Docstoc

Degenerasi Paradigma Pelajaran Sejarah

Document Sample
Degenerasi Paradigma Pelajaran Sejarah Powered By Docstoc
					                   Degenerasi Paradigma Pelajaran Sejarah (Belum)

      Katanya, pendidikan merupakan salah satu hal yang fundamental dalam
membangun negara. Pernyataan ini didukung dengan argumen yang cukup logis,
bahwasanya jika masyarakat dari suatu negara diisi dengan orang-orang yang pintar dan
berpendidikan, maka orang-orang pintar tersebut bisa menggunakan kepintarannya untuk
membangun bangsanya agar menjadi lebih baik, dan bukannya justru menjadikan bangsa
sebagai alat untuk meraih kepentingan individu.

       Atas dasar itu, dibangunlah yang namanya sekolah untuk memberikan pendidikan
kepada masyarakat. Dibentuk pula bagian dalam pemerintahan yang mengurusi hal terkait.
Di sekolah, masyarakat diberikan berbagai macam pelajaran untuk memenuhi kebutuhan
pendidikan mereka. Begitu pula yang terjadi di Indonesia. Sekolah-sekolah di Indonesia
menawarkan berbagai macam pelajaran yang bisa dinikmati oleh para pelajarnya.
Macamnya pun beragam, dari Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris, Teknologi
Informasi dan Komunikasi, hingga Seni Musik dan lain sebagainya. Dari sekian banyak
pelajaran yang ditawarkan, ada salah satunya yang bernama pelajaran sejarah.

       Sesuai namanya, pelajaran Sejarah mengajarkan akan masa lampau bagi para
pelajar, bisa jadi masa lalu bangsa, bisa jadi masa lalu dunia. Katanya, pelajaran ini berguna
bagi mereka agar mengetahui apa yang terjadi di masa lampau dan bisa menyerap hal baik
darinya serta menghindari terulangnya hal buruk di masa lalu. Sesuai kata pepatah,
“belajar dari Sejarah”. Maksudnya sih baik.

       Tapi ternyata, metode pembelajaran Sejarah yang diberikan pada umumnya di
negeri ini justru bukannya mendidik. Justru pembelajaran dari masa lampau ini saya bilang
cenderung jadi pembodohan. Yang membencinya pun tak sedikit. Seperti yang sudah kita
tahu — dan para pelajar senior lainnya tahu –yang namanya pelajaran Sejarah itu penuh
dengan hapalan fakta-fakta yang terjadi di masa lampau. Juga sarat dengan nama-nama
yang telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini maupun yang telah mengombang-
ngambing negara dengan pemberontakannya; macamnya Sultan Hasanuddin dan Soekarno
hingga Dipa Nusantara Aidit meskipun saya tidak yakin para pelajar sekarang hapal
dengan baik masing-masing wajah mereka. Dan jangan lupa juga yang sering membuat
pelajar gerah mempelajari pelajaran ini, yaitu tahun-tahun berdigit empat yang senantiasa
keluar di soal ulangan.

       Dari sini, kelihatannya pelajaran Sejarah memang paling membuat gerah. Butuh
otak superkomputer atau roti ajaib punya Doraemon supaya bisa menghapal hal-hal itu
dengan sempurna, apalagi kalau sudah masuk hapalan tahun terjadinya suatu peristiwa.
Tapi berhubung keduanya tidak mungkin dipunyai — setidaknya hingga tulisan ini dibuat
maka harus cari cara lain. Mungkin bisa dengan menghabiskan waktu berjam-jam
memelototi buku pelajaran Sejarah yang konon membosankan, atau kalau ngga mau repot,
silakan siapkan buku catatan yang disembunyikan di kolong meja supaya bisa dilirik
setelah guru membagikan soal ulangan.
        Apa boleh buat, kurikulum dan pemerintah mewajibkan soal ulangan hapalan, jadi
kalau masih mau naik kelas ya harus punya trik untuk mengatasi hal itu. Yang penting naik
kelas, terus nanti lulus, dan kalau sudah tinggal masuk sekolah atau universitas bagus. Mau
nantinya jadi koruptor atau tukang jualan bakso urusan belakang, yang penting masuk UI
dulu. Nah, itulah mengapa di awal tulisan ini saya sebut-sebut metode macam ini sebagai
pembodohan, atau degenerasi pola pikir seperti tertulis pada judul. Gara-gara pikiran yang
seperti itu, para pelajar yang notabene remaja itu jadi punya pikiran sempit. Apa kata buku,
dituruti saja.

