Abstrak Hasil Penelitian Tahun 2005 - PDF by xld14276

VIEWS: 9,469 PAGES: 184

analisa-finansial-gaharu pdf

More Info
									1
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



                       HUTAN DAN KONSERVASI ALAM

Andadari, Lincah
Pengaruh residu beberapa insektisida pada daun murbei (Morus cathayana H.) terhadap
rendemen pemeliharaan dan mutu kokon ulat sutera (bombyx mori L.) = Residual effect
of some insecticides of mulberry leaves Morus cathayana H. on survival rate and cocoon
quality of Bombyx mori L / Lincah Andadari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 149-156 , 2005

         Penelitian pengaruh residu berbagai insektisida pada pakan (Morus sp.) terhadap
rendemen pemeliharaan dan mutu kokon ulat sutera Bombyx mori L. dilaksanakan pada
bulan Oktober sampai dengan Desember 2003 di ruang pemeliharaan ulat sutera Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam Bogor. Sebagai bahan
penelitian dipergunakan ulat sutera bivoltine hasil persilangan (Fl). Ulat diberi makan
daun murbei yang telah dan yang tidak disemprot insektisida sesuai dengan perlakuan.
Dalam penelitian ini dipergunakan Rancangan Acak Kelompok dengan 4 perlakuan berupa 3
perlakuan insektisida dan kontrol, masing-masing perlakuan diulang 4 kali. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa residu insektisida tidak berpengaruh terhadap
rendemen pemeliharaan dan bobot kokon tetapi berpengaruh terhadap bobot kulit
kokon dan persentase kulit kokon. Untuk pengendalian hama murbei sebaiknya
digunakan insektisida yang mempunyai selang waktu residu yang pendek 16 hari setelah
penyemprotan insektisida, daun murbei aman dipergunakan sebagai pakan ulat sutera.

Kata kunci: Insektisida, murbei, Bombyx mori L., kokon


Andadari, Lincah
Pengaruh cendawan mikoriza arbuskula terhadap pertumbuhan stek murbei (Morus alba
var Kanva- 2 L) = Effect of arbuscular mycorrhiza fungi to cutting growth of mulberry
(Morus alba var Kanva-2 L.) / Lincah Andadari, Ragil SB Irianto. -- Jurnal Penelitian
Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 269-275 , 2005

         Kendala dalam usaha persuteraan alam di Indonesia adalah masih rendahnya
produktivitas daun murbei dan kokon ulat sutera, sehingga penghasilan yang diperoleh
masyarakat masih rendah. Oleh karena itu, usaha untuk meningkatkan produksi daun
murbei perlu terus dilakukan, antara lain melalui peningkatan teknik pemeliharaan
tanaman murbei. Peningkatan produksi daun murbei dapat dilakukan dengan berbagai
cara antara lain pemuliaan, budidaya seperti perbanyakan bibit dengan stek dan
penerapan bioteknologi. Pengembangan tanaman murbei terutama di luar Pulau Jawa
seringkali mengalami kegagalan terutama pada lahan – lahan marjinal. Untuk mengatasi
masalah tersebut di atas, penggunaan inokulan Cendawan Mikoriza Arbuskular (CMA)
dalam perbanyakan bibit dengan cara stek merupakan salah satu bioteknologi yang perlu
diterapkan. Penelitian penggunaan mikoriza pada stek tanaman murbei menggunakan
Rancangan Acak Kelompok dengan tiga perlakuan dan ulangan sebanyak delapan kali.


                                                                                             1
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Hasil percobaan menunjukkan persentase tumbuh dan jumlah daun antara tiap
perlakuan tidak menunjukkan perbedaan yang nyata namun inokulasi dengan Glomus
aggregatum menunjukkan peningkatan persentasi tumbuh sebesar 16% dan jumlah daun
sebesar 30% dibandingkan dengan kontrol. Pegaruh mikoriza pada stek murbei
memberikan perbedaan yang nyata pada parameter panjang akar dan berat akar.

Kata kunci: Murbei, inokulasi, mikoriza, pertumbuhan


Antoko, Bambang S.
Keragaman jenis tumbuhan dan tingkat kesuburan tanah pada beberapa sistem
pengelolaan perladangan berpindah di zona penyangga Taman Nasional Bukit Tiga
Puluh = Species diversity at shifting cultivation regimes in buffer zone Bukit Tiga Puluh
National Park / Bambang S. Antoko dan Asep Sukmana. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 113-125 , 2005

          Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui dampak sistem pengelolaan
perladangan berpindah terhadap keragaman jenis tumbuhan dan tingkat kesuburan
tanah di zona penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Pengamatan dilakukan pada
jenis-jenis vegetasi menurut perkembangan sistem perladangan berpindah yang dilakukan
oleh masyarakat pada lokasi penelitian yaitu tipe ladang bera satu tahun, tipe ladang bera
dua tahun, dan tipe ladang bera tiga tahun, dan sebagai pembanding/kontrol diamati
pula jenis-jenis vegetasi di kawasan bekas tebangan. Analisa vegetasi dilakukan dengan
menghirung Indeks Nilai Penting (INP) dan asosiasi antar jenis. Dilakukan pula
pengambilan enam buah sampel tanah secara purposif pada masing-masing lokasi untuk
mengetahui kondisi tanah tersebut secara umum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
tipe ladang bera tiga tahun mempunyai keragaman jenis tumbuhan yang relatif lebih baik
dibandingkan dengan dua sistem pengelolaan perladangan berpindah lainnya. Namun
demikian, hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa semua sistem pengelolaan
menunjukkan penurunan keragaman jenis tumbuhan yang nyata jika dibandingkan
dengan kawasan bekas tebangan yang relatif tidak terganggu kondisinya oleh aktivitas
berladang.

Kata kunci: Keragaman jenis tumbuhan, sistem pengelolaan perladangan
            berpindah


Anwar, Chairil
Teknologi rehabilitasi lahan mangrove terdegradasi / Chairil Anwar. -- Prosiding Ekspose
Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 53-64 , 2005

        Laju kerusakan kawasan mangrove dalam dua dekade belakangan ini
begitu pesat (kehilangan sekitar 2,15 juta ha dalam 21 tahun). Keadaan ini tidak
seimbang dengan laju pemulihannya yaitu hanya kurang lebih 1.578 ha/tahun,
berdasar data Statistik Kehutanan Indonesia, 2004 selama lima tahun. Persentase


                                                                                              2
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tumbuhnya juga dilaporkan sangat rendah. Untuk data penanaman mangrove di
Sulawesi Selatan tahun 1999 saja hanya mencapai persen tumbuh sebesar 24,3 %.
Mangrove Sumatera Selatan yang luas kawasannya 558 ribu ha dan non kawasannya
495 ribu ha, dengan kondisi ±75 % dalam keadaan rusak berat hingga rusak sedang,
realisasi penanaman mangrovenya selama lima tahun terakhir (1999-2003) hanya
mencapai 200 ha. Hasil-hasil penelitian yang berkaitan dengan teknologi
rehabilitasi hutan mangrove, khususnya yang berkaitan dengan teknik penanaman
mangrove disajikan dalam tulisan ini. Untuk penyiapan bibit disajikan cara pemungutan
dan pengenalan ciri buah matang. Untuk pembibitan disajikan cara penyiapan dan
pembuatan bedeng serta cara pembibitannya. Untuk penyiapan-tanaman disajikan
cara pemilihan jenis, persiapan penanaman, dan pengangkutan bibit. Untuk cara
penanaman disajikan cara penanaman melalui bibit maupun langsung, serta teknik-
teknik penanaman pada kondisi tapak khusus, seperti berombak dan berlumpur
dalam.

Kata kunci: Mangrove, pembibitan, penanaman, rehabilitasi, Sumatera Selatan


Aswandi
Model pendugaan volume batang berdiri dengan integrasi fungsi taper jenis meranti
(Shorea spp): studi kasus di HPH PT Kiang Nam Development Indonesia Sumatera
Utara = Estimation model of standing tree volume using integration of taper function for
meranti (Shorea sp): Case study in forest consessioner PT Kiang Nam development
Indonesia Nort Sumatera / Aswandi, Darmawan Edy dan Dodo A Suhada. -- Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 11-19 , 2005

          Beragamnya bentuk pohon membatasi penggunaan label volume dan angka
bentuk batang dalam pendugaan volume pohon dengan jenis dan lokasi tertentu. Angka
bentuk 0,7 yang umumnya digunakan dalam inventarisasi hutan cenderung
menghasilkan pendugaan volume yang bias, khususnya bagi bentuk batang yang
tidak linear. Studi ini bertujuan untuk menemukan suatu model penduga volume pohon
berdiri yang lebih akurat dengan menggunakan pendekatan integrasi fungsi taper.
Berdasarkan pengukuran 424 seksi batang dari 89 pohon contoh, diperoleh fungsi
taper dan pendugaan volume pohon berdiri sebagai berikut:
                                                 2
 d                   h                       h
   = 0,652 + 0,542 1               0,21 1            , and
 D                   H                       H
                                         2                   3                4                   5 h1
                 h                  h               h                     h                h
 Vbt = 1 D 0,968
              2
                               0,12          0,1328              + 0,0127         + 0,0088
        4        H                  H               H                     H                H
                                                                                                    h0


dimana d : diameter pada ketinggian k, D : diameter setinggi dada, h : ukuran tinggi
pohon pada titik tertentu, dan H: tinggi total kayu pertukangan. Pendugaan volume
pohon berdiri jenis meranti (Shorea spp.) menggunaan integrasi fungsi taper


                                                                                             3
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



menghasilkan pendugaan yang memiliki akurasi tinggi dan fleksibilitas dalam
pelaksanaannya.

Kata kunci: Volume pohon, model, fungsi taper, angka bentuk, tabel volume


Aswandi
Model pertumbuhan dan hasil hutan tanaman Gmelina arborea menggunakan petak ukur
temporer di Sumatera Utara = Growth and yield model for Gmelina arborea plantantion
using temporary sampling plots North Sumatera / Aswandi, Cica Ali. -- Jurnal Penelitian
Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 349-360 , 2005

     Penelitian ini bertujuan untuk membangun model pertumbuhan dan hasil jenis Gmelina
arborea di Pasir Mandoge Simalungun Sumatera Utara. Data pengukuran 12 plot
ukurtemporer digunakan untuk merumuskan model penduga diameter, tinggi, jumlah
pohon per hektar, luas bidang dasar, dan volume tegakan. Semua plot tersebut berada
pada tegakan yang berumur 5-8 tahun. Kualitas tempat tumbuh dihitung menggunakan
persamaan indeks tempat tumbuh SI = H* {(1 -e°237*8)/ (1 -e"° 237*A)} yang dibangun berdasarkan
hubungan antara peninggi dengan umur tegakan. Hasil volume pada umur rotasi 8
tahun adalah 178,74 m3 ha' dengan MAI sebesar 22,34 m3 ha' tahun1. Model prediksi
pertumbuhan dan hasil dibangun berdasarkan analisis dan diperoleh :
     a. Model dbh tegakan: \RD = 5.84 - 6.27 AA - 0.511 hi5-0.00066 N
     b. Model tinggi tegakan: ln// = - 4.09 + 4.07 inA -1.46 lnB+ 1.15 In JV-1.30 lnS
     c. Model penduga jumlah pohon: In N= 8.80 + 0.227 inB - 0.817 ln£> - 0.227 lnS
     d. Model luas bidang dasar AnB = 5.26 - 0.0281 S- 8.05 A1 - 0.151 S/A
     e. Model volume: hi V= 2.02 + 0.0407 S + 0.65 AA + 0.682 hi B
Model-model tersebut menghasilkan kurva pertumbuhan berbentuk sigmoid. Hasil ini
mendukung prinsip-prinsip biologi perkembangan tegakan.

Kata kunci: Model, pertumbuhan dan hasil, Gmelina arborea, Sumatera Utara


Aswandi
Model ingrowth, upgrowth dan mortality pada hutan rawa bekas tebangan di propinsi
Riau = Ingrowth, upgrowth and mortality models for overlogged swamp forest in province
of Riau / Aswandi. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ;
Halaman 361-375 , 2005

        Pertumbuhan hutan setelah penebangan merepresentasikan dinamika
pertumbuhan tegakan melalui penambahan individu pohon baru (ingrowth),
peningkatan fase pertumbuhan melalui pertambahan diameter (upgrowth), dan kematian
pohon penyusun tegakan (mortality). Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model
penduga ingrowth, upgrowth, dan mortality hutan rawa dengan menggunakan data seri


                                                                                                 4
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



petak ukur permanen HPH PT. Inti Prona Provinsi Riau. Model yang dibangun
menunjukkan bahwa laju ingrowth, upgrowth, dan mortality dipengaruhi oleh luas bidang
dasar tegakan, kerapatan tegakan, dan ukuran pohon. Laju ingrowth dan upgrowth
berhubungan negatif dengan luas bidang dasar tegakan, dan ingrowth dan upgrowth akan
semakin rendah pada luas bidang dasar tegakan yang semakin besar (tegakan yang
lebih rapat). Sedangkan laju mortality berhubungan positif dengan luas bidang dasar
tegakan, sehingga laju mortality akan semakin tinggi pada luas bidang dasar tegakan
yang semakin besar.

Kata kunci : Ingrowth, upgrowth, mortality, luas bidang dasar, kerapatan tegakan,
            model, struktur tegakan, hutan rawa


Antoko, Bambang S
Karakteristik habibat dan populasi walet sarang hitam (Collocia maxima Hume, 1878) di
gua sungai Pinang, Mandailing Natal Sumatera Utara = Characteristics of habitat and
population of black-nest swiflet (Collocia maxima Hume, 1878) in sungai Pinang's cave
Mandailing Natal, North Sumatera / Bambang S Antoko, Bakhdal dan M Salman Zuhri. --
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 377-385 ,
2005

          Kabupaten Mandailing Natal (Madina) adalah salah satu pemasok sarang walet
sarang hitam (Collocalia maxima Hume, 1878) di Provinsi Sumatera Utara. Namun demikian,
data dan informasi mengenai habitat, populasi, dan teknik pemanenannya masih sangat
terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik habitat, populasi, dan
teknik pemanenan walet sarang hitam. Data yang dikumpulkan meliputi populasi dan
kebiasaan burung ini, parameter habitatnya yaitu gua Sungai Pinang dan teknik pemanenan
serta produktivitas sarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu rata-rata gua berkisar
antara 26-28 °C, kelembaban antara 70-80 %, dan intensitas cahaya antara 0,2-4,1 foot
candle atau setara dengan 2,0-41 lux meter. Hal ini merupakan habitat yang sesuai bagi
walet sarang hitam. Berdasarkan hasil produksi sarang pada bulan September 2002, dapat
diprediksi bahwa jumlah populasi Collocalia maxima Hume, 1878 di gua Sungai Pinang
antara 90.000-120.000 pasang burung atau antara 180.000-240.000 ekor burung. Pemanenan
dilakukan tiga kali dalam setahun, yaitu panen besar, panen sedang, dan panen kecil.

Kata kunci: Walet sarang hitam, Collocalia maxima Hume 1878, gua Sungai Pinang,
            habitat wallet



Bismark, M.
Model pengukuran biomassa populasi primata = Model of primate population biomass
measurement / M. Bismark. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II
No.5 ; Halaman 491-496 , 2005



                                                                                                5
                                                        Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



          Kualitas ekosistem hutan sebagai habitat dapat dinilai dari biomassa primata
arboreal yang pergerakan dan sumber pakan sangat tergantung pada struktur fisik
tegakan. Pendugaan berat badan (Bb) individu sebagai biomassa secara langsung di
habitat alami dilakukan dengan mengukur gaya elestisitas cabang berdiameter kurang dari
10 cm dirnana primata duduk atau istirahat. Penelitian ini menggunakan bekantan (Nasalis
larvatus Wurmb) sebagai satwa model. Model regresi eksponensial sebagai penduga Bb
(kg) dengan parameter geometrik tubuh yang berhubungan erat dengan berat badan,
telah diujikan terhadap panjang badan dan kepala (td, dalam cm) serta luas permukaan
tubuh (L, dalam m2). Dalam penelitian, td diukur pada posisi duduk bekantan. Hasil
menunjukkan bahwa korelasi L terhadap td pada jantan dan betina berbeda. Dengan
luas permukaan tubuh betina setengah dari luas permukaan tubuh jantan (dimorfisme
seksual), nilai korelasi L dengan td adalah LO = 0.0514e0.0395td, sedangkan LP = 0.1048e0.0662td
dan korelasi L dengan Bb mengikuti persamaan L = 0.1324 Bb0.67.

Kata kunci: Bekantan (Nasalis larvatus Wurmb), biomassa, populasi jenis


Darwiati, Wida
Serangan ulat kantong pada bibit meranti di persemaian = Bagworm attack on meranti
seedling nursery / Wida Darwiati, Sri Esti Intari. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman
345-351 , 2005

          Ulat kantong adalah salah satu hama perusak daun yang potensial, yang
umumnya mewabah pada musim kemarau yang panjang. Jenis hama ini mempunyai
tanaman inang yang sangat bervariasi mulai dari tanaman pertanian, tanaman perkebunan,
dan tanaman kehutanan. Pada bulan Juli sampai dengan bulan September 2004, bibit
Anisoptera spp., S. stenoptera, dan 5. macrophylla di pesemaian Pusat Litbang Hutan dan
Konservasi Alam Bogor, diserang oleh hama ulat kantong. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui jenis ulat kantong yang menyerang bibit meranti di pesemaian, perilaku dan biologi
hama, serta akibat serangannya. Penelitian ini dilakukan dengan menghitung persentase
serangan ulat kantong pada 50 bibit tanaman yang diambil secara acak, serta menghitung
populasi tiap jenis ulat kantong pada 15 tanaman contoh dari total 50 bibit tanaman tersebut.
Hasil identifikasi di laboratorium ternyata bibit meranti tersebut diserang oleh jenis ulat kantong
yang berukuran agak besar (Amatissa sp.), dan (Pteroma sp.) ulat kantong yang berukuran
agak kecil. Jumlah rata-rata ulat kantong per bibit adalah : bibit Anisoptera spp. 58 ulat, S.
stenoptera 53 ulat, dan S. macrophylla 48 ulat, dengan persentase serangan ulat pada bibit 5.
anisoptera sebesar 84 %, S. stenoptera sebesar 76 %, dan S. macrophylla sebesar 60 %.

Kata kunci: Walet sarang hitam, Collocalia maxima Hume 1878, gua Sungai Pinang,
            habitat wallet




                                                                                                   6
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Darwiati, Wida
Uji toksikologi daun babadotan (Ageratum conyzoides L) dan cente manis (Lantana
camara L) terhadap hama penggerek pucuk mahoni (Lepidoptra : Pyralidae) =
Toxicology test of Babadotan (Ageratu conyzoides L) and Cente manis (Lantana camara
L) leaves to shoot borer of mahagony (Lepidoptera:Pyralidae) / Wida Darwiati, Sri Esti
Intari. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 353-358 , 2005

            Dalam penerapan Pengendalian Hama Terpadu sebagai upaya perlindungan hutan
tanaman, kegiatan penelitian pestisida nabati yang berasal dari tanaman mulai
dikembangkan karena tidak mencemari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji
efektifitas insektisida nabati yang berasal dari tumbuhan babadotan (Ageratum conyzoides L.)
dan cente manis (Lantana camara L.) terhadap hama penggerek pucuk mahoni (Hypsiphylla
robusta Moore,). Dosis yang digunakan 0,5; 1,0; dan 1,5 gram dengan rancangan
percobaan Acak Lengkap. Dari hasil analisis kimia yang menggunakan alat HPLC (High
Pressure Liquid Chromatography) diketahui bahwa tumbuhan babadotan mengandung
senyawa kimia dari golongan Precocene 1, Precocene 2, senyawa saponin, flavonoid,
polifenol, dan minyak atsiri; sedangkan tumbuhan cente manis mengandung senyawa asam
lantanin atau asam triterpen dan lantaden A. Hasil uji efikasi menunjukkan bahwa perlakuan
serbuk daun babadotan dengan dosis 0,5 dan 1,0 gram tidak berbeda nyata, sedangkan
dosis 1,5 gram menunjukkan perbedaan nyata dan efektif dengan persentase kematian 15,5
%. Sedangkan perlakuan serbuk daun cente manis dengan dosis 0,5; 1,0; dan 1,5 gram
semuanya efektif.

Kata kunci: Pestisida nabati, penggerek pucuk Hypsiphylla robusta Moore, mahoni


Garsetiasih, R
Studi struktur populasi rusa totol (Axis axis ERXL) di Taman Istana Bogor = Study of
population structure of cital deer (Axis axis ERXL) in the park of Bogor palace / R
Garsetiasih, Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II
No.1 ; Halaman 61-70 , 2005

          Tujuan penelitian untuk mengetahui dinamika dan struktur populasi Rusa Totol di
Taman Istana Bogor. Penghitungan jumlah rusa menggunakan metode konsentrasi,
yaitu pengamatan dilakukan terpusat pada tempat rusa melakukan aktivitas makan dan
istirahat. Untuk pengamatan struktur umur dilakukan dengan penggolongan rusa
berdasarkan kematangan kelamin dan ukuran besar tubuh ke dalam kelas dewasa
produktif, dewasa tidak produkktif, remaja hampir dewasa, remaja muda, dan anak. Hasil
penelitian menunjukkan populasi rusa di Taman Istana Bogor total 759 individu (jantan
236 individu, betina 450 individu, dan anak 73 individu), kelas umur dewasa produktif 351
individu, dewasa tidak produktif 54 individu, remaja hampir dewasa 172 individu, remaja
muda 109 individu, dan anak 73 individu. Kepadatan populasi rusa sebesar 38 individu/ha,
sedangkan berdasarkan perhitungan ketersediaan pakan Taman Istana Bogor hanya
dapat menampung 13 individu/ha. Hal ini menunjukkan bahwa populasi rusa yang ada di



                                                                                               7
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Taman Istana Bogor telah melebihi daya dukung, sehingga perlu dilakukan manajemen
populasi di antaranya dengan mengeluarkannya atau rusa di Taman Istana Bogor
dapat dijadikan stok untuk pengembangan Rusa Totol di tempat yang lain.

Kata kunci: Rusa Totol, populasi, kelas umur, halaman Istana Bogor


Garsetiasih, R.
Studi potensi pakan rusa (Cervus timorensis rusa de Blainville) di
penangkaran Ranca Upas, Ciwidey Bandung Jawa Barat = Study of deer feed potency
(Cervus timorensis rusa de Blainville) in The Ranca Upas Captive Breeding, Ciwidey
Bandung West Java) / R. Garsetiasih, dan N.M. Heriyanto. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.6 ; Halaman 547-553 , 2005

           Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pakan rusa melalui
penentuan daya dukungnya. Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai November
2004 di penangkaran rusa Ranca Upas, Ciwidey Bandung Jawa Barat. Pengumpulan
data vegetasi pakan rusa menggunakan metode plot bujur sangkar berukuran 1 m x 1 m.
Penentuan plot pertama dilakukan secara acak yang selanjutnya sistematik, jumlah plot
yang digunakan sebanyak 20 plot, jarak antara plot 10 m. Dari penelitian ditemukan
beberapa rumput sebagai pakan rusa. Jenis rumput tersebut yang paling disukai secara
berurutan adalah bayondah (Isachne globosa O.K.), lampuyang (Panicum repens Linn.),
lameta (Leersia hexandra Swartz.), dan kipahit (Anastrophus compressus Schlechtd.).
Nilai gizi hijauan pakan rusa ditunjukkan oleh kadar protein yang dikandung hijauan pakan.
Kandungan protein pakan tertinggi secara berturut-turut yaitu jenis bayondah sebesar
15,53 %, lampuyangan 10,66 %, dan lameta sebesar 9,64 %. Daya dukung habitat
pakan di penangkaran rusa Ranca Upas dengan luas 4,5 ha sebanyak 21 individu untuk
musim kemarau dan 40 individu pada saat musim hujan.

Kata kunci: Potensi, pakan rusa, Ranca Upas


Gunawan, Hendra
Nilai manfaat ekonomi hidrologis daerah aliran sungai bagi sektor rumah tangga,
pertanian sawah, dan perikanan darat di Provinsi Gorontalo = The Economical value of
hydrological function of watersheds in gorontalo province for the sectors of household,
irrigated rice field, and freshwater fisheries in Gorontalo Province / Hendra Gunawan,
Rahayu Supriadi, dan Maryatul Qiptiyah. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam
: Vol.II No.2 ; Halaman 135-147 , 2005

         Daerah Aliran Sungai (DAS) memegang peranan penting dalam neraca air bagi
suatu wilayah. Suplai dan kualitas air sungai, mata air, dan air tanah sangat dipengaruhi
oleh keberadaan hutan di daerah aliran sungai. Pemanfaatan air di Provinsi Gorontalo
sampai saat ini masih kurang memperhatikan hutan dan DAS sebagai satu kesatuan
pengelolaan. Akibatnya tidak ada penghargaan terhadap jasa hutan yang diberikan


                                                                                              8
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



melalui fungsi hidrologisnya. Penelitian ini bertujuan untuk menaksir nilai manfaat
hidrologis DAS di Provinsi Gorontalo, khususnya untuk sektor rumah tangga, pertanian
sawah, dan perikanan. Wawancara terstruktur dilakukan untuk mendapatkan data
primer konsumsi air oleh penduduk. Data sekunder diperoleh dari berbagai instansi
terkait. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai manfaat hidrologis daerah aliran
sungai di Provinsi Gorontalo untuk sektor rumah tangga, pertanian sawah, dan perikanan
mencapai hampir Rp 90 milyar setahun. Masalahnya, baik masyarakat maupun instansi
terkait belum sepenuhnya menyadari arti penting keberadaan hutan di DAS sehingga
penggundulan hutan masih terus berlangsung. Meskipun bencana kekeringan belum
melanda provinsi ini tetapi bencana banjir sering melanda setiap tahun akibat hilangnya
hutan di DAS. Pembuatan kebijakan pengelolaan sumberdaya air yang terpadu sangat
dianjurkan agar pemanfaatan air dapat lebih optimal dan lestari.

