Docstoc

PAROTITIS

Document Sample
PAROTITIS Powered By Docstoc
					                                     BAB I
                               PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
         Parotitis merupakan penyakit infeksi pada anak-anak yang pada 30-40
    % kasusnya merupakan infeksi asimptomatik. Infeksi ini disebabkan oleh
    virus.     Infeksi terjadi pada anak-anak kurang dari 15 tahun sebelum
    penyebaran imunisasi. Penyebaran virus terjadi dengan kontak langsung,
    percikan ludah, bahan mentah mungkin dengan urin. Sekarang penyakit ini
    sering terjadi pada orang dewasa muda sehingga menimbulkan epidemi
    secara umum. Pada umumnya parotitis epidemika dianggap kurang menular
    jika dibanding dengan morbili atau varicela, karena banyak infeksi parotitis

    epidemika cenderung tidak jelas secara klinis.(1)

                 Dalam perjalanannya parotitis epidemika dapat menimbulkan
    komplikasi walaupun jarang terjadi. Komplikasi yang terjadi dapat berupa:
    Meningoencepalitis, artritis, pancreatitis, miokarditis, ooporitis, orchitis,
    mastitis, dan ketulian.(1,2,3,4,5,6)
             Insidensi parototis epidemika dengan ketulian adalah 1 : 15.000.(1)
    Meningitis yang terjadi berupa Meningitis aseptik. Insidensi dari parotitis
    Meningoencephalitis sekitar 250/100.000 kasus. Sekitar 10% dari kasus ini
    penderitanya berumur kurang dari 20 tahun.          Angka rata-tata kematian
    akibat parotitis Meningoencephalitis adalah 2%.(2)       Kelainan pada mata
    akibat komplikasi parotitis dapat berupa neutitis opticus, dacryoadenitis,
    uveokeratitis, scleritis dan trombosis vena central retina(1, 2) Gangguan
    pendengaran akibat paroitis epidemika biasanya unilateral, namun dapat
    pula bilateral. Gangguan ini seringkali bersifat permanen.(2,4).


I.2. Tujuan
         Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai parotitis epidemika, mulai
    dari etiologi, epidemiologi, patogenesis, manifestasi klinis, diagnosa
    banding, komplikasi, penatalaksanaan dan prognosisnya.




                                                                               1
                                       BAB II

                              TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Definisi

           Parotitis epidemika ialah penyakit virus akut yang biasanya menyerang

     kelenjar ludah terutama kelenjar parotis (sekitar 60% kasus). Gejala khas

     yaitu pembesaran kelenjar ludah terutama kelenjar parotitis. Pada saluran

     kelenjar ludah terjadi kelainan berupa pembengkakan sel epitel, pelebaran

     dan penyumbatan saluran. Menyerang pada anak dibawah usia 15 tahun

     (sekitar 85% kasus).(2,3,4,5,6)



II.2 Etiologi

           Agen penyebab parotitis epidemika adalah anggota dari group

     paramyxovirus, yang juga termasuk didalamnya virus parainfluenza,

     measles,   dan   virus    newcastle   disease.(2)    Ukuran    dari   partikel

     paramyxovirus sebesar 90 – 300 mµ. Virus ini mempunyai dua komponen

     yang sanggup memfiksasi, yaitu : antigen S atau yang dapat larut (soluble)

     yang berasal dari nukleokapsid dan antigen V yang berasal dari

     hemaglutinin permukaan (2)

           Virus ini aktif dalam lingkungan yang kering tapi virus ini hanya dapat

     bertahan selama 4 hari pada suhu ruangan. Paramyxovirus dapat hancur

     pada suhu <4 ºC, oleh formalin, eter, serta pemaparan cahaya ultraviolet

     selama 30 detik.(3)




                                                                                 2
II.3 Epidemiologi



          Parotitis merupakan penyakit endemik pada populasi penduduk urban.

