BAB I

Document Sample
BAB I Powered By Docstoc
					PERKEMBANGAN AGAMA KATOLIK DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MASYARAKAT DI LINTONGNIHUTA (1937 – 1985)




SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN


O
L
E
H


NAMA             : ANTONIUS P MANALU
NIM              : 050706031




DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
PERKEMBANGAN AGAMA KATOLIK DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MASYARAKAT DI LINTONGNIHUTA (1937 – 1985)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
NAMA             : ANTONIUS P MANALU
NIM              : 050706031


Pembimbing




Dra. Penina Simanjuntak, M.S
NIP 131570489006089




DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                          Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
PERKEMBANGAN AGAMA KATOLIK DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MASYARAKAT DI LINTONGNIHUTA (1937 – 1985)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O
L
E
H
NAMA             : ANTONIUS P MANALU
NIM              : 050706031
Pembimbing




Dra. Penina Simanjuntak, M.S
NIP 131570489 006089


Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan, untuk
melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam bidang Ilmu Sejarah




DEPARTEMEN SEJARAH
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2009
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                              Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
PERKEMBANGAN AGAMA KATOLIK DAN PENGARUHNYA
TERHADAP MASYARAKAT DI LINTONGNIHUTA (1937 – 1985)

                                     Yang diajukan oleh:
                             Nama: ANTONIUS P MANALU
                                       NIM: 050706031


               Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh:
Pembimbing




Dra. Penina Simanjuntak, M.S                                tanggal…….
NIP 131570489006089


Ketua Departemen Sejarah




Dra. Fitriaty Harahap, S.U                                  tanggal……….
NIP 195406031983032001




                                DEPARTEMEN SEJARAH
                                    FAKULTAS SASTRA
                         UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
                                            MEDAN
                                               2009

Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                           Lembar Persetujuan Ketua Departemen
Disetujui oleh:




FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN




DEPARTEMEN SEJARAH
Ketua Departemen




Dra. Fitriaty Harahap, S.U
NIP 195406031983032001




Medan,      Desember 2009




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                     Lembar Pengesahan Skripsi Oleh Dekan dan Panitia Ujian


PENGESAHAN
Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara
Untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra
Dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Sastra USU Medan


Pada                  :
Tanggal               :
Hari                  :


Fakultas Sastra USU
Dekan




Prof. Syaifuddin, M.A Ph.D
NIP 196509091994031004


Panitia Ujian
No         Nama                                                  Tanda Tangan
1 ............................................................   (              )
2 ............................................................   (              )
3 ............................................................   (              )
4 ............................................................   (              )




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                         ABSTRAK

        Perkembangan agama Katolik di Lintongnihuta membawa dampak yang besar
dalam kehidupan masyarakat Lintongnihuta terutama dalam bidang adat istiadat dan
pendidikan. Masuknya missionaris Katolik di Lintongnihuta memberikan kontibusi
besar bagi perkembangan dan kemajuan masyarakat Lintongnihuta.
        Masyarakat Lintongnihuta yang semula menganut kepercayaan tradisional
beralih menjadi penganut agama Kristen Katolik dikarenakan oleh mutu pendidikan
sekolah Katolik yang tinggi. Disamping itu, pendekatan yang dilakukan oleh
missionaris terhadap masyarakat menarik simpatik masyarakat untuk memilih masuk
menjadi agama Katolik.
        Masuknya agama Katolik di Lintongnihuta mendapat tantangan baik dari
pihak Belanda, zending Jerman, dan masyarakat Batak Toba di Lintongnihuta.
Masuknya agama Katolik di Lintongnihuta mengakibatkan Lintongnihuta muncul
sebagai pusat pendidikan.




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.


                                                 i
                                  KATA PENGANTAR



        Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat

dan rahmat serta karunia-Nya yang dilimpahkan dengan memberikan kesehatan,

ketabahan serta ketekunan kepada penulis selama penyusunan skripsi ini mulai dari

awal sampai selesai. Adapun penulisan ini dilakukan untuk memenuhi salah satu

syarat untuk menyelesaikan studi Program sarjana jurusan Ilmu Sejarah Fakultas

Sastra Universitas Sumatera Utara. Pada kesempatan ini penulis mengangkat tentang

permasalahan studi agama dalam kajian Ilmu Sejarah. Skripsi ini diberi judul “

Perkembangan Agama Katolik dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat di

Lintongnihuta ( 1937 – 1985)”.

        Dalam penulisan skripsi ini banyak hambatan yang dihadapi terutama dalam

masalah pencarian data dan buku-buku literatur pendukung dalam penulisan skripsi.

Oleh sebab itu, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Untuk

itu penulis menerima kritikan dan masukan yang bersifat membangun dari semua

pihak sebagai bahan penyempurnaan skripsi ini.

        Penulisan skripsi ini dapat diselesaikan berkat dorongan dan bimbingan dari

berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kesempatan ini

penulis mengucapkan terima kasih kepada :

    1. Bapak Rektor Universitas Sumatera Utara beserta Staf yang telah berkenan

        menerima dan memberi kesempatan serta fasilitas kuliah kepada penulis

        selama kuliah di Fakultas Sastra USU.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.


                                                  ii
    2. Prof. Syaifuddin, M.A. Phd selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas

        Sumatera Utara.

    3. Dra. Fitriaty Harahap S.U, dan Dra. Nurhabsyah M.Si selaku Ketua dan

        Sekretaris Departemen Sejarah.

    4. Drs. Samsul Tarigan selaku dosen wali penulis atas bimbingan selama kuliah

        di Jurusan Sejarah

    5. Dra. Penina Simanjuntak M.S selaku dosen pembimbing atas segala

        ketekunan, kesabaran dan kemauan serta menyediakan waktunya untuk

        membimbing dan memperbaiki naskah skripsi ini hingga selesai.

    6. Bapak dan ibu dosen di Departemen Sejarah atas segala bekal ilmu yang telah

        diberikan sehingga memungkinkan penulis dalam menyelesaikan karya studi

        ini.

    7. Ayahanda tercinta Barita Manalu dan Ibunda tersayang Helmina Sihombing

        yang telah mendidik dan membimbing saya dengan ketulusan hati yang dalam

        dan memberikan motivasi kepada saya untuk menggapai cita-cita melalui

        pendidikan setinggi-tingginya.

    8. Abang dan Kakak penulis yang terkasih: Panahatan dan Roganti Sihombing,

        Lamtiar dan Lintong Marbun, Lamria dan Lae Gultom , Jerry, Dedy, Clara,

        Anjel, Anita dan Tesya atas segala dukungan dan motivasinya.

    9. Oppung tercinta Hosti Sihombing yang selalu mencintai dan tabah dalam

        membimbing cucu-cucu, Tulang Kitab Sihobing, Jhony Sihombing, Palmok

        Sihombing, Uda Harlen Manalu, Bontor Manalu, Amangboru Rumabutar,

        Sibarani, Suster Irenita Manalu yang selalu memberi dukungan baik materiil
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.


                                                 iii
        maupun moril untuk menggapai cita cita melalui pendidikan yang setinggi

        tingginya.

    10. Drs. Maruhum Sihombing selaku Camat Lintongnihuta dan Pastor Levi

        Pakpahan selaku Pastor Paroki Lintongnihuta yang telah mengijinkan dan

        membantu penulis selama melakukan penelitian lapangan.

    11. Kawan kawan di Jurusan Ilmu Sejarah terutama stambuk 2005 tanpa

        terkecuali dan sahabat-sahabatku di Berdikari Jogi, Jakson, Benmart Manalu,

        Medi, Bangun, yang telah menjadi teman berbagi suka dan duka                           dan

        membantu memberikan dorongan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi

        ini.

    12. Kawan kawan penulis Fredy manalu, Hastomo Manalu, Evi Tamala, Lina

        Nainggolan, Yanti dan siiumut Tika, terutama kepada Devi Marianti Naibaho

        yang selalu memberikan dukungan dan motivasi dalam penyelesaian skripsi

        ini.

        Semoga semua kebaikan yang telah penulis terima dibalas oleh Tuhan Yang

Maha Kuasa dan penyertaan-Nya senantiasa menyertai kita semua.




                                                                  Medan,     Desember 2009



                                                                             Penulis




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.


                                               IV
                                                     DAFTAR ISI
Abstrak ..............................................................................................................i
UcapanTerimakasih ...........................................................................................ii
Daftar Isi ...........................................................................................................iv


BAB I PENDAHULUAN
           1.1 Latar Belakang Masalah ...................................................................1
           1.2 Rumusan Masalah ............................................................................5
           1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian .........................................................5
           1.4 Tinjauan Pustaka ..............................................................................6
           1.5 Metode Penelitian .............................................................................8


BAB II GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN
           2.1 Letak Geografis ................................................................................10
           2.2 Keadaan Demografis ........................................................................11
           2.3 Latar Belakang Historis ....................................................................14
           2.4 Sistem Sosial Budaya Masyarakat ....................................................18


BAB III TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA AGAMA KATOLIK
           3.1 Kepercayaan Masyarakat Sebelum Masuknya Ajaran Katolik ...........23
           3.2 Proses Masuknya Agama Katolik .....................................................23
           3.2.1 Perintisaan Agama Katolik Di Sumatera Utara...............................29
           3.2.2 Masuknya Agama Katolik Di Tapanuli ..........................................33
           3.2.3 Masuknya Agama Katolik Di Lintongnihuta ..................................37
           3.3. Kendala yang Dihadapi Missionaris dalam Penyebaran Agama
                 Katolik ............................................................................................41
          3.4. Perkembangan Agama Katolik Di Lintongnihuta .............................47
          3.4.1 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Marianus Van
                   de Acker (1937- 1942) ..................................................................47
          3.4.2 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Perang Dunia II
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.


                                                              v
                (1942- 1945) dan Agresi Militer I,II ( 1947- 1948) .........................49
        3.4.3 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Pastor
                Weinfridus Josen (1951- 1961) .....................................................53
        3.4.4 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Pastor
               Septimus Kamphof dan Wynen (1961-1985) ................................55


BAB IV PENGARUH DAN PELAYANAN AGAMA KATOLIK
        4.1 Pengaruh Dalam Ada ........................................................................57
        4.1.1Pengaruh Dalam Adat Perkawinan ..................................................57
        4.1.2 Pengaruh Dalam Adat Orang Meninggal ........................................62
        4.2 Pelayanan Dalam Bidang Pendidikan................................................66


BAB V KESIMPULAN
        5.1 Kesimpulan ......................................................................................72
        5.2 Saran ................................................................................................73


Daftar Pustaka
Daftar Informan
Lampiran




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.


                                                          VI
                                               BAB I

                                        PENDAHULUAN



1.1 latar Belakang Masalah

          Di dalam kehidupan manusia agama sangat penting, karena di dalamnya

terdapat nilai nilai yang dapat mengatur kehidupan manusia. Agama di dalam

masyarakat memberi nilai nilai bagi manusia untuk bertingkah laku secara sosiologis.

Agama menjadi penting dalam kehidupan manusia karena ilmu pengetahuan dan

keahlian tidak berhasil memberikan sarana adaptasi atau mekanisme penyesuaian

yang dibutuhkan. Dari sudut pandang teori fungsional, agama menjadi penting karena

agama mempunyai fungsi untuk menutupi unsur unsur pengalaman manusia yang

terbatas 1.

          Pendidikan agama di mulai ketika agama itu sendiri muncul ke hadapan

manusia. Setiap agama di dunia mempunyai sistem pendidikannya sendiri, dan agama

perlu diajarkan kepada manusia tentang bentuk kepercayaan, adat istiadat, dan

ajarannya. Demikian pula tuntutan agama terhadap orang orang yang hendak masuk

dari luar, siapa yang ingin memeluk agama baru tentu saja diwajibkan mempelajari

pokok pokok kepercayaan dan adat kebiasaan agama itu lebih dahulu 2.

          Dalam kehidupan, manusia selalu mengalami perubahan. Perubahan tersebut

dapat diketahui dari sejarahnya. Itu sebabnya kita perlu mengetahui peristiwa yang



          1
              Thomas F. O,Dea, Sosiologi Agama, Jakarta: PT. Rajawali, 1985., hal. 26.
          2
              E.G. Hombrighousen, Pendidikan Agama Kristen, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1996.,
Hal .1.



                                                  1
telah terjadi pada masa lampau, sebab sesuatu yang terjadi pada masa lampau tentu

mempengaruhi kehidupan masa kini. Begitu juga dengan apa yang dilakukan oleh

manusia pada masa kini akan mempengaruhi kehidupan yang akan datang, sesuai

dengan dimensi sejarah yaitu masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

        Menurut defenisi yang paling umum, kata sejarah kini berarti masa lampau

umat manusia 3. Sulit untuk menemukan pengertian sejarah yang sebenarnya sesuai

dengan yang diinginkan oleh pembaca. Seringkali ditemukan ada istilah-istilah yang

artinya sama dengan sejarah. Sejarah menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia

yang berorientasi pada kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik.

        Perkembangan Ilmu sejarah telah banyak memperluas kajian penulis sejarah 4.

Meluasnya objek kajian penulisan sejarah tersebut memberikan kesempatan bagi

penulis sejarah dalam merekonstuksi perkembangan agama. Dalam kehidupan

masyarakat seperti kehidupan beragama, kajian ilmu sejarah merupakan hal yang

penting untuk memahami tentang agama tersebut.

        Kajian sejarah mengenai agama sangatlah penting untuk mengetahui dari

mana asal usul agama tersebut, bagaimana perkembangan agama, apa saja yang

dipengaruhi oleh agama tersebut, dan apakah agama tersebut menguntungkan atau

merugikan masyarakat yang dipengaruhi.

        Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, Lintongnihuta merupakan bagian

dari Afdeling Silindung, Keresidenan Tapanuli. Setelah kemerdekaan Republik


        3
           Louis Gottschalk, understanding History, Mengerti sejarah, (terj) Nugroho Noto Susanto,
UI Press, Jakarta: 1986., Hal .27.
         4
           Sartono Kartodirjo, Pendekatan Ilmu dalam Metodologi Sejarah, PT. Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta: 1992., Hal .186.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Indonesia, Lintongnihuta         merupakan kecamatan yakni kecamatan Lintongnihuta

dengan ibukota Pasar Baru, kabupaten Humbang Hasundutan, pemekaran dari

kabupaten Tapanuli Utara.

        Perkembangan agama Katolik di Lintongnihuta tidak terlepas dari masuknya

agama Kristen Protestan di daerah Lintongnihuta. Daya tarik utama agama Katolik di

Lintongnihuta adalah sekolah Katolik yaitu mulai dari masa penjajahan Belanda

yakni Volk School( sekolah rakyat setingkat dengan kelas satu sampai kelas tiga SD)

dan Vervolk School( sekolah rakyat setingkat dengan kelas empat sampai dengan

kelas enam SD)dan kemudian dikembangkan menjadi sekolah formal R.K ( Roma

Katolik) mulai dari Tingkat SD hingga SMP di Lintongnihuta.

        Agama Katolik sebagai ajaran yang baru dikenal di masyarakat pada masa itu

menawarkan suatu kebenaran yang membebaskan masyarakat dari rasa kekhawatiran

dan ketakutan terhadap hal hal gaib. Kemudian para missionaris Katolik berhasil

menyadarkan masyarakat melalui usaha usaha penyebaran agama Katolik dilakukan

oleh missionaris Katolik. Missionaris menginginkan kehidupan dituntun oleh agama

agar dapat lebih sabar hidup di dunia, dan mengharapkan kekekalan di akhirat.

        Agama Katolik juga berhasil menghilangkan kepercayaan kepercayaan lama

yang dianut oleh masyarakat Batak Toba dalam hidup mereka seperti animisme dan

dinamisme. Mereka menerima agama Katolik sebagai pandangan yang baru dalam

hidup mereka. Bahkan sampai sekarang agama Katolik telah banyak dianut oleh

masyarakat Lintongnihuta dan telah menyebar ke daerah daerah pedalaman.

        Agama katolik sampai ke Indonesia melalui Selat Malaka pada abad ke- 16

yakni tahun 1546 yang disebarkan oleh Missionaris Fransiskus Xaverius, missionaris
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
berkebangsaan Portugis 5. Dalam perjalanannya ke Malaka beliau mengikuti para

pedagang pedagang Portugis sambil menyebarkan dan menyiarkan injil. Agama

Katolik sampai di Tapanuli pada tahun 1929 dengan daerah misinya yang pertama

adalah Sibolga. Pada tanggal 5 Desember 1934 agama Katolik masuk ke Balige yang

disebarkan oleh Pastor Sybrandus Van Rossum. Balige pada saat itu merupakan

daerah pusat untuk penyebaran agama Katolik di Tapanuli.

        Missionaris agama Katolik peduli dengan kemajuan orang Batak Toba.

Sebelum agama Kristen masuk ke daerah Toba, orang Batak Toba masih dalam

kegelapan. Di antara sesama mereka sering terjadi perang antara satu kampung

dengan kampung yang lain. Orang Batak sangat takut dengan kekuatan jimat. Pada

masa itu siapa yang paling kuat menjadi penguasa dan siapa yang lemah akan

menjadi tertindas. Untuk mengubah cara berfikir dan menghilangkan keterbelakangan

orang Batak Toba tersebut, missionaris berusaha mengenalkan pendidikan dengan

mendirikan sekolah sekolah.

        Mengacu pada uraian di atas, penulis ingin mengungkapkan salah satu

kegiatan para missionaris Katolik di Kecamatan Lintongnihuta, baik dalam usaha

pengenalan dan perluasan agama Katolik maupun pengenalan pendidikan formal bagi

masyarakat Lintongnihuta. Adapun judul yang diajukan adalah Perkembangan

Agama Katolik dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta (

1937-1985)




        5
            Arnoldus, Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jakarta: Taman Cut Mutiah IO, 1974., Hal 43

Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
1.2 Rumusan Masalah

        Perlu dibuat suatu rumusan masalah sebagai landasan utama dalam sebuah

penelitian dan substansi dari penulisan. Di samping itu, untuk mempermudah

penulisan, ditetapkan beberapa masalah dalam penulisan yang objektif. Untuk itu,

penulis mengemukakan permasalahan sebagai berikut:

   1. Bagaimana proses masuk dan perkembangan agama Katolik di Lintongnihuta.

   2. Bagaimana respon masyarakat Lintongnihuta terhadap agama Katolik dan

        sekolah Katolik.

