POLA INTERAKSI DAN PERILAKU SOSIAL MASYARAKAT KOTA (KASUS RUMAH by vem13714

VIEWS: 8,459 PAGES: 122

More Info
									     POLA INTERAKSI DAN PERILAKU SOSIAL
 MASYARAKAT KOTA (KASUS RUMAH SUSUN DI
BANDARHARJO KECAMATAN SEMARANG UTARA)



                          SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Sosiologi Antropologi
               pada Universitas Negeri Semarang




                             Oleh
                     Ari Ismanah Hadiyani
                       NIM. 3501401054




               FAKULTAS ILMU SOSIAL
     JURUSAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
                            2006

                               i
                          LEMBAR PERSETUJUAN



Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia

ujian pada:

Hari           : Selasa
Tanggal        : 24 Januari 2006




Pembimbing I                                          Pembimbing II




Dr. Tri Marhaeni, PA. M. Hum                          Dra. Rini Iswari, M. Si
NIP. 131813674                                        NIP. 131567130




                                   Mengetahui
                      Ketua Jurusan Sosiologi-Antropologi




                             Dra. Rini Iswari, M.Si
                               NIP. 131567130




                                       ii
                         PENGESAHAN KELULUSAN



Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan

Sosiologi-Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang pada:

Hari          : Selasa

Tanggal       : 24 Januari 2006



                                  Penguji Skripsi



                           Dra. Thriwaty Arsal, M. Si
                            NIP. 131911159



Anggota I                                               Anggota II



Dr. Tri Marhaeni, PA. M. Hum                            Dra. Rini Iswari, M.
Si
NIP. 131813674                                          NIP. 131567130


                                   Mengetahui

                     Dekan Fakultas Ilmu Sosial UNNES




                               Drs. Sunardi, MM
                                  NIP. 130367998




                                        iii
                                PERNYATAAN



Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya

saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                     Semarang, 6 Februari 2006




                                                     Ari Ismanah Hadiyani

                                                     NIM. 3501401054




                                        iv
                     MOTTO DAN PERSEMBAHAN



MOTTO :

  -   “Jika kita terhempas karena kritikan, kita akan kehilangan semangat, jika

      kita terlena akan pujian, kita akan kehilangan arah hidup. Sebaliknya kita

      menjadikan kritik dan cambuk untuk mengadakan perbaikkan-perbaikkan

      dan pujian sebagai bara untuk mengadakan peningkatan-peningkatan”.

                                                           (Agus M. Harjana)

  -   “ Bila ingin kebahagiaan dunia maka raihlah dengan ilmu, bila ingin

      kebahagiaan akhirat maka raihlah dengan ilmu dan bila ingin keduanya

      maka raihlah pula dengan ilmu”.

                                                           (Al-Hadits)



                                   Persembahan

                                   Skripsi ini kupersembahkan kepada:

                                   1. Bapak Hadiyono, Ibu Nurjanah, dan

                                        Pram, Novi, Tika adik-adikku tersayang

                                   2. Arif Setiyawan (My Boy Friend), Yanti,

                                        Ilin, Lida, there are all my best friend

                                   3. Teman-teman Kos Laras & Taskiya

                                        Boy’s

                                   4. Teman-teman seperjuanganku 2001




                                        v
                                  PRAKATA



       Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, penyusunan

skipsi ini dapat diselesaikan dengan baik, karena tanpa rahmat dan ridho-Nya

tidak mungkin penulisan ini dapat terlaksana.

       Skripsi ini disusun guna memenuhi salah satu syarat dalam menempuh

studi jenjang Strata 1 (S1) untuk mendapat gelar Sarjana Pendidikan.

       Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapat bantuan dari

berbagai pihak yang mendukung terselesainya skripsi ini. Untuk itu penulis

mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat :

   1. Dr. A.T. Soegito, SH. MM. Rektor Universitas Negeri Semarang

   2. Dekan FIS UNNES, Drs. Sunardi, MM yang telah memberikan ijin

       penelitian.

   3. Ketua Jurusan Sosiologi-Antropologi, Dra. Rini Iswari, M.Si yang telah

       mendukung terlaksananya penelitian ini.

   4. Pembimbing I, Dr. Tri Marhaeni, PA. M.Hum yang telah banyak

       memberikan petunjuk dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat

       terselesaikan.

   5. Pembimbing II, Dra Rini Iswari, M.Si yang telah banyak memberikan

       petunjuk dan bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

   6. Bapak dan Ibu dosen Sosiologi-Antropologi yang telah memberikan ilmu

       pengetahuannya selama ini.




                                       vi
   7. Kepada semua aparat pemerintah dari pemerintahan kota, sampai

       kelurahan yang telah memberi kemudahan dalam perijinan penelitian di

       daerahnya.

   8. Semua warga rumah susun Bandarharjo kecamatan Semarang Utara, yang

       bersedia memberikan informasi yang dibutuhkan oleh penulis.

   9. Bapak dan ibu Hadiyono, adik-adikku tersayang dan Arif setiyawan yang

       telah memberi motifasi sehingga terselesainya skripsi ini.

   10. Juga kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

       Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena

keterbatasan yang ada pada penulis, untuk ituu kritik dan saran yang membangun

dari pembaca sangat diharapkan

       Akhir kata penulis berharap semoga skrisi ini dapat bermanfaat bagi kita

semua, Amin.

Wassalam.



                                                       Semarang, 6 Februari 2006



                                                          Ari Ismanah Hadiyani




                                       vii
                                    SARI



Ari Ismanah Hadiyani, 2005. Pola Interaksi dan Perilaku Sosial Masyarakat Kota
(Kasus Rumah Susun Di Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara). Jurusan
Sosiologi-Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.
Pembimbing I Dr. Tri Marhaeni PA. M. Hum. Pembimbing II Dra. Rini Iswari,
M.Si. 107 h.

Kata Kunci: Pola Interaksi dan Perilaku Sosial, Rumah Susun

          Pola interaksi dan perilaku sosial masyarakat rumah susun di
Bandarharjo sangat menarik untuk diteliti karena pada umumnya masyarakat kota
dipengaruhi arus informasi dan modernisasi yang sangat pesat sedangkan
masyarakat di pemukiman tersebut sangat plural dan memiliki latar belakang yang
berbeda dengan masyarakat kota pada umumnya.
          Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah : (1) Bagaimana
latar belakang kondisi masyarakat di rumah susun Bandarharjo secara sosial dan
ekonomi?, (2) Bagaimana pola interaksi dan perilaku sosial masyarakat rumah
susun Bandarharjo?, (3) Bagaimana masyarakat rumah susun Bandarharjo
beradaptasi dengan perubahan pola interaksi dan perilaku sosial?
          Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui latar belakang, pola
interaksi, perilaku sosial serta proses adaptasi masyarakat rumah susun
Bandarharjo terhadap perubahan pola interaksi dan perilaku sosial tersebut.
          Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang
bersifat diskriptif walaupun tidak menutup kemungkinan menggunakan angka-
angka untuk memperjelas keterangan yang diinginkan. Tehnik pengumpulan data
yang utama adalah menggunakan tehnik analisis yang bersifat analisis interaktif
          Dari hasil penelitian diperoleh data bahwa pola interaksi yang
diterapkan di dalam keluarga bersifat primer dan antar personal baik antara
suami-istri, orang tua dengan anak, sesama anak maupun dengan orang lain yang
serumah, sedangkan interaksi dengan lingkungan sosial didasarkan pada faktor
kepentingan masing-masing. Perilaku sosial di dalam keluarga didasarkan pada
latar belakang dan pandangan masing-masing keluarga, sedangkan perilaku sosial
di lingkungan masyarakat didasarkan pada masing-masing karakter individu
dalam bergaul dengan sesamanya, apabila ada yang melakukan penyimpangan
sosial sering ditolerir sejauh tidak meresahkan masyarakat, misalkan terjadi
selisih paham antara warga satu dengan warga lain apabila hal tersebut bisa
diselesaikan secara kekeluaragaan dan tidak menimbulkan keresahan bagi warga
hal tersebut masih bisa ditolerir. Kontrol sosial di lingkungan masyarakat
dipergunakan aturan atau hukum nasional
          kesimpulan dari seluruh isi hasil penelitian ini adalah Interaksi di
keluarga terjadi secara primer dan face to face antara suami-istri, orang tua
(suami-istri) dengan anak, anak dengan anak maupun antara keluarga inti dengan
orang lain yang se rumah. Interaksi di lingkungan masyarakat terbentuk dari

                                     viii
ikatan ketetanggaan, pemenuhan kebutuhan ekonomi dan ikatan kelembagaan
baik lembaga sosial maupun lembaga birokrasi. Perilaku di dalam keluarga
didasarkan pada latar belakang budaya personal dan persepsi orangtua terhadap
kehidupan keluarga sehingga masing-masing keluarga memiliki corak sendiri-
sendiri dalam berperilaku atau bergaul. Pola perilaku di dalam masyarakat
ditentukan oleh masing-masing individu dalam bergaul dan saling menghormati.
Kesulitan di dalam melakukan interaksi sosial, dan mengontrol perilaku sosial,
baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat karena kesibukan
individu dalam mencari nafkah dan perbedaan pandangan masing-masing
individu terhadap perilaku itu sendiri, sehingga kontrol sosial pun akan
mengalami perbedaan pandangan masing-masing individu terhadap pelanggaran
yang terjadi. Saran-saran ditujukan bagi masyarakat maupun pemegang kebijakan.




                                      ix
                                                    DAFTAR ISI


                                                                                                                Halaman
HALAMAN DEPAN ...................................................................................
PERSETUJUAN PERSETUJUAN..............................................................                                 ii
PENGESAHAN KELULUSAN ..................................................................                              iii
PERNYATAAN...........................................................................................                iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...............................................................                                 v
PRAKATA...................................................................................................           vi
SARI.............................................................................................................   viii
DAFTAR ISI................................................................................................            x
DAFTAR TABEL........................................................................................                xiii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................                   xiv
DAFTAR LAMPIRAN................................................................................                     xv
BAB I            : PENDAHULUAN
                    A. Latar Belakang .................................................................               1
                    B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah ..............................                             6
                    C. Rumusan Masalah. ...........................................................                   7
                    D. Tujuan Penelitian .............................................................                8
                    E. Manfaat Penelitian ...........................................................                 8
                    F. Sistematika Skripsi...........................................................                 9
BAB II           : TELAAH PUSTAKA DAN KERANGKA TEORITIK
                    I. Telaah Pustaka. ...................................................................           11
                     A. Interaksi Sosial.................................................................            11
                           1. Pengertian Interaksi Sosial.........................................                   14
                           2. Aspek-aspek Interaksi Sosial .....................................                     17
                           3. Faktor-faktor yang Berpengaruh dalam Interaksi
                                Sosial..........................................................................     19
                           4. Syarat-syarat Terjadinya Interaksi Sosial ..................                           21
                           5. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial..................................                       25



                                                              x
           B. Perilaku Sosial..................................................................         27
                1. Pengertian Perilaku Sosial .........................................                 27
                2. Jenis-jenis Perilaku Sosial .........................................                27
                3. Pembentukan Perilaku. ..............................................                 28
                4. Pola Perilaku Dalam Interaksi. ..................................                    29
                5. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku
                     Sosial..........................................................................   29
                6. Modifikasi Perilaku....................................................              30
           C. Masyarakat Kota ..............................................................            31
                1. Pengertian masyarakat kota. ......................................                   31
                2. Kota dipandang Dari Keruangan ...............................                        33
           D. Pengertian Rumah Susun (Flat).......................................                      35
           II. Kerangka Teoritik..............................................................          37
BAB III   : METODOLOGI PENELITIAN
           A. Dasar Penelitian ...............................................................          38
           B. Lokasi Penelitian..............................................................           39
           C. Fokus Penelitian...............................................................           39
           D. Sumber Data Penelitian....................................................                40
           E. Metode Pengumpulan Data..............................................                     40
                1. Observasi ...................................................................        41
                2. Wawancara.................................................................           42
                3. Dokumentasi. .............................................................           43
           F. Validitas Data...................................................................         43
           G. Metode Analisis Data.......................................................               45
           H. Prosedur Penelitian. .........................................................            47
BAB IV    : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
           I. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ................................                          49
           A. Lokasi Penelitian ..............................................................          49
           B. Latar Belakang Berdirinya Rumah Susun .......................                             50
           C. Gambaran Umum Subjek Penelitian. ...............................                          54
                1. Keadaan Ekonomi......................................................                56


                                                 xi
                 2. Tingkat Pendidikan. ...................................................                 61
                 3. Keadaan Sosial...........................................................               63
           II.      Hasil Penelitian dan Analisis
           A. Pola Interaksi...................................................................             67
                 1. Interaksi di dalam Keluarga. ........................................                   67
                 2. Interaksi di Lingkungan Masyarakat............................                          77
           B. Perilaku Sosial. ................................................................             86
                 1. Perilaku Sosial di dalam Keluarga. ..............................                       87
                 2. Perilaku sosial di Lingkungan Masyarakat. .................                             92
           C.      Kesulitan-kesulitan Dalam Interaksi dan Perilaku
           Sosial. .....................................................................................   100
           D.        Cara Mengatasi Kesulitan dalam Interaksi dan
           Perilaku Sosial........................................................................         101
BAB V   : PENUTUP
           A. Simpulan ..........................................................................          103
           B. Saran.................................................................................       104
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




                                                   xii
                                        DAFTAR TABEL



Tabel

1. Pembagian Penduduk Menurut Kelompok Umur..................................                           55

2. Mata Pencaharian Penduduk..................................................................          57

3. Tingkat Pendapatan................................................................................   60

4. Jenjang Pendidikan ...............................................................................   62




                                                      xiii
                                       DAFTAR GAMBAR


Gambar 1.         Rumah Susun Blok Tengah ................................................                   51
Gambar 2.         Rumah Susun Blok A..........................................................               52
Gambar 3.         Rumah Susun Blok B. .........................................................              53
Gambar 4.         Kondisi kios permanent yang seharusnya tidak boleh
                  didirikan. .............................................................................    58
Gambar 5.         Pedagang makanan yang berjualan dari lantai ke lantai. ....                                59
Gambar 6.         Keadaan toko di lantai tiga Blok A. ....................................                   59
Gambar 7.         Permainan sepak bola di lantai dasar. .................................                     65
Gambar 8.         Permainan Billiyard.............................................................            66
Gambar 9.         anak-anak menggunakan waktu luang setelah sekolah
                  untuk bermain......................................................................         74
Gambar 10. Permainan Billiyard anak-anak. ..........................................                          75
Gambar 11. Interaksi dalam keluarga inti dengan keluarga lain yang
           se rumah. .............................................................................           76
Gambar 12. Interaksi antar ibu-ibu di rumah susun Blok Tengah. .........                                     79
Gambar 13. Keadaan mushola di Blok A................................................                         79
Gambar 14. Interaksi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari di
           lantai dasar...........................................................................            82
Gambar 15. Rumah ketua RW III yang digunakan sebagai tempat
           Posyandu. ............................................................................            83
Gambar 16. Bangunan Kelurahan Bandarharjo yang sedang
           direnovasi. ...........................................................................            86
Gambar 17. Keadaan dapur yang terletak di luar rumah. .......................                                93
Gambar 18. Keadaan bagian dalam rumah susun. ..................................                              94
Gambar 19. Keadaan Jalan yang sudah diperbaiki. ................................                             96
Gambar 20. Rumah baca terlihat dari dalam...........................................                          96
Gambar 21. Kegiatan bulanan rukun tetangga RT 07.............................                                 97
Gambar 22. Kegiatan bulanan PKK RW XII..........................................                              98
Gambar 23. Keadaan rumah susun yang menjulang tinggi.....................                                    100




                                                         xiv
                         DAFTAR LAMPIRAN



1. Gambar Peta Kota Semarang

2. Gambar Peta Kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara

3. Daftar Informan

4. Bagan Struktur Organisasi PKK

5. Bagan Struktur Organisasi Rukun Warga RW XII

6. Pedoman Wawancara

7. Surat Permohonan Ijin Penelitian Kelurahan Bandarharjo

8. Surat Ijin Penelitian Badan Kesatuan Bangsa Dan Perlindungan

   Masyarakat




                                     xv
                                     BAB I

                               PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Permasalahan

          Manusia sebagai makhluk sosial dalam kehidupannya mempunyai

   kebutuhan–kebutuhan, baik kebutuhan material maupun spiritual. Kebutuhan

   itu bersumber dari dorongan-dorongan alamiah yang dimiliki setiap manusia

   semenjak dilahirkan. Lingkungan hidup merupakan sarana di mana manusia

   berada sekaligus menyediakan kemungkinan-kemungkinan untuk dapat

   mengembangkan kebutuhan-kebutuhan. Oleh karena itu, antara manusia

   dengan lingkungan hidup terdapat hubungan yang saling mempengaruhi

   (Poppy, 1989:1). Hubungan-hubungan sosial yang terjadi secara dinamis yang

   menyangkut hubungan antara individu dengan individu, individu dengan

   kelompok, atau kelompok dengan kelompok dan berhubungan satu dengan

   yang lain disebut dengan interaksi sosial.

          Interaksi sosial adalah syarat utama bagi terjadinya aktifitas sosial dan

   hadirnya kenyataan sosial, kenyataan sosial didasarkan pada motivasi

   individu dan tindakan-tindakan sosialnya. Ketika berinteraksi seorang individu

   atau kelompok sosial sebenarnya tengah berusaha atau belajar bagaimana

   memahami tindakan sosial seorang individu atau kelompok sosial lain,

   perilaku sosial adalah hal yang dilakukan seorang individu atau kelompok

   sosial di dalam interaksi dan dalam situasi tertentu. Interaksi sosial akan

   berjalan dengan tertib dan teratur dan anggota masyarakat bisa berfungsi



                                        1
                                                                           2



secara normal, yang diperlukan bukan hanya kemampuan untuk bertindak

sesuai dengan konteks sosialnya, tetapi juga memerlukan kemampuan untuk

menilai secara objektif perilaku pribadinya dipandang dari sudut sosial

masyarakatnya (Narwoko, 2004:21).

       Masyarakat kota memiliki ciri–ciri yang khas yaitu cara hidup yang

cenderung sekuler dengan berorientasi pada kehidupan duniawi yang

dominan, jalan fikiran manusianya sangat rasional dan menggunakan waktu

yang sangat teliti dan cermat. Adapun perilaku individual masyarakat kota

sangat dominan dengan pola interaksi yang didasarkan pada faktor

kepentingan dari pada faktor pribadi atau komunal (Soekanto, 2001:170-171).

       Kehidupan     kota memiliki daya tarik yang cukup besar bagi

masyarakat di daerah sekitarnya, karena masyarakat kota dianggap sebagai

pusat perekonomian, sehingga masyarakat desa menganggap mudah mencari

uang dan mudah mencari pekerjaan yang sesuai dengan pendidikannya. Selain

itu, daya tarik kota yang lain adalah banyaknya fasilitas berupa sarana dan

prasarana baik berupa fasilitas pendidikan, hiburan, transformasi, komunikasi

maupun tempat-tempat rekreasi (Goede, 1990 : 226).

       Pertumbuhan kota yang cenderung cepat mengakibatkan kota tidak

mampu menyediakan sarana dan prasarana yang layak dan memadai bagi

kehidupan masyarakat, seperti sarana kesehatan, penerangan, terutama

perumahan. Ketidakmampuan menyediakan sarana perumahan yang memadai

ini menimbulkan adanya pemukiman–pemukiman kumuh ( Slum Area ) dan

juga menimbulkan adanya gagasan untuk mendirikan rumah susun ( flat ),
                                                                          3



yang di usahakan untuk meningkatkan derajat kehidupan masyarakat. Dengan

keterbatasan tanah pemukiman di kota Perum Perumnas menawarkan tempat

tinggal yang dipandang layak untuk dihuni, yaitu rumah susun (flat ) yang

statusnya dapat dimiliki penghuni dengan cara Kredit Pemilikan Rumah Bank

Tabungan Negara (KPR–BTN) atau dibeli dengan cara kredit. Rumah susun

ternyata bukan rumah tradisional Indonesia, melainkan rumah yang baru

diperkenalkan di Indonesia. Dalam bahasa asing, rumah susun disebut dengan

istilah flat atau apartement, yaitu suatu bangunan yang terdiri atas bagian-

bagian yang masing-masing merupakan suatu kesatuan, tetapi dapat

digunakan atau dihuni secara terpisah yang umumnya dapat dipakai sebagai

tempat tinggal atau tempat melakukan usaha ( Manan, 1989 : 6 ).

       Di Indonesia saat ini sedang digalakkan pembangunan rumah susun

dalam rangka menanggulangi masalah perumahan, bahkan beberapa di

antaranya sudah ditempati. Rumah susun adalah suatu bangunan di mana

manusia tinggal dan melangsungkan kehidupannya. Di samping itu, rumah

juga merupakan tempat di mana berlangsung proses sosialisasi pada saat

seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang

berlaku di dalam suatu masyarakat, juga tempat individu untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Maka tidak mengherankan apabila masalah

perumahan menjadi masalah yang sangat penting bagi setiap individu.

       Pada masa lalu, di mana penduduk masih jarang dan tanah yang

dipergunakan untuk daerah tempat tinggal masih cukup luas, masyarakat dapat

membangun tempat tinggalnya secara menyebar luas. Akan tetapi pada masa
                                                                            4



sekarang, terutama di kota-kota besar, di mana penduduknya sangat padat

sedangkan tanah untuk menjadi daerah tempat tinggal semakin langka, perlu

dipikirkan kemungkinan sistem perumahan baru. Salah satu sistem yang

mungkin dapat menampung kebutuhan yang demikian besar akan perumahan

dalam keadaan tanah yang terbatas, adalah sistem rumah susun atau flat, yaitu

membangun perumahan dengan sistem menumpuk ke atas.

