MINAT BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA PADA MADRASAH BAB II LANDASAN TEORI A

Document Sample
MINAT BELAJAR SISWA DALAM MATA PELAJARAN MATEMATIKA PADA MADRASAH BAB II LANDASAN TEORI A Powered By Docstoc
					                                        BAB. II

                                LANDASAN TEORI



A. Pengertian Minat Belajar

             Dalam memudahkan pemahaman tentang minat belajar, maka dalam

    pembahasan ini terlebih dahulu akan diuraikan menjadi minat dan belajar.

    1. Pengertian minat

                 Secara bahasa minat berarti “kecenderungan hati yang tinggi

          terhadap sesuatu.”1 Minat merupakan sifat yang relatif menetap pada diri

          seseorang. Minat besar sekali pengaruhnya terhadap kegiatan seseorang

          sebab dengan minat ia akan melakukan sesuatu yang diminatinya.

          Sebaliknya tanpa minat seseorang tidak mungkin melakukan sesuatu.

                 Sedangkan     pengertian    minat    secara    istilah   telah   banyak

          dikemukakan oleh para ahli, di antaranya yang dikemukakan oleh Hilgard

          yang dikutip oleh Slameto menyatakan “Interest is persisting tendency to

          pay attention to end enjoy some activity and content.”2

                 Sardiman A. M. berpendapat bahwa “minat diartikan sebagai suatu

          kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara

          situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-

          kebutuhannya sendiri.”3 Sedangkan menurut I. L. Pasaribu dan


      1
          Tim Penyusun Kamus Pusat Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kamus Besar
Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1990), h. 583.
       2
          Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya, (Jakarta: Rineka Cipta,
1991), h. 57.
       3
          Sardiman A. M, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: CV. Rajawali,
1988), h. 76.



                                            11
                                                                                            12




             Simanjuntak mengartikan minat sebagai “suatu motif yang menyebabkan

             individu berhubungan secara aktif dengan sesuatu yang menariknya.”4

                     Selanjutnya menurut Zakiah Daradjat, dkk., mengartikan minat

             adalah “kecenderungan jiwa yang tetap ke jurusan sesuatu hal yang

             berharga bagi orang.”5

                     Dari beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli seperti

             yang    dikutip   di   atas   dapat   disimpulkan      bahwa,    minat    adalah

             kecenderungan seseorang terhadap obyek atau sesuatu kegiatan yang

             digemari yang disertai dengan perasaan senang, adanya perhatian, dan

             keaktifan berbuat.

    2. Pengertian belajar

                     Belajar menurut bahasa adalah “usaha (berlatih) dan sebagai upaya

             mendapatkan kepandaian”.6 Sedangkan menurut istilah yang dipaparkan

             oleh beberapa ahli, di antaranya oleh Ahmad Fauzi yang mengemukakan

             belajar adalah “Suatu proses di mana suatu tingkah laku ditimbulkan atau

             diperbaiki melalui serentetan reaksi atas situasi (atau rangsang) yang

             terjadi”.7

                     Kemudian Slameto mengemukakan pendapat dari Gronback yang

             mengatakan “Learning is show by a behavior as a result of experience”.8


         4
             I. L. Pasaribu dan Simanjuntak, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Tarsito, 1983),
h. 52.
         5
          Zakiah Daradjat,dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Bumi Aksara,
1995), Cet.1, h. 133.
        6
          W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1976),
h. 965.
        7
          Ahmad Fauzi, Psikologi Umum Untuk, (Bandung: CV Pustaka Setia,2004), Cet.ke-2,
h. 44.
        8
          Slameto, Op.Cit., h. 2.
                                                                                         13




          Selanjutnya Moh.Uzer Usman dan Lilis Setiawati mengartikan “belajar

          sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi

          antara individu dengan individu dan individu dengan lingkungan sehingga

          mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannya”.9

                 Nana Sudjana mengatakan “belajar adalah proses yang aktif,

          belajar adalah mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar

          individu. Belajar adalah proses yang diarahkan kepada tujuan, proses

          berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat,

          mengamati, memahami sesuatu.”10

                 Dari beberapa pengertian belajar yang telah dikemukakan oleh

          para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu

          perubahan tingkah laku individu dari hasil pengalaman dan latihan.

