Modul DRR (Isi)

Document Sample
Modul DRR (Isi) Powered By Docstoc
					Kata Pengantar


Modul Pelatihan Pengurangan Risiko Bencana
Berbasis Sekolah dan Anak disusun
berdasarkan pengalaman Pusat Kajian dan
Perlindungan Anak (PKPA) dalam
melaksanakan kegiatan Kemanusiaan mulai
tahun 2003 di Bahorok-Sumatera Utara, Tahun
2005 di Sumatera Utara dan Aceh dan Tahun
2006 di Klaten-Jawa Tengah. Ide penyusunan
modul ini berawal dari upaya PKPA terlibat
dalam usaha pengurangan risiko bencana
(Disaster Risk Reduction) paska kegiatan
tanggap darurat dengan fokus pada komunitas
sekolah dan anak. Untuk kebutuhan
mempermudah pelaksanaan tahapan-tahapan
training dan penguatan kapasitas sekolah,
PKPA mengumpulkan sejumlah materi training
yang pernah di ikuti baik dalam maupun luar
negeri serta serangkaian uji coba training di
Nias, Jantho, Meulaboh dan Simeulue. Draft
awal yang di susun oleh PKPA selanjutnya
disosialiasikan kepada kawan-kawan dari         i
berbagai lembaga di Nias yang tergabung
dalam Koalisi Siaga Bencana Nias (SiGANA)
                                                             Daftar Isi
     untuk mendapatkan masukan dan perbaikan.
     Penyusunan modul ini tidak dimaksudkan
     untuk menghasilkan sebuah instrumen tunggal
     dalam pelaksanaan training DRR berbasis             i   KATA PENGANTAR
     sekolah, mengingat kompleksitas persoalan
     yang dihadapi sekolah dan komunitas, terutama     iii   DAFTAR ISI
     terkait dengan beragamnya jenis ancaman
     bencana dan kemampuan masyarakat. Namun
     tidak ada larangan jika kawan-kawan baik dari
                                                        1    BAGIAN 1: PENDAHULUAN
     lembaga pemerintahan maupun non                    1    1.a. Latar Belakang
     pemerintah tertarik untuk menggunakan modul
     ini sebagai salah satu pedoman training di         3    1.b. Tujuan Modul
     lingkungan kerja masing-masing.
                                                        3    1.c. Output
     Ucapan terima kasih kepada rekan-rekan yang        4    1.d. Sasaran dan Penerima Manfaat
     telah berkonstribusi dalam memberikan ide
     dan pemikirannya terhadap modul ini. Secara        4    1.e. Metode dan Strategi
     khusus ucapan terima kasih kami sampai
     untuk mas Bayu Andianton (YEU-Nias), The
                                                        4    1.f.   Waktu Pelaksanaan Training
     Johanniter-First Aid Training Team dan             5    1.g. Schedule Training
     komunitas sekolah SDN Dao-dao Satua dan
     SDN Faondrato Sowo-Lolowau.
     Kami juga ingin menyampaikan maaf jika             7    BAGIAN 2: ORIENTASI PELATIHAN
     dalam pengutipan sebagian maupun
     keseluruhan materi, artikel dan bahan publikasi
     lainnya dari sebuah lembaga maupun individu
                                                       11    BAGIAN 3: MATERI TRAINING

     terdapat kekeliruan. Kritik dan saran untuk       11    3.a. MATERI 1: Pengenalan Hyogo Frame Work dan Kebijakan
     kesempurnaan modul ini sangat kami harapkan                            Nasional Tentang PRB Berbasis Sekolah
     dari semua pihak. PKPA mengucapkan terima
     kasih kepada semua pihak yang telah memberi       20    3.b. MATERI 2: Pengenalan Dasar Bencana, Jenis Bencana dan
     kesempatan kepada PKPA untuk mengikuti                                 Penyebab Bencana
     berbagai training, exposure tentang               26    3.c. MATERI 3: Manajemen Risiko Bencana
     Kebencanaan dan DRR sehingga PKPA dapat
     menerbitkan modul ini.                            33    3.d. MATERI 4: Mitigasi Bencana di Sekolah

     Terima kasih
                                                       37    3.e. MATERI 5: Pengenalan Isu Anak dalam Kedaruratan
ii                                                                                                                        iii
                                                       42    3.f.   MATERI 6: Tanggap Darurat dan Pertolongan Pertama
     Ahmad Sofian
     Direktur Eksekutif PKPA                           53    3.g. MATERI 7: Simulasi Bencana
     63   BAGIAN 4: MATERI KHUSUS ANAK                      BAGIAN 1

     66   BAHAN BACAAN ANAK: Pengenalan Jenis Bencana dan
                             Penyebabnya
                                                            Pendahuluan
     71   BAGIAN 5: EVALUASI DAN PENUTUPAN


     74   Contoh lembar evaluasi
                                                            1.a. Latar belakang

     76   Lembar Catatan Pembaca Modul                                 Tsunami dan gempa bumi yang terjadi pada 26 desember 2004 yang
                                                            melanda Propinsi Aceh dan Sumatera Utara, Indonesia memberikan pengalaman
     78   Lembar Kerja Sekolah Siaga Bencana                tersendiri bagi PKPA dalam melaksanakan program kemanusiaan yang secara
                                                            spesifik ditujukan pada perlindungan anak di situasi yang emergency ini. Pengalaman
                                                            yang dalam memberikan bantuan kemanusiaan pada anak-anak ini memberikan satu
     80   Daftar Bacaan Yang Disarankan                     pelajaran khusus bagi PKPA. Masyarakat pengungsi khususnya anak yang selama ini
                                                            menjadi dampingan PKPA merasakan kehadiran PKPA sangat membantu dalam
     81   Sekilas Tentang PKPA-Emergency AID                mengurangi beban yang mereka hadapi. Berbagai program dan pendekatan yang
                                                            khusus serta focus pada anak-anak IDPs mengakibatkan program ini dinilai cukup
                                                            berhasil serta mendapat dukungan yang luar biasa dari kelompok penerima manfaat
     83   Profil Penyusun Modul “Misran Lubis”              di lokasi kerja PKPA.

                                                                     Setelah gempa bumi dan tsunami yang maha dahsyat terjadi di Aceh dan
                                                            Sumatera Utara, bencana alam susulan terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Salah
                                                            satunya adalah gempa bumi berkekuatan 8,7 SR meluluh lantakkan bumi Nias,
                                                            kemudian Letusan Gunung Merapi di Jogjakarta dan Jawa Tengah, Gempa bumi
iv                                                          berkekuatan 5,7 scala richter melanda Jogjakarta dan Jawa Tengah pada tanggal 27      1
                                                            Mei 2006, Gempa bumi dan tsunami di Pangandaran Jawa Barat, dan bencana lainnya
                                                            di Indonesia. Potensi bencana di Indonesia tergolong sangat tinggi, menurut catatan
    Badan Kordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (PBP) selama           bencana yang terintegrasi dengan badan penanganan bencana nasional, namun
    kurun waktu 1997-2004 tercatat lebih dari 1000 kali bencana. Dengan tingkat korban   upaya tersebut dapat dilakukan dalam waktu yang panjang. Penguatan dan pelibatan
    jiwa diperkirakan lebih dari 40,000 Jiwa. Belum termasuk data bencana Tsunami        anak-anak dalam usaha pengurangan resiko bencana merupakan langkah ngat
    yang terjadi pada 26 Desember 2004 di Aceh dan Sumatera Utara, dimana korban jiwa    strategis untuk mencegah berbagai kemungkinan terburuk yang dapat terjadi pada
    lebih dari 200,000 orang dan di pulau Nias korban jiwa mencapai 800 orang.           anak-anak dalam situasi bencana. Pendekatan pengurangan resiko bencana terhadap
                                                                                         anak dapat dilakukan melalui komunitas anak dimasyarakat atau melalui institusi
             Tingginya potensi bencana di Indonesia, namun Indonesia belum memiliki      pendidikan (sekolah). Pengalaman seorang anak di simeulue dan thailand pada saat
    system penanganan bencana yang komprehensif. Dalam skema penananganan                bencana tsunami tahun 2004 lalu yang mampu menyelamatkan banyak orang juga
    bencana Pemerintah Indonesia yaitu Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan          telah inspirasi kita bahwa anak-anak dengan pengetahuan dan pengalaman yang
    Bencana dan Pengungsi (Bakornas PBP) kurang memperhatikan aspek perlindungan         memadai dapat terhindar dari kematian. Dalam konteks modul ini PKPA
    dan penanganan anak-anak secara khusus. Menurut Konvensi International tentang       menggunakan pendekatan sekolah sebagai sasaran pengurangan resiko bencana
    Hak Anak (CRC) dan Undang-undang Republik Indonesia No. 23 Tahun 2002 tentang        dengan pertimbangan-pertimbangan jangka panjang dan keberlanjutan yang lebih
    Perlindungan Anak, penanganan anak dalam situasi bencana harus mendapatkan           terintegrasi serta terorganisir.
    perlakuan khusus karena anak memiliki potensi kerentanan yang tinggi.

             Belajar dari pengalaman bencana yang pernah terjadi di Indonesia, bentuk    1.b. Tujuan modul
    kerentanan yang dapat terjadi pada anak-anak antara lain:
         1.   Korban jiwa lebih banyak terjadi pada anak-anak, karena kemampuan               1)   Memperkenalkan usaha-usaha pengurangan resiko bencana bagi
              menyelamatkan diri dan pengalaman menghadapi situasi darurat sangat                  komunitas sekolah
              minim.                                                                          2)   Membentuk kelompok siaga bencana berbasis sekolah dengan
         2.   Tidak adanya sistem data base terpilah khususnya data anak-anak pada                 meningkatkan partisipasi anak dan komunitas sekolah dalam
              situasi emergency khususnya data anak korban, mengungsi, hilang dan                  pengurangan resiko bencana
              lain-lain, sehingga sistem bantuan dan penanganan dilakukan secara              3)   Mengintegrasikan usaha pengurangan resiko bencana pada program
              general.                                                                             sekolah dan kurikulum pendidikan muatan lokal.
         3.   Trauma psikologis berkepanjangan yang dialami anak-anak tanpa adanya
              satu penanganan yang baik.
         4.   Child Trafficking, anak-anak yang terpisah dari lingkungan keluarga dan    1.c. Output
              anak-anak dari keluarga yang hancur setelah bencana menjadi sasaran
              perekrutan untuk berbagai tujuan yang sifatnya eksploitatif.               Peserta diharapkan untuk secara aktif terlibat didalam seluruh pelatihan dengan
         5.   Anak-anak kehilangan akses pendidikan karena hancurnya fasilitas           mengembangkan seluruh keterampilan yang dimiliki dan menggunakan perilaku
              pendidikan dan sumber perekonomian keluarga.                               yang proaktif.
         6.   Munculnya kasus gizi buruk dan sampai berujung pada kematian anak di
              pengungsian karena kekurangan bahan makanan dan tidak adanya               Diakhir pelatihan diharapkan peserta :
              sistem penanganan kesehatan anak yang memadai.                                  1) Mengenali berbagai jenis bencana khususnya bencana alam dan akibat
         7.   Usaha pengurangan resiko bencana minim keterlibatan anak, sehingga                    yang berbeda bagi anak-anak dan kelompok rentan lainnya.
              pada situasi bencana anak-anak lebih banyak menjadi korban.                     2) Mampu menggunakan kemampuan praktis dalam menghadapi situasi
                                                                                                    darurat bencana
2             Melihat kenyataan yang terjadi selama ini telah mendorong keprihatinan          3) Menjadi personil yang terampil dalam mempromosikan dan membangun           3
    tersendiri bagi PKPA sebagai sebuah lembaga yang konsern pada anak-anak. Menurut                kesadaran komunitas sekolah dalam pengurangan resiko bencana.
    PKPA pemerintah perlu membentuk bagian khusus penanganan anak dalam situasi
    1.d. Sasaran dan Penerima Manfaat                                                        1.g. Schedule Training

           1.   Sasaran Training                                                                                        MATERI TRAINING                                   ALOKASI WAKTU
                Sasaran dari training ini adalah para guru tingkat SD, SLTP dan SLTA. Pada     HARI PERTAMA
                setiap sesi training disarankan jumlah peserta maksimal 20 orang agar          Orientasi Pelatihan dan Kontrak Belajar                                        60 Menit
                lebih efektif dan maksimal.
                                                                                               Materi-1                                                                       90 Menit
           2.   Penerima Manfaat                                                               Pengenalan Hyogo Frame Work dan Kebijakan Nasional Pengurangan
                2.1.     Penerima manfaat langsung adalah anak-anak sekolah tingkat            Risiko Bencana Melalui Institusi Pendidikan
                         SD, SLTP dan SLTA
                                                                                               Materi-2                                                                      120 Menit
                2.2.     Penerima manfaat tidak langsung adalah orang tua murid,
                                                                                               Pengenalan dasar bencana, jenis bencana dan penyebab bencana
                         masyarakat disekitar sekolah dan Dinas Pendidikan.
                                                                                               Materi-3                                                                      120 Menit
                                                                                               Manajemen Resiko Bencana
    1.e. Metode dan Strategi
         Dalam praktek training metode yang digunakan disesuaikan dengan topik                 HARI KE DUA
         materi dan kelompok peserta. Secara umum metode training yang digunakan               Materi-4                                                                      120 Menit
         adalah:                                                                               Mitigasi Bencana di sekolah dan lingkungan sekitar (field visit)
         1. Training kelompok guru                                                             Materi-5                                                                      120 Menit
            • Ceramah/Presentasi Slid                                                          Pengenalan issu anak dalam kedaruratan
            • Dialog/Sharing pengalaman                                                        Materi-6                                                                      120 Menit
            • Dikusi Kelompok                                                                  Dampak bencana terhadap anak dan masalah kerentanan yang
            • Permainan (Role Play)                                                            dihadapi anak-anak disekitar lingkungan sekolah.
            • Pemutaran Vidio
            • Kunjungan Lapangan (Field Visit)                                                 HARI KE TIGA
            • Simulasi                                                                         Materi-7                                                                        8 Jam
                                                                                               Tanggap Darurat dan Pertolongan Pertama                                      (480 Menit)
           2. Training bagi anak-anak sekolah tingkat SD dan SLTP
                                                                                               HARI KE EMPAT
              • Pemutaran Vidio
              • Diskusi Kelompok menggunakan gambar                                            Materi Khusus untuk Anak:
              • Permainan (Role play)                                                          1. Pengenalan Bencana dan usaha pengurangan resiko bencana                     90 Menit
                                                                                                  bagi anak-anak
              • Transex work (pengenalan ancaman dilingkungan menurut anak)                    2. Pengenalan ancaman dan kerentanan sekolah                                   90 Menit
              • Simulasi                                                                       3. Transex work                                                               120 Menit
                                                                                                  (Metode Film Animasi Bencana, Role Play, Gambar dan diskusi kelompok)

    1.f.   Waktu Pelaksanaan Training                                                          HARI KE LIMA
           Waktu efektif pelaksanaan training adalah 5 (lima) hari dibagi dalam 3 bagian
                                                                                               Sosialiasi Skenario simulasi                                                   90 Menit
           yaitu:
4          1. 3 hari penuh untuk guru                                                          Simulasi Bencana                                                           4 Jam (240 Menit)   5
           2. 1 hari penuh untuk anak-anak, dan
                                                                                               Evaluasi dan Rencana Tindak Lanjut Sekolah                                     60 Menit
           3. 1 hari untuk kegiatan bersama guru, anak-anak dan komunitas sekolah
    BAGIAN 2

    Orientasi Pelatihan

    2.a. Perkenalan dan Identifikasi Harapan/ Kekhawatiran

         Tujuan:
         1. Peserta dapat saling mengenal satu sama lain
         2. Memecah kebisuan, rasa asing, kekakuan, prasangka dan keseganan dalam
            forum pelatihan
         3. Mengetahui keterbatasan kemampuan peserta terhadap topik bahasan
            utama

         Metode:
         • Penjelasan dari fasilitator
         • Permainan yang 'seru' (mis; siapa pernah terlibat/belum dalam
            penanganan bencana, berbaris menurut: abjad awal nama, umur, asal,
            hobby, ) lagu, dll.
         • Pengelompokan harapan dan kekhawatiran peserta

         Waktu: 30 Menit


6        Media dan Bahan:                                                           7
         1. Metaplan
         2. Spidol
    3. Flipchart                                                                   2.b. KONTRAK BELAJAR (Jadwal dan Aturan Bersama)
    4. 5-1O daftar pertanyaan (dari catatan fasilitator)
                                                                                       Tujuan:
    Proses :                                                                           1. Penjelasan alur pelatihan
    1. Fasilitator menjelaskan tujuan kegiatan ini kepada peserta.                     2. Menyusun kesepakatan bersama agar proses pelatihan berjalan lancar dan
    2. Perkenalan antar peserta, fasilitator dan panitia dapat dilakukan dengan           nyaman, sekaligus untuk mendorong keaktifan peserta. Kesepakatan akan
       menggunakan cara-cara permainan, misalnya perkenalan dengan “lempar                tetap berlaku selama masa pelatihan
       bola” orang yang menerima lemparan bola harusnya menyebutkan                    3. Mampu mengatur diri secara bersama, tenggang rasa dan disiplin terhadap
       identitas sesuai kesepakatan bersama, misal Nama, asal lembaga, alamat,            aturan main yang disepakati (kesepakatan bersama).
       hobbi, dll. Cara lain yang menyenangkan juga dapat dipilih sebagai metode
       perkenalan untuk mencairkan suasana.                                            Metode:
    3. Untuk pengenalan lebih dalam, Fasilitator meminta peserta berkelompok           ·  Diskusi
       menurut; umur, siapa yang pernah terlibat dalam penanganan bencana”             ·  Curah Pendapat
       atau ”siapa yang pernah mengelola bantuan untuk penanganan bencana”
       dan seterusnya (dikembangkan sendiri sepanajng waktu cukup)                     Waktu: 30 menit
    4. Selanjutnya, dalam putaran akhir permainan, setiap peserta diminta untuk
       mendiskusikan harapan dan kekhawatiran masing-masing.                           Media dan Bahan:
    5. Masing-masing peserta atau melalui perwakilan menyampaikan harapan              ·  Spidol
       dan kekhawatiran yang sudah ditulis oleh peserta, seterusnya Fasilitator        ·  Flipchart
       mengelompokan hasil tersebut.                                                      OHP/
                                                                                       · In Focus
    6. Fasilitator kemudian fokus ke harapan dan membahas apa saja yang
       menjadi harapan peserta, yang dapat diintegrasikan dalam pelatihan.             Proses:
       Jelaskan harapan-harapan yang dapat diintegrasikan dan alasannya                1. Fasilitator menjelaskan tujuan kegiatan kepada peserta.
       (misalnya: karena keterbatasan waktu atau pun karena tidak sesuai dengan        2. Fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan tentang:
       tujuan pelatihan). Jelaskan bahwa harapan peserta tersebut akan dapat              ·   Kesepakatan jadwal harian pelatihan
       diakomodir dalam pelatihan lanjutan atau kesempatan-kesempatan lain.               ·   Kesepakatan aturan main, waktu selama pelatihan, dan pembentukan
    7. Fasilitator membahas kekhawatiran peserta, dan menyatakan bahwa                        tim harian (misalnya, tim penjaga waktu, tim review dan evaluasi, tim
       kekhawatiran tersebut dapat diminimalkan dengan disepakatinya aturan                   pembangun suasana/ice breaking).
       bersama maupun kemauan untuk mencapai tujuan pelatihan. Fasilitator             3. Fasilitator membaca ulang hasil kesepakatan yang tertulis sebagai
       juga perlu memberi kesempatan peserta lain untuk memberikan pendapat.              penegasan dan untuk dilaksanakan selama pelatihan oleh seluruh peserta
    8. Fasilitator menekankan bahwa pelatihan ini adalah pelatihan bersama                dan fasilitator.
       yang tidak akan berjalan lancar tanpa keaktifan dan inisiatif semua             4. Hasil kesepakatan yang tertera di fipchart kemudian ditempelkan di tempat
       peserta.                                                                           yang mudah dibaca oleh semua peserta selama pelatihan berlangsung.



