STUDI PENERAPAN STANDARDISASI Dl PROPINSI PAPUA

Document Sample
STUDI PENERAPAN STANDARDISASI Dl PROPINSI PAPUA Powered By Docstoc
					    STUDI PENERAPAN STANDARDISASI Dl PROPINSI PAPUA
            MELALUI ANALISIS KOMODiTI EKSPOR
                                         Oleh
                  Mangasa Ritonga, Biatna Dulbert Tampubolon 1


                                       Abstrak
Paper ini membahas penerapan standar diberbagai perusahaan di wilayah di
Propinsi Papua yang berpotensi di bidang ekspor produk industri. analisa yang
dilakukan ternyata para pengusaha pengelola telah menerapkan sistem
standardisasi, namun masih perlu dilakukan pembinaan yang lebih intensif agar
produknya mampu bersaing di pasar.
        Penerapan standardisasi yang benar di perusahaan menjanjikan produk
industri atau jasa dapat memenuhi persyaratan dan dapat berfungsi sesuai dengan
keinginan konsumen, baik konsumen dalam negeri maupun luar negeri.

Kata kunci: penerapan standar,ekspor




1
    Peneliti pada Badan Standardisasi Nasional
I.    PENDAHULUAN

1.1     Keadaan Umum Papua
Luas daratan wilayah Papua 317.062 km2 dengan panjang 1.200 km dan
lebar 736 km dari Utara ke Selatan, terletak di antara 130°-140°BT dan
2°25"LU - 9°LS. Topografi daerah Papua sangat bervariasi. Bagian Selatan
terdiri atas daratan rendah dan rawa yang ditutupi hutan bakau dan sagu
dengan kerapatan sedang sampai tinggi. Pada bagian Tengah dan Utara
terdiri atas pegunungan yang memanjang dari Timur ke Barat, meliputi
Kabupaten Jayapura (Pegunungan Cyclop), Kabupaten Manokwari
(Pegunungan Arfak), Kabupaten Jayawijaya (Pegunungan Jayawijaya) serta
Kabupaten Fakfak dengan Pegunungan Kaimana. Terdapat tiga puncak
gunung tertinggi di Papua yaitu di pegunungan Jayawijaya dengan Puncak
Jaya (5.030 m), Puncak Trikora (4.160 m), dan Puncak Yamin (5.100 m) di
atas permukaan laut.
        Pada akhir tahun 2008 Propinsi Papua telah mengalami pemekaran
kabupaten/kota menjadi 25 kabupaten dan 1 kotamadya dan jumlah
penduduk 2.056.500 jiwa dengan tingkat pertumbuhan mencapai 2.03%.
Sedangkan kepadatan penduduk rata-rata 6,49 per Km2. Penyebaran
penduduk di Papua sangat bervariasi, penduduk terbanyak terdapat di
Kabupaten Jayawijaya dengan jumlah 417.326 jiwa, sedangkan penduduk
paling sedikit terdapat di Kabupaten Puncak Jaya yaitu sebanyak 79.356 jiwa.
Kepadatan penduduk di Papua terdapat di Kota Jayapura dengan 185 jiwa
per km2, disusul Kota Sorong dan Kabupaten Biak Numfor masing-masing
142 dan 35 jiwa per km2.
        Perkembangan industri kecil di Propinsi Papua sampai akhir tahun
2007 tercatat sebanyak 119 unit usaha yang terdiri dari industri kimia dan
agro, sandang dan kulit. Industri menengah dan besar berjumlah 10 unit
usaha terdiri dari industri kimia, pulp, agro secara luas, hasil hutan, mesin,
perekayasaan alat angkut serta industri tekstil dan aneka.

1.2   Ruang Lingkup
Ruang lingkup studi mencakup identifikasi masalah yang berkaitan dengan
prospek dan perkembangan penerapan standar, baik Standar Nasional
Indonesia maupun standar manca negara di Propinsi Papua oleh industri
berskala menengah dan besar yang produknya diekspor.

1.3   Tujuan
    Studi ini dilakukan untuk melihat sampai sejauh mana penyebarluasan dan
    penerapan standar di masyarakat industri, serta kesadaran para industriawan
    sehingga dapat menghasilkan produk yang bermutu.




