Jangan Merisaukan Perkembangan Agama lain

Document Sample
Jangan Merisaukan Perkembangan Agama lain Powered By Docstoc
					Jangan Merisaukan Perkembangan Agama lain
18-6-2007
Oleh : MUHAMMAD KODIM/SYIRAH




Acara Kongkow Bareng Gus Dur pada Sabtu pagi, 16 Juni 2007 ini mengusung tema “Misi Baru
Kekristenan”. Ini menyangkut peranan agama publik dalam kekristenan konteks Indonesia.
Latar persoalan ini bisa dilihat munculnya Perda Injil, semisal, di Papua yang ingin
menunjukkan superioritas dari agama Kristen di Publik. Kemunculan Perda Injil itu juga
disinyalir sebagai reaksi terhadap Perda-Perda Syariah yang ada di beberapa kawasan di
Indoensia.
Guntur Romli yang bertindak sebagai moderator dan KH Wahid Maryanto yang akrab disapa pak Acun
yang selalu memulai acara Kongkow Bareng Gus Dur ini dengan membacakan satu petikan bait dari
kitab Al-Hikam masih tetap setia menemani Gus Dur. Untuk mengurai tema tersebut, acara ini
mendatangkan Dr. Yohanes Rahmat, seorang Pendeta di Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan staf
pengajar Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.
Acara ini disiarkan oleh radio Utankayu 89,2 FM dan dipancarluaskan oleh jaringan KBR 68H dari
Aceh sampai Papua ini semakin menarik. Sudah seminggu ini acara yang digelar di Kedai Tempo
Jakarta ini ditayangkan di beberapa televisi lokal, yaitu JTV (Jawa Timur), Kendari TV (Sulawesi
Tenggara), Bengkulu TV (kalimantan Timur)
Untuk lebih lengkapnya, berikut transkip episode awal Kongkow Bareng Gus Dur tentang Misi Baru
Kekristenan. Sementara pada episode kedua nanti menghadirkan tema “Fenomena Perda-perda
Syariah”.
Guntur Romli : Assalamu’alaikum wr. wb. Anda bersama acara Kongkow Bareng Gus Dur dari KBR
68H Jakarta bekerjasama dengan School for Broadcast Media Jakarta. Acara ini juga dipancarluaskan
oleh radio-radio jaringan KBR 68H dari Aceh hingga Papua dan beberapa televisi di kawasan
Indonesia.
Saudara, saya Guntur Romli, akan menemani Anda baik yang berada di Kedai Tempo ataupun Anda
yang berada di rumah berbincang-bincang dengan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang saat ini
sudah berada di Kedai Tempo bersama kita.
Kita sapa dulu, Gus Dur Assalamu’alaikum?
Gus Dur : Wa’alaikumsalam.
Guntur : Apa kabar Gus Dur, baik-baik saja?
Gus Dur : Baik-baik.
Guntur : Ada juga pak Acun, apa kabar, baik-baik saja pak?
Pak Acun : Alhamdulillah.
Guntur: Seperti biasa acara ini akan dimulai dengan pembacaan petikan dari kitab Al-Hikam oleh Pak
Wahid Maryanto. Silahkan pak Acun.
Pak Acun: Bismillahirrohmaanirrahim. Beragam jenis perilaku anak Adam itu bergantung dari apa
keberagaman yang terbetik dalam hatinya.
Kalau kita kaitkan dengan hadis yang sangat populer sekali innama al-a’mâlu binniyâti wainnamâ
likullin mânawâ. Saya minta penjelasan dari Gus Dur.
Gus Dur: Di sini lagi-lagi Hikam itu menunjukkan bahwa manusia itu punya hak kebebasan, tapi
kebebasan itu harus tunduk pada Allah. Nah di sini intinya. Jadi sebab itu bermacam-macam, tapi
semua itu karena Allah. Dia tidak lain adalah bolak-balik sekitar situ saja antara kemampuan manusia
dan kemampuan Tuhan. Di mana manusia itu dipersilahkan untuk membuat atau melaksanakan
kemauannya, Tuhan itu melaksanakan saja, mau memberi batas jangan terlalu jauh.