                                                                                        INFORMASI KESIAPSIAGAAN
8                                                                                                                                                                     9
                                                                                      BAGI MASYARAKAT ITU PENTING!!
     BAGIAN 3

     Materi Training

     3.a. Materi Pertama:


                 PENGENALAYAN HYOGO FRAME WORK
              DAN KEBIJAKAN NASIONAL PENGURANGAN
                RISIKO BENCANA BERBASIS SEKOLAH




     Pendahuluan:
               Berdasarkan hasil Konferensi Sedunia tentang Pengurangan Resiko
     Bencana (World Conference on Disaster Reduction) yang diselenggarakan pada
     tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo, Jepang; dan dalam rangka mengadopsi
     Kerangka Kerja Aksi 2005-2015 dengan tema 'Membangun Ketahanan Bangsa dan
     Komunitas Terhadap Bencana' memberikan suatu kesempatan untuk menggalakkan
10   suatu pendekatan yang strategis dan sistematis dalam meredam kerentanan dan        11
     resiko terhadap bahaya. Konferensi tersebut menekankan perlunya mengidentifikasi
     cara-cara untuk membangun ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana.
               Bencana dapat diredam secara berarti jika masyarakat mempunyai                  •   Apa pengalaman peserta ketika terjadi suatu kejadian bencana
     informasi yang cukup dan didorong pada budaya pencegahan dan ketahanan                    •   Apakah ada bentuk usaha yang mungkin bisa dilakukan untuk
     terhadap bencana, yang pada akhirnya memerlukan pencarian, pengumpulan, dan                   meminimalisir korban sesuai dengan karakterisik bencana yang pernah
     penyebaran pengetahuan dan informasi yang relevan tentang bahaya, kerentanan,                 terjadi.
     dan kapasitas. Institusi sekolah menjadi salah satu komunitas yang strategis untuk   3.   Setelah selesai berdiskusi, fasilitator meminta peserta untuk
     usaha pengurangan resiko bencana. Asumsi tersebut didasari pada kenyataan bahwa           mempresentasikan hasil diskusinya (tiap kelompok 5-10 menit)
     ketika terjadi bencana alam, anak-anaklah yang paling rentan terkena dampaknya.      4.   Setelah presentasi, fasilitator memberikan komentar tentang hasil diskusi
     Terutama sekali jika pada saat kejadian, anak-anak sedang belajar di sekolah              kelompok yang bersifat menganalisis.
                                                                                          5.   Fasilitator kemudian mengajak peserta memberi perhatian pada hal-hal
     Tujuan:                                                                                   penting dalam kesepakatan Hyiogo Frame Work
     1.   Peserta pelatihan mengetahui landasan teoritis dan yuridis terhadap usaha-      6.   Fasilitator menutup kegiatan ini dengan membuat kesimpulan dan
          usaha pengurangan resiko bencana melalui jalur sekolah.                              memantapkan kembali pemahaman tersebut sesuai tujuan.
     2.   Peserta Mengetahui Jaringan global pengurangan resiko bencana
                                                                                          Pertanyaan-pertanyaan Kunci:
     Metode:                                                                              1.   Apa poin penting dari kesepakatan Hyogo terhadap Isu Pengurangan Resiko
     •   Penayangan vidio maupun photo-photo sekolah dan anak-anak yang menjadi                Bencana
         korban akibat suatu kejadian bencana alam.                                       2.   Siapa yang akan mengimplementasikan, memonitoring dan mengevaluasi
     •   Curah pendapat terhadap tayangan vidio dan photo                                      pelaksanaan Hyogo Frame Work.
     •   Presentasi makalah tentang Hyogo Frame Work dan Regulasi Nasional                3.   Apa hubungan Hyogo Frame Work dengan Undang-Undang RI Tentang
                                                                                               Penanggulangan Bencana
     Waktu: 90 Menit                                                                      4.   Apa point penting dari Undang-undang RI Tentang Penanggulanga Bencana

     Media dan bahan:
     •   Slide Kejadian bencana di belahan dunia
     •   Slide isi Kerangka Kerja Aksi Hyogo dan UU Penanggulangan Bencana
     •   Photo-photo sekolah dan anak-anak korban bencana
     •   Plano, Spidol, Meta plan dan Flip chart
     •   LCD / Infokus

     Proses:
     1.   Fasilitator menayangkan suatu kejadian bencana dalam bentuk vidio maupun
          photo-photo dimana terdapat sekolah dan anak-anak yang menjadi korban.
     2.   Selanjutnya, fasilitator meminta tanggapan peserta tentang slide yang
          ditayangkan dengan membagi ke dalam 2-3 kelompok berdasarkan asal
          sekolah atau hitungan acak:
          • Dimana saja terdapat korban meninggal dalam suatu peristiwa bencana
              alam (contoh gempa, tsunami, banjir, akibat penyakit menular, kejadian-
12            kejadian disekitar sekolah atau lingkungan masyarakat yang menyebabkan                                                                                       13
              kerugian bersama serta korban jiwa)
             BAHAN BACAAN
                                                                                            (c)   Suatu pendekatan peredaman resiko bencana yang terpadu dan mencakup
                                                                                                  berbagai bahaya harus menjadi faktor dalam kebijakan, perencanaan dan
                                                                                                  program-program terkait dengan aktivitas-aktivitas pembangunan
             KERANGKA KERJA AKSI HYOGO 2005 -2015 &                                               berkelanjutan, bantuan darurat, rehabilitasi, dan pemulihan di situasi-situasi
                                                                                                  pasca-bencana dan pasca-konflik di negara-negara yang rentan bencana.
                   KEBIJAKAN NASIONAL PRB                                                   (d)   Suatu perspektif gender harus diintegrasikan ke dalam seluruh kebijakan,
          (Dikutip dari : buku ISDR “Konfrensi Sedunia tentang Peredaman Bencana,
                                                                                                  perencanaan dan proses-proses pengambilan keputusan tentang pengelolaan
                                         Tahun 2005)
                                                                                                  resiko bencana, termasuk yang terkait dengan penjajagan resiko, peringatan
                                                                                                  dini, pengelolaan informasi, dan pendidikan dan pelatihan.
               Konferensi Sedunia tentang Peredaman Bencana (World Conference on
                                                                                            (e)   Keragaman budaya, usia, dan kelompok-kelompok rentan harus menjadi
     Disaster Reduction) diselenggarakan tanggal 18-22 Januari 2005 di Kobe, Hyogo,
                                                                                                  pertimbangan secara sepatutnya ketika melakukan perencanaan peredamaan
     Jepang dan mengadopsi Kerangka Kerja Aksi,2005-2015: Membangun Ketahanan
                                                                                                  resiko bencana;
     Bangsa dan Komunitas terhadap Bencana (Framework for Action 2005-2015:
                                                                                            (f)   Baik komunitas dan pihak berwenang di tingkat lokal harus diberdayakan
     Building the Resilience of Nations and Communities to Disasters [selanjutnya disebut
                                                                                                  dalam mengelola dan meredam resiko bencana dengan mempunyai akses
     sebagai 'Kerangka Kerja Aksi']).
                                                                                                  terhadap informasi, sumber daya, dan pihak berwenang yang diperlukan dalam
                                                                                                  melaksanakan aksi-aksi peredaman resiko bencana;
              Konferensi tersebut memberikan suatu kesempatan unik untuk
                                                                                            (g)   Negara-negara berkembang yang rentan terhadap bencana, terutama negara-
     menggalakkan suatu pendekatan yang strategis dan sistematis dalam meredam
                                                                                                  negara terbelakang dan negaraneagara kepulauan kecil yang sedang
     kerentanan (vulnerability) dan resiko terhadap bahaya (hazard). Konferensi tersebut
                                                                                                  bekembang, perlu mendapat perhatian khusus karena lebih tingginya tingkat
     menekankan perlunya untuk dan menengarai cara-cara untuk membangun
                                                                                                  kerentanan dan resiko mereka, yang seringkali jauh melampaui kapasitas
     ketahanan bangsa dan komunitas terhadap bencana (disaster).
                                                                                                  mereka untuk merespon kepada dan untuk pulih dari bencana;
                                                                                            (h)   Ada kebutuhan untuk meningkatkan kerja sama dan bantuan internasional dan
              Dalam menentukan tindakan yang tepat untuk mencapai hasil yang
                                                                                                  regional di bidang peredaman resiko bencana, antara lain melalui:
     diharapkan dan sasaran-saran strategis pengurangan resiko bencana, Konferensi
                                                                                                  • Transfer pengetahuan, teknologi dan keahlian untuk meningkatkan
     menegaskan kembali bahwa pertimbangan-pertimbangan umum berikut ini akan
                                                                                                      pembangunan kapasitas dalam peredaman resiko bencana
     dipertimbangkan:
                                                                                                  • Berbagi temuan-temuan penelitian, pelajaran yang dipetik dan praktek-
     (a) Prinsip-Prinsip yang tertulis dalam Strategy Yokohama tetap mempunyai
                                                                                                      praktek terbaik (best practices)
          relevansi penuh terhadap konteks saat ini, yang dicirikan dengan semakin
                                                                                                  • Kompilasi informasi tentang resiko dan dampak bencana untuk semua
          meningkatnya komitmen terhadap peredaman bencana;
                                                                                                      skala bencana sehingga dapat memberikan masukan bagi pembangunan
     (b) Dengan mempertimbangkan pentingnya kerja sama dan kemitraan
                                                                                                      berkelanjutan dan peredaman resiko bencana
          internasional, setiap Negara mempunyai tanggung jawab utama untuk
                                                                                                  • Dukungan yang sepatutnya dalam rangka meningkatkan tata kelola dalam
          pembangunan berkelanjutan mereka sendiri dan untuk mengambil
                                                                                                      tindakan-tindakan peredaman resiko bencana, inisiatif peningkatan
          tindakantindakan efektif untuk meredam resiko bencana, termasuk
                                                                                                      kesadaran dan pengembangan kapasitas di segala tingkat untuk
          melindungi penduduk di teritori mereka, infrastruktur dan aset nasional lain
                                                                                                      meningkatkan ketahanan negara-negara berkembang terhadap bencana
          dari dampak bencana. Pada saat yang sama, dalam konteks semakin
                                                                                                  • Pelaksanaan secara penuh, cepat dan efektif Inisiatif Negara-Negara Miskin
          meningkatnya saling ketergantungan di tingkat global, diperlukan kerja sama
                                                                                                      Pengutang Berat (Heavily Indebted Poor Countries Initiative) yang sudah
          internasional yang intensif dan suatu lingkungan internasional yang
                                                                                                      ditingkatkan, dengan mempertimbangkan dampak bencana terhadap
14        mendukung untuk mendorong dan memberi sumbangan dalam peningkatan                                                                                                        15
                                                                                                      keberlanjutan hutang bagi negara yang layak mengikuti program tersebut
          pengetahuan, kapasitas dan motivasi yang diperlukan untuk peredaman resiko
                                                                                                  • Bantuan keuangan untuk meredam resiko yang ada dan untuk
          bencana di segala tingkat;
                                                                                                      menghindarkan munculnya resiko baru
     (i)   Penggalakan suatu budaya pencegahan, termasuk melalui mobilisasi sumber                   Bencana juga sering menimbulkan dampak berkepanjangan bagi anak-
           daya yang mencukupi untuk peredaman resiko bencana, merupakan suatu             anak. Hancurnya infrastruktur pendidikan akibat bencana menyebabkan anak-anak
           investasi di masa depan dengan hasil yang sangat berarti. Penjajagan resiko     sekolah kehilangan kesempatan untuk mengikuti kegiatan pendidikan. Kegiatan
           dan sistem peringatan dini merupakan investasi sangat penting yang              pendidikan lalu diselenggarakan di sekolah-sekolah darurat. Dalam banyak pristiwa
           melindungi dan menyelamatkan nyawa, harta benda dan penghidupan,                bencana, kondisi ini berlangsung dalam waktu lama. Situasi ini jelas kurang
           memberi sumbangan pada keberlanjutan pembangunan, dan jauh lebih efektif        menguntungkan bagi anak-anak yang harus belajar dengan fasilitas yang serba
           dari segi biaya dalam memperkuat mekanisme bertahan dibandingkan dengan         terbatas, yang pada akhirnya proses belajar mengajar tidak bisa berlangsung secara
           jika mengandalkan hanya pada respon pasca bencana dan pemulihan;                optimal.
     (j)   Juga ada kebutuhan akan tindakan-tindakan proaktif sedemikian rupa sehingga
           akan membangun ketahanan komunitas dan meredam kerentanan terhadap                       Selain kondisinya yang memang sudah rentan, tingginya resiko bencana
           resiko bencana selanjutnya, dengan mengingat bahwa fase-fase tanggap            yang berdampak terhadap anak-anak salah satunya dipicu oleh faktor keterbatasan
           darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi setelah sebuah bencana merupakan         pemahaman tentang resiko-resiko bencana yang berada di sekeliling mereka.
           kesempatan-kesempatan untuk membangun kembali penghidupan dan bagi              Pengetahuan dan pemahaman yang rendah terhadap resiko bencana ini kemudian
           perencanaan dan rekonstruksi struktur-struktur fisik dan sosial ekonomi;        berakibat tidak adanya kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Ketika bencana
     (k)   Peredaman resiko bencana merupakan suatu isu lintas sektor dalam konteks        benar-benar terjadi, anak-anak kemudian banyak yang menjadi korban.
           pembangunan berkelanjutan dan oleh karena itu merupakan suatu elemen
           yang penting dalam mencapai sasaran-sasaran pembagunan yang disepakati                   Di beberapa negara seperti Meksiko, Rumania, dan Selandia Baru,
           secara internasional, termasuk yang tercakup dalam Deklarasi Milenium. Selain   pengenalan tentang bencana diintegrasikan ke dalam materi-materi pelajaran.
           itu, setiap upaya harus dilakukan dengan menggunakan bantuan kemanusiaan        Demikian juga di Brasil, Venezuela, Kuba dan Jepang, dimana pengenalan tentang
           sedemikian rupa sehingga resiko dan kerentanan di masa depan dapat              bencana dan resiko-resikonya sudah dilakukan sejak di sekolah dasar. Dengan bekal
           dikurangi sedapat mungkin.                                                      pengetahuan tentang bencana dan resikonya anak-anak di semua tingkat pendidikan
                                                                                           memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.