Kata kunci: Hidrologi, daerah aliran sungai, air, hutan, Gorontalo


Gunawan, Hendra
Keanekaragam jenis burung di Wanariset Malili kabupaten Luwu Timur Sulawesi Selatan
= Bird diversity in malili research station East Luwu Timur Sulawesi Selatan / Hendra
Gunawan, Indra A.S.L.P Putri dan Maryatul Qiptiyah. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 241-250 , 2005

           Wanariset Malili merupakan pulau ekosistem hutan yang terletak di antara
pemukiman dan lahan budidaya sehingga memiliki peranan penting dalam mendukung
konservasi kehidupan liar, khususnya burung. Penelitian yang bertujuan mempelajari
kekayaan dan keanekaragaman jenis burung ini dilakukan menggunakan metode IPA
dengan lima buah titik pengamatan. Dalam penelitian ini ditemukan 30 jenis burung, di
mana tujuh jenis diantaranya merupakan burung endemik dan tujuh jenis burung
dilindungi. Indeks keanekaragaman jenis burung di Wanariset Malili adalah 2,7359 dan
indeks eveness 0,8022. Sebagian besar burung yang dijumpai merupakan jenis
terestrial dan penghuni tetap Wanariset Malili.

Kata kunci: Burung, aves, keanekaragaman, wanariset


Gunawan, Hendra
Pengaruh perambahan terhadap vegetasi dan satwa liar di Taman Nasional Rawa Aopa
Watumohai, Provinsi Sulawesi Tenggara = The effect of forest encroachment on
vegetation and wildlife in Rawa Aopa Watumohai National Park, South East Sulawesi
Province / Hendra Gunawan dan Abdullah Syarief Mukhtar. -- Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 449-459 , 2005

         Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) sedang mengalami tekanan
akibat perambahan hutan. Perambahan ini mengakibatkan rusaknya sampai hilangnya
habitat yang menyebabkan menurunnya sampai hilangnya satwa di habitat tersebut.


                                                                                            9
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perambahan hutan terhadap
vegetasi dan satwaliar di TNRAW. Vegetasi dipelajari melalui analisis garis berpetak,
mamalia dan reptilia diamatai dengan metode transek sedangkan burung diobservasi
dengan metode IPA. Hasil penelitian ini menemukan bahwa perambahan menyebabkan
terganggunya sampai berubahnya ekosistem mikro akibat berubahnya struktur dan
komposisi sampai hilangnya vegetasi. Perambahan juga menyebabkan berkurangnya
sampai hilangnya ruang, pakan, tempat berlindung, dan tempat beraktivitas sosial.
Pengaruh perambahan hutan yang diterima oleh populasi satwaliar antara lain
menurunnya populasi, terganggunya kesehatan, migrasi, meningkatnya persaingan,
perubahan perilaku, perubahan kebiasaan makan dan jenis makanan, dan
terganggunya proses reproduksi. Satwa yang paling berat menerima pengaruh
perambahan merupakan jenis-jenis dilindungi yaitu anoa (Bubalus depressicornis), rusa
(Cervus timorensis), monyet digo (Macaca ochreata), dan kuskus beruang
(Phalanger ursinus).

Kata kunci: Pengaruh, perambahan, vegetasi, satwaliar, taman nasional, Rawa
            Aopa


Gunawan, Hendra
Model Zona Penyangga Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, di Provinsi Sulawesi
Tenggara = Buffer Zone Model of Rawa Aopa Watumohai National Park in South East
Sulawesi Province / Hendra Gunawan ... [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 477-490 , 2005

        Penelitian ini bertujuan untuk menemukan model penyangga Taman Nasional
Rawa Aopa Watumohai (TNRAW) yang sesuai dengan karakteristik biofisik, sosial,
ekonomi, dan budaya. Kriteria dan indikator yang digunakan diadaptasi dari berbagai
sumber yang sudah banyak diterapkan. Suatu survei dengan wawancara terstruktur,
kuesioner, dan checklist digunakan untuk menghimpun data sosial, ekonomi, dan
budaya masyarakat. Metode garis berpetak digunakan untuk menganalisis vegetasi dan
transek untuk menginventarisasi satwaliar. Hasil penelitian merekomendasikan model
penyangga yang dapat mengurangi atau menghilangkan tekanan terhadap taman
nasional sekaligus juga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitarnya. Model
penyangga yang dapat berfungsi demikian adalah penyangga ekonomi dan zona
pemanfaatan tradisional.

Kata kunci: Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai, zona penyangga, model,
            kriteria, indicator




                                                                                          10
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Gunawan, Hendra
Analisis keberhasilan rehabilitasi mangrove di Pantai Utara Jawa Tengah = An Analysis
on the success of mangrove rehabilitation in the North Coast of Central Java / Hendra
Gunawan dan Chairil Anwar. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 239-248 , 2005

          Upaya rehabilitasi hutan mangrove sudah dimulai sejak tahun 1990-an namun sampai
tahun 2003 hanya dapat terealisasi 7.890 ha, itupun dengan tingkat keberhasilan yang sangat
rendah. Penelitian ini bertujuan mengetahui keberhasilan tanaman rehabilitasi mangrove di pantai
utara Jawa Tengah, khususnya tanaman Rhizophora mucronata yang ditanam padatahun
2002. Enam petak contoh untukpengamatan diambil dari beberapatempat yangmewakili
limakabupaten yaitu : Brebes, Pemalang, Demak, Jepara, dan Pati. Indikator keberhasilan
yang digunakan adalah persentase hidup, tinggi, dan diameter tanaman. Hasil penelitian ini
menyimpulkan tingkat keberhasilan tanaman R. mucronata berbeda di antara petak contoh
yang ditunjukkan oleh perbedaan tinggi dan diameter rata-rata serta persen hidup. Diameter
dan tinggi tanaman di enam petak contoh secara statistik berbeda nyata. Sedangkan
keberhasilan hidup bervariasi dari 23,5 % sampai 99,6 %. Hal ini dapat disebabkan oleh
berbagai faktor antara lain hama dan penyakit tanaman, ombak, gangguan ternak, gangguan
manusia, dan kualitas bibit yang buruk. Sedangkan diameter dan tinggi rata-rata erat kaitannya
dengan tingkat kesuburan dan kesesuaian tempat tumbuh dan serangan hama. Faktor non
teknis juga menentukan keberhasilan rehabilitasi mangrove di antaranya kelembagaan dan
kebijakan pemerintah daerah serta partisipasi masyarakat.

Kata kunci: Mangrove, rehabilitasi, keberhasilan, pantai utara, Jawa Tengah


Gunawan, Hendra
Karakteristik perambahan hutan di Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai Propinsi
Sulawesi Tenggara = The characteristics of forest encroachment in Rawa Aopa
Watumohai National Park South East Sulawesi Province / Hendra Gunawan. -- Info
Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 261-272 , 2005

          Sejak Indonesia mengalami krisis ekonomi, banyak taman nasional mengalami tekanan
akibat perambahan. Karakteristik perambahan taman nasional biasanya spesifik untuk setiap
lokasi karena dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti latar belakang kondisi sosial, ekonomi
dan budaya masyarakat serta kondisi biofisik wilayah dan situasi politik di daerah. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik perambahan kawasan Taman Nasional Rawa
Aopa Watumohai di Sulawesi Tenggara. Pengumpulan data sekunder dilakukan di kantor
Taman Nasional Rawa Aopa Watumohai. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan
responden kunci. Analisis data dilakukan secara deskriptif.. Hasil penelitian menemukan
bahwa perambahan meningkat pesat menjelang masa krisis ekonomi dan mencapai puncaknya
pada saat teijadi gerakan reformasi. Perambah dapat dikelompokkan menjadi tiga berdasarkan
motivasinya yaitu pengklaim lahan adat/warisan, perambah yang sekedar menyambung hidup
akibat krisis ekonomi, dan perambah serakah yang bertujuan memperkaya diri. Klaim lahan
adat mencapai 22.150 ha oleh 11 kelompok masyarakat, 3.221 ha di antaranya telah diolah
dan dipatok, sisanya masih berhutan. Di samping itu, juga terjadi jual beli lahan kawasan yang


                                                                                                11
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



mencapai 3.100 ha. Luas kerusakan hutan akibat perambahan mencapai 9.233 ha atau 8,78 %
dan luas kawasan taman nasional ini yang mengakibatkan terganggunya fungsi ekologis dan
hidrologis hutan serta hilangnya nilai estetika. Tujuh puluh empat persen perambah adalah
pendatang yang sebagian besar merupakan Suku Bugis, sedangkan penduduk asli hanya 26
% yang terdiri dan Suku Moronene dan Tolaki. Berdarkan luas garapannya, sebagian besar
perambah (52,1 %) menggarap lahan dengan luas antara 1 -2 ha, bahkan 26,3 % perambah hanya
menggarap lahan dengan luas kurang dari 1 ha. Penduduk setempat sebagian besar
menggarap lahan dengan luas kurang dari 2 ha, sedangkan penggarap lahan yang lebih
luas umumnya adalah pendatang.

Kata kunci: Perambahan, kawasan hutan, taman nasional, Rawa Aopa, Watumohai,
            Sulawesi


Gintings, A. Ngaloken
Pembuatan bibit tanaman kemiri yang mudah dan resiko kecil = Easy and low risk of
kemiri nursery establisment / A. Ngaloken Gintings. -- Info Hutan : Volume II No.3 ;
Halaman 161-165 , 2005

          Penyediaan bibit dalam kualitas baik dan tepat waktu adalah syarat mutlak
keberhasilan kegiatan hutan tanaman. Salah satu kendala pengembangan tanaman
kemiri, adalah pengecambahan benihnya karena kulit biji kemiri sangat keras (Anonimous,
1981). Untuk mengatasi masalah ini maka telah dicoba berbagai cara pembibitan tanaman
kemiri. Perlakuan yang pernah dicobakan antara lain pemanasan biji secara terkendali
yaitu meletakkan biji di atas pasir dan di dalampasir secara bergantian, meretakkan biji
dengan alatjepitan, merendam biji di air mengalir, merendam biji yang akan
dikecambahkan dalam larutanKNO3 0,2 %, menjemur biji lalu disiram pada saat biji masih
panas, menanam biji langsung di lapangan dan mengikir kulit biji kemiri. Pengalaman
terakhir Bapak Makmur di Sulawesi Selatan dimulai denganpemilihan benih, merendam biji
dalam drum selama 15 hari, menjemur biji yang sudah direndam dalam net yang
dimasukkan ke dalam karung di bedeng, menyiram biji yang dijemur pada saat panas terik
(antara jam 12-13), mengumpulkan biji yang telah retak dan memasukkannya ke dalam
polybag yang telah diisi media tanah lapisan atas, memelihara bibit sampai mempunyai
enam lembar daun dan batangnya berkayu, mencabut bibit yang ada dalampolybag,
memasukkan bibit yang telah dicabut ke dalam pelepah batang pisang sebagai alat
pendingin, mengangkut bibit yang ada dalam pelepah pisang ke lokasi penanaman,
memasukkannya kembali bibit cabutan ke dalam polybag, dan setelah bibit tanaman
memperlihatkan kondisi yang segar kembali maka bibit siap untuk ditanam. Cara
pembibitan seperti itu akan mempercepat dan meningkatkan keberhasilan perkecambahan,
menghemat biaya angkutan bibit, dan menjaga kualitas bibit kemiri.

Kata kunci: Seleksi biji kemiri, perlakuan terhadap biji, penghematan biaya angkut bibit
            dan kualitas bibit kemiri
Hadisoesilo, Soesilowati


                                                                                             12
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Apis nigrocincta Smith, 1861 dan Apis cerana Fab.,1793 persamaan dan perbedaan =
Apis nigrocincta Smith, 1861 and Apis cerana Fab., 1793 similarities and differences /
Soesilowati, Hadisoesilo. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 103-109 , 2005

         Setelah mengalami perubahan berkali-kali, akhirnya pada tahun 1996 dapat
dibuktikan bahwa Apis nigrocincta Smith, 1861 merupakan jenis tersendiri terpisah dan
Apis cerana F., 1793. Konfirmasi ini diperoleh berdasarkan atas perbedaan waktu
penerbangan pejantan dari kedua jenis tersebut di lokasi yang sama. Semua peneutian
dilakukan di pulau Sulawesi. Sampai saat ini A. nigrocincta baru diketemukan di Sulawesi
dan Sangihe serta di kepulauan di sekitarnya. Untuk mendapatkan gambaran lebih
jelas tentang A. nigrocincta, persamaan dan perbedaan di antara kedua jenis ini yang
meliputi sebaran, morfologi, struktur alat kelamin pejantan, perilaku cara besarang,
waktu penerbangan pejantan, dan perilaku dalam menutup sel pejantan dipaparkan di
dalam tulisan ini.

Kata kunci: Apis nigrocincta, Apis cerana, waktu penerbangan pejantan,
            perilaku penutupan sel pejantan


Hakim, Ismatul
Rehabilitasi lahan dengan pola pengelolaan hutan bersama masyarakat di pulau Jawa:
Studi kasus di KPH Madiun dan KPH Kuningan / Ismatul Hakim, Setiasih Irawanti dan
Sylviani. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 76-
90 , 2005

         Program PHBM yang dikembangkan oleh Perum Perhutani merupakan salah
satu pola yang baik dalam mendukung kegiatan rehabilitasi lahan dan hutan. Dalam
penerapannya di lapangan ternyata terdapat perbedaan dalam hal cara pendekatannya
antara satu KPH dengan KPH lain. Di KPH Madiun, pendekatannya langsung dengan
cara mengadopsi pedoman yang sudah dipersiapkan oleh KPH Madiun terutama
dalam hal teknik manajemennya dengan menggunakan konsep Management
Regime (MR) atau sistem plong-plongan. Demikian pula dengan sistem sharing hasil
kayunya di mana Perhutani mendapatkan 75 % dan masyarakat mendapat 25 %.
Sementara hasil tanaman lainnya menjadi milik masyarakat seluruhnya (100 %). Di
KPH Kuningan, konsep pengelolaan tanaman dan sistem sharing hasilnya merupakan
hasil kesepakatan antara masyarakat (Forum PHBM) dengan Perum Perhutani.
Harapan utama masyarakat (petani) terhadap program PHBM adalah adanya jaminan
keberlanjutan pemanfaatan lahan garapan di. wilayah kerja Perhutani dalam jangka
panjang, adanya kemudahan dalam pengadaan modal usaha, adanya peningkatan
produktifitas, adanya peningkatan kesejahteraan keluarga/rumah tangga
(pendidikan dan kesehatan) dan adanya kemudahan dalam memperoleh saprodi
(pupuk, bibit, dan obat-obatan), adanya bimbingan, pelatihan dan pendampingan dari
instansi terkait serta adanya kemudahan dalam pemasaran hasil usahataninya.
Dalam rangka penyempurnaan penerapan konsep PHBM di lapangan, maka, pihak



                                                                                             13
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Perum Perhutani harus dapat memahami berbagai aspek kelembagaan yang ada di
tingkat bawah, dalam hal ini desa. Dua aspek kelembagaan yang harus diperhatikan
adalah aspek kultural dan struktural. Aspek kultural meliputi proses dinamika dalam
masyarakat, tata nilai (maju), kepemimpinan, manajemen, kompetensi SDM, dan politik
pemerintahan. Sedangkan struktural organisasi kelembagaan PHBM harus mengikuti
perkembangan kultural yang terjadi di masyarakat. Oleh karena itu, rehabilitasi lahan
dengan pola PHBM dari sisi teknologi maupun kelembagaannya sangat bersifat
local specific.

Kata Kunci: PHBM, sharing hasil, kelembagaan, local specific


Hendalastuti R, Henti
Peran asam humat dan asam oksalat dalam meningkatkan kualitas bibit Gmelina arborea
= The role of humic and oxalic acid in improving the quality of Gmenia arborea seedling /
Henti Hendalastuti R, Asep Hidayat. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 299-309 ,
2005

           Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui respon pertumbuhan bibit Gmelina
arborea terhadap konsentrasi dan frekuensi pemberian asam humat dan asam oksalat.
Parameter pertumbuhan yang diamati mencakup pertambahan tinggi bibit, diameter, Berat Kering
Total (BKT), Nisbah Pucuk Akar (NPA), dan Indeks Mutu Bibit (1MB). Penelitian menggunakan
Rancangan Faktorial dalam Acak Lengkap 2x2x3 dan kontrol dengan 20 ulangan, tiap ulangan
terdiri dari satu tanaman. Asam humat dengan konsentrasi 1.800 ppm rnerupakan perlakuan
yang mampu meningkatkan nilai Indeks Mutu Bibit 28,64 % lebih tinggi dibanding kontrol,
sedangkan kombinasi konsentrasi 1.800 ppm dengan frekuensi pemberian sebanyak dua kali
meningkatkan nilai 1MB 17,56 % lebih tinggi dibanding kontrol.

Kata kunci: Asam humat, asam oksalat, Gmelina arborea


Hendromono
Penyederhanaan sistem silvukultur TPTI di hutan alam rawa gambut Labuan Tangga
kabupaten Rokan Hilir Riau = Simplification of TPTI silficultural system at peat swamp
foret in Labuan Angga Rokan Hilir District Riau / Hendromono... [et. al]. -- Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 21-35 , 2005

           Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah kecenderungan penurunan potensi
produksi hutan alam rawa-gambut setelah dieksploitasi dengan sistem Tebang Pilih Tanam
Indonesia (TPTI). Hal ini disebabkan antara lain oleh sebagian pemegang Hak
Pengusahaan Hutan (HPH) tidak sungguh-sungguh mematuhi aturan TPTI, karena
aturannya dianggap terlalu rumit, pengawasan oleh pihak kehutanan kurang, serta tidak
adanya kepastian usaha. Tujuan penelitian adalah menyajikan informasi ilmiah sistem
silvikultur TPTI yang Iebih sederhana dan praktis agar mudah dilaksanakan dan diawasi.
Metodologi penelitian melalui pendekatan analisis vegetasi, potensi tegakan, pengamatan


                                                                                              14
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



kondisi lingkungan, dan pencatatan data sekunder. Hasil penelitian diperoleh kesimpulan
bahwa kawasan hutan rawa-gambut Labuan Tangga didominasi oleh jenis pohon niagawi
(30 jenis) dan sisanya (12 jenis) jenis pohon Iain-lain. Meranti batu (Shorea uliginosa
Foxw.(Sect.Mutica) umumnya mendominasi tingkat pohon di hutan primer dan bekas
tebangan. Permudaan alam tingkat semai dan pancang di hutan rawa-gambut bekas
tebangan cukup banyak sehingga tidak diperlukan penanaman pengayaan, kecuali di
kawasan bekas Tempat Penimbunan Kayu Sementara (TPn), bekas jalan sarad dan jalan
rel perlu direhabilitasi. Jumlah pohon jenis niagawi di hutan primer sangat mencukupi,
sedangkan di hutan bekas tebangan cukup memadai untuk rotasi berikutnya, asal
hutannya tidak ditebang secara ilegal. Rata-rata jumlah pohon ramin (Gonystylus
bancanus Kurtz.) di hutan rawa-gambut primer 5 pohon per ha, di bekas tebangan 2,5
pohon per ha. Disarankan agar Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP)
dilakukan dekat (Et - 1) dengan waktu Inventarisasi Tegakan Tinggal (ITT). ITT dilakukan
segera setelah penebangan suatu blok (Et), pengadaan bibit bersamaan dengan waktu
penebangan (Et), penanaman rehabilitasi dilakukan Et + 1, dan pemeliharaan I berupa
pembebasan vertikal pada Et + 1. Apabila rel masih belum dibongkar, pemeliharaan II
berupa pembebasan vertikal dilakukan dua tahun setelah pemeliharaan I (Et + 3).
Penjarangan tidak diperlukan, karena pembebasan vertikal dapat berfungsi juga
sebagai penjarangan.

Kata kunci : Hutan rawa-gambut, sistem silvikultur, TPTI


Hendromono
Pemilihan jenis pohon untuk rehabilitasi lahan kritis / Hendromono, Herman Daryono dan
Durahim. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 24-
31 , 2005

         Bencana alam yang berupa banjir, tanah longsor, dan kekeringan yang
akhir-akhir ini sering terjadi salah satunya disebabkan oleh banyaknya lahan kritis
pada Daerah Aliran Sungai. Untuk merehabilitasi lahan kritis di dalam maupun di luar
kawasan hutan perlu adanya dukungan semua pihak, balk Departemen Kehutanan dan
departemen yang terkait, instansi di tingkat provinsi, kabupaten atau kota, Lembaga
Sosial Masyarakat maupun masyarakat. Kegiatan rehabilitasi lahan akan lebih
berhasil apabila didukung oleh ilmu pengetahuan dan teknologi yang tepat dari hasil
kegiatan penelitian dan pengembangan mengenai jenis-jenis pohon untuk lahan kritis.
Pada lahan kritis yang umumnya mempunyai tingkat kesuburan rendah dan tanahnya
terbuka, umumnya cocok ditanami jenis-jenis pioner. Jenis-jenis pioner yang ada
di Indonesia di antaranya: Acacia mangium, A. auriculiformis, Aleuritus
moluccana, Casuarina equisetifolia, C. junghuhniana, Duabanga moluccana, Eucalyptus
urophylla, Melaluca leucadendron, Peronema canescens, Pinus merkusii, dan
Schima wallichii.

Kata kunci: Pemilihan jenis pohon, rehabilitasi, lahan kritis
Herawati, Tuti


                                                                                             15
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Aplikasi metode proses hirarki analitik penentuan prioritas jenis pohon hutan rakyat: studi
kasus di kecamatan Pamarican = The aplication of analitical hierarchy process for priority
determination of tree species for small scale private forest case study in Pamarican
Subdistrict / Tuti Herawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II
No.1 ; Halaman 93-103 , 2005

           Penentuan jenis pohon merapakan salah satu faktor penentu keberhasilan
dalam pengelolaan hutan rakyat. Dalam proses pengambilan keputusan untuk
menentukan jenis pohon diperlukan pertimbangan yang rasional dan menyeluruh. Dengan
demikian keputusan yang dihasilkan dapat memberikan jaminan keberhasilan tumbuh,
menguntungkan, dan sekaligus mampu menampung kepentingan berbagai pihak. Metode
atau alat yang dapat digunakan untuk penentuan jenis pohon dengan
mempertimbangkan berbagai aspek dan kriteria secara menyeluruh adalah PHA (Proses
Hirarki Analitik). Dalam metode ini kriteria keputusan dipecahkan dalam urutan hirarki,
penilaian diberikan pada setiap kriteria, serta menyatukan penilaian untuk menentukan
pilihan yang memiliki prioritas tertinggi. Kekuatan proses ini terletak pada rancangannya
yang bersifat komprehensif, dengan mempergunakan logika, pertimbangan berdasarkan
intuisi, data kuantitatif, dan kualitatif. Teknik ini telah diterapkan untuk mendapatkan urutan
prioritas pilihan jenis pohon hutan yang dike lo la rakyat di Kecamatan Pamarican. Hirarki
yang disusun terdiri dari dua tingkat dengan sejumlah aspek dan kriteria. Terdapat 4
aspek yang menjadi bahan pertimbangan dalam penentuan jenis pohon, yaitu aspek
teknis, ekonomi, sosial, dan lingkungan. Prioritas jenis yang dihasilkan adalah sebagai
berikut: 1) Swietenia macrophylla King dengan bobot prioritas 42,2 %; 2)
Paraserianthes falcataria (J) Nielsen (32,2 %); dan 3) Tectona grandis Lf (25,6 %).

Kata kunci: Penentuan, jenis pohon, prioritas, hutan rakyat, Proses Hiraki Analitik,
            aplikasi


Herawati, Tuti
Kondisi pengeloaan LAK di Indonesia dan peluang pengembangannya di Nusa Tenggara
Timur = Condition of LAC bussines in Indonesia, and its development opportunity in East
Nusa Tenggara / Tuti Herawati. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 231-237 , 2005

         Lak merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang potensial
untuk dikembangkan. Lak digunakan untuk berbagai kepeluan dalam bidang industri di
antaranya sebagai bahan politur mebel, isolasi listrik, piringan hitam, tinta cetak, dan
pewarna makanan. Pasar lak internasional saat ini dikuasai oleh India dan Thailand.
Pengusahaan lak di Indonesia baru dilakukan di Jawa Timor dan Nusa Tenggara (NTT). Di
Jawa Timur, pengusahaan lak dilakukan oleh Perum Perhutani secara intensif, sementara
itu pengusahaan lak di NTT belum dilakukan secara profesional. Potensi pengembangan
usaha budidaya lak di NTT cukup tinggi dengan rata-rata produksi lak per tahun sekitar
100.000 ton. Hal ini didukung oleh kondisi iklim yang cocok untuk tumbuh dan
berkembangnya tanaman inang dan serangga seed lak. Dengan potensi tersebut,
pengembangan usaha seed lak di NTT perlu dibina lebih lanjut dalam peningkatan


                                                                                                16
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



produksi, kualitas, dan kelembagaan yang lebih profesional. Pembinaan dapat dimulai dari
membangun proyek-proyek percontohan pengusahaan lak dengan keterlibatan
masyarakat yang tinggi.

