Docstoc

TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK.doc

Document Sample
TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK.doc Powered By Docstoc
					                            TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK

Topik                   :   Mengembangkan Sosialisasi Melalui Kegiatan Menggambar
Terapis                 :   Enam orang mahasiswa
Sasaran                 :   Enam orang klien
Tempat                  :   Aula Cadika
Waktu                   :   1 X 45 menit

I. LATAR BELAKANG

Umumnya klien dengan Perilaku Kekerasan dibawa dengan paksa ke Rumah sakit Jiwa.
Sering tampak klien diikat secara tidak manusiawi disertai bentakan dan pengawalan oleh
sejumlah anggota keluarga bahkan polisi.
Perilaku Kekerasan seperti memukul anggota keluarga/orang lain, merusak alat rumah
tangga dan marah-marah merupakan alasan utama yang paling banyak dikemukakan oleh
keluarga. Penanganan oleh keluarga belum memadai, keluarga seharusnya mendapat
pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien (manajemen perilaku kekerasan).

II. PENGERTIAN

Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang
dapat membahayakan secara fisik baik terhadap diri sendiri, orang lain maupun
lingkungan. Hal tersebut dilakukan untuk mengungkapkan perasaan kesal atau marah
yang tidak konstruktif. (Stuart dan Sundeen, 1995).

Sedangkan menurut Depkes RI, Asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan
penyakit jiwa, Jilid III Edisi I, hlm 52 tahun 1996 : “Marah adalah pengalaman emosi
yang kuat dari individu dimana hasil/tujuan yang harus dicapai terhambat”. Kemarahan
yang ditekan atau pura-pura tidak marah akan mempersulit sendiri dan mengganggu
hubungan interpersonal. Pengungkapan kemarahan dengan langsung dan konstruktif pada
waktu terjadi akan melegakan individu dan membantu orang lain untuk mengerti
perasaan yang sebenarnya. Untuk itu perawat harus pula mengetahui tentang respons
kemarahan sesorang dan fungsi positif marah.

III. METODE TAK

A.     TAK Stimulasi Kognitif / Persepsi

Klien dilatih mempersepsikan stimulus, yang disediakan atau yang pernah dialami.
Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini
diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi adaptif.

a. Stimulasi Sensoris
Aktivitas digunakan sebagai stimulus pada sensori klien, kemudian diobservasi reaksi
sensori klien terhadap stimulus yang disediakan berupa ekspresi perasaan secar non-
verbal.

b. TAK Orientasi Realitas

Klien diorientasikan kepada kenyataan yang ada disekitarnya (diri sendiri, orang lain
disekelilingnya, orang yang dekat dengan klien, dan lingkunan yang mempunyai
hubungan dengan klien).

Demikian pula dengan orientasi waktu saat ini, waktu yang lalu dan rencana kedepan,
aktivitas dapat berupa orientasi orang, waktu, tempat, benda yang ada disekitar dan
semua kondisi nyata.

c. TAK Sosialisasi

Merupakan suatu upaya untuk memfasilitasi kemampuan sosialisasi sejumlah klien
dengan masalah hubungan sosial. Tujuan umum dari terapi ini ialah klien dapat
meningkatkan hubungan sosial dalam kelompok secara bertahap. Sosialisasi dapat juga
dilakukan secara bertahap dari interpersonal, kelompok dan massa. Aktifitas dapat berupa
latihan sosialisasi dalam kelompok

B. METODE : Diskusi

Dalam menggambar terdapat aspek-aspek antara lain :

      keterampilan motorik halus, ( menggunakan alat tulis ).
      kemampuan koordinasi.
      konsentrasi, termasuk kemampuan mengekspresikan perasaan, pikiran dan
       menceritakan arti dari suatu gambar.

Ini sangat baik untuk terapi dengan klien yang memerlukan fasilitas dalam
mengembangkan kemampuan mengingat, meningkatkan ketenangan dan mengontrol
emosi.

Kegiatan ini dinamakan shering perasaan dimana anggota akan belajar untuk saling
berkomunikasi yang memiliki tujuan mengutarakan perasaan dan persepsi dalam
memperjelas sesuatu masalah yang diungkapkan, sehingga secara bertahap klien akan
melakukan hubungan sosial dengan orang lain.

      Setiap anggota kelompok diberi kesempatan memperkenalkan diri dan yang lain
       mendengarkan
      Anggota kelompok bebas menentukan gambarnya
      Setiap anggota kelompok diberi kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya
       dan pikirannya melalui gambar
      Setiap anggota kelompok diminta memberikan tanggapan terhadap gambar yang
       dibuatnya, maupun yang dibuat orang lain.

IV. TUJUAN

Terapi Aktifitas Kelompok :

Diharapkan dapat membantu klien dengan kasus tindak kekerasan untuk mempunyai
suatu respon yang lebih adaptif dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

A. Tujuan Umum

      Klien tidak mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya
      Klien dapat mengontrol perilaku kekerasan pada saat berhubungan dengan orang
       lain.