   3. Apa kendala yang dihadapi oleh para missionaris di Lintongnihuta.

   4. Bagaimana proses berdirinya sekolah sekolah formal yang diprakarsai oleh

        Katolik di Lintongnihuta



1. 3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

        Setiap kegiatan yang dilakukan dalam penelitian selalu mempunyai tujuan

pokok yang hendak diperoleh penulis. Adapun tujuan dari penulisan ini antara lain:

  1. Mengetahui dan menjelaskan proses masuk dan perkembangan agama Katolik di

        Lintongnihuta.

  2. Mengetahui dan menjelaskan respon masyarakat terhadap agama katolik dan

        sekolah Katolik.

  3. Menjelaskan kendala yang dihadapi oleh para missionaris di Lintongnihuta.

  4. Menjelaskan proses berdiri dan berkembangnya sekolah sekolah formal yang

        diprakarsai oleh Katolik di Lintongnihuta.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Hasil dari penulisan ini kiranya dapat memberikan manfaat bagi berbagai

pihak antara lain:

  1. Memberikan masukan kepada lingkungan akademis untuk memahami proses

      masuknya agama Katolik dan pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat

      di Lintongnihuta

  2. Menambah pengetahuan peneliti dan pembaca untuk memahami                            pengaruh

      agama Katolik terhadap perkembangan masyarakat di Lintongnihuta

  3. Menambah distribusi dan pengkajian sejarah agama Katolik di Sumatera Utara

      dan sejarah lokal pada umumnya.



1.4 Tinjauan Pustaka

        Untuk melakukan kegiatan penulisan, perlu dilakukan telaah pustaka dengan

menggunakan buku buku yang berhubungan dengan judul tulisan ini yakni tentang

agama     Katolik     dan    pengaruhnya       terhadap      perkembangan        masyarakat      di

Lintongnihuta. Telaah pustaka dilakukan dalam rangka mencari data data yang lebih

objektif dan relevan dengan topik yang akan dibahas. Di samping itu, telaah pustaka

juga bertujuan untuk mencari kerangka teoritis yang hendak dipergunakan sebagai

acuan penulisan.

        Dalam buku AM Harjana Penghayatan Agama : yang Otentik dan tidak

Otentik (1993: 42) menyatakan bahwa agama merupakan gejala yang boleh dikatakan

universal dalam hidup manusia. Sebagian besar penghuni planet bumi kita, dengan

berbagai latar belakang lingkungan, iklim dan budaya, menganut salah satu agama

atau sesuatu agama. Juga dilihat dari pandangan sekilas, isi, pelaksanaan dan
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
penampilannya, agama nampak berbeda, bahkan berlawanan satu sama lain. Namun

bila dilihat dari intinya semua agama pada dasarnya mempercayai, meyakini dan

berpegang pada hal yang sama yaitu realita zat atau sesuatu yang paling tinggi.

Dilihat dari sistem atau struktur, lengkap atau tidak, canggih atau sederhana, setiap

agama memiliki segi pokok: (1) segi yang menyangkut keseluruhan hidup, (2) segi

yang menyangkut pemahaman, segi intelektual, (3) segi yang menyangkut

kelembagaan, segi institusional, dan (4) segi perwujudan dalam perilaku, segi etika.

        Dalam buku lothar Schreiner Adat dan Injil (1972: 47) menyatakan bahwa

suku bangsa Batak membuka diri terhadap ajaran Kristen dan membiarkan diri

terjajah oleh kolonial Belanda. Mereka mulai mengalami dunia baru yang terasing ini

seperti lingkungan mereka yang baru.baik dari sudut pandang keagamaan maupun

dari sudut pemerintahan. Dengan kepemilikan ini mereka melepaskan diri dari agama

mereka sehingga mereka memeluk agama Kristen. Masuknya agama Kristen dan

amanat Injil memasukkan pembaruan ke dalam kebudayaan sehingga menjadi suatu

ciri yang bersifat menentukan dan tetap.

        Dalam buku Elizabet Nottingham Agama dan Masyarakat: Suatu Pengantar

Sosiologi Agama (1994:23) bahwa Agama berfungsi melepaskan belenggu belenggu

adat dan kepercayaan manusia yang usang. Agama menyadarkan manusia untuk

menciptakan suatu ikatan bersama baik di antara anggota anggota beberapa

masyarakat      maupun      dalam      kewajiban      kewajiban      sosial   yang     membantu

mempersatukan mereka. Karena nilai nilai yang mendasar sistem sistem kewajiban

sosial didukung bersama dalam masyarakat.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
1.5 Metode Penelitian

           Untuk memperoleh data yang lebih ilmiah dilakukan suatu penyusunan

metode. Tujuannya agar penelitian dapat berjalan dengan baik dan sempurna serta

dapat memahami secara ilmiah objek penelitian yang dimaksud. Penelitian ini akan

dilakukan dengan metode penelitian historis sebagai rujukan. Untuk mencapai suatu

hasil yang maksimal, perlu dilakukan tahapan demi tahapan. Untuk merekonstruksi

masa lampau pada objek yang akan diteliti, dipakai metode sejarah dengan

menggunakan sumber sejarah sebagai bahan penelitian.

           Tahapan pertama yang akan dilakukan adalah melalui heuristik yakni metode

yang dilakukan dengan mengumpulkan data, fakta fakta dan sumber yang sesuai

dengan objek yang diteliti. Dalam hal ini ada dua langkah yang dapat dilakukan yaitu:

  Penelitian Kepustakaan atau Library Research yaitu penelitian mencari data

      dalam perpustakaan yakni memperoleh buku buku dan keterangan                         melalui

      bahan bahan penulisan sesuai dengan permasalahan yang diteliti.

  Penelitian lapangan atau Field Research yaitu penelitian mencari data dalam

      bentuk wawancara atau observasi secara langsung ke lapangan untuk

      mengumpulkan keterangan tentang peristiwa yang terjadi.

           Penelitian kepustakaan akan dilakukan dengan mengumpulkan sumber

sumber tertulis baik sumber primer maupun sumber sekunder berupa buku, majalah,

artikel,     skripsi dan arsip yang berkaitan dengan objek yang akan diteliti. Dan

penelitian lapangan akan dilakukan dengan menggunakan metode wawancara yang

berstruktur/ tertutup dan terbuka terhadap informan informan yang dianggap mampu

memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penulisan ini.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Tahapan kedua yang dilakukan adalah kritik sumber. Dalam tahapan ini, kritik

dilakukan terhadap sumber yang telah dikumpulkan untuk mencari keaslian sumber

tersebut baik dari segi substansial (isi) maupun materialnya agar menjadi sumber

terpilih. Kritik yang dilakukan adalah kritik intern maupun kritik ekstern. Hal ini

dilakukan untuk mendapatkan kebenaran informasi dari sumber atau data data yang

diperoleh.

        Tahapan yang ketiga adalah interpretasi. Dalam tahapan ini data yang

diperoleh dianalisis sehingga melahirkan suatu pemahaman baru yang sifatnya lebih

objektif dan ilmiah. Objek kajian yang cukup jauh ke belakang serta minimnya data

dan fakta yang membuat interpretasi menjadi sangat vital. Keakuratan serta analisis

yang tajam perlu dilakukan untuk mendapatkan fakta sejarah yang objektif. Dengan

kata lain tahap ini dilakukan sebagai penyimpulan kesaksian atau data yang dapat

dipercaya dari bahan bahan yang ada.

        Tahapan keempat adalah historiografi, yakni penyusunan kesaksian yang

dapat dipercaya tersebut menjadi satu kisah atau kajian yang menarik dan berarti.

Dalam hal ini diusahakan memperhatikan aspek-aspek kronologisnya.




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                                   BAB II

                         GAMBARAN UMUM DAERAH PENELITIAN



            2.1 Letak Geografis

         Lintongnihuta terletak di dataran Tinggi Toba yang merupakan kawasan yang

  didiami oleh etnis Batak Toba. Secara administratif pada masa Kolonial Belanda,

  Lintongnihuta masuk dalam wilayah onderafdeling Dataran Tinggi Toba dengan

  ibukota Siborong borong. Lintongnihuta terletak kira kira 20 kilometer dari pusat

  pemerintahan kabupaten Humbang Hasundutan yang merupakan pemekaran dari

  kabupaten Tapanuli Utara tahun 2003.

        Lintongnihuta berbatasan dengan wilayah sebagai berikut:

Sebelah Utara berbatasan dengan kecamatan Muara

Sebelah Selatan berbatasan dengan kecamatan Siborong borong

Sebelah Barat berbatasan dengan kecamatan Dolok Sanggul

Sebelah Timur berbatasan dengan kecamatan Paranginan

        Secara geografis Lintongnihuta berada pada ketinggian 1500 meter di atas

permukaan laut dengan curah hujan 100- 500 mm/ tahun dan suhu rata rata dalam

setahun 23 derajat Celsius. Lintongnihuta berhawa sejuk sebagaimana daerah daerah

lain yang ada di Humbang Hasundutan. Biasanya musim hujan dimulai bulan

September sampai dengan bulan April, sedangkan musim kemarau mulai bulan Mei

sampai dengan bulan Agustus 6.


        6
         Hasil wawancara dengan Camat Lintongnihuta bapak Maruhum Sihombing tanggal 7 Juli
2009 pukul 11.00 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Kondisi alam Lintongnihuta terdiri atas dataran yang luas, sawah, perkebunan

dan ladang. Sebagian besar tanah di daerah ini digunakan sebagai areal pertanian baik

ladang, sawah, dan kebun. Pada umumnya, masyarakat di Lintongnihuta sebagian

besar hidup dari pertanian. Hasil pertanian digunakan untuk memenuhi kebutuhan

hidup sehari-hari masyarakat. Ladang biasanya ditanami tanaman kopi, sayur-

sayuran, ubi, dan lain lain, sedangkan sawah ditanami padi.

        Sebagai usaha sampingan selain bertani, masyarakat Lintongnihuta juga

memelihara jenis hewan peliharaan seperti: kerbau, babi, anjing, dan ayam. Hewan

peliharaan tersebut berguna sebagai tambahan mata pencaharian hidup. Pada

umumnya hewan hewan ini akan dijual apabila ada kebutuhan yang mendesak.

        Penyebaran penduduk di Lintongnihuta tidak merata di setiap desa, bervariasi

antara 3 sampai dengan 31 jiwa/ km2. Ini disebabkan oleh faktor geografis, tingkat

kesuburan tanah, ketergantungan fasilitas sarana/ prasarana, daya serap lapangan

kerja yang berbeda pada masing-masing desa di Lintongnihuta. Penggunaan lahan

pertanian di Lintongnihuta masuh relatif rendah dilihat dari lahan yang masih

menganggur berupa semak belukar dan ilalang. Jika dibandingkan dengan daerah

daerah lain yang ada di kabupaten Humbang Hasundutan, Lintongnihuta berperan

sebagai penghasil kopi 7.




        7
          Hasil wawancara dengan Seksi Kesejahteraan Masyarakat kecamatan Lintongnihuta bapak
Pinantun Sinaga tanggal 7 Juli 2009 pukul 13.30 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
2.2 Keadaan Demografis

          Sampai pada         masa kemerdekaan Indonesia,               jumlah      penduduk     di

Lintongnihuta sulit diketahui secara pasti karena tidak adanya data tertulis tentang hal

itu. Berdasarkan sensus penduduk pada tahun 1985 jumlah penduduk di kecamatan

Lintongnihuta secara keseluruhan adalah 18.335 jiwa yang terdiri atas laki laki 9071

jiwa, dan perempuan 9264 jiwa.

           Untuk lebih jelasnya, keadaan jumlah penduduk dapat dilihat secara rinci

pada tabel di bawah ini

Tabel 1 : Jumlah Penduduk Kecamatan Lintongnihuta berdasarkan umur dan jenis

           kelamin pada tahun 1985

NO     Umur                Laki laki    Perempuan            Jumlah           persentase

1      0-5                 1623         1721                 3344             18.23

2      6-10                1468         1485                 2953             16.1

3      11-15               1370         1464                 2834             15.45

4      16-25               1258         1193                 2451             13.36

5      26-45               1556         1579                 3135             17.09

6      46-55               957          964                  1921             10.47

7      56 ke atas          839          858                  1697             9.25

       Jumlah              9071         9264                 18335            100



Sumber: Kantor Camat Lintongnihuta




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Berdasarkan tabel diatas, tergambar bahwa persentase jumlah penduduk laki laki 49,

47% dan jumlah penduduk perempuan 50,52%.

          Di Lintongnihuta mayoritas penduduknya memeluk agama Kristen, baik

agama Kristen Protestan maupun Kristen Katolik. Untuk lebih jelasnya berikut ini

dapat dilihat secara rinci pada tabel yang menggambarkan keadaan penduduk

berdasarkan agama.

Tabel 2 : Jumlah Penduduk Kecamatan Lintongnihuta berdasarkan agama pada tahun

           1985.

No     Agama                                Jumlah (Jiwa)                 Persentase

1     Islam                                         -                            -

2     Kristen Protestan                          12439                        67,84

3     Kristen Katolik                             5896                        32,15

4     Budha                                         -                            -

5     Hindu                                         -                            -

      Jumlah                                     18335                         100

 Sumber: Kantor Camat Lintongnihuta

         Berdasarkan tabel diatas, dapat digambarkan bahwa sebagian masyarakat

Lintongnihuta menganut agama Kristen Protestan 67, 84% dan yang menganut agama

Kristen Katolik sebanyak 32,15%.

        Penduduk yang mendiami daerah Lintongnihuta adalah mayoritas etnik Batak

Toba dan didominasi oleh marga Sihombing Siopat Ama (sihoming empat bapak).

Sihombing siopat ama terdiri dari marga Nababan yang mendiami daerah Nagasaribu,


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
marga Hutasoit mendiami daerah Hutasoit, marga Silaban mendiami daerah Silaban,

marga Lumban Toruan mendiami sekitar Lintongnihuta. Selain itu, marga marga

tanah yang lain di daerah ini seperti marga Siburian, marga Siregar, dan marga

Sinaga 8.

        Kemudian ditambah dengan marga marga lain yang datang ke daerah ini

seperti marga Sitanggang, marga Pasaribu, dan lain lain. Keberadaan marga lain di

daerah ini disebabkan oleh proses perkawinan dan pekerjaan. Misalnya pria marga

lain ada yang mempersunting gadis di daerah ini dan kemudian tinggal menetap.

Dengan istilah jika pria yang bermarga lain yang mempersunting gadis di daerah

tersebut dan tinggal menetap yaitu sonduk hela. Sedangkan marga yang lain yang

datang di daerah ini dengan alasan pekerjaan adalah guru dan tenaga medis.




2.3 Latar Belakang Historis

        Perkembangan suatu daerah tidak terjadi begitu saja, tetapi tumbuh dan

mengalami        perubahan.     Demikian       halnya     dengan     Lintongnihuta,       awalnya

Lintongnihuta yang merupakan wilayah yang dipenuhi oleh hutan rimba, ditumbuhi

pepohonan dan semak belukar dan menjadi tempat binatang buas, tetapi lama

kelamaan tumbuh sebagai daerah yang terbuka.

        Masyarakat Batak Toba meyakini bahwa mereka berasal dari keturunan Siraja

Batak yang berdiam di Pusuk Buhit, Sianjur Mulamula kecamatan Harian 9. Dari sana


        8
            Hasil wawancara dengan bapak Maringan Sihombing tanggal 17 Juli 2008 pukul 20.00
Wib.
        9
         DJ Gultom Raja Marpodang, Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak, Medan: CV.
Amanda, 1992., hal. 431.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mereka menyebar ke berbagai daerah untuk mencegah agar jangan sampai terjadi

perkawinan sesama saudara, sehingga Siraja Batak membuat silsilah ( tarombo).

Dengan silsilah ini setiap orang harus mencantumkan nama nenek moyang (yang

kemudian berubah menjadi marga) di belakang namanya. Adanya marga ini membuat

setiap orang mengetahui boleh tidaknya seseorang untuk dikawini.

        Semula Sihombing bermukim di Pulau Samosir. Untuk memperoleh ruang

hidup yang lebih baru dan lebih baik ia bersama keempat anaknya: Silaban,

Lumbantoruan, Nababan, dan Hutasoit pindah ke Tipang, seberang Danau Toba 10.

Tipang terletak di pantai selatan Danau Toba pada tanah pesisir yang sempit

dikelilingi perbukitan yang cukup tinggi tidak jauh dari Bakara, tempat pemukiman

Raja Sisingamangaraja.

        Keluarga Sihombing beserta anak-anaknya cepat berlipat ganda di Tipang.

Mereka mengolah lahan persawahan dan pertanian yang semakin luas di sana. Jumlah

penduduk yang semakin banyak mengakibatkan lahan pertanian semakin tak cukup,

maka sebagian keturunan Sihombing bermigrasi (pindah) ke dataran tinggi yaitu

Humbang. Keturunan Lumbantoruan mendirikan kampung dekat Lintongnihuta yaitu

Sipagabu. Dari Sipagabu inilah secara bertahap keturunan Lumbantoruan berpencar

dii daerah Humbang, yaitu:Lintongnihuta dan sekitarnya, Bahalbatu dan sekitarnya,

Sibaragas dan sekitarnya, Sipultak dan sekitarnya, Butar dan sekitarnya 11.

        Awalnya mereka hidup berkelompok, lalu membangun pemukiman dan

mengusahai tanah untuk dijadikan lahan pertanian. Perkembangan penduduk semakin


        10
             Ibid., Hal. 439.
        11
             Hasil wawancara dengan bapak Mangaru Sihombing tanggal 15 juli 2009 pukul 20.00 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
lama semakin bertambah, sehingga hutan rimba yang dulunya ditumbuhi pepohonan

dan semak belukar digarap dan dijadikan tempat permukiman penduduk. Sesuai

dengan perkembangan waktu, pertambahan penduduk semakin banyak, sebagian

mereka berpencar dan membuka pemukiman baru.

        Nama Lintongnihuta berasal dari dua kata yaitu Lintong artinya datar,

sedangkan huta artinya kampung. menurut informasi para tetua sebutan daerah

Lintongnihuta berarti daerah yang datar sehingga masyarakat mengatakan dengan

nama Lintongnihuta 12.