Guntur: Terimaksih Gus Dur, terimakasih Pak Acun. Saudara, kali ini kita akan membahas topik
tentang misi baru dari Kristen. Ini menyangkut peranan agama publik dalam kekristenan dalam konteks
Indoensia. Karena kita melihat ada munculnya Perda Injil misalnya di Papua yang ingin menunjukkan
superioritas dari agama Kristen di publik yang juga mungkin semacam reaksi terhadap Perda-Perda
Syariah yang ada di beberapa kawasan di Indoensia.
Dan untuk membincang misi kekristenan sudah hadir bersama kita di sini Dr. Yohanes Rahmat, beliau
adalah seorang pendeta di Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan staf pengajar di Sekolah Tinggi Teologi
Jakarta. Mungkin pak Yohanes ada respon terhadap munculnya Perda Injil yang ada di Papua,
kemudian apa sebenarnya peran atau misi kekristenan saat ini di Indonesia?
Yohanes: Perda Injil yang keluar itu saya nyatakan sungguh sangat tidak Kristiani. Sebab dalam diri
setiap Kristen dan juga dalam diri komunitas Gereja itu sudah ditanamkan kewajiban untuk memberi
hak-hak penuh untuk beragama pada kelompok minoritas apa pun di dalam sebuah masyarakat. Itu
yang pertama-tama saya tegaskan.
Guntur: Perda yang ada di Papua itu kan ada semangat ingin menghadirkan kembali agama Kristen di
publik atau di masyarakat. Apakah memang seperti itu peran dari Kristen sendiri?
Yohanes: Kalau menurut paradigma yang tradisional memang kekristenan itu didorong untuk
memperluas diri ke mana-mana dan menjadi agama terbesar dan terunggul di dalam masyarakat. Itu
tradisional. Sekarang saya kira harus dipikirkan sebuah paradigma lain menghadapi realitas
kemajemukan umat beragama dan penghargaan pada hak-hak asasi manusia untuk bebas beragama.
Dalam negara kita tahu kebebasan beragama itu untuk semua golongan besar atau pun kecil dijamin
oleh UUD negeri kita.
Guntur: Namun gimana misalnya perasaan Anda seorang penganut Kristiani atau penganut Kristen di
Indonesia yang misalnya mereka melihat fenomena Perda-Perda syariah di beberapa kawasan di
Indonesia?
Yohanes: Ya ini juga mungkin menjadi salah satu penyebab yang memicu daerah-daerah dengan
mayoritas Kristen bereaksi balik dengan ekstrem juga untuk melarang orang-orang yang non-Kristen
untuk bebas beragama di tempat-tempat itu. Ini adalah suatu reaksi balik yang negatif dan terlalu
ekstrem menurut hemat saya. Dan ini tidak harus dilanjutkan, tapi harus segera diakhiri.
Guntur: Dengan bahasa yang lebih sederhana mungkin, apa sih misi baru dari kekristenan untuk saat
ini?
Yohanes: Kita harus bersama-sama dari seluruh anggota komunitas Kristen; orang peroangan,
individual, personal sampai pada kolektivitas gereja, untuk mengubah kecondongan atau
kecenderungan tradisional mencari orang-orang untuk ditobatkan pindah agama ini harus diganti
dengan sebuah pendekatan dialog, bukan hanya pada level pimpinan dalam komunitas-komunitas
keagamaan Kristen tapi harus masuk dalam level kehidupan individual.
Kebiasaan terdorong memindahkan orang dari agama yang lain ke dalam agama Kristen harus
digantikan dengan pendekatan yang simpatetik dan empatetik terhadap agama lain dengan cara
membangun dialog dan panggilan untuk memperkaya pemahaman dengan menimba pemahaman dari
kalangan yang berbeda.
Guntur: Jadi misi baru itu bukan menaklukkan akidah atau upaya untuk mengambil penganut agama
lain itu ya pak yang menjadi misi baru?