    1.4    Metode Penelitian
    Mengingat luasnya wilayah Propinsi Papua serta keterbatasan waktu dan
    dana, maka pengambilan data sekunder dilakukan keberbagai instansi terkait
    di Jayapura serta wawancara langsung dengan pihak pencacah data.

    II.      HASIL STUDI DAN PEMBAHASAN

    2.1      Perkembangan Realisasi Ekspor

                        Tabel 1 Perkembangan Realisasi Ekspor
                      No.    Tahun            Nilai Ekspor (Juta US$)
                       1.     2004                                881,62
                       2.     2005                              2.335,77
                       3.     2006                              3.518,33
                       4.     2007                              3.112,71


          Nilai ekspor Papua pada Januari 2009 adalah sebesar 179,46 juta US$
    atau turun 39,04% dibanding pada Desember 2008 yang tercatat sebesar
    294,39 juta US$. Jumlah ekspor Papua pada Januari 2009 dibandingkan
    dengan nilai ekspor pada Januari 2008 sebesar 246,02 juta US$ juga turun
    sebesar 27,05%. Realisasi ekspor dari masing komoditi tersebut dapat dilihat
    dalam tabel berikut.

          Tabel 2 Komoditi yang Memberikan Andil Terbesar terhadap Total
                  Ekspor Propinsi Papua (Januari s/d Agustus 2007)
                                        Realisasi Bulan (US$)
No        Nama Jenis Komoditi                                              Standar Acuan
                                       2006                2007
1                 2                     3                   4                    5
1. Konsentrat Tembaga             833,935,355.07       986,451,229.65 internal
2. Plywood                         44,179,076,98        42,980,676.91 KS,JIS,EN,SNI
3. Udang Beku                        34,621,101.92      26,839,326.91 SNI
4. Ikan beku Campuran                42,640,908.66      21,372,570.89 internal
5. Film Faced                         6,598,022.99        7,080,236.01 SNI
            Sampai dengan akhir bulan Agustus 2007 jumlah pelaku eksportir yang
    secara aktif melakukan kegiatan ekspor di Propinsi Papua terdapat sebanyak
    51 perusahaan. Dalam periode bulan Januari - Agustus 2007 eksportir yang
    paling besar terhadap total ekspor Papua hanya didominasi oleh beberapa
    perusahaan besar yaitu PT Freeport Indonesia Coy di Timika sebesar
    89,88%, PT Bade Makmur Orissa di Merauke sebesar 2,28%, PT Hendrison
    Irian di Sorong sebesar 1,37%, PT Korindo Abadi di Merauke sebesar 0,98%,
    PT Avona di Fakfak sebesar 0,51%, sedangkan eksportir lain andilnya cukup
    kecil hanya di bawah 0,43%. Ekspor tersebut adalah dari beberapa jenis
    komoditi. Jumlah ragam komoditi yang diekspor periode bulan Januari s.d.
    Agustus 2007 terdapat sebanyak 23 jenis komoditi dari 51 perusahaan
    eksportir. Dalam periode bulan Januari s/d. Agustus 2007 komoditi - komoditi
    yang paling besar memberikan andil terhadap total ekspor Papua didominasi
    beberapa jenis komoditi yaitu Konsentrat Tembaga 89,88%, Plywood 3,92%,
    Udang beku 2,45%, Ikan beku campuran sebesar 1,95%, Film faced 0,65%.
    Sedangkan komoditi-komoditi lainnya persentasenya cukup kecil hanya di
    bawah 0,38%.
            Realisasi ekspor dari pelaku ekspor (eksportir) tersebut dapat dilihat
    dalam tabel berikut.
           Tabel 3 Nama Eksportir Propinsi Papua (Januari s/d Agustus)

No                                    Realisasi Bulan           Infrastruktur Standar
        Nama Eksportir
                                 2006               2007               (Lab.Uji)
1              2                  3                     4                 5
1. PT. Freeport Coy          833,935,355.07      986,451,229.65 Lab. PT Freefort
2. PT. Bade MaKmur            22,795,540,20       24,996,462.44 Sendiri
3. PT Hendrison Iriana         16,048,233.55      15,016,181.67 Sendiri dan Mamina
4. PT Korindo Abadi             8,647,614.23      10,744,543.42 Sendiri
5. PT Avona (Fakfak)            4,386,574.42       5,644,210.38 Sendiri