        Setelah kemerdekaan Republik Indonesia, daerah Lintongnihuta menjadi

sebuah kecamatan di kabupaten Tapanuli Utara. Pusat pemerintahan kecamatan

Lintongnihuta dipusatkan di Pasar Baru. Kecamatan Lintongnihuta terdiri dari

beberapa desa desa yang langsung dipimpin oleh kepala desa. Desa desa di

kecamatan Lintongnihuta terdiri dari desa Silaban, desa Nagasaribu, desa Tapian

Nauli, desa Sitolu Bahal, desa Pearung, desa Paranginan, desa Parulohan, desa

Sibuntuon, desa Huta Soit, desa Pargaulan dan desa Pasar Baru 13.

        Umumnya masyarakat yang tinggal di daerah ini membentuk permukiman

sendiri yang disebut dengan Huta ( Kampung).                        Huta merupakan sebuah

pemerintahan kecil yang berdiri sendiri dan berdaulat penuh atas eksistensi hutanya

keluar maupun ke dalam. Biasanya huta dikelilingi oleh benteng benteng dan




        12
          Hasil wawancara dengan Maringan Sihombing tanggal 17 Juli 2009 pukul 20.00 Wib
        13
          Hasil wawancara dengan Camat Lintongnihuta bapak Maruhum Sihombing tanggal 7 Juli
2009 pukul 11.00 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
ditanami pohon bambu dengan maksud untuk menahan musuh jika sewaktu waktu

musuh menyerang huta 14.

        Tiap huta terikat akan peraturan yang ditetapkan oleh dewan huta disebut

dengan horja. Huta dipimpin oleh seorang pengetua Huta sebagai pendiri huta, dan

dialah yang memimpin aktivitas baik dalam pendirian rumah, upacara upacara adat

dan segala aktivitas upacara ritual yang terbatas pada kawasan hutanya. Tiap huta

mempunyai raja huta yang berhak menentukan segala yang berlaku di hutanya.

Peperangan antar huta sering terjadi terutama sewaktu masyarakatnya menganut

kepercayaan animisme dan kepercayaan dinamisme. Hal ini terjadi karena setiap huta

ingin memperluas wilayahnya sekaligus menunjukkan kekuatannya 15. Di samping itu

juga adanya persebaran marga marga Batak Toba pada masa leluhur yang pertama

selalu terjadi sengketa soal tanah, warisan, barang pusaka, dan lain lain, sehingga

masalahnya terus berlarut larut sampai kepada turunannya masing masing.

        Masuknya agama Kristen mengakibatkan semakin jarangnya terjadi perang

antar huta. Hal ini tidak terlepas dari usaha usaha missionaris untuk memajukan

masyarakat dan mengubah cara berpikirnya melalui pendidikan ditambah dengan

ajaran agama Kristen yang menganjurkan agar setiap umat saling mengasihi.

        Seiring dengan bertambahnya jumlah masyarakat, mereka kemudian

membentuk suatu tempat perkumpulan yaitu partukkoan 16. Partukkoan ini berguna

sebagai tempat pertemuan dalam membicarakan hal hal yang penting dan juga

melakukan berbagai aktivitas masyarakat seperti mendistribusikan kebutuhan hidup


        14
             Sitor Situmorang, Toba Na Sae, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993., hal .42.
        15
             Ibid., hal.44.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
sehari hari. Lambat laun partukkoan ini berubah fungsi menjadi tempat pertemuan

antara penjual dan pembeli dalam melakukan hubungan jual beli. Biasanya di

Lintongnihuta hari pekan dilakukan sekali dalam seminggu yaitu pada hari Senin.



2.4 Sistem Sosial Masyarakat

        Masyarakat Batak Toba menganut sistem kekerabatan berdasarkan patrilineal,

yaitu berdasarkan garis keturunan ayah. Kelompok kekerabatan berdasarkan satu

ayah disebut dengan sa ama, sedangkan kelompok kekerabatan berdasarkan satu

nenek moyang disebut sa Ompu dan kelompok kekerabatan yang mencakup kedua

duanya (sa ama dan sa ompu) disebut dengan sa panganan 17.

        Kelompok batih disebut ripe yang juga merupakan kelompok kekerabatan

terkecil. Istilah ripe dapat juga dipakai untuk menyebutkan keluarga luas Patrilokal.

Kelompok kekerabatan yang berdasarkan tempat tinggal ( teritorial) yang disebut

sapanjouan. Sa ompu dapat disebut klen kecil, tetapi istilah ini dipakai juga untuk

menyebutkan kerabat yang terikat dalam satu nenek moyang. Anak laki laki

mempunyai kedudukan yang penting dalam keluarga karena laki laki adalah penerus

silsilah atau tarombo sesuai dengan sistem kekerabatan patrilineal.

        Perasaan senasib dan sepenanggungan masih terdapat dalam masyarakat di

Lintongnihuta, tetapi hal itu terbatas pada aktivitas yang berkaitan dengan kematian,

kecelakaan, dan musibah. Penggunaan istilah kekerabatan ada dua macam yaitu

istilah untuk menyapa (term of address) dan istilah untuk menyebut seseorang,

        16
             Ibid., hal.52.
        17
              T. M Sihombing, Filasafat Batak, Jakarta: Balai Pustaka, 2000., hal.11.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
misalnya untuk menyebut nama panggilan seseorang ( term of reference) 18. Pada

umumnya ada tiga stratifikasi sosial dalam masyarakat Batak Toba dalam kehidupan

sehari hari yang didasarkan atas:

    1. perbedaan tingkat umur dan status kawin

    2. perbedaan tingkat keaslian

    3. perbedaan pangkat dan jabatan.

        Di kalangan masyarakat di daerah Lintongnihuta, prinsip yang pertama dan

kedua sangat kelihatan. Stratifikasi sosial berdasarkan perbedaan umur dan status

kawin kelihatan dalam pelaksanaan upacara adat serta urusan kekerabatan lainnya.

Dalam hal mengambul keputusan maka yang berhak adalah orangtua dan yang telah

kawin. Anak anak muda atau orang yang belum kawin hanya berfungsi sebagai

tenaga pelaksana (parhobas ). Demikian halnya stratifikasi sosial berdasarkan

keaslian, kelihatan perbedaan antara marga tanah dan marga boru. Marga tanah yang

dimaksud adalah marga marga yang pertama membuka permukiman di daerah ini,

sedangkan marga boru merupakan marga marga yang datang di daerah ini karena

perkawinan maupun karena pekerjaan. Hak untuk memiliki tanah menjadi pempinan

desa, menerima jambar 19 pada umumnya masih dipercayakan kepada marga tanah.

Jika marga boru ingin memiliki atau menjual sebidang tanah, maka harus terlebih

dahulu meminta izin kepada marga tanah.




        18
            Sitor Situmorang, Op-Cit., hal.54.
        19
           Jambar merupakan imbalan dalam bentuk daging maupun dalam bentuk uang yang
diberikan kepada anggota masyarakat yang hadir dalam pesta.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Hubungan antara marga tanah dan marga boru di Lintongnihuta dipererat

dengan falsafah Dalihan Natolu. Pelaksanaan segala kegiatan terutama yang

berhubungan dengan acara pesta adat harus berpedoman dengan falsafah tersebut.

Pelaksana operasional adalah pihak boru, mereka ini harus rela berkorban

demikesuksesan pesta. Kelompok marga tanah bertindak sebagai hula hula. Upacara

adat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yaitu: hagabeon ( banyak keturunan),

hamoraon ( banyak kekayaan), dan hasangapon (kemuliaan).

        Dalihan Natolu (Tungku nan Tiga) bagi masyarakat Batak Toba merupakan

ciri khas dalam kesatuan hubungan kekeluargaan. Dalam dalihan Natolu terdapat tiga

unsur kekeluargaan yang saling berhubungan yaitu:

        2. Hula hula ( keluarga pemberi istri)

        3. Dongan sabutuha ( teman semarga)

        4. Boru ( keluarga dari penerima istri).

        Unsur Hula hula dalam masyarakat Batak Toba harus selalu dihormati, karena

ada anggapan bahwa hula hula adalah Debata na niida (allah yang nampak) sehingga

dalam perbuatan dan tindakan harus hati hati. Pihak hula hula selalu memberikan

berkat dan nasehat kepada pihak paranak (penerima istri) dengan memberikan ulos.

Unsur dongan sabutuha yaitu mereka yang berasal dari satu marga yang satu

penanggungan, satu perasaan dalam memikul beban secara bersama sama terutama

dalam upacara adat. Dalam kehidupan sehari hari namardongan tubu harus saling

menjaga dan jangan sampai tersinggung karena dongan Sabutuha teman untuk




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
berdiskusi dalam kegiatan sehari hari. Sedangkan unsur Boru yaitu kelompok yang

terdiri dari penerima istri20.

        Aktivitas dalihan Natolu yang sangat nampak dalam masyarakat Batak Toba

adalah dalam upacara adat, baik dalam upacara adat perkawinan maupun upacara adat

orang meninggal 21. Ketiga unsur Dalihan Natolu mempunyai peran masing masing.

Baik upacara adat perkawinan maupum upacara orang meninggal, pihak Hula hula

merupakan pemberi Umpasa (nasehat) dan berkah kepada mempelai dan keluarganya

dengan memberikan ulos sebagai simbol, dan dongan Sabutaha sebagai Paniroi

(pembimbing ) dan bertindak dalam mengatur jalannya pesta, sedangkan Boru disebut

sebagai Parhobas (pelayan) yang mengatur segala perlengkapan perlengkapan

upacara pesta. Demikian juga halnya dengan upacara adat orang meninggal.

        Dalihan Natolu memegang peranan penting dalam kehidupan sosial

masyarakat Batak Toba dan tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan sehari hari

sejak lahir hingga akhir hayatnya 22. Dalihan Natolu adalah falsafah hidup dan

pundasi yang kukuh dalanm hubungan sosial dan dalam interaksi hubungan biasa

maupun hubungan kekeluargaan. Berdasarkan Dalihan Natolu orang orang Batak

Toba dapat dengan segera mengetahui status, fungsi dan sikap sosialnya.

        Dalihan Natolu berhubungan juga dengan kepercayaan. Simbol simbol konsep

kepercayaan masyarakat Batak Toba disesuaikan dengan Dalihan Natolu. Masyarakat




        20
           Hasil wawancara dengan bapak Ramidin Sirait tanggal 19 Juli 2009 pukul 13.00 Wib.
        21
           T.M Sihombing, Op-Cit., hal.18.
        22
           Ibid., hal.24.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Batak Toba mempercayai Debata Mulajadi Nabolon sebagai Pencipta (yang Maha

Kuasa) yang disebut juga dengan Debata Natolu dengan wujud pancaran kuasanya

meliputi kebijakan, kebenaran dan kekuatan 23. Wujud pancaran kuasa Debata

Mulajadi Nabolon diwujudkan dalam kehidupan masyarakat Batak Toba yaitu hula

hula sebagai wujud kebijakan, Dongan Sabutuha sebagai wujud kebenaran, boru

sebagai wujud kekuatan. Semua yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat

Batak Toba akan terlaksana dengan baik apabila berlangsung sesuai dengan Dalihan

Natolu.




          23
               Ibid., hal.41.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                             BAB III

              TUMBUH DAN BERKEMBANGNYA AGAMA KATOLIK

3.1 Kepercayaan Masyarakat Lintongnihuta Sebelum Masuknya Ajaran Katolik

        Sebelum agama Kristen masuk di Lintongnihuta, masyarakat Lintongnihuta

telah memiliki kepercayaan tradisional yaitu kepercayaan kepada roh orang

meninggal, dan kepercayaan terhadap pohon-pohon besar, dan tempat tempat yang

keramat. Di samping itu, masyarakat Lintongnihuta juga percaya kepada Debata

Mulajadi Nabolon dengan kemuliaannya di banua atas ( langit).

        Kepercayaan masyarakat kepada Debata Mulajadi Nabolon dengan wujud

pancaran kekuasaannya adalah Debata Natolu yaitu Batara Guru dengan lambang

warna hitam yang menggambarkan hahomion ( kebijaksanaan), Debata Sori dengan

lambang warna putih yang menggambarkan habonaran ( kesucian), dan Debata

Balabulan dengan lambang warna merah yang menggambarkan hagogoon (

kekuatan). Lambang Debata Natolu merupakan wujud pancaran kuasa Mulajadi

Nabolon yang dilambangkan dengan tiga warna hitam, putih, merah. Sebagai

penghubung dari ketiga warna ini disebut dengan bonang Manalu24.

        Kepercayaan kepada roh orang meninggal disebut dengan istilah sipele begu.

Roh orang meninggal atau nenek moyang harus dihormati dengan memberikan

makanan dalam bentuk sesajen. Upacara pemberian makanan kepada arwah orang

meninggal dilakukan pada acara-acara tertentu berdasarkan tata cara yang dianggap

suci untuk melakukan penyembahan 25.


        24
             DJ Gultom Raja Marpodang, Op-Cit., hal.372.
        25
             Ismail Manalu, Mengenal Batak, Medan: CV. Kiara, 1985, hal.4.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Dalam acara menghormati roh orang meninggal, dilakukan dengan

memberikan sesajen dalam bentuk napinadar ( sajian makanan yang terdiri dari nasi

yang diwarnai dengan kunyit dan daging ayam yang dimasak dengan pedas) dan

naniura ( sajian makanan yang terdiri dari nasi yang diwarnai dengan kunyit dan ikan

mas yang dimasak tanpa menggunakan api, tetapi dengan menggunakan asam).

Sesajen yang sudah dipersiapkan diletakkan dalam lage tiar ( tikar yang terbuat dari

daun pandan berukuran kecil) yang diletakkan diatas gobuk ( tempat penyimpanan

padi). Sesajen tersebut dibiarkan dalam beberapa menit, sesudah itu makanan diambil

dan dibagi bagikan kepada seluruh anggota keluarga. Pemberian makanan kepada roh

orang meninggal dipercaya akan mendatangkan berkat dan perlindungan bagi seluruh

anggota keluarga.

        Pemberian sesajen ini dilakukan pada acara ritual seperti mangongkal holi/

saring saring ( membingkan tulang belulang kerabat keluarga yang sudah lama

meninggal) untuk dimasukkan ke dalam tugu 26, menjelang musim tanam padi dan

musim panen padi, jiarah ke kuburan dan kepercayaan kepercayaan kepada roh yang

dianggap sakral oleh masyarakat.



        Kepercayaan masyarakat Lintongnihuta sebelum masuknya ajaran Kristen di

Lintongnihuta terhadap pohon pohon besar sangatlah kuat. Masyarakat mempercayai

bahwa pohon besar merupakan tempat tinggal roh roh orang meninggal dan nenek

moyang. Pohon besar yang dianggap sakral ini disebut dengan hau jabi jabi (pohon


        26
             Tugu merupakan kuburan yang dibuat dari semen dan menyerupai bentuk rumah Batak
Toba.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
beringin). Sebelum melakukan kegiatan pengolahan sawah untuk menanam padi,

masyarakat akan membuat suatu acara ritual sebagai isyarat meminta izin kepada roh

roh yang bertempat tinggal di hau jabi-jabi 27. Upacara ini biasanya dilakukan oleh

satu kampung yang dipimpin oleh natua tua ni huta ( pengetua kampung).

        Menurut pandangan masyarakat Batak Toba, dunia ini terbagi atas tiga bagian

yaitu Banua ginjang yang disebut dengan benua atas, merupakan tempat kuasa

Mulajadi Nabolon yang dihuni oleh orang-orang suci, sedangkan banua Tonga

merupakan tempat berdiam makhuk-makhluk ciptaan Mulajadi Nabolon termasuk

manusia, dan banua holing yang disebut dengan benua bawah merupakan tempat

tinggal dari roh-roh jahat yang selama hidupnya mengganggu kehidupan manusia 28.

        Pandangan masyarakat Batak Toba terhadap kematian merupakan sebuah

ketakutan manusia. Penyebab kematian manusia adalah oleh begu 29 yang dapat

menghantui hidup manusia. Begu sering mengganggu kehidupan manusia, bila

manusia selama hidupnya tidak bagus di dunia, begitu jugalah roh rohnya akan selalu

mengganggu manusia setelah meninggal. Begu yang sering mengganggu manusia

merupakan roh roh manusia yang sering berbuat jahat sewaktu hidup.

        Untuk menghindari gangguan dari begu ini manusia memanggil datu (dukun)

untuk menghubungkan parsimangotan (arwah) orang meninggal meminta petunjuk

agar begu tidak mengganggu hidup manusia. Setiap datu yang dipanggil untuk

menghubungkan manusia dengan roh nenek moyangnya, selalu membuat interpretasi

sendiri akan hubungan keluarga dengan roh nenek moyang tersebut. Agar begu tidak


        27
             Ibid., hal .8.
        28
             DJ Marpodang, Op-cit, hal.435.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mengganggu keluarga, diberikanlah sesajen dalam bentuk napinadar ataupun naniura

untuk diberikan kepada roh roh jahat setelah dimanterai oleh datu.

        Untuk menjaga dan memelihara hubungan antara manusia dengan roh-roh

nenek moyang, tiap-tiap individu dalam masyarakat Batak Toba harus melakukan

berbagai aturan kepercayaan antara lain: setiap anak yang baru lahir dan sesudah

berumur tujuh hari, bayi harus dibawa keluarga martutu aek. Martutu aek adalah

acara kepercayaan, memperkenalkan bayi pada ciptaan Mulajadi Nabolon dan

meminta agar bayi itu disucikannya, setelah itu bayi dibawa maronan yaitu sebuah

acara untuk kepercayaan memperkenalkan pada kehidupan dunia atau kehidupan

manusia 30.