          Perubahan tingkah laku tersebut, baik dalam aspek pengetahuannya

          (kognitif), keterampilannya (psikomotor), maupun sikapnya (afektif).

             Dari pengertian minat dan pengertian belajar seperti yang telah

    diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa minat belajar adalah sesuatu

    keinginan atau kemauan yang disertai perhatian dan keaktifan yang disengaja

    yang akhirnya melahirkan rasa senang dalam perubahan tingkah laku, baik

    berupa pengetahuan, sikap dan keterampilan.

B. Unsur-Unsur Minat dan Fungsi Minat dalam Belajar

    1. Unsur-unsur minat


      9
          Moh. Uzer Usman dan Lilis Setiawati, Upaya Optimalisasi Kegiatan belajar mengajar,
(Bandung: PT.Remaja Rosdakarya, 2002), h. 4.
       10
          Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Balai Pustaka, 1987),
h. 28.
                                                                                      14




     a.   Perhatian

                     Perhatian sangatlah penting dalam mengikuti kegiatan dengan

          baik, dan hal ini akan berpengaruh pula terhadap minat siswa dalam

          belajar. Menurut Sumadi Suryabrata “perhatian adalah banyak

          sedikitnya kesadaran yang menyertai sesuatu aktivitas yang

          dilakukan.”11 Kemudian Wasti Sumanto berpendapat “perhatian

          adalah pemusatan tenaga atau kekuatan jiwa tertentu kepada suatu

          obyek, atau pendayagunaan kesadaran untuk menyertai suatu

          aktivitas.”12

                     Aktivitas yang disertai dengan perhatian intensif akan lebih

          sukses dan prestasinya pun akan lebih tinggi. Maka dari itu sebagai

          seorang guru harus selalu berusaha untuk menarik perhatian anak

          didiknya sehingga mereka mempunyai minat terhadap pelajaran yang

          diajarkannya.

                     Orang yang menaruh minat pada suatu aktivitas akan

          memberikan perhatian yang besar. Ia tidak segan mengorbankan

          waktu dan tenaga demi aktivitas tersebut. Oleh karena itu seorang

          siswa yang mempunyai perhatian terhadap suatu pelajaran, ia pasti

          akan berusaha keras untuk memperoleh nilai yang bagus yaitu dengan

          belajar.




11
     Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: CV. Rajawali, 1989), h. 14.
12
     Wasty Sumanto, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Bina Aksara, 1984), h. 32.
                                                                                              15




              b.   Perasaan

                             Unsur yang tak kalah pentingnya adalah perasaan dari anak

                   didik terhadap pelajaran yang diajarkan oleh gurunya. Perasaan

                   didefinisikan “sebagai gejala psikis yang bersifat subjektif yang

                   umumnya berhubungan dengan gejala-gejala mengenal dan dialami

                   dalam kualitas senang atau tidak dalam berbagai taraf.”13

                             Tiap aktivitas dan pengalaman yang dilakukan akan selalu

                   diliputi oleh suatu perasaan, baik perasaan senang maupun perasaan

                   tidak senang. Perasaan umumnya bersangkutan dengan fungsi

                   mengenal artinya perasaan dapat timbul karena mengamati,

                   menganggap, mengingat-ingat atau memikirkan sesuatu.

                             Yang dimaksud dengan perasaan di sini adalah perasaan

                   senang dan perasaan tertarik. “Perasaan merupakan aktivitas psikis

                   yang di dalamnya subjek menghayati nilai-nilai dari suatu objek.”14

                   Perasaan sebagai faktor psikis non intelektual, yang khusus

                   berpengaruh terhadap semangat belajar. Jika seorang siswa

                   mengadakan penilaian yang agak spontan melalui perasaannya

                   tentang     pengalaman     belajar   di   sekolah,    dan    penilaian     itu

                   menghasilkan penilaian yang positif maka akan timbul perasaan

                   senang di hatinya akan tetapi jika penilaiannya negatif maka timbul

                   perasaan tidak senang.