       Mengapa bisa begitu? Begini saja. Pertama, perlu diketahui bahwa metode yang
dimaksud disini adalah apa yang dikenal dengan metode hapalan dan textbook-oriented.
Nah, karena yang dijadikan acuan adalah buku teks, maka para pelajar akan mengikuti apa
yang dikatakan oleh buku tersebut. Sampai disini sebenarnya masih belum ada masalah.
Yah, kita juga kalau baca suatu buku non-fiksi yang memuat pengetahuan yang kita belum
tahu dan masih kita anggap sebagai suatu hal yang benar, nantinya juga pasti akan
mengutip juga dari buku itu.

       Yang jadi masalah adalah ketika dalam proses pembelajaran Sejarah ini, seorang
pelajar dituntut memberikan jawabannya dari berbagai soal yang diajukan oleh sang guru,
yang mana jawabannya mengacu pada buku itu secara sepenuhnya. Mengerti maksudnya?
Jadi yang diorientasikan adalah bukunya itu sendiri, dan bukan bahan sejarah yang
sebenarnya. Istilah kasarnya, mendewakan buku teks. Hal ini yang berakibat menjadi
sempitnya pola pikir para pelajar, karena gara-gara mendewakan buku teks itu, tentunya
mereka tidak bisa membantah apa yang dikatakan oleh buku teks, dong? Ibaratnya, masa
mau menentang apa kata dewa? Bisa-bisa disambar petir atau dijebloskan ke dasar neraka.

       Nah, ini yang gawat. Kalau panduannya hanya buku teks semata, apa yang tertempel
di otak para pembaca ya apa yang dikatakan oleh si buku. Kalau buku berkata X, ya pelajar
juga ikut berkata X, berhubung mereka memang sudah dipola untuk tidak membantah
buku teks karena guru juga berbasis pada buku teks itu, dan tentunya soal ulangan juga
berbasis pada buku yang sama. Tambah gawat lagi jika buku teksnya ternyata isinya
ngawur. Misalnya memuat bahwa segala fosil manusia purba itu cuma rekaan belaka. Atau
justru dipakai untuk kepentingan politik, macamnya zaman Pak Soeharto dulu. Tambah
hancur saja lah pikiran para pelajar.

      Dari sini, mungkin akan ada yang protes dengan pendapat ini. Mungkin akan
berbunyi semacam ini: “Mungkin memang benar bahwa pelajaran Sejarah terlalu
mendewakan buku teks, tapi kalau cuma gara-gara itu tentunya tidak akan mengakibatkan
pembodohan atau degenerasi pola pikir, dong? Bagaimana dengan pelajaran yang lain, yang
sama-sama mendewakan buku teks?”

        Wah, pelajaran apa dulu nih? Ekonomi? Dia sudah punya ‘rumusan’ tersendiri, mas,
ada istilah-istilah dan aturan main yang memang harus dipatuhi. Biologi? Kecuali Anda
ngerti ini-itu namanya organ apa dan bisa mengawin-silangkan alien dengan beruang, lihat
buku teks dulu, deh. Matematika? Itu mah memang rumus-rumus, bung. Mau menyaingi
teorema Pythagoras, ha? Bagaimana dengan Bahasa Indonesia? Ah, silakan pikir itu
pembodohan jika ente mau buat bahasa gaul.

       Ini pelajaran Sejarah, mas-mas dan mbak-mbak sekalian. Pelajaran yang menilik
peristiwa yang terjadi di masa lampau. Jika kita hanya bisa mendewakan satu bahan saja
tanpa melirik yang lain, mau jadi apa? Pikiran kita pun hanya terikat pada satu bahan saja,
berhubung soal ulangan tidak membutuhkan referensi dari berbagai media lainnya. Yang
dibutuhkan hanya apa yang disebutkan di buku teks. Titik habis.