        Setelah anak dewasa dibuat acara mangalontik ipon yaitu meratakan giginya

sebagai pertanda bahwa ia telah dewasa. Dengan tanda itu maka ia akan

bertanggungjawab akan sikap sopan santun bagaimana bersikap perilaku seorang

dewasa. Jika si anak akan kawin, ruhut-ruhut (aturan) kepercayaan dan adat harus

dipenuhinya, dan acara perkawinan itu disebut pasu pasu raja. Acara perkawinan

pasu pasu raja inilah sebagai          pertanda bahwa perkawinan itu sah berdasarkan

kepercayaan dan         adat. Setelah uzur dan mendekati ajal, maka turunannya akan

memberikan sulang-sulang yang disebut juga pasahat sipanganon natabo. Pasahat

sipanganon natabo kepada orangtua merupakan pemberian makanan yang lezat

kepada orangtua sebelum ajalnya. Pada saat acara manulangi itulah orangtua




        29
             Begu artinya hantu
        30
             Ibid., hal. 25.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
memberkati anak anaknya, menggariskan penggunaan warisan, memberi nasehat dan

petunjuk perhadap anak anaknya.



3.2 Proses Masuknya Agama Katolik

    3.2.1 Agama Katolik di Sumatera Utara

        Sebelum membicarakan proses masuknya agama Katolik di Lintongnihuta,

terlebih dahulu dijelaskan perkembangan agama Katolik di Sumatera Utara.

Perkembangan agama Katolik di Sumatera Utara, Tapanuli, dan Lintongnihuta

merupakan rangkaian dari peristiwa peristiwa pergolakan yang terjadi di Eropa sejak

abad ke- XVI. Tahun 1517 terjadi pergolakan besar dalam agama Katolik di Eropa.

Hal ini menimbulkan perpecahan dengan berpisahnya “kelompok” yang menamakan

dirinya Protestan di bawah pimpinan Martin Luther. 31 Protestan yang memisahkan

diri dari Katolik berkembang pesat di Eropah sampai Nusantara dan seterusnya ke

Tanah Batak. Demikian halnya dengan perkembangan agama Katolik juga sampai ke

Nusantara dan seterusnya sampai ke Tanah Batak.

        Tahun 1546 agama Katolik telah berkembang di Maluku dibawa oleh

missionaris-missionaris Portugis. Sementara itu misi Kristen Protestan juga

mengembangkan agama Kristen Protestan di sebelah Barat Indonesia 32. Di Sumatera

Utara sebenarnya usaha usaha dari pihak Katolik sudah lama untuk mengembangkan

agama Katolik. Usaha perkembangan agama Katolik pertama dipelopori oleh Pastor

Caspar de Hesselle, namun ia meninggal dunia pada tanggal 31 Agustus 1954. Oleh

        31
             Arnoldus, Op-Cit., Hal .52.
        32
             Ibid., Hal .55.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
sebab itu misi agama Katolik yang pertama mengalami kegagalan dan berakhirlah

usaha pertama misi Katolik di Sumatera Utara, khususnya Tapanuli.

        Sejak pertengahan abad ke- 19 (tahun 1861) para missionaris Protestan dari

Rheinische Missiongeselschaft ( Bremen Muppertal) telah menjalankan misi mereka

di kalangan Batak. Usaha ini baru menampakkan hasil nyata sesudah kurun waktu

sepuluh tahun dengan tampilnya missionaris Nomensen, yang membuka lembaran

baru bagi pengkristenan orang Batak Toba. Pewartaan ini tampak pada waktu tahun

1870 di lembah Silindung dengan titik beratnya di Tarutung, Tapanuli Utara.

Selanjutnya pengkristenan diperluas wilayah-wilayah di sekitar Tapanuli Utara

termasuk Lintongnihuta, Balige dan daerah Simalungun. Perkembangan zending

berhasil membentuk masyarakat Kristen Batak ( Hatopan Kristen Batak).

        Keberhasilan penyebaran agama Protestan tidak diikuti secara mudah oleh

agama Katolik dikarenakan penyebaran agama Katolik sangat terikat dengan

peraturan pemerintah Hindia Belanda yang tertuang dalam perundang undangan pasal

123( kemudian menjadi pasal 177) yang melarang adanya zending berganda yaitu

aktifitas zending dan misi oleh berbagai gereja yang sama. Alasannya supaya

ketertiban dan keamanan tidak terganggu. Peraturan pemerintah kolonial ini

mengakibatkan penyebaran agama Katolik di tengah tengah orang Batak tersendat.

        Tahun 1870-an orang Katolik Eropa di pantai Sumatera Timur dikunjungi

oleh Pastor Jesuit dari Sungai selan (Bangka). Antara tahun 1878 dan tahun 1884

Pastor Wenneecker, SJ mulai belajar bahasa Batak dan Keling (orang India yang




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
bekerja di perkebunan). Sejak itu Medan menjadi stasi33 tetap dan dikunjungi secar

berkala. Tidak lama kemudian, pastor Jesuit dipanggil ke Jakarta. Tahun 1913, saat

berada di Jakarta, pastor Wennecker, SJ memberi pelajaran agama Katolik kepada

beberapa orang Batak. Demikian juga pada beberapa siswa Batak yang sedang belajar

di sekolah guru di Muntilan-Jawa Tengah dengan harapan jika mereka kembali ke

Sumatera, mereka akan menjadi tokoh dan pewarta ajaran Katolik 34.

        Pada awal abad ke-20 seluruh kepulauan Indonesia yang masih dibawah

kerajaan Belanda, dipercayakan kepada Ordo Serikat Jesuit untuk reksa pastoral35.

Seluruh Indonesia berada dibawah vikariat Apostolik Batavia, yang sekarang disebut

Jakarta. Tahun 1905 pulau Kalimantan kepada OFMcap dan pada tahun 1911 pulau

Sumatera dengan pulau-pulau sekitarnya diserahkan juga kepada OFMCap. Seluruh

Sumatera satu prefektur Apostolik di bawah Mgr. Liberatus Cluts OFMCap. Bersama

dengan uskup ini tibalah di Sumatera pada tanggal 13 juni 1912 kapusin kapusin yang

pertama: Matheus de Wolf, CamillusBuil, Augustinus Huijbergts, dan Remigius van

Hoof36.

        Warisan pertama yang diterima dari pastor pastor Jesuit ialah sekitar 4000

orang yang beriman, hampir semua orang Eropah. Umat tersebut tercerai berai

diseluruh pulau, di kota- kota, dan desa desa menurut tempat pekerjaan mereka.

Banyak di antara pegawai kerajaan Belanda,                sebagian administrator perkebunan

karet, kelapa, teh, dan tembakau dan asisten-asisten kebun. Sebagian lagi para


        33
           Stasi merupakan unit unit gereja Katolik di daerah pedalaman
        34
           AGP Datubara, Omnibus Omnia, Medan, 2008., hal .4.
        35
           Reksa pastoral merupakan wilayah pengembangan pastoran.
        36
           Crispinianus Theeuwes OFM Cap, Dkk, Cita dan Cerita Kapusin, Medan: 1990., hal .9.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
pedagang dan pengusaha di pelabuhan-pelabuhan, dan ada juga termasuk dinas

militer kerajaan 37.

        Sejak missionaris Kapusin masuk ke Sumatera kelompok kelompok orang

batak telah menyatakan keinginannya untuk masuk agama Katolik. Banyak surat

dikirimkan kepada pastor dan juga utusan dari berbagai daerah, agar perluasan agama

Katolik dilakikan di Tanah Batak. Kepada Gubernur Jenderal di Batavia, orang-orang

Batak mengirimkan rekes supaya para missionaris diizinkan masuk ke Tanah Batak.

Tetapi ada kesulitan untuk masuk daerah Batak karena ada larangan dari pemerintah

Hindia Belanda yang tertuang dalam buku hukum pasal 123 ( pasal 177) yang

menyatakan bahwa guru guru Kristen, imam imam, dan pendeta pendeta bila hendak

masuk suatu daerah, untuk melaksanakan tugas mereka, harus lebih dulu mendapat

izin dari Gubernur Jenderal 38. Kalau tugas mereka dianggap mengganggu keamanan

suatu daerah maka izin masuk mereka dapat dicabut oleh Gubernur Jenderal.

Terutama dobel-zending dilarang ( dua misi sekaligus, yaitu misi Katolik dan

Zending Protestan pada waktu yang sama). Karena sejak tahun 1860 Zending

Protestan sudah aktif di Tanah Batak, maka Gubernur Jenderal tidak lagi memberi

izin kepada misi Katolik untuk masuk Tanah Batak.

        Menghadapi tantangan tantangan ini, para missionaris tak henti hentinya

berjuang. Mgr. Brans sendiri berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh izin agar para

missionaries Katolik dapat masuk ke Tanah Batak, khususnya Tapanuli. Oleh karena

itu dengan sengaja stasi-stasi di pinggiran Tanah Batak seperti di daerah Laras,


        37
             Ibid., hal .11.
        38
             AGP Datubara, Op-cit., hal .20.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Simalungun didirikan walaupun umat hampir tidak ada. Untuk mempengaruhi orang

Batak Toba datang, para missionaris mendekati orang Batak Toba, seperti Sibolga.

        Menunggu izin masuk ke Tapanuli, para missionaris secara khusus

memperhatikan orang Batak di kota. Pastor Marianus Spanjers ditugasi untuk

mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan misi di Tanah Batak. Setiap hari

Minggu, missa untuk orang orang Batak dilakukan di gereja orang Eropa.

        Tantangan dari pihak Protestan pun muncul, Aurelius Kerkers dari Siantar

memberitahukan ada perlawanan dan hasutan dari pihak pemimpin pemimpin

Protestan. Rintangan ini dihadapi para missionaris dengan menerbitkan buku buku

kecil yang diedarkan untuk mempertahankan agama Katolik.,beberapadiantaranya:

Hoeria ni Jesoes Kristoes ima Hoeria Katholiek, Sakramen Panopotion di dosa

dibagasan Hoeria Katholiek, Pelean Misa na badia dibagasan Hoeria Katholiek 39.

        Mgr. Brans bersama para missionaris berusaha keras untuk menembus

Tapanuli. Para missionaris juga mengusahakan perkembangan stasi dan pusat

pengabaran di kota maupun di pedalaman yang biasanya melayani orang Tionghoa

dan orang Eropa. Walaupun belum maksimal, tetapi jumlah umat yang terus

bertambah, para missionaris tetap giat dengan penuh optimis melakukan penyebaran

agama Katolik.

        Tahun 1934 Mgr. Brans mendapatkan izin dari pemerintah Kolonial Belanda

masuk ke daerah Tapanuli untuk memulai misi pada orang Batak Toba. Para

missionaris yang sudah lama menunggu segera menyebar ke penjuru Tanah Batak.


        39
             Crispinianus Theeuwes OFM Cap, Op-Cit., hal .23.

Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Sejak tahun 1926 banyak orang Batak Toba pindah ke Medan, masuk gereja

Katolik dan menyekolahkan anak anak mereka di sekolah Katolik yang dikelola

langsung oleh biarawan dan biarawati. Sekolah ini sangat menarik untuk orang Batak

karena terbukti sangat berkualitas. Melihat pengabdian biarawan biarawati serta

teladan keramah tamahan para pastor Kapusin, permintaan orang batak untuk menjadi

Katolik dan mendirikan sekolah di daerah mereka semakin banyak. Pada awalnya

pastor Kapusin ragu karena adanya larangan kolonial, namun karena permintaan

terus mendesak, maka pastor Kapusin mengurus izin ke Jakarta agar dapat berkarya

di Tapanuli. Tahun 1923, misi Katolik diperbolehkan di Sibolga dan sekitarnya.

Kemudian izin diperluas ke daerah Tapanuli tahun 1933, dan di Pulau Nias tahun

1939. Kemudian ke beberapa tempat diutus seorang missionaris tetap, antara lain di

daerah Batak- Simalungun, yakni Pematang Siantar, dan Saribu Dolok tahun 1938.

demikian juga ke daerah Dairi, Sidikalang pada tahun 1938.

        Pusat misi di daerah Tapanuli berada di Balige. Dari Balige penyebaran

agama Katolik disebarkan ke daerah Lintongnihuta dengan mendirikan stasi tahun

1937. Tahap pertama yang ekstensif berlangsung dengan melayani tempat tempat

manapun yang dapat dicapai, sehingga umat umat Katolik terdapat diberbagai daerah

pedesaan 40.

        Stasi Batak pertama didirikan dekat Siantar yaitu Laras di perkebunan pada

tahun 1931. Ajaran diperkenalkan di Tanah Batak sehingga permohonan masuk

agama Katolik semakin banyak. Untuk menampung permintaan ini, Prefekt Apostolik



        40
             AGP Datubara, Op-Cit., hal .29.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mengangkat Kenan Hutabarat menjadi Katekis 41 dengan gaji tetap. Katekis inilah

mengunjungi umat yang ada di Siantar dan para simpatisan sambil mengajarkan

agama Katolik.

        Dengan semangat menggelora Mgr. Brans mulai mendirikan sekolah sekolah.

Sekolah dibangun dalam ukuran besar dan megah, terbuat dari beton, lantainya

menggunakan tegel, dan atapnya dari genteng. Pada zaman Kolonial, hanya gedung

yang bermutu yang menerima subsidi dari Roma dan Belanda. Kontrol dari

pemerintah dan sponsor selalu ada, kemewahan gedung ini juga menjadi salah satu

daya tarik dan pamer Katolik menghadapi kelompok lain yang sudah lebih dulu

membangun.

        Masyarakat Batak Toba merupakan suku bangsa yang selalu menutup diri

dengan dunia luar, tersendiri dan tidak mempunyai hubungan dengan suku suku di

sekitarnya. Tersembunyi di antara lembah, bukit, dan bukit barisan sehingga

pengaruh agama dan bangsa lain sangat sulit untuk menembus suku ini. Agama Islam

yang diperkenalkan di seluruh Indonesia pada abad ke 13 dan abad ke 14 hampir

tidak berhasil memasuki daerah Tanah batak Toba.

        Adat istiadat Batak Toba yang sangat kokoh kemudian guncang dengan

datangnya Nonmensen dengan agama Protestan dan tentara Belanda. Seluruh bangsa

mengalami        keguncangan        ketika     tentara     Belanda       berhasil     membunuh

Sisingamangaraja XII. Masa itu mereka yakin raja dan daerah Batak Toba tidak




        41
           Katekis merupakan anggota jemaat yang bertugas untuk membantu pastor dalam melayani
jemaat gereja.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
terkalahkan 42. Setelah kematian Sisingamangaraja XII,                 terbukalah mata mereka,

ternyata Ada kuasa lain yang lebih kuat, agama Kristen dan kolonisasi, yang ternyata

lebih maju, lebih modern dari mereka. Suku Bangsa ini mulai tertarik ingin

mengalami dan meraih kemajuan yang baru. Banyak orang Batak Toba tidak tahan

menunggu sampai kemajuan ini sampai ke pedalaman. Mereka mulai mencarinya

sendiri. Setiap marga, kampung, setiap pemuda ingin memiliki kemajuan. Maka para

remaja mulai keluar untuk merantau. Demikian juga bapak bapak muda keluar dari

kampungnya untuk mencari nafkah di dunia luar. Jika para perantau ini kembali dari

waktu ke waktu ke kampung halamannya, dan hikayatnya tentang pengalamannya di

perantauan menarik lebih banyak orang lain keluar mengejar kemajuan itu 43.

        Begitu kesempatan bersekolah terbuka, orangtua mengirim anaknya untuk

belajar pengetahuan baru, agar lebih maju dan mendapat kedudukan baik. Pada

gilirannya anak anak yang maju ini akan menolong adik adiknya dan keluarganya

untuk turut menikmati kemajuan itu.

        Sifat orang Batak memang esoteris, yaitu melihat suatu yang baru dan

menarik, dia tidak tinggal kagum, tetapi langsung ingin memiliki sendiri, melakukan

hal yang sama, atau mampu memperbaiki dan menyempurnakannya. Pepatah Batak

Tobam menyatakan bahwa “ gokhon sipaimaon, jou jou silausan” artinya undangan

dinanti, panggilan untuk ditanggapi dalam agama baru.




        42
             Lothar Schreiner, Adat dan Injil, Jakarta: PT. BPK Gunung Mulia, 1972., hal .49.
        43
             Ibid., hal.52.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
    3.2.2 Masuknya agama Katolik di Tapanuli

         Tanggal 12 Maret 1929 pastor paroki pertama diutus ke Sibolga, pastor

Chrysologus Timmermans. Kemudian disusul oleh suster suster dari Tilburg tanggal

21 Maret 1930 yang sebelumnya menetap di Padang. Tanggal 3 Juli 1931 pastor

Aurelius Kerkers memulai karyanya di Pematang Siantar. Sejak pastor Auelius

Kerkers sampai di Pematang Siantar, banyak orang Batak Toba yang bertamu ke

rumah pastor44. Karena pastor tidak dapat memenuhi undangan mereka untuk datang

ke kampung kampung, maka mereka dilayani dengan cara membagi bagikan brosur.

          Sejak diajukannya permohonan untuk mendapatkan izin bagi karya misi,

maka pada tanggal 17 Ferbuari 1933 menghasilkan jawaban positif, yakni

mengkristenkan orang Batak Toba yang banyak menetap di Tapanuli.dengan

dihapuskannya penerapan Pasal 123, zendeling Protestan Jerman mendapat lawan dan

saingan dalam pengkristenan masyarakat Batak Toba di Tapanuli.

         Balige menjadi pusat penyebaran agama katolik di wilayah Toba, Samosir,

Dataran Tinggi Toba dan Habinsaran. Alasan missionaris memilih Balige sebagai

pusat misi Katolik karena Balige berada ditengah tengah daerah Batak Toba. Para

missionaris menyebar ke daerah penjuru Tapanuli dengan pesan dari Mgr. Brans “

Pergilah, carilah kontak dengan masyarakat, entah waktu siang ataupun malam

hari”.

         Perkembangan agama Katolik di Sibolga dan Pematang Siantar membuka

kesempatan bagi missionaris untuk mengembangkan agama Katolik di daerah Toba.

Pekerjaan missionaris tersebut dibantu oleh orang orang Batak Toba yang


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mendukung pengembangan agama Katolik di Tapanuli. Khususnya di Tapanuli Utara

penyebaran agama Katolik dibantu oleh Kenan Huta Barat dan Polin Siahaan yang

berasal dari Hutabolon Balige.