     Virus menyebar melalui kontak langsung, air ludah, muntah yang bercampur

     dengan saliva, dan urin. Epidemi tampaknya terkait dengan tidak adanya

     imunisasi, bukan pada menyusutnya imunitas.(2)         Parotitis merupakan

     penyakit endemik pada komunitas besar, dan menjadi endemik setiap kurang

     lebih 7 tahun. Relatif jarang terjadi epidemi, terbatas pada kelompok yang

     berhubungan erat , yang hidup dalam rumah, perkemahan, barak-barak

     tentara, atau sekolah.   Ada penurunan insiden sejak pengenalan vaksin

     parotitis epidemika pada tahun 1968.(3)

          Dalam setahun, parotitis banyak terjadi pada musim dingin. Golongan

     umur yang terkena 5 – 15 tahun. Juga ditemukan pada usia dibawah 30

     tahun. Parotitis kadang juga terjadi pada usia dibawah 4 tahun dan diatas 40

     tahun. Namun meskipun demikian, pada daerah yang terisolasi atau daerah

     yang tidak ada sejarah pernah endemik parotitis ditemukan kejadian parotitis

     pada usia dibawah 1 tahun sebesar 17% dan umur 3 – 4 tahun sebesar 70% -

     80%. Gender juga berpengaruh terhadap angka kejadian parotitis. Laki-laki

     lebih sering terkena parotitis dibandingkan perempuan.(3)



II.4 Patogenesis

          Masa inkubasi 15 sampai 21 hari kemudian virus berreplikasi di dalam

     traktus respiratorius atas dan nodus limfatikus servikalis, dari sini virus




                                                                               3
     menyebar melalui aliran darah ke organ-organ lain, termasuk selaput otak,

     gonad, pankreas, payudara, thyroidea, jantung, hati, ginjal, dan saraf

     otak.(1,2,3,4,7)

          Setelah masuk melalui saluran respirasi, virus mulai melakukan

     multiplikasi atau memperbanyak diri dalam sel epithel saluran nafas. Virus

     kemudian menuju ke banyak jaringan serta menuju kekelenjar ludah dan

     parotis.(2,3,7)

          Bila testis terkena maka terdapat perdarahan kecil dan nekrosis sel

     epitel tubuli seminiferus. Pada pankreas kadang-kadang terdapat degenerasi

     dan nekrosis jaringan.(6)

          Adenitis kelenjar liur merupakan manifestasi dari viremia awal.

     Viruria biasanya terjadi, dan disertai oleh gangguan ginjal.(7)



II.5 Manifestasi klinik

          Masa inkubasi berkisar antara 14 - 24 hari, dengan puncak pada 17 -

     18 hari dan rata-rata selama 18 hari.      Batasan paling lama untuk masa

     inkubasi yaitu 8 sampi 30 hari. Pada anak, manifestasi prodormal jarang

     tetapi mungkin bersama dengan demam, nyeri otot (terutama pada leher),

     nyeri kepala, anorexia, dan malaise. (1,2,3,4,5,6,8)

          Suhu tubuh biasanya naik sampai 38,5 – 39,5 C, kemudian timbul

     pembengkakan kelenjar parotitis yang mula-mula unilateral tetapi kemudian

     bilateral.(2,4). Pembengkakan tersebut terasa nyeri baik spontan maupun

     pada perabaan, terlebih-lebih jika penderita makan atau minum sesuatu yang




                                                                             4
     asam, ini merupakan gejala khas untuk penyakit parotitis epidemika. Ciri

     khas lain adalah kelenjar parotitis membengkak sampai kebelakang (6,7,8).

          Pembengkakan dapat terjadi dengan cepat biasanya puncaknya pada 1-

     3 hari dan pembengkakan menghilang dalam satu minggu setelah

     pembengkakan maksimal. Pembengkakan jaringan mendorong lobus telinga

     keatas dan keluar dari sudut mandibula tidak lagi dapat dilihat. Kulit diatas

     kelenjar yang membengakak tidak hangat atau eritem, berlawanan dengan

     tanda yang ditemukan pada parotitis bakteri. Pembengkakan perlahan-lahan

     menghilang dalam 8-10 hari. Satu kelenjar parotis biasanya membengkak

     sehari atau dua hari sebelum yang lain, tetapi lazimnya pembengkakan

     terbatas pada satu kelenjar (1,2,3,4,5,6,7,8)



