perumusan masalah by ndoks79

VIEWS: 3,966 PAGES: 27

									                                                                               1




                                     BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang Masalah

          Data The Trends in Internasional Mathematics and Sciense Study

(TIMSS) menyebutkan siswa Indonesia hanya mampu menjawab konsep

dasar atau hapalan dan tidak mampu menjawab soal yang memerlukan

nalar dan analisis, untuk bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pada

Tahun 1999 indonesia menempati peringkat 32 dari 38 negara, Tahun

2003 indonesia menempati peringkat              36 dari 45 negara, sedangkan

Tahun 2007 indonesia menempati peringkat 41 dari 48 negara.

Rendahnya hasil TIMSS ini tidak terlepas dari proses pembelajaran yang

dilaksanakan di sekolah - sekolah.

          Berdasarkan    kurikulum   tingkat     satuan    pendidikan   (KTSP),

pembelajaran fisika bertujuan untuk mengembangkan kemampuan

berpikir analisis induktif dan deduktif dengan menggunakan konsep dan

prinsip     fisika   untuk   menjelaskan       berbagai   peristiwa   alam   dan

menyelesaian masalah baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Dalam

proses belajar mengajar pembelajaran fisika dituntut agar siswa dapat

berpikir secara induktif dan deduktif sehingga siswa dapat memahami

konsep, fakta dan hukum – hukum serta penerapan konsep saling

berkaitan antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya.




                                           1
                                                                        2




      Proses pembelajaran tidak terlepas dari peran guru. Tetapi Guru

hanya peran sebagai fasilitator dan bukan satu satunya sumber informasi

bagi siswa. Sebaliknya siswa sebagai subyek proses pembelajaran diberi

keleluasaan yang sangat luas untuk menentukan capaian kompetensi

yang harus ia raih. Siswa juga yang harus lebih aktif menyampaikan ide,

mencari solusi atas masalah yang dihadapi dan menentukan langkah-

langkah berikutnya sehingga pengetahuan itu dapat bermakna dalam

kehidupan sehari-hari.

      Pada    kenyataannya,   dalam   proses   belajar   mengajar,   guru

mengajarkan konsep melalui kegiatan yang kurang berpusat pada siswa.

Siswa tidak dilibatkan secara aktif sehingga kurang memberikan

kesempatan untuk mengembangkan proses berpikirnya. Hal tersebut juga

merupakan salah satu yang menyebabkan isi pembelajaran fisika

dianggap sebagai hapalan, siswa dapat menyatakan konsep diluar kepala

tetapi tidak mampu memaknai maknanya. Siswa yang belajarnya hapalan

tingkat kebermaknaannya akan relatif rendah (Dahar, 1988:111).

      Salah satu penyebab proses belajar mengajar saat ini sehingga

tidak sesuai dengan tuntutan dalam KTSP dikarenakan tidak tersedianya

bahan ajar yang memenuhi standar yang diinginkan KTSP. Berdasarkan

data observasi awal kepada 25 siswa SMAN 4 Jakarta, 75 % menyatakan

dalam pembelajaran fisika mengunakan bahan ajar Lembar Kerja Siswa

(LKS), dan 50 % siswa menyatakan penjelasan yang ada pada LKS

membuat siswa sulit memahami pelajaran fisika. Karena LKS yang ada di
                                                                        3




pasaran cendrung hanya pertanyaan – pertanyaan hapalan dan tidak ada

keterkaitan konsep satu dengan konsep yang lainnya.

      Dalam hal ini, Guru memiliki posisi kunci untuk mewujudkan

pembelajaran yang sesuai harapan. Guru yang professional adalah guru

yang memiliki kemampuan dan kesempatan untuk merencanakan dan

memutuskan apa yang terbaik bagi siswa. Hal ini memungkinkan guru

memilih bahan dan mengunakan bahan ajar yang sesuai. Bahan ajar pada

umumnya berisis seperangkat materi yang tersusun secara sistematis

sehingga dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran. Lembar kerja

siswa (LKS) merupakan salah satu bahan ajar tertulis yang dapat

digunakan disekolah sebagai panduan belajar. LKS dapat digunakan

untuk mengukur kemampuan siswa/nilai hasil proses belajar siswa baik

dari aspek kognitif, psikomotorik maupun aspek afektif.

