Kajian Peluang Investasi

Document Sample
Kajian Peluang Investasi Powered By Docstoc
					                                           KAJIAN PASAR DAN
                                           PELUANG
                                           INVESTASI KAKAO




4.1   Kajian Pasar Komoditi Kakao
4.1.1 Kebutuhan, Pemenuhan, dan Peluang Pasar Global
      Menurut PT. Bank Ekspor Indonesia (Persero), konsumsi kakao dunia saat ini mencapai 2,9
      juta ton per tahun, sedangkan produksi dunia hanya sekitar 2,8 juta ton per tahun. Dengan
      demikian, masih terdapat kekurangan pasokan sebanyak 0,1 juta ton per tahun. Seiring dengan
      terus meningkatnya permintaan pasar terhadap kakao, maka perlu dilakukan usaha untuk
      meningkatkan ekspor dengan lebih meningkatkan lagi produksi nasional dengan
      memperhatikan mutu dari kakao tersebut.


      Menurut Asosiasi Kakao Indonesia, produksi kakao dunia saat ini mencapau 3 juta ton per
      tahun. Dari 3 juta produksi kakao dunia, 50 persen atau 1,5 juta ton berasal dari Pantai Gading
      sedangkan Indonesia menguasai pasar 6 persen atau sekitar 580.000 ton. Produksi kakao
      Indonesia terus meningkat dari 200.000 ton pada awal 2000 dan naik menjadi 580.000 ton
      pada 2004 (Sinar Harapan Nomor 0518).


      Semakin meningkatnya permintaan yang tidak diiringi dengan pasokan yang memadai
      mengakibatkan harga kakao di pasar internasional mengalami kenaikan dari 1.173 pound
      sterling pada bulan Mei 2002 menjadi 1.279 pound sterling pada Juli 2002. Kurangnya pasokan
      dunia disebabkan oleh anjloknya ekspor kakao dari Negara Pantai Gading, yang selama ini



                                                                                                IV - 1
                                                                     Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



          memduduki urutan pertama produsen kakao dunia akibat kemelut politik yang melanda negara
          tersebut.


          Keadaan kurangnya pasokan kakao di pasar dunia merupakan peluang besar bagi produsen
          kakao Indonesia untuk terus meningkatkan produksi. Namun peningkatan produksi dan
          ekspor kakao Indonesia harus diiringi dengan peningkatan mutu kakao tersebut. Di pasar
          dunia terutama Eropa, mutu kakao Indonesia dinilai rendah karena mengandung keasaman
          yang tinggi, rendahnya senyawa prekursor flavor, dan rendahnya kadar lemak, sehingga harga
          kakao Indonesia selalu mendapatkan potongan harga cukup tinggi sekitar 15% dari rata–rata
          harga kakao dunia.


          Menurut data dari PT. Bank Ekspor Indonesia (Persero), hingga saat ini kakao umumnya
          dikonsumsi oleh penduduk di negara-negara maju terutama di Eropa. Konsumsi per kapita per
          tahun tertinggi ditempati oleh Belgia dan Luxemburg, yaitu rata-rata 5,63 kg per kapita, disusul
          Swiss (4,55 kg per kapita), Inggris (3,71 kg per kapita), Jerman (3,47 kg per kapita), dan
          Perancis (3,15 kg per kapita).


          Pemasaran kakao Indonesia telah mecapai pasar dunia dan cenderung menunjukkan
          peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 1998, Indonesia mengekspor kakao dalam bentuk biji
          kering sebanyak 278.146 ton dengan nilai ekspor sebesar US$. 382.502.000. Jumlah ekspor ini
          mengalami peningkatan yang tinggi, di mana jumlah ekspor kakao Indonesia pada tahun 2000
          sebesar 333.619,37 ton dengan nilai ekspor US$. 233.052.235 dan pada tahun 2002 sebanyak
          365.650 ton dengan nilai ekspor sebesar US$. 520.671.608. Pada tahun 2003, jumlah ekspor
          kakao Indonesia mengalami penurunan, di mana jumlah ekspor sebanyak 265.838 ton dengan
          nilai ekspor US$. 410.277.734. Data ekspor kakao biji pada tahun 2000 sampai 2003 dapat
          dilihat pada Tabel 4.1.


          Tabel 4.1 Ekspor Biji Kakao Indonesia Tahun 2000 Sampai 2003
                      Tahun                          Volume (ton)     Nilai Ekspor (US$)
                       1998                           278.146,00          382.502.000
                       1999                              TAD                 TAD
                       2000                           333.619,37          233.052.235
                       2001                           302.670,03          272.368.480
                       2002                           365.649,87          520.671.608
                       2003                           265.838,06          410.277.734
          Sumber : Statistik Perdagangan Luar Negeri, Ekspor.

          Keterangan : TAD = tidak ada data




 IV - 2                 Komoditi
                                 Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
                  Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



     Grafik perkembangan jumlah ekspor dan nilai ekspor Indonesia berdasarkan data pada Tabel
     4.1 dapat dilihat pada Gambar 4.1 dan Gambar 4.2.