       Sebagai kota besar, Semarang juga memiliki masalah yang sama

dengan kota-kota besar lainnya, mempunyai masalah tentang kepadatan

penduduk dan sempitnya lahan untuk perumahan, sehingga mendorong

diwujudkannya pembangunan rumah susun, pembangunan rumah susun di

Semarang salah satunya terletak di Bandarharjo. Rumah susun Bandarharjo

didirikan di atas tanah yang luasnya kurang lebih 1 Hektar yang berada di desa

Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara. Ketinggian wilayah ini terletak 0,5

meter diatas permukaan air laut dengan suhu berkisar 23 sampai 35 derajat

celcius, sedangkan jarak tempuh rumah susun ini kurang lebih 15 menit dari

pusat pemerintahan kota Semarang.

       Sebelum didirikannya rumah susun, daerah Bandarharjo merupakan

sebuah pemukiman penduduk yang tergolong Slum Area, daerah Bandarharjo

merupakan daeran pembuangan limbah industri, rawa-rawa dan ada sebagian

rumah penduduk, pada tahun 1991 pemerintah kota mempunyai prakarsa

untuk membangun sebuah pemukiman dengan konsep rumah susun

percontohan. Pembangunan rumah susun ini didirikan dengan pertimbangan

pemerintah atas dasar masalah kesehatan dan kesejahteraan masyarakat
                                                                            5



Bandarharjo sendiri. Daerah ini sering tergenang air akibat banjir atau

pasangnya air laut (Rob), dan menyebabkan kesehatan warga kurang terjamin.

Rumah susun ini didirikan karena pemerintah ingin memberdayakan warga

rumah susun ke kondisi yang lebih baik.

       Rumah susun atau rumah yang berbentuk vertikal pada dasarnya

berbeda dengan rumah horizontal, begitu juga dengan proses interaksi dan

perilaku masyarakatnya jelas memiliki perbedaan. Perbedaan itu ternyata

membuat masyarakat rumah susun memiliki solidaritas yang tinggi, sebagai

rumah percontohan dan rumah susun yang baru diperkenalkan di wilayah

Semarang, banyak masyarakat yang ingin mendapatkan hak sewa, selain

warga Bandarharjo sendiri banyak warga luar Bandarharjo bahkan dari luar

Semarang ingin menempatinya. Sebagian besar masyarakat Semarang

menganggap daerah Bandarharjo adalah daerah rawan, sering terjadi konflik

atau masalah sosial. Daerah Bandarharjo terkenal dengan adanya gali-gali

(orang-orang yang berwatak keras, preman, pekerja kasar) tetapi pada

kenyataannya masyarakat rumah susun Bandarharjo memiliki solidaritas yang

tinggi dan kehidupan di daerah tersebut aman dan sesuai dengan norma yang

ada.

       Berangkat dari latar belakang seperti yang telah diuraikan di atas maka

diangkat sebuah skripsi dengan judul "Pola Interaksi dan Perilaku Sosial

Masyarakat Kota, (Kasus Rumah Susun di Bandarharjo Kecamatan Semarang

Utara").
                                                                             6



B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah

          Sebagai makhluk individu sekaligus makhluk sosial manusia

   membentuk interaksi (hubungan sosial) dengan orang lain. Hubungan sosial

   ini dapat dikategorikan menjadi tiga unsur dasar hubungan sosial, yaitu

   hubungan sosial yang berbentuk kerjasama, hubungan sosial yang berbentuk

   persaingan (kompetisi), dan hubungan sosial yang berbentuk konflik tertutup

   dan konflik terbuka. Ketiga unsur dasar dalam hubungan sosial dalam

   masyarakat ini merupakan unsur penting untuk mengetahui berbagai bentuk

   atau corak hubungan sosial di masyarakat.

          Sebagai makhluk sosial manusia dituntut untuk melakukan hubungan

   sosial antar sesamanya dalam kehidupan di samping tuntutan hidup

   berkelompok. Hubungan sosial merupakan salah satu hubungan yang harus

   dilaksanakan, karena di dalam hubungan sosial itu setiap individu menyadari

   tentang kehadirannya di samping kehadiran individu lain. Kehidupan

   kelompok di dalam masyarakat ditentukan oleh adanya syarat-syarat dasar

   adanya kehidupan bersama, yang merupakan unsur pengikat kehidupan

   berkelompok yang berupa, locality, yaitu adanya daerah atau tempat tinggal

   tertentu dan community sentiment, yaitu suatu perasaan tentang pemilikan

   bersama dalam kehidupan. Pola interaksi dan perilaku sosial dalam penelitian

   ini mengacu pada konsep Harold Bethel dalam Santoso (2004 : 10-11), bahwa

   syarat-syarat dasar adanya kehidupan bersama tercermin pada faktor-faktor

   sebagai berikut :
                                                                             7



  a. Grouping of people, artinya adanya kumpulan orang-orang.

  b. Definite place, artinya adanya wilayah atau tempat tinggal tertentu.

  c. Mode of living, artinya adanya pemilihan cara-cara hidup.

         Di dalam kehidupan bermasyarakat setiap individu harus menjalin

  interaksi sosial antar individu lain, yang sama-sama hidup dalam satu

  kelompok. Interaksi sosial pada pokoknya memandang perilaku sosial yang

  selalu dalam kerangka kelompok seperti struktur dan fungsi dalam kelompok.

  Perilaku sosial individu dipandang sebagai akibat adanya struktur kelompok,

  seperti tingkah laku pimpinan atau tingkah laku individu yang berfungsi

  sebagai anggota kelompok. Menurut Bonner interaksi sosial adalah suatu

  hubungan antara dua atau lebih individu manusia ketika perilaku individu

  yang satu mempengaruhi, mengubah, atau memperbaiki perilaku individu

  yang lain atau sebaliknya.



C. Rumusan Masalah

         Dari studi awal yang dilakukan di rumah susun             Bandarharjo,

  Kecamatan Semarang Utara, terdapat berbagai permasalahan yang dapat dikaji

  sebagai bahan penelitian. Di sini permasalahan tersebut dapat diidentifikasi

  sebagai berikut:

  1. Bagaimana latar belakang kondisi masyarakat di rumah susun Bandarharjo

     secara sosial dan ekonomi ?

  2. Bagaimana pola interaksi dan perilaku sosial masyarakat rumah susun

     Bandarharjo ?
                                                                               8



   3. Bagaimana masyarakat rumah susun Bandarharjo beradaptasi dengan

       perubahan pola interaksi dan perilaku sosial di rumah susun tersebut?



D. Tujuan Penelitian

           Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk

   mengetahui, menggambarkan dan menjelaskan :

   1. Latar belakang masyarakat Bandarharjo.

   2. Pola interaksi dan perilaku sosial masyarakat Bandarharjo.

   3. Proses adaptasi masyarakat rumah susun Bandarharjo terhadap perubahan

       pola interaksi dan perilaku sosial di rumah susun tersebut.



E. Manfaat Penelitian

           Secara teoritis manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah

   sebagai bahan perbandingan untuk penelitian lain bila dilakukan penelitian

   yang sama di masa yang akan datang, sebagai referensi penelitian untuk

   melengkapi sumber yang sudah ada memberikan sumbangan bagi penelitian

   lebih lanjut.

           Secara praktis manfaat penelitian ini adalah sebagai sumbang saran

   kepada instansi terkait dalam menentukan kebijakan pembangunan dalam

   menyusun tata kota yang ideal dan memberikan informasi bagi masyarakat

   dalam melakukan Interaksi dan menentukan perilaku sosial di lingkungannya,

   sehingga terjadi keselarasan dan keseimbangan dalam kehidupan sosial.

   Dengan sumbang saran kepada pihak terkait dan informasi kepada masyarakat
                                                                         9



   diharapkan dapat tercapai kehidupan yang harmonis sesuai dengan apa yang

   diinginkan oleh masyarakat dan pemerintah.



F. Sistematika Skripsi

          Untuk memperoleh gambaran dan untuk memudahkan pembahasan,

   maka dalam skripsi ini dikelompokkan dalam 3 bagian dan V bab dengan

   sistematika sebagai berikut :

   I. Bagian awal skripsi, berisi tentang :

      1. Halaman sampul

      2. Lembar berlogo

      3. Halaman judul

      4. Persetujuan pembimbing

      5. Pengesahan lulusan

      6. Pernyataan

      7. Motto dan persembahan

      8. Prakata

      9. Sari

      10. Daftar isi

      11. Daftar tabel (bila ada)

      12. Daftar gambar (bila ada)

      13. Daftar lampiran
                                                                            10



II. Bagian Isi Skripsi, berisi tentang :

   BAB I :     PENDAHULUAN, berisi tentang latar belakang, identifikasi

               dan    pembatasan      masalah,   perumusan    masalah,   tujuan

               penelitian, kegunaan        penelitian dan sistematika penulisan

               skripsi.

   BAB II : TELAAH PUSTAKA, berisi tentang konsep-konsep serta

               teori-teori yang mendukung pemecahan masalah dalam

               penelitian serta kerangka teoritiknya.

   BAB III: METODE PENELITIAN, menguraikan tentang dasar, lokasi

               penelitian, focus penelitian, sumberdata penelitian, metode

               pengumpulan data, validitas data, model analisis data, dan

               prosedur penelitian.

   BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN, berisi tentang

               hasil penelitian dan pembahsan hasil penelitian.

   BAB V : PENUTUP, berisi simpulan dan saran.

III. Bagian Akhir Skripsi, berisi tentang :

   1. Daftar pustaka

   2. Lampiran
                                   BAB II

           TELAAH PUSTAKA DAN KERANGKA TEORITIK



I. Telaah Pustaka

A. Interaksi Sosial

          Dalam kehidupan bersama, antar individu satu dengan individu lainnya

   terjadi hubungan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Melalui

   hubungan itu individu ingin menyampaikan maksud, tujuan, dan keinginannya

   masing-masing. Untuk mencapai keinginan tersebut biasanya diwujudkan

   dengan tindakan melalui hubungan timbal balik, hubungan inilah yang disebut

   dengan interaksi. Interaksi terjadi apabila seorang individu melakukan

   tindakan, sehingga menimbulkan reaksi dari individu-individu yang lain,

   karena itu interaksi terjadi dalam suatu kehidupan sosial. Interaksi pada

   dasarnya merupakan siklus perkembangan dari struktur sosial yang merupakan

   aspek dinamis dalam kehidupan sosial. Perkembangan inilah yang merupakan

   dinamika yang tumbuh dari pola-pola perilaku individu yang berbeda menurut

   situasi dan kepentingannya masing-masing, yang diwujudkannya dalam proses

   hubungan sosial.

          Hubungan-hubungan sosial itu pada awalnya merupakan proses

   penyesuaian nilai-nilai sosial dalam kehidupan sosial. Kemudian meningkat

   menjadi semacam pergaulan yang tidak hanya sekedar pertemuan secara fisik,

   melainkan merupakan pergaulan yang ditandai adanya saling mengerti tentang




                                     11
                                                                          12



maksud dan tujuan masing-masing pihak yang terjadi dalam hubungan sosial

tersebut.

       Sudah menjadi hukum alam dalam kehidupan individu bahwa

keberadaan dirinya adalah sebagai makhluk individu sekaligus sosial.

Kebutuhan dasar individu untuk melangsungkan kehidupannya membutuhkan

makanan, minuman untuk menjaga kesetabilan suhu tubuhnya dan

keseimbangan organ tubuh yang lain, (kebutuhan biologi), individu

membutuhkan     juga   perasaan   tenang   dari   ketakutan,   keterpencilan,

kegelisahan, dan berbagai kebutuhan kejiwaan lainnya. Kebutuhan individu

yang mendasar juga di perlukan ialah kebutuhan untuk berhubungan dengan

individu lain, kebutuhan untuk melanjutkan keturunan, kebutuhan untuk

membuat pertahanan diri agar terhindar dari musuh, kebutuhan untuk belajar

kebudayaan dari lingkungan agar dapat diterima atau diakui eksistensinya oleh

warga masyarakat setempat.

       Di dalam kehidupan bermasyarakat, setiap individu terikat dalam

struktur-struktur sosial yang ada dalam masyarakatnya. Masing-masing

struktur sosial mengatur kedudukan masing-masing individu dalam kaitannya

dengan kedudukan-kedudukan dari individu yang lain yang secara

keseluruhannya memperhatikan corak corak tertentu yang berada dari struktur

sosial yang lain. Adanya kedudukan-kedudukan yang diatur oleh struktur

sosial tersebut menuntut dan menghasilkan adanya peranan-peranan yang

sesuai dengan kedudukan-kedudukan yang dimiliki masing-masing individu.
                                                                           13



       Kebutuhan individu akan individu lain mendorong dirinya untuk

belajar pola-pola, rencana-rencana, dan strategi untuk bergaul dengan individu

yang lain. individu pun mulai belajar memainkan peranan sesuai dengan status

yang diakui oleh lingkungan sosialnya. Status menurut Pudja (1989:1), dapat

dibedakan menjadi dua bagian, yaitu status yang diperoleh dengan sendirinya

(ascribed status) dan status yang diperoleh dengan kerja keras atau diusahakan

(achieved status). Ascribed status atau status otomatis adalah status yang

diterima individu secara otomatis sejak individu itu dilahirkan, hal ini

biasanya terjadi karena kedudukan orang tuanya sebagai orang yang

terpandang atau bangsawan. Achieved status atau status disengaja merupakan

status yang dicapai individu melalui usaha-usaha yang disengaja, hal ini

tampak dalam usaha pencapaian cita-cita atau profesi sebagai guru, dokter dan

banyak lainnya.

       Interaksi sosial mempunyai korelasi atau hubungan dengan status yaitu

bahwa status memberi bentuk atau pola interaksi. Status dikonsepsikan

sebagai posisi individu atau kelompok individu sehubungan dengan kelompok

atau individu lainnya, status merekomendasikan perbedaan martabat, yang

merupakan pengakuan interpersonal yang selalu meliputi paling sedikit satu

individu, yaitu siapa yang menuntut dan individu lainnya yaitu siapa yang

menghormati tuntutan itu. Gejala ini terlihat misalnya pada hubungan antara

atasan dengan bawahannya atau pada hubungan antara orang tua dengan anak-

anak atau yang lebih muda, antara tuan tanah dengan penggarap, antara orang
                                                                             14



kaya dengan orang miskin. Dalam hal ini status memberi bentuk atau pola

tertentu dalam interksi sosial.

       Sebagai mahluk individu manusia dilahirkan sendiri dan memiliki ciri-

ciri yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Perbedaan ini merupakan

keunikan dari manusia tersebut. Sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan

individu lain untuk memenuhi segala kebutuhannya, dari sinilah terbentuk

kelompok-kelompok yaitu suatu kehidupan bersama individu dalam suatu

ikatan, di mana dalam suatu ikatan tersebut terdapat interaksi sosial dan ikatan

organisasi antar masing-masing anggotanya (Soekanto, 2001 : 128). Dalam

proses sosial, interaksi sosial merupakan sarana dalam melakukan hubungan

dengan lingkungan sekitarnya.



1. Pengertian Interaksi Sosial

       Sebagai makhluk individu dan sosial, individu membentuk interaksi

sosial (hubungan sosial) dengan individu lain. Ciri-ciri Hubungan sosial pada

masyarakat khususnya masyarakat kota memiliki hubungan sosial yang

longgar, hal ini karena kota merupakan pemukiman yang relatif besar, padat

dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen kedudukan sosialnya,

selain hubungan sosial yang longgar ciri-ciri hubungan sosial yang lain adalah

solidaritas organik (rasa bersatu atas dasar kontrak atau perjanjian),

pembagian kerja komplek, dan sanksi sosial berdasarkan hukum.

       Dengan adanya ciri-ciri tersebut, hubungan sosial masyarakat juga

tidak terlepas dari corak hubungan kerjasama, hubungan persaingan, dan
                                                                         15



corak hubungan konflik. Ketiga corak hubungan itu akan mewarnai kehidupan

masyarakat kota yang cenderung tidak saling mengenal satu dengan yang lain

karena kepentingan-kepentingan yang berbeda. Individu hanya mempunyai

hubungan sosial dengan individu-individu tertentu karena individu tersebut

mempunyai kepentingan yang sama.

       Dalam kehidupan sosial yang terkecil, seorang individu terjerat dalam

hubungan sosial antara anggota keluarga di mana ia dilahirkan dan dibesarkan

di lingkungan sosial tersebut. Pada tingkat berikutnya, hubungan sosial

diperluas menjadi hubungan bertetangga yang tinggal berdekatan dengan

rumahnya. Hubungan bertetangga di kota besar tidak seintim hubungan sosial

pada masyarakat desa yang cenderung saling mengenal satu dengan yang lain,

serta mempunyai rasa bersatu yang biasanya dikuatkan dengan sentimen-

sentimen kelompok.

       Dalam hal ini, hubungan sosial bertetangga diartikan sebagai kesatuan

tempat tinggal yang menempati suatu wilayah tertentu yang batas-batasnya

ditentukan luasnya jaringan sosial di lingkungan tempat tinggal yang

berdekatan yang dalam hal ini ialah komplek rumah susun (flat).

       Pola-pola hubungan (interaksi) sosial yang teratur dapat terbentuk

apabila ada tata kelakuan atau perilaku dan hubungan yang sesuai dengan

situasi dan kondisi masyarakat. Sistem itu merupakan pranata sosial yang di

dalamnya terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang dipedomani serta ada

lembaga sosial yang mengurus pemenuhan kebutuhan masyarakat sehingga

interaksi sosial dalam masyarakat dapat berjalan secara teratur.
                                                                         16



       Dalam hal ini interaksi menurut Susanto (1983 : 32) ialah akibat dari

adanya proses komunikasi, yaitu saling mempengaruhi antara individu satu

dengan individu yang lain di dalam masyarakat yang mengakibatkan

terjadinya perubahan dalam masyarakat ataupun proses sosial.

       Bonner (Gerungan, 1988 : 57) menyatakan bahwa interaksi sosial

adalah suatu hubungan antara dua atau lebih individu yang saling

mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan antar individu yang

satu dengan individu yang lainnya.

       Bintarto (1983 : 61) berpendapat bahwa, interaksi sosial merupakan

hubungan sosial yang dinamis, yang menyangkut hubungan antara individu,

antara individu dengan kelompok, maupun antara kelompok yang satu dengan

kelompok yang lain.

       Menurut Bales dan Homans dalam Santoso (2004:10), pada

hakekatnya manusia memiliki sifat yang dapat digolongkan ke dalam :

a. Manusia sebagai makhluk individual,

b. Manusia sebagai makhluk sosial, dan

c. Manusia sebagai makhluk berkebutuhan.

       Selanjutnya dalam penelitian skripsi ini yang dimaksud dengan

interaksi sosial adalah suatu proses hubungan sosial yang dinamis baik

dilakukan oleh perorangan maupun kelompok manusia sehingga terjadi

hubungan yang timbal balik antara individu atau kelompok yang satu dengan

yang lain agar terjadi perubahan di dalam lingkungan masyarakat.
                                                                         17



2. Aspek-Aspek Interaksi Sosial

       Setiap individu yang berhubungan dengan individu yang lain, baik

hubungan sosial antara individu dengan individu, individu dengan kelompok

atau kelompok dengan kelompok, hubungan sosial itu memiliki aspek-aspek

sebagai berikut :

a. Adanya hubungan

   Setiap interaksi sudah barang tentu terjadi karena adanya hubungan antara

   individu dengan individu maupun antara individu dengan kelompok, serta

   hubungan antara kelompok dengan kelompok. hubungan antara individu

   dengan individu ditandai antara lain dengan tegur sapa, berjabat tangan,

   dan bertengakar. Contoh seorang anak yang bertegur sapa dengan ibunya,

   dua orang ibu rumah tangga yang saling berjabat tangan. Hubungan timbal

   balik antara individu dengan kelompok, misalnya seorang kepala desa

   yang sedang berpidato di depan warganya, ketua perkumpulan pengajian

   yang sedang ceramah. Hubungan timbal balik antara kelompok dengan

   kelompok, misalnya rapat antar RT, pertandingan untuk acara 17 Agustus

   antar RT.

b. Ada individu

   Setiap interaksi sosial menuntut tampilnya individu-individu yang

   melaksanakan hubungan. Hubungan sosial itu terjadi karena adanya peran

   serta dari individu satu dan individu lain, baik secara person atau

   kelompok.
                                                                        18



c. Ada tujuan

   Setiap interaksi sosial memiliki tujuan tertentu seperti mempengaruhi

   individu lain. Misalnya,seorang ibu rumah tangga yang sedang berbelanja

   untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di pasar dan menawar barang yang

   akan dibelinya, hal itu adalah salah satu fungsi untuk mempengaruhi

   individu lain agar mau menuruti apa yang dikehendaki oleh ibu pembeli

   tersebut.

d. Adanya hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok

   Interaksi sosial yang ada hubungan dengan struktur dan fungsi kelompok

   ini terjadi karena individu dalam hidupnya tidak terpisah dari kelompok.

   Di samping itu, tiap-tiap individu memiliki fungsi dalam kelompoknya.

