persiapan UN by mxc25289

VIEWS: 2,958 PAGES: 30

More Info
									                                 BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

     Ujian Nasional (UN) menurut Pasal 1 Peraturan Menteri No. 78 Tahun
   2008 tentang Pelaksanaan Ujian Nasional adalah kegiatan pengukuran
   dan penilaian kompetensi peserta didik secara nasional pada jenjang
   pendidikan dasar dan menengah.

     Ujian Nasional (UN) adalah kegiatan yang direncanakan dan
   dilaksanakan oleh pemerintah setiap tahunnya. Biasanya dilaksanakan
   pada bulan April setiap tahunnya. Untuk tahun 2009 Ujian Nasional
   dilaksanakan pada tanggal sebagai berikut:

         1) UN utama untuk SMK dan SMALB dilaksanakan satu kali pada
            minggu ketiga bulan April 2009.
         2) UN utama untuk SMP/MTs dan SMPLB dilaksanakan satu kali
            pada minggu keempat bulan April 2009.
         3) UN susulan dilaksanakan satu minggu setelah UN utama.
         4) Ujian kompetensi keahlian untuk SMK dilaksanakan sebelum
            UN utama.

     Mata pelajaran yang di UN-kan pun berbeda pada setiap satuan
   pendidikan, antara lain:

        1) Mata Pelajaran UN SMP, MTs, dan SMPLB meliputi: Bahasa
            Indonesia, Bahasa
        2) Inggris, Matematika, dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA);
        3) Mata Pelajaran UN SMALB meliputi: Bahasa Indonesia,
            Bahasa Inggris, dan Matematika;
        4) Mata Pelajaran UN SMK meliputi: Bahasa Indonesia, Bahasa
            Inggris, Matematika, dan Kompetensi Keahlian Kejuruan.
                                    1
  Ujian Nasional (UN) sangatlah menyita perhatian dari berbagai pihak.
Mulai dari berbagai pernyataan kontrovensi dari berbagai pihak
mengenai ketidaksetujuan mereka dengan pelaksanaan Ujian Nasional
hingga berbagai persiapan pihak sekolah dalam mempersiapkan
siswanya untuk menghadapi Ujian Nasional tersebut.

  Maka dari itu, penulis bermaksud untuk melakukan penelitian
mengenai persiapan sekolah dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) ini.
Penulis bermaksud untuk mengetahui bagaimanakah pelaksanaan Ujian
Nasional    (UN)       itu   berlangsung,   mulai   dari   perencanaan
pengorganisasian, pengawasan sampai pada penyelenggaraan Ujian
Nasional itu.

  Selain itu, penulis memiliki tujuan untuk menambah wawasan
mengenai evaluasi belajar yang dilaksanakan melalui penyelenggaraan
Ujian Nasional (UN).

  Oleh karena itu, penulis melakukan penelitian mengenai persiapan
menghadapi Ujian Nasional (UN) di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.
Karena sekolah ini merupakan salah satu sekolah yang melaksanakan
Ujian Nasional (UN). SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta juga
memberikan respon yang baik serta menerima kegiatan penelitian ini.

  Selain itu, ada yang menarik dari pelaksanaan Ujian Nasional di
sekolah ini. Karena sebagai Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), SMK
Telkom Sandhy Putra Jakarta memiliki beberapa kendala terkait dengan
pelkasanaan Ujian Nasional (UN) antara lain dikarenakan adanya
pemberlakuan ketentuan baru mengenai pelaksanaan Ujian Nasional
(UN) bagi SMK, yakni dengan diadakannya uji kompetensi baik praktek
maupun teori bagi siswa-siswi SMK.




                                   2
B. Identifikasi Masalah

      Melihat masalah yang terjadi cukup luas, maka penulis mencoba
   merumuskan permasalahan untuk mempersempitnya hingga pembaca
   dapat dengan mudah memahami inti dari makalah ini:

   1. Apa landasan dasar pelaksanaan Ujian Nasional?

   2. Bagaimana persiapan sekolah dalam menghadapi Ujian Nasional
      (UN)?

   3. Bagaimana pengorganisasian kegiatan Ujian Nasional (UN) di
      sekolah?

   4. Bagaimana pengawasan kegiatan Ujian Nasional di sekolah?

   5. Masalah apa saja yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaan Ujian
      Nasional (UN)?

   6. Bagaimana upaya sekolah dalam mengatasi masalah yang timbul
      dalam pelaksanaan Ujian Nasional (UN)?

   7. Bagaimana pengalaman penulis ketika menghadapi Ujian Nasional
      (UN)?

C. Pembatasan Masalah

      Penulis hanya akan membatasi permasalahan pada persiapan SMK
   Telkom Sandhy Putra Jakarta dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).
   Hal ini disebabkan karena keterbatasan waktu dalam melakukan
   penelitian dan untuk mengefektifkan hasil dari penelitian ini.

D. Tujuan Penulisan

      Penelitian ini diharapkan dapat berguna baik secara teoretis maupun
   secara praktis, yang akan dijelaskan sebagai berikut:

      1. Secara Teoretis


                                      3
       Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam
  mengenai pelaksanaan Ujian Nasional (UN) di Sekolah Menengah
  Kejuruan (SMK).

2. Secara Praktis
  a. Bagi pemerintah
       Untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan Ujian
       Nasional (UN) pada tahun- tahun mendatang.

  b. Bagi sekolah
       Penelitian ini dapat dijadikan tambahan informasi dan sebagai
       bahan pertimbangan untuk melakukan persiapan yang lebih
       matang dalam menghadapi Ujian Nasional di tahun yang akan
       datang.

  c. Bagi orang tua
       Penelitian ini dapat dijadikan tambahan informasi, menambah
       pengetahuannya     tentang   cara   mendukung   anak    dalam
       mempersiapkan dirinya untuk menghadapi Ujian Nasional (UN).

  d.    Bagi peneliti
       Untuk meningkatkan profesionalismenya secara mandiri.

  e. Bagi peneliti lain
       Hasil penelitian ini dapat dijadikan wahana informasi untuk
       melakukan penelitian lebih lanjut khususnya penelitian tentang
       persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN).