        Tanggal 5 Desember 1934, Pastor Sybrandus van Rossum yang berusia 31

tahun masuk ke daerah Balige. Kedatangan pastor tersebut disambut oleh masyarakat

setempat dengan upacara adat yang mengesankan 45. Hari pertamanya di Balige, dia

menyewa rumah kecil yang terletak di pinggiran Danau Toba. Koper yang dibawanya

berfungsi sebagai meja dan kursi pada waktu tertentu. Dalam menjalankan tugasnya

sebagai Pastor, Sybrandrus van Rossum dibantu oleh Josef Bonafasius Panggabean

yang telah menganut agama Katolik sewaktu masih berada di Kalimantan Barat.

        Pastor Sybrandrus van Rossum memiliki sifat yang memungkinkannya dapat

menghadapi tantangan yang berat. Sifat optimis dan humoris membuat masyarakat

Balige merasa tertarik pada pastor tersebut. Pada awalnya Pastor tersebut tidak

memiliki relasi di daerah ini karena hampir seluruh masyarakat sudah dikuasai oleh

Missions- Gesellschaft atau Huria Batak. Pastor tersebut sudah menguasai bahasa

Batak Toba, dia dengan mudah dapat berdialog dengan orang orang di jalan ataupun

di kedai sehingga penduduk setempat banyak simpatik dan kagum. Hal ini membuat

pengetua adat dan masyarakat tertarik untuk masuk jadi penganut agama Katolik.

        Setelah satu tahun pastor Syrbandus tinggal di Balige, sebanyak 50 orang

masyarakat Balige masuk agama Katolik, dan sudah ada beberapa stasi. Satu hal

yang menarik adalah penduduk desa Lumban Pea masuk sekaligus. Raja ni Huta desa


        44
             AGP Datubara, Op-Cit., hal .29.
        45
             R. Kurris SJ, Pelangi di Bukit Barisan, Yogyakarta: Kanisius, 2006., hal .36.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
melarang warganya masuk agama Protestan dengan alasan ada pesan dari nenek

moyang mereka bahwa mereka harus menantikan utusan dari Raja Rum sehingga

orang dewasa dan 25 orang anak anak desa Lumban Pea langsung belajar katekismus

dari pastor.

        Muncul keinginan Pastor Sybrandus untuk mendirikan sekolah dan rumah

pastoran, namun dia kesulitan untuk mendapatkan lahan. Atas bantuan Guru Polin

Siahaan, mereka mendapatkan sebidang tanah yang dapat digunakan untuk

pembangunan gereja, pastoran, dan sekolah. Pada saat yang bersamaan Raja Marinus

Simanjuntak menjual gedung Maju Bioskop, sehingga pastor membeli gedung

tersebut dan kemudian direnovasi untuk menjadi gereja Katolik.

        Setelah agama Katolik berkembang di Balige, missionaris melakukan

pengembangan agama ke daerah Samosir dan Tapanuli. Dalam melakukan

penyebaran agama Katolik, mereka mengirim beberapa orang pastor muda yang baru

saja dilantik yaitu: pastor Diego van Biggelaar dan pastor Benyamin Dijksta untuk

daerah Samosir pada tahun 1936, pastor Elpidius van Duijnhoven untuk daerah

Saribu Dolok pada tahun 1936, pastor Marianus van den Acker dan pastor Lukas

Rendres untuk daerah Lintongnihuta pada tahun 1937, pastor oscar Nuijten di daerah

Pakkat pada tahun 1940, dan pastor Nopemucemus Hamers di daerah Sidikalang pada

tahun 1938, dan pastor Beatus Jenniskens pada tahun 1938.




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
    3.2.3 Masuknya Agama Katolik di Lintongnihuta

        Pada awal masuknya agama Katolik di Tapanuli pada umumnya dan di

Lintongnihuta pada khususnya, ada perlakuan tidak adil oleh Belanda terhadap

perkembangan agama Katolik. Pada saat itu pemerintah Hindia Belanda pro terhadap

agama Protestan dan kontra terhadap agama Katolik. Akibatnya proses dan

perkembangan agama Protestan jauh lebih pesat daripada agama Katolik di daerah

Lintongnihuta maupun di pedalaman Tapanuli.

        Agama Katolik di daerah Lintongnihuta disebarkan oleh missionaris Belanda,

Pastor Marianus Van den Acker pada bulan September 1937. Setelah menguasai

bahasa Batak Toba, dia menyebarkan agama Katolik ke wilayah yang berada di

daerah Lintongnihuta, pertengahan antara Siborong borong dengan Dolok Sanggul.

Karena jarak Balige dengan Lintongnihuta sekitar 45 km, sehingga pastor Sybrandrus

van Rossum menugaskan pastor Marianus Van den Acker untuk membuka stasi

sendiri di Lintongnihuta.

        Sebelum agama Katolik masuk di Lintongnihuta, sebagian masyarakat di

Lintongnihuta telah menganut agama agama Kristen Protestan yaitu Huria Kristen

Batak (HKB) yang disebarkan oleh Zending Protestan. Sebagian lagi masyarakat

Lintongnihuta masih menganut kepercayaan tradisional seperti Debata Mulajadi

Nabolon dan kepercayaan Sipelebegu. Masyarakat yang masih menganut kepercayaan

tradisional inilah yang lebih banyak dipengaruhi agama Katolik di Lintongnihuta.

Ketika pastor Marianus memasuki daerah ini. Dia mengalami kesulitan karena daerah

karena pengaruh agama Protestan sudah lebih dominan.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Setelah pastor Marianus selesai menjalani pendidikan novisiat di Den Bosch,

Belanda, beliau melanjutkan studi filsafat dan teologia dan ditahbiskan menjadi Iman

Kapusinpada tanggal 21 september 1935 46. setelah Pastor Marianus ditahbiskan

sebagai imam, dia diutus menjadi missionaris ke Tapanuli. Bersama lima teman satu

kelasnya, pastor Marianus Van De Acker di minta untuk mempersiapkan diri untuk

pergi ke Tapanuli. Satu bulan lamanya mereka di perjalanan menuju Sumatera dan

tanggal 1 November 1936 Marianus sampai di Belawan. Kemudian dia ditempatkan

di Balige untuk mempelajari bahasa Batak Toba.

        Pada tahun 1937, pastor Marianus memasuki daerah Lintongnihuta. Untuk

menyebarkan agama Katolik di tengah tengah masyarakat Lintongnihuta. Dalam

mengembangkan agama Katolik di Lintongnihuta, Marianus dibantu dua orang awam

untuk dijadikan propagandis yaitu Yosia Sinaga dan Alal Sihombing. Alas an

memilih dua orang awam ini adalah supaya masyarakat dapat mengerti dan

mengetahui tentang kebenaran agama Katolik.

         Dalam menyebarkan agama Katolik di Lintongnihuta, pastor Marianus

mengontrak rumah di daerah Pasar Lama untuk dijadikan sebagai tempat tinggal

pastor dan sebagai tempat beribadah karena belum ada lahan untuk mendirikan

sebuah gereja. Pastor Marianus memasang sekat rumah untuk memperoleh ruangan

kecil sebagai tempat ibadah.

        Di Lintongnihuta muncul keinginan pastor untuk mendirikan gereja, sekolah

dan rumah pastor, tetapi mengalami kesulitan untuk mendapatkan lahan/ pertapakan.



        46
             Ibid., hal .76.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Pastor Marianus menghubungi Alil Sihombing untuk mendapatkan sebidang tanah

yang dapat digunakan untuk pembangunan gereja, pastoran dan sekolah. Atas

bantuan Alil Sihombing, Marianus mendapatkan lahan seharga180 gulden.

        Pada bulan Februari 1938 gereja induk paroki Lintongnihuta diresmikan oleh

Uskup Mathias Brans dari Padang dengan nama Gereja Santo Koenrad Pazham. Pada

tahun itu juga sebanyak 400 orang masyarakat Lintongnihuta dapat dibabtis dan

menjadi sah jemaat Katolik. Agama Katolik yang disebarkan oleh missionaris dapat

dengan cepat berkembang karena pelaksanaan ekaristi yang dibawakan oleh imam

Katolik sangat berkenan dengan tradisi nenek moyang 47.

        Dalam melakukan penyebaran agama Katolik di Lintongnihuta, pastor

Marianus melakukan berbagai pendekatan terhadap masyarakat, seperti pendekatan

terhadap budaya dan pendekatan holistik. Pendekatan terhadap budaya dilakukan

dengan cara beradaptasi terhadap budaya masyarakat batak Toba seperti belajar

bahasa Batak Toba dan adat istiadat serta pakaian adat tradisional.

        Pastor Marianus van de Acker terlebih dahulu belajar bahasa Batak Toba di

Balige. Hal ini dilakukan supaya missionaris diterima oleh masyarakat Lintongnihuta

sehingga dengan mudah Injil serta agama Katolik dapat disebarkan dan

dikembangkan di tengah masyarakat. Pengetahuan bahasa Batak Toba diupayakan

untuk mendekatkan diri dan mengambil simpati masyarakat Lintongnihuta. Dengan

mengetahui bahasa lokal sehingga missionaris dapat mendekati, mengerti dan




        47
             R. Kurris SJ, Op-Cit., hal. 84.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
memahami pemikiran masyarakat serta mengetahui kehidupan adat istiadat dan

kebudayaan masyarakat setempat.

        Di samping beradaptasi dengan menggunakan bahasa lokal, missionaris

menghargai pakaian adat tradisional masyarakat Lintongnihuta yaitu dengan

memakai ulos Batak Toba dalam perayaan perayaan resmi dalam acara kerohanian,

memakai alat musik tradisional Batak Toba yaitu gondang dalam acara acara gereja

dan di kalangan masyarakat Lintongnihuta. Misalnya, jika missionaris diundang ke

acara pesta maka missionaris mengikuti adat kebiasaan masyarakat setempat yaitu

memakai pakaian tradisional dan ikut manortor Batak Toba 48.

        Metode pendekatan yang dilakukan dengan pendekatan holistik yaitu

memberikan bantuan dalam bidang kehidupan ekonomi, sosial, kesehatan, dan

pendidikan kepada masyarakat mulai dari lapisan atas sampai lapisan bawah yaitu

melalui sekolah-sekolah rakyat Katolik yang dibangun seperti Volks school setingkat

dengan kelas I s/d III SDdan Vervolks school yang setingkat dengan kelas IV s/d VI

SD. Dalam bidang ekonomi, para missionaris memperkenalkan sistem pertanian

modern kepada masyarakat Lintongnihuta dengan memberikan bibit-bibit tanaman

baru seperti padi.

        Melalui pendekatan tersebut, missionaris dapat mendekati, mengerti, dan

memahami jalan pemikiran masyarakat Lintongnihuta, sehingga dengan mudah

missionaris dapat menjalankan dan mengajarkan agama Katolik. Masyarakat Batak

Toba yang berdiam di Lintongnihuta sebelum masuknya pengaruh agama Kristen



        48
             Crispinianus Theeuwes OFM Cap, Op-cit., hal .47.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mengenal      budaya      tradisional.     Mulanya       para    missionaris      tidak     mudah

memasyarakatkan injil kepada masyarakat Batak Toba yang masih terikat dengan

norma norma tradisional tersebut. Dalam mewartakan injil para missionaris mendapat

bermacam macam tantangan, baik yang datang dari masyarakat maupun tantangan

berupa kekurangan materi. Tantangan yang diperoleh dari masyarakat adalah sulitnya

orang Batak Toba melepaskan budaya tradisional yang tidak sesuai dengan agama

Kristen antara lain mereka sangat mempercayai kekuatan mistik yang ada pada

mereka. Hal ini kemudian ditambah dengan adanya anggapan bahwa missionaris

merupakan mata mata Belanda yang hendak menguasai wilayah Toba. Missionaris

berupaya untuk membuat masyarakat tertarik dengan ajaran agama Katolik melalui

tingkah laku dan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik simpatik masyarakat.

        Penerimaan injil di daerah Toba semakin lama semakin berkembang. Agama

yang dianut masyarakat sebelum masuknya missionaris semakin pudar. Kepercayaan

animisme dan dinamisme semakin ditinggalkan oleh masyarakat. Kepercayaan

terhadap Mulajadi Nabolon dengan melakukan penyembahan di tempat tempat

tertentu dan ketakuatan akan kuasa Sipelebegu yang dapat mengganggu ketentraman

masyarakat juga hilang. Peranan datu semakin lama semakin berkurang, kepercayaan

yang bersifat sepele begu diganti dengan agama baru yang bersifat monoteisme yaitu

agama Protestan dan Katolik.

        Masyarakat mempunyai keyakinan bahwa agama baru yang dianutnya akan

mengubah cara hidup dan cara berpikir untuk menjalankan kehidupan yang lebih




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
baik. Pergaulan maupun cara hidup yang dilakukan missionaris secara langsung

kepada masyarakat, membuat masyarakat dapat melihat dan merasakan perbedaan

antara missionaris dengan penjajahan Belanda.

        Dengan demikian anggapan awal yang menyatakan bahwa missionaris adalah

mata mata Belanda dan kegiatan missionaris untuk kepentingan Belanda semakin

sirna. Perkembangan pendidikan dan ajaran yang dilakukan missionaris membuka

fajar baru bagi masyarakat. Berdirinya gereja dan sekolah Katolik merupakan satu

mata rantai yang bertujuan memajukan masyarakat. Melalui gereja, masyarakat dapat

berinteraksi antara satu desa dengan desa yang lain, antara satu marga dengan marga

yang lain, sehingga dapat bertukar informasi untuk mengetahui kemajuan yang terjadi

di luar daerah masing masing.

        Pengaruh agama Katolik mendorong terjadinya perubahan dalam bidang

kepercayaan 49. Diterimanya missionaris oleh masyarakat Lintongnihuta membuat

kepercayaan animisme dan dinamisme semakin luntur. Dengan berkurangnya

kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa agama Katolik diterima sebagai agama

masyarakat secara pribadi yang dilakukan secara langsung oleh para missionaris.

        Untuk mempermudah mengembangkan ajarannya, para missionaris mendidik

masyarakat Batak Toba. Dengan demikian pemikiran masyarakat Batak Toba tentang

kemajuan semakin berkembang. Pengenalan agama baru dilakukan missionaris telah

mengubah kepercayaan masyarakat Lintongnihuta dari kepercayaan tradisional




        49
             Ibid., hal. 58.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
menjadi pengikut ajaran Katolik. Penerimaan masyarakat Lintongnihuta terhadap

missionaris tidak disia siakan oleh missionaris. Kesempatan yang demikian

dipergunakan untuk menunjukkan kedatangan mereka. Tempat tinggal dan tanah

untuk mendirikan gereja, pastoran dan sekolah diberikan oleh masyarakat kepada

missionaris untuk tempat melaksanakan ibadah dan menyebarkan injil.

        Sikap missionaris Katolik terutama yang dilakukan oleh pastor Marianus Van

de Acker mendapat simpatik dari masyarakat Lintongnihuta. Perhatian missionaris

terhadap masyarakat Lintongnihuta turut mempercepat proses perkembangan agama

Katolik di daerah ini. Perkembangan agama protestan dan Katolik tidak

menguntungkan bagi penjajahan Belanda di Tapanuli. Sebabnya cara penguasaan

daerah yang dilakukan oleh penjajahan Belanda berbeda dengan yang dilakukan

missionaris. Belanda menggunakan kekerasan sedangkan missionaris memakai cara

pendidikan. Cara missionaris yang mendapat simpatik rakyat membuat Belanda

meniru cara missionaris, karena itu Belanda juga menarik simpatik rakyat dengan

mendirikan sekolah sekolah bumiputera dan menyediakan tenaga guru 50. Pada

dasarnya ajaran ajaran yang disampaikan para guru di sekolah Belanda adalah untuk

kepentingan Belanda dengan dasar supaya mereka dapat diterima dan seluruh hasil

dari rakyat dapat mereka ambil. Guru guru yang diangkat oleh Belanda harus

mengikuti peraturan-peraturan yang diberikan oleh Belanda. Maksud Belanda

menyediakan guru-guru tersebut adalah untuk memperkuat kedudukan Belanda di

Tapanuli.



        50
             AGP Datubara, Op-Cit., hal.235.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Dengan berdirinya sekolah sekolah Belanda tersebut, missionaris membuat

perbedaan antara pendidikan Belanda dengan yang dikelola oleh missionaris.

Tujuannya agar masyarakat dapat membedakan mana pendidikan Belanda dan mana

pendidikan yang dikelola oleh missionaris. Para missionaris dalam mengembangkan

pendidikan lebih mengutamakan pendidikan keimanan. Di luar sekolah, sikap, cara

hidup dan pergaulan di tengah-tengah masyarakat diupayakan lebih mendekatkan diri

kepada masyarakat.

        Dengan demikian semakin runtuhlah anggapan bahwa kegiatan missionaris

adalah untuk kepentingan penjajahan Belanda. Berkembangnya agama Kristen

semakin menghilangkan nilai- nilai religius magis dan diganti dengan gereja sebagai

wadah pelaksanaan proses berhubungan dengan Allah. Pengaruh Kristenisasi

membuat masyarakat percaya kepada kebesaran Tuhan sebagai pencipta manusia dan

pemberi berkat atas segala kehidupannya.



3.3 Kendala Kendala Yang Dihadapi Oleh Missionaris Dalam Penyebaran

Agama Katolik

        Sebelum masuknya agama Katolik di Lintongnihuta telah ada Regement Op

het Beleid der Regering Van Nederland Indies / UU tahun 1854 pasal 123 untuk

mempersempit agama Katolik di Tapanuli sampai kepedalamannya seperti

Lintongnihuta, dimana dengan adanya UU tersebut sehingga Pemerintah Hindia

Belanda melarang misi berganda / double zending pada satu wilayah yang sama.

Dengan demikian agama Katolik terlambat masuk ke Tapanuli dan pedalamannya.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Jika dibandingkan dengan daerah lainnya, agama Katolik lebih berkembang di daerah

lain di Indonesia seperti Medan, Maluku, Sulawesi, Kalimantan, dan Nusa Tenggara.

        Agama Kristen Protestan masuk dan berkembang pada abad ke 20 yang

disebarkan oleh Ignatus Nonmensen, seorang doktor teologia berkebangsaan Jerman.

Dia memulai misinya di Lembah Silindung tahun 1864. Pusat misi agama Kristen

Protestan di Pea Raja, Tarutung. Oleh karena itu, pemerintah Hindia Belanda pada

waktu itu tidak lagi memberi izin masuk bagi missionaris Katolik. Tetapi dengan

adanya I.R ( Indische Staat Regering) pasal 177 tahun 1925 maka agama Katolik

diperbolehkan melakukan penyebaran Injil dalam satu wilayah yang sama dengan

menjamin ketertiban dan keamanan ( Rust en Order).

