Docstoc

sejarah reo manggarai

Document Sample
sejarah reo manggarai Powered By Docstoc
					ASI POTA & TAPAK TANGAN "Kahampa" Sebuah Jejak Sejarah Dana
Mbojo Yang Terlupakan
Kamis, 7 Agustus 2008 11:18:47 - Submited by : admin

Sebuah sejarah harus mengungkapkan realitas sebenarnya atas segala
sesuatu yang terjadi pada masa kejayaannya. Sejarah yang dikaburkan
merupakan kejahatan terhadap generasi. Sebab sejarah bukan sekedar
bacaan belaka namun menggambarkan identitas kita dalam fase
kehidupan hingga terbentuk karakter diri dan lingkungan sekitar kita. Ketika
sejarah dijadikan sebuah alat dalam melanggengkan kekuasaan, maka hal
tersebut adalah fatal adanya. Karena suatu saat, gemerasi-generasi
kemudian akan membongkarnya. Baru-baru ini, kami (Tambora Study
Club-Makassar) mencoba membongkar tabir kejayaan masa lalu dana
mbojo yang terjadi pada tahun 1769 – 1792 pada saat kesultanan Mbojo
melakukan penaklukan terhadap daerah manggarai. Mengungkap kembali
keberadaan ASI Mbojo yang ada di Reo serta hubungan keterkaitan
adanya Tapak Kahampa. Sebuah tugas Berat bagi kami (TSC) untuk
melakukan penelitian sejarah kemudian dipertanggungjawabkan
keabsahan penelitian secara otentik. Tim Peneliti yang di Ketua-I oleh
Ketua Umum TSC makassar memulai mengungkap tabir misteri tersebut
dengan melakukan study Literatur di Makassar-Gowa, Ende-Manggarai
serta Bima. Tak sedikit literature yang didapat untuk mengerucutkan judul
tersebut. Dalam study Literatur, Tim dibagi 3 yaitu Tim Makassar, Tim Bima
dan Tim Reo-Manggarai. Akhirnya pada tanggal 26 Mei 2008 kemarin
seluruh Tim berada di Manggarai-Reo untuk melakukan eksplorasi
lapangan atas temuan Literatur tersebut. Pada hari selasa, 10 Juni 2008.
seluruh personil Tim Berangkat ke Bima untuk melakukan Sinergisitas atas
temuan-temuan lapangan dengan para sejarahwan, Budayawan serta
Orang Dalam Kesultanaan. Sebuah hasil yang mencengangkan terkuak.
Setelah terjadi penaklukan Reo oleh kesultanan Bima pada tahun 1762 –
1769. kemudian tidak pernah lagi ada catatan atas penaklukan Reo
Tersebut hingga tahun 1890. 100 tahun tanpa catatan sejarah. Padahal
menjadi sebuah pertanyaan bagi kami ketika menemukan bukti otentik
keberadaan ASI di Reo yang dinamakan ASI MBOJO POTA. Terdapat
Tapak Tangan Kahampa, beberapa Kuburan Kuno penguasa Bima dan
Gowa, semua Dusun/Kampung di Reo menggunakan karakter nama
Mbojo. Bahasa keseharian Reo-Manggarai adalah bahasa Mbojo Asli.
Kenapa tidak ada yang mengungkap dan kenapa tidak pernah diungkap
dalam berbagai catatan sejarah Bima? Berikut Catatan yang kami rangkum
: Catatan Sejarah Yang Ada Dalam sejarah kebudayaan Mbojo yang
tertulis dalam beberapa Buku seperti : BO' Sangaji Kai, Catatan kerajaan
Bima, yang dirangkum oleh Henri Chambert-Loir dan Hj Siti Maryam R.
