Problem Perebutan Lapangan Kerja antara Orang Asli Surabaya dan Pendatang

Document Sample
Problem Perebutan Lapangan Kerja antara Orang Asli Surabaya dan Pendatang Powered By Docstoc
					Dipersembahkan oleh http://forget-hiro.blogspot.com


        Problem Perebutan Lapangan Kerja antara
              Orang Asli Surabaya dan Pendatang
                                          Oleh
                                      Ni’man Nashir




Latar Belakang
       Menurut Alisjahbana (2003:3), perkembangan kota secara pesat (rapid urban
growth) yang tidak disertai dengan pertambahan kesempatan kerja telah mengakibatkan
kota-kota menghadapai berbagai ragam problem sosial yang sangat pelik. Hal ini menjadi
ciri umum kebanyakan perkotaan di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Problem sosial tersebut menjadi isu yang paling esensial dan selalu hangat di dalam
politik pemerintahan dan selalu menjadi perhatian media massa, bahkan selalu menjadi
pembicaraan masyarakat sehari-hari.
       Problem sosial yang ada di perkotaan di Indonesia saat ini—termasuk Kota
Surabaya—hampir selalu berhubungan dengan urbanisasi. Menurut Castells (1977:14 &
52), urbanisasi sangat berkaitan dengan industrialisasi. Urbanisasi menyebabkan
dekomposisi struktur sosial. Mereka melakukan perpindahan ke daerah urban hingga
menyebabkan terjadinya tekanan dan berbagai problematika tenaga kerja di daerah
tersebut. Kehadiran masyarakat ke daerah industri tidak hanya merupakan daya tarik
industri tersebut, melainkan juga karena karakteristik atau sifat dari industrialisasi itu
sendiri yang masih membutuhkan tenaga kerja yang relatif banyak.
       Dampak dari pembangunan terutama pembangunan di kota dan sekitar kota,
adalah terjadinya perpindahan sebagaian penduduk dari daerah pedesaan ke kota.
Akibatnya laju pertumbuhan penduduk daerah perkotaan tinggi. Mereka memerlukan
lapangan pekerjaan, namun lapangan pekerjaan yang tersedia sangat terbatas dan tidak
mampu menampung tambahan tenaga kerja yang tersedia (Hamid, 1995 dalam
Alisjahbana, 2003:25). Hal ini menyebabkan terjadinya persaingan antara warga asli dan


                                                                                        1
para pendatangan dari daerah di sekitar kota atau daerah pedesaan untuk mendapatkan
lapangan pekerjaan.
       Kesempatan kerja di perkotaan menjadi permasalahan yang sangat penting untuk
dicermati, karena pekerjaan bertalian dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, hal yang
sangat penting bagi kelangsungan hidup seseorang. Problem persaingan untuk
mendapatkan lapangan pekerjaan antara penduduk asli dan warga pendatang apabila
tidak ditangani niscaya akan menimbulkan konflik antar warga masyarakat. Tulisan ini
bermaksud untuk mencermati sedikit fakta mengenai persaingan untuk mendapatkan
lapangan pekerjaan di Kota Surabaya, yang didapatkan dari wawancara dengan beberapa
orang asli Surabaya.


Teori yang Berhubungan
       Dalam memandang problem persaingan untuk mendapatkan lapangan pekerjaan
antara penduduk asli dan warga pendatang yang ada di Surabaya, akan dikemukakan
teori Kebutuhan Manusia sebagai perspektif dalam memandang permasalah tersebut.
Berikut sekelumit bahasan teori tersebut.
       Menurut Salam (2008), teori Kebutuhan Manusia dikembangkan pada tahun 1970-
an dan 1980-an sebagai teori generik atau holistik mengenai perilaku hewan. Teori ini
berdasarkan hipotesis bahwa manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang
harus dipenuhi untuk memelihara masyarakat yang stabil. Seperti yang diuraikan oleh
John Burton (1991, dalam Salam 2008):
       Kita yakin bahwa keterlibatan manusia dalam situasi konflik mendorongnya
       berjuang di dalam lingkungan kelembagaannya pada setiap tataran sosial untuk
       memenuhi kebutuhan-kebutuhan primordial dan universal—kebutuhan seperti
       keamanan, identitas, pengakuan, dan pembangunan. Mereka terus berusaha
       menguasai lingkungannya yang diperlukan untuk menjamin pemenuhan
       kebutuhan-kebutuhan ini. Perjuangan ini tidak bisa dikekang; perjuangan ini
       sifatnya primordial.