B. Tujuan khusus :

      Klien mampu memperkenalkan diri
      Klien dapat membina hubungan saling percaya.
      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek yang positif yang dimiliki.
      Klien dapat menilai kemampuan yang digunakan.
      Klien dapat menetapkan dan merencanakan kegiatan sesuai kemampuan yang
       dimiliki.
      Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi sakit dan kemampuannya.
      Indikasi klien adalah klien dengan hubungan social : Tindak kekerasan
      Klien tindak kekerasan yang telah mulai melakukan interaksi interpersonal

C. Tujuan hari ini

Klien mampu menyebutkan jati dirinya antara lain :

      Menyebutkan nama lengkap
      Membina hubungan saling percaya.
      Dapat mewarnai gambar
      Dapat menyebutkan apa yang digambarkan
      Dapat memberi pendapat terhadap gambar klien yang lain
      Dapat memberi umpan balik terhadap kegiatan tersebut

V. KRITERIA PESRTA

Persyaratan Umum

      Klien yang tidak terlalu gelisah.
      klien yang bisa kooperatif dan tidak mengganggu berlangsungnya Terapi Aktifitas
       Kelompok
          Klien tindak kekerasan yang sudah sampai tahap mampu berinteraksi dalam
           kelompok kecil
          Klien tenang dan kooperatif
          Kondisi fisik dalam keadaan baik
          Mau mengikuti kegiatan terapi aktivitas
          Klien yang dapat memegang alat tulis
          Klien yang panca inderanya masih memungkinkan

Persyaratan Khusus

VI.        WAKTU PELAKSANAAN

          Hari / Tanggal   : Rabu/13 Mei 2009
          Waktu               : Pukul 08.30 s/d 09.30
          Perkenalan       : 5 menit
          Menggambar       : 15 menit
          Diskusi              : 15 menit
          Observer           : 10 menit

VII.       NAMA PESERTA DAN RUANGAN

Jumlah dan Nama Pasien

      1.   Tn. A
      2.   Tn. B
      3.   Tn. C
      4.   Tn. D
      5.   Tn. E

Cadangan :

      1. Tn. F
      2. Tn.G

Ruangan : Aula Cadika

VIII. MEDIA DAN ALAT

          Lembaran kertas bergambar
          Krayon / pensil untuk mewarnai

IX.        SUSUNAN PELAKSANAAN

      1. Kegiatan berlangsung satu season : 60 menit
      2. Pembukaan dan perkenalan
      3. Diawali dengan do’a
     4. Penjelasan aturan kegiatan
     5. Proses kegiatan
     6. Shering perasaan

X.        URAIAN TUGAS PELAKSANA

Peran Leader : Hasanuddin

         Katalisator, yaitu mempermudah komunikasi dan interaksi dengan jalan
          menciptakan situasi dan suasana yang memungkinkan klien termotivasi untuk
          mengekspresikan perasaannya
         Auxilery Ego, sebagai penopang bagi anggota yang terlalu lemah atau
          mendominasi
         Koordinator, Mengarahkan proses kegiatan kearah pencapaian tujuan dengan cara
          memberi motivasi kepada anggota untuk terlibat dalam kegiatan

Peran Observer : Dewi Ratih

         Mengidentifikasi isue penting dalam proses
         Mengidentifikasi strategi yang digunakan Leader
         Mengamati dan mencatat :

     1.   Jumlah anggota yang hadir
     2.   Siapa yang terlambat
     3.   Daftar hadir
     4.   Siapa yang memberi pendapat atau ide
     5.   Topik diskusi

         Mencatat modifikasi strategi untuk kelompok pada sesion atau kelompok yang
          akan datang
         Memprediksi respon anggota kelompok pada sesion berikutnya

Peran Fasilitator :

1. Zulkifi W.J

2. Azwar Cheiruddin

3. Fatimasam,

4. Hadawiah

         Mempertahankan kehadiran peserta
         Mempertahankan dan meningkatkan motivasi peserta
         Mencegah gangguan atau hambatan terhadap kelompok baik dari luar maupun
          dari dalam kelompok
XI.      MEKANISME KEGIATAN

Proses Evaluasi Anggota dan Kelompok

Pelasanaan pada hari Selasa tanggal 13 Mei 2009 pukul 08.30 – 09.30

Anggota kelompok maksimal 6 orang klien

      1. Anggota kelompok yang terlambat maksimal 30 % dari keseluruhan jumlah
         pasien
      2. Anggota kelompok yang memberikan pendapat minimal 5 orang atau 50 % dari
         yang hadir
      3. Anggota kelompok yang dapat mengekspresikan perasaan atau pendapat dan
         tingkah laku minimal 50 %
      4. Anggota kelompok yang dapat mengungkapkan perasaannya terhadap kegiatan
         yanbg dilakukan diakhir kegiatan minimal 50 % dari yang hadir

XII.     Pengaturan Tempat



Klien       Fasilitator     klien      fasilitator     klien

Leader
observer

Klien       Fasilitator     klien      fasilitator     klien



Keterangan : Posisi Klien saling berhadapan

XIII.    Tata Tertib dan Antisipasi

a. Tata Tertib :

1. Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK

2. Berpakaian rapi dan bersih

3. Peserta tidak diperkenankan makan, minum dan merokok selama kegiatan TAK

4. Peserta boleh meninggalkan ruangan sebelum tata tertib dibacakan selama 5 menit,
dan bila peserta tidak kembali ke ruangan maka peserta tersebut diganti peserta cadangan
5. Peserta tidak diperkenankan meninggalkan ruangan setelah tata tertib dibacakan. Bila
peserta meninggalkan ruangan dan tidak bisa mengikuti kegiatan lain setelah dibujuk
oleh fasilitator, maka peserta tersebut tidak dapat diganti oleh peserta cadangan.

6. Peserta hadir 5 menit sebelum kegiatan dimulai

7. Peserta yang ingin mengajukan pertanyaan, mengangkat tangan terlebih dulu dan
berbicara setelah dipersilahkan.

8. TAK berlangsung selama 45 menit dari pukul 08.30 sampai 09.15.

b. Program Antisipasi

   1. Usahakan dalam keadaan terapeutik
   2. Anjurkan kepada terafis agar dapat menjaga perasaan anggota kelompok,
      menahan diri untuk tertawa atau sikap yang menyinggung
   3. Bila ada peserta yang direncanakan tidak bisa hadir, maka diganti oleh cadangan
      yang telah disiapkan dengan cara ditawarkan terlebih dahulu kepada peserta.
   4. Bila ada peserta yang tidak menaati tata tertib, diperingatkan dan jika tidak bisa
      diperingatkan, dikeluarkan dari kegiatan setelah dilakukan penawaran.
   5. Bila ada anggota yang ingin keluar, dibicarakan dan diminta persetujuan dari
      peserta TAK yang lain
   6. Bila ada peserta TAK yang melakukan kegiatan tidak sesuai dengan tujuan, leader
      memperingatkan dan mengarahkan kembali bila tidak bisa, dikeluarkan dari
      kelompok
   7. Bila peserta pasif, leader memotivasi dibantu oleh fasilitator

                                     Isi MATERI

                                 Perilaku Kekerasan

1. Proses Terjadinya Perilaku Kekerasan

Perilaku kekerasan bisa disebabkan adanya gangguan harga diri: harga diri rendah. Harga
diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh
perilaku sesuai dengan ideal diri. Dimana gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai
perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai
keinginan.

2. Penyebab Perilaku Kekerasan

Menurut Stearen kemarahan adalah kombinasi dari segala sesuatu yang tidak enak,
cemas, tegang, dendam, sakit hati, dan frustasi. Beberapa faktor yang mempengaruhi
terjadinya kemarahan yaitu frustasi, hilangnya harga diri, kebutuhan akan status dan
prestise yang tidak terpenuhi.
     1. Frustasi, sesorang yang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan/ keinginan
        yang diharapkannya menyebabkan ia menjadi frustasi. Ia merasa terancam dan
        cemas. Jika ia tidak mampu menghadapi rasa frustasi itu dengan cara lain tanpa
        mengendalikan orang lain dan keadaan sekitarnya misalnya dengan kekerasan.
     2. Hilangnya harga diri ; pada dasarnya manusia itu mempunyai kebutuhan yang
        sama untuk dihargai. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi akibatnya individu
        tersebut mungkin akan merasa rendah diri, tidak berani bertindak, lekas
        tersinggung, lekas marah, dan sebagainya.
     3. Kebutuhan akan status dan prestise ; Manusia pada umumnya mempunyai
        keinginan untuk mengaktualisasikan dirinya, ingin dihargai dan diakui statusnya.

3. Tanda dan Gejala Orang yang Menarik Diri

     1.    Muka merah
     2.    Pandangan tajam
     3.    Otot tegang
     4.    Nada suara tinggi
     5.    Berdebat dan sering pula tampak klien memaksakan kehendak
     6.    Memukul jika tidak senang

4. Tindakan keperawatan pada klien perilaku kekerasan

Keliat dkk. (2002) mengemukakan cara khusus yang dapat dilakukan
keluarga dalam mengatasi marah klien yaitu :

a. Tindakan Keperawatan

     1. Berteriak, menjerit, dan memukul.

Terima marah klien, diam sebentar, arahkan klien untuk memukul barang yang tidak
mudah rusak seperti bantal, kasur

     1. Cari gara-gara.

Bantu klien latihan relaksasi misalnya latihan fisik maupun olahraga, Latihan pernafasan
2X/ hari, tiap kali 10 kali tarikan dan hembusan nafas.

     1. Bantu melalui humor.

Jaga humor tidak menyakiti orang, observasi ekspresi muka orang yang
menjadi sasaran dan diskusi cara umum yang sesuai.

b.        Terapi Medis

Psikofarmaka adalah terapi menggunakan obat dengan tujuan untuk
mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:13971
posted:5/8/2010
language:Indonesian
pages:9
Description: TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK.doc