                             400.000,00
                            300.000,00
                     Volume
                            200.000,00
                      (ton)
                            100.000,00
                                    0,00
                                           1998   2000   2001    2002   2003
                                                         Tahun


                 Gambar 4.1 Grafik Volume Ekspor Indonesia Tahun 1998-2003




                                 600.000.000
                                 500.000.000
                    Nilai Ekspor 400.000.000
                                 300.000.000
                        (US$)    200.000.000
                                 100.000.000
                                           0
                                               1998 2000 2001 2002 2003
                                                            Tahun


                   Gambar 4.2 Grafik Nilai Ekspor Indonesia Tahun 1998-2003


4.1.2 Kebutuhan, Pemenuhan, dan Peluang Pasar Nasional
     Kebutuhan kakao dalam negeri masih dianggap sedikit, yaitu hanya sekitar 250 ribu ton per
     tahun (Trust Edisi 35, Tahun 2005, 01-Juni-2005). Sementara, produksi kakao Indonesia
     mencapai 425.000 ton per tahun (Kompas 4 Mei 2005). Namun, rendahnya kebutuhan kakao
     nasional itu bukan tanpa sebab. Hal ini terjadi karena pemerintah menetapkan Pajak
     Pertambahan Nilai (PPN) 10% untuk setiap kakao yang dibeli pabrik di dalam negeri.
     Sebaliknya, apabila petani mengekspor produknya ke luar negeri, maka tidak dikenakan PPN.
     Dengan demikian, petani lebih suka melakukan ekspor.


     Pada tahun 1996, Indonesia menjadi produsen kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan
     Ghana. Sejak tahun 1999, dengan produksi 400.000 ton/tahun, Indonesia tetap menjadi
     produsen kakao terbesar ketiga setelah Pantai Gading dan Nigeria (Indomedia, 2001). Dan saat




                                                                                            IV - 3
                                                                    Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



          ini, Indonesia menjadi produsen bahan baku kakao ke dua setelah Pantai Gading dengan
          menguasai 6 % pasar dunia (Asosiasi Kakao Indonesia dalam Sinar Harapan Nomor 0518).
          Kendati produsen kakao terbesar dunia, faktanya industri kakao sulit tumbuh dan berkembang
          di Indonesia. Menurut Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) Piter Jasman,
          industri kakao lokal ada 15 perusahaan, tidak termasuk asing.


          Dengan melihat perbandingan antara kebutuhan dalam negeri terhadap produksi nasional,
          dapat dikatakan kebutuhan kakao dalam negeri dapat terpenuhi. Selanjutnya, diharapkan
          dengan lebih berkembangnya industri perkakaoan di dalam negeri maka akan semakin
          membuka peluang dalam mempermudah pemasaran kakao.


4.1.3 Struktur Pasar Komoditi Kakao Global dan Nasional
          Sistem tata niaga kakao terbagi menjadi dua jalur, yaitu pemasaran dalam negeri ke pabrik dan
          pemasaran ke luar negeri. Gambaran jalur tata niaga kakao di Indonesia dapat dilihat pada
          Gambar 4.3 Di dalam mata rantai pemasaran tersebut, sortasi dilakukan oleh pedagang
          interinsuler/eksportir, sedangkan pengeringan biji kakao dilakukan oleh pedagang pengumpul
          atau petani.



                  Petani                     Pedagang Interinseluler/                Pabrik
                  Produsen                   Eksportir (Provinsi)




                                             Pedagang Pengumpul
                                                   (Desa)
                  Keterangan :
                          : selalu menjual
                          : kadang-kadang menjual



                                 Gambar 4.3 Jalur Tata Niaga Kakao


          Negara-negara produsen kakao di dunia antara lain adalah Brazil, Kamerun, Ghana, Nigeria,
          Equador, Pantai Gading, Republik Dominika, Indonesia, dan Malaysia. Di antara negara –
          negara penghasil kakao tersebut, pada tahun 1996 Indonesia berada pada tingkat ketiga setelah
          Pantai Gading (Cote d’Ivoire) dan Ghana, walaupun berdasarkan luas kebun yang di panen
          berada diurutan ketujuh. Di Indonesia, sebagian besar biji kakao di ekspor ke luar negeri.
          Permintaan yang tinggi untuk kakao banyak dari negara Belanda, Amerika, dan Italia.




 IV - 4              Komoditi
                                 Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
                  Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



     Pemasaran biji kakao Indonesia telah mencapai pasar Internasional. Sebagian besar biji kakao
     Indonesia di ekspor ke luar negeri, walaupun sudah ada beberapa industri pengolahan biji
     kakao menjadi produk setengah jadi. Perkembangan ekspor biji kakao dari Indonesia relatif
     menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, sehingga ini merupakan peluang bagi
     Indonesia untuk dapat memperoleh pendapatan devisa dari komoditi ini. Hal yang sangat
     menentukan tingkat harga di pasar internasional adalah mutu biji kakao. Oleh sebab itu, yang
     perlu diperhatikan oleh produsen kakao terutama Indonesia adalah kualitas dari biji kakao yang
     diekspor.


     Pokok utama permasalahan dinilai rendahnya mutu kakao Indonesia di pasar Internasional
     antara lain disebabkan oleh hama dan umur tanaman yang sudah sangat tua. Menurut Surat
     Menteri Pertanian Anton Apriyanto tertanggal 14 April 2005 (Kompas, 3 Mei 2005), salah satu
     upaya mengatasi hal itu diperlukan penelitian dalam memperoleh jenis tanaman yang rentan
     terhadap hama kutu biji kakao. Akibat dari buruknya mutu kakao Indonesia ini, ekspor kakao
     Indonesia selalu mengalami automatic detention oleh Amerika Serikat sejak tahun 1991 sampai
     sekarang. Selain itu, pembeli kakao di luar negeri selalu memotong harga biji kakao Indonesia
     sebesar 200 dollar AS per ton, karena biji kakao Indonesia tidak terfermentasi.