Kata kunci: Lak, serangga, tanaman inang, percontohan


Herawati, Tuti
Mimba (Azadirachta indica Juzz): tanaman multi manfaat potensial untuk rehabilitasi
lahan / Tuti Herawati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam :
Halaman 135-139 , 2005

         Selama tiga dasawarsa terakhir potensi dan kondisi hutan Indonesia semakin
menurun, oleh karenanya upaya pemulihan lahan kritis semakin dirasakan urgensinya. Jenis
tanaman yang dipilih untuk kegiatan rehabilitasi lahan harus memenuhi kriteria lingkungan guna
tercapainya perbaikan ekosistem dan dapat memberikan kontribusi bagi peningkatan
kesejahteraan masyarakat. Mimba memiliki keunggulan sebagai tanaman pioner yang mampu
tumbuh di lahan kritis yang ekstrim kering. Selain itu mimba juga merupakan jenis tanaman
yang memberikan banyak manfaat yaitu dapat digunakan sebagai bahan pestisida nabati,
bahan baku obat tradisional, dan bahan baku industri keperluan rumah tangga. Mengingat
keunggulan tersebut maka mimba merupakan tanaman alternatif rehabilitasi lahan yang dapat
memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Kata kunci: Unggul, multimanfaat, pioner, pestisida, obat, bahan baku industri


Herawati, Tuti
Pengujian mutu benih pohon wangin (Melaleuca bracteata Linn) / Tuti Herawati, Yana
Sumarna dan Yetti Heryati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi
Alam : Halaman 141-144 , 2005

         Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan selain dilakukan dengan menanam
pohon penghasil kayu, perlu juga memperhatikan pengembangan pohon penghasil
komoditas bukan kayu. Salah satu komoditas HHBK yang memiliki propsek penting
adalah tumbuhan penghasil minyak atsiri. Pohon wangi (Meialeuca bacteata) adalah
salah satujenis pohon penghasil minyak atsiri yang dapat disuling dari daunnya, serta
memiliki kandungan metyl euganol yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pestisida
nabati, bahan obat, dan bahan baku industri parfum. Pohon wangi merupakan
tumbuhan eksot yang berasal dari Australia, tetapi telah mampu beradaptasi
dengan kondisi di Indonesia. Namur saat ini pengembangan pohon wangi baru
dilakukan di beberapa lokasi dalam skala kecil. Mengingat potensinya sebagai
penghasil minyak atsiri yang berpotensi ekonomi, maka pengembangan pohon wangi
dapat dilakukan dalam skala yang lebih luas. Untuk itu diperlukan penelitian yang
meliputi aspek budidaya hingga pasca panen. Sebagai langkah awal dilakukan


                                                                                               17
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



kegiatan pengujian mutu benih hasil eksploitasi dari beberapa pohon. induk di
Indonesia. Pelakuan yang diberikan berupa lamanya penjemuran dan media
perkecambahan, sedangkan parameter yang diamati adalah persen kecambah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa media tebaik bagi presentase kecambah M.
bracteata adalah pasir halus dengan persen kecambah 94,22 % dan media campuran
tanah dan pasir halus (1:1) (v:v) dengan persen kecambah 94,11 %. Lama
penjemuran buah M. bracteata tidak berpengaruh terhadap persen kecambah benih
M. bracteata.

Kata kunci: Hasil hutan bukan kayu, minyak atsiri, budidaya, mutu benih, persen
            kecambah


Heriansyah, Ika
Potensi Hutan tanaman marga shorea dalam menyerap CO2 melalui pendugaan
biomassa di hutan penelitian Haurbentes = Shorea plantation forest potency on carbon
sequestration through biomassa estimation in Haurbentes forest reseach / Ika
Heriansyah dan Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II
No.2 ; Halaman 105-111 , 2005

          Rosot hutan memainkan peranan penting dalam siklus ekologi secara alami dan
dapat mencegah pemanasan global dengan menyerap CO2 dari atmosfer dan
menyimpannya sebagai karbon dalam bentuk materi organik tanaman (pada waktu
fotosintesis) dan dikenal sebagai sequestrasi. Separuh massa tanaman merupakan
karbon, sehingga sejumlah besar karbon tersimpan dalam hutan sehingga hutan
merupakan penyimpan karbon terbesar di dataran bumi. Penelitian mengenai potensi
hutan tanaman shorea dalam menyerap karbon dilakukan di Hutan Penelitian (HP)
Haurbentes, melalui pendugaan akumulasi volume kayu dan biomassa pada semua
tanaman shorea. Penelitian dilakukan dengan mengukur diameter pohon setinggi dada,
tinggi total, dan tinggi bebas cabang pada semua pohon di setiap plot contoh. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa diameter (145,2 cm) dan tinggi (50,9 m) maksimum
dicapai oleh jenis Shorea stenoptera Burck. umur 63 tahun. Kemampuan tanaman shorea di
HP Haurbentes dalam menyerap CO2 terlihat bervariasi (Tabel 1) sesuai dengan jenis dan
umur tanaman. Dari 7 jenis, 5. Stenoptera Burck menyerap CO2 terbesar yang disusul
berturut-turut oleh jenis S. seminis (de Vriese) Sloot.; 5. leprosula Miq.; 5. selanica Blume;
S. Palembanica Miq.; S. pinanga Scheff. dan S. stenoptera form Ardikusuma.

Kata kunci: Hutan tanaman shorea, Haurbentes, biomassa, menyerap karbon




Heriyanto, N.M



                                                                                               18
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kajian Beberapa Aspek Ekologi Pohon Kedawung (Parkia roxburghii G. Don.) di Taman
Nasional Meru Betiri, Jawa Timur = Study of Ecological Aspects of Kedawung Tree
(Parkia roxburghii G. Don.) at Meru Betiri National Park, East Java / N.M. Hariyanto dan
ZuraidaJurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 157-166 ,
2005

         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa aspek ekologi pohon
kedawung (Parkia roxburghii GDon.). Penelitian dilakukan pada bulan Oktober 2004
berlokasi di blok Pakeman, Pringtali, dan Lodadi Sub Seksi II Ambulu, Taman Nasional
Meru Betiri (TNMB), Jawa Timur. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan
metode pengukuran jalur berpetak dengan lebar jalur 20 m dan panjang 1.000 m, jalur
diletakkan memotong lereng dan jumlah jalur pengamatan 3 jalur. Plot-plot penelitian untuk
kedawung ditetapkan secara sengaja dengan metode purposive sampling dimana
pengukuran dilakukan pada tempat-tempat yang terdapat pohon kedawung (P.
roxburghii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat kedawung (P. roxburghii) di
Taman Nasional Meru Betiri banyak dijumpai di pinggi-pinggir aliran sungai dengan
topografi agak curam dengan komposisi vegetasi di sekitar pohon kedawung banyak
dijumpai jenis-jenis besule (Chydenanthus excelsus) dengan Indeks Nilai Penting (INP) =
28,5 % dan wining (Pterocybium javanicum) dengan INP = 20,0 %. Lingkungan fisik
yang berkaitan erat dengan kedawung adalah suhu antara 27-30°C, kelembaban udara
antara 50-85 %, kemiringan lahan antara 10-60 %, dan ketinggian tempat di atas
permukaan laut antara 10-200 m. Jenis tanahnya yaitu Latosol dengan tekstur geluh
lempungan dengan pH antara 5,5-6,5. Jenis wining (Pterocybium javanicum) merupakan
jenis tumbuhan yang mempunyai hubungan asosiasi kuat dengan kedawung, hal ini
ditunjukkan dengan besarnya nilai Indeks Ochiai, Indeks Dice dan Indeks Jaccard
mendekati nilai satu, dan fakta di lapangan ditemukan secara bersama-sama dengan
pohon kedawung. Pemanenan buah kedawung oleh masyarakat tidak berpengaruh
buruk pada pohonnya akan tetapi perlu dikelola dengan baik agar tidak mengganggu
regenerasi. Regenerasi alami pohon kedawung di TNMB dibantu oleh satwaliar
terutama buru'ng rangkong (Buceros rhinoceros) dan aliran air hujan.

Kata kunci : Ekologi, kedawung (Parkia roxburghii G Don), Taman Nasional Meru Betir


Imanuddin, Rinaldi
Model hubungan tinggi tegakan dengan peninggi pada hutan tanaman mahoni (Swietenia
mahagoni Jack.) = Stand height and upper height relationship model of Swietenia
mahagoni Jack. plantation forest. -- Info Hutan / Rinaldi Imanuddin. – Info Hutan : Volume
II No.1 ; Halaman 47-52 , 2005

         Dalam praktek lapangan, pengukuran tinggi pohon merupakan pekerjaan
yang relatif sulit dan membutuhkan banyak waktu. Sehubungan dengan hal tersebut,
perlu dicari metode inventarisasi yang meminimalkan pekerjaan pengukuran tinggi pohon
tanpa mengurangi kelengkapan informasi yang hams disajikan dari kegiatan inventarisasi
hutan. Penelitian ini bertujuan untuk menyusun model hubungan antara tinggi tegakan


                                                                                             19
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dengan peninggi tegakan pada hutan tanaman mahoni. Dengan terbentuknya model
yang dimaksud, maka pekerjaan pengukuran tinggi pohon dalam inventarisasi hutan
dapat berkurang sangat signifikan. Dari hasil analisis regresi yang telah dilakukan
terhadap 16 plot dengan umur tegakan 3, 9, 13, dan 20 tahun di Banten dan 12 plot
dengan umur tegakan 3, 7, dan 20 tahun di Tasikmalaya, menunjukkan bahwa terdapat
hubungan yang sangat nyata antara tinggi tegakan dengan peninggi pada hutan tanaman
mahoni. Hasil persamaan regresi hubungan tinggi tegakan dengan peninggi di masing-
masing lokasi penelitian adalah sebagai berikut: Banten: M = -0,68260 + 0,94323 Oh; R2 =
0,996; Tasikmalaya: H= -1,11600 + 1,01654 Oh; R2 = 0,990; dimana # adalah tinggi tegakan
(m), dan Oh adalah peninggi (m). Dari hasil uji keseragaman regresi menunjukkan bahwa
persamaan hubungan H dengan Oh pada hutan tanaman mahoni tidak berbeda nyata
menurut lokasi, sehingga dapat disusun persamaan yang berlaku secara umum, yaitu H= -
0,72231 + 0,95519 Oh, dengan koefisien determinasi sebesar 0,993.

Kata kunci : Tinggi tegakan, peninggi, model, mahoni


Intari, Sri Esti
Pengendalian hama Shorea spp menggunakan insektisida biologi dan hayati = The use
of biological and plant origin insecticides for controling insect pest on Shorea spp / Sri
Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman
83-91 , 2005

          Pengendalian hama menggunakan insektisida hayati Bacilus thuringiensis
dan cuka kayu pinus merupakan salah satu cara pengendalian hama yang ramah
lingkungan, karena sifatnya yang mudah terurai. Insektsidiajenis ini telah banyak
dikembangkan di sektor pertanian dan perkebunan, sedangkan di sektor kehutanan
belum banyak dilaksanakan. Untuk mengendalikan hama Shorea spp. dilakukan
percobaan dengan menggunakan insektisida hayati yang berbahan aktif Bacilus
thuringiensis yang memproduksi zat-zat sangat beracun bagi larva serangga, di antara
racun ini yang penting adalah delta-endotoksin yang berbentuk kristal dan cuka kayu
pinus yang mengandung senyawa kimia seperti pada umumnya insektisida pembunuh
hama. Percobaan pengendaliannya dilakukan di laboratorium dan lapangan dengan
berbagai konsentrasi B. thuringiensis (1 gr/l, 2 gr/l, 3 gr/l, 4 gr/l, dan 5 gr/l) dan cuka kayu
pinus (10 cc/l, 20 cc/l, 30 cc/l, 40 cc/l, dan 50 cc/l), dengan rancangan percobaan RAL di
laboratorium dan RCBD di lapangan. Parameter yang diamati adalah persentase
kesembuhan tanaman dari serangan hama setelah perlakuan insektisida hayati Bacilus
thuringiensis dan cuka kayu pinus dalam beberapa dosis. Hama yang menyerang
tanaman Shorea leprosula di lapangan adalah kumbang Exopholis hypoleuca
(Coleoptera, Melolonthidae). Hama yang menyerang anakan S. leprosula dan
S.selanica di pesemaian adalah ulat Orgyia sp. (Lepidoptera, Lymantriidae).
Pengendalian hama ulat Orgyia sp. di tingkat laboratorium dengan menggunakan cuka
kayu pinus dengan takaran 50 cc/l dan B. thuringiensis dengan takaran 5 gr/l efektif.
Pengendalian hama kumbang E. hypoleuca yang menyerang S. leprosula di lapangan
dengan menggunakan cuka kayu pinus dengan takaran 40 cc-50 cc/l efektif.


                                                                                                20
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Pengendalian hama ulat Orgyia sp. di pesemaian dengan menggunakan B.
Thuringiensis dengan takaran 4-5 gT/1 efektif.

Kata kunci: Pengendalian hama, Shorea spp., Bacilus thuringiensis, cuka kayu pinus


Intari, Sri Esti
Kemampuan memangsa kumbang lembing Coleophora inarqualis (Coleoptera:
Coccinellidae) pada beberapa jenis kutu daun (Homoptera: Aphidiidae) = Feeding
capacity of the beetle coloephora inaequalis (Coleoptera: Coccinellidae) on two species
of aphids (Homoptera: Aphidiidae) / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 277-281 , 2005
         Percobaan pemangasaan kumbang lembing Coelophora inaequalis (Coeloptera
: Coccinellidae) pada kutu daun Aphis crassivora dan Rhoplasivum maydis dilakukan di
laboratorium. Sejumlah kutu daun didedakan pada larva kumbang instar 1, 2, 3, dan 4 di
dalam kurungan. Hasilnya menunjukkan bahwa larva instar 1 hanya makan 5 ekor kutu
daun A. crassivora. Jumlah kutu daun yang dimangsa meningkat pada instar – instar
berikutnya. Perilaku memangsa yang sama juga ditunjukkan pada kumbang lembing ini
yang diberi pakan kutu daun R. maydis. Waktu yang dipergunakan untuk memangsa
kutu daun berbeda pada setiap instar. Larva instar 1 dan 2 memangsa kutu daun lebih
lama daripada instar yang lebih tua.

Kata kunci:        Kemampuan memangsa, Coccinellidae, Coelophora inaequalis, Aphis
                   cassivora, Rhophalosivum maydis


Intari, Sri Esti
Serangga penyerbuk pada tegakan sengon (Paraseranthes falcataria) = Insect
pollinators to flowers of Paraseanthes falcatari / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam : Volume II No.6 ; Halaman 539-545 , 2005

        Penelitian terhadap serangga-serangga penyerbuk bunga sengon,
Paraserianthes falcataria dilakukan di kebun sengon di Rancamaya, Bogor. Sebanyak 11
jenis serangga diperoleh dari bunga sengon, terdiri dari Lepidoptera (2 jenis),
Hymenoptera (8 jenis), dan Diptera (1 jenis). Dari pengamatan adanya serbuk sari pada
badan serangga pengunjung bunga sengon, seizin Apis indica, berdasarkan waktu
kehadirannya menunjukkan bahwa jenis Xylocopa latipes dan X. confusa adalah
penyerbuk utama bunga sengon.

Kata Kunci: Hymenoptera, Lepidoptera, Diptera, polinator, Paraserianthes falcataria



Intari, Sri Esti



                                                                                               21
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Percobaan pengujian toksisitas tepung biji Annona glabra dan A.squamosa sebagai
insektisida pada lalat rumah (Musca domestica) = An experiment on the efficacy of
Annona glabra and A. squamosa Seed Powder as Insecticides to Housefly (Musca
domestica) / Sri Esti Intari. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II
No.5 ; Halaman 431-436 , 2005

           Penelitian uji tokasisitas tepung biji Annona glabra dan A. squamosa dilakukan
di laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam, Bogor
dengan tujuan adalah untuk memperoleh dosis yang efektif dalam pengendalian hama
menggunakan insektisida nabati. Tepung biji kedua jenis Anona masing-masing
dicampur dengan makanan lalat (susu bendera : gula pasir = 1 : 1 ) dengan kadar 0 %
(kontrol), 5 %, 10 %, 15%, 20 %, dan 25 %, diberikan pada 30 ekor lalat percobaan di dalam
kandang. Jumlah lalat yang mati di dalam kandang diamati, jumlahnya dihitung setiap
6,12,24, dan 48 jam sesudah perlakuan. Hasilnya menunjukkan bahwa tepung biji A
glabra lebih beracun terhadap lalat yang dicoba daripada tepung biji A. squamosa. Nilai LC
50 untuk A. glabra adalah pada kadar 7,95 % dalam waktu 24 jam, sedangkan untuk A.
squamosa adalah pada kadar 31,6 % untuk waktu yang sama.

Kata kunci; Toksisitas, Annona glabra, A. squamosa, lalat rumah, anonain


Iskandar, Sofian
Karakteristik pengunjung Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, Jawa Tengah = The
Characteristic of visitors of The Grojogan Sewu Nature Recreation Park, Central Java /
Sofian Iskandar, dan Endang Karlina. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam :
Vol.II No.2 ; Halaman 197-203 , 2005

          Penelitian dilakukan pada bulan Agustus-September 2001, dengan tujuan untuk
mengetahui karakteristik pengunjung Taman Wisata Alam Grojogan Sewu, sebagai salah
satu indikator dalam pemanfaatan kawasan tersebut secara berkelanjutan. Taman Wisata
Alam Grojogan Sewu terletak di Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah,
mempunyai luas 20 hektar, dengan fenomena alamberupa air terjun sebagai obyek
utamanya. Komposisi pengunjung terdiri dari 57,4 % laki-laki dan 42,6 % wanita. Kelas umur
pengunjung terdiri dari usia 18-26 tahun (34,1%), merupakan kelompok umur dominan; diikuti
dengan kelompok umur 0-17 tahun (33,5 %), kelompok umur 27-39 tahun (17,6 %) dan di
atas 40 tahun (14,8 %). Kelompok pengunjung pada umumnya adalah kelompok keluarga,
selain ada juga kelompok pelaj ar dan perseorangan. Setiap hari Taman Wisata Alam
Grojogan Sewu dikunjungi oleh 150-200 orang, dan pada musim libur jumlah pengunjung
dapat mencapai 1500-2000 orang. Pada umumnya pengunjung datang untuk menikmati
fenomena dan keindahan alam air terjun serta kelompok satwaliar (kelompok monyet ekor
panjang) yang sudah jinak. Fasilitas umum yang tersedia di areal wisata tersebut pada
umumnya sudah memadai. Namun ada beberapa papan pemberitahuan (sign board)
yang perlu ditambahkan, seperti papan larangan untuk membuat coretan (grafity) dan
memberi makan satwaliar.
Kata kunci : Taman wisata alam, karakteristik pengunjung


                                                                                             22
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Iskandar, Sofian
Potensi kawasan budidaya di Pantai Utara Indramayu sebagai habitat burung air = The
Potency of production lands at Northern Shore of Indramayu, West Java as a habitat of
shorebirds species / Sofian Iskandar dan M. Bismark. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 423-429 , 2005

         Studi potensi ekologi dari lahan produksi di kawasan pantai utara Indramayu
bertujuan untuk mengevaluasi nilai penting dari lahan tersebut sebagai habitat dalam
melestarikan keanekaragaman jenis burung air. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa
pada tahun 1988 di daerah lahan basah di Desa Singakerta dan sekitarnya dijumpai 27
jenis burung air di mana 14 jenis di antaranya merupakan jenis burung migran. Namun
dalam pengamatan ini hanya dijumpai delapan jenis burung air, di mana dua jenis di
antaranya merupakan burung migran. Hampir seluruh lahan basah di Desa Singakerta dan
sekitarnya telah berubah menjadi tambak dan persawahan. Berdasarkan hasil penelitian
ini disimpulkan bahwa lahan basah yang terdiri dari tambak dan persawahan tersebut
mempunyai nilai fungsi esensial sebagai habitat dari berbagai jenis burung air. Saat ini
perubahan habitat yang terjadi oleh adanya perubahan fungsi lahan telah mengancam
keanekaragaman dan populasi jenis burung air. Karena berbagai fungsi habitat seperti
sebagai penyedia sumber pakan, tempat perlindungan, tempat berkembang biak, dan
perawatan anak telah rusak akibat aktivitas manusia. Kami merekomendasikan bahwa
seluruh lahan basah di kawasan tersebut yang mempunyai nilai penting bagi
perlindungan jenis burung air di luar kawasan konservasi, sebaiknya ditetapkan sebagai
daerah perlindungan khusus, dan dikelola berdasarkan pengelolaan sumberdaya alam
berkelanjutan serta.diatur oleh suatu Peraturan Daerah (Perda). Dengan demikian
kawasan lahan basah tersebut masih tetap dapat dikelola dan dimanfaatkan oleh
masyarakat, dalam rangka meningkatkan pendapatan mereka; di lain pihak kawasan
tersebut juga tetap dapat sebagai habitat bagi berbagai jenis burung air.

Kata kunci: Keanekaragaman jenis burung air, kawasan esensial, konservasi jenis


Iskandar, Sofian
Kajian pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati di kompleks hutan Tanjung Lame-
Karang Ranjang dan Pulau Handeuleum, Taman Nasional Ujung Kulon dalam kegiatan
ekowisata = The Utilization of biodiversity potencies of Tanjung Lame-Karang Ranjang
Forest, Ujung Kulon National Park for ecotourism activity / Sofian Iskandar dan Endang
Karlina. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 167-179 , 2005

         Penelitian tentang potensi keanekaragaman hayati di kawasan hutan Tanjung
Lame-Karang Ranjang dan Pulau Handeuleum bertujuan untuk mengetahui berbagai
potensi keanekaragaman hayati yang terdapat di kawasan hutan Tanjung Lame-Karang
Ranjang dan Pulau Handeuleum yang dapat dimanfaatkan sebagai obyek wisata alam.
Dalam hal ekosistem, kawasan hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang dan Pulau


                                                                                            23
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Handeuleum mempunyai kekhasan sebagai ekosistem hutan yang telah mengalami
suksesi puncak setelah terjadinya bencana alam Gunung Krakatau tahun 1883. Ekosistem
di hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang terdiri dari hutan pantai, hutan mangrove, dan
hutan dataran rendah. Keanekaragaman jenis flora yang terdapat padajalur Tanjung
Lame-Karang Ranjang antara lain bayur {Pterospermum javanicum), kigentel (Diospyros
cauliflora), nibung (Oncosperma tigillarria), dan langkap (Arenga obtusifolia).
Sedangkan jenis faunanya antara lain adalah badak jawa (Rhinoceros sondaicus),
banteng (Bos javanicus), dan macan tutul (Panthera pardus melas); serta jenis primata
endemik jawa, yaitu owa jawa (Hylobates moloch) dan surili (Presbytis comata). Selama
pengamatan, di Pulau Handeuleum dijumpai empat jenis mamalia, 12 jenis aves, dan dua
jenis reptilia. Selama pengamatan di kedua lokasi tersebut, tercatat 12 jenis mamalia
(tujuh jenis dilindungi), 25 jenis aves (sembilan jenis dilindungi), empat jenis reptilia, dan
dua jenis amphibia. Kawasan hutan Tanjung Lame-Karang Ranjang, sesuai dengan
peta zonasi TNUK, merupakan kawasan hutan yang ditetapkan sebagai zona rimba,
yang sering dikunjungi oleh wisata wan, baik lokal maupun manca negara. Pulau
Handeuleum, berdasarkan peta zonasi TNUK, ditetapkan sebagai zona pemanfaatan
intensif.

Kata kunci: TN. Ujung Kulon, keanekaragaman hayati, pemanfaatan, ekowisata


Kalima, Titi
Studi sebaran alam Pinus merkusii Jungh. et de Vriese Tapanuli, Sumatera Utara
dengan metode cluster dan pemetaan digital = Study of natural distribution of Pinus
merkusii Jungh.et de Vriese in Tapanuli, North Sumatera using cluster method and digital
mapping / Titi Kalima, Uhaedi Sutisna, dan Rusli Harahap. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 497-505 , 2005

          Pinus adalah salah satu marga yang terdiri atas 100 jenis di seluruh dunia dan
populasi jenis P. merkusii Jungh et de Vries yang tumbuh di Indonesia mempunyai nilai
ekonomi tinggi, baik dari kayunya maupun getahnya. Salah satu hal yang paling penting
dari jenis tersebut karena tumbuh secara alam dan endemik di Sumatera. Studi yang
dilakukan bertujuan untuk memperoleh informasi tentang sebaran alam P. merkusii
Jungh. et de Vriese di wilayah hutan Tapanuli, Sumatera Utara. Metode yang digunakan
adalah metode kluster (cluster method) yang terdiri empat plot bentuk lingkaran setiap
klusternya dengan jari-jari 17,95 m setiap plotnya. Studi menunjukkan bahwa sebaran
alam P. merkusii Jungh. et de Vriese terdapat di wilayah Bukit Barisan daerah
Habinsaran dan Garoga meliputi daerah-daerah Dolok Tusam, Dolok Saut, Dolok Sipirok,
Dolok Soanon, Situnggaling, dan Suaka Margasatwa Baruman. Populasi P. merkusii
Jungh. et de Vriese tersebut tumbuh berkelompok secara terpencar pada ketinggian
antara 1.000 m sampai dengan 2.000 mdi atas permukaan laut dengankemiringan lahan
antara 45-80 persen. Di bawah tegakan hutan alam P. merkusii Jungh. et de Vriese di
Dolok Tusam dijumpai tanaman kemenyan (Styrax benzoin Dryand.) dengan kerapatan
berkisar antara 19-28 pohon per klusternya. Adapun komposisi jenis tumbuhan di
bawah P. merkusii Jungh. et de Vriese adalah Melastoma malabathricum, Symplocos sp.,


                                                                                               24
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Scheffera sp., Calophyllum soulattri, Castanopsis acuminatissima, Knema conferta,
dan Pandanus sp.

Kata kunci: Sebaran alam, Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, Tapanuli, Sumatra Utara

Kalima, Titi
Identifikasi jenis tanaman rotan di hutan penelitian Haurbentes Jawa Barat =
Identification of rattan species planted in Haurbentes experiment forest West Java / Titi
Kalima, Uhaedi Sutisna. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 1-34 , 2005

         Hutan Penelitian Haurbentes yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat,
merapakan areal hutan yang dibangun dan dikelola oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam ditujukan untuk percobaan introduksi jenis-
jenis pohon kayu asing. Selain itu, Hutan Penelitian Haurbentes berfungsi pula sebagai
areal untuk penelitian di bidang konservasi ex-situ jenis-jenis flora hutan Indonesia
termasuk jenis-jenis rotan. Kini, nilai koleksi flora di Hutan Penelitian Haurbentes
semakin penting peranannya sehingga upaya peningkatan pelayanan jasa informasi
tentang pemanfaatan koleksi flora menjadi prioritas perhatian saat ini. Secara ringkas,
koleksi flora jenis-jenis tanaman rotan di Hutan Penelitian Haurbentes diungkap
berbagai hal, baik berdasarkan hasil pengamatan maupun berdasarkan data sekunder
yang meliputi antara lain, karakter morfologi biologi lainnya. Deskripsi tentang koleksi
tanaman rotan di Hutan Penelitian Haurbentes tersebut sangat berguna bagi ilmu
pengetahuan flora maupun bagi pengembangan budidaya rotan di Indonesia.