      Salah satu rumpun model pemrosesan informasi adalah advance

organizer yang memiliki karakteristik interaktif, pengunaan contoh-contoh,

penyajian materi secara deduktif dan berurutan serta pengkaitan informasi

baru dengan konsep yang ada pada struktur kognitif siswa. Model

pembelajaran advance organizer dirancang untuk mengembangkan

kemampuan mengolah informasi dalam kapasitas untuk membentuk dan

menghubungkan dengan pengetahuan baru pada struktur kognitif yang

telah ada serta rasa ketertarikan untuk menyelidiki lebih lanjut dan

membiasakan siswa untuk berfikir secara cepat dan belajar bermakna.
                                                                     4




      Hal inilah yang mendasari peneliti untuk mengkaji pengembangan

LKS pembelajaran fisika berdasarkan model pembelajaran advance

organizer. Pengunaan LKS berdasarkan model pembelajaran advance

organizer ini akan memberikan kesempatan siswa untuk melakukan setiap

langkah yang ada dalam proses belajar bermakna.

      Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk mengadakan

penelitian tentang “pengembagan lembar kerja siswa berdasarkan model

pembelajaran advance organizer”



B. Identitas Masalah

      Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas,

maka dapat ditentukan identifikasi masalahnya, yaitu:

   1. Bagaimana cara melibatkan siswa secara aktif dalam proses

      pembelajaran?

   2. Perangkat pembelajaran mana yang dibutuhkan?

   3. Apakah pengunaan LKS berdasarkan model pembelajaran advance

      organizer dapat memberikan pembelajaran bermakna?

   4. Sejauh mana LKS berdasarkan model pembelajaran advance

      organizer menunjang keberhasilan siswa dalam belajar fisika?

   5. Bagaimana pengembangan LKS berdasarkan model pembelajaran

      advance organizer?
                                                                        5




   6. Apakah lembar kerja siswa (LKS) berdasarkan model pembelajaran

      advance organizer dapat memberikan solusi terhadap permasalah

      pembelajaran?



C. Batasan Masalah

      Penelitian ini dibatasi pada “Pengembangan LKS pembelajaran

fisika berdasarkan model pembelajaran advance organizer”.



D. Rumusan Masalah

      Berdasarkan latar belakang masalah, identifikasi masalah dan

pembatasan masalah yang telah diuraikan di atas,maka perumusan

masalah dalam penelitian ini yaitu: “Apakah lembar kerja siswa (LKS)

berdasarkan model pembelajaran advance organizer dapat memberikan

solusi terhadap permasalah pembelajaran?”



E. Tujuan Penelitian

      Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengembangkan LKS

pembelajaran fisika berdasarkan model pembelajaran advance organizer.



F. Manfaat Penelitian

      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat diantaranya

adalah:
                                                                   6




1. Memberikan    bahan   masukan       bahwa   pengembangan     LKS

  berdasarkan    model   pembelajaran    advance   organizer   dapat

  meningkatkan kualitas pembelajaran fisika siswa SMA.

2. Memberikan    informasi   tentang    pengaruh   pengunaan    LKS

  berdasarkan   model    pembelajaran    advance   organizer   dalam

  pembelajran fisika.
                                                                       7




                                BAB II

                         KAJIAN TEORITIS



A. Lembar Kerja Siswa (LKS)

      Menurut Agung (2006:11) Lembar Kerja Siswa (LKS) adalah

lembaran yang memuat bahan pelajaran yang harus dikuasai dan disusun

langkah demi langkah secara teratur dan sistematis sehingga siswa dapat

mengikuti dengan mudah. Sedangkan menurut KTSP (2007) Lembar kerja

siswa (LKS) adalah lembaran – lembaran yang berisi tugas yang harus

dikerjakan oleh siswa.

      Pengunaan LKS harus di dukung oleh pengunaan buku paket atau

buku referensi lain sehingga memungkinkan siswa belajar sendiri dan guru

hanya berfungsi sebagai fasilitator yang bertugas memfasilitasi siswa

dalam mengerjakan LKS yaitu membimbing dan pengawasan selama

siswa mengerjakan LKS di sekolah. Didalam LKS berisi ringkasan materi,

petunjuk dan langkah – langkah untuk menyelesaikan suatu tugas yang

bersumber dari bahan yang telah dijelaskan oleh guru atau dipelajari oleh

siswa. Materi yang disajikan di LKS biasanya hanya berbentuk ringkasan

hal ini di karenakan agar siswa dapat menyerap inti pokok dari suatu

materi.