II.6 Diagnosis

     1. Anamnesis

        Pada anamnesis didapatkan keluhan yaitu demam, nafsu makan turun,

        sakit kepala, muntah, sakit waktu menelan dan nyeri otot. Kadang

        dengan keluhan pembengkakan pada bagian pipi yang terasa nyeri baik

        spontan maupun dengan perabaan , terlebih bila penderita makan atau

        minum sesuatu yang asam.(1,2,3,4,5,6,7,8)

     2. Klinik

        1. Panas ringan sampai tinggi (38,5 – 39,5)°C

        2. Keluhan nyeri didaerah parotis satu atau dikedua belah fihak disertai

            pembesaran




                                                                                   5
   3. Keluhan nyeri otot terutama leher, sakit kepala, muntah, anoreksia

      dan rasa malas.

   4. Kontak dengan penderita kurang lebih 2-3 minggu sebelumnya (masa

      inkubasi 14-24 hari).

   5. Pada pemeriksaan fisik keadaan umum anak bervariasi dari tampak

      aktif sampai sakit berat.

   6. Pembengkakan parotis (daerah zygoma; belakang mandibula di depan

      mastoid) (5,6)

2. Laboratorium

   a. Darah rutin

      Tidak spesifik, gambarannya seperti infeksi virus lain, biasanya

      leukopenia ringan dengan limfositosis relatif, namun komplikasi

      sering menimbulkan leukositosis polimorfonuklear tingkat sedang

      (2,6,7,8)

   b. Amilase serum

      Biasanya ada kenaikan amilase serum, kenaikan cenderung dengan

      pembengkakan parotis dan kemudian kembali normal dalam kurang

      lebih 2 minggu.(2,6,8)

   c. Pemeriksaan serologis

      Ada tiga pemeriksaan serologis yang dapat dilakukan untuk

      menunjukan adanya infeksi virus, yaitu:

      » Hemaglutination inhibition (HI) test




                                                                           6
 Uji ini menerlukan dua spesimen serum, satu serum dengan onset

 cepat dan serum yang satunya di ambil pada hari ketiga. Jika

 perbedaan titer spesimen 4 kali selama infeksi akut, maka

 kemungkinannya parotitis.(3)

» Neutralization (NT) test

 Dengan cara mencampur serum penderita dengan medium untuk

 biakan fibroblas embrio anak ayam dan kemudian diuji apakah

 terjadi hemadsorpsi.        Pengenceran serum yang mencegah

 terjadinya hemadsorpsi dinyatakan oleh titer antibodi parotitis

 epidemika. Uji netralisasi asam serum adalah metode yang paling

 dapat dipercaya untuk menemukan imunitas tetapi tidak praktis dan

 tidak mahal.(2,6,8)

» Complement – Fixation (CF) test

 Tes fiksasi komplement dapat digunakan untuk menentukan

 jumlah respon antibodi terhadap komponen antigen S dan V bagi

 diagnosa infeksi parotitis epidemika akut.      Antibodi terhadap

 antigen V mencapai titer puncak dalam 1 bulan dan menetap

 selama 6 bulan berikutnya dan kemudian menurun secara lambat 2

 tahun sampai suatu jumlah yang rendah dan tetap ada.

 Peningkatan 4 kali lipat dalam titer dengan analisis standar apapun

 menunjukan infeksi yang baru terjadi. Antibodi terhadap antigen S

 timbul cepat, sering mencapai maksimum dalam satu minggu

 setelah timbul gejala, hilang dalam 6 sampai 12 minggu.(8)




                                                                  7
        d. Pemeriksaan Virologi

             Isolasi virus jarang sekali digunakan untuk diagnosis. Isolasi virus

             dilakukan dengan biakan virus yang terdapat dalam saliva, urin,

             likuor serebrospinal atau darah.(6)

             Biakan dinyatakan positif jika terdapat hemardsorpsi dalam biakan

             yang diberi cairan fosfat-NaCl dan tidak ada pada biakan yang diberi

             serum hiperimun.(6)

II.7 Komplikasi

    1. Meningoensepalitis

        Dapat terjadi sebelum dan sesudah atau tanpa pembengkakan kelenjar

        parotis. Penderita mula-mula menunjukan gejala nyeri kepala ringan,

        yang kemudian disusul oleh muntah-muntah, gelisah dan suhu tubuh

        yang tinggi (hiperpireksia).(6)

        Komplikasi ini merupakan komplikasi yang sering pada anak-anak

        Insiden yang sebenarnya sukar diperkirakan karena infeksi subklinis

        sistem syaraf sentral.