       Perjuangan untuk memenuhi kebutuhan primordial ini secara teoretis
berhubungan dengan teori Frustasi-Agresi yang berdasarkan pada hipotesis stimulus-
respon. Rasa frustasi akibat tidak bisa memenuhi kebutuhan primordial ini mengarah
pada agresi dan akhirnya konflik. Yang membedakan teori Kebutuhan Manusia dengan
teori Frustasi-Agresi adalah bahwa yang pertama hanya berkenaan dengan kebutuhan-


                                                                                   2
kebutuhan mutlak, sedangkan yang belakangan juga berkenaan keinginan (wants and
desires). Burton (1991, dalam Salam 2008) menyatakan lebih lanjut:
       Sekarang kita tahu bahwa ada nilai-nilai atau kebutuhan manusia universal yang
       mendasar yang harus dipenuhi jika ingin menciptakan masyarakat yang stabil.
       Bahwa hal ini benar adanya dengan demikian memberikan dasar yang tidak
       bersifat ideologis untuk mendirikan lembaga-lembaga dan kebijaksanaan. Dalam
       masyarakat yang multi-etnik ketidakstabilan dan konflik tak bisa dihindari, kecuali
       jika kebutuhan identitasnya terpenuhi dan dalam setiap sistem sosialnya ada
       keadilan yang merata, rasa penguasaan, serta kemungkinan memperoleh semua
       kebutuhan pembangunan masyarakat manusia lainnya.

       Arti penting teori ini adalah karena ia mengenal dan mengesahkan kebutuhan-
kebutuhan yang diungkapkan oleh kedua pihak yang terlibat konflik. Kebutuhan kedua
belah pihak harus dipenuhi, bukan hanya memenuhi kebutuhan satu pihak dengan
mengorbankan kebutuhan pihak lain. Hal ini membantu memindahkan konflik dari situasi
habis-habisan (zero sum) ke situasi sama-sama menang (win-win). Pemisahan ‘kebutuhan
manusia’ itu membantu upaya menghilangkan adanya rasa tujuan yang sama-sama
ekslusif. Alih-alih bertikai memperebutkan masa depan konstitusional negara dengan
tujuan-tujuan yang sama-sama ekslusif dengan memelihara kesatuan atau pemisahan,
situasinya bergeser ke situasi di mana kedua kelompok yang bertikai berusaha memenuhi
kebutuhan mereka seperti keamanan, identitas, pengakuan dan pembangunan.
Kebutuhan-kebutuhan ini tidak dipenuhi dengan cara mengorbankan kelompok lain,
tetapi diwujudkan bersamaan dengan pemenuhan kebutuhan kelompok lainnya.
Kebutuhan-kebutuhan ini tidak ekslusif bagi kedua pihak atau diperoleh dengan
mengorbankan pihak lain; kebutuhan-kebutuhan itu bersifat universal.


Deskripsi Temuan
       Deskripsi temuan yang akan dipaparkan di bawah ini didapatkan dari wawancara
yang dilakukan pada beberapa orang asli Surabaya. Permasalah secara umum yang digali
dalam wawancara tersebut adalah tentang hal-hal apa saja yang dapat mengganggu
psychological   wellbeing (kesejahteraan psikologis) orang asli         Surabaya   dalam
hubungannya dengan keadaan Kota Surabaya saat ini. Tulisan berikut tidak bermaksud
untuk menbahas semua informasi yang didapat dalam wawancara, namun hanya yang




                                                                                        3
bertalian dengan judul di muka, yakni mengenai problem persaingan untuk
memperebukan lapangan pekerjaan. Berikut deskripsi temuan yang dapat dikemukakan.


