hal. 51
3. Yin R.K, (2002) : Studi Kasus, Desain dan metode : Jakarta : PT
   Raja Grafindo Persada.
4. Utarini, A. (2007) :    Metode      Penelitian Kualitatif di Bidang
   Kesehatan
5. (Modul Mata Kuliah), Program Pascasarjana, UGM                 :
   Yogyakarta
6. Alwasilah, A.C (2002) : Pokoknya Kualitatif, Dasar-dasar
   Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif : Bandung :
   Pustaka Jaya
7. Sujatmiko,A.H (2006) Analisis Pemanfaatan Pelayanan
   Kesehatan bagi Masyarakat Miskin di Kabupaten Kutai
   kartanegara, Tesis, Pascasarjana UGM Yogyakarta
8. Departemen Kesehatan [Depkes RI] (2004)              Kebijakan Dasar
   Pusat Kesehatan Masyarakat
9. Elfian, (2006) Penerimaan Sistem Pelayanan Gratis oleh Dokter
   dan Perawat di Puskesmas kecamatan Zampar, Tesis,
   Pascasarjana UGM Yogyakarta
10. Dunn,W.N (2000) Pengantar Analisis Kebijakan Publik, edisi
    kedua : Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
11. Sugiyanto et al. (2001) Analisis Kebijakan publik, Jakarta :
    Lembaga Administrasi Negara-RI
12. Handoko,T,Hani (2001) Manajemen Personalia dan Sumberdaya
    Manusia, edisi kedua, Yogyakarta BPFE

20                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
13. Dwiyanto,A (2005) Mewujudkan Good Governance Melalui
    Pelayanan Publik : Yogyakarta : Gadjah Mada University Press
14. Departemen Kesehatan [Depkes RI] (2006) Pedoman Pelaksanaan
    Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat Miskin (Askeskin)
15. Subarsono,A.G. (2005) Pelayanan Publik Yang efisien, Responsif,
    dan Non partisan. In : Dwiyanto,A edisi Mewujudkan Good
    Governance Melalui Pelayanan Publik : Gadjah Mada University
    Press
16. Tjiptono,F (2000) Manajemen Jasa , Yogyakarta : Andi Offset
17. Departemen Kesehatan [Depkes RI] (2007) Monitoring dan
    Bimbingan Teknis
18. Ramos,F.O (1995) Dynamic and Techniques of Supervision :
    Philipine : Academic Publishing Corporation
19. Dharma,A (1991) Manajemen Prestasi Kerja, cetakan kedua :
    Jakarta : Rajawali Press
20. Muntahaza,S (2004) Persepsi Masyarakat Menengah Atas
    terhadap Puskesmas di Sleman. Tesis, Pascasarjana UGM
    Yogyakarta
21. Saharudin (2005) Minat Pemanfaatan Pelayanan Pengobatan di
    Puskesmas Masat Kec. Pino Kab. Bengkulu Selatan. Tesis,
    Pascasarjana UGM Yogyakarta
22. Saimi (2005) Faktor-Faktor yang mempengaruhi Pemanfaatan
    Pelayanan Persalinan Gratis di Puskesmas Kabupaten Lombok
    Tengah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Tesis, Pascasarjana UGM
    Yogyakarta
23. Departemen Kesehatan [Depkes RI] (2002) Mutu Pelayanan
    Kesehatan
24. Wijono (1999) Manajemen Mutu Pelayanan Kesehatan, volume 1
    : Surabaya : Airlangga University Press
25. Sarwono, (1992) Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep dan
    Aplikasinya, Yogyakarta : Andi Offset


Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan              21
                                                                     Lampiran
 Tabel 1. Dokumen yang di Observasi dalam rangka Kebijakan
    Pelayanan Kesehatan Dasar Gratis Tahun 2006 – 2007

Dokumen yang di Observasi                          Hasil Observasi
                               Dinas Kesehatan    Puskesmas     Puskesmas    Puskesmas
                                                  Banjarbaru     Cempaka    Landasan Ulin

 Dokumen ttg kebijakan             Ada             Ada           Ada           Ada
 yankes dasar gratis (SK)
  Dokumen ttg Petunjuk             Ada             Ada           Ada           Ada
Teknis yankes dasar gratis
 Dokumen ttg Tunjangan             Ada             Ada           Ada           Ada
Kinerja Daerah (SK 2006)
 Dokumen ttg Pemberian             Ada             Ada           Ada           Ada
  tambahan penghasilan
     (revisi SK 2006)
Laporan bulanan (SP2TP)     Ada                   Ada           Ada          Ada
Lap. bulanan yan gratis   Ada tdk                Ada tdk       Ada tdk      Ada tdk
                            lkp                    lkp           lkp          lkp
Dok.Anggrn.(RASK/DASK)      Ada                   Ada           Ada          Ada
     Profil Kesehatan       Ada                   Ada           Ada          Ada
     Laporan Tahunan        Ada                   Ada           Ada          Ada
  Laporan Kinerja th 2006   Ada                   Ada           Ada          Ada
  Notulen rapat bulanan/   Tidak                 Ada tdk       Ada tdk      Ada tdk
lokakarya mini puskesmas    ada                    lkp           lkp          lkp