Kata kunci: Flora rotan, pengenalan, Hutan Penelitian Haurbentes


Kalima, Titi
Keragaman manfaat beberapa jenis perdu oleh masyarakat sekitar hutan alam produksi,
Jambi = Utilization diveristy on some shrubs species by local community around natural
production forest, In Jambi / Titi Kalima. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 111-
120 , 2005

          Keragaman manfaat beberapa jenis perdu oleh masyarakat sekitar hutan alam
produksi dilaksanakan di PT. Asia Log, Jambi. Pemilihan jenis perdu atau jenis pohon kecil
yang dimanfaatkan berdasarkan informasi masyarakat tradisional. Hasil penelitian
menunujukkan bahwa 17 jenis tumbuhan diketahui mempunyai manfaat. Dari ke 17 jenis
tumbuhan ini, tujuh jenis termasuk yang paling dimanfaatkan oleh masyarakat lokal.
Diantaranya Cassia alata Linn., Costus rumpianus DC, Fibraurea chloroleuca Miers.,
Ficus septica L, Solanum torvum Swartz., Fagraea auriculata Jack, dan Eurycoma
longifolia Jack.

Kata kunci: Keragaman manfaat, jenis perdu, masyarakat tradisional




                                                                                            25
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Karlina, Endang
Analisis potensi fisik dan biotik kawasan sebagai obyek wisata di Taman Wisata Alam
Grojogan Sewu Jawa Tengah = Biopysical potency analysis of the forest area as tourism
site in the Grojogan Sewu Nature Recreatin Park, Central Java in supporting
management of the park / Endang Karlina. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam : Volume II No.4 ; Halaman 387-397 , 2005

         Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi hayati, khususnya vegetasi
dan satwaliar, sebagai dasar penyusunan program pengelolaan dan pengembangan
pemanfaatandan penyelamatan fungsi hutan di Bukit Gunung Lawu, Kabupaten
Karanganyar, Jawa Tengah. Penelitian potensi biotik dilakukan dengan menggunakan
metode jalur transek untuk satwaliar fan plot sampling untuk vegetasi tumbuhan. Data
satwaliar dianalisis secara deskriptif, sedangkan data vegetasi tumbuhan dianalisis
dengan metode Indeks Nilai Penting. Berdasarkan hasil penelitian vegetasi, diketahui bahwa
dalam kawasan TWA Grojogan Sewu dijumpai 29 jenis tumbuhan. Untuk tingkat pohon
didominasi oleh jenis tusam (Pinus merkusii) dengan INP 190,58 %, tingkat tiang
didominasi olehjenis puspa (Schima walichii) dengan INP 100,92 %. Jenis satwaliar dijumpai
sebanyak 18 jenis, yaitu tujuh jenis kelas mamalia, di mana satu jenis merupakan satwa
dilindungi yaitu rusa (Cervus timorensis) dan jenis burung (aves) 11 jenis. Obyek wisata
yang menarik pengunjung adalah air terjun dengan indekpreferensi 10,4; atraksi satwa
1,4; tanaman ornamen 1; vegetasi hutan 0,64; dan sarana wisata buatan 0,11. Obyek
satwaliar yang mudah dijumpai adalah Macacafascicularis. Dalam hal ini menurut
pendapat pengunjung, pengunjung merasa ada obyek yang menarik dan tidak terganggu
dengan kehadiran monyet (45 %) dan merasa terganggu atau membahayakan dengan
kehadiran kelompok monyet (20 %). Dalam pengelolaan TWA tersebut masih ada
beberapa permasalahan, terutama pengelolaan sampah dan pengelolaan satwaliar.

Kata kunci: Keanekaragaman tumbuhan, keanekaragaman satwaliar,
            pengelolaan


Kayat
Karakteristik pengunjung dan nilai ekonomi kawasan Wisata Otak Kokok Taman
Nasional Gunung Rinjani di Pulau Lombok = Visitors characteristics and economic value
of Otak Kokok Recreation Area of Gunung Rinjani National Park, Lombok Island / Kayat
dan I Made Widnyana. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 135-143 , 2005

         Penilaian terhadap manfaat rekreasi diperlukan dalam rangka pengambilan
keputusan untuk pembangunan dan pengembangan pemanfaatan suatu kawasan
wisata. Otak Kokok adalah salah satu obyek wisata alam pada kawasan Taman
Nasional Gunung Rinjani yang paling banyak dikunjungi. Informasi yang berkaitan
dengan nilai ekonomi dan karakteristik pengunjung belum cukup tersedia. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengumpulkan informasi tentang karakteristik pengunjung
dan untuk menaksir nilai ekonomi kawasan wisata Otak Kokok. Metode yang
diterapkan adalah metode deskriptif terhadap karakterisasi pengunjung dan metode


                                                                                             26
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



biaya perjalanan {travel cost method) untuk penaksiran nilai ekonominya. Hasil penelitian
menunjukkan hampir seluruh pengunjung Taman Nasional Gunung Rinjani adalah
pengunjung lokal (Pulau Lombok). Dalam kaitan dengan sosial ekonomi, mayoritas
pengunjung berasal dari kelas menengah ke bawah. Motivasi kunjungan yang menonjol
adalah piknik (rekreasi sehari) dan keyakinan bahwa beberapa penyakit akan sembuh bila
mandi di dalam air terjun Otak Kokok. Nilai ekonomi ekowisata Otak Kokok diperkirakan
sebesar 1,5 milyar rupiah.

Kata kunci: Ekowisata Otak Kokok, pengunjung, nilai ekonomi


Kosasih, A Syaffari
Pengaruh skarifikasi pada benih kayu jaha (Terminalia bellerica Roxb.) terhadap
perkecambahan dan pertumbuhan bibitnya = The effect of scarification of kayu Jaha's
(Terminalia bellerica Roxb.) seeds on their germination and growth / A Syaffari Kosasih,
Yunita Lisnawati, Yetti Heryati. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 53-57 , 2005

        Kayu Jaha (Terminalia bellerica Roxb.) adalah jenis pohon cepat tumbuh dengan
tinggi MAI 1,6 m dan diameter MAI 2,1 cm. Kayu jenis ini dimanfaatkan sebagai bahan
konstruksi ringan danfurniture, buah muda sebagai campuran obat, buah tua sebagai
bahan baku cat, dan keping biji dapat dimakan. Meskipun banyak manfaat dan cepat
pertumbuhannya namun untuk mengembangkan jenis ini secara alami sangat sulit,
karena kulit biji keras dan tebal sehingga jenis ini sulit berkembang biak, sehingga perlu
cara untuk mempercepat proses perkecambahannya. Penelitian dilakukan dengan
metode rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan skarifikasi, yaitu perendaman
dalam air dingin selama 48 jam, pengeratan pangkal biji danpemecahan tempunmg bijinya.
Tiap perlakuan diulang tiga kali dan setiap ulangan terdiri dari 50 biji. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa cara skarifikasi dengan merendam benih dalam air dingin
memberikan respon terbaik dengan persen kecambah 70,27 %, kemudian pengeratan
pangkal biji 60,13 %, dan pemecahan tempunmg bijinya 30,53 %. Biji tersebut
berkecambah dalam waktu tiga bulan. Namun ketiga cara skarifikasi tersebut tidak
berpengaruh pada pertumbuhan bibitnya sampai bibit berumur enam bulan.

Kata kunci: Kayu jaha (Terminalia bellerica Roxb.), benih, skarifikasi


Kosasih, A. Syaffari
Pertumbuhan tiga jenis meranti (Shorea spp.) dalam rangka konservasi Ex-Situ di Hutan
Penelitian Haurbentes, Bogor = The Growth of three species of meranti (Shorea spp.) in
supprting Ex-Situ conservation at Haurbentes Research Forest, Bogor / A. Syaffari
Kosasih dan Rina Bogidarmanti. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 75-80 , 2005

          Kegiatan eksploitasi sumberdaya hutan, terutama untuk jenis-jenis yang
bernilai ekonomis sudah berlangsung cukup lama. Jika kegiatan ini tidak disertai dengan



                                                                                             27
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



usaha-usaha penanaman kembali, maka sudah barang tentu kelestarian jenis tersebut
sangat terancam. Shorea spp. (meranti) merupakan salah satu penghasil kayu terbesar
dari hutan alam produksi yang saat ini kelestariannya juga sudah mulai dikhawatirkan
oleh berbagai kalangan. Oleh karena itu berbagai kegiatan penelitian yang dapat menunjang
usaha konservasi ex-situ-nya. harus tenis dilakukan. Sehubungan dengan itu maka
dilakukan kegiatan penelitian yaitu penanaman tiga jenis meranti (S. mecistopteryx Ridl.,
S. leprosula Miq., dan S. selanica Blume) di Hutan Penelitian Haurbentes, Jasinga,
Bogor, untuk mengetahui pertumbuhan dan daya adaptasinya pada lahan dengan
vegetasi ditumbuhi semak belukar ringan. Pengukuran tinggi dan diameter dilakukan pada
waktu tanaman berumur 6 dan 9 tahun. Hasil pengukuran riap diameter maupun tinggi
untuk ketiga jenis meranti tersebut (S. mecistopteryx Ridl., S. leprosula Miq., dan S.
selanica Blume) masing-masing sebesar 1,26; 1,31; dan 1,28 cm untuk pertumbuhan
diameter dan 1,07; 0,94; dan 1,03 m untuk pertumbuhan tinggi per tahun, dengan riap
jenis meranti tidak berbeda dengan pertumbuhan meranti di hutan alam Kalimantan
Timur. Ini menunjukkan bahwa tapak Hutan Penelitian Haurbentes sangat sesuai untuk
pengembangan jenis-jenis meranti, khususnya untuk pengembangan pembibitan guna
pembangunan hutan dipterocarpaceae di pulau Jawa.

Kata kunci : Meranti, konservasi ex-situ


Kosasih, A Syafari
Cara alami penanganan benih meranti (Shorea spp) sebagai bahan cabutan / A Syafari
Kosasih. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 108-
112 , 2005

          Produk benih meranti dan hutan alam belum dapat disimpan dengan baik,
keterbatasan biaya dan teknologi perlu digali untuk memanfaatkan benih alami
menjadi bibit. Salah satu kendalanya adalah sifat benih meranti yang rekalsitran, untuk
itu metode menyimpan benih dalam bentuk bibit di bawah pohon induknya sebagai
alternatif memperoleh bibit yang diperlukan. Metode tersebut menghasilkan bibit
alam siap tanam yang jumlahnya bervariasi antara 2000 s/d 20.000 anakan per
pohon induk sesuai dengan jenis pohon dan ukuran buah.

Kata kunci: Meranti, rekasitran, benih, bibit


Kuntadi
Aspek teknis dalam strategi pemuliaan bibit lebah madu Apis cerana = Technical aspect
for stock improvement strategy of Apis cerana honey bee / Kuntadi. -- Info Hutan :
Volume II No.4 ; Halaman 281-290 , 2005

         Budidaya lebah madu lokal Apis cerana telah dilakukan di Indonesia sejak lama.
Saat ini kegiatan perlebahan dibina oleh Departemen Kehutanan dan menjadi salah
satu program pokok dalam pengembangan hasil hutan bukan kayu. Hambatan utama


                                                                                             28
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dalam pengembangan budidaya lebah A. cerana adalah belum adanya kegiatan pcmuliaan
terhadap jenis ini. Di sampingrata-rata produksi madunya sangat rendah, lebah ini juga memiliki
kecenderungan hijrah (kabur) dan pecah koloni yang tinggi. Perilaku tersebut menghambat
pengembangan budidaya lebah madu A. cerana di Indonesia. Sebagai tanggapan terhadap
perlunya dilakukan pemuliaan lebah madu A. cerana, di dalam tulisan ini dibahas mengenai
beberapa aspek teknis yang dibutuhkan untuk program seieksi koloni dan pemuliaan lebah
madu ini.

Kata kunci: Apis cerana, seleksi koloni, pemuliaan bibit


Kuswanda, Wanda
Potensi habitat dan pendugaan populasi orang utan (Pongo abelii Lesson 1827) di Cagar
Alam Dolok Sibual-Buali, Sumatera Utara = Potency of habitat and population estimation
of orang utans (Pongo abelii) in Dolok Sibual-buali Nature Reserve, North Sumatra /
Wanda Kuswanda dan Sugiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume
II No.6 ; Halaman 555-566 , 2005

          Orang utan termasuk satwaliar yang terancam punah pada habitat alaminya.
Fragmentasi dan kerusakan habitat menjadi penyebab utama menurunnya populasi dan
distribusi orangutan liar. Cagar Alam Dolok Sibual-buali adalah salah satu areal
konservasi sebagai habitat alami orangutan di Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan
untuk mengetahui kondisi habitat dan pendugaan populasi orangutan sebagai bahan
acuan dalam pengelolaan cagar alam dan konservasi orangutan Sumatera. Pengamatan
dilakukan pada dua areal penelitian, yaitu wilayah barat (Aek Nabara) dan wilayah timur
(Sialaman). Analisis vegetasi untuk mengetahui potensi habitat menggunakan metode
garis transek yang dibuat sebanyak 10 petak contoh berukuran 20mx20m dengan
jarak antar petak contoh 50 meter. Hasil analisis vegetasi tumbuhan yang ditemukan
dikelompokkan dalam sumber pakan dan sebagai pohon sarang orangutan. Pendugaan
populasi dilakukan secara tidak langsung berdasarkan penemuan sarang. Hasil
penelitian di wilayah barat diperoleh sebanyak 53 jenis tumbuhan dan wilayah timur 39
jenis di mana 36 jenis diidentifikasi sebagai sumber pakan orangutan. Jenis tumbuhan
yang mendominasi adalah medang nangka (Eleaocarpus obtusus), hau dolok (Eugenia
sp.), dan hoteng (Quercus maingayi) tumbuhan. Berdasarkan Indeks Kesamaan Jaccard
and Sorensen menunjukkan bahwa kondisi habitat antara kedua wilayah penelitian
tidak sama. Nilai dugaan kepadatan populasi berdasarkan penemuan sarang di wilayah
barat sebesar 0,791 ekor/km2 dan wilayah timur sebesar 0,271 ekor/km2.

Kata kunci : Orang utan, habitat, populasi, Cagar Alam Dolok Sibual-buali




                                                                                                29
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kuswanda, Wanda
Aktivitas harian orangutan liar (Pongo abelii Lesson 1827) di Cagar Alam Dolok Sibual-
Buali, Sumatera Utara = Daily activities of wild orang utans (Pomgo abelii Lesson 1827)
in Dolok Sibual-Buali Nature Reserve, North Sumatra / Wanda Kuswanda dan Sugiarti. --
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 567-579 , 2005

          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai aktivitas harian orangutan
liar (Pongo abelii Lesson 1827) menurut kelas umur sebagai bahan acuan
dalampengelolaan cagar alam dan konservasi orangutan Sumatera. Pengumpulan data
aktivitas harian orangutan menggunakan metode focal animal sampling yang dibagi
pada tiga periode waktu pengamatan, yaitu pagi hari (06.00-10.00 WIB), siang hari (>
10.00-14.00 WIB), dan sore hari (>14.00-18.00 WIB). Aktivitas yang diamati dibatasi
pada aktivitas makan, bergerak, istirahat, sosial, dan membuat sarang. Pada pagi hari
alokasi penggunaan waktu aktivitas harian orangutan paling banyak digunakan untuk
makan, sebesar 34,31 % dengan frekuensi aktivitas tertinggi pada betina dewasa; siang
hari untuk aktivitas sosial, sebesar 42,36 % dengan frekuensi aktivitas tertinggi pada jantan
dewasa; dan sore hari untuk aktivitas bergerak, sebesar 34,03 % dengan frekuensi
aktivitas tertinggi pada jantan dewasa. Sinaga (1992) menyatakan bahwa aktivitas
harian orangutan secara umum digunakan untuk makan, bergerak, dan membuat sarang.
Alokasi penggunaan waktu pada aktivitas harian orangutan berhubungan dengan kelas
umurnya sedangkan frekuensi aktivitas harian tidak berhubungan dengan kelas umur
orangutan.

Kata kunci : Orang utan, aktivitas harian, Cagar Alam Dolok Sibual-buali



Kuswanda, Wanda
Potensi dan pemanfaatan sumberdaya hutan di daerah penyangga Taman Nasional
Bukit Tiga Puluh, Provinsi Jambi = Forest potency and forest resources utilization in
buffer zone of Bukit Tiga Puluh National Park, Jambi Province / Wanda Kuswanda dan
Sugiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 597-608
, 2005

         Daerah Penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) memiliki beragam
potensi sumberdaya hutan seperti hasil hutan kayu, non kayu, dan satwaliar. Masyarakat
memanfaatkan sumberdaya hutan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang potensi dan pemanfaatan
sumberdaya hutan oleh masyarakat. Pengumpulan data pemanfaatan sumberdaya hutan
menggunakan metode wawancara dan penyebaran kuisioner, potensi hasil hutan (kayu
dan non kayu) berdasarkan metode garis berpetak dan satwaliar dengan metode transek
garis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis pohon penghasil kayu yang dimanfaatkan
oleh masyarakat hanya teridentifikasi 21 jenis, non kayu 18 jenis, dan satwaliar 30 jenis.
Nilai keanekaragaman jenis (H') sumberdaya hutan sebesar 2,07 yang berarti hutan di
daerah penyangga dalam kondisi tidak stabil. Masyarakat memanfaatkan sumberdaya


                                                                                               30
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



hutan untuk bahan bangunan, kayu bakar, makanan, dan dijual. Sumberdaya hutan yang
selalu dimanfaatkan masyarakat adalah meranti (Shorea sp.), medang (Litsea sp.), durian
(Durio zibethinus), rotan (Calamus manan), jengkol (Archidendron pauciflorum), jernang
(Daemonorops draco), dan rusa (Cervus unicolor).

Kata kunci: Potensi sumberdaya hutan, zona penyangga, Taman Nasional Bukit
            Tigapuluh


Kuswanda, Wanda
Analisis karakteristik dan pengelolaan populasi banteng (Bos javanicus d'Alton, 1832) di
Padang Pengembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon = Analysis on
characteristics and management of Banteng's (Bos javanicus d'Alton,1832) population in
the Cidaon Grazing Area, Ujung Kulon National Park / Wanda Kuswanda. -- Info Hutan :
Volume II No.3 ; Halaman 193-204 , 2005

          Populasi Banteng (Bos javanicus d'Alton, 1832) di Taman Nasional Ujung
Kulon terkonsentrasi pada habitat padang penggembalaan dan hutan di sekitarnya.
Penurunan kualitas dan areal padang penggembalaan telah mengurangi daya
dukungnya sehingga banyak banteng yang memasuki kawasan hutan. Kondisi ini dapat
mengancam populasi badak (Rhinoceros sondaicus) karena akan terjadi persaingan
pakan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari sampai Maret 2002 di padang
penggembalaan Cidaon. Pengamatan populasi banteng menggunakan metode
terkonsentrasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata sebanyak 29 individu
banteng memasuki padang penggembalaan setiap hari untuk mencari makan. Struktur
umurnya termasuk dalam struktur umur meningkat (progressive population). Perbandingan
nilai seks rasio pada kelas umur muda dan dewasa masing-masing adalah 1 : 2,3 dan 1 :
3,3 dengan nilai natalitas sebesar 0,6 dan nilai mortalitas pada kelas umur dewasa sebesar
0,8. Rekomendasi untuk pengelolaan populasi banteng di padang penggembalaan Cidaon
di antaranya adalah mengendalikan jumlah populasi, memperbaiki dan memelihara
padang penggembalaan, dan memantau pertumbuhan populasi banteng.

Kata kunci: Banteng, padang penggembalaan Cidaon, Taman Nasional Ujung Kulon


Kuswandi, R
Kajian implementasi kriteria dan indikator pengelolaan hutan alam produksi lestari di
Papua = Study on the implememtation of criteria and indicator of sustainable forest
managemant in Papua / R Kuswandi, E Sapulete Max J Tokede. -- Info Hutan : Volume
II No.1 ; Halaman 59-66 , 2005

        Pengelolaan Kelestarian Hasil Hutan Alam Produksi menganut prinsip
pengelolaan hutan yang mengintegrasikan optimalisasi fungsi produksi dan fungsi
ekologis secara berimbang. Sistem silvikultur TPTI yang diterapkan dalam pengelolaan
hutan alam produksi kenyataannya belum mampu menjamin tercapainya tujuan


                                                                                             31
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tersebut. Untuk itu pemerintah mengeluarkan kebijakan baru dalam pengelolaan hutan
alam produksi yaitu Pengelolaan Hutan Alam Produksi Lestari (PHAPL). Untuk
pelaksanaannya pemerintah melalui Menteri Kehutanan telah menetapkan kriteria dan
indikator PHAPL pada setiap Unit Pengelolaan seperti yang tercantum dalam Surat
Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 4795/Kpts-II/ 2002. Karena kebijakan ini masih
baru, maka perlu dilakukanpengkajian implementasi dari kriteria dan indikator PHAPL
tersebut oleh HPH di lapangan. Tujuan dari kajian ini untuk mengetahui apakah kriteria dan
indikator tersebut dapat diimplementasikan dan telah sesuai dengan kondisi obyektif
lapangan. Penelitian dilakukan di dua areal HPH yang ditentukan secara purposif yaitu
areal HPH PT. Bade Makmur Orisa, Merauke dan PT. Wapoga Mutiara Timber Unit II,
Jayapura. Hasil kajian menunjukkan bahwa kriteria dan indikator PHAPL belum dapat
diterapkan sepenuhnya pada kedua areal HPH tersebut karena masih terkendala
implementasi beberapa indikator yang terkait dengan persyaratan kepastian kawasan,
hak ulayat, potensi minimum, dan pelaksanaan IPKHH-MA pada areal konsesi HPH.
Kriteria yang terkait dengan masalah tersebut perlu dikaji dan dipertimbangkan lebih
lanjut serta dilakukan penyelesaian dengan kondisi obyektif lapangan.

Kata kunci: Kriteria dan indikator, PHAPL


Kwatrina, Rozza Tri
Keragaman jenis tumbuhan dan satwa liar di cagar alam Dolok Tinggi Raja Sumatera
Utara = Diversity of plants and animal at Dolok Tinggi Raja nature reserve Nort Sumatra.
-- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 71-82 , 2005

         Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui keragaman jenis tumbuhan dan
satwa liar serta gangguan habitat yang dapat mengancam kawasan tersebut. Vegetasi
diamati dengan menggunakan metode transek dan digunakan untuk menentukan Indek
Nilai Penting, Indek Keragaman Shannon-Weaver, dan Indek Dominansi. Satwaliar
diamati dengan menggunakan metode pengamatan langsung dan tak langsung. Hasil
menunjukkan bahwa cagar alam didominasi oleh lima suku tumbuh-tumbuhan yaitu
Moraceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Dipterocarpaceae, dan Fagaceae yang tergolong
dalam 66 jenis dan 37 suku dengan indeks keragaman jenis terletak pada kisaran 1,4-1,5.
Sedangkan satwa liar yang diamati tergolong ke dalam enam jenis herbivora, delapan jenis
karnivora, dan 13 jenis omnivora dengan indeks keragaman jenis yaitu 1,29. Terdapat satu
jenis tumbuhan yang dilindungi di Indonesia, yaitu Amorphophallus titanum dan
beberapa jenis satwaliar yang dilindungi. Ancaman yang utama terhadap kawasan cagar
alam adalah penebangan pohon dan perambahan lahan untuk berkebun. Solusi
penanggulangan masalah yang dapat diusulkan adalah meninjau kembali
pembangunan jalan, peningkatan pengawasan dan pengamanan hutan, dan
kemungkinan pembangunan taman wisata alam air panas.

Kata kunci: cagar alam, Dolok Tinggi Raja, keragaman jenis, tumbuhan, satwaliar




                                                                                             32
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kwatrina, Rozza Tri
Habitat dan keragaman jenis kupu-kupu di cagar alam dan taman wisata alam Lembah
Harau, Sumatera Barat = Habitat and diversity of butterfly at harau valley nature reserve
and nature recreation park, West Sumatera / Rozza Tri Kwatrina, Sugiarti, dan Pidin
Mudiana. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 175-
187 , 2005

         Penelitian bertujuan untuk mendapatkan data dan informasi mengenai
keragaman jenis kupu-kupu dan kondisi habitatnya di Cagar Alam dan Taman Wisata
Alam Lembah Harau, Sumatera Barat. Kupu-kupu ditangkap dengan menggunakan
metode sweeping dan jumlah jenis tertangkap digunakan untuk mengetahui
keragaman jenisnya. Data vegetasi dikumpulkan dengan menggunakan metode transek
dan dianalisis untuk mengetahui habitat dan tumbuhan pakan larva kupu-kupu melalui
Indeks Nilai Penting Relatif, Indeks Keragaman Jenis Shannon-Weaver, Indeks
Dominasi, Indeks Kesamaan Jaccard dan Sorensen, serta analisis korelasi rank
Spierman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah jenis di taman wisata alam lebih
banyak (54 jenis) dibandingkan di hutan cagar alam (21 jenis) dengan indeks keragaman
jenis masing-masing 1,39 dan 1,23. Satu jenis kupu-kupu yang dilindungi (Trogonoptera
brookiana trogon) ditemukan di taman wisata alam. Jumlah tumbuhan pakan larva lebih
banyak ditemukan di taman wisata alam yaitu delapan jenis, dibandingkan di hutan cagar
alam yaitu dua jenis. Indeks Kesamaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan
komunitas tumbuhan antara kawasan cagar alam dan taman wisata alam dengan indeks
keragaman jenis terletak antara 1,11 -1,57 pada kedua lokasi. Populasi kupu-kupu
berkorelasi nyata dan bernilai positif dengan jenis pakan larva di taman wisata alam,
tetapi berkorelasi nyata dan bernilai negatif dengan populasi pohon di hutan cagar alam.