Sulitnya mencari pekerjaan
        Menurut informan wawancara ini, banyak pemuda warga asli Kota Surabaya yang
saat ini sedang dipusingkan dengan masalah pekerjaan, terlalu banyak orang yang
mencari kerja, sedangkan lapangan pekerjaannya sangat terbatas, sehingga tidak mampu
menyerap seluruh pencari kerja. Berikut pernyataan dari informan.
        “Kebanyakan di Surabaya ini sedang dipusingkan dengan pekerjaan, di mana
        semua orang sedang bingung, terutama semua pemudanya itu bingung mencari
        kerja, bingung, belum lagi dia di rumah sudah dipusingkan dengan masalah
        ekonomi, membantu orang-orang di rumah.” (Farid)∗

        “Pekerjaan itu...memang sulit untuk mencari pekerjaan di Surabaya, karena antara
        yang mencari kerja dan pekerjaannya itu nggak seimbang, yang mencari kerja
        banyak, sedangkan pekerjaannya nggak memadai.” (Syamsul)∗∗

        Keitidakseimbangan antara jumlah lapangan pekerjaan dan jumlah pencari kerja
tersebut, menurut informan disebabkan karena banyaknya pendatang yang masuk dan
mencari pekerjaan di Kota Surabaya, sehingga berpengaruh pada peluang warga asli
untuk mendapatkan pekerjaan. Di lain sisi, perlakuan yang berbeda diberlakukan oleh
banyak pemilik usaha terhadap para pencari kerja yang berasal dari warga pendatang dan
warga asli Surabaya, mereka cenderung lebih suka menerima pencari kerja dari golongan
warga pendatang daripada warga asli, karena mereka menganggap orang asli selalu
mengharapkan mencari pekerjaan yang mudah dan ringan dengan gaji yang tinggi,
sedangkan warga pendatang dianggap lebih bisa disuruh bekerja keras dengan bayaran
yang relatif kecil. Berikut pernyataan dari informan.
        “Masalah pendatang, masalah peluang kerja, karena banyaknya para pendatang,
        baik itu sengaja maupun tidak disengaja, berpengaruh juga pada peluang kerja
        bagi penduduk lokal terutama orang asli Surabaya, sedangkan para pemilik usaha
        cenderung lebih banyak mencari pendatang, karena pendatang itu dalam
        pandangan mereka orang yang pekerja keras, digaji berapa pun mau, dikasi apa


∗
 Farid Suryagi, 22 tahun, bertempat tinggal di Gubeng Kertajaya V, bekerja sebagai buruh. Diwawancarai
pada 12 Mei 2008, pukul 22.00 wib.
∗∗
  Syamsul Arifin, 23 tahun, bertempat tinggal di Gubeng Kertajaya V, berkerja sebagai karyawan.
Diwawancarai 2 Juni 2008, pukul 20.00 wib.


                                                                                                    4
       pun mau, pokoknya wis rela ditindas, yang penting tidak macul di tempatnya, di
       desanya. Di sini, seberat apa pun orang pendatang itu merasa masih lebih berat
       daripada mencangkul tanah, makanya mereka rela apa pun kerjanya dan berapa
       pun gaji yang dia dapat.” (Farid).

       “Orang asing lebih banyak dipekerjakan karena gajinya lebih rendah, apapun mau,
       asal kerja, orang desa dibayar berapa pun mau, masih lugu, sedangkan orang kota
       dianggap aneh-aneh, cari kerja enak minta bayarannya besar.” (Syamsul).