Salahuddin (yayasan Obor Indonesia 1999), Buku BO' Suatu Himpunan
Catatan Kuno Daerah Bima (Masir Q Abdullah; 1982), Kerajaan Bima Dana
Mbojo (H. Abdul Tajib BA; 1990), Manggarai Mencari Pencerahan
Historiografi (Dami L Toda; Ende Nusa Indah 1999). Menceritakan tentang
sejarah penaklukan Manggarai oleh kerajaan Bima yang dimulai sejak
tahun 1760. Dalam BO' Sangaji Kai mangatakan bahwa ; pada 15/11/1760,
Sultan Abdul Kadim menyuruh Tureli Bolo Ismail dan sejumlah pejabat
beserta rakyat 1.500 orang untuk menuju gunung Talo di Manggarai
sebagai perwakilan kesultanan Bima; mereka disuruh mendirikan Kota dan
Benteng … 10 hari kemudian utusan kesultanan Bima sampai di Bandar
dalam sungai Gunung Talo Pada Masa tersebut hingga 22/05/1769 dalam
catatan BO' Sangaji Kai bahwa "Dalu Todo (Kepala Dusun Todo) dan Dalu
Leda (Kepala Dusun Leda) diberikan sebuah surat resmi dari Sultan Bima
(Sultan Abdul Kadim Muhammad Syah atau Ma Wa'a Taho) sebagai tanda
kekuasaan Bima atas Pota. Sebelumnya, pada 15/03/1769, Tureli Bolo
sebagai Punggawa besar di Pota dan Reo melakukan penyerangan
terhadap Benteng Pota dan benteng Pawo hingga akhirnya pada
22/04/1769 Benteng Pota dan Pawo dapat direbut, Daeng Tamimang dan
Karaeng Balak menyerahkan diri. Pada saat itu pula Sultan Abdul Kadim
mengangkat Daeng Malajang sebagai Papu (Ketua Masyarakat Makassar
di Reo) Antara tahun 1760 hingga 1769 menurut catatan D.F. Van Braam
Morris (Nota Van Toclichting Behoorende Bij Net Contract Gesloten Met
Het Landschap Bima Op Den 20sten October 1886) Kesultanan Bima
menguasai Manggarai atas dua wilayah yaitu Reo ndan Pota. Reo memiliki
tujuh wilayah distrik/dusun (Reo, Toda, Renda, Kole, Koela, Barie, dan
Weas) sedangkan Pota terbagi atas enam distrik/dusun (Babi, Rioeng, Biti,
Tjitjir, Ramoe dan Tjongkar). Kepada seluruh Dalu (kepala kampung) yang
dilewati oleh rombongan pasukan kesultanan Bima yang dipimpin oleh raja
Turteli Bolo selaku yang mewakili Sultan Bima, diharuskan bersumpah dan
meminum air pembasuh keris tatarapang yang dipakai oleh Anangguru
(Ketua Pasukan) Sape La Nipa serta disumpah bahwa "dengan
sejujur-jujurnya bahwa kami sekalian menyatakan, hanya tanah Bima
menjadi Nyawa, Tanah Manggarai jadi Tubuh, Tanah Bima jadi angina,
Tanah Manggarai menjadi Hamba, sekalian isinya jadi daun dan kayu.
Demikian pesan orang tua-tua terdahulu hingga sekarang". Dalam
berbagai catatan naskah kuno yang ada di Bima tidak disebutkan berapa
Dalu yang disumpahi dan kemudian ditaklukan dengan tanpa perlawanan
maupun peperangan. "…Demikian pesan orang tua-tua kami terdahulu…"
yang dimaksudkan adalah keturunan dari Makipiri Solo (anak dari
Manggampo Donggo) yang sebelumnya telah melakukan penaklukan
tanah Manggarai. Dari berbagai buku tidak terdapat catatan kapan
tepatnya Makapiri Solo Menaklukan tanah-tanah Timur (Solo, Sawu, Solor,
Sumba, Larantuka, Ende, Manggarai, dan Komodo). Hanya dikatakan
bahwa Makapiri Solo melakukan penaklukan tersebut atas perintah
ayahanda-nya yaitu Mawa'a Bilmana yang merupakan Raja Bima ke- 11.
kemudian menjadi Tureli Nggampo (Raja Bicara). Makapiri Solo berupaya
meluaskan kerajaan yang kemudian menjadi tradisi hingga pada
kepemimpinan Sultan ke- 2 (Abi'l Khair Sirajuddin), Mantau Uma Jati.
