PERLINDUNGAN HAM DALAM HUKUM PIDANA ISLAM

Document Sample
PERLINDUNGAN HAM DALAM HUKUM PIDANA ISLAM Powered By Docstoc
					                                                                              Opini


            PERLINDUNGAN HAM DALAM HUKUM PIDANA ISLAM
                              Topo Santoso, S.H., M.H.


       Bagi umat Islam setiap hak harus dikembalikan kepada dua sumber
rujukannya yaitu Al-Qur’an dan As Sunnah. Jadi Hak Asasi Manusia menemukan
landasan yang kuat dalam hukum Islam.
       Dalam Islam, semakin manusia tunduk kepada Tuhan dan hanya mengabdi
kepada-NYA, semakin bebas ia dari penghambaan kepada manusia lain atau
mahkluk Tuhan lainnya. Dengan mengatakan Allahu Akbar (Allah Maha Besar) ia
menutup pintu dari semua penghambaan. Ini berarti menyatakan dan menegaskan
bahwa pada dasarnya dirinya adalah bebas.
       Boisard, dalam kaitan ini menyatakan: “God’s omnipotence leads to man’s
freedom from man. His exclusive adoration, direct and without intermediary, asserts
the believer’s greatness and guarantees his need not fear being the slave of any but
God.”[1]
       Hukum Islam patut dicontoh dalam mempertahankan bahwa hak-hak
fundamental tidak dapat diciptakan oleh manusia tetapi hanya dapat dia buat
menjadi terang. Hak-hak tersebut diturunkan secara tidak langsung dari nilai
dasarnya, bahwa ia adalah hamba Tuhan, dengan demikian tidak menghamba
kepada yang lain, ia bebas.
       Meskipun tidak menempati posisi utama secara khusus, adalah keliru
menyimpulkan bahwa tidak cukup perlindungan hukum terhadap human rights ini,
karena semua hukum yang berdasarkan Al-Qur’an secara prinsip sama penting.
Literatur hukum Islam biasanya tidak tidak menjadikan human rights sebagai satu
kelompok khusus, tetapi mengkaitkannya dalam konteks berbagai subyek seperti
hukum perkawinan, hukum pidana, hukum ekonomi, dan sebagainya.
       Sama dengan pendekatan tersebut, Islam juga menganl bahwa hak apapun
juga (termasuk human rights), hanya dapat dijamin jika seluruh sistem hukum di




www.pemantauperadilan.com                                                         1
                                                                              Opini


dalam kondisi dan keteraturan yang baik, dimana bahwa tujuan yang mulia dari
keadilan tadi dapat dicapai sebagai hasil dari suatu sistem sosial yang komprehensif
dan adil.
       Sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu, hak-hak tertentu telah mendapat
jaminan berdasarkan Al-Qur’an, yaitu (Bassiouni, 1982:23; Hofmann, 1993:129-130):
   •   Hak hidup
   •   Kemanan diri
   •   Kemerdekaan
   •   Perlakuan yang sama (non diskriminasi)
   •   Kemerdekaan berpikir, berekspresi, keyakinan dan beribadah
   •   Perkawinan
   •   Kemerdekaan hukum
   •   Asas praduga tak bersalah
   •   Nulla paena sine lege (tiada pidana tanpa undang-undang sebelum perbuatan
       itu)
   •   Perlindungan dari kekejaman
   •   Suaka
   •   Kebebasan berserikat dan berkumpul
   •   Berprofesi dan bekerja
   •   Hak memilih, memperoleh dan menentukan hak milik
   •   Dsb


       Al-Qur’an memberi tekanan pada persamaan diantara manusia. Semua
manusia adalah sama dalam hal asl spiritual mereka, karena telah diciptakan oleh
pencipta yang sama, dan mereka sama dalam asal fisik mereka karena berasal dari
spesies yang sama. Tiada ruang bagi klaim superiotas karena asal atau nenek moyang.
       Islam tidak mengakui keutamaa atas dasar kelahiran, kebangsaan atau faktor-
faktor lain. Kemuliaan yang sesungguhnya terletak pada ketakwaan semata-mata.




www.pemantauperadilan.com                                                         2
                                                                               Opini


Rasulullah SAW bersabda: “ semua manusia adalah sama seperti gigi sisir. Bangsa
Arab tidak lebih tinggi dibanding bangsa non Arab kecuali dalam hal ketakwaan.”
       Persamaan antara pria dan wanita pada kenyataannya merupakan akibat
wajar atau penerapan dari doktrin persamaan. Satu dari prinsip-prinsip umum
syariah Islam adalah bahwa hak-hak dan tugas-tugas wanita adalah sama dengan
pria. Sebagaimana pria mempunyai tertentu yang harus dipenuhi terhadap wanita,
wanitapun memiliki kewajiban tertentu terhadap pria.[2] (Audah, 1987:27).