       Perlakuan yang cenderung diskriminatif ini, yang diberlakukan oleh pemilik usaha
tersebut telah menyebabkan munculnya kekecewaan dan kemarahan pada orang-orang
asli Surabaya. Mereka sebagai tuan rumah di Surabaya merasa diperlakukan tidak
semestinya dan merasa diabaikan. Banyak tempat kerja yang tak segan-segan langsung
menolak surat lamaran orang yang ber-KTP Surabaya, tanpa sempat meneliti kemampuan
dan keahliannya. Begitu sulit orang asli Surabaya mendapatkan pekerjaan, sampai-sampai
ada yang terpaksa meminjam KTP milik warga pendatang (KTP luar Surabaya) untuk
dipalsukan dengan mengganti fotonya dengan foto orang Surabaya tersebut,
sebagaimana yang diungkapkan oleh informan berikut.
       “Boleh orang desa, orang asing itu datang di Surabaya, cuma asalkan, dengan
       adanya orang-orang desa yang datang ke sini itu, harusnya itu yang punya usaha
       itu memperhatikan kalau yang di Surabaya ini masih banyak yang pengangguran,
       kalau menurutku itu harusnya orang-orang kota itu diperhatikan, orang-orang
       aslinya, jangan hanya orang-orang asing yang diperhatikan.” (Syamsul).

       “Karena orang Surabaya itu istilahnya itu wong Jowo, nah wong Jowo, mau marah
       tetapi tidak bisa marah, istilahnya itu sangat menoleransi, dia itu merasa, wis
       nggak popo wis ya opo maneh, bahkan ada beberapa orang penduduk lokal, orang
       Surabaya, untuk mencari kerja, mereka sampai memalsukan KTP, tanggal lahirnya
       diubah, bukan Surabaya, bahkan di surat lamarannya itu, KTP temannya diganti
       fotonya dengan punya dia, itu pun ada, karena untuk mencari kerja. Untuk
       mencari kerja yang berat saja, seperti menjadi kuli, itu pun masih ada lisensi,
       lisensi dari orang-orang, mungkin dari penduduk, dari orang pendatang, atau dari
       teman. Itu untuk mencari kerja yang berat seperti itu, apalagi mencari kerja yang
       enak, tambah sulit.” (Farid).

       “Penduduk lokal itu kecewa dengan para wirausahawan, para pemilik usaha,
       mereka kecewa karena para pemilik usaha itu tidak memberi kesempatan pada
       penduduk lokal, padahal para pemilik usaha itu kebanyakan dari para pendatang,
       coba misalnya kalau orang Surabaya itu sudah marah, terus, ‘Wis kamu jangan
       buka usaha di sini!’, dia kan nggak bisa dapat usaha kan di sini, di Surabaya,
       apalagi dapat kerja, tambah...jadi itu, sangat kecewa sekali, mereka hanya melihat
       tempat tanggal lahir saja, belum melihat kemampuan dari para pelamar, bahkan


                                                                                       5
       orang-orang hanya melihat fakultasnya apa, universitasnya apa, di tidak mencoba
       memanggil, gimana kemampuannya, mengetes.” (Farid).


Marjinalisasi
       Dengan perlakuan yang demikian itu, banyak orang asli Surabaya yang merasa
terpinggirkan, karena sebagai pemilik tanah dan tuan rumah di Surabaya justru mereka
tidak mendapatkan kesempatan kerja yang cukup dan perlakuan yang semestinya. Dalam
menghadapi perlakuan semacam itu, mereka cenderung menerima, karena tidak banyak
pilihan yang tersedia untuk mereka, posisi mereka terlihat terlalu lemah untuk dapat
menolak kenyataan ini. Banyak orang asli Surabaya yang terpaksa pindah ke daerah di
sekitar Surabaya agar mendapatkan pekerjaan yang layak dan perumahan yang lebih
murah. Selain itu, mereka yang tetap bertahan, banyak yang terpaksa melakukan
pekerjaan rendahan yang berpendapatan relatif rendah.
       “Karena orang Surabaya itu istilahnya itu wong Jowo, nah wong Jowo, mau marah
       tetapi tidak bisa marah, istilahnya itu sangat menoleransi, dia itu merasa, wis
       nggak popo wis ya opo maneh....” (Farid).