Selama itu pula tanah-tanah Timur dating ke Bima membawa upeti hingga
sampai masa kepemimpinan Sultan Abdul Kadim (yang memerintah pada
tahun 1736) Dari catatan sejarah yang ditemukan bahwa menaklukan
kembali Reo dan Pota oleh kesultanan Bima adalah akibat adanya gerakan
kudeta/pemberontakan yang dilakukan oleh Daeng Tamimang yang
bergelar Papu (sebutan bagi pimpinan orang Goa di Manggarai). Hampir
seluruh distrik di Reo dan Pota yang dipimpin oleh Dalu (kepala Kampung
di Reo) dikuasai oleh Papu. Sehingga misi penaklukan kembali tersebut
adalah membinasakan orang Mengkasara (Makassar). Sedangkan dari
beberapa catatan sejarah yang ada, tidak ada sikap tegas dari Sultan Goa
Sirajuddin yang pada saat itu menjadi sultan di Goa. Sebab Papu adalah
perwakilan Kesultanan di Goa di Manggarai yang diangkat oleh sultan itu
sendiri. Merunut pada sejarah yang terjadi bahwa Manggarai adalah
pertanda Raja Goa dan Raja Bima esa, maka hamba Raja Bima dan Raja
Goa adalah satu jua adanya (Manggarai adalah symbol persaudaraan
masyarakat Goa dan Bima). Dari catatan Lontara Goa yang kemudian
dicocokan dengan BO' Sangaji Kai bahwa raja Goa Tumenanga Rasorayu
datang ke Bima (tidak ada penjelasan Tahun), bertemu dengan raja Bima
sultan Abdul Kahir (Sultan Bima ke- 1 Mantau Bata Wadu) yang
memerintah pada tahun 1620-1640. Pada saat itu diberikannya wilayah
Pota sampai Sungai Ramo kepada Sultan Bima. Pada saat Abi'l Khair
Sirajuddin atau Mantau Uma Jati memerintah ( 1640-1682) memberi tanah
Reo tersebut (untuk dikelola) kepada cucu tirinya Karaeng Bontowa hingga
Barie, tetapi isi dan upetinya tidak pernah dibagikan kepada Sultan Bima.
Kemudian tanah tersebut dikembalikan lagi kepada Sultan Bima
Hasanuddin Muhammad Ali Syah atau Mabata Bou. Sultan Hasanuddin
Muhammad Ali Syah yang menikah dengan Karaeng Bissangpole
menyerahkan tanah Reok yang dikembalikan tadi kepada adik istrinya yaitu
Daeng Mambila dan Daeng Mangakili. Pada saat tanah Reok diserahkan
kepada Mamora yaitu anak dari Daeng Mangaliki (yang telah dipengaruhi
oleh Belanda) berusaha menguasai tanah Manggarai dengan
sewenang-wenangnya. Hingga pada akhirnya Sultan abdul Kadim
mengambil kembali tanah Reok tersebut dibawah penguasaan kesultanan
Bima yang diwakili oleh Tureli Bolo dan kemudian dilanjutkan oleh Tureli
Donggo. Ketika masa penaklukan kembali tanah Manggarai oleh
Kesultanan Bima (1760 – 1769). Sultan Bima Abdul Kadim melakukan
perjalanan dari Bima menuju Reo dan Pota dua kali. Sedangkan Sultan
Goa tidak pernah sekalipun datang. Perjalanan pertama tidak tercatat
dalam catatan naskah Kuno sejarah Bima. Sedangkan perjalanan ke dua
adalah perjalanan bersama rombongan perang yang cukup banyak dalam
rangka menjatuhkan benteng Pota dan Benteng Pawo yang bersikeras
menentang pasukan Bima. Yang kemudian setelah ditaklukan, sultan Bima
melanjutkan perjalanan menuju Goa. Ada catatan yang belum pernah
terjawab yaitu ketika Gubernur Belanda bertanya kepada sultan Abdul
Hamid yang berkunjung ke Makassar pada tahun 1792 (21 Tahun
Kemudian) dengan menggunakan perahu Waworada (perahu yang sama
digunakan oleh sultan-sultan sebelumnya). Pertanyaan Gubernur Belanda
tersebut adalah tentang keadaan Manggarai dan Pemberontakan yang
dilakukan oleh Jeneli Sape. Sedangkan dalam beberapa catatan Kuno
ketika Manggarai ditaklukan kembali pada tahun 1769 hingga 1792 tidak
pernah lagi dibahas/dicatat Catatan Sejarah Yang Tidak Pernah Terungkap
Ketika Tim Peneliti melakukan eksplorasi di Manggarai, Tim melakukan
interview dengan beberapa warga Reo yang diakui sebagai keturunan
Galarang Dara, Galarang Sakuru, Galarang Mange Maci, Galarang Sape,
Galarang Wera serta Galarang Santi yang kini mendiami Reo. Data lisan
tersebut menjadi data awal peneliti. Atas kesaksian turun temurun tersebut,
di Pota terdapat puing ASI POTA, 30 % bangunan fisik masih bias dikenal.
