EVOLUSI STRATEGI INTEGRASI SISTEM INFORMASI RAGAM

Document Sample
EVOLUSI STRATEGI INTEGRASI SISTEM INFORMASI RAGAM
EVOLUSI STRATEGI INTEGRASI SISTEM INFORMASI RAGAM INSTITUSI

Kiat Memecahkan Permasalahan Politis dalam Kerangka Manajemen Perubahan





Richardus Eko Indrajit, indrajit@post.harvard.edu



Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer

STIMIK Perbanas – Jakarta, Indonesia





ABSTRAK



Salah satu permasalahan rumit yang kerap dijumpai para praktisi teknologi informasi adalah ketika menghadapi

tantangan dimana sejumlah sistem informasi yang berbeda harus diintegrasikan. Peristiwa yang dimaksud misalnya

terjadi pada saat aktivitas merger dan akuisisi, penggabungan satu atau dua institusi pemerintahan, kerjasama

program berbasis lintas sektoral, dan lain sebagainya. Berdasarkan pengalaman, kompleksitas permasalahan yang

dijumpai tidak saja bertumpu pada aspek teknis, namun kerap lebih menonjol pada hal-hal yang bersifat non-teknis

(baca: politis) yang biasanya didominasi oleh isu “ego sektoral” pada masing-masing institusi yang terlibat. Tanpa

adanya strategi yang jelas, maka sering kali kegiatan integrasi sistem tersebut menemui jalan buntu, atau tidak

berhasil. Kunci permasalahan terjadinya fenomena tersebut pada dasarnya terletak pada kesalahan pemilihan

pendekatan atau metodologi proses terkait. Dalam menghadapi tantangan ini, metodologi yang dipergunakan harus

mampu menjawab berbagai kendala teknis maupun non teknis yang seyogiyanya dijumpai pada setiap isu

penggabungan. Artinya, metodologi yang dipakai harus dibangun dengan memperhatikan berbagai aspek yang

dimaksud tersebut. Artikel ini memperlihatkan sebuah metodologi yang dikembangkan dengan menggunakan

prinsip pemilihan strategi yang berevolusi dari satu tahapan waktu ke tahapan waktu selanjutnya; dalam arti kata

bahwa pendekatan yang dipergunakan adalah merupakan suatu rangkaian strategi yang beragam, yang disesuaikan

dengan tingkat perkembangan proyek integrasi. Metodologi ini dikembangkan oleh penulis berdasarkan teori

evolusi standar yang diperkenalkan oleh seorang guru besar dari Massachusetts Institute of Technology.



Kata kunci:evolusi, integrasi, merger, akuisisi, manajemen perubahan.







1. FENOMENA INTEGRASI SISTEM • Restrukturisasi korporasi yang dilakukan

INFORMASI dengan mengubah pola relasi antar anak-anak

perusahaan dalam sebuah konsorsium grup

Tuntutan globalisasi dan persaingan bebas serta usaha;

terbuka dewasa ini secara langsung telah memaksa • Strategi kerjasama berbagai institusi

berbagai organisasi komersial seperti perusahaan pemerintah secara lintas sektoral untuk

maupun non komersial seperti pemerintah untuk meningkatkan kinerja birokrasi;

menata uang platform organisasinya. Dalam konteks • Tuntutan berbagai mitra usaha dalam dan luar

ini, berbagai inisiatif strategi ditelurkan oleh negeri untuk meningkatkan kualitas aliansi

sejumlah praktisi organisasi yang masing-masing dan kolaborasi; dan lain sebagainya.

mengarah pada keinginan berkolaborasi atau

berkooperasi untuk menyusun kekuatan dan Adanya berbagai fenomena tersebut secara tidak

keunggulan baru dalam bersaing (baca: coopetition = langsung memberikan dampak bagi manajemen

collaboration to compete). Terkait dengan hal ini, organisasi, terutama dalam kaitannya dengan

sejumlah fenomena yang menggejala akhir-akhir ini pengelolaan sumber dayanya masing-masing.

antara lain: Beragam tuntutan yang bermuara pada keinginan

• Terjadinya merger dan akuisisi antar dua atau untuk ”mengintegrasikan” secara fisik maupun relasi

sejumlah organisasi dalam berbagai industri dua atau lebih organisasi tersebut bermuara pada

vertikal, seperti: perbankan, asuransi, kebutuhan melakukan upaya ”sharing” sejumlah

manufaktur, pendidikan, kesehatan, dan lain sumber daya data dan informasi (maupun

sebagainya; pengetahuan) yang dimiliki sesama organisasi.







Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 98

3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung

Artinya adalah bahwa, dua atau lebih sistem

informasi yang ada harus diupayakan untuk

”diintegrasikan”. Terkait dengan hal ini, pengalaman

membuktikan bahwa proses tersebut tidaklah

sesederhana yang dipikirkan. Lamanya proses

integrasi dan sering kandasnya usaha tersebut

menggambarkan tingkat kesulitan atau kompleksitas

usaha integrasi yang dimaksud. Banyak kalanagan GAMBAR: EVOLUSI STRATEGI INTEGRASI

praktisi menilai bahwa masalah utama yang dihadapi

bukanlah karena kendala teknis, namun lebih banyak Tahap I: Eksploitasi Kapabilitas Lokal

didominasi oleh hal-hal yang non teknis (baca: politik

organisasi). Tidak banyak pihak yang mampu Pada tahap pertama ini, yang perlu dilaksanakan

mencari jalan keluar dalam menghadapi kenyataan adalah melakukan pengembangan maksimal terhadap

ini. kapabilitas sistem informasi masing-masing

organisasi. Tujuan dari dilakukannya tahap ini adalah

2. METODOLOGI SEBAGAI BAHASA untuk memahami secara sungguh-sungguh batasan

BERSAMA maksimal kemampuan sistem informasi dalam

menghasilkan kebutuhan manajemen strategis dan

Dengan mempelajari sejumlah ilmu perilaku operasional organisasi yang bersangkutan – baik

organisasi, jalan buntu politisasi tersebut dapat dilihat dari segi keunggulannya maupun

dipecahkan dengan menggunakan sebuah metodologi keterbatasannya. Hasil kajian ini sangatlah berguna

yang disusun berdasarkan fenomena resistensi yang untuk tahapan selanjutnya, terutama nanti dalam

kebanyakan disebabkan karena hal-hal sebagai melihat cara-cara mengatasi keterbatasan masing-

berikut: masing sistem informasi terkait. Adanya tahap ini

juga bermanfaat bagi mereka yang selama ini belum

• Ego sektoral organisasi yang sangat tinggi tahu benar mengenai karakteristik dan spesifikasi

sehingga menutup kemungkinan untuk mau sistem informasi yang dimiliki untuk dapat lebih

diatur atau bekerjasama dengan organisasi lain mengerti kapabilitas kemampuan sistem yang

(kecuali jika yang bersangkutan menjadi sebenarnya. Aktivitas eksploitasi yang dimaksud

pemimpin konsorsium); dapat hanya merupakan sebuah kajian atau simulasi

• Anggapan bahwa sistem informasi merekalah analisa belaka atau benar-benar dilakukan

yang terbaik dibandingkan dengan yang pengembangan sistem yang dimaksud. Berbagai

dimiliki oleh pihak-pihak mitra lainnya; pendekatan teori manajemen dapat dipakai untuk

• Konteks kepentingan yang berbeda pada membantu proses eksploitasi ini, seperti misalnya:

setiap organisasi sehingga sulit dicari titik SWOT, risk assessment, gap analysis, value

temu yang memungkinkan untuk melakukan assessment, dan lain sebagainya. Esensi keluaran

integrasi secara cepat; (baca: outcome) dari tahap ini adalah pemahaman

• Berebutan untuk menjadi pimpinan tim akan keunggulan dan keterbatasan sistem informasi

integrasi dalam sebuah konsorsium kerja yang dimiliki organisasi dalam hal memenuhi visi

sama; dan misi organisasi yang bersangkutan maupun

• Ketidakinginan untuk saling membagi data, dalam kaitannya dengan kebutuhan organisasi mitra

informasi, maupun pengetahuan yang dimiliki lainnya yang diajak bekerjasama.

