SEBAIKNYA TIDAK USAH TAHU

Document Sample
SEBAIKNYA TIDAK USAH TAHU Powered By Docstoc
					SEBAIKNYA TIDAK USAH TAHU
Oleh: Jum’an

Secara kebetulan saya mendengar dari luar ruangan seorang sedang berkata
kepada entah siapa: “Mengambil air wudu saja basahnya tidak sampai kesiku
dan solatnya secepat kilat. Saya tidak respek dan saya tidak mau kalau dia yang
jadi pimpinan.” Ternyata dia seorang yang saya kenal. Dalam lingkungannya dia
dikenal alim dan teguh pendirian. Tetapi menolak dipimpin oleh orang sikunya
masih kering sesudah berwudu, baru kali ini saya dengar dari mulutnya.

Artinya dia melihat siku kering bukan sekedar kurang rata membasahinya, tetapi
sebagai bukti kecerobohan dan pelecehan terhadap syarat rukun beribadah.
Demikian pula solat yang terlalu tergesa-gesa. Bukan tidak ada waktu tetapi
tanda dan bukti kurang beriman. Kalau kepada penciptanya saja dia cuek dan
tidak peduli seperti itu bagaimana kita mau mentaatinya sebagai pemimpin.
Mungkin saya salah menafsirkan tetapi apa lagi kalau tidak begitu pikirannya,
entah baik entah buruk.

Saya berkhayal mencolokkan sebuah USB kedalam otaknya untuk mendownload
dan melihat isi pikirannya. Ternyata memang beda sekali dengan file-file dalam
otak saya. Dalam folder agama, boleh dikatakan hanya syahadatnya saja yang
sama. Meskipun bacaan solat juga sama tetapi konsentrasi dan durasinya dua
kali lebih dari bacaan saya. Artinya dia tidak akan respek kepada saya dan tidak
akan mau juga dia makmum kepada saya.

Mungkin pernah orang disebelah anda nyeletuk ”Hebat sekali ceramah ustadz ini.
Tetapi anaknya sendiri narkoba”, sementara anda sedang terkagum-kagum dan
terpesona menyimak ceramah dai terkenal itu. Mungkin saja dai itu sudah
berusaha dengan segala kemampuan dan gagal menyelamatkan anaknya dari
jurang narkoba, tetapi jangan salahkan orang yang nyeletuk disebelah anda tadi.
Menurut dia mana mungkin dan betapa sia-sianya seorang yang tidak mampu
mendidik dan menyelamatkan anaknya sendiri, berdakwah amar ma’ruf nahi
munkar kepada orang banyak.

Tetapi mungkin memang dilema. Semua dai mempunyai cacat, semua pimpinan
menyimpan kelemahan. Anak yang nyabu, siku yang kering, solat yang express
atau istri yang serakah. Biarkan saja sebagai reminder dan alarm agar mereka
tidak kebablasan dalam berceramah dan memerintah. Sementara kita, sebaiknya
tidak usah banyak tahu tentang detil pribadi mereka. Bahkan jangan dekat-
dekat. Karena semakin dekat kita semakin tahu cacat mereka, semakin tidak
respek, enggan mendengarkan pengajian dan malas mambayar pajak.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: pemimpin
Stats:
views:9
posted:5/5/2010
language:Indonesian
pages:1
Description: TENTANG CACAT DAI DAN PEMIMPIN