Kata kunci: Habitat, kupu-kupu, cagar alam, taman wisata alam, Lembah Harau


Kwatrina, Rozza Tri
Pendugaan biomassa dan kandungan karbon pada batang tanaman Eucalyptus grandis
di PT. Toba Pulp Lestari, Aek Nauli, Sumatera Utara = The Biomass and carbon contens
prediction of Eucalyptus grandis at PT. Toba Pulp Lestari, Aek Nauli, North Sumatera /
Rozza Tri Kwatrina, Sugiarti, dan Asep Sukmana. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 507-517 , 2005

          Penelitian untuk menduga biomassa dan kandungan karbon batang Eucalyptus
grandis telah dilaksanakan di PT. Toba Pulp Lestari, Aek Nauli, Sumatera Utara. Data diambil
dari 32 pohon contoh dengan kelompok umur 1-2, 3-4, 5-6, dan 7-8 tahun. Biomassa dan
kandungan karbon diduga dengan menggunakan persamaan: B = 0,292Da67P1'20 untuk
biomassa dan C = 0,074DW94P109 untuk karbon. Untuk alasan kepraktisan dan keefektifan
pengambilan data di lapangan, dapat menggunakan persaman B = 0,090D21341 untuk biomassa
dan C = 0,025 D2-413 untuk karbon. Biomassa batang ekaliptus rata-rata umur 2,17; 3,17; 5,25
dan 7 tahun masing-masing adalah 8,01; 14,01; 52,71 dan 48,84 ton/ha sedangkan karbon
masing-masing adalah 2,66; 4,67; 17,84 dan 16,84 ton/ha.


                                                                                              33
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Biomassa, karbon, rosot karbon, Eucalyptus grandis


Langi, Liafrida Tangke
Jenis-jenis bambu di daerah Sentani Barat Jayapura = Varieties of bamboo in the region
of West Sentani Jayapura / Liafrida Tangke Langi, Jack Wanggai, Herman Remetwa. --
Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 121-134 , 2005

          Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis bambu di daerah Sentani
Barat. Penelitian ini berlangsung dari tanggal 8-22 April 2002 dan berlokasi di sepanjang
(kiri-kanan) jalan Sentani Barat hingga Depapre (± 24 km). Prosedur yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dan teknik survey dan pengambilan contoh
dilakukan secara purposif. Ditemukan enam jenis bambu (18,2 %) dari 33 jenis bambu yang
terdapat di Papua, antara lain: Bambusa vulgaris Schrad. ex Wendl., Gigantochloa atter
(Hassk.) Kurz., Neololeba atra (Steud.) Widjaja, Schizostachyum lima (Blanco)
Merr., Schizostachyum sp., dan Thyrsostachys siamensis Gamble. Jumlah rumpun
terbanyak ditemukan pada Bambusa vulgaris. Bentuk-bentuk pemanfaatan yang
ditemukan pada masyarakat asli di daerah Sentani Barat terbagi dalam 6 kelompok, yaitu
sebagai bahan konstruksi: pagar, kandang, rumpon, pengait atap, dan penyangga kacang
panjang; bahan makanan: sayur rebung; alat kesenian: suling; kerajinan: sisir bambu;
alat berburu: kalawai, tombak dan perangkap babi hutan, serta sebagai tanaman hias.
Sedangkan jenis yang paling sering dimanfaatkan adalah Bambusa vulgaris dan
Schizostachyum lima.

Kara kunci: Jenis bambu, Sentani Barat


Lekitoo, Krisma
Analisis vegetasi pada hutan koridor cagar alam pegunungan tamrau utara dan suaka
margasata jamurrsba-medi sorong = Vegetation analisys on forest corridor of nature
mountain range at north tamrau and the game reserve jamursba-medi sorong / Krisma
Lekitoo, Julius D Nugroho dan Rocky CH Metalmety. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 303-317 , 2005

         Cagar Alam Pegunungan Tamrau Utara dan Suaka Margasatwa Jamursba
Medi adalah dua kawasan konservasi yang terdapat di Papua. Kedua kawasan
konservasi ini mulai tahun 2000 telah diusulkan untuk digabungkan menjadi satu yaitu
kawasan Taman Nasional Pegunungan Tamrau Utara - Pantai Jamursba-Medi.
Sebagai kawasan konservasi kedua kawasan itu memiliki beberapa prioritas yang
berdasarkan pada kekayaan jenis, keanekaragaman habitat, dan nilai keunikan.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur dan komposisi jenis tumbuhan
berkayu pada hutan dataran rendah koridor Cagar Alam (CA) Pegunungan Tamrau
Utara dan Suaka Margasatwa (SM) Jamursba-Medi Sorong. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini adalah metode deskriptif denganteknik survey. Pengambilan contoh
vegetasi menggunakan petak contoh Witthaker yang telah dimodifikasi. Peletakan petak


                                                                                            34
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



contoh dilakukan secara purposif dengan memperhatikan faktor kelerengan, ketinggian
tempat, dan jarak dari sungai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi hutan di
koridor C. A. Pegunungan Tamrau Utara - S.M. Pantai Jamursba-Medi tersusun atas 52
jenis pohon, 23 jenis tiang, 28 jenis pancang, dan 42 jenis anakan. Pada tingkat pohon
terdapat 23 famili, tingkat tiang 15 famili, tingkat pancang 18 famili, dan tingkat anakan 30
famili. Pada tingkat permudaan semai vegetasi berkayu (pohon) yang dominan adalah
Drypetes longifolia, Memecylon sp., dan Sizygium sp.; pada tingkat permudaan
pancang jenis yang dominan adalah Canarium indica, Vatica papuana, dan Lithocarpus
rufovillosus; tingkat permudaan tiang jenis yang dominan adalah L. rufovillosus,
Reinwardtiodendron sp., dan Urandra brasii; sedangkan pada tingkat pohon jenis yang
dominan adalah L. rufovillosus, Intsia palembanica, dan Pometia pinnata.

Kata kunci : Analisis, vegetasi, koridor, cagar alam, suaka margasatwa, Tamrau,
             Jamursba-Medi


Lekitoo, Krisma
Jenis Tumbuhan Pakan Kuskus di Pulau Moor Kecamatan Napan Weinami Kabupaten
Nabire = The Types of Vegetation as a Kuskus Food at Moor Island District of Napan
Weinami Nabire / Krisma Lekitoo, Permenas Dimomonmau dan Marinus Rumawak. --
Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 461-476 ,
2005

          Salah satu jenis fauna Papua yang tergolong langka dan bernilai ekonomi tinggi
adalah kuskus. Secara umum, di Papua terdapat 5 jenis kuskus yang dilindungi oleh
pemerintah melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 247/KPTS/UM/4/1979, yaitu
kuskus kelabu (Phalanger gymnotis), kuskus bertotol biasa (Spilocuscus maculatus),
kuskus timur (Phalanger orientalis), kuskus bertotol hitam (Phalanger rufoniger), dan
kuskus rambut sutera (Phalanger vestitus). Di Pulau Moor Kecamatan Napan Weinami
Kabupaten Nabire terdapat 2 jenis kuskus yang dilindungi yaitu Spilocuscus maculatus
dan Phalanger orientalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis-jenis vegetasi
sebagai pakan kuskus di Pulau Moor Kecamatan Napan Weinami Kabupaten Nabire.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan teknik
survey dan wawancara semi struktural dengan informan kunci (key informen) untuk
mengetahui jenis-jenis pakan alami yang dikonsumsi oleh kuskus tersebut. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 jenis vegetasi sebagai pakan kuskus yang
terdiri dari 8 vegetasi tergolong tanaman pertanian dan 26 jenis vegetasi tergolong
vegetasi hutan. Daya dukung habitat kuskus di Pulau Moor secara umum masih di
bawah daya dukung maksimum.

Kata kunci: Kuskus, vegetasi, pakan, Pulau Moor
Lekitoo, Krisma
Struktur Vegetasi Habitat Palem Kol Irian (Licuala tilifera Becc.) Pada Kawasan Hutan
Primer Kali Waramui Distrik Masni Kabupaten Manokwari = Vegetation Structure of Irian



                                                                                               35
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Cabbage Palm (Licuala tilifera Becc.) Habitat on Region of Primary Forest Waramui
River District of Masni Manokwari Regency / Krisma Lekitoo, Hans F.Z. Peday dan
Rocky CH. Metalmety. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ;
Halaman 581-595 , 2005

           Salah satu jenis palem yang terdapat pada kawasan hutan Kali Waramui adalah
jenis palem kol irian (Licuala tilifera Becc). Jenis palem ini merupakan salah satu jenis
palem endemik Papua dan sangat berpotensi sebagai tanaman hias lokal terutama bagi
masyarakat yang berada pada daerah Papua. Namun sampai saat ini informasi
mengenai potensi dan habitat jenis palem tersebut pada kawasan hutan Kali Waramui
masih sangat kurang, sehingga langkah yang perlu diambil adalah melakukan penelitian
pada kawasan hutan tersebut. Penelitia ini bertujuan untuk mengkaji potensi dan kondisi
habitat jenis palem kol irian (Licuala tilifera) pada kawasan hutan primer Kali Waramui
di Kampung Meikosa Distrik Masni Kabupaten Manokwari yang terletak pada kawasan
hutan dataran rendah Prafi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dengan teknik survey. Pengamatan terhadap palem Licuala tilifera dilakukan
bersama-sama dengan tumbuhan berkayu (pohon) dengan menggunakan contoh
sampling kombinasi plot dan jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa habitat Licuala
tilifera terdiri dari 102 jenis vegetasi berkayu dari 30 famili yang membentuk struktur
dan komposisi hutan Kali Waramui. Vegetasi tumbuhan berkayu pada tingkat pohon
yang dominan di antaranya Pimelliodendron amboinensis, Alpitonia microcarpa,
Alstonia scholaris, dan Intsia palembanica. Struktur populasi Licuala tilifera membentuk
struktur populasi yang normal. Semai (55,17 %) menempati dasar piramida, tumbuhan
muda (27,59 %) menempati bagian tengah, dan puncak piramida ditempati oleh
tumbuhan dewasa (17,24 %). Licuala tilifera pada kawasan hutan Kali Waramui tumbuh
baik pada ketinggian tempat 255-390 m dpi, kelerangan 0-115 %. Kisaran kelerengan
tersebut sangat bervariasi dan memiliki kondisi habitat yang datar, lereng, lembah dan
puncak, pada tanah-tanah dengan keadaan solum yang sedang, sedikit berbatu,
banyak serasah atau bahan organik dan tanah umumnya kering, lembab, sedikit berair
atau berlumpur dengan naungan sedang sampai berat (60-90 %), suhu optimum
berkisar antara 27-30° C dan kelembaban optimum berkisar antara 75-92 %. Habitat
demikian umumnya terdapat pada lembah-lembah dan lereng-lereng yang tidak curam
(kelerengan < 20 %).

Kata kunci :   Struktur, habitat, palem, Licuala telifera, kawasan hutan primer Kali
               Waramui




Lekitoo, Krisma
Deskripsi jenis-jenis bambu dan rotan pada kawasan hutan Kali Waramui Masni
Kabupaten Manokwari = Description The kinds of bamboo and rattan on region of forest


                                                                                            36
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Waramui River District of Masni Manokwari Regency / Krisma Lekitoo, Hans F.Z. Peday
dan Rusdy Anggrianto. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 81-91 , 2005

          Masyarakat Papua telah lama memanfaatkan rotan dan bambu untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka, namun sampai saat ini potensi jenis, pemanfaatan, dan populasi
rotan dan bambu belum diketahui secara pasti. Hal ini disebabkan masih adanya
keterbatasan dan kurangnya pengetahuan tentang jenis-jenis rotan dan bambu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan jenis-jenis rotan dan
bambu yang tumbuh di kawasan hutan Kali Waramui Kampung Meikosa, Distrik Masni,
Kabupaten Manokwari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif dengan teknik survey dan pengamatan petak contoh berukuran 20 m x 20 m
pada daerah yang ditemukan rotan dan bambu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat 5 jenis rotan dan 4 jenis bambu. Jenis-jenis rotan tersebut antara lain Calamus
aruensis Becc, Calamus heterachanthus Zipp. Ex. Blume., Calamus longipinna Lauterb
& K.Schum., Calamus sp., dan Korthalsia zippeli Burret, sedangkan jenis-jenis bambu
adalah Bambusa vulgaris Schrad. Ex Wendl., Gigantochola atter (Hassk.) Kurz.,
Neololeba atra (Lindl.) Widjaja, dan Schizostachyum brachyclaudum Kurz.

Kata kunci: Bambu, rotan, kali Waramui


Mindawati, Nina
Pengaruh macam media terhadap pertumbuhan semai Acacia mangium Willd = The
influence of media to growth of Acacia mangium Willd. seedlings / Nina Mindawati, Enny
Yusnita Susilo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ;
Halaman 53-59 , 2005

         Penanaman jenis cepat tumbuh seperti jenis Acacia mangium Willd. telah
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pulp dan kertas di
Indonesia. Jenis ini biasanya ditanam pada lahan-lahan yang tidak subur {marginal)
sehingga untuk manghasilkan pohon yang berkualitas, perlu penggunaan bibit yang
baik. Penyediaan bibit yang berkualitas tergantung jenis dan kualitas media yang
dipakai. Salah satu media semai yang baik adalah media dari tanah lapisan atas, namun
penggunaan tanah lapisan atas sebagai media yang baik telah dihindari karena
dikhawatirkan akan merusak lingkungan. Oleh karena itu perlu dicari alternatif dengan
media yang dapat menggantikan media tanah. Penelitian pengaruh macam media
terhadap pertumbuhan semai A. mangium telah dilakukan dengan menggunakan
rancangan acak lengkap dengan perlakuan sembilan macam media semai, yang
bertujuan untuk mengetahui media yang baik bagi pertumbuhan semaiA. mangium.
Hasilpenelitianmenunjukkan bahwa campuran kompos serasah A. mangium dengan
wan's pith (1:1) ataupun dengan (2:1) dapat digunakan sebagai media semai sebelum
ditanam ke lapangan karena dapat meningkatkan pertumbuhan semai A. mangium di
persemaian.




                                                                                           37
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Jenis cepat tumbuh, Acacia mangium Willd., media, semai


Mindawati, Nina
Pengaruh lebar jalur bersih terhadap pertumbuhan jenis meranti merah penghasil
tengkawang (Shorea stenoptera dan Shorea mecistopteryx) di Hutan Penelitian
Haurbentes, Bogor = The Effect of clean spacing line on the growth species producing
bornetallow (Shorea stenoptera and Shorea mecistopterix) at Haurbentes Research
Forest, Bogor / Nina Mindawati...(et.al). -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam :
Vol.II No.2 ; Halaman 167-174 , 2005

         Shorea stenoptera dan Shorea mecistopteryx merupakan jenis yang populer
dalam dunia perdagangan sebagai kayu tropis yang mempunyai kualitas baik dan juga
dapat menghasilkan buah tengkawang. Penelitian yang dilakukan di Hutan Penelitian
Haurbentes bertujuan untuk mencari pengaruh berbagai lebar jalur bersih terhadap
pertumbuhan dan daya hidup jenis pohon penghasil tengkawang S. stenoptera dan S.
mecistopteryx. Penelitian berdasarkan rancangan Split Plot, dengan dua jenis Shorea
sebagai petak utama dan j alur bersih sebagai anak petak. Tiap perlakuan diulang dua kali,
dengan lima perlakuan lebar jalur bersih dan jarak tanam 3 m x 4 m. Hasil penelitian
menunjukkan rata-rata persen tumbuh untuk S. stenoptera 68,31 % dan S. mecistopteryx
41,34 %. Tinggi untuk S. stenoptera berkisar 122,68 cm-148,54 cm dan diameter l,38cm-
l,77cm,sedangkan.S'. mecistopteryx tinggi sekitar 117,61 cm-157,28cm dan diameter 1,23
cm-1,73 cm. Perlakuan lebarjalur bersih dua meter berpengaruh sangat nyata terhadap
pertumbuhan diameter S. stenoptera dan S. mecistopteryx. Kesuburan tanah di areal
penanaman rendah. Total populasi fungi dan bakteri masing-masing adalah 0,81 x 105
CFU/gr tanah dan 10,03 x 107 CFU/gr tanah. Prestasi kerja dari mulai penyiapan lahan,
penanaman dan pemeliharaan memerlukan 82 HOK/ha.

Kata kunci: Shorea stenoptera, S. mecistopteryx, tengkawang, lebar jalur



Mindawati, Nina
Pengaruh tebang pilih tanam Indonesia (TPTI) terhadap kondisi hara di hutan alam
produksi di PT ITCI Kalimantan Timur = The effect of Indonesia selective cutting and
planting to nutrient condition in production natural frests of PT ITCI district East
Kalimantan / Nina Mindawati, Tati Rostiwati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam : Volume II No.3 ; Halaman 283-293 , 2005

         Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) merupakan salah satu sistem silvikultur
untuk mengatur pemanfaatan hutan alam produksi di Indonesia. Sistem ini belum
banyak dikaji pengaruhnya terhadap kesuburan tanah dan ketersediaan hara sebagai
salah satu indikator kualitas suatu tempat tumbuh. Penelitian mengenai kondisi hara, baik
tanah maupun tegakan di hutan alam akibat kegiatan TPTI, telah dilakukan di PT. ITCI,
Kalimantan Timur. Penelitian dengan menggunakan metode observasi lapangan, dilakukan


                                                                                             38
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



terhadap tegakan sisa pada plot hutan alam bekas TPTI yang berumur tujuh tahun
setelah penebangan. Variabel yang diamati adalah biomassa tegakan, kandungan hara
pohon yang dibedakan berdasarkan bagian-bagian pohon (daun, cabang, dan batang)
dalam kelas diameter 20-30 cm dan kelas diameter > 30 cm serta kandungan hara
contoh tanah yang diambil secara komposit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
biomassa tegakan di hutan primer lebih tinggi dibandingkan dengan kawasan hutan
yang telah dilakukan TPTI, namun kandungan hara yang terakumulasi pada tiap bagian
pohon berbeda nyata untuk hara N, P, K, dan Mg. Konsentrasi hara pada tiap bagian
pohon dan kandungan hara tanah di TPTI yang cenderung lebih tinggi dibandingkan
konsentrasi hara pada hutan primer menunjukkan bahwa sistem penebangan TPTI
memberikan pengaruh positif terhadap iklim mikro tegakan sehingga siklus nutrisi (pohon
dan tanah) masih berlangsung dengan baik.

Kata kunci: Tebang Pilih Tanam Indonesia, hutan primer, biomassa, hara pohon, hara
             tanah


Mindawati, Nina
Pemilihan jenis pohon untuk hutan tanaman campuran dalam rangka kegiatan
rehabilitasi lahan di dataran tinggi Cikole, Jawa Barat = Species selection for mix
plantation forest for mix plantation forest for land rehabilitation activity at the Cikole
hihgland, West Java / Nina Mindawati, A. Syaffari Kosasih, dan Yetti Heryati. -- Info
Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 223-230 , 2005

          Pembangunan hutan tanaman industri untuk memasok bahan baku industri
telah dikembangkan secara luas di Indonesia, namun hasilnya belum sesuai dengan
target yang ditetapkan. Kesuksesan membangun hutan tanaman tergantung banyak
faktor, salah satunya adalah pemilihan jenis yang akan dikembangkan untuk penentuan
kesesuaian lahannya. Penelitian pemilihan jenis untuk kegiatan penanaman atau
rehabilitasi dalam bentuk tanaman campuran di dataran tinggi Cikole, Jawa Barat telah
dilakukan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dan sebagai perlakuan
adalah tujuh jenis pohon {Agathis loranthifolia, Pinus oocarpa, Shorea platyclados, Alnus
nepalensis, Toona sureni, Casuarina junghuhniana, dan Khaya anthotheca) yang
dicobakan dalam bentuk hutan campuran per blok. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa jenis Alnus nepalensis dan Casuarina junghuhniana merupakan jenis terpilih
yang cocok untuk dataran tinggi. A. nepalensis menghasilkan persen jadi 93,62 %
dengan MAI tinggi 3,67 m dan MAI diameter 3,67 cm. Sedangkan C. junghuhniana
menghasilkan persen jadi 94,66 %, MAI tinggi 2,26 m dan MAI diameter 2,73 cm

Kata kunci: Pemilihan jenis, tanaman campuran, dataran tinggi

Mindawati, Nina
Perbanyakan bibit jenis-jenis tanaman hutan untuk mendukung gerhan / Nina Mindawati,
Atok Subiakto. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman
32-39 , 2005


                                                                                             39
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




         Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan (GERHAN) merupakan program
nasional yang dilatarbelakangi oleh terjadinya sejumlah bencana alam dan semakin
luasnya jumlah lahan kritis di Indonesia. Kegiatan GERHAN berdasarkan
keseimbangan ekosistem satuan Daerah Aliran Sungai (DAS) sebagai unitpengelolaan.
Untuk suksesnya program GERHAN di atas, faktor pengadaan dan perbanyakan bibit
yang berkualitas merupakan kunci keberhasilan yang perlu diperhatikan di samping
teknik lainnya seperti teknik penanaman dan teknik konservasi lahan penanaman.
Selain itu pemilihan jenis yang sesuai dengan kondisi lingkungan lahan
penanaman perlu diperhatikan, sehingga disarankan penggunaan jenis-jenis
andalan setempat untuk dikembangkan dalam program GERHAN pada setiap DAS
yang diprioritaskan.

Kata kunci: Rehabilitasi hutan dan lahan, Daerah Aliran Sungai, perbanyakan bibit


Mindawati, Nina
Hutan penelitian sebagai wadah kegiatan konservasi alam / Nina Mindawati. -- Prosiding
Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 130-134 , 2005

        Sejak tahun 1937, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan
Konservasi Alam (P3HKA), yang dahulu bernama Balai Penyelidikan Kehutanan, telah
membangun Hutan Penelitian (HP) di 14 lokasl yang berbeda, di mana 10 buah berada
di wilayah Jawa Barat dengan berbagai kondisi lingkungan yang berbeda.
Keragaman dan dominasi jenis di tiap HP berbeda satu sama lain, yaitu keragaman
di HP Cigerendeng 10 jenis; HP Pasir Awi 47 jenis; HP Arcamanik 15 jenis; HP Pasir
Hantap 78 jenis; HP Cikole 43 jenis; HP Cikampek 59 jenis; HP Yanlapa 66 jenis; HP
Carita 43 jenis; HP Dramaga 130 jenis, dan di HP Haurbentes sebanyak 70 jenis.
Saat ini beberapa hutan penelitian di atas telah ditunjuk sebagai Kawasan Hutan
Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk penelitian dan pengembangan oleh Menteri
Kehutanan. Mengingat keragamannya yang sangat tinggi, maka HP dapat dijadikan
sebagai salah satu sarana untuk konservasi alam khususnya konservasi ex-situ.

Kata kunci: Hutan penelitian, keragaman, KHDTK, konservasi


Murniati
Aplikasi inkolum cendawan vesikular-arbuskular mikoriza dan pengaruhnya terhadap
pertumbuhan pohon alang-alang = Aplication of vesicular-arbuscular mycorrhizal fungi
inoculum and its effects on three growth on alang-alang grasslands / Murniati. -- Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 319-338 , 2005

         Tujuan penelitian adalah untuk menguji peranan dari inokulum cendawan mikoriza
vesicular-arbuscular dalam memacu pertumbuhan empat jenis pohon terpilih dan untuk
mengevaluasi kemampuan tumbuh keempat jenis pohon tersebut di lahan alang-alang


                                                                                            40
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



yang terdegradasi. Penelitian ini dilakukan dari bulan Maret 1999 sampai Oktober 2001.
Bibit umur lima bulan dari empat jenis pohon, mahoni ((Swietenia macrophylla), sungkai
(Peronema canescens), kemiri (Aleurites moluccana), dan sukun (Artocarpus altilis)
ditanam dengan jarak 4 x 2 m2 menurut rancangan acak petak terbagi dalam percobaan
faktorial. Sebagian bibit diinokulasi dengan cendawan mikoriza (spora dorman dalam
Mycofer dari jenis Glomus manihotis, Glomus etunicatum, Gigaspora rosea, dan
Acaulospora tuberculata) dan sebagian lagi tidak diinokulasi. Sebagai parameter
pertumbuhan pohon, persen hidup, tinggi, dan diameter batang diukur 3, 6, 12, 18, dan
24 bulan sesudah tanam. Jenis dan populasi mikoriza dan akar yang terinfeksi diperoleh
melalui analisis contoh tanah dan jaringan akar yang diambil sebelum, 6, dan 24 bulan
sesudah penanaman pohon. Di persemaian, inokulasi bibit dengan cendawan
mikoriza tidak meningkatkan pertumbuhan bibit. Inokulasi pada fase pesemaian ini
nyata meningkatkan persen hidup setelah bibit dipindah ke lapangan. Tetapi rata-rata
peningkatannya hanya 6,5 %. Inokulasi terhadap jenis-jenis pohon pionir di pesemaian ini
tidak memperlihatkan efek positif pada fase pertumbuhan selanjutnya di lapangan.
Performan dari empat j enis pohon t erpilih dan kemampuannya untuk b ersaing dengan
alang-alang, menunjukkan bahwa mahoni, sungkai, dan kemiri cocok ditanam di lahan
marginal alang-alang. Sedangkan sukun tidak cocok dengan kondisi lahan alang-alang
yang tandus.