   Individu di dalam kehidupannya tidak terlepas dari individu yang lain,

   oleh karena itu individu dikatakan sebagai makhluk sosial yang memiliki

   fungsi dalam kelompoknya. Misalkan, seorang penceramah agama sebagai

   seorang individu Ia memiliki fungsi dalam kelompoknya yaitu untuk

   memberikan atau menyampaikan ajaran keagamaan yang dianutnya. Hal

   lain yang dapat dilihat, seorang kepala desa yang memiliki fungsi untuk

   membentuk anggota masyarakatnya menjadi masyarakat yang damai,

   tertib aman dan sejahtera, dan untuk mewujudkan hal tersebut di butuhkan

   pula keikutsertaan dari setiap anggota masyarakatnya. Jadi dalam hal ini

   setiap individu ada hubungannya dengan struktur dan fungsi sosial

   (Santoso, 2004 : 11)
                                                                             19



        Dengan demikian konsep interaksi sosial yang digunakan di dalam

tulisan ini adalah konsep dari Soerjono Soekanto bahwa interaksi sosial

merupakan sarana dalam melakukan hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Karena interaksi merupakan kunci dari semua kehidupan sosial itu sendiri,

tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan bersama. Dan Bonner

(Gerungan, 1988 : 57) menyatakan bahwa interaksi sosial adalah suatu

hubungan antara dua atau lebih individu yang saling mempengaruhi,

mengubah atau memperbaiki kelakuan antar individu yang satu dengan

individu yang lainnya.



3. Faktor-faktor yang berpengaruh dalam interaksi sosial

        Di dalam interaksi sosial terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi

interaksi tersebut, yaitu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya

interaksi tersebut.

        Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi sosial sebagai berikut :

a. Situasi sosial, memberi bentuk tingkah laku terhadap individu yang berada

    dalam situasi tersebut. Misalnya, apabila berinteraksi dengan individu lain

    yang sedang dalam keadaan berduka, pola interaksi yang digunakan jelas

    harus berbeda dengan pola interaksi yang dilakukan apabila dalam

    keadaan yang riang atau gembira, dalam hal ini tampak pada tingkah laku

    individu yang harus dapat menyesuaikan diri terhadap situasi yang sedang

    dihadapi.
                                                                            20



b. Kekuasaan    norma-norma     kelompok, sangat       berpengaruh    terhadap

   terjadinya interaksi sosial antar individu. Misalkan, individu yang menaati

   norma-norma yang ada di dalam setiap berinteraksi individu tersebut tidak

   akan pernah membuat suatu kekacauan, berbeda dengan individu tidak

   menaati norma-norma yang berlaku, individu tersebut paasti akan

   menimbulkan kekacauan dalam kehidupan sosialnya, dan kekuasaan

   norma-norma itu berlaku untuk semua individu dalam kehidupan

   sosialnya.

c. Adanya tujuan kepribadian yang dimiliki masing-masing individu

   sehingga berpengaruh terhadap perilakunya. Misalkan, di dalam setiap

   interaksi individu pasti memiliki tujuan, hal ini dapat dilihat seorang anak

   berinteraksi dengan guru memiliki tujuan untuk menuntut ilmu di dunia

   sekolah, seorang pedagang sayur dengan ibu-ibu rumah tangga, memiliki

   tujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, dan sebagainya.

d. Setiap individu berinteraksi sesuai dengan kedudukan dan kondisinya yang

   bersifat sementara. Pada dasarnya status atau kedudukan yang dimiliki

   oleh setiap individu adalah bersifat sementara, misalnya seorang warga

   biasa yang berinteraksi dengan ketua RT, maka dalam hubungan itu

   terlihat adanya jarak antara seorang yang tidak memiliki kedudukan yang

   menghormati orang yang memiliki kedudukan dalam kelompok sosialnya.

e. Adanya penafsiran situasi, di mana setiap situasi mengandung arti bagi

   setiap individu sehingga mempengaruhi individu untuk melihat dan

   menafsirkan situasi tersebut. Misalnya, apabila ada teman atau rekan yang
                                                                           21



   terlihat murung dan suntuk, individu lain harus bisa membaca situasi yang

   sedang dihadapinya, dan tidak seharusnya individu lain itu terlihat bahagia

   dan ceria dihadapannya, bagaimanapun individu harus bisa menyesuaikan

   diri dengan keadaan yang sedang dihadapi, dan berusaha untuk membantu

   menafsirkan situasi yang tidak diharapkan menjadi situasi yang diharapkan

   (Santoso, 2004 : 12).



4. Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial

       Interaksi dapat berlangsung apabila individu berhubungan dengan

individu yang lain dan melibatkan hubungan sosial. Dalam interaksi sosial

harus ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu:

       a. Kontak sosial

       b. komunikasi



a. Kontak sosial

       Kata kontak terdapat dua buah kata yang berasal dari bahasa Latin

yaitu Con atau Cum yang artinya bersama-sama dan tango yang artinya

menyentuh (Soekanto, 2001 : 64). Sehingga kontak dapat diartikan menyentuh

bersama-sama. Namun sebagai gejala sosial, kontak dapat dilakukan tanpa

harus dengan menyentuhnya, seperti berbicara dengan orang lain. Lebih lanjut

Soekanto menyatakan bahwa kontak sosial dapat berlangsung dalam tiga

bentuk, yaitu :
                                                                         22



1. Antara individu dengan individu, hubungan timbal balik antara individu

   dan individu ditandai antara lain dengan tegur sapa, berjabat tangan, dan

   bertengkar. Contohnya adalah dua orang sahabat yang saling berjabat

   tangan.

2. Antara individu dengan kelompok, contoh hubungan timbal balik antara

   individu dengan kelompok adalah seorang kepala desa yang sedang

   berpidato di depan warga masyarakatnya, seorang kyai yang sedang

   berceramah di depan jemaahnya.

3. Antara kelompok satu dengan kelompok yang lain, contoh hubungan

   timbal balik antara kelompok dengan kelompok adalah pertandingan sepak

   bola antar RT, rapat antar RT.



b. Komunikasi

       Dalam kehidupan bermasyarakat komunikasi dapat menimbulkan

hubungan timbal balik antara penerima pesan (komunikan) dengan yang

memberi pesan (komunikator). Dalam hal ini pengertian komunikasi adalah

hubungan antara individu yang satu dengan individu yang lain, menyampaikan

pernyataan atas fikiran ataupun perasaan kepada individu lain dengan atau

tanpa media (Walgito, 2000 :75). Hubungan ini yang dinamakan interaksi

sosial di lingkungan masyarakat sebagai suatu proses sosial.

        Menurut Soekanto (2001 : 75) lebih memfokuskan, komunikasi adalah

tafsiran seseorang terhadap kelakuan orang lain baik berupa pembicaraan,

gerak gerik badan maupun sikap guna menyampaikan pesan yang
                                                                          23



diinginkannya. Orang tersebut kemudian memberi reaksi terhadap perasaan

orang lain tersebut.

       Adapun yang mendorong terjadinya interaksi sosial menurut Gerungan

(1988 : 58) berdasarkan pada beberapa faktor, yaitu :

a. Faktor peniruan atau imitasi

b. Faktor sugesti

c. Faktor identifikasi

d. Faktor simpati

       Dari keempat macam faktor ini dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Faktor peniruan atau imitasi

       Dalam interaksi sosial, gejala tiru-meniru sangat kuat peranannya di

dalam proses sosial. Hal ini tampak jelas pada dunia mode, adat istiadat dan

sebagainya. Dalam kamus istilah sosiologi di katakan bahwa imitasi adalah

suatu usaha atau hasil usaha dari manusia untuk tampil atau berperilaku

seperti pihak lain yang berinteraksi dengan diri (Hasjir, 2003 : 30). Menurut

Tarde imitasi berasal dari kata imitation yang berarti peniruan. Hal ini

disebabkan karena manusia pada dasarnya individualis, namun dipihak lain

manusia mempunyai kesanggupan untuk meniru sehingga di dalam

masyarakat terdapat kehidupan sosial. Dalam penelitian ini selanjutnya yang

dimaksud dengan imitasi adalah tindakan seseorang untuk meniru orang lain,

baik dalam sikap maupun perilaku. Imitasi meliputi :

   1. imitasi positif, misalnya sikap hemat, berpakaian rapi, dan menghargai

       waktu;
                                                                         24



   2. imitasi negatif, misalnya mabuk-mabukan,, sikap kebarat-baratan, dan

       pergaulan bebas.

b. Faktor sugesti

       Sugesti dalam ilmu jiwa sosial dapat di rumuskan sebagai suatu proses

di mana seorang individu menerima suatu cara pengelihatan atau pedoman-

pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu (Gerungan,

1988 : 61). Sugesti merupakan tindakan seseorang untuk memberi pandangan

atau sikap yang kemudian diterima oleh pihak lain, sugesti mungkin terjadi

jika orang yang memberi      pandangan adalah orang yang berwibawa atau

bersifat otoriter, atau orang tersebut merupakan bagian dari kelompok yang

bersangkutan. Contoh dalam menyelesaikan masalah sosial, kebersihan atau

gotong royong hari pelaksanaan, selain ditentukan bersama juga wajib di

putuskan oleh kepala desa.

c. Faktor identifikasi

       Identifikasi merupakan suatu dorongan untuk menjadi identik (sama)

dengan orang lain (Walgito, 2000 :72). Menurut kamus istilah sosiologi

identifikasi adalah suatu proses atau hasil proses penempatan diri individu

pada kedudukan serta peranan orang lain dan mengikuti pengalaman-

pengalamannya (Hasjir, 2003 : 29). Timbulnya identifikasi sebagai dasar

interaksi sosial menurut Freud, bahwa setiap individu mempunyai nafsu untuk

menempatkan diri pada situasi tertentu ketika individu itu berada bersama-

sama individu lain, tetapi tidak semua individu dapat menempatkan diri

sehingga sukar untuk berperilaku dan bertingkah laku. Tujuan dari proses
                                                                          25



identifikasi adalah individu yang bersangkutan ingin mempelajari tingkah laku

maupun perilaku individu lain meskipun tanpa disadari sebelumnya dan baru

disadari apabila proses ini telah membawa hasil. Imitasi merupakan tindakan

seseorang untuk menjadi sama dengan orang lain, contohnya, seorang anak

yang meniru tingkah laku laku ayahnya, seorang remaja meniru gaya

berpakaian aktor pujaannya.



d. Faktor simpati

       Simpati adalah perasaan yang terdapat dalam diri seseorang individu

yang tertarik dengan individu yang lain. Prosesnya berdasarkan perasaan

semata-mata tidak melalui penilaian yang berdasarkan resiko, dengan kata lain

imitasi adalah suatu proses di mana seseorang merasa tertarik pada pihak lain

(Soekanto, 2001 : 70). Faktor-faktor inilah yang mendorong dalam proses

interaksi sosial yang terjadi pada tiap kelompok pergaulan hidup.

       Dalam penelitian ini selanjutnya yang dimaksud dengan simpati adalah

suatu proses di mana seseorang merasa tertarik untuk memahami orang lain

dan berkeinginan untuk bekerjasama dengannya, misalkan ada seorang

tetangga yang sedang membenahi rumahnya dan ada deorang bapak-bapak

yang melihatnya dan merasa tertarik untuk membantu.
                                                                           26



5. Bentuk-bentuk interaksi sosial

       Interaksi sosial adalah bentuk utama dari proses sosial, yaitu pengaruh

timbal balik antara berbagai bidang kehidupan bersama. Menurut Soekanto,

interaksi sosial merupakan bentuk yang tampak apabila orang saling

mengadakan hubungan, baik secara individu maupun secara kelompok.

Adapun bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (co-

operation), persaingan (competition) dan pertentangan atau pertikaian

(conflict). Adapun lebih jelasnya masing-masing hal tersebut dapat

diterangkan sebagai berikut :

a. Kerja sama (co-operation), ialah suatu bentuk interaksi sosial di mana

   orang-orang atau kelompok bekerja sama, bantu-membantu dalam

   mencapai tujuan tertentu untuk kepentingan bersama. Contohnya adalah

   kerja bakti untuk membersihkan jalan, dan gotong royong untuk

   membangun masjid.

b. Persaingan (competition), adalah suatu perjuangan dari pihak-pihak

   tertentu untuk mencapai suatu tujuan dengan cara menyingkirkan pihak

   lawan secara damai atau tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan.

   Contoh perjuangan untuk mendapatkan peringkat disekolah, perjuangan

   untuk mendapatkan juara pertama dalam perlombaan perayaan hari

   kemerdekaan.

c. Pertentangan (conflict), merupakan salah satu bentuk dari interaksi, di

   mana penafsiran makna perilaku tidak sesuai dengan maksud            pihak

   pertama (yang melakukan aksi), sehingga menimbulkan ketidak serasian
                                                                             27



       di antara kepentingan-kepentingan orang lain, karena tidak terjadi

       keserasian ini, maka untuk dapat mencapai tujuan yang dikehendaki

       dilakukan dengan cara mengenyahkan atau menyingkirkan pihak lain yang

       menjadi penghalang (Soekanto, 2001 : 76-107).

          Dari berbagai macam bentuk interaksi ini, sering terjadi di lingkungan

   masyarakat, sehingga di dalam berinteraksi terdapat kerja sama, persaingan

   maupun pertikaian. Dengan demikian, aktivitas sosial itu terjadi karena

   adanya aktivitas dari individu dalam hubungannya dengan individu yang lain.



B. Perilaku Sosial

   1. Pengertian Perilaku Sosial

          Menurut kamus istilah sosiologi pola perilaku adalah cara bertindak

   atau berkelakuan yang sama dari orang-orang yang menjadi anggota suatu

   kelompok atau masyarakat. Setiap tindakan dan perilaku masyarakat memiliki

   pola, pengertian pola perilaku menurut kamus istilah sosiologi pola perilaku

   adalah cara bertindak atau berkelakuan yang sama dari orang-orang yang

   menjadi anggota suatu kelompok atau masyarakat (Hasjir, 2003 : 82).

   Sedangkan menurut kamus istilah antropologi adalah wujud yang mantap dari

   suatu rangkaian perilaku manusia atau golongan orang, sehingga tampak dan

   dapat dideskripsikan (Koentjaraningrat, 2003:193). Perilaku individu atau

   kelompok dapat dijadikan sebagai keteraturan yang dapat diramalkan apabila

   perilaku itu dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama dalam

   menghadapi keadaan tertentu. Weber berpendapat perilaku sosial memiliki
                                                                          28



tujuan dan motivasi dan perilaku itu memiliki kepastian dan menunjukkan

keseragaman dengan perilaku pada umumnya dalam masyarakat (Veeger,

1993 : 171).



2. Jenis-jenis Perilaku Sosial

       Menurut Skiner (1976) membedakan perilaku menjadi (a) perilaku

yang alami (innate behavior), (b) perilaku operan (operant behavior).

a. Perilaku yang alami (innate behavior), yaitu perilaku yang dibawa sejak

   individu dilahirkan, yaitu berupa reflek-reflek dan insting-insting.

b. Perilaku operan (operant behavior), yaitu perilaku yang dibentuk,

   dipelajari dan dapat dikendalikan, karena itu dapat berubah melalui proses

   belajar. Perilaku ini diatur oleh pusat kesadaran atau otak.

       Sebagian terbesar perilaku manusia merupakan perilaku yang

dibentuk, perilaku yang diperoleh, perilaku yang dipelajari melalui proses

belajar sehingga dapat tercipta perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan

(Walgito, 2000 : 17).



3. Pembentukan Perilaku

       Perilaku manusia sebagian besar berupa perilaku yang dibentuk, dan

perilaku yang dipelajari. Cara pembentukan perilaku sesuai yang diharapkan

sebagai berikut :

a. cara pembentukan perilaku dengan kondisioning atau kebiasaan, yaitu

   dengan cara membiasakan diri untuk berperilaku seperti yang diharapkan.
                                                                              29



b. pembentukan perilaku dengan pengertian (insight), cara ini berdasar atas

     teori kognitif, yaitu belajar dengan disertai adanya pengertian.

c. pembentukan perilaku dengan menggunakan model, cara ini didasarkan

     atas teori belajar sosial (social learning theory) atau observation learning

     theory (Walgito, 2000 : 18-19).



4.   Pola Perilaku Dalam Interaksi

        Menurut Soekanto (2004 : 119-120), pola perilaku bisa dibedakan

antara perilaku delinkuen (perilaku yang ideal) dan non-delinkuen (perilaku

yang tidak dikehendaki). Agar pola interaksi sesuai dengan apa yang dicita-

citakan maka sikap yang diperlukan dalam berperilaku pada setiap individu

harus didasarkan pada:

a. kebutuhan yang nyata,

b.   efisiensi,

c. efektifitas,

d. penyesuaian diri pada kebenaran,

e. penyesuaian diri pada kaidah-kaidah yang berlaku,

f. tidak memaksakan secara mental maupun fisik.



5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Sosial.

        Di dalam memenuhi kebutuhan hidup, individu selalu bergaul dengan

sesamanya, perilaku seseorang dalam pemenuhan kebutuhan itu bisa baik dan

bisa juga buruk, tergantung pada kemampuan seseorang individu untuk dapat
                                                                           30



menyerasikan kekuatan-kekuatan ekspresif yang ada dengan kekuatan

normatif. Kekuatan-kekuatan itu sebagai berikut :

a. kekuatan ekspresif, yang mencakup:

   1. Faktor-faktor biopsikhogenik yang terdiri dari: faktor mesomorf, faktor

       kekurangan-kekurangan secara psikologis, faktor timbulnya ekses

       dalam memenuhi kebutuhan.

   2. Faktor-faktor sosiogenik yang terdiri dari: faktor diferensial asosiasi,

       faktor frustasi, dan faktor tekanan-tekanan yang dialami.

b. kekuatan-kekuatan normatif yang mencakup:

   1. Faktor-faktor dasar dari lingkungan yang terdiri dari: faktor taraf

       kepatuhan yang rendah pada agama, faktor taraf gangguan kehidupan

       keluarga, faktor disorganisasi sosial.

   2. Faktor-faktor lingkungan yang ikut berperan, yang terdiri dari: faktor

       normalitas yang rendah, faktor kesempatan, faktor konflik kebudayaan

       khusus.

       Setiap individu yang terpengaruh oleh segala macam kekuatan di atas ,

maka individu tersebut akan mempunyai sikap-sikap tertentu dan sikap

tersebut akan sangat berpengaruh terhadap perilaku sosialnya (Soekanto, 2004

: 114-115).
                                                                          31



  6. Modifikasi Perilaku

         Menurut Bootzin (1975 ), modifikasi perilaku adalah usaha untuk

  menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsip psikologi

  hasil eksperimen lain pada perilaku manusia. Sedangkan menurut Power dan

  Osborn (1976), modifikasi perilaku sebagai penggunaan secara teknik

  kondisioning pada manusia untuk menghasilkan perubahan frekuensi perilaku

  sosial tertentu atau tindakan mengontrol lingkungan perilaku tersebut

  ( Soekadji, 1983 : 2).

         Dapat di simpulkan bahwa modifikasi perilaku dapat diartikan sebagai

  segala tindakan yang bertujuan untuk mengubah perilaku seorang individu,

  dan memusatkan perhatian pada tingkah laku individu, yang berfungsi untuk

  mengontrol lingkungan perilaku sosialnya.



C. Masyarakat Kota

  1. Pengertian Masyarakat Kota

         Kota oleh para ahli didefinisikan berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi

  oleh cara pandang dan disiplin ilmu yang ditekuni oleh masing-masing ahli

  tersebut. Meyer menekankan pengertian kota pada unsur kemanusiaannya

  yaitu suatu sistem nilai-nilai, perasaan, kenang-kenangan dan hubungan-

  hubungan secara keseluruhan membentuk suatu sistem atau organisasi. Di sini

  jelas bahwa kota dilihat dari segi manusia dan kebudayaannya yang

  membedakan dengan masyarakat desa.
                                                                           32



       Definisi kota dilihat dari kebutuhan hidupnya, dikatakan kota apabila

penghuninya dapat memenuhi kebutuhan hidupnya di pasar            lokal (pasar

sebagai ciri     kota). Selain itu kota juga berfungsi sebagai tempat

penyelenggara dan penyedia jasa, dan dapat memunculkan kelompok

pemerintahan, pedagang dan lain-lain terutama di luar sektor pertanian.

       Wirth merumuskan kota sebagai suatu wilayah pemukiman yang relatif

besar, padat dan permanen, dihuni oleh orang-orang yang heterogen

kedudukan sosialnya, sehingga hubungan sosial menjadi longgar, acuh dan

tidak pribadi. Menurut Marx dan Angels menekankan pada perserikatan

warganya untuk melindungi hak milik hak miliknya dan pembuatan alat-alat

untuk mempertahankan diri (Nas, 1979 : 28-30).

       Istilah masyarakat kota terbentuk dari dua buah kata yaitu kata

masyarakat dan kata kota. Yang di maksud masyarakat atau society (bahasa

Inggris) adalah sejumlah manusia dalam arti luas dan mereka terkait pada satu

kebudayaan tertentu yang sama. Sedangkan kota memiliki definisi yang

berbeda menurut kamus istilah Antropologi (Koentjaraningrat, 2003: 141 dan

129), adalah bentuk pemukiman yang padat penduduknya dengan sistem

teknologi, ekonomi, organisasi sosial dan administrasi yang berkapasitas

tinggi untuk menyediakan jasa dan mengatur kehidupan manusia yang tak

terbatas besarnya.

       Masyarakat perkotaan juga dapat diartikan sebagai urban community

adalah masyarakat kota yang tidak tertentu jumlah penduduknya. Tekanan
                                                                            33



pengertian "kota", terletak pada sifat serta ciri kehidupan yang berbeda dengan

masyarakat pedesaan (Soekanto, 2001 : 169).