                                                                                                    Melalui institusi sekolah diharapkan dapat memobilisasi kapasitas
                         KEBIJAKAN NASIONAL DAN                                            masyarakat dalam usaha-usaha komunitas untuk pengurangan resiko bencana.
                                                                                           Negara seperti Indonesia yang memiliki kerawanan bencana sangat tinggi,
                       PERAN INSTITUSI PENDIDIKAN                                          kesiapsiagaan terhadap bencana belum ditempatkan sebagai subyek pembelajaran
                                                                                           penting di sekolah-sekolah. Meskipun beberapa program terkait dengan pendidikan
               Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan asia yang memiliki tingkat   kesiapsiagaan bencana sudah dilakukan oleh lembaga pendidikan, organisasi non
     kerawanan bencana cukup tinggi telah mengambil peran strategis yakni lahirnya         pemerintah, dan badan-badan PBB, namun program-program itu tidak
     Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana dan                  berkelanjutan. Padahal pengurangan resiko bencana melalui penciptaan ketahanan
     disahkannya Rencana Aksi Nasional untuk Reduksi Bencana 2006-2010. Dua                sekolah terhadap bencana harus dilakukan secara terus-menerus. Agar kegiatan
     kebijakan nasional tersebut menjadi pedoman dasar dimulainya upaya-upaya              pengurangan resiko bencana di sekolah-sekolah bisa berjalan secara
     pengurangan resiko bencana secara sistematis dan terinstitusi, termasuk mendorong     berkesinambungan, maka perlu dukungan pemerintah (Departemen pendidikan
     keterlibatan institusi sekolah.                                                       nasional/Diknas) dan para pemangku kepentingan lainnya di bidang penanganan
                                                                                           bencana.
              Anak-anak adalah salah satu kelompok rentan yang paling beresiko terkena
16   bencana. Dalam berbagai peristiwa bencana yang terjadi di seluruh belahan bumi,                Karena pengurangan resiko bencana didasarkan pada suatu strategi              17
     banyak anak-anak yang menjadi korban, baik luka-luka maupun meninggal.                pengkajian kerentanan dan resiko yang terus menerus dilakukan, maka banyak aktor
                                                                                           yang perlu dilibatkan, yang berasal dari pemerintah, insitusi teknis dan pendidikan,
     dari profesi-profesi, kepentingan dunia usaha, dan komunitas lokal. Aktivitas-                                                     PENUTUP
     aktivitas mereka akan perlu dipadukan ke dalam strategi-strategi perencanaan dan
     pembangunan yang memungkinkan sekaligus mendorong pertukaran informasi                            Marilah kita semua lebih memperhatikan upaya mengurangi resiko
     secara luas. Hubungan multi-disipliner yang baru merupakan hal yang sangat              bencana yang dimulai dari sekolah. Seluruh komponen, dalam hal ini anak-anak
     mendasar agar pengurangan resiko bencana bisa menyeluruh dan berkelanjutan. Ada         sekolah, para guru, para pemimpin masyarakat, orangtua, maupun individu yang
     pengalaman menarik tentang peran anak-anak dalam mengurangi korban tsunami              tertarik dengan pendidikan tentang resiko bencana dan keselamatan di sekolah,
     Desember 2004. Seorang gadis kecil dari Inggris bernama Tilly yang mendapatkan          lembaga swadaya masyarakat, organisasi kemasyarakatan, institusi
     pelajaran tanda-tanda tsunami dari guru geografinya telah menyelamatkan banyak          lokal/regional/nasional/ internasional, sektor swasta dan publik untuk dapat
     orang yang sedang berlibur di pantai barat Thailand. Seorang anak laki-laki kecil       berpartisipasi secara aktif. Keterlibatan media juga diperlukan untuk mendorong
     bernama Anto yang tinggal di Pulau Simeulue mendapatkan pelajaran dari kakeknya         sebuah budaya ketahanan terhadap bencana dan keterlibatan komunitas yang kuat
     tentang apa yang harus dilakukan ketika terjadi gempabumi di laut. Bersama seluruh      dalam rangka kampanye pendidikan publik secara terus-menerus dan dalam
     penghuni pulau itu, mereka berlari menyelamatkan diri ke tempat yang lebih tinggi.      konsultasi publik di segenap lapisan masyarakat.
     Kedua kisah tersebut diangkat ke dalam film pendek sebagai materi kampanye
     UN/ISDR.
                                                                                             Bencana?! Jika Siap, Kita Selamat
              Kampanye ditujukan kepada murid sekolah dasar dan menengah, para
     guru, pembuat kebijakan pendidikan, orangtua, insinyur dan ahli bangunan. Selain itu
     juga ditujukan kepada lembaga pemerintah yang bertanggung-jawab atas isu
     manajemen bencana, mendiknas, para pemimpin politik di tingkat nasional, pembuat
     keputusan di masyarakat, dan otoritas lokal. Pesan yang bisa disampaikan antara lain:

     1.   pendidikan tentang resiko bencana menguatkan anak-anak dan membantu
          membangun kesadaran yang lebih besar isu tersebut di dalam masyarakat;
     2.   fasilitas bangunan sekolah yang bisa menyelamatkan hidup dan melindungi
          anak-anak sebagai generasi penerus bangsa dari suatu kejadian bencana alam;
          dan
     3.   pendidikan tentang resiko bencana dan fasilitas keselamatan di sekolah akan
          membantu negara-negara menuju ke arah pencapaian Tujuan Pembangunan
          Millenium.

     Hasil yang diharapkan adalah:
     1.    pemerintah pusat dan daerah menanamkan investasinya dalam fasilitas
           bangunan sekolah tahan bencana dan mengarahkan kurikulum pendidikan
           tentang resiko bencana secara nasional;
     2.    meningkatkan kesadaran sebagai dampak positif adanya pendidikan tentang
           resiko bencana dan keselamatan di sekolah; dan
     3.    peningkatan aksi dan penggunaan praktek-praktek yang baik untuk
18         mengerahkan koalisi dan kemitraan, membangun kapasitas sumberdaya yang                                                                                                             19
           ada untuk mengadakan pelatihan pendidikan tentang resiko bencana dan
           keselamatan di sekolah.
                                                                                             Posted by juniawan priyono, Pengurangan Resiko Bencana Dimulai dari Sekolah, Februari 18, 2007
     3.b. Materi kedua:                                                                        a. jenis-jenis bencana dan penyebabnya,
                                                                                               b. membagi kategori bencana yang disebabkan alam dan manusia,
           PENGENALAN DASAR BENCANA, JENIS BENCANA                                             c. apa saja dampaknya terhadap kehidupan dan penghidupan manusia
                                                                                          5.   Setelah selesai berdiskusi, fasilitator meminta peserta untuk mem-
                   DAN PENYEBAB BENCANA                                                        presentasikan hasil diskusinya (tiap kelompok 5-10 menit)
                                                                                          6.   Setelah presentasi, fasilitator memberikan komentar tentang hasil diskusi
                                                                                               kelompok yang bersifat menganalisis. Misalnya ”dari hasil diskusi kita bisa lihat
     Tujuan:                                                                                   bersama bahwa bencana terdiri dari bencana karena alam dan karena ulah
     1.   Peserta memahami pengertian bencana                                                  manusia; dan keduanya sering sulit dibedakan Oleh karena itu, mari kita telaah
     2.   Peserta mengenali jenis-jenis bencana yang sering terjadi di Indonesia dan di        lebih jauh, dengan mendiskusikan kedua hal tersebut”.
          lingkungan peserta, baik bencana alam (natural disaster) maupun bencana         7.   Fasilitator kemudian mengajak peserta memberi perhatian pada hal-hal
          non-alam (human disaster)                                                            penting, terutama tentang hal-hal yang terkait dengan dampak bencana yang
                                                                                               sering terjadi maupun diramalkan akan terjadi di sekitar peserta.
     Metode:                                                                              8.   Fasilitator menutup kegiatan ini dengan membuat kesimpulan dan
     Penayangan gambar/slide/video bencana. (mis: Aceh, Nias–menunjukkan masalah               memantapkan kembali pemahaman tersebut sesuai tujuan.
     khas anak, perempuan, orang tua, orang sakit, dll.)
     •     Curah Pendapat
     •     Diskusi kelompok
     •     Pengelompokan hasil.

     Waktu: 120 menit

     Media dan Bahan:
     ·   Kertas Flipchart
     ·   Spidol
     ·   Lembar Tugas
     ·   Gambar/slide/video bencana
     ·   Bahan bacaan

     Proses:
     1.   Fasilitator menanyakan pada peserta apa saja yang mereka ketahui dan pahami
          tentang bencana. Fasilitator menuliskan jawaban peserta di flipchart.
     2.   Berdasarkan hasil jawaban tersebut Fasilitator dan peserta merumuskan
          bersama pemahaman (definisi sederhana) bencana.
     3.   Untuk mengenali jenis-jenis bencana fasilitator menayangkan slide/
          gambar/video tentang bencana (misalnya, slide bencana di Nias, Aceh,
          LAPINDO, banjir Jakarta, dll).
20   4.   Selanjutnya, fasilitator meminta tanggapan peserta tentang slide yang                                                                                                    21
          ditayangkan dengan membagi ke dalam 4-5 kelompok dan mendiskusikan:
            BAHAN BACAAN
                                                                                             C.     GEJALA AWAL BENCANA ALAM PADA DAERAH RAWAN BENCANA


                                                                                                       JENIS
     A.   TERMINOLOGI BENCANA MENURUT UNDANG-UNDANG                          NO. 24/2007                                 DAERAH RAWAN                       GEJALA AWAL
                                                                                                   BENCANA ALAM
          TENTANG PENANGGUNGLANGAN BENCANA.
                                                                                                      BANJIR       Dataran banjir, sempadan          Curah hujan tinggi, hujan
                                                                                                                   sungai bermeander, lekukan-       berlangsung lama, naiknya
          1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan
                                                                                                                   lekukan di dataran aluvial        muka air sungai di stasiun
             mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan,                                                                        pengamatan
             baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia
             sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan                      BANJIR BANDANG   Daerah bantaran sungai pada       Daerah pegunungan gundul,
                                                                                                                   transisi dataran ke pegunungan    batuan mudah longsor, curah
             lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.                                                                                hujan tinggi, hujan berlangsung
          2. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau                                                                        lama, terjadi pembendungan di
             serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa                                                                      hulu sungai
             gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan, dan
                                                                                                    LONGSOR/       Daerah dengan batuan lepas,       Curah hujan tinggi, hujan
             tanah langsor.                                                                       GERAKAN TANAH    batu lempung, tanah tebal,        berlangsung lama, munculnya
          3. Bencana non-alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau                                  lereng curam                      retak-retak pada tanah di lereng
             rangkaian peristiwa non alam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal                                                             atas; tiang listrik, pohon,
             modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.                                                                                               benteng menjadi miring
          4. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau                     AMBLESAN       Daerah Plateau Karst (dataran     Timbulnya lubang dan/atau
             serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik               TANAH         tinggi berbatu gamping), daerah   retakan dalam di permukaan
             sosial antarkelompok atau antarkomunitas masyarakat, dan teror.                                       dengan eksploitasi air tanah      tanah; dinding, tembok,
                                                                                                                   tinggi                            lantai retak-retak.
                                                                                                  LETUSAN GUNUNG   Lereng dan kaki gunung berapi,    Naiknya suhu air kawah,
     B.   PENGENALAN BENCANA                                                                          BERAPI       terutama yang menghadap ke        perubahan komposisi kimiawi
                                                                                                                   arah kawah sumbing (Breached      air dan gas di kawah, guguran
                                                                                                                   Crater)                           kubah lava, adanya lindu/lini,
                JENIS PENYEBAB                                                                                                                       peningkatan tremor pada
                                                 BEBERAPA CONTOH KEJADIANNYA
                BENCANA ALAM                                                                                                                         Seismograf
      BENCANA ALAM GEOLOGIS                   Gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi,            TSUNAMI       Pantai-pantai yang berhadapan     Terjadinya gempa bumi,
                                              longsor/gerakan tanah, amblesan tanah                                dengan palung tektonik atau       air laut surut
                                                                                                                   gunung api laut
      BENCANA ALAM KLIMATOLOGIS               Banjir, banjir bandang, badai, angin puting-
                                              beliung, kekeringan, kebakaran hutan                  GEMPA BUMI     Jalur-jalur tektonik, sesar       Peningkatan tremor pada
                                              (bukan oleh manusia)                                                 (patahan) aktif                   Seismograf (yang umumnya
                                                                                                                                                     sangat singkat ke gejala utama)
      BENCANA ALAM EKSTRA-TERESTRIAL          Impact/hantaman meteor atau benda dari
                                              angkasa luar


22                                                                                                                                                                                      23
     D.      BENCANA ALAM GEOLOGIS DAN GEJALA IKUTANNYA                                         menyebabkan kerugian dan kehilangan nyawa, materi dan lingkungan. Bencana pada
                                                                                                awalnya hanyalah sebuah resiko yang selanjutnya tidak terkelolah dan akhirnya
                                                       GEJALA IKUTAN                            melahirkan bencana.
      JENIS BENCANA ALAM
           GEOLOGIS                    ALAMIAH                     BUDIDAYA MANUSIA
                                                                                                Secara umum pengertian bencana dibagi dalam dua kategori yaitu :
            GEMPA BUMI      Tsunami, longsor, banjir          Bencana lingkungan akibat         1.   Bencana alam (Natural Disaster) adalah bencana yang diakibatkan oleh
                            bandang, banjir                   pecahnya/terganggunya
                                                                                                     peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain
                                                              penampungan/angkutan bahan
                                                              kimia, pecahnya pipa-pipa              berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan,
                                                              minyak dan gas atau bahan              dan tanah langsor.
                                                              beracun dan berbahaya,            2.   Bencana nonalam adalah : bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
                                                              kebakaran, bendungan jebol,            rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal
                                                              banjir bandang, banjir.
                                                                                                     modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
             TSUNAMI        Hantaman langsung                 Pendangkalan dan tersumbat-
                            gelombang, banjir bandang,        nya saluran akibat puing-puing,             Selain pengertian bencana non alam tersebut diatas, terdapat jenis lain
                            banjir                            tercemarnya sumber-sumber air     bencana yang masih tergolong becana non alam yaitu Bencana sosial, bencana yang
          LETUSAN GUNUNG    Banjir bandang aliran lahar,    Pelumpuran dan pendangkalan         diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh
              BERAPI        aliran lava, aliran awan panas  pada saluran, hilangnya             manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas
                            dengan suhu > 900oC, jatuhan    sumber-sumber air                   masyarakat, dan teror. Bencana alam merupakan bagian khusus yang akan dijelaskan
                            Piroklastik (bebatuan letusan),                                     dalam materi ini. Tanpa mengesampingkan kategori bencana non alam dan bencana
                            hujan abu, pendangkalan sungai,
                            banjir                                                              sosial, namun upaya pengurangan resiko bencana disekolah lebih difokuskan untuk
                                                                                                menjelaskan jenis-jenis bencana alam dan keterentanan yang terjadi disekitar
           LONGSOR DAN      Tanah retak, banjir bandang/      Pecahnya pipa-pipa minyak         lingkungan sekolah.
          GERAKAN TANAH     lumpur, amblesan tanah,           dan gas atau bahan beracun
                            pelumpuran dan pendangkalan       dan berbahaya
                            sungai, banjir
                                                                                                F.   PENUTUP

                                                                                                          Semua bencana alam, awalnya adalah gejala alam biasa. Fenomena itu
     E.     DIMENSI PEMAHAMAN BENCANA                                                           dikatakan sebagai bencana karena menabrak kepentingan manusia. Untung tak dapat
                                                                                                diduga, malang tak dapat raih, demikianlah kata pepatah. Celakanya, memang
               Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan             kebanyakan bencana alam sulit diramalkan. Oleh karenanya, masyarakat perlu
     mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh                 meningkatkan kapasitas, mengetahui dan memahami tingkat potensi bencana,
     faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga                         bentuk dan besar kekuatan bencana yang mungkin menimpa. Untuk menghadapi
     mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian                bencana alam masa depan, dapat dimulai dengan pemberian informasi potensi
     harta benda, dan dampak psikologis. (UU No. 24Tahun 2007, Pasal 1 ayat 1).                 bencana alam yang tepat, akurat dari seluruh aparat dan disiplin ilmu terkait.
     Pengertian yang hampir sama menurut Jonatan A. Lassa(Program Officer Disaster              Diharapkan dengan demikian dapat dilakukan pemilihan dan pelaksanaan langkah
     Manajemen PIKUL) bencana adalah gangguan atau kekacauan fungsi sosial yang                 yang tepat, yaitu: mengatasi bencana, melawan bencana, atau menghindari bencana
     serius yang menyebabkan meluasnya kerugian jiwa, materi dan atau lingkungan yang           tersebut. Jika ternyata masih tertimpa juga, minimal secara mental kita lebih siap.
24   melebihi kemampuan orang yang mengalami musibah untuk mengatasi dengan                     Karena semua bencana itu, semula memang gejala alam.                                  25
     sumber daya yang tersedia. Atau bencana terjadi tatkala sumberdaya atau kapasitas
     yang tersedia sangat tidak memadai dalam mengatasi ancaman (hazard) yang
                                                                                                    BAHAN BACAAN
     3.c. Materi Ketiga:


                      MANAJEMEN RESIKO BENCANA
                                                                                          A.   MENGENAL UNSUR BERISIKO
     Tujuan:
                                                                                                                        Tiga komponen penting dalam penentuan resiko
     ·    Memberikan pemahaman kepada peserta tentang paradigma manajemen
          resiko bencana untuk mengurangi kerentanan.
                                                                                                       BAHAYA           harus diukur secara terpisah: probabilitas
     ·    Dapat memahami konsep dasar, tujuan dan ector-unsur perencanaan
                                                                                                         +              munculnya bahaya, sector-unsur beresiko dan
          kesiapsiagaan , serta menguraikan peranan penilaian kerentanan dan resiko
                                                                                                   UNSUR BERISIKO       kerentanan sector-unsur yang beresiko.
          sebagai prasarat kesiapsiagaan.                                                                +
                                                                                                     KERENTANAN         Pendekatan subyek Manajemen Resiko bencana
                                                                                                         =              dilihat dari 2 hal utama:
     Metode:
                                                                                                       RISIKO           1. Pemberdayaan masyarakat/komunitas/sekolah
     •   Ceramah dan tanya jawab
                                                                                                                        2. Penanganan sumber ancaman
     •   Diskusi Kelompok
     •   Curah Pendapat
                                                                                               BAHAYA = Suatu peristiwa atau kejadian yang terjadi secara tiba-tiba
     •   Pengamatan lingkungan
                                                                                                        ataupun perlahan-lahan berpotensi menimbulkan kerusakan dan
                                                                                                        kerugian pada kehidupan dan harta benda serta lingkungan.
     Waktu: 120 Menit
                                                                                                        (Misal: Gunung Meletus, Gempa Bumi, Banjir, Tsunami, Longsor,
                                                                                                        dll)
     Proses:
     1.   Fasilitator menjelaskan tujuan dari Manajemen Resiko Bencana
                                                                                               UNSUR BERESIKO= Daerah rentan, manusia, harta benda dan lingkungan
     2.   Fasilitator menjelaskan teori perkembangan manajemen resiko bencana dari
          berbagai sudut pandangan keilmuan.
                                                                                               KERENTANAN= Sekumpulan kondisi melekat (ciri/karakter) pada aset
     3.   Selanjutnya curah pendapat ancaman-ancaman bencana serta resikonya
                                                                                                           kehidupan (alam, fisik, sosial, ekonomi dan manusia) yang
          terhadap kehidupan dan aset penghidupan manusia.
                                                                                                           memiliki konsekwensi buruk terhadap upaya-upaya
     4.   Hasil curah pendapat selanjutnya dikelompokkan berdasarkan jenis ancaman
                                                                                                           pencegahan dan penanggulangan bencana.
          dan unsur beresiko dan didiskusikan secara kelompok. Kegiatan diskusi
          melakukan analisis kapasitas dan kemampuan sekolah/komunitas mengurangi
                                                                                               RISIKO= Kerugian yang belum terjadi atau Perkiraan konsekuensi negatif yang
          resiko pada tiap-tiap unsur beresiko.
                                                                                                       mungkin terjadi ketika bahaya berinteraksi dengan daerah yang
     5.   Hasil diskusi kelompok kemudian dipresentasikan dan kelompok lainnya
                                                                                                       rentan, orang-orang, harta benda dan lingkungan.
          memberikan tanggapan apakah penilaian terhadap setiap unsur beresiko
          sudah komplit.
     6.   Pada sesi akhir fasilitator menjelaskan kembali manfaat dari manajemen resiko
                                                                                          B.   Manajemen Resiko Bencana adalah
          bencana dan bagaimana komunitas sekolah melakukannya secara terus
          menerus.
                                                                                               •    Fokus
                                                                                                    – Kondisi/penyebab kerentanan yang menimbulkan bencana
26                                                                                             •    Tujuan                                                                   27
                                                                                                    – Meningkatkan kemampuan + mengurangi risiko = mengurangi kejadian
                                                                                                       dan besarnya bencana
          •   Kegiatan                                                                                      CONTOH PENILAIAN RISIKO BENCANA SEKOLAH:
              – Beragam kegiatan yang menanggulangi dan mengurangi risiko:
                 pemaduan kegiatan-kegiatan (kesiapsiagaan, tanggap darurat,
                                                                                                                                                       AKIBAT PADA TIAP UNSUR
                 pemetaan,dll. )                                                              LOKASI   UNSUR BERISIKO          KERENTANAN
                                                                                                                                                              BERISIKO

