DAFTAR ISI

Document Sample
DAFTAR ISI Powered By Docstoc
					                                               DAFTAR ISI
1 Kata pengantar................................................................................................3
2 'Langkah Awal'.................................................................................................5
3 Minggu Palem dan Kehadiran Allah.................................................................9
4 Selamat Hari Paskah yang Kedua..................................................................15
5 Hidup sebagai jemaat Tuhan Yesus...............................................................19
6 Bait Allah Selalu Terbuka...............................................................................23
7 'Bukankah hati kita berkobar-kobar?'............................................................27
8 Gereja Jombang dan kemitraan antara GKJW dan PKN................................31
9 Gereja Jombang dan kemitraan antara GKJW dan PKN................................33
10 Sebagai pohon hijau.....................................................................................35
11 Percakapan dengan Perempuan Samaria....................................................39
12 Aku ini kecil dan hina...................................................................................43
13 Kasih Tuhan tidak berhenti mengalir..........................................................45
14 Kepercayaan.................................................................................................48
15 Ber-pi secara berani dan pintar...................................................................51
16 Materialisme dan individualisme.................................................................55
17 Sakit agama.................................................................................................61
18 Pembahasan ajaran tritunggal dari pihak Saksi-Saksi Yehuwa...................65
19 ‘Did we actually read the same text?’..........................................................77




                                                                                                                1
                          1 KATA     PENGANTAR
  Selama setahun kami telah tinggal dan bekerja di Institut Pendidikan
Teologi Balewiyata. Sebagai sukarelawan, kami mengikuti staf Balewiyata dari
Greja Kristen Jawi Wetan, yaitu direktur Bapak Pdt. Bambang Ruseno Utomo,
Bapak Pdt. Gunawan Yuli A.S., Ibu Pdt. Yeti Anggraeni dan Bapak Pdt. Volker
Dally.
  Kedatangan kami terjadi dalam rangka kemitraan antara Gereja Protestan
Belanda (PKN) dan GKJW. Dari dahulu GKJW memiliki kemitraan dengan
Nederlandse Hervormde Kerk (NHK) yang pada tahun 2004 bersatu dengan
dua Gereja lain, sehingga ketiga Gereja itu menjadi sebuah gereja baru yang
dinamakan Protestantse Kerk Nederland (PKN). Oleh karena fusi itu, gereja di
Belanda sangat sibuk dengan diri sendiri, karena proses itu makan banyak
waktu dan tenaga kerja. Salah satu alasan fusi itu adalah dampak sekularisasi
terhadap gereja-gereja di Belanda, yaitu keturunan warga jemaat dan
pendapatan, sehingga dana bagi semua bagian dan lembaga Gereja menjadi
berkurang. Sementara dahulu para pendeta dari Belanda yang tinggal dan
bekerja di sini digaji oleh NHK, kini PKN tidak bisa melakukan hal tersebut.
  Dalam keadaan tersebut, PKN dan Kerk in Actie senang dengan
kemungkinan untuk mengirim dua orang sebagai sukarela yang tidak perlu
digaji. Itu mungkin karena GKJW memberi kami sebuah rumah gratis yang
berperabot. Itu sebuah kekayaan yang luar biasa. Kemudian semua ongkos
yang lain disponsori oleh beberapa lembaga dari Belanda selain uang sendiri
yang kami investasikan dalam tahun ini. Kami berterima kasih kepada semua
sponsor yang membantu kami mewujudkan keberadaan dan pekerjaan kami di
Balewiyata:
  ●   Kerk in Actie
  ●   Stichting Zonneweelde
  ●   Han Gerlach Fonds
  ●   Stichting Geertruida Berendina de Tombe-Rasker Fonds
  ●   Stichting Balije van Utrecht
  ●   Stichting Porticus
  ●   PKN gemeente Terwolde/De Vecht
  ●   PKN gemeente Exmorra/Allingawier
  ●   PKN gemeente Utrecht (Nicolaïkerk)
  ●   Theologisch Studie Gezelschap Themelios
  ●   Anggota-anggota keluarga kami dan teman-teman
  Kami bersyukur baik kepada PKN maupun GKJW, khususnya Majelis Agung
dan staf Balewiyata atas kemungkinan untuk hidup dan bekerja bersama-
sama. Selama waktu itu, kami senang dengan keramahtamahan orang
Indonesia yang luar biasa.


  Tuhan memberkati.


  Malang, September 2007
  Bertie Boersma dan Eldert S. Francke



                                                                           3
                             2 'LANGKAH AWAL'
                                 OLEH BERTIE BOERSMA
                             Jemaat Surabaya, 18 Maret 2007



     Khotbah ini disampaikan bagi kaum pemuda di jemaat Surabaya. Tema mereka untuk
     bulan Maret adalah: 'ZERO – the new episode'. Bagaimana bisa mendorong pemuda
     untuk ikut Yesus? Dalam rangka ini, tema untuk ibadah pemuda adalah 'Langkah awal'.
     Bacaan terambil dari Lukas 19:1-10.


                                      KHOTBAH
  Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan!
  Ketika saya masih menjadi siswa SMA, saya sangat menyukai lagu-lagu dari
penyanyi Kanada. Dia terkenal bernama Mariah Carey. Saya juga sudah
melihat beberapa cidi di toko-toko di sini.
  Nah. Ada satu lagunya yang seringkali saya dengarkan, bahkan saya hafal
sampai di luar kepala. Mariah Carey menyanyi dalam bahasa Inggris, tetapi
saya menerjemahkan dalam bahasa Indonesia juga:
     ‘There’s a hero / Ada seorang pahlawan,
     if you look inside your heart / jika engkau melihat jauh di dalam hatimu
     you don’t have to be afraid / tak usah engkau takut
     of what you are. / tentang siapakah dirimu sendiri.’
  Saya sangat menyukai lagu ini, karena pesan dalam teks tersebut
memberikan saya suatu pengertian: walaupun seringkali saya merasa menjadi
orang yang biasa-biasa saja, saya mampu melakukan hal yang besar. Saudara-
saudari sekalian, dalam hal ini, Mariah Carey benar, di mana setiap orang bisa
menjadi pahlawan.
  Tetapi, sewaktu saya mendengarkan lagu ini, timbul suatu pertanyaan
dalam benak saya: dari mana saya bisa memperoleh kekuatan? Untuk Mariah
Carey hal ini sudah jelas: bahwa kekuatan itu diperoleh dari diri orang itu
sendiri; yaitu, dengan cara melihat ke dalam hatinya. Tetapi untuk saya hal ini
kurang memuaskan. Ada kerinduan di dalam hati saya. Apakah itu? Dan
mengapa? Karena saya percaya kita perlu kekuatan dari Tuhan. Untuk
menjadi seorang pahlawan, baik dalam perkara yang kecil maupun perkara
yang besar, kita perlu bergantung senantiasa kepada Tuhan.
  Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan! Tema untuk bulan Maret adalah
ZERO – the new episode. Awal yang baru. Di awal yang baru, yang kita
perlukan adalah suatu keberanian untuk melangkah. Langkah awal. The first
step.
   Tetapi bagaimana itu kita lakukan? Bagaimana kita bisa mulai bergerak?
Apa yang kita perlukan agar berani melangkah? Dalam hal ini, kita bisa
belajar dari salah seorang di Alkitab, bagaimana keberanian untuk melangkah
itu diwujudkan. Orang tersebut adalah Zakheus. Dia kepala pemungut cukai.
Dia dikenal sebagai orang kaya. Setiap hari dia duduk di belakang meja untuk
memungut pajak dari orang-orang yang melewatinya. Dia memungut pajak
untuk kerajaan Romawi. Di waktu itu, orang Romawi menguasai bangsa
Yahudi.

                                                                                      5
  Zakheus bekerja untuk kerajaan Romawi. Banyak orang menganggap
bahwa pekerjaan yang dia miliki itu sangat merugikan mereka. Kebanyakan
pemungut cukai meminta terlalu banyak pajak dari orang yang lewat untuk
dirinya sendiri. Mereka adalah orang yang kikir. Semua orang yang melewati
pemungut cukai, melihat dengan pandangan curiga.
  Demikian juga pandangan mereka kepada Zakheus. Dia adalah orang yang
pendek. Namanya Zakheus, yang artinya ‘murni’ dan ‘tidak bersalah’. Namun
kenyataannya, dia adalah kepala pemungut cukai sekaligus orang kaya! Jadi,
bagaimana dia bisa dinamakan ‘murni’ dan ‘tak bersalah’? Siapakah dia?
  Zakheus adalah seorang yang rindu mengetahui tentang siapakah Yesus.
Zakheus telah banyak mendengar tentang Yesus. Barangkali, Zakheus
mengira bahwa Yesus adalah nabi-nabi yang terdahulu. Dulu ada banyak nabi
yang disebut Mesias. Tetapi sampai saat itu Mesias belum datang. Zakheus
juga mendengar banyak hal tentang Yesus bahwa dia bisa membuat hal-hal
yang ajaib, tetapi Zakheus tidak percaya akan hal ini. Namun demikian hal-hal
tersebut mendorong Zakheus untuk lebih mengenal siapakah Yesus itu. Dan
saat itu, Zakheus mendengar bahwa Yesus berada di Yerikho. Zakheus ingin
melihat Yesus dengan mata sendiri. Tetapi dari kejauhan. Karena posturnya
yang pendek, jadi bagaimana dia bisa melihat Yesus? Karena selalu ada
kerumunan di sekeliling Yesus. Selalu banyak orang mengikuti Yesus.
Seandainya Zakheus berdiri di dalam kerumunan ini, dia hanya akan melihat
punggung-punggung orang lain saja.
   Dengan keterbatasan fisiknya ini, maka dia harus memutar otak.
Selanjutnya, Zakheus memutuskan untuk berlari mendahului orang banyak.
Dan dia memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ. Di
atas pohon ara dia duduk dengan nyaman. Tidak ada orang lain yang bisa
melihatnya. Dia bersembunyi di antara daun-daun dengan aman. Dari tempat
itu dia bisa melihat Yesus dari jarak jauh. Pertama-tama, Zakheus melihat
banyak orang yang antusias. Tak lama kemudian Yesus datang. Zakheus
melihat Yesus di sela-sela daun. Mungkin ada banyak orang yang percaya
seperti Zakheus. Iman mereka kepada Yesus ditandai oleh adanya jarak yang
jauh. Mereka bergereja, karena kebiasaan. Seperti Zakheus yang suka untuk
duduk di pohon ara antara daun: mereka ingin tahu siapa Yesus, tetapi tidak
berani untuk menemuiNya. Iman mereka masih ada jarak yang jauh.
   Tetapi rencana Zakheus diubah oleh Yesus. Ketika Yesus sampai ke tempat
itu, Dia melihat ke atas dan berkata: ‘Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini
Aku harus menumpang di rumahmu.’ Pertama-tama, Zakheus tidak bisa
mempercayai apa yang dia dengar. Bagaimana Yesus bisa mengetahui
namanya?! Kemudian Zakheus turun dan Yesus mengikuti dia ke rumahnya.
Dan mereka makan bersama-sama. Yesus segera menarik Zakheus yang
melihatnya dari kejauhan, bersembunyi di sela-sela daun untuk berada di
dekatNya. Yesus memanggilnya dan menariknya ke dalam kenyataan hidup
bersama Yesus. Zakheus harus menyadari kenyataan yang ada.
  Kerumunan orang tersebut bergumam, tetapi Zakheus berdiri di depan
Yesus dan berjanji untuk memulai kehidupan yang baru. Dia akan berikan
setengah dari miliknya kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang
diperas dari seseorang, dia akan mengembalikan empat kali lipat.
 Karena Yesus berkeinginan untuk datang ke rumah Zakheus, Dia
memberkati rumah Zakheus dan keluarganya. Berkat Yesus dan janji Zakheus

6
untuk memulai kehidupan yang baru, menuntun Zakheus ke dalam kehidupan
lain: oleh perkataan Yesus, Zakheus memulai bergerak. Dia memulai
bergerak, bersama Yesus.
 Yang lalu telah berlalu. Karena perubahan dalam hidupnya, Zakheus
menjadi anak Abraham. Ini adalah langkah awal. Yesus memanggilnya dan
menariknya ke dalam kenyataan bersamanya. Langkah awal.
  Apa yang dicari oleh Yesus? Bukanlah pahlawan atau orang istimewa.
Sebaliknya, mereka adalah orang-orang yang biasa, yang berani untuk
mengambil langkah awal. Untuk mengambil langkah awal kita perlu percaya
sepenuhnya kepada Tuhan. Telah ditegaskan oleh keempat menulis Injil
bahwa Yesus lebih berkenan kepada perempuan-perempuan sundal dan
pemungut cukai -pemungut cukai daripada ahli Taurat dan orang Farisi di
dalam Kerajaan Tuhan.
   Yang mengesankan adalah kota Yerikho. Kota ini dikenal melalui cerita
tentang perempuan sundal Rahab. Yerikho, adalah kota di mana Rahab pernah
membantu dua orang Israel, dua orang suruhan, untuk memasuki kota ini.
Mereka menginap di tempat Rahab dan dia membantu mereka untuk pergi ke
luar kota lagi. Dan waktu Yerikho jatuh ketangan bangsa Israel, Rahab
selamat, bersama semua anggota keluarganya! Zakheus dan Rahab adalah
dua orang dalam posisi yang sulit, namun mereka adalah lain daripada yang
lain. Zakheus dan Rahab sama-sama diterima di dalam Perjanjian Tuhan.
  Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan. Kita bisa belajar dari tokoh-tokoh di
Alkitab. Dari tokoh seperti Zakheus, walaupun pendek, tetapi dia berhikmat.
Dan juga kita bisa belajar dari tokoh seperti Paulus, rasul Tuhan. Paulus
menulis surat kepada jemaat di Filipi. Di palal empat, ayat tiga belas kita bisa
membaca: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi
kekuatan kepadaku.”
  Paulus percaya kepada Tuhan, yang memberi kekuatan kepadanya. Dan
seperti Paulus, kita boleh percaya bahwa Tuhan juga akan membantu kita. Ini
bukan berarti bahwa kita tidak akan pernah merasa takut kalau kita mulai
melakukan suatu perubahan. Namun demikian, di kala rasa takut mulai
menguasai kita, yakinlah bahwa Tuhan bersama kita. Kita boleh berdoa untuk
meminta keberanian dan keyakinan.
  Namun demikian, kita tidak perlu menjadi pahlawan, karena Yesus mencari
semua orang yang rindu untuk masuk ke dalam Kerajaan Tuhan. Sehingga
membuat dunia menjadi lebih baik. Apa yang perlu kita lakukan dalam
langkah awal? Sebelum kita bisa melangkah awal, kita perlu percaya
sepenuhnya kepada Tuhan. Kita bisa saja duduk di antara daun-daun dengan
perasaan aman seperti Zakheus, tetapi Yesus minta kita untuk hidup bersama
Dia. Mari, kita jalan bersama Tuhan. Dengan demikian, kita bisa bekerja
bersama-sama di dalam Kerajaan Tuhan.
  Kita berpartisipasi dalam gereja dan hidup di masyarakat. Di sekolah, di
keluarga, di pekerjaan, dan seterusnya. Tetapi... Masyarakat selalu berubah.
Lihatlah sekarang misalnya globalisasi di Jawa dan di seluruh Indonesia.
Karena masyarakat senantiasa berubah, maka dengan demikian Firman Tuhan
disampaikan dan ditafsirkan dengan cara yang lain. Demikian halnya dengan
gereja: karena masyarakat berubah, maka gereja harus berani berubah.
Gereja bukanlah tujuan akhir, namun hanya merupakan suatu cara
berkumpulnya orang-orang yang percaya kepada Tuhan.

                                                                              7
  Kita harus saling membantu dalam membentuk umat untuk berjalan
bersama Tuhan, dan bekerja sama demi menciptakan dunia yang lebih baik.
Di dalam keluarga, di dalam gereja, di dalam pekerjaan atau sekolah. Di
dalam masyarakat, dan seterusnya. Dan kita tidak perlu merasa takut, karena:
        ‘There’s a hero / ada seorang pahlawan,
        if you look inside your heart / jika engkau melihat jauh di dalam hatimu,
        you don’t have to be afraid / tak usah engkau takut
        of what you are. / tentang siapakah dirimu sendiri.
  Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan. Kita tidak perlu merasa takut untuk
mulai melangkah awal. Karena ke mana pun kita berjalan, kita boleh percaya
bahwa Tuhan akan bersama kita. Perubahan selalu mulai dari hal yang kecil,
tetapi dari hal-hal yang kecil itulah akan tumbuh menjadi hal-hal yang besar.
Apa yang menjadi langkah awal anda?
Amin.




8
             3 MINGGU PALEM             DAN    KEHADIRAN ALLAH
                          BAIT ALLAH   DAN   YESUS KRISTUS
                                 OLEH ELDERT FRANCKE
                                     1 April 2007



     Khotbah ini merupakan khotbah pertama saya. Di Belanda saya tidak pernah
     berkhotbah, karena saya belum lulus pendidikan Gereja Protestan Belanda. Artinya
     khotbah pertama saya ditulis dan diselesaikan dalam bahasa asing bagi saya. Kalau
     Anda menemukan kekurangan dalam khotbah ini, mohon memperhatikan catatan di
     atas.
     Tema bagi ibadah ini terambil dari surat Roma 8:38-39. “Sebab aku yakin, bahwa baik
     maut, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan
     datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu
     makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam
     Kristus Yesus, Tuhan kita.” Bacaan Alkitab terambil dari Injil Matius 21:1-11.
  Sidang Jemaat Tuhan yang berbahagia,
  Hari Minggu ini adalah hari Minggu sebelum Paskah atau biasa disebut
dengan hari Minggu Palem. Mengapa dinamakan demikian? Oleh karena pada
hari ini sebagaimana kita dengar dari pembacaan injil hari ini, yaitu, pada
saat Yesus datang ke Yerusalem, "orang-orang memotong ranting-ranting
pohon dan menyebarkannya di tengah jalan".
  Terkait dengan hari Minggu Palem ini, Gereja Katolik Roma dan jemaat
Gereja Prostestan, misalnya yang ada di Belanda, melakukan prosesi yang
hampir sama ketika mereka memasuki gereja. Warga jemaat membawa
ranting-ranting palem sementara anak-anak membawa tongkat yang
berbentuk salib. Tongkat yang dibawa anak-anak itu dihiasi dengan ranting
kecil yang berwarna hijau, dan dipenuhi dengan permen coklat. Di bagian atas
salib ada sebuah roti yang berbentuk seekor ayam jago. Memang benar bahwa
kebaktian ini adalah suatu perayaan. Melalui perayaan ini gereja-gereja
diseluruh dunia melakukan peringatan akan kedatangan Yesus sebagai raja di
Yerusalem.
  Namun di lain pihak, hari Minggu ini juga dinamakan hari Minggu
penderitaan Yesus. Karena pada bagian terakhir dari semua kitab Injil juga
menceritakan bagaimana penderitaan Yesus dimulai yaitu pada saat Dia
memasuki kota Yerusalem.
  Penyambutan kedatangan Yesus ke Yerusalem yang begitu meriah,
merupakan awal namun sekaligus akhir masa hidupnya di mana di kemudian
hari banyak orang atau kerumunan itu berteriak "Salibkan Dia!".
  Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan, Pada hari Minggu ini kita
sudah mengawali pembacaan kita mengenai sejarah penderitaan Yesus. Lalu
timbul pertanyaan dalam benak kita; sejauh manakah hari Minggu ini
dikatakan sebagai hari yang besar? Mengapa gereja-gereja mengadakan
perayaan pada hari pertama minggu penderitaan Yesus? Sebelum kita
memikirkan tentang pertanyaan ini, ada baiknya juga kita merenungkan
pertanyaan lain: mengapa orang banyak di sana melakukan perayaan pada
saat Yesus memasuki Yerusalem?



                                                                                      9
  Mengapa orang banyak di sana melakukan perayaan? Kedatangan Yesus ke
Yerusalem pada waktu itu sebenarnya bertepatan dengan perayaan Paskah,
yaitu suatu perayaan untuk memperingati keluarnya bangsa Israel dari tanah
Mesir. Atau dengan kata lain, ini merupakan hari kemerdekaan Bangsa Yahudi
atas bangsa Mesir. Mereka bersyukur atas kemerdekaan ini dan karena itulah
mereka pergi ke Bait Allah untuk mengadakan perayaan.
  Sekalipun perayaan akan kemerdekaan itu dilakukan, bangsa Yahudi
sesungguhnya belum merdeka dalam arti sepenuhnya. Sekalipun mereka telah
kembali dari pembuangan Babel sehingga dengan demikian mereka bisa
melaksanakan perayaan, namun sesungguhnya hidup mereka masih berada
dalam tekanan pemerintahan yang diktator. Mereka masih ditindas oleh
bangsa lain. Jadi, seolah-olah hidup mereka sama seperti ketika hidup dalam
pembuangan. Bebas dari satu pembuangan namun kemudian masuk ke dalam
pembuangan yang lain. Babel yang baru pun kemudian bermunculan seperti
Persia, Mesir, Suriah dan satu lagi yaitu semasa Yesus hidup yaitu Kerajaan
Romawi.
  Di lain pihak, sekalipun bangsa Yahudi bisa kembali lagi ke Bait Allah yang
baru di Yerusalem, namun Bait Allah itu tidaklah dibangun oleh orang yang
benar karena Herodeslah yang membuatnya. Dalam pandangan Bangsa
Yahudi, dia dianggap sebagai raja atau individu yang kurang tepat. Karena
semestinya Bait Allah dibangun oleh keturunan Daud. Namun demikian
perayaan itu tetap mereka lakukan di Bait Allah sementara hidup mereka
berada dalam kendali pemerintahan yang diktator.
  Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan, Dari penjelasan ini kita
akhirnya faham apa yang menjadi latar belakang perayaan yang dilakukan
oleh bangsa Yahudi di atas. Kemudian muncul pertanyaan lain: bagaimana
mereka bisa mengadakan perayaan dalam keadaan seperti ini? Bagaimana
perayaan itu dilaksanakan sementara dalam situasi yang riil kemerdekaan
sama sekali tidak mereka miliki?
  Bagaimana bangsa Yahudi masih bisa melakukkan perayaan dalam keadaan
seperti itu? Bukankah ini suatu keyakinan yang luar biasa, bukan? Bangsa
Yahudi percaya bahwa Allah akan membebaskan mereka.
  Kata-kata yang pertama dari Ke-Sepuluh Perintah Allah adalah "Akulah
Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat
per-budakan.". Dalam agama Yahudi kalimat ini bukanlah kalimat pengantar
dalam Sepuluh Perintah Allah, melainkan sebagai perintah pertama dari
sepuluh Firman Tuhan. Allah yang memerdekakan bangsa Yahudi.
  Bangsa Israel menanti-nantikan bahwa Allah akan memerdekakan mereka.
Tetapi, di mana Allah mereka? Bagi orang Yahudi sesungguhnya Allah itu tidak
jauh dari diri mereka. Sebaliknya, Allah diam di tengah mereka yaitu di dalam
Bait Allah.
   Bait Allah adalah tempat paling penting dalam agama Yahudi. Mazmur 132
(seratus tiga puluh dua) adalah nyanyian ziarah yang di-nyanyikan orang
Yahudi pada saat mereka menuju Yerusalem, ke Bait Allah. Dari Mazmur ini
kita belajar bahwa dalam iman Yahudi, Allah diam di Sion, di Yerusalem, di
Bait Allah, di "tempat maha kudus".




10
  “Sebab Tuhan telah memilih Sion, Dia mengingininya menjadi tempat
kedudukan-Nya: 'Inilah tempat perhentian-Ku selama-lamanya, di sini Aku
hendak diam, sebab Aku mengingininya. [...]'” (Mazmur 132: 13-14.)
  Allah Israel, Pencipta surga dan bumi, diam di Yerusalem. Dari sana, dari
Yerusalem, dari Sion, Israel menantikan pembebasan dosa dan dari akibat
atas dosa yang mereka lakukan, yaitu ditindas oleh bangsa-bangsa lain.
Dengan kata-kata dari Mazmur 14: "Ya, datanglah kiranya dari Sion
keselamatan bagi Israel!"
  Kota Yerusalem adalah tempat kudus, tempat yang paling penting dalam
agama Yahudi. Di sana Allah Israel berdiam sebagai pembebas akan hidup
mereka.
   Saudara-saudara yang kekasih di dalam Tuhan, Bait Allah itu berbeda sekali
di-banding-kan gereja. Mungkin gereja kita juga disebut Bait Allah. Tetapi
menurut orang Yahudi Bait Allah, satu tempat di mana Allah tinggal.
Sebetulnya pada waktu peristiwa pembuangan bangsa Israel muncul istilah
sinagoge. Sinagoge itu fungsinya sama seperti gereja kita sekarang.
   Tepat pada saat Yesus memasuki Yerusalem di saat itu jugalah banyak orang
menanti-nantikan kemerdekaan; mereka menantikan bahwa Allah akan
memenuhi janji-Nya. Dan pada saat Yesus masuk dengan menaiki seekor
keledai, seperti Raja baru, mereka: "membentangkan jubah-jubah mereka di
jalan, sedang orang-orang lain memotong ranting-ranting pohon dan
menyebarkan-nya di tengah jalan".
  Kemudian mereka memuliakan Yesus dengan lagu pujian: Hosanna bagi
Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di
tempat yang mahatinggi!"
  Yesus memasuki Yerusalem, kota Tuhan, pada masa di mana bangsa ini
berada dalam tekanan bangsa lain. Banyak orang mengharapkan
penyelamatan, mereka begitu berharap bahwa Juru Selamat Israel akan
melakukan pembebasan, merdeka dari penindasan Romawi. Banyak orang
berharap bahwa Yesus akan membawa karya penyelamatan Allah, dan sebagai
anak Daud, Dia akan menyucikan Bait Allah.
  “Dan Ia akan datang sebagai Penebus untuk Sion, dan untuk orang-orang
Yakub yang bertobat dari pemberontakannya, demikianlah firman Tuhan.”
   Dari latar belakang inilah, Yesus dihormati, sebagai raja baru, dan dengan
serta merta mereka membentangkan kain dan ranting pohon di jalan. Dia
tampil sebagai Raja orang Yahudi yang sedang memasuki Yerusalem. Dengan
demikian pembebasan akan terjadi tak lama lagi, dan karena itulah perayaan
dilangsungkan!
  Namun demikian bagaimanakan kita bisa membayang-kan bila nantinya
mereka ini kemudian di suatu kesempatan lain, meneriakkan: “Ia harus
disalibkan!”. Mengapa perayaan ini menjadi awal dari akhir, akhir dari
kehidupan Yesus orang Nazaret?
  Kisah perjalanan Yesus diawali melalui kedatanganNya ke Yerusalem dan
terus berlanjut dengan kunjunganNya ke Bait Allah di mana Dia "mengusir
semua orang yang berjualan di situ. Ia menjungirbalikkan meja-meja penukar
uang, dan bangku-bangku penjual burung merpati." Selanjutnya juga
diceritakan dalam Injil Matius bagaimana perdebatan berlangsung antara


                                                                          11
Yesus dengan tua-tua bangsa Yahudi. Kisah perayaan akan kedatangan Yesus
sebagai raja tidak berlangsung lama. Sebaliknya dengan cepat konflik itu
terjadi antara pemimpin bangsa Yahudi dengan Yesus, dan akhirnya orang
banyak menjadi kecewa.
   Mengapa konflik itu terjadi? Sebagai seorang nabi, sebagaimana halnya
dengan nabi-nabi lain termasuk Yohanes Pembaptis Yesus datang dengan
membawa pesan di mana Dia menunjukkan kepada mereka akan dosa yang
telah mereka lakukan, juga akan ke-enggan-an mereka untuk bertobat kepada
Allah. Yohanes Pembaptis dengan lantang meneriakkan: "Bertobatlah, sebab
Kerajaan Surga sudah dekat!" dan di saat yang lain Yesus mengabarkan hal
yang sama: "Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!". Yesus dengan
tegas memberikan kritik kepada pemimpin-pemimpin Yahudi, yaitu sebagai
orang yang munafik. Hormat sembah Yerusalem hanya sampai sejauh mulut
saja, namun dalam hatinya mereka menyangkal.
   Yesus sesungguhnya adalah pengganti fungsi Bait Allah itu sendiri.
Sebagaimana yang Dia katakan kepada seseorang: “dosamu sudah diampuni”.
Pengampunan dosa umumnya harus dilakukan di dalam satu-satunya Bait
Allah oleh imam melalui persembahan kurban atas dosa yang dilakukan.
Namun dalam hal ini Yesus dengan tegas dan jelas mengatakan tentang siapa
Dirinya. Bahkan ketika Dia berbicara dengan orang Farisi tentang hari Sabat:
“Di sini ada yang melebihi Bait Allah”. Yesus mengatakan bahwa Dia lebih
besar daripada Bait Allah di mana dalam pandangan agama Yahudi Bait Allah
dianggap sebagai tempat yang paling suci dan penting. Tindakan yang
dilakukan Yesus adalah suatu dobrakan akan agama Yahudi dan khususnya
posisi ketua-ketua bangsa Yahudi.
  Karena itulah, ketua-ketua bangsa Yahudi menjadi marah sekali. Kabar ini
juga membuat banyak orang kecewa, karena dengan demikian apa yang
mereka telah lama harap-harapkan akan kemerdekaan, sirna begitu saja.
Mereka marah dan kecewa. Karena itulah pada saat yang lain mereka akan
meneriakkan: "Ia harus disalibkan!"
  Sekarang kembali ke pertanyaan yang pertama, mengapa kita mengadakan
perayaan pada hari Minggu ini, atau hari Minggu penderitaan Yesus?
  Karena hari ini adalah hari Minggu sebelum Paskah. Pada hari Paskah kita
akan merayakan bahwa Yesus telah melepaskan diriNya, Dia bangkit atas
kematian dan hidup kembali lagi. Yesus telah lepas dari pembuangan yang
tengah terjadi pada bangsa Yahudi dan ini sudah Allah selesaikan sendiri
setelah hari ketiga. Melalui hal ini Allah telah memperlihatkan bahwa Yesus
adalah Allah yang berwenang yang memberikan pengampunan akan dosa, dan
dengan demikian telah mengatasi segala ajaran imam Farisi dan Saduki, dan
posisi penting Bait Allah. Tuhan tidak ingin ada penghalang antara Dirinya
dan manusia. Penghalang-penghalang yang sudah menjadi dalam agama
Yahudi. Kebangkitan dari kematian Yesus adalah penegasan kabar Yesus oleh
Allah sendiri. Tetapi tidak hanya itu.
  Kebangkitan Yesus sungguh-sungguh terjadi. Ini mengartikan bahwa Yesus
bisa hadir di mana-mana; Dia bisa hadir di dalam kehidupan kita. Hal ini
berarti selain Yesus bisa hadir di Yerusalem, Dia juga bisa hadir di sini, di
Gereja kita, di luar, di tempat fakir miskin, orang yang sakit atau pada orang
yang merasa sendiri. Kehadiran Allah dengan cara manusia tidaklah berakhir
sesudah kebangkitan Yesus dan kenaikan Yesus Almasih.