4.1.4 Perusahaan-Perusahaan Pengembang Komoditi Kakao
     Indonesia berhasil menjadi produsen kakao kedua terbesar dunia berkat keberhasilan dalam
     program perluasan dan peningkatan produksi yang mulai dilaksanakan sejak awal tahun 1980-
     an. Pada saat ini areal perkebunan kakao tercatat seluas 914 ribu hektar, tersebar di 27 provinsi
     dengan sentra produksi Sulsel, Sulteng, Sultra, Sumut, Kaltim, NTT dan Jatim. Sebagian besar
     (>90%) areal perkebunan kakao tersebut dikelola oleh rakyat (Direktorat Jenderal Bina
     Produksi Perkebunan, 2004).


     Selain perkebunan rakyat di Indonesia juga terdapat perkebunan-perkebunan besar nasional
     maupun swasta yang membudidayakan kakao. Perusahaan-perusahaan tersebut tersebar di 20
     provinsi, yaitu Nanggroe Aceh Darussalam, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Bengkulu,
     Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur,
     Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Tengah, Sulawesi
     Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Papua. Banyaknya perusahaan pengembang komoditi
     kakao di masing-masing provinsi tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.2.




                                                                                                 IV - 5
                                                                     Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



          Tabel 4.2 Rekapitulasi Jumlah Perusahaan Pengembang Komoditi Kakao di Indonesia

            No.                   Provinsi                              Jumlah Perusahaan
             1.     Nanggroe Aceh Darussalam                                     4
             2.     Sumatera Utara                                               7
             3.     Sumatera Barat                                               4
             4.     Riau                                                         1
             5.     Bengkulu                                                     5
             6.     Lampung                                                      2
             7.     Jawa Barat                                                  11
             8.     Jawa Tengah                                                  8
             9.     D.I. Yogyakarta                                              1
            10.     Jawa Timur                                                   9
            11.     Banten                                                       2
            12.     Nusa Tenggara Timur                                          3
            13.     Kalimantan Barat                                             2
            14.     Kalimantan Tengah                                            1
            15.     Kalimantan Selatan                                           2
            16.     Sulawesi Tengah                                              5
            17.     Sulawesi Selatan                                             6
            18.     Sulawesi Tenggara                                            3
            19.     Maluku                                                       1
            20.     Papua                                                        1
                              TOTAL                                             78
          Sumber : Direktori Perusahaan Perkebunan, BPS 2003.


          Direktori beberapa perusahaan perkebunan kakao di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.3.
          Daftar perusahaan perkebunan yang terdapat dalam tabel tersebut adalah sampel untuk
          mewakili setiap pulau yang ada di Indonesia. Sementara direktori perusahaan perkebunan
          secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran 1.


          Tabel 4.3 Beberapa Perusahaan Perkebunan Pengembang Kakao di Indonesia
               Provinsi               Kabupaten                  Perusahaan                      Alamat
            Sumatera Utara          Simalungun           PT. Perkebunan Nusantara IV    Desa/Kel. Tinjowan Kec.
                                                         (Kebun Tinjawan Kakao)         Ujung Padang Kab.
                                                                                        Simalungun 21184
                                    Deli Serdang         PT. Perkebunan Nusantara II    Desa/Kel. Mariendal Kec.
                                                                                        Petumbak
                                                         PT. Nusa Pusaka Kencana        Desa/Kel. Bahilang Kec.
                                                                                        Tebingtinggi Kab. Deli
                                                                                        Serdang 20601
                                                         PT. Perkebunan Nusantara IV    Desa/Kel. Kedai Damar
                                                         Kebun Pabatu                   Kec. Tebingtinggi
                                                         PT. PD. Raya Pinang            Rumah Kinangkung/Psr
                                                                                        X Desa/Kel. Kutalimbaru
                                                                                        Kec. Kutalimbaru Kab.
                                                                                        Deli Serdang 20514
                                                         PT. Perkebunan Nusantara III   Desa/Kel. Buluh Duri
                                                         G. Pamela                      Kec. Sipispis




 IV - 6                 Komoditi
                              Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
               Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



Tabel 4.3 (Lanjutan)