        Manifestasi klinis terjadi pada lebih dari 10% penderita patogenesis

        meningoensefalitis parotitis diuraikan sebagai berikut:

        a.   Infeksi primer neuron : parotitis sering muncul bersamaan atau

              menyertai encephalitis

        b. Ensefalitis pasca infeksi dengan demielinasi. Ensefalitis menyertai

              parotitis pada sekitar 10 hari.




                                                                               8
   Meningoencepalitis parotitis secara klinis tidak dapat dibedakan dengan

   meningitis sebab lain, ada kekakuan leher sedang, tetapi pemeriksaan

   lain biasanya normal. Pemeriksaan pungsi lumbal menunjukan tekanan

   yang meninggi, pemeriksaan Nonne dan Pandy positif, jumlah sel

   terutama limfosit meningkat, kadar protein meninggi, glukosa dan

   Cairan cerebrospinal baisanya berisi sel kurang dari 500 sel/mm³

   walaupun kadang-kadang jumlah sel dapat melebihi 2.000.             Selnya

   hampir selalu limfosit, berbeda dengan meningitis aseptik enterovirus

   dimana leukosit polimorfonuklear sering mendominasi pada awal

   penyakit.(2,6)

2. Ketulian

   Tulisaraf dapat terjadi unilateral, jarang bilateral walaupun insidensinya

   rendah (1:15.000), parotitis adalah penyebab utama tuli saraf unilateral,

   kehilangan pendengaran mungkin sementara atau permanen. (2,4)

3. Orkitis

   Komplikasi dari parotitis dapat berupa orkitis yang dapat terjadi pada

   masa setelah puber dengan gejala demam tinggi mendadak, menggigil

   mual, nyeri perut bagian bawah, gejala sistemik, dan sakit pada testis.

   Testis paling sering terinfeksi dengan atau tanpa epidedimitis. Bila testis

   terkena infeksi maka terdapat perdarahan kecil.          Orkitis biasanya

   menyertai parotitis dalam 8 hari setelah parotitis. Keadaan ini dapat

   berlangsung dalam 3 – 14 hari.(1) Testis yang terkena menjadi nyeri dan

   bengkak dan kulit sekitarnya bengkak dan merah. Rata-rata lamanya 4




                                                                            9
   hari. Sekitar 30-40% testis yang terkena menjadi atrofi.        Gangguan

   fertilitas diperkirakan sekitar 13%.     Tetapi infertilitas absolut jarang

   terjadi.(2,4,6).

4. Ooforitis

   Timbulnya nyeri dibagian pelvis ditemukan pada sekitar 7% pada

   penderita wanita pasca pubertas. (1,2,4)

5. Pankreatitis

   Nyeri perut sering ringan sampai sedang muncul tiba-tiba pada parotitis.

   Biasanya gejala nyeri epigastrik disertai dengan pusing, mual, muntah,

   demam tinggi, menggigil, lesu, merupakan tanda adanya pankreatitis

   akibat mumps. Manifestasi klinisnya sering menyerupai gejala-gejala

   gastroenteritis    sehingga     kadang   diagnosis   dikelirukan   dengan

   gastroenteritis.(1,2,4)

   Pankreatitis ringan dan asimptomatik mungkin terdapat lebih sering

   (sampai 40% kasus), terjadi pada akhir minggu pertama.(5)

6. Nefritis

   Kadang-kadang kelainan fungsi ginjal terjadi pada setiap penderita dan

   viruria terdeteksi pada 75%. Frekuensi keterlibatan ginjal pada anak-

   anak belum diketahui.         Nefritis yang mematikan, terjadi 10-14 hari

   sesudah parotitis.(2)