12
  Kehadiran Yesus adalah jaminan Allah yang tidak akan pernah habis-
habisnya akan cinta kasih untuk dunia dan manusia. Oleh karena itulah
gereja-gereja mengadakan perayaan. Kedatangan Yesus ke Yerusalem
bukanlah awal dari akhir, akhir dari kehidupan Yesus, akhir dari kehadiran
Yesus. Tetapi langkah yang sangat menentukan dalam proses Kabar Baik
Allah, Pencipta surga dan bumi, ke seluruh dunia. Yaitu tidak ada lagi Bait
Allah di tengah dunia, tetapi Yesus Kristus, sebagai Bait Allah sejati. Yesus
Kristus, Tuhan kita bisa hadir di mana-mana, di mana kehadiranNya terasa
begitu dekat dengan kita. Tuhan tidak ingin ada penghalang dalam bentuk
apapun seperti Gereja, Bait Allah atau apa saja diantara Dirinya dengan
ciptaanNya.
Hosana bagi Anak Daud,
diberkatilah Dia yang datang
dalam nama Tuhan,
hosanna di tempat yang mahatinggi!

Amin.




                                                                          13
                4 SELAMAT HARI PASKAH                  YANG   KEDUA
                           IBADAH PAGI PADA HARI SENIN
                                 OLEH BERTIE BOERSMA
                                Balewiyata, 9 April 2007



     Setiap hari Senin ada Ibadah pagi bagi semua karyawan Majelis Agung dan
     Balewiyata. Biasanya satu orang menyiapkan liturgi dan seorang lain renungan. Untuk
     ibadah ini, yaitu hari Senin yang pertama sesudah Paskah, saya menulis renungan
     tentang 'Hari Paskah yang kedua'. Karena di Belanda selalu Paskah dirayakan selama
     dua hari. Sebelum menyampaikan renungan, saya menjelaskan sedikit tentang latar
     belakang hari Paskah yang kedua di Belanda (pembukaan). Bacaan terambil dari
     Kolose 1:15-20.


                                    PEMBUKAAN
  Bapak-Ibu, saudara-saudari, selamat pagi. Tema untuk ibadah hari ini
adalah ’selamat hari Paskah kedua’. Saya memilih tema ini, karena di Belanda
kami merayakan Paskah selama dua hari: pada hari Minggu dan hari Senin.
Jadi, hari ini juga. Kebanyakan perayaan Kristen di Belanda dirayakan selama
dua hari: ada hari Natal yang pertama dan kedua, ada hari Paskah yang
pertama dan kedua, ada hari Pantekosta yang pertama dan kedua.... Hampir
semua perayaan dirayakan selama dua hari. Hari raya yang pertama dan
kedua adalah hari-hari raya yang nasional, sehingga semua orang Belanda
berlibur. Sebagian orang Belanda bergereja juga pada hari raya yang kedua.
   Waktu saya menyiapkan ibadah ini, saya mulai pikir tentang tradisi ini.
Mengapa kami merayakan kebanyakan perayaan Kristen di Belanda selama
dua hari? Terus terang saja, saya tidak tahu! Mungkin karena orang Belanda
suka liburan?! Nah, jadi, saya memutuskan untuk mencari informasi tentang
tradisi ini. Tradisi ini dengan hari-hari raya yang pertama dan kedua berada
sudah lama, sejak tahun 325 dan diberlakukan oleh pemerintah bersama
gereja katolik roman. Mereka memberlakukan banyak hari raya untuk memuji
orang-orang suci. Tetapi pada saat Reformasi... Luther dan Kalvin tidak suka
semua hari raya, karena di Alkitab kita bisa membaca bahwa Tuhan memberi
hari Minggu seperti hari libur, tetapi semua hari raya tidak bisa ditemukan di
Alkitab. Sejak abad yang kesembilan belas, pemerintah memberlakukan
bahwa semua gereja boleh memutuskan mandiri tentang hari raya yang
kedua, tetapi hari ini adalah hari libur yang nasional. Jadi, hari ini orang
Belanda berliburan dan sebagian akan bergereja juga.
Oleh karena tradisi ini, saya ingin untuk merayakan hari ini bersama dengan
anda-sekalian, seperti hari Paskah yang kedua.

                   BACAAN FIRMAN TUHAN: KOLOSE 1:15-20

                                    RENUNGAN
   Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan! Kemarin kita sudah
merayakan Paskah. Di gereja dan di rumah… Sebenarnya, Paskah adalah
perayaan yang paling penting di gereja Kristen. Bayangkan saja, kalau Yesus
tidak pernah bangkit! Tidak hanya perayaan paskah saja, tetapi juga

                                                                                     15
kekristenan itu sendiri tidak akan pernah ada di dunia ini. Demikian juga
halnya dengan perayaan Kristen yang lain. Oleh karena Paskah, oleh karena
bangkit Yesus, kita bisa merayakan Natal, hari Pentekosta, hari kenaikan dan
peringatan-peringatan lainnya.
  Pada hari ini, hari Paskah kedua, kita membaca lagu pujian tentangYesus
sebagaimana terambil dari Kitab Kolose. Lagu pujian ini sudah lama usianya.
Dan di dalam lagu ini kita juga membaca tentang Yesus, yang bangkit. Di
dalam lagu ini, kita menemukan tema Paskah: Yesus bangkit! Yaitu, sorga dan
dunia, Tuhan dan manusia, menjadi lebih dekat sekali. Merayakan Paskah
artinya: di dalam Yesus, Tuhan berada lebih dekat dengan manusia. Oleh
karena Yesus, kita bisa hidup bersama Tuhan dengan cara yang baru. Oleh
karena Yesus, sorga dan dunia, Tuhan dan manusia, lebih dekat satu dengan
yang lain. Karena Yesus bangkit dan oleh karena kebangkitanNya, kita tahu
bahwa Dia sesungguhnya anak Allah.
   Seperti kita telah baca dalam ayat 18b: ’Ialah yang sulung, yang pertama
bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala
sesuatu.’ Ketika saya masih kecil (umur tujuh atau delapan tahun), saya sudah
tahu bagaimana saya bisa bertemu Yesus. Seringkali, di Belanda cuacanya
mendung. Tetapi, pada saat sinar matahari mulai muncul di sela-sela awan-
awan, saya yakin bahwa ini adalah tanda dari Yesus kepada manusia. Dengan
sinar itu, Yesus menghubungkan sorga dan dunia. Jadi, pada saat saya naik
sepeda ke sekolah dan melihat sinar matahari tersebut, saya selalu berhenti,
lalu memberi salam kepada Yesus.
  Walaupun saya tidak percaya akan hal ini lagi, pesan teks untuk hari ini
hampir sama: oleh karena Yesus, Tuhan dan manusia berada saling dekat satu
dengan yang lain. Seperti sinar matahari yang menghubungkan sorga dan
dunia, Yesus menghubungkan Tuhan dan manusia.
  Nah. Pada hari Paskah kedua, kita sudah membaca lagu pujian dari Kolose,
pasal 1. Untuk memahami teks ini dengan lebih baik, saya ingin menjelaskan
sedikit tentang latar belakang surat Kolose.
   Kolose adalah kota di negara Turki yang sekarang. Dulu, banyak orang
asing tinggal di sana. Orang Yunani, orang Phrygia dan juga Yahudi dari
Babylonia dan Mesopotamia tinggal di Kolose. Jadi, waktu itu, Kolose adalah
kota metropolitan: kebudayaan dan agama saling bercampur satu dengan
yang lain. Di Kolose ada sebuah jemaat Kristen juga. Jemaat itu terdiri atas
orang Kristen yang bukan Yahudi. Surat dari Paulus kepada jemaat di Kolose
ditulis antara tahun 50 atau 80 sesudah Masehi. Tetapi... mengapa Paulus
menulis surat ini kepada mereka?
   Semasa Paulus bekarya sebagai pengabar Injil, dia mendengar bahwa ada
banyak guru teosofi di Kolose. Di jalan atau di pasar, guru-guru itu
menjelaskan tentang dunia dan dewa-dewa, tentang malaikat-malaikat dan
kehidupan manusia, dan sebagainya. Mereka bisa berbicara dengan
meyakinkan, sehingga warga jemaat juga menyukai penjelasan mereka. Guru-
guru itu percaya akan realitas yang berbeda dari apa yang diimani oleh orang
Kristen. Guru-guru itu percaya bahwa ada tingkatan-tingkatan dewa-dewa
diantara sorga dan dunia; malaikat-malaikat dan roh-roh halus yang diyakini
hidup di bintang-bintang. Oleh karena mereka, manusia bisa masuk dalam
kekudusan, yaitu hidup bersama Tuhan. Menurut guru-guru itu, Yesus Kristus
tidak lain dari salah satu dewa mereka. Untuk memasuki kenyataan spiritual,

16
manusia harus hidup menurut aturan sebagaimana yang dijelaskan oleh guru-
guru itu. Yaitu, aturan tentang makanan, tentang hidup yang sederhana dan
sebagainya. Karena iman guru-guru itu tidak sesuai dengan iman Kristen dan
juga karena mereka bisa berbicara dengan meyakinkan sehingga banyak
orang Kristen yang tertarik, maka Paulus merasa khawatir.
  Oleh karena situasi ini, Paulus mulai menulis surat kepada warga-warga
jemaat di Kolose untuk menguatkan iman mereka. Paulus ingin menjelaskan
posisi Yesus di dalam iman Kristen: Yesus adalah satu-satunya antara Tuhan
dan manusia, tidak ada dewa-dewa lain. Kristus melangsungkan perdamaian
melalui dirinya sendiri. Kristus adalah pemberi kabar antara sorga dan dunia,
antara Tuhan dan manusia. Dan Kristus juga sudah memperdamaiankan
gereja dengan Tuhan. Rahmat Tuhan adalah yang paling penting. Kristus
adalah jawaban untuk semua pertanyaan tentang kosmos dan dunia.
  Pada waktu Paulus menulis surat ini kepada jemaat di Kolose, dia juga
menyelipkan lagu pujian itu, yang sebenarnya sudah lama usianya. Lagu itu
adalah puisi. Lihatlah misalnya pada ayat 16 dan 20, yang hampir sama. Lagu
pujian itu mengenai Yesus, yang hidup di dalam kosmos, sejak
kebangkitanNya.
   Melalui perbuatannya, Yesus membuat dunia dan sorga menjadi lebih dekat.
Sejak kebangkitan Yesus, sejarah dunia berubah seluruhnya. Lagu pujian ini
bercerita tentang Yesus, yang membawa perdamaian. Yesus adalah wakil
manusia kepada Allah dan Dia adalah wakil Allah bagi manusia. Seperti ditulis
di dalam ayat 20: ’dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan
diri-Nya, baik yang di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia
mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus.’ Yesus adalah wakil
manusia kepada Allah dan Dia adalah wakil Allah bagi manusia. Pesan lagu
pujian itu adalah: Yesus membuat dunia dan sorga saling lebih satu dengan
yang lain. Kasih Tuhan diwujudkan di dalam Yesus.
  Ini adalah pesan Paskah: oleh karena Yesus, jarak antara Tuhan dan
manusia menjadi lebih dekat. Oleh karena Yesus, dosa-dosa kita diampuni.
Yesus bangkit, halleluja!
   Saya memulai ibadah ini dengan menyampaikan kisah hari Paskah kedua.
Sekalipun tradisi ini tidak ada di Indonesia, kita boleh merayakan Paskah hari
ini juga.
  Karena Yesus bangkit. Halleluja! Saya mengucapkan kepada Anda sekalian:
selamat hari Paskah kedua!
Amin.




                                                                           17
               5 HIDUP       SEBAGAI JEMAAT         TUHAN YESUS
                                 OLEH BERTIE BOERSMA
                              Jemaat Sukun, 29 April 2007



     Khotbah ini disampaikan pada tanggal 29 April 2007, di jemaat GKJW Sukun, Malang.
     Saya mengambil dari jadwal bacaan Alkitab GKJW, yaitu surat Paulus kepada jemaat di
     Filipi, ayat 12 sampai 18.


                                      KHOTBAH
  Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan,
  Minggu yang lalu saya menulis surat kepada salah satu teman saya di
Belanda. Dia adalah seorang pendeta. Dia ingin tahu kegiatan-kegiatan apa
yang dilakukan di Gereja Kristen Jawi Wetan. Karena baik saya dan Francke
sering mengunjungi jemaat Sukun, jadi apa yang saya tulis di surat itu, adalah
tentang pengalaman-pengalaman saya di jemaat ini.
  Isi surat itu mulai dari seluruh kegiatan ibadah pada hari Minggu, ibadah
keluarga pada hari Rabu, dan kegiatan yang lain - yaitu untuk anak-anak,
remaja, pemuda dan dewasa. Selain itu, saya juga menulis tentang katekisasi,
pertemuan kelompok Ibu-Ibu, kor, dan seterusnya. Di samping kegiatan
reguler yang telah saya sampaikan tadi, tidak lupa saya menulis tentang
kegiatan yang khusus sifatnya, seperti perayaan hari jadi GKJW pada bulan
Desember tahun yang lalu - yang sangat meriah! - dan yang terakhir juga
tentang sidang majelis daerah di sini, beberapa minggu yang lalu.
  Dengan banyak hal yang saya kemukakan tadi maka surat saya menjadi
semakin panjang daripada yang saya perkirakan. Namun demikian, pasti ada
sesuatu yang saya lupakan atau yang belum saya tahu.
   Saya menulis kepada teman saya bahwa semua kegiatan di jemaat Sukun
memberikan kesan yang mendalam kepada saya. Karena ada banyak hal yang
telah Tuhan lakukan bagi jemaat Sukun, sekalipun ada satu atau dua hal yang
masih menjadi pergumulan di gereja atau di masyarakat. Tetapi, menurut
saya, ada banyak alasan di mana kita boleh bersyukur.
  Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan. Di dalam Alkitab ada
salah satu surat Paulus yang juga penuh dengan ungkapan syukur dan
sukacita. Surat ini adalah surat Paulus kepada jemaat Filipi. Paulus menulis
surat ini pada waktu dia berada di penjara. Dan pada waktu dia di sana, hanya
ada satu cara untuk berkomunikasi dengan jemaat-jemaat yang sering dia
kunjungi - yaitu melalui surat.
  Kita bisa membayangkan kesulitan yang dialami Paulus pada waktu itu.
Maka wajar saja kalau seandainya dia mengeluh. Namun sebaliknya dia sama
sekali tidak mengeluh. Dalam surat ini Paulus menulis bahwa hatinya penuh
dengan ungkapan syukur kepada Tuhan atas jemaat Filipi. Paulus tidak
meragukan iman mereka. Paulus bersukacita akan jemaat ini! Tidak ada satu
pun surat Paulus lainnya yang penuh dengan syukur dan sukacita, kecuali
suratnya kepada jemaat Filipi.
   Perhatikan misalnya bagaimana Paulus mengawali tulisannya pada surat ini:
’semua orang kudus dalam Kristus Jesus di Filipi’ - yaitu kepada semua orang

                                                                                     19
yang percaya kepada Tuhan. Dengan kata semua, ini berarti meliputi mereka
yang tua, muda, miskin dan kaya. Semuanya! Paulus menyapa mereka dengan
panggilan orang kudus, karena mereka percaya kepada Tuhan dengan
sepenuh hati. Hampir seluruh isi surat Filipi mengungkapkan seruan untuk
bersukacita dan bersyukur.
   Namun demikian, di lain pihak surat ini juga berbicara tentang bagaimana
hidup menurut perintah Tuhan. Di dalam teks ini, Paulus sering memakai kata
‘kerja’ dan mendorong jemaat untuk senantiasa taat, hidup tiada beraib dan
tiada bernoda. Dengan demikian, bacaan ini sesungguhnya tidaklah semudah
yang kita bayangkan.
   Mengapa Paulus melakukan peringatan-peringatan itu kepada jemaat di
Filipi? Untuk mengerti teks ini dengan lebih baik, ada baiknya bila kita
mengingat kembali teks yang ditulis sebelum bacaan ini - yaitu pasal dua ayat
lima sampai sebelas. Hal itu sesungguhnya berupa himne tentang Kristus.
Himne ini bercerita tentang siapakah Kristus dan apa yang telah Dia lakukan
bagi seluruh umat manusia. Himne ini bercerita tentang bagaimana Kristus
Yesus menjadi sama dengan manusia dan dalam keadaan sebagai manusia. Ia
telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di
kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan
kepadaNya nama di atas segala nama.
  Karena itulah, Paulus mendorong jemaat Filippi: ‘hendaklah kamu dalam
hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam
Kristus Yesus.’ Sebenarnya, teks untuk hari ini saling mengisi himne tentang
Yesus Kristus. Himne itu bercerita tentang siapakah Yesus dan apa yang telah
Dia lakukan untuk umat manusia. Selain itu kita bisa belajar bagaimana hal
tersebut memiliki arti bagi jemaat Kristen, bagaimana jemaat Kristen harus
menjalankan hidupnya. Himne tentang Yesus nyata dalam kehidupan jemaat
Kristus: karena di dalam ketaatan jemaat itu tercermin sikap Yesus kepada
manusia. Paulus rindu jemaat di Filipi patuh kepada Tuhan, sama seperti
Yesus telah patuh kepada Tuhan.
  Marilah, kita kembali kepada bacaan hari ini. Seruan apakah yang
disampaikan Paulus kepada jemaat Filipi? Paulus meminta agar jemaat Filipi
untuk ‘tetap mengerjakan keselamatan mereka dengan takut dan gentar’.
  Bagaimanakah ini bisa terjadi? Mengapa jemaat Kristen harus mengerjakan
keselamatannya? Padahal, kita tidak bisa mengerjakan keselamatan secara
sendiri-dirinya, bukan? Adapun yang dimaksud dengan pernyataan di atas,
adalah bahwa kita telah diselamatkan, karena kita telah menerima rahmat
Tuhan. Oleh karena rahmat Tuhan, hidup kita berubah ke arah yang positif
dengan sikap yang taat. Pada waktu kita sudah diselamatkan, kita tidak bisa
duduk berpangku tangan. Hal ini berarti, kita harus memelihara hubungan
dengan Yesus Kristus dengan baik, tak terkecuali hubungan antar umat
percaya sehingga kehidupan berjemaat dapat berjalan dengan baik.
  Contoh. Pada waktu saya mulai tahun ajaran baru di SMA, saya mendapat
hadiah sepeda baru dari orang tua saya. Di Belanda banyak orang naik
sepeda, bagi pemuda-pemudi sepeda adalah alat transportasi untuk
mengantar mereka ke sekolah – sementara bagi orang tua, bersepeda baik
untuk kesehatan mereka. Hampir tidak ada bukit di Belanda, jadi tidak terlalu
sulit untuk bersepeda – walaupun sering ada angin kencang!


20
  Nah. Sebagai syarat untuk memiliki sepeda ini, Ibu senantiasa meminta
saya untuk membersihkannya. Saya harus mencuci dulu dan mengoles dengan
gemuk untuk menghindarkan dari karat. Walaupun saya kurang menyukai
pekerjaan ini, tetap saya lakukan. Saya memakai sepeda ini selama sepuluh
tahun dengan baik. Tetapi... pada waktu saya kuliah, saya pindah ke kota lain,
sehingga sepeda itu tidak lagi terpakai atau saya bersihkan lagi. Sesudah
beberapa tahun sepeda itu mulai mengarat, dan sekarang tampak sudah
sangat tua dan penuh dengan karat. Seperti halnya contoh yang saya
kemukakan, demikian juga kita selaku umat Allah hendaknya hubungan kita
dengan Tuhan senantiasa terawat dan terpelihara. Oleh karena sesungguhnya
Tuhan Allah yang terlebih dahulu mengasihi kita.
   Kemudian Paulus menambahkan: ‘kerjakan keselamatanmu dengan takut
dan gentar’. Dengan takut dan gentar, apa maksudnya? Untuk mengerti hal
ini, kita harus membaca ayat yang berikutnya: ‘karena Allahlah yang
mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut
kerelaan-Nya’. Jadi, Tuhan sudah melakukan pekerjaannya di dalam
kehidupan orang Kristen. Kalau kita percaya kepada Tuhan, kita semestinya
peka dan tersentuh akan janji kabar baik ini. Bila Tuhan telah bekerja dalam
kehidupan kita, maka tiada hal yang terbaik untuk dilakukan, kecuali kita
bersedia untuk bekerjasama dengan Dia. Kalau Tuhan ingin dunia menjadi
tempat tinggal yang menyenangkan, maka tentunya kita tidak hanya
memperhatikan maksud Tuhan ini, namun juga boleh terlibat dalam pekerjaan
ini secara nyata.
      Selain mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar,
selanjutnya Paulus menulis. Kita harus melakukan segala sesuatu dengan
tidak bersungut-sungut dan berbantah, supaya kita tidak beraib dan tidak
bernoda.
   Mengapa Paulus sangat menuntut hal itu terhadap jemaat di Filipi? Hal ini
tidak lain karena dia rindu agar orang-orang Kristen hidup dengan sebaik-
baiknya, sehingga mereka menjadi lain daripada yang lain.
  Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan. Sebagaimana telah saya
kemukakan di awal khotbah saya, sesungguhnya tidak ada alasan buat kita
untuk tidak bersukacita dan mengucap syukur kepada Tuhan atas
anugerahNya yang besar kepada kita. Dan untuk itu, kita dituntut untuk hidup
sebagaimana ditegaskan oleh Rasul Paulus.
   Apakah kita mampu hidup seperti yang Paulus inginkan terhadap jemaat di
Filipi? Memang, hal ini berat untuk dilakukan. Namun bukan berarti kita tidak
bisa untuk melaksanakan. Misalnya dalam hubungan antar jemaat, keluarga
dan masyarakat. Kita mesti mencoba untuk hidup kudus, yang tiada beraib
dan tiada bernoda. Hubungan antar sesama begitu penting, karena melalui
orang lain kita melihat kehadiran Tuhan.
  Namun demikian hubungan itu tidak selamanya berjalan mulus. Manusia
bersalah karena kelemahannya. Namun Tuhan akan mengangkat dan
menerimanya oleh karena anugerahNya. Janji Tuhan ini telah ditegaskan di
dalam himne tentang Yesus Kristus yang telah kita baca sebelumnya: kita bisa
dan boleh hidup seperti orang Kristen, karena Yesus sudah memperlihatkan
kepada kita. Oleh karena rahmat Tuhan, kita tidak usah putus asa, karena kita
boleh kembali ke Tuhan – jikalau kita berpegang pada firman Tuhan.


                                                                           21
   Dan pasti ada hasilnya: kita akan senantiasa bercahaya di tengah-tengah
masyarakat. Paulus mengatakan: ‘jikalau kamu sekalian, sudah melakukan
seperti yang di firmankan, maka engkau akan memancarkan cahaya Kristus–
Engkau akan menjadi jemaat yang hidup yang senantiasa memancarkan
cahaya dan hati yang memuliakan Kristus. Sehingga oleh karena cahayamu
orang lain melihat dan timbul kerinduan untuk mengikutimu.’ Firman Tuhan
ini mendorong kita untuk hidup seperti jemaat Tuhan Yesus. Paulus
menginginkan kita untuk hidup seperti yang telah diteladankan Yesus, yaitu
bagaimana Dia senantiasa hidup bersama BapaNya. Dan jikalau ini terjadi,
kita akan bercahaya seperti yang Paulus inginkan dari kita. Jikalau ini terjadi,
kita menjadi bintang-bintang yang bersinar. Sehingga orang lain ingin tahu:
dari mana bintang ini berasal? Dari mana dia menerima cahayanya?
  Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan. Saya percaya kita mampu
bercahaya. Kita bisa menjadi seperti bintang yang bersinar. Bahkan, kita
sudah bercahaya! Jikalau kita hidup seperti orang Kristen yang sungguh-
sungguh, jikalau kita membentuk jemaat Yesus Kristus bersama-sama – kita
akan menjadi seperti cahaya di dalam gelap dunia. Cahaya yang membagikan
kehangatan dan cinta kasih, di dalam dan di luar gereja.
  Karena kita tidak hidup di dalam dunia sendiri-diri. Kita juga tidak hidup
untuk saudara-saudari kita di dalam jemaat saja. Tetapi kita hidup untuk
membagikan cinta kasih Tuhan bersama-sama, di dalam jemaat dan di luar
gereja. Kita mengasihi satu dengan yang lain, oleh karena Allah terlebih
dahulu mengasihi kita.
Amin.