Sumber Dinas Kesehatan Kota dan Puskesmas




     Tabel 2. Dana Operasional Melalui DASK Puskesmas Tahun
                            2005-2007
                                      Jumlah Dana ( Rp )


22                           Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
             Sebelum gratis                Setelah gratis
  Puskesmas
              2005        %       2006        %        2007       %
                        trend               trend               trend
Banjarbaru 183.708.500     -   220.382.000 19,96 244.062.000    32,85
                                           (naik)               (naik)
Cempaka 179.235.000        -   344.279.500 92,08 246.899.750    37,75
                                           (naik)               (naik)
Land Ulin 117.677.700        - 276.338.000 134,83 207.122.000   76,01
                                            (naik)
                                                                (naik)
Sumber DASK Puskesmas




   Tabel 3. Matrik strategi / Upaya Puskesmas pada Kebijakan
                               Gratis
                                           Puskesmas

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan             23
  Strategi/                 Banjarbaru                              Cempaka                           Landasan Ulin
   Upaya
     Sosialisasi        Siaran / penyuluhan didalam           Membuat selebaran /informasi           Membuat selebaran /informasi
     Pelayanan         gedung puskesmas oleh tenaga            ditempelkan didepan loket              ditempelkan didepan loket
                        penyuluh setiap hari selama 2                 pendaftaran                            pendaftaran
                                 bulan gratis.                melalui kegiatan lintas sektor         melalui kegiatan lintas sektor
                        Membuat selebaran /informasi
                      tentang pelayanan gratis di setiap
                             tingkat pelayanan.
                            bantuan lintas sektor
   Mekanisme
   Layanan :
 Cara mendapat                Sistem antrian                         Sistem antrian                          Sistem antrian
    layanan            membuat alur pelayanan jelas                alur pelayanan jelas                alur pelayanan dibuat jelas
  Medical status      masih menggunakan family folder                                              menggunakan sistem indeks yaitu
                       disusun per alamat kelurahan        menggunakan family folder + buku       satu pasien dapat satu kartu berobat
                                                             register bantu per kelurahan         buat buku bantu register per alamat
                                                                                                               kelurahan
Ruang pelayanan       pembagian ruang poli pemeriksaan
                      menjadi poli umum dewasa, anak,       pembagian ruang poli pemeriksaan      pembagian ruang poli pemeriksaan
                         gigi, KIA, KB, Gizi, MTBS          menjadi poli umum dewasa +anak,       menjadi poli umum dewasa, anak,
                          layanan obat subsidi silang             gigi, KIA+KB, Gizi                 gigi, KIA+KB, Gizi+MTBS
Pelayanan apotik        apotik dilayani masing-masing                                                pelayanan obat subsidi silang
                       petugas khusus untuk Askeskin,          layanan obat subsidi silang          apotik dilayani 3 orang petugas
                           Askes dan Umum Gratis             apotik dilayani 1 orang petugas
                            tersedia tetapi tdk gratis
                            reagensia / bahan dibeli                                                   tersedia tetapi tdk gratis
    Pelayanan                      puskesmas                                                      reagensia / bahan dibeli puskesmas
  laboratorium                                                  tersedia tetapi tdk gratis
                      tdk ada pelayanan dokter spesialis   reagensia / bahan dibeli puskesmas     kunjungan dokter spesialis 1x/bulan
Pelayanan spesialis
                       pelayanan Pustu oleh dokter dg      kunjungan dokter spesialis 1x/bulan        pelayanan Pustu oleh dokter
 Pelayanan Pustu               sistim rolling                                                            terjadwal 2 hari sekali
                                                               pelayanan Pustu oleh bidan /
                                                                        perawat

     Mekanisme        Advokasi oleh Kepala Puskesmas       Advokasi oleh Kepala Puskesmas dg      Advokasi oleh Kepala Puskesmas dg
     Anggaran             dg eksekutif dan legislatif             eksekutif dan legislatif             eksekutif dan legislatif
     Puskesmas         Masing-masing puskesm punya           Masing-masing puskesm punya            Masing-masing puskesm punya
                               DASK sendiri                           DASK sendiri                          DASK sendiri
  Fasilitas fisik,       Penambahan dan perbaikan           Peningkatan dan perbaikan fasilitas   Penambahan sarana transportasi roda
 sarana dan alat              fasilitas gedung.                          gedung                              2, komputer.
    kesehatan         Penambahan sarana transportasi       Penambahan sarana transportasi roda
                        roda 4 dan roda 2, komputer.                  2, komputer.
                         Penambahan alat kesehatan.