    2.2    Realisasi Ekspor Menurut Negara Tujuan Ekspor
    Negara tujuan ekspor dari Propinsi Papua berjumlah 23 negara tujuan dari 23
    jenis komoditi yang diekspor. Hingga periode akhir bulan Januari - Agustus
    2006 negara yang paling besar mengimpor produk dari Papua dan sekaligus
    memberikan andil terbesar terhadap total ekspor Papua secara keseluruhan
    di dominasi oleh beberapa negara yaitu: Spanyol dengan komoditi konsentrat
    tembaga sebesar 30,50%, Jepang 9 jenis komoditi sebesar 22,08%, Korea
    Selatan dengan komoditi konsentrat tembaga, Block board dan Plywood
    sebesar 8,78%, Philipina dengan komoditi konsentrat tembaga sebesar
    8,46%, India dengan komoditi konsentrat tembaga sebesar 6,94%, Bulgaria
    dengan komoditi konsentrat tembaga sebesar 5,38%, Finlandia dengan
    komoditi konsentrat tembaga andil sebesar 4,08%, dan Australia dengan
komoditi Moulding, Ikan beku campuran, Konsentrat Tembaga, Mutiara, dan
Udang Beku sebesar 3,27%.
      Untuk mengetahui lebih lanjut perkembangan realisasi ekspor dari
masing-masing negara tujuan yang ada pada tahun berlalu dapat dilihat
dalam tabel berikut.




                 Tabel 4 Negara Tujuan Ekspor Propinsi Papua
                              Realisasi Bulan (Juta US $)
No         Nama Negara                                        Persyaratan standar
                               Des 2008         Jan 2009
   1               2               3               4                    5
  1.   Spanyol                         154.94          157,47 EN, SNI
  2.   Jepang                          164,44          224,69 JIS.SNI
  3.   Korea Selatan                    33,89               - KS
  4.   Philipina                        81,30           43,29 SNI/BPS
  5.   Singapura                        0,006           0,037 BIS, EN, SNI


III.    PERKEMBANGAN STANDARDISASI

3.1    Perkembangan Infrastruktur Bidang Standardisasi
Sampai saat ini wilayah Propinsi Papua sudah mempunyai 6 (enam)
laboratorium penguji dan lingkungan yaitu:
1.     Laboratorium Pengujian dan Standardisasi Makanan, Minuman dan
       Minyak Atsiri Mamina, Balai Pengujian Mutu dan Normalisasi Produk
       Industri, Dinas Perindag, Papua.
2.     Laboratorium Lingkungan Timika, Freeport Indonesia (Ruang lingkup:
       air minum air tanah limbah cair, sediment, dll)
3.     Balai Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan Jayapura
       (Ruang lingkup: udang beku)
4.     Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Jayapura (Ruang lingkup:
       pangan, terapik, obat tradisional dan mikrobiologi)
5.     Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan
       LPPMHP Merauke, Dinas Perikanan dan Kelautan Papua (Ruang
       lingkup Ikan, udang dan cumi-cumi)
6.     Laboratorium Pembinaan dan Pengujian Mutu Hasil Perikanan
       LPPMHP Sorong (Ruang lingkup: Produk perikanan dan olahannya)

3.2     Sumberdaya Manusia Bidang Standardisasi
Peningkatan sumber daya manusia bidang standardisasi dikembangkan
secara bertahap melalui Departemen Perindustrian dan Perdagangan
Propinsi Papua. Menurut data, sejak tahun 2006 hingga Agustus 2007,
sebanyak 152 orang telah mengikuti pelatihan umum tentang standardisasi,
baik yang diselenggarakan di Jakarta maupun di Jayapura, Sorong, dan Biak.
Sebanyak 6 orang telah mengikuti pelatihan Lead Assessor ISO 9001 series
dan 4 orang pelatihan Assessor dan Audit Internal ISO 17025.