                                4
                                  BAB II

                               KAJIAN TEORI



A. Pengertian Evaluasi Belajar

      Kata evaluasi merupakan pengindonesiaan dari kata evaluation dalam
   bahasa inggris, yang lazim diartikan dengan penaksiran atau penilaian.
   Kata kerjanya adalah evaluate yang berarti menaksir atau menilai.
   Sedangkan orang yang menilai atau menaksir disebut evaluator
   (Echols,1975).

      Sejumlah ahli mengemukakan pemahaman evaluasi secara etimologis
   seperti Grounlund, Nurkancana, dan Raka Joni. Menurut Grounlund
   (1976) “a system atic process of determining the extent to which
   instructional objectives are achieved by pupil”, Nurkancana (1983)
   menyatakan bahwa evaluasi dilakukan berkenaan dengan proses
   kegiatan untuk menentukan nilai sesuatu. Sementara Raka Joni (1975)
   mengartikan      evaluasi    sebagai     suatu     proses    diman    kita
   mempertimbangkan        sesuatu       barang     atau    gejala   dengan
   mempertimbangkan       patokan-patokan     tertentu,    patokan   tersebut
   mengandung pengertian baik-tidak baik, memadai-tidak memadai,
   memenuhi syarat-tidak memenuhi syarat, dengan perkataan lain
   menggunakan value judgement.

      Dengan pengertian di atas, maka dapat dikemukakan bahwa evaluasi
   adalah suatu proses menentukan nilai seseorang dengan menggunakan
   patokan-patokan tertentu untuk mencapai tujuan. Sementara evaluasi
   hasil belajar pembelajaran adalah suatu proses menentukan nilai prestasi
   belajar pembelajar dengan menggunakan patokan-patokan tertentu guna
   mencapai tujuan pengajaran yang telah ditentukan sebelumnya.




                                     5
     Untuk memperjelas lagi, ada beberapa perumusan evaluasi menurut
  beberapa ahli diantaranya:

     1. Bloom et. Al (1971), “Evaluation, as we see it, is the systematic
        collection of evidence to determine whether in fact certain changes
        are taking place in the learners as well as to determine the amount
        or degree of change in individual students.”

     2. Mehrens & Lehmann (1978), menjelaskan bahwa evaluasi adalah
        suatu proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan
        informasi yang sangat diperlukan untuk membuat alternative-
        alternatif keputusan.

B. Teknik-Teknik Evaluasi

     Secara   garis   besar,    teknik    evaluasi    yang    digunakan   dapat
  digolongkan menjadi dua macam, yaitu teknik tes dan teknik non-tes.

     a. Teknik Tes

           Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pertanyaan atau tugas
        atau seperangkat tugas yang direncanakan untuk memperoleh
        informasi tentang trait atau atribut pendidikan atau psikologik yang
        setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut mempunyai jawaban
        atau ketentuan yang dianggap benar. Bila dilihat dari segi
        kegunaan untuk mengukur siswa, maka dibedakan atas adanya 3
        macam tes, yaitu :

        1. Tes diagnostik

                  Tes   diagnostik       adah   tes   yang    digunakan   untuk
           mengetahui          kelemahan-kelemahan           siswa    sehingga
           berdasarkan kelemahan-kelemahan tersebut dapat dilakukan
           pemberian perlakuan yang tepat.

                   Tes diagnostik dilakukan sebelum atau selama masih
           berlangsungnya kegiatan belajar mengajar. Tes diagnostik
                                     6
   dimaksudkan       untuk      menentukan     bahan-bahan   pelajaran
   tertentu yang masih menyulitkan siswa. Informasi tentang
   kelemahan siswa dipergunakan sebagai dasar penyusunan
   program remedial. Siswa yang masih mengalami kesulitan
   dalam    hal    tertentu     diremedi   dengan    ditugaskan   untuk
   mengerjakan atau mempelajari bahan pengajaran program
   remedial tersebut.

           Dalam kegiatan pengajaran pemberian bantuan yang
   bersifat meremidi kepada siswa juga harus tepat. Jika tidak
   tepat, kemungkinan siswa justru akan menjadi semakin
   bingung. Oleh karena itu, penyusunan bahan remedial haruslah
   mendasarkan diri pada kelemahan siswa.

2. Tes Formatif

           Dari arti kata “form” yang merupakan dasar dari istilah
   “formatif”     maka       evaluasi   formatif   dimaksudkan    untuk
   mengetahui sejauh mana siswa telah terbentuk setelah
   mengikuti sesuatu program tertentu. Dalam kedudukannya tes
   formatif dapat juga dipandang sebagai tes diagnostik pada
   akhir pelajaran. Evaluasi formatif atau tes formatif diberikan
   pada akhir setiap program. Tes ini merupakan post-test atau
   tes akhir proses.

           Tes formatif dilakukan selama kegiatan belajar mengajar
   masih berlangsung pada setiap akhir suatu satuan bahasan.
   Tes formatif, dengan demikian, dilakukan beberapa kali dalam
   satu semester.

           Tes    formatif     merupakan    tes    dalam proses   yang
   dimaksudkan untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa
   mencapai tujuan yang berkaitan dengan pokok bahasan yang
   baru saja diselesaikan. Informasi yang diperoleh dari tes


                                7
formatif merupakan masukan yang berguna untuk menilai
efektivitas kegiatan pengajaran yang dilakukan.

       Bagi pihak guru, informasi tersebut dapat dipergunakan
untuk mempertimbangkan apakah suatu bahan pelajaran
dilanjutkan atau perlu diulangi sebagian, apakah teknik
pengajaran yang dipergunakan perlu diganti, dimodifikasi, atau
tetap dipertahankan, dan sebagainya.

       Apabila bahan pelajaran yang kebetulan belum dikuasai
siswa merupakan prasyarat bagi bahan berikutnya, maka
bahan itu harus diterangkan sekali lagi. Jika dipandang perlu,
pengulangan dilakukan dengan mengganti teknik penyampaian
dan melengkapi sarana atau media yang sangat dibutuhkan.
Jika   bahan    tersebut       tak   diulangi,     dikhawatirkan        akan
mengganggu       kelancaran          pemberian          bahan      pelajaran
selanjutnya,    dan    siswa         akan    semakin        tidak       dapat
menguasainya.