22
                    6 BAIT ALLAH SELALU TERBUKA
                                  OLEH BERTIE BOERSMA
                               Jemaat Sukun, 29 Juli 2007



     Khotbah ini disampaikan pada hari Minggu 29 Juli 2007 di jemaat Sukun, Malang.
     Bacaan terambil dari Mazmur 84. Selain hari Minggu ini, khotbah ini juga disampaikan
     pada hari Minggu 26 Agustus 2007 di Gereja Sidang Jemaat Allah, Malang.
  Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, yang dikasihi Tuhan,
  Sejak sepuluh bulan, saya dan saudara Francke tinggal di Malang. Sudah
sering kami mengunjungi desa-desa dan kota-kota di Jawa Timur, karena kami
bekerja di GKJW, yaitu, di Greja Kristen Jawi Wetan. Pada saat kami
mengunjungi sebuah rumah, selalu ada sesuatu yang mengesankan. Karena...
apa yang dikatakan oleh tuan rumah, pada waktu kami berdiri di depan
rumah?
  (...) Ya, betul: ‘mari, mari, masuk!’ Selalu kami diundang untuk masuk
rumah, duduk di kamar tamu, kemudian minum dan makan. Di Eropa, negara
Indonesia dikenal oleh karena keramahtamahannya. Sebelum saya dan
Francke datang ke Indonesia, kami sudah sering mendengar tentang
pengalaman orang lain yang pernah mengunjungi beberapa rumah di
Indonesia: selalu mereka diminta untuk masuk.
   Keramahtamahan adalah sesuatu yang menyenangkan. Tidak saja untuk
keluarga yang menerima tamu, tetapi juga untuk tamu itu sendiri. Misalnya,
kalau saya berangkat dari rumah untuk mampir di sebuah rumah – sebelum
saya tiba di sana, saya sudah yakin bahwa saya akan diundang untuk masuk.
Keramahtamahan juga menyenangkan bagi tamu. Keadaan ini berbeda dengan
situasi di Belanda. Sering seseorang yang mampir ke rumah orang lain untuk
menyampaikan suatu pesan, tidak diundang untuk masuk. Mereka hanya
berbicara sebentar di depan pintu rumah saja, dan kemudian pergi lagi.
  Situasi yang berbeda di Belanda ini mungkin dilatarbelakangi oleh
kebiasaan hidup orang Belanda yang serba cepat. Tetapi pasti ada alasan lain
juga: tatanan rumah di Belanda berbeda dengan Indonesia. Kalau masuk ke
sebuah rumah di Indonesia, tamu selalu bisa langsung masuk ke kamar tamu
dan duduk.
  Tetapi di Belanda... kalau masuk ke suatu rumah, pertama-tama tamu akan
berhadapan dengan sebuah ruangan yang disebut vestibule. Vestibule adalah
ruangan untuk meletakkan jas, topi, sepatu dan lain sebagainnya. Setelah
melewati ruangan ini, baru tamu bisa masuk ke kamar duduk. Oleh karena
perbedaan itulah, saya sangat suka tinggal di Indonesia. Keramahtamahan
sungguh menyenangkan; baik bagi tuan rumah yang menerima tamu maupun
bagi tamu itu sendiri.
   Mazmur yang kita tadi baca, adalah lagu pujian tentang bait Allah. Mazmur
ini merupakan ungkapan betapa menyenangkannya bait Allah bagi penziarah-
penziarah yang pergi ke sana. Karena mereka tahu: di dalam bait Allah
mereka bisa tinggal dengan nyaman dan penuh suka cita. Mazmur ini adalah
lagu pujian, yang dinyanyikan oleh penziarah-penziarah yang meninggalkan
kampung halamannya untuk pergi ke Yerusalem. Bahkan mereka datang dari
jauh dan dengan demikian harus berjalan kaki dalam yang sangat lama!

                                                                                      23
Walaupun kenyataannya sangat melelahkan, perjalanan ke Yerusalam tidak
terasa berat, oleh karena mereka terus menyanyikan lagu pujian seperti
Mazmur ini. Bukankah ini memberi dorongan bagi kita bahwa perjalanan kaki
yang jauh akan terasa lebih mudah bila kita menyanyikan lagu pujian? Sama
seperti penziarah-penziarah dahulu. Mereka pergi ke bukit Sion, yang terletak
di Yerusalem. Sion adalah bukit yang juga merupakan tempat yang paling tua
di Yerusalem. Dan di atas bukit ini terletak bait Allah! Dari jauh mereka sudah
bisa melihat bukit ini.
  Bayangkan      saja   bagaimana      penziarah-penziarah   bersama-sama
meninggalkan tempat tinggal mereka, untuk pergi ke Yerusalem. Dari jauh
mereka sudah bisa melihat Yerusalem, melihat bait Allah di atas bukit Sion!
Bayangkan saja bagaimana mereka menyanyikan lagu pujian itu sambil
mendaki ke bukit Sion. Mereka menyanyikan: ‘betapa disenangi tempat
kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam! Tuhan adalah matahari, sumber
kehidupan; Allah adalah perisai, yang menyertai kami.’
  Terus-menerus mereka menyanyi, sambil berjalan dan mendekati
Yerusalem. Mereka berjalan makin lama, makin kuat. Kegembiraan untuk
pergi ke kediaman Allah semakin besar, karena kehadiran Tuhan di bait Allah.
Kerinduan penziarah-penziarah membuat mereka bergerak. Bahkan, jiwa
mereka hancur, karena merindukan pelataran-pelataran Tuhan! Kerinduan
kepada Tuhan sangat kuat, sama seperti di dalam Mazmur 42-43: ‘seperti rusa
yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau,
ya Allah.’
   Mazmur 84 adalah lagu pujian; lihatlah misalnya ayat 5, 6 dan 13, di mana
tiga kali kita bisa mendengar seruan kegembiraan. Ayat ke-5: ‘berbahagialah
orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji
Engkau’, dan ayat ke-6: ‘berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam
Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah’, dan yang terakhir:
‘berbahagialah manusia yang percaya kepada-Mu!’
  Di dalam kediaman Allah penziarah-penziarah merasa aman, senang dan
nyaman. Mereka terus-menerus memuji-muji Tuhan. Di dalam kediaman Allah
mereka tenang, bertemu dengan rekannya yang lain, tetapi khususnya: bisa
bertemu Tuhan. Kegembiraan penziarah-penziarah yang berbahagia di dalam
Tuhan membuat lembah yang kering, yang dinamakan ‘Baka’, sebagai tempat
yang bermata air. Berkat turun kepada mereka seperti air.
   (...) Sejak zaman Perjanjian Lama, banyak hal telah berubah. Yesus Kristus
datang ke dunia, dan sesudah kematianNya bangkit lagi, orang-orang Kristen
mulai berkumpul. Jemaat-jemaat yang pertama dibangun. Dan sekarang, hari
ini, kita masih berkumpul di gereja. Baik bait Allah di Sion maupun gereja –
tempat kita berkumpul sekarang – adalah tempat untuk bertemu dengan
Tuhan.
   Kita semestinya pergi ke bait Allah dengan suka cita, sama halnya seperti
penziarah-penziarah dulu, karena Tuhan Allah sangat menginginkan kita
tinggal di kediamanNya. Tuhan ingin kita tinggal di dekatNya.
   Tetapi… mungkin ada sesuatu yang menahan kita untuk masuk ke bait
Allah. Mungkin kita menyadari bahwa kita pernah gagal dan berdosa.
Mungkin kita masih ingat akan kesalahan kita di waktu lalu, sehingga kita
tidak mempunyai keberanian masuk ke dalam bait Allah.


24
   Kita tidak boleh mencampuradukkan antara kegagalan atau        dosa dengan
sikap rendah hati. Karena rendah hati adalah sifat yang baik,     dan menurut
saya, ini diwakili oleh kebanyakan orang Jawa. Tetapi kalau       kita menjadi
terlalu rendah hati, kita menjadi orang yang pasif, yang          tidak berani
mengambil inisiatif. Dan itu, menurut saya, sangat disayangkan.
  Di Belanda, dan saya sudah melihat di sini, sering ada keset di depan pintu
sebuah rumah. Sering ada tulisan di atas keset, misalnya: ‘selamat datang’,
atau dalam bahasa Inggris: ‘Welcome’. Saya juga sudah melihat beberapa kali
keset seperti itu di depan pintu gedung gereja.
  Kalau kita menyadari bahwa kita pernah gagal atau berdosa dan tidak
berani masuk ke kediaman Allah, sadarlah bahwa di depan bait Allah adapun
keset dengan tulisan: ‘selamat datang’.
  Contoh lain. Di belanda ada suatu peribahasa yang sering dipakai: ‘wie als
vriend hier binnen gaat, komt nooit te vroeg maar steeds te laat’. Dalam
bahasa Indonesia kalimat diartikan bahwa: ‘siapapun yang masuk ke dalam
rumah itu, tidak pernah datang lebih awal tapi justru datang sangat
terlambat’. Ini bukan berarti bahwa para sahabat selalu datang terlambat
namun lebih mengartikan sikap tuan rumah yang senantiasa menharapkan
kedatangan mereka. Sama seperti itu, Tuhan juga selalu menantikan kita.
  Dosa dan kegagalan adalah sesuatu yang terkait dengan kehidupan
manusia. Tetapi… kita tidak harus putus asa, karena kita bisa mencoba untuk
hidup sebaik mungkin dan sedekat mungkin dengan Tuhan. Dan kalau kita
mengalami kegagalan atau dosa, dan kemudian menunjukkan pertobatan yang
sungguh-sungguh – ingatlah keset di depan kediaman rumah Tuhan. Karena
Tuhan mengampuni kita, kalau kita menunjukkan pertobatan yang sungguh-
sungguh: pasti Dia akan mengampuni kita. Supaya kita berani masuk ke bait
Allah lagi. Pintu di depan bait Allah selalu terbuka.
  Penziarah-penziarah pergi ke bait Allah dengan penuh suka cita, sambil
memuji Tuhan. Mereka menerima kekuatan, kearifan dan kedamaian di dalam
bait Allah. Demikian juga kita diundang untuk pergi ke rumah Tuhan dengan
suka cita, untuk menerima kekuatan, kearifan dan kedamaian di gereja, setiap
hari Minggu. Semoga sejarah penziarah-penziarah yang telah terjadi ribuan
tahun lalu – juga menjadi bagian sejarah dari kehidupan kita.
Amin.




                                                                            25
             7 'BUKANKAH         HATI KITA BERKOBAR-KOBAR?'
                          RENUNGAN    IBADAH PAGI   PTWG
                                 OLEH BERTIE BOERSMA
                                Malang, 14 April 2007



     Pada tanggal 13-15 April 2007 Balewiyata mengadakan suatu pembinaan terkait
     dengan evaluasi dan pengembangan PTWG (Pendidikan Teologi Warga Gereja) dari
     setiap Majelis Daerah. Pada akhir minggu ini, kami melayani ibadah pagi pada hari
     Sabtu. Sebelum memberi renungan, kami menyebarkan beberapa gambaran.
     Gambaran-gambaran ini terambil dari beberapa lukisan Barat mengenai bacaan pagi
     ini. Peserta-peserta harus menerka kisah Alkitab apa yang digambarkan. Kemudian
     kami membaca Lukas 24, ayat 13 sampai 35. Sesudah renungan, setiap peserta boleh
     memilih gambaran apa yang dia paling suka, dan kemudian boleh mengambil
     gambaran ini.


                                    RENUNGAN
  Bapak-Ibu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan,
   Seringkali peristiwa-peristiwa yang telah terjadi, membuat kita kecewa.
Kita merasa kecewa, jikalau tiada teman membantu kita pada saat
dibutuhkan. Kita merasa kecewa, jikalau orang lain menipu kita. Kita merasa
kecewa, jikalau tidak banyak orang yang memperhatikan kita. Di lain pihak,
kita juga bisa kecewa dengan Tuhan. Misalnya, pada saat Tuhan belum
menjawab doa kita, sekalipun kita sudah seringkali berdoa. Sepertinya kita
sudah mempunyai cukup alasan untuk kecewa.
  Apa yang kita lakukan pada saat kita merasa kecewa? Ada beberapa
kemungkinan. Pertama, kita menyampaikan kekecewaan itu kepada teman
atau orang lain, dengan harapan bahwa peristiwa itu tidak akan terjadi lagi.
Kedua, kita mengampuni orang yang telah mengecewakan kita. Ketiga, kita
mencoba melupakan hal yang mengecewakan itu. Keempat, kita tidak lagi
percaya dengan orang lain dan akhirnya meninggalkannya.
  Kita sudah mendengar teks tentang dua orang murid Yesus yang terambil
dari Injil Lukas. Apa yang dilakukan oleh murid-murid pada waktu Yesus mati
dan dimakamkan? Karena merasa kecewa, mereka meninggalkan Yerusalem.
Bahkan, Yerusalem tidak lagi dianggap mereka! Sesungguhnya, mereka
sangat kecewa. Segala harapan mereka telah sirna: mereka percaya bahwa
Yesus adalah nabi, guru yang bekerja di hadapan Allah dan di depan seluruh
bangsa Yahudi. Tetapi semua peristiwa yang telah terjadi tidak berjalan
seperti yang diharapkan. Yesus disalibkan dan mati.
   Karena itu, dua murid Yesus meninggalkan Yerusalem untuk pergi ke
Emaus. Dalam perjalanan, mereka membicarakan tentang segala sesuatu yang
telah terjadi.
   Selain kecewa, mereka juga merasa bingung: karena mayat Yesus tidak
ditemukan di makamNya pada saat dikunjungi oleh beberapa wanita.
Kemudian ada dua malaikat yang memberitahu bahwa Yesus telah hidup lagi!
Jadi, mereka begitu kecewa dan bingung. Tak lama kemudian Yesus tiba-tiba
muncul di antara mereka yang sedang asyik berdiskusi. Namun demikian, dua
murid tersebut tidak mengenal Yesus, karena ada sesuatu yang menghalangi


                                                                                   27
mata mereka. Yesus bertanya kepada mereka: ’apa yang tengah terjadi di
Yerusalem?’ Dua murid itu melihat Yesus dengan muka muram. Salah satu
murid itu, bernama, Kleopas, menceritakan kembali apa yang telah terjadi
tentang akhir kehidupan Yesus sampai mayatnya hilang di kuburnya. Apa yang
diceritakan Kleopas kepada Yesus adalah suatu ringkasan mengenai berita
injil.
  Tetapi ringkasan ini masih belum lengkap. Masih ada sesuata yang belum
diceritakan, yaitu, bahwa Yesus telah bangkit. Karena itulah, Yesus
melanjutkan cerita tersebut. Dia menjelaskan Firman Tuhan, apa yang telah
dikatakan oleh para nabi: Mesias harus menderita semuanya itu untuk masuk
ke dalam kemuliaan-Nya. Bahkan, Yesus menjelaskan seluruh isi Kitab Suci. Di
saat mendengarkan penjelasan Yesus itulah hati mereka berkobar-kobar.
Tetapi, mereka masih belum mengenal Yesus.
  Karena hari sudah mendekati malam, mereka mengundang Yesus untuk
masuk ke rumah. Dia tinggal dan makan bersama mereka. Baru pada waktu
Yesus mengambil roti, mengucapkan berkat, memecah-mecahkannya dan
memberikannya kepada mereka, mata mereka menjadi terbuka. Tetapi... Yesus
lenyap dari tengah-tengah mereka.
  Dan mereka saling mengatakan: ’Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika
Dia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Dia menerangkan Kitab
Suci kepada kita?’
  Bukankah hati kita berkobar-kobar? Waktu Yesus mengambil roti, dua
muridnya mengenang kembali peristiwa itu. Baru kini mereka mengerti dan
melihat apa yang telah terjadi dan siapakah yang menjelaskan Kitab Suci itu
tadi kepada mereka. Baru mata mereka dibukakan.
   Saya percaya bahwa kadang-kadang kehidupan kita seperti murid-murid
itu. Dengan merenungkan kembali akan peristiwa yang telah terjadi, kita
menjadi mengerti apa yang telah terjadi. Dengan merenungkan kembali, kita
bisa melihat dengan cara pandang lain terhadap peristiwa-peristiwa tertentu.
   Umumnya pada saat sesuatu terjadi, kita cepat merasa bingung. Namun
sesudah beberapa saat setelah merenungkan apa yang telah terjadi kita
menjadi lebih mengerti. Pada saat ini kita perlu teman untuk bertukar pikiran,
untuk merefleksikan. Saya percaya bahwa keadaan di atas tidak jauh berbeda
dengan iman kita. Kita menjadi lebih mengerti bagaimana kehadiran Tuhan,
kalau perenungan kembali itu kita lakukan.Kita bisa berkata: ’sungguh!
Sekarang saya mengerti! Ketika peristiwa itu terjadi, Tuhan hadir bersama
saya. Atau: peristiwa itu adalah tanda dari Tuhan!’ Sebelumnya kita tidak tahu
apa-apa, namun sesudah perenungan dilakukan kita mampu melihat dengan
cara pandang lain. Maka kita memahami bagaimana Tuhan berjalan bersama
kita.
  (…) Kita kembali ke murid-murid Yesus. Dan pada saat itu, Perasaan mereka
berganti dari kekecewaan menjadi sukacita: awalnya murid-murid itu
berangkat dengan rasa kekecewaan dari Yerusalem, tetapi pada saat Yesus
datang dan menjelaskan seluruh Kitab, mereka menjadi senang dan hati
mereka berkobar-kobar. Yesus mengajar mereka tentang Kitab Suci dan
tentang dirinya sendiri. Yesus makan bersama mereka dan memberkati
mereka, sehingga murid-muridnya menjadi lebih bersuka cita, dan melupakan
kekecewaan mereka. Hati mereka berkobar-kobar.


28
29
  Bapak-Ibu, saudara-saudara, yang dikasihi Tuhan, apa yang kemudian
terjadi? Murid-murid itu tidak lagi mau tinggal di Emaus lebih lama. Mereka
ingin    berbagi  pengalaman-pengalaman       mereka!    Mereka    langsung
memutuskan untuk pulang kembali ke Yerusalem. Awalnya perjalanan ke
Emaus terasa begitu panjang. Namun sebaliknya oleh karena hati mereka
yang berkobar-kobar, perjalanan kembali ke Yerusalem terasa begitu cepat.
Awalnya murid-murid merasa kecewa dan bingung. Tetapi sesudah pertemuan
dengan Yesus dan makan bersama-sama, mereka menjadi suka cita. Semua
peristiwa membuat mereka sangat antusias. Sesungguhnya, Yesus telah
bangkit!
  Apa makna peristiwa di atas bagi kita? Dari cerita itu, kita bisa melihat
beberapa hal yang penting. Murid-murid itu belajar banyak tentang Alkitab
dan Yesus, dan kemudian mereka menikmati hidangan bersama Yesus.
Akhirnya, mereka kembali pulang ke Yerusalem untuk berbagi pengalaman-
pengalaman iman mereka. Sebenarnya, teks ini bercerita tentang beberapa
hal yang penting untuk jemaat Kristen: di dalam jemaat Kristen, kita saling
belajar dan saling mengajar. Kita mendorong dan membentuk jemaat Kristen
untuk saling berbagi pengalaman-pengalaman iman. Di dalam kehidupan
berjemaat, kita juga perlu menambah pengetahuan tentang Alkitab, gereja,
dan kehidupan orang Kristen. Oleh karena konferensi PTWG, saya ingin
berfokus pada belajar dan mengajar di dalam jemaat Kristen.
  Ada dua alasan untuk saling belajar dan mengajar khususnya dalam lingkup
warga jemaat: pertama-tama, seringkali ada banyak hal yang ditanyakan oleh
masyarakat luas tentang kekristenan. Misalnya orang Muslim bertanya
kepada kita: ’bagaimana trinitas di dalam agama Kristen?’ Atau: mungkin
orang Muslim berprasangka tentang agama Kristen. Karena itu, kita perlu
pengetahuan teologi Kristen untuk menjelaskan tentang gereja dan
hubungannya dengan agama lain. Dan tadi malam kita juga sudah mendengar
tentang beberapa masalah di masyarakat, yang perlu perhatian kita. Kedua,
adanya kebutuhan dari majelis jemaat yang bertanggung jawab atas
pelayanan gereja sehingga mereka perlu pengetahuan atau pemahaman yang
komprehensif tentang pastoral, etika, cara berkhotbah, dan seterusnya.
  Dari cerita tentang Emaus kita bisa melihat betapa pentingnya belajar dan
mengajar di dalam jemaat, supaya pikiran kita dibukakan akan sesuatu yang
baru, inspirasi yang baru.
  Hati kita akan berkobar-kobar pada saat kita saling belajar dan mengajar,
sehingga kita bisa hidup dengan sukacita, dan penuh dengan kegembiraan, di
dalam jemaat Kristen. ’Bukankah hati kita berkobar-kobar?’
Amin.




30
 8 GEREJA JOMBANG          DAN KEMITRAAN ANTARA           GKJW       DAN   PKN
                          RENUNGAN   PADA   HARI MINGGU
                                OLEH BERTIE BOERSMA
                               Jombang, 22 April 2007



     Dalam ibadah HUT-ke 85 tahun jemaat GKJW Jombang, saya melayani bersama Eldert,
     Pdt. Volker dan Pdt. Gunawan. Kami semua menyampaikan renungan dan memilih
     topik terkait dengan bacaan yang terambil dari surat 1 Petrus 2.
  Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan,
  Sebelum kami pergi ke Indonesia, kami sudah banyak mendengar tentang
identitas Gereja Kristen Jawi Wetan. GKJW adalah gereja yang lain daripada
yang lain karena tidak dibangun seperti kebanyakan gereja di Indonesia, yaitu
oleh para misionaris yang membangun gereja sama seperti gereja di tanah
kelahiran mereka.      Tidak, GKJW adalah gereja yang telah menyatu
kebudayaan Jawa dan memberikan perhatian kepada masyarakat. Bahkan,
wanita diperkenankan menjadi pendeta dan majelis jemaat! Hal inilah yang
membuat saya begitu menanti-nantikan untuk berkenalan dengan gereja ini.
   Kami tiba di Indonesia pada bulan Oktober tahun lalu. Selama tiga bulan
kami telah berkesempatan untuk berkenalan dengan gereja-gereja GKJW.
Kami telah mengunjungi beberapa jemaat dan berbicara tentang gereja,
masyarakat dan budaya. Pada waktu itu, kami banyak mendengar tentang
masalah, khususnya yang terjadi di dalam masyarakat. Menurut mereka,
masalah- masalah ini berpengaruh terhadap kehidupan jemaat Kristen
misalnya pengaruh globalisasi, kemiskinan, penipuan terhadap TKI/TKW dan
lain sebagainya.
  Saya bisa membayangkan bahwa masalah-masalah ini berpengaruh
terhadap kehidupan jemaat Kristen. Saya bisa membayangkan kekhawatiran
sehingga menjadi mudah untuk mengeluh. Kita mengeluh tentang semua
persoalan. Mengeluh itu boleh-boleh saja, tetapi jangan berlebihan: kalau kita
terlalu banyak mengeluh, kita menjadi korban dari persoalan yang tengah
terjadi. Sehingga kita menjadi orang yang pasif. Di satu sisi memang terdapat
masalah di gereja dan di masyarakat, namum di sisi yang lain ada banyak
yang positif sehingga membuat kita bersyukur kepada Tuhan. Dan saya
melihat hal positif ini di GKJW. Coba anda-sekalian perhatikan! Misalnya
gedung gereja hari ini penuh dengan jemaat yang merayakan hari ulang
tahun. Jumlah jemaat GKJW jauh lebih besar daripada di Belanda. Banyak
anak-anak dan pemuda datang ke gereja – dan jumlahnya jauh lebih besar
daripada yang di Belanda, yang umumnya hanya dihadiri oleh para orang tua
(atau mereka yang putih rambutnya)! Saya melihat banyak kegiatan baik di
dalam maupun di luar gereja, dan warga jemaat dengan sungguh-sungguh
memuji Tuhan. Pendek kata, ada banyak alasan untuk bersyukur kepada
Tuhan dan saling bersyukur di jemaat GKJW Jombang.
  Pada hari ini kita merayakan ulang tahun jemaat Jombang ke-85. Melalui
perayaan ulang tahun ini, kita mengingat kembali dan memandang ke masa
depan. Kebanyakan orang, lebih mudah untuk mengingat kembali dari pada
memandang ke depan. Karena kita merasa nyaman jikalau kita hanya
mengingat masa lalu. Tetapi kita tidak tahu apa yang terjadi di masa depan.


                                                                                 31
  Pada kesempatan ini saya rindu untuk mengingatkan saudara-saudara
untuk tidak terlalu mengingat kembali masa lalu, tetapi penting juga bagi kita
untuk memandang masa depan. Dan untuk masa depan, saya ingin
mengatakan: bukalah semua pintu dan jendela gedung gereja. Hindarilah
menjadi gereja yang terlalu puas dengan keadaan. Sebaliknya bersikaplah
terbuka akan cara pandang atau perspektif yang baru.
  Kemudian saya ingin menambahkan catatan kritis: saya melihat banyak
wanita di dalam gereja yang memiliki potensi, tetapi sering kali posisinya
dipinggirkan.
   Akhir kata, marilah kita bersyukur kepada Tuhan! Karena sudah barang
pasti kita memiliki banyak alasan untuk bersyukur dan bersukacita. Lihatlah
ke depan dan berpegang penuh kepada Firman Tuhan yang hidup. Semoga
firman – yang terambil dari surat Petrus yang pertama, pasal yang kedua, ayat
2 sampai lima – menguatkan anda sekalian: ’Jadilah sama seperti bayi yang
baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani,
supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan, jika kamu benar-
benar telah mengecap kebaikan Tuhan. Dan datanglah kepada-Nya, batu yang
hidup itu, yang memang dibuang oleh manusia, tetapi yang dipilih dan
dihormat di hadirat Allah. Kalian seperti batu-batu yang hidup. Sebab itu
hendaklah kalian mau dipakai untuk membangun Rumah Allah yang rohani.’
     Selamat ulang tahun, Tuhan memberkati.
Amin




32
 9 GEREJA JOMBANG          DAN KEMITRAAN ANTARA            GKJW       DAN   PKN
                               OLEH ELDERT S. FRANCKE
                                Jombang, 22 April 2007



     Dalam ibadah HUT-ke 85 tahun jemaat GKJW Jombang, saya melayani bersama Bertie,
     Pdt. Volker dan Pdt. Gunawan. Kami semua memilih topik terkait dengan bacaan yang
     terambil dari surat 1 Petrus 2.