      Tugas atau soal yang di berikan kepada siswa biasanya disajikan

dalam bentuk soal – soal pilihan ganda atau essay meliputi pertanyaan,

ingatan atau pikiran, Membuat atau mencari contoh – contoh dari setiap


                                     7
                                                                       8




konsep yang dipelajari, uraian tentang konsep yang telah dipelajari,

membuat rangkuman dari bahan serta percobaan – percobaan sederhana

yang berhubungan dengan materi pokok. Di dalam percobaan tersebut

terdapat langkah – langkah kerja yang membantu siswa untuk melakukan

percobaan tersebut.

      Menurut Curn dan Sund (Agung, 2006:11), Lembar Kerja Siswa

(LKS) juga mengandung pengertian yang meliputi beberapa aspek dalam

kegiatan belajar mengajar, seperti dibawah ini :

   1. Rangkaian tugas individu, perorang atau kelompok

   2. Pencapaian materi secara sistematis

   3. Alat untuk menekankan solidaritas anak

   4. Alat   untuk    mengetahui   sampai    dimana   kemampuan     anak

      memdiskusikan materi

   5. Sarana untuk menanamkan konsep

      Berdasarkan pengertian lembar kerja siswa di atas, dapat dipahami

jika banyak guru yang mengunakan LKS sebagai sarana pembelajaran

karena   sangat      membantu   dalam    menunjang    pencapaian   tujuan

pembelajaran.

      Adapun tujuan pengunaan Lembar Kerja Siswa (LKS) menurut Tim

Bakti Guru (Agung, 2006:12) adalah untuk melatih siswa agar :

   1. Lebih mendalami ilmu yang telah mereka pelajari agar tercipta

      dasar pengetahuan yang lebih baik untuk belajar pada tahap

      berikutnya
                                                                        9




   2. Melatih siswa bekerja sungguh sungguh dan cermat serta berpikir

       jujur, sistematis dan rasional dalam system kerja yang praktis

   3. Melatih para siswa membuat laporan hasil praktek percobaan yang

       telah dipraktekkan

       Pengunaan LKS dimaksudkan untuk membimbing guru dan siswa

untuk mengadakan percobaan. Namun, karena keterbatasan waktu

sebagian besar guru belum mampu membuat LKS sedangkan LKS yang

berada dipasaran cendrung membimbing anak untuk merakit dari pada

meneliti.

       Menurut KTSP (2007), dalam menyiapkan LKS dapat dilakukan

dengan langkah-langkah sebagai berikut:

   1. Melakukan analisis kurikulum; SK, KD, indikator dan

       materi pembelajaran.

   2. Menyusun peta kebutuhan LKS

   3. Menentukan judul LKS

   4. Menulis LKS

   5. Menentukan alat penilaian

       Sedangkan struktur LKS secara umum adalah sebagai berikut:

   1. Judul, mata pelajaran, semester, tempat

   2. Petunjuk belajar

   3. Kompetensi yang akan dicapai

   4. Indikator

   5. Informasi pendukung
                                                                      10




   6. Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja

   7. Penilaian

      Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dikembangkan dalam penelitian ini

mengacu pada pedapat Agung (2006:11) yaitu Lembar Kerja Siswa (LKS)

adalah lembaran yang memuat bahan pelajaran yang harus dikuasai dan

disusun langkah demi langkah secara teratur dan sistematis sehingga

siswa dapat mengikuti dengan mudah. Lembar kerja siswa tersebut berisi

tugas – tugas yang harus dikerjakan dan pedoman observasi atau praktek

yang dapat membimbing siswa mengerjakan suatu kegiatan, sedangkan

struktur LKS yang dikembangkan mengacu pada struktur umum LKS

menurut KTSP yaitu berisi Judul, mata pelajaran, semester, tempat,

Petunjuk belajar, Kompetensi yang akan dicapai, Indikator, Informasi

pendukung, Tugas-tugas dan langkah-langkah kerja, serta Penilaian.