Kebebasan
     Jauh dari sikap fanatik dan memaksa umat lain menjadi seorang muslim, umat
Islam (sebagaimana dituntun oleh Qur’an) menegaskan bahwa tidak ada paksaan
dalam agama. Apabila anda melihat negara-negara muslim, mulai dari Arab Saudi,
Iran, Turki dan negara-negara muslim lainnya yang telah menganut Islam selama 14
abad, tetap ada masyarakat non muslim, seperti contoh: ada penganut Sikh, Hindu,
Kristen yang telah hidup disana berabad-abad lamanya. Maka jika ada paksaan untuk
beralih ke Islam, maka selama berabad-abad itu mereka telah berganti agama,
menjadi pemeluk Islam. Umat Islam tidak memaksa individu-individu untuk
menerima keimanannya, dan dengan demikian siapapun yang mentgatakan bahwa
anda harus memotong leher untuk membuat orang menerima Islam, bukan berasal
dari Islam dan tidak ada justifikasi apapun juga untuk itu.[3] Kita dapat menemukan
ketentuan-ketentuan Al-Qur’an mengenai hal ini:


     “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (islam); sesungguhnya telaj jelas
     jalan yang benar dari pada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar
     kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah
     berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah
     Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. 2:256)




www.pemantauperadilan.com                                                          3
                                                                            Opini


       Dengan memberikan jaminan terhadap kebebasan dalam keyakinan kepada
semua penduduk, baik muslim dan non muslim, syariah telah menunjukkan
tingkatan tertinggi dari kesempurnaannya. Ia memberikan kepada orang-orang non
muslim hak untuk mengekspresikan keyakinannya, menjaga tempat ibadahnya dan
sekolah-sekolah untuk menyampaikan ajaran agamanya.[4]
       Disamping itu, Islam juga menjamin kebebasan berpikir dan berbicara. Al-
Qur’an mengajarkan kepada kaum muslimin untuk berpikir dan merenung, banyak
sekali ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan prinsip kebebasan berpikir ini dan
menekankan penggunaan akal.


     “sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan
     siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
     dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa airitu Dia hidupkan hidup
     sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,
     dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi;
     sungguh (terdaoat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang
     memikirkan.” (Q.S. 2:264)


       Al-Qur’an memperingatkan orang-orang yang tidak menggunakan akalnya,
menjadikan akalnya tidak bekerja dan mengikuti sesuatu yang tidak jelas; ia juga
memperingatkan untuk tidak mengikuti takhayul dan mitos serta tunduk membabi
buta pada tradisi dan kebiasaan.
       Manusia boleh memikirkan apa saja dan mengambil setiap model pemikiran
yang dia pilih. Dia tidak dapat dicela karena pemikirannya, bahkan bila berfikir
tentang sesuatu perbuatan yang dilarang syariah; karena syariah tidak mencela akal
pikiran dan memerintahkan setiap orang untuk menghitung pemikiran dari suatu
kata yang terlarang telah diucapkan atau suatu perbuatan yang dilarang sudah
dilakukannya.[5]




www.pemantauperadilan.com                                                       4
                                                                            Opini


       Meskipun setiap individu memiliki hak berbicara atau menggunakan
penanya untuk membela keyakinannya, tetapi hak ini bukan merupakan kebebasan
tanpa batas. Orang dapat menggunakan hak ini hanya dalam batas-batas kepantasan
sosial, moralitas, dan pada kondisi yang tidak mengotori ketentuan-ketentuan
syariah.