   Nefritis ringan dapat terjadi namun jarang. Dapat sembuh sempurna

   tanpa meninggalkan kelainan pada ginjal.(4)

7. Tiroiditis




                                                                           10
   Walaupun tidak biasa, pembengkakan tiroid yang nyeri dan difus dapat

   terjadi pada umur sekitar 1 minggu sesudah mulai parotitis dengan

   perkembangan selanjutnya antibodi antitiroid pada penderita.(2)

8. Miokarditis

   Manifestasi jantung yang serius sangat jarang terjadi, tetapi infeksi

   ringan miokardium mungkin lebih sering dari pada yang diketahui.(2)

   Miokarditis ringan dapat terjadi dan muncul 5 – 10 hari pada parotitis..

   Gambaran elektrokardiografi dari miokarditis seperti depresi segmen S-

   T, flattening atau inversi gelombang T. Dapat disetai dengan takikardi,

   pembesaran jantung dan bising sistolik.(3,7)

9. Artritis

   Jarang ditemukan pada anak-anak.        Atralgia yang disertai dengan

   pembengkakan dan kemerahan sendi biasanya penyembuhannya

   sempurna.(2)

   Manifestasi lain yang jarang tapi menarik pada parotitis adalah

   poliarteritis yang sering kali berpindah-pindah. Gejala sendi mulai 1

   sampai 2 minggu setelah berkurangnya parotitis. Biasanya yang terkena

   adalah sendi besar khususnya paha atau lutut. Penyakit ini berakhir 1

   sampai 12 minggu dan sembuh sempurna.(7)

10. Kelainan pada mata

   Komplikasi ini meliputi dakrioadenitis, pembengkakan yang nyeri,

   biasanya bilateral, dari kelenjar lakrimalis; neuritis optik (papillitis)

   dengan gejala-gejala bervariasi dari kehilangan pengelihatan sampai




                                                                         11
        kekaburan ringan dengan penyembuhan dalam 10 – 20 hari;

        uveokeratitis, biasanya unilateral dengan fotofobia, keluar air mata,

        kehilangan penglihatan cepat dan penyembuhan dalam 20 hari; skleritis,

        tenonitis, dengan akibat eksoftalmus ; trombosis vena sentral.(2)

    11. Embriopati parotitis

        Tidak terdapat bukti yang kuat bahwa infeksi ibu menciderai janin,

        kemungkinan hubungan endokardial fibroelastosis belum ditegakkan.

        Parotitis pada awal kehamilan kemungkinan dapat terjadi abortus.(2,7)



II.8 Diagnosis Banding

    1. Parotitis yang disebabkan oleh infeksi HIV, influenza, parainfluenza 1

        dan 3 dan sitomegalovirus.(2)

    2. Pembesaran kelenjar parotis asimptomatik

        Disebabkan oleh kelainan metabolik dan nutrisi seperti diabetes mellitus,

        kwasiorkor, malnutrisi, obesitas dan sirosis.(3)

    3. Pembesaran kelenjar parotis simptomatik

        Pembesaran kelenjar parotis akibat operasi.(3)

    4. Parotitis supuratif

        Disebabkan oleh bakteri dan ditemukan pus yang keluar dari duktus

        kelenjar. Penyebabnya dari otitis media atau mastoiditis.(2,3)

    5. Parotitis berulang

        Suatu keadaan yang sebabnya belum diketahui, tapi mungkin bersifat

        alergi yang sering berulang dan mempunyai sialogram khas.(2)




                                                                                12
    6. Kalkulus salivarus

        Menyumbat saluran parotis atau lebih sering saluran sub mandibularis,

        menyebabkan pembengkakan intermitten.(1,2)

    7. Limfo sarkoma atau tumor parotis.(2)

    8. Adenitis servikal

        disebabkan    oleh   streptokokus,     difteria   bullneck,   mononukleosis

        infeksiosa, cat-scrach disease, angina ludwig dan selulitis kanalis

        auditorius eksterna. (2,7)

    9. Reaksi obat

        Obat sulfonamid atau yodium organik bisa menimbulkan pembengkakan

        parotid dan kelenjar salivaria lain disertai nyeri tekan.(5)       Parotitis

        iodium, biasanya terjadi setelah prosedur seperti urografi intravena.