         13
              Sumadi Suryabrata, Op.Cit., h. 66.
         14
              W.S. Winkell, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Gramedia, 1983),
h. 30.
                                                                                    16




                   Perasaan senang akan menimbulkan minat, yang diperkuat

          dengan sikap yang positif. Sedangkan perasaan tidak senang akan

          menghambat dalam mengajar, karena tidak adanya sikap yang positif

          sehingga tidak menunjang minat dalam belajar.

     c.   Motif

                   Kata motif diartikan sebagai daya upaya yang mendorong

          seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan “sebagai

          daya penggerak dari dalam dan di dalam subyek untuk melakukan

          kreativitas tertentu demi mencapai suatu tujuan.”15 Menurut Sumadi

          Suryabrata, motif adalah “keadaan dalam pribadi orang yang

          mendorong individu untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu

          guna mencari suatu tujuan.”16

                   Seseorang melakukan aktivitas                belajar karena ada yang

          mendorongnya. Dalam hal ini motivasi sebagai dasar penggeraknya

          yang mendorong seseorang untuk belajar. Dan minat merupakan

          potensi psikologi yang dapat dimanfaatkan untuk menggali motivasi

          bila seseorang sudah termotivasi untuk belajar, maka dia akan

          melakukan aktivitas belajar dalam rentangan waktu tertentu.

                   Ketiadaan minat terhadap suatu mata pelajaran menjadi

          pangkal penyebab kenapa anak didik tidak bergeming untuk mencatat

          apa-apa yang telah disampaikan oleh guru. Itulah sebagai pertanda

          bahwa anak didik tidak mempunyai motivasi untuk belajar. Oleh

15
      Sardiman AM, Op.Cit., (Jakarta: Rajawali, 1986), h. 73.
16
      Sumadi Suryabrata, Op.Cit., h. 32.
                                                                        17




        karena itu guru harus bisa membangkitkan minat anak didik.

        Sehingga anak didik       yang pada mulanya tidak ada hasrat untuk

        belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari muncullah minatnya

        untuk belajar.

               Dalam proses belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab

        seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tak akan

        mungkin melakukan aktivitas belajar. Hal ini merupakan pertanda

        bahwa sesuatu yang akan dikerjakan itu tidak menyentuh

        kebutuhannya. Dan segala sesuatu yang menarik minat orang tertentu

        selama sesuatu itu tidak bersentuhan dengan kebutuhannya. Oleh

        karena itu, apa yang seseorang lihat sudah tentu membangkitkan

        minatnya sejauh apa yang ia lihat itu mempunyai hubungan dengan

        kepentingannya sendiri.

               Jadi motivasi merupakan dasar penggerak yang mendorong

        aktivitas belajar seseorang sehingga ia berminat terhadap sesuatu

        objek, karena minat adalah alat motivasi dalam belajar.

2. Fungsi minat dalam belajar

          Minat merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi

   usaha yang dilakukan seseorang. Minat yang kuat akan menimbulkan

   usaha yang gigih serius dan tidak mudah putus asa dalam menghadapi

   tantangan. Jika seorang siswa memiliki rasa ingin belajar, ia akan cepat

   dapat mengerti dan mengingatnya.
                                                                                       18




                Elizabeth B. Hurlock menulis tentang fungsi minat bagi kehidupan

        anak sebagaimana yang ditulis oleh Abdul Wahid sebagai berikut:

            a. Minat mempengaruhi bentuk intensitas cita-cita.
                       Sebagai contoh anak yang berminat pada olah raga maka
               cita-citanya adalah menjadi olahragawan yang berprestasi, sedang
               anak yang berminat pada kesehatan fisiknya maka cita-citanya
               menjadi dokter.
            b. Minat sebagai tenaga pendorong yang kuat.
                       Minat anak untuk menguasai pelajaran bisa mendorongnya
               untuk belajar kelompok di tempat temannya meskipun suasana
               sedang hujan.
            c. Prestasi selalu dipengaruhi oleh jenis dan intensitas.
                       Minat seseorang meskipun diajar oleh guru yang sama dan
               diberi pelajaran tapi antara satu anak dan yang lain mendapatkan
               jumlah pengetahuan yang berbeda. Hal ini terjadi karena
               berbedanya daya serap mereka dan daya serap ini dipengaruhi oleh
               intensitas minat mereka.
            d. Minat yang terbentuk sejak kecil/masa kanak-kanak sering terbawa
               seumur hidup karena minat membawa kepuasan.
                       Minat menjadi guru yang telah membentuk sejak kecil
               sebagai misal akan terus terbawa sampai hal ini menjadi kenyataan.
               Apabila ini terwujud maka semua suka duka menjadi guru tidak
               akan dirasa karena semua tugas dikerjakan dengan penuh sukarela.
               Dan apabila minat ini tidak terwujud maka bisa menjadi obsesi
               yang akan dibawa sampai mati.17