B. Advance Organizer

      Model pembelajaran diartikan sebagai suatu rencana mengajar

yang memperhatikan pola pembelajaran tertentu di kelas. Model

pembelajaran sesungguhnya disusun untuk mengarah belajar di mana

guru membantu siswa untuk memperoleh informasi, ide, keterampilan,

nilai, cara berpikir dan mengekspesikan dirinya. (Joyce, 1992:181).

      Mengingat banyaknya model mengajar yang telah dikembangkan,

Joyce mengelompokkan menjadi empat rumpun yaitu: model pemrosesan

informasi (processing information model), model pribadi (personal model),
                                                                     11




model interaksi sosial (social model), dan model perilaku (behavior

model).. Dari ke-4 rumpun pembelajaran ini hanya rumpun model

pemrosesan informasi yang efektif dalam pembelajaran IPA. Model

pemrosesan informasi terdiri atas model mengajar yang menjelaskan

bagaimana cara individu memberi respon terhadap stimulus yang datang

dari lingkungan. Dalam prosesnya ditempuh langkah-langkah seperti

mengorganisasi data, memformulasikan masalah, membangun konsep

dan rencana pemecahan masalah, serta penggunaan symbol verbal dan

non verbal. Selain itu, yang tergolong pada model ini adalah model

mengajar yang lebih menekankan pada kecakapan intelektual umum dan

interaksi social dan hubungan      antar pribadi serta perkembangan

kepribadian siswa yang terintegrasi dan fungsional. Dengan demikin

model pemrosesan informasi sangat tepat dalam pembelajaran IPA

khususnya fisika karena dalam pembelajaran fisika menuntut untuk dapat

berfikir agar dapat memahami konsep, fakta dan hukum-hukum serta

dapat menerapkan konsep itu untuk menghasilkan karya teknologi

sederhana yang berkaitan dengan kebutuhan manusia. Dalam rumpun ini

terdapat model pembelajaran concept attainment, inductive thinking,

inquiry training, memory model, advance organizer (Wowo, 2005 : 5)

      Dari ke-5 model yang termasuk rumpun pemrosesan informasi

diatas penulis coba memfokuskan penelitian ini pada model pembelajaran

advance organizer. Advance organizer adalah sebuah konsep yang

dikembangkan dan secara sistematis dipelajari oleh David Ausubel pada
                                                                       12




tahun 1980 dan sangat dipengaruhi oleh pengajaran Piaget. Model

advance organizer merupakan suatu model pengolahan informasi secara

deduktif yang dirancang untuk mengajar beberapa bagian secara

berhubungan.

      Dalam menerapkan model pembelajaran advance organizer dalam

suatu pengajaran ada dua prinsip yang perlu diperhatikan, yaitu :

   1. Progressive differentiation yaitu suatu proses menguraikan masalah

      pokok menjadi bagian – bagian yang lebih rinci dan khusus. Jadi

      guru mengajarkan konsep-konsep yang paling inklusif dahulu,

      kemudian konsep – konsep yang kurang inklusif, dan setelah itu

      baru mengajarkan hal-hal yang khusus, seperti contoh-contoh

      setiap konsep.

   2. Integrative Reconciliation secara sederhana memiliki arti bahwa

      gagasan baru harus secara sadar dihubungkan dengan isi

      pembelajaran     sebelumnya.     Kadang-kadang      seorang   siswa

      dihadapakan pada suatu kenyataan yang disebut pertentangan

      kognitif. Hal ini terjadi bila dua atau lebih nama konsep digunakan

      untuk menyatakan konsep yang sama atau bila nama yang sama

      diterapkan pada lebih dari satu konsep. Untuk mengatasi atau

      mengurangi pertentangan kognitif ini sedapat mungkin Ausubel

      menyarankan prinsip Integrative Reconciliation (Dahar R.W,

      1988:145-148).
                                                                    13




      Terdapat dua bentuk advance organizer yaitu ekspository organizer

dan comparative organizer. Ekspository Teaching yaitu pengajaran yang

sistematis dengan penyampaian informasi yang bermakna. Ekspository

digunakan jika akan menjelaskan suatu gagasan umum yang memiliki

bagian yang saling berhubungan. Ekspository organizer sangat membantu

dalam menyusun pemahaman konsep terhadap materi baru. Sedangkan

Comparative organizer dirancang untuk mengintegrasikan konsep baru

dengan konsep lama yang telah dimiliki oleh siswa. Dalam struktur

kognitifnya dengan tujuan mempertajam dan memperluas pemahaman

konsepnya. Disini tampak posisi advance organizer merupakan suatu

strategi untuk menjembatani apa yang telah diketahui siswa dan

bagaimana mentransfer pengetahuan yang telah dimilikinya pada suatu

situasi baru (Joyce, 1980:82-83).