       Bagi pihak siswa, tes formatif juga mempunyai beberapa
manfaat. Pertama, siswa akan mengetahui apakah dirinya telah
menguasai      bahan   dalam         pokok    bahasan            yang   telah
dipelajarinya. Kedua, hasil tes formatif akan merupakan suatu
bentuk   penguatan     (reinforcement).          Jika    hasil    tes   yang
diterimanya baik, siswa menyadari betul bahwa jawabanya
benar, dan hal itu akan dipertahankan sebagai miliknya.
Sebaliknya, jika nilai tesnya buruk, siswa pun akan menyadari
bahwa jawabanya salah, dan karenanya siswa akan berusaha
lagi untuk menemukan jawaban tes yang benar. Jadi, siswa
akan menyadari letak kekurangannya terhadap bahan tertentu.

       Dalam kenyataan praktek pengajaran di sekolah, tes
formatif dilaksanakan dengan sebutan ulangan harian. Ulangan
harian harus dilakukan beberapa kali dalam satu semester

                           8
   karena hasil ulangan itu juga dipakai sebagai masukan untuk
   menentukan nilai akhir siswa bersama dengan tes sumatif, atau
   yang biasa dikenal dengan sebutan ulangan umum.

3. Tes Sumatif

         Tes sumatif dilakukan setelah selesainya seluruh
   kegiatan seluruh kegiatan belajar mengajar atau seluruh
   program    yang     direncanakan.    Tes     sumatif,   lazimnya
   dilaksanakan pada akhir semester atau caturwulan, yaitu
   dengan sebutan ulangan umum.

         Bahan pelajaran yang diteskan meliputi seluruh bahan
   yang diajarkan selama kegiatan belajar mengajar dalam satu
   semester yang bersangkutan. Jadi, mencakup seluruh bahan
   pelajaran yang diambil untuk tes formatif.

         Tes pada dasarnya dimaksudkan untuk mengukur kadar
   pencapaian tujuan. Dalam hubungan ini tes formatif, atau post-
   test, lebih dimaksudkan untuk mengukur kadar pencapaian
   tujuan-tujuan khusus pengajaran. Di lain pihak, tes sumatif,
   berhubung lingkupnya lebih luas, lebih dimaksudkan untuk
   mencapai tujuan umum pengajaran. Tujuan umum yang
   dimaksud telah jelas tertera dalam RPP setiap mata pelajaran.

         Informasi yang diperoleh dari tes sumatif dipergunakan
   untuk menentukan nilai dan atau prestasi yang dicapai oleh tiap
   siswa. Informasi tersebut dipergunakan untuk menentukan
   kedudukan siswa diantara kawan-kawan sekelompok. Asumsi
   yang mendasari pandangan ini adalah bahwa prestasi siswa-
   siswi dalam sebuah kelas, akan tergambar dalam sebuah kurva
   normal.

         Kegunaan tes sumatif yang kedua adalah untuk
   menentukan naik atau tidaknya, lulus atau tidaknya seorang

                            9
     siswa. Selain itu, hasil tes sumatif juga dipergunakan untuk
     membuat laporan hasil belajar siswa kepada pihak lain yang
     membutuhkan, misalnya orang tua. Laporan yang dimaksudkan
     adalah dalam bentuk buku rapor atau STTB.

b. Teknik Non-Tes

     Teknik non-tes merupakan alat penilaian yang dipergunakan
  untuk mendapatkan informasi tentang keadaan si tester (testi,
  tercoba, Inggris: testee) tanpa dengan alat tes. Teknik non-tes
  dipergunakan untuk mendapatkan data yang tidak, atau paling
  tidak secra langsung berkaitan dengan tingkah laku kognitif.
  Penilaian yang dilakukan dengan teknik non-tes terutama jika
  informasi yang diharapkan diperoleh berupa tingkah laku afektif,
  psikomotorik, dan lain-lain yang tidak secara langsung berkaitan
  dengan tingkah laku kognitif.

     Ada beberapa teknik non-tes, yaitu:

     1. Rating scale (skala bertingkat)

            Rating scale adalah alat pengukuran non-tes yang
        menggunakan suatu prosedur terstruktur untuk memperoleh
        informasi    tentang      sesuatu   yang    diobservasi,   yang
        menyatakan hubungannya dengan yang lain.

            Biasanya berisikan seperangkat pernyataan tentang
        karakteristik atau kualitas dari sesuatu yang akan diukur
        beserta pasangannya berbentuk semacam cara menilai.

     2. Questionaire (kuesioner)

            Questionaire   (kuesioner),     atau   angket,   merupakan
        serangkaian (daftar) pertanyaan tertulis yang ditujukan
        kepada siswa (responden) mengenai masalah-masalah



                               10
   tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan tanggapan dari
   siswa (responden) tersebut.

      Questionaire (kuesioner) dapat bersifat terbuka dan
   tertutup. Kuesioner terbuka adalah kuesioner yang disusun
   sedemikian      rupa      sehingga      para   responden        bebas
   mengemukakan           pendapatnya.       Sedangkan       kuesioner
   tertutup    adalah        kuesioner     yang    disusun        dengan
   menyediakan pilihan jawabanlangkah sehingga responden
   hanya tinggal member tanda pada jawaban yang dipilih.

3. Interview (wawancara)

      Interview     (wawancara)          adalah   suatu    cara     yang
   digunakan untuk mendapatkan jawaban dari responden
   dengan melakukan tanya jawab sepihak. Artinya, dalam
   wawancara ini responden tidak diberi kesempatan sama
   sekali untuk mengajukan pertanyaan. Pertanyaan hanya
   diajukan oleh subjek evaluasi.

      Interview (wawancara) dapat dilakukan dengan dua
   cara, yaitu wawancara bebas dan terpimpin. Dalam
   wawancara bebas, responden diberi kebebasab untuk
   mengutarakan pendapatnya, tanpa dibatasi oleh ketentuan-
   ketentuan yang dibuat oleh subjek evaluasi.

      Sedangkan         dalam      wawancara       terpimpin,      pihak
   pewawancara        atau      pengevaluasi      telah    menyiapkan
   sejumlah pertanyaan secara sistematis. Demikian pula
   halnya dengan jawaban yang diharapkan dari responden,
   juga dipersiapkan sehingga dalam menjawab pertanyaan itu
   responden       tinggal      memilih     jawaban       yang     sudah
   dipersiapkan.




                           11
                                BAB III

                           METODOLOGI



A. Waktu dan Tempat

     Penelitian ini dilaksanakan di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta yang

   terletak di Jalan Daan Mogot Km. 11 No. 1, Cengkareng, Jakarta Barat.