Yohanes: Ya. Supaya kedua belah pihak yang Kristen dan yang non-Kristen sama-sama mendapatkan
manfaat dari dialog. Kedua-duanya bertumbuh, kedua-duanya diperkaya, dan tidak ada pertobatan
pindah agama. Tetapi yang Kristen akan menjadi Kristen plus karena menerima masukan dari non-
Kristen.
Sebaliknya juga, melalui dialog, yang non-Kristen akan mendapatkan masukan dari yang Kristen,
sehingga juga akan menjadi non-Kristen plus. Itu perspektif yang biasa saya pertahankan begitu.
Guntur: Ya. Saya kira perspektif tersebut bisa terjadi apabila dibarengi dengan semangat dari agama
yang lain, ataupun Islam ketika umat Kristiani mambuka pintu dialog dan juga disambut dengan
penganut Islam. Ya, gimana tanggapan Gus Dur terhadap peran dari misi baru itu?
Gus Dur: Ya, saya sebagai warga negara melihatnya dari sudut UUD. UUD itu memberikan
kemerdekaan pada siapa pun. Jadi enggak bisa kalau peraturan bahwa seseorang tidak boleh pakai
jilbab karena itu katakanlah menggemborkan Islam tertentu, bukan. Jilbab itu hanya dipakai oleh
orang-orang yang ingin gitu saja. Jadi enggak boleh dilarang.
Sebaliknya yang Kristen juga tidak boleh dilarang. Pakai apa kek situ terserah. Jadi di sini kita melihat
kenyataan bahwa tidak benar kalau orang harus berjilbab, juga tidak benar kalau orang harus dilarang
berjilbab. Dua-duanya melanggar UUD.
Guntur: Sepanjang hidup Gus Dur atau pembacaan Gus Dur, adakah pengalaman-pengalaman yang
menarik secara pribadi dari Gus Dur dialog dengan teman-teman Kristiani, Gus?
Gus Dur: Ya, enggak ada apa-apa, wong sama pandangannya kok. Cuma pernah ada keputusan
Mahkamah Agung Amerika serikat bahwa seorang warga negara di sana boleh saja bendera Amerika
Serikat dipakai celana dalam. Ya boleh, kata Mahkamah Agung boleh. Itulah kemerdekaan yang terlalu
jauh menurut saya.
Guntur: Enggak. Maksudnya apakah dalam masalah Perda itu juga peranan Mahkamah Agung di
Indonesia juga memiliki peranan besar ya Gus?
Gus Dur: Ya tentu saja.
Guntur: Ya, Anda yang ada di rumah atau di Kedai Tempo bisa ikut berbincang-bincang dengan kami
di Kedai Tempo ini. Dan saya persilahkan Bung Taufik yang membuka line telepon di atas atau pun
membacakan pesan pendek yang sudah ada. Bagimana Bung Taufik?
Taufik: Ya. Ini baru ada satu pesan pendek yang masuk ke meja redaksi. Dan saudara kami ingatkan
Anda untuk pertanyaan-pertanyaan kongkow Bareng Gus Dur harus sesuai dengan tema yang
dibicarakan untuk hari ini. Tema yang kita angkat seputar memahami kritenisasi. Dan di bagian kedua
nanti kita akan berbincang seputar Perda-Perda syariat di Indonesia.
Bung Guntur, ini ada pertanyaan via SMS dari Pak Adi di Jakarta: Bagaimana sebaiknya umat Islam
memahami kristenisasi. Kemudian sebelum menjawab pertanyaan itu, kita sudah bersama pendengar
dengan Ibu Tutik di Priok. Silahkan Bu Tutik.
Ibu Tutik: Selamat pagi Gus Dur. Bagaimana pendapat Gus Dur tentang tim pembela muslim? Dia
hanya muncul di saat ada selebritis seperti Imam Samudra cs. Kenapa dia tidak berteriak di saat ada
HAM di Malaysia, di Arab, itu kan banyak warga kita yang diperlakukan tidak adil, kenapa mereka
tidak teriak-teriak yang itu Gus Dur? Makasih.