                                                                                          SEKOLAH      Bangunan           Bangunan tua, konstruksi     Rusak, terbakar, roboh
                                                                                                                          tidak aman, dll
     C.   Skema manajemen resiko bencana adalah:
                                                                                                       Anak-anak          Belum ada pengalaman,        Luka, mati, sakit, trauma
                                                                                                                          kecacatan, jumlah
          MANAJEMEN                                                                                                       banyak
          Pengurangan Risiko Bencana

                                                          PENGEMBANGAN KEAMANAN
                                                                                         E.     Manajemen Risiko "Sebuah Proses Berkembang"
                          RISIKO BENCANA




                                                                         AKAR MASALAH
                                           KONDISI AMAN
                             RESDUKSI
               RESDUKSI




                                                              TEKANAN
                                                              KURANGI




                                                                            TANGANI
                BAHAYA




                                              CAPAI




                                                                                               PHASE               PARADIGMA                         KEGIATAN UTAMA
                                                                                              TAHUN 60-AN     PARADIGMA RELIEF        Ø
                                                                                                                                      Penanggulangan kedaruratan setelah
                                                                                                                                      bencana terjadi: makanan, tenda,
                                                                                                                                      kesehatan
                                                                                                                                      Ø
                                                                                                                                      Perencanaan cadangan dan kesiap-
                                                                                                                                      siagaan bencana: perencanaan
                                                                                                                                      evakuasi; penyelamatan wilayah/tenda;
     D.   PENILAIAN RESIKO                                                                                                            penyimpanan bahan bantuan;
                                                                                                                                      organisasi dan pelatihan
                                                                                                                                      Ø
                                                                                                                                      Sistem peringatan dini dan pemantauan
              Suatu proses partisipatoris yang mengidentifikasi ector-unsur yang
                                                                                                                                      bahaya; aspek ilimiah; aspek teknis;
     beresiko pada setiap jenis bahaya dan menganalisis akar penyebab kenapa ector ini                                                aspek sosial
     beresiko. Penilaian Resiko adalah proses yang meramalkan resiko terhadap
     kemungkinan bencana dengan cara:                                                         TAHUN 80-AN     PARADIGMA MITIGASI      Ø lokasi berbahaya
                                                                                                                                      Identifikasi
                                                                                                                                      Ø pola kerentanan fisik
                                                                                                                                      Identifikasi
     8    Mengidentifikasi setiap sector yang beresiko untuk setiap jenis bahaya
                                                                                                                                      Ø
                                                                                                                                      Mitigasi bahaya melalui cara-cara
     8    Menganalisis akar penyebab kenapa sector-unsur ini beresiko                                                                 struktural
                                                                                                                                      Ø
                                                                                                                                      Mitigasi kerentanan fisik melalui:
               Kita harus menyadari bahwa analisis resiko adalah suatu proses yang                                                    relokasi; penguatan atap; tata ruang;
     rumit/kompleks, oleh karena ini proses yang komplek maka perlu memperhatikan                                                     aturan bangunan, dll.
     hal-hal sebagai berikut:                                                                 TAHUN 90-AN     PARADIGMA               Ø faktor-faktor penyebab
                                                                                                                                      Fokus pada
     8 kerja analisis resiko harus sederhana agar berguna, tapi kompleks
           Kerangka                                                                                           PEMBANGUNAN             dan proses kerentanan
           agar sesuai kenyataan                                                                                                      Ø
                                                                                                                                      Meningkatkan kemampuan untuk
     8 resiko harus spesifik terhadap letak, ector, kelompok yang
           Analisis                                                                                                                   mengatasi kehilangan dan pemulihan di
                                                                                                                                      tingkat rumah tangga; komunitas dan
           berkepentingan, dll.                                                                                                       masyarakat
28   8     Resiko bersifat dinamis dan sering bertumpuk                                                                                                                            29
     8     Resiko seringkali tak dapat diubah
     8 kemiskinan sangat berkaitan, tetapi tak saling mewakili
           Resiko dan
                                                 Ø
                                                 Menekankan upaya non-struktural:             1.   Mengidentifikasi apa yang mungkin terjadi
                                                 pemilikan tanah dan perumahan;               2.   Menganalisis kemungkinan hasil akhir
                                                 peluang mendapat kredit; peng-               3.   Menilai dampak
                                                 anekaragaman mata pencaharian;               4.   Menindak resiko (pencegahan/mitigasi, mempersiapkan, merespons dan pemulihan)
                                                 inovasi teknologi                            5.   Memonitor proses
      TAHUN 2000-AN     PARADIGMA REDUKSI        Ø kerumitan dan ketidak-
                                                 Memahami
                        RISIKO                   pastian risiko                               Pengelolaan Bencana Menyeluruh dan Terpadu
                                                 Ø strategi penanganan yang
                                                 Optimisasi                                   Pengelolaan bencana yang efektif memerlukan kombinasi empat konsep:
                                                 ada                                          ·    Atas semua bahaya
                                                 Ø
                                                 Penyelesaian setempat atas masalah           ·    Menyeluruh
                                                 global
                                                                                              ·    Terpadu
                                                 Ø
                                                 Rumah tangga dan komunitas sebagai
                                                 subyek dan bukan obyek                       ·    Masyarakat yang siap

                                                                                              Semua bahaya, maksudnya aturan yang disetujui dalam merancang mengatasi semua
                                                                                              bahaya, alam dan ulah manusia. Dari pada mengembangkan rencana dan prosedur berbeda
                                                                                              untuk masing-masing bahaya, rancangan tunggal pengelolaan harus dibuat dan digunakan
     F.   Proses Pengelolaan Resiko Bencana
                                                                                              dalam menghadapi semua bahaya yang dihadapi masyarakat.
          (Dikutip dari artikel: Syaiful Saanin. BSB Sumbar, Maret 2008)
                                                                                              Pendekatan Menyeluruh
                Dalam pengelolaan resiko bencana, bencana dijelaskan berkaitan dengan         Empat dasar pengelolaan kegawatan dan bencana, masing-masing memerlukan program
     resikonya terhadap masyarakat; dan dilakukan tindakan yang sesuai terhadap resiko yang   pengelolaan (strategi) :
     diketahui.                                                                               1.   Pencegahan dan mitigasi
                                                                                                       Peraturan dan persyaratan fisik untuk mencegah terjadinya bencana, atau untuk
     Hal penting :                                                                                     mengurangi dampaknya.
     ·    Berapa luas bencana melanda.
     ·    Berapa luas ancaman terhadap masyarakat dan lingkungan.                             2.   Persiapan
                                                                                                       Perencanaan dan program, sistem dan prosedur, pelatihan dan pendidikan untuk
     Pengelolaan resiko bencana adalah penerapan sistematik dari kebijaksanaan                         memastikan bahwa bila bencana terjadi, sumber daya dan tenaga dapat segera
     pengelolaan, prosedur dan pelatihan terhadap:                                                     dimobilisasi dan diberdayakan dengan hasil terbaik. Termasuk pengembangan
     ·    Memastikan hal-hal terkait                                                                   sistem peringatan dan kewaspadaan, perencanaan organisasional, pelatihan dan
     ·    Mengidentifikasi resiko                                                                      pengujian petugas, peralatan, perencanaan dan prosedur, serta pendidikan
     ·    Menganalisis resiko                                                                          publik.
     ·    Menilai / mengevaluasi resiko
                                                                                              3.   Respons
     ·    Mengatasi resiko
                                                                                                      Kegiatan yang diambil mendahului atau segera setelah dampak bencana untuk
                                                                                                      meminimalkan akibat, dan untuk memberikan bantuan segera, memulihkan dan
     Pengamatan dan penelaahan harus merupakan proses berkesinambungan dalam
                                                                                                      mendukung masyarakat. Termasuk rescue, pemulihan dan dukungan terhadap
     pengelolaan resiko, dan semua sistem tergantung pada komunikasi dan konsultasi. Hal
                                                                                                      korban, informasi publik, pemberian makanan, pakainan dan tempat berlindung.
     tersebut menjadi perangkat pengambil keputusan yang sistematik, logis dan praktis bagi
30   pengelola bencana. Gunanya untuk mendapatkan kegunaan yang mendasar bagi pengelola                                                                                                31
                                                                                              4.   Pemulihan
     bencana untuk mengurangi dampak dari bencana. Artinya pengelola bencana dapat:
                                                                                                      Pemulihan dan perbaikan jangka panjang atas masyarakat yang terkena.
                                                                                                      Merupakan proses rumit dan lama.
     Pendekatan Terpadu                                                                        3.d. Materi Keempat:
                Pengelolaan bencana efektif memerlukan kerjasama aktif antara berbagai fihak
     terkait. Artinya semua organiasi dengan tugasnya masing-masing bekerja bersama dalam
     pengelolaan bencana. Hubungan berbentuk kerjasama sangat penting.                                           MITIGASI BENCANA DI SEKOLAH

     Masyarakat yang siap                                                                      Tujuan:
              Adalah masyarakat yang masing-masing individunya waspada terhadap bahaya         •    Dapat memahami konsep dasar, tujuan dan unsur-unsur mitigasi bencana
     dan tahu bagaimana melindungi dirinya, keluarganya serta rumahnya terhadap dampak              sebagai usaha-usaha yang dilakukan sebelum terjadi bencana.
     dari bahaya. Bila masing-masing dapat melakukan tindakan perlindungan terhadap            •    Mendata jenis-jenis kerentanan sekolah terhadap ancaman bencana tertentu
     dampak bahaya, akan mengurangi keterancaman terhadap bencana dan kedaruratan.
                                                                                               Metode:
     Kesimpulan Pengelolaan resiko bencana                                                     •   Pengamatan kondisi sekolah, bangunan, lingkungan sekitar, fasilitas sekolah,
               Pengelolaan resiko bencana adalah pemanfaatan yang sistematik dari                  sumber daya dan kelompok manusia yang ada di sekitar sekolah.
     kebijaksanaan pengelolaan, prosedur dan pelaksanaan dengan maksud mengurangi              •   Diskusi kelompok untuk mengelompokkan setiap kerentanan terhadap setiap
     dampak bencana. Merupakan perangkat pembuat keputusan yang logis dan praktis.                 jenis ancaman bencana.
                                                                                               •   Mendiskusikan usaha-usaha sekolah untuk mengurangi segala kerentanan
                                                                                                   terhadap ancaman bencana.
              Tidak semua peristiwa yang berbahaya adalah
                        ancaman bagi komunitas.                                                Waktu: 120 menit
        Tidak semua ancaman itu berbahaya bagi suatu komunitas.
         Tidak semua bahaya itu adalah bencana bagi komunitas.                                 Media/bahan:
        Tidak semua komunitas mendapatkan bencana yang sama                                    ·   Gedung dan lingkungan sekolah
                  Tetapi satu komunitas (pasti) memiliki                                       ·   Fasilitas-fasilitas yang ada disekitar sekolah (lemari, meja, dll)
                    minimal satu ancaman yang sama                                             ·   Plano, Spidol dan Filp Chart
                         (Agung Hermawan/YEU/Desember 2007)                                    ·   Diskusi kelompok

                                                                                               Proses:
                                                                                               1.   Fasilitator menjelaskan tujuan dan maksud mitigasi bencana dan hubungan
                                                                                                    dengan sekolah.
           “MENGENAL RESIKO DAN ANCAMAN BAHAYA
                                                                                               2.   Peserta dibagi 4 kelompok, masing-masing kelompok berjumlah 5 orang
                       DI SEKITAR KITA
                                                                                               3.   Kegiatan kelompok mengamati, mencatat dan menganalisa Fakta Ancaman dan
       AKAN MENGURANGI DAMPAK KEMATIAN DAN KERUGIAN                                                 Kerentanan sekolah terhadap bencana tertentu.
                   JIKA TERJADI BENCANA”                                                       4.   Memetakan ancaman (Penyebab, sebaran, intensitas, elemen beresiko,
                                                                                                    konsekuensi sosial)
                                                                                               5.   Memahami & memetakan kapasitas & kerentanan (Siswa, guru, komunitas
                                                                                                    sekolah, warga, pemerintah….)
                                                                                               6.   Mengamati kondisi-kondisi yang membahayakan terhadap anak-anak dan
32                                                                                                  warga disekitar lingkungan sekolah, misalnya tempat pembuangan sampah,        33
                                                                                                    lingkungan yang tidak bersih, MCK, Sumur terbukan, Drainase dan sanitasi.
                                                                                               7.   Menyimpulkan hasil mitigasi sekolah terhadap ancaman bencana serta
                                                                                                    kemampuan sekolah.
                       BAHAN BACAAN
                                                                                                                           asuransi wajib; 2) Pengendalian dispensasi, pendidikan & pelatihan,
                                                                                                                           penignkatan kesadaran, bantuan ekonomi, asuransi sukarela.
                                                                                                                      •    Membangun masyarakat tahan bencana, misalnya : Akses sumber kehidupan
                               MITIGASI BENCANA SEKOLAH                                                                    berkelanjutan, kebutuhan hidup dan akses pasar, perdamaian berkelanjutan.


                                                                           M i t i ga s i a d a l a h i s t i l a h
                                                                                                                      Tabel Mitigasi Bencana berbasis sekolah
                                                                           gabungan yang digunakan
                  PEMBANGUNAN KEMBALI             PASCA BENCANA
                        • Rekonstruksi               • Recovery            untuk mencakup semua
                          • Evaluasi                • Rehabilitasi                                                    A.   Structural safety: Keamanan Strktural
                                                                           tindakan yang dilakukan
                                                                                                                           1. Kekuatan bangunan
                                                                           sebelum munculnya suatu
         PERENCANAAN




                       PERENCANAAN                                                                                         2. Kebutuhan pintu keluar (standart 2 pintu)
                PENANGGULANGAN BENCANA
                                                                   TANGGAP
                                                                   DARURAT
                                                                           bencana. Tindakan-
                                                                                                                           3. Kelengkapan MCK
                           • Mitigasi                                      tindakan pra-bencana
                       • Kesiapsiagaan            BENCANA                                                                  4. System drainase
                    • Kontinjensi Planning                                 seperti tindakan kesiapan
                      • Capacity Building
                                                                           dan pengurangan resiko
                                                                                                                      B.   Non-structural safety: Keamanan Non Struktural
      Siklus PB                          TINDAKAN
                                                                           bencana jangka panjang.
                                                                                                                           1. Tata Ruang (Meja, Bangku, Lemari, Hiasan, Furniture)
                                                                           (UNDP, Tinjauan Umum
                                                                                                                           2. Aturan-aturan sekolah (Peringatan, Himbauan, dll)
                                                                           Manajemen Bencana edisi 2,
                                                                                                                           3. Papan informasi atau mading
     1992). Mitigasi merupakan bagian dari siklus manajemen bencana, seperti
                                                                                                                           4. Peta jalur evakuasi
     yang terlihat dalam gambar dibawah ini;
                                                                                                                           5. Titik aman/kumpul/titik temu
     Tujuan dari Mitigasi Bencana adalah:
     1). Mengidentifikasi kegiatan pengurangan resiko bencana di tingkat
                                                                                                                      C.   School Disaster Management Planning: Perencanaan Manajemen
              komunitas.
                                                                                                                           Bencana Sekolah
     2). Menjelaskan bagaimana kegiatan pengurangan resiko dapat dipadukan
                                                                                                                           1. Kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler sekolah : UKS, Kepramukaan, Pelatihan-
              dalam program pembangunan.
                                                                                                                              pelatihan lainnya
                                                                                                                           2. Aturan atau kegiatan Kebun/Taman Sekolah.
     Mitigasi bagi suatu komunitas sekolah bertujuan untuk mengidentifikasi
                                                                                                                           3. Pengelolaan dan perawatan sumber ancaman (system drainase dan
     bahaya dan resiko kemudian melakukan pengurangan resiko melalui
                                                                                                                              pengolahan limbah)
     perubahan kebijakan sekolah, penguatan fisik bangunan dan penguatan
     kapasitas guru, anak-anak dan komunitas.
                                                                                                                      D.   Keamanan lingkungan sekitar sekolah
     Konsep Mitigasi Bencana adalah:
                                                                                                                           1. Ancaman bencana disekitar sekolah
     •    Memahami & memetakan ancaman (Penyebab, sebaran, intensitas, elemen
                                                                                                                           2. Hubungan komunitas sekolah dengan komunitas masyarakat dalam
          beresiko, konsekuensi sosial)
                                                                                                                              pengelolaan ancaman
     •    Memahami & memetakan kapasitas & kerentanan (individu, keluarga,
          komunitas, pemerintah….)
     •    Menerapkan tindakan mitigasi; 1) Rekayasa & kontruksi, 2) Perencanaan fisik,
          3) Ekonomi, 4) Institusional & manajemen, 5) Berbasis sekolah dan
34        masyarakat.                                                                                                                                                                                    35
     •    Mengurangi resiko dengan mitigasi pasif & aktif misalnya : 1) Pensyaratan
          sesuai peraturan, pengontrolan kepatuhan, pemaksaan tindakan hukum,
     “MARI BANGKIT DAN SIAGA”   3.e. Materi Kelima:


                                     PENGENALAN ISU ANAK DALAM KEDARURATAN

                                Tujuan:
                                1.   Peserta memahami hak-hak anak dalam kedaruratan berdasarkan Konvensi
                                     PBB tentang Hak Anak dan Regulasi Nasional.
                                2.   Peserta memiliki kemampuan menyusun data terpilah terhadap kelompok
                                     khusus anak-anak berdasarkan jenis kelamin, usia, pendidikan, asal dan
                                     kondisi keluarga.
                                3.   Peserta mampu memetakan dampak bencana terhadap anak-anak dan bentuk
                                     kebutuhan khusus anak dalam kedaruratan bencana.