20 % sisa terbakar dan 50 % telah dirubuhkan dan kemudian diatasnya
dibangun perkantoran. Pengakuan dari para keturunan Galarang –
galarang di Reo, bahwa masih terdapat Naskah Kuno yang merupakan
catatan sejarah yang sempat diselamatkan ketika ASI Pota terbakar. Dan
yang bertanggungjawab terhadap pemeliharaan Naskah Bima Kuno
tersebut adalah dari keturunan Galarang Mangge Maci (hal ini sesuai
dengan pernyataan: "…banyak Naskah BO' pernah disusun di Reok pada
tahun 1781 atas perintah Wakil Raja Bima di Manggarai, termasuk naskah
`Makassar III'…; hal xxxi – xxxii; BO' Sangaji Kai). Catatan naskah Kuno
sejarah Bima yang diyakini oleh masyarakat Reo tersebut masih ada. Yang
merupakan titik terang untuk mengetahui sejarah berdirinya ASI Pota
maupun Tapak Tangan `Kahampa' yang ada di Reo. Termasuk untuk
mengungkap identitas keberadaan dan nama asli Makapiri Solo yang juga
diyakini oleh masyarakat Reo sebagai orang yang diutus oleh kerajaan
Bima kemudian melakukan penimbunan terhadap teluk kendindi yang
kemudian menjadi daratan Reo (sebelumnya Reo adalah Reok yang
merupakan bagian teluk Ramo). Keberadaan makam para Turelui, para
Anangguru, para Bumi maupun para Galarang yang ada di Reo merupakan
bukti otentik sejarah yang hingga saat ini belum terkuak. Ketika Sebuah
Misteri Terbongkar Rangkuman dibawah ini merupakan asumsi Tim peneliti
yang di senergiskan dengan beberapa catatan sejarah yang ada. Baik
catatan dari beberapa buku yang ada di Manggarai, Makassar maupun
Bima. Dari data serta penjelasan tersebut diatas bahwa daerah Reo
merupakan tapak sejarah Mbojo yang diendapkan oleh oknum-oknum
tertentu yang tidak ingin menjadikan Manggarai sebagai bagian dari
sejarah Bima. Sejarah yang tidak pernah diungkap selama 1969 – 1792
(21 Tahun) dalam berbagai literature sejarah, akan coba kami ungkap
sedemikian rupa. Manggarai adalah sebuah pulau yang kemudian disebut
sebagai pulau Flores (NTT). Terdapat tapak sejarah Bima didaerah
tersebut. Hal ini ditandai dengan adanya ASI Pota Mbojo serta Tapak
Tangan Kahampa, ada juga makam-makam kuno yang di yakini sebagai
makam para petinggi kesultanan Goa dan kesultanan Bima. Yang lebih
identik lagi adalah nama-nama kampong di kec Reo kab Manggarai
Tengah menggunakan nama-nama dalam bahasa Mbojo. Misalnya,
kampung Bari (Baris), kampung Sigi, kampung Naru, kampung To'I, dll.
Bukankah itu adalah sebuah kejelasan adanya keterkaitan antara Bima
dan Reo? Namun setelah 21 tahun kemudian (1769-1792) Reo mulai
terlupakan. Tidak pernah lagi dibahas dalam catatan Bo' sangaji Kai
maupun beberapa buku yang lain. Manggarai diidentikan dengan Donggo,
hal itu ketika kita masih mengingat umpatan-umpatan seperti `nggomike
pakaro bune dou manggarai', ` sampula nggomike bune dou manggarai'.