        Masyarakat Batak Toba yang berdiam di Lintongnihuta, sebelum masuknya

pengaruh agama Kristen telah memiliki budaya tradisional. Pada awalnya para

missionaris tidak mudah memasyarakatkan injil kepada masyarakat Batak Toba yang

masih terikat dengan norma-norma tradisional tersebut. Pada saat mewartakan injil

para missionaris mendapat bermacam macam tantangan, baik yang berasal dari

masyarakat maupun tantangan berupa kekurangan materi. Tantangan yang diperoleh

dari masyarakat adalah sulitnya orang Batak Toba melepaskan budaya tradisional

yang tidak sesuai dengan agama Kristen, antara lain mereka sangat mempercayai

kekuatan mistik yang ada pada mereka. Kemudian ditambah dengan adanya anggapan

bahwa missionaris merupakan mata-mata Belanda yang hendak menguasai wilayah

Toba. Missionaris berupaya untuk membuat masyarakat tertarik dengan ajaran- ajaran

agama Katolik melalui tingkah laku dan perbuatan-perbuatan yang dapat menarik

simpatik masyarakat.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
           Setelah agama Katolik diterima oleh sebagian masyarakat di Lintongnihuta,

tantangan yang dihadapi oleh missionaris Katolik adalah zending Protestan. Tahun

1938 zending Protestan menerbitkan edaran untuk melawan Katolik dan membela

ajaran Protestan. Edaran tersebut adalah Parsaoran tu Debata, mangihuthon poda

Rooms Katholik dohot poda Protestan. Edaran yang diterbitkan oleh zending

Protestan ini merupakan penjelekan terhadap agama Katolik 51.

           Untuk menghadapi edaran- edaran yang menjelekkan agama Katolik, pihak

missionaries menerbitkan buku buku kecil tentang ajaran agama Katolik seperti

Hasintongan taringot tu Huria Rooms Katolik, poda Pangkristenon, Ende-ende

Katolik, dan parbarita Katolik.



3.4 Perkembangan Agama Katolik Di Lintongnihuta



       3.4.1 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Pastor Marianus Van de

              Acker (1937- 1942)

         Dalam pengembangan agama Katolik di Lintongnihuta dan daerah- daerah

pedalaman di sekitar Lintongnihuta, Pastor Marianus van de Acker melakukan

pendekatan terhadap masyarakat di Lintongnihuta, baik pendekatan budaya maupun

pendekatan holistik. Disamping kedua pendekatan yang dilakukan, Marianus juga

membuat propagandis yaitu memperkenalkan agama Katolik sampai ke daerah-

daerah pedalaman di Lintongnihuta. Marianus mendirikan sekolah-sekolah rakyat



51
     Crispinianus Theeuwes OFM Cap., Op-cit, hal.69.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
hampir di tiap tiap stasi ( huria Katolik yang berada di pedalaman/ pedesaan di sekitar

paroki Lintongnihuta). Sampai tahun 1942, Marianus mendirikan 15 stasi yang

tersebar di sekitar Lintongnihuta.

          Sejalan dengan bertambahnya stasi-stasi di Lintongnihuta, sehingga pastor

Marianus tidak mungkin langsung memimpin semua stasi. Setiap stasi dipimpin oleh

orang awam, Vorhanger dan beberapa sintua. Pimpinan dibagi dalam dua kelompok

yaitu pimpinan rohani ( ibadah) dan pimpinan Jasmani ( keuangan dan bangunan).

          Marianus mendirikan sekolah sekolah rakyat Katolik di setiap stasi di

Lintongnihuta yang setingkat dengan kelas I sampai kelas III SD (Volks School),

sedangkan kelas IV sampai kelas VI SD (Vervolk School) hanya berada di paroki

Lintongnihuta sebagai induk dari stasi.

          Berdirinya sekolah rakyat Katolik membantu masyarakat Lintongnihuta

dalam menuju kemajuan ilmu yang terarah. Dengan didirikannya sekolah rakyat di

Lintongnihuta dan di pedalaman, anak-anak katolik banyak memasuki sekolah

tersebut. Demikian juga dengan anak anak yang tidak beragama Katolik juga ikut

memasuki sekolah tersebut karena sifat sekolah rakyat Katolik berlaku untuk umum.

Para orangtua dari anak-anak tidak beragama Katolik banyak yang masuk menjadi

agama Katolik dan meninggalkan agama sebelumnya. Hal ini juga terjadi karena

pengaruh anak anak mereka yang masuk sekolah rakyat, sehingga orangtuanya

tertarik untuk mengikuti ajaran agama Katolik dan diterima secara resmi sebagai

umat Katolik setelah dibabtis 52.


        52
             Hasil wawancara dengan pastor Levi Pakpahan yang dilakukan tanggal 23 Juli 2009 pukul
12.00 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
          Karena minat masyarakat semakin tinggi untuk masuk Katolik maka

missionaris kewalahan untuk membina. Karena missionaris juga sibuk membangun

sekolah di stasi- stasi yang baru dibentuk. Untuk mengatasi masalah ini, Pastor

Marianus memberikan pengajaran kepada guru- guru sekolah Katolik untuk ikut

mengajarkan agama Katolik di kampung- kampung. Pastor Marianus memberikan

kursus teratur kepada guru-guru ( Cursus Volks Onderwijzers) 53. Kursus tulis ini

sangat sederhana. Pertama-tama ditekankan bukan hanya pelajaran agama dan

pengetahuan kitab Suci, tetapi khususnya diusahakan supaya calon- calon guru agama

dapat belajar hidup sebagai orang Kristen di asrama. Mereka diajar memimpin ibadah

Minggu tanpa kehadiran pastor. Aturan ibadah Minggu dicetak begitu juga khotbah

yang disusun pastor, harus mereka bawakan pada hari Minggu.



    3.4.2 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Perang Dunia II (1942-

1945) dan Agresi Militer I,II ( 1947- 1948)

        Dalam perang Asia Fasifik tahun 1942 -1945, kegiatan missionaris di

Lintongnihuta sangat terganggu. Dengan didudukinya Pulau Sumatera oleh pasukan

pasukan tentara Jepang, maka perkembangan pesat misi yang masih muda usianya di

Tapanuli termasuk Lintongnihuta mendapat pukulan yang hebat. Dalam perang Asia

Fasifik Jepang berkonfrontasi dengan Belanda. Ketika Jepang memasuki daerah

Tapanuli, mereka menangkapi dan menawan orang orang Belanda termasuk

missionarisnya. Hal ini mengakibatkan tergangunya perkembangan agama Katolik.



        53
             Ibid., hal .69.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Semua missionaris ditangkap dan ditawan. Kemudian missionaris dari Tapanuli

dikumpulkan di Soposurung, Balige lalu dikirim ke Pematang Siantar dan terakhir ke

Siringo ringo, Asahan. Sebagian lagi dikirim ke Sungai Sungkal. Mereka memang

tidak diperlakukan seperti tawanan militer, tetapi semua kegiatan misi dilarang.

        Selama missionaris menjadi tawanan Jepang, banyak missionaris yang

menderita karena kekurangan makanan dan kerja paksa yang berat sehingga

missionaris meninggal di tahanan seperti : Benjamin Deykstra, September 1943 di

sungai Sungkol, Aceh dan dikebumikan di Medan. Kemudian pastor Marianus

Spanyers ditahan di Kota Raja. Marianus Spanyers jatuh sakit dan tanpa pengobatan

berarti akibatnya tanggal 15 Juli 1944 meninggal dan dikebumikan di Medan.

        Selama masa penawanan missionaris oleh Jepang, terjadilah kemunduran dan

kemerosotan umat karena tidak adanya imam untuk memimpin umat. Untuk

menanggulangi masalah ini, pada tahun 1942 dibentuklah dewan untuk mengurus

misi yang sedang berkembang. Dewan ini terdiri dari guru dan katekis pribumi yang

membantu pastor dalam menyebarkan Injil. Dewan yang dibentuk adalah Centrale

Rooms Katolike Tapanuli ( Dewan Pengurus Katolik wilayah Tapanuli) meliputi

Tapanuli, Sibolga, Dan Nias yang terdiri dari:

1. J.B Panggabean                Katekis kepala Balige                 Ketua

2. G. P Siregar                  Katekis Sibolga                        Sekretaris

3. J.Ch. C. Tampubolon          Katekis kepala Pangururan             Anggota

4. R. Pardede,                 Katekis Sibuntuon Bagasan             Anggota

5. J. Sinaga                    Katekis Lintongnihuta                 Anggota

6. W. Simangunsong              Katekis kepala Pakkat                 Anggota
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
7. S. M. Sihombing              Katekis Sidikkalang                   Anggota

8. J.A Situmorang               Katekis Palipi                        Anggota

9. G. M. Samosir                Katekis Onan Runggu                    Anggota

10. G. Siagian                 Katekis Tomok                            Anggota

11. K. Hutabarat                Katekis Pematang Siantar               Anggota

12. P. Datubara                 Katekis Seribudolok                   Anggota

13. P. S. Harefa                Katekis Gunung Sitoli                 Anggota

14. H.S. Dachi                   Katekis Teluk Dalam                   Anggota

15. St. Silaban                 Katekis Silaen                        Anggota

        Oleh dewan dibuatlah surat permintaan ke keuskupan di Tokyo untuk

memperoleh pastor yang akan ditugaskan untuk melayani umat, tetapi hasilnya sia

sia. Pada saat terjadi kekalutan di dalam tubuh agama Katolik, agama lain berusaha

mempengaruhi agar umat beralih agama. akan tetapi umat Katolik tetap bertahan.

Pada saat yang bersamaan pihak Jepang memerintahkan kerja paksa (Romusha) untuk

membuka jalan maupun kubu pertahanan. Para katekis dibebaskan dari kerja paksa

tersebut. Umumnya katekis tetap tinggal di paroki di mana mereka masing masing

bertugas.

        Setelah Jepang menyerah kepada Sekutu pada tahun 1945, para misionaris

dibebaskan. Tetapi mereka masih berkumpul di kota- kota. Mereka belum diizinkan

ke kampung-        kampung . Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia tanggal 17

Agustus 1945, suasana semakin gawat dan parah. Tahun 1947 terjadi agresi militer I,

dan tahun 1948 agresi militer II, yaitu terjadinya serangan tentara Belanda yang


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
kedua kalinya di Indonesia, sehingga terbentuklah kelompok- kelompok laskar

pejuang yang ingin mempertahankan kemerdekaan yang tidak diakui oleh Belanda.

        Kelompok- kelompok revolusioner ini beroperasi di pedalaman sehingga

daerah pedalaman tidak aman bagi orang asing temasuk bagi para missionaris yang

dicurigai sebagai penjajah. Banyak missionaris memakai kesempatan ini untuk cuti

dan sekaligus memulihkan kesehatan dan tenaga setelah mengalami penderitaan

selama di tahanan Jepang sambil menunggu keadaan aman dan diizinkan untuk

kembali ke daerah masing masing.

        Tahun 1950 Mgr. Brans Uskup Sumatera waktu itu, berusaha keras lewat

surat dan relasi untuk menghubungi penguasa agar diberi izin kepada para missionaris

untuk kembali ke daerah misi yang sudah begitu lama terlantar. Partai Katolik

Republik Indonesia juga mencoba berbagai usaha menghubungi penguasa di Jakarta.

Jalan akhir yang ditempuh untuk mengatasi situasi ini dengan mendatangkan imam

imam pribumi Jawa yang ditugaskan untuk mengunjungi umat di Sumatera,

khususnya di wilayah yang tidak aman bagi missionaris asing. Setelah satu setengah

tahun lamanya, maka pastor Aloysius Pujohandoyo dari Jawa bertugas untuk daerah

Tapanuli dan Sibolga. Setelah Pastor Aloysius Pujohandoyo tiba di Balige, dia

mengelilingi semua paroki mulai dari Lintongnihuta, Dolok Sanggul, Pakkat,

Parlilitan dan Tarutung.

        Awal tahun 1950 semua serdadu Belanda kembali ke tanah airnya (sesuai

dengan perjanjian KMB, pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda). Tinggal

hanya laskar laskar sewaan Belanda yang sama sekali tidak dapat dipercayai. Suasana

ini menjadikan situasi sangat tegang, khususnya bagi para missionaris. Missionaris
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
harus memilih tinggal di Indonesia atau pulang ke negeri asal. Dengan tegas Mgr.

Brans meminta kepada semua missionaris untuk tinggal di Indonesia dan menjadi

penduduk Indonesia. Setiap missionaris diwajibkan untuk memiliki Keterangann Izin

Masuk (KIM) dan Surat Keterangan Kependudukan (SKK).

        Setelah keadaan aman, para missionaris dapat kembali bertugas dengan aktif.

Pastor Marianus Van de Acker bertugas di Balige, Pastor Weinfridus Josen bertugas

di Lintongnihuta, Pastor Nuyten bertugas di Pakkat, pastor Radboad Wakerreuns

bertugas di Pangururan dan Pastor Beatus Jernigsen bertugas di Onan Runggu.

Sejalan dengan perkembangan keamanan di Tapanuli, Dewan Pengurus Katolik

Wilayah Tapanuli dibubarkan.



    3.4.3 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Pastor Weinfridus Josen

            (1951- 1961)

        Setelah pengakuan kerajaan Belanda atas kemerdekaan Indonesia pada tahun

1949, situasi keamanan berangsur angsur pulih. Pada awal tahun 1950 para

missionaris pun diizinkan masuk kampung bahkan sampai ke pedalaman sehingga

pastor Weinfridus Josen diutus untuk melanjutkan penyebaran agama Katolik di

Lintongnihuta. Sebelum pastor Weinfridus Josen ke Lintongnihuta, dia terlebih

dahulu belajar bahasa Batak Toba di Balige, sehingga tahun 1952 pastror melakukan

pekabaran injil kembali di Lintongnihuta. Pasror Weinfridus berkarya di

Lintongnihuta dan membuka stasi stasi sampai ke daerah Dolok Sanggul.

        Setelah kedatangan pastor Weinfridus di Lintongnihuta agama Katolik

semakin berkembang. Hal ini dibuktikan dengan dibukanya paroki yang baru di
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Dolok Sanggul. Perkembangan umat Katolik sangat pesat pada periode ini. Hal ini

dipengaruhi juga oleh pengaruh selibat atau hidup tidak kawin bagi para pastor dan

para suster sehingga mereka lebih lincah dalam mengunjungi umat di sekitar paroki

dan sampai stasi stasi di Lintongnihuta. Pastor dan suster lebih banyak bersosialisasi

dan beradaptasi dengan masyarakat setempat. Perkembangan agama Katolik di

Lintongnihuta juga dipengaruhi oleh akulturasi kebudayaan Batak Toba dengan

ajaran Katolik. Akulturasi yang paling dominan didapatkan dalam masyarakat

Lintongnihuta adalah pemakaian ulos dan pemakaian alat alat gondang pada acara

resmi dan perayaan hari besar dalam agama Katolik.

        Dalam melakukan pengembangan agama Katolik di Lintongnihuta, pastor

mempergunakan sepeda motor dan mobil untuk memperlancar hubungan paroki

dengan stasi stasi yang ada di sekitar Lintongnihuta. Pada tanggal 27 mei 1954 Pastor

bekerjasama dengan suster Reneldis, suster Lidwono Stalenhoof untuk mendirikan

balai pengobatan di Lintongnihuta. Berdirinya balai pengobatan di Lintongnihuta

pada awalnya merupakan bantuan dan kerjasama Kongregasi suster Fransiskan Santa

Lusia (KSFL) yang semula berpusat di Bennebroek dan tahun 1953 dipindahkan ke

Lintongnihuta.

         Perkembangan agama katolik di Tapanuli dan di Lintongnihuta pada

khususnya juga dipengaruhi oleh situasi negara Republik Indonesia yang sudah aman

dari sebelumnya dan pemerintahan telah berfungsi semestinya. Setiap orang asing

harus mendapat izin masuk Indonesia dan memiliki izin untuk menjadi penduduk

Indonesia sehingga missionaris harus menjadi penduduk Indonesia dan harus

memiliki Keterangan Izin Masuk (KIM) atau Surat Keterangan Kependudukan
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
(SKK). Dokumen ini dapat diperoleh, tetapi karena hubungan Indonesia dengan

Belanda masih tegang, maka proses pengurusannya sering dipersulit. Ancaman

bahwa suatu waktu missionaris asing tidak diizinkan lagi masuk Indonesia. Karena

itu, Mgr. Brans mendorong missionaris untuk bersedia menjadi warga Negara

Indonesia demi kelangsungan misi kekatolikan. Surat dari uskup ini mendapat

tanggapan baik dari para missionaris sehingga banyak missionaris menjadi warga

negara Indonesia.

        Dengan adanya SKK sehingga para missionaris lebih aman untuk melanjutkan

misi kekatolikan di Tapanuli khususnya Lintongnihuta. Tahun 1955 Ferrerius Van

den Hurk diangkat menjadi kepala Uskup di Sumatera untuk menggantikan Mgr.

Brans karena sudah lanjut usia. Selama tiga puluh lima tahun Mgr. Brans ikut

membangun penyebaran agama Katolik di Tapanuli dan setelah pension, dia kembali

ke negeri Belanda.



 3.4.4 Perkembangan Agama Katolik Pada Masa Pastor Septimus Kamphof dan

Wynen (1961-1985)

        Perkembangan agama Katolik pada periode ini ditandai dengan bertambahnya

jumlah stasi di Lintongnihuta menjadi 21 stasi. Hal ini dipengaruhi oleh terjadinya G

30 S/PKI pada tahun 1965 di Indonesia sehingga umat Katolik di Tapanuli khususnya

di Lintongnihuta menjadi bertambah. Penumpasan G 30 S/PKI di Tapanuli khususnya

di Lintongnihuta mengakibatkan masyarakat yang menganut kepercayaan sipelebegu

beralih menjadi agama Katolik dan Protestan karena ada anggapan bahwa partai


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Komunis Indonesia adalah orang orang yang tidak mengenal adanya Tuhan dan tidak

menganut suatu agama.

