SIARAN PERS SIARAN PERS

Document Sample
SIARAN PERS SIARAN PERS Powered By Docstoc
					                                           SIARAN PERS
                                Biro Umum dan HUMAS Departemen Perdagangan
                                      Jl. M.I. Ridwan Rais No. 5, Jakarta 10110
                                                Phone/Fax: 021-385-8213
DEPARTEMEN PERDAGANGAN
      REPUBLIK INDONESIA                          www.depdag.go.id


                              “Pertemuan G-20 dan G-33:
          Indonesia Mengajak Negara Berkembang Tetap Bersatu Menghadapi Tahapan
                           Kritis Perundingan Putaran Doha WTO”


        Jenewa, Swiss, 15 November 2007 – Menteri Perdagangan RI, Mari Elka
        Pangestu, memimpin Delegasi RI ke rangkaian Pertemuan Tingkat Menteri
        Kelompok G-20 dan Pertemuan Koordinasi Kelompok G-33 di Jenewa, Swiss,
        tanggal 15 November 2007. Rangkaian Pertemuan ini diselenggarakan sebagai
        upaya konsolidasi kelompok negara berkembang dalam menghadapi
        perkembangan terakhir perundingan modalitas pertanian dan barang industri
        (NAMA) dalam Putaran Doha Development Agenda WTO. Rangkaian
        pertemuan ini juga untuk membuktikan bahwa negara berkembang tetap
        bersatu dan tidak terpecah dalam menghadapi strategi ‘pecah-belah’ yang
        diterapkan oleh lawan runding. Tidak dapat disangkal bahwa Kelompok G-20
        dan G-33 telah tumbuh menjadi salah satu kelompok perundingan yang penting
        dan diperhitungkan karena kohesivitas dan konsistensi posisi yang selama ini
        telah ditunjukkan dalam perundingan. Kedua kelompok ini juga mewakili
        mayoritas negara berkembang dengan lebih dari 3 milyar penduduk.

        Sebagai Koordinator Kelompok G-33, Menteri Perdagangan RI telah memimpin
        Pertemuan Koordinasi Tingkat Menteri dan Pejabat Tinggi G-33. Pertemuan
        dihadiri antara lain oleh Menteri Perdagangan India Kamal Nath selaku salah
        satu negara anggota kunci dalam proses perundingan Doha. Dalam
        pernyataannya, Menteri Mari Elka Pangestu menegaskan bahwa anggota G-33
        tetap bersatu walaupun tekanan terhadap kelompok ini semakin besar
        berkaitan dengan perjuangan isu Special Products (SPs) dan Special
        Safeguard Mechanism (SSM). Lebih dari itu, G-33 bahkan telah menunjukkan
        kontribusi positif dalam proses perundingan melalui non-paper mengenai SPs
        dan SSM meskipun ditengah-tengah kebuntuan proses perundingan.

        “Permasalahan besar yang dihadapi dalam perundingan saat ini bukan hanya
        mengenai masalah substansi. Akan tetapi juga karena ketidakpastian
        mengenai perpanjangan mandat Trade Promotion Authority (TPA) dari
        Kongress AS yang telah berakhir enam bulan yang lalu. TPA ini berperan
        penting karena memberikan kepastian wewenang kepada Pemerintah AS untuk
        melakukan perundingan perdagangan”, kata Mari Pangestu

        Negara anggota G-33 selanjutnya sepakat untuk mengeluarkan pernyataan
        sikap yang antara lain menyatakan bahwa modalitas SPs dan SSM harus
        menjadi penentu tingkat capaian (level of ambition) mandat pembangunan
        Putaran Doha. G-33 juga menyatakan kesiapannya untuk memberikan
        kontribusi lebih jauh asalkan negara maju bersedia menunjukkan
        fleksibilitasnya.
Sebagai salah satu anggota G-20, Menteri Perdagangan RI juga telah
mengikuti dan terlibat secara aktif dalam Pertemuan Tingkat Menteri Kelompok
G-20 yang dilaksanakan pada hari yang sama. Dalam Pertemuan ini, Menteri
Perdagangan RI menekankan pentingnya meningkatkan kesatuan serta
solidaritas diantara sesama kelompok negara berkembang. Tujuan
Pembangunan Doha hanya dapat tercapai jika seluruh negara berkembang
dapat bersatu padu dalam memperjuangkan kepentingan pembangunan.

Pertemuan G-20 ini juga telah mengeluarkan sebuah komunike yang
menekankan posisi pertanian sebagai sentral dari perundingan Putaran Doha.
Negara maju juga didesak untuk memberikan kontribusi lebih dalam
perundingan karena peranannya sebagai penyumbang distorsi dan restriksi
perdagangan produk pertanian yang terbesar. Diharapkan hasil perundingan
yang adil dan seimbang dapat membantu para petani kecil di negara
berkembang dalam melawan kemiskinan.

Pertemuan G-20 kemudian dilanjutkan dengan pertemuan koordinasi antar
kelompok perundingan negara berkembang yaitu G-33, African, Carribean, and
Pacific (ACP), Least Developed Countries (LDCs), NAMA-11, Small and
Vulnerable Economies (SVEs) dan Cotton-4. Pertemuan tersebut menyepakati
sebuah pernyataan bersama (joint statement) yang menekankan bahwa
mereka tetap solid. Mereka juga menegaskan bahwa pencapaian tujuan
pembangunan Putaran Doha hanya dapat dicapai dengan menempatkan
kepentingan negara berkembang sebagai fokus perundingan.

Di samping rangkaian Pertemuan Kelompok G-33 dan G-20, Menteri
Perdagangan RI selama berada di Jenewa juga telah mengadakan pertemuan
dengan Dirjen WTO, Pascal Lamy. Pertemuan ini selain untuk menpertegas
sikap dan posisi Indonesia dan Kelompok G-33 dalam Perundingan Doha, juga
untuk mendapatkan pandangan Dirjen WTO mengenai proses dan timeline
perundingan ke depan.


                                           ---Selesai---
Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Pusat Hubungan Masyarakat
Departemen Perdagangan RI
Tel/fax : 385 8213
www.depdag.go.id

				
DOCUMENT INFO
Description: kebuntuan-dalam-pembangunan pdf