Gus Dur: Ya enggak cocok dengan selera kita mungkin. Tapi bahwa tim pembela itu diperlukan sesuai
dengan aturan hukum ya silahkan enggak ada apa-apa. Saya terus terang saja di sini, saudara siapa itu
yang paling bela-bela itu, setiap ketemu saya ngobrol-ngobrol. Ya apa-apa saya bilang, pendapat saya
begini, pendapat Anda begitu terserah. Jadi begitu Bu. Masalah yang bela di Saudi Arabia itu urusan
sana, bukan urusan sini.
Guntur: Memang dikesankan Tim Pembela Muslim itu misalnya membela bila ada konflik antara
Islam dengan Kristen.
Gus Dur: Lah iya. Dan mesti yang Islamnya menang, maunya. Lah, tapi sebenarnya itu UUD
menjamin bahwa di sini penafsiran dari Mahkamah Agung itu penting sekali. Cuma salahnya adalah
Mahkamah Agung itu enggak pernah akur. Lah itu susah.
Gus Dur: Oh iya Pak Yohanes, tadi ada pertanyaan tentang kristenisasi. Ini juga sebenarnya menjadi
tema yang sebenarnya ada ketegangan, kecurigaan antara umat di bawah. Apa sih sebenarnya
kristenisasi yang dipahami oleh pihak gereja?
Yohanes: Saya kira di dalam tubuh kekristenan di Indonesia sudah banyak lapisan di dalamnya yang
menolak program-program sistematis kristenisasi yang dilakukan oleh gereja-gereja di Indonesia.
Tetapi pada arus bawah memang harus kami akui teologi yang masih berkembang dan yang masih
diajarkan itu memang teologi untuk memindahkan orang dari yang bukan Kristen menjadi Kristen
sebagi panggilan yang luhur dari agama Kristen.
Ini teologi yang masih ada di arus bawah dari kekristenan di Indoensia. Ini menampakkan diri di dalam
suatu dorongan yang sangat kuat untuk orang-orang Kristen yang mereka sebut mengabarkan Injil.
Artinya membuat orang lain sesudah mendengar berita Injil itu memutuskan pindah agama untuk
masuk Kristen, sehingga terjadi pertambahan jumlah orang kristen di Indonesia. Lah ini yang
umumnya orang kaitkan.
Sementara dari pihak Kristen ada yang membela kami bukan melakukan kristenisasi tapi mengabarkan
Injil. Tapi menurut saya ujung-ujungnya dari pengabaran Injil itu sama dengan kristenisasi yaitu
menghasilkan orang-orang yang pindah agama masuk Kristen.
Saya kira hal ini akan menyinggung perasan dan hati banyak orang yang bukan Kristen. Seperti juga
kalau kami menghadapi orang-orang yang bukan Kristen yang bermaksud memindahkan orang Kristen
pindah menjadi agama yang lain.
Jadi di sini harus dikembangkan sebuah pemahaman yang baru untuk tidak melakukan misi agama
yang berupa proselitisasi atau pemindahan orang dari agama lama menjadi agama yang baru menurut
agama sang pemberita Injil.
Itu yang pertama harus dikembangkan sebuah pendekatan yang berbeda bagaimana misi agama itu
bukan lagi misi proselitisasi, tapi sebuah usaha untuk saling tumbuh bersama antara yang Kristen
maupun yang bukan Kristen. Nah ini yang harus dipahami oleh banyak warga gereja. Kristenisasi atau
pengkabaran Injil yang terprogram itu memang akan banyak menimbulkan penilaian dan kecurigaan
dari pihak-pihak yang bukan Kristen.
Guntur: Dan kristenisasi itu dilawan dengan islamisasi yang akhirnya ada benturan di masyarakat
bawah gitu ya?