                Dalam     hubungannya       dengan     pemusatan     perhatian,    minat

        mempunyai peranan dalam “melahirkan perhatian yang serta                   merta,

        memudahkan terciptanya pemusatan perhatian, dan mencegah gangguan

        perhatian dari luar.”18

                Oleh karena itu minat mempunyai pengaruh yang besar dalam

        belajar karena bila bahan pelajaran yang dipelajari tidak sesuai dengan

        minat siswa maka siswa tersebut tidak akan belajar dengan sebaik-

        17
           Abdul Wahid, “Menumbuhkan Minat dan Bakat Anak” dalam Chabib Toha (eds), PBM-
PAI di Sekolah Eksistensi dan Proses Belajar Mengajar Pendidikan Agama Islam, (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1998), h. 109-110.
        18
           The Liang Gie, Cara Belajar Yang Baik Bagi Mahasiswa, (Yogyakarta: Gajah Mada
Press, 2004), h. 57.
                                                                                  19




       baiknya, sebab tidak ada daya tarik baginya. Sedangkan bila bahan

       pelajaran itu menarik minat siswa, maka ia akan mudah dipelajari dan

       disimpan karena adanya minat sehingga menambah kegiatan belajar.

               Fungsi minat dalam belajar lebih besar sebagai motivating force

       yaitu sebagai kekuatan yang mendorong siswa untuk belajar. Siswa yang

       berminat kepada pelajaran akan tampak terdorong terus untuk tekun

       belajar, berbeda dengan siswa yang sikapnya hanya menerima pelajaran.

       mereka hanya tergerak untuk mau belajar tetapi sulit untuk terus tekun

       karena tidak ada pendorongnya. Oleh sebab itu untuk memperoleh hasil

       yang baik dalam belajar seorang siswa harus mempunyai minat terhadap

       pelajaran sehingga akan mendorong ia untuk terus belajar.

C. Tinjauan Umum Mata Pelajaran Matematika di SMP/MTs

            Tentang tinjauan umum mata pelajaran Matematika akan dijelaskan

   secara singkat seperti yang tercantum dalam buku Standar Kompetensi Mata

   Pelajaran Matematika untuk Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah

   Tsanawiyah, yaitu meliputi: pengertian pelajaran Matematika, fungsi dan

   tujuan, ruang lingkup dan standar kompetensi pelajaran Matematika.

   1. Pengertian pelajaran Matematika

               Menurut bahasa latin Matematika berasal dari kata “manthanein

       atau mathema yang berarti belajar atau hal yang dipelajari”.19 Sedangkan

       menurut bahasa Belanda disebut “wiskunde atau ilmu pasti”20 Kemudian



      19
         Departemen Pendidikan Nasional, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika
SMP & MTs, (Jakarta: Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas, 2003), h. 5.
     20
        Ibid.
                                                                                    20




       menurut istilah, Somardyono mengemukakan bahwa “Matematika adalah

       produk dari pemikiran intelektual manusia”.21

                Ciri utama Matematika adalah penalaran deduktif, yaitu kebenaran

       suatu konsep atau pernyataan diperoleh sebagai akibat logis dari kebenaran

       sebelumnya sehingga kaitan antar konsep atau pernyataan dalam

       Matematika bersifat konsisten.

                Namun demikian, pembelajaran dan pemahaman konsep dapat

       diawali secara induktif melalui pengalaman peristiwa nyata atau intuisi.

       Proses induktif-deduktif dapat digunakan untuk mempelajari konsep

       Matematika. Kegiatan dapat dimulai dengan beberapa contoh atau fakta

       yang teramati, membuat daftar sifat yang muncul (sebagai gejala),

       memperkirakan hasil baru yang diharapkan, yang kemudian dibuktikan

       secara deduktif. Dengan demikian, cara belajar induktif dan deduktif dapat

       digunakan     dan   sama-sama      berperan    penting   dalam    mempelajari

       Matematika. Penerapan cara kerja Matematika diharapkan dapat

       membentuk sikap kritis, kreatif, jujur dan komunikatif pada siswa.