        “Ya kerjanya biasa-biasa aja, ya wis, kerja yang terpinggirkan, mungkin dia
       wirausaha sendiri, berjualan...kalau rombeng itu bukan, bukan, rombeng itu bukan
       dari orang lokal, itu orang dari luar pulau. Kalau orang Surabaya sendiri
       kebanyakan kerja rendahan, tukang becak itu banyak dari orang Surabaya, polisi
       cepek juga, ya pokoknya, istilahnya di mata kita itu adalah pekerjaan rendah,
       istilahnya pekerjaan yang hasilnya sedikit, itu kebanyakan yang dilakukan orang
       Surabaya. Jadi, mereka itu kebanyakan itu ya, dapat penghasilan, nyaur utang,
       dapat penghasilan lagi, nyaur utang lagi, begitu.” (Farid).


Pandangan terhadap pendatang
       Persaingan dalam memperebutkan lapangan pekerjaan dan kendali atas tanah
(negerinya),    telah   menumbuhkan     ketidaksukaan     terhadap    kelompok-kelompok
pendatang, khususnya kelompok pendatang etnis Madura, yang dianggap terlalu
mendominasi persaingan usaha dan perebutan lapangan pekerjaan, serta dengan sikap
dan tingkah lakunya telah membuat banyak orang asli Surabaya (orang Jawa) merasa
tidak suka, mereka dianggap telah merusak kebersihan, keindahan, ketenangan,
keamanan dan kenyamanan Surabaya. Informan menyatakan sebagai berikut.
       “Ya jelas ada perasaan marah, kalau misalnya para pendatang itu tidak melakukan
       hal-hal yang tidak diinginkan, mungkin kita baik-baik saja ya, welcome saja ya, tapi


                                                                                         6
       ada yang suatu daerah, sudah sepakat orang Surabaya itu sudah benci sama
       daerah itu, itu ada, ya karena, nggak tau, padahal di tempatnya itu, di pulaunya,
       desanya itu, dia tidak berbuat seperti itu, tapi kenapa kok ketika di Surabaya dia
       itu berusaha menghancurkan Surabaya, mengotori, dia itu mencuri, atau ngomong
       yang aneh-aneh, ya istilahnyai itu, kasarnya dia itu, di sini itu bahasa halusnya, nah
       apalagi kasarnya mereka, mungkin di sini, orang di sini pengen kudhu mbacok ae,
       itu ada ya.” (Farid).


Pembahasan
       Pembangunan yang pesat dan industrialisasi di daerah perkotaan di Indonesia,
termasuk di Kota Surabaya telah menyebabkan munculnya urbanisasi. Proses urbanisasi
telah membawa masuk ribuan pendatang dari luar daerah Surabaya untuk mencari
perkerjaan. Akibatnya di Surabaya jumlah pencari kerja sangat banyak, tidak seimbang
dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini memunculkan persaingan antara
penduduk asli dan warga pendatang dalam mencari perkerjaan.
       Dalam persaingan tersebut, pencari kerja dari kelompok pendatang terlihat lebih
mendominasi karena diuntungkan dengan adanya perlakuan yang berbeda dari banyak
pemilik usaha terhadap dua kelompok pencari kerja tersebut. Pencari kerja dari kelompok
pendatang lebih mudah mendapat pekerjaan dari pada orang asli Surabaya. Para pemilik
usaha lebih mengutamakan untuk menerima pencari kerja dari warga pendatang. Pekerja
dari warga pendatang dianggap lebih bisa bekerja keras/kasar dengan gaji yang relatif
rendah, sehingga sangat menguntungkan pemilik usaha. Dan sebaliknya, pencari kerja
dari penduduk asli dianggap tidak dapat berkerja keras/kasar dengan gaji yang rendah,
mereka dianggap sebagai golongan pencari kerja yang pilih-pilih, mengutamakan gengsi
dan ingin selalu mendapatkan gaji yang tinggi.
       Dalam keadaan seperti inilah kekecewaan dan kemarahan muncul pada sebagian
orang asli Surabaya, mereka menganggap telah diperlakukan dengan tidak adil/tidak
semestinya, dan merasa dipinggirkan, padahal menurut mereka, merekalah yang
seharusnya diutamakan oleh para pemilik usaha, karena merekalah penduduk asli,
mereka adalah tuan rumah di Surabaya.
       Perasaan kecewa, marah, dan terpinggirkan tersebut menyebabkan munculnya
kecemburuan atau ketidaksukaan terhadap kelompok pendatang, khususnya pendatang
dari Pulau Madura. Perasaan semacam itu menjadi perasaan kolektif bagi sebagian orang