        Salah satu karya terbesar pastor Kamphof dan Wynen di Lintongnihuta adalah

mendirikan koperasi simpan pinjam (Credit Union) Bahenma Na Denggan pada

tahun 1970. Koperasi didirikan untuk membantu Umat Katolik di Lintongnihuta

untuk mendapatkan modal pertanian.

        Perkembangan agama Katolik pada periode ini dipengaruhi oleh partisipasi

pastor di paroki Lintongnihuta dalam pembagian tugas dalam pelayanan umat sampai

ke stasi stasi di Lintongnihuta. Pada masa ini telah ada pastor yang berasal dari

masyarakat Lintongnihuta. Dengan adanya pastor ini semakin terbantulah missionaris

asing untuk meluaskan agama Katolik di Lintongnihuta khususnya dan diwilayah

sekitar pada umumnya.




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                              BAB IV

                 PENGARUH DAN PELAYANAN AGAMA KATOLIK



4.1 Pengaruh dalam Adat Perkawinan.

           Umumnya pada masyarakat Batak Toba, perkawinan merupakan suatu pranata

yang tidak hanya mengikat seorang laki laki dengan seorang wanita, tetapi juga

mengikat dalam suatu hubungan 54. Pihak dari penerima istri disebut dengan paranak,

dan pihak dari pemberi istri disebut parboru. Menurut adat tradisional Batak Toba,

seorang laki laki tidak bebas memilih jodohnya. Perkawinan yang ideal dalam

masyarakat Batak Toba adalah perkawinan antara marpariban yaitu perkawinan

antara seorang anak laki laki dengan anak perempuan dari saudara laki laki ibunya.

Dengan demikian maka seorang laki laki Batak Toba sangat pantang kawin dengan

seorang wanita dari marganya sendiri dan juga dengan anak perempuan dari saudara

perempuan ayah (namboru).

           Perkawinan di tengah masyarakat Batak Toba pada garis besarnya ada dua

bentuk yaitu perkawinan antara sepasang pemuda dan pemudi yang disebut dengan

mangalua, dan yang kedua adalah perkawinan lanjutan atas janda dengan duda yang

disebut dengan mangabia.

           Perkawinan mangoli dapat dilaksanakan dengan dua cara yaitu marunjuk dan

mangalua. Marunjuk adalah bentuk perkawinan melalui syarat syarat meminang




54
     T. M Sihombing, Jambar Hata Dongan Tu Ulaon Adat, Jakarta: CV. Tulus Jaya,1991., hal .30.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
dengan pembayaran sinamot sebagai imbalan ganti rugi atas lepasnya anggota marga

pihak pengantin perempuan masuk kelompok marga pengantin laki laki. Sinamot

diatur urutan yang paling berhak menerima imbalan 55.

        Jika diukur secara materi, sinamot yang harus disediakan oleh calon pengantin

laki laki sungguh berat. Untuk menghindari pembayaran sinamot tersebut, timbullah

bentuk perkawinan mangalua yang lazim disebut dengan kawin lari. Menghindari

pembayaran sinamot dalam cara kawin lari tidak berarti menghapus sama sekali

kewajiban pihak pengantin Laki laki untuk membayar hutang adat. Cara ini dilakukan

hanya memberi peluang bagi pihak pengantin laki laki sampai suatu saat dia sanggup

membayar hutang adat sinamot. Apabila suatu saat pengantin laki laki telah sanggup

untuk membayar hutang adat sinamot maka pelaksanaannya sama dengan

pelaksaanaan perkawinan marunjuk.

        Perkawinan lanjutan terjadi apabila seorang pemuda mengawini janda dari

marganya, dimana keharusan membayar sinamot sudah tidak diperlukan lagi dan ini

disebut Mangabia. Biasanya hal ini terjadi apabila seseorang meninggal dunia dengan

meninggalkan isteri dan anak yang masih kecil kecil dan perlu perlindungan, maka

saudaranya memjadi pengganti posisi sebagai suami. Mangabia dilakukan agar si istri

tersebut tidak kawin kepada orang lain yang berarti hilangnya hak keluarga mantan

suami kepadanya.Dalam masyarakat Batak Toba, setiap tatanan kehidupan

dipengaruhi oleh unsur unsur budaya yang bersifat tradisional. Ajaran-ajaran agama

Kristen tidak sepenuhnya mengatur kehidupan masyarakat dalam kegiatan sehari hari.



        55
             Ismail Manalu, Op-Cit., hal.42.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Demikian juga dalam struktur sosial masyarakat, masyarakat tidak terlepas unsur

dalihan natolu yaitu somba marhula hula, manat mardongan tubu, elek marboru.

Hubungan antara unsur dalam dalihan natolu saling berhubungan antara satu unsur

dengan unsure yang lain. Dalihan Natolu memberikan suatu pengelompokan terhadap

masyarakat maupun keluarga sehingga masyarakat dapat mengetahui kedudukannya

apakah dia sebagai hula hula, dongan tubu, ataupun boru.

        Masyarakat Batak Toba mengenal sistem patrilineal yaitu garis keturunan dari

ayah ataupun laki laki 56. Marga bagi masyarakat Batak Toba merupakan suatu

identitas sekaligus menunjukkan garis keturunan. Demikian juga dalam proses

perkawinan masyarakat Batak Toba, unsur Dalihan Natolu berlaku dalam acara pesta.

Setiap yang datang menghadiri acara pesta mempunyai peran masing masing apakah

dia berkedudukan sebagai hula hula, boru maupun dongan tubu.

        Masyarakat        Batak     Toba       mempunyai pandangan         bahwa Perkawinan

merupakan        suatu    kewajiban.     Perkawinan      dilakukan     dengan      tujuan    untuk

mendapatkan keturunan dalam melanjutkan generasi. Seseorang yang tidak

mempunyai keturunan, maka otomatis garis keturunan/ sislsilah akan hilang. Orang

yang tidak mempunyai keturunan akan merasa sedih karena dianggap suatu aib

keluarga. Anak laki laki dalam masyarakat Batak Toba sangat penting, karena hanya

anak laki laki lah yang dianggap sebagai penerus generasi. Jika keluarga tidak

mempunyai anak laki laki, keluarga tersebut dianggap kurang sempurna. Jika

perkawinan tidak menghasilkan anak laki laki, maka pihak dari si laki laki



        56
             T. M Sihombing, Op-Cit., hal.57
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mendorong si laki-laki untuk kawin lagi (marimbang). Ada anggapan bagi

masyarakat bahwa jika si laki laki tersebut tidak kawin lagi, maka si laki laki akan

kehilangan silsilah ( tarombo ). Biasanya dalam upacara adat Batak Toba, seseorang

yang tidak mempunyai anak laki laki, dia tidak berhak untuk mendapatkan upacara

adat penuh yaitu upacara besar-besaran dalam upacara adat kematian (saur matua ).

        Semarga bagi masyarakat Batak Toba yaitu berasal dari satu darah, satu

daging, dan satu silsilah, dengan demikian perkawinan satu marga dilarang.

Perkawinan satu marga dianggap sebagai penyimpangan terhadap adat sehingga jika

seseorang kawin semarga maka akan dikucilkan dari adat dan masyarakat.

        Sebelum masuknya agama Kristen di Tapanuli, khususnya di Lintongnihuta,

seseorang yang akan melakukan perkawinan selalu berdasarkan petunjuk dari datu

(dukun). Datu mempunyai andil yang besar baik dalam menentukan jodoh maupun

menentukan tanggal perkawinan 57. Jika datu menganggap antara salah satu dari calon

pengantin tidak cocok, maka keluarga akan membatalkan rencana perkawinan.

        Adat yang demikian memang bertentangan dengan ajaran agama Katolik.

Dalam ajaran agama Katolik, hidup berumah tangga tidak boleh lebih dari satu istri/

suami. Perceraian tidak boleh terjadi dalam ajaran Katolik, satu suami untuk satu istri

dan satu istri untuk satu suami selama hidupnya, karena perkawinan merupakan

sesuatu yang suci dan diberkati Tuhan.

        Sesuai dengan ajaran missionaris, adanya kesatuan dalam rumah tangga

karena dipersatukan oleh Tuhan, perceraian tidak diizinkan walaupun tidak


        57
          A. Lumban Tobing, Makna wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, Jakarta: BPK. Gunung
Mulia, 1992., hal .64.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
menghasilkan anak/ keturunan. Pelaksanaan adat juga ditinjau dari sudut pandangan

ini dan harus dilakukan oleh setiap masyarakat Batak Toba yang akan membentuk

maupun yang telah membentuk rumah tangga bagi yang beragama Kristen Katolik

maupun Kristen Protestan.

        Adat yang berlaku ditengah masyarakat Batak Toba sebelum masuk agama

Katolik, sebahagian bertentangan dengan ajaran agama Katolik. Ini menjadi

tantangan bagi missionaris untuk mengubah adat ini agar sesuai dengan ajaran agama

Kristen. Perubahan dapat terlihat dari pengurangan peranan datu dalam menentukan

perkawinan. Sejak agama Kristen masuk dan berkembang, peranan datu ini hilang,

dan digantikan dengan ajaran agama Kristen 58. Sesuai dengan keyakinan para

missionaris bahwa tidak ada yang tidak berubah jika Tuhan menghendaki.

        Sebelum masuknya missionaris di Lintongnihuta adat istiadat perkawinan

yang sah adalah pasu-pasu raja. Pasu pasu raja dilakukan dengan mengumpulkan

pengetua pengetua              adat untuk pemberitahuan kepada raja adat bahwa seorang

pengantin laki-laki dan pengantin perempuan telah membentuk suatu rumah tangga

yang baru. Biasanya acara pasu pasu raja dilakukan pada pagi hari sebelum upacara

adat Batak Toba dilakukan. Setelah selesai acara pasu pasu raja dilakukan, baru acara

adat yang berhubungan dengan adat Batak Toba dilaksanakan.

        Setelah masyarakat menganut agama Katolik, acara pasu-pasu raja

dihapuskan, karena bertentangan dengan ajaran Katolik. Dengan masuknya agama

Katolik di Lintongnihuta,Perkawinan yang sah dalam masyarakat adalah jika kedua



        58
             Ibid., hal .78.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
mempelai telah diberkati digereja (pamasu masuon ni huria). Gereja merupakan

lembaga yang merestui dan meresmikan sah atau tidaknya sebuah perkawinan.

Upacara pemberkatan perkawinan di gereja disesuaikan dengan tata ibadah gereja

Katolik dan kedua pengantin disahkan dan diberkati oleh pastor.

        Ajaran Katolik tentang perkawinan bahwa hanya boleh terjadi sekali saja

antara sepasang suami istri, artinya suami hanya beristeri satu, demikian juga istri

harus satu suami. Suami istri tidak boleh cerai kecuali bila salah satu diantaranya

meninggal dunia. Jika salah seorang di antara suami istri meninggal dunia, maka yang

satunya lagi dapat kawin apabila ada persetujuan gereja dan persetujuan adat. Khusus

untuk perkawinan namarimbang (seorang suami atau istri kawin lagi), dan

perkawinan natarsosak (di luar nikah) gereja tidak merestui perkawinan ini, bahkan

diberikan sanksi dan keluar dari anggota jemaat gereja.

        Setelah acara peresmian perkawinan di gereja, barulah acara yang

berhubungan dengan adat istiadat Batak Toba dilakukan. Agama Katolik tidak

melarang adat istiadat Batak Toba dilaksanakan seperti pembagian Jambar (

pemberian berupa uang atau daging kepada setiap undangan pesta) dan juga

pemberian ulos kepada pengantin.



4.2 Pengaruh dalam Adat Orang Meninggal

        Menurut pandangan masyarakat Lintongnihuta sebelum masuknya agama

Kristen di Lintongnihuta, kematian merupakan perputaran berkala yaitu: kelahiran

dan kematian . perputaran ini pada dasarnya hanya bersifat pengulangan saja. Jika

saatnya sudah tiba dan Debata Mulajadi Nabolon telah memanggil, tak seorang pun
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
dapat menolaknya. Manusia yang hidup di bumi ini hanyalah untuk menjalankan

undangan dan hukum, sampai kelak ajalnya akan datang. Kematian tidak dapat

ditolak jika Debata Mulajadi Nabolon telah memanggil dan ajal akan kembali ke

tempat yang telah digariskan oleh Debata Mulajadi Nabolon.

        Debata Mulajadi Nabolon adalah permulaan dan akhir. Debatalah yang

menentukan awal dan akhir manusia di dunia ini, semua berada dalam kuasanya.

Panggilan debata inilah yang merupakan keyakinan bahwa Debata inilah yang

mengambil nafas kehidupan manusia (meninggal).

        Selain percaya terhadap Debata Mulajadi Nabolon, mereka juga yakin akan

adanya kuasa dalam setiap diri orang Batak. Keyakinan manusia akan adanya kuasa

dalam diri orang ini disebabkan manusia itu terdiri atas jiwa dan roh (tondi). Dalam

hubungan antara manusia dan roh, masyarakat Batak Toba telah mengenal beberapa

konsepsi antara lain yang disebut tondi, sahala dan begu. Dalam pengertiannya

tentang tondi, masyarakat mempunyai asosiasi pikiran dengan roh.

        Masyarakat Batak Toba meyakini bahwa setiap kematian yang dialami oleh

seseorang merupakan kematian jasmaniah, sedangkan rohnya (tondi) akan pergi

melanglang buana menjadi begu. Begu tersebut diyakini suatu saat akan menempati

suatu yang ada di alam dimana dianggap cocok sebagai tempat bersemayam,

misalnya seperti pohon, sungai, gunung, lembah dan lain lain. Masyarakat

mempunyai keyakinan bahwa begu tersebut sangat mempengaruhi kehidupan

manusia, bisa mengarah kepada hal yang baik, dan kadanga mengarah kepada hal hal

yang tidak baik.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
        Keyakinan agama Kristen tidaklah terlalu jauh perbedaannya dengan agama

tradisional Batak Toba. Agama Kristen menyembah Tuhan (allah) sedangkan agama

tradisional Batak Toba menyembah Debata Mulajadi Nabolon. Menurut ajaran

Kristen seluruh yang ada di muka bumi ini baik terhadap yang hidup maupun orang

yang sudah meninggal semuanya di bawah kekuasaan Tuhan. Tidak ada yang paling

berkuasa di muka bumi ini selain Tuhan. Tuhan menjadikan apa saja yang ada di

dunia ini, semua adalah atas perintahnya. Sehingga dalam ajaran Kristen beranggapan

bahwa tondi orang yang telah meninggal tidak mempunyai kekuatan.

        Pada masyarakat Batak Toba di Lintongnihuta, bila seseorang meninggal

maka kerabatnya akan meratapi dengan nyanyian ratapan (andung-andung). Dalam

sastra Batak andung-andung merupakan rangkaian kalimat kalimat yang dinyanyikan

sambil menangis. Andung-andung tersebut berisikan cerita tentang kehidupan yang

meninggal tersebut sewaktu ia masih hidup di dunia ini. Melalui andung-andung

masyarakat Batak Toba menguraikan isi hatinya, kesedihannya dan keresahannya.

Dengan demikian melalui andung-andung yang diutarakan oleh pihak keluarga yang

meninggal dapatlah diketahui bagaimana perangai atau sifat orang yang meninggal

tersebut sewaktu dia masih hidup.

        Melalui tangisan yang dibarengi dengan andung- andung dapat juga

menyadarkan seseorang atau sekelompok masyarakat untuk mengurangi rasa sedih

keluarga. Andung-andung juga mengutarakan keinginan, kemauan dan maksud hari

kepada orang lain, setelah mendengarkan andung-andung dari keluarga yang

ditinggalkan. Dengan demikian peranan andung-andung sangat menonjol di dalam

kebudayaan masyarakat Batak Toba, dan hal ini pun masih dapat diterima oleh agama
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Kristen baik Katolik maupun Protestan. Kebudayaan masyarakat Batak Toba juga

mengatur upacara upacara adat dalam kematian, semakin tinggi tingkat usianya,

semakin banyak keturunannya dan mempunyai harta yang banyak, maka upacara

penguburannya dilakukan dengan upacara besar.

        Ajaran agama Katolik mengarahkan umatnya kepada kepercayaan tentang

adanya kuasa Tuhan, dan jangan mempercayai kepercayaan magis yang dimiliki

masyarakat tradisional yang belum mengenal ajaran agama Kristen. Ajaran yang

menganggap bahwa benda benda memiliki kuasa dan kekuatan dan mempercayai

setiap orang meninggal akan selalu berhubungan dengan orang yang masih hidup

merupakan kepercayaan tradisional yang harus ditinggalkan apabila dia menjadi

seorang penganut agama Katolik.

        Adat istiadat untuk orang meninggal yang dilakukan oleh masyarakat Batak

Toba di Lintongnihuta sesudah masuknya ajaran agama Katolik tidak lagi memakai

pola kepercayaan tradisional sebagaimana nenek moyang mereka dahulu. Upacara

kematian telah disesuaikan dengan ajaran gereja. Kepercayaan akan adanya kuasa

orang mati sebagai dasar untuk melakukan upacara adat penguburan mayat

dihilangkan. Penguburan dilakukan berdasarkan sakramen orang meninggal yang

sesuai dengan ajaran agama katolik 59. Biasanya bila yang meninggal adalah pengetua

gereja, sebelum melakukan upacara penguburan maka mayat terlebih dahulu di bawa

ke gereja dan akan dilakukan upacara kebaktian sesuai dengan ajaran agama Katolik.

        Sebelum ajaran Katolik masuk di daerah Lintongnihuta, upacara penguburan


        59
           Hasil wawancara yang dilakukan kepada Uskup Agung Medan, Mgr. Anicetus Sinaga
tanggal 5 Agustus 2009 pukul 14.00 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
dipegang oleh datu, tetapi setelah masyarakat memeluk agama Katolik, penguburan

dilakukan oleh pengetua gereja atau pastor. Apabila yang meninggal sudah lanjut

usia, maka upacara adat yang dilakukan tidak boleh bertentangan dengan ajaran

agama Katolik. Dalam masyarakat Lintongnihuta penguburan biasanya dilakukan

setelah acara adat Batak Toba selesai dilaksanakan.