      Model advance organizer menekankan pada apsek pengelolaan

(organizer) yang memiliki pengaruh utama terhadap belajar. Konsep

tersebut dimaksudkan untuk penyiapan struktur kognitif dan menambah

daya ingat informasi baru serta digunakan untuk memudahkan pengkaitan

pengetahuan baru dengan konsep yang telah ada pada struktur kognitif

siswa sehingga terjadi belajar bermakna.

      Menurut Ausubel belajar haruslah bermakna, dimana materi yang

dipelajari diasimilasikan secara non-arbitrari dan berhubungan dengan

pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Menurut Reilly & Lewis
                                                                    14




(Wowo, 2005:8) ada dua persyaratan untuk membuat materi pelajaran

bermakna yaitu :

    1. Pilih materi yang secara potensial bermakna lalu diatur sesuai

       dengan tingkat perkembangan dan pengetahuan masa lalu

    2. Diberikan dalam situasi belajar yang bermakna

       Dalam pembelajaran model advance organizer ini memiliki

beberapa keunggulan yang berupa dampak pengajran langsung maupun

dampak iringan yang diperlihatkan dalam gambar berikut :

                                           Struktur Konseptual
        Model
       Advance
       Organizer
                                           Asmilasi bermakna dari
                                           informasi dan ide
s



Memilki prilaku berpikir
secara tepat                 Minat dalam inquiri


Keterangan :

                   Instructional / dampak langsung

                   Nurturant / dampak iringan

Instructional atau dampak langsung akan memperkuat struktur konseptual

anak dan memberikan proses pada konsep asimilasi. Nurturant atau

dampak iringan yaitu berupa rasa ketertarikan untuk menyelidiki lebih

lanjut dan membiasakan siswa untuk berpikir secara tepat.
                                                                             15




        Dalam penerapan Model pembelajaran advance organizer dalam

proses belajar mengajar, menurut Ausubel memiliki tiga langkah aktivitas

yaitu   penyajian   advance     organizer, penyajian    tugas atau materi

pembelajaran dan penguatan struktur kognitif siswa.

   1. Penyajian advance organizer

        Pada fase ini siswa diarahkan kepada materi yang akan mereka

        pelajari dan mengingat kembali informasi yang berhubungan yang

        dapat digunakan dalam membantu menanamkan pengetahuan

        baru.   Dalam   fase     ini    dikembangkan   tiga   aktivitas    yaitu

        mengklarifikasikan tujuan pembelajaran, menyajikan organizer dan

        menghubungkan organizer dengan pengetahuan siswa.

   2. Penyajian Tugas atau Materi Pembelajaran

        Dalam fase kedua ini dikembangkan dalam bentuk diskusi,

        ekspositori, siswa memperhatikan gambar-gambar, melakukan

        percobaan atau membaca teks yang masing-masing harus

        diarahkan    pada      tujuan    pengajaran    (mempelajari       materi

        pembelajaran), dalam fase ini dikembangkan tiga aktivitas yaitu

        membuat organisasi dari materi baru secara eksplisit, membuat

        pesan logis dari materi yang dipelajari secara eksplisit, menyajikan

        materi dan melibatkan siswa dalam aktivitas belajar bermakna.

   3. Penguatan Struktur Kognitif

        Fase ini bertujuan untuk melabuhkan materi baru kepada struktur

        kognitif siswa yang telah ada. Dalam fase ini dikembangkan dua
                                                                     16




      aktivitas, yaitu menghungkan informasi baru dengan advance

      organizer dan belajar aktif (Joyce, 1980:129).

      Pada hakikatnya advance organizer merupakan suatu cara untuk

mengaktifkan latar belakang pengetahuan yang sudah ada dan relevan

sebanyak–banyaknya,     serta    untuk   membantu      membongkar   dan

menginterprestasikan informasi baru dengan pendekatan deduktif.