Hak untuk hidup, merdeka dan keamanan diri
       Islam, seperti halnya sistem lain melindungi hak-hak ini. Ia melarang bunuh
diri (Q.S. 4:30), dan juga pembunuhan . Dalam Islam pembunuhan terhadap seorang
manusia tanpa alasan yang benar bagaikan membunuh manusia seluruhnya.
Sebaliknya barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia maka seolah-
oleh ia memelihara manusia seluruhnya. (Q.S. 5:32).
       Islam, secara keliru dianggap menyetujui dan melestarikan perbudakan. Pada
kenyataannya Islamlah yang menyelamatkan nasib para budak. Dalil syariah
maupun fakta sejarah menunjukkan hal ini. Dalam zaman pra-Islam, perbudakan
telah berkembang tanpa kontrol dan kebanyakan budak mengalami nasib yang
sangat menyedihkan. Pemilik budak memiliki dan menggunakan kekuasaan atas
hidup dan matinya si budak.
       Islam melarang perbuatan demikian. Sikap Nabi Muhammad SAW sendiri
terhadap perbudakan sangat terkenal. Beliau membagikan banyak harta kepada fakir
miskin, membebaskan para budak, bersikap bijaksana dan manusiawi kepada
mereka. Sikap ini dicontoh oleh sahabat-sahabat nabi dan terus berlanjut hingga
hapusnya perbudakan. Sepanjang hidupnya, Nabi Muhammad SAW tidak memiliki
seorang budakpun, karena lembaga perbudakan dan segala yang berbau dengan itu
tidak pantas bagi beliau.[6]
       Tetapi kondisi kehidupan pada masa itu (awal abad ke-7) tidak
memungkinkan penghapusan secara total lembaga ini karena perbudakan sudah ada
selama berabad-abad. Rasulullah SAW telah melakukan usaha untuk melindungi




www.pemantauperadilan.com                                                       5
                                                                               Opini


para budak. Beliau tidak saja menegaskan perlakuan manusiawi kepada budak, tetapi
juga memungkinkan bagi mereka meraih kemerdekaan. Perbuatan baik kepada
budak dipandang sebagai perbuatan yang sangat mulia.[7]
       Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa perbuatan baik kepada budak adalah
perbuatan yang sangat mulia:


     “........dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapa, karib kerabat, anak-anak
     yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat atau jauh, teman sejawat, ibnu sabil
     dan hamba sahaya.....” (Q.S. 4:36)


Masalah hukuman terhadap pelaku kejahatan
       Pasal 5 dari Universal Declaration of Human Rights bertujuan menghapuskan
perlakuan atau hukuman yang menganiaya, kejam, tidak manusiawi atau
merendahkan. Sejauh perhatian ditujukan pada masalah perlakuan, Islam tidak
mengenal suatu dasar bagi perlakuan diskriminatif. Semua orang berhak atas
perlakuan yang adil dan sama. Perilaku dan sikap yang bermartabat serta
penghargaan terhadap martabat orang lain menjadi karakter yang terkemuka dari
masyarakat Islam bahkan selama apa mungkin bisa disebut periode penurunan
sekalipun.
       Nabi Muhammad SAW melarang kekejaman dan penyiksaan. Beliau
bersabda: “Tidak seorangpun boleh dijatuhi hukuman dengan api,” dan juga
memperingatkan untuk tidak memukul siapapun pada wajahnya.
       Dibidang hukum pidana, beberapa hukuman mungkin terlihat berat atau
bahkan keras. Beratnya hukuman yang diancamkan bagi beberapa kejahatan seperti
perzinahan, akan lebih mudah dimenegrti bila diingat bahwa menjaga nilai-nilai dan
standard moral merupakan perhatian utama dari agama.
       Akan tetapi, pengertian seperti itu, tidak mudah muncul dari masyarakat
modern dimana hubungan seksual sebelum atau diluar nikah tidak lagi dipandang




www.pemantauperadilan.com                                                          6
                                                                                 Opini


bertentangan dengan moral[8], atau masyarakat yang memandang hubungan seksual
sesama jenis sebagai normal dan hak setiap pribadi yang tidak bisa diganggu gugat.
       Setiap masyarakat memiliki dan mengikuti standardnya sendiri. Islam
memandang kejahatan tersebut sebagai kejahatan yang keji dan konsekuensinya
sangat menyakitkan. Contoh kejahatan lainnya adalah pencurian yang dikategorikan
dalam hukuman hudud. Hukuman bagi kejahatan ini adalah dipotong tangan . Hal
ini terdengar sangat berat, tetapi ada kriteria-kriteria tertentu sehingga pencurian itu
bisa dijatuhi hukuman ini. Kalau kita ingat bahwa di Inggris, pencurian benda yang
berharga tidak lebih dari satu shilling sudah diklasifikasikan sebagai kejahatan berat
dan, sebagaimana kejahatan berat lainnya, dihukum dengan hukuman mati. Hal itu
berlangsung hingga akhir 1861.[9]