   Waktu penelitian dilaksanakan mulai dari bulan Februari 2009 sampai

   bulan April 2009 tahun pelajaran 2008/2009.

B. Responden

     Responden dalam penelitian ini adalah Wakil Kepala Sekolah Bidang
   Kurikulum SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta, Bapak Dading, SA.

C. Teknik Pengumpulan Data

     Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah
   observasi dan wawancara.

   1. Observasi

            Observasi adalah suatu teknik yang dilakukan dengan cara
      mengadakan pengamatan secara teliti serta pencatatan secara
      sistematis.

            Observasi ini dilakukan oleh penulis sendiri. Dalam observasi
      ini penulis menngamati tentang bagaimana aktivitas yang dilakukan
      SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dalam rangka mempersiapkan,
      mengorganisasikan, dan mengawasi kegiatan Ujian Nasional (UN) di
      sekolah tersebut.




                                   12
   2. Wawancara

            Teknik wawancara adalah suatu cara yang diguanakan untuk
     mendapatkan jawaban dari responden dengan jalan tanya jawab
     sepihak.

            Teknik wawancara yang dilakukan oleh penulis adalah teknik
     wawancara bebas, dimana penulis telah memberikan instrument
     pedoman wawancara namun pihak responden dapat menjawabnya
     bebas sesuai dengan pendapatnya tanpa dibatasi.

D. Instrumen Pengumpulan Data

     Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
   adalah daftar pertanyaan sebagai pedoman wawancara, sebagai berikut:

   a. Apakah SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta melaksanakan Ujian
      Nasional (UN)?

   b. Kapan Ujian Nasional (UN) tersebut akan dilaksanakan?

   c. Persiapan apa saja yang dilakukan SMK Telkom Sandhy Putra
      Jakarta dalam menghadapi Ujian Nasional (UN)?

   d. Bagaimana pengorganisasian kegiatan Ujian Nasional (UN) di SMK
      Telkom Sandhy Putra Jakarta?

   e. Bagaimana pengawasan kegiatan Ujian Nasional (UN) yang dilakukan
      di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta?

   f. Kendala apa yang dihadapi SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dalam
      pelaksanaan Ujian Nasional (UN)?

   g. Bagaimana upaya SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dalam
      menghadapi kendala tersebut?




                                  13
E. Teknik Analisis Data

    Teknik analisis data yang digunakan dalam penulisan makalah ini
adalah teknik deskriptif.




                                14
                                 BAB IV

                     HASIL dan PEMBAHASAN



A. Profil Sekolah

      Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi berdirinya sekolah ini,
   antara lain adalah kebutuhan akan tenaga telekomunikasi yang handal
   dan berkualitas semakin meningkat, partisipasi para ibu dharmawanita
   PT Telkom yang bernaung dalam Yayasan Sandhykara Putra Telkom
   serta dukungan PT Telkom dalam masalah finansial sekolah. Ketiga
   faktor inilah yang menyebabkan sekolah SMK Telkom Sandhy Putra
   Jakarta berdiri   yang   kemudian    diresmikan   oleh Bapak   Soesilo
   Soedarman pada bulan Agustus tahun 1992 tepatnya di Jalan S. Parman
   Kav. 8 Jakarta Barat. Kemudian sejak bulan Januari 2000, SMK Telkom
   Sandhy Putra Jakarta berlokasi di Jalan Daan Mogot Km. 11,
   Cengkareng, Jakarta Barat.

      Awalnya, SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta hanya membuka satu
   jurusan yaitu Teknik Switching, namun sejak angkatan VIII (1999) telah
   dibuka jurusan baru yaitu Teknik Transmisi dan Network Access dengan
   program keahlian berbeda. Pada tahun 2000, SMK Telkom Sandhy Putra
   Jakarta kemudian membuka satu jurusan baru yaitu Teknik Informatika
   sehingga sekarang SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta memiliki empat
   jurusan. Selain mempersiapkan lulusan siap kerja, SMK Telkom Sandhy
   Putra Jakarta juga mempersiapkan lulusan yang juga siap untuk kuliah.

      Pelajaran di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dibagi menjadi tiga
   bagian, yaitu yang Normatif seperti PPKn, Bahasa Indonesia, Agama.
   Sedangkan yang kedua Adaptif seperti Matematikan, Fisika, Bahasa
   Inggris, dan yang terakhir Produktif yang mata pelajarannya disesuaikan
   dengan program keahliannya.


                                   15
     Sebelum resmi menjadi siswa SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta
   harus melewati beberapa tahap seleksi. Tahap pertama para calon
   siswa harus mengikuti tes Akademis yang meliputi mata pelajaran
   Matematika, Fisikan dan Bahasa Inggris. Setelah lolos pada tahap I,
   mereka harus melewati tahap selanjutnya yaitu tes kesehatan yang
   dilakukan dengan pemeriksaan tinggi dan berat badan, THT, Urine, dll.
   Kemudian yang terakhir, para calon siswa tersebut akan melalui tes
   wawancara.

     Selain memiliki gedung yang megah, SMK Telkom Sandhy Putra
   Jakarta   juga   dilengkapi   beberapa   fasilitas   diantaranya   beberpa
   laboratorium seperti Laboratorium Transmisi, Switching, Jaringan,
   Multimedia, CISCO, Jaringan Komputer (Jarkom), Bahasa, dll untuk
   menunjang kebutuhan siswa. SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta juga
   memiliki GOR dan lapangan.

     Selama hampir 17 tahun berdiri, SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta
   mampu menerapkan peraturan yang sama bagi siswanya, misalnya
   seluruh siswa di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta diwajibkan
   menggunakan sepatu Warior dan bagi siswa laki-laki tidak boleh memiliki
   rambut melebihi 2 cm. Namun semua ini dilakukan demi tercapainya
   tujuan utama didirikannya sekolah ini, yaitu menghasilkan tenaga
   telekomunikasi yang handal dan berkualitas.

B. Perencanaan Kegiatan Ujian Nasional (UN)

     Dalam persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN), SMK Telkom
   Sandhy Putra Jakarta melakukan sosialisasi dan Pendalaman Materi
   (PM).