        Obat    antihipertensi       seperti   guanetidin    dapat     menyebabkan

        pembengkakan parotis.(7)

    10. Sindroma Sjorgen

        Merupakan inflamasi kronik parotis dan kelenjar liur lainnya yang

        seringkali disertai dengan atrofi kelenjar lakrimalis dan paling sering

        terjadi pada wanita pascamenopause.(7)



II.9 Tatalaksana

    Parotitis merupakan penyakit yang bersifat self-limited (sembuh/hilang

    sendiri) yang berlangsung kurang lebih dalam satu minggu.(1) Tidak ada




                                                                                 13
terapi spesifik bagi infeksi virus “Mumps” oleh karena itu pengobatan

parotitis seluruhnya simptomatis dan suportif.(2,5)

1. Penderita rawat jalan.(5)

   Penderita baru dapat dirawat jalan bila : tidak ada komplikasi, keadaan

   umum cukup baik.

   a. Istirahat yang cukup

   b. Pemberian diet lunak dan cairan yang cukup

   c. Medikamentosa

   Analgetik-antipiretik bila perlu

   -   metampiron : anak > 6 bulan 250 – 500 mg/hari maksimum 2 g/hari

   -   parasetamol : 7,5 – 10 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis

2. Penderita rawat inap.(5)

   Penderita dengan demam tinggi, keadaan umum lemah, nyeri kepala

   hebat, gejala saraf perlu rawat inap diruang isolasi

   a. Diit lunak, cair dan TKTP

   b. Analgetik-antipiretik

   c. Penanganan komplikasi tergantung jenis komplikasinya.(5)

3. Tatalaksana untuk komplikasi yang terjadi

   a. Encephalitis

       - simptomatik untuk encephalitisnya. Lumbal pungsi berguna untuk

         mengurangi sakit kepala.(1)

   b. Orkhitis

       - istrahat yang cukup




                                                                       14
           - pemberian analgetik

           - sistemik kortikosteroid (hidrokortison, 10mg /kg/24 jam, peroral,

             selama 2-4 hari.(1,4,6,8)

        c. Pankreatitis dan ooporitis

           - Simptomatik saja.(1)



II.10 Pencegahan

         Pencegahan terhadap parotitis epidemika dapat dilakukan secara

    imunisasi pasif dan imunisasi aktif.

         1. Pasif

           Gamma globulin parotitis tidak efektif dalam mencegah parotitis

           atau mengurangi komplikasi.(2,3)

         2. Aktif

           Dilakukan dengan memberikan vaksinasi dengan virus parotitis

           epidemika yang hidup tapi telah dirubah sifatnya (Mumpsvax-merck,

           sharp and dohme) diberikan subkutan pada anak berumur 15 bulan.

           Vaksin ini tidak menyebabkan panas atau reaksi lain dan tidak

           menyebabkan ekskresi virus dan tidak menular.          Menyebabkan

           imunitas yang lama dan dapat diberikan bersama vaksin campak dan

           rubella.(4,6)

         Pemberian vaksinasi dengan virus “mumps”, sangat efektif dalam

    menimbulkan peningkatan bermakna dalam antibodi “mumps” pada

    individu yang seronegatif sebelum vaksinasi dan telah memberikan proteksi




                                                                             15
     15 sampai 95 %. Proteksi yang baik sekurang-kurangnya selama 12 tahun

     dan tidak mengganggu vaksin terhadap morbili, rubella, dan poliomielitis

     atau vaksinasi variola yang diberikan serentak.(8)

          Kontraindikasi: Bayi dibawah usia 1 tahun karena efek antibodi

     maternal; Individu dengan riwayat hipersensitivitas terhadap komponen

     vaksin; demam akut; selama kehamilan; leukimia dan keganasan; limfoma;

     sedang diberi obat-obat imunosupresif, alkilasi dan anti metabolit; sedang

     mendapat radiasi.(8)