Kata kunci: Peranan, memacu, inokulasi, pionir, kemampuan, terdegradasi, spora,
            performan


Murniati
Penyiapan lahan alang-alang untuk usaha tani agroforestry dengan teknologi murah dan
ramah lingkungan = Preparation of alang-alang grasslands for agroforestry systems
through a cheap and environmental friendly technology / Murniati. -- Info Hutan : Volume
II No.4 ; Halaman 321-331 , 2005

          Luas lahan alang-alang terus meningkat sebagai akibat penggunaan lahan yang
tidak tepat, sistem pertanian tebas bakar, kebakaran dan/atau pembakaran hutan dan lahan.
Dewasa ini luas lahan alang-alang telah mencapai puluhan juta ha, sebagian besar berada
di luar kawasan hutan dan berpotensi sebagai areal tujuan transmigrasi. Makalah ini
membahas penyiapan lahan alang-alang untuk pengembangan usahatani agroforestry
dengan menggunakan teknologi murah dan ramah lingkungan. Metodapressing yaitu
merebahkan alang-alang dengan menggunakan benda berat yang diikuti dengan penanaman
legum cover crop Pueraria javanica dapat mematikan dan mencegah recovery alang-alang
serta memperbaiki tingkat kesuburan tanah. Metoda ini memberikan pertumbuhan pohon
yang tidak berbeda dengan metoda penyemprotan herbisida dan/atau pencangkulan tanah
yang cukup mahal dan kurang menguntungkan bagi kehidupan mikro-organisme tanah.
Metoda ini memang tidak memberikan hasil tanaman semusim atau tanaman tumpangsari
yang maksimal tetapi cukup atau optimal sesuai dengan prinsip masukan rendah dan ramah
lingkungan yang dianut. Hasil tanaman jagung menurun dengan meningkatnya kapasitas
naungan atau Leaf Area Index (LAI) dari pohon. Hasil optimal diperoleh pada tingkat kapasitas


                                                                                               41
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



naungan <40 % dan LAI <\. Pengembangan agroforestry di lahan alang-alang ditujukan
pada areal yang miring sedangkan areal yang datar (kemiringan <15 %) dapat digunakan
untuk pengembangan tanaman pangan secara monokultur.

Kata kunci: Penggilasan, penutup tanah, input rendah, kapasitas naungan, pioneer


Murniati
Rehabilitasi hutan dan lahan dengan pendekatan pengelolaan hutan berbasis
masyarakat: beberapa pelajaran strategis / Murniati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang
Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 65-75 , 2005

          Makalah ini mendiskusikan kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan yang bertumpu pada
kepentingan masyarakat, konsep dan implementasinya di lapangan. Pada akhir tahun 2002
Departemen Kehutanan telah menetapkan Sosial Forestri sebagai program dan kegiatan
strategis yang memayungi pengelolaan hutan berbasis masyarakat di mana rehabilitasi hutan
dan lahan merupakan kegiatan yang dominan. Kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan dengan
pendekatan PHBM adalah semua kegiatan yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi hutan
dan lahan yang bertumpu pada kepentingan masyarakat, dilaksanakan melalui inisiatif dan
kolaborasi berbagai pihak (multi stakeholder,) dengan menempatkan masyarakat setempat
sebagai pelaku utama. Kegiatan ini bukan sekedar atau merupakan satu-satunya kegiatan fisik
tanam menanam pohon, melainkan suatu kegiatan yang terintegrasi yang juga bertujuan untuk
meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat serta mengembangkan dan
memperkuat kelembagaan. masyarakat. Dalam implementasinya, beberapa kegiatan
rehabilitasi hutan dan lahan yang bertumpu pada kepentingan masyarakat telah memberikan
dampak positif, baik dari aspek teknis dan lingkungan, sosial budaya dan ekonomi,
maupun aspek kelembagaan. Namun demikian masih banyak ditemui kelemahan dan
kekurangan, antara lain belum sepenuhnya partisipatif, masih kurang mempertimbangkan
aspirasi dan kebutuhan masyarakat serta belum menempatkan masyarakat sebagai pelaku
utama. Untuk menjamin keberlanjutan kegiatan dalam jangka panjang, masih banyak yang perlu
diperbaiki dan disempurnakan, antara lain perlu adanya kepastian pemanfaatan atau pemilikan
hasil rehabilitasi oleh masyarakat.

Kata kunci: Partisipatif, inisiatif, kolaborasi, multi stakeholders, sharing input dan output,
             keberlanjutan




                                                                                               42
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Nazif, M
Penggunaan herbisida monoaminum glifosat untuk pengendalian gulma di bawah
tegakan Acacia mangium Willd di Parung Panjang Jawa Barat = The use of
monoamonium glifosat hercide to control weeds under Acacia mangium Willd. plantation
in Parung Panjang West Java / M Najif, Ari Wibowo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman 37-52 , 2005

         Ujicoba telah dilakukan di Parung Panjang, Jawa barat untuk mengetahui
efektivitas herbisida monoamonium glifosat dalam mengendalikan gulma di bawah
tegakan Acacia mangium Willd. Percobaan dilaksanakan melalui aplikasi herbisida
monoamonium glifosat dengan dosis 3,4,5, 6 dan 9 liter per ha serta membandingkannya
dengan herbisida glifosat up 4,5 liter per ha, perlakuan manual dan kontrol (tanpa
perlakuan). Hasil percobaan menunjukkan bahwa herbisida monoamonium glifosat dapat
digunakan sebagai sarana pemeliharaan tanaman kehutanan dari gangguan gulma di
bawah tegakan^caci'a mangium Willd. Selanjutnya herbisida monoamonium glifosat
dengan minimum dosis 4,5 liter/ha efektif untuk mengendalikan gulma Imperata cylindrica
Beauv., Borreria latifolia DC. dan Mikania micrantha Will. Meskipun demikian herbisida ini
tidak efektif untuk mengendalikan pertumbuhan gulma Chromolaena odorata DC. Pada
tanaman Acacia mangium Willd. tidak tampak gejala keracunan akibat penggunaan
herbisida monoamonium glifosat pada semua tingkat dosis yang dicobakan.

Kata kunci: Tanaman Acacia mangium Willd., pengendalian gulma, herbisida


Novriyanti, Eka
Pembuatan Stek Cabang Bambu dengan Penambahan Hormon Tumbuh = Addition of
Growth Hormone into Bamboo Branch Cuttings Prapagation / Eka Novriyanti dan Edi
Nurrohman. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 249-260 , 2005

         Penelitian ini dilakukan untuk melihat keberhasilan hidup stek cabang bambu betung
dan bambu hitam yang diberi perlakuan seksi cabang, yaitu: pangkal (P), tengah (T), ujung (U),
dan konsentrasi hormon pertumbuhan NAA, yaitu: kontrol tanpa ZPT (DO), 50 ppm (Dl), 100
ppm (D2), dan 150 ppm (D3). Pengamatan pada stek bambu hitam dan bambu betung saat
berumur 5 bulan menunjukkan bahwa stek cabang bambu hitam dan bambu betung bertunas
masing-masing sebanyak 32,33 % dan 8,75 %. Bagian pangkal cabang kedua jenis bambu
menunjukkan nilai tertinggi untuk persen bertunas, jumlah, dan panj ang tunas. Dalam
pembuatan stek cabang bambu hitam, penambahan hormon pertumbuhan NAA 50 ppm
menunjukkan hasil yangbaik untuk persentase bertunas stek serta rata-rata jumlah dan
panjang tunas, yaitu 86 %; 7,99; dan 79,14 cm. Untuk bambu betung, perlakuan pangkal cabang j
uga berpengaruh sangat nyata dibanding perlakuan yang lain terhadap persen bertunas, rata-
rata jumlah tunas, dan rata-rata panjang tunas. Namun perlakuan konsentrasi NAA tidak
memberikan pengaruh yang berbeda terhadap ketiga parameter yang diukur.

Kata kunci: Bambu, stek cabang, hormon pertumbuhan



                                                                                               43
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Prameswari, Diana
Ketersediaan unsur hara makro pada tegakan Eucalyptus pellita umur 4 dan 6 tahun di
PT Wirakarya Sakti Jambi / Diana Prameswari, Nina Mindawati. -- Prosiding Ekspose
Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 101-107 , 2005

          Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) selalu dihadapkan pada
masalah miskinnya unsur hara mineral dalam tanah, karena tanah hutan di Indonesia
pada umumnya relatif miskin unsur hara. Dalam rangka memenuhi program HTI maka
dipilih jenis-jenis pohon yang cepat tumbuh antara lain Eucalyptus pellita di mana
pohon tersebut memerlukan unsur hara yang banyak untuk pertumbuhannya,
sehingga unsur hara dari tanah hutan akan semakin terkuras, terutama pada periode
ke dua atau pada daur berikutnya seteiah penebangan. Oleh karena itu perlunya
informasi tentang ketersediaan unsur hara pada suatu ekosistem hutan khususnya
lahan HTI bertegakan E. pellita. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui
ketersediaan unsur hara makro di bawah tegakan E. pellita. Penelitian ini dilakukan di
areal HTI PT WKS, Desa Kuala Dasal, Kecamatan Tungkal Ulu, Kabupaten Tanjung
Jabung, Jambi. Metode penelitian yang dipergunakan adalah menghitung
besarnya produktivitas sesaat (kg/ha atau ton/ha) melalui pengukuran biomasa
tegakan. Membuat plot contoh secara sistematik dengan pengawalan secara acak
berukuran 100x100 m (Ihektar) pada lahan bertegakan E. pellita umur 4 dan 6 tahun
dengan 3 kali ulangan (3 buah plot) untuk setiap umur tegakan. Untuk pohon contoh
diambil sebanyak 5 pohon dalam setiap umur tegakan dengan 5 buah titik
pengamatan secara diagonal. Dilakukan penimbangan pada setiap contoh terdiri dari
batang, daun, cabang, dan ranting. Pengukuran kadar air sampel juga dilakukan untuk
setiap komponen tegakan dan analisa kandungan hara makro N, P, K, Ca, dan Mg.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketersediaan hara E. pellita umur 6 tahun
akan semakin banyak dengan bertambahnya umur tegakan. Pada umur 4 tahun total
hara pohon dan tanah sebesar ± 5.340 kg /ha sedangkan pada umur 6 tahun sebesar
± 8.691 kg/ha. Untuk jenis E. pellita umur 4 tahun apabila dilakukan penebangan akan
terjadi potensi kehilangan unsur hara makro sebesar 63,38 % dari total unsur pada
biomasa tegakan tanpa akar sedangkan pada umur 6 tahun sekitar 56,34 %.

Kata kunci: Unsur hara makro, umur, Eucalyptus pellita, Jambi


Pratiwi
Laju aliran permukaan, tingkat erosi dan kehilangan unsur hara pada berbagai umur
tegakan Acacia mangium Willd. di Riau = Run-off, erosion stage and nutrient losses in
several Acacia mangium Willd. stands age in Riau / Pratiwi, Nina Mindawati. -- Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 251-257 , 2005

          Acacia mangium Willd. merupakan salah satu jenis pohon tumbuh cepat yang
diprioritaskan dalam pembangunan hutan tanaman dan dikelompokkan dalamkelompok
kayu serat/pulp. Sampai dengan saat ini, daur tebang yang digunakan untuk jenis ini
adalah 8 tahun, karena daur tebang ini dianggap cukup aman dari segi ekologi. Artinya


                                                                                           44
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



pada daur tebang ini diperkirakan hutan tanaman sudah menghasilkan kayu yang cukup
tinggi dan sudah terjadi keseimbangan unsur hara yang tersedia. Dari segi ekonomis,
penurunan daur tebang menjadi jurang dari 8 tahun dianggap lebih menguntungkan.
Namun demikian diduga dengan penurunan daur tebang ini akan mengakibatkan
dampak negatif terharap lingkungan, seperti meningkatnya aliran permukaan dan erosi
serta penurunan unsur hara. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh penurunan
daur tebang A. mangium terhadap aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara.
Pengamatan aliran permukaan, erosi, dan kehilangan unsur hara dilakukan terhadap
tegakan A. mangium yang berumur 5, 6, 7, dan 8 tahun pada rotasi I dan II serta di hutan
alam. Pada lokasi – lokasi tersebut dibuat plot – plot pemantauan erosi dan aliran
permukaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah aliran permukaan, erosi, dan
kehilangan unsur hara di hutan tanaman lebih tinggi dibandingkan di hutan alam.
Terdapat kecenderungan bahwa aliran permukaan dan erosi menurun dengan
bertambahnya umur tegakan, baik pada rotasi I maupun II. Secara umum kehilangan
unsur – unsur hara, baik melalui aliran permukaan maupun erosi di hutan alam jauh lebih
rendah dibandingkan kehilangan unsur – unsur hara pada rotasi I dan II. Diharapkan
hasil penelitian ini dapat dijadikan kebijakan dalam penurunan daur tebang A. manium.

Kata kunci: Acacia mangium Willd., erosi, aliran permukaan, kehilangan unsur hara,
             daur ulang.


Pratiwi
Persebaran beberapa jenis pohon penghasil lateks di Indonesia = Distribution of several
latex producing trees in Indonesia / Pratiwi, Titi Kalima. -- Info Hutan : Volume II No.4 ;
Halaman 333-343 , 2005

          Tulisan ini membahas mengenai habitat dan persebaran dari 11 pohon penghasil
lateks, kecuali Hevea braziliensis Muell.Arg. Lateks digolongkan ke dalam tiga kelompok yaitu
jelutung atau jelutong, perca atau percha, dan bahan karet yang masing-masing disadap dari
Dyera spp.; Palaquium spp.; Ganua spp.; Payena spp.; dan Ficus spp. Produksi lateks
mengalami penurunan sejak tahun 70-an dan masyarakat telah menghentikan kegiatan
penyadapan Ficus sejak budidaya Hevea digalakkan. Faktor-faktor yang mempengaruhi
produksi lateks antara lain: (1) penyadapan lateks bukan merupakan mata pencaharian
utama; (2) tebangan hutan lebih menguntungkan; dan (3) lateks yang dikumpulkan dari hutan
alam tidak dapal bcrsuing dcngan bahan lalcks sintetis dan lateks yang bcrasal dari llcvca.
Dudidaya pohon penghasil lateks diikuti dengan peningkatan teknik penyadapan dan
pemrosesan lateks merupakan salah satu alternatif untuk mempromosikan posisi pemasaran
lateks alam.

Kata kunci: Persebaran, pohon penghasil lateks




                                                                                               45
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Pratiwi
Aspek konservasi tanah dan air dalam rehabilitasi hutan dan lahan / Pratiwi. -- Prosiding
Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 45-52 , 2005

          Peningkatan laju deforestasi menyebabkan peningkatan luas lahan terdegradasi. Lahan-
lahan tersebut perlu segera direhabilitasi, karena tanpa usaha rehabilitasi lahan daya dukung
lingkungan bagi kehidupan akan menurun dan bencana alam seperti longsor, banjir, dan
kekeringan akan sering terjadi. Upaya rehabilitasi lahan terdegradasi sebenarnya telah
lama dilakukan namun keberhasilannya masih jauh dari yang dlharapkan. Hal ini antara
lain disebabkan dalam upaya rehabilitasi, aspek-aspek konservasi tanah dan air masih
kurang diperhatikan. Sementara itu lahan-lahan yang perlu direhabilitasi umumnya lahan-
lahan miring dengan jenis tanah Podzolik Merah Kuning. Oleh karena itu diperlukan upaya
konservasi tanah dan air. Beberapa teknik konservasi tanah dan air dapat diterapkan, seperti
metode vegetatif, mekanik, dan kimiawi, serta kombinasi antara metode vegetatif dan mekanik
melalui teknik mulsa vertikal. Keterlibatan masyarakat dalam penerapan konservasi tanah dan
air sangat diperlukan misalnya melalui Hutan Kemasyarakatan dan Hutan Rakyat yang
disisipkan dalam program Perhutanan Sosial (Social Forestry).

Kata kunci: Konservasi tanah dan air, lahan terdegradasi, rehabilitasi hutan dan lahan


Pudjiharta, A
Evapotranspirasi Jenis Pohon Agathis alba, Alnus nepalensis, dan Castanopsis argentea
= Evapotranpiration of Agathis alba, Alnus nepalensis, and Castanopsis argentea tree
species / A. Pudjiharta. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5 ;
Halaman 417-422 , 2005

        Informasi tentang evapotranspirasi (consumptive use) jenis pohon diperlukan
untuk klarifikasi dari permasalahan hidrologi hutan, memberikan solusi alternatif
danbermanfaat dalampemilihan jenis pohon untuk program-program penanaman
terutama untuk pertimbangan hidrologi. Evapotranspirasi adalah faktor yang penting
dalam berbagai aktivitas dalam pengembangan sumber air, pengembangan air tanah,
konservasi air dan tanah, klasiflkasi iklim, keseimbangan air dan produktivitas biomasa.
Evapotranspirasi adalah fenomena alam dalam cuaca dan siklus air/sirkulasi air.
Evapotranspirasi oleh tanaman (pohon) dipengaruhi oleh jenis, biomasa, dan umur dari
tanaman. Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh informasi mengenai
kebutuhan air atau evapotranspirasi jenis Alnus nepalensis Don, Agathis alba Foxw, dan
Castanopsis argentea A.DC. Terutama Agathis alba Foxw yang ditanam pada berbagai
tempat untuk tujuan berbeda antara lain untuk reboisasi, rehabilitasi dari lahan kritis,
dan perhutanan sosial; karena itu informasi evapotranspirasi jenis pohon diperlukan untuk
pertimbangan hidrologi agar tidak timbul masalah hidrologi di kemudian hari.

Kata kunci: Evapotranspirasi, Agathis alba Foxw, Alnus nepalensis Don, Castanopsis
              argentea A.DC


                                                                                                46
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Rostiwati, Tati
Sifat toleransi anakan ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) terhadap naungan
melalui pendekatan karakter morfologi dan anatomi daun = The Study of the character
of tolerancy of ramin (Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) seedling to shadingthrough leaf
morphological and anatomical characteristic approac / Tati Rostiwati dan Abdurani Muin.
-- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 609-617 , 2005

          Tujuan penelitian adalah untuk mengidentifikasi sifat toleransi anakan ramin
(Gonystylus bancanus (Miq.) Kurz) yang tumbuh pada tiga kondisi cahaya. Penelitian ini
menggunakan metode observasi dengan variabel utama adalah karakter morfologi daun
(Luas Davm-Leaf Areaf LA; Luas Daun Spesifik-Specific Leaf Area/SLA; Bobot Daun
Spesifik-Specific Leaf Weight/SLW) dan karakter anatomi daun (tebal jaringan daun,
tebal lapisan palisade, dan jumlah stomata per luasan daun). Sebagai variabel
pendukung adalah respon pertumbuhan tinggi anakan ramin umur dua tahun pada tiga
kondisi cahaya di plot penelitian plasma nutfah ramin, Universitas Tanjungpura, Provinsi
Kalimantan Barat. Hasil penelitian ini adalah anakan G bancanus (jenis semitoleran)
mempunyai karakter morfologi yang sama dengan kelompok tumbuhan jenis toleran dan
intoleran, yaitu SLA daun tumbuhan yang ternaungi lebihbesar dibandingkan dengan SLA
daun tumbuhan pada kondisi agak terbuka dan terbuka, sementara SLW menunjukkan
keadaan sebaliknya. Perbedaan yang nyata yang ditunjukkan oleh karakter anatomi hanya
variabel jumlah stomata per luasan daun. Jumlah stomata tertinggi terlihat pada anakan
yang tumbuh pada kondisi terbuka (282,36), kemudian diikuti oleh anakan pada kondisi
agak terbuka (220,26) dan ternaungi (205,31). Perbedaan tersebut sejalan dengan
perbedaan respon pertumbuhan tinggi dan diameternya. Tinggi dan diameter anakan
pada kondisi terbuka, agak terbuka, dan ternaungi berturut-turut 145,12 cm dan 1,831 cm;
141,13 cm dan 1,536 cm; 98,65 cm dan 1,298 cm.

Kata kunci: Kondisi cahaya, karakter morfologi, karakter anatomi, ramin, toleransi


Santoso, Erdi
Prospek aplikasi teknologi mikroba simbiotik untuk mempercepat rehabilitasi hutan dan
lahan terdegradasi / Erdi Santoso, Maman Turjaman dan Tri Wira Yuwati. -- Prosiding
Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 1-14 , 2005

         Kerusakan hutan dan lahan yang terdegradasi di Indonesia semakin
meningkat, dan saat ini telah mencapai 56,98 juta ha. Untuk menanggulangi
permasalahan tersebut Departemen Kehutanan melakukan terobosan melalui
Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GERHAN). GERMAN
direncanakan akan selesai dalam waktu lima tahun (2003-2007) dengan luas total
tiga juta ha meliputi 68 DAS prioritas. Teknologi rehabilitasi hutan dan lahan yang
ramah lingkungan antara lain penerapan teknologi konservasi tanah dan air,
perbaikan sifat fisik dan kimia tanah dengan aplikasi pupuk organik, penyediaan bibit
berkualitas dalam skala operasional dan aplikasi mikroba tanah seperti ektomikoriza,
endomikoriza, bakteri penambat nitrogen, bakteri pelarut fosfat, bakteri pereduksi


                                                                                             47
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



sulfur, dan Iain-Iain yang berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai pemacu pertumbuhan
dan agen remediasi lahan hutan terdegradasi. Rehabilitasi hutan dan lahan yang
terdegradasi dan terpolusi memerlukan upaya ekstra agar tanaman dapat tumbuh
baik dan memiliki daya tahan yang kuat. Pemberian pupuk anorganik pada area!
yang luas merupakan altematif yang tidak efisien, selain mahal juga tidak
berwawasan lingkungan. Teknologi pembangunan hutan yang ramah lingkungan
merupakan alternatif pemecahan yang efektif dan efisien dalam menangani masalah
rehabilitasi lahan marjinal. Dengan demikian teknologi pemanfaatan mikroba tanah
untuk penyediaan bibit yang berkualitas merupakan salah satu faktor penentu
keberhasilan pelaksanaan untuk mempercepat rehabilitasi hutan dan lahan
terdegradasi.

Kata kunci:    Potensi, prospek serta aplikasi mikroba simbiotik, rehabilitasi hutan
               dan lahan terdegradasi


Sawitri, Reny
Keragaman benthos sebagai indikator kualitas ekosistem perairan hutan produksi =
Benthos diversities as indicator of riverine ecosystem quality of production forest / Reny
Sawitri dan M. Bismark. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.5
; Halaman 519-526 , 2005

          Kualitas ekosistem perairan di hutan produksi dipengaruhi oleh teknik
penebangan hutan secara konvensional (CNV) dalam hal ini TPTI atau ramah lingkungan
(ReducedImpact Logging, RIL). Penelitian pengaruh penebangan terhadap kualitas air
bertujuan melihat dari keragaman dan populasi benthos di perairan CNV dan RIL dan
menjadikan keragaman benthos sebagai indikator kualitas perairan. Metode penentuan
lokasi pengambilan contoh adalah purposive random sampling dan parameter yang
diteliti adalah kualitas fisik dan kimia air, keragaman benthos, serta tekstur dasar
sungai. Hasil penelitian menunjukkanbahwa keragaman benthos di CNV dipengaruhi oleh
BOD dan COD, sedangkan di perairan RIL, dipengaruhi oleh DO. Kandungan hara yang
diindikasikan dari jumlah nitrogen dan fosfat di kawasan RIL lebih tinggi daripada di CNV.
Dari 15 jenis benthos yang teridentifikasi di lokasi penelitian termasuk ke dalam 9 ordo.
Jenis yang penyebarannya luas atau dengan frekuensi keberadaannya tinggi adalah
Laccophylus sp. (Coleoptera), Hagenius sp. (Odonata), Palaemonetes sp.
(Decapoda), dan Macrobrachium sp. (Decapoda). Keberadaan jenis benthos ini
dipengaruhi oleh substrat dasar sungai di ekosistem perairan, di mana CNV lebih banyak
mengandung tanah lempung dan Hat dibandingkan dengan di perairan RIL, sehingga
populasi benthos lebih tinggi, yaitu 180 individu per m2 dibandingkan dengan 108,75
individu per m2. Keberadaan jenis benthos tersebut menunjukkan kualitas air tergolong
dalam kategori bersih.

Kata kunci: Reduced Impact Logging (RIL), Conventional Logging (CNV), kualitas air,
            benthos, substrat sungai



                                                                                             48
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Sawitri, Reny
Evaluasi tingkat kelayakan ekonomi pengusahaan Taman Wisata Alam (TWA)
Pananjung Pangandaran = Evaluation of economic feasibility of Pananjung Pangandaran
Recreational Park / Reny sawitri, N.M. Heriyanto, dan R. Garsetiasih. -- Info Hutan :
Volume II No.3 ; Halaman 181-192 , 2005

          Pananjung Pangandaran diusahakan sebagai kawasan wisata alam karena
potensi pemandangan dan sumberdaya alamnya bempa vegetasi, satwaliar, pantai,
taman laut, gua, dan batu bersejarah. Tujuan studi ini adalah mengevaluasi tingkat
kelayakan ekonomi dengan mengetahui total pendapatan, kelayakan finansial pengusahaan
Taman Wisata Alam (TWA), dan pengaruhnya terhadap sosial ekonomi masyarakat Desa
Pangandaran. Metoda yang digunakan adalah Discounted Cash Flow (DCF) dari Net
Present Value (NPV) dan Benefit Cost Ratio (BCR) didasarkan pada rekapitulasi data
jumlah pengunjung, harga tiket, investasi fasilitas pariwisata, dan biaya pengusahaan.
Penelitian ini juga dilakukan dengan wawancara kepada masyarakat disertai studi
literatur monografi penduduk Desa Pananjung. Total pendapatan dari banyaknya
pengunjung pada tahun 1993-2002 adalah sebesar Rp 2.154.570.800,-. Dari hasil
analisis DCF diketahui bahwa nilai NPV sebesar Rp 1.326.178.100,- dan BCR sebesar
260 %. Selanjutnya, TWA ini berpengaruh terhadap masyarakat Desa Pangandaran dapat
dilihat dari pendapatan masyarakat yang umumnya berasal dari sektor jasa (85 %) dan
adanya kecenderungan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, serta lingkungan hidup yang
lebih baik. Dengan demikian, evaluasi tingkat kelayakan ekonomi pengusahaan
Pananjung Pangandaran mengindikasikan layak diusahakan sebagai taman wisata alam.