                                    RENUNGAN
  Bapak, Ibu, saudara, saudari sekalian. Shalom, [...] dan Selamat Ulang
Tahun.
  Tadi kita mendengar atau membaca bagian kecil dari pertama surat Petrus.
Surat ini telah mengalamatkan tidak saja untuk satu jemaat, tetapi untuk
banyak jemaat. Sebaliknya, hari ini, ada empat renungan untuk satu jemaat
saja. Empat renungan kecil untuk satu jemaat di dalam satu kebaktian..., ini
luar biasa, bukan?
   Gereja di sini, GKJW Jombang berumur sudah 85 tahun. Artinya bahwa di
sini sudah terjadi suatu jemaat atau gereja pada tahun 1922. Hari-hari
terakhir saya baru belajar banyak hal tentang Gereja di sini yang sekarang
dan tentang awal Gereja pun.] Gereja ini sudah punya sejarah yang lama.
Tetapi, apakah menurut bapak ibu, saudara saudari sekalian tentang umurnya
gereja ini, sudah tua atau masih muda?
   (...) Kalau ada orang yang bilang bahwa Gereja ini sudah tua, saya bisa
mengerti. Umurnya 85 tahun bagi orang-orang sudah sangat tua. Tetapi kalau
kita membandingkan umurnya GKJW misalnya dengan Gereja Katolik Roma,
GKJW Jombang masih muda sekali.
   Dalam mata saya, GKJW di Jombang dan di tempat lain adalah suatu Gereja
yang masih muda. Maksud saya dengan kata "muda" adalah bahwa Gereja
Kristen Jawi Wetan di Jombang dan di luar sedang tumbuh. Anak-anak, remaja
dan pemuda tumbuh. Tetapi dewasa tidak tumbuh lagi, atau hanya dalam arti
lain seperti menjadi lebih gemuk.
  Pada setiap hari minggu Gereja-gereja GKJW penuh dengan warga-warga
jemaat. Dan kegiatan-kegiatan lain dari jemaat-jemaat selalu punya cukup
peserta. Dalam mata saya hal-hal ini, luar biasa. Saya kenal di sini satu Gereja
dengan banyak kegiatan dan potensi yang besar, yaitu suatu gereja yang
tumbuh bersama.
  Sebaliknya keadaan di Belanda berbeda sekali. Ada banyak gereja yang
seringkali pada hari minggu hampir kosong. Ada gereja yang sudah dijual,
karena tidak ada jemaat yang pakai gereja ini. Dan setiap tahun jumlah warga
gereja berkurang.
  GKJW adalah suatu Gereja yang tidak ikut dengan canda-canda yang
berlalu, tapi suatu gereja yang stabil atau mantap. GKJW sedang
membuktikan bahwa gereja ini penting sekali untuk damai di dalam
masyarakat Jawa-Timur: dulu pada waktu pak pdt. Sri Wismoady Wahono
almarhum sampai sekarang misalnya mengenai masalah-masalah yang terjadi
oleh karena "video batu". GKJW sudah punya relasi yang bagus dengan kiai-

                                          33
kiai pondok pesantren sehingga kalau ada masalah seperti ini, mereka
langsung menghubungi orang GKJW untuk berkomunikasi, untuk
mengungkapkan kekecewaan dan kemarahan, tetapi juga untuk memberikan
kepada warga-warga GKJW kemungkinan untuk memaafkan dan menjelaskan
pendapat mereka.
  Sama sekali berlainan keadaan di Belanda. Seringkali gereja-gereja di
Belanda diperlakukan seperti seorang yang sudah hilang muka.
  Dalam mata saya, GKJW mempunyai banyak kemampuan. GKJW bisa berarti
banyak tidak saja untuk masyarakat di Jawa-Timur, tapi juga untuk gereja
mitra. Misalnya UEM pakai dengan syukur keahlian tentang dialog antar
agama yang ada di Balewiyata.
  Berkat-berkat Allah yang tersebut sekaligus merupakan tugas-tugas. Jangan
menanam bakat-bakatnya, tetapi dengan kata dari surat Petrus [...] “biarlah
kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu
rumah rohani [...]” (1 Petrus 2:5).
Amin.




                                     34
                         10 SEBAGAI         POHON HIJAU
                     RENUNGAN IBADAH PENUTUP PRA SEKOLAH
                                  OLEH BERTIE BOERSMA
                                  Malang, 13 Mei 2007



     Pada tanggal 11 sampai 13 Mei Balewiyata mengadakan pembinaan untuk siswa yang
     berminat studi teologi. Pembinaan ini mempunyai tujuan untuk memberi siswa-siswa
     informasi tentang studi Teologi dan pekerjaan sebagai pendeta. Juga Balewiyata ingin
     mendorong mereka untuk menjadi pendeta. Ibadah penutup disiapkan oleh staf Eropa,
     yaitu Pdt. Volker Dally dan kami. Kami melakukan ibadah dengan cara Eropa. Sebelum
     ibadah ini dimulai, kami meletakkan satu pohon yang masih “gundul” di depan kapel.
     Sebelum renungan, kami minta semua peserta untuk menulis apa yang mereka telah
     peroleh selama pembinaan ini. Mereka menulis beberapa kata pada kertas hijau dan
     kemudian menggantungkan semua kertas di dalam pohon. Hasilnya: pohon menjadi
     sangat hijau. Kemudian saya menyampaikan renungan, yang tertulis di bawah.
  Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
  Tadi kita telah merenungkan tentang apa yang kita pelajari pada akhir
minggu ini. Kita menulis satu kata/kalimat pada kertas hijau, yang berbentuk
daun. Dan kita bisa melihat hasilnya: pohon ini menjadi hijau, karena
menerima banyak daun. Sebenarnya, kita memenuhi pohon ini dengan
pengetahuan dan kebijaksanaan. Tentunya saja yang dimaksud di sini
bukanlah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat… tetapi pohon
pengetahuan dan kebijaksanaan.
  Untuk ibadah ini, kita sudah membaca dua bagian dari Firman Tuhan, satu
terambil dari Mazmur dan satu dari Yeremiah; kedua bacaan tersebut
bercerita tentang gambar pohon yang sangat hijau dan penuh dengan buah.
Gambar ini sering dipakai pada waktu Perjanjian Lama, karena gambar ini
sangat dikenal oleh orang-orang pada waktu itu. Kira-kira pada abad ketujuh
dan ke-enam sebelum Masehi, tanah di Yudea dan Israel biasanya sangat
kering dan cuacanya panas. Hujan sekali-sekali saja, sehingga petani dan
penggembala sangat bergantung pada sumber air, seperti sungai, oasis dan
danau. Karena mereka tahu bahwa di dekat sungai atau danau pasti terdapat
pohon, semak dan bunga. Jadi, gambar pohon yang hijau dan berbunga,
adalah gambar yang dulunya sangat terkenal.
  Apa yang diperlukan pohon agar dapat berdaun dan berbuah? Ada dua hal
yang paling penting, yaitu cahaya matahari dan air. Nah. Di Yudea atau Israel
pada waktu itu, hari-hari dipenuhi dengan terik matahari yang bersinar sangat
panas, namun mengalami kekurangan air. Dengan demikian, para
penggembala senantiasa harus mencari sumber air untuk domba-dombanya.
Karena di dekat sumber biasanya ditemukan pohon dengan daun atau semak,
ke sanalah mereka pergi. Di dekat sumber air, seperti sungai, ada banyak
pohon dan bunga yang tumbuh dan berbunga.
  Nah, gambar ini sering dipakai di Alkitab untuk melukiskan bagaimana
kehidupan seorang yang mengandalkan Tuhan. Seorang yang menyerahkan
dirinya kepada Tuhan, akan menjadi seperti pohon yang ditanam di tepian air.
Dia tahan terhadap panas terik matahari, daunnya tetap hijau dan tidak
berhenti menghasilkan buah.



                                                                                      35
  Yang bertolak belakang dengan gambar pohon yang hijau dan berbuah itu
adalah gambar semak kering di padang pasir. Kita tahu padang pasir adalah
tempat yang sangat kering dan tandus. Di padang pasir terdapat pasir, batu
dan karang saja, jadi lahannya gundul. Tetapi apakah saudara-saudari
sekalian tahu bahwa pada waktu hujan, padang pasir akan berubah menjadi
dataran yang dipenuhi oleh tumbuhan dan bunga? Memang itu jarang terjadi.
Tetapi kalau sungguh-sungguh terjadi, padang pasir itu menjadi padang yang
sangat indah. Ini boleh terjadi oleh karena adanya hujan saja, yang
merupakan sumber kehidupan, sumber untuk pertumbuhan.
  Air adalah sumber untuk pertumbuhan. Jadi, pohon yang berada di dekat
sumber seperti sungai, akarnya bisa merambat ke dalam sungai, sehingga
pohon ini berubah menjadi pohon yang besar; dan daun-daunnya tetap hijau
dan berbuah banyak.
   Pohon yang seperti ini memberikan manfaat bagi manusia dan binatang,
karena buahnya bisa dimakan manusia dan daunnya untuk binatang. Selain
itu, daunnya memberi tempat rindang untuk berlindung dari terik panas
matahari.
  Dan pada waktu kekeringan, pohon ini punya cadangan, sehingga daun-
daunnya tetap hijau. Dengan demikian, pohon ini menjadi seperti berkat untuk
sekelilingnya.
   Seorang yang menyerahkan dirinya kepada Tuhan, akan menjadi seperti
pohon yang di tanam di tepi air. Seorang yang mengandalkan Tuhan, akan
diberkati. Kalau kita mengandalkan Tuhan, kita akan menerima kekuatan dan
boleh bertumbuh seperti pohon yang menggantungkan hidupnya akan air.
Kalau kita hidup dekat dengan Tuhan, seperti pohon yang ditanam di tepi air,
kita akan bertumbuh dan berbunga juga.
  Dari Tuhan kita menerima kekuatan dan kebijaksanaan; kalau kita percaya
kepada Tuhan dan belajar dari Firman Tuhan, kita akan bertumbuh dalam
iman. Kita akan menjadi seperti pohon yang memiliki dengan banyak daun
dan buah. Pada saat ada kesulitan atau masalah, atau kekeringan, kita punya
cadangan sehingga kita tidak usah putus asa. Tetapi kita bisa bertahan,
seperti pohon yang punya akar di dalam sungai.
   Pohon yang bertumbuh dan berbunga menjadi berkat untuk sekelilingnya,
karena pohon ini memberi banyak buah dan daun. Pohon ini adalah tempat
perlindungan, karena memberi kerindangan dari panas terik, bagi manusia
dan binatang. Juga kita bisa menjadi berkat untuk sekeliling kita, untuk orang
lain, kalau kita bertumbuh dan berbunga.
   Kembali ke akhir minggu ini. Kita sudah belajar dan berbagi banyak tentang
GKJW, pekerjaan sebagai hamba Tuhan dan lain sebagainya. Dan tadi kita
telah merenungkan tentang apa yang kita pelajari pada akhir minggu ini. Nah.
Pohon seperti ini, yang telah kita buat menjadi hijau, adalah seperti pohon
dengan pengetahuan dan kebijaksanaan. Pengetahuan dan kebijaksanaan
harus dibagikan dengan orang lain.
  Saya rindu bahwa kita menjadi seperti pohon, yang berada di dekat air,
yang hidup di dekat Tuhan.
  Saya rindu bahwa kita menjadi seperti pohon, yang bertumbuh dan
berbunga, sehingga menjadi berkat untuk orang lain.


36
  Saya rindu bahwa kita menjadi seperti pohon dengan pengetahuan dan
kebijaksanaan dari Tuhan, sehingga kita bisa meneruskan pengetahuan, iman
dan kebijaksanaan kepada orang lain.
  Tuhan memberkati.
Amin.




                                                                      37
           11 PERCAKAPAN           DENGAN       PEREMPUAN SAMARIA
                       RENUNGAN    PADA   SIDANG MAJELIS AGUNG
                                  OLEH BERTIE BOERSMA
                                 Sindurejo, 30 Juni 2007



     Sidang Majelis Agung pada tahun 2007 diadakan di Sindurejo, pada tanggal 28 Juni
     sampai 3 Juli. Pada tanggal 30 Juni saya melayani ibadah pagi. Untuk ibadah ini, saya
     memakai pengalaman-pengalaman dari program Membaca Alkitab Antarbudaya.
     Sebelum saya membaca Yohanes 4, saya menjelaskan sedikit tentang program itu.
     Kemudian saya menyampaikan renungan seperti ditulis di bawah.


                                     PEMBUKAAN
Pagi ini Firman Tuhan terambil dari Injil Yohanes pasal 4:1-30, 39-42.
Saya memilih bacaan ini atas dasar program yang telah saya awali pada bulan
Maret dan sampai sekarang masih berjalan, yaitu, membaca Alkitab
antarbudaya. Dalam program ini ada satu kelompok dari GKJW, yaitu dari
Malang, yang digabungkan dengan kelompok lain di Belanda, yaitu Gereja
Protestan Belanda. Mereka membaca teks Alkitab yang sama dan menulis
laporan dari hasil diskusi kelompoknya masing-masing. Kemudian laporan itu
dikirimkan ke kelompok lain, misalkan dari Belanda ke Malang dan
sebaliknya. Dengan program itu, kami bertukar pikiran, pengalaman dan
pengetahuan. Tujuan program itu adalah: mencoba membaca Alkitab melalui
perspektif dari kelompok yang berasal dari budaya berbeda, untuk belajar
bagaimana kelompok Kristen dari budaya yang berbeda memahami teks
Alkitab. Sekarang ada tiga kelompok di Belanda dan tiga kelompok juga di
Malang yang mengikuti program ini; dua kelompok membaca Yohanes 4, satu
kelompok lain membaca teks yang terambil dari Yohanes 11. Besok, pada hari
Senin, saya akan menjelaskan lebih banyak tentang program ini.
Sekarang, untuk ibadah pagi ini, saya ingin membaca Yohanes 4 dan
memfokuskan kepada seorang perempuan Samaria, dari perspektif budaya
yang berbeda. Saya juga akan mengutip beberapa kalimat dari kelompok di
Belanda dan di Malang. Mari, pertama-tama, kita membaca Yohanes 4, ayat 1
sampai 30, dan kemudian ayat 39 sampai 42.

                                      RENUNGAN
Bapak-Ibu, saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan,
Tema untuk ibadah pagi ini adalah ‘Pandangan tentang keluarga dalam
perspektif budaya yang berbeda’. Untuk tema ini, saya ingin mengarahkan
perhatian kita kepada perempuan Samaria. Apa yang kita ketahui tentang dia?
Siapakah dia?
Ada beberapa hal yang menarik. Yang pertama: dia adalah seorang Samaria.
Sudah lama orang Samaria tidak bergaul dengan orang Yahudi. Yang kedua:
dia adalah seorang wanita. Di dalam kebudayaan terdahulu, yang bersifat
patriarkis, adalah hal tidak lazim bila wanita bergaul dengan pria. Di dalam
kebudayaan itu, selalu ada jarak atau batas pergaulan antara pria dan wanita,



                                                                                       39
artinya mereka tidak akan pernah membicarakan hal-hal yang bersifat
pribadi.
Kemudian diceritakan bahwa perempuan itu, mendekati sumur Yakub untuk
menimba air. Dia mendekati sumur itu pada waktu siang hari, yaitu saat di
mana suhu udara begitu panasnya. Padahal biasanya, orang-orang menimba
air pada waktu pagi atau sore, tetapi jarang pada waktu siang hari. Karena
terlalu panas! Mengapa perempuan itu mendekati sumur Yakub pada waktu
siang hari? Kita tidak tahu pasti, tetapi barangkali dia mungkin tidak berani
untuk pergi ke sumur itu pada pagi atau sore hari, oleh karena tidak ingin
bertemu orang lain.
Mengapa dia ingin pergi sendirian ke sana? Mungkin dia itu seorang pelacur,
mungkin juga tidak. Kita kurang tahu pasti. Kita mendengar bahwa dia telah
mempunyai lima orang suami, dan yang ada sekarang, bukan suaminya. Ada
satu kelompok di Belanda, yang ikut program kami, yang mempunyai pikiran
bahwa perempuan itu mungkin bukan seorang pelacur, karena kalau dia
pelacur, dia tidak mempunyai banyak langganan: lima suami ‘saja’.
Namun demikian, saya berpikir bahwa perempuan Samaria itu tidak hidup
sama seperti orang dari keluarga rata-rata, dan barangkali dia dicelakan oleh
orang Samaria lain, bahkan dia hidup dalam masyarakat pinggiran, dibuang.
Bagaimana orang lain di sekelilingnya menanggapi perempuan itu? Ada tiga
sudut pandangan atau perspektif: yaitu Yesus, murid-muridNya dan orang
Samaria lain.
Pertama-tama Yesus. Dia duduk di pinggir sumur dan memulai percakapan
dengannya. Yesus tidak berprasangka terhadap perempuan itu, sebaliknya
menghargainya. Antara Yesus dan perempuan itu ada komunikasi yang
sungguh-sungguh dan mendalam. Yesus menerimanya dengan baik agar
supaya dia menjadi percaya kepada Tuhan. Dan kepercayaan diri perempuan
itu bertumbuh.
Apa yang terjadi kemudian? Bukan Yesus yang meminta perempuan itu untuk
pergi memberitakan Injil kepada orang lain... tetapi justru perempuan itu
sendiri yang memutuskan sendiri untuk memberitakan injil! Oleh karena
perempuan itu melihat bahwa Yesus adalah Mesias dan juga kommunikasi
yang mendalam antara Yesus dan perempuan itu.
Selanjutnya adalah sudut pandangan dari murid-murid Yesus. Mereka datang
pada saat Yesus masih berbicara dengan perempuan itu. Mereka heran,
karena Yesus berbicara dengan seorang perempuan! Walaupun mereka
melihat peristiwa itu sebagai sesuatu yang tidak lazim, tak satupun dari
mereka berani menegur Yesus. Sebaliknya mereka melihat perempuan itu dari
jarak jauh, dengan pandangan curiga.
Dan yang terakhir adalah sudut pandangan dari orang Samaria lain, yang
mendengar tentang Yesus melalui perempuan itu dan kemudian tertarik untuk
menemui Yesus juga. Selanjutnya mereka menjadi percaya.
Nah, tadi kita baru saja merenungkan tentang semua orang dalam bacaan ini,
khususnya tentang perempuan itu, yang berasal dari keluarga yang kurang
beruntung/rukun. Mungkin dia juga punya anak-anak, kita belum tahu.
Dengan program       membaca     Alkitab  antarbudaya setiap       kelompok
mendiskusikan bacaan ini. Dan semua anggota kelompok menanggapi sikap
orang lain tentang perempuan itu di dalam bacaan ini, yaitu di dalam budaya

40
Yahudi. Kemudian mereka menafsirkan dalam konteks ke zaman sekarang:
‘bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang berasal dari keluarga yang
kurang beruntung/rukun atau terpinggirkan?
Satu kelompok di Belanda bisa membayangkan sikap seperti murid-murid
Yesus, yang melihat Yesus dan perempuan itu dari jarak jauh, dan dengan
sikap penuh curiga. Kelompok itu mengatakan: ‘pada zaman ini, masih banyak
orang berpikir terkotak-kotak. Walaupun sudah lebih baik daripada dahulu,
posisi perempuan juga masih lebih rendah daripada laki-laki. Menurut kami,
cerita yang telah kita baca, adalah cerita seperti keadaan sehari-hari di
Belanda sekarang. Masalah-masalah masih sama seperti dahulu.’
Kelompok Malang juga mendikusikan tentang pengaruh budaya pada saat ini.
Mereka berkata: ‘untuk kami, yang menonjol adalah bahwa Yesus ingin
membongkar stereotyp budaya patriarki, supaya terdapat komunikasi dengan
perempuan itu. Dengan demikian perempuan ini dihargai dan dipandang.
Sebaliknya sama sekali tidak disingkirkan!’ Selanjutnya ditambahkan oleh
anggota kelompok di Malang bahwa “Tuhan memberikan teladan yang sangat
luar biasa kepada kita. Kita harus mampu membangun relasi, membangun
komunikasi kepada siapapun. Bahkan Tuhan Yesus telah mengajar kepada
kita, kita tidak boleh membalas - justru malah kita diminta untuk mendoakan.
Tetapi yang sering-sering terjadi adalah kala-kalanipun greneng di belakang
dan sebagainya... Tuhan mau membangun relasi dengan siapapun; tidak
hanya kepada orang yang menyenangkan saja, tetapi juga dengan orang yang
telah menyakiti kita; kita harus bisa membangun komunikasi dan relasi yang
baik.’
Jadi, baik di Malang, atau di Belanda, semua peserta bisa membayangkan
situasi seperti perempuan itu, yang berasal dari keluarga yang kurang
harmonis. Perempuan yang terpinggirkan dan dari keluarga yang kurang baik,
itu masih atau sering terjadi.
Bagaimana sikap kita terhadap orang-orang yang hidupnya tidak sama seperti
kita, yang punya standard moral yang berbeda, dan yang tidak hidup menurut
iman Kristen?
Apakah kita menghindari mereka, melihat mereka dari jarak jauh, dengan
pandangan penuh curiga, seperti murid-murid Yesus? Atau apakah justru kita
membangun komunikasi dengan mereka, seperti halnya Yesus?
Saya percaya bahwa kita bisa belajar dari bacaan ini, dari sikap Yesus. Karena
Yesus berkomunikasi dengan perempuan itu, dia tidak berpikir terkotak-kotak.
Dia perduli kepada perempuan itu. Dan oleh karena itu, perempuan itu
menjadi percaya dan pergi memberitakan injil kepada orang lain! Seorang
yang terpinggirkan, yang tidak dipandang, menjadi seorang yang sangat
penting di dalam Kerajaan Tuhan.
Yesus tidak melihat semua masalah, dan tidak mencela. Yesus tidak melihat
bagian luar manusia, tetapi melihat apa yang paling penting, yaitu inti
kehidupan. Yesus perduli kepada semua orang bahkan perempuan sekalipun,
baik laki-laki, orang kebanyakan atau orang yang berposisi rendah.
Amin.




                                                                           41
                        12 AKU       INI KECIL DAN HINA
       IBADAH PAGI SIDANG MAJELIS AGUNG GREJA KRISTEN JAWI WETAN 2007
                                  OLEH ELDERT FRANCKE
                                  Sindurejo, 3 juli 2007



     Tema Ibadah Pagi ini terambil dari dua kisah, yakni dari Ulangan dan Mazmur. Yang
     pertama dari Mazmur 119: “Aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak
     kelupakan.” (Mazmur 119:141). Kemudian yang kedua yang terambil dari kisah
     Ulangan: “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa! Kasihilah
     Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
     segenap kekuatanmu.” (Ulangan 6:4-5).
  Bapak, ibu, saudara dan saudari sekalian yang dikasihi oleh Tuhan,
Kekristenan di banyak negara Eropa dan bahkan di Indonesia dapat
digolongkan sebagai kelompok minoritas. Orang Kristen di Indonesia tinggal
berdampingan dengan orang muslim yang diakui sebagai Negara dengan
jumlah pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Sementara itu negara-negara
di Eropa misalnya Belanda dan Jerman masuk dalam kelompok negara yang
paling sekuler di Dunia. Meskipun konteks Indonesia dan Belanda sangat
berbeda sekali, dampak situasi minoritas itu pada orang Kristen bisa sama,
yakni perasaan seperti diungkapkan dalam tema ibadah ini: “Aku ini kecil dan
hina”.
  Kebanyakan orang di sekitar kita cenderung mengambil sikap kurang setuju
dengan keyakinan kita. Di Belanda saya kadang-kadang merasa seperti
seorang terbelakang karena saya beragama, sementara kebanyakan orang di
sekitar saya tidak beragama. Tidak jarang kaum Kristen digambarkan oleh
mass media sebagai kelompok yang terbelakang atau kuno, yaitu orang yang
belum ikut proses modernisasi dan masih percaya dalam pikiran yang pra-
modern. Itu, kritik dari pihak agnostisisme dan ateisme yang sangat tajam dan
kami sudah terbiasa dengan hal itu di Belanda. Kadang-kadang, saya merasa
bahwa kritik itu benar, sementara di pihak lain muncul keragu-raguan dalam
hati saya. Keraguan itu mengenai kebenaran iman Kristen, karena
kebanyakan orang yakin bahwa iman Kristen itu tidak benar. Karena
kebanyakan orang mempunyai pandangan yang berseberangan maka
benarkah keyakinan Kristen adalah suatu keyakinan yang salah?
   Bagi orang Indonesia yang mungkin kurang terfokus kepada kebenaran
daripada orang barat, keragu-raguan tentang kebenaran mungkin kurang
sering terjadi. Namun demikian pasti ada dampak lain terhadap orang Kristen
sebagai minoritas. Mungkin kita kurang berani untuk tampil di tengah-tengah
masyarakat, karena kita orang Kristen. Mungkin kita mengundurkan diri dari
masyarakat untuk hidup terpisah dari orang lain. Atau kita menyesuaikan diri
sebanyak mungkin, sehingga kita tidak akan mengalami diskriminasi, tetapi
dengan cara itu identitas kristen kita akan hilang. Mungkin ada reaksi-reaksi
lain yang disebabkan oleh keraguan dan perasaan kecil dan hina.
  Mengapa saya masih orang Kristen, mengapa saya tidak masuk ke dalam
kelompok yang lebih kuat dan besar seperti agnostisisme atau ateisme?
Dengan jawaban yang jujur, saya katakan saya masih beragama, tidak karena
saya sangat suka agama atau Gereja. Dahulu saya kadang-kadang
mengatakan bahwa saya masih beriman sekalipun tidak ada Gereja dan berkat

                                                                                       43
Gereja. Walaupun kata itu sebenarnya kurang tepat, tapi itulah perasaan yang
saya rasakan waktu itu. Saya terima pengalaman dari Gereja yang membuat
saya semakin kurang tertarik dengan Gereja dan Kekristenan. Saya tidak
sendirian dengan perasaan dan pengalaman seperti itu karena di Belanda ada
lebih banyak orang yang beriman kepada Allah, daripada orang yang
beragama atau bergereja. Dan kadang-kadang saya setuju dengan kritik
tersebut di atas terhadap agama atau Gereja. Menurut saya Gereja bisa
berpotensi menjadi kendala untuk tetap beriman.
   “Aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak kelupakan.” Apakah titah-
titah itu? “Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa!
Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap
jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Bapak surgawi, aku ini kecil dan
hina, tetapi aku tidak lupa cinta-kasihMu.
  Di mana keselamatan saya? Tidak di masyarakat yang sekuler dan tidak di
dalam agama-agama atau Gereja. Keselamatan kita hanya ada di dalam Allah.
Dengan demikian keselamatan kita dapat ditemukan baik dalam masyarakat
yang sekuler maupun dalam agama-agama dan Gereja, karena Allah dapat
hadir di mana-mana baik dengan cara roh maupun manusia.
  Kehidupan dalam cinta-kasih Allah merupakan keselamatan kita, khususnya
kalau kita merasa kecil dan hina. Allah menciptakan kita dengan cinta-kasih
dan Dia memberkati kita hari demi hari dengan cinta-kasihNya.
  Aku ini kecil dan hina, tetapi aku tidak lupa cinta-kasihMu. Oleh cinta-
kasihMu saya kuat. Oleh cinta-kasihMu saya tidak takut dengan masyarakat
yang sekuler, dengan agama-agama lain yang besar, dengan Gereja-Gereja
yang menjadi kendala dan bukannya menjadi jendela yang terbuka. Bahkan,
oleh cinta-kasihMu, Tuhan, saya bisa mengasihi masyarakat yang sekuler,
agama-agama lain dan Gereja yang tidak sempurna.
   Cinta-kasih itu menyebabkan orang berani hadir dalam Gereja, masyarakat
atau di mana-mana mereka sebenarnya merasa kurang aman, di mana mereka
merasa terlalu kecil dan hina. Kalau kita merasa seperti itu, jangan lupa kata
ini: “Aku ini kecil dan hina, tetapi titah-titah-Mu tidak kelupakan.”
Amin.




44
            13 KASIH TUHAN          TIDAK BERHENTI MENGALIR
                          IBADAH PAGI   PADA   HARI SENIN
                               OLEH BERTIE BOERSMA
                            Balewiyata, 20 Agustus 2007



     Renungan ini disampaikan bagi semua karyawan di Majelis Agung dan Balewiyata.
     Bacaan terambil dari 2 Raja-raja 4:1-7.