Kesamaan Dihadapan Hukum
       Islam menanamkan dan memegang teguh prinsip kesamaan di hadapan
hukum dan perlindungan hukum tanpa diskriminasi dengan begitu jelas dan tegas.
Para hakim ditugaskan untuk menjalankan tugasnya dengan adil dan tidak berpihak.
       Umar bin Khatab ra, Khalifah kedua, pernah tercatat sebagai tergugat dalam
suatu kasus. Saat ia hadir didepan sidang, hakim yang menangani kasus itu berdiri
menghormat. Umar ra memandang bahwa ia datang bukan dalam kapasitas sebagai
khalifah, tetapi sebagai warga negara biasa dimana adalah tidak konsisten bagi hakim
untuk menunjukkan rasa hormat kepadanya yang tidak berlaku bagi setiap warga
lainnya yang yang muncul di pengadilan. Dia berpendapat bahwa hakim tersebut,
dengan perbuatannya itu, telah melanggar tugas untuk tidak berpihak terhadap para
pihak dan tidak lagi cakap untuk melaksanakanfungsi-fungsi judicial.[10]
       Kisah lainnya adalah mengenai Ali bin Abi Thalib ra, Khalifah keempat dan
menantu Rasulullah SAW. Ali ra pada suatu ketika muncul di pengadilan sebagai
penggugat melawan seorang yahudi. Untuk mendukung gugatannya, sebagai
tambahan bagi keterangannya sendiri, Ali mengajukan putranya Hasan ra sebagai




www.pemantauperadilan.com                                                             7
                                                                              Opini


seorang saksi. Hakim perkara berpendapat bahwa karena hubungan yang sangat
dekat antara penggugat dan saksi, kesaksian yang diberikan tidak dapat diakui dan
dia menolak gugatan tersebut. Si tergugat sangat terkesan menyaksikan hal tersebut
dan pada akhirnya dia mengakui klaim tersebut dan melepaskannya.[11]
       Harus dicatat bahwa apapun perbedaan yang ada dalam sistem hukum Islam
antara muslim dan non muslim bukanlah sikap diskriminasi, melainkan suatu
pelaksanaan peradilan yang oleh Bassiounni (1982) disebut sebagai a separate paralel
equal aplication of justice. Hal ini didasarkan pada perbedaan kriteria untuk
meresponmaksud dan tujuan yang berlainan.
       Dalam konteks pertanyaan yang lebih luas tentang peradilan pidana islam
dan perlindungan hak-hak asasi manusia, ada pertanyaan mengenai tempat bagi
individu, dan hak-haknya yang diambil dari hubungan konseptual antara individu
dan negara. Berbeda dengan filosofi dan persepsi barat tentang keterpisahan antara
individu dengan negara, konsep sosial Islam tidak membuat perbedaan seperti itu.
Individu tidak berdiri sendiri dalam posisi sebagai lawan dari negara tetapi adalah
bagian integral darinya.


Aspek Perlindungan HAM Dalam Hukum Pidana Islam[12]
       Agama dengan ketiga rukunnya yakni Iman, Islam dan Ihsan atau Akidah,
Syariah dan Akhlak adalah murni diperuntukkan kepada umat manusia. Tidak ada
sedikitpun kepentingan Tuhan yang menurunkannya, karena Allah SWT memang
tidak punya kepentingan sekecil apapun. Karena itu, setiap ketentuan agama,
termasuk hukum pidananya akan bertumpu pada pemenuhan serta perlindungan
hak dan kepentingan manusia. Di kalangan para ulama dikenal dikenal apa yang
disebut Maqoshid al Syariah yaitu tujuan hukum Islam yang mencakup
perlindungan terhadap lima hal yang menjadi tonggak keberadaan manusia yakni
agama (akidah), nyawa, akal nasab atau harga diri, dan harta benda.




www.pemantauperadilan.com                                                         8
                                                                            Opini