      Sosialisasi dilaksanakan dari awal tahun pelajaran 2008/2009, yakni
   dilakukan pada bulan Agustus 2008. Hal ini dimaksudkan agar orang tua
   murid beserta seluruh siswa di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta dapat
   lebih dini untuk melakukan persiapan Ujian Nasioanal (UN), baik secara
   mental maupun finansial.
                                    16
   Dalam melakukan persiapan secara finansial, orang tua telah
diberitahukan perkiraan biaya yang dibutuhkan untuk Ujian Nasional
(UN) ini, sehingga mereka dapat mencicil biaya tersebut sejak jauh hari.

    Sedangkan untuk persiapan mental, para siswa diwajibkan mengikuti
Pendalaman Materi (PM) pada 25 Maret – 16 April 2009 atau kurang
lebih satu (1) bulan sebelum Ujian Nasional (UN) dilaksanakan pada
tanggal 20 – 22 April 2009.

   Mata pelajaran yang di UN-kan di SMK Telkom Sandhy Putra
Jakarta antara lain Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan
kompetensi kejuruan.

   Untuk kompetensi kejuruan, dilakukan dua (2) kali pengujian, yaitu
berupa praktek dan ujian teori ( tertulis ). Ujian praktek dilaksanakan
pada tanggal 2 – 16 Maret 2009 sedangkan ujian tertulis hanya
dilaksanakan satu hari, yaitu pada tanggal 24 Maret 2009.

   Sebenarnya, uji kompetensi kejuruan ini dari awal berdirinya SMK
Telkom Sandhy Putra Jakarta telah dilaksanakan setiap tahunnya. Uji
kompetensi ini merupakan salah satu syarat kelulusan bagi siswa-siswi
di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.

   Namun, telah terjadi beberapa perubahan mengenai tata cara
pelaksanaan uji kompetensi kejuruan, antara lain dari tahun pertama
berdirinya SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta yaitu dari tahun pelajaran
2000/2001 sampai denga tahun 2004/2005, jenis kompetensi yang
diujikan ditentukan oleh pihak sekolah, dan langsung diuji oleh guru
pempimbingnya.

   Sedangkan, mulai tahun tahun 2005/2006 sampai dengan tahun
2007/2008, jenis materi yang diujikan dipilih sendiri oleh siswa. Siswa
melakukan penelitian lebih mendalam mengenai kompetensi yang akan
diuji setelah melakukan Prakerin. Siswa bebas mencari materi apa yang
akan dijadikan bahan penelitian atau laporan.

                                 17
   Kegiatan tersebut disebut dengan Project Work atau Tugas Akhir.
Dalam kegiatan ini, siswa diberikan waktu sekitar satu (1) bulan, untuk
mencari materi kompetensi yang akan mereka jadikan bahan untuk judul
Project Work mereka. Biasanya mereka meminta saran dari pembimbing
akademik dan pembimbing lapangan mereka mengenai judul yang tepat
untuk Project Work mereka.

   Setelah itu, mereka melakukan penelitian mengenai materi tersebut
dan menuangkannya ke dalam laporan Project Work mereka. Kemudian
mereka diuji oleh pembimbing lapangan dan pembimbing akademik
mereka sebelum laporan Project Work mereka disahkan.

   Terakhir, mereka akan mempresentasikan hasil penelitian mereka di
depan pembimbing lapangan, pembimbing akademik, dan dua orang
guru penguji. Barulah setelah itu, mereka mendapatkan nilai dari uji
kompetensi tersebut.

   Akan tetapi, mulai tahun pelajaran 2008/2009 saat ini, tata cara
penilaian uji kompetensi kejuruan di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta
ditentukan oleh pemerintah.Seluruh soal baik ujian tertulis maupun
praktek diberikan oleh pemerintah.Sehingga, untuk mempersiapkan
siswanya dalam ujian kompetensi kejuruan pihak sekolah mengadakan
Pendalaman Materi (PM) untuk menyukseskan Uji Kompetensi ,
terutama untuk ujian teori pada tanggal 17 – 20 Maret 2009.

   Selain, Ujian praktek dan tertulis kompetensi kejuruan serta Ujian
Nasional, siswa SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta juga dihadapkan
pada Tes Kendali Mutu (TKM) yang diadakan oleh pihak Pemerintah
Daerah (Pemda) DKI Jakarta pada tanggal 23 – 24 Februari 2009 dan
dilanjutkan dengan Tes Semester VI pada tanggal 25 – 26 Februari
2009.




                                18
C. Pengorganisasian Kegiatan Ujian Nasional (UN)

     Pengorganisasian kegiatan Ujian Nasional (UN) di SMK Telkom
   Sandhy Putra Jakarta dimulai dengan penyelenggaraan Rapat Kerja
   antara Kepala Sekolah SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta, Komite
   Sekolah, dan para guru untuk membahas kepanitiaan Ujian Nasional
   (UN).

     Selanjutnya kepanitian pelaksanaan Ujian Nasional dibentuk dengan
   pemberian surat tugas. Setelah itu, panitia menyelenggarakan rapat
   mengenai jumlah anggaran yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan
   Ujian Nasional (UN).

     Kemudian setelah jumlah anggaran ditentukan, seluruh panitia
   membuat program perencanaan kegiatan Ujian Nasional (UN). Setelah
   seluruh kegiatan tersebut terlaksana, kemudian seluruh guru yang
   mendapat tugas mengawasi kegiatan Ujian Nasional (UN) akan
   menerima surat tugas dari sanggar penyelenggara Ujian Nasional (UN).

     Selain, panitia pelaksana SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta juga
   membentuk    tim.      Tim   tersebut   bertujuan   untuk   menyukseskan
   pelaksanaan UN di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta. Tim ini berisikan
   guru-guru mata pelajaran yang di-UN-kan, mereka bertugas untuk
   membuat soal-soal untuk Try-Out, menyusun silabus untuk Pendalaman
   Materi, serta menyusun jadwal Pendalaman Materi.

     Tim sukses ini terdiri dari dua tim, yakni tim untuk mata pelajaran yang
   di-UN-kan, yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.
   Sedangkan tim yang lain, adalah tim untuk mata pelajaran uji
   kompetensi. Kedua tim ini juga bertugas untuk memotivasi siswa yang
   akan melaksanakan UN.




                                      19
D. Pengawasan Kegiatan Ujian Nasional (UN)

     Pengawasan kegiatan Ujian Nasional (UN) di SMK Telkom Sandhy
   Putra Jakarta sama dengan sekolah-sekolah lainnya, yaitu dengan
   pengawasan silang.