                                Metode:
                                §   Diskusi kelompok
                                §   Studi kasus (Alternatif 1)
                                §   Film singkat (Alternatif 2)

                                Waktu: 120 menit

                                Media dan Bahan:
                                §   Lembar kasus
                                §   Flipchart
                                §   Spidol
                                §   VCD & LCD
                                §   Film Singkat

                                Proses:
                                1.   Fasilitator menjelaskan tujuan kegiatan ini.
                                2.   Fasilitator melakukan curah pendapat terhadap defenisi anak, hak-hak dasar
                                     anak dan regulasi penanganan anak dalam kedaruratan bencana.
                                3.   Fasilitator meminta peserta untuk menjawab beberapa pertanyaan kunci
                                     terkait masalah anak dalam kedaruratan berdasarkan pengalaman bencana
                                     yang pernah terjadi.
                                4.   Fasilitator membagi peserta ke dalam 2-3 kelompok untuk mendiskusikan
                                     lembar kasus yang memuat masalah khusus yang dialami anak dalam situasi
36                                   bencana karena perbedaan jenis kelamin dan umur.                             37
                                5.   Setelah lembar kasus didiskusikan, setiap kelompok mempresentasikan
                                     hasilnya.
                                                                                                  BAHAN BACAAN
     6.   Fasilitator memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi
          dan mempertajam hasil diskusi kelompok. guna melihat adakah perbedaan
          dampak dan kebutuhan bagi anak, termasuk anak perempuan dan bayi .
     7.   Fasilitator menutup kegiatan dengan membuat kesimpulan bersama tentang          Defenisi Anak:
          dampak dan kebutuhan untuk anak dalam bencana.                                  Konvensi PBB tentang Hak Anak memberikan batasan yang disebut anak adalah: Pasal 1
                                                                                          KHA : “Setiap Orang Yang berusia di bawah 18 Tahun, Kecuali berdasarkan undang-
                                                                                          undang yang berlaku bagi anak ditentukan bahwa usia dewasa dicapai lebih awal”.

          BENCANA BERLAKU SAMA, DAMPAK BERBEDA                                            Berdasarkan Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang
                                                                                          disebut anak adalah: “ Seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun termasuk
                                                                                          anak yang masih dalam kandungan”

     Pertanyaan-pertanyaan Kunci:                                                         Dalam kondisi darurat atau bencana kelompok anak termasuk kelompok paling rentan dan
     1.   Di mana anak ketika bencana terjadi?                                            membutuhkan perlindungan khusus menurut Undang-undang Perlindungan Anak dan
     2.   Mengapa anak harus lebih diperhatikan?                                          Konvensi Hak Anak. yang termasuk adalam dalam situasi darurat adalah:
     3.   Bagaimana bencana mempengaruhi kehidupan anak?
     4.   Prosedur apa yang harus ditempuh untuk merefleksikan the best interest of the   ·Anak yang menjadi pengungsi
          child?                                                                          ·Anak korban kerusuhan
     5.   Aspek apa yang harus diperhatikan?                                              ·Anak korban bencana alam
                                                                                          ·Anak dalam situasi konflik bersenjata

                                                                                          Mengapa Anak menjadi kelompok rentan?
                                                                                          1.  Kondisi fisik (tenaga, daya tahan terhadap perubahan secara tiba-tiba)
                                                                                          2.  Kondisi mental (ketidaksiapan mental dengan perubahan drastis, trauma)
                                                                                          3.  Kurang pengalaman (naïve/novice – mudah diperdaya, jam terbang berhadapan
                                                                                              dengan situasi sulit, coping skill dan kemampuan bertahan hidup rendah)

                                                                                          Dampak bencana terhadap anak

                                                                                           NO.                    AKIBAT                               SEBAB
                                                                                            1.    Menjadi Pengungsi                Kehilangan tempat tinggal, bahkan ada yang
                                                                                                                                   kehilangan anggota keluarga
                                                                                            2.    Korban terbanyak (data)          Kondisi anak lemah dan rentan secara fisik
                                                                                                                                   sehingga butuh perlakuan yang berbeda.
                                                                                            3.    Mudah terserang penyakit         Karena daya tahan tubuh anak rentan terhadap
                                                                                                  (kerentanan)                     penyakit /perilaku
                                                                                            4.    Kurang gizi/Gizi Buruk           Krisis makanan atau disebabkan oleh makanan
38                                                                                                                                 instan                                         39
                                                                                            5.    Trauma psikis                    Kondisi psikis anak tidak siap
     6.   Hilangnya kesempatan terhadap      Akses pendidikan tidak ada /rusak                Catatan khusus Anak dan Remaja Perempuan
          akses pendidikan
                                                                                                        Anak-anak dalam keadaan darurat/bencana bisa berada dibawah resiko
     7.   Terlantar (identitas & perlindungan) Kehilangan sanak saudara
                                                                                              kekerasan seksual karena tingkat ketergantungan mereka yang tinggi, dimana
     8.   Korban traffiking                  Kehilangan sanak saudara, tidak adanya system    kemampuan untuk melindungi diri sendiri terbatas sementara tidak dalam posisi
                                             perlindungan dan regulasi ditingkat komunitas.   untuk mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Karena mereka memiliki sedikit
     9.   Eksploitasi ekonomi                Pengalaman Nias : anak menjadi pemulung besi,    pengalaman hidup, anak-anak juga lebih mudah dieksploitasi, ditipu dan dipaksa
                                                                                              dibandingkan dengan orang dewasa. Tergantung dari tingkat perkembangan mereka,
                                                                                              anak-anak tidak mengerti secara keseluruhan sifat dasar seksual dari tindakan
                                                                                              tertentu, dan mereka tidak mampu memberikan persetujuan sendiri. Perempuan
                                                                                              remaja dan wanita muda bisa menjadi target kekerasan seksual selama konflik
                                                                                              atau kesulitan ekonomi.



                                                                                              Penutup


                                                   Perlindungan khusus tersebut                         “Children caught up in an emergency
                                                   adalah :                                         have the same rights that all children have.
                                                   1. Keselamatan/keamanan diper-
                                                                                               The Convention on the Rights of the Child continues
                                                      jalanan, dipengungsian dan
                                                      tempat yang baru                           to fully apply, even during a state of emergency”
                                                   2. Pemenuhan gizi dan pelayanan
                                                      kesehatan
                                                   3. Pemulihan psikologis                                     Dalam situasi apapun,
                                                   4. Akses bermain dan belajar
                                                                                                           kepentingan terbaik bagi kami
                                                                                                         harus menjadi pertimbangan utama




40                                                                                                                                                                              41
                                                                                               BAHAN BACAAN
     3.f.   Materi Keenam:


            TANGGAP DARURAT DAN PERTOLONGAN PERTAMA
                                                                                       Berbagai sejarah bencana alam yang terjadi di Indonesia menunjukkan bahwa
     Tujuan:
                                                                                       Indonesia adalah wilayah yang rawan bencana. Setiap kali terjadi bencana alam,
     1.   Peserta mengetahui dan memahami akibat-akibat spesifik yang dialami anak-
                                                                                       setiap kali pula kejadian tersebut menimbulkan banyak korban jiwa. Banyak korban
          anak ketika terjadinya bencana
                                                                                       jiwa pada setiap bencana alam pada umumnya disebabkan ketidak tahuan
     2.   Peserta memperoleh pengetahuan praktis dan cepat tentang Pertolongan
                                                                                       masyarakat bagaimana bertindak ketika terjadi bencana.
          Pertama Pada Saat Bencana;

                                                                                       Sudah saatnya masyarakat dapat membuat perencanaan dan persiapan dalam
     Metode:
                                                                                       menghadapi bencan alam. Dengan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika
     ·   Curah pendapat
                                                                                       terjadi becana, besar kemungkinan hal tersebut akan menyelamatkan anda. Salah
     ·   Simulasi / Roleplay
                                                                                       satu hal terpenting ketika terjadi bencana adalah meminimalisir jumlah korban jiwa
     ·   Diskusi dengan Narasumber-dokter/Paramedis dan Psikolog
                                                                                       dengan meningkatkan pengetahuan bidang Pertolong Pertama.

     Waktu: 8 Jam (480 menit)
                                                                                       A.   PERTOLONGAN PERTAMA
     Media dan Bahan:
     ·   Flipchart
                                                                                       Prinsip Pertolongan Pertama
     ·   Spidol                                                                        “JANGAN MEMPERPARAH ATAU MENAMBAH CEDERA”
     ·   Bahan Bacaan (makalah narasumber)
                                                                                       Apa Itu Pertolongan Pertama
     Proses:                                                                           Ø     Pengertian P3K
     1.   Fasilitator menjelaskan tujuan kegiatan kepada peserta.                            P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan ) merupakan suatu tindakan
     2.   Fasilitator memperkenalkan Narasumber dan mempersilahkan untuk                     pertama kali diberikan /dilakuakn oleh orang yang telah atau memahami
          membagi pengetahuan dan pengalamannya tentang P3B dan Trauma Healing               tentang seluk beluk kesehatan dasar /anatomi dasar manusia kepada korban
          kepada peserta (proses berbagi pengetahuan dan pengalaman dari                     kecelakaan sebelum mendapatkan pertolongan yang lebih lengkap atau
          narasumber berlangsung sekitar 30 menit).                                          fasilitas kesehatan yang lebih baik
     3.   Fasilitator memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdialog dengan
          narasumber, khususnya berdasarkan temuan-temuan dari diskusi sebelumnya       Tujuan
                                                                                       Ø P3K Perhatian !!
          mengenai masalah kesehatan yang dialami pada saat/setelah bencana.            Pemberian Tidakan Yang salah pada korban kecelakaan dapat memperparah
     4.   Untuk materi-materi yang bersifat ketrampilan, Fasilitator meminta peserta    kondisi Korban
          untuk memperagakan cara-cara memberikan pertolongan pertama pada
          bencana dan trauma healing (tehnik evakuasi patah tulang, penghitungan        Adapun
                                                                                       Ø tujuan diberikan P3K adalah :
          denyut nadi, menggunakan stetoskop, pendarahan, pertolongan ibu hamil,           Mencegah
                                                                                        ü agar cedera yang timbul tidak lebih parah
          melahirkan, luka dalam dan luar, nafas buatan, dsb..                          ü  Menghentikan pendarahan
42   5.   Melakukan simulasi pertolongan pertama dan evakuasi korban                    ü  Melapangkan jalan nafas (menjamin fungsi pernafasan dapat berfungsi)             43
                                                                                           Mencegah
                                                                                        ü nyeri
                                                                                        ü  Terselamatkan dari bahaya maut semaksimal mungkin.
     Dasar-dasar pertolongan pertama adalah:
     Ø                                                                                   2: BREATHING (PERNAPASAN)
     Dalam pemberian tindakan P3K yang menjadi prinsip dasar adalah:                        • Tetap dengan posisi ADTD, Lakukan L D R : Lihat, Dengar dan Rasakan
        Penilaian
     ü Dini                                                                                    (Lakukan selama 10 detik)
     ü  Pemeriksaan fisik                                                                   • Lakukan Pemeriksaan Sekunder dengan meraba atau memeriksa
     ü  RJP ( Bantuan pernafasan)                                                              bagian kepala, badan, lengan dan tangan, pinggang/pinggul, tungkai
     ü  Posisi pemulihan                                                                       dan kaki, seluruh tubuh korban. Untuk mengetahui bagian yang luka
                                                                                               atau cidera.
                                                                                            • Akan ditemukan : Korban Bernafas atau Tidak Bernafas
     B.   Tindakan Pertolongan pada korban bencana                                          • Jika Korban Bernafas; lanjutkan dengan tindakan pemeriksaan
                                                                                               sekunder dan posisi pemulihan
     Peniliaian Pertama                                                                     • Jika Korban Tidak Bernafas; lakukan Resusitasi Jantung Paru
     D . R .s. A . B . C
     •      Danger       =   Bahaya (ancaman atau resiko yang mungkin                    3: CIRCULATION (SIRKULASI DAN KONTROL PERDARAHAN)
                             membahayakan sipenolong)                                       ·  Memeriksa adanya sirkulasi darah yang di pompakan jantung
     •    Response       =   Tanggapan (reaksi korban, apakah hidup, mati, pernafas            Pemeriksaan Nadi di Leher selama 10 detik
                             atau pingsan)                                                     NADI
                                                                                            · ADA Catat Frekuensi selama semenit
     •    Shout for help =   Minta bantuan (untuk memindahkan korban atau                      NADI
                                                                                            · TIDAK ADA KOMPRESI JANTUNG…!!!
                             membawa korban ke layanan kesehatan terdekat)                     a. Berlutut di samping (kanan/kiri???) korban
     •    Airway         =   Jalan Nafas                                                       b. Temukan titik kompresi jantung
     •    Breathing      =   Pernafasan                                                        c. Lakukan Kompressi 15x kompresi kemudian Berikan kembali 2 kali
     •    Circulation    =   Sirkulasi                                                            nafas buatan
                                                                                               d. RESUSITASI JANTUNG PARU (RJP) Bantuan datang atau Nafas
          1: AIRWAY (JALAN NAPAS)                                                                 Spontan
             • Lakukan A D T D (angkat dagu tekan dahi)

                                                                                        Kemampuan melakukan langkah-langkah pertolongan pertama
                                                                                      hanya bisa dipahami dengan melakukan latihan secara terus menerus
                                                                                          dan mempelajari buku panduan khusus Pertolong Pertama
                                                                                              dari lembaga-lembaga yang sudah berpengalaman.


                                                                                                “BERPACU MELAWAN WAKTU…”




44                                                                                                                                                                  45
     C.   Langkah Kedua: Evakuasi Korban

     Setelah memeriksa keadaaan umum korban dan memberikan penanganan awal pada
     luka, maka tugas terakhir adalah mengevakuasi korban untuk memperoleh
     penanganan lebih lanjut dari para medis. Hal-hal penting melakukan evakuasi sbb :

          1. Pertahankan jalan nafas yakni dengan:
             a. Fleksi kepala (posisi kepala lebih
                tinggi dari badan)
             b. Memberikan oksigen
             c. Jaga jarak nafas
             d. Intubasi (memasukkan selang
                oksigen kesaluran nafas)

          2. Kalau patah tulang diberikan immobilisasi
             (tidak pergerakan) berupa:
             8 yang dipasang melewati
                 Spalik (kayu)
                 persendian
             8   Gibs
             8   Collar neck