       Dengan memperhatikan arti di atas dapat diambil kesimpulan bahwa

masyarakat kota adalah masyarakat yang kompleks dengan jumlah penduduk

yang tidak terbatas banyaknya dan mengandalkan struktur pemerintahan yang

sudah maju serta bermata pencaharian di luar sektor pertanian.



2. Kota di Pandang dari Keruangan

       Bila di lihat dari sudut keruangan, kota dapat dijelaskan dalam bagan

di bawah ini :


                           D

                   C
                                        Keterangan
                                        A. Pusat Pemerintahan
                 B A                    B. Pemukiman Asli
                                        C. Pusat Komersial
                                        D. Daerah padat yang rusak
                                           (Pinggiran)

                                              (Branch, 1995 : 54)

       Bagan di atas dapat diterangkan bahwa pada pusat pemerintahan (A),

pemukiman Asli (B) dan pusat komersial merupakan kota inti. Sedang daerah

padat yang rusak (D) adalah pengembangan akibat dari pengaruh kota inti

yang sering disebut daerah pinggiran. Pada daerah pusat pemerintahan

dicirikan dengan banyaknya gedung-gedung perkantoran yang digunakan
                                                                          34



untuk mengatur pemerintahan, baik pemerintah kota sendiri maupun daerah

yang ada di sekitarnya.

       Semarang adalah kota Minipolitan yang merupakan kota Propinsi Jawa

Tengah, jantung kota Semarang terletak di daerah kawasan Simpang Lima,

sebelah selatan jalan Pahlawan, sebelah utara jalan Gajah Mada, sebelah barat

jalan Pandanaran, sebelah timur Ahmad Yani, dan jalan simpang terakhir

adalah jalan Erlangga. Pusat pemerintahan kota Semarang terletak di jalan

Pemuda, dan kantor Gubernur terletak di jalan Pahlawan. Pusat perekonomian

terbesar di kota Semarang terletak di daerah kota lama, salah satunya yaitu

daerah Pasar Johar, dan Bandarharjo adalah sebuah pemukiman yang terletak

di daerah kota lama, sebuah pemukiman yang tergolong pemukiman kumuh

karena di sepanjang jalan terdapat aliran sungai pembuangan limbah pabrik

yang menimbulkan bau yang kurang enak, pemukiman di daerah Bandarharjo

terdapat perbedaan yang sangat menarik yaitu adanya model pemukiman

rumah horizontal (rumah berjajar) dan model rumah susun (pola vertikal).

Dengan sendirinya perubahan pola pemukiman dari menyebar ke samping

menjadi menumpuk ke atas akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi

tertentu. Dalam perumahan pola horizontal individu dapat bergerak secara

lebih leluasa apabila dibandingkan dengan perumahan berpola vertikal.

       Pada pemukiman asli, terdapat perumahan penduduk dengan segala

aktifitasnya yang berada di sekitar pusat pemerintahan. Pemukiman ini sudah

ada sejak kota tersebut berdiri. Di daerah ini penduduknya mengelompok

sehingga terbentuk segregasi keruangan, seperti ada wilayah pemukiman
                                                                            35



   orang Cina (Pecinan), orang Arab (Pekojan), orang-orang yang patuh

   beragama (Kauman), kaum elit dan sebagainya. Golongan ini menggunakan

   budaya dan adatnya sendiri-sendiri dengan kuat, sedangkan bila berhubungan

   dengan yang lain menggunakan kebudayaan nasional.

          Di daerah pusat komersial terdapat berbagai macam bentuk sarana dan

   seperti Bank, pusat hiburan, pusat perdagangan grosir ataupun eceran khusus,

   terminal dan lain-lain. Pada umumnya wilayah ini dikuasai oleh orang non

   pribumi yang digunakan untuk usaha terutama perdagangan dan jasa.

          Di sekeliling daerah tersebut di atas biasanya terdapat sederetan

   perkampungan kumuh, liar dan banyak yang semi permanen. Ciri daerah ini

   masyarkatnya berpendapatan rendah, kepadatan penduduk yang tinggi dan

   sering timbul berbagai masalah seperti kesehatan, kriminalitas, sosial dan

   kurangnya sarana dan prasarana umum.



D. Pengertian Rumah Susun (Flat)

          Rumah menurut Manan (1989 : 5), adalah satu kebutuhan dasar

   manusia setelah pangan dan sandang, yang kegunaannya secara praktis adalah

   tempat untuk berlindung dari hujan, panas dan keamanan lingkungan, juga

   sebagai tempat untuk membangun masa depan yang lebih baik, membina

   manusia-manusia yang akan memainkan peranan-peranan tertentu di

   lingkungannya (dalam arti luas).

          Perumahan dalam hal ini merupakan masalah yang komplek yang

   menunjukkan kaitannya dengan segi-segi sosial, ekonomi, budaya, ekologi
                                                                          36



dan sebagainya. Kompleksitas ini adalah wajar, mengingat hakekat dan fungsi

perumahan yang begitu luas dalam kehidupan individu , walaupun tidak

dengan sendirinya berarti selalu diperhatikan ataupun diperhitungkan.

       Di Indonesia saat ini sedang digalakkan pembangunan rumah susun

dalam rangka menanggulangi masalah perumahan, bahkan beberapa di

antaranya sudah ditempati. Rumah susun adalah suatu bangunan di mana

manusia tinggal dan melangsungkan kehidupannya. Di samping itu, rumah

juga merupakan tempat di mana berlangsung proses sosialisasi pada saat

seorang individu diperkenalkan kepada norma dan adat kebiasaan yang

berlaku di dalam suatu masyarakat, juga tempat individu untuk memenuhi

kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Maka tidak mengherankan apabila masalah

perumahan menjadi masalah yang sangat penting bagi setiap individu.

       Pada masa lalu, di mana penduduk masih jarang dan tanah yang

dipergunakan untuk daerah tempat tinggal masih cukup luas, masyarakat dapat

membangun tempat tinggalnya secara menyebar luas. Akan tetapi pada masa

sekarang, terutama di kota-kota besar, di mana penduduknya sangat padat

sedangkan tanah untuk menjadi daerah tempat tinggal semakin langka, perlu

dipikirkan kemungkinan sistem perumahan baru. Salah satu sistem yang

mungkin dapat menampung kebutuhan yang demikian besar akan perumahan

dalam keadaan tanah yang terbatas, adalah sistem rumah susun atau flat, yaitu

membangun perumahan dengan sistem menumpuk ke atas.

       Dengan sendirinya perubahan pola pemukiman dari menyebar ke

samping menjadi menumpuk ke atas (dari pola horizontal menjadi pola
                                                                            37



   vertikal) akan menimbulkan konsekuensi-konsekuensi tertentu. Dalam

   perumahan pola horizontal individu dapat bergerak secara lebih leluasa

   apabila dibandingkan dengan perumahan berpola vertikal.

          Rumah susun adalah salah satu alternatif yang dibangun pemerintah

   (Perum Perumnas) dalam rangka usaha meningkatkan standar kehidupan

   masyarakat golongan ekonomi lemah dan sedang yang berpenghasilan

   minimal Rp. 150,000.00 sebulan ( Manan, 1989 : 6 ). Pembangunan sarana

   hunian di Indonesia, secara umum dapat dikategarikan atas tiga kelompok,

   yaitu (1) sarana hunian yang dibangun oleh pemerintah, (2) sarana hunian

   yang dibangun atas swadaya masyarakat, (3) bangunan yang didirikan oleh

   investor asing (Sachari, 2002:57).



II. Kerangka Teoritik

          Kerangka teoritik dalam penelitian ini memaparkan dimensi-dimensi

   kajian utama, faktor-faktor kunci, sebagai pedoman kerja, baik dalam

   menyusun metode, pelaksanaan di lapangan, maupun pembahasan hasil

   penelitian.

          Dalam penelitian di rumah susun ini, penelitian difokuskan pada

   interaksi dan perilaku sosial, dengan adanya keterbatasan ruang gerak apakah

   pola interaksi dan perilaku sosial masyarakat rumah susun memiliki kesamaan

   dan perbedaan dengan pola interaksi dan perilaku sosial masyarakat yang

   menempati rumah berjajar.
                                                                         38



        Dari uraian di atas dapat disederhanakan dengan bentuk bagan sebagai

berikut :

                               Rumah Susun



                   Interaksi             Perilaku Sosial



                          Kesamaan/Perbedaan
                             dengan rumah
                               horizontal
                                   BAB III

                          METODE PENELITIAN



A. Dasar Penelitian

          Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif karena

   berusaha memahami arti setiap peristiwa yang berkaitan dengan aktivitas

   masyarakat rumah susun Bandarharjo, penelitian ini selain dilakukan proses

   pengambilan data juga dituntut penjelasan yang berupa uraian dan analisis

   yang mendalam. Penelitian yang berupa diskriptif diharapkan hasil

   penelitiannya mampu memberikan gambaran riil mengenai kondisi di

   lapangan tidak hanya sekedar sajian data, selain itu metode kualitatif lebih

   peka dan dapat menyesuaikan diri dengan banyak penajaman. Selain proses

   pengumpulan data, dalam penelitian ini digunakan metode penelitian lapangan

   yaitu dengan cara mendiskripsikan bagaimana orang menggambarkan dan

   menstrukturisasikan dunia kehidupan yang diteliti. Penelitian kualitatif ini

   yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata

   tertulis atau lisan dengan orang-orang dan pelaku yang dapat diamati (Bogdan

   dan Toylor dalam Moleong, 2002 : 3). Responden dalam metode kualitatif

   berkembang terus secara bertujuan sampai data yang dikumpulkan dianggap

   memuaskan. Alat pengumpul data atau instrumen penelitian adalah instrumen

   penelitian adalah peneliti sendiri, jadi peneliti merupakan key informent.

   Dalam pengumpulan data peneliti harus terjun sendiri ke lapangan secara aktif

   (Usman, 2001 : 81).



                                      39
                                                                             40



B. Lokasi Penelitian

          Penelitian ini dilakukan di kecamatan Semarang Utara, yang tepatnya

   di kelurahan Bandarharjo. Adapun pertimbangan pemilihan lokasi ini adalah :

   a. Lokasi tersebut berada di daerah kota lama yang merupakan kota yang

       merupakan kota inti, daerah tersebut merupakan daerah rumah susun yang

       di buat oleh pemerintah dan ada juga yang di buat oleh swasta sehingga

       mewakili daerah rumah susun yang ada di Semarang lainnya,

   b. Lokasi tersebut mudah dijangkau oleh peneliti sehingga dapat menghemat

       tenaga, waktu dan biaya.



C. fokus Penelitian

          Penetapan fokus penelitian merupakan tahap yang sangat menentukan

   dalam penelitian kualitatif, hal ini karena suatu penelitian kualitatif tidak

   dimulai dari suatu yang kosong atau tanpa adanya masalah, baik masalah-

   masalah yang bersumber dari pengalaman penelitian atau melalui pengetahuan

   yang diperolehnya melalui kepustakaan ilmiah. Jadi fokus dalam penelitian

   kualitatif sebenarnya merupakan permasalah itu sendiri. Kajian dalam

   penelitian ini di fokuskan dalam variabel pokok, yaitu :

   a. Latar belakang masyarakat,

   b. Pola interaksi sosial masyarakat,

   c. Pola perilaku sosial masyarakat,

   d. Proses adaptasi masyarakat rumah susun Bandarharjo terhadap perubahan

       pola interaksi dan perilaku sosial di rumah susun tersebut.
                                                                           41



D. Sumber Data Penelitian


            Data dalam penelitian ini diperoleh dari berbagai macam sumber,

   yaitu:

   a. Data primer, adalah data yang diperoleh secara langsung melalui

      wawancara dengan responden atau informan lapangan. Responden dalam

      penelitian ini yaitu orang-orang yang bertempat tinggal di rumah susun

      Bandarharjo tersebut, yaitu orang-orang yang memegang kekuasaan di

      tingkat RT dan RW berjumlah 12 orang. Informan lapangan yaitu

      lingkungan sekitar yang terkait dengan rumah susun Bandarharjo (orang-

      orang sekitar yang dapat memberikan informasi), berjumlah 6 orang.

   b. Data sekunder, adalah data yang diperoleh secara tidak langsung dari

      sumbernya, dalam hal ini buku-buku, hasil penelitian, dokumen, dan

      sumber lain yang relevan.

      Sumber data penelitian kualitatif adalah kata-kata tindakan selebihnya

      merupakan data tambahan dan lainnya (Moleong, 2002 : 42).



E. Metode Pengumpulan Data


            Mengumpulakan data merupakan pekerjaan penting dalam penelitian.

   Pada penelitian ini proses pengumpulan data menggunakan metode-metode

   penelitian. Agar sesuai dengan data yang diperlukan, dalam penelitian ini

   diperlukan beberapa metode pengumpulan data, yaitu:
                                                                           42



       1. Observasi

       2. Wawancara

       3. Dokumentasi

1. Observasi

       Observasi biasanya diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan

secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Nawawi,

2005:100). Teknik ini dijadikan teknik yang utama karena peneliti langsung

dapat melihat keadaan atau kenyataan yang ada. Menurut M. Q. Patton dalam

(Nasution, 2003:59–60) menyatakan manfaat pengamatan adalah :

a. Peneliti memperoleh pandangan yang menyeluruh (holistik) sehingga

   mampu memahami konteks data secara keseluruhan situasi,

b. Peneliti dapat menggunakan pendekatan induktif yang mungkin mendapat

   penemuan baru, hal ini agar tidak dipengaruhi oleh konsep–konsep atau

   pandangan sebelumnya,

c. Peneliti dapat melihat hal–hal yang kurang atau tidak diamati oleh orang

   lain karena dianggap sudah biasa sehingga tidak perlu ditanyakan dalam

   wawancara,

d. Peneliti dapat mengungkap hal–hal yang dianggap sensitif atau ditutupi

   apabila ditanyakan dalam wawancara,

e. Peneliti dapat memperoleh data yang komprehensif di luar persepsi

   responden,

f. Peneliti    memperoleh   kesan   dan   merasakan    situasi   sosial   dari

   penelitiannya,
                                                                          43



       Dengan pengamatan ini dapat ditemukan hasil yang cukup baik dan

valid sebagai hasil penelitian kualitatif. Observasi dalam penelitian ini

bertujuan untuk mengetahui bagaimana pola interaksi dan perilaku sosial

masyarakat rumah susun Bandarharjo, yaitu dengan mengadakan pengamatan

secara langsung apa yang tampak pada perilaku masyarakat rumah susun

Bandarharjo tersebut dengan cara melihat, mendengar dan penginderaan

lainnya.

2. Wawancara

       Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Teknik

wawancara adalah teknik yang paling sosiologis dari seluruh teknik penelitian

sosial, karena interaksi langsung secara verbal antara peneliti dengan

responden atau informan (Black, 1999 : 305). Maksud digunakannya

wawancara ini untuk menambah atau melengkapi data yang belum didapat

dari observasi. Teknik wawancara ini dilakukan secara terbuka, luwes, akrab

dan kekeluargaan. Hal ini dimaksudkan agar tidak terkesan kaku dan

keterangan informan tidak mengada-ada atau ditutup-tutupi, dengan demikian

didapat data yang optimal. Wawancara dalam penelitian ini dilakukan pada

masyarakat yang bertempat tinggal di rumah susun Bandarharjo, selain itu

peneliti juga dapat mengadakan wawancara dengan warga sekitar yang berada

dilingkungan rumah susun tersebut. Wawancara dalam penelitian ini bertujuan

untuk memperoleh keterangan lebih rinci dan mendalam mengenai aktivitas

anak jalanan karena peneliti akan melakukan kontak secara langsung dengan
                                                                              44



   warga masyarakat Bandarharjo pada umumnya dan warga Rumah susun

   Bandarharjo pada khususnya.

   3. Dokumentasi

          Dokumentasi dalam penelitian kualitatif merupakan alat pengumpul

   data yang utama karena terbukti hipotesis yang diajukan secara logis dan

   rasional melalui pendapat dan teori yang diterima, baik mendukung atau

   menolak hipotesis tersebut (Rachman, 1999 : 96).

          Dokumentasi dalam penelitian ini diperlukan untuk memperkuat data

   yang diperoleh dari lapangan, yaitu dengan cara mengumpulkan data melalui

   peninggalan tertulis seperti arsip, buku tentang pendapat, dan teori.



F. Validitas Data

          Validitas data merupakan faktor yang penting dalam sebuah penelitian

   karena sebelum data dianalisis terlebih dahulu harus mengalami pemeriksaan.

   Validitas membuktikan hasil yang diamati sudah sesuai dengan kenyataan dan

   memang sesuai dengan yang sebenarnya ada atau kejadiannya (Nasution,

   2003:105). Dalam penelitian kualitatif validitas data biasanya dilakukan

   berbeda dengan penelitian non kualitatif, karena paradigma alamiah penelitian

   kualitatif berbeda dengan penelitian non kualitatif (Moleong, 2002 : 173 ).

   Demikian pula kriteria-kriteria yang dipakai jelas jauh berbeda sehingga hasil

   keabsahannya atau validitasnya pun berbeda pula.

          Teknik pengujian yang dipergunakan dalam menentukan validitas data

   dalam penelitian ini adalah menggunakan Triangulasi. Triangulasi adalah
                                                                            45



teknik pemeriksaan keabsahan dengan memanfaatkan sesuatu yang lain dari

luar data tersebut sebagai bahan pembanding atau pengecekan dari data itu

sendiri. Menurut Denzin (1978) teknik ini dibedakan menjadi empat macam

teknik pemeriksaan yaitu menggunakan :

a. Triangulasi sumber, yang membandingkan antar sumber yang satu dengan

   sunber yang lainnya,

b. Triangulasi metode, yang membandingkan suatu sumber dengan metode

   yang berbeda atau beberapa sumber dengan metode yang sama,

c. Triangulasi penyidik, yaitu membandingkan hasil penelitian dari berbagai

   pengamat yang berbeda,

d. Triangulasi teori, yang membandingkan derajat kepercayaan dengan

   berbagai macam teori yang ada (Moleong, 2002 : 178–179).

       Validitas data dalam penelitian ini menggunakan triangulasi sumber

seperti dijelaskan di atas, yang dicapai dengan jalan :

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara

                                                  Pengamatan
                                                  (Interaksi dan perilaku
                                                  sosial)
     Sumber data
     (Warga yang mendiami
     rumah susun)
                                                  Wawancara
                                                  (Masyarakat sekitar)
                                                                        46



   2. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

      berkaitan.

                                           Wawancara
                                           (penghuni rumah susun)
        Wawancara
        (Masyarakat sekitar)
                                           Dokumen
                                           (buku, artikel, jurnal
                                           penelitian)




G. Metode Analisis Data

          Setelah data penelitian terkumpul dari hasil pengamatan tersebut

   kemudian diadakan suatu analisis data yaitu proses pengorganisasian dan

   pengurutan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga

   dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kecil seperti yang

   disarankan pada data Moleong (Moleong, 2002 : 103). Dalam melakukan

   analisis dipergunakan jalan Miles (1992 :16-19) yang menyatakan bahwa

   dalam melakukan proses analisis komponen utama yang perlu diperhatikan

   setelah pengumpulan data adalah :

          a. Reduksi data

          b. Penyajian data

          c. Penarikan kesimpulan
                                                                             47



a. Reduksi data, yaitu proses pemilihan, penyederhanaan, pengabstrakan dan

   transformasi data kasar dari catatan–catatan tertulis di lapangan hingga

   laporan akhir lengkap tersusun.

b. Penyajian data, yaitu sekumpulan informasi yang tersusun agar dapat

   memberi kemungkinan dapat menarik kesimpulan. Dalam penyajian data

   ini dilakukan setelah melakukan reduksi data yang akan dipergunakan

   sebagai bahan laporan.

c. Menarik kesimpulan atau verifikasi, yaitu berupa intisari dari penyajian

   data yang merupakan hasil dari analisis yang dilakukan dalam penelitian.

   Kesimpulan awal yang sifatnya belum benar–benar matang (Miles,

   1992:16 - 19).

       Ketiga komponen ini merupakan satu kesatuan yang utuh dan saling

terkait, model analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah

"Analisis Interaksi", artinya analisis ini dilakukan dalam bentuk interaksi pada

tiga komponen tersebut.

       Langkah–langkah analisis interaksi ini setelah pengumpulan data

selesai, maka peneliti mulai melakukan penyajian dengan melalui reduksi data

terlebih dahulu. Setelah itu mengambil kesimpulan awal, apabila dianggap

kurang mantap oleh peneliti karena ada kekurangan atau ada persoalan baru

maka akan melakukan reduksi atau melihat hasil reduksi lagi dan melihat hasil

penyajian data. Setelah selesai dilanjutkan dengan mengambil data baru,

begitu seterusnya hingga penelitian selesai dengan menarik kesimpulan akhir.
                                                                               48



           Dari uraian di atas dapat disederhanakan dengan bentuk bagan sebagai

   berikut :

                Pengumpulan
                    data

                                                   Penyajian
                                                   data

                   Reduksi data




                                      Kesimpulan-
                                      kesimpulan:
                                      penarikan/verifikasi


                                                    (Miles,1992 : 20)

H. Prosedur Penelitian

           Dalam penelitian kualitatif ini menggunakan prosedur dengan cara

   menguji kelayakan inforasional dengan memaksimalkan kemungkinan-

   kemungkinan       peneliti     untuk   memahami       tempat      atau   lokasi

   penelitian.pengamatan yang dilakukan secara menyeluruh, tepat dan akurat,

   selain itu juga efisiensi memungkinkan data yang diperoleh layak

   dikumpulkan dengan biaya terendah dalam terminology waktu, akses dan

   biaya pada partisipadi (Mashsall dan Rossman, 1986 : 18).