C. Konstruktivisme

      Achmad    (2003:121),     mengemukakan     bahwa   Konstruktivisme

adalah filsafat pembelajaran yang didasarkan pada pemikiran yang

menyatakan bahwa dengan menrefleksikan pengalaman, dapat dibangun

(construct) pengertian tentang dunia dimana kita hidup. Masing – masing

diri kita membangun “aturan” dan “model mental” kita sendiri yang

digunakan untuk dapat mengerti pengalaman kita. Oleh karena itu, belajar

merupakan proses yang sederhana dari pengaturan model – model

mental untuk mengakomodasikan pengalaman yang baru.

      Sedangkan menurut hayati (2003:83), belajar menurut pandangan

konstruktivisme adalah proses kognitif yang dilakukan pebelajar untuk

membentuk dan mengembangkan kapabilitas baru yang diperlukan dalam

upaya berdaptasi dengan lingkungan, baik lingkungan internal maupun

eksternal. Berdasarkan pengetahuan awal atau pengetahuan yang telah

dimiliki sebelumnya. Belajar seperti diatas mngandung unsur – unsur :

adanya pengetahuan awal; masukan data sensori (konsep – konsep) baru
                                                                       17




dari lingkungan; pembentukan makna oleh pembelajar sendiri secara aktif

dan terus menerus melalui proses asimilasi, akomodasi, konflik kognitif,

dan equilibrasi; ada hasil belajar yang bermakna berupa, kapabilitas untuk

memahami dunia realita; dan perkembangan personal serta interaksi

social memudahkan pebelajar mengkonstruksi makna.

      Pembelajaran secara konstruktivisme tersebut menuntut guru dapat

menjadi pengarah, pembimbing, fasilitator, dan menjadi mediator sera

motivator belajar siswa. Mengutip Suparno, Hayati (2003:83) menjelaskan

bahwa mengajar berarti berpartisipasi dengan pebelajar dalam bentuk

pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan

mengadakan justifikasi. Guru juga perlu mnguasai bahan pembelajaran

secara luas dan mendalam yang dipeoleh dari berbagai sumber belajar.

Dalam hubungan antara guru dan siswa, guru prlu berkolaborasi dengan

siswa dalam seluruh aktivitas pembelajaran untuk memungkinkan siswa

membangun nakna baru dan meningkatkan pengertian spontannya

ketingkat pengertian ilmiah.



D. Pembelajaran Fisika

      Miarso (2004:528), mengemukakan bahwa pembelajaran adalah

proses yang melibatkan siswa untuk melakukan interaksi dengan aneka

sumber belajar sehingga terjadi belajar pada dirinya. Pembelajaran

disebut juga kegiatan pembelajaran atau instruksional, yang merupakan

usaha mengelola lingkungan dengan sengaja agar seseorang membentuk
                                                                       18




diri secara positif tertentu dalam kondisi tertentu. Pembelajaran menurut

Dimyati dan Mudjiono (2006:297) adalah kegiatan pendidik secara

terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat hal yang esensial

bagi siswa belajar aktif, yang menekankan pada unsur penyediaan

sumber belajar. (Oemar Hamalik, 1995: 57) menyatakan “pembelajaran

adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur–unsur manusiawi,

material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi

mencapai tujuan pembelajaran”

       Definisi fisika menurut (Druxes, Herbert, Born dan siemsen, 1986:4)

merupakan suatu ilmu yang menguraikan dan menganalisis struktur dan

peristiwa dalam alam, tehnik dan dunia di sekitar kita. Fisika menurut

Gerthsen yang dikutip oleh Druxes, Herbert, Born dan siemsen, 1986:3)

menyatakan bahwa fisika adalah suatu teori yang menerangkan gejala-

gejala alam secara sederhana dan berusaha menentukan hubungan

antara fakta-fakta dari gejala-gejala tersebut.

       Dari definisi fisika di atas, dapat disimpulkan bahwa fisika

merupakan suatu cabang ilmu pengetahuan sains dengan tujuan:

mengamati, memahami, mengukur dan memanfaatkan gejala-gejala alam

yang ada disekitar kita.