   2. Fungsi dan tujuan pelajaran Matematika

           a. Fungsi pelajaran Matematika

                    Matematika    berfungsi    mengembangkan      kemampuan
                menghitung, mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus
                Matematika yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari melalui
                materi pengukuran dan geometri, aljabar, dan trigonometri.
                Matematika juga berfungsi mengembangkan kemampuan
                mengkomunikasikan gagasan dengan bahasa melalui model


      21
         Sumardyono, “Karakteristik Matematika Dan Implikasinya Terhadap Pembelajaran
Matematika”, Disertasi, (Yogyakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar dan Menengah, 2004), h. 5. t.d.
                                                                             21




               Matematika yang dapat berupa kalimat            dan   persamaan
               Matematika, diagram, grafik atau tabel.22

       b. Tujuan pelajaran Matematika

                    Pelajaran Matematika sangatlah penting dalam kehidupan

            sehari-hari, karena dapat membantu ketajaman berpikir secara logis

            (masuk akal) serta membantu memperjelas dalam menyelesaikan

            permasalahan.

               1)   Melatih cara berpikir dan bernalar dalam menarik kesimpulan,
                    misalnya melalui kegiatan penyelidikan, eksplorasi,
                    eksperimen, menunjukkan kesamaan, perbedaan, konsisten
                    dan inkonsistensi.
               2)   Mengembangkan aktivitas kreatif yang melibatkan imajinasi,
                    intuisi, dan penemuan dengan mengembangkan pemikiran
                    divergen, orisinil, rasa ingin tahu, membuat prediksi dan
                    dugaan, serta mencoba-coba.
               3)   Mengembangkan kemampuan memecahkan masalah.
               4)   Mengembangkan kemampuan menyampaikan informasi atau
                    mengkomunikasikan gagasan antara lain melalui pembicaraan
                    lisan, catatan, grafik, peta, diagram, dalam menjelaskan
                    gagasan.23

3. Ruang lingkup pelajaran Matematika

               Ruang lingkup pelajaran Matematika di SMP/MTs, seperti yang

   dijelaskan dalam Standar Kompetensi Mata Pelajaran Matematika untuk

   Sekolah Menengah Pertama dan Madrasah Tsanawiyah, adalah:

              Standar Kompetensi Matematika merupakan seperangkat
         kompetensi Matematika yang dibakukan dan harus ditunjukkan oleh
         siswa pada hasil belajarnya dalam mata pelajaran Matematika. Standar
         ini dirinci dalam komponen kompetensi dasar beserta hasil belajarnya,
         indikator, dan materi pokok, untuk setiap aspeknya. Pengorganisasian
         dan pengelompokan materi pada aspek tersebut didasarkan menurut
         disiplin ilmunya atau didasarkan menurut kemahiran atau kecakapan
         yang hendak ingin dicapai. Ruang lingkup materi pada standar

  22
       Departemen Pendidikan Nasional, Op.Cit., h. 6.
  23
       Ibid.
                                                                            22




         kompetensi Matematika ini adalah bilangan, pengukuran dan geometri,
         aljabar serta peluang dan statistik.24

4. Standar kompetensi mata pelajaran Matematika SMP dan MTs

               Matematika SMP dan MTs dikelompokkan ke dalam 13 Standar

   Kompetensi yang tercakup pada 4 (empat) aspek Matematika (Bilangan,

   Geometri dan pengukuran, Peluang dan Statistika, Aljabar). Tiga belas

   standar kompetensi tersebut diatur menurut urutan sebagai berikut:

           a. Melakukan operasi hitung bilangan serta dapat menggunakannya
              dalam pemecahan masalah
           b. Memahami dan dapat melakukan operasi bentuk aljabar,
              persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel, himpunan serta
              dapat menggunakan dalam pemecahan masalah
           c. Mengidentifikasi garis, sudut, dan bangun datar serta dapat
              menentukan besaran-besaran yang ada di dalamnya
           d. Memahami dan melakukan operasi aljabar, fungsi, persamaan
              garis, dan sistem persamaan, serta menggunakannya dalam
              pemecahan masalah
           e. Menentukan panjang suatu garis dalam segi tiga serta dapat
              menggunakannya dalam pemecahan masalah
           f. Mengidentifikasi lingkaran serta menentukan besaran-besaran yang
              terkait di dalamnya
           g. Mengidentifikasi bangun ruang sisi lengkung (BRSL) serta
              menentukan besaran-besarannya
           h. Memahami kesebangunan bangun datar
           i. Mengidentifikasi bangun ruang sisi datar serta dapat menentukan
              besaran-besaran di dalamnya
           j. Melakukan kegiatan statistika
           k. Melakukan operasi pangkat tak sebenarnya dan logaritma
           l. Menentukan pola, deret bilangan dan menggunakannya dalam
              pemecahan masalah
           m. Memahami dan menggunakan persamaan kuadrat dalam
              pemecahan masalah.25




  24
       Ibid.
  25
       Ibid, h.10.
                                                                             23




D. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Siswa dalam Mata

  Pelajaran Matematika

         Minat belajar tiap-tiap siswa tidak sama, ketidaksamaan itu disebabkan

  oleh banyak hal mempengaruhi minat belajar, sehingga ia dapat belajar

  dengan baik atau sebaliknya gagal sama sekali. Demikian juga halnya dengan

  minat siswa terhadap mata pelajaran Matematika, ada siswa yang minatnya

  tinggi dan ada juga yang rendah. Hal tersebut akan sangat mempengaruhi

  aktivitas dan hasil belajarnya dalam mata pelajaran Matematika.

         Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa, secara

  garis besar dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:

  1.   Faktor Intern

       Faktor ini meliputi :

       a. Kondisi fisik/jasmani siswa saat mengikuti pelajaran

                    Kondisi fisik atau jasmani siswa saat mengikuti pelajaran

          Matematika sangat berpengaruh terhadap minat dan aktivitas

          belajarnya. Faktor kesehatan badan, seperti kesehatan yang prima dan

          tidak dalam keadaan sakit atau lelah, akan sangat membantu dalam

          memusatkan       perhatian   terhadap   pelajaran.   Sebab   pelajaran

          Matematika memerlukan kegiatan mental yang tinggi, menuntut

          banyak perhatian dan pikiran jernih. Oleh karena itu apa bila siswa

          mengalami kelelahan atau terganggu kesehatannya, akan sulit

          memusatkan perhatiannya dan berpikir jernih.
                                                                                      24




           b. Pengalaman belajar Matematika di jenjang pendidikan sebelumnya

                      Pengalaman belajar sangat berkaitan dengan kemampuan

              awal (entry behavior). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Bloom,

              “kemampuan       awal    adalah     pengetahuan,     keterampilan      dan

              kompetensi, yang merupakan prasyarat yang dimiliki untuk dapat

              mempelajari suatu pelajaran baru atau lebih lanjut.”26

                      Setiap siswa masing-masing telah memiliki berbagai

              pengalaman belajar yang berbeda-beda yang diperolehnya di jenjang

              pendidikan sebelumnya. Hal tersebut merupakan modal awal bagi

              siswa dalam melakukan kegiatan belajar selanjutnya.

                      Pengalaman belajar yang telah dimiliki oleh siswa besar

              pengaruhnya terhadap minat belajar. Pengalaman tersebut menjadi

              dasar untuk menerima pengalaman-pengalaman baru yang akan

              sangat membantu dalam minat belajar siswa.

                      Sebagai contoh, seseorang siswa akan sangat mudah dalam

              menguasai dan memahami materi pelajaran Matematika, karena ia

              telah memahami dan menguasai dengan baik materi pelajaran

              Matematika sewaktu di SD/MI. Jadi, dapat dipahami bahwa

              pengalaman belajar Matematika di jenjang pendidikan sebelumnya

              turut berpengaruh terhadap belajar siswa, terutama dalam mata

              pelajaran Matematika.