       Dengan demikian pertanyaan tentang sejauh mana hukum pidana Islam
dapat melindungi hak-hak asasi manusia sebenarnya tidak perlu muncul di tengah
umat yang meyakini kebenaran agama tersebut. Namun akhirnya pertanyaan
tersebut menemukan relevansinya karena didukung berbagai faktor diantaranya
yang terpenting adalah (1)perbedaan pandangan antara agama dan pandangan umum
yang berkembang dalam melihatHAM serta filosofinya, dan; (2) perhatian terhadap
Islam yang menitikberatkan pada hukum pidananya. Kedua faktor ini bukan saja
melahirkan tanda-tanya bagi sementara orang tentang kaitan hukum hukum pidana
Islam dengan HAM, tetapi bahkan telah melahirkan sikap apriori terhadap hukum
Islam secara keseluruhan dari sebagian umat Islam sendiri.
       Bahwa Islam secara eksplisit menyatakan sangat menghormati harkat
manusia adalah sesuatu yang teramat jelas. namun dalam melihat manusia, Al-
Qur’an telah menggabungkan dua sisi dari mahkluk ini yang bertolak belakang.
Manusia dianggap sebagai mahluk yang sangat mulia tetapi pada saat yang sama ia
juga dianggap sebagai mahkluk yang sangat hina.
       Bila kita mendengarkan, misalnya kisah Al-Qur’an tentang malaikat yang
bersujud di hadapan Adam as, maka kita tahu betapa mulianya mahkluk ini. Tetapi
bila kita mendengarkan Al-Qur’an berkali-kali, merngingatkan kita akan asal-usul
manusia, kita tahu betapa tidak berharganya mahkluk ini karena berasal dari air
yang memancar dari tulang rusuk. Kedua sisi yang bertolak belakang ini
diperintahkan agar dipelihara secara seimbang. Manusia bisa menjadi besar dan
sombong kalau tidak melihat sisi kehinaannya dan sebaliknya bisa kerdil dan tidak
berdaya kalau tidak ingat akan sisi kemuliaannya. Karena itu Al-Qur’an tidak hanya
mengutuk Fir’aun yang sombong tetapi juga mengutuk kaumnya yang lemah dan
tidak punya keberanian untuk melawannya.
       Kedua sisi manusia yang bertolak belakang itu juga diterjemahkan oleh
agama melalui tatanan hukumnya. Ketika seorang manusia tidak bersalah maka hak
dan martabatnya dianggap suci dan harus dilindungi secara penuh, sebaliknya ketika




www.pemantauperadilan.com                                                       9
                                                                             Opini


kesalahan seseorang sampai kepada kejahatan qishos atau hudud, maka satu persatu
dari sendi-sendi kemuliannya itu runtuh untuk kemudian diperlakukan oleh hukum
berdasarkan sisi kehinaannya. Ia tidak lagi dipandang sebagai anggota masyarakat
yang berguna, tetapi sebaliknya ia ibarat anggota tubuh yang terpaksa harus
diamputasi demi keselamatan tubuh itu sendiri. Karena itu, Al-Qur’an melarang kita
menaruh rasa iba kepada pezina yang dijatuhi hukuman cambuk (QS 24:2) karena ia
memang tidak lagi berhak mendapatkan rasa iba.
       Dengan demikian anggapan bahwa sanksi dan hukuman pidana Islam
(hukuman mati, potong tangan, cambuk) adalah kejam atau tidak manusiawi, berarti
karena tidak adanya keyakinan akan sisi kehinaan manusia sehingga ia dipandang
sebagai mahkluk yang mulia selamanya dan dalam keadaan apa saja.
       Dengan menggabungkan dua sisi manusia yang bertolak belakang itu, maka
hukuman pidana Islam dapat dikatakan keras dan berat, tetapi kekerasan itu
dijatuhkan   kepada    seseorang   yang   sebenarnya    telah   dilucuti   martabat
kemanusiaannya sehingga penerapannya tidak dapat dikatakan bertentangan dengan
perlindungan HAM.
       Uraian di atas boleh jadi akan mengundang pertanyaan, yakni dengan ukuran
apa pelaku tindak pidana qishos atau hudud dianggap telah telah runtuh martabat
kemanusiaannya? Disinilah dapat dilihat tolak ukur yang berbeda antara hukum
Islam dengan hukum yang lain. Hukum Islam menetapkan beberapa parameter
untuk mengukur sempurna atau tidaknya martabat hukum seseorang, diantaranya
adalah parameter akidah dan harga diri. Dua hal ini dalam pandangan di luar Islam
tidak termasuk kebutuhan vital bagi manusia dimana seseorang boleh beradab,
percaya kepada Tuhan atau tidak, boleh mempermainkan akidah dengan
menyatakan keluar dari akidah yang benar dan begitu juga boleh mempertahankan
harga dirinya atau tidak, bahkan boleh menjual harga dirinya sekalipun.
       Sementara hukum Islam mempunyai pandangan yang berbeda. Menurut
hukum Islam, akidah yang benar adalah kebutuhan yang sangat vital, melebihi