Gus Dur: Dan begini ya, banyak sekali orang-orang Islam itu jengkel terhadap hasil-hasil dari
globalisasi. Muncul penduniaan nilai-nilai. Jadi kita harus ingat juga tidak disengaja menjadi proses
pendangkalan agama yang terjadi begitu.
Karena apa? Karena dengan adanya globalisasi itu menuju kepada satu nilai, seperti anak-anak kita
makan Mc Donald, Fried Chicken, dan sebagainya. Itu seolah dari Islam, “Wah bahaya itu (bagi)
Islam.” Padahal belum tentu bahaya.
Anak saya pada makan itu ya tetap saja biasa. Tapi kalau banyak-banyak saya enggak boleh, bukan
masalah agama tapi maslah kesehatan. Jadi maslahnya begitu, seringkali orang itu marah kepada
globalisasi dengan nilai dunianya itu. Lalu punya saya lebih hebat, lebih bagus, akibatnya ya begitu.
Guntur: Ya, Gus Dur sudah bersama kita di studio. Bung Taufik.
Taufik: Ya Bung Guntur sudah ada 2 pendengar. Kita sapa dulu Ibu Asmaniyah di Bogor. Silahkan Bu.
Ibu Asmaniyah: Terimakasih. Saya mau tanya pada pendeta yang dari DKI itu. Saya sampai dengan
umur 34 saya masih ber-KTP Islam. Kemudian Tuhan panggil saya, jadi tujuh tahun setelah saya
menikah, baru Tuhan panggil saya untuk saya mempertanyai Tuhan Yesus. Nah, pada waktu menikah,
waktu itu masih tahun 1977 boleh menikah dengan beda agama.
Kita datangi (catatan) sipil tanpa pendekatan nikah, tanpa KUA. Nah, kemudian Tuhan kemudian
panggil saya, dan saya menjadi seorang Kristen sampai saat ini. Nah, saya enggak ngerti dengan yang
dikatakan dengan Kristenisasi karena saya itu enggak pernah merasa dikristenkan oleh suami, oleh
orang-orang atau gereja sekali pun.
Jadi saya kadang-kadang suka risih dengan kat-kata kristenisasi, apalagi kalau ada yang bilang dengan
Supermie pun cukup menjadi orang Kristen. Karena saya merasa itu enggak ada sama sekali.
Satu lagi untuk Gus Dur. Bapak, kalau misalnya ada gereja didirikan di daerah paling terpencil.
Kemudian berjalannya waktu daerah itu menjadi ramai. Dan karena mayoritas Islam, pasti banyak
orang Islamnya kan, terus mereka bilang oh ini daerah Islam sehingga dilarang beribadah, tutup geraja.
Itu bagaimana Pak?
Guntur: Ya yang pertama mungkin persoalan tidak merasa dikristenkan meskipun ada perpindahan
agama di situ ya Pak Yohanes.
Yohanes: Jadi memang dalam kenyataan, kita harus bisa terbuka menerima kenyataan perpindahan
agama itu bisa berlangsung secara wajar. Dalam rangka relasi sosial yang wajar, dalam relasi
individual-personal yang wajar.
Orang bisa memutuskan untuk pindah agama. Dan ini adalah juga sebuah tindakan yang dijamin oleh
UUD negeri kita. Perpindahan agama terjadi bukan karena misi pengkristenan dari kalangan Kristen.
Itu harus kita terima sebagai faktor yang bisa terjadi, baik di level agama Kristen mau pun komunitas
agama-agama yang lain.
Perpindahan agama itu adalah hak asasi setiap individu. Tetapi akan menjadi masalah kalau
perpindahan agama itu menjadi salah satu tujuan terprogram dari sebuah agama yang dilakukan secara
sistematis di lapangan. Ini yang kita soroti serius yang kedua ini.
Guntur: Jadi maksudnya meskipun di situ ada perpindahan agama, tetapi itu berangkat dari hak asasi
seseorang bukan karena ajakan atau misi-misi tertentu, begitu Anda ingin katakan?