    Provinsi           Kabupaten           Perusahaan                        Alamat
                                   PT. Perkebunan Nusantara IV    Desa/Kel. Bangun Purba
                                                                  Tengah Kec. Bangun
                                                                  Purba Kab. Deli Serdang
                                                                  20581
                    Langkat        PT. Buana Estate               Jl. Stabat Sicanggang
                                                                  Desa/Kel. Cinta Raja Kec.
                                                                  Secanggang Kab. Langkat
                                                                  20855
                                   PT. Perkebunan HSFarm          Jl. Kebun Betinga
                                   Sukokulan                      Desa/Kel. Kuta Parit Kec.
                                                                  Selesai Kab. Langkat
                                                                  20762
                                   PT. Perkebunan Nusantara       Desa/Kel. Maryke/Bukit
                                   II/Maryke Bukit Lawang         Lawang Kec. Salapian
                                                                  Kab. Langkat 20073
                                   PT. Perkebunan Nusantara II    Jl. Coklat Desa/Kel.
                                   Tanjung Jati                   Tanjung jati Kec. Binjai
                                                                  Kab. Langkat 20702
Jawa Timur          Banyuwangi     PT. Perkebunan Nusantara XII   Jl. Jember Desa/Kel.
                                   (Unit Kalikempit)              Tulungrejo Kec.
                                                                  Glenmore Kab.
                                                                  Banyuwangi 68466
                                   NV. Glenfalloch                Desa/Kel. Tegalharjo Kec.
                                                                  Glenmore Kab.
                                                                  Banyuwangi 68466
                                   PT. Perkebunan Nusantara XII   Jl. Niti Umar Desa/Kel.
                                   (Unit Kendang Lembu)           Karangharjo Kec.
                                                                  Glenmore Kab.
                                                                  Banyuwangi 68466
                                   PT. Perkebunan Nusantara XII   Dusun Jatirono desa/Kel.
                                   (Unit Jatirono)                Kajarharjo Kec. Kalibaru
                                                                  Kab. Banyuwangi 68467
                                   PT. Treblasala Estate-London   Jl. Niti Umar Desa/Kel.
                                   Sumatera Indonesia             Karangharjo Kec.
                                                                  Glenmore Kab.
                                                                  Banyuwangi 68466
                                   PT. Perkebunan Nusantara XII   Dusun Porolinggo
                                   (Unit Kalitelepak)             Desa/Kel. Tulungrejo
                                                                  Kec. Glenmore Kab.
                                                                  Banyuwangi 68466
                                   PT. Perkebunan Nusantara XII   Dusun Kalisepanjang,
                                   (Unit Kalisepanjang)           Purowojoyo Desa/Kel.
                                                                  Sumbergondo Kec.
                                                                  Glenmore Kab.
                                                                  Banyuwangi 68466
                                   PT. Perkebunan Nusantara XII   Dusun Sungai Lembu
                                   (Unit Unit Sungai Lembu)       Desa/Kel. Sumberagung
                                                                  Kec. Pesanggaran Kab.
                                                                  Banyuwangi 68488




                                                                                         IV - 7
                                                              Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



          Tabel 4.3 (Lanjutan)

              Provinsi           Kabupaten          Perusahaan                      Alamat
                                             PT. Sumber Pangestu         Jl. Raya Jember Desa/Kel.
                                                                         Kalibaru Kulon Kec.
                                                                         Kalibaru Kab. Banyuwangi
                                                                         68467
          Kalimantan Barat   Bengkayang      PT. Mardian Wira Raya       Jl. Raya seluas Km 297
                                                                         Desa/Kel. Seluas Kec.
                                                                         Seluas
                             Pontianak       PT. Citra Tani Utama        Desa/Kel. Pantek Kec.
                                                                         Toho
                                             PT. Candi Arta              Desa/Kel. Jilatan Kec.
                                                                         Batu Ampar
          Nusa Tenggara      Belu            PT. Timor Mitra Niaga       Desa/Kel. Wedorok Kec.
          Timur                                                          Malaka Barat Kab. Belu
                                                                         85763
                             Sumba Barat     PT. Timor Mitra Niaga       Jl. Soekarno Desa/Kel.
                                                                         Dede Kadu Kec. Loli
                             Flores Timur    PT. Rerolaka                Desa/Kel. Hokeng Jaya
                                                                         Kec. Wulanggitang Kab.
                                                                         Flores Timur 86253
          Sulawesi Tengah    Banggai         PT. Delta Subur Permai      Seseba Desa/Kel. Tolando
                                                                         Kec. Batui
                             Poso            PT. Watuawu Hybrida Indah   Jl. Trans Sulawesi
                                                                         Desa/Kel. Watuawu Kec.
                                                                         Lage
                             Buol            KUD. Setia                  Jl. Pelabuhan No. 13
                                                                         Desa/Kel. Lokodidi Kec.
                                                                         Bunobogu
                                             KUD. Sabar                  Jl. Compleks Lapangan
                                                                         Bunobogu Desa/Kel.
                                                                         Bunobogu
                                             PT. Fitrako Tolis Indah     Desa/Kel. Mokupo Kec.
                                                                         Biau Kab. Buol 94563
          Sulawesi Selatan   Soppeng         PT. Sering Raya             Jl. Raya Tajuncu No. 17
                                                                         Desa/Kel. Donri-Donri
                                                                         Kec. Lili Rilau
                             Luwu            PT. Hartono Indah           Desa/Kel. Tanjong Kec.
                                                                         Bua Ponrang Kab. Luwu
                                                                         90993
                             Polewali        PT. Lamungan Mandar         Jl. Poros Mambu,
                             Mamasa                                      Campalagian Polmas
                                                                         Desa/Kel. Mambu Kec.
                                                                         Campalagian Kab.
                                                                         Polewali Mamasa 91535
                             Mamuju          Koperasi Puskopad "A" DAM   Desa/Kel. Sarudu
                                             VII/Wirabuana
                             Luwu Utara      PT. Karya Kanakan           Desa/Kel. Bakka Kec.
                                                                         Sabbang
                             Kota Ujung      PT. Gerhana Candra          Jl. Daeng Tompo No. 27
                             Pandang                                     Desa/Kel. Maloku Kec.
                                                                         Ujung Pandang




 IV - 8             Komoditi
                                     Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
                      Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



       Tabel 4.3 (Lanjutan)