          Belum diketahui apakah vaksin akan mencegah infeksi bila diberikan

     setelah pemaparan, tetapi tidak ada kontraindikasi bagi penggunaan vaksin

     “Mumps” dalam situasi ini.(8)



II.11 Prognosis

     Parotitis merupakan penyakit self-limited, dapat sembuh sendiri. Prognosis

     parotitis adalah baik, dapat sembuh spontan dan komplit serta jarang

     berlanjut menjadi kronis.(1,3,4,6) Sterilitas karena orkhitis jarang terjadi.(4)




                                                                                  16
                                      BAB III

                                  KESIMPULAN



             Parotitis epidemika merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan

paramyxovirus dengan tanda khas pembengkakan kelenjar parotis yang disertai

nyeri yang kadang mengenai kelenjar gonad, pankreas dan organ lain, Penyakit

ini dapat dicegah secara pasif dengan pemberian gamaglobulin atau secara aktif

dengan vaksinasi.

             Gejala klinis dimulai dengan masa tunas 14 sampai 24 hari, dengan

stadium prodromal 1 sampai 2 hari dengan gejala, demam, anoreksia, sakit kepala,

muntah dan nyeri otot. Kemudian timbul pembengkakan kelenjar parotis yang

mula-mula unilateral tetapi kemudian dapat bilateral. Pembengkakan terasa nyeri

baik spontan maupun pada perabaan. Terlebih-lebih jika penderita makan atau

minum sesuatu yang asam, ini merupakan gejala yang khas untuk parotitis

epidemika.

             Diagnosis ini ditegakkan bila jelas ada gejala infeksi parotitis

epidemika pada pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium tidak spesifik

sehingga tidak bisa dijadikan patokan bila gejala fisik tidak jelas maka diagnosis

didasarkan atas pemeriksaan serologis, amilase dan virologi.

             Penatalaksanaan penyakit ini bersifat simptomatik dan suportif, karena

tidak ada terapi spesifik untuk infeksi virus “mumps”. Prognosis baik, kematian

yang terjadi akibat parotitis epidemika sangat jarang terjadi, sterilitas dan ketulian

yang permanen juga sangat jarang terjadi.




                                                                                   17
                        DAFTAR PUSTAKA



1. D’Brun, Fulginiti, Kempe, Silver : Current Pediatric, Diagnosis and
   Treatment, Ed.IX, 1988, 817-818.


2. Maldonado Yvonne, Parotitis Epidemika (Gondong, Mumps), dalam Ilmu
   Kesehatan Anak Nelson, 1999, Edisi XV, EGC, Jakarta, hal : 1074-1076.


3. Franklin H. Top, SR., Paul F. Wehrle, Mumps, dalam Communicable and
   infectious Disease, Edisi IX, The C.V.Mosby company, 1972, hal: 427-
   434.


4. Adam A. Rosenberg, David W. Kaplan, Gerald B. Merenstein, Mumps
   (Epidemic Parotitis), dalam Handbook Of Pediatrics, Edisi XVI,
   Colorado, 1991, hal: 442-444.


5. Komite Medis RSUP Dr. Sardjito dan FK UGM Yogyakarta, Parotitis
   Epidemika, dalam Standar Pelayanan Medis, Edisi II, Komite Medis
   RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta, 1999, hal : 62-64.


6. Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak FK UI, Parotitis Epidemika, dalam
   Ilmu Kesehatan Anak, Edisi VI, infomedika, Jakarta 2000, hal: 629-632.


7. Suprohaita, Arif Mansjoer, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek Setiowulan,
   Parotitis Epidemika, dalam Kapita Selekta Kedokteran, Edisi III, Jilid II,
   Media Aesculapius FK UI, Jakarta, 2000, hal: 418-419.


8. C.George Ray, Parotitis Epidemika, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit
   Dalam Harrison, Edisi XIII,EGC, Jakarta, 1999, hal : 935-938.




                                                                            18

				
DOCUMENT INFO