karena akan dianggap mengurangi keunggulan

kompetitif individu maupun organisasi; Tahap II: Lakukan Integrasi Tak Tampak

• Ketidaktahuan harus memulai usaha integrasi

dari mana sehingga kondusif untuk dilakukan Setiap kerjasama atau kolaborasi dua atau lebih

sejumlah pihak terkait; dan lain sebagainya. organisasi kerap mendatangkan kebutuhan baru. Dan

Pendekatan dimaksud adalah dengan menggunakan ketika kebutuhan bersama ini muncul, seringkali

metodologi yang menekankan pada evolusi tidak dapat dipenuhi oleh sebuah sistem informasi

pelaksanaan enam tahap integrasi seperti yang yang dimiliki salah satu anggota konsorsium. Karena

dijelaskan berikut ini. Tahap I yaitu kajian kapabilitas sudah dilakukan,

tidak akan ada satu organisasi pun yang berani

”berbohong” atau ”membual” bahwa hanya sistem

informasinyalah yang dapat menyediakan kebutuhan

kerjasama konsorsium. Pada saat kebutuhan baru ini

berhasil didefinisikan secara jelas, masing-masing







Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 99

3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung

organisasi melalui CIO-nya (CIO = Chief didominasi oleh faktor emosional ke ide-ide brilian

Information Officer) – atau personal dengan otoritas yang dipandu oleh pemikiran rasional.

tertinggi di bidang sistem informasi – berkumpul dan

berdiskusi bersama untuk mencari jalan keluar Tahap IV: Redesain Arsitektur Proses

pemenuhan kebutuhan yang ada. Secara tidak

langsung, dalam proses ini, cetak biru arsitektur Mencari solusi dengan berbekal berbagi pakai

masing-masing sistem informasi dapat mulai saling sumber daya biasanya dapat dilakukan untuk

diperkenalkan dan dipertukarkan. Jika hal ini berhasil memenuhi kebutuhan pemilik kepentingan internal

dilakukan, maka tahap yang tersulit dalam integrasi, (baca: internal stakeholder). Ketika konsorsium

yaitu duduk bersama untuk memikirkan kepentingan organisasi tersebut harus berurusan dengan

yang lebih besar berhasil dilalui. Pada saat inilah pemenuhan kebutuhan pemilik kepentingan eksternal,

sebenarnya hakekat ”integrasi” telah dilakukan. seperti misalnya pelanggan atau publik, maka proses

Secara teknis yang biasa dihasilkan adalah ide-ide yang cepat, berkualitas, dan murah adalah yang

solusi dalam bentuk penambahan sejumlah entitas menjadi dambaan mereka. Hal tersebut tidaklah

atau komponen sebagai jembatan antara satu sistem mungkin terjadi jika secara lintas organisasi tidak

dan sistem lainnya tanpa harus merusak masing- dilakukan aktivitas redesain proses. Di sinilah tahap

masing sistem informasi yang telah dianggap baik penentu integrasi diuji kembali, karena yang akan

bekerja oleh setiap organisasi yang ada. Artinya terlibat tidak sekedar para CIO, melainkan pimpinan

adalah bahwa secara vertikal, masing-masing sistem nomor satu dari masing-masing organisasi. Kegiatan

informasi tetap melayani setiap organisasi terkait, kolaborasi ini akan efektif jika bermula dari akhir,

sementara secara horisontal telah dilakukan proses dalam arti kata menggunakan kebutuhan pemegang

integrasi melalui penambahan komponen-komponen kepentingan akhir (yaitu pelanggan atau publik)

baru hasil diskusi beragam organisasi yang terlibat sebagai target solusi redesain. Dengan berpegang

(misalnya: interface, middleware, application pada konsep dan teori BPR (= Business Process

integration system, database clearing house, dsb.). Reengineering) sejumlah usaha untuk melakukan

Keluaran sesungguhnya dalam tahap ini adalah eliminasi, simplifikasi, integrasi, dan otomatisasi

kepercayaan dan kesadaran akan perlunya kerjasama proses akan dilakukan. Hal yang perlu diperhatikan

untuk memecahkan solusi. di sini adalah semangat kolaborasi antar CIO yang

harus ditularkan ke para pimpinan organisasi.