                                   RENUNGAN
  Bapak-Ibu, Saudara-saudari, yang dikasihi Tuhan,    Saya ingin sedikit
bercerita tentang hal yang berkaitan dengan musim baik yang di Indonesia
dan yang di Belanda.
   Di Belanda selalu ada empat musim: musim demi, musim panas (walaupun
tidak sepanas dibandingkan dengan di sini – mungkin beberapa hari saja),
musim gugur dan musim dingin. Jadi, pada musim gugur hampir semua pohon
tidak mempunyai daun, dan pada musim dingin semua pohon menjadi gundul
– itu agak membosankan bagi saya - dan pada musim demi, semuanya mulai
tumbuh dan berbunga lagi – itu sampai musim gugur, dan proses yang sama
mulai lagi. Oleh karena saya terbiasa dengan empat musim, ada sesuatu yang
sangat mengherankan saya di sini, yaitu selalu saja ada tanaman di sini yang
berbunga. Tidak perduli apakah itu musim hujan atau kemarau! Kalau pun
tanaman itu habis bunganya, selalu ada tanaman lain yang sudah mulai
berbunga lagi. Dan itu terjadi sepanjang tahun – saya sangat menikmati
kejadian ini.
  Pada satu hari, saya duduk di depan rumah dan melihat ke sebelah kanan.
Di sana saya perhatikan beberapa tanaman habis bunga; kemudian saya
melihat ke arah kiri – dan di sana tanaman lain sudah mulai berbunga lagi! Itu
sangat menyenangkan bagi saya. Pada waktu saya duduk di depan rumah dan
melihat tanaman yang senantiasa berbunga, saya mulai berpikir tentang
seorang janda yang mengalami mukjizat Tuhan dengan minyak. Bagaimana
pengalamannya? Pada waktu dia minta bantuan Elisa, dia mengalami mukjizat
dengan minyak: minyak tidak berhenti mengalir, satu demi satu bejana.
  Jikalau bunga saja memberikan rasa sukacita bagi saya - jadi bagaimana
halnya dengan perasaan janda itu yang melihat minyak yang mengalir dan
terus mengalir – sampai semua bejana menjadi penuh!
   (...) Bagaimana situasi pada waktu raja-raja memerintah? Kitab 1 dan 2
Raja-raja bersama 1 dan 2 Samuel bercerita tentang abad ke-10 sampai ke-6
sebelum Masehi. Di dalam kitab-kitab itu kita bisa membaca bagaimana
bangsa Israel merebut tanah Kanaan dan mulai hidup di sana. Sesudah raja
Salomo meninggal dunia, kerajaan Israel dan Yehuda berpisah. Sejak waktu
itu, 1 dan 2 Raja-Raja bercerita tentang kerajaan Israel dan Yehuda. Kita bisa
membaca bagaimana raja-raja menguasai kerajaan baik Israel maupun
Yehuda. Selain itu, 1 dan 2 Raja-raja bercerita tentang nabi-nabi Elia dan
Elisa, bagaimana mereka bekerja keras untuk mengajar bangsa Israel dan
Yehuda hidup mengikut Tuhan.
  Bacaan tentang seorang janda terjadi di dalam Israel, pada saat Elisa hidup.

                                                                               45
  Janda itu adalah istri dari seorang nabi. Oleh karena itu, Elisa, yang baru
saja menjadi nabi, merasa terdorong untuk membantunya. Situasi seorang
janda ini sudah begitu mendesak: dia mempunyai banyak hutang, dan oleh
karena itu anak-anak akan diambil untuk dijadikan budak. Pada zaman itu,
perbudakan dikarenakan hutang adalah suatu hukum Ibrani. Pada waktu
keputusasaan mendekatinya, dia memutuskan untuk minta bantuan Elisa,
hamba Tuhan.
  Sekalipun ada beberapa pertanyaan yang disampaikan, Elisa tidak
menunggu sampai janda itu menjawab: langsung dia memberi solusinya!
Berbekal dengan apa yang ada, yaitu satu buli-buli berisi minyak, namun
dibuat menjadi berlipat ganda: hal ini mengingatkan saya tentang kisah Yesus:
yaitu, kisah tentang lima roti dan dua ikan. Namun dari yang sedikit diubah
menjadi banyak. Sama seperti di 1 Raja-Raja, pasal 17, minyak itu dipakai
untuk menggoreng. Jadi, sesuatu yang diperlukan dalam kehidupan.
   Seorang janda itu harus mengumpulkan sebanyak mungkin bejana. Yang
mengesankan dalam hal ini, yaitu bahwa Elisa mendorong janda itu untuk
menemui para tetangganya dulu. Jadi, pertama-tama dia harus minta bantuan
dari orang di sekelilingnya untuk meminta mereka mengumpulkan bejana,
batu kemudian mukjizat dengan minyak bisa terjadi. Dalam hal ini perempuan
itu memerlukan orang lain, supaya mukjizat terjadi.
  Dan itu sungguh terjadi: satu per satu bejana terisi dengan minyak, sampai
bejana yang terakhir.
  Minyak tidak berhenti mengalir, sampai bejana yang terakhir terisi.
Keputusasaan berubah menjadi keheranan dan harapan: dengan bantuan
Tuhan lewat Elisa dan orang lain, mukjizat terjadi. Perempuan itu di ambang
keputusasaan, karena hampir saja anak-anaknya akan diambil oleh karena
hutang yang dia miliki– sekarang dia menjadi heran, dan penuh harap, pada
saat dia melihat bagaimana minyak tidak berhenti mengalir. Perempuan itu
mendapat harapan lagi, harapan dalam hidup selanjutnya.
  Kisah itu terus berlanjut: minyak yang melimpah itu tentu merupakan suatu
kemewahan bagi perempuan itu. Ini merupakan sesuatu tidak terduga.
Dengan rasa penuh keheranan dan harapan, membuat perempuan itu tidak
tahu apa yang dilakukan, sehingga dia menemui Elisa untuk menanyakan apa
yang mesti dilakukan. Menurut saya, dalam hal ini jawaban Elisa sangat
praktis dan lugas, yaitu bayar kembali semua hutang dulu; baru sisanya
dipergunakan untuk membantu keperluan hidup sehari-hari. Yang
mengesankan bagi saya, yaitu nama Tuhan tidak dikatakan pada waktu itu.
Mungkin itu aneh, tetapi saya yakin bahwa oleh karena mukjizat, orang-orang
harus mampu mengenal Tuhan.
  Karena minyak adalah tanda kasih Tuhan, yang tidak berhenti mengalir:
mukjizat kasih Tuhan tidak berhenti mengalir, sampai semua orang merasa
dipenuhkan. Sama seperti perempuan itu yang perlu bantuan tidak saja dari
Tuhan, tetapi juga dari tetanga-tetangganya; demikian halnya, kita
memerlukan orang-orang di sekeliling kita, supaya mukjizat bisa terjadi. Kita
saling memerlukan! Saya yakin bahwa kita bisa membantu orang lain, supaya
mukjizat-mukjizat Tuhan akan terjadi.
  Mari, cobalah tetap heran, supaya kita melihat di mana seorang yang perlu
bantuan kita, supaya kita tidak hidup dengan rutinitas saja, tetapi bisa


46
menyumbang untuk kegembiraan orang lain. Dan pasti kita akan melihat
mukjizat-mukjizat, yang kecil atau lebih besar.
  Supaya mukjizat cinta kasih Tuhan menjadi tampak untuk semua orang di
dunia.
Amin.




                                                                     47
                                14 KEPERCAYAAN
                     IBADAH   PENUTUP PEMBINAAN KELUARGA PENDETA

                          OLEH ELDERT FRANCKE   DAN   BERTIE BOERSMA
                                     25 Agustus 2007



      Ibadah penutup ini merupakan sebagian dari pembinaan untuk keluarga-keluarga
      pendeta, yang diadakan pada tanggal 23-25 Agustus 2007. Tema untuk pembinaan ini
      adalah: 'keluarga tumbuh bersama'. Untuk ibadah penutup, kami memilih tema
      'kepercayaan'. Kepercayaan terhadap yang lain (suami, istri, anak-anak, orang lain)
      dan juga terhadap Tuhan. Kami mulai ibadah ini dengan suatu latihan di dalam realitas
      untuk 'menguji' kepercayaan kami terhadap suami atau istri. Kemudian kami berbagi
      pengalaman-pengalaman dan saya menutup dengan renungan pendek, mengenai
      kepercayaan terhadap Tuhan. Akhirnya Eldert membaca beberapa ayat terambil dari
      Mazmur 33.


                                      PEMBUKAAN
Bapak-Ibu, Saudara-Saudari, Tema ibadah penutupan adalah: kepercayaan.
Untuk hidup bersama-sama sebagai pasangan dan keluarga, kita perlu saling
percaya. Sebelum kita menutup pembinaan ini dengan ibadah, saya ingin
melakukan suatu latihan bersama Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu sekalian. Latihan
ini adalah ‘tes kepercayaan’: betapa besar kepercayaan anda terhadap istri
atau suami? Untuk ‘menguji’ rasa saling percaya, kita akan melakukan suatu
latihan. Pertama-tama, saya minta Bapak dan Ibu untuk berdiri bersama istri
atau suami, jadi per pasangan. (…)
Untuk    latihan ini, saya mengambil beberapa kain, satu untuk setiap
pasangan. Sekarang saya minta Bapak dan Ibu untuk memutuskan bersama-
sama siapa yang akan ditutup matanya pertama kali. Jadi, putuskanlah
sekarang bersama suami atau istri saja. (…) Kalau sudah diputuskan,
pasangan yang matanya masih terbuka (jadi atau suami atau istri) akan
memimpin dia. Selama sepuluh menit, seorang yang memimpin boleh
menuntun istri/suami ke mana-mana saja! Di pendopo ini, tetapi juga ke luar,
boleh naik tangga dan masuk ruang makan – ke mana-mana saja.
Tetapi, ada beberapa kriteria:
   • Seorang yang memimpin harus tetap memegang suami/istri yang
      ditutup mata.
  •   Kedua orang, baik istri maupun suami, tidak boleh saling berbicara –
      kecuali pada saat situasi yang mungkin berbahaya.
Misalnya: kalau mau naik tangga, boleh memberitahu kepada seorang yang
ditutup mata: ‘sekarang ada tangga yang naik’. Tetapi cobalah untuk
berbicara sedikit mungkin – supaya seorang yang ditutup matanya harus
percaya kepada seorang yang memimpin.
  •   Untuk seorang yang memimpin: mulai dengan berjalan saja. Kalau itu
      sudah berjalan dengan baik, cobalah sesuatu yang lebih sulit, misalnya
      berputar-putar. Bila itu bisa dilakukan, cobalah sesuatu yang lebih sulit
      lagi, dan lain sebagainya. Balewiyata adalah lapangan yang besar
      dengan banyak kemungkinan untuk memimpin suami/istri, jadi: pakailah
      itu sebaik mungkin.


                                            48
  •   Dan untuk seorang yang ditutup mata: tidak boleh berbicara, tidak
      boleh menanggapi tentang apa yang dikatakan oleh suami atau istri.
      Kecuali kalau merasa begitu takut, bahwa akan terjadi bahaya: kalau
      begitu, harus mencari cara dan tempat yang lebih aman. Seorang yang
      memimpin bertanggung jawab untuknya!

Pelatihan pertama (10 menit)
Pelatihan pertama selama sepuluh menit. Jadi, pergi ke mana-mana saja,
tetapi kembali ke pendopo ini sesudah waktu habis.

                       TUKAR   PERAN-PERAN   (10   MENIT)

Sekarang kita bertukar peran, jadi seorang yang ditutup mata tadi, boleh
memimpin sekarang dan seorang yang memimpin tadi, boleh ditutup mata.
Lagi selama 10 menit. Dan cobalah untuk menemukan tempat atau cara yang
berbeda daripada tadi!
Evaluasi dan Percakapan (10 menit)
Pengalaman untuk berjalan tanpa bisa melihat apa saja.
  •   Bagaimana pengalaman pada waktu berjalan tanpa bisa melihat apa saja
      dan dipimpin oleh yang lain?
  •   Apa yang dilakukan? Apa yang dirasakan sulit, dan apa yang dirasakan
      lebih mudah?
  •   Apakah Bapak dan Ibu mampu percaya terhadap seorang yang
      memimpin, yaitu bahwa dia memimpin dengan cara yang baik?
Pengalaman untuk memimpin orang lain
  •   Bagaimana pengalaman untuk memimpin seorang yang begitu terserah
      dari Anda?
  •   Apa yang dirasakan sulit dan apa yang dirasakan lebih mudah?
  •   Bagaimana perasaan pertanggung jawaban terhadap seorang yang
      ditutup mata?

                           PENJELASAN (10    MENIT)

Nah. Dengan latihan ini, kita mengalami apa yang sungguh artinya untuk
saling percaya.
Seorang yang ditutup mata harus menyerahkan terhadap seorang yang
memimpin, dan seorang yang memimpin mempunyai pertanggung jawaban
yang besar terhadap seorang yang ditutup mata.
Percaya terhadap seorang lain tidak terjadi segara, tetapi harus menumbuh.
Kita harus belajar untuk percaya terhadap suami atau istri kita. Percaya
adalah proses, sama seperti kita tadi melatihan: berduanya, orang yang
memimpin dan yang menutup mata, merasa bagaimana kepercayaan terhadap
orang lain itu tumbuh. Tadi saya melihat bahwa semuanya mulai dengan hati-
hati, tetapi sudah cepat berani lebih maju. Saya melihat bahwa kepercayaan
terhadap suami atau istri tumbuh: semakin berjalan lebih lama, semakin
kepercayaan tumbuh.

                                      49
Kepercayaan adalah proses yang pernah mulai, yang tumbuh, dan kadang-
kadang turun juga. Karena mungkin kita merasa kecewa atau mengecewakan
istri atau suami. Kalau begitu, kepercayaan bisa hilang dan harus tumbuh lagi.
Kita bisa saling percaya, karena kita mengalami bahwa Tuhan dulu memberi
kepercayaan kepada kita, oleh cinta kasih Tuhan.
Tuhan dapat dipercaya; kita bisa percaya sungguh-sungguh terhadapNya.
Dan dari kepercayaan itu, kita juga bisa saling percaya.
Ada suatu Mazmur dari Daud, yang menyanyikan tentang Tuhan yang dapat
dipercaya sungguh-sungguh. Daud sudah sering mengalami bagaimana Tuhan
memimpin dia, khususnya pada saat dia berada dalam situasi yang gelap.
Pada saat itu, Daud harus menyerahkan dirinya kepada Tuhan.
Dari Mazmur itu, Mazmur 33, Eldert akan membaca beberapa ayat. Mari, kita
membaca Mazmur 33, ayat 1-9 dan 18-22.
Bacaan: Mazmur 33: 1-9, 18-22




                                       50
                 15 BER-PI        SECARA BERANI DAN PINTAR
                                  RENUNGAN FILIPI
                                  OLEH ELDERT FRANCKE
                                Malang, 27 Agustus 2007



      Renungan ini dipakai dalam Ibadah pagi senin bagi pegawai Majelis Agung bersama
      dengan staf Balewiyata. Sebelum itu, saya menyampaikan renungan ini dalam ibadah
      pemuda Gereja Injili Nusantara, jemaat Filadelfia Malang. Nats renungan ini dapat
      ditemukan dalam surat Filipi 1:12-17.
  Bacaan hari ini terambil dari surat Filipi. Surat Filipi yang ditulis oleh rasul
Paulus ditujukan kepada jemaat Filipi. Kota Filipi terletak di Yunani utara.
Dalam surat ini Paulus memberi tahu bahwa dia dipenjarakan oleh pemerintah
Romawi terkait dengan alasan pekabaran Injil. Namun demikian dia memberi
pujian kepada jemaat itu dan bersuka cita atas kepercayaan mereka.
Kemudian Paulus memberi tahu bahwa dia akan mengirim dua orang ke
jemaat Filipi, yaitu Timotius dan Epafroditus. Pada akhirnya dia memberi
peringatan dengan sangat tajam bahwa mereka harus “Berhati-hati terhadap
orang-orang yang melakukan hal-hal yang jahat, orang-orang tersebut pantas
disebut 'anjing'. Mereka mendesak supaya orang-orang disunat.” (3:2).
  Nats kita, ditemukan dalam bagian pertama surat Filipi, di mana Paulus
memberi tahu kepada jemaat Filipi keadaannya pada waktu sedang
dipenjarakan. Mari, kita membaca bagian itu.
  [bacaan surat Filipi 1:12-26]
  Ketika saya menyadari salah satu tujuan surat itu adalah untuk memberi
tahu keadaan pemenjaraan Paulus, saya merasa penasaran. Bagaimana
keadaan Paulus pada saat dipenjarakan? Sementara, dari surat itu, kita tidak
bisa tahu di mana Paulus dipenjarakan. Apakah itu sudah lama? Kenapa dia
dipenjarakan? Bagaimana itu terjadi; apakah ada kekerasan? Apakah Paulus
tetap sehat? Bagaimana makanan yang diberikan dalam penjara itu? Hal lain
apa yang dia boleh lakukan sehari-hari, selain menulis dan mengirim surat-
surat kepada para jemaat? Kalau saya sendiri menulis surat pasti hal-hal yang
saya tanyakan tadi saya ceritakan di dalam surat, sedangkan penjelasan akan
pertanyaan-pertanyaan itu sama sekali tidak terdapat pada surat Paulus.
  Bagi Paulus ada hal lain yang lebih penting yang mendorong dia untuk
menulis. Dan tulisannya itu disampaikan dalam pendapat yang sangat
menarik. Pendapatnya adalah: “Saya mau kalian mengetahui, bahwa hal-hal
yang telah terjadi pada saya justru menyebabkan lebih banyak orang
mendengar dan percaya akan Kabar Baik itu.” (1:12 BIS).
   Walaupun Paulus ditangkap lalu dipenjarakan, karena dia mengabarkan Injil
mengenai kerajaan Kristus, dia terus-menerus berbicara dan menulis
mengenai Injil, bahkan dia menulis “Yang saya sangat inginkan dan harapkan
ialah supaya jangan sekali-kali saya gagal dalam tugas saya. Sebaliknya saya
berharap supaya setiap saat, terutama sekali sekarang, saya dapat bersikap
berani sehingga dengan segenap jiwa raga saya baik saya hidup atau saya
mati Kristus dimuliakan. Karena bagi saya, tujuan hidup saya hanyalah
Kristus! Dan mati berarti untung.” (1:20-21)


                                                                                    51
   Bagi Paulus pekabaran Injil mengenai Kristus adalah hal yang paling
penting. Karena itu dia menulis mengenai dampak pemenjaraannya terhadap
pekabaran Injil. Dan oleh karena itu situasi atau keadaan pribadinya hampir
tidak diceritakan. Selanjutnya Paulus bersaksi bahwa justru dari keadaanya
itulah muncul dampak yang luar biasa. Ketika dia ditangkap lalu dipenjarakan
ada lebih banyak orang yang berani untuk mengabarkan Injil, meskipun tidak
semuanya mempunyai motivasi yang baik. “Dan pemenjaraan saya telah
menyebabkan kebanyakan dari orang-orang Kristen di kota ini menjadi lebih
yakin lagi akan Tuhan, sehingga mereka makin berani mengabarkan pesan
Allah dengan tidak takut-takut. Memang ada beberapa di antara mereka yang
memberitakan Kristus karena iri hati dan mau bertengkar, tetapi yang lainnya
memberitakan Kristus karena mempunyai maksud yang murni.” (1:14-15).
  Paulus masuk penjara karena waktu itu agama Kristen masih belum menjadi
agama resmi, sebaliknya hanyalah merupakan sebuah aliran baru dalam
agama Yahudi. Aliran baru itu atau agama Kristen dianggap oleh pemerintah
sebagai ancaman bagi kesatuan atau stabilitas masyarakat. Kepentingan
Yesus sebagai raja merupakan ancaman bagi pemerintah romawi. Dari
awalnya kaum Kristen mengalami kekerasan. Paulus sendiri merupakan salah
satu contoh pelaku kekerasan itu yang di kemudian hari menjadi korban. Pada
saat belum menerima Kristus dia mengatakan: “Saya malah begitu
bersemangat sehingga saya menganiaya jemaat.” (3:6). Selama kurang-lebih
300 tahun Kekristenan mengalami kekerasan, dan selama waktu itu tidak ada
sebuah negara yang bisa dinamakan negara Kristen.
  Dewasa ini, pada abad ke-21 kita tahu bahwa telah terjadi negara dan
pemerintahan Kristen, dan sampai sekarang jumlah kaum Kristen naik dengan
cepat. Misalnya di negara-negara di Asia. Yang menonjol dalam hal ini adalah
bahwa meskipun di Asia kaum Kristen mengalami pertumbuhan, tetap mereka
merupakan kelompok minoritas di masing-masing negara dan tidak jarang
mereka mengalami diskriminasi, bahkan dimasukan penjara. Pengalaman-
pengalaman seperti itu diluar bayangan orang-orang di negara non Asia
misalnya Belanda atau Jerman. Sekalipun di sana kaum Kristen
berkecenderungan mengalami penurunan secara kuantitas dan berpotensi
menjadi kelompok minoritas juga, tetap mereka memiliki kebebasan
beragama dan pemerintah memperhatikan betul HAM, hak-hak asasi manusia.
  Saya yakin bahwa pengalaman rasul Paulus jauh lebih berkesan bagi Anda
sekalian daripada seorang Londo seperti saya. Karena itu, saya pikir akan
lebih baik jika kita merenungkan surat ini, saya duduk di antara Anda sekalian
selama salah satu orang lain melayani renungan pagi ini, bukan? Atau apakah
saya boleh katakan bahwa Anda sekalian harus hidup berani seperti rasul
Paulus, di mana dia tidak takut kalau dia masuk penjara, di mana tidak ada hal
yang lebih penting selain mengabarkan Injil. Saya merasa bahwa saya tidak
punya wewenang untuk mengatakan hal-hal tersebut. Sebaliknya jika saya
melayani di Belanda, pasti saya menekankan bahwa kaum Kristen di sana
harus belajar dari sikap Paulus, bahwa mereka tidak boleh malu memberikan
kesaksian tentang Tuhan kita. Karena di Belanda sama sekali tidak ada
bahaya untuk mengabarkan Injil, namun meskipun itu banyak orang Kristen di
sana tidak berani untuk menyaksikan kepercayaan mereka. Sebaliknya
mereka perlu didorong, tetapi bagaimana di sini?
  Di sini saya bertemu dengan sebuah kebudayaan yang menempatkan
harmonisasi menjadi hal yang terpenting dibandingkan individu. Sementara

52
itu masyarakat berubah dengan cepat ke arah budaya kota yang lebih
individualistis. Selain budaya tersebut di atas para Gereja di Asia dan
khususnya di Indonesia, sedang juga berada dalam masyarakat yang sangat
dipengaruhi oleh dua aliran agama yang fundamentalis, baik dari agama Islam
maupun dari agama Kristen. Kedua aliran itu sangat eksklusif dan
individualistis dan oleh karena itu kurang cocok dengan budaya pribumi,
misalnya budaya Jawa yang baik kolektif maupun inklusif. Jadi, para Gereja
yang berasal dari budaya desa sedang berada di antara dua aliran yang
sangat eksklusif.
   Bagaimana kita bisa menghadirkan dengan kesaksian Injil di dalam
masyarakat tanpa menghilangkan hubungan yang kuat dengan budaya
sendiri? Saya tidak dapat menjawab pertanyaan ini, itu merupakan PR bagi
kita. Apa yang saya harapkan adalah bahwa para Gereja tradisional tidak akan
mengikuti cara PI yang sangat individualistis, fundamentalistis dan eksklusif.
Walaupun cara PI aliran fundamentalistis kelihatannya mungkin lebih dekat
cara Paulus, saya pikir kita tidak boleh mencampuradukkan kebodohan
dengan keberanian.
  Paulus memang benar berani sekali. Dia tidak takut untuk masuk penjara.
Dia tidak berhenti menyaksikan Injil karena itu mungkin bahaya bagi dia.
Kenapa dia tidak berhenti? Karena dia tahu bahwa kalau dia dipenjarakan itu
akan berdampak dengan baik bagi PI dan dia bisa menyaksikan imannya
dengan pegawai pemerintah, supaya pendapat itu dihormati. Paulus sangat
bermotivasi tetapi dia tidak lakukan PI dengan bodoh, dan saya takut bahwa
Gereja karismatik atau Gereja lain kadang-kadang mencampuradukkan
motivasi itu dengan kebodohan, jika mereka pakai cara PI yang kurang cocok
dengan kebudayaan di sini dan merombak stabilitas masyarakat.
  Namun kemudian mungkin ada orang Kristen yang berpikir, apakah ada
kesesuaian dengan budaya atau stabilitas masyarakat begitu penting
dibandingkan dengan kebahagiaan semua orang secara pribadi, karena bagi
semua orang ada dua jalan, atau mereka pergi ke surga atau ke neraka.
Bahkan bukankah Yesus telah katakan: “34Janganlah menyangka bahwa Aku
membawa perdamaian ke dunia ini. Aku tidak membawa perdamaian, tetapi
perlawanan. 35Aku datang menyebabkan anak laki-laki melawan bapaknya,
anak perempuan melawan ibunya, dan menantu perempuan melawan ibu
mertuanya.   36Ya, yang akan menjadi musuh terbesar, adalah anggota
keluarga sendiri. 37Orang yang mengasihi bapaknya atau ibunya lebih
daripada-Ku tidak patut menjadi pengikut-Ku. Begitu juga orang yang
mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripada-Ku. 38Dan orang
yang tidak mau memikul salibnya dan mengikuti Aku tidak patut menjadi
pengikut-Ku.” (Mat. 10:34-38). Kalau kita mengombinasikan keberanian
Paulus dengan baik kata-kata Yesus itu maupun keyakinan bahwa kita harus
menyelamatkan orang lain dari neraka, apakah sikap PI kita tidak
berkecenderungan sikap yang militan?
   Nah, di sini muncul banyak pertanyaan yang penting dan yang perlu
dipikirkan. Misalnya pertanyaan mengenai maksudnya kata-kata Yesus itu:
kedatangan Kristus untuk apa? Atau apakah tujuan PI? Pada malam ini kita
tidak bisa merenungkan semua pertanyaan ini; itu merupakan PR pun bagi
kita. Tetapi saya yakin kalau kita menafsirkan baik surat Filipi maupun sabda
Yesus itu, sementara memperhatikan konteks itu, kita tidak berkecenderungan
sikap militan lagi.

                                                                           53
   Dahulu para Gereja di sini telah memakai cara yang lebih damai dan cocok
dengan budaya dan keadaan di Jawa, walaupun cara itu juga berasal dari luar
negeri. Gereja memakai sekolah dan rumah sakit untuk PI. Tetapi dewasa ini –
di dalam negara modern – pelayanan publik seperti itu seharusnya dan
sebaiknya dilakukan oleh pemerintah. Walaupun sampai dewasa ini tetap ada
cukup banyak pekerjaan di dalam sektor-sektor tersebut, mudah-mudahan
nanti Gereja dan para LSM misalnya Compassion tidak perlu lagi melayani di
sini, karena pelayanan pemerintah sudah cukup baik. Artinya semakin
masyarakat berkembangan semakin kurang menjadi kesaksian kristiani di
dalam sektor-sektor ini.
   Hal itu artinya bahwa lebih baik kalau Gereja mengantisipasikan keadaan
itu dan mencari kesempatan yang baru, yang cocok dengan budaya dan
keadaan masyarakat. Mungkin lebih baik kalau Gereja menghentikan investasi
ke dalam rumah sakit dan sekolah sendiri, lalu kemudian masuk rumah sakit
umum dan sekolah negeri, di mana Gereja bisa mengintegrasikan dan
mendekati masyarakat dengan pendekatan yang baru. Apakah dapat terjadi
kalau semua uang dan tenaga kerja yang sekarang dipakai untuk rumah sakit
dan sekolah, akan dipakai untuk mencari tempat yang lebih baik di dalam
pelayanan umum bagi pendidikan dan kesehatan? Apakah akan terjadi kalau
kaum Kristen lebih partisipasi dalam kerja sama dengan pemerintah lokal dan
umat agama lain, supaya Gereja-Gereja tradisional tetap memiliki hubungan
kuat dengan masyarakat sendiri.
  Itu saja beberapa harapan, pikiran dan pertanyaan, ini bukanlah sebuah
inpres atau instruksi dari seorang Belanda. Saya harap Gereja di sini tetap
mendekati masyarakat dengan cara yang baik berani maupun pintar. Proses
memperdekatkan Kabar Baik dan budaya juga dinamakan “inkulturasi”.
Dengan kata lain: membudayakan Kristus merupakan melanjutkan inkarnasi
Allah sendiri yang merindui mendekati hati kita semua.
Amin.