     Pengawasan silang adalah pengawasan yang dilakukan dengan cara
   mengirimkan beberapa guru dari SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta
   untuk menjadi tim pengawas pelaksanaan UN ke sanggar penyelenggara
   UN. Kemudian sanggar akan menugaskan kembali tim guru tersebut ke
   sekolah lainnya dan akan menugaskan tim guru dari sekolah lain untuk
   mengawas di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.

     Selain, tim pengawas silang, UN kali ini juga diawasi oleh tim
   independenden dan POLRI. Tim ini terbagi menjadi dua tim. Tim yang
   pertama adalah tim independen yang bertugas           untuk menjaga
   kerahasiaan soal UN dari awal soal tersebut diambil dari sanggar,
   sampai di sekolah, kemudian pada saat soal itu dibagikan, hingga soal
   tersebut dikembalikan ke sanggar.

     Sedangkan tim yang kedua adalah tim pengawas kelas. Tim ini
   bertugas untuk mengawasi jalannya pelaksanaan UN di dalam kelas
   atau pada saat siswa mulai memasuki ruang ujian, soal dibagikan, serta
   pada saat siswa mengerjakan soal tersebut, hingga soal tersebut
   dikumpulkan dan diserahkan kepada tim independen yang pertama
   untuk dikembalikan ke sanggar.

E. Masalah-Masalah dalam Penyelenggaraan Ujian Nasional (UN)

     Dalam penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) kali ini, SMK Telkom
   Sandhy Putra Jakarta mengalami beberapa kendala, diantaranya:

     Akibat pelaksanaan PRAKERIN (Praktek Kerja Industri) yang
  berlangsung selama tiga bulan, sehingga SMK Telkom Sandhy Putra
  Jakarta terlambat dalam menyelenggarakan Pendalaman Materi (PM)
  dibandingkan SMA. Selain itu, PM ini bermasalah karena pada
                                    20
  pelaksanaan PRAKERIN berlangsung, kegiatan belajar-mengajar di SMK
  Telkom berhenti. Hal ini menyebabkan banyak mata pelajaran yang
  belum tuntas.

     Selain itu, tahun ini adalah tahun pertama diadakan UJian Kompetensi
  Kejuruan dengan dua cara yang diujikan, yaitu secara teori dan praktek.
  Walaupun setiap tahun sebenarnya ujian ini selalu dilaksanakan, tetapi
  tahun ini berbeda. Perbedaannya terletak dari pembuat soal dan jenis
  ujian prakteknya. Bila pada tahun-tahun sebelumnya, ujian kompetensi
  dilaksanakan dengan Project Work atau Tugas Akhir dan judulnya
  ditentukan oleh siswa itu sendiri sedangkan pada tahun ini jenis ujiannya
  ditentukan oleh pemerintah.

F. Upaya-Upaya Mengatasi Masalah Ujian Nasional (UN)

     Pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya dalam menghadapi
   masalah-masalah yang timbul dalam penyelenggaraan Ujian Nasional
   (UN)   ini,   diantaranya dengan tetap     menyelenggarakan kegiatan
   Pendalaman Materi (PM) walau dengan waktu yang sangat terbatas,
   yaitu dengan sistem Blok. Sistem Blok ini dilakukan dengan cara selama
   masa PM, siswa hanya diberikan mata pelajaran atau pelatihan uji
   kompetensi kejuruan yang akan di UN-kan.

     Selain itu, pihak sekolah juga terus memberikan motivasi kepada para
   siswa-siswinya untuk mempersiapkan mereka secara mental dalam
   menghadapi Ujian Nasional (UN).

G. Pengalaman Penulis dalam Menghadapi Ujian Nasional (UN)

     Sekarang penulis akan menceritakan kembali pengalaman penulis
   dalam menghadapi Ujian Nasional (UN) di SMK Telkom Sandhy Putra
   Jakarta.

     Penulis merupakan angkatan XII di SMK Telkom Sandhy Putra
   Jakarta. Penulis merupakan siswa jurusan Teknik Switching. Penulis
   mengalami Ujian Nasional (UN) pada tahun 2006. Saat itu standar nilai
                                   21
minimum Ujian Nasional (UN) masih 4,25 dan mata pelajaran yang di
UN-kan hanya tiga (3) mata pelajaran saja, yakni Matematika, Bahasa
Indonesia, dan Bahasa Inggris.

  Minggu awal penulis duduk di kelas III SMK, seluruh orang tua murid
dipanggil ke sekolah untuk menghadiri rapat orang tua murid. Dalam
rapat tersebut selain membahas tentang rencana pembelajaran selama
satu tahun yang akan dialami oleh anak mereka juga memberikan
sosialisasi mengenai pelaksanaan Ujian Nasional (UN).

  Sejak awal duduk di kelas III, tepatnya kelas 3 Tel 3, penulis bersama
teman-teman yang lain, bersama-sama mencari tempat bimbingan
belajar. Akhirnya, kami sepakat mengambil bimbingan belajar yang
memfokuskan pada persiapan Ujian Nasional (UN). Kami memilih
bimbingan belajar Nurul Fikri (NF).

  Pertimbangan kami saat itu, haruslah memilih tempat bimbingan
belajar   yang   dekat    dengan     tempat    tinggal    dan   tempat   kami
melaksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin). Hal ini disebabkan, kami
harus melksanakan Praktek Kerja Industri (Prakerin) selama tiga (3)
bulan. Kebetulan penulis mendapat tempat Praktek Kerja Indonesia
(Prakerin) di PT. Telkom Divre II, yakni yang beralamat di Jalan S.
Parman, Slipi, Jakarta Barat.

  Sebenarnya, ada keuntungan penulis mengikuti bimbingan belajar
pada saat pelaksanaan Praktek Kerja Industri (Prakerin) karena pada
saat Prakerin ini kami mendapatkan libur di hari Sabtu yang tidak kami
dapatkan jika belajar efektif di sekolah. Dan hari Sabtu ini penulis
manfaatkan untuk mengintensifkan persiapan Ujian Nasional (UN).