           Prosedur dalam penelitian ini dibagi dalam tiga tahap, yaitu:

   1. Tahap pra penelitian

       Dalam tahap ini penelitian membuat rancangan penelitian, membuat surat

       ijin penelitian, dan mempersiapkan perlengkapan penelitian.
                                                                       49



2. Tahap Penelitian

   Dalam tahap ini peneliti terjun langsung ke lapangan untuk melakukan

   pengamatan, pengumpulan data, dan menganalisis data yang diperoleh dari

   lapangan.

3. Tahap penulisan laporan

   Dalam tahap ini peneliti melaporkan hasil penelitian dan menyusunnya

   dalam bentuk laporan ilmiah.
                                   BAB IV

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



II. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

A. Lokasi Penelitian

          Bandarharjo adalah nama sebuah kampung yang terletak dikelurahan

   Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang. Daerah ini berada

   di tepi Pantai dan merupakan daerah pinggiran walaupun berada di pusat kota.

   Jarak kampung ini dari pusat pemerintah kecamatan adalah lima Km

   sedangkan dari pusat pemerintahan kota Semarang sejauh enam Km dan dari

   pusat pemerintahan propinsi sejauh delapan Km (monografi kelurahan

   Bandarharjo). Untuk mencapai lokasi tersebut dapat ditempuh dengan mudah,

   karena di ujung kampung tersebut biasanya sering dipergunakan sebagai

   tempat pemberhentian angkutan umum antar kota, baik berupa angkutan kota,

   Bus Kota, maupun Bus Luar kota.

          Kelurahan Bandarharjo 342,675 Hektar, dengan batas-batasnya

   sebagai berikut:

          1. Sebelah Utara         : Laut Jawa
          2. Sebelah Selatan       : Kelurahan Dadapsari
                                     (jembatan Berok)
          3. Sebelah Barat         : Kelurahan Kuningan
                                     (Jl. Lodan Raya)
          4. sebelah Timur         : Kelurahan Tanjung Mas
                                     ( Jl. Empu Tantular)




                                      50
                                                                              51



          Daerah ini sering mengalami pasang surut air laut, bila air pasang

   maka sebagian jalan ada yang sampai tertutup air, disebut rob, apalagi bila

   turun hujan yang deras sering terjadi banjir. Hal ini dikarenakan daerah

   tersebut selain berada di daerah tepi laut juga karena ketinggiannya hanya 0,5

   meter di atas permukaan air laut. Untuk mengurangi keadaan tersebut maka

   pemerintah kota mengadakan proyek perbaikan lingkungan kampung yang

   sering disebut Kampung Environment Project (KEP).

          Rumah susun Bandarharjo didirikan di atas tanah yang luasnya kurang

   lebih 7.500 meter persegi yang berada di kelurahan Bandarharjo, kecamatan

   Semarang Utara, ketingian wilayah ini terletak 0,5 meter di atas permukaan air

   laut dengan suhu berkisar antara 23 sampai 35 derajad celcius, sedangkan

   jarak tempuh rumah susun dari kantor kecamatan 5 km atau bisa dihitung 0,25

   jam, dari pusat pemerintahan kota Semarang 6 km (0,30 jam), dari kantor

   propinsi 8 km (0,45 jam).



B. Latar Belakang Berdirinya Rumah Susun

          Rumah susun Bandarharjo sesuai dengan programnya dibangun

   dengan harapan dapat menghilangkan lingkungan yang kumuh, menghindari

   rob (pasangnya air laut yang mengakibatkan banjir) dan mengangkat derajat

   kehidupan masyarakat Bandarharjo. Lokasi dibangunnya rumah susun ini

   dulunya merupakan daerah tambak, daerah pembuangan sampah, daerah rawa-

   rawa dan sebagian sudah ada rumah-rumah penduduk. Pembangunan rumah

   susun ini pemerintah menerapkan program membanguan tanpa menggusur,
                                                                       52



maksudnya penduduk yang sudah menempati lokasi dibangunnya rumah

susun ini secara otomatis mendapat keistimewaan untuk menempati rumah

susun. Tanah dan rumah tempat tinggalnya yang terkena bangunan rumah

susun mendapat ganti untung dari pemerintah kota.

       Rumah susun Bandarharjo dibangun dalam dua tahap, tahap pertama

rumah susun mulai didirikan pada tahun 1991, sebagai rumah susun

percontohan dan diresmikan oleh Bapak Jendral Try Sutrisno pada tahun

1994, pembangunan rumah susun tahap kedua pada tahun 1996-1998 di

bangun lagi dua rumah susun yang diresmikan oleh Walikota Semarang Bapak

H. Sutrisno Suharto pada tanggal 11 november 1998. Rumah susun tahap

kedua ini terletak di antara sebelah kanan dan kiri rumah susun sebelumnya

disebut rumah susun blok A dan B, karena terletak diantara blok A dan B,

rumah susun yang dibuat pada tahap pertama di sebut rumah susun blok

tengah, rumah susun blok A dan blok B mulai ditempati tahun 1998. Rumah

susun blok tengah dapat terlihat seperti gambar berikut ini.

                                 Gambar 1




                        Rumah susun Blok Tengah
                                                                          53



       Selama tenggang waktu pelaksanaan pembangunan rumah susun,

warga mendapat uang kontrak, namun ada juga masyarakat yang tidak mau

menempati rumah susun itu. Sekarang keberadaan rumah susun menjadi

sangat dibutuhkan oleh masyarakat, hal ini disebabkan karena adanya

perubahan situasi dan kebutuhan akan tempat tinggal yang layak dan

lingkungan yang bersih, terbukti setiap saat atau setiap hari ada saja warga

masyarakat yang mencari-cari barang kali ada rumah susun yang dapat

dipindah tangankan, baik dengan menanyakan ke Dinas Tata Kota dan

Pemukiman (DTKP) maupun kepada masyarakat secara langsung.

                                  Gambar 2




                           Rumah Susun Blok A



       Gambar di atas adalah bentuk rumah susun blok A, seperti rumah

susun blok lainnya, sistem yang dipergunakan adalah sistem pembayaran sewa

rumah, masing-masing rumah berbeda nilai sewanya tergantung dari tipe dan

lantai yang ditempati dari mulai harga Rp. 15.000,- sampai Rp. 45.000,- untuk

tipe rumah 54 perbulannya, agar lebih jelas lihat tabel berikut ini :
                                                                       54



                     Tipe            27              36
        Lantai
                 2              Rp. 25. 000,-    Rp. 30.000,-
                 3              Rp. 20.000,-     Rp. 25.000,-
                 4              Rp. 15.000,-     Rp. 20.000,-



       Rumah susun blok A dan B tipe rumah 36 ada 18 rumah, tipe 27 ada

72 rumah, jumlah rumah di blok A ada 90 rumah begitu juga di blok B ada 90

rumah. Di blok tengah tipe 27 ada 14 rumah, tipe 36 ada 12 rumah, tipe 54

ada 4 rumah, jumlah seluruh ada 30 rumah. Tipe rumah yang dapat ditempati

disesuaikan dengan keadaan jumlah anggota keluarga, apabila anggota

keluarga berjumlah sedikit maka tipe yang diberikan adalah tipe kecil dan

semakin besar jumlah anggota keluarganya maka semakin besar pula tipe

rumah yang dapat ditempai. Gambar berikut adalah gambar rumah susun blok

B yang terlihat dari samping.

                                  Gambar 3




                            Rumah Susun Blok B
                                                                           55



         Tiga blok rumah susun ini berada dalam satu rukun Warga (RW) yaitu

  RW XII kelurahan Bandarharjo Kecamatan Semarang Utara, yang terbagi

  menjadi tujuh Rukun Tetangga (RT). Blok A lantai IV adalah RT 01, lantai III

  adalah RT 02, lantai II adalah RT 03. Blok tengah terdiri dari satu Rukun

  Tetangga yaitu RT 04, blok B masing-masing berjumlah tiga RT. Lantai IV

  adalah RT 05, lantai III adalah RT 06, dan lantai II adalah RT 07.



C. Gambaran Umum Subjek Penelitian

         Bandarharjo memiliki wilayah sekitar 256 Hektar, dengan jumlah

  kepala keluarga lebih 4391 jiwa. Adapun seluruh penduduk kelurahan

  Bandarharjo adalah 19.240 jiwa yang terdiri 9.636 laki-laki dan 9.604

  perempuan. Warga yang menempati rumah susun adalah warga yang tidak

  memiliki rumah permanen, sebelumnya warga Bandarharjo yang tidak

  memiliki rumah permanen, lahan yang ditempati akan digusur oleh

  pemerintah kota karena akan didirikan rumah susun, tetapi banyak warga yang

  merasa keberatan, sebab jika rumah susun itu didirikan maka banyak warga

  yang tidak memiliki rumah lagi. Akhirnya warga memperbolehkan

  pembangunan rumah susun itu, dengan syarat bahwa rumah susun itu akan

  ditempati oleh orang-orang yang tidak memiliki rumah karena tanah yang

  ditempati sekarang telah didirikan rumah susun. Bagi warga yang rumahnya

  terkena gusuran akibat pembangunan rumah susun tersebut diperbolehkan

  menempati rumah susun dengan sistem pembayaran sewa perbulan, dan bagi
                                                                          56



orang-orang yang berminat pun boleh menempatinya. Adapun distribusi

penduduk berdasarkan kelompok umur dapat di lihat dalam tabel I berikut ini :

                                   Tabel I
               Pembagian penduduk menurut kelompok umur
                     Kelompok Umur           Jumlah
                           0-4                664
                           5-9                601
                          10-14               897
                          15-19               798
                          20-24              1.153
                          25-29              2.159
                          30-34              3.259
                          35-39              3.258
                          40-44              3.657
                          45-49               979
                          50-54               842
                          55-59               368
                          60-64               280
                           65 +               325
                         Jumlah              19.240
                   (diolah dari monografi Kelurahan 2005)

       Dengan memperhatikan tabel di atas jumlah penduduk masyarakat

Bandarharjo dapat dilihat bahwa masyarakat yang bukan angkatan kerja (0-19

tahun dan 60 tahun ke atas) lebih sedikit daripada jumlah penduduk yang

angkatan kerja (20-44 tahun), porsentasenya dapat dihitung 29 % : 70 %.

       Di rumah susun Bandarharjo blok A dan blok B memiliki jumlah 90

Kepala Keluarga (KK) dan di blok tengah ada 30 Kepala Keluarga (KK).

Jumlah jiwa yang tinngal di rumah susun blok A ada tiga RT yaitu, RT 01 ada

160 jiwa, RT 02 ada 109 jiwa, RT 03 126 jiwa. Di blok tengah ada satu RT 04

berjumlah 148 jiwa. Di blok B ada tiga RT yaitu, RT 05 ada 116 jiwa, RT 06

berjumlah 127 jiwa, di RT 07 berjumlah 150 jiwa. Jumlah keseluruhan warga

rumah susun Bandarharjo adalah 809 jiwa orang.
                                                                            57



a. Keadaan ekonomi

       Bisa dilihat perumahan yang ada di kelurahan Bandarharjo, maka

dapat dibayangkan bagaimana kehidupan yang dijalani. Warga banyak

mendiami rumah-rumah yang tergolong kurang memadai sebagai rumah yang

sehat, dan sering terkena banjir, dan letak lokasi penelitian yang dekat dengan

pembuangan limbah-limbah industri sehingga lingkungannya tercium bau

tidak enak. Rumah-rumah yang ditempati adalah rumah-rumah semi permanen

dan rumah non permanen, yaitu rumah yang dindingnya terbuat dari sebagian

bata sebagian dari papan atau sejenisnya. Rumah non permanen adalah rumah

yang dindingnya terbuat bukan dari bata seperti dari papan, bambu dan

sebagainya.

       Penyangga ekonomi keluarga pada umumnya adalah Ayah/Bapak

selaku kepala keluarga, namun karena pendapatannya kurang memenuhi

kebutuhan sehari-harinya maka ibu membantu mencari tambahan penghasilan.

Dari hasil wawancara di lokasi yang telah dihimpun, diperoleh data bahwa

biasanya ayah bekerja sebagai pedagang atau sebagai karyawan dan ibu

bekerja sebagai pedagang atau sebagai karyawati di perusahaan sekitarnya.

Bila di lihat dalam monografi kelurahan, pembagian mata pencaharian dapat

dilihat dalam tabel II di bawah.
                                                                        58



                                    Tabel II
                         Mata Pencaharian Penduduk
                     Rumah susun Bandarharjo Th. 2005
        Jenis Mata Pencaharian                 Jumlah/Orang

      Karyawan                                      5
      Swasta/Serabutan                             84
      Dagang                                       12
      Pertukangan                                   7
      Buruh                                        46
      Pensiunan                                     6
      Pegawai Negeri Sipil                          4
      Guru                                          4
      Anggota DPRD                                  1
      Nelayan                                      18
      Jasa                                         23

              (diolah dari Monografi Rumah Susun Bandarharjo)

Di rumah susun warga yang bekerja sebagai pegawai negeri, pensiunan

banyak yang berasal bukan dari Bandarharjo itu sendiri melainkan pendatang

yang kemudian menetap dan memiliki kartu keluarga sebagai warga

Bandarharjo. Di bagian bawah atau lantai dasar, merupakan tempat kaum

pedagang.

       Masyarakat rumah susun banyak yang bekerja menjadi pedagang,

karyawan, pertukangan, dan di sektor jasa. Bagi warga yang bekerja sebagai

pedagang, banyak yang membuka warung-warung yang bersifat tidak

permanen, lahan yang digunakan untuk berdagang terletak di lantai dasar, di

blok A lantai dasar sudah terlanjur dibuat permanen, begitu juga di blok

tengah, sebenarnya hal itu tidak boleh dilakukan karena di khawatirkan akan

timbul kecemburuan sosial, karena tidak semua warga bisa mendapatkan

pertokoan itu, seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
                                                                          59



                                   Gambar 4




       Kondisi kios permanent yang seharusnya tidak boleh didirikan


       Di blok B lantai dasar selain untuk parkir kendaraan juga dibuat

warung-warung semi permanen, siapa saja boleh menggunakannya asal tidak

menggunakan sistem kavling, jadi bila pagi pedagang sayuran boleh

menggunakannya, bila siang hari pedagang makanan matang bisa berjualan,

dan bila sore atau malam pedagang bakso juga bisa berjualan, banyak warga

luar rumah susun yang menggunakannya, bagi warga rumah susun sendiri

tidak merasa keberatan asalkan saja tidak menjual minuman keras dan juga

tidak digunakan untuk berjudi. Selagi warga mematuhi peraturan tidak ada

larangan untuk berjualan di sana, tetapi bila warga melanggar maka tidak akan

di ijinkan lagi untuk berdagang.

       Ada juga pedagang sayuran dan makanan yang datang menawarkan

barang dagangannya dari satu lantai ke lantai yang lain dari rumah ke rumah

yang lainnya, dan pedagang itu juga menawarkan sistem utang untuk

dagangan yang dijualnya, hanya dengan rasa percaya tranksaksi pun

berlangsung. Hampir setiap hari pedagang sayuran dan makanan itu datang,

pedagang itu berasal dari luar rumah susun.
                                                                    60



                              Gambar 5




         Pedagang makanan yang berjualan dari lantai ke lantai



      Di setiap blok rumah susun juga banyak ibu-ibu yang membuka toko

sembako, warga membuka toko di bagian dalam rumahnya yang di sekat

dengan triplek, salah satu warga mengatakan, membuka toko karena tidak

memiliki pekerjaan, selain itu juga untuk mengisi waktu luang dan tetap

mendapatkan uang agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.



                              Gambar 6




                    Keadaan toko di lantai 3 blok A
                                                                         61



       Sebagaian lagi ada yang bekerja sebagai karyawan, baik itu di toko

maupun di pabrik. Selain itu juga ada yang menjadi tukan batu, kuli bangunan

dan kuli di pelabuhan. Sedangkan di bidang jasa masyarakat pada umumnya

menjadi sopir, penarik becak atau jasa angkutan lain seperti tukang gendong

atau kuli panggul di pasar. Di mata masyarakat luas pekerjaan ini dianggap

memiliki status yang paling rendah dengan penghasilan yang kecil. Sehingga

dengan melihat keadaan ekonomi di atas dapat di lihat keadaan ekonomi

masyarakatnya.

                                   Tabel III
                  Tingkat Pendapatan masyarakat rumah susun
                                 Tahun 2005

        Jenis Mata Pencaharian     Pendapatan per bulan (+ nya)

      Karyawan                             Rp. 700.000,-
      Swasta/Serabutan                     Rp. 100.000,-
      Dagang                               Rp. 300.000,-
      Pertukangan                          Rp. 150.000,-
      Buruh                                Rp. 250.000,-
      Pensiunan                            Rp. 700.000,-
      Pegawai Negeri Sipil                 Rp. 900.000,-
      Guru                                Rp. 1.000.000,-
      Anggota DPRD                        Rp. 2.000.000,-
      Nelayan                              Rp. 150.000,-
      Jasa                                 Rp. 180.000,-

       Dengan pekerjaan yang beraneka ragam, beraneka ragam pula

pendapatan masing-masing warga. Sebagai karyawati pabrik seorang warga

mengatakan bahwa pendapatannya kurang lebih Rp. 700.000,- perbulan.

Menurut ibu Dian (34 tahun) warga RT 2, pekerjaan itu dilakukan dari pagi

sampai malam, dan terkadang berlaku juga sistem sip (kerja bergiliran). Bagi

warga yang memiliki pekerjaan serabutan atau tidak tetap, warga mengerjakan
                                                                          62



apapun pekerjaan itu yang penting halal dan dapat menghasilkan uang untuk

memenuhi kehidupan keluarganya, ada yang bekerja sebagai kuli bangunan,

kuli gendong, kuli di pelabuhan dan lain sebagainya. Rata-rata warga yang

bekerja serabutan ini memiliki pendapatan perbulannya kurang lebih Rp.

100.000,- . seperti yang dikatakan bapak Maslan (36 tahun) seorang warga RT

7 bahwa :

         “Pendapatannya sebenarnya tidak bisa ditentukan layaknya pegawai
         negeri, kadang sehari dapat terkadang juga tidak. Tetapi pak Maslan
         selalu bersyukur bisa memberikan penghasilannya tiap hari untuk
         mencukupi kebutuhan keluarganya”.

         Bagi warga yang memiliki penghasilan tetap seperti guru Pegawai

Negeri Sipil dan pensiunan, bisa memenuhi kebutuhannya secara lebih,

istilahnya ada yang bisa diharapkan karena tiap bulannya ada pemasukan

tetap. Berbeda dengan warga yang bekerja tidak tetap, harus membanting

tulang    untuk   mencukupi     kebutuhan   hidupnya    sehari-hari,   karena

penghasillannya tidak tentu.



b. Tingkat Pendidikan

         Pendidikan masyarakat rumah susun sebagian masih rendah, dari

jumlah warga di rumah susun kebanyakan lulusan Sekolah Dasar, bahkan ada

juga yang tidak mengenal bangku sekolah. Untuk sekarang warga

mementingkan pendidikan untuk anak-anaknya, jenjang pendidikan banyak

yang berasal dari lulusan SMP juga SMA, walaupun ada juga yang lulusan

Perguruan tinggi itu hanya satu dua orang saja. Tidak di pungkiri ada juga

warga yang tidak mampu menyekolahkan ke jenjang yang lebih tinggi.
                                                                      63



Ketidak mampuan meneruskan pendidikan ini dipengaruhi oleh keadaan

ekonomi masyarakat yang jarang tercukupi.

       Dewasa ini kesadaran masyarakat akan pentingnya menyekolahkan

anak ke jenjang yang lebih tinggi sudah tumbuh sehingga pendidikan anak-

anaknya sangat diperhatikan. warga beranggapan bahwa biarpun orang tua

tidak dapat memberi tinggalan harta namun harus dapat memberi bekal

pendidikan. Selain itu masyarakat beramsumsi dengan pendidikan yang cukup

maka mempermudah putra putrinya untuk mencari lapangan pekerjaan. Oleh

karenanya sebagian besar masyarakat rumah susun menyekolahkan putra

putrinya sampai tamat SMA (Sekolah Menengah Atas) baik sekolah umum

maupun sekolah khusus atau kejuruan. Hal ini dapat dilihat dalam tabel

sebagai berikut :

                                 Tabel IV
                        Jenjang Pendidikan Penduduk
                    Rumah Susun Bandarharjo Tahun 2005
              Jenis Pekerjaan                Banyak/orang
        Perguruan Tinggi                           2
        Tamat SMA                                158
        Tamat SMP                                228
        Tamat SD                                 106
        Tidak Tamat SD                            92
        Belum Tamat SD                           160
        Tidak Sekolah                             63

                    Jumlah                        809
                        (Diolah dari monografi RW XII)
                                                                           64



          Kebanyakan warga rumah susun mengenyam pendidikan sampai

jenjang     Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja, karena sebagian warga

merasa hanya mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai jenjang Sekolah

Menengah Pertama saja hal ini tidak jauh-jauh dari masalah ekonomi, tetapi

ada juga yang melanjutkan ke tinggkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dan

sampai ada yang kuliah. Menurut ibu Dwi ( 39 tahun) mengatakan bahwa :

          “Masih ada warga rumah susun yang tidak mengenal pendidikan pada
          umumnya adalah orang tua, ada juga yang hanya sampai tingkat SD,
          tetapi anak-anak di sekolahkan paling rendah adalah SMP. Orang tua
          berfikiran bahwa dengan menyekolahkan anak-anaknya akan memberi
          bekal untuk kehidupan kelak masing-masing anaknya, misalnya untuk
          mencari kerja sesuai dengan tingkat pendidikannya”.


c. Keadaan sosial

          Stratifikasi sosial masyarakat di rumah susun Bandarharjo tidak

nampak secara jelas. Hal ini karena yang bertempat tinggal di kawasan ini

adalah masyarakat menengah ke bawah. Stratifikasi yang paling menonjol,

meskipun tidak begitu dihiraukan adalah dibidang Pendidikan yaitu semakin

tinggi tingkat pendidikan maka semakin tinggi status sosialnya, begitu juga

dengan pekerjaan semakin baik pekerjaannya misalkan guru, pegawai negeri

maka semakin tinggi pula status sosialnya.