Tahap III: Kehendak Berbagi Pakai Biasanya yang dilakukan adalah para CIO melakukan

kajian terlebih dahulu, dan mendesain arsitektur

Ketika skenario pada tahap kedua telah berjalan proses baru (baca: tentatif) yang dipresentasikan

dengan baik (baca: efektif), langkah berikutnya kepada para pimpinan dengan sebuah pesan penting

adalah melakukan evaluasi seberapa efisien dan yaitu desain terkait dapat dan mungkin diterapkan

optimum solusi tersebut berhasil dibangun terutama oleh beragam organisasi tersebut. Keluaran dari tahap

dalam kaitannya dengan pemanfaatan beraneka terberat ini adalah kesepakatan untuk melakukan

ragam sumber daya organisasi. Tentu saja efisiensi kolaborasi secara lebih jauh, yaitu dengan

dan optimalisasi tertinggi belum terlihat dalam solusi memperhatikan nilai (atau value) dari pemegang

tersebut karena dibangun dengan paradigma ”tidak kepentingan utama dari seluruh organisasi yang

mengganggu” masing-masing sistem informasi. berkolaborasi. Ragam proses baru inilah yang akan

Sekali lagi para CIO akan berkumpul dan melihat menjadi cikal bakal atau embrio arsitektur sebuah

bahwa banyak peluang untuk meningkatkan kinerja sistem informasi terintegrasi yang dimaksud, yang

solusi yang dihasilkan jika dan hanya jika adanya merupakan penjelmaan ”secara tidak sadar”

”sharing” atau pola berbagi pakai antar sumber daya kumpulan sistem informasi organisasi beragam yang

teknologi informasi yang dimiliki masing-masing ada.

organisasi. Dalam konteks inilah mulai terlihat

adanya tawaran untuk misalnya menggunakan server Tahap V: Optimalkan Infrastruktur

dari organisasi A, aplikasi dari organisasi B, database

dari organisasi C, jaringan dari organisasi D, dan lain Rancangan beraneka ragam proses baru yang

sebagainya. Semua itu terjadi sebagai dampak dihasilkan pada tahap sebelumnya tidaklah akan

kehendak untuk mencari solusi yang terbaik, berjalan secara efektif, efisien, optimal, dan

sehingga seluruh CIO merasa tertantang terkontrol dengan baik apabila secara fundamental

intelejensianya dalam menghasilkan sistem yang tidak dilakukan penyesuaian terhadap infrastruktur

dimaksud. Keluaran terpenting dari tahap ini adalah organisasi yang ada – dalam hal ini adalah arsitektur

mulai bergesernya pemikiran-pemikiran yang sistem informasi terintegrasi yang dimiliki. Dalam

kaitan inilah maka optimalisasi sistem informasi







Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 100

3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung

terintegrasi yang bercikal bakal pada masing-masing untuk melumerkan ketegangan politis yang terjadi

sistem informasi organisasi akan menghasilkan dalam setiap proyek penggabungan atau kolaborasi

sebuah sistem dengan komponen-komponen sistem informasi. Dalam prakteknya, rangakaian

lengkapnya seperti: perangkat keras, perangkat lunak, tahapan tersebut akan berlangsung membentuk siklus

infrastruktur jaringan, sumber daya manusia, sistem hidup yang tidak berkesudahan, sejalan dengan

database terpadu, dan lain sebagainya. Perlu keinginan setiap organisasi untuk selalu memperbaiki

diperhatikan bahwa proses optimalisasi bertujuan kinerjanya dari waktu ke waktu. Tentu saja setelah

untuk memenuhi kebutuhan pemegang kepentingan melalui proses evaluasi dan pembelajaran yang

utama dengan batasan (baca: contraint) tetap terjadi secara kontinyu dan berkesinambungan.

dijaganya kinerja masing-masing sistem informasi

untuk melayani organisasi yang ada secara vertikal.

Keluaran dari tahap optimaliasi ini adalah sebuah 3. REFERENSI

sistem informasi terpadu yang dapat bekerja secara

efektif melayani kepentingan vertikal maupun [1] Cook, Melissa, Building Enterprise Information

horisontal. Dan tentu saja yang tidak kalah Technology Architectures – Reengineering

pentingnya, yaitu semakin eratnya relasi antar Information Systems, Uppers Saddle River,

organisasi yang berkolaborasi setelah melewati Prentice-Hall Inc., 1996.

sejumlah tahap sebelumnya. [2] Hammer, Michael, and James Champy,

Reengineering the Corporation - a Manifesto for

Tahap VI: Transformasi Organisasi Business Revolution, Nicholas Brealey

Publishing, London, 1993.