54
                  16 MATERIALISME                 DAN INDIVIDUALISME
                   PENGARUH-PENGARUH         ASING TERHADAP WARGA JEMAAT

                                       OLEH ELDERT FRANCKE
                                           Malang, 20 Juli



      Ceramah ini merupakan sebagian dari pembinaan Guru Injil GKJW mengenai
      spiritualitas dan moralitas. Materialisme dan individualisme sering dianggap sebagai
      pengaruh asing yang jelek. Selama menyiapkan ceramah ini, saya semakin kurang
      yakin tentang itu. Walaupun filsafat materialisme dan individualisme tidak berasal dari
      pulau Jawa, saya berpendapat bahwa sikap yang materialistis atau individualistis
      merupakan sesuatu yang kurang asing di sini. Apakah akar sikap-sikap tersebut harus
      dicari di luar atau di dalam kita diri sendiri? Sebagai seorang asing, saya kadang-
      kadang merasa heran kalau pengaruh Barat atau globalisasi dianggap sebagai alasan
      utama bagi krisis spiritualitas dan moralitas di Indonesia. Bukankah bangsa Indonesia
      adalah bangsa yang kaya dengan bermacam-macam agama, yang semua
      memperhatikan spiritualitas dan moralitas para pengikutnya? Saya yakin bahwa kita
      kurang berani merenungkan kekurangan kita sendiri. Dan kalau itu terjadi berarti itu
      adalah bagian dari krisis spiritualitas dan moralitas. Maksud saya adalah bahwa kalau
      kita berbicara tentang krisis moralitas atau spiritualitas, sebaiknya kita mencari alasan
      di dalam diri kita sendiri sebelum membahas pengaruh dari luar. Karena itu di dalam
      ceramah ini, kita membahas materialisme dan individualisme baik menyangkut tentang
      filsafat maupun gaya hidup. Kedua aliran itu memang benar merupakan pengaruh
      asing.


                         PENGARUH      ASING DAN      “GLOBAL   VILLAGE”

  Bapak, Ibu, saudara-saudari sekalian,
   1. Dalam sesi ini kita akan mendalami beberapa pengaruh asing terhadap
jemaat GKJW. Dewasa ini dunia kita bisa dianggap seperti “global village”
artinya suatu desa global. Dampak globalisasi itu terhadap jemaat-jemaat
GKJW pasti telah dialami oleh anda sekalian. Budaya Barat sedang masuk
dengan mudah dan cepat ke negara-negara Asia, termasuk Indonesia.
Sebaliknya agama-agama Asia bisa masuk ke budaya Barat. Misalnya di sana
kadang-kadang terjadi campur agama Kristen Barat dengan agama buddha.
Dalam sesi ini, kita akan memperdalam beberapa pengaruh asing. Walaupun
pengaruh-pengaruh itu mungkin sudah lama di sini, namun telah datang dari
luar dan merupakan hal-hal yang asing di sini. Pengaruh-pengaruh yang akan
kita dalami adalah “materialisme” dan “individualisme”. Bersama dengan
anda sekalian, saya ingin di dalam 20 menit yang akan datang membahas
aliran-aliran tersebut.

                    MATERIALISME       SEBAGAI GAYA HIDUP DAN FILSAFAT

  ●   Hal-hal yang material lebih penting daripada hal lain yang rohani.
  ●   Dampak televisi dan iklan atas keinginan kita.
  ●   contoh: siapa tidak mau memiliki tv, hp dan sepeda motor?
  ●   Korupsi: kehendak Allah (cinta kasih, setia, kejujuran) kurang penting daripada yang lain
      misalnya uang.


  2. Aliran yang pertama dinamakan “materialisme”. Dengan kata ini dapat
diungkapkan dua hal. Materialisme adalah suatu sikap atau gaya hidup terkait
dengan konsumerisme dan hedonisme, di mana materi yang paling penting,


                                                 55
kemudian materialisme mengacu pada salah satu aliran filsafat yang terkait
dengan ateisme, di mana tidak yang lain daripada materi.

                            MATERIALISME      SEBAGAI    GAYA   HIDUP


  3. Sikap yang materialistis - yaitu bahwa kita punya keinginan besar untuk
memiliki sebanyak mungkin materi, bahwa kita ingin ikut dengan mode yang
mutakhir – sikap itu dapat didorong oleh misalnya iklan-iklan yang sangat
pintar. Siapakah tidak ingin memakai sepeda motor, hp dan alat televisi yang
modern. Memang benar keinginan itu tidak muncul bersama-sama dengan
materialisme, kita bisa pakai alat-alat ini, tanpa sikap materialisme. Tetapi
bagaimana kalau kita mulai berutang sehingga kita bisa memiliki alat-alat itu,
meskipun nanti mungkin tidak ada cukup uang untuk membayar utang itu?
  Mungkin saya salah, tetapi menurut saya materialisme adalah suatu gaya
hidup yang tidak yang berasal dari luar negeri saja. Sebuah contoh lain adalah
korupsi. Apakah korupsi tidak merupakan sebuah contoh dari sikap
materialisme, di mana bagi orang yang melakukan hal-hal yang korup uang
lebih penting daripada kejujuran, bukan? Nah, menurut saya itu sebuah
bentuk materialisme.

                              MATERIALISME      SEBAGAI FILSAFAT

  ●   Tidak ada hal lain selain materi atau hal yang fisik.
  ●   Allah tidak ada
  ●   Jiwa dan roh halus tidak ada
  ●   Meskipun materialisme kurang kuat, ateisme seperti suatu metode sering diterapkan di dalam
      dunia ilmiah.
  ●   Tetapi menurut ilmuwan kurang daripada 5% dari realitas terdiri atas materi, dilihat dari pihak
      definisi materi klasik.
  ●   Belum ada definisi yang jelas tentang sifat materi.


   4. Kemudian “materialisme” sebagai sebuah aliran filsafat. Hal yang
menarik adalah bahwa “materialisme” itu pertama-tama terjadi bukan di
dunia Barat, tetapi di Asia, misalnya di dalam negara India dan Cina. Menurut
materialisme tidak ada sesuatu yang tidak terdiri atas materi. Di Barat filsafat
itu terkait dengan ateisme.
  Aliran filsafat materialisme resmi di Barat tidak terlalu besar pengikutnya,
terutama oleh karena kesimpangsiuran tentang sifat materi. 5 persen saja dari
realitas terdiri atas materi dan bagi para ilmuwan masih sangat sulit untuk
mengerti bagaimana 95 persen lain yang ada di alam semesta.

                                MATERIALISME      DAN ILMUWAN

  ●   Materialisme terkait dengan ateisme.
  ●   Di dalam cara kerja ilmuwan tidak ada tempat untuk eksistensi dan kehadiran Allah.
  ●   Oleh karena itu banyak mahasiswa Kristen mengalami suatu krisis kepercayaan.


  5. Namun lewat metode ateis yang diterapkan di dalam cara kerja ilmuwan,
pendapat tentang realitas tetap hampir sama dengan filsafat materialisme.
Saya tahu bahwa banyak mahasiswa Kristen di Belanda mengalami suatu
krisis kepercayaan oleh karena dalam cara penelitian tidak ada tempat untuk
eksistensi dan kehadiran Allah.

                                                 56
  Jadi kita mengenal dua macam “materialisme”, yang pertama adalah suatu
gaya hidup, di mana hal-hal yang material lebih penting daripada hal-hal lain.
Kemudian yang kedua adalah “materialisme” seperti filsafat yang merupakan
suatu aliran yang ateistis.

                                PERKENALAN       INDIVIDUALISME

  ●   Istilah itu berasal dari Prancis, abad ke-18.
  ●   Artinya tidak sama dengan egoisme.
  ●   Perubahan masyarakat dari desa ke kota menyebabkan perubahan dari gaya hidup: kurang
      kolektif dan lebih individual.
  ●   Di dunia politik ada konflik antara kolektivisme (misalnya sosialisme) dan individualisme
      (misalnya liberalisme) tentang cara hidup bersama.
6. Kemudian kita melanjutkan sesi ini dengan mendalami istilah lain, yakni
“individualisme”.
                               ●   “Individualisme” adalah ajaran mengenai “individu” di mana
                                   individu lebih penting daripada kelompok (kolektif).
                               ●   Kata “individu” berasal dari kata Latin “in-dividuus”, yang artinya:
                                   yang tidak (bisa) terpisah, atau dalam bahasa Inggeris: not (to be)
                                   divided.

                     7. Sama dengan materialisme ada dua macam
                     individualisme, baik suatu gaya hidup maupun salah
                     satu aliran filsafat. Kita akan mendengar tentang
                     asalnya istilah itu, yakni Prancis, kemudian tentang
                     artinya, yaitu berbeda dengan egoisme. Selanjutnya kita
                     memfokuskan perubahan masyarakat dari desa ke kota
                     dan artinya transisi dari gaya hidup kolektif ke
individual. Akhirnya kita akan memperkenalkan individualisme dianggap
seperti salah satu aliran teori politik, dalam konteks konflik dengan
kolektivisme.

                                INDIVIDUALISME      DAN EGOISME

  ●   “Egoisme”, berasal dari kata Latin ego, yang artinya: “saya”.
  ●   Sikap yang mana saya tidak mau membantu orang lain, kalau kurang enak bagi saya.
  ●   “Individualisme”
  ●   Ajaran mengenai kepentingan dari individu dan nilai-nilai seperti percayaan diri dan
      kemandirian pribadi. Individu lebih penting daripada kelompok.


   8. Mungkin kita semua kadang-kadang memakai istilah individualisme dan
jarang memiliki arti yang positif. Keadaan di Belanda sama seperti di sini:
individualisme sering dianggap sebagai hal yang kurang baik. Hal itu sudah
terjadi sejak awal. Di Prancis dalam kalangan sosialis pada abad ke-18, istilah
“individualisme” memiliki arti yang negatif, yaitu egoisme dan anarkisme.
Setelah itu istilah “individualisme” juga dianggap dengan arti yang positif oleh
gerakan-gerakan lain.
  Individualisme itu memang benar terkait dengan egoisme, tetapi menurut
saya tidak sama sekali. Karena seorang dengan gaya hidup yang individual
bukanlah orang yang egoistis. Ada cukup banyak orang individualistis yang
sering bekerja sama dan membantu orang lain.




                                                 57
                       INDIVIDU     DAN   KOLEKTIF - KEADAAN      DI   JAWA
  ●   Gaya Hidup Tradisional (Desa) - Gaya Kolektif - Individu memerlukan kolektif untuk tetap hidup
  ●   Gaya Hidup Modern (Kota) - Gaya Individual – Individu tidak atau kurang memerlukan sebuah
      kolektif untuk tetap hidup
   9. Dalam kehidupan, banyak orang hidup dalam kelompok . Misalnya orang
yang tinggal di desa-desa di mana mereka pasti mengenal orang lain yang
tinggal di desanya sendiri. Sebaliknya di kota-kota orang-orang hidup dengan
cara anonim. Di desa kita sering melakukan kegiatan dengan orang yang
sudah dikenal, kita melakukan kegiatan dengan orang yang sama, tetapi di
budaya kota atau modern, kita cenderung melakukan kegiatan dengan
siapapun, sebab kita mengenal banyak orang lain, sekalipun orang itu tidak
mengenal saya.
   Dalam gaya hidup desa kita bisa menjawab pertanyaan “siapakah saya?”
dengan mudah dengan posisi kita di masyarakat . Kebanyakan orang di sekitar
saya akan memberi jawaban yang sama. Tetapi itu jauh lebih sulit untuk orang
dengan gaya hidup kota, karena mereka punya banyak peran lain bagi orang
lain. Dengan orang di sekitar mereka, mereka tidak akan menerima suatu
jawaban yang sama, karena dalam semua kelompok, mereka memainkan
peran yang beragam. Kalau seorang tidak dapat menerima suatu jawaban
yang jelas, dia harus menjawab pertanyaan itu sendirian, lebih mandiri atau
kurang tergantung dari konteks di mana dia berada.
   Jadi transisi dari budaya desa ke budaya kota menyebabkan gaya hidup
yang lebih mandiri dan lebih individual. Nah, dengan situasi itu, kita
mendekati suatu sikap atau cara hidup bersama yang dinamakan
"individualisme".

                                           PERTANYAAN
                            Gerakan apa yang cocok dengan demokrasi
                                      dan apa yang tidak?

                          Individualisme (tidak) cocok dengan demokrasi.
                           Kolektivisme (tidak) cocok dengan demokrasi.


  10. Kita lihat satu pertanyaan: gerakan apa yang cocok dengan demokrasi
dan apa yang tidak? Nanti, setelah kita membahas individualisme dan
kolektivisme dari pihak filsafat politik saya ingin terima jawaban dari anda
sekalian.

                     POLITIK   DI   BARAT
  ●   Konflik antara kolektivisme dan individualisme
  ●   Sejak Revolusi Prancis (abad ke-18)
  ●   Sebagai cara-cara hidup bersama yang sekular.

           Kebebasan, persamaan dan persaudaraan


  11. Tadi saya bercerita bahwa istilah “individualisme” terjadi di Prancis
pada abad 18. Negara Prancis waktu itu baru saja mengalami revolusi yang
besar. Kebebasan, persamaan dan persaudaraan adalah tiga istilah yang
terkait dengan revolusi itu. Kebebasan artinya bahwa gerakan itu tidak mau
hidup di bawah pemerintah raja atau Allah. Individualisme dan kolektivisme
merupakan cara-cara hidup bersama yang sekuler atau ateistis. Sebelum

                                                58
Revolusi Prancis cara hidup bersama terkait dengan agama dan kekuasaan
dari pemerintah yang berasal dari Allah. Sejak revolusi itu terjadi diskusi baik
antara gerakan yang individualistis maupun gerakan yang kolektivistis. Kalau
tidak ada raja atau Allah yang memerintah kepada saya, lalu siapakah yang
berhak? Apakah itu berarti saya sendiri atau kelompok masyarakat di mana
saya tinggal? Menurut orang kolektivistis itu kelompok dan menurut orang
individualistis itu orang individu saja. Cara-cara hidup bersama yang baru
terjadi dengan cara pencarian kekuasaan atas dasar kolektif atau individual.

                                        KOLEKTIVISME
   ●   Teori sosial dan organisasi politik
   ●   Seorang individu mengalami masalah-masalah yang diutamakan bersama dengan orang lain.
   ●   Solusi-solusi paling efektif kalau orang bersama berjuang untuk mencapai itu.
   ●   Contoh-contoh: sosialisme dan komunisme


   12. Dari pihak kolektivisme kita mengatasi masalah jauh lebih mudah
dengan kerja sama. Dalam masyarakat yang dibentuk kolektivistis kerja sama
itu bukan sukarela. Kalau seoring individu tidak mau ikut kerja sama, dia
merupakan ancaman bagi stabilitas dan harmoni masyarakat. Jadi,
masyarakat dengan cara kolektif dapat memakai paksaan dengan cepat.
  Nah menurut individualisme hal itu hampir sama dengan situasi sebelum
revolusi, di mana paksaan yang dulu dilakukan atas nama raja atau Allah,
sekarang paksaan dilakukan atas nama kolektif. Dari sini muncul pikiran
individualisme.
 13. Pikiran individualisme bisa digambarkan dengan suatu candi. Kita melihat
suatu candi dengan tiga pilar. Tonggak-tonggak itu menopang individualisme
dan kebebasan. Jadi, pesan gambaran itu adalah bahwa kebebasan yang resmi
tidak bisa terjadi tanpa individualisme. Kebebasan itu akan hilang dalam cara
hidup bersama berdasarkan kolektivisme, di mana keinginan individu kurang
penting daripada keinginan bersama dari kelompok.
                           ●   Individual rights
                               Do not sacrifice the rights of any individual or minority for the as-
                               sumed rights of the group.
                           ●   Equality under law
                               Do not endorse any law that does not apply to all citizens equally.
                           ●   Freedom of choice
                               Do not use coercion for any purpose except to protect human life, lib-
                               erty, or property.

                           ●   Hak-hak individu
                               Jangan mengorbankan hak-hak yang dimiliki oleh individual atau
                               minoritas untuk hak-hak kelompok yang diandaikan.
                           ●   Persamaan terhadap undang-undang
                               Jangan menerapkan sebuah undang-undang dengan cara yang tidak
Filsafat individualisme        sama terhadap semua warga.
                           ●   Pilihan bebas
digambarkan
                               Jangan pakai paksaan selain untuk perlindungan kehidupan, kebe
                               basan dan kemilikan.


   14. Ketiga tonggak itu merupakan juga ketiga perintah kebebasan
individualisme: hak-hak individu, persamaan terhadap undang-undang dan
pilihan bebas.
                    Gerakan apa yang cocok dengan demokrasi atau yang tidak?
                             Kolektivisme cockek dengan demokrasi.


                                                59
                    Individualisme tidak cocok dengan demokrasi.


  15. Setelah kita mendengar perbedaan antara gerakan kolektivimse dan
individualisme, siapakah mau menjawab pertanyaan ini: Gerakan apa yang
cocok dengan demokrasi: Individualisme atau kolektivisme?
Dalam demokrasi yang resmi kehendak majoritas berlaku juga bagi minoritas
maupun yang lain. Minoritas atau individu tidak boleh melakukan apa saja
yang tidak cocok dengan kehendak mayoritas. Jadi tidak ada pilihan bebas
dan oleh karena itu demokrasi tidak cocok dengan individualisme.




                                         60
                                  17 SAKIT         AGAMA
                        PENDAPAT   SEORANG ATEIS TENTANG AGAMA
                                                                   1


                                   OLEH   ELDERT S. FRANCKE
                                       28 Maret 2007

"Apabila satu orang menderita delusi, ini dinamakan kegilaan. Apabila banyak
               orang menderita delusi, ini dinamakan agama."2

      Alasan tulisan ini adalah salah satu surat dari teman saya. Teman tersebut dahulu
      berkuliah teologi bersama saya sementara kami masuk kelompok mahasiswa teologi
      yang sama, di mana kami terus-menerus berdiskusi hal-hal teologis. Dalam diskusi-
      diskusi itu sering temannya memiliki pendapat yang konservatif, sementara saya
      sering mempertahankan pendapat yang cenderung progresif. Namun kemudian dalam
      surat tersebut teman itu mengakui bahwa dia tidak lagi beragama Kristen, sambil
      mengikuti keyakinan ateis. Menurut pendapat saya, keadaan agama Kristen, baik di
      barat maupun di timur tidak punya jawaban yang cukup kuat terhadap keyakinan ateis
      itu. Apalagi kalau ateisme adalah sesuatu yang tabu seperti di Indonesia.
                     Tahun yang lalu terbit buku baru dari Clinton Richard
                   Dawkins (lahir 26 Maret, 1941), yang berprofesi sebagai ahli
                   etolog, biologi evolusioner dan seorang profesor di
                   Universitas Oxford. Dawkins namanya mendunia sejak
                   bukunya yang berjudul The selfish gene (Gen yang egoistis)
                   yang terbit pada tahun 1976. Menurut Prospect Magazine
                   Dawkins termasuk kelompok ketiga intelektual terbaik.3
                 Buku barunya berjudul The God delusion (Delusi Allah).
               Judul ini diilhami oleh kutipan di atas yang berasal dari
               Robert Persig.4 Kutipan dan buku ini berbicara dengan
 Halaman depan bahasa yang jelas, atau memiliki pesan yang sangat jelas
 buku Dawkins  yaitu Allah tidak ada, dan kalau orang percaya pada Allah, ini
               dianggap tidak sehat. Keberadaan Allah adalah delusi, dan
agama adalah suatu penyakit. Menurut hemat orang ateis ini agama tidak
berguna bahkan agama merupakan gejala yang berbahaya.
   Dalam bukunya Dawkins menunjukkan pada sejumlah kelemahan dari
agama khususnya agama Kristen. Dia menunjukkan kekerasan yang sering
dijiwai dan dimotivasi oleh agama, seperti pemburuan orang yang beragama
lain atau tidak beragama. Selanjutnya agama juga
memberikan legitimasi untuk keadaan masyarakat yang tidak
adil, seperti perbudakan atau diskriminasi. Misalnya pada
waktu abad ke-19 di negara bagian di sebelah selatan dari
Amerika Serikat, para pendeta membenarkan perbudakan
dengan mengutip ayat-ayat dari Alkitab. Dewasa ini agama-
agama, menurut Dawkins, bersikap keras dan berprasangka Richard Dawkins
terhadap homoseksual.
1 Mengenai: Richard Dawkins, The God delusion, 2006. Untuk lebih banyak informasi
  tentang Richard Dawkins lihat: http://en.wikipedia.org/wiki/Richard_Dawkins. Untuk
  penggambaran isi buku ini saya saja pakai sumbur-sumber sekunder saja, seperti:
  http://en.wikipedia.org/wiki/The_God_Delusion.
2 Barangkali kutipan ini berasal dari Rober Persig. Ahli filsafat yang dikenal melalui
  bukunya: Zen and the Art of Motorcycle Maintenance: An inquiry into Values, 1974.
3 Lihat: http://www.prospect-magazine.co.uk.
4 Lihat catatan 2.

                                                                                         61
   Tetapi kritiknya kepada moral agama akan terus berlanjut. Sebenarnya dia
tidak hanya menulis kritik tentang para pengikut agama, sebagaimana
lazimnya para pengarang yang menganut agama. Para pengarang tersebut
cenderung untuk membedakan kritik terhadap agama. Biasanya kritik
terhadap agama biasanya dianggap oleh mereka sebagai kritik terhadap para
pengikut agama. Dengan cara itu agama sendiri dibebaskan dari kritik, lalu
mempertanggungjawabkan pada para pengikut agama. Namun kemudian
menurut Dawkins, agama mempengaruhi manusia dengan buruk; apa yang
jelek adalah agama, bukan para pengikut. Untuk memperlihatkan itu Dawkins
menulis misalnya tentang moral Yahweh yang muncul dalam Kitab Perjanjian
Lama, di mana Dia misalnya menggunakan kekerasan, seperti pembersihan
etnis, pada waktu bangsa Israel memasuki Tahah Harapan. (Misalnya lihat,
Yosua 11.20-23).
   Kemudian Dawkins menunjukkan pada kelemahan intelektual agama
(Kristen). Dia menyatakan bahwa pernyataan yang religius tentang
keberadaan Allah tidak boleh berdasarkan atas kritik keilmuan. Pernyataan
Allah ada, harus diteliti secara kritis seperti halnya setiap pernyataan lain.
Tapi ada banyak pernyataan agama Kristen yang sampai sekarang tidak dapat
dipertahankan, kalau diperiksa dengan cara kritis. Bahkan agama Kristen
tidak punya penjelasan tentang keberadaan dan keadaan dunia yang lebih
baik. Ini berlawanan dengan teori evolusi. Penjelasan agama Kristen sendiri,
menurut hemat Dawkins jauh lebih kompleks dan kurang memadai daripada
teori evolusi.
                   Jadi menurut pikiran Dawkins tentang relasi agama dan
                   pengetahuan tidak memberikan sumbangan apapun agama,
                   kalau tidak ada obstruksi, rintangan. Tentang relasi moral
                   dan agama juga tidak ada kontribusi sama sekali, kalau
                   tidak ada pengaruh buruk dari agama. Mungkin untuk
                   orang Indonesia pikiran tentang agama seperti ini aneh
                   sekali. Barangkali Anda tidak pernah bertemu seorang yang
                   punya pikiran seperti ini. Tetapi orang Kristen di Barat
                   tinggal bersama-sama dengan mereka yang menamakan
 Richard Dawkins
                   dirinya ateis. Kekristenan Barat harus hidup dengan fakta
                   ini seperti pengaruh buruk dari agama. Kekristenan barat
                   harus hidup dengan fakta bahwa teologi Kristen kurang
memadai di dalam membantah kritik ateis. Sebenarnya sejak Zaman
Pencerahan (pada abad ke-18) ada banyak kritik yang fundamental terhadap
teologi Kristen. Sampai sekarang tidak ada jawaban-jawaban yang jelas dan
cukup baik untuk menyingkapi kritik ateis; teologi Kristen sampai sekarang
masih dalam kekacauan yang besar. Hampir setiap teolog punya pendapat
lain. Orang beriman yang awam harus memilih sendiri apakah dia akan
percaya. Bagaimana dia bisa, kalau juga ahli-ahli tidak bisa? Bagaimana kita
bisa tahu akan kebenaran? Apakah itu kebenaran? Lihat di sini terjadi krisis
dalam teologi Barat. Bahkan tidak hanya krisis teologi, tapi juga krisis
kepercayaan orang-orang Kristen yang awam. Kalau begitu tidak aneh kalau
orang-orang menjadi orang ateis, bukan? Hidup lebih mudah tanpa
pertanyaan seperti ini.




62
   Bagaimana terjadi situasi ini, misalnya di Belanda?5 Sebenarnya situasi-
situasi seperti ini terdiri atas dua perkembangan, yang pertama dibentuk oleh
aliran ateisme yang mekar pada waktu Zaman Pencerahan lalu tumbuh
sampai pada suatu pandangan hidup yang dewasa. Artinya ateisme menjadi
filsafat hidup yang berlandaskan atas ilmu pengetahuan. Sekarang, dari
semua pandangan hidup, ateisme paling cocok dengan ilmu pengetahuan.
Perkembangan yang pertama bertepatan dengan yang perkembangan lain,
yaitu stagnasi, kemacetan atau mundurnya teologi Kristen. Kedua
perkembangan itu merupakan dua bahan ramuan dalam proses sekularisasi,
seperti yang telah terjadi di Belanda.
   Awasilah bahwa sekularisasi tidak dianggap seperti dampak dari
tumbuhnya ateisme yang tidak bisa dihindari yang semestinya akar-akarnya
dicari dalam Kekristenan sendiri. Misalnya pada waktu di Belanda ateisme
mulai tumbuh, ada banyak perdebatan dan pertengkaran dalam Kekristenan.
Gereja-gereja terutama sibuk dengan diri-sendiri atau dengan perbedaan di
antara semua Gereja dan banyak ahli teologi yang berbakat menyia-nyiakan
waktu dan inteligensi untuk menentang atau membantah ahli teologi lain.
Pelbagai bagian posisi teologi mengencang sambil menjadi dogma-dogma
yang tidak dapat disangkal atau ciri-ciri satu-satunya Gereja yang benar dan
tidak pernah salah. Kritik atas dogma-dogma itu bisa menghasilkan
keresahan, keraguan dan kepanikan. Kemudian pada waktu tahun enam
puluhan menjadi jelas bahwa baik kekuatan rohani maupun kemampuan
intelektual untuk membantah pertentangan yang ateis, berbanding terbalik
dengan kekerasan yang retoris atau bombastis yang telah dipakai untuk
membantah lawan. Sementara untuk membangun kehidupan Kristen orang
sudah bekerja satu abad. Sekarang kehidupan Kristen yang lincah sudah
dimusnahkan habis dalam satu dasawarsa.
  Mungkin agama bukanlah penyakit, tapi menurut saya agama Kristen
misalnya di Belanda sedang dalam keadaan sakit. Namun apa boleh buat?
Sebab dan akibat kekacauan adalah perpecahan di dalam agama Kristen.
Menurut hemat saya perpecahan adalah satu penyebab kekacauan yang
sedang berlangsung. Karena perpecahan ini, kita tidak bisa bekerja sama,
kurang bisa dikoreksi oleh pikiran lain. Situasi ini kurang sehat. Saya harap
orang Kristen akan bekerja sama jauh lebih banyak daripada sekarang. Tanpa
kehilangan keinginan akan kebenaran itu sendiri. Tentunya ini menuntut sikap
yang rendah hati. Ini perlu kesediaan untuk mawas sendiri. Mudah-mudahan
orang Kristen Timur (orang Kristen Asia) akan memberikan sumbangan
kepada teologi agama Kristen untuk mencari kesatuan, harmoni dan
menjawab kritik kepada agama-agama khususnya agama Kristen.6
Selanjutnya kita bisa memanfaatkan pandangan kritik ateis terhadap agama
Kristen dan bersyukur untuk memperbaiki kelemahan. Juga di sini pantas
sikap yang rendah hati dan kesediaan untuk belajar dari orang ateis. Kita
seharusnya tidak saja mencari kesatuan dan kedamaian antara orang Kristen,
tetapi Alkitab memberi kita harapan untuk kedamaian dunia, kedamaian

5 Untuk penjelasan latar belakang di Belanda saya memakai: A. Vos, 'Consistentie en
  theologie', dalam: Dekker, E., G.G. de Kruijf en H. Veldhuis (redaksi), Openbaring en
  Werkelijkheid, Zoetermeer (Belanda) 1994, hlm. 43-59.
6 Contoh suatu daya upaya di Belanda untuk mengatasi krisis ini adalah pekerjaan dari A.
  Vos dan para muridnya. Mereka merancang teologi yang konsisten dengan bantuan dari
  teologi yang sebelum Zaman Pencerahan, yaitu khususnya dari Duns Scotus. Lihat:
  http://www.dunsscotus.nl.