          Di bidang sosial, banyak masyarakat yang mengikuti organisasi sosial

yang bersifat sukarela, seperti organisasi keagamaan, organisasi kepemudaan.

Di bidang organisasi yang bersifat keagamaan terdapat berbagai macam

perkumpulan majelis Ta’lim, kebanyakan diikuti oleh bapak-bapak. Bila

malam jumat wage ada pengajian yang diadakan di mushola doa yang
                                                                         65



dipanjatkan adalah doa Arwah Jamak, dan pada hari jumat Pon, Legi, pahing

diadakan bergilir dari rumah warga yang satu ke rumah yang lain. Menurut

bapak Mahfud (50 tahun), selaku ketua RW XII, beliau juga sebagai Ta’mir

mushola di rumah susun blok B mengatakan bahwa :

         “Banyak warga yang mengikuti kegiatan rutin tersebut, tetapi bagi
         yang memiliki kesibukan tidak diwajibkan untuk mengikutinya. Ada
         juga pengajian untuk ibu-ibu, biasanya dilaksanakan sore hari pukul
         18.00 WIB setelah sholat Magrib, kegiatan itu dilakukan satu bulan
         sekali, tepatnya hari kamis malam jum’at Kliwon. Mayoritas warga
         rumah susun beragama Islam, hanya satu dua orang saja yang
         beragama Nasrani”.

         Untuk organisasi kepemudaan ada Karang Taruna tingkat RT, RW.

Selain    itu berdiri klub olah raga. Pemuda di rumah susun Bandarharjo

menginginkan pembuatan lapangan bola voli atau lapangan bulu tangkis, di

sebelah rumah susun blok B ada tanah kosong, tanah itu milik pemerintah.

Warga ingin menggunakannya sebagai lapangan olah raga, dan pemuda-

pemuda di sana mengusulkan gagasan itu kepada ketua RW. Sebagai tindak

lanjut bapak Mahfud akan meminta ijin kepada pemerintah kota apakah bisa

tanah tersebut untuk digunakan oleh warga.

         Kendala utama masyarakat rumah susun adalah lahan untuk

beraktifitas, bagi remaja aktifitas   yang dilakukan apabila memiliki waktu

senggang adalah berolah raga, seperti olah raga sepak bola dan bermain

billiyard. Di blok B lantai dasar masih bisa digunakan untuk bermain anak-

anak dan remaja rumah susun, biasanya permainan sepak bola dilakukan

dilantai dasar tersebut.
                                                                       66



                              Gambar 7




                 Permainan Sepak Bola di lantai dasar



       Selain sepak bola banyak remaja yang senang bermain billiyard, ada

dua lapangan billiyard. Lapangan itu milik salah satu warga Bandarharjo

tetapi bukan warga rumah susun itu sendiri, dua lapangan itu diletakkan di

lantai dasar dan disekat oleh triplek dan terkadang dicampur dengan tempat

parkir sepeda motor. Siapa saja yang ingin menggunakannya biasanya

menggunakan sistem sewa Rp.1000,00 untuk satu kali permainan atau satu

kali game.

                              Gambar 8




                          Permaian Billiyard
                                                                           67



       Di    lingkungan    ibu-ibu    rumah     tangga    terdapat   Pembinaan

Kesejahteraan Keluarga (PKK) dan berbagai macam arisan, dan Posyandu.

Tujuan didirikannya organisasi tersebut untuk menangkal pengaruh negatif di

lingkungan tersebut dan sebagai penyalur kegiatan positif bagi masyarakat.

Seluruh kegiatan yang melibatkan banyak warga biasanya menggunakan

ruangan Aula yang terletak di rumah susun blok tengah lantai dua, karena

meskipun setiap rumah susun memiliki aula tetapi Aula di blok tengah yang

paling luas. Kegiatan tersebut di atas dilaksanakan satu bulan sekali.

       Mobilitas sosial masyarakat memiliki gerak yang cukup dinamis.

Sebagai contoh mutasi penduduk, selama 4 bulan ada 3 Kepala Keluarga yang

pindah maupun datang ke rumah susun Bandarharjo. Ada juga proses

kelahiran dan kematian dan hal ini belum dapat dihitung secara pasti karena

pihak rumah susun pun belum bisa mendata secara tepat. Pendataan demikian

biasanya langsung ke kelurahan, pihak RT atau RW biasanya terlewatkan.
                                                                              68



III. Hasil Penelitian dan Analisis

A. Pola Interaksi

           Sebagai mahluk sosial individu memerlukan interaksi antara individu

   yang satu dengan individu yang lain, interaksi tersebut digunakan untuk

   memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Di dalam membahas pola interaksi

   pada masyarakat Bandarharjo, Kecamatan Semarang Utara, maka penelitian

   ini dibagi menjadi dua bagian yaitu :

           1. Interaksi dalam keluarga

           2. interaksi di lingkungan masyarakat



   1. Interaksi di dalam keluarga

   a. Bentuk keluarga

           Setiap individu yang lahir melakukan interaksi yang pertama adalah

   dengan keluarga. Keluarga merupakan faktor yang utama di dalam

   melanjutkan interaksi sosial selanjutnya di dalam masyarakat. Keluarga

   merupakan kelompok yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan, darah, atau

   adopsi yang membentuk suatu rumah tangga, ikatan ini disetujui oleh

   masyarakat atas keberadaannya dan merupakan suatu bentuk sosialisasi

   terkecil di dalam masyarakat. Menurut ibu Djum (42 tahun) Mengatakan

   bahwa :

           “Di rumah susun Bandarharjo ada dua tipe keluarga yang menjadi
           corak rumah tangga yaitu keluarga inti, keluarga yang terdiri dari
           suami, istri dan anak-anak, dan keluarga yang di dalamnya terdapat
           keluarga inti di tambah dengan satu atau dua orang saudara suami-istri
           atau anak dari saudaranya”.
                                                                            69



       Hal ini dapat dijelaskan dari hasil observasi sebagai berikut : dalam

sebuah keluarga terdapat suami-istri, anak-anaknya, orang tua dari suami-istri

dan orang lain seperti adik atau kakak suami-istri. Adik atau kakak ini

biasanya ada yang belum mempunyai keluarga bahkan ada yang sudah

berkeluarga namun anggota keluarga tersebut berada di tempat lain atau di

daerah asalnya sehingga ia hanya sendiri di daerah tersebut. Ada juga selain

keluarga inti juga terdapat menantu dari anak-anak yang sudah menikah,

alasannya adalah karena mendekati lokasi kerja.



b. Interaksi antara suami-istri

       Dalam membina rumah tangga, suami-istri adalah sebuah kesatuan

yang tidak dapat dipisahkan, karena suami istri adalah kunci dari sebuah

proses sosialisasi dalam pembentukan keluarga harmonis. Di lokasi penelitian

proses interaksi di dalam keluarga terutama antara suami istri tampak jelas

terlihat melalui kontak dan komunikasi sosialnya. Dalam kehidupan sehari-

hari suami oleh istrinya sering dipanggil mas/pak (bapak), (papa), sedang istri

oleh suaminya dipanggil dik/bu (ibu), (mama). Panggilan mas atau dik

biasanya dipergunakan oleh kaum muda dalam arti pasangan muda yang baru

menjalani rumah tangga dan belum mempunyai anak sampai mempunyai anak

satu, untuk panggilan pak atau bu, pa atau ma, pi atau mi dipergunakan untuk

keluarga yang sudah mempunyai anak. Panggilan ini dengan maksud

memanggilkan anaknya kepada suami-istri tersebut.
                                                                           70



       Seorang suami di dalam sebuah keluarga dianggap memiliki

kedudukan yang paling tinggi dibandingkan dengan anggota keluarga yang

lain. Suami bertugas mencari nafkah untuk menghidupi semua anggota

keluarga sehingga suami disebut kepala keluarga. Dalam kesehariannya suami

dihormati oleh istri. Istri dilindungi dan disayangi oleh suami. Sikap hormat

istri dilakukan dengan berbagai hal misalnya, menyediakan minuman,

makanan dan keperluan lainnya. Dilihat dari segi bahasa yang dipergunakan,

rasa hormat ini tidak seperti adat Jawa pada umumnya yang mempergunakan

bahasa Jawa Krama bila berbicara dengan suaminya. Para istri masyarakat di

daerah rumah susun Bandarharjo menggunakan bahasa Jawa Ngoko atau

Ngoko andhap yaitu bahasa Jawa ngoko yang pada kata-kata tertentu

menggunakan bahasa Jawa krama. Dengan demikian pola interaksi antara

suami istri berlaku secara sejajar.

       Sebagai seorang istri, ia bertugas membantu suami terutama dalam

masalah pengelolaan ekonomi keluarga. Jadi suami bertugas mencari nafkah

sedangkan istri yang mengelola. Karena warga rumah susun Bandarharjo pada

umumnya memiliki penghasilan yang rendah maka istri membantu mencari

nafkah dengan berbagai cara, seperti berdagang atau menjadi karyawan

didaerah sekitar, walaupun tidak semua istri melakukan hal tersebut tetapi ada

yang melakukannya. Selain itu bagi keluarga yang masih baru berkeluarga,

pada umumnya sebelum menikah masing-masing sudah bekerja diberbagai

tempat sehingga walaupun sudah menikah pasangan itu tetap bekerja di

tempat masing-masing. Adapun interaksi antara keduannya dilakukan setelah
                                                                             71



pulang dari bekerja dan bertemu di rumah yaitu antara sore hari hingga pagi

hari, kecuali pada hari-hari tertentu seperti hari libur.

        Secara pokok tugas suami-istri terbagi seperti telah dijelaskan di atas,

namun tugas-tugas tersebut tidak kaku, hal ini sering ditemui di lokasi

penelitian tidak sedikit tugas istri yang dikerjakan oleh suami, seperti

menyapu lantai, mencari air, mengasuh anak sebelum berangkat bekerja,

mencuci piring bahkan ikut membantu mencuci pakaian. Hal ini dilakukan

dengan tujuan meringankan tugas istri karena istri juga membantu suami

mencari nafkah.



c. Interaksi antara orang tua dengan anak

        Interaksi warga rumah susun Bandarharjo sebenarnya sama dengan

interaksi masyarakat pada umumnya, yang sangat menarik interaksi yang

terjadi antara orang tua dengan anak memiliki waktu yang relative sedikit,

karena orang tua biasanya bekerja hingga larut malam dan anak-anak

dibiarkan berkembang dengan sendirinya meskipun orang tua masih

mengawasinya seperti halnya orang tua lain warga rumah susun tidak

membedakan antara anak laki-laki dengan anak perempuan. Orang tua

menganggap semua anak mamiliki nilai, kedudukan, hak dan kewajiban yang

sama. Yang membedakan antar anak adalah senioritas umurnya saja. Semua

anak diberi kesempatan menempuh pendidikan yang sama. Pada umumnya

anak disekolahkan hingga tamat SMA (Sekolah Menengah Atas), sedangkan
                                                                           72



sekolah yang diinginkan diserahkan kepada anak, orang tua hanya memberi

gambaran dan saran sekolah yang dipilihnya.

       Dalam kehidupan sehari-hari interaksi antara orang tua dengan anak

bersifat vertikal, yaitu hubungan dari atas ke bawah, di mana orang tua

segalanya, sebagai seorang yang dihormati dan dihargai. Interaksi anak antara

ibu dan bapak terdapat perbedaan, bila dengan bapak interaksi cenderung

kurang akrab dan lebih hati-hati dibandingkan dengan ibunya, bahasa yang

dipergunakan adalah bahasa Jawa krama. Hal ini dikarenakan anak memberi

penghargaan dan menempatkannya pada kedudukan yang paling tinggi di

dalam keluarga. Interaksi anak dengan ibu lebih akrab dan lebih dekat, bahasa

yang dipergunakan adalah bahasa Jawa ngoko. Karena akrabnya anak

cenderung lebih manja dan berani kepada ibunya, walaupun masih dalam

batas-batas tertentu. Menurut Bapak Hadi Suratno (43 tahun) salah seorang

informan mengatakan bahwa :

       “Di dalam keluarga tidak ada waktu yang khusus dipergunakan untuk
       berkumpul bersama. Pada umumnya seluruh keluarga dapat bertemu
       pada sore hari yaitu setelah pukul 18.00 WIB, karena pada waktu itu
       bapak sudah pulang dari bekerja, ibu juga sudah selesai melakukan
       tugas-tugasnya dan anak-anak yang sekolah sudah pulang. Pada kasus-
       kasus tertentu seperti yang bekerja dengan model sip (kerja bergiliran)
       tidak keseluruhan dapat berkumpul bersama setiap waktu. Pada
       kesempatan berkumpul biasanya keluarga berbincang-bincang sambil
       melihat televisi karena hampir setiap rumah sudah mempunyainya.
       Anggota keluarga mengutarakan apa yang menjadi fikirannya atau
       hanya sekedar ngobrol. Bagi yang masih sekolah biasanya kesempatan
       tersebut dipergunakan untuk minta bimbingan dalam menyelesaikan
       tugas sekolah atau belajarnya”.
                                                                           73



       Dengan demikian hubungan antara orang tua dengan anak terjalin

secara akrab dan harmonis dan tidak terjadi kesenjangan. Seperti yang peneliti

lihat pada saat melakukan obsevasi pada hari senin tanggal 12 desember 2005

pukul 14.00 WIB. Keluarga bapak Agus dan ibu Ris yang sedang mengajari

kedua anaknya yang baru duduk di bangku sekolah dasar untuk mengerjakan

pekerjaan rumahnya, pak Agus berusaha mengajari anak-anaknya untuk

mengerjakan tugas rumah setelah anak-anaknya pulang dari sekolah, apabila

anak-anaknya mengalami kesulitan maka pak agus membantunya. Sedangkan

bu Ris menimang dan menyuapi anak ketiga yang masih balita.



d. Interaksi antara anak dengan anak

       Anak yang tertua adalah yang dianggap senior bagi adik-adiknya.

Anak-anak yang lebih muda harus menghormati anak yang lebih tua,

sedangkan anak yang lebih tua menyayangi yang lebih muda. Bentuk

penghormatan adik terhadap kakak adalah adik tidak berani melakukan

perbuatan tertentu, seperti membentak, menyuruh dengan paksa ataupun

memegang kepala. Perwujudan lain dari penghormatan terhadap kakak adalah

adik memanggil kakak dengan sebutan mas atau kang untuk kakak laki-laki,

sedang sebutan mbak atau yu dipergunakan untuk memanggil kakak

perempuan. Apabila seorang adik melanggar tata karma tersebut maka tugas

orang tua untuk menegur anak tersebut.
                                                                         74



       Seorang kakak memanggil adiknya biasanya ada yang langsung

memanggil nama kecilnya, ada yang memanggil dengan sebutan dik kemudian

nama, bahkan pada orang-orang tertentu biasanya dipanggil dengan nama

julukan. Sebagai contoh karena badannya pendek dan gemuk maka anak

tersebut dijuluki Bagong. Adalagi karena suka makan kue molen yaitu kue

yang terbuat dari pisang yang dililit tepung lalu digoreng, maka ia dijuluki

Molen. Julukan seperti ini bukan hanya dipanggil oleh sesama anak-anak saja,

orang tua sering memanggil dengan julukan tersebut, bahkan tetangganyapun

juga memanggil dengan julukan itu.

       Bahasa yang dipergunakan dalam interaksi dengan sesama anak adalah

bahasa Jawa ngoko, baik antara adik dengan kakak ataupun sebaliknya.

Selama penelitian dari mulai tanggal 17 November sampai dengan tanggal 19

desember belum pernah diketemukan antara anak dengan anak menggunakan

bahasa pengantar dengan bahasa Jawa krama, demikian belum juga

diketemukan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar,

hal ini karena anak-anak rumah susun sudah terbiasa menggunakan bahasa

Jawa ngoko andhap, berbeda dengan sesama orang tua, biasanya

menggunakan bahasa Jawa Krama, hal itu dilakukan karena untuk

menghormati warga yang lain, bahasa Indonesia biasanya digunakan untuk

berkomunikasi dengan orang luar yang berkunjung dan menggunakan bahasa

Indonesia, selebihnya tetap menggunakan bahasa Jawa.
                                                                            75



       Pada umumnya interaksi antara sesama anak tidak terperancang pada

waktu tertentu. Anak-anak hanya menggunakan waktu luangnya seperti

setelah sekolah atau sepulang dari kerja, waktu luang disaat sekolahpun dapat

digunakan anak-anak untuk bermain, permainan anak-anak tidak tentu

terkadang bermain di depan halaman rumah masing-masing ada juga yang

bermain di antara tangga dan berlarian naik turun tangga, ada juga yang

bermain kelereng dan meniru permainan billiyard, tetapi permainan kelereng

tersebut dilakukan di lantai. Anak-anak ini meniru permainan billiyard yang

dilakukan oleh remaja-remaja, anak-anak ini tidak diperbolehkan main

billiyard sungguhan karena dianggap belum waktunya diperbolehkan.

Interaksi antara anak dengan anak ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.



                                Gambar 9




  Anak-anak menggunakan waktu luang setelah sekolah untuk bermain
                                                                            76



                                Gambar 10




                      Permainan billiyard anak-anak

       Adapun bentuk interaksi anak dengan anak lainnya ada berbagai

macam bentuknya, ada yang hanya senda gurau, adik meminta bantuan kakak

tentang kesulitan belajar, kakak meminta tolong membelikan sesuatu atau

mengambilkan sesuatu, bahkan tidak jarang terjadi perselisihan antara kakak

dengan adik tersebut hingga menimbulkan pertengkaran. Apabila terjadi hal

tersebut, campur tangan orang tua sangat berperan sebagai kontrol di dalam

mendamaikan perselisihan tersebut hingga menjadi baik kembali.



e. Interaksi antara keluarga dengan orang lain yang serumah.

       Seperti yang telah dikatakan di muka bahwa pada umumnya warga

rumah susun Bandarharjo terdapat keluarga inti dimana warga tersebut di

dalam satu rumah terdapat orang lain yang menjadi anggota keluarga. Maksud

orang lain di sini secara teoritis bukan anggota keluarga inti namun secara

administratif adalah anggota keluarga tersebut. Orang lain ini ada yang

merupakan adik dari bapak, saudara dari ibu atau yang lainnya. Seperti terlihat
                                                                              77



digambar bu Amini yang sedang berinteraksi dengan adiknya yang tinggal

serumah.

                                Gambar 11




     Interaksi dalam keluarga inti dengan keluarga lain yang serumah



       Orang tersebut di dalam keluarga inti pada umumnya disejajarkan

dengan statusnya di dalam keluarga yang lain yang sejajar dengannya. Apabila

orang tersebut sejajar dengan bapak atau ibu maka dihargai seperti orang

tuannya bagi anak-anak dalam keluarga tersebut, apabila sejajar dengan anak

maka dianggap seperti anaknya. Bentuk penghoramatan lain bagi orang luar

tersebut apabila ia kakak dari ayah atau ibu maka bagi anak dalam keluarga

inti memanggil bu dhe untuk perempuan, sedangkan laki-laki dipanggil pak

dhe. Apabila orang tersebut adik dari bapak dan ibu maka ia dipanggil bu lik

atau tante, bila orang tersebut perempuan, bila laki-laki dipanggil pak lik, atau

paman. Apabila sama dengan anak-anaknya biasanya dipanggil dengan nama

kecil saja atau diberi tambahan dik sebelum nama kecil.
                                                                           78



       Adapun interaksi di dalam keluarga ini biasanya cukup akrab

walaupun jarang bertemu dengan anggota keluarga yang lain. Sebab jarangnya

bertemu dengan anggota keluarga karena kesibukannya bekerja dan pulang

hingga larut malam sehingga kesempatan berkumpul sangat minim.



2. Interaksi di lingkungan masyarakat

       Interaksi di lingkungan masyarakat khususnya di rumah susun

Bandarharjo terjadi sangat komplek. Hal ini didasarkan pada faktor

kepentingan yang berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain

atau antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Selain itu dengan

mobilitas penduduk yang cukup dinamis mengakibatkan sangat sulit dilihat

pola interaksi masyarakatnya.

       Secara garis besar penelitian interaksi di lingkungan masyarakat dibagi

menjadi tiga bagian :

       a. Interaksi di dalam bertetangga

       b. Interaksi di dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari

       c. Interaksi di dalam kelembagaan



a. Interaksi di dalam bertetangga

       Interaksi di dalam bertetangga pada warga rumah susun Bandarharjo

dilakukan secara pribadi maupun secara bersama-sama, secara pribadi

dilakukan antara individu yang satu dengan individu yang lain. warga

melakukan kontak dan komunikasi baik ada kepentingan khusus maupun
                                                                          79



hanya sekedar ngobrol kesana-kemari. Pada umumnya warga jarang

berkunjung masuk rumah ke dalam rumah orang lain (tetangganya),

melainkan hanya berbincang di teras depan, hanya dalam hal-hal yang

dianggap penting saja yang perlu di bicarakan baru masuk ke dalam rumah.