          3. Transportasi
             Bila jalan didaerah bencana dan daerah bencana ditempat terpencil
             sehingga kendaraan tidak bias masuk maka perlu dipersiapkan tandu dan
             orang yang bertugas mengangkat tandu. Untuk mengangkat pasien               D.   Tindakan Pasca Bencana Alam
             sebaiknya 4 orang dengan posisi tandu sejajar, jangan sampai miring. Yang
             didepan sebaiknya adalah orang yang kuat yang bisa mensejajarkan tandu.               Pasca bencana alam seperti gempa bumi, ada beberapa prioritas yang harus
             Disetiap tandu disediakan pengikat disetiap sudutnya sehingga korban        dilakukan untuk menolong para korban, terutama korban yang menderita luka-luka
             aman walaupun daerah yang dilalui berbatu atau rusak.                       dan korban kehilangan harta benda.
                                                                                         Bencana alam biasanya merusak seluruh infrastruktur sepertri fasilitas air bersih,
                                                                                         rumah sakit, jaringan telepon, jaringan listrik, sekolah, rumah ibadah dan fasilitas
                                                                                         lainnya. Berbagai fasilitas umum seperti sekolah tidak dapat digunakan karena juga
46                                                                                       menjadi tempat penampungan pengungsi. Rumah sakit penuh dan tidak dapat                47
                                                                                         menampung korban karena pasien menolak pulang lantara rumah mereka juga
                                                                                         hancur.
     1.   Evakuasi Pengungsi                                                                    tersedianya suplai obat-obatan dasar, menyediakan peralatan kesehatan, suplai
          Evakuasi merupakan bagian dari manajemen resiko yang digunakan untuk                  darah, dan melakukan pendampingan psiko sosial.
          mencegah jatuhnya korban jiwa lebih banyak, dan mengurangi kerugian                   Tindakan di atas dilakukan untuk mengurangi jumlah korban sakit dan
          masyarakat akibat bencana alam. Tindakan evakuasi antara lain memindahkan             mencegah kematian, mencegah munculnya wabah penyakit, mengefektifkan
          korban yang meninggal dunia ketempat pengumpulan mayat dan korban                     koordinasi kerja di bidang kesehatan, memfungsikan pelayanan emergency dan
          selamat ke tempat yang lebih aman, membangun tempat tinggal sementara                 memudahkan korban memperoleh pelayanan kesehatan.
          (pengungsian) dan kemudian mengembalikan mereka ke tempat asal jika
          situasi sudah pulih.                                                             4.   Air Bersih dan Sanitasi
          Dalam beberapa pengalaman di tanah air, warga saat menghadapi bencana                 Penyediaan air bersih menjadi tindakan pertama yang harus dilakukan di
          melakukan tindakan evakuasi sendiri, menyelamatkan diri dan mencari tempat            wilayah bencana. Penyediaan air bersih melalui tangki-tangki air yang dikirim
          yang lebih aman. Tetapi mereka tetap perlu dibantu dan dikoordinir oleh pihak         dari daerah lain atau membuat sumur baru. Penggunaan air bersih juga untuk
          yang berwenang atau organisasi yang ditunjuk resmi oleh pemerintah. Bantuan           menjamin tidak terjadi penyebaran penyakit dan menjaga kesehatan, terutama
          tersebut antara lain pemilihan dan penggunaan jalur evakuasi serta pemilihan          bagi wanita dan anak-anak, serta menjaga kebersihan lingkungan. Tindakan
          tempat penampungan sementara sehingga mereka lebih mudah dikoodinir.                  darurat lainnya adalah memperbaiki sistem sanitasi seperti MCK (mandi, cuci,
          Tempat penampungan korban bencana alam harus memiliki akses yang baik                 kakus), agar pengungsi dapat menjalankan kehidupan yang lebih sehat.
          dan mudah dijangkau oleh alat transportasi, mudah bagi pembangunan fasilitas
          air bersih dan sanitasi, memiliki tempat penyimpanan logistik, dan mudah bagi    5.   Penyediaan Makanan
          relawan melakukan koordinasi dengan pihak-pihak yang terkait.                         Makanan yang dibutuhkan korban bencana alam adalah makanan instant tetapi
                                                                                                tetap dengan standar gizi yang baik. Dan secara bertahap, mereka harus
     2.   Tenda Darurat/Tempat Tinggal Sementara                                                mengganti pola makan dengan makanan yang dibuat para relawan di dapur
          Bencana alam seperti gempa bumi membuat ribuan orang secara bersamaan                 umum.
          kehilangan tempat tinggal. Karena itu, tindakan yang paling mendasar untuk            Korban bencana alam harus mudah mendapatkan makanan yang aman dan
          menyelamatkan para korban bencana alam adalah menyediakan tenda darurat.              sehat selama operasi kemanusiaan dalam kurun waktu dua pekan sampai satu
          Tenda dibangun di dekat rumah yang runtuh atau di tempat yang lebih aman              bulan. Makanan dengan gizi tinggi akan menjamin para korban selamat tetap
          Berdasarkan pengalaman bencana gempa bumi dan tsunami di Nanggroe Aceh                hidup sehingga mereka bisa beraktivitas kembali.
          Darussalam dan di Pulau Nias (Sumater Utara), tenda yang diberikan kepada
          para korban bencana adalah tenda yang mampu menampung satu keluarga              6.   Pendidikan dan Perlindungan Anak
          dengan ukuran yang bervariasi. Tetapi tenda tersebut tahan cuaca, mampu               Pasca bencana alam, penyelenggaraan pendidikan sekolah dasar dan sekolah
          menahan udara dingin malam hari dan mencegah panas di siang hari, sehingga            menengah pertama harus beroperasi kembali dalam keadaan darurat selama
          korban bencana benar-benar terlindungi. Tindakan lainnya adalah ikut                  enam bulan pertama. Anak-anak juga harus mendapatkan pelajaran dan
          membantu memperbaiki rumah dengan bahan-bahan bangunan yang masih                     memperoleh fasilitas peralatan sekolah termasuk textbook.
          tersedia. Tetapi hal ini dilakukan setelah ada sikap dari pihak berwenang yang        Tindakan lain adalah menjamin keselamatan anak-anak dari tindak kekerasan,
          menyatakan wilayah bencana telah aman untuk dihuni kembali.                           mencegah terjadi perdagangan anak-anak, eksploitasi, dan mencegeh anak-
                                                                                                anak terpisah dari orang tua (secondary separation). Anak-anak juga sebaiknya
     3.   Kesehatan                                                                             mendapatkan bantuan pemulihan psiko-sosial melalui kegiatan rekreatif,
          Pasca bencana alam, jumlah korban meninggal dunia dan luka-luka sangat                bermain, melatih ketrampilan, dan pendampingan.
          besar sehingga tidak tertampung di rumah sakit atau puskesmas. Pada saat
48        yang bersamaan, kebutuhan obat-obatan dasar juga meningkat. Tindakan yang        7.   Teknologi dan Informasi                                                         49
          perlu dilakukan adalah membangun rumah sakit darurat, membantu                        Sistem komunikasi yang baik memudahkan para relawan atau organisasi
                                                                                                kemanusiaan memberikan informasi yang akurat tentang data korban dan jenis
          barang bantuan yang dibutuhkan. Dengan demikian, korban bencana alam              10. Koordinasi dan Keamanan
          memperoleh bantuan dengan tepat dan cepat, terutama bagi mereka yang                  Lembaga-lembaga sosial perlu berkoordinasi dengan pemerintah untuk
          berada di wilayah pedesaan. Peralatan telekomunikasi digunakan untuk                  membantu, memonitor, melaporkan dan menganalisa berbagai keperluan bagi
          membantu koordinasi kerja antara organisasi yang berada di wilayah bencana            korban bencana alam. Hal ini akan membantu pemerintah menghadapi
          dengan pemerintah, sehingga kerjasama mereka berjalan dengan baik, dan                kemungkinan terjadi bencana berikutnya dan untuk menjaga keselamatan para
          penggunaan sumber daya dapat dimaksimalkan. Peralatan komunikasi yang                 petugas kemanusiaan itu sendiri. Koordinasi dilakukan untuk mencegah
          diperlukan biasanya telepon satelit, handy talkie (single short band), dan lain       adanya gap dan tumpang tindih pekerjaan (overlap). Langkah koordinasi untuk
          sebagainya.                                                                           membantu pemerintah melakukan monitoring penggunaan terakhir bantuan,
                                                                                                mempekuat koordinasi bencana di tingkat nasional, dan membantu tanggap
     8.   Logistik                                                                              bencana.
          Penyediaan dan penyaluran logistik yang baik menjadi tulang punggung
          suksesnya tugas penyelamatan manusia di wilayah bencana. Tindakan ini
          meliputi menyediakan fasilitas angkutan, pergudangan, dan melakukan               E.   Tips Penyelamatan Untuk Bencana Banjir
          koordinasi pengiriman bantuan bahan makanan. Secara umum tindakan yang
          dilakukan adalaj menjamin penyaluran logistik berjalan efisien. Diperlukan                  BANJIR kembali melanda berbagai daerah dan kerugian harta benda akibat
          kerjasama yang baik antara pihak yang berwenang seperti Bakornas dengan           banjir sudah bermiliar rupiah. Kerugian materiil umumnya berupa kerusakan jalan,
          lembaga-lembaga sosial.                                                           jembatan, dan fasilitas umum, selain kerusakan peralatan rumah tangga. Belum lagi
                                                                                            korban jiwa maupun gangguan kesehatan pada mereka yang terpaksa mengungsi.
     9.   Pemulihan Awal
          Tindakan yang dilakukan adalah membantu memindahkan warga yang tinggal                    KERUGIAN di atas umumnya disebabkan oleh tidak adanya persiapan
          di tenda-tenda penanpungan ke rumah sementara, dan memberikan                     menghadapi banjir, sehingga saat banjir datang masyarakat tidak mampu
          kesempatan untuk mereka berusaha kembali dengan membuka warung kecil-             menyelamatkan harta benda bahkan jiwa keluarganya.
          kecilan.
          Pengertian pemulihan awal ini berbeda dengan proses jangka menengah yang                   Guna mengurangi kerugian akibat banjir dan secara darurat merenovasi
          meliputi rehabilitasi dan rekonstruksi. Tindakan di lapangan adalah hal-hal       sarana-prasarana publik pascabanjir, berikut ini disajikan beberapa teknik evakuasi
          yang berkaitan dengan proses pemulihan dan membantu perbaikan                     dan renovasi darurat sederhana dan tepat guna yang dapat dipersiapkan oleh
          infrastrukur, tempat penampungan sementara, dan tempat-tempat pelayanan           masyarakat maupun pemerintah dari sebelum banjir, saat terjadinya banjir, maupun
          umum.                                                                             untuk perbaikan pascabanjir.
          Masa pemulihan awal biasanya selama dua bulan, kemudian diikuti dengan fase
          rehabilitasi dan rekontsruksi. Selain membangun tempat tinggal sementara,         Pada gambar-gambar yang disajikan, bisa diikuti beberapa metode tepat guna untuk
          juga membangkitkan kembali berusaha dan memanfaatkan barang-barang                mengantisipasi kerugian material dan jiwa saat banjir.
          bekas gempa yang masih dapat digunakan kembali, memberikan pelatihan
          singkat.                                                                          a.   Konstruksi plafon. Digunakan untuk evakuasi/menaruh barang-barang
          Bagi korban bencana alam yang bekerja di sektor pertanian, pemulihan awal              penting (mesin, elektronik, dan lain-lain). Setiap rumah di daerah langganan
          berarti memberikan kesempatan kepada kembali ke ladang dan untuk                       banjir hendaknnya membuat konstruksi ini dengan cara memperkuat
          menghilangkan ketergantungan mereka terhadap bantuan. Tindakan bantuan                 konstruksi pilar ruang tengah dan plafonnya.
          yang dapat dilakukan diantaranya memperbaiki saluran irigasi yang rusak, dan      b.   Pengikatan bambu (atau kayu), drum minyak bekas, batang pohon pisang.
50        memperbaiki sumur yang menjadi sumber air, memberikan bantuan hewan                    Dapat digunakan sebagai rakit evakuasi sederhana untuk mengangkut wanita,        51
          ternak, ayam, kambing, sapi. Dan memperbaiki kandangnya.                               anak-anak, dan juga barang-barang penting.
     c.   Karet ban bekas dan ember plastik berbagai ukuran. Alat evakuasi                    3.g . Materi Ketujuh:
          sederhana baik untuk pengangkutan maupun alat bantu renang yang dapat
          dipersiapkan sebelum banjir dan dipakai saat banjir.                                                           SIMULASI BENCANA
     d.   Tali dengan berbagai ukuran. Sangat diperlukan dalam kondisi banjir, misal
          sebagai pengaman sewaktu berjalan keluar dari lokasi banjir, mengikat barang-
                                                                                              Tujuan:
          barang berharga (misal persediaan kayu untuk bangunan) agar tidak hanyut,
                                                                                              ·    Memberikan pemahaman praktis peserta training DRR dan komunitas sekolah
          mengevakuasi ternak, menambatkan diri di atas pohon, dan seterusnya.
                                                                                                   dalam melakukan tindakan kedaruratan bencana.
                                                                                              ·    Melatih ketrampilan peserta dalam melakukan tahapan pertolongan pada
                                                                                                   korban bencana
     Lalu bagaimana penanganan pasca banjirnya?
                                                                                              Metode:
               Pada gambar selanjutnya disajikan pula cara-cara sederhana yang bisa
                                                                                              ·   Presentasi
     dilakukan masyarakat bersama pemerintah.
                                                                                              ·   Curah Pendapat
     a.    Jembatan sederhana dari bambu. Sangat diperlukan untuk menghubungkan
                                                                                              ·   Simulasi Bencana
           daerah- daerah yang terputus, sambil menunggu dana perbaikan. Jembatan
           bambu bisa digunakan sampai bentang 30 meter.
                                                                                              Waktu: 4 Jam (240 Menit)
     b.    Perbaikan jalan dengan konstruksi sederhana. Jalan- jalan setelah banjir
           biasanya rusak berat. Konstruksi jalan sederhana dapat diterapkan dengan
                                                                                              Media/bahan:
           memanfaatkan material lokal berupa batu-batuan dan pasir yang ada.
     c.    Pembuatan alat penyaring air bersih. Setelah banjir biasanya masyarakat            ·   Lokasi Simulasi (gedung dekolah, dan lingkungan warga)
           kesulitan air bersih karena seluruh sumber air yang ada, termasuk sumur, akan      ·   Perlengkapan tanggap darurat (Tenda, first aid, pengeras suara, dll)
           mengandung lumpur. Alat sederhana berupa saringan pasir cepat seperti pada
           gambar atau pemakaian tawas dapat digunakan.                                       Proses:
                                                                                              1.   Fasilitator menjelaskan tujuan dan skenario simulasi bencana
               Sebelum datang banjir sebaiknya di setiap rumah di lokasi langganan banjir     2.   Membagi peran setiap orang dan kelompok
     atau lokasi yang diperkirakan akan mengalami banjir karena kesalahan penggunaan          3.   Peninjauan, persiapan dan penataan lokasi simulasi
     lahan di sekitarnya mempersiapkan diri dengan alat evakuasi sederhana. Tentu saja        4.   Memberitahuan warga sekitar lokasi simulasi dan menjelaskan peran warga
     pada masyarakat kelas menengah ke atas dapat menggunakan alat-alat yang lebih                 dalam proses simulasi
     modern seperti perahu karet, rompi pelampung, dan sebagainya.                            5.   Melaksanakan kegiatan simulasi
                                                                                              6.   Melakukan evaluasi dan diskusi kelemahan, keuntungan dan kendala simulasi
              Instansi terkait dan pemerintah daerah hendaknya sesegera mungkin
     memasyarakatkan pola-pola preventif penyelamatan bencana banjir yang bisa                Peralatan Pendukung Simulasi :
     dilakukan oleh masyarakat luas dengan stimulan/insentif tertentu, karena                      Handy
                                                                                              Ø came untuk merekap proses simulasi agar mudah dievaluasi dan
     tampaknya banjir akan selalu melanda sampai hutan dan daerah aliran sungai yang               pengembangan kegiatan, (rekaman audio visual)
     dewasa ini hancur diperbaiki kembali.                                                         Camera
                                                                                              Ø untuk mendokumentasikan secara gambar
                                                                                              Ø    Pengeras suara (Mega phone, dll)
     (Dr. Ing. Ir. Agus Maryono Peneliti Banjir, Ekohidraulik dan Lingkungan, Sekjen Asehi,        Lonceng
                                                                                              Ø sekolah dan bambu kentongan disekitar rumah warga
52                 Ketua Magister Sistem Teknik Konsentrasi Mikrohidro FT UGM)                     Kardus,
                                                                                              Ø Karton dan Busa (untuk Peragaan bangunan runtuh)                               53
                                                                                                   Tandu
                                                                                              Ø dan Perlengkapan First Aid (persiapan untuk tim medis)
                                                                                                   Tandu
                                                                                              Ø tradisional (kayu, bambu, sarung, meja, dll)
     ØHT / Hand Phone dan Radio sebagai sarana komunikasi (situasional)                Laporan Gambar:
      Terpal
     Ø Biru untuk pembuatan posko darurat dan penampungan pengungsi
     ØPeralatan darurat untuk patah tulang (pelepah pisang, papan kecil, tali rapia,                       SKENARIO
      dll)
     Ø petunjuk Jalur Evakuasi
      Papan                                                                            SIMULASI PENYELAMATAN DARI BENCANA DI SEKOLAH
     Ø Nama : Posko Kesehatan, Dapur Umum, Posko Informasi, dll
      Papan                                                                                         "JENIS BENCANA GEMPA"


                                                                                       A.   Pendahuluan
                                                                                            1. Lokasi Simulasi : SD Dao-dao Satua, Kecamatan Lalowau, Nisel

                                                                                            2. Tujuan Simulasi :
                                                                                               ·  Memberikan pemahaman praktis peserta training DRR dan komunitas
                                                                                                  sekolah dalam melakukan tindakan kedaruratan bencana.

                                                                                            3. Peserta Simulasi
                                                                                                  Guru
                                                                                               · peserta training DRR     :   20 orang
                                                                                                  Siswa
                                                                                               · SD                       :   40 orang
                                                                                               ·  Aparat Desa             :   5 orang
                                                                                                  Staf
                                                                                               · dan Kader PKPA           :   5 orang
                                                                                               ·  Kader Kesehatan Desa    :   10 orang
                                                                                               ·  Warga masyarakat        :   10 Perempuan dan 10 Laki-laki

                                                                                               Peninjau Simulasi
                                                                                               ·  JUH-FAT                 : 2 orang
                                                                                               ·  YEU-Nias                : 1 orang




54                                                                                                                                                                  55
                                                                                                            Sebagian warga merasakan
                                                                                                            adanya goyangan pada tanah
                                                                                                            yang mereka pijak dan juga
                                                                                                            guru-guru yang ada diruang
                                                                                                            kantor, sesaat sebelum
                                                                                                            goyangan tersebut berubah
                                                                                                            menjadi goncangan, mereka
                                                                                                            masih belum menyadari,
                                                                                                            hanya sekejab berjaga-jaga
                                                                                                            saja, warga masyarakat lain
                                                                                                            tidak merasakan goyangan
                                                                                                            tersebut, karena mereka
                                                                                                            sedang asyik melakukan
                                                                                                            aktivitas sekolah.