       Pada hakikatnya pembelajaran fisika merupakan kegiatan yang

dilakukan untuk menciptakan suasana atau memberikan pelayanan agar

siswa dapat belajar fisika. Hal yang esensial bagi pendidik dalam
                                                          19




menciptakan suasana atau pelayanan adalah memahami bagaimana

siswa memperoleh pengetahuan dari kegiatan belajarnya.
                                                                    20




                               BAB III

                       METODOLOGI PENELITIAN



A. Tujuan Penelitian

      Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan LKS berdasarkan

model Advance Organizer dalam proses pembelajaran fisika tingkat SMA

kelas XI pokok bahasan Usaha dan Energi.



B. Waktu dan Tempat Penelitian

      Penelitian ini dilakukan di SMAN 4 Jakarta pada kelas XI semester

ganjil tahun ajaran 2009/2010. Waktu pengambilan data penelitian di

lakukan pada bulan September – November 2009.



C. Metode Penelitian

      Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode

penelitian pengembangan (Development research). Dimana penelitian ini

berfokus pada pengembangan LKS berdasarkan model advance organizer

dalam pembelajaran fisika.

      Secara garis besar penelitian ini terdiri dari tiga tahap, yakni;

Pertama penelitian ini diawali dengan penentuan paket materi LKS yang

akan dikembangkan sesuai dengan indikator dalam silabus KTSP dan

tuntutan cara belajar model advance organizer. Kedua mengembangkan

LKS sesuai prosedur pengembangan dan berdasarkan indikator-indikator



                                     20
                                                                          21




yang telah ditentukan yang diakhiri dengan berkonsultasi dengan dosen

ahli. Dan tahapan yang ketiga ialah melakukan uji kelayakan LKS melalui

uji validitas oleh dosen ahli dan guru fisika serta uji efektifitas oleh guru

kepada siswa.



D. Prosedur Penelitian

      Prosedur penelitian pengembangan ini merujuk kepada prosedur

penelitian pengembangan yang langkah – langkahnya sebagai berikut :

   1. Study Pendahuluan

          Study pendahuluan dilakukan untuk mengetahui pendapat siswa

   dan guru tentang pembuatan bahan ajar fisika berupa Lembar Kerja

   Siswa (LKS) serta untuk mengetahui kebutuhan dan kendala siswa

   dalam pembelajaran mengunakan LKS yang telah ada.

   2. Study Pengembangan

          Tahap pengembangan ini bertujuan untuk membuat bahan ajar

   fisika berupa Lembar Kerja Siswa (LKS) yang telah disesuaikan

   dengan analisis kebutuhan.

   3. Study Implementasi

          Pada tahap implementasi berupa uji coba produk yang meliputi

   uji coba kepada para ahli dan uji coba kepada guru dan siswa. Uji

   coba kepada para ahli bertujuan unutk memperoleh informasi berupa

   perbaikan, saran dan kritik konstruktif untuk evaluasi dan revisi bahan

   ajar yaitu Lembar kerja siswa (LKS). Uji coba kepada guru dan siswa
                                                                             22




   bertujuan untuk mengetahui pendapat guru dan siswa mengenai bahan

   ajar (Lembar Kerja siswa) yang dibuat untuk evaluasi selanjutnya.



E. Desain Penelitian




      Studi Awal /                    Kepustakaan, Literatur, Identifikasi
      Pendahuluan                    Permasalahan, Hasil-hasil penelitian,
                                                Kurikulum.


   Studi Pengembangan                Model Advance Organizer



                                              LKS



                                             Validasi                Tidak
                                           tenaga ahli



    Studi Implementasi                          Ya




                                           Uji coba LKS
                                            pada siswa




                                       Analisis dan Deskripsi
                                           hasil uji coba


                                           Pembahasan


                                           LKS hasil
                                         pengembangan
                                                                      23




F. Teknik Pengambilan Sampel

1. Populasi

   a. Populasi Target

       Populasi target pada penelitian ini yaitu seluruh siswa SMAN 4

       Jakarta tahun ajaran 2009/2010.

   b. Populasi Terjangkau

       Populasi terjangkau yaitu seluruh siswa kelas XI SMAN 4 Jakarta

       tahun ajaran 2009/2010.

2. Sampel

       Sampel diambil dari populasi terjangkau sebanyak satu kelas yaitu

   kelas XI IPA 1.