Yang sering berkunjung dan biasa masuk ke dalam rumah tetangga adalah

warga yang masih famili dengan tetangga tersebut, sedangkan tetangga yang

bukan famili sangat jarang berkunjung hingga masuk ke dalam rumah

tetangga tesebut.

       Dari hasil penelitian tanggal 27 November 2005, tetangga yang sering

berkunjung hingga masuk ke rumah tetangganya adalah warga yang rumahnya

bersebelahan dalam satu lantai, lebih dari itu sangat jarang. Menurut Pak Man

(56 Tahun) salah satu informan mengatakan bahwa :

       ”Belum tentu dalam satu bulan berkunjung ke rumah tetangga hingga
       masuk ke dalam rumah kecuali ada suatu hal yang sangat penting.
       Biasanya yang sering tampak adalah ibu-ibu yang sedang mengrumpi
       di teras rumah. Rumah ibu-ibu itu pun berdekatan biasanya masih
       dalam satu lantai, kalau sudah berlainan lantai agak jarang
       berkunjung”.

       Seperti terlihat di gambar ibu-ibu yang sedang berinteraksi di depan

rumah salah satu warga.

                               Gambar 12




            Interaksi antar ibu-ibu di rumah susun blok Tengah
                                                                         80



       Interaksi sosial yang dilakukan secara bersama-sama terdapat beberapa

hal yang dianggap tidak mampu dikerjakan secara individual. Interaksi ini

antara lain gotong royong membantu tetangga yang sedang mengadakan

selamatan atau hajatan. Gotong royong ini biasanya sering disebut sambatan.

Selain itu bentuk gotong royong yang lain adalah kerja bakti membersihkan

mushola di blok A terletak di lantai tiga ada dua rumah yang tidak ditempati

akhirnya warga menggunakannya untuk mushola dan sistem pembayaran sewa

di tanggung bersama, begitu juga dengan mushola di blok B terletak di lantai

empat, sedangkan di blok tengah mushola terdapat di Aula lantai dua.

                               Gambar 13




                      Keadaan Mushola di blok A



       Kerja bakti juga dilakukan untuk membersihkan lingkungan di rumah

susun, misalnya membersihkan saluran air (selokan) dan berbagai macam

kegiatan yang lain. Kegiatan ini dikoordinir oleh ketua Rukun Tetangga (RT)

setempat.
                                                                          81



       Hubungan baik antara tetangga satu dengan tetangga lain dinyatakan

dengan mengundangnya dalam berbagai upacara selamatan. Upacara ini antara

lain yang berhubungan dengan siklus hidup (kelahiran, perkawinan dan

kematian), kadang kala selamatan lain seperti nadar dan keberhasilan terhadap

suatu hal. Apabila ada salah satu warga yang mengalami musibah maka para

tetangga akan memberi bantuan berupa harta maupun tenaga. Bantuan harta

biasanya diwujudnya dengan uang. Kasus di RT 4, bila terdapat salah satu

warga yang sakit dan dirawat di rumah sakit maka warga mengumpulkan uang

sebesar Rp. 2500 disebut dengan uang anjangsana yang dikelola oleh ibu-ibu,

iuaran ini bersifat wajib bagi setiap kepala keluarga. Keputusan ini sudah

merupakan keputusan dari hasil rapat yang diselenggarakan RT tersebut.

Kemudian ibu-ibu tersebut menjenguk sambil menyerahkan hasil iuran yang

telah dikumpulkan tadi. Dari pengunjung tersebut ada sebagian masih

memberikan sumbangan secara pribadi selain iuran tersebut dengan jumlah

yang tidak ditentukan. Menurut Pak Ali (39 tahun) mengatakan bahwa :

       “Pada waktu tetangga mengalami musibah kematian, maka para
       tetangga juga akan memberikan bantuan tenaga dan materi. Bantuan
       tenaga dilakukan dengan mengerjakan tugas-tugas yang telah dibagi
       pada setiap warga. Ada beberapa orang yang memberi kabar kepada
       famili yang agak jauh. Ada yang mencari surat ijin di kelurahan.
       Sebagian warga mempersiapkan tempat air untuk memandikan jenazah
       dan sebagainya. Untuk ibu-ibu sebagian ada yang ditugaskan untuk
       membeli bunga dan kain kafan, sebagian lagi memasak untuk
       selamatan Sedekah bumi saur tanah. Bantuan materi diberikan berupa
       uang. Masing-masing pejiarah memberikan uang yang ditaruh di
       dalam amplop dan dimasukkan pada kotak yang sudah disediakan di
       depan rumah orang yang mengalami musibah kematian maka
       warganya mengumpulkan bantuan wajib sesuai ketentuan hasil rapat
       tingkat RT atau RW. Besarnya iuran yang ditentukan bagi warga yang
       meninggal adalah Rp. 2500,- iuran ini merupakan bantuan untuk
                                                                          82



       membeli atau ganti biaya kafan, ongkos penguburan dan biaya
       selamatan”.


b. Interaksi di dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari

       Setiap individu pasti memilih kebutuhan yang harus dipenuhi,.

Kebutuhan ini tidak mungkin dapat dilakukan sendiri, karena itu setiap

individu membutuhkan individu lain guna memenuhi kebutuhan tersebut.

Salah satu kebutuhan tersebut adalah dibidang ekonomi. Untuk itulah interaksi

sosial diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

       Sarana yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi sehari-

hari di rumah susun Bandarharjo adalah pasar, pertokoan atau warung. Di

rumah susun Bandarharjo warung-warung yang didirikan adalah warung-

warung yang berada di lantai dasar yang sifatnya tidak permanen, siapapun

boleh menempatinya dengan syarat tidak menggunakan sistem kavling, karena

tempat itu milik bersama. Misalkan di pagi hari banyak penjual sayuran,

setelah berjualan barang-barang yang digunakan harus di ambil dan tempat

dibersihkan sebab pada siang hari akan berganti penjual yang lain hingga sore

hari, dan pada malam harinya dalam satu tempat bisa digunakan lagi oleh

penjual yang lain. adapun pasar yang biasa digunakan untuk belanja dan

letaknya dekat    yaitu pasar Krempyeng dan pasar Bom lama. Tempat

pemenuhan kebutuhan di rumah susun terletak di lantai dasar. Interaksi dalam

pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang terjadi di rumah susun Bandarharjo

tampak seperti gambar di bawah ini.
                                                                        83



                                 Gambar 14




     Interaksi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari di lantai dasar


c. Interaksi di dalam kelembagaan

          Di rumah susun Bandarharjo terdapat beberapa kelembagaan dapat

dijadikan sarana interaksi masyarakat. Lembaga ini dapat dibagi menjadi dua

yaitu :

          1. Lembaga sosial

          2. Lembaga birokrasi



          lembaga sosial pada umumnya bersifat suka rela dan tidak begitu

mengikat anggotanya. Contoh dari lembaga sosial di daerah ini seperti telah

disebutkan dalam bab terdahulu yaitu Dasa Wisma, Posyandu, PKK, majelis

ta’lim (Al-Iksan) dan sebagainya. warga membentuk kelompok sesuai dengan

tujuan dan keinginan masing-masing. Seperti halnya Posyandu sebagai salah

satu contoh, kegiatan ini dilaksanakan minggu pertama atau awal bulan

tepatnya dilaksanakan hari minggu, lokasi dilaksanakannya Posyandu di RW

III Bandarharjo, bukan di rumah susun itu sendiri, melainkan di luar rumah
                                                                          84




susun, gambar di bawah ini merupakan rumah bapak Ngadiyo yang dijadikan

sebagai tempat dilaksanakannya program Posyandu.

                               Gambar 15




     Rumah ketua RW III yang digunakan sebagai tempat Posyandu

       Sebagai penjelasan interaksi di bidang lembaga sosial dapat dilihat

dalam kasus yang dikatakan Pak Jumar (50 tahun) berikut ini :

       “Seorang warga akan mengadakan pesta pernikahan, sebagaian warga
       banyak yang membantu dalam hal menyiapkan masakan yang
       dilakukan oleh ibu-ibu, apabila yang sedang mengadakan hajatan itu
       meminta secara langsung bantuan tenaga untuk membantu, maka
       warga akan membantu secara iklas tanpa meminta imbalan. Tetapi ada
       juga warga yang sengaja mengundang orang untuk memasak dan
       diberi imbalan. Keluarga yang mengadakan hajatan itu kebetulan
       keluarga yang taat terhadap agama. Satu hari sebelum pernikahan
       diadakan selamatan keluga yang punya hajat mengundang warga
       lainnya untuk selamatan. Selain itu keluarga tersebut juga mengundang
       majelis ta’lim, setelah acara selesai dilanjutkan dengan menampilkan
       kesenian rebana yaitu kesenian yang menyanyikan lagu-lagu yang
       bernafaskan keagamaan dan diiringi dengan musik rebana. Pada waktu
       resepsi pernikahan selain mengundang penari tradisional sebagai
       pemeriah acara dan berakhir dimeriahkan oleh musik dangdut, acara
       ini di selenggarakan di lantai dasar, karena teras rumah susun masing-
       masing lantai tidak mungkin untuk digunakan untuk acara-acara besar,
       tetapi hal ini tidak banyak dilakukan oleh banyak warga, hanya warga
       yang memiliki materi yang berkecukupan saja yang bisa
       melakukannya”.
                                                                            85




Dari uraian kasus di atas dapat dilihat interaksi warga rumah susun baik secara

individu maupun secara kelompok atau dengan organisasi lain.

       Di bidang lembaga birokrasi atau bisa juga disebut lembaga

pemerintahan, terdapat Rukun Tetangga (RT) yang dipimpin oleh Ketua RT.

Ketua RT ini mengatur warganya dan memimpin dalam memecahkan

permasalahan di sekitar. Ketua RT ini dibantu oleh staf-staf seperti bendahara,

sekretaris dan beberapa seksi. Sektor birokrasi yang tertinggi yang ada di

Rumah susun adalah Rukun Warga (RW) yang dipimpin oleh Ketua RW,

yang membawahi beberapa RT. Dan sektor birokrasi yang tertinggi di

kelurahan Bandarharjo pada umumnya adalah kelurahan yang dipimpin oleh

seorang kepala kelurahan yang sering disebut lurah. Pada saat ini kepala

kelurahan Bandarharjo adalah Bpk. Noor Rokhim (55 tahun).

       Di sektor lembaga birokrasi terjadi hubungan dua arah yang bersifat

vertikal, yaitu hubungan yang bersifat dari atas ke bawah (Top-Down) dan

hubungan yang berasal dari bawah ke atas (Bottom-Up). Menurut Pak Tri (41

tahun) menyatakan bahwa yang bersifat dari atas ke bawah berupa kebijakan-

kebijakan pemerintah yang memandatkan kepada kelurahan kemudian

disampaikan kepada warganya melalui RW dan RT masing-masing. Interaksi

yang bersifat dari bawah ke atas di wilayah rumah susun ialah penyampaian

aspirasi masyarakat masing-masing RT yang disampaikan oleh ketua RT pada

rapat setiap bulan, kemudian hasil disampaikan ke tingkat RW.
                                                                        86




       Interaksi di bidang birokrasi bagi masyarakat secara individual,

biasanya menyangkut masalah surat menyurat atau permasalahan yang tidak

dapat diselesaikan sendiri sehingga perlu bantuan kelurahan. Bantuan surat

menyurat ini seperti pembuatan KTP (Kartu Tanda Penduduk), Surat

Keterangan Kelahiran, Surat Keterangan Kematian, dan sebagainya. Setiap

permohonan surat-menyurat ini harus membawa surat pengantar dari Ketua

RT dan disetujui oleh Ketua RW setempat. Tanpa surat pengantar tersebut

tidak akan dilayani oleh pihak kelurahan. Kelurahan Bandarharjo sedang

mengalami renovasi bangunannya, seperti terlihat di gambar.

                              Gambar 16




       Bangunan Kelurahan Bandarharjo yang sedang di renovasi



       Jadi interaksi sosial di bidang kelembagaan ini warga berperan aktif

dalam bentuk kelembagaan sosial maupun lembaga birokrasi (pemerintahan).
                                                                             87




B. Perilaku Sosial

          Telah diuraikan dalam bab II bahwa perilaku sosial adalah cara

   bertindak atau berkelakuan yang sama dari orang-orang yang menjadi anggota

   suatu kelompok atau masyarakat. Kehidupan masyarakat rumah susun

   Bandarharjo sangatlah plural, tidak hanya dari segi keagamaan, tetapi juga

   variasi pekerjaan memungkinkan terjadinya proses pertukaran pengetahuan

   diantara warga. Hal ini juga berimbas pada pola perilaku antar warga.

   Semakin banyak pengetahuan yang dimiliki, maka warga semakin banyak

   menyiapkan nilai-nilai yang diperlukan untuk berperilaku. Masing-masing

   warga memiliki sikap dan penilaian yang berbeda-beda, oleh karenanya setiap

   perilaku sosial antara warga yang satu dengan warga yang lain berbeda pula.

          Untuk kejelasan keadaan perilaku sosial di rumah susun Bandarharjo

   maka penelitian ini dibagi atas dua ruang lingkup, yaitu :

          1. Perilaku sosial di dalam keluarga

          2. Perilaku sosial di lingkungan masyarakat



   1. Perilaku sosial di dalam keluarga

          Keluarga sebagai suatu kelompok sosial yang terkecil di dalam

   masyarakat merupakan tempat penanaman budaya bagi setiap individu di

   dalam keluarga tersebut. Masing-masing keluarga memiliki latar belakang,

   tata cara, pandangan dan tujuan sendiri-sendiri di dalam membina rumah

   tangga, oleh karenanya setiap keluarga memiliki corak kehidupan yang

   berbeda-beda antara keluarga yang satu dengan keluarga yang lain.
                                                                          88




       Apabila ditinjau pada masyarakat umumnya dan khususnya di lokasi

penelitian rumah susun Bandarharjo, yang membentuk atau mensosialisasikan

perilaku di dalam keluarga adalah orang tua. yang dimaksud orang tua adalah

setiap individu (orang) yang bertanggung jawab dalam suatu rumah tangga,

dalam kehidupan sehari-hari disebut ibu-bapak. Orang tua berfungsi sebagai

pembuat peraturan yang harus dipatuhi oleh segenap keluarga dan tugas orang

tua adalah mengarahkan anak-anaknya agar berperilaku yang baik dan

mengawasinya (sebagai kontrol) seluruh anggota keluarga. Peran utama

pemegang kontrol sosial di dalam keluarga adalah bapak, karena bapak adalah

sebagai kepala keluarga, namun karena kesibukannya mencari nafkah maka

ibu yang sering berperan di dalam mengontrol keluarga.

       Semenjak anak masih dalam pengawasan orang tua, orang tuanya

memberikan pengarahan dan pengertian tentang apa yang harus dilakukan dan

yang tidak harus dilakukan. Begitu juga tentang perilaku mereka, bagaimana

perilaku yang baik dan perilaku yang kurang baik. Pembentukan perilaku

dilakukan pertama kali dalam keluarga begitu juga dengan cara mengawasi

anggota keluarga, masing-masing kepala keluarga berbeda-beda bentuknya.

Hal ini karena latar belakang dan cara pandangnya dalam kehidupan sehari-

hari. Bagi orang tua atau kepala keluarga yang religius (sangat taat terhadap

agama) maka anggota keluarganya akan diarahkan ke perilaku yang sesuai

dengan ajaran keagamaannya sebagai orang yang religius, sedangkan bagi

keluarga yang berfaham sekuler peraturan tentang perilaku dan cara bergaul

dengan orang lain diterapkan di dalam keluarga agak longgar, secara garis
                                                                            89




besar bentuk sosialisasi perilaku dan kontrol yang dilakukan orang tua

terhadap anak-anak dan keluarganya di rumah susun Bandarharjo dapat dibagi

menjadi dua yaitu secara preventif dan secara represif. Secara prefentif adalah

pengawasan dengan cara mendidik dan memberi contoh kepada anggota

keluarga terutama kepada anak-anaknya. Sebagai contoh orang tua akan selalu

mengawasi anak-anaknya dalam belajar, anak diberi pengertian dengan belajar

mereka akan menjadi pintar. Secara represif diberikan kepada anggota

keluarga yang melanggar peraturan dengan cara menegur atau memberi

hukuman. Sebagai contoh seorang anak harus menghormati orang yang lebih

tua dan tidah boleh melawan, apabila ada anak yang melawan maka orang tua

wajib menegurnya dan biasanya di jewer telinganya.

       Bentuk pengawasan yang sering dilakukan terhadap perilaku anggota

keluarga yang sering dilakukan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

       a. Pengawasan terhadap tata krama atau sopan-santun

       b. Pengawasan terhadap disiplin dan tanggung jawab



a. Pengawasan terhadap tata krama atau sopan santun

       Pada umumnya warga rumah susun berasal dari suku Jawa, sehingga

adat atau norma yang diterapkan di dalam keluarga sesuai dengan adat Jawa

pada umumnya. Bagi orang yang menyalahi peraturan atau adat Jawa menurut

bapak Sri Hartono (40 tahun) dikatakan kurang ajar atau ora duwe aturan.

Artinya orang tersebut kurang mendapat pelajaran dari orang tuanya atau tidak

memiliki sopan santun. Adapun sopan santun yang diterapkan dilingkungan
                                                                           90




keluarga masyarakat Bandarharjo berupa penghormatan kepada orang yang

lebih tua terutama kepada bapak-ibu. Penghormatan ini dapat dilihat dari

kesopanan dalam bertingkah laku dan tata cara berbicara. Ditambahkan bahwa

bila ada orang tua orang tua duduk di bawah maka anggota keluarga yang

ingin lewat di depannya harus sedikit membungkukkan badan dan berkata

amit atau nuwun sewu atau nderek Langkung, artinya meminta ijin atau

permisi untuk lewat di depannya, bisa dilihat setiap saat warga rumah susun

banyak yang duduk-duduk di luar rumah dengan santai dan bercerita antara

warga yang satu dengan warga yang lain yang biasanya rumah mereka masih

dalam satu lantai. Selain itu bagi anggota keluarga dilarang berbicara hal-hal

yang dianggap saru bila didengar orang lain, yaitu perkataan yang dianggap

tabu atau jorok.

b. Pengawasan terhadap disiplin dan tanggung jawab

       Sejak kecil anak di rumah susun sudah diajarkan tata cara disiplin.

Menurut ibu Amini (56 tahun) mengatakan bahwa :

       “Yang pertama dilakukan adalah disiplin makan dan disiplin dalam
       tidur. Setiap anak dilatih untuk makan yang teratur yaitu dalam sehari
       makan tiga kali, sekali di waktu pagi (sarapan), sekali makan siang dan
       sekali makan di sore hari. Setelah makan siang, sekitar pukul 13.00
       WIB, anak diwajibkan untuk tidur siang sedangkan tidur malam sekitar
       pukul 20.00. tanggung jawab yang diberikan sejak kecil adalah bila
       habis bermain harus membereskan lagi mainannya. Setelah bermain di
       sore hari anak disuruh mandi dan gosok gigi. Pertama anak tersebut
       dibantu orang tua dalam menjalankan tugasnya kemudian lambat laun
       di suruh mengerjakan sendiri”.
                                                                        91




      Menurut bapak Margito (49 tahun) mengatakan bahwa :

      “Setelah anak mulai sekolah, maka disiplin yang diterapkan adalah
      disiplin dalam belajar, di samping beberapa disiplin di atas. Pada
      umumnya di rumah susun pelajaran yang dipentingkan adalah
      pelajaran formal yaitu pelajaran yang ada di sekolah-sekolah umum,
      sedangkan pelajaran yang bersifat agama ditempatkan setelah pelajaran
      yang bersifat formal. Di tambahkan juga bahwa anak yang tidak mau
      belajar atau bolos sekolah maka anak tersebut akan dimarahi dan
      dipaksa untuk belajar dengan memberikan sanksi namun apabila bolos
      mengaji maka orang tua akan memberi toleransi. Bagi orang tua yang
      memiliki ketaatan di dalam beragama (religius) maka ia menganggap
      agama lebih penting, bila anak tidak dapat masuk sekolah negeri maka
      sekolah yang dipilih adalah sekolah yang bersifat agama sesuai agama
      yang dianutnya lebih diprioritaskan dari pada sekolah swasta yang
      lain”.

      Menurut bapak Sukadi (62 tahun) mengatakan bahwa :

      “Sebagian besar anak yang sudah keluar dari sekolah lanjutan tingkat
      atas dianggap sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang
      buruk, juga bisa membedakan mana perilaku yang baik dan mana
      perilaku yang kurang bahkan tidak baik serta sudah mengetahui
      tanggung jawabnya, oleh karena itu anak tersebut dianggap sudah
      dewasa. kontrol terhadap anak tersebut sudah mulai longgar terutama
      pada anak laki-laki. Anak yang sudah tamat sekolahnya mulai mencari
      kerja, hingga anak tersebut sering berhubungan dengan orang di luar
      wilayah tersebut sehingga sudah sulit di awasi oleh orang tuanya,
      apalagi anak yang sudah bekerja yang pulangnya tidak tentu
      waktunya”.