Dari umpatan tersebut ada kesengajaan sejarah yang tengah diendapkan.
Tanpa kita mengetahui kenapa disebut `manggarai ` dalam
umpatan-umpatan tersebut. Sebagian para sejarahwan mengatakan
bahwa Manggarai adalah tempat pembuangan bagi orang-orang istana
kesultanan Bima. Namun dari catatan dan data yang terhimpun, Manggarai
hampir sama dengan Tambora, yaitu daerah `mutasi' bagi para petinggi
kesultanan yang tidak disukai oleh raja atau mungkin oleh kalangan dalam
istana. Jika hal tersebut dibongkar maka aib bagi kesultanan. Sama halnya
ketika seminar internasional budaya Mbojo di ruang sidang DPRD Kab
Bima pada bulan april 2008 Lalu. Salah seorang narasumber, ahli Naskah
kuno dari Universitas Airlangga Surabaya menemukan sebuah catatan
hubungan antara kesultanan Bima dengan Kerajaan Malaka (Singapura)
pada masa kepemimpinan Sultan Ismail Muhammad Syah (1817-1854).
Dalam naskah kuno tersebut dijelaskan bahwa Sultan Ismail pernah
melakukan hubungan dagang Opium dan Budak Wanita dengan singapura.
Belum selesai dibahas, narasumber lain menyela dan merampas mix yang
dipakai oleh narasumber tadi dihadapan para peserta seminar
internasional tersebut. Kenyataan lain, bahwa Tapak Tangan `Kahampa'
adalah jejak prasasti sejarah Dana Mbojo yang terjadi pada jaman Naka
(Jaman Batu). Pada jaman tersebut di Dana Mbojo terdapat kerajaan yang
bernama kerajaan KALEPE yang ada di Parado (ilustrasi kerajaan Kalepe
baca artikel, Dou Mbojo Atau Dou Bima Kah Kita?). Puing-puing bangunan
kerajaan Kalepe tersebut masih ada sampe sekarang, namun catatan
sejarahnya tidak pernah ditulis atau dipublikasikan karena berkaitan
dengan keberlangsungan kesultanan Bima. Beberapa Budayawan muda
local Bima yang berangkat untuk meneliti keberadaan istana kerajaan
Kalepe di Parado dilarang oleh Camat Parado dengan alasan yang tidak
jelas. Tapak Tangan Kahampa secara historiografi merupakan prasasti
jaman Batu (masa Naka; belum mengenal baca dan tulis). Namun
beberapa sumber menjelaskan bahwa Tapak tersebut adalah tapak tangan
Sultan Bima dalam rangka symbol persaudaraan antara
Bima-Goa-Manggarai. `Kahampa' diartikan bahwa `hanya sampai disini
pertumpahan darah antara masyarakat Goa-Bima-Manggarai terjadi'
Hingga tulisan ini diturunkan, Kami (TSC-Makassar) sedang dalam proses
pengumpulan data akhir serta perangkuman penelitian untuk dijadikan
Buku. Insyaallah buku yang kami beri Judul ASI POTA & TAPAK
KAHAMPA `Sebuah Misteri Tapak Sejarah Mbojo Yang Belum Terungkap'.
Akan kami Louching pada penutupan HUT Dana Mbojo ke 367 (5 Juli
2008). Semoga buku tersebut bermanfaat dan menjadi perangkai sejarah
Mbojo yang terbengkalai selama ini. Sebab ada kesan bahwa buku BO'
Bicara Kai (catatan Ruma Bicara atau perdana Menteri) sengaja
diendapkan oleh pihak kesultanan untuk menutupi beberapa aib yang
pernah terjadi dalam sejarah Bima. Karena sesuatu yang tidak mungkin
apabila BO' Sangaji Kai yang sama tempat penyimpanannya dengan BO'
Bicara Kai, selamat dari peristiwa ASI Mbojo terbakar pada tahun 1920-an.
Sedangkan BO' Bicara Kai tidak terselamatkan. Terima Kasih, Oleh : R a n
g g a (Ketua Umum TSC - Makassar) by www.bimacenter.com

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:584
posted:5/3/2010
language:Spanish
pages:6