           Provinsi             Kabupaten                  Perusahaan                      Alamat
       Sulawesi                Kendari              PT. Madu Malua Bukari         Desa/Kel. Sawa Kab.
       Tenggara                                                                   Kendari 93352
                               Kolaka               PT. Hasfarm Niaga Nusantara   Desa/Kel. Wonuambuteo
                                                                                  Kec. Ladongi Kab. Kolaka
                                                                                  93573
                                                    PT. Perkebunan Ladongi        Desa/Kel. Wanuambuteo
                                                                                  Kec. Lambadia Kab.
                                                                                  Kolaka 93573
       Maluku                  Maluku Tengah        PT. Perkebunan Nusantara      Desa/Kel. Awaya Kec.
                                                    XIV                           Amahai Kab. Maluku
                                                                                  Tengah 97551
       Papua                   Manokwari            PT. Coklat Ransiki            Jl. Nazimi Warsui
                                                                                  Desa/Kel. Abresso Kec.
                                                                                  Ransiki Kab. Manokwari
                                                                                  98355
     Sumber : Direktori Perusahaan Perkebunan, BPS 2003.



4.1.5 Perusahaan-Perusahaan Pengekspor Komoditi Kakao
     Selain terdapat perusahaan perkebunan kakao, di Indonesia juga terdapat perusahaan-
     perusahaan pengekspor kakao. Data rekapitulasi jumlah perusahaan eksportir kakao di
     Indonesia dapat dilihat pada Tabel 4.4.


     Tabel 4.4 Rekapitulasi Jumlah Perusahaan Pengembang Komoditi Kakao di Indonesia

       No.                   Provinsi                              Jumlah Perusahaan
        1.     Sumatera Utara                                               1
        2.     Banten                                                       7
        3.     Jakarta                                                      2
        4.     Jawa Barat                                                   7
        5.     Jawa Timur                                                   3
        6.     Sulawesi Selatan                                             2
                         TOTAL                                             22


     Daftar beberapa perusahaan eksportir kakao yang terdapat di Indonesia adalah seperti tersaji
     pada Tabel 4.5. dengan adanya perusahaan eksportir kakao yang umumnya memproduksi
     kakao olahan, maka akan mempermudah perusahaan perkebunan dalam pemasaran kakao di
     dalam negeri. Perusahaan yang disajikan dalam tabel tersebut adalah perusahaan eksportir
     kakao dengan indikator jumlah tenaga kerja minimal 50 orang.




                                                                                                      IV - 9
                                                                               Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



           Tabel 4.5        Beberapa Perusahaan Eksportir Kakao di Indonesia
                                                                 Jumlah
              Nama Perusahaan               Jenis Industri                                Alamat
                                                               Tenagakerja
             PT. Cocoa Ventures           Coklat                 79 orang    Jl. Medan-Belawan Km.10,5
             Indonesia                                                       Medan Deli, Medan, Sumatera
                                                                             Utara
             PT. Davomas Abadi            Coklat                383 orang    Jl. Industri Raya III Blok ab No.
                                                                             1a Cikupa, Tangerang, Banten
             PT. Effem Indonesia          Cocoa Butter          151 orang    Kima X Kav A/6, Jl.
                                                                             BiringKanaya, Ujung Pandang,
                                                                             Sulawesi Selatan
             PT. Indolakto                Industri              341 orang    Jl. Raya Siliwangi Cicurug,
                                          pengolahan susu                    Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat
             PT. Inti Cocoa Abadi         Coklat                140 orang    Jl. Jabeka X Blok F9-8, Desa
             Industri                                                        Pasir Gombong, Bekasi, Jawa
                                                                             Barat
             PT. Kakao Mas                Coklat Bubuk          56 orang     Jl. Yos Sudarso Km. 19
             Gemilang                                                        Batuceper, Tanggerang, Banten
             PT. Mas Ganda                Pengolahan            136 orang    Jl. Desa Sukadamai RT. 06/01
                                          Kakao                              Cikupa, Tangerang, Jawa Barat
             PT. Teja Sekawan             Cocoa Butter          106 orang    Rungkut Ibdustri II/27 Jl.
             Cocoa Industries                                                Tenggilis, Surabaya, Jawa Timur
             PT. Topasari                 Cacao / coklat        215 orang    Desa Pasindangan Cileles, Lebak,
                                                                             Banten
             PT. Tora Nusantara           Coklat                466 orang    Jl. Raya Perancis No. 3 RT. 021/5
                                                                             Kosambi, Tangerang, Jawa Barat
             PT. Bumi Tangerang           Coklat Olahan         514 orang    Jl. Dipati Unus Cibodas,
             Coklat Utama                                                    Tangerang, Banten
             PT. Cacao Wangi              Coklat Olahan         166 orang    Jl. Industri VI Blok L/3 Jati
             Murni                                                           Uwung, Tangerang, Banten
             PT. Fajar Mataram            Coklat Butiran        269 orang    Jl. Sukarno Hatta No.255 Bojong
             Sedayu                                                          Loa Kaler, Bandung, Jawa Barat
             Gizitatapangan               Coklat                300 orang    Jl. Paralon I No. 22 Bandung
             Sejahtera                                                       Kulon, Bandung, Jawa Barat
             Multi Aneka Pangan           Coklat                62 orang     Desa Cangkir Driyorejo, Gresik,
             Nusantara                                                       Jawa Timur
             PT. Multi Sarana             Coklat Batangan       97 orang     Jl. Industri Raya Blok B No. 4 Jati
             Rasa Agung                                                      Uwung, Tangerang, Banten
             PT. Mustika Manis            Coklat                272 orang    Jl. Raya Serang Km. 13,8 No. 52
             Utama                                                           Cikupa, Tangerang, Banten
             PT. Poleko Kakao             Pengolahan            50 orang     Jl. Kapasa Raya No. 2 Biring
             Industri                     Kakao                              Kanaya, Ujung Pandang, Sulawesi
                                                                             Selatan
             PT. Sanitas Murni            Makanan dari          112 orang    Kapuk Kamal Raya No. 82
             Utama                        coklat                             Penjaringan, Jakarta Utara
             PT. Welko                    Coklat dan Selai      116 orang    Krembangan Barat 1-3, Jl. Klari,
                                                                             Karawang, Jawa Barat
           Sumber : Direktori Industri Pengolahan, BPS 2004.