Tahap terakhir yang akan dicapai sejalan dengan [3] Indrajit, Richardus Eko, dan Richardus

semakin eratnya hubungan antar organisasi adalah Djokopranoto, Konsep dan Aplikasi Business

transformasi masing-masing organisasi. Transformasi Process Reenginering, Jakarta: Grasindo, 2002.

yang dimaksud pada dasarnya merupakan akibat dari [4] Indrajit, Richardus Eko, Pengantar Konsep

dinamika kebutuhan lingkungan eksternal organisasi Dasar Manajemen Sistem Informasi dan

yang memaksanya untuk menciptakan sebuah sistem Teknologi Informasi, Jakarta: Elex-Media

organisasi yang adaptif terhadap perubahan apapun. Komputindo, 2000.

Sistem informasi masa kini yang dibangun dengan [5] Indrajit, Richardus Eko, dan Richardus

menggunakan paradigma rumah tumbuh dan berbasis Djokopranoto, Konsep Manajemen Supply

komponen (baca: object-based approach) secara tidak Chain, Jakarta: Grasindo, 2002.

langsung akan menular kepada karakteristik dari [6] Ong, Peter, dan Richardus Eko Indrajit, ”The

organisasi terkait. Artinya, sejumlah hal baru akan Business Value of Information Technology”,

tumbuh menggantikan sesuatu yang telah lama Jakarta: i2bc Journal – 3rd Edition, 2003.

dianut, misalnya: [7] Porter, Michael E., Competitive Advantage –

Creating a Sustaining Superior Performance,

• Transformasi dari organisasi berbasis struktur New York: The Free Press, 1985.

dan fungsi menjadi organisasi berbasis proses; [8] Robert S.Kaplan, David P.Norton, Translating

• Transformasi dari organisasi berbasis sumber Strategy into Action: The Balanced Scorecard,

daya fisik menjadi organisasi berbasis Harvard Business School Press, Boston, 1996.

pengetahuan; [9] Tenner, Arthur R., and Irving J.DeToro, Process

• Transformasi dari organisasi berbasis Redesign – The Implementation Guide for

kebutuhan pemilik kepentingan internal Managers, Reading, Massachusetts: Addison-

menjadi organisasi berbasis kebutuhan Wesley Publishing Company, 1996.

pemilik kepentingan eksternal; [10] Van Grembergen, W. and Timmerman, D.,

• Transformasi dari organisasi berbasis rantai “Monitoring the IT Process Through the

nilai fisik menjadi organisasi berbasi rantai Balanced Scorecard,” proceedings of the 9th

nilai virtual; dan lain sebagainya. Information Resources Management (IRMA)

International Conference, Boston, 1998.

Tahapan Setelah Integrasi [11] Ward, John, and Joe Peppard, “ Strategic

Planning for Information Systems”, New Jersey,

Dengan memperhatikan rangkaian kejadian di atas, USA: John Wiley and Sons Inc., 2002.

terlihat bahwa proses integrasi merupakan sebuah [12] Zachman, John, A, “Framework for Information

strategi transisi yang terjadi secara alami, bukan Systems Architecture”, USA: IBM Systems

dipaksakan oleh satu atau dua kubu kepentingan Journal, 1987.

tertentu. Hal inilah yang sebenarnya menjadi kunci







Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi untuk Indonesia 101

3-4 Mei 2006, Aula Barat & Timur Institut Teknologi Bandung


Share This Document


Related docs
Other docs by dng13099
Luis Victor Martinez
Views: 10  |  Downloads: 0
MEDICATION INDEMNITY AGREEMENT
Views: 11  |  Downloads: 0
Restaurant All-in-one Management System
Views: 6  |  Downloads: 0
Sun Fire X4600 to Sun Fire X4600 M2 Server
Views: 447  |  Downloads: 0
Service Billing Management System
Views: 2  |  Downloads: 0
by registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!