       Ya, ya, mungkin masih bisa dimaklumi jika hal macam itu disuguhkan sebagai
hidangan para pelajar yang masih berada di tingkat pendidikan Sekolah Dasar. Maklum,
masih anak kemarin sore. Bagaimana pun, manusia butuh dasar pengetahuan untuk
dijadikan landasan untuk berangkatnya nanti, yang mana masih bisa ditambal disana-sini
nantinya. Tapi hal serupa tak bisa diterapkan lagi bagi pelajar yang sudah menginjak
tingkat Sekolah Menengah Pertama, apalagi Sekolah Menengah Atas. Butuh peningkatan.
Lalu, harus bagaimana metode pelajaran Sejarah yang benar? Jawabannya: diskusi dan
analisis. Pepatah bilang, “kita belajar dari Sejarah”. Pemimpin besar yang sukses semacam
Adolf Hitler — abaikan nama buruknya dalam hal ini — juga belajar dari sejarah. Tapi
apakah dia hanya memelototi arsip sejarah yang dia punya? Apakah dia hanya mendengar
cerita-cerita masa lalu dan menghapalkan urutan peristiwanya saja?

       Tentu tidak. Kalau dia hanya melakukan hal itu, maka Hitler mungkin hanya akan
menjadi perpustakaan berjalan. Ia bisa menjadi seorang pemimpin besar karena ia
menganalisis apa yang terjadi di masa lampau, dan dengan itu dia membangkitkan Jerman
dari kekalahannya setelah Perang Dunia I. Lagipula, apakah dengan metode hapalan
konservatis yang bisa membuat Anda hapal rentetan kejadian pada Perang Puputan,
misalnya, akan berguna bagi pekerjaan di masa mendatang? Kecuali Anda mau jadi
sejarawan, saya rasa gunanya akan jadi sangat minimal. Anda mungkin justru sudah
melupakannya ketika sudah terbebas dari kewajiban yang mengharuskan Anda belajar
pelajaran Sejarah.

        Hal ini akan berbeda jika pelajaran Sejarah menggunakan metode analisis dan
diskusi. Mungkin rasanya memang sangat sulit pada awalnya, ketika kita yang sudah
didoktrin untuk menghapal barisan angka 4 digit, kini harus menganalisis segala hal yang
tidak jelas. Tapi yang namanya awal, memang selalu susah. Seperti balita yang baru belajar
berjalan, tentunya sulit melakukannya pada awalnya, kan? Namun jika sudah terbiasa,
maka akan biasa. Tidak seperti metode hapalan yang terpaku pada bahan dan fakta yang
sudah ada, analisis justru mengira-ngira penyebab dan akibat dari suatu fakta sejarah yang
disediakan. Seperti misalnya, mengapa Jerman bisa bangkit dari kemiskinan dengan cepat
setelah Perang Dunia I? Atau bagaimana jika Jerman Nazi yang berhierarki militer itu masih
jaya hingga sekarang? Dari proses analisis itu, nantinya bisa dikembangkan menjadi diskusi
tersendiri. Hal ini tak bisa atau sulit ditemui dalam metode hapalan yang konservatis.

       Yang menguntungkan lagi, rasa-rasanya metode ini bisa cukup menghindarkan
terjadinya proses belajar yang sudah umum di masyarakat kita. Apalagi kalau bukan
menyontek dan kerja sama berbagi jawaban? Jika metode ini didukung dengan lembar
jawaban esai dan bukannya pilihan ganda ketika ulangan, tentunya para pelajar terpaksa
harus berpikir sendiri dengan kemampuan analisisnya. Macamnya soal esai lainnya,
menyontek dan apalagi berbagi jawaban pun sulit, berhubung jawaban yang bagus pasti
panjang-panjang dan detil.

        Jika kemampuan menganalisis dan diskusi ini sudah dilatih sejak berada di jenjang
pendidikan Sekolah Menengah, tentunya metode ini akan jauh lebih berguna dibandingkan
metode hapalan yang sebelumnya. Hapalan akan terlupakan ketika pelajarannya sudah
tidak terpakai lagi. Tapi ini? Kemampuan analisis ini tentunya tidak hanya bisa digunakan
pada pelajaran Sejarah, tapi juga bisa digunakan secara luas. Lebih bagus lagi jika ternyata
sanggup menghindarkan terjadinya fallacy. Pelajar jadi bisa berpikir lebih kritis daripada
asal jeplak seperti yang terjadi sekarang.

        Tentunya Anda tahu bahwa sedang tren sekarang — entah disadari atau tidak —
macam-macam gaya pengucapan yang digunakan oleh para remaja. Macamnya penjelasan
yang berbunyi: “gitu-gitu deh”, “ya gitu deh”, atau alasan asal yang berbunyi: “ngga tau deh”,
“soalnya keren aja”, dan berbagai macam sebagainya bisa disebabkan karena kurangnya
sifat kritis remaja ini. Mungkin alasan saya terdengar konyol dan sepele, tapi memang
benar adanya menurut saya. Mereka tidak bisa menjelaskan dengan baik apa yang ada di
pikiran mereka, karena itu jawaban yang dilontarkan seringkali terdengar cacat dan asal.