www.pemantauperadilan.com                                                       10
                                                                              Opini


kebutuhan terhadap makanan dan minuman karena dengan akidah seseorang bisa
hidup secara rohani sementara makanan hanya dapat membuatnya secara jasmani
saja (QS. 6:123). Akidah bagaikan mata air yang dibutuhkan setiap orang, harus
diberi kebebasan mengalir dan tidak seorangpun boleh menyumbatnya atau
mencemarinya. Adapun setelah mengalir lantas ada orang-orang yang tidak mau
meminumnya maka hal itu akan menjadi hak mereka.
       Akidah Islam tidak pernah dan tidak boleh dipaksakan kepada siapapun,
tetapi pada saat yang sama tidak ada seorangpun yang boleh menghalanginya atau
mencemari    dan   mempermainkanny.      Oleh   karena   itu,   orang-orang   yang
menghalangi perjalanan akidah dianggap telah gugur harkat kemanusiaannya dan
disyariatkan jihad untuk melawan mereka.
       Dalam hal harga diri, hukum Islam menganggapnya juga sebagai sesuatu yang
mutlak dibutuhkan sebab ia merupakan inti perbedaan antara manusia dan binatang
sehingga perusakan harga diri akan berakibat sama dengan perusakan kaidah atau
kebutuhan pokok yang lain. Karena itu, perbuatan zina sekalipun dilakukan secara
suka demi suka dianggap telah menodai harkat manusia dan pelakunya dikenai
dikenai pidana yang berat yakni seratus kali cambukan.
       Tolak ukur seperti di atas juga dapat mengundang pertanyaan baru yaitu
kenapa mesti demikian? Bukankah tanpa akidah dan harga diri, hak asasi manusia
dapat dilindungi? Islam memandang manusia bukanlah tua dari dirinya sendiri yang
berhak menentukan apa saja yang dikehendakinya. Manusia adalah tuan dari
makhluk-makhluk lain di dunia, sementara dirinya adalah hamba yang dipertuan
Tuhan dan hak asasinya pun diperoleh dari pemberian Tuhan. Tuhanlah yang
menentukan apa saja Hak Asasi Manusia dan bagaimana cara melindunginya. Karena
itu ketika Al-Qur’an mewajibkan hukuman qishos, kewajiban ini diakhiri dengan
kata-kata “agar supaya kalian tertawa” (QS 2:179). Maka apabila hukum pidana
umum hanya bertujuan untuk menciptakan rasa aman dalam masyarakat, hukum




www.pemantauperadilan.com                                                       11
                                                                                   Opini


pidana Islam disamping bertujuan yang sama juga bertujuan untuk menciptakan
manusia-manusia yang patuh pada Allah SWT.
--------------------------------------------------------------------------------


[1]Marcel Boisard, Humanism in Islam (Indiana: American Trust Publications,
1988), hal.67.


[2]Audah, op.cit., hal. 27


[3]John Bowker, Voices of Islam (Oxford: One World Publication, 1995), hal.18.


[4]Audah, op. cit., hal.33.


[5]Ibid, hal 30-31


[6]Muhammad Zafrullah Khan, Islam and Human Rights: (Islamabad: Islam
International Publication, 1988), hal.67.


[7]Robert Roberts, The Sosial Laws of The Qoran (London: Curzon Press, 1990), hal.
59.


[8]Khan, op. cit., hal.73-74


[9]Ibid. hal. 75.


[10]Ibid, hal.78


[11]Ibid




www.pemantauperadilan.com                                                            12
                                                                        Opini




[12]Bagian ini dengan persetujuan, diambildari makalah Ust. Mukhlas Hisyam, MA
yang berjudul “Aspek Perlindungan HAM dalam Hukum Pidana Islam”,
disampaikan pada seminar Menyibak Sisi-Sisi Perlindungan HAM dalam
Penegakkan Hukum Pidana Islam, Fakultas Hukum UI, 15 Mei 2001




www.pemantauperadilan.com                                                  13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:868
posted:5/1/2010
language:Indonesian
pages:13
Description: makalah-ham pdf