  Selama    Praktek      Kerja   Industri   (Prakerin),   penulis   melakukan
pekerjaan ganda, yaitu selain membantu para staf PT. Telkom yang
merupakan tujuan dilaksanakan Prakerin ini, membuat laporan Prakerin,
mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru-guru sebagai nilai
tambahan untuk nilai rapor di semester V, belajar untuk Tes Semester V
                                    22
yang akan dilaksanakan dua (2) minggu setelah masa Prakerin, serta
mengikuti bimbingan belajar.

  Kegiatan Prakerin ini, sangat menyita waktu penulis, misalnya apabila
terdapat gangguan pelanggan, penulis pun harus ikut membantu para
pegawai di divisi switching di PT. Telkom ini. Walaupun hal itu membuat
penulis harus pulang malam.

  Setelah masa Prakerin tiga (3) bulan berlalu, penulis kembali
disibukkan   dengan      penyusunan     laporan    Prakerin    yang     akan
dipresentasikan di depan dua orang guru penguji, yang di sini
merupakan guru mata pelajaran produktif.

  Namun, sebelum melakukan presentasi laporan hasil Prakerin, penulis
harus menghadapi Tes Semester V yang dilaksanakan dua (2) minggu
setelah Prakerin. Pada saat ini, penulis harus belajar ekstra keras
karena, banyak materi di semester V yang belum dikuasai sepenuhnya
karena terhambat oleh Prakerin.

  Setelah itu, dua (2) minggu kemudian adalah hari yang sangat
menegangkan buat penulis karena penulis harus mempresentasikan
laporan hasil Prakerin penulis. Di sini penulis harus menjelaskan di
depan dua orang guru penguji mengenai apa saja yang telah penulis
kerjakan dan kompetensi apa saja yang telah penulis dapatkan selama
pelaksaan Prakerin tersebut.

  Setelah    menjalani   presentasi    laporan    hasil   Prakerin,   penulis
mendapatkan liburan selama kurang lebih dua (2) minggu. Sebelum,
memulai hari pertama di semester VI. Minggu awal di semester VI, kami
siswa kelas III telah disibukkan kembali dengan adanya kegiatan Project
Work atau Tugas Akhir. Ini adalah salah satu syarat jika ingin lulus dari
SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.

  Mula-mula seluruh siswa kelas III diberi waktu untuk kembali ke
tempat mereka melaksanakan kegiaan Prakerin untuk mencari judul

                                  23
yang tepat untuk Project Work mereka dan memilih siapa yang akan
menjadi     pembimbing   lapangan     mereka.    Kemudian     dilanjutkan
pembuatan proposal Project Work.

  Proposal Project Work tersebut nantinya akan dipertimbangkan dan
disahkan oleh pembimbing akademik. Setelah pembimbing akademik
mensahkan proposal Project Work tersebut, barulah kami diizinkan untuk
membuat laporan Project Work. Kebetulan penulis masih ingat judul
Project Work penulis waktu itu, judulnya adalah “Aktivasi Fitur CLIP
(Caller Identity Personal) pada Sentral Telephon Digital Indonesia (STDI)
EWSD”

  Alhamdulillah, dalam pelaksanaan Project Work ini penulis tidak
mengalami kesulitan. Hal itu dikarenakan dalam penetuan judul Project
Work ini penulis dibantu oleh pembimbing lapangan yang sangat
membantu dengan memberikan saran mengenai judul apa yang cocok
untuk penulis. Selain itu, pembimbing akademik penulis pun sangat
membantu dalam memberikan saran dalam penyusunan laporan ini.

  Hampir setiap ada waktu senggang di tengah kesibukan mengikuti
kegiatan belajar mengajar di semester VI, penulis selalu datang ke PT.
Telkom Divre II untuk melakukan penelitian dan perbaikan dalam
penyusunan laporan Project Work tersebut.

  Selain melakukan penelitian, penulis juga mempelajari hasil laporan
kakak kelas penulis. Penulis membandingkannya dengan milik penulis.
Penulis melakukan hal itu, karena ingin memperoleh hasil yang
maksimal.

  Setelah kurang lebih satu (1) bulan lamanya menyusun laporan
Project Work ini, penulis mulai mempersiapkan diri untuk melakukan uji
kompetensi. Dalam ujian ini penulis didampingi oleh pembimbing
lapangan mempraktekkan hasil penelitian penulis di depan dua (2) guru
penguji dan manager lapangan PT. Telkom Divre II.


                                 24
  Kemudian mereka semua melakukan penilaian terhadap praktek
penulis, setelah itu hasil penilaian tersebut dilampirkan dalam laporan
Project Work penulis. Setelah laporan penulis disahkan oleh pembimbing
akdemik, pembimbing lapangan, dan Kepala SMK Telkom Sandhy Putra
Jakarta, penulis mulai mempersiapkan diri untuk mempresentasikan
laporan Project Work tersebut.

  Dalam presentasi kali ini lebih menegangkan daripada presentasi
laporan Prakerin yang sebelumnya telah penulis jalani. Di sini, penulis
diuji oleh pembimbing akademik, pembimbing lapangan, dan dua (2)
orang guru penguji.

  Kemudian, setelah presentasi ini berhasil penulis lewati, penulis harus
mempersiapkan diri kembali untuk mengikuti Tes Kendali Mutu (TKM)
yang diadakan oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta selama dua (2) hari
yang   dilanjutkan    dengan     Tes    Semester   VI.   Barulah,   setelah
melaksanakan Tes Kendali Mutu (TKM) dan Tes Semester VI, pihak
sekolah mengadakan Pendalaman Materi (PM) sebagai persiapan untuk
menghadapi Ujian Nasional (UN).

  Tetapi,   hampir    sama     dengan    tahun   sekarang,   penulis   tidak
mendapatkan Pendalaman Materi (PM) dalam waktu yang cukup. Tidak
seperti SMA lainnya yang telah mengadakan Pendalaman Materi (PM)
pada awal semester VI. Kami hanya mendapatkan Pendalaman Materi
(PM) selama kurang lebih 1,5 bulan.

  Namun, penulis cukup beruntung karena sejak awal duduk di kelas III,
penulis sudah mengambil program bimbingan belajar. Sehingga penulis
lebih merasa cukup siap dalam menghadapi Ujian Nasional (UN)
tersebut.

  Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Selama tiga (3) hari
penulis berjuang dalam Ujian Nasional (UN). Dimulai dengan mata
pelajaran Bahasa Indonesia pada hari pertama Ujian Nasional,


                                  25
dilanjutkan dengan Matematika, dan diakhiri dengan mata pelajaran
Bahasa Inggris.