G. Teknik Pengumpulan Data

       Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu kuesioner yang

bersifat tertutup. Kuesioner untuk validasi LKS berdasarkan model

pembelajaran advance organizer yang diberikan kepada tenaga ahli

(Dosen dan Guru) dan praktisi yaitu Siswa. Instrument tersebut digunakan

untuk mengetahui apakah LKS berdasarkan model pembelajaran advance

organizer dapat dijadikan bahan ajar dalam proses pembelajaran.



I. Teknik Analisis Data

1. Uji Validasi
                                                                           24




       Validasi adalah suatu ukuran yang menunjukkan kesahihan suatu

instrument. Dalam penelitian ini kisi-kisi instrument dan butir instrument

yang telah disusun divalidasi oleh ahli bidang studi dan praktisi. Validasi

yang perlu dilakukan adalah validasi secara kualitatif yaitu validasi

isi/konten dan validasi konstruk. Validasi isi yaitu untuk melihat kesesuain

antara instrument dengan sub variabel dan indicator. Validasi konstruk

yaitu kesesuaian antara instrumen dengan konstruksi teoritik dengan

objek yang akan dinilai.

                   Tabel. Validasi ahli/Praktisi Pendidikan

     No                          Validasi Isi

    Butir            ST               T               R              SR

      1

      2

      3

Keterangan :s

ST : Sangat Tinggi                 R : Rendah

T : Tinggi                         SR : Sangat Rendah



2. Analisis Data

       Analisis data hasil penelitian yaitu analisis data validasi guru, hasil

kuesioner dan hasil observasi diolah berdasarkan penilaian criteria yaitu

presentasi.
                                                                      25




      Penilaian kerja yang akan diberikan kepada siswa adalah

penggunaan beberapa keterampilan ilmiah. Pekerjaan siswa dinilai

dengan dua tahap keputusan seperti berikut ini :



                 Dua Langkah Putusan Penilaian

              Baik             atau             Buruk


Amat Baik Baik Cukup Baik             Cukup   Jelek     Amat Jelek



      Data yang di peroleh dari hasil penilaian adalah berupa gambaran

skala penilaian kerja siswa dalam bentuk hurup (AB,B,CB,C,J,AJ). Teknik

analisis data yang digunakan mengacu pada penilaian acuan patokan

(PAP) dan konversi nilai dalam bentuk presentasi. Patokan nilai yang

digunakan pada proses pembelajaran adalah 50 %. Jika siswa

memperoleh nilai kurang dari 50 % dapat di kategorikan tidak lulus.
                                                                        26




                              Daftar Pustaka



Achamd, Rukaesih dkk. 2003. Laporan Penelitian : Pengaruh Penerapan

         Konstruktivisme dalam pembelajaran kimia di Sekolah Menengah

         Umum. Jakarta :UNJ

Dahar, R.W. 1988. Teori – Teori Belajar. Jakarta : Depdikbud

Depdiknas. 2007. Materi Sosialisasi dan Pelatihan KTSP SMA. Jakarta:

         Depdiknas

Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka

Cipta.

Herbert, Druxes, et. EL. 1986. Kompendium Didaktik Fisika. Bandung: C.V

         Remaja Karya

Joyce, Bruce & Weil, Marsha. 1980. Models of Teaching, Second Edition.

         New Jersey Printice: Hall International, Inc

Joyce, Bruce & Weil, Marsha. 1992. Models of Teaching, Fourth Edition.

         New Jersey Printice: Hall International, Inc

Oemar, Hamalik. 1995. Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi

         Aksara

Purwanto, Agung, dkk. 2006. Laporan Penelitian : Pengembangan Lembar

         Kerja Siswa dan Buku Panduan Guru Kimia SMA berdasarkan

         Pendekatan     Pembelajaran     Kontekstual.   Jakarta:   Lembaga

         Penelitian UNJ
                                                                    27




Sunaryo, Wowo, dkk. 2005. Model, Pendekatan, Strategi, Metode, Gaya.

        Jawa Barat : Tim Penulis Studio Media Pendidikan

Travers, Robert, M.W. 1982. Essentials of Learning. New York: Macmillan

        Publishing Co. Inc

Weil, Marsha & Joyce, Bruce. 1978. Information Processing Models of

        Teaching Expanding Your Teaching Reportoire. New Jersey

        Printice: Hall Englewood Cliffs, Inc

Yusufhadi, Miarso. 2004. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta:

        Prenada Media

								
To top