Kata kunci : Taman Wisata Alam Pananjung Pangandaran, analisa DCF, sosial dan
              ekonomi masyarakat


Sidiyasa, Kade
Habitat dan potensi regenerasi pohon pakan bekantan (Nasalis larvatus) di Kuala
Samboja Kalimantan Timur = Habitat and potency of proboscis monkey's (Nasalis
larvatus) food trees regeneration in Kuala Sumba East Kalimantan / Kade Sidiyasa,
Noorhidayah dan Amir Ma'ruf. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume
II No.4 ; Halaman 409-416 , 2005

         Bekantan (Nasalis larvatus) yang merupakan salah satu satwa endemik di
Kalimantan juga dijumpai pada hutan mangrove di Kuala Samboja Kalimantan Timur.
Kondisi habitat dan potensi regenerasi pohon pakannya telah diteliti. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa Sonneratia caseolaris sebagai sumber pakan utama bekantan
mendominasi tegakan pada semua tingkat pertumbuhan (pohon, pancang, semai).
Berdasarkan penyebaran kelas diameter batang, proses regenerasi alami pada tingkat
pohon berlangsung dengan sangat baik yang dicirikan oleh kehadiran pohon-pohon yang
berdiameter batang kecil (10-20 cm) dengan jumlah terbanyak. Kondisi regenerasi yang
baik tidak dijumpai pada tingkat pancang dan semai. Terutama pada tingkat semai bahkan
sangat rendah, hanya terdapat sebanyak 39,68 semai/ha. Tidak ada anakan dari jenis


                                                                                           49
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



pohon lain yang tercatat pada tingkat semai. S. caseolaris diketahui sebagai sumber
pakan yang utama bagi bekantan di Kuala Samboja.

Kata kunci: Bekantan, regenerasi, pohon pakan, Sonneratia caseolaris, Kalimantan
            Timur


Siregar, Chairil Anwar
Pemanfaatan arang untuk memperbaiki kesuburan tanah dan pertumbuhan Acacia
mangium / Chairil Anwar Siregar. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan
Konservasi Alam : Halaman 15-23 , 2005

         Arang merupakan salah satu sumber energi penting di negara-negara
berkembang. Arang memiliki fungsi yang efektif untuk fiksasi dan inaktivasi karbon di
atmosfer, serta untuk konservasi lingkungan sebagai kondisioner tanah atau
perangsang pertumbuhan tanaman. Di lain pihak, pemanfaatan arang di sektor
kehutanan, terutama hutan tanaman industri, belum banyak diperkenalkan karena tidak
tersedianya informasi. Teknik aplikasi arang dapat dikembangkan untuk memperbaiki
kondisi tanah pada pembangunan hutan tanaman. Acacia mangium merupakan salah
satu jenis yang paling penting dalam hutan tanaman industri di Indonesia. Meskipun
A. mangium sudah mampu beradaptasi lebih baik dengan sebagian besar iklim di
Indonesia, tetapi teknik penanaman pada lahan terdegradasi seperti lahan alang-
alang belum banyak dilaksanakan. Penelitian rumah kaca ini dirancang untuk
mengetahui tingkat efektivitas arang yang ditambahkan pada tanah miskin hara
terhadap pertumbuhan Acacia mangium umur 6 bulan. Perlakuan arang yang
diberikan adalah 0, 10, 15, dan 20% (v/v). Tanah diambil dari horizon B yang termasuk
dalam Orthic Acrisol (Very fine, mixed, semiactive, isohyperthermic, Typic
Paleudult). Tanah disaring dengan saringan tanah ukuran 5 mm dan dicampur dengan
arang sebelum dimasukkan ke pot. Berat tanah untuk masing-masing pot adalah 4000
g (berat kering udara). Untuk mengetahui pengaruh aplikasi arang terhadap
pertumbuhan tanaman dan sifat kimia tanah, maka digunakan rancangan acak lengkap
dengan empat ulangan. Penambahan arang ke tanah meningkatkan secara nyata
tinggi dan diameter semai jika dibandingkan dengan kontrol. Pemberian arang
dengan konsentrasi lebih dari 10 % memberikan pengaruh yang sedikit terhadap
pertumbuhan. Berat kering akar tidak dipengaruhi oleh aplikasi arang. Secara
morfologis, aplikasi arang mampu meningkatkan secara nyata rasio biomasa pucuk
terhadap akar tanaman. Sebaliknya, aplikasi arang menurunkan secara nyata rasio
berat kering batang dan akar terhadap daun tanaman. Perlakuan arang meningkatkan
secara nyata pH tanah, C organik, N total, HCI 25 %-extractable P, HCI 25 % dan Bray-
extractable K, basa-basa dapat ditukar (Ca, Mg, Na, dan K), persentase kejenuhan
basa, dan menurunkan secara nyata kapasitas tukarkation (CEC, KC11 N-extractable
AP* dan H*). Has/7 penelitian inijuga menunjukkan bahwa aplikasi arang pada
konsentrasi 10 % mampu memperbaiki ketersediaan hara tanah, dan juga
berpengaruh secara nyata memperbaiki pertumbuhan tanaman.



                                                                                          50
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci : Aplikasi arang, pertumbuhan, hara tanah, Acacia mangium


Sofyan, Agus
Pengaruh umur semai dan pupuk NPK terhadap pertumbuhan bibit tembesu (Fragaea
fragrans Roxb) di persemaian / Agus Sofyan, Mamat Rahmat dan Saiful Islam. --
Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 113-121 , 2005

         Beberapa jenis kayu asli yang bernilai ekonomis umumnya belum banyak
diketahui teknik silvikulturnya, baik di lapangan maupun di persemaian. Penelitian ini
dilakukan di persemaian Balai Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman
Palembang, Sumatera Selatan. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap,
dengan dua (2) faktor perlakuan dan tiga (3) ulangan. Pertakuan tersebut adalah umur
semai dan takaran pupuk. Jenis yang digunakan adalah tembesu (Fagraea fragrans
Roxb). Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur semai dan perlakuan pemupukan
tidak berpengaruh nyata, namun interaksi keduanya memberikan pengaruh terhadap
persen hidup. Umur semai delapan (8) minggu berpengaruh lebih baik
dibandingkan umur semai yang lain. Pemberian pupuk NPK 0,25 gram
berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan diameter tetapi tidak berpengaruh
terhadap pertumbuhan tinggi bibit tembesu.

Kata kunci: Umur semai, pupuk NPK, tembesu (Fagraea fragrans Roxb)


Sofyan, Agus
Pengaruh pemupukan terhadap pertumbuhan awal tanaman jati (Tectona grandis Linn)
di stasiun penelitian Kemampo Sumatera Selatan / Agus Sofyan ... [et.al] . -- Prosiding
Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 122-129 , 2005

         Jati (Tectona grandis Linn) merupakan jenis kayu mewah yang memiliki nilai
ekonomi yang tinggi. Walaupun Sumatera Selatan memiliki perbedaan karakter lahan
yang berbeda dengan lahan di mana jati berasal, masyarakat Sumatera Selatan sangat
antusias untuk menanaminya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek
pemupukan terhadap pertumbuhan anakan jati yang berumur satu tahun di Stasiun
Penelitian Kemampo, Sumatera Selatan. Percobaan dilakukan dengan Rancangan
Acak Kelompok dengan tujuh perlakuan pemupukan : NPK 67 g, NPK 133 g, NPK 200 g,
PMLT 63 g, PMLT 125 g, PMLT 189 g, dan kontrol. Parameter pertumbuhan (diameter
dan tinggi anakan) diukur setelah enam bulan perlakuan. Hasil analisis menunjukkan
bahwa perlakuan pemupukan tidak berpengaruh nyata terhadap pertambahan
diameter dan pertambahan tinggi anakan.

Kata kunci : Pemupukan, jati, Tectona grandis I.




                                                                                             51
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Sugiarti
Keanekaragaman jenis hayati pada ekosistem estuaria di suaka margasatwa Langkat
Timur Laut = The biodiversity richness of estuarin ecosystem at North-East Lankat wild
reserve / Sugiarti ... [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II
No.3 ; Halaman 259-268 , 2005

         Penelitian ini dilaksanakan untukk mengetahui keanekaragaman jenis hayati
pada ekosistem estuari di Suaka Margasatwa Karang Gading dan Langkat Timur Laut,
Kabupaten Langkat, Propinsi Sumatera Utara.             Pengumpulan data tumbuhan
menggunakan metode jalur berpetak dengan klasifikasi tumbuhan yaitu pohon, belta, dan
semai/tumbuhan bawah. Data satwa menggunakan metode garis transek dan metode
penangkapan serta data sifat fisik dan biotik perairan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa kawasan estuaria terbagi menjadi 3 (tiga) habitat utama yaitu hutan pantai, hutan
mangrove, dan hutan nipah. Keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa tertinggi
secara umum ditemukan di hutan mangrove karena merupakan habitat yang lebih stabil
dan memiliki produktivitas energy yang lebih tinggi dibandingkan tipe habitat yang lain.
Kondisi fisik perairan (penetrasi cahaya, suhu, pH, salinitas, dan debit air) masih
tergolong normal dan memungkinkan plankton hidup dengan baik.

Kata kunci: Estuaria, keanekaragaman jenis hayati, Karang Gading, Langkat


Suharti, Sri
Pengelolaan hutan berbasis masyarakat (PHBM): peluang usaha, peningkatan
kesejahteraan dan permasalahan peningkatan produktivitas / Sri Suharti, Murniati. --
Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 176-185 , 2005

         Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM) merupakan salah satu upaya
nyata yang dilakukan pemerintah dalam rangka mengakomodasi perubahan
paradigma dalam pembangunan kehutanan dan sentralistik dan top-down menuju
pembangunan yang partisipatif. Melalui program PHBM, masyarakat yang semula
kurang mendapat porsi dalam kegiatan pengelolaan hutan diposisikan menjadi mitra
utama pemerintah. Tulisan ini mencoba menyajikan uraian tentang pelaksanaan
PHBM di berbagai wilayah, partisipasi masyarakat, peluang usaha, permasalahan
peningkatan produktivitas serta sampai seberapa jauh pelaksanaan PHBM mampu
memberikan kontribusi bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat pesertanya.
Mengamati perkembangan berbagai sistem pengelolaan hutan berbasis masyarakat
yang telah dilaksanakan pada berbagai daerah serta kontribusinya terhadap pendapatan
total masyarakat, nampak bahwa aplikasi program Social Forestry (SF) ini ternyata
cukup mampu menjadi salah satu kunci keberhasilan-pengelolaan hutan lestari di
masa datang. Implementasi kegiatan SF bukan hanya sekedar aplikasi model
pengelolaan kawasan yang inklusif dan kolaboratif dengan cara menanam pohon tetapi
lebih dari itu merupakan upaya untuk membangun paradigma pengelolaan hutan yang
multipihak dengan menempatkan masyarakat sebagai aktor utama. Oleh karena itu
diperlukan kesediaan seluruh pihak untuk benar-benar bersedia berbagi peran, hak



                                                                                              52
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



(termasuk bagi hasil tanaman kayu dan non kayu) dan tanggung jawab dalam
mengelola hutan bersama. Pendampingan, pembinaan, serta monitoring dan
evaluasi dari setiap tahapan kegiatan secara intensif dan berkesinambungan sangat
diperlukan untuk menjamin kelestarian kegiatan yang telah dirintis sebelumnya.

Kata kunci:    Social Forestry, sharing,          sosial    ekonomi,        kesejahteraan
               masyarakat, multipihak


Suharti, Sri
Pola kolaboratif dalam pengelolaan kawasan hutan dengan tujuan khusus (KHDTK)
Haurbentes = Collaborative model in management of Haurbentes forest area for special
purpose / Sri Suharti, Tati Rostiwati dan Nina Mindawati. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Volume II No.5 ; Halaman 527-537 , 2005

         Pengelolaan KHDTK merupakan bentuk pengelolaan kawasan hutan yang baru
di sektor kehutanan. KHDTK diperuntukkan bagi kegiatan penelitian dan pengembangan,
pendidikan, dan pelatihan serta keperluan budaya dan religi. Hutan Penelitian Haurbentes
sesuai Keputusan Menteri Kehutanan No. 289 yang sebelumnya seluas 60 ha dan
dibangun pada tahun 1940 sekarang diperluas menjadi 100 ha. Dengan bertambahnya
luas hutan yang harus dikelola dan berubahnya status menjadi KHDTK yang
implikasinya akan melibatkan lebih banyak parapihak/ stakeholder (masyarakat
setempat, Perhutani, pemda setempat, perguruan tinggi, dan instansi penelitian lainnya),
maka tujuan pengelolaannyapun akan lebih luas dan beragam dari sebelumnya. Untuk
mengantisipasi kondisi yang ada serta dalam rangka meningkatkan efektifitas
pengelolaan kawasan, maka perlu dibuat Rencana Kerja Kolaboratif KHDTK Hutan
Penelitian Haurbentes. Tujuan penelitian adalah untuk menggali potensi yang ada yang
bisa dikolaboratifkan dengan berbagai stakeholder serta tersedianya acuan berupa
langkah-langkah yang perlu dilakukan segera di HP Haurbentes dan acuan dasar bagi
penyusunan Rencana Tindak (Action Plan) untuk pengelolaan jangka panjang.
Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metoda survai dan dilanjutkan
dengan Focus Group Discussion/FGD. Pemilihan sampel responden dilakukan
sccarapurposive random sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peluang
kerjasama kolaborasi di KHDTK Haurbentes sangat prospektif untuk dilakukan. Hasil
wawancara dengan respoden terpilih menunjukkan bahwa berbagai stakeholder yang terkait
dengan keberadaan KHDTK Haurbentes sangat berminat untuk mengadakan kerjasama
secara intensif dengan Badan Litbang Kehutanan sebagai pengelola KHDTK: Beberapa
masalah yang perlu diantisipasi antara lain adalah kejelasan hak dan kewajiban/ tanggung
jawab, pembagian keuntungan dan resiko, masalah dana, upaya peningkatan kesadaran
dan kemandirian masyarakat setempat serta pengawasan kegiatan yang berlangsung di
KHDTK. Untuk merealisasikan agar kerjasama tersebut benar-benar dapat memberikan
manfaat yang nyata, beberapa upaya adaptasi/modifikasi dalam pengelolaan KHDTK
termasuk struktur organisasinya perlu dilakukan. Selain itu, pertemuan/diskusi secara
rutin dan intensif dengan pihak-pihak yang bekerjasama perlu dilakukan agar berbagai
masalah yang timbul dari adanya kerjasama tersebut dapat diantisipasi sebelumnya.


                                                                                            53
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: KHDTK Haurbentes, rencana pengelolaan, kolaborasi, stakeholder


Suharti, Sri
Integrasi program gerhan dan social forestry melalui pengembangan komoditianeka
usaha kehutanan / Sri Suharti. -- Prosiding ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi
Alam : Halaman 169-175 , 2005

          Kegagalan berbagai program yang telah digulirkan pemerintah di masa lalu telah
menyebabkan kondisi hutan dan kehutanan di Indonesia mencapai titik yang sangat
mengkhawatirkan. Jika hal ini dibiarkan maka tidak lama lagi hutan di Indonesia hanya akan
tinggal menjadi kenangan/sejarah masa lalu. Untuk mengatasi hal ini, pada akhir tahun 2002
pemerintah telah menetapkan dua program strategis Departemen Kehutanan yaitu program
GERHAN dan Social Forestry. Tujuan pelaksanaan kedua program tersebut adalah
merehabilitasi kawasan hutan yang rusak dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan
masyarakat sekitar. Agarpelaksanaan kedua program dapat berjalan secara efisien sehingga
memberikan hasil yang optimal, kedua program strategis tersebut dapat diintegrasikan dan
dilaksanakan secara simultan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam mengintegrasikan
program GERHAN dan Social Forestry adalah melalui pengembangan komoditi Aneka
Usaha Kehutanan yang selain mempunyai fungsi rehabilitasi, juga mampu memberikan
kontribusi pendapatan secara layak dan signifikan kepada masyarakat sekitar. Tulisan ini
mencoba menguraikan tentang prospek pengintegrasian pola-pola kegiatan dalam program
GERHAN dengan bentuk-bentuk kegiatan yang dikembangkan dalam program Social Forestry
melalui pengembangan komoditi Aneka Usaha Kehutanan. Berbagai permasalahan yang perlu
diantisipasi dalam kegiatan integrasi antara lain adalah masalah ketersediaan modal usaha,
sharing hasil, penetapan hak, tanggung jawab dan sanksi serta pelaksanaan monitoring dan
evaluasi. Oleh karena itu dalam kegiatan integrasi ini diperlukan tidak hanya persiapan dan
perencanaan yang matang namun juga persamaan persepsi tentang tujuan kegiatan integrasi
GERHAN dan Social Forestry dan semua stakeholder yang terlibat.

Kata kunci: Program strategis, simultan, prospektif, wanafarma, non kayu, sosial ekonomi
            masyarakat


Suharti, Tati
Nilai ekonomi penurunan daun tebang Acacia mangium Willd di hutan tanaman industri
PT. Arara Abadi, Riau = The Economic value of cutting cycle reduction of Acacia
mangium Willd. at Arara Abadi industrial plantation forest concession, Riau / Sri Suharti
dan Asmanah Widiarti. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Vol. II (6) ;
Halaman 619-630 , 2005

         Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI) merupakan salah satu upaya
pemerintah Indonesia untuk meningkatkan produktivitas lahan hutan dan sekaligus
penyediaan bahan baku industri perkayuan. Jenis tanaman yang umumnya dikembangkan
adalah jenis-jenis tumbuh cepat (fast growing species) dan tidak menuntut persyaratan


                                                                                             54
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tumbuh yang tinggi seperti Acacia mangium Willd. Untuk lebih mendorong perluasan
pembangunan HTI, PT. Arara Abadi mengusulkan agar daur rata-rata tanaman A. mangium
diturunkan menjadi 6 tahun dengan kisaran antara 5-8 tahun dari daur semula 8 tahun.
Dengan adanya penurunan daur tanam, intensitas serta frekuensi kegiatan secara
keseluruhan akan meningkat sehingga secara tidak langsung akan berdampak pada
peningkatan pendapatan serta kesempatan kerja masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pada daur tanam berapa tahun yang dapat memberikan kontribusi
pendapatan yang optimum bagi perusahaan dan sekaligus meningkatkan kesempatan
kerja pada masyarakat di sekitarnya. Pengkajian terhadap nilai ekonomi penurunan daur A
mangium dilaksanakan di HPH PT. Arara Abadi Riau. Data yang digunakan berasal dari hasil
observasi lapangan, data sekunder perusahaan, laporan RKPHTI perusahaan serta
penetapan beberapa asumsi untuk berbagai peihitungan ekonomi yang diperlukan. Analisis
dilakukan dengan mempelajari semua biaya produksi dan penerimaan dari tegakan A.
mangium pada berbagai kelas bonita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari hasil
analisis finansial dengan menggunakan berbagai kriteria (Net Present Value/NPV dan
Benefit/Cost ratio/B/C ratio pada tingkat bunga pasar 16-18% per tahun, serta Internal Rate
of Return/IKR), pendapatan optimum diperoleh pada daur tebangan 6 tahun.

Kata kunci: Hutan Tanaman Industri (HTJ), Acacia mangium Willd., analisis finansial, NPV, IRR,
            B/C ratio


Sumarhani
Uji coba padi gogo (Oriza sativa) tahan naungan dengan sistem wanatani dibawah
tegakan hutan tanaman jati (Tectona grandis) di BPKH Jambang Kulon Jawa Barat =
Trial of shade tolerant on dry field rice in agroforestry system under teak plantantion
forest (Tectona grandis) at Jampang Kulon South Sulawesi province / Sumarhani, Harun
Alrasyid dan Yeti Heryatti . -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II
No.3 ; Halaman 227-239 , 2005

         Percobaan penanaman padi gogo tahan naungan di bawah tegakan hutan
tanaman jati telah dilakukan di Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Jampang
Kulon, Jawa Barat. Tujuan penelitian yaitu untuk mendapatkan galur/varietas padi gogo
tahan naungan yang potensial untuk dikembangkan di bawah tegakan hutan tanaman jati
dan memberikan pengaruh baik terhadap pertumbuhan jati. Di dalam penelitian ini
menggunakan 5 galur/varietas padi gogo di bawah tegakan jati umur 3 tahun, 14 tahun,
dan 26 tahun. Penelitian ini menggunakan rancangan Split Plot Design dengan
perlakuan 3 klas umur jati sebagi petak utama dan 5 galur/varietas padi gogo sebagai
anak petak, yang masing – masing di ulang 4 kali. Ukuran petak utama masing – masing
ialah 36 m x 35 m dan anak petak ialah 4 m x 5 m. Hasil uji coba memperlihatkan bahwa
5 galur/varietas padi gogo yang tahan naungan, tahan kekeringan, toleran terhadap
tanah asam, dan berumur genjah dapat tumbuh dengan baik di bawah tegakan hutan
tanaman jati umur 3 tahun (70,25%) dengan intensitas cahaya 70,28% daripada tegakan
jati umur 14 dan 26 tahun. Produksi padi gogo yang tinggi adalah galur Dt-15/II/KK
(2.487,50 gr/20m2) dan varietas jatiluhur (2.725,00 gr/20 m2). Kedua galur/varietas padi



                                                                                               55
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tersebut mempunyai prospek yang baik sebagai komoditi tanaman pangan dengan
sistem wanatani/agroforestry di bawah tegakan hutan tanaman jati. Padi gogo galur Dt-
15/II/KU dan varietas jatiluhur mempunyai peluang dikembangkan melalui penelitian
pengembangan dalam skala luar.

Kata kunci: Tectona grandis, padi gogo galur Dt-15/II/KK, dan varietas jatiluhur, wanatani


Sumarhani
Pengelolaan hutan bersama masyarakat: sebagai solusi rehabilitasi hutan dan lahan di
KPH Ciamis, KPH Sumedang dan KPH Tasikmalaya / Sumarhani. -- Prosiding Ekspose
Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 91-100 , 2005

         Hutan sebagai aset dan modal pembangunan nasional mempunyai
peranan penting bagi penyangga kehidupan dan penggerak perekonomian bangsa
Indonesia. Namun, kondisi hutan saat ini cenderung mengalami penurunan. Adanya
konversi hutan untuk pembangunan bidang lain (industri, pertambangan, dan
pemukiman), perambahan hutan, kebakaran hutan, dan penebangan liar menjadi
penyebab menurunnya kualitas dan kuantitas hutan. Laju kerusakan hutan pada tiga
pulau besaryakni Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi antara tahun 1985-1997
sebesar 1,6-2 juta ha/th. Selama kurun waktu tiga tahun berikutnya (1997-2000), laju
kerusakan hutan pada lima pulau besar (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan
Irian) meningkat mencapai 3,51 juta ha/th. Pengelolaan hutan lestari yang selama ini
didengung-dengungkan ternyata mengalami kegagalan. Pengelolaan hutan
konvensionai bersifat sentraiistik dan lebih berorientasi pada produk kayu dengan
distribusi hasil tidak merata. Selain itu, masyarakat yang tinggal di dalam dan sekitar
hutan tidak banyak dilibatkan dalam setiap tahapan pengelolaan hutan,
masyarakat hanya sebatas sebagai buruh bukan sebagai mitra sejajar. Untuk itu
pengelolaan hutan saat ini perlu melibatkan peran aktif masyarakat sekitar hutan
sebagai pelaku utama. Upaya merehabilitasi hutan dan lahan yang
terdegradasi serta mengakomodir keterlibatan masyarakat secara aktif dalam
pengelolaan hutan, telah dirintis oleh Perum Perhutani melalui program Pengelolaan
Sumberdaya Hutan Bersama Masyarakat (PSHBM) atau biasa disebut PHBM.
Makalah ini membahas beberapa model PHBM yang dilaksanakan di RPH Banjarsari
(KPH Ciamis), RPH Tanjungkerta (KPH Sumedang), dan RPH Cineam (KPH
Tasikmalaya). Prediksi panen sengon di areal tanaman jati, RPH Banjarsari
menunjukkan bahwa petani akan memperoleh pendapatan bersih sebesar Rp
1.767.857,-/th/0,25ha. Di RPH Tanjungkerta pendapatan bersih petani vanili di
bawah tegakan pinus adalah Rp 7.275.575,-/th/ha dan di RPH Cineam pendapatan
bersih petani dan kapulaga basah adalah Rp 600.000,-.Ah/ha.