  Alhamdulillah, selama mengikuti Ujian Nasional (UN) penulis tidak
mengalami kesulitan. Penulis juga tidak melakukan kecurangan. Dan
penulis sangat puas dengan hasilnya walaupun hanya mendapat nilai
UN 24,47 tetapi penulis sangat bangga dengan hasil tersebut karena itu
merupakan hasil kerja keras penulis sendiri.




                                 26
                                    BAB III

                          SIMPULAN dan SARAN



A. Simpulan

     Menurut penulis, persiapan yang dilakukan oleh SMK Telkom Sandhy
   Putra Jakarta untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) dirasakan telah
   cukup maksimal. Hal ini dibuktikan walaupun dengan keterbatasan waktu
   yang dimiliki oleh siswa SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta, namun
   pihak sekolah tetap berupaya memberikan yang terbaik bagi siswa-siswi
   SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.

     Pihak SMK Telkom sandhy Putra Jakarta, juga dirasa telah tepat
   mengambil langkah. Misalnya dalam sosialisasi Ujian Nasional (UN).
   Sosialisasi ini telah dilakukan sejak minggu pertama siswa SMK Telkom
   Sandhy Putra Jakarta duduk di kelas III.

     Upaya ini dirasakan oleh penulis cukup membantu mengurangi
   kegelisahan pada diri siswa dan orang tua mengenai pelaksanaan Ujian
   Nasional (UN).

     Selain persiapan mental, orang tua juga dapat mempersiapkan
   kemampuan finansial     secara lebih dini. Dan orang tua juga dapat
   mengambil tindakan preventif untuk mempersiapkan mental putra-
   putrinya dalam menghadapi Ujian Nasioan (UN), misalnya dengan
   memasukkan putra-putrinya ke lembaga bimbingan belajar.

     Hal ini, dirasakan cukup efektif, mengingat kegiatan Pendalaman
   Materi yang diberikan oleh pihak sekolah kurang dapat mengakomodasi
   kebutuhan siswa dikarenakan terbatasnya waktu yang tersisa akibat
   kegiatan kejuruan di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta.

                                    27
  Walaupun, dalam keadaan informasi mengenai pelaksanaan Ujian
Nasional (UN) yang sangat terbatas., terutama untuk pelaksanaan Ujian
Kompetensi Kejuruan. Namun, pihak sekolah tetap berupaya secara
maksimal untuk mempersiapkan siswanya agar siap untuk menghadapi
Ujian Kompetensi Kejuruan tersebut.

  Meskipun, banyak pendapat yang tidak menyetujui pelaksanaan Ujian
Nasional (UN), tetapi pemerintah tetap melaksanakan Ujian Nasional
(UN) karena merasa bahwa Ujian Nasional (UN) adalah cara pengujian
hasil belajar yang lebih baik ketimbang Ujian Sekolah (US).

  Berdasarkan pengalaman penulis, ketika menghadapi Ujian Nasional
(UN), ternyata telah terjadi banyak perubahan tata cara pelaksanaan
Ujian Nasional (UN) ini. Misalnya, pada saat penulis melaksanakan Ujian
Nasional (UN) mata pelajaran yang di UN-kan untuk Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) hanya tiga (3) mata pelajaran saja, tetapi saat ini
bertambah menjadi empat (4) mata pelajaran.

  Serta dalam pelaksanaan Ujian Kompetensi Kejuruan, telah terjadi
perubahan, yakni pada saat penulis melaksanakan Ujian Kompetensi
Kejuruan adalah berupa Project Work atau Tugas Akhir. Sedangkan saat
ini Ujian Kompetensi terdiri dari ujian tertulis dan ujian praktek. Hal ini
dirasakan oleh para siswa di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta sebagai
suatu hal yang sangat memberatkan.

  Namun, jika ditinjau dari tingkat penguasaan kompetensi, metode ini
dinilai lebih mengembangkan dan membuktikan kemampuan para siswa
di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta ketimbang Project Work.

  Mengapa demikian?

  Karena dengan adanya Ujian Kompetensi Kejuruan, terutama Ujian
praktek, siswa diharuskan untuk mempraktekkan kemampuan kejuruan
mereka tanpa diketahui sebelumnya bagaimana pelaksanaan Ujian
Kompetensi Kejuruan tersebut akan dilaksanakan.

                                  28
B. Saran

     Setelah melakukan penelitian, penulis melihat bahwa pelaksanaan
   persiapan menghadapi Ujian Nasional (UN) di SMK Telkom Sandhy
   Putra     Jakarta   sudah   cukup        maksimal,    namun   penulis   ingin
   merekomendasikan        beberapa     saran     guna    menutupi    beberapa
   kekurangan yang terjadi dalam ppelaksanaan persiapan Ujian Nasional
   di SMK Telkom Sandhy Putra Jakarta, antara lain:

     a. Pihak sekolah harusnya telah mempersiapkan Ujian Nasional
           mulai dari jauh hari, sehingga siswa tidak merasa khawatir dalam
           menghadapi Ujian Nasional (UN).

     b. Pihak sekolah juga harus menanyakan informasi mengenai
           pelaksanaan Ujian Nasional secara lebih rinci kepada pemerintah
           agar tidak terjadi kerancuan yang mengakibatkan kepanikan di diri
           siswa.

     c. Para siswa pun, harus lebih kreatif dalam mengambil tidakan
           preventif untuk menghadapi Ujian Nasional (UN), salah satunya
           dengan mengikuti bimbingan belajar.

     d. Orang tua murid pun, sebaiknya membantu memberikan motivasi
           kepada putra-putrinya dalam menghadapi Ujian Nasional (UN).




                                       29
                           DAFTAR PUSTAKA




Aderso & Krathwohl (2001), A Taxonomy for Learning, Teaching and
     Assessing, USA: Addison Wesley Longman, Inc.

Arikunto, Suharsimi (1993), Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Bumi
     Aksara, 1993.

Nurgiayantoro, Burhan (2001),Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan
     Sastra, Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.

Semiawan, Conny (1979), Prinsip dan Teknik Pengukuran dan Penilaian di
     dalam Dunia Pendidikan, Jakarta: Mutiara.

Sudjana, Nana (1990), Penilaian HHasil Proses Belajar Mengajar, Bandung:
     Remaja Rosda Karya.




                                   30

								
To top