                                                                                           7
asli Surabaya. Dari sini dapat diketahui adanya bibit konflik antara warga pendatang dan
warga asli—khususnya para pemudanya—yang boleh jadi bisa meletus menjadi konflik
terbuka jika tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah, sebagaimana yang terjadi
pada konflik di Maluku Utara.
       Konflik di Maluku Utara yang terjadi pada tahun 1999 s.d. 2000 antara suku
Makian (mayoritas beragama Islam) dan suku Kao (mayoritas beragama Kristen), menurut
Wilson (2005) adalah berasal dari masalah solidaritas etnis (bukan agama), yang jika
ditelusuri lebih lanjut asalnya adalah akibat dominasi suku Makian (suku pendatang yang
lebih terdidik) terhadap suku Kao (suku asli di daerah Malifut), baik dalam bidang
pemerintahan, pendidikan, dan yang terpenting adalah dominasi bidang pekerjaan. Di PT
Nusa Halmahera Mineral (NHM) yang merupakan perusahaan tambang emas yang besar
di daerah ini, pekerjanya 90 persen adalah orang Makian dan hanya 10 persen orang Kao,
hal yang sangat mengecewakan bagi orang Kao, khusunya para pemudanya. Pemekaran
wilayah yang dituntut oleh orang Makian dengan mengambil setengah dari wilayah orang
Kao telah memicu konflik terbuka antara dua etnis tersebut. Pemekaran wilayah berarti
lenyapnya wilayah dan yang lebih penting, lenyapnya keuntungan ekonomis bagi orang
Kao, karena wilayah tambang emas akan jatuh ke tangan orang Makian. Kondisi seperti
hampir sama seperti keadaan orang asli Surabaya terhadap para pendatang, khususnya
dalam persaingan pekerjaan, jika tidak mendapat perhatian serius dari pemerintah, bukan
tidak mungkin konflik terbuka akan muncul, yang diawali dengan ledakan kemarahan para
pemudanya, sebagaimana juga yang terjadi pada konflik di Maluku Utara tersebut.
       Menurut teori Kebutuhan Manusia—sebagaimana yang telah disebutkan di atas,
manusia mempunyai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi untuk memelihara
masyarakat yang stabil. Rasa frustasi akibat tidak bisa memenuhi kebutuhan primordial—
seperti keamanan, identitas, pengakuan, dan pembangunan—ini akan mengarah pada
agresi dan akhirnya konflik. Menurut Burton (1991, dalam Salam 2008), dalam
masyarakat yang multi-etnik ketidakstabilan dan konflik tak bisa dihindari, kecuali jika
kebutuhan identitasnya terpenuhi dan dalam setiap sistem sosialnya ada keadilan yang
merata, rasa penguasaan, serta kemungkinan memperoleh semua kebutuhan
pembangunan masyarakat manusia lainnya.




                                                                                      8
        Untuk itulah diperlukan solusi yang sama-sama menguntungkan (wiw-win
solution) yang perlu diberikan kepada dua kelompok tersebut, yaitu kelompok pendatang
dan warga asli agar masing-masing kelompok dapat memenuhi kebutuhan primordialnya,
khususnya     kebutuhan     mendapatkan        lapangan   pekerjaan    sebagai    sarana
mempertahankan eksistensi diri. Jika demikian, maka kemungkinan meletusnya konflik
antar dua kelompok tersebut dapat dihindari.
        Sejauh ini warga asli Surabaya masih dapat menahan diri dan bersabar dengan
keadaan seperti ini. Konflik terbuka tidak sampai muncul ke permukaan, karena orang-
orang asli Surabaya memiliki modal sosial yang cukup untuk membangun dan daya tahan
untuk menangkal konflik. Modal sosial tersebut adalah adanya solidaritas dan keguyuban
antar warga asli Surabaya sendiri, serta ambang batas toleransi yang cukup tinggi yang
dimiliki warga asli Surabaya yang berdasar pada falsafah “nrima” orang Jawa.