Yohanes: Ya tentu orang mau pindah agama masuk Kristen pasti sebelumnya dia sudah mendengar apa
itu kekristenan dari orang Kristen. Nah pada level interpersonal relationship, hubungan antar pribadi,
kita tidak bisa menghambat orang untuk menceritakan keyakinannya pada orang lain. Dari pihak
Kristen maupun dari pihak non-Kristen. Bahwa dari hak ini nanti terjadi keputusan orang yang
mendengar agama baru untuk ikut agama baru itu, kita tidak dapat menghambat juga.
Guntur: Baik. Saya membuka pertanyaan dari hadirin yang ada di Kedai Tempo. Silahkan. Atau kita
bacakan pesan pendek.
Taufik: Ya Guntur. Sudah ada beberapa pesan pendek yang masuk ke meja redaksi. Ini ada tanggapan
dari Pak Adi di Jatinegara orang Papua Kristen ternyata ikut terbawa arus provokasi Perda baik Islam,
Kristen, hanya mengotak-ngotakkan orang pada tempat yang saling berhadapan.
Kemudian SMS dari Pak Anton di Pancoran; Yesus diutus Allah hanya untuk bangsa Israel, ini
mengutip Matius ayat 10. Kemudian Ruh Kudus melarang penginjilan ke Asia, Kisah para Rasul ayat
16 poin 6.
Kemudian SMS dari Pak Akhwan di Krawang; kristenisasi, islamisasi, salafisasi itu sama saja sebagai
pelanggaran UUD. Berikutnya Fahri Romadhan di Ciledug Tangerang, Gus Dur bagaimana sikap Anda
kalau dalam program kristenisasi yang masuk Kristen ternyata keluarga Gus Dur sendiri, apakah Gus
Dur melarang atau Gus Dur membiarkan saja? Sebelum dijawab, kita sudah bersama pendengar di
Cibinong dengan Pak Kuanmin. Silahkan Pak.
Kuanmin: Selamat pagi Gus Dur. saya hanya mau menyampaikan bahwa saya orang kristenisasi.
Karena di Al-Kitab itu bukan di kristenisasi, tapi memberi makan orang yang lapar, memberi minum
orang yang haus, memberi tumpangan orang yang asing, memberi pakaian untuk orang yang telanjang,
merawat orang yang sakit dan dipenjara. Terimakasih.
Gus Dur: Ya sebetulnya kalau ada orang Islam masuk Kristen itu dia tidak memperoleh keterangan
yang cukup dari pihak Islam. Ya enggak usah dimarahi dong, Begitu kok dimarahi. Orang enggak
ngerti kok dimarahi gimana.
Dalam Islam kan cukup banyak, bahwa Islam itu unggul gitu loh. Kalau orang enggak tahu ini terus
pindah ya bukan salahnya orang Kristen. Saya baru-baru ini membuat paper pada seminar sejarah di
perpustakaan nasional tentang Purbocaroko. Dia itu orang kedua yang memperoleh gelar doktor di
Leiden (Belanda). Lah, pikiran dia tentang Islam terbatas pada soal-soal filologis, soal-soal bahasa. Jadi
segala tulisannya ke situ.
Padahal Islam itu bergerak begitu luas di mana-mana. Bahkan semacam ada ketakutan terhadap gerak
orang Islam. Ambil contoh keponakan saya sendiri. Dia itu kuliah fakultas ekonomi UI (Universitas
Indonesia), hanya tiga setengah tahun, selesai. Setelah dapat, IPK-nya itu 3, 97. termasuk mahasiswa
terpandai, padahal dia itu santri. Loh, kan berarti orang Islam yang benar kan? Sambil santrinya enggak
sempat pacaran kan. Kita lihat saja UI sekarang.
Dulu tahun 50-an, saya sekolah di Perwari Salemba, sekarang Trisula. Lah dulu anggur, perempuan dan
nyanyian, semboyannya orang seperti Emil Salim dan segala macam. Sekarang ada Masjid loh di situ.
Waktu saya memberi ceramah di kedokteran, di sana itu perempuan sendiri sebelah kanan, laki sendiri
di sebelah kiri. NU saja tidak seperti itu. Inilah contoh dari perkembangan-perkembangan yang tidak
terduga.