      Sanksi yang diterapkan kepada anggota keluarga yang melanggar

biasanya berupa teguran atau nasehat, bagi anak yang sudah menginjak

dewasa sering mengadakan pembangkangan, hal inilah yang dapat

menimbulkan konflik di dalam keluarga, pada umumnya bila anak tersebut

sudah demikian, maka orang tua ngumbar anak tersebut yaitu membiarkan

sekehendaknya bahkan mendiamkan dan tidak ditegur sama sekali.
                                                                        92




2. Perilaku sosial di lingkungan masyarakat

       Masyarakat di lokasi penelitian pada umumnya adalah orang Jawa

namun asal daerahnya berbeda-beda, oleh karena itu setiap masyarakat

memiliki latar belakang budaya dan pola pikir yang berbeda pula. Dari latar

belakang dan pola pikir yang berbeda ini menimbulkan perilaku dan kontrol

masing-masing orang berbeda-beda pula. Demikian pula bila melihat suatu

kasus, masing-masing warga berbeda pula sudut pandangnya. Banyak hal

yang dapat dijadikan acuan untuk mempelajari bagaimana menempatkan diri

dan berperilaku yang baik dalam masyarakat, misalnya dalam berinteraksi

dengan tetangga hal-hal yang sudah dipelajari didalam masyarakat dapat

dijadikan sebagai reverensi dalam berfikir dan bertindak dalam suatu

komunitas.

       Perilaku masing-masing warga jelas berbeda, ada perilaku yang biasa-

biasa saja, dalam artian berperilaku sesuai dengan norma atau aturan yang

berlaku ada juga yang berperilaku menyimpang dari aturan yang ada. Warga

yang memiliki watak yang keras cenderung bersikap keras dan terkadang

sekehendak hati dan berperilaku cuek, berbeda dengan warga yang memiliki

sikap atau watak lembut, dalam bergaul lebih bersikap menghargai,

menghormati dan hati-hati. Hal ini dapat terlihat dari perkataan yang tanpa

disadari perkataan dari masing-masing warga terdapat perbedaan, ada yang

perkataannya lembut ada yang perkataannya kasar. Perilaku yang tampak jelas

yang terdapat di rumah susun dan berbeda dengan warga lain pada umumnya

adalah warga meletakkan barang-barang rumah tangga di tempat-tempat yang
                                                                            93




tidak pada umumnya, misalkan lemari ada yang di letakkan di depan rumah,

dapur atau tempat untuk memasak terletak di depan rumah, jemuran pakaian

juga di letakkan di depan rumah, ruangan yang semestinya berfungsi lain

terkadang dijadikan multifungsi. Terlihat di gambar fungsi ruangan yang tidak

semestinya digunakan sebagaimana layaknya.

                                Gambar 17




                Keadaan dapur yang terletak di luar rumah



       Keadaan lain yang merupakan perilaku masyarakat rumah susun yang

berbeda dengan perilaku masyarakat rumah horizontal tampak pada kebiasaan

menjemur pakaian di depan rumah, secara wajar hal ini merupakan hal yang

dianggap tabu, seperti halnya masyarakat rumah horizontal merasa bahwa

pakaian yang dijemur jangan sampai terlihat oleh orang lain, tetapi di rumah

susun karena keterbatasan lahan maka banyak warga yang menjemur pakaian

di depan rumah. Kehidupan seperti ini bukanlah hal yang asing bagi

masyarakat rumah susun, warga tidak merasa malu dikala pakaian-pakaian itu

terlihat oleh warga lain. Seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini,
            94




Gambar 18
                                         95




Blok B                          Blok A
   Keadaan bagian dalam rumah susun
                                                                          96

       Dalam pergaulan di rumah susun Bandarharjo, tiap warga saling

menjaga dan mempunyai rasa toleransi yang sangat tinggi, kerjasama mereka

terjalin sangat baik, meskipun rumah susun Bandarharjo ini terdapat tiga blok

yang berbeda, namun aturan-aturan serta norma-norma yang ada di

lingkungan rumah susun ini sangat ditaati oleh seluruh warga, aturan-aturan

serta norma-norma yang ada di rumah susun ini misalnya, tamu berkunjung

dibatasi sampai pukul 21.00 WIB, dan jika tamu tersebut akan menginap harus

melapor terlebih dahulu kepada ketua RT setempat dengan menunjukkan

identitasnya, adanya aturan khususnya bagi remaja di rumah susun disaat

asyik bermain gitar dan organ dimalam hari di batasi sampai dengan pukul

22.30 WIB, hal itu ditujukan agar warga lainnya tidak terganggu. aturan-

aturan tersebut dibuat untuk ditaati, jadi para warga rumah susun sudah

mempunyai kesadaran masing-masing untuk tidak melanggar aturan-aturan

tersebut, jika ada yang melanggarnya, maka ada sanksi walaupun bukan sanksi

tertulis tetapi ada sanksi yang berupa teguran secara langsung dari warga

masyarakat lain serta dituntut untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya

kepada warga masyarakat rumah susun. Sementara itu bapak Agung (60

tahun) mengatakan bahwa :

       “Pernah ada warga luar rumah susun yang mengadakan pementasan
       organ tunggal karena hujan acara itu dilanjutkan di lantai dasar rumah
       susun disertai dengan mabuk-mabukan, warga merasa terganggu
       akhirnya melaporkannya ke pihak yang berwajib. Warga Bandarharjo
       di luar rumah susun sendiri beranggapan bahwa yo iki wong
       Bandarharjo tukang ngombe yang artinya “ya inilah orang
       Bandarharjo biasa minum (minuman keras), karena saat itu pak Agung
       merasa warganya tidak demikian, beliau hanya berkata : itu kan kamu,
       tidak semuanya seperti itu”.
                                                                        97

       Warga rumah susun Bandarharjo ini juga mempunyai kebiasaan-

kebiasaan yang dilakukan secara rutin tiap jangka waktu tertentu, misalnya

saja yaitu kerja bakti yang dilakukan semua warga rumah susun tiap dua

minggu sekali, rapat kepengurusan baik RT ataupun rapat RW, pengajian,

rapat PKK, Dasa Wisma, Posyandu. Untuk acara kerja bakti dilakukan di

sekitar rumah susun, sebagai contoh pada bulan November sampai awal

desember warga rumah susun kerja bakti untuk memasang paving jalan di

depan Rumah Baca atau perpustakaan rumah susun yang dibuat atas bantuan

JAMSOSTEK Persero. Rumah baca Bandarharjo terlihat pada gambar

dibawah ini,



                              Gambar 19




                  Keadaan jalan yang sudah diperbaiki


       Gedung yang terlihat pada gambar di atas merupakan bentuk fasilitas

yang ada di lingkungan rumah susun, bangunan ini merupakan rumah baca

masyarakat Bandarharjo. Fasilitas ini biasanya digunakan oleh warga seluruh

Bandarharjo, khususnya anak-anak banyak yang meluangkan waktunya untuk

membaca buku-buku pelajaran dan buku-buku cerita.
                                                                          98

                               Gambar 20




                     Rumah baca terlihat dari dalam


       Karena jalan di depan rumah baca sering terkena banjir akhirnya jalan

di depan rumah susun Bandarharjo di tinggikan, dana untuk memasang paving

diperoleh dari pemerintah yaitu dari dana kompensasai BBM sebesar 250 juta.

Bagi yang tidak mengikuti kerja bakti tersebut tidak ada sanksi tertulis

melainkan si pelanggar hanya menanggung rasa malu pada warga yang

lainnya.

       Kegitan lainnya seperti rapat bulanan RT atau RW biasanya dihadiri

oleh bapak-bapak untuk membahas bagaimana keadaan lingkungan rumah

susun apakah aman atau tidak, dapat dilihat pada gambar di bawah. Rapat

bulanan ini tak lupa bapak-bapak membahas uang jimpitan sebesar Rp. 2000,-

dan arisan sebesar Rp. 5000,- per bulan. Kegiatan bulanan ini dilaksanakan di

depan rumah atau teras dekat tangga.

                               Gambar 21




                Kegiatan bulanan Rukun Tetangga RT 07
                                                                            99

       Rapat RT atau RW ini dilakukan untuk mengkoordinasikan seluruh

keadaan rumah susun. Selama ini sudah kita ketahui bersama bahwa lokasi

penelitian terkenal dengan sebutan daerah rawan, dalam hal ini banyak gali-

gali (orang-orang yang terkenal keras dalam berperilaku dan juga bersikap).

Hal itu dikarenakan pergaulan yang pada dasarnya memiliki kontrol yang

longgar. Pekerjaan masing-masing warga juga menjadi alasan kenapa

memiliki watak dan bersikap keras, dengan pekerjaan yang serabutan

(pekerjaan tidak tetap), apapun yang bisa dikerjakan dan menghasilkan uang

maka warga akan mengerjakannya.

       Selain kegiatan bapak-bapak ada juga kegiatan yang dilakukan oleh

ibu-ibu yaitu rapat bulanan PKK yang dilaksanaakan setiap bulan tanggal

lima, selain membahas program bulanan PKK ini juga mencamtumkan

kegiatan arisan, mengkoordinir buku tabungan ibu-ibu seluruh rumah susun,

penyuluhan tentang Keluarga Berencana (KB). Struktur organisasi PKK RW

XII dapat dilihat di lampiran. Suasana rapat bulanan PKK dapat terlihat seperti

gambar.

                                Gambar 22




                     Kegiatan bulanan PKK RW XII
                                                                         100

       Rapat bulanan PKK ini ada yang tingkat RW dan ada juga yang tingkat

RT, tingkat RW dilaksanakan setiap tanggal lima, untuk tingkat RT tanggal

pelaksanaan sesuai kesepakatan dari masing-masing pengurus tingkat RT,

tetapi tepatnya minggu pertama.

       Pada umumnya lingkungan Bandarharjo memang terkenal rawan,

tetapi warga rumah susun Bandarharjo memiliki pola perilaku yang masih bisa

dikendalikan, walaupun sikap dan wataknya keras tetapi dalam berperilaku

warga masih memperhitungkan tata krama dan menghormati warga yang lain.

Solidaritas antara warga rumah susun juga sangat tinggi. Perilaku warga

rumah susun pada dasarnya sama dengan perilaku warga masyarakat pada

umumnya, berperilaku sesuai dengan norma yang berlaku dan saling

menghargai dengan sesama. Menurut ibu Anik (45 tahun) mengatakan :

       “Perilaku atau cara bergaul dengan sesama warga rumah susun untuk
       pertama kali dirasakan sulit, sebab bagi yang belum kenal akan merasa
       ewoh atau malu tetapi lama kelamaan antara warga yang satu dengan
       warga yang lain terjalin solidaritas yang tinggi. Pola interaksi yang
       dirasakan juga sama sulitnya, pada dasarnya warga merasa aman
       tinggal di rumah susun dari pada tinggal di rumah sebelumnya, yang
       kotor, kumuh, udaranya panas, banyak tikusnya. Di rumah susun
       warga merasa aman, nyaman, bersih, tidak terkena genangan air akibat
       Rob, begitu juga dengan udara tidak begitu panas. Pertama kali tinggal
       di rumah susun banyak ibu-ibu yang beranggapan bagaimana anak-
       anak yang masih balita kalau nanti terjatuh misalnya dari lantai tiga
       atau empat. Tetapi semakin lama warga bisa menyesuaikan diri,
       meskipun ruang gerak di lingkungannya sempit, tetapi warga merasa
       nyaman dan menikmati hidup karena hanya dengan demikianlah
       kehidupan yang dijalaninya sekarang”.
                                                                      101

                             Gambar 23




          Keadaan rumah susun yang terlihat menjulang tinggi


          Keadaan rumah susun di Bandarharjo seperti terlihat pada gambar

di atas adalah cerminan di mana warga penghuninya adalah orang-orang yang

berstatus ekonomi menengah kebawah, oleh karena itu warga senantiasa

bergaul dengan warga yang lain agar bisa memenuhi kebutuhan hidup.

Berbeda dengan keadaan hidup masyarakat kota pada umumnya yang tingkat

solidaritasnya rendah, individualisme, sehingga jarang atau bahkan tidak

pernah berinteraksi dengan warga lainnya. Hidup dalam rumah susun yang

berstruktur vertikal, sama seperti halnya Apartemet, namun cara hidup

masing-masing berbeda. Apartement memiliki gaya hidup yang individualis,

warga yang menempati apartement berstatus ekonomi atas atau orang-orang

kaya, antar warga tidak saling mengenal, berbeda dengan kehidupan di rumah

susun, warga memiliki kehidupan bersama, saling berinteraksi dengan warga

yang lain. Meskipun tinggal di kota, warga rumah susun tidak merasa hidup

sendiri dan harus bergaul dengan warga yang lain, hal ini dilakukan karena

warga merasa untuk dapat hidup harus bekerjasama dengan orang lain.

Berbeda pula dengan cara hidup masyarakat yang menempati rumah
                                                                              102

   berstruktur horizontal, dengan lahan yang luas untuk melakukan aktivitasnya

   sehari-hari tidak dibatasi oleh lantai yang satu dengan lantai yang lain, warga

   memiliki kesempatan yang lebih untuk berinteraksi dengan warga lainnya.

   Kehidupan dirumah susun, pola interaksi antar warga hanya sebatas komplek

   atau di mana lantai rumah warga itu tinggal. Misalnya, warga lantai dua hanya

   bergaul dengan warga lantai dua, meskipun dengan warga dari lantai lainnya

   saling mengenal, tetapi jarang untuk berinteraksi. Hal itu dikarenakan warga

   merasa malas untuk naik atau turun lantai.

              Dengan demilikian pola interaksi dan perilaku sosial warga rumah

   susun Bandarharjo, dalam penelitian ini mengarah pada teori yang

   dikemukakan oleh Bonner dalam Gerungan (1988 : 57) yang menyatakan

   bahwa interaksi sosial adalah suatu hubungan dua atau lebih individu yang

   saling mempengaruhi, mengubah atau memperbaiki kelakuan atau perilaku

   antar individu yang satu dengan individu yang lain. Teori ini tepat dan juga

   ditemui dalam penelitian, berinteraksi dengan warga yang lain dapat

   menjadikan individu lebih matang dan lebih mengenali warga yang lain

   sehingga dapat menyesuaikan diri dengan seluruh kehidupan di lingkungan

   rumah susun.



C. Kesulitan-kesulitan Dalam interaksi dan perilaku sosial

          Kesulitan-kesulitan yang sering dihadapi dalam berinteraksi dan

   berperilaku sosial, bahkan dalan melakukan kontrol terhadap perilaku masing-
                                                                        103

masing anggota keluarga baik di dalam keluarga maupun di lingkungan

masyarakat di lokasi penelitian dapat dikategorikan sebagai berikut :

       1. kesibukan mencari nafkah

       2. perbedaan pandangan masing-masing individu



       Kesibukan orang tua dalam mencari nafkah akan menimbulkan

kesulitan orang tua dalam mengontrol pola interaksi dan perilaku anggota

keluarga di dalam aktifitas sehari-hari. Seorang suami dituntut dapat

memenuhi kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan akan makan, pakaian dan

kebutuhan sekolah anaknya. Karena dianggap tidak mencukupi kebutuhan

sehari-hari, maka istri akan berusaha membantu meringankan beban suaminya

dengan cara bekerja baik menjadi karyawan atau berdagang. Kesibukan ini

mengakibatkan      sedikitnya kesempatan untuk berinteraksi dan untuk

mengawasi anggota keluarga yang di rumah.

       Bagi masyarakat yang berada di rumah setelah pulang dari kerja,

karena aktifitasnya yang padat dan keinginannya beristirahat akhirnya merasa

malas untuk berinteraksi dan mengoreksi anggota keluarganya. Bapak Muji

(40 tahun) salah satu informan mengatakan “malas untuk ikut campur urusan

orang lain urusan sendiri masih banyak”. Kesulitan lain dalam adalah adanya

perbedaan (persepsi) masing-masing individu. Hal ini karena perbedaan

pandangan antara kaum tua muda yang sudah terpengaruh modernisasi.

Perbedaan pandangan dan latar belakang budaya yang dibawa oleh

masyarakat yang berasal dari daerah asalnya dan masih banyak lagi. Dengan
                                                                            104

   masyarakat yang plural baik cara pandang dan latar belakang budaya ini

   mengakibatkan kesulitan di dalam melakukan interaksi dan berperilaku dalam

   kehidupan sosial.



D. Cara Mengatasi Kesulitan Dalam Interaksi dan Perilaku Sosial

          Dari data informasi yang diperoleh, untuk mengatasi kesulitan tersebut

   dapat ditempuh dengan berbagai macam cara, yaitu :

      1. Mendidik dan mengawasi anggota keluarga sejak kecil terutama dalam

          bidang agama dan tata karma. Hal ini sebagai dasar bagi setiap anggota

          keluarga yang diterapkan di dalam masyarakat.

      2. Memberi toleransi kepada masyarakat yang melakukan pelanggaran

          selama tidak mengganggu atau meresahkan masyarakat.

      3. Melaporkan atau menindak secara hukum bila dapat meresahkan atau

          merugikan orang lain.

      Cara-cara tersebut dilakukan oleh masyarakat baik di dalam keluarga

      maupun di lingkungan masyarakat rumah susun Bandarharjo.

                 Oleh karenanya sebagian pemegang kontrol sosial di

      lingkungan masyarakat rumah susun Bandarharjo yang utama adalah para

      aparat baik tingkat RT, RW maupun Kelurahan.
                                    BAB V

                                  PENUTUP



            Dari hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan sebagai

berikut :



A. Kesimpulan

            Berdasarkan hasil penelitian maka dapat ditarik kesimpulan sebagai

    berikut :

    1. Interaksi di keluarga terjadi secara primer dan face to face antara suami-

        istri, orang tua (suami-istri) dengan anak, anak dengan anak maupun

        antara keluarga inti dengan orang lain yang se rumah. Interaksi di

        lingkungan masyarakat terbentuk dari ikatan ketetanggaan, pemenuhan

        kebutuhan ekonomi dan ikatan kelembagaan baik lembaga sosial maupun

        lembaga birokrasi.



    2. Perilaku di dalam keluarga didasarkan pada latar belakang budaya

        personal dan persepsi orangtua terhadap kehidupan keluarga sehingga

        masing-masing keluarga memiliki corak sendiri-sendiri dalam berperilaku

        atau bergaul. Pola perilaku di dalam masyarakat ditentukan oleh masing-

        masing individu dalam bergaul dan saling menghormati. Keterbatasan

        ruang gerak di rumah susun karena memiliki sedikit lahan kosong maka

        warga sering bertemu dan terlihat setiap waktu dan perilaku tampak lebih



                                      105
                                                                            106



     jelas. Kontrol di lingkungan masyarakat diterapkan hukum nasional

     dengan pemegang kontrol sosial yang utama adalah lembaga pemerintahan

     baik tingkat RT, RW, maupun tingkat kelurahan.

  3. Kesulitan di dalam melakukan interaksi sosial, dan mengontrol perilaku

     sosial, baik di dalam keluarga maupun di lingkungan masyarakat karena

     kesibukan individu dalam mencari nafkah dan perbedaan pandangan

     masing-masing individu terhadap perilaku itu sendiri, sehingga kontrol

     sosial pun akan mengalami perbedaan pandangan masing-masing individu

     terhadap pelanggaran yang terjadi.

  4. Cara mengatasi permasalahan sosial adalah mulai dari keluarga dengan

     memberikan dasar yang kuat sejak dini tentang bagaimana harus

     berinteraksi dan berperilaku sesuai dengan norma yang ada. Dasar yang

     kuat sejak dini berupa pendidikan agama dan tata karma, memberikan

     toleransi kepada pelanggar selama tidak meresahkan masyarakat dan

     menjatuhkan hukuman sesuai dengan hukum yang berlaku apabila terjadi

     penyimpangan terhadap perilaku sosialnya.



B. Saran

           Atas dasar hasil penelitian di atas yang menunjukkan heterogenitasnya

  masyarakat dalam pola interaksi dan perilaku sosial di dalam keluarga dan

  masyarakatnya, maka berikut dikemukakan beberapa saran sebagai masukan

  bagi pihak-pihak yang terkait.
                                                                       107



Saran bagi pemegang kebijakan

1. Secara praktis

a. Dengan memperhatikan hasil penelitian bahwa perilaku sosial individu

   dalam masyarakat perlu dilakukan juga pengawasan (kontrol) oleh karena

   itu lembaga pemerintahan diharapkan bersikap bijaksana dan mengerti

   keadaan masyarakat tersebut, sehingga dapat memimpin masyarakat

   secara adil dan baik dari tingkat RT hingga kelurahan.

b. Lingkungan sekitar rumah susun Bandarharjo tergolong lingkungan

   pemukiman kumuh, warga Bandarharjo tersebut memiliki tingkat ekonomi

   kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu diharapkan agar pemegang

   kekuasaan lebih memperhatikan keamanan di Bandarharjo agar tidak

   terjadi gejolak di dalam masyarakat, karena keadaan tingkat ekonomi yang

   rendah biasanya rawan terhadap munculnya masalah-masalah sosial.



Saran untuk Masyarakat Rumah Susun Bandarharjo

Masyarakat diharapkan dapat melakukan Interaksi dan menentukan perilaku

sosial di lingkungannya, sehingga terjadi keselarasan dan keseimbangan

dalam kehidupan sosial, sehingga dapat tercapai kehidupan yang harmonis

sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat dan pemerintah.



2. Secara teoritis

Pada penelitian lanjutan diharapkan dapat meminimalisir konflik dan memberi

solusi terhadap masalah-masalah sosial.

								
To top