                                               Beberapa warga perempuan sedang asyik
                                               berbincang, ada yang sedang mengasuh bayi,
                                               ada pula yang sedang mencuci baju, dan
     B.   Awal kejadian                        sebagainya. Anak-anak sedang asyik bermain,
                                               ada yang didalam kelas, ada pula yang di luar
     Pada pukul 11.00 wib saat                 kelas.
     berlangsungnya aktivitas belajar
     mengajar di sekolah SD Dao-dao satua,     Beberapa guru dan warga yang sedang terjaga-
     anak-anak kelas I dan II sedang           jaga karena goyangan tersebut, masih belum
     melaksanakan kegiatan olah raga           mencurigai apapun yang akan terjadi hanya
     halaman sekolah, anak kelas III-VI        s e ke d a r m e l i h a t d a n m e m p e r h a t i k a n
     sedang mengikuti belajar didalam kelas.   disekitarnya, tiba-tiba goyangan berubah
     Sebagian guru-guru sedang berdiskusi di   menjadi goncangan yang sangat hebat, kekuatan
     ruang kantor sekolah. Beberapa warga      gempa diperkirakan 8,5 pada Scala Richter.
     dao-dao satua yang berada disekitar       .....guru dan warga yang berjaga-jaga tersebut
56   sekolah duduk-duduk didepan rumah         segera berteriak GEMPA........GEMPA........dan                                             57
     sambil berbincang satu dengan yang        mereka memukul apa saja untuk memberi tanda
     lainnya.                                  PENYELAMATAN DIRI. Beberapa warga sudah
     meraih benda disekitarnya dan memukul TANDA                     anggota keluarganya yang punya keterbatasan dalam penyelamatan diri,
     DARURAT, guru penjaga memukul lonceng sekolah                   beberapa lansia telah berhasil diusung keluar karena tidak kuat jalan.
     berkali2, spontan suasana menjadi kacau. Anak-anak,             Beberapa menyelamatkan anak-anak mereka. Pada saat goncangan besar
     guru dan semua warga yang menyadari munculnya                   tersebut terjadi warga melakukan penyelamatan sesaat segera, oleh
     BAHAYA tersebut, segera melakukan evakuasi dan                  anggota keluarganya masing-masing,
     penyelamatan:
                                                             D.   Skenario Kedaruratan setelah gempa reda
     C.   Skenario penyelamatan Saat Gempa                        Namun karena begitu besarnya goncangan yang mereka alami, beberapa rumah
                                                                  warga telah roboh rata dengan tanah, dan beberapa penghuninya sudah tidak
          Dalam ruang kelas:                                      sempat lagi menyelamatkan diri. Salah satu ruang kelas juga runtuh dan
          Ø  Guru kelas memberikan instruksi kepada               menimpa sebagian siswa yang terjebak didalam ruangan kelas. Goncangan kecil
             siswa untuk tenang dan berlindung dibawah            masih berlalu hingga beberapa menit, namun korban manusia maupun
             meja.                                                bangunan telah banyak berjatuhan.
             Mengatur
          Ø proses keluar kelas melalui pintu
             secara bertahap: .setiap tahap 5-10 dimulai          Goncangan bumi berangsur mereda, namun kepanikan masih terjadi, terutama
             dari barisan depan atau baris sejajar dimulai        pada warga yang rumahnya roboh, beberapa orang merintih kesakitan,
             dari yang dekat dengan pintu.                        beberapa orang pingsan karena tertindih bangunan. Bagi warga, anak-anak dan
          Ø  Anak-anak yang lain tetap berlindung                 guru yang selamat, turut melakukan penyelamatan kepada warga lain yang
             dibawah meja belajar dan berpegangan pada            terkena musibah.
             kaki meja, menunggu giliran keluar.
                                                                  Dari kejauhan terdengar komando-komando dari Ketua Tim Siaga Bencana
          Penyelamatan di luar kelas                              Tingkat Desa, “........intinya menenangkan warga.......memberi peringatan agar
          Ø  Anak-anak yang sedang bermain-main                   segera menjahui bangunan-bangunan untuk mengantisipasi gempa
             segera menjauh dari bangunan-bangunan                susulan,......dan tim evakuasi segera melaksanakan tugasnya. Tim evakuasi
             dan jongkok di halaman sekolah/ jalan-jalan          bergerak dengan satu personil kader kesehatan desa untuk menangani korban
             dan tempat terbuka lainnya secara                    gempa.
             berkelompok.
          Ø  Guru yang tadinya berada di ruang kantor             Ketua Tim Siaga Bencana segera menghubungi instansi Gawat Darurat untuk
             segera keluar kelas dan menenangkan anak-            meminta pertolongan pertama, Juga menghubungi SATLAK, POLSEK, PMI,
             anak yang ketakutan dan panik.                       Puskesmas, untuk minta bantuan segera. Kemudian Ketua Tim Siaga Bencana
             Guru dan
          Ø Ibu-ibu yang sedang berkumpul                         melakukan koordinasi dengan anggota tim yang lain untuk penanganan
58           sempat panik dan berlari keluar bangunan,            keadaan darurat tersebut. Sementara warga menunggu bantuan muncul (yang          59
             berjongkok menjaga keseimbangan, namun               biasanya cukup lama) maka masyarakat dan tim sekolah melakukan
             ada pula yang masih sibuk menyelamatkan              pengorganisasian sendiri dengan :
                                                                          Warga telah menyiapkan alat seadanya sebagai tandu untuk membawa korban
                                                                          ke tempat aman (evakuasi)
                                                                         ØPertolongan Pertama bagi warga korban luka-luka. ( 2 orang patah kaki, 1 orang
                                                                          patah tangan, 1 orang patah tulang rusuk, 2 orang pingsan dan 1 bayi pingsan).
                                                                         ØKader-kader Kesehatan memberikan pertolongan pertama kepada
                                                                          korbanluka-luka, banyak yang luka patah kaki dan tulang belakang. Merujuk ke
                                                                          puskesmas terdekat.
                                                                         ØPenanganan bagi warga yang shock.
                                                                         ØBeberapa ibu menenangkan warga yang masih shock.




                      ØMendirikan Posko Darurat, sebagai pusat data,     ØEvakuasi ke tempat aman, bagi semua anak sekolah
                       informasi dan koordinasi.                         ØTim Siaga Sekolah: melakukan evakuasi ketempat yang lebih aman
                       Dengan berkoordinasi dengan Kepala Sekola dan     ØPenyediaan Penampungan sementara yang aman (nyaman) untuk semua warga
                       Kepala Desa, ditetapkan disebuah tempat sebagai    yang mengungsi.
                       Posko Darurat, tempat untuk mengatur semua arus   ØTim Barak/Penampungan telah mengerjakan tempat penampungan sementara
                       informasi, baik informasi dari warga tentang       ditempat yang aman dan nyaman.
                       bantuan penyelamatan/evakuasi, laporan ada yang   ØPenyediaan Dapur umum dan makanan.
                       sakit, luka-luka dan sebagainya.                   Bagian
                                                                         Ø dapur dan Logistik telah menyediakan peralatan dan bahan-bahan
                                                                          makanan untuk diberikan kepada para warga.
     ØPenyelamatan bagi
                                                                         Data dan Informasi
      warga yang masih
                                                                              Bagian
                                                                         Ø Pendataan dan Informasi, menerima semua informasi dari warga,
      terjebak didalam
                                                                              melanjutkan kepada Tim-tim yang lain yang berkaitan untuk ditindak lanjuti.
      rumah/reruntuhan.
                                                                         Ø    Keamanan
      Ketua
     Ø Tim Siaga
                                                                         Ø    Penyediaan air bersih, dan MCK *) cukup di data lokasi-lokasi yang dapat
      Bencana mengatur
                                                                              diakses atau didapat untuk kebutuhan tersebut – keberadaan akes terebut
60    jalannya evakuasi                                                                                                                                     61
                                                                              berdasarkan informasi warga.
      para korban yang
      masih terjebak.
     E.   Evaluasi
          Demikainlah kira-kira bentuk simulasi Penanganan
          Darurat saat Bencana terjadi, memadukan antara
          kesiapsiagaan sekolah dengan warga disekitar sekolah.
          Dengan demikian yang akan dievaluasi oleh Tim Desa
          dan Sekolah adalah:                                     BAGIAN 4
          Ø   Koordinasi dan mengolah informasi.
          Ø   Ketersediaan bahan/alat yang paling dibutuhkan
              pada saat emergency.
                                                                  Materi Khusus Anak-Anak
          Ø   Kemampuan penanganan korban.
          Ø   Kemampuan penyediaan tempat penampungan
          Ø   Kesiapsiagaan Tim Sekolah dan Warga

     Catatan:
                                                                  A.   PENDAHULUAN
     Skenario ini hanya membantu memberi gambaran tentang
                                                                       Ketika terjadi bencana alam, anak-anaklah yang paling rentan terkena dampaknya.
     hal-hal harus ditangani oleh Tim Siaga Sekolah dan Bencana        Terutama sekali jika pada saat kejadian, anak-anak sedang belajar di sekolah.
     Tingkat Desa/Sekolah, dapat dikembangkan sendiri oleh tim         Gempabumi di Pakistan pada bulan Oktober 2005 menyebabkan lebih dari 16 ribu
     sekolah dan masyarakat sesuai kebutuhan lokal.                    anak-anak meninggal akibat runtuhnya gedung sekolah. Longsor lahan di Leyte,
                                                                       Philipina menewaskan lebih dari 200 anak sekolah. Dari dua contoh kejadian tadi,
     Lolowau, 10 Juni 2008                                             seharusnya kita berupaya melindungi anak-anak kita sebelum bencana terjadi.
                                                                       Sehingga pada saat bencana tiba anak-anak lebih siap secara mental dan kapasitas
                                                                       untuk menyelamatkan diri.
     Misran Lubis
     Kord. PKPA Emergency Aid.                                    B.   MATERI YANG DIPERKENALKAN
                                                                       B.1 Pengenalan jenis bencana (Film Animasi)
                                                                       B.2 Mitigasi Bencana (Mengenal ancaman disekitar sekolah, rumah dan
                                                                           lingkungan)
                                                                       B.3 Mempersiapkan diri menghadapi bencana (Tips dan Tas Siaga Bencana)
                                                                       B.4 Teknik penyelamatan saat terjadi bencana (Simulasi)

                                                                  C.   METODE DAN MEDIA
                                                                       1. Diskusi kelompok
62                                                                     2. Permainan                                                                       63
                                                                       3. Film Animasi Bencana
                                                                       4. Gambar bencana
     D.   WAKTU                                                                                 bencana, kerusakan dan gangguan lainnya disekitar sekolah, didalam
          Masing-masing materi 90 Menit, total 6 jam                                            kelas, diperjalanan dan dirumah masing-masing.
                                                                                          12.   Fasilitator akan membantu mencatat dan menganalisa temuan anak-anak
     E.   PROSES                                                                                terhadap sumber-sumber ancaman dan bahaya.
          1. Fasilitator memulai dengan perkenalan antar peserta, cara perkenalan         13.   Pada sesi akhir fasilitator mengajak anak-anak mendiskusikan usaha-
              dengan mengajak anak-anak menuliskan nama panggilan, hoby, warna                  usaha yang dapat dilakukan untuk menghindari bencana atau kecelakaan.
              kesukaan, asal sekolah atau alamat. Kemudian meminta peserta saling         14.   Fasilitator kemudian membacakan kembali hasil yang telah dicapai anak-
              bertukat meta plan. Peserta kemudian berdiri membentuk lingkaran,                 anak selama pelatihan dan meinta anak-anak untuk menanggapi atau
              setiap peserta membacakan data di meta plan tersebut. Peserta yang                menanyakan kembali jika masih ada hal-hal yang meragukan.
              sedang dibacakan datanya diminta maju satu langkah.                         15.   Sebelum sesi pelatihan ditutup, fasilitator menjelaskan kepada anak-anak
          2. Fasilitator kemudian menguji ingatan peserta dengan meminta                        bahwa besok ada kegiatan bersama dengan guru-guru untuk melakukan
              menyebutkan nama-nama temannya minimal 5 nama setiap orang.                       simulasi, anak-anak akan mendapat peran-peran tertentu dalam simulasi
          3. Setelah peserta dianggap saling mengenal, kemudian fasilitator mengajak            tersebut.
              peserta untuk bernyanyi sambil jalan berkeliling, kedua tangan menempel     16.   Acara ditutup dengan bernyanyi bersama dan diakhiri dengan doa, salah
              dibahi teman yang ada depannya. Lagu yang dinyanyikan misalnya: Kereta            seorang anak diminta untuk membacakan doa.
              Api , Lihat Kebunku, dll.
          4. Tahap selanjutnya: peserta dipersilahkan duduk melingkar dan fasilitator
              menjelaskan dengan lemah lembut dan penuh keceriaan menjelaskan
              maksud dari pelatihan ini.
          5. Materi pertama Pengenalan jenis bencana, fasilitator menayangkan film
              animasi bencana, salah satunya adalah film animasi yang diproduksi oleh
              WVI. Fasilitator meminta anak-anak untuk memperhatkan dan mengingat
              apa yang ditayangkan dalam fim animasi.
          6. Selesai melihat film, fasilitator mencoba bertanaya kepada anak-anak
              beberapa pertanyaan antara lain: Siapa tokoh kartun dalam film tersebut?,
              bencana apa saja yang dimunculkan dalam film animasi, apa penyebab
              gunung berapi meletus, apa dampak dari penggundulan hutan, dll.
          7. Setiap peserta yang berani memberikan jawaban selalu di puji dan
              mendapatkan aplaus dari fasilitator.
          8. Untuk memperdalam pemahaman anak-anak tentang bencana, fasilitator
              meminta anak-anak untuk membentuk kelompok. Jumlah kelompok 4-5
              kelompok, masing-masing kelompok diminta membuat gambar bencana
              yang mereka ketahui dan membuat sedikit penjelasan maksud dari
              gambar-gambar tersebut.
          9. Acara diselingi dengan permainan atau bernyanyi untuk mencairkan
              suasana dan membuat forum menyenangkan.
          10. Materi kedua, Mitigasi benana (metode transex work). Peserta tetap dalam
64            kelompok yang sama.                                                                                                                                          65
          11. Setiap kelompok akan diajak untuk mengamati dan memperhatikan
              bahaya-bahaya ataua ancaman yang dapat menimbulkan kecelakaan,
        BAHAN BACAAN ANAK
                                                                                                                        TSUNAMI
                                                                                                                        Tsunami (gelombang pasang) umumnya menerjang pantai
                                                                                                                        landai. Asal-usul kejadiannya dapat dihubungkan dengan
        PENGENALAN JENIS BENCANA DAN PENYEBABNYA                                                                        adanya tektonik (selanjutnya disebut gempa) dan letusan
                                                                                                                        gunung api. Tsunami yang berhubungan dengan gempa
     APA ITU BENCANA?                                                                                                   dan letusan gunung api merupakan bencana alam lain
          SUATU KEJADIAN DAPAT DISEBUT BENCANA JIKA:                                                                    yang kedatangannya tidak dapat diramal. Pada umumnya
          1. Peristiwa luar biasa yang terjadi tiba-tiba atau bertahap                                                  tsunami dapat terjadi jika kekuatan gempa diatas 6 skala
          2. Menimbulkan korban jiwa (orang mati atau luka-luka)                                                        Richter
          3. Merusak aset kehidupan manusian (tanaman, ternak, rumah, dll)
                                                                                                                        BANJIR
          4. Membuat orang takut, trauma, keresahan, dll
                                                                                                                        Banjir, sebenarnya merupakan bencana alam paling dapat
                                                                                                                        diramalkan kedatangannya, karena berhubungan besar
     APA PENYEBAB BENCANA?
                                                                                                                        curah hujan. Banjir juga dapat disebabkan oleh kelalaian
         1. Bencana disebabkan oleh faktor alam
                                                                                                                        manusia, misalnya Penggundulan hutan, buah sampah
         2. Bencana disebabkan oleh kelalaian atau kecerobohan manusia
                                                                                                                        disepanjang jalur sungai atau mendiirikan rumah di
         3. Bencana karena perang atau kerusuhan (konflik)
                                                                                                                        sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS).

     APA SAJA JENIS BENCANA                                                                                             GUNUNG API
          YANG DISEBABKAN OLEH FAKTOR ALAM?                                                                             Gunung api adalah suatu lubang bumi, yang dari lubang
                                                                                                                        tersebut dapat dikeluarkan ini bumi berupa padatan
            JENIS BENCANA                             PENJELASAN                                                        panas, cairan panas dan gas panas. Beberapa tipe
                                   GEMPA BUMI                                                                           letusan gunungapi dapat diramalkan pemunculannya,
                                   Gempa bumi adalah gejala alam,berupa sentakan alamiah                                karena umumnya memiliki selang waktu letusan.
                                   yang terjadi di bumi, yang bersumber di dalam bumi dan
                                   merambat ke permukaan. Gempa adalah salah satu                                       LONGSOR
                                   bencana alam yang dapat diramalkan. Ada tiga jenis                                   Longsor merupakan gejala alam untuk mencapai kondisi
                                   gempa bumi yang biasa dikenal yaitu:                                                 kestabilan kawasan tanah. Manusia juga dapat menjadi
                                   1. Gempa tektonik, yaitu yang berkaitan erat dengan                                  pemicu terjadinya longsor misalnya:
                                       pembentukan patahan, sebagai akibat langsung dari                                1. Mengurangi pohon yang dapat menyerap air
                                       tumbukan antar lempeng pembentuk kulit bumi,                                     2. Melakukan pengerukan tanah atau batu di lereng bukit
                                       biasanya kekuatan gempa diatas 5 SR                                                   atau gunung.
                                   2. Gempa vulkanik, yaitu gempa berkaitan dengan                                      Ketika curah hujan tinggi maka potensi longsor sangat
                                       aktivitas gunung api. Umumnya berkekuatan kurang                                 tinggi.
                                       dari 4 skala Richter
                                   3. Gempa Terban yang muncul akibat longsoran/terban
                                                                                            Adik-adik, masih banyak contoh-contoh lain dari bencana yang disebabkan
                                       dan merupakan gempa kecil
                                                                                            oleh faktor alam, misalnya badai, amblesan dan kekeringan.
66                                                                                                                                                                                 67
                                                                                            Nah sekarang mari kita lihat disekitar lingkungan kita, apa yang mungkin
                                                                                            dapat menjadi sumber bencana.
     JENIS BENCANA YANG DISEBABKAN OLEH MANUSIA:                                         F.   TIPS PENYELAMATAN GEMPA DI SEKOLAH
     1.   Kegagalan teknologi, misalnya jatuhnya pesawat terbang, pabrik meledak, dll.
     2.   Konflik, perang antar negara, perang antar suku, kerusuhan, dll                          Sekali gempa bumi melanda, orang tidak punya kesempatan
     3.   Penyalah gunaan teknologi, misalnya bom atom, penyakit menular yang            menyelamatkan rumah atau barang-barang lainnya. Berdasarkan pengalaman,
          disebarkan melalui virus ciptaan manusia.                                      banyak korban tewas atau menderita luka-luka karena terlalu cepat menyelamatkan
     4.   Kejadian luar biasa, gizi buruk, penyakit menular, dll                         diri sehingga tertimpa reruntuhan bangunan. Pada saat gempa disarankan tidak
     5.   Kebakaran rumah penduduk dan kebakaran hutan                                   panik dan tetap tenang sambil mencari tempat perlindungan. Ada beberapa cara
                                                                                         untuk memperkecil risiko kerusakan dan menghindari korban jiwa atau luka-luka.
     Adik-adik sekarang mari kita diskusikan mengapa manusia bisa menyebabkan
     terjadinya bencana.                                                                 DALAM KEADAAN NORMAL
                                                                                         8 kalau kita tinggal di daerah rawan bencana
                                                                                            Ketahuilah
     Kita juga dapat menghindari munculnya bencana atau mengurangi resiko                8 peta lingkungan sekolah dan sekitarnya
                                                                                            Memahami
     bencana dengan mengenal jenis bencana, penyebab dan langkah-langkah                 8  Memperhatikan letak pintu dan jalur evakuasi yang aman
     pencegahannya.                                                                      8  Belajar melakukan P3K
                                                                                         8  Belajar menggunakan alat Pemadam Kebakaran
                                                                                         8  Mencatat Nomor Telpon Penting (Polisi, Satlak, dll)
                                                                                         8 Sekolah diatur menempel pada dinding di paku atau di ikat dengan
                                                                                            Perabotan
     SEKARANG KITA AKAN BERKELILING KAMPUNG DAN SEKOLAH KITA.                               baik
            MASING-MASING SIAPKAN PERALATAN TULIS DAN                                    8  Penataan meja dan bangku dengan rapi dan tidak terlalu rapat
                      MEMBENTUK KELOMPOK.                                                8  Letakkan benda yang berat sedapat mungkin berada pada bagian bawah
                                                                                         8  Selalu mematikan air dan listrik apa bila sedang tidak digunakan
                                                                                         8  Berikan tanda jalur evakuasi yang aman untuk anak-anak
     TUGAS KITA ADALAH:
     1.  Mencatat peristiwa bencana yang
         pernah terjadi dikampung kita                                                   SAAT BENCANA TIBA
         dalam 5 tahun terakhir, kalau adik-
         adik tidak ingat boleh bertanya                                                 A.   JIKA ANDA DI DALAM KELAS
         kepada orang tua ?                                                                   • Lindungi kepala dan badan anda dari reruntuhan bangunan (dengan
                                                                                                 bersembunyi dibawah meja, dll).
     2.   mencatat kondisi-kondisi yang                                                       • Berlari keluar apabila masih dapat dilakukan, jika tidak carilah tempat
          menurut adik-adik tidak aman,                                                          perlindungan
          tidak sehat dan bisa mencelakai
          atau mencederai kita di sekolah dan                                            B.   JIKA ANDA BERADA DI LUAR KELAS
          dikampung kita.                                                                     • Jauhi bangunan yang ada di sekitar anda
                                                                                              • Perhatikan dan hindari apabila terjadi rekahan tanah
     3.   lalu adik-adik membuat usulan apa                                                   • Jauhi pantai untuk menghindari terjadinya Tsunami
          yang seharusnya dapat dilakukan                                                     • Apabila di pegunungan hindari daerah yang mungkin terjadi longsoran.
68                                                                                                                                                                         69
          agar bisa mencegah kejadian-
          kejadian tersebut sehingga tidak
          berkepanjangan.
     C.   SETELAH GEMPA BUMI BERHENTI
          1. Jangan masuk ke dalam rumah meski guncangan gempa telah berbenti.
             Masuk ke dalam kelas atau rumah sangat sulit dan berbahaya. Pastikan
             kembali ke dalam rumah setelah mendapat pemberitahuan dari pihak yang
             berwenang bahwa gempa tidak akan terjadi lagi.
          2. Gunakan sepatu alas kaki yang kuat untuk menghindari pecahan kaca, paku,
             dan reruntuhan bangunan lainnya.
          3. Periksalah di sekitar apakah ada yang mengalami cedera. Jika ada yang luka
             segera berikan obat luka. Jika luka parah, jangan dipaksa untuk digotong.
             Selimuti agar korban tetap hangat, dan mencari pertolongan segera.
          4. Waspadalah terhadap kemungkinan terjadi sumber api dari listrik, ledakan     BAGIAN 5
             gas, atau sumber-sumber api lainnya.
          5. Periksalah persediaan makanan atau minuman yang masih bisa
             diselematkan di dalam lemari. Gunakan sebagai bahan persediaan untuk
                                                                                          Evaluasi dan Penutupan
             beberapa hari sambil menunggu bantuan.