Simpulan dan Saran
Simpulan
        Sebagian orang asli Surabaya merasa kecewa, marah dan merasa terpinggirkan,
karena sebagai tuan rumah di Surabaya justru mereka tidak mendapatkan kesempatan
kerja yang cukup dan perlakuan yang semestinya jika dibandingkan dengan para
pendatang. Hal ini menimbulkan kecemburuan dan ketidaksukaan pada golongan
pendatang, khususnya yang datang dari Pulau Madura, namun perasaan tersebut
tidak/belum muncul sebagai konflik terbuka, karena adanya modal sosial berupa
solidaritas dan keguyuban antar warga asli Surabaya sendiri, serta ambang batas toleransi
yang cukup tinggi yang dimiliki warga asli Surabaya yang berdasar pada falsafah “nrima”
orang Jawa.


Saran
   1. Pemerintah dan pihak-pihak yang terkait (khususnya para pemilik usaha)
        diharapkan dapat memperhatikan dan memberi kesempatan pekerjaan yang lebih
        besar kepada warga asli Surabaya sebagai penduduk asli Kota Surabaya.
   2. Pemerintah diharapkan mewaspadai adanya potensi konflik antara orang asli
        Surabaya—khususnya para pemudanya—dan para pendatang, khususnya yang


                                                                                       9
       berasal dari Pulau Madura, dan melakukan langkah-langkah pencegahan terhadap
       kemungkinan munculnya konflik terbuka antar dua kelompok tersebut, yang salah
       satunya caranya adalah dengan membuka lapangan pekerjaan yang lebih luas
       serta mengurangi jumlah pendatang. Pengurangan jumlah pendatang dapat
       dilakukan dengan cara menggiatkan pembangunan di daerah pedesaan, sehingga
       lapangan pekerja menjadi lebih banyak, dan arus urbanisasi menjadi turun. Solusi
       semacam ini adalah solusi yang sangat mendasar, yang mengarah langsung ke
       akar permasalahan urbanisasi, yang pada akhirnya akan mengarahkan pada solusi
       yang sama-sama menguntungkan (win-win solution) baik bagi penduduk desa dan
       penduduk Kota Surabaya.
   3. Warga asli Surabaya diharapkan terus menjaga solidaritas dan keguyuban antar
       sesama warga asli agar dapat menangkal potensi konflik tersebut.
   4. Warga pendatang diharapkan agar dapat menghormati dan berbaur dengan warga
       asli Surabaya, menjalin persahabatan dan tolong-menolong demi terciptanya
       kerukunan antar warga asli dan warga pendatang.


                                         ***


Referensi
Alisjahbana. (2003). Urban Hidden Economy: Peran Tersembunyi Sektor Informal
        Perkotaan. Surabaya: Lembaga Penelitian ITS.
Castells, M. (1977). The Urban Question. Cambridge, Massachusetts: The MIT Press.
Salam, F.A.A. (2008, 2 Juni). Kerangka Teoretis Penyelesaian Konflik. SCRIPPS OHIOU.
       Diambil dan disimpan pada tanggal 4 Juli 2008, dari alamat
       http://www.scripps.ohiou.edu/news/cmdd/artikel_ef.htm
Wilson, C. (2005). The Ethnic Origins of Religious Conflict in North Maluku Province,
       Indonesia, 1999—2000. Paper.


Dipersembahkan oleh http://forget-hiro.blogspot.com




                                                                                    10

				
DOCUMENT INFO
Description: Pembangunan yang pesat dan industrialisasi di daerah perkotaan di Indonesia, termasuk di Kota Surabaya telah menyebabkan munculnya urbanisasi. Proses urbanisasi telah membawa masuk ribuan pendatang dari luar daerah Surabaya untuk mencari perkerjaan. Akibatnya di Surabaya jumlah pencari kerja sangat banyak, tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang tersedia. Hal ini memunculkan persaingan antara penduduk asli dan warga pendatang dalam mencari perkerjaan.