4.3 Pelayanan dalam bidang pendidikan

        Pendidikan adalah salah satu jalur masuknya agama Katolik hampir di seluruh

Indonesia. Hal yang sama sejak datangnya missionaris ke wilayah Keuskupan Agung

Medan (KAM). Karya yang pertama masuknya missionaris di Keuskupan Agung

Medan adalah dengan membuka sekolah Gesubsideerde Room Katholieke Europese

Lagere Shool Sint Joseph ( Sekolah Rendah Eropah Roma Katolik Santo Yosef).

Dengan dibukanya sekolah Katolik pertama, pastor dan suster kemudian

mengembangkan pembangunan pendidikan di Keuskupan Agung Medan. Sekolah

sekolah Katolik menjadi wajah gereja Katolik sekaligus menjadi pusat-pusat paroki

sehingga Agama Katolik mempunyai pengaruh di dalam masyarakat.

        Ketika agama Katolik masuk di Lintongnihuta, agama Protestan juga

mengembangkan agamanya di daerah ini. Meskipun pada dasarnya ada perbedaan

perbedaan antara agama Katolik dengan agama Protestan serta ada persaingan dalam

merekrut anggota jemaat, namun kedua agama tersebut sama-sama berusaha

memajukan masyarakat Batak Toba di Lintongnihuta.

        Lintongnihuta jauh mengalami keterbelakangan baik di bidang ekonomi,

sosial budaya, dan pendidikan jika dibandingkan dengan daerah daerah lain yang ada
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
di Indonesia. Salah satu usaha yang dilakukan oleh missionaris Katolik untuk

mengejar ketertinggalan ini adalah dengan memajukan pendidikan kepada

masyarakat dengan mendirikan sekolah sekolah Katolik di Lintongnihuta. Agama

Katolik menyadari bahwa untuk merubah kepercayaan tradisional Batak Toba dan

adat istiadat yang bertentangan dengan ajaran agama Katolik dan untuk mengejar

keterbelakangan dari daerah yang lain haruslah melalui pendidikan, baik pendidikan

formal maupung informal.

        Salah satu keistimewaan sekolah-sekolah Katolik bila dibandingkan dengan

sekolah sekolah lain adalah bahwa dalam sekolah Katolik ditanamkan disiplin yang

kuat. Sekolah Katolik banyak menghasilkan alumni yang beragama Katolik maupun

yang beragama lainnya. Sekolah-sekolah Katolik berhasil melaksanakan tugasnya

sehingga dipercaya dan diminati oleh masyarakat meskipun dengan uang sekolah

yang cukup tinggi.

        Sejak masuknya missionaris di paroki Lintongnihuta, missionaris berusaha

keras untuk mendirikan sekolah-sekolah. Di Paroki Lintongnihuta perkembangan

sekolah sekolah hanya dipusatkan di Lintongnihuta mulai dariTaman Kanak kanak

(TK) sampai tingkat Sekolah Menengah Atas. Sekolah Katolik dapat dilihat sebagai

berikut:

      TAHUN                     TK                     SD                     SMP

       1980                      0                     153                    144

       1981                      0                     172                    169

       1982                     25                     195                    180


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
       1983                     42                     230                    237

       1984                     45                     240                    253

       1985                     49                     277                    282

Sumber: Kantor Paroki Lintongnihuta

         Sebelum perang kemerkdekaan sekolah sekolah rakyat katolik telah dibangun

disetiap setiap paroki di Sumatera. Termasuk daerah Lintongnihuta, sekolah rakyat

yang setingkat dengan kelas I sampai dengan kelas III SD ( Volks School) dan kelas

IV sampai dengan Kelas VI ( Ver Volk School). Setelah perang dunia II Volks School

dan Ver Volk School diganti menjadi Sekolah Dasar. Tahun 1953 Sekolah Dasar

Bintang Kejora dan Sekolah Menengah Pertama Santo Yosef. Sekolah ini hanya

berada di Lintongnihuta tidak sampai ke stasi-stasi di paroki Lintongnihuta. Sekolah

ini hanya berada di Paroki Lintongnihuta dikarenakan berdirinya sekolah sekolah

negeri di desa desa. Tahun 1954 didirikan Sekolah Guru Bawah (SGA), Sekolah

Guru Atas (SGA) dan Sekolah Kepandaian Putri (SKP) danTahun 1958 didirikan

Sekolah Menengah Atas (SMA) Santa Maria.

        Tahun 1977 Sekolah Guru Bawah dan Sekolah Kepandaian Putri digabungkan

menjadi Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Guru Atas digabungkan dengan

Sekolah Menengah Atas. Tahun 1980 SMA Santa Maria Lintongnihuta ke Dolok

Sanggul, hal ini dikarenakan dibukanya SMA Negeri di Lintongnihuta. SD RK

Bintang Kejora dan SMP Santo Yosef dikelola oleh Yayasan Abdi Balige.

        Dalam meningkatkan jumlah siswa siswi untuk bersekolah di SD dan SMP

Katolik di Lintongnihuta, pihak Katolik mendirikan asrama untuk menampung siswa


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
siswi yang berasal dari luar daerah Lintongnihuta. Asrama Katolik Don Bosco

dikelola langsung oleh suster-suster KSFL.

        Selain pendidikan formal yang didirikan oleh missionaris, kegiatan pelayanan

pendidikan keimanan dilakukan oleh missionaris dalam membina umat Katolik di

Lintongnihuta. Pelayanan pendidikan keimanan dilakukan dengan menghimpun

jemaat Katolik dalam penghayatan keimanan diluar kebaktian gereja. Mengingat

bahwa umat Katolik masih tumbuh dalam pendidikan, secara umum umat Katolik

masih lebih sedikit dibanding dengan umat lain terutama umat Protestan, umat

Katolik dikumpulkan dan dibina secara khusus baik dalam bentuk sermon maupun

dalam bentuk pelajaran agama.

        Perkumpulan perkumpulan dibentuk dibawah naungan gereja Katolik seperti

Pembinaan Anak Sekolah Minggu Katolik (ASMIKA), Anak Remaja Katolik

(AREKA), Muda Mudi Katolik (MUDIKA) dan Punguan Ama Katolik (PAK) dan

Punguan Ina Katolik (PIK). Mereka dididik diluar kebaktian gereja berupa doa doa

khusus untuk pendalaman iman masing masing Umat Katolik. Doa doa khusus yang

dilakukan merupakan suatu rangkaian kesatuan yang utuh untuk menjadikan umat

Katolik di Lintongnihuta merasa teduh dalam naungan Roh Kudus 60.

        Dengan aktifnya missionaris agama Katolik yang bertugas di Lintongnihuta,

maka banyak putra-putri Batak Toba yang bersedia menjadi biarawan biarawati

seperti pastor, Frater dan Suster. Untuk menjadi seorang pastor harus bersekolah

dulu di sekolah seminari yang merupakan sekolah calon imam. Seseorang dapat



        60
             Hasil wawancara dengan pastor Levi Pakpahan tanggal 25 Juli 2009 pukul 10.00 Wib.
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
menjadi pastor apabila telah menyelesaikan pendidikannya dalam tiga tingkatan

seminari yaitu:

Siswa yang diterima dari tamatan SMP

a. Seminari menengah dengan lama pendidikan lima tahun

             •    Satu Tahun percobaan (Probatorium)

             •    Tiga tahun SMA

             •    Satu tahun persiapan ke Seminari Tinggi ( Rhetorika)

b. Seminari Tinggi I (Empat tahun)

             •    Satu tahun novisiat

             •    Dua tahun filsafat sambil berkaul kekal

             •    Satu tahun praktek kerasulan

 c. Seminari Tinggi II (Empat tahun)

             •    Tingkat I Theologia

             •    Tingkat II Theologia, setelah tingkat II in maka berkaul kekal

             •    Tingkat III Tahbisan Diakon, telah dapat memberi sakramen akan

                  tetapi belum sah sebagai pastor

             •    Tingkat IV persiapan tahbisan Imamat sekaligus penerimaan tugas

                  sebagai pastor.

        Orang Batak Toba yang pertama menjadi pastor adalah pastor A.G. Pius

Datubara yang ditahbiskan tahun 1964 dan pernah menjabat sebagai Uskup di

Keuskupan Agung Medan pada tahun 1976-2008. Sedangkan dari Lintongnihuta

yang sudah berhasil menjadi pastor adalah pastor Ambrosius Sihombing yang

Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
ditahbiskan tahun 1969 dan pastor Redemptus Simamora yang ditahbiskan tahun

1981.

        Dalam penyerahan diri menjadi biarawan dan biarawati sebagai pastor, masih

banyak putera-puteri Batak Toba yang juga menjadi frater dan suster yang berperan

untuk mendarmabaktikan dirinya menjadi penyokong tegaknya ajaran Katolik.

Mereka menyerahkan seluruh aktifitas hidupnya demi kejayaan umat dan gereja.

Biarawan lain seperti frater ikut menyokong lajunya perkembangan agama Katolik di

Lintongnihuta. Frater menitik beratkan kegiatan pada bidang pendidikan untuk

kawasan Tapanuli Utara di Soposurung Balige. Dari daerah Lintongnihuta yang

sudah menjadi frater antara lain: Frater Ingot Sihombing, Frater Sabat Sihombing,

dan frater Ramlan Simanullang.

        Di paroki Lintongnihuta terdapat susteran demi memperlancar kegiatan paroki

tersebut. Suster-suster di Lintongnihuta merupakan kongregasi suster Fransiskanes

Santa Lusia (KSFL). Kongregasi suster ini berasal dari Bennebroek dan membuka

pelayanan di medan tanggal 16 Juli 1948. dan tanggal 27 Mei 1954, pusat kongregasi

susteran KSFL ini dipindahkan di Lintongnihuta. Demikian juga sekolah susteran

yang berada di Bukit Tinggi ikut serta dipindahkan ke Lintongnihuta. Kongregasi dari

suster KSFL lebih dikenal dengan julukan suster-suster Lintongnihuta. Suster

bergerak aktif melayani umat Katolik dan masyarakat melalui aktifitas social

terutama dalam layanan pendidikan dan kesehatan. Suster Batak Toba yang pertama

dari Lintongnihuta adalah suster Bernarda Sianturi, suster Imeldina Lumbangaol dan

suster Ludovika Hutauruk.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                             BAB V

                               KESIMPULAN DAN SARAN



5.1 Kesimpulan

        Masyarakat Lintongnihuta pada mulanya menganut kepercayaan tradisional

yaitu kepercayaan animisme dan dinamisme serta kepercayaan kepada Debata

Mulajadi Nabolon. Namun setelah agama Katolik masuk di daerah ini, kepercayaan

tradisional yang mereka anut semakin lama semakin hilang karena sudah banyak

yang beralih menjadi pemeluk agama Kristen Katolik.

        Perkembangan agama katolik di Lintongnihuta tidak terlepas dari usaha yang

dilakukan oleh missionaris dalam melakukan pendekatan terhadap masyarakat.

Pendekatan yang dilakukan oleh missionaris baik pendekatan holistik maupun

pendekatan budaya sebagai salah satu penarik minat masyarakat untuk masuk

menjadi agama Katolik. Pendekatan holistik yang dilakukan oleh missionaris seperti

mendirikan sekolah sekolah rakyat, mendirikan balai pengobatan serta membantu

masyarakat dalam bidang perekonomian, sedangkan pendekatan budaya yang

dilakukan oleh missionaris dengan memasukkan kebudayaan masyarakat batak toba

dalam upacara resmi gereja seperti pemakaian ulos dan gondang. Disamping

pendekatan yang dilakukan oleh missionaris,                    missionaris juga melakukan

propagandis terhadap agama katolik yaitu dengan melakukan penyebaran agama

Katolik sampai ke pelosok-pelosok di Lintongnihuta.

        Munculnya tantangan yang dihadapi oleh missionaris dalam menyebarkan

agama Katolik baik yang datang dari pihak Belanda, zending Jerman, dan dari
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
masyarakat Lintongnihuta sendiri. Dengan dibukanya sekolah-sekolah rakyat dan

balai pengobatan di Lintongnihuta mengakibatkan semakin berkembangnya agama

Katolik di Lintongnihuta, maka Lintongnihuta merupakan pusat pendidikan dan

kesehatan.



5.2 Saran

        Penulisan ini masih sangat jauh dari hasil yang sempurna seperti yang

diharapkan oleh banyak pihak. Oleh sebab itu, penulis memberikan saran-saran untuk

penulisan selanjutnya yang lebih baik mengenai perkembangan agama Kristen di

Lintongnihuta maupun di daerah yang lain. Adapun saran-saran tersebut adalah:

1.   Perlunya penambahan/perbanyakan literatur mengenai perkembangan agama

     Kristen sebagai pedoman dalam sebuah penelitian. Sulitnya untuk mendapatkan

     literatur dan data tertulis menjadi tantangan dalam penelitian selanjutnya.

2.   Pemerintah       daerah     setempat      maupun       gereja-gereja      setempat       perlu

     memperhatikan pentingnya penyimpanan data-data yang lengkap mengenai

     perkembangan gereja agar kelak dapat dipergunakan sebagai bahan acuan dalam

     penelitian selanjutnya.




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                         DAFTAR PUSTAKA


Abdullah, Taufik, Sejarah Lokal Di Indonesia, Yogyakarta: Gajah Mada University
       Press, 1996.

Arnolus, Sejarah Gereja Katolik Indonesia, Jakarta: Taman Cut Mutiah IO, 2994.

Datubara, AGP, Omnibus Omnia, Medan: Bina Media Perintis, 2008.

Gottschalk, Louis, understanding History, Mengerti Sejarah, (Terj.) Nugroho
       Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1992.

Gultom, DJ, Raja Marpodang, Dalihan Natolu Nilai Budaya Suku Batak, Medan: CV.
      Amanda, 1996.
Harahap, Hamidi, Orientasi Nilai- nilai Budaya Batak, Jakarta: Sanggar Willem
      Iskandar, 1987.

Harjana, A.M, Penghayatan Agama : yang Otentik dan tidak Otentik, Jakarta,
       BPK.Gunung Mulia. 1993

Hombrighousen, E.G, Pendidikan agama Kristen, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1996.

Hutagalung, W.M, Pustaha Batak, Jakarta: Tulus Jaya, 1987.

Hutauruk, M, Sejarah Ringkas Tapanuli, Jakarta: Erlangga, 1987.

Kartodirjo, Sartono, Pendekatan Ilmu Dalam Metodologi Sejarah, Jakarta: PT.
       Gramedia Pustaka Utama, 1992.

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta: Gramedia
       Pustaka Utama, 1985.

----------------------, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Rineka Cipta, 1990.

Kuntowijoyo, Pengantar llmu Sejarah, Yogyakarta: PT. Benteng Pustaka, 2005.

Kurris, R, Pelangi Di Bukit Barisan, Jakarta: Kanisius, 2006.

Lumban Tobing, Makna Wibawa Jabatan Dalam Gereja Batak, Jakarta: BPK.
     Gunung Mulia, 1992.

Manalu, Ismail, Mengenal Batak, Medan: CV. Kiara, 1985.


Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
Nottingham, Elizabet, Agama dan Masyarakat Suatu Pengantar Sosiologi Agama,
       Jakarta, PT. Raja Grafindo Pustaka Persada, 1994.

O, Dea, Thomas. F, Sosiologi Agama, Jakarta: PT. Rajawali, 1987.

Piet, Go, Kawin Campur Beda Agama Dan Beda Gereja, Malang: dioma, 1987.

Schreiner, Lothar, Adat dan Injil: Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah
       Batak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003.

Simaremare, M, Mengenal Kebudayaan Batak Dalihan Na Tolu, Yogyakarta: Gajah
      Mada University Press, 1976.

Sihombing, T. M, Jambar Hata Dongan Tu Ulaon Adat, Jakarta: Tulus Jaya, 1991.

----------------------, Filsafat Batak, Jakarta: Balai Pustaka, 2000.

Sinaga, Richard, Adat Budaya Batak dan Kekristenan, Jakarta: Dian Utama, 2000.

Situmorang, Sitor, Toba Na Sae, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1993.

Theeuwes, Crispinianus, Cita Dan Cerita Kapusin, Medan: Bina Media Perintis,
      1990.




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
                                   DAFTAR INFORMAN

1. Nama          : Maruhum Sihombing

  Usia           : 56 tahun

  Alamat         : Desa Pasar Baru Lintongnihuta

  Jabatan        : Camat Lintongnihuta

2. Nama          : Nelson Siregar

  Usia           : 60 tahun

  Alamat         : Desa Pearung

  Jabatan        : Petani

3. Nama          : Maringan Sihombing

  Usia           : 51 tahun

  Alamat         : Desa Tapian Nauli

  Jabatan        : Petani

4. Nama          : Kaliaman Sihombing

  Usia           : 62 Tahun

  Alamat         : Desa Tapian Nauli

  Jabatan        : Mantan Vorhanger St. Koendrad Lintongnihuta

5. Nama          : Humusor Sihombing

  Usia           : 58 Tahun

  Alamat         : Desa Pasar Baru

  Jabatan        : Ketua Dewan Paroki Lintongnihuta

6. Nama          : Pastor Levi Pakpahan

  Usia           : 48 Tahun
Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
  Alamat         : Dolok Sanggul

  Jabatan        : Pastor Paroki Lintongnihuta

7. Nama          : Pinantun Sinaga

  Usia           : 49 Tahun

  Alamat         : Desa Pargaulan

  Jabatan        : Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat kecamatan Lintongnihuta

8. Nama          : Ramidin Sirait

  Usia           : tahun

  Alamat         : Desa Pasar Baru

  Jabatan        : Ketua dewan Stasi Lintongnihuta

9. Nama          : Suster Bernalda Sianturi

  Usia           : 63 Tahun

  Alamat         : Jln. Bali Pematang Siantar

  Jabatan        : Suster Kepala KSFL

10. Nama         : Mgr. Anicetus Sinaga

  Usia           : 61 Tahun

  Alamat         : Jln. Imam Bonjol No. 21 Medan

  Jabatan        : Uskup Agung Medan




Antonius P. Manalu : Perkembangan Agama Katolik Dan Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Di Lintongnihuta
(1937 – 1985), 2010.
LAMPIRAN




   78

				
DOCUMENT INFO
Description: akulturasi-budaya-sebagai-sarana-mempersatukan-budaya-bangsa pdf