4.1.6 Harga Komoditi Kakao
           Kakao merupakan komoditas perdagangan dunia yang penting, namun harganya seringkali
           berfluktuasi sehingga merugikan negara produsen. Biasanya negara produsen mengekspor biji
           kakao yang akan disangrai dan giling di negara konsumen. Perkembangan harga biji kakao di




 IV - 10                  Komoditi
                            Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
             Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



pasar dunia sejak tahun 1992 cenderung meningkat yaitu dari harga US$. 0,50 per lbs menjadi
US$.1,07 per lbs pada tahun 2000, atau meningkat rata-rata 8,9% per tahun.


Berdasarkan data dari Lembaga Riset Perkebunan Indonesia dalam artikel Kakao Indonesia di
Kancah Perkakaoan Dunia, harga kakao dunia pernah mengalami keterpurukan sampai titik
terendah US$c 36,33/lb selama 30 tahun terakhir pada bulan Nopember 2000. Harga kakao
merambat naik menembus US$c 50/lb pada bulan Februari 2001, kemudian sedikit
berfluktuasi hingga mencapai tingkat tertinggi US$c 60,64/lb pada bulan Desember 2001.


Kenaikan harga kakao dunia terus berlanjut hingga menembus US$ 100/lb pada bulan
Oktober 2002 dan merupakan puncak harga tertinggi selama 16 tahun terakhir. Selanjutnya,
harga kakao dunia sedikit melemah pada bulan Nopember dan kembali menguat pada bulan
Desember 2002 hingga Februari 2003 dan kembali melemah hingga Juni 2004, kemudian
sedikit menguat hingga Agustus 2004. Harga kakao rata-rata tahun 2002 dan 2003 tercatat
masing-masing US$c 80,65/lb dan US$c 79,6/lb (Gambar 4.4).




      Gambar 4.4 Perkembangan Harga Kakao Dunia (Indikator ICCO)


Selanjutnya, berdasarkan data Lembaga Riset Perkebunan Indonesia, harga komoditas kakao di
bursa internasional US$ 1.543 per ton, sementara harga di Makassar (sentra produksi kakao)
harganya hanya berkisar US$ 1.300 - US$ 1.340 per ton (Bisnis.com - 28-Mar-2005).


Di pasar domestik, pada akhir tahun 2002 harga komoditas kakao relatif stabil. Berdasarkan
info pasar komoditi perkebunan dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan



                                                                                     IV - 11
                                                              Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



           tahun 2003, pada bulan November 2002 harga kakao biji kering di pasar domestik Rp.
           10.490/kg (sekitar US$ 1,165/kg dengan asumsi US$ 1 = Rp. 9.000) dan pada bulan
           Desember 2002 menjadi Rp. 10.523/kg (US$ 1,169/kg) atau mengalami kenaikan Rp. 0,31/kg,
           dan pada bulan Maret 2003 harga kakao meningkat menjadi Rp. 10.615/kg (US$ 1,179/kg).


4.2        Kelayakan Keuangan Pengembangan Komoditi Kakao
           Kakao merupakan salah satu komoditi ekspor unggulan Indonesia dalam menghasilkan devisa
           negara. Keberadaan Indonesia sebagai produsen kakao utama di dunia menunjukkan bahwa
           kakao Indonesia cukup diperhitungkan dan berpeluang untuk menguasai pasar global. Dengan
           demikian, seiring terus meningkatnya permintaan pasar terhadap kakao maka perlu dilakukan
           usaha untuk meningkatkan ekspor dengan lebih meningkatkan lagi produksi nasional.


           Kondisi peluang pasar ini merupakan peluang yang besar pula bagi negara-negara produsen
           kakao, terutama Indonesia untuk terus meningkatkan produksinya. Tanaman kakao relatif
           mudah tumbuh di Indonesia dan ini dapat dijadikan salah satu pendorong bagi pemilik modal
           untuk mulai menerjuni usaha budidaya kakao.


           Dalam usaha peningkatan produksi dan ekspor kakao Indonesia harus diiringi dengan
           peningkatan mutu kakao tersebut, seperti melakukan fermentasi secara baik. Mutu kakao
           Indonesia perlu mendapat perhatian khusus, sehingga dapat diakui oleh pasar internasional.
           Dengan meningkatkan mutu, maka harga kakao Indonesia akan dapat lebih bersaing di pasar
           dunia dan dapat menjangkau pangsa pasar yang lebih luas pula. Di pasar dunia terutama
           Eropa, mutu kakao Indonesia dinilai rendah karena mengandung keasaman yang tinggi,
           rendahnya senyawa prekursor flavor, dan rendahnya kadar lemak, sehingga harga kakao
           Indonesia selalu mendapatkan potongan harga cukup tinggi sekitar 15% dari rata–rata harga
           kakao dunia.


           Pengembangan investasi perkebunan kakao dapat memberikan dampak positif untuk
           pertumbuhan sektor-sektor industri lainnya. Dalam usaha budidaya kakao ini akan banyak
           membutuhkan bahan, seperti pupuk, pestisida, dan alat-alat pertanian sehingga dapat
           meningkatkan industri pupuk, pestisida, dan alat-alat pertanian tersebut. Selanjutnya, hasil
           perkebunan kakao yang berupa biji kakao dapat pula memaju perkembangan usaha pengolahan
           biji kakao menjadi kakao bubuk, pasta, dan lain-lain. Dengan munculnya berbagai usaha
           industri maka akan membutuhkan tenagakerja, sehingga akan memberi dampak positif karena
           berkurangnya jumlah pengangguran.




 IV - 12             Komoditi
                               Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
                Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pekebunan, harga jual kakao dalam bentuk biji
kering di pasar domestik pada akhir tahun 2002 adalah Rp. 10.490/kg (US$ 1,165/kg) sampai
Rp. 10.523/kg Rp. 10.615/kg (US$ 1,179/kg). Harga jual kakao bersifat fluktuatif dan
dipengaruhi tingkat permintaan. Dengan demikian, ada kemungkinan harga jual ditempat
meningkat pada tahun–tahun mendatang, seiring dengan terus meningkatnya permintaan pasar
akan produk kakao.


Tingkat produksi tanaman kakao ditentukan oleh tingkat kesuaian lahan, yang. digolongkan
menjadi sesuai (S1), cukup sesuai (S2), agak sesuai (S3), dan tidak sesuai (N) (lihat Tabel 4.6.).
Penilaian tersebut didasarkan atas kondisi agroklimat, sifat fisik dan kimia tanah. Tingkat
produksi pada tiap tingkat kesesuaian lahan (S1, S2, dan S3) tersebut, maka produksi pun akan
berbeda. Data tingkat produksi untuk ketiga tingkat kesuburan lahan tersebut dapat dilihat
pada Tabel 4.6.


Tabel 4.6 Produksi Tanaman Tiap Tahun Berdasarkan Tingkat Kesesuaian Lahan
      Tahun Ke-                         S1                       S2                     S3
             4                         600                      500                    450
             5                         750                      650                    600
             6                        1.050                     900                    850
             7                        1.300                    1.100                  1.000
             8                        1.450                    1.250                  1.150
             9                        1.600                    1.350                  1.250
            10                        1.750                    1.500                  1.400
          11-12                       1.800                    1.550                  1.450
          13-19                       1.900                    1.650                  1.500
            20                        1.900                    1.550                  1.500
            21                        1.800                    1.350                  1.450
            22                        1.600                    1.300                  1.250
            23                        1.500                    1.250                  1.200
            24                        1.450                    1.250                  1.150
            25                        1.450                    1.150                  1.150
Sumber : Sistem Informasi Pola Pembiayaan/Lending Model Usaha Kecil Bank Indonesia.

Uji kelayakan usaha juga perlu dilakukan dengan luas tanam yang berbeda. Dalam hal ini,
dilakukan untuk luas lahan 3.000 ha dan 1.000 ha. Selain itu, dengan asumsi harga tanah tiap
wilayah berbeda–beda, maka perlu adanya skenario untuk beberapa tingkat harga tanah.


Dengan menggunakan rumus perhitungan yang sama, dilakukan pula perhitungan dengan
menggunakan beberapa skenario pembiayaan untuk proyek perkebunan kakao. Pertimbangan-
pertimbangan yang digunakan adalah sebagai berikut :
(1). Luas lahan untuk proyek 3.000 ha, tingkat produksi sesua asumsi, tingkat harga jual Rp.
     11.000,00/kg, dan harga tanah tetap Rp. 2.000,00/m2.
(2). Luas lahan untuk proyek 3.000 ha, tingkat produksi pada tingkat kesesuaian lahan sesuai
     (S1), harga jual Rp. 11.000,00/kg, dan harga tanah Rp. 2.000,00/m2.



                                                                                              IV - 13
                                                                              Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



           (3). Luas lahan untuk proyek 1.000 ha, tingkat produksi sesuai asumsi, harga jual Rp.
               10.000,00/kg, harga tanah Rp. 1.000,00/m2.
           (4). Luas lahan untuk proyek 1.000 ha, tingkat produksi sesuai asumsi, harga jual Rp.
               10.000,00/kg, harga tanah Rp. 2.000,00/m2.
           (5). Luas lahan untuk proyek 1.000 ha, tingkat produksi sesuai asumsi, harga jual Rp.
               10.000,00/kg, harga tanah Rp.3.000,00/m2.


           Hasil analisis kelayakan untuk keempat skenario pembiayaan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
           Perhitungan pada tabel tersebut hanyalah contoh perhitungan kelayakan keuangan pada
           budidaya pengembangan kakao di suatu daerah. Untuk budidaya kakao di wilayah lain, nilai-
           nilai rasio keuangannya mungkin berbeda karena dapat dipengaruhi oleh kondisi ketersediaan
           sarana dan prasarana di suatu wilayah, kondisi fisik wilayah, kebijakan investasi, dan periizinan
           investasi di wilayah tersebut.




 IV - 14              Komoditi
                                                                                              Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
                                                                               Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia


Tabel 4.7 Analisis Finansial Dengan Berbagai Pendekatan Skenario Pembiayaan

                                                                                    SKENARIO PEMBIAYAAN
 KETERANGAN               Luas lahan 3.000 ha, harga jual Rp. 11.000,00/kg, harga
                                                                                              Luas lahan 1.000 ha, harga jual Rp. 10.000,00/kg, produksi sesuai asumsi
  INVESTASI                               tanah Rp. 2.000,00/m2
                          Produksi sesuai asumsi         Produksi pada tingkat S1       Tanah Rp 1.000,00/m2          Tanah Rp 2.000,00/m2          Tanah Rp 3.000,00/m2
 Return on
                                                      458,33 %                        504,69 %                     339,55 %                      255,10 %
 Invesment (ROI)       347,48 %
 Internal Rate of
                       21,62 %                        24,12 %                         26,37 %                      21,47 %                        18,38 %
 Return (IRR)
 Net Present Value
                       Rp. 248.168.912.713,10         Rp. 332.453.153.523,97          Rp. 84.687.250.727,77        Rp. 74.082.644.112,47         Rp. 63.478.038.497,17
 (NPV) 10%
 Payback Period
                       9 tahun 9 bulan                 8 tahun 9 bulan                7 tahun 9 bulan              9 tahun 7 bulan                11 tahun 3 bulan
 (PP)
 BEP Rupiah            Rp. 412.268.646.317,59         Rp. 477.791.631.786,43          Rp. 138.593.224.725,28       Rp. 139.343.224.725,28        Rp. 140.093.224.725,28
 BEP Unit              59.476.211.238,20 kg           59.482.685.824,91 kg             28.556.247.791,05 kg        29.306.247.791,05 kg           30.056.247.791,05 kg
 BEP Harga             Rp. 59.476.211.238,20          Rp. 6.929,44                    Rp. 7.290,52                 Rp. 7.659,93                  Rp. 8.029,35
 Net B/C               3,37                           4,17                            4,36                         3,08                          2,37
 Gross B/C             2,02                           2,29                            2,17                         1,89                          1,68
 Profitability Ratio
                       3,67                           4,58                            5,05                         3,40                          2,55
 (PR)




                                                                                                                                                                          IV - 15
                                                                                                                                            Komoditi
Penyusunan Peta Komoditi Utama Sektor Primer, dan
Pengkajian Peluang Pasar serta Peluang Investasinya di Indonesia



4.3        Aspek Sosial dan Lingkungan Pengembangan Komoditi Kakao
           Pembangunan perkebunan kakao dalam skala besar akan mampu menyerap tenaga kerja
           yang cukup banyak, mulai dari tahap persiapan lahan, sampai pasca panen. Dengan
           demikian, aktivitas pembangunan perkebunan ini akan memberikan dampak positif
           terhadap penduduk di sekitar lokasi proyek maupun transmigran yang datang untuk ikut
           dalam proyek tersebut. Selain itu, pengembangan proyek ini akan dapat meningkatkan
           pendapatan petani, di mana nantinya akan dapat meningkatkan kesejahteraan petani
           bersangkutan. Sejalan dengan meningkatnya pendapatan petani, jika pembangunan proyek
           ini disertai dengan pengembangan sarana pendidikan dan sarana kesehatan, akan
           membantu peningkatan pendidikan dan kesehatan masyarakat setempat.


           Termanfaatkannya lahan ”tidur” menjadi areal produktif yang diiringi dengan
           berkembangnya pemukiman dan pusat perekonomian, serta semakin lancarnya aksesibilitas
           akan berdampak positif terhadap pengembangan wilayah dan tata ruang. Pemilihan lokasi
           proyek yang tidak memperhatikan status hukum atas tanah yang akan digunakan untuk
           usaha perkebunan akan mengakibatkan terjadinya kekeliruan penggunaan lahan dan dapat
           menimbulkan kesalahpahaman dan protes dari warga setempat sehingga kegiatan usaha
           tidak berjalan lancar.


           Penggunaan pestisida/obat-oabatan kimia memang dapat mengendalikan serangan hama
           dan penyakit secara cepat, namun dapat menimbulkan pencemaran lingkungan bila tidak
           digunakan dengan bijaksana. Penggunaan pestisida berlebihan dapat membunuh musuh-
           musuh alami hama/penyakit yang bersangkutan, membunuh hewan-hewan lain yang
           membantu penyerbukan bunga, berbahaya bagi kesehatan pengguna pestisida, bahkan
           dapat meluas pada konsumen yang mengkonsumsi produk kakao tersebut.


           Dalam pembukaan lahan baru untuk perkebunan kakao hendaklah memperhatikan Amdal
           (Analisis Dampak Lingkungan). Hal – hal yang harus dilakukan antara lain, identifikasi
           permasalahan lingkungan, yaitu telaah ”holistik” terhadap seluruh komponen lingkungan
           yang diperkirakan akan mengalami perubahan mendasar akibat pengembangan proyek ini,
           seperti perubahan tata guna lahan, iklim mikro, tanah, vegetasi, satwa, hama dan penyakit,
           sosial ekonomi, sosial budaya, kesehatan lingkungan, dan sebagainya.




 IV - 16              Komoditi

				
DOCUMENT INFO
Description: contoh-perhitungan-npv pdf