      26
          H. Nashar, Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal dalam Kegiatan Belajar Mengajar,
(Jakarta: Delia Press, 2004), Cet. ke-2, h. 64.
                                                                                         25




    2.        Faktor Ekstern

              a. Metode dan gaya mengajar guru Matematika

                        Metode dan gaya mengajar guru juga memberi pengaruh

                 terhadap minat siswa dalam belajar Matematika. Oleh karena itu

                 hendaknya guru dapat menggunakan metode dan gaya mengajar yang

                 dapat menumbuhkan minat dan perhatian siswa. Dominikus Catur

                 Raharja menyatakan:

                         Guru adalah kreator proses belajar mengajar. Guru adalah
                     orang yang akan mengembangkan suasana bebas bagi siswa untuk
                     mengkaji apa yang menarik minatnya, mengekspresikan ide-ide
                     dan kreativitasnya dalam batas-batas norma-norma yang
                     ditegakkan secara konsisten.27

                        Cara penyampaian pelajaran yang kurang menarik menjadikan

                 siswa kurang berminat dan kurang bersemangat untuk mengikutinya.

                 Namun sebaliknya, jika pelajaran disampaikan dengan cara dan gaya

                 yang menarik perhatian, maka akan menjadikan siswa tertarik dan

                 bersemangat untuk selalu mengikutinya dan kemudian mendorongnya

                 untuk terus mempelajarinya. Cara seorang guru dalam menyampaikan

                 pelajaran sangat terkait dengan tipe atau karakter kepribadiannya,

                 seperti yang di kemukakan Muhibin Syah, sebagai berikut:

                     1) Guru yang otoriter (Autoriterian)
                             Secara harfiah, otoriter berarti berkuasa sendiri atau
                        sewenang-wenang. Dalam PBM, guru yang otoriter
                        mengarahkan dengan keras segala aktivitas para siswa tanpa
                        dapat ditawar-tawar. Hanya sedikit sekali kesempatan yang
                        diberikan kepada siswa untuk berperan serta memutuskan cara



         27
         Dominikus Catur Raharja, “Kesesuaian Pendidikan Bakat Menentukan Prestasi Siswa” ,
Penabur, XXVIII, 2 (Jakarta, 2001), h. 7.
                                                                                 26




                   terbaik untuk kepentingan belajar mereka, sehingga antara
                   guru dan murid tidak terdapat hubungan yang akrab.
                2) Guru Laissez-Faire (Lezeifee)
                        Padanannya adalah individualisme (paham yang
                   menghendaki kebebasan pribadi). Guru yang berwatak ini
                   biasanya gemar mengubah arah dan cara pengelolaan PBM
                   secara seenaknya, sehingga menyulitkan siswa dalam
                   mempersiapkan diri. Sebenarnya guru tersebut tidak
                   menyenangi profesinya sebagai tenaga pendidik meskipun ia
                   memiliki kemampuan yang memadai.
                3) Guru yang demokratis (Democratie)
                        Arti demokratis adalah bersifat demokratis yang pada
                   intinya mengandung makna memperhatikan persamaan hak
                   dan kewajiban semua orang. Guru yang memiliki sifat ini
                   pada umumnya dipandang sebagai guru yang paling baik dan
                   ideal. Alasannya, dibanding dengan guru yang lainnya guru
                   tipe demokratis lebih suka bekerjasama dengan rekan-rekan
                   seprofesinya, namun tetap menyelesaikan tugasnya secara
                   mandiri. Ditinjau dari sudut hasil pengajaran, guru yang
                   demokratis dengan yang otoriter tidak jauh berbeda. Akan
                   tetapi dari sudut moral, guru yang demokratis dan karenanya
                   ia lebih disenangi oleh rekan-rekan sejawatnya maupun oleh
                   para siswanya sendiri.
                4) Guru yang otoritatif (Authoritative)
                        Otoritatif berarti berwibawa karena adanya kewenangan
                   baik berdasarkan kemampuan maupun kekuasaan yang
                   diberikan. Guru yang otoritatif adalah guru yang memiliki
                   dasar-dasar pengetahuan baik pengetahuan bidang studi
                   faknya maupun pengetahuan umum. Guru seperti ini biasanya
                   ditandai oleh kemampuan memerintah secara efektif kepada
                   para siswa dan kesenangan mengajak kerja sama kepada para
                   siswa bila diperlukan dalam mengikhtiarkan cara terbaik
                   untuk penyelenggaraan PBM. Dalam hal ini, guru ini hampir
                   sama dengan guru yang demokratis. Namun, dalam hal
                   memerintah atau memberi anjuran, guru yang otoritatif pada
                   umumnya lebih efektif, karena lebih disegani oleh para siswa
                   dan dipandang sebagai pemegang otoritas ilmu pengetahuan
                   paknya. 28

                    Di samping itu, metode yang digunakan dalam menyampaikan

            pelajaran besar pula pengaruhnya terhadap minat belajar siswa.