                                                                                          Tujuan:
                                                                                          1.   Untuk mengetahui kembali kemampuan peserta dalam memahami materi
                                                                                               training.
                                                                                          2.   Membangun komitmen bersama pengimplementasian usaha pengurangan
                                                                                               resiko bencana di sekolah

                                                                                          Metode:
                                                                                          ·   Tugas individual
                                                                                          ·   Curah pendapat

                                                                                          Waktu: 60 menit
                                                                                          Media dan Bahan:
                                                                                          ·   Kertas kerja evaluasi materi, proses, pelaksana dan Follow-up
                                                                                          ·   Plano, spidol dan flip cart

                                                                                          Proses:
                                                                                          1.   Fasilitator menjelaskan tujuan dari kegiatan ini.
                                                                                          2.   Untuk menyegarkan suasana Fasilitator bisa meminta seluruh peserta
70                                                                                             bernyanyi dengan lagu yang memberi semangat dan gembira atau melakukan   71
                                                                                               permainan-permainan, misalnya penyegaran dengan permainan: “Instruksi
                                                                                               peringatan bencana-Siaga-Waspada-Awas
          8
          Peserta dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing memiliki nama dari                  8   Linking school to community: Hubungan sekolah dengan masyarakat
          jenis bencana.                                                                           sekitar
          8
          Masing-masing kelompok berbaris membentuk 4 Jalur dan masing-masing             5.   Fasilitator menutup proses pelatihan dengan kembali mengingatkan peserta
          baris saling berhadapan membentuk 4 segi.                                            tentang pentingnya usaha-usaha pengurangan resiko bencana melalui institusi
                                                                                               sekolah dan membangun hubungan lintas sektor ditingkat komunitas, jenjang
                                                                                               struktural. Layanan kesehatan, kepolisian dan lembaga-lembaga non-
                                                                                               pemerintahan.
                                                                                          4.   Dan yang paling utama melakukan latihan-latihan secara reguler dan terencana
                                                                                               tentang simulasi penyelamatan dan analisa kerentanan serta ancaman sekolah
                                                                                               terhadap bencana.




          8 menunjuk salah satu kelompok untuk memulai peringatan
              Fasilitator
              bencana, kelompok yang ditunjuk (con: banjir) akan memulai peringatan di
              awali dari peserta urutan belakang. Peserta di belakang memulai instruksi
              peringatan dengan menyebut “Siaga” sambil menepuk bahu orang
              depannya, kemudian orang yang didepan megatakan “ Siaga” hingga prang
              ke-4, orang ke empat akan mengatakan “waspada” sambil menepuk orang
              paling depan, orang paling depan mengatakan “awas” di iringi kata-kata
              nama kelompok lainnya sambil ditunjuk kelompok mana yang jadi sasaran.
          8 yang menjadi sasaran atau disebutkan nama kelompoknya akan
              Kelompok
              melakukan langkah yang sama, dengan terlebih dahulu orang paling depan
              pindah kebelakang dan langsung mengatakan “Siaga” demikian proses
              selanjutnya....
          8 1) orang penyebutan nama kelompok yang ditunjuk tidak tepat
              Hukuman:
              atau salah nama yang disebut. 2) instruksi peringatan bencana tidak
              berurutan.
          8 ini untuk menguji kecermatan, kecepatan, kerjasama dan
              Kegiatan
              kemampuan peserta mendengar instruksi.
     3.   Kemudian Fasilitator membagikan lembar evaluasi ke setiap peserta yang
          berisikan : Materi pelatihan, Metode, Media dan Bahan, Partisipasi Peserta,
          Fasilitator, Pengetahuan apa yang diperoleh, Pembelajaran apa yang diperoleh,
          dan pernyataan komitmen).
     4.   Fasilitator dan peserta menyusun rencana tindak lanjut menyusun rencana
          keselamatan sekolah. Bentuk Rencana Tindak Lanjut Sekolah adalah:
          8   School Disaster Management Planning: Perencanaan Manajemen Bencana
72            Sekolah                                                                                                                                                         73
          8 disaster education: Peluang keberlanjutan pendidikan bencana
              Sustained
              disekolah
Waktu/Jadwal Kegiatan   a. Terlalu lama
                        b. Terlalu cepat
                        c. Sedang-sedang saja
     Komentar lain:                             Lembar Kerja Sekolah Siaga Bencana


                 LEMBAR CATATAN PEMBACA MODUL     DAFTAR NOMOR KONTAK UNTUK KONDISI DARURAT


                                                       NAMA KONTAK             ALAMAT              TELP-1        TELP-2

                                                 POLISI                                             110
                                                 AMBULANCE                                          118
                                                 PEMADAM KEBAKARAN                                  113
                                                 SAR                                                115
                                                 PLN                                                123
                                                 TELKOM
                                                 PKPA EMERGENCY AID     MEDAN & GUNUNG SITOLI   (061) 8200170 (0639) 323516
                                                 SATKORLAK-PROVINSI
                                                 SATLAK-KABUPATEN
                                                 SATGAS-KECAMATAN
                                                 LINMAS-DESA
                                                 PMI-KABUPATEN
                                                 BMG
                                                 RUMAH SAKIT
                                                 PUSKESMAS
                                                 KANTOR DESA




76                                                                                                                            77
     Lembar Kerja Sekolah Siaga Bencana                                 Lembar Kerja Sekolah Siaga Bencana


     GAMBARLAH DENAH SEKOLAH ANDA DAN RUTE EVAKUASI                             AGENDA LATIHAN PENGURANGAN RISIKO BENCANA


                                                                          JENIS LATIHAN    TANGGAL KEGIATAN JUMLAH PESERTA      KETERANGAN
        PETA SD SATUA-SIMULASI BENCANA
                                                                        SIMULASI BENCANA
                                                                        TRAINING UKS
                                                          RUMAH WARGA
                                                                        KEPRAMUKAAN
                                                                        PERTOLONGAN
                                   Gedung SD Satua
                                                                        PERTAMA (P3K)

                                                                 I
                                        HALAMAN                AS
                                                             KU
                                                           VA
                                                         RE
                                                       LU
                                                     JA
          JALUR
                                                                         KONTROL PERSEDIAAN DAN FASILITAS SEKOLAH SIAGA BENCANA
                  EVAK
                      UASI
                                     UASI
                                 EVAK R
                                   JALU




                                                                         JENIS PERLENGKAPAN         KONDISI   TGL. KONTROL      KETERANGAN

                                                                        PERSEDIAAN P3K
                                                                        PERALATAN EVAKUASI
                                                                        MCK
                                                                        SANITASI DAN DRAINASE
                                                                        PETUNJUK JALUR
                                                                        EVAKUASI




                                                                              PETUGAS KONTROL                          DIKETAHUI OLEH:
                                                                                                                       KEPALA SEKOLAH




                                                                          ___________________________             ___________________________
78                                                                                                                                              79
     DAFTAR BACAAN YANG SARANKAN:                                                           SEKILAS TENTANG PKPA-EMERGENCY AID

     A.   Regulasi International dan Nasional                                                        PKPA-EMERGENCY AID (PEA) adalah unit kerja yang dibentuk pasca
          1. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 tentang                   bencana alam gempa bumi dan tsunami di Sumatera. Untuk ini dibentuk untuk
             Penanggulangan Bencana;                                                        mengorganisir seluruh kegiatan-kegiatan PKPA yang berkaitan dengan isu
          2. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 tentang                   kebencanaan baik masa tanggap darurat, pemulihan hingga kegiatan-kegiatan jangka
             Perlindungan Anak;                                                             panjang untuk pengurangan resiko bencana di Indonesia.
          3. Kerangka Kerja Aksi Hyogo 2005-2015, Membangun Ketahanan Bangsa
             dan Komunitas terhadap Bencana;
          4. Rencana Aksi Nasional untuk Reduksi Bencana, 2006 – 2010;                      A.   Tujuan Pembentuk PEA-PKPA
          5. Prinsip-prinsip Panduan bagi Pengungsi Internal, UN OCHA 2001;
          6. Pengurangan Bencana di Asia, Informasi ISDR, terbitan 1 tahun 2005.            B.1. Goal
                                                                                                 Anak-anak terselamatkan dan terlindungi dalam situasi bencana
     B.   Buku-buku Referensi
          1. Modul Pelatihan Tanggap Darurat Bencana Berperspektif Perempuan dan            B.2. Tujuan Khusus
             Anak, untuk personil/relawan organisasi/Lembaga Swadaya Masyarakat,                 PKPA Emergency Aid bertujuan untuk:
             Penerbit FBCB-Sumatera;                                                             1. Membangun mekanisme, system, struktur kerja serta prioritas layanan
          2. Buku Saku, Pedoman Menghadapi Bencana Gempa dan Tsunami, KOGAMI-                       yang diberikan kepada anak-anak korban bencana konflik dan bencana
             UNESCO-ISDR;                                                                           alam.
          3. Towardsa Culture of Prevention: Disaster Risk Reduction Begins at School. UN        2. Mempersiapkan tenaga sukarelawan/lembaga kemanusiaan yang sensitif
             ISDR-UNESCO, 2007;                                                                     anak
          4. Mainstreaming Disaster Risk Reduction, (a tool for development                      3. Memberikan bantuan dan respon kemanusiaan khususnya anak di daerah
             organisations): TEAR FUND, 2006.                                                       bencana yang meliputi bencana alam dan konflik di Indonesia.
          5. Panduan Pelatihan Pertolongan Pertama, Johanniter Unfall Hilfe, 2007.               4. Melakukan usaha pegurangan resiko bencana (disaster risk reduction)
                                                                                                    berperspektif anak
     C.   Artikel/Makalah
          1. Modul Bencana (Seputar Beberapa Bencana di Indonesia), oleh: Eko Teguh         C.   Cakupan Kerja PEA-PKPA
              Paripurno;
          2. Artikel Iptek: Penanganan dan Pendidikan Bencana: Belajar Dari                 C.1. Bentuk bencana yang ditangani
              Jepang, oleh Ubedilah Badrun, Internet, Download Sabtu, 23 Desember                A. Bencana Karena Manusia (Human Diasater), meliputi konflik bersenjata,
              2006 01:49:58;                                                                        konflik sosial, kebakaran berskala besar, Endemi dan ledakan bom.
          3. Pengenalan Disaster Risk Manajemen (DRM), oleh Jonatan A. Lassa, PIKUL,             B. Bencana Alam (Natural Disaster) meliputi: Gempa bumi, Tsunami, Letusan
              2003.                                                                                 Gunung Merapi, Banjir, Tanah Longsor, Kelaparan dan Kekeringan.

                                                                                            C.2. Wilayah Kerja PEA-PKPA
                                                                                                 Secara umum wilayah kerja PKPA mencakup seluruh wilayah Indonesia, namun
                                                                                                 fokus perorganisasian program berkedudukan di Medan, Propinsi Sumatera
80                                                                                               Utara, Indonesia.                                                             81
     D.   Srategy Penanganan Bencana Berperspektif Anak                                 PROFIL PENYUSUN MODUL
          Metode pananganan anak korban bencana yang dilakukan oleh PKPA merujuk
          pada Standart International penanganan pengungsi yang disebut ”Sphere
                                                                                        Nama              : Misran Lubis
          Project”, International Strategy Disaster Reduction (ISDR) dan standart
                                                                                        Tempat/Tgl. Lahir : Pasaman, 24 February 1975
          International lainnya yang relevan bidang Pendidikan Emergency (Interagency
                                                                                        Alamat Kantor     : Jln. Abdul Hakim, Pasar 1 No. 5A Medan,
          Network for Education in Emergencies), Bidang Kesehatan Emergency dan
                                                                                                            North Sumatra, Indonesia 20132
          Perlindungan Anak dalam Situasi Emergency. Guadlines tersebut dimodifikasi
                                                                                                            Phone : +6261- 820 0170, +6261-820 1113
          sesuai dengan kebutuhan dan kondisi Geografis Indonesia. Siklus penanganan
                                                                                                            Hotline: +6261-821 1117, Fax: +6261-821 3009
          meliputi 4 Phase sinergis yaitu : Emergency, Recovery, Rehabilitasi &
                                                                                                            Mobile : 0812 606 4126, Email : lubiscom@yahoo.com
          Rekonstruksi dan Penguatan Kelompok Anak untuk Pengurangan Resiko
                                                                                        Jabatan           : Area Manajer
          Bencana.
                                                                                                            Pusat Kajian dan Perlindungan Anak (PKPA)-Kantor Nias/
                                                                                                            Center for Study and Child Protection – Nias Office

     Salam
                                                                                        Pendidikan Formal : Fakultas Agama Islam-Universitas Muhammadiyah Sumatera
                                                                                                            Utara, Tamat Tahun 2001

                                                                                        Pendidikan Non-Formal
                                                                                        1.  Kursus Metodologi Penelitian 3 (tiga) Minggu di PPK-Universitas Gajah Mada,
                PKPA MERINTIS                                                               2001
     JALAN PENGURANGAN RESIKO BENCANA                                                   2.  Training of Trainer Hak Azasi Manusia, Medan, 2002 By CESDA- LP3ES
                                                                                        3.  Training Penggunaan Sphere Project Standard, Yogyakarta, 2003 By. OXFAM
              BERBASIS SEKOLAH                                                              GB-YEU
                                                                                        4.  Training of Trainer Disaster Management and Preparedness (DMPT),
                                                                                            Yogyakarta, 2004 By. ACT-YEU-CWS-YTB-I
                                                                                        5.  Training of Trainer, Community-based Disaster Risk Management, CBDRM,
                                                                                            Jambi, 2005 By. WALHI

                                                                                        Work and organizational experiences
                                                                                        1.  Volunteer advokasi di Bitra Indonesia Foundation (1999-2000)
                                                                                        2.  Kordinator Divisi Riset dan Pengebangan PKPA-Medan (2000-2004)
                                                                                        3.  Area Manager Tim Kemanusiaan YEU-Yogyakarta di Nias (Desember 2004-Juni
                                                                                            2005).
                                                                                        4.  Kordinator Tim Kemanusiaan PKPA di Nias (2005 – 2006).
                                                                                        5.  Kordinator Tim Kemanusaan PKPA di Yogyakarta Jawa Tengah (2006-2007).
                                                                                        6.  Area Manajer PKPA-Nias (2007-Sekarang)


82                                                                                                                                                                        83
     Pengalaman Fasilitator DRR
     1.  Training CBDRM bagi masyarakat di Aceh Tenggara, tahun 2005, penyelenggara
         Yakkum Emergency Unit (YEU)
     2.  ToT DRR bagi staf dan Kader PKPA di Nias, Meulaboh, Jantho dan Simeulue,
         tahun 2007, kerjasama PKPA dan Cristian Aid.
     3.  Training kesiapsiagaan bencana sekolah di SDN Luaha Bouse dan Afia,
         Gunungsitoli, tahun 2007, kerjasama PKPA dan KNH-Jerman.
     4.  Pelatihan respon bencana berperspektif perempuan dan anak bagi aktivis LSM,
         tahun 2008. Penyelenggara FBCB-Sumatera dan PESADA Sidikalang.
     5.  Training DRR Berbasis sekolah di SDN Dao-dao satua dan SDN Faondrato Sowo,
         Kecamatan Lolowau, tahun 2008. Kerjasama PKPA dan The Johanniter.




84

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2349
posted:5/1/2010
language:Indonesian
pages:45
Description: panduan-penyelamatan-gunung-merapi pdf