Sumber Data Primer




                   Tabel 4. Matrik Aspek yang Dilakukan Supervisi
                                                                        Puskesmas
   Aspek yang                        Banjarbaru                          Cempaka                        Landasan Ulin


24                                                Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
  disupervisi
 Kesesuaian                11 item         11 item           11 item
ruang lingkup       pelayanan sesuai pelayanan sesuai pelayanan sesuai
  pelayanan         1 item pelayanan 1 item pelayanan 1 item pelayanan
    gratis              tidak sesuai    tidak sesuai      tidak sesuai
                    (pemeriksaan lab (pemeriksaan lab (pemeriksaan lab
                       bayar sesuai     bayar sesuai     bayar sesuai
                       Perda) tetapi    modal awal)      Perda) tetapi
                     tidak disetorkan    tetapi tidak  tidak disetorkan
                                          disetorkan
 Kesesuaian                Sesuai       Tidak sesuai     Tidak sesuai
 pelaksanaan         persyaratan ada persyaratan (tdk persyaratan (tdk
     dan                  KTP/KK      ada KTP / KK)     ada KTP / KK)
 persyaratan
  pelayanan

  Kesesuaian         Laporan dikirim       Laporan hanya     Laporan hanya
 laporan dan           setiap bulan        dikirim pada 3    dikirim pada 3
 pelaksanaan          sesuai format        bulan pertama     bulan pertama
                                                gratis            gratis

 Dampak dan            Kunjungan             Kunjungan      Kunjungan stabil
   manfaat             meningkat             meningkat        Kekurangan
  pelayanan            Kekurangan            Kekurangan        reagensia
    gratis              reagensia             reagensia
Sumber Data Primer




    Tabel 5. Jumlah Pemeriksaan Laboratorium Sederhana di
              Puskesmas Tahun 2006-2007 (s/d Juli)



Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                      25
Jenis Pemeriksaan     2006/Puskesmas             2007 s/d Juli/Puskesmas
  Laboratorium      Bjb    Cpk    LU              Bjb      Cpk       LU
  Darah Rutin :
        LED          153      62        0          47        126         0
        HB          1043     868       682        494        539        520
      Leukosit        0       78        0           2        137         0
      Erytrosit       0       67        0           0         0          0
   Homogram           0       0         0           0         0          0
  Urine Rutin :
    - Reduksi       1230     420       519        504        412        226
   - Albumin         859     268       420       6407        367        138
   - Sedimen         248      74        0         119        114          0
     - PP Tes        426     233        0         211        122         71
Pemeriksaan Tinja
                     0       412        0          1          0          0
Sumber Register Laboratorium Puskesmas



Tabel 6. Jumlah Kunjungan yang Memiliki KTP dan Tanpa KTP
           pada Puskesmas Bulan Maret s/d Juni 2006
 Puskesmas                        Jumlah Kunjungan
                KTP/KK        %      Tanpa     %             Jumlah       %
                                     KTP
 Banjarbaru     30.292       100       -       -             30.292      100
  Cempaka       18.694      88,05    2.537   11,95           21.231      100
Landasan Ulin   5.557       25,02 16.650 74,98               22.207      100
Sumber Laporan Bulanan Puskesmas




     Tabel 7. Jumlah Kunjungan Puskesmas pada Pelayanan Ke-
       sehatan Dasar Gratis Tahun 2006 – s/d Juli 2007


26                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Puskes-                 Maret s/d Des 2006                                  Jan s/d Juli 2007
 mas
            Aske-     Askes    Umum        LW       Jumlah    Aske-     Askes    Umum        LW      Jumlah
             skin                                              skin
Banjar-    3121      15.592    30.127    1.985     50.825    1.756     10.062    24.236    1.471    37.525
baru       (6,2%)    (30,7%)   (59,3%)   (3,9%)    (100)     (4,7%)    (26,8%)   (64,6%)   (3,9%)   (100)




Cempaka    2772      1.466     20.349              24.587    2.536     1.221     15.788             19.545
           (11,3%)   (5,96%)   (82,8%)         -   (100)     (12,9%)   (6,24%)   (80,8%)      -     (100)




           1759      2.597     28.148    554       33.058    769       1.004     15.779    1.154    18.706
Landasan
Ulin       (5,3%)    (7,9%)    (85,1%)   (1,7%)    (100)     (4,1%)    (5,4%)    (84,4%)   (6,2%)   (100)




Sumber Laporan Bulanan Puskesmas




 Tabel 8. Cakupan Pelayanan, Manajemen dan Mutu Puskesmas
                         Tahun 2006
  Komponen Kegiatan                             Puskesmas/Hasil Cakupan (%)
                                         Banjarbaru       Cempaka     Landasan Ulin
 Cakupan Pelayanan                          87,14           81,83          94,47
                                          (cukup)         (cukup)         (baik)
  Promosi Kesehatan                         51,41           52,30          61,68
Kesehatan Lingkungan                        97,81           98,29         160,63
       KIA-KB                               85,04           60,90          39,42
 Perbaikan Gizi Masy                        59,37           53,40          47,26
        P3M                                 65,67           80,82         124,40
     Pengobatan                            176,06          166,34         165,50
 Kesehatan Pengem-                          74,59           60,73          62,41
       bangan

Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                                        27
      Manejemen            8,6               7,8                9,3
      Puskesmas          (baik)            (cukup)            (baik)
     Mutu Pelayanan        8,9               8,2                8,7
                         (baik)            (cukup)            (baik)
Sumber Laporan Kinerja Puskesmas




28                     Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan

						
Related docs
Other docs by tcm16179