                                                                                           63
untuk semua manusia. Ini artinya kita juga perlu hidup bersama dalam damai
dengan agama lain termasuk orang ateis. Sebenarnya orang ateis tidak punya
alasan untuk mengeluh tentang perilaku yang jelek dari orang Kristen, dan
sebaliknya mereka boleh memiliki alasan untuk mengeluh karena kita dengan
sepenuh hati percaya bahwa Tuhan ada dan menjadi manusia dalam Yesus
Kristus.




64
  18 PEMBAHASAN             AJARAN TRITUNGGAL DARI PIHAK                 SAKSI-SAKSI
                                        YEHUWA7
                             SUATU PLEIDOI   BUAT   INKULTURASI
                                   OLEH ELDERT S. FRANCKE
                                    Selasa 30 Oktober 2007



                                  Lukisan di sebelah kiri adalah ikon8 Tritunggal
                               yang digambarkan oleh Andrei Rublev.9 Ada tiga
                               malaikat yang mengunjungi Abraham. Di atas meja
                               ada cawan Perjamuan Suci. Apa yang menonjol
                               adalah bahwa kurang jelas apakah masing-masing
                               malaikat menyimbolkan Allah Bapa, Sang Putra dan
                               Roh Kudus. Ikon ini bisa dihormati secara bersama-
                               sama, namun jika kita mulai menafsir ikon ini akan
                               muncul bermacam-macam tafsiran. Sama seperti
                               kekristenan yang percaya dalam Allah Bapa, Sang
                               Putra dan Roh Kudus, sementara ada banyak
Keramahtamahan                 pandangan yang berbeda dengan yang lain, bahkan
Abraham atau ikon              tidak semua aliran Kristen setuju dengan ajaran
Allah Tritunggal               tritunggal (trinitas). Dengan dogma trinitas itu,
digambarkan oleh
Andrei Rublev. Ketiga          Gereja mengungkapkan bahwa ketiga oknum Allah
malaikat menyimbolkan          merupakan satu hakikat. Meskipun itu kedengaran
Allah Tritunggal.              aneh dan abstrak bagi kita, ajaran itu sering
Karena dilarang untuk          dianggap sebagai ajaran fundamental bagi agama
mematungkan Allah,             Kristen, serta ajaran mengenai kedua sifat Yesus
para pelukis ikon
sering pakai kisah itu         Kristus, yaitu tabiat ilahi dan manusia.
(Kejadian 18:1-18).       Agama Kristen telah lahir di tengah agama
                        Yahudi, karena orang-orang menyadari keunikan
                        Yesus (khususnya setelah kebangkitan Yesus), yaitu
bahwa Dia sangat terkait dengan Allah. Kesadaran itu diungkapkan dengan
bermacam-macam istilah yang bukan semuanya asli Yahudi, sehingga dari
awalnya Gereja Kristen merupakan lembaga yang bersifat “gado-gado”: ada
campuran budaya Yahudi dan Yunani.
   Sampai dewasa ini kebinekaan itu semakin besar terkait dengan
pertumbuhan Gereja dunia. Dalam artikel ini, kita akan membahas salah satu
pendapat, yaitu dari aliran Saksi-Saksi Yehuwa tentang ajaran tritunggal.
Ringkasnya, dapat dikatakan bahwa mereka percaya bahwa Yesus diciptakan
oleh Allah Bapa dan karena itu Yesus tidak abadi, kemudian Roh Kudus juga
tidak abadi dan tidak merupakan kepribadian, tetapi kekuatan Allah.


7 Nama aliran itu biasanya tertulis dengan ejaan “Yehovah”, sementara mereka sendiri
  memakai ejaan lain: “Yehuwa”. Dalam tulisan ini saya mengikuti ejaan “Yehuwa”.
8 Wellem, 176: “Kata ikon berasal dari bahasa Yunani, eikon, yang berarti: gambar. [...] Ikon
  dipakai dan dihormati dalam Gereja Ortodoks Timur” dan “memainkan peran utama, baik
  dalam ibadah umum maupun pribadi. [...] Dipercayai pula bahwa melalui ikon, orang-orang
  menyembuhkan penyakit, mengusir roh jahat, memberi berkat rohani dan jasmani. Ikon
  dipandang sebagai saluran berkat ilahi.”
9 Lihat www.rollins.edu/Foreign_Lang/Russian/trinity.html.

                                                                                          65
   Meskipun aliran itu lahir pada abad ke-19, pendapat seperti itu sudah lama
diungkapkan, misalnya oleh Arius (†336)10 dan merupakan alasan bagi Kaisar
Konstantin (†337) dan Kaisar Theodosius (347-395) untuk masing-masing
mengadakan Konsili Nicea (325) dan Konsili Konstantinopel (381). Konsili-
konsili itu dianggap oleh Saksi-Saksi Yehuwa sebagai tanda-tanda kerusakan
Gereja, atau apostasi besar. Alasan-alasan pendapat Saksi-Saksi Yehuwa itu
dapat ditemukan baik dalam Alkitab maupun sejarah Gereja. Dalam artikel ini,
kita akan membahas pendapat tersebut bersama dengan alasan yang terkait.
Tetapi sebelumnya kita akan memperkenalkan latar belakang sejarah Saksi-
Saksi Yehuwa.

                                               SAKSI-SAKSI YEHUWA11
                             Siapakah belum tahu Saksi-Saksi Yehuwa? Banyak
                           orang sudah mengenal keuletan mereka, di mana
                           mereka melakukan kunjungan terhadap banyak orang
                           untuk menyampaikan sabda Allah bersama dengan
                           majalah    mereka    Menara      Pengawal.    Mereka
                           mengabarkan Injil dari rumah ke rumah seperti Yesus
                           dulu menyampaikan kabar baik kepada orang-orang
                           sementara dia berjalan dari kota ke kota dan dari desa
                           ke desa.12
Charles Russell pada
                        Aliran itu berasal dari Amerika Serikat. Charles
tahun 1911.
                     Taze Russell (1852-1916) dianggap sebagai pendiri
                     aliran Saksi-Saksi Yehuwa. Murid-murid Russell
                     merupakan kelompok-kelompok siswa Alkitab. Pada
tahun 1881 dia mendirikan Lembaga Alkitab dan Risalah Menara Pengawal
dan sebelumnya dia sudah menerbitkan suatu majalah yang sekarang
bernama Menara Pengawal.
  Sejak kematian Russell, murid-muridnya terpisah dalam dua aliran, yang
pertama bernama Saksi-Saksi Yehuwa13 dan yang kedua tetap dinamakan
“siswa-siswa Alkitab”.
   Joseph      Franklin       Rutherford
                                                       DAFTAR KETUA LEMBAGA ALKITAB   DAN
(1869-1942) adalah pengganti Russell                      RISALAH MENARA PENGAWAL
sebagai kepala Lembaga Alkitab dan
Risalah Menara Pengawal. Banyak                       Charles Taze Russell (1879-1916)
                                                      Joseph Franklin Rutherford (1917-1942)
pengikut-pengikut      Russell     tidak              Nathan Homer Knorr (1942-1977)
mengakui wewenang dari kepala baru                    Frederick William Franz (1977-1992)
ini,   karena   Rutherford    mengubah                Milton Henschel (1992-2000)
identitas organisasi tersebut. Menurut                Don Adams (2000-sekarang)
banyak orang, identitas yang baru tidak
lagi cocok dengan pola pikiran Russell.
  Oleh karena itu Rutherford pun dapat dianggap seperti pendiri gerakan
Saksi-Saksi Yehuwa, sementara Russell dapat dianggap seperti pencetus
gerakan “siswa-siswa Alkitab”. Bagaimanapun, aliran Saksi-Saksi Yehuwa

10 Pada Konsili Nicea (325) terjadi perdebatan mengenai keilahian Kristus, sedangkan pada
   Konsili Konstantinopel (381) terjadi diskusi mengenai keilahian Roh Kudus.
11 Lihat juga Wellem, 406-407; Duta Nomor 06, Tahun ke-LXVII, Juni 2002, 9-16.
12 Lihat juga Cara Mereka Menyampaikan Kabar Baik kepada Saudara.
13 Aliran itu bernama Saksi-Saksi Yehuwa sejak tahun 1931.

66
dipengaruhi oleh Russell, khususnya dalam pola pikiran mengenai dogma
tritunggal.

                                                SEMACAM ADVENTISME
                            Walaupun Saksi-Saksi Yehuwa merupakan aliran
                         yang unik, pola pikiran Russell dan para muridnya
                         sangat dipengaruhi oleh aliran-aliran lain. Salah
                         satu pengaruh berasal dari William Miller
                         (1782-1849),     yaitu     Adventisme.      Mereka
                         “menekankan kedatangan Kristus yang kedua kali
                         untuk mendirikan Kerajaan Seribu Tahun di bumi.”14
                         Dahulu Miller yakin bahwa kedatangan itu akan
                         terjadi pada tahun 1843 lalu 1844, tetapi setelah
                         Kekecewaan Besar pada tahun 1844, di mana
                         kedatangan Yesus tidak terjadi, Miller tidak pernah
                         memberi tanggal lain. Namun kemudian Russell
 William Miller.         terpengaruh atas keyakinan Miller mengenai
                         kemungkinan untuk menghitung tanggal kedatangan
                         Yesus, sehingga dia menghitung tanggal itu sendiri
dan percaya bahwa Yesus akan datang pada tahun 1874. Setelah tahun itu, dia
yakin bahwa kedatangan Yesus benar terjadi, tetapi bukan dengan cara
manusia tetapi dengan cara roh. Aliran Saksi-Saksi Yehuwa yang sekarang
tetap percaya bahwa Yesus telah datang dan hadir dengan cara roh di dunia,
namun tertanggal lain: sejak tahun 1914, bukan tahun 1874.15

                    SAKSI-SAKSI YEHUWA      DAN   AJARAN TRITUNGGAL
   Kemudian, terkait dengan gerakan-gerakan lain misalnya
deisme dan teologi liberal, Russell mengucapkan kritik tajam
terhadap ajaran tritunggal, lalu dia melanjutkan apa yang
telah diajarkan oleh Arius dan para muridnya mengenai
Allah Bapa, Sang Putra dan Roh Kudus. Untuk membahas
kritik dan keyakinan itu, kita akan memakai brosur Saksi-
Saksi Yehuwa yang ditulis dalam bahasa Inggris dengan
judulnya: Should you believe in the trinity?16 yang artinya:
“Haruskah Anda percaya akan tritunggal?” Brosur itu
mengandung jawaban yang jelas atas pertanyaan itu, yakni
bahwa ajaran tritunggal adalah ajaran bidah dan berbahaya.
  Salah satu alasan bagi pendapat itu dibentuk oleh pernyataan yang benar
bahwa dogma trinitas tidak bisa ditemukan baik dalam Alkitab maupun dalam
pola pikiran Gereja mula-mula, bahkan dogma itu sama sekali belum ada
sebelum Konsili Konstantinopel (381)17, di mana tidak saja tentang Yesus
dinyatakan bahwa Dia sehakikat dengan Allah Bapa (itu sudah terjadi pada
konsili Nicea, 325), tetapi juga bahwa Roh Kudus berasal dari Bapa atau
dengan kata lain: “yang keluar dari Sang Bapa”. Dan istilah-istilah itu
dimengerti bahwa baik Yesus Kristus maupun Roh Kudus sehakikat dengan
14 Wellem, 5.
15 Dalam Wellem (hlm. 407) ditulis dengan salah bahwa aliran Saksi-Saksi Yehuwa tetap
   “menekankan kedatangan Kristus yang sudah dekat.”.
16 Should you believe in the trinity?, 1989.
17 Lihat bagian dari brosur yang berjudul “How Did the Trinity Doctrine Develop?”.

                                                                                        67
Sang Bapa.18 Konsili-konsili itu diberlakukan baik Gereja Katolik Roma, Gereja
Ortodoks dan kebanyakan Gereja Protestan.19
  Menurut pendapat sebagian kaum Kristen yang tidak setuju dengan
keputusan konsili-konsili itu, kejadian itu merupakan bentuk akhir Gereja
yang resmi. Sejak keputusan itu, kekristenan berada dalam kondisi yang
dinamakan apostasi besar dengan maksud bahwa sejak putusan itu Gereja
Kristen menyanggah Tuhan dan tidak lagi menghormati ajaran murni dari
Tuhan Yesus Kristus.
  Kaum Kristen yang memiliki pendapat seperti itu masuk gerakan restorasi
yang ingin memperbaiki keadaan Gereja yang rusak. Barangkali namanya
kurang cocok di mana gerakan itu tidak mencoba untuk memperbaiki Gereja
yang lama (yang menurut mereka rusak), sebaliknya mereka membangun
Gereja-Gereja yang baru, seperti aliran Saksi-Saksi Yehuwa yang masuk
gerakan itu.20
  Menurut para Saksi-Saksi Yehuwa Konsili Konstantinopel yang pertama dan
khususnya Doa Syahadat Nicea-Konstantinopel (381) merupakan tanda-tanda
kemurtadan itu. Dewasa ini pendapat seperti itu mengenai sejarah Gereja
sangat populer baik di luar maupun di dalam kekristenan: Gereja Kristen
memilih arah yang salah pada Konsili Nicea (325). Sejak waktu itu menurut
Saksi-Saksi Yehuwa, Gereja kehilangan hubungan dengan ajaran Yesus dan
para rasul, kemudian mengakar pada agama lain, atau dengan kata-kata lain:
agama Kristen diubah menjadi agama lain.21

                TERKAIT   DENGAN   FUNDAMENTALISME       DAN   RASIONALISME
  Kemudian, dikatakan oleh Saksi-Saksi Yehuwa kalau ajaran tritunggal
benar, hal itu pasti bisa ditemukan dalam Firman Tuhan.22 Sebenarnya

18 Sebenarnya Pengakuan Iman Nicea (yang tertulis pada Konsili Nicea, tahun 325) berubah
   pada Konsili Konstantinopel (381) khususnya dengan uraian Roh Kudus. Sekali lagi pada
   tahun 447 di Toledo (Spanyol), di mana suatu istilah baru memasuki pengakuan itu, yaitu
   kata filioque yang artinya “dan Putra” atau “dan Sang Anak”. Istilah itu telah menjadi
   tanda perpecahan Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik Roma.
19 Konsili Nicea dan Konstantinopel itu masing-masing dinamakan sebagai konsili oikumenis
   yang pertama dan yang kedua. Konsili Oikumenis adalah “sidang para uskup yang dihadiri
   oleh semua gereja. Keputusan konsili oikumenis mempunyai otoritas yang tertinggi dalam
   seluruh gereja.” (Wellem, 242).
20 Menurut gerakan restorasi itu, gereja-gereja yang sekarang sebenarnya tidak merupakan
   gereja yang benar. Proses dimana “Gereja mula-mula” menjadi gereja yang tidak benar,
   dinamakan seperti “Apostasi yang besar”. Gerakan restorasi itu, terdiri atas beberapa
   aliran seperti gerakan Stone-Campbell yang terdiri atas Gereja-Gereja yang bernama
   seperti “Murid-murid Yesus”, “Gereja Kristen” atau “Gereja Yesus”. Aliran-aliran lain yang
   termasuk “Gerakan Restorasi” adalah misalnya Milleristen (seperti Gereja Masehi Adven
   Hari Ketujuh) dan Gereja Mormon.
21 Pola pikiran itu sangat popular, misalnya dipakai dalam plot buku dan film “Da Vinci Code”.
   Meskipun buku dan film itu masuk gerakan lain daripada gerakan restorasi, pola pikiran
   tetap sangat terkait dengan aliran restorasi, misalnya di mana dikatakan mengenai Kaisar
   Konstantin, bahwa dia berperan penting dalam proses perubahan agama Kristen.
   Mengenai soal itu lihat misalnya, Tom Wright, Decoding Da Vinci atau Decoding Da Vinci
   Code.
22 Lihat bagian dari brosur yang berjudul “Is it clearly a biblical teaching?”: “If the trinity
   were true, it should be clearly and consistently presented in the Bible. Why? Because, as
   the apostles affirmed, the Bible is God's revelation of himself to mankind. And since we
   need to know God to worship him acceptably, the Bible should be clear in telling us just
   who he is.”

68
keyakikan itu sangat terkait dengan fundamentalisme, dimana Alkitab
memiliki kekuasaan absolut. Gerakan itu muncul pada abad ke-18 di dalam
kalangan kekristenan protestan di Inggris dan Amerika Serikat. “Munculnya
gerakan ini merupakan reaksi terhadap perkembangan ilmu-ilmu pengetahuan
modern, seperti teori evolusi dan teologi liberal.”23 Salah satu ciri teologi
liberal itu adalah pandangan kritis terhadap ajaran tritunggal. Misalnya
menurut banyak ahli Alkitab tidak ada ajaran seperti ajaran tritunggal di
dalam kisah-kisah Alkitab lalu dalam pola pikiran penulis Alkitab. Brosur
Saksi-Saksi Yehuwa setuju dengan itu, bahwa tidak ada pola pikiran tritunggal
dalam Alkitab. Jadi alasan ini terdiri atas dua keyakinan yang masing-masing
berasal dari gerakan yang penentang dengan yang lain.
   Salah satu ciri lain dari teologi liberal adalah keterkaitan dengan
rasionalisme24 yang yakin bahwa semua ajaran yang tidak jelas atau irasional
tidak berasal dari Allah dan tidak memiliki kekuasaan, meskipun ditulis dalam
Alkitab. Menurut Saksi-Saksi Yehuwa pola ajaran yang didasarkan pada
Firman Tuhan pasti merupakan ajaran-ajaran yang jelas, sementara menurut
mereka ajaran tritunggal merupakan suatu misteri atau ajaran yang tidak
dapat dipahami. Kalau begitu, ajaran itu tidak dapat berasal dari Alkitab,
karena dari Alkitab tidak muncul yang lain daripada ajaran-ajaran yang dapat
dipahami.25 Dengan keyakinan terakhir Saksi-Saksi Yehuwa mendekati
keyakinan rasionalisme.

               PENGARUH    DARI   AGAMA   LAIN

   Kritik di atas yaitu bahwa tidak ada tanda-tanda
ajaran tritunggal di dalam Alkitab didasarkan atas
tulisan-tulisan para ilmuwan. Sama sekali dengan
kritik berikutnya, yakni bahwa sumber-sumber
ajaran itu berasal dari agama-agama lain, terutama
agama Mesir, dimana telah terjadi ajaran tentang
Allah yang kurang-lebih sama dengan konsep
tritunggal. Di sana tinggal para uskup seperti
Alexander (†326) dan Athanasius (†373), di kota
Aleksandria. Oleh karena itu, ada para ilmuwan
yang berpikir bahwa dogma trinitas itu sangat
dipengaruhi lewat tokoh-tokoh tersebut, Alexander                  Kaisar Roma Konstantin
dan Athanasius dari Aleksandria26. Para Saksi                      Agung, mosaik di Hagia
                                                                   Sophia, Konstantinopel,
Yehuwa mengikuti pendapat itu, sementara mereka                    sekitar tahun 1000.
menganggap Arius seperti pembela sabda Allah.



23 Wellem, 109.
24 Umumnya rasionalisme adalah aliran filsafat yang terkait dengan filsafat René Descartes
   (1596-1650) dan dinamakan seperti itu karena aliran ini sangat mementingkan rasio. Lihat
   Bertens, 47.
25 Lihat bagian dari brosur yang berjudul “Is it clearly a biblical teaching?: “However, con-
   tending that since the Trinity is such a confusing mystery, it must have come from divine
   revelation creates another major problem. Why? Because divine revelation itself does not
   allow for such a view of God”. Pendapat itu berdasarkan ayat Alkitab yang diambil dari 1
   Korintus 14:33: “Allah tidak menghendaki kekacauan [...]”.
26 Lihat bagian dari brosur yang berjudul “How Did the Trinity Doctrine Develop?”: “[...]
   Morenz considers "Alexandrian theology as the intermediary between the Egyptian reli-
   gious heritage and Christianity.””

                                                                                           69
   Pengaruh dari luar tidak saja disebabkan oleh para uskup, tetapi juga
Kaisar Roma Konstantin Agung (272-337). Konsili Nicea (325) diadakan oleh
Kaisar itu. Tersebutlah dia masuk agama Kristen sambil masih punya
kepercayaan yang berasal dari agama sebelumnya. Kemudian dikatakan
bahwa pasti dia tidak tahu apapun mengenai diskusi teologi itu, bahkan dia
hanya mau mengontrol Gereja yang dianggap berbahaya terhadap kesatuan
masyarakatnya. Kesatuan itu diancam oleh debat mengenai sifat Yesus Kristus
di dalam kekristenan, khususnya para pengikut Arius dan gerakan perlawanan
yang dipimpin oleh uskup Alexander. Menurut brosur Saksi-Saksi Yehuwa dan
orang lain, Kaisar Konstantin hanya menginginkan kesatuan, dan hasil tidak
penting bagi dia. Meskipun demikian, istilah “sehakikat” masuk melalui ide
Kaisar Konstantin dalam Pengakuan Iman Nicea.27

                 ARIUS   DARI   ALEKSANDRIA
  Di atas, Arius sudah tersebut beberapa kali.
Dalam rangka diskusi trinitas, dia memainkan
peran yang penting. Kemudian pola pikiran Russell
sangat dipengaruhi oleh apa yang dia tahu
mengenai Arius. Bahkan Russell menghormati
Arius sebagai malaikat dari jemaat di Pergamus
(Wahyu 2:12).28 Arius mengajar bahwa Yesus
diciptakan Allah Bapa, sehingga Dia tidak abadi
dan tidak sama ilahi dengan Allah Bapa.29 Konsili
Nicea (325) mengecap ajaran ini sebagai ajaran
bidah. Kemudian semua tulisan dari Arius dibakar,
sehingga apa yang kami tahu tentang ajarannya                        Arius dari Aleksandria
berasal dari tulisan orang lain yang sering tidak
setuju dengan pendapat Arius. Pola pikiran Arius
merupakan latar belakang ajaran Saksi-Saksi
Yehuwa mengenai Anak Putra dan Roh Kudus.

            SAKSI-SAKSI YEHUWA       MENGENAI    ANAK PUTRA      DAN   ROH KUDUS
  Selain mengkritik ajaran tritunggal dengan cara di atas, brosur itu
membawakan pendapat aliran Saksi-Saksi Yehuwa sendiri mengenai relasi
antara Allah Bapa, Anak Putra dan Roh Kudus. Bersama dengan kebanyakan
Gereja, aliran Saksi-Saksi Yehuwa berkeyakinan bahwa Yesus sudah ada
sebelum Dia menjadi manusia. Tetapi, berbeda dengan kebanyakan aliran
Kristen, Saksi-Saksi Yehuwa berkeyakinan bahwa Yesus diciptakan oleh Allah
Bapa, sehingga Yesus tidak abadi dan sehakikat dengan Allah. Berdasarkan
ayat-ayat Alkitab, Saksi-Saksi Yehuwa percaya bahwa Yesus diciptakan Allah
Bapa, seperti penciptaan yang pertama dan paling penting, di mana Allah

                                                        .
27 Peristiwa itu ditulis Eusebius dari Kaisarea. Lihat P F. Beatrice, dimana tertulis bahwa kata
   “homoousios” berasal dari agama Mesir dan lewat Kaisar Konstantin telah masuk ajaran
   Kristen. Mengenai kritik Saksi-Saksi Yehuwa terhadap Kaisar Konstantin, lihatlah bagian
   dari brosur yang berjudul “How Did the Trinity Doctrine Develop?”
28 Barangkali tafsiran dari kisah Wahyu merupakan tafsiran yang aneh bagi kita, di mana dia
   menafsirkan ketujuh surat sebagai tujuh tulisan tentang sejarah Gereja. Menurut pendapat
   itu, bagian kepada jemaat Pergamus merupakan tulisan tentang pemunculan antikristus
   dan malaikat yang tersebut dalam ayat 2:12 adalah Arius. (Russell, The Finished Mystery,
   17 dan 30.)
29 Lihat catatan 30.

70
Bapa menciptakan semua ciptaan lain dalam Yesus.30 Itulah, bahwa Yesus
tidak sama sekali dengan Allah Bapa, juga jelas dari kehidupan Yesus sendiri,
misalnya di mana Dia sama sekali dengan orang lain bersembahyang kepada
Allah. Hal itu merupakan salah satu tanda dalam kehidupan Yesus, dimana
menjadi jelas bahwa ada perbedaan antara Allah Bapa dan Yesus Kristus.31
   Kemudian mengenai Roh Kudus diajarkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa bahwa
Roh itu adalah suatu kekuatan yang berasal dari Allah Bapa.32 Artinya bahwa
kekuatan itu berbeda dengan Allah Bapa dan bukan suatu kepribadian atau
oknum dari tritunggal.33 Dalam brosur itu diakui bahwa dalam Alkitab kata-
kata pribadi dipakai untuk Roh itu, tetapi hal itu tidak akan artinya bahwa roh
adalah oknum, karena juga ada hal lain yang dipribadikan dalam Alkitab yang
tidak diangkat oleh Gereja seperti kepribadian.34
   Ringkasnya, menurut pendapat Saksi-Saksi Yehuwa, Yesus dan Roh Kudus
tidak sehakikat dengan Allah Bapa, karena Yesus diciptakan Allah dan Roh

30 Keyakinan ini sudah diajar oleh Arius (250/256 – 336), dan merupakan alasan untuk Konsili
   Nicea (325), dimana ajaran ini terhukum sebagai ajaran yang bidah. Ajaran ini didasarkan
   oleh Saksi-Saksi Yehuwa pada ayat-ayat Alkitab, misalnya “15Ia adalah gambar Allah yang
   tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan, 16karena di dalam
   Dialah telah diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi
   [...].” (ITBKolose 1:15-16). Sebenarnya terjemahan ITB (Terjemahan Baru) sudah memberi
   tafsir dengan kata “lebih utama” yang tidak asli, sama seperti BIS (Bahasa Indonesia
   Sehari-hari): “Kristus adalah gambar yang nyata dari diri Allah yang tidak kelihatan;
   Kristus adalah anak yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan.” Dalam bahasa
   Yunani ditulis saja: πρωτόκος [firstborn] πάσης [all] κτίσεως [creation], yang artinya: anak
   yang sulung dari segala yang diciptakan. Menurut Saksi Yahuwa πρωτόκος (anak yang
   sulung) artinya bahwa Yesus diciptakan oleh Allah. Hal itu dapat dibaca juga dalam surat
   Korintus, dimana ditulis: “namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa, yang dari
   pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja, yaitu
   Yesus Kristus, yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena Dia kita
   hidup.” (ITB1 Korintus 8:6). Ayat ini mengandung perbedaan antara baik Allah dan Tuhan
   terhadap penciptaan. Oleh karena kata ἐκ (dari) yang dipakai bagi Allah dan διά (oleh) yang
   dipakai bagi Yesus. Dalam BIS, ayat ini diterjemahkan dengan lebih jelas: “Tetapi bagi kita,
   Allah hanya satu. Ia Bapa yang menciptakan segala sesuatu. Untuk Dialah kita hidup. Dan
   Tuhan hanya satu juga, yaitu Yesus Kristus. Melalui (διά) Dia segala sesuatu diciptakan, dan
   karena Dia kita hidup.” (BIS1 Korintus 8:6). Kemudian bersama dengan ayat berikutnya, ayat
   ini memperlihatkan menurut Saksi-Saksi Yehuwa bahwa Yesus bukan Allah: “Di hadapan
   Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya kupesankan dengan sungguh
   kepadamu [...]” (ITB1 Timotius 5:21). Menurut brosur itu, sama seperti para malaikat
   berbeda daripada Yesus, Yesus berbeda daripada Allah. Akhirnya suatu ayat yang diambil
   dari kisah Wahyu dimana Yesus dipanggil permulaan dari ciptaan: “[...] Inilah firman dari
   Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah [...]” (ITBWahyu 3:14:). Jadi
   di dalam Alkitab Yesus dipanggil anak yang sulung dari segala yang diciptakan, permulaan
   dari ciptaan Allah yang oleh-Nya segala sesuatu telah dijadikan.
   Arius mengajar bahwa Yesus diciptakan, sementara Gereja resmi cenderung untuk
   mengajar generasi abadi. Konsep itu dipakai untuk menyelamatkan keabadian dan
   keilahian Yesus Kristus. Dalam rangka artikel ini, tidak mungkin untuk membahas solusi ini
   lebih lanjut.
31 Lihat bagian dari brosur yang berjudul “Is God always superior to Jesus?”: “Jesus never
   claimed to be God. Everything he said about himself indicates that he did not consider him-
   self equal to God in any way—not in power, not in knowledge, not in age. [...] In every peri-
   od of his existence, whether in heaven or on earth, his speech and conduct reflect subordi-
   nation to God. God is always the superior, Jesus the lesser one who was created by God.”
32 Lihat bagian brosur itu yang berjudul “The Holy Spirit - God's Active Force”: “The holy spir-
   it is God's active force that he uses to accomplish his will. It is not equal to God but is al-
   ways at his disposition and subordinate to him.”
33 Karena itu para Saksi-Saksi Yehuwa menulis namanya tanpa huruf besar: roh kudus.
34 Misalnya hikmat yang beranak, Lukas 7:35.