        Pemikiran dan alasan yang konyol dan tidak berpikir secara mendalam pun saya
rasa dapat terjadi karena kurangnya kebiasaan untuk menganalisis. Seperti misalnya
dihadapkan pada pernyataan bahwa lebih baik Indonesia dibom atom daripada tidak
merdeka 100% yang dilontarkan oleh seorang Jendral, seorang mungkin akan menjawab
bahwa pernyataan itu sangat bodoh, tanpa ia berpikir kondisi dan situasi yang terjadi pada
kala itu. Singkatnya, penilaian dan generalisasi sepihak.

       Itu yang mengakibatkan terbelakangnya pemikiran remaja sekarang ini, kalau saya
bilang. Mengakibatkan degenerasi pada pola pikir dan menyempitnya cara berpikir
seseorang, yang mana nantinya hanya menghasilkan generasi hedonis macamnya generasi
MTV, generasi gamer abadi, atau justru generasi Friendster. Menyebabkan kurangnya
kepedulian remaja terhadap lingkungan sekitar karena kurangnya sikap kritis, bahkan
kurangnya perhatian terhadap bangsa sendiri.

       Berkaitan dengan kabar burung yang terdengar belakangan ini, bahwa akan
diselenggarakannya Ujian Nasional dengan mata pelajaran Sejarah bagi kelas 3 SMA
jurusan Ilmu Sosial, mungkin ada yang akan menolak keras metode ini. Mungkin ada yang
beranggapan bahwa metode ini akan sia-sia karena pada akhirnya pemerintah hanya akan
memberikan metode klasik yang entah kenapa tidak pernah diganti. Mungkin ada yang
beranggapan bahwa metode ini tidak sejelas metode konservatif gara-gara murid harus
menganalisis sendiri materinya. Mungkin ada yang takut metode ini kurang efektif. Kenapa
harus takut? Sebaliknya, saya rasa justru metode ini lebih efektif daripada metode klasik
garapan pemerintah. Adapun alasannya sudah saya jelaskan panjang lebar di paragraf-
paragaraf sebelumnya. Jika memang sang pelajar membaca dengan benar bahan-bahan
yang ada, baik dari buku acuan maupun dari media lainnya, bukankah dengan sendirinya
mereka juga mengetahui materi itu? Lagipula, yang diincar oleh para pelajar itu apa,
“ketika Ujian Nasional” atau “setelah Ujian Nasional”? Kalau yang diincar cuma ketika Ujian
Nasional aja, yah, bisa dimaklumi. Namanya juga cuma bisa mengejar nilai, bukan mengejar
ilmu. Makanya seperti tadi saya bilang, mau jadi koruptor atau tukang bakso sama saja,
yang penting masuk UI dulu.

       Hal sepele semacam inilah yang juga menghambat kemajuan bangsa ini. Takut akan
berubah, takut akan hilangnya metode lama yang dirasa justru menghambat kemajuan
generasi. Jika yang mau dirubah sendiri takut, mau jadi apa? Pengecut, kalau mau kasar.
Sejarah, layaknya ilmu pengetahuan yang lain, sungguh bisa membangkitkan cara berpikir
siswa selama dikembangkan dan diajarkan dengan benar. Selama sejarah masih terikat
pada dogma-dogma dan kata-kata yang tertera di buku teks, selama satu buah buku teks
masih didewakan sebagai acuan utama pelajaran sejarah, selama pelajar takut untuk
berubah demi mengejar nilai belaka; maka akan sulit mengembangkan pola pikir generasi
bangsa yang bagaikan katak dalam tempurung yang sempit, terkurung di dalam tempat
yang sama dan hanya melihat secercah cahaya yang masuk ke dalamnya.

       Tugas kita selanjutnya sebagai insani pendidikan, dapatkah kita menyampaikan visi
yang dan nilai terkandung dalam pelajaran sejarah kepada anak didik kita, agar kita tidak
terkatagori sebagai bangsa yang lupa akan sejarahnya, atau akan dikemanakan bangsa
yang besar ini dengan sejarahn yang sangat pajang dan pernah menglami kejayaan besar
pula?



...

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:54
posted:5/9/2010
language:Indonesian
pages:5