      28
         Muhibin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: Remaja
Rosda Karya), h. 253.
                                                                    27




   Apabila guru hanya menggunakan satu metode saja dalam mengajar

   maka akan membosankan, yang akhirnya siswa tidak tertarik

   memperhatikan pelajaran. Jadi hendaknya guru dapat menggunakan

   berbagai metode mengajar yang bervariasi sesuai dengan tujuan

   pembelajaran.

b. Tersedianya fasilitas dan alat penunjang pelajaran Matematika

          Fasilitas dan alat dalam belajar memiliki peran penting dalam

   memotivasi minat siswa pada suatu pelajaran. Tersedianya fasilitas

   dan alat yang memadai dapat memancing minat siswa pada mata

   pelajaran Matematika.

             Fasilitas dan alat penunjang pelajaran Matematika yang

    dimaksud di sini bisa berupa :

    •   Alat dan fasilitas yang digunakan bersama-sama dengan murid.

        Sebagai contoh, papan tulis, kapur tulis/spidol, ruangan kelas

        dan sebagainya.

    •   Alat yang dimiliki oleh masing-masing murid dan guru.

        Misalnya : alat tulis, buku pelajaran Matematika, buku

        pengangan guru dan lain sebagainya.

    •   Alat peraga yang berfungsi untuk memperjelas atau memberi

        gambaran yang lebih jelas tentang hal-hal yang diajarkan.

            Belajar dengan menggunakan fasilitas dan alat lebih efektif

    dan lebih menyenangkan dibandingkan tanpa menggunakan alat

    peraga atau hanya dengan teori saja.
                                                                    28




c. Situasi dan kondisi lingkungan

           Situasi dan kondisi lingkungan turut memberi pengaruh

    terhadap minat belajar siswa dalam pelajaran. Faktor situasi dan

    kondisi lingkungan yang dimaksud di sini adalah faktor situasi dan

    kondisi saat siswa melakukan aktivitas belajar Matematika di

    sekolah, baik fisik ataupun sosial.

           Faktor kondisi lingkungan fisik termasuk di dalamnya adalah

    seperti keadaan suhu, kelembaban, kepengapan udara, pencahayaan

    dan sebagainya. Belajar Matematika pada keadaan udara yang segar,

    akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang

    panas dan pengap, atau belajar pagi hari akan lebih baik dari pada

    belajar siang hari. Jadi, minat dan perhatian siswa akan lebih baik

    jika jam pelajaran Matematika di letakkan di pagi hari.

           Di samping itu, pengaturan cahaya yang kurang baik dapat

    mengganggu proses pembelajaran Matematika di dalam kelas.

    Karena cara mengajar dan sistem pengajaran pada umumnya sangat

    banyak menggunakan penglihatan dan pendengaran.

           Sedangkan faktor kondisi lingkungan sosial dapat berupa

    manusia atau hal-hal lainnya. Misalnya siswa yang sedang belajar

    memecahkan soal Matematika yang rumit dan membutuhkan

    konsentrasi tinggi, akan terganggu apabila ada siswa lain yang

    mondar-mandir di dekatnya atau bercakap-cakap keras di dekatnya.
                                                                29




         Kondisi lingkungan sosial yang lain, seperti suara mesin

pabrik, hiruk-pikuk lalu lintas, gemuruh pasar dan sebagainya, juga

berpengaruh terhadap konsentrasi dan perhatian siswa saat belajar

Matematika. Karena itulah disarankan hendaknya lingkungan

sekolah agar didirikan jauh dari pabrik, keramaian lalu lintas dan

pasar.

				
DOCUMENT INFO
Description: buku-matematika-smp pdf