                                                                                               71
Kudus bukan pribadi, tetapi kekuatan Allah, sementara ditulis dalam
Pengakuan Iman Nicea-Konstantinopel mengenai Tuhan Yesus Kristus “Ia
dilahirkan, bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa” atau dengan terjemahan
lain: “diperanakkan, bukan dibuat, sehakikat dengan Sang Bapa,”, kemudian
ditulis mengenai Roh Kudus: “Ia Tuhan yang menghidupkan, Ia berasal dari
Bapa” atau dengan terjemahan lain: “yang menjadi Tuhan dan yang
menghidupkan, yang keluar dari Sang Bapa”. Menurut pendapat aliran Saksi-
Saksi Yehuwa, pengakuan itu merupakan tanda jelas dari apostasi besar dari
Gereja mondial, sementara bagi kebanyakan Gereja pengakuan itu mendasari
iman Kristen.
   Namun kemudian dengan kalimat terakhir diberi kesan Gereja mondial
sangat harmonis dengan pendapat terhadap ajaran tritunggal. Sebenarnya
seperti sudah ditulis dalam brosurnya, di dalam Gereja mondial tetap ada
kekacauan besar.35 Sementara kekacauan itu mungkin tidak bisa ditemukan
dalam tulisan resmi dari gereja, dalam tulisan-tulisan ahli teologi, khotbah-
khotbah pendeta dan cakapan-cakapan warga Gereja kekacauan pasti bisa
ditemukan. Bahkan kekacauan itu dipengaruhi oleh misalnya gerakan-gerakan
lain seperti yang tersebut di atas, yakni teologi liberal, restorasionalisme dan
fundamentalisme. Pengaruh-pengaruh itu baik membentuk pola pikiran aliran
Saksi-Saksi Yehuwa, maupun menyebabkan kekacauan besar di dalam Gereja,
antara lain kekecauan mengenai baik keilahian Tuhan Kristus maupun dogma
Allah tritunggal. Di bawah kita akan merenungkan soal asalnya ajaran
tritunggal. Dari mana dogma itu, dari agama lain atau dari Alkitab? Selain itu
kita akan menjelaskan maksudnya kata “persona” di dalam konteks diskusi
kepribadian Roh Kudus.

                      MENGENAI     SOAL   TRITUNGGAL     DALAM   ALKITAB
   Para Saksi-Saksi Yehuwa dan juga banyak orang lain menyatakan dengan
benar bahwa ajaran tritunggal tidak bisa ditemukan dalam Alkitab. Dogma
tritunggal memang benar lebih muda kehadirannya daripada kisah-kisah yang
merupakan Alkitab kita. Mengenai soal ajaran tritunggal dalam Alkitab dan
sejarah Gereja brosurnya mengandung banyak kutipan yang berasal dari para
ilmuwan. Namun, hal itu tidak artinya bahwa para ahli itu setuju dengan
kesimpulan-kesimpulan brosur itu, yakni bahwa ajaran tritunggal tidak bisa
didasarkan atas Alkitab.36
Meskipun ahli Perjanjian Baru N.T. Wright setuju bahwa ajaran tritunggal
tidak dapat ditemukan dalam Alkitab, lalu dogma trinitas memakai istilah
yang berasal dari agama atau filsafat lain, itu tidak berarti bahwa dia setuju
dengan kesimpulan dan pendapat Saksi-Saksi Yehuwa. Sebaliknya, dia
mengatakan bahwa dalam kepercayaan agama Yahudi Allah selalu dekat
bangsa-Nya, bahkan Tuhan diam di satu-satunya Bait Allah di Yerusalem.
Kemudian dia bercerita bahwa Yesus memperlihatkan dalam kata dan karya
bahwa Dia seperti Bait Allah, bahkan dia lebih penting daripada Bait Allah.
Dengan itu, Yesus menjelaskan bahwa Dia sendiri merupakan kehadiran Allah
35 Lihat bagian brosur itu yang berjudul “How is the trinity explained?”
36 Brosur Should you believe in the trinity tidak memakai sistem catatan seperti biasa kalau
   kita memakai sumber-sumber lain. Hal itu mempersulit untuk mengecek kalau sumber-
   sumber itu dipakai dengan jujur. Untuk mengecek semua kutipan yang dipakai dalam
   brosur ini, kita bisa memanfaatkan salah satu website: http://www.bible.ca/trinity/trinity-jw-
   anti-trinity-booklet-master-index-quotes.htm. Selain daftar itu tidak ada banyak manfaat
   lain, dimana website ini sangat ekstrem dan masuk gerakan fundamentalis.

72
dengan cara baru, yaitu cara manusia.37 Keterkaitan itu telah merupakan
alasan untuk mengenai Tuhan Yesus Kristus menggunakan istilah “sehakikat
dengan Allah Bapa”, yaitu bahwa dalam Yesus kita sungguh bertemu
kehadiran Allah. Di samping kehadiran Allah dalam Tuhan Yesus Kristus,
Alkitab juga berbicara tentang kehadiran Allah dengan cara roh, yaitu Roh
Kudus dan akhirnya kalau kita berdoa kepada Allah Bapa, kita yakin bahwa
Diapun hadir.
  Itu adalah salah satu contoh dari penafsir Perjanjian Baru yang setuju
bahwa dalam Alkitab dogma tritunggal tidak bisa ditemukan, sementara dia
sama sekali tidak setuju dengan keyakinan fundamentalistis dari Saksi-Saksi
Yehuwa. Bahkan dia yakin ajaran tritunggal itu benar, sambil mengakui bahwa
dogma itu tidak tertulis dan Alkitab.

                      MENGENAI      KATA   “PERSONA”    DAN   ROH KUDUS
  Kemudian dogma tritunggal dianggap oleh Saksi-Saksi Yehuwa berbeda
daripada dogma tritunggal yang telah terjadi. Brosur dari Saksi-Saksi Yehuwa
berbicara tentang tiga kepribadian yang merupakan satu-satunya Allah, tetapi
ungkapan itu tidak sama dengan ajaran tritunggal yang telah terjadi dalam
Gereja. Hal itu menjadi jelas kalau kita memperhatikan bahwa kata “pribadi”
atau “oknum” adalah terjemahan dari kata Latin “persona”, dimana artinya
“persona” berbeda daripada pola kata “pribadi” dan “oknum” yang sekarang,
karena kata Latin “persona” berarti masker atau topeng. Seorang pemeran
pakai masker itu bermain suatu peran, sementara dia pakai topeng untuk
peran lain.38 Kalau begitu, ajaran tritunggal tidak mengenai Allah yang terdiri
dari tiga kepribadian atau oknum, tetapi tentang kehadiran Allah Bapa (peran
pertama) yang hadir dengan cara manusia dalam Yesus Kristus (peran kedua)
dan cara roh dalam Roh Kudus (peran ketiga).39

37 N.T. Wright, Jesus and the identity of God: “I cannot stress too strongly that first century Ju-
   daism had at its heart what we can and must call several incarnational symbols, not least
   the Torah, but particularly the Temple. And, though this point has been routinely ignored
   by systematic theologians from the second century to the twentieth, it is precisely in terms
   of Torah and Temple that the earthly Jesus acted symbolically and spoke cryptically to de-
   fine his mission and hint at his own self understanding.”. Idem, The Historical Jesus and
   Christian Theology: “Jesus evoked, as the overtones of his own work, symbols that spoke of
   Israel’s God present with God’s people. He acted and spoke as if he were in some way a
   one-man, counter-Temple movement. He acted and spoke as if he were gathering and defin-
   ing Israel at this eschatological moment – the job normally associated with Torah. He acted
   and spoke as the spokesperson of Wisdom. Temple, Torah, and Wisdom, however, were
   powerful symbols of central Jewish belief: that the transcendent creator and covenant God
   would dwell within Israel and order Israel’s life. Jesus used precisely those symbols as mod-
   els for his own work. In particular, he not only told stories whose natural meaning was that
   YHWH was returning to Zion, but he acted – dramatically and symbolically – as if it were
   his vocation to embody that event in himself.”
38 Kata “persona” (bahasa Latin) adalah suatu
   terjemahan dari kata Yunani “υπόστᾰσις” (hypostasis)
   yang hampir sama dengan πρόσωπον (prosopon). Paul Tillich, The History of Christian
   Thought, Lecture 8: “And “persona” is not our “person”; “persons” are you and I; each of
   you is a person for himself. We are persons because we are able to reason, to decide, to be
   responsible, etc. This concept of person was neither applied to God [...] nor was it applied
   [...] to the three “hypostases” in God, although the word “person” was applied not to God
   but to the Father, the Son and the Spirit. What did this word mean? “Prosopon” is “face,”
   “countenance,” or “persona”, the mask of the actor through which a special character is
   acted out.”
39 Walaupun menurut saya jelas bahwa maksudnya kata “persona” tidak sama dengan pribadi

                                                                                                73
   Kemudian kembali ke soal yang terkait dengan itu, dimana dikatakan oleh
Saksi-Saksi Yehuwa bahwa di dalam Alkitab tidak ada indikasi-indikasi jelas
bahwa Roh Kudus adalah kepribadian. Coba kita menerjemahkan kata
“persona” dengan “topeng”, atau mengerti saja bahwa artinya kata “persona”
tidak sama dengan “oknum” atau “pribadi”, apakah tetap ada masalah bahwa
Roh Kudus di dalam Alkitab tidak dianggap seperti suatu kepribadian?
Bukanlah, karena maksudnya dogma itu bahwa Tuhan tidak terdiri atas tiga
kepribadian, tetapi tentang satu-satunya Allah yang pribadi yang juga hadir
dengan cara roh.

                     MENGENAI KONSISTENSI AJARAN TRITUNGGAL
   Selain kritik yang berdasarkan pada Alkitab dan sejarah Gereja ada kritik
lain, yakni bahwa dogma tritunggal merupakan suatu pertentangan yang
melekat, yaitu bahwa ketiga kepribadian Allah Bapa, Anak Putra dan Roh
Kudus merupakan satu-satunya Allah yang pribadi. Bagaimana mungkin
bahwa tiga kepribadian ilahi tidak merupakan tiga dewa, tetapi satu-satunya
Allah? Kalau dogma tritunggal merupakan dogma yang tidak dapat
dimengerti, dogma ini tidak dapat dianggap sebagai pengungkapan dari Allah
sendiri, karena “Allah tidak menghendaki kekacauan”, menurut Saksi-Saksi
Yehuwa.40 Tetapi kalau kita memperhatikan sekali lagi bahwa kata “persona”
tidak berarti “seorang individu”, tidak berarti “pribadi” atau “oknum”, apakah
dogma tritunggal – tiga oknum tetapi satu hakikat – masih merupakan
pertentangan yang melekat, kalau kata “oknum” dimengerti dengan arti asli
seperti “masker”?
   Menurut saya dengan tafsiran kata “persona” itu, tidak ada pertentangan
yang melekat, meskipun masih ada pola pertanyaan yang sangat sulit. Tetap
kita bisa berdiskusi sampai pusing mengenai misteri tritunggal, karena siapa
bisa menjelaskan persis bagaimana Yesus dapat merupakan kehadiran Allah?
Atau apakah perbedaan yang tepat antara kehadiran Roh Kudus dan Allah
Bapa? Walaupun ada banyak yang belum jelas bagi kita, saya berharap bahwa
dengan pengertian “persona” seperti masker atau topeng, kita bisa mengerti
ajaran tritunggal lebih baik dan bisa menjelaskan lebih muda terhadap orang
lain. Bahkan, mudah-mudahan kita merasa berani untuk menerjemahkan
ajaran tritunggal dalam pola pikiran budaya kita sendiri.

             MENGENAI SOAL PENGARUH          DARI   AGAMA   DAN   FILSAFAT   LAIN

  Tadi sudah diperlihatkan bahwa salah satu latar belakang ajaran tritunggal
mungkin bisa ditemukan dalam sandiwara (masker seperti terjemahan dari
kata “persona”) dan sebelumnya sudah digambarkan kritik aliran Saksi-Saksi

   atau oknum, tetap ada banyak ahli teologi yang yakin bahwa Allah Tritunggal terdiri atas
   tiga kepribadian. Khususnya salah satu aliran yang dinamakan dengan istilah “tritunggal
   sosial” atau social trinity. Selain itu, kita bisa menyaksikan bahwa dewasa ini dalam
   umumnya ada diskusi mengenai bagaimana tiga oknum dapat merupakan satu Allah,
   sedangkan dahulu ada diskusi tentang keilahian Yesus dan Roh Kudus. Barangkali banyak
   ahli teologi takut kalau mereka menganggap kata “persona” dengan artinya lain, bahwa
   teologi mereka merupakan ajaran yang sesat, yaitu “modalisme”, yang mengajar bahwa
   dahulu ada Allah Bapa, kemudian Allah Bapa menjadi manusia dalam Sang Putra dan
   akhirnya Sang Putra digantikan oleh Roh Kudus. Namun pengertian itu berbeda dengan
   keyakinan bahwa ketiga “persona” (dengan artinya lain daripada oknum) berada dengan
   serentak. Lihat P. Tillich, The History of Christian Thought, Lecture 11.
40 ITB1 Korintus 14:33.

74
Yehuwa bahwa ajaran tritunggal sangat dipengaruhi oleh agama-agama lain.
Sebenarnya diskusi tentang pengaruh asing terhadap agama Kristen terkait
dengan soal lain, yaitu bagaimana iman Kristen bisa diungkapkan dalam pola
pikiran dari budaya-budaya lain. Kalau kita berbicara tentang Allah, apabila
kita berdoa kepada Allah, apakah kita harus pakai bahasa dan pola pikiran
Yahudi, sama seperti kaum Islam memakai bahasa Arab untuk itu?
   Dari sejarah ajaran tritunggal, kita bisa belajar bahwa dari awalnya Gereja
sudah ada pengaruh dari budaya dan agama lain. Selalu ada interaksi antara
agama Kristen dan budaya? Mengapa begitu, bahwa agama Kristen ingin
memasuki budaya lain? Karena itu sama seperti Tuhan Yesus Kristus dulu
memasuki dunia kita. Gereja bisa salah, tetapi agama Kristen cukup jelas,
khususnya lewat tulisan-tulisan rasul Paulus, bahwa kita tidak harus masuk
budaya Yahudi untuk menghormati Tuhan kita. Kristus ingin memasuki
budaya kita dan kita boleh menerima Kristus sebagai kehadiran Allah sendiri.
Dalam rangka itu kita tidak saja memikirkan mengenai pengaruh dari budaya
lain terhadap agama Kristen, tetapi juga mengenai pengaruh agama Kristen
terhadap budaya lain. Karena kalau Kristus memasuki, pasti itu akan
berdampak baik.
   Kembali ke soal tritunggal. Dahulu Kabar Baik itu dijelaskan dalam pola
pikiran Yahudi, yang sulit dimengerti oleh orang lain pada waktu itu. Oleh
karena itu, sudah dengan cepat Gereja memulai untuk menerjemahkan dan
menjelaskan Kabar Baik dalam bahasa-bahasa dan pola pikiran lain. Salah
satu contoh adalah istilah “homoousios”.41 Sementara kata itu tidak berasal
dari pola pikiran Yahudi, istilah itu dipakai untuk menjelaskan identitas Yesus
di dalam konteks budaya lain. Di sini terjadi pertemuan antara Injil dan salah
satu budaya, yaitu budaya Yunani.
   Menurut Saksi-Saksi Yehuwa dan banyak aliran lain, Gereja Kristen
menghilangkan identitas Kristen, jika pada Konsili Nicea dan Konstantinopel
istilah dan pola pikiran agama lain (misalnya “homoousios”) dipakai untuk
mengucapkan iman Kristen, sedangkan waktu itu bagi orang lain iman Kristen
menjadi lebih jelas. Sebenarnya dengan sikap itu, Saksi-Aksi Yehuwa
menyangkal sekali lagi inkarnasi Tuhan kita. Allah menjadi manusia dalam
Yesus, karena Dia rindu mendekati manusia sebaik dan sedekat mungkin.
Artinya kita tidak harus menghilangkan budaya sendiri, sedangkan Allah ingin
memasuki budaya kita untuk menyelamatkan budaya itu dari segala
kekurangan, atau dengan kata-kata lain untuk memperkaya kehidupan dan
budaya kita.
  Kembali ke soal tritunggal. Dewasa ini mungkin seluruh kaum Kristen
mengalami kesulitan untuk mengerti ajaran tritunggal yang diungkapkan pada
konsili-konsili tersebut. Bagaimana itu bisa terjadi? Karena budaya selalu
berubah dan terkait dengan itu, artinya kata-kata terus mengalami
perubahan, misalnya kata “persona”. Pola pikiran yang merupakan konteks
dimana telah muncul ajaran tritunggal, jauh berbeda daripada pola pikiran
dewasa ini. Karena itu sulit untuk mengerti maksud ajaran tersebut.
   Hal itu artinya bahwa agama Kristen yang sehat selalu ingin mengikuti
perkembangan masyarakat, baik dimana Gereja masih baru muncul, maupun
di dalam masyarakat di mana Gereja sudah hadir lama. Dalam proses itu, kita
bisa memanfaatkan ajaran tritunggal, yaitu seperti kabar baik mengenai

41 Lihat catatan 27.

                                                                            75
kedatangan dan kehadiran Tuhan kita. Kalau begitu dogma itu tidak
merupakan kendala, tetapi sumber inspirasi dan kreativitas bagi Gereja yang
berteologi.
  Dalam artikel ini, kita mengenal pola pikiran Saksi-Saksi Yehuwa mengenai
ajaran tritunggal dan ajaran mereka tentang Yesus Kristus dan Roh Kudus.
Menurut ajaran mereka Allah jauh dari manusia, dimana menurut mereka baik
Yesus maupun Roh Kudus tidak merupakan kehadiran Allah dengan jujur,
Yesus dan Roh Kudus saja mewakili Allah. Itu bertolakbelakang dengan
maksud ajaran tritunggal yang kita membahas sebagai ajaran mengenai
kehadiran Allah. Kalau begitu ajaran tritunggal tidak lagi kendala, tetapi
sumber kehidupan Gereja.

                                       DAFTAR SUMBER

                          SUMBER-SUMBER SAKSI-SAKSI YEHUWA
        Cara Mereka Menyampaikan Kabar Baik kepada Saudara, [www.watchtower.org/in/jt/].
        Should you believe in the trinity? [www.watchtower.orglibrary/ti/].

                                   SUMBER-SUMBER       LAIN

        Pier Franco Beatrice, The word “homoousios from Hellenism to Christianity, Church
         History 71, no. 2, 2002, 243-272.
        K. Bertens, Ringkasan Sejarah Filsafat, Yogyakarta, 199815.
        John Anthony McGuckin, The Road to Nicaea,
         [www.christianitytoday.com/ch/2005/001/7.18.html], Christian History & Biography,
         Issue 85, Winter 2005, Vol. XXIV, No. 1.
        Dr. F.D. Wellem, Kamus Sejarah Gereja, 2006.
        Paul Tillich, The history of Christian thought.
        N.T. Wright, Jesus and the identity of God, [www.ntwrightpage.com/Wright_JIG.htm].
        N.T. Wright, The Historical Jesus and Christian Theology,
         [www.ntwrightpage.com/Wright_Historical_Jesus.htm].
        N.T. Wright, Decoding Da Vinci,
         [http://www.dur.ac.uk/StJohnsCollege/borderlands/Borderlands05.pdf].
        N.T. Wright, Decoding Da Vinci Code,
         [http://www.spu.edu/depts/uc/response/summer2k5/features/davincicode
         .asp].




76
            19 ‘DID       WE ACTUALLY READ THE SAME TEXT?’
           INTERCULTURAL BIBLE   READING WITH     JAVANESE   AND   DUTCH   GROUPS

                                OLEH BERTIE BOERSMA
                                    Sindurejo, Juli 2007



      Bagi majalah ... UEM (United Evangelical Mission) saya menulis suatu artikel tentang
      hasil program Membaca Alkitab Antarbudaya selama tahun ini. Artikel ini tertulis
      dalam bahasa Inggris.
   Malang, East-Java – It’s four o’clock in the afternoon when I enter a neat
Javanese house. Two women already sit together and have a chat. I also sit
down as I know that the next thirty minutes are reserved for ‘omong-omong’:
having a talk before the meeting starts. This is really important for Javanese
people, first they need to talk with each other before they can start the meet-
ing. At half past four almost everyone, seven women and three men, arrived
and we can start. We pray, sing a song and then open the Bible – to read John
4, the story about the Samaritan woman.
  At the same day, a group of church members in the Netherlands also meet
each other to read and talk about John 4. Both groups, in Malang and the
Netherlands, participate in the program which is called ‘Through the eyes of
another’ and which started in 2001 as an idea of the Free University in Ams-
terdam. Since that time, many different groups from over the whole world
have participated in this project.
   The idea is simple: two groups from different continents, who want to join
the program, get in touch with each other. First they introduce themselves to
the other group by writing something about their lives, culture, society and
church – and send it to the other group via e-mail or post. After this, the both
groups read the same Bible text, talk about it, make a report of the conversa-
tion with their own group and send it to the other group. At about the same
time they also receive the report about the Bible reading from the other
group. In this way, both groups get to know each other and learn how Christi-
ans in another culture read the same Bible text – but probably in a very differ-
ent way. The good thing is that every church member can join, from a farmer
to an accountant: position is not important and there is no need for theological
knowledge.
   Since October last year I have started three different groups in Malang who
join the intercultural Bible reading. For each group in Malang I found another
group in the Netherlands; two of the three groups read John 4, one group read
John 11. In this article I would like to focus on the groups that read John 4.
   Although everyone was allowed to join, it was striking that especially wo-
men were interested: about three third of all the members (the maximum is 15
participants per group) was female. The aim of this intercultural Bible reading
is ‘to look at a Bible text through different eyes’, so that means to learn from a
different way of Scripture interpretation. But is it actually possible to look at a
Bible text ‘with different eyes’? It is always easy to compare our way of Bible
reading with the interpretation of other people, to think in ‘we-and-them’. But
is it also possible to jump over this gap and to open ourselves for another per-
spective, for another way of Bible reading? Let us see how the groups respon-

                                                                                       77
ded: here for I would like to share some impressions from participants of the
Javanese and the Dutch culture.
   In the Church of East Java (GKJW) people are not used to discuss in the way
we are used to in Europe. As the hierarchy in the Javanese culture is still very
important, each person knows his position in comparison with others. So the
director of an institute is more important than the driver, and we also hear
this in the way they address each other. The same hierarchy we also find in
the church: the pastor is the teacher and the shepherd of the congregation
and the church members expect to learn from him or her (as there are also fe-
male pastors in the GKJW: about 15 of the 150 pastors). So when I started the
intercultural Bible reading program, I experienced that the church members
are not used to discuss with each other. They answer the questions one by one
and they do not react on each other. And even this, the fact that each parti-
cipant is asked to answer the questions, is already very new for them - as they
always receive the Gospel through sermons!
  So when the groups in Malang received the reports from the groups in the
Netherlands, they were very much astonished about the method of the conver-
sation the groups in Holland had. One participant in Malang, who had read
the report, got excited and said: ‘did we actually read the same Bible text?’
She was so embarrassed about the big difference between the reports, that
she hardly could recognize that both groups really had spoken about the same
Bible text!
  There was also a difference in the way the groups in both cultures apply the
Bible reading of John 4: the Javanese groups were able to apply the Bible text
immediately into their own lives. They did not have many questions about the
Bible reading, as for them the text was clear enough. If I asked them about
the message of this reading, they answered with quoting verses, like: ‘for me,
the message of this text can be found in verse 34’. Or: ‘Jesus is the living wa-
ter’. This was very different from the groups in the Netherlands, which first
started to think about the history and asked a lot of questions. They tried to
reconstruct the story as not everything was clear for them: some puzzle pieces
were missing. They asked for example: ‘what does Jesus mean with the living
water?’ or about verse 27: ‘why did the disciples not dare to ask Jesus about
his conversation with the Samaritan woman?’
  Let us also look how the groups faced the Samaritan woman. For the parti-
cipants in Malang it was clear: this is a woman that committed sins. And the
good message of this story is that she was chosen by Jesus to bring the gospel
to other Samaritans! ‘This story’, the Javanese participants said, ‘shows us
that also we – as sinners – are allowed to bring the gospel to other people.’
  The groups in the Netherlands first started to think about this woman. Who
was she? What does it mean that she had five husbands? One group in the
Netherlands concluded: if this woman really was a prostitute – she did not
have many clients! Although for many Christians it is quite clear that this wo-
man was a prostitute, the group in the Netherlands started doubting about it.
At the time the report of this conversation reached the group in Malang, we
read it together. Now I asked the group: ‘what touched you in this report and
what did you learn of it?’ And this time, some women said: ‘I learned that the
Samaritan woman is maybe not a prostitute’.



78
   On the other hand, all the groups, as in the Netherlands and as in Malang,
agreed that the position of women is still subordinated to those of men. As one
participant in the Netherlands said: ‘even after all this years, we did not yet
learn enough from this Bible reading: because when I read in John 4 about the
attitude of the disciples towards the Samaritan woman, it is like I read an art-
icle in today’s newspaper.’ Another participant in Malang said: ‘according to
me, in this story, Jesus is a great example for us: we should treat everyone
equal.’
  Earlier in this article I asked if it is possible to read the Bible through the
eyes of Christians from another culture. After eight months, all the groups
have finished the whole project. And the good news is that they enjoyed it so
much that everyone wants to continue the program with another Bible text.
For me it was striking that the church members of the GKJW were very much
open minded for a Scripture interpretation from the Dutch culture. Maybe be-
cause they admitted that they still look at the Europeans as people who
brought them the Gospel? Beside this, all the groups experienced that their
way of Bible reading had extended with this project. So it makes a big differ-
ence in which culture people are grown up, it influences the way people read
and explain the Bible – but it is possible to walk over the bridge between two
cultures and to learn, to get new inspiration from Christians who live in anoth-
er part of Gods Kingdom.




                                                                              79

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:287
posted:5/1/2010
language:Indonesian
pages:79
Description: kegiatan-buli-di-sekolah pdf