3.3    Penggunaan Standar Terhadap Produk Komoditi Ekspor
Pada dasarnya standar yang dipergunakan untuk keperluan ekspor
perusahaan umumnya menggunakan spesifikasi/standar asal negara
pengimpor. Untuk konsentrat tembaga standar yang dipergunakan adalah
standar perusahaan penambang Freport. Ada beberapa jenis standar yang
dipergunakan, antara lain konsentrat Cu dan emas dan logam lainnya.
       Dari komoditi ekspor Propinsi Papua, Plywood merupakan penerap SNl
yang terbesar yaitu sekitar 17%. Adapun Standar Nasional Indonesia yang
digunakan adalah:
•      Standar Kayu Lapis untuk Pengguna Umum (SNl 01-5008.2-2000)
•      Standar Kayu Lapis Alas Peti Kemas (SNl 01-4240-1996)
•      Standar Film Surfaced (SNl 01-4448-1998)
•      Standar bidang Plywood lainnya (relatif sedikit)
Secara keseluruhan, penerapan JIS adalah paling tinggi sekitar 43% dan
selebihnya standar negara-negara lain.
       Penggunaan Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk udang beku
hanya berkisar 9%, sedangkan standar manca negara atau standar lainnya
mendominasi persyaratan transaksi pasar. Adapun standar nasional yang
banyak dipergunakan adalah:
•      Udang Kupas Mentah Beku (SNI 01-3457-1994)
•      Lobster Rebus Beku (SNI 01-3228-1992)
       Beda halnya dengan standar nasional yang sudah ada, transaksi
penjualan biasanya dilakukan sesuai dengan spesifikasi para pembeli
khususnya dalam hal kandungan logam dan cemaran lainnya. SNI khusus
mengenai Ikan Beku Campuran sampai saat ini belum ada.
       Untuk Film Surfaced digunakan SNI 01-4448-1998, namun yang paling
banyak digunakan adalah standar JIS (pengimpor asal Jepang). Untuk jenis
ini, SNI 01-4448-1998 Film Surfaced dapat diidentifikasi penerapannya hanya
2%.

IV.   KESIMPULAN DAN SARAN

Salah satu kebijakan nasional di bidang industri dan perdagangan adalah
meningkatkan daya saing nasional serta meningkatkan komoditi ekspor
Indonesia. Standardisasi adalah salah satu aspek mutu produk serta
merupakan salah satu faktor dalam transaksi pasar.
        Propinsi Papua mempunyai wilayah yang sangat luas dan memiliki
bahan baku yang berlimpah, sehingga prospek menjadi sentra industri dan
perdagangan untuk Wilayah Timur Indonesia cukup menjanjikan.
        Dalam rangka peningkatan peran standardisasi dalam pengembangan
dan pembangunan wilayah Propinsi Papua, berikut ini dapat disampaikan
kesimpulan dan saran:
        Prospek perkembangan industri dan perdagangan khususnya untuk
komoditi ekspor, perlu diikuti dengan sosialisasi standar dan mutu produk.
        Dari aspek infrastruktur dan aspek standardisasi, belum terlihat
prioritas pilihan yang baik karena belum eratnya hubungan antara kebijakan
wilayah dibidang industri dan perdagangan dengan perkembangan
standardisasi.
        Pengembangan infrastruktur bidang standardisasi dinilai masih lambat
dan perlu ada percepatan.
        Pembinaan sumber daya manusia masih sangat terbatas dibanding
dengan luasnya wilayah dan jumlah industri. Perlu dilakukan program
peningkatan pengetahuan standar dan mutu kepada personil perusahaan,
pemerintah, dan konsumen.
        Untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur dan
peningkatan kemampuan sumber daya manusia perlu dipertimbangkan
adanya kerja sama dengan instansi/lembaga terkait.

V.    DAFTAR PUSTAKA

1.    Anonymous. 2007. Direktori Lembaga Sertifikasi – KAN. Komite
      Akreditasi Nasional. Jakarta
2.    Anonymous. 2008. Senarai Standar Nasional Indonesia. Badan
      Standardisasi Nasional. Jakarta
3.    http://www.bsn.go.id/kan/laboratorium.php
4.    http://bps.papua.go.id/index.php
5.    Lal. C. Verman. 1983. Standardization A New Discipline, Archon Books
Iman Sudarwo. 2003. Peran SNI dalam Transaksi Perdagangan

				
DOCUMENT INFO
Description: bab-33-percepatan-pembangunan-infrastruktur pdf