Kata kunci: Partisipatif, jiwa berbagi, berbasis, bagi hasil




                                                                                             56
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Suryanto
Analisis komposisi, riap, dan regresi antara diameter dengan riap pada hutan penelitian
Sangai, Kalimantan Tengah = Analysis of Composition, Icrement, and Regression
Between Diameter and Increment of Sangai Research Forest Station, Central Kalimantan
/ Suryanto, Ayi Suyana, dan Supianto. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam :
Volume II No.5 ; Halaman 437-448 , 2005

          Sasaran penelitian ini adalah untuk mengetahui komposisi, riap, dan hubungan
regresi antara riap dan diameter. Data yang dianalisis adalah data dasar stasiun
penelitian hutan Sangai, tahun pengukuran 1993-1996 dan 2003. Analisis data
menggunakan metode validasi melalui rumus-rumus persamaan distribusi normal.
Penelitian ini memberikan hasil bahwa pada 15 petak inti terdapat 63 famili, meliputi 407
jenis dari 8.768 individu pohon. Berdasarkan kelas diameternya, kecenderungan
dominasi kelompok jenis non-dipterocarpaceae terdapat pada pohon-pohon bei
diameter kecil (10 cm) dan terus menurun hingga diameter medium (60 cm). Berikutnya,
kelompok jenis dipterocarpaceae lebih mendominasi pada kelas diameter besar (60 cm
ke atas). Kecenderungan dominasi kelompok jenis dipterocarpaceae pada kelas
diameter besar ini mengakibatkan dominasinya pada kriteria volume dan basal area.
Kelompokjenis dipterocarpaceae memiliki nilai riap rata-rata yang lebih tinggi
daripadakelompok jenis non dipterocarpaceae, untuk semua kelas diameter. Pada
kelompokjenis dipterocarpaceae, riap dimulai pada nilai 0,33 cm/tahun pada kelas
diameter di bawah 20 cm, kemudian nilai riap menunjukkan pergerakan menaik hingga
tertinggi pada kelas diameter 40-50 cm, yaitu 0,56cm/tahun dan kembali menurun hingga
nilai riap 0,35cm/ tahun pada kelas diameter di atas 100 cm. Pada kelompokjenis non
dipterocarpaceae, riap dimulai pada nilai 0,22 cm/tahun pada kelas diameter di bawah 20
cm, kemudian nilai riap menunjukkan pergerakan menaik hingga tertinggi pada kelas
diameter 30-40 cm, yaitu 0,30 cm/tahun dan kembali menurun hingga nilai riap 0,26
cm/tahun pada kelas diameter di atas 100 cm. Pada analisis regresi berikutnya
menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan regresi yang signifikan antara riap dengan
diameternya pada empat jenis persamaan yang diuji, yaitu persaman linear, kuadrat,
kubik, dan logaritma. Hal tersebut ditunjukkan dari nilai koefisien determinasi yang kecil,
yaitu antara 0,05-0,20, yang berarti hanya sebesar 5-20 % variabel riap dapat dijelaskan
oleh variabel diameter melalui persaman tersebut. Berdasarkan hasil tiga analisis pada
penelitian ini, dapat ditarik sebuah sintesa bahwa dinamika hutan dibentuk atas kinerja
tiga sistem yang kompleks, yaitu sistem hara dan cahaya, sistem riap, dan sistem
regenerasi. Tiga sistem dinamika tersebut berjalan dalam mekanisme persaingan yang
sempurna, namun atas dasar mekanisme persaingan tersebut tercipta kondisi
pendorong dan pembatas'yang membentuk keseimbangan dalam dinamika hutan
hujan tersebut.

Kata kunci: Dipterocarpaceae, non-dipterocarpaceae, kelas diameter, komposisi, riap,
            regresi, dinamika hutan




                                                                                             57
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Susanty, Farida Herry
Dinamika struktur tegakan tinggal umur 2, 5 dan 8 tahun setelah penebangan di
Longbangun Kalimantan Timur = Diynamic structure of standing stock on age 2, 5 and 8
years after logging in Longbangun East Kalimantan / Farida Herry Susanty. -- Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman 399-407 , 2005

          Beberapa aspek penting yang diperlukan dalam manajemen hutan alam
produksi dalam mencapai kelestarian meliputi aspek produksi yang berkaitan dengan
perencanaan produksi, aspek ekologi yang berkaitan dengan pengaruh sistem
penebangan yang diterapkan, dan aspek produktivitas (terutama dalam memperbaiki
kualitasdan kuantitas tegakan setelah penebangan). Penelitian ini bertujuan untuk
mendapatkan data dan informasi sebagai masukan bagi pengaturan hasil hutan alam
produksi terutama untuk rotasi kedua. Penelitian ini dilaksanakan pada satu konsesi Unit
Manajemen Hutan di areal Long Bagun Kalimantan Timur, yang bertujuan untuk
menyediakan data dan informasi tegakan tinggal pada hutan alam produksi setelah
penebangan yang meliputi: struktur tegakan tinggal pada umur 2 tahun (Rencana Karya
Tahunan/RKT 2001), 5 tahun (RKT 1998/1999), 8 tahun (RKT 1995/ 1996) setelah
penebangan, dan hutan primer sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
bentuk pertumbuhan dipengaruhi oleh sistem penebangan. Karakteristik tegakan (risalah
tegakan, tapak, dan input silvikultur/ pemeliharaan) perlu dipertimbangkan untuk
membangun model-model dinamika pertumbuhan pada hutan bekas tebangan. Bentuk
struktur tegakan tinggal hutan alam bekas tebangan berdasarkan nilai kerapatan (jumlah
batang per ha) dalam distribusi kelas diameter umumnya mengikuti bentuk kurva De Lio
Court atau kurva J-terbalik, kecuali pada Logged Over Area (LOA) 5 (RKT 1998/1999).
Berdasarkan nilai kerapatan tegakan untuk tingkat tiang dan pohon, menunjukkan bahwa
pada LOA 8 sebesar 432 batang/ha, LOA 2 sebesar 313 batang/ha, dan LOA 5 sebesar
246 batang/ha. Kondisi serupa juga ditunjukkan pada nilai dominansi (bidang dasar per ha)
adalah sebagai berikut: pada LOA 8 (27,97 mVha), LOA 2 (25,10 m2/ha), dan LOA 5 (19,74
mVha). Sementara pada hutan primer (sebagai kontrol) memliki nilai kerapatan sebesar
526 batang/ha dengan nilai bidang dasar sebesar 38,1 mVha. Tegakan tinggal hutan
bekas tebangan pada tapak Long Bagun menunjukkan bentuk pertumbuhan yang positif,
terutama pada LOA 2 dan LOA 8, sementara pada LOA 5 memliki kuantitas tegakan
yang lebih kecil.

Kata kunci : Struktur, tegakan tinggal, kerapatan, bidang dasar, hutan bekas tebangan


Susila, I Wayan Widhana
Produktivitas tanaman reboisasi jenis johar di desa Sillu-Fatuleu, Kupang = Productivity
of Johar (Cassia siamea) Plantation at Sillu-Fatuleu, Kupang / I Wayan Widhana Susila. -
- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 205-214 , 2005

    Jenis johar (Cassia siamea) merupakan salah satu komoditi yang banyak
dikembangkan pada program toatanAatiatnan. diTknoi. Ka.'yunya dapat dimanfaatkan
untuk baharibaagunandanalatmmaritang,g,a. Informasi tentang hutan tanaman johar di


                                                                                            58
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



daerah Sillu masih bersifar kualitatif, sedangkan data kuantitatifnya belum banyak
diketahui. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi riap dan model pertumbuhan
untuk pengelolaan tegakan johar yang lestari. Penelitian dilaksanakan di Sillu, Fatuleu-
Kupang dengan pembuatan dan pengukuran satu seri petak ukur permanen (PUP) ukuran
70 m x 70 m (3 PUP) pada tegakan johar tahun tanam 1994 secara berulang dari tahun
1995 sampai dengan 2001. Hasil penelitian menunjukkan bahwa riap rata-rata tahunan
(MAI) sampai umur tegakan tujuh tahun adalah MAI-diameter = 2,62 cm dan MAI-tinggi
pohon = 1,52 m; dengan perkembangan MAI (diameter dan tinggi) dari umur satu tahun
sampai tujuh tahun relatif cenderung meningkat. Model pertumbuhan yang dapat disusun
berdasarkan nilai kesalahan bakunya adalah:
     • MAI-t = -5,7387X2 + 54,1556X+3,9373;denganR2=81,4%danSe= 13,34%
     • MAI-d = 1,2006 X2 + 0,0482 x; dengan R2 = 14,67 % dan Se = 24,45 %

Kata kunci: Johar, pertumbuhan tegakan, riap, model pertumbuhan dan riap


Susila, I Wayan Widhana
Produktivitas tegakan hutan tanaman mahoni di Kanar Sumbawa dan Takari Kupang =
Productivity of mahagony (Sweitenia macropylla King) plantation at Kanar, Sumbawa and
Takari Kupang / I Wayan Widhana Susila, Gerson ND Njurumana. -- Info Hutan : Volume
II No.4 ; Halaman 273-279 , 2005

    Jenis mahoni (Sweitenia macrophylla King) merupakan salah satu komoditi yang banyak
dikembangkan pada program hutan tanaman industri di Timor. Kayunya dapat dimanfaatkan
sebagai bahan baku bangunan, perkakas rumah tangga, dan bahan baku kerajinan. Informasi
tentang hutan tanaman mahoni di Kanar dan Takari masih bersifat kualitatif, sedangkan data
kuantitatifnya belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi nap dan
model pertumbuhan dan hasil untuk pengelolaan tegakan mahoni yang lestari. Penelitian
dilaksanakan di kawasan hutan Kanar, Kabupaten Sumbawa dan kawasan hutan Takari,
Kabupaten Kupang dengan pembuatan dan pengukuran masing-masing satu sen petak ukur
permanen (PUP) ukuran 3mx70mx70m(3 PUP) pada tegakan tahun tanam 1992 (Kanar) dan
1991 (Takari) secara berulang dari tahun 1997 sampai dengan 2001. Hasil penelitian
rrienunjukkan bahwa nap rata-rata tahunan (MAI) di Kanar sampai umur tegakan 10 tahun adalah
MAI-diameter = 1,84 cm dan MAI-tinggi = 1,32 m; sedangkan di Takari adalah MAI-diameter =
1,28 cm dan MAI-tinggi pohon = 0,96 m. Model pertumbuhan yang dapat disusun berdasarkan
nilai kesalahan bakunya adalah:
• Kanar Sumbawa: MAI-t (m) = 1,0732 X-0,0703 X2-2,6237; MAI-d (cm) = 0,9579+0,0821x; T
    (m) = 1,8717+0,2210x; dan D (cm)=2,3572+0,2285x.
Takari Kupang: MAI-t (m)= l,0795-0,0249x; MAI-d (cm) = 0,7354+0,0565x; CAI-t(m)= 19,6900-
4,7672X+0339X2;CAI- d(cm) = 0,3957 + 0,1583x; T(m) = 3,5880 + 0,0961x; dan D (cm)= 2,8147 +
0,1628x.

Kata kunci: Mahoni, pertumbuhan tegakan, riap, model pertumbuhan dan riap



                                                                                              59
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Sutiyono
Budidaya bambu untuk bahan kertas / Sutiyono. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang
Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 145-156 , 2005

         Bambu dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku industri pulp
setelah fraksi bukan serat (lignin dan zat ekstraktif) dihilangkan melalui proses kimia
atau semi kimia. Serat bambu tergolong serat panjang sehingga berpotensi sebagai
substitusi serat panjang yang dihasilkan dari kayu daun jarum. Mengingat potensi jenis
dan potensi kemampuan tumbuh di Indonesia sangat besar maka pengembangan
bambu melalui budidaya untuk bahan kertas perlu dipertimbangkan. Tulisan ini
akan menyajikan pertimbangan-pertimbangan teknis budidaya bambu untuk kertas
seperti memilih jenis bambu, memilih tempat, dan menata struktur batang dalam
rumpun. Juga diinformasikan kebijakan dan strategi pengembangan bambu yang
telah digariskan oleh Departemen Kehutanan.

Kata kunci: Bambu, serat panjang, kertas, budidaya, memilih jenis, memilih tempat


Suwandi
Aplikasi pupuk lambat tersedia terhadap pertumbuhan beberapa jenis stek murbei
(Morus spp.) pada media tanah podzolik merah kuning = The Application of slow release
fertilizer (SRF) on the growth of several mulberry stump on the red yellow podzolik soil
media / Suwandi, Eka Novriyatni, Syasri Jannetta. -- Jurnal Penelitian Hutan dan
Konservasi Alam : Vol. II (6) ; Halaman 631-637 , 2005

          Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang besarnya pengaruh
perlakuan dosis pupuk lambat tersedia terhadap pertumbuhan berbagai jenis stek murbei
serta kualitas bibit. Metode penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dalampola
faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu faktor A= 4 jenis murbei dan faktor B = 4 tingkat
pupuk lambat tersedia (SRF); jumlah satuan unit perlakuan adalah 16, setiap perlakuan
diulang tiga kali, dan setiap ulangan terdiri atas empat bibit murbei. Parameter yang diamati
adalah panjang tunas, diameter tunas, jumlah daun, dan panjang akar stek murbei umur
tiga bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh perlakuan dosis SRF pada
berbagai stek murbei memperlihatkan respon yang nyata terhadap parameter panjang
tunas, diameter tunas, jumlah daun, dan panjang akar. Perlakuan terbaikpada Moms
khumpai denganpanjang tunas rata-rata 36,3 cm, diameter tunas 0,3 cm, dan jumlah daun
36,3/pohon. Sedangkan pada perlakuan berbagai dosis SRF perlakuan 0,9 g/stek
berpengaruh nyata pada panjang tunas rata-rata 30,1 cm, diameter tunas 0,3 cm, dan
jumlah daun 14,7/pohon. Interaksi kedua perlakuan tersebut berpengaruh nyata pada
panjang akar, dan pengaruh terbaik pada M. alba dengan dosis SRF 0,9 g/stek yaitu
57,0 cm.

Kata kunci : Moms sp., SRF, pupuk lambat larut, pakan




                                                                                               60
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Takandjandji, Mariana
Pertumbuhan dan perkembangan tanduk rusa timor di penangkaran Oilsonbai = The
growth and development of antler rusa Timor's at Oilsonbai captive breeding / Mariana
Takandjandji, Cecep Handoko. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 311-320 , 2005

          Tanduk hanya dimiliki oleh rusa jantan dan tanduk tersebut bercabang-cabang.
Tanduk terbentuk oleh jaringan tulang dan diawali dengan pertumbuhan pedikel (bungkul)
yang terdapat di kepala. Selama masa pertumbuhannya, tanduk rusa terbungkus oleh kulit
yang dinamakan velvet. Velvet kemudian mengelupas dan mengering, hingga muncullah
tanduk yang sempurna (keras). Tanduk rusa sangat digemari orang untuk dijadikan bahan
ramuan obat dan cindera mata (souvenir). Selain itu, tandukjuga berfungsi sebagai senjata dan
merupakan lambang keperkasaan dari seekor rusa jantan terutama dalam suatu musim
perkawinan. Namun tandukjuga merupakan suatu ancaman bagi sesama rusa dan manusia.
Untuk mempertahankan fungsi sekaligus menghindari terjadi cedera yangberkepanjangan, perlu
diketahui pertumbuhan dan perkembangan serta pengguguran tanduk rusa. Suatu
pengamatan telah dilakukan di lokasi penangkaran rusa timor di Oilsonbai, Kecamatan
Maulafa, Kotamadya Kupang, Provinsi NTT dengan maksud untuk mengetahui dan
mendapatkan informasi tentang pertumbuhan dan perkembangan serta pelepasan tanduk.
Pengamatan dilakukan pada lima ekor rusa jantan yang berumur enam bulan ke atas. Hasil
yang diperoleh adalah musim pertumbuhan dan pengguguran tanduk rusa timor di penangkaran
Oilsonbai, NTT rata-rata terjadi pada bulan Maret. Sedangkan umur r ata-rata untuk
mencapai kesempumaan tanduk adalah 16,28 bulan di mana umur pertumbuhan tanduk
yang pertama (velvet) yakni 10,48 bulan, masa pengelupasan velvet berlangsung selama 3,6
bulan, dan masa untuk kesempumaan tanduk menjadi keras berlangsung selama 2,4 bulan. Jadi,
dari mulai pertumbuhan awal sampai mencapai tanduk yang sempuma, membutuhkan waktu
5,10 bulan.

Kata kunci: Tanduk, pedikel, velvet, breeding, testosteron


Triantoro, R.G.N
Faktor yang berpengaruh pada kualitas habitat peneluran penyu di suaka margasatwa
Jamursba Medi = Factor affecting turtle nesting habitat in Jamursba Medi wildlife reserve
forest / R.G.N. Triantoro dan Kuswandi. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 93-
102 , 2005

         Suaka Margasatwa Jamursba Medi merupakan salah satu dari 6 (enam) tempat
peneluran penyu besar di dunia. Jenis penyu yang dominan bertelur di pantai Jamursba
Medi adalah jenis Penyu Belimbing/ Leatherback Turtle (Dermochelys coriacea Vandelli,
1761/ Saat ini habitat penelurannya mulai mengalami penurunan kualitas akibat faktor-faktor
alam. Selain itu predator turut memberikan dampak terjadinya penurunan jumlah sarang.
Tujuan penelitian untuk mendapatkan faktor-faktor yang berpotensial mengakibatkan
penurunan kualitas habitat peneluran dan dampak terhadap jumlah sarang penyu yang
dihasilkan. Metode yang dipakai adalah deskriptif dengan teknik observasi. Hasil penelitian
menunjukkan faktor-faktor yang mengganggu dalam proses peneluran penyu dan


                                                                                               61
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



mengakibatkan penurunan kualitas habitat peneluran, meliputi batang kayu, invasi
rumput (Ipomoea pescaprae dan Scirpus glosus), bebatuan (batu kali dan kerikil), abrasi
(sungai dan laut), sampah alami lainnya (ganggang laut, dedaunan, ranting, cabang, dan
akar kayu). Babi dan anjing piaraan merupakan predator utama terhadap keberadaan telur
dan tukik yang merupakan akibat tidak langsung dari adanya aktifitas manusia. Dampak
terhadap jumlah sarang adalah persentase jumlah sarang terendah terdapat pada
pantai bagian ketiga (kotor), diikuti pantai bagian kedua (dibersihkan), dan pantai bagian
pertama (bersih alami).

Kata kunci : Penyu, penurunan kualitas, habitat peneluran, faktor alami, jumlah saranga


Wahyono, Rachmat
Pengembangan jenis cepat tumbuh sebagai pemenuhan kayu pertukangan / Rachmat
Wahyono. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan Konservasi Alam : Halaman 40-
44 , 2005

          Kerusakan hutan alam di Indonesia akhir-akhir ini meningkat cukup tajam.
Upaya memperbaiki kerusakan ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Jika
kebutuhan kayu tetap mengandalkan dari hutan alam, maka hal ini sangat tidak
mungkin. Dengan demikian sistem pengelolaan hutan alam lestari sangat diperlukan.
Salah satu upaya penyelamatan hutan alam adalah dengan mengembangkan
hutan tanaman untuk memenuhi kebutuhan industri kayu tersebut, baik untuk kayu
serat/pu\p maupun kayu pertukangan. Namun demikian, sampai dengan saat ini
pengembangan hutan tanaman agaknya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan kayu
serat. Sementara pengembangan hutan tanaman kayu pertukangan masih relatifjauh
dari yang diharapkan. Dalam upaya pengembangan hutan tanaman kayu pertukangan,
jenis-jenis cepat tumbuh seyogyanya diprioritaskan agar kebutuhan kayu pertukangan
tersebut dapat terpenuhi.

Kata kunci: Hutan tanaman, kayu pertukangan, cepat tumbuh


Wibowo, Ari
Kerawanan kawasan hutan dan dampak kebakaran terhadap tegakan Pinus mercusii
Jungh et de Vrise di KPH Sumedang Jawa Barat = Fire danger and impact of fire to
Pinus mercusii Jungh et de Vrise plantantion in forest district of Sumedang West Java /
Ari Wibowo. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.1 ; Halaman
1-9 , 2005

         Penelitian yang dilakukan di BKPH Sumedang, Jawa Barat ini bertujuan untuk
mengetahui kerawanan kebakaran kawasan hutan tanaman Pinus merkusii Jungh. et de
Vriese dan dampak kebakaran terhadap tegakan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese.
Penelitian dilaksanakan melalui observasi terhadap penyebab kebakaran, potensi bahan
bakar di bawah tegakan Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, kondisi topografi, kondisi


                                                                                            62
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



cuaca dan perilaku kebakaran yang terjadi serta dampaknya terhadap tegakan pinus.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebakaran yang terjadi disebabkan oleh
kecerobohan pengunjung yang menggunakan api. Intensitas kebakaran yang terjadi cukup
tinggi yang disebabkan oleh tebalnya serasah pinus dan tumbuhan bawah yang padat,
topografi yang terjal dan bahan bakar yang kering karena musim kemarau. Tinggi lidah api
mencapai 3,4 meter sedangkan tinggi bagian pohon yang hangus mencapai 5,7 meter.
Kebakaran mengakibatkan kerusakan tajuk sebesar 62 persen, dan karena batang yang
luka untuk penyadapan, sebagian pohon terluka parah setelah terbakar dan akan
dilakukan regenerasi dengan tanaman bam.

Kata kunci: Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, hutan tanaman, kebakaran hutan,
            bahaya kebakaran


Wibowo, Ari
Kerawanan hutan gambut terhadap kebakaran dan upaya pengendalian di kelompok
hutan sungai Kumpeh Jambi = Fire hazard on peat forest and its control effort in sungai
Kumpeh forest group Jambi / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.1 ; Halaman 35-
45 , 2005

         Penelitian yang dilakukan di hutan rawa gambut pada kelompok hutan Sungai
Kumpeh di Jambi, Sumatera, bertujuan untuk mengetahui kerawanan lahan gambut
terhadap kebakaran hutan dan untuk mengevaluasi efektivitas sistem pengendalian
kebakaran hutan yang diterapkan oleh HPH yang mengelola wilayah tersebut.
Penelitian dilakukan melalui pengamatan untuk mengetahui kondisi hutan,
kerawanannya terhadap kebakaran, cara pengelolaan dan efektivitas sistem
pengendalian kebakaran yang diterapkan. Hasil penelitian di kelompok hutan Sungai
Kumpeh menunjukkan bahwa kawasan hutan umumnya adalah lahan gambut yang
hampir selalu digenangi air dan memiliki tipe iklim A atau selalu basah. Meskipun
demikian pada musim kemarau panjang khususnya bersamaan dengan kejadian gejala
alam El-Nino, kerawanan hutan gambut terhadap kebakaran sangat tinggi. Hal ini
disebabkan oleh tebalnya lapisan gambut yang lebih dari satu meter. Dari hasil
observasi terlihat bahwa pengelola hutan telah berusaha untuk melindungi kawasannya
dari kebakaran meskipun fasilitas dan peralatan masih minim untuk melindungi seluruh
kawasan. Dengan pertimbangan luasnya kawasan dan resiko tinggi lahan gambut
untuk terbakar pada musim kemarau, sistem pengendalian kebakaran hams lebih
ditingkatkan, dengan membentuk 5 regu pemadam kebakaran, peningkatan keterampilan
personil melalui latihan dan peningkatan sistem deteksi.

Kata kunci: Kebakaran hutan, pengendalian kebakaran, kebakaran gambut




                                                                                            63
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Wibowo, Ari
Kerawanan hutan tanaman campuran terhadap kebakaran dan pemilihan jenis tanaman
sekat bakar di bagian kesatuan pemangkuan hutan Bayah, Banten = Selection of fire
break species in Bayah sub forest district Banten / Ari Wibowo. -- Jurnal Penelitian Hutan
dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 205-213 , 2005

         Hutan tanaman sejenis (monokultur) telah diketahui mempunyai tingkat
kerawanan terhadap kebakaran yang tinggi, karena kondisinya yang homogen dan
terbuka, serta ketersediaan bahan bakar yang melimpah. Hutan tanaman dengan jenis
campuran diduga memiliki tingkat kerawanan yang lebih rendah terhadap kebakaran.
Penelitian di BKPH Baha, KPH Banten ini bertujuan untuk mengetahui kerawanan hutan
campuran terhadap kebakaran, serta mendapatkan jenis tanaman yang baik untuk
dikembangkan sebagai tanaman sekat bakar, guna melindungi hutan tanaman dari
kerusakan akibat kebakaran hutan. Metode penelitian adalah dengan membandingkan
kerawanan hutan tanaman yang baik untuk dikembangkan sebagai penelitian adalah
dengan membandingkan kerawanan hutan tanaman campuran terhadap hutan alam dan
hutan tanaman monokultur. Sedangkan untuk jenis tanaman sekat bakar dipilih yang
terbaik berdasarkan kriteria fisik tertentu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kerawanan terhadap kebakaran tidak banyak berbeda dengan hutan tanaman jenis
monokultur. Berdasarkan pengamatan dan analisa jenis lamtoro (Leucaena glauca Bth.)
mempunyai potensi yang terbaik sebagai tanaman sekat bakar.

Kata kunci: Hutan Campuran, jenis tanaman sekat bakar, kerawanan kebakaran


Wibowo, Ari
Penyakit Acacia mangium Wild. di KPH Majalengka dan KPH Banten = Diseases of
Acacia mangium Wild. in forest districts of Majalengka and Banten / Ari Wibowo, Illa
Anggraeni. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.4 ; Halaman
339-347 , 2005

         Permasalahan yang timbul dengan penanaman hutan tanaman industri (HTI)
secara monokultur dan dengan skala 1 uas adalah sa ngat rentan t erhadap serangan h
ama penyakit. A cacia mangium Wild, adalah jenis yang banyak dikembangkan sebagai
tanaman HTI, dan jenis ini telah diketahui diserang oleh berbagai jenis penyakit. Untuk
mengetahui berbagai jenis penyakit yang menyerang tanaman Acacia mangium Wild,
dilakukan penelitian di KPH Majalengka dan Banten. Pengamatan di lapangan dengan
membuat petak-petak pengamatan berukuran 20 x 20 meter persegi pada berbagai umur
tanaman Acacia mangium Wild, dan menghitung potensi serangan serta intensitas
serangan penyakit. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman Acacia mangium Wild,
berumur 1 -2 tahun di KPH Majalengka terserang penyakit bercak daun dengan intensitas
ringan, sedangkan di KPH Banten, tanaman Acacia mangium Wild, berumur 1-2 tahun
terserang penyakit karat daun dan embun jelaga dengan intensitas ringan. Di kedua lokasi
pada umumnya tanaman Acacia mangium Wild, yang berumur lebih dari tiga tahun bebas




                                                                                             64
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dari penyakit, kecuali ditemukannya penyakit embun jelaga dengan intensitas ringan di
KPH Banten.

Kata kunci: Acacia mangium Wild., penyakit hutan tanaman, hutan tanaman


Wibowo, Ari
Kebakaran pada lahan gambut dan upaya pengendaliannya = Fire in peat land and its
control efforts / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 67-74 , 2005

         Hutan rawa gambut adalah salah satu tipe hutan yang ada di Indonesia yang
dicirikan dengan lapisan organik tebal dan curah hujan yang tinggi atau beriklim
basah. Bahaya utama yang mengancam kelestarian hutan gambut