Ya enggak bisa kita marah pada dua-duanya. Cuma saya katakan bahwa soal mau di sebelah kanan
sebelah kiri, ya bodoh amatlah, bukan urusan kita. Jadi di sini kita melihat perkembangan yang tidak
terduga itu ada. Banyak yang diislamkan, banyak yang dikristenkan, ya biasa sajalah. Ini belum lagi
yang kejawen. Wow itu lebih banyak lagi.
Makanya saya beberapa waktu lalu saya ke India, ke Rajgad di New Delhi. Itu Menteri Besar New
Delhi membuat pengumuman; Peristiwa pembunuhan Gandhi di Rajgad akan dirayakan tanggal sekian.
Itu orang 200 ribu datang. Saya bilang pada anak saya si Yenny; Tuh Yen, lihat itu. Orang itu kalau
dicintai orang banyak itu ya begitu. Nah ingat, nabi kamu Nabi Muhammad itu tiap hari namanya
disebut tiap hari paling tidak lima kali oleh 800 juta orang. Yesus disebut oleh orang, enggak pernah
enggak. Bahkan kalau bercanda saja masih Yesus orang Kudus sebelah timurnya Semarang.
Jadi kita enggak usah marahlah pada perkembangan agama lain, dan tidak usah marah melihat
perkembangan yang bagi kita menyesakkan nafas. Ngapain sesak nafas, asal kita lihat itu normal ya itu
sudah selesai enggak jadi masalah.
Guntur: Jadi Gus Dur ingin mengatakan bahwa ada perkembangan yang sangat maju dari dua agama
itu dan tidak perlu disikapi dengan ketakutan-ketakutan ya Gus. Pak Yohanes ada komentar dari SMS
tadi?
Yohanes: Ya saya kira memang Yesus kalau kita lihat dari sejarahnya itu boleh kita lihat sebagai
pembaharu agama Yahudi. Misi utamanya memang internal Israel, tetapi ada aspek-aspek yang ia
perlihatkan dalam ajaran dan tindakannya bahwa ia mempunyai misi yang universal melampaui batas-
batas kebangsaan dan agama Yahudi.
Nah yang melampaui batas-batas partikurisme Yahudi inilah yang kemudian dikembangkan oleh para
murid Yesus dan gereja kemudian sebagai panggilan untuk menunjukkan misi pengkristenan kepada
seluruh dunia. Jadi ini adalah konsekuensi sejarah dari agama yang mula-mula Yesus perbarui. Ini
harus kita akui bahwa dalam kekristenan ada aspek evangelisasi yang bertujuan untuk pengkristenan
dunia.
Saya kira dalam semua agama besar hal yang paralel bisa kita temukan. Tinggal sekarang bagaimana
kita sekarang di zaman modern ini memahami kembali tugas-tugas panggilan proselitisasi yang terarah
pada dunia ini pada semua agama apakah masih relevan. Kalau tidak relevan, kita harus cari bentuk
baru bersama-sama begitu.
Gus Dur: Seorang Rabi mengeluh kepada Tuhan di Sinagong. Tuhan, saya sudah 60 tahun jadi rabi.
Saya melihat dengan bangga bagaimana mengurusi umat kamu, juga menegakkan agama kamu,
hukum-hukum kamu. Tapi kenapa anak laki-laki saya satu-satunya yang saya didik untuk
menggantikan saya sebagai rabi kamu biarkan masuk ke agama Kristen. Jawabnya Tuhan apa? Udah
diam saja, anak saya juga gitu.
Guntur: Gus Dur dan Pak Yohanes terimakasih menarik sekali perbincangan kita pagi hari ini. Dan
kita akan berganti topik pada Perda-perda Syariah di Indonesia.[]

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags: Sumpah, Pemuda
Stats:
views:161
posted:5/1/2010
language:Indonesian
pages:8
Description: makalah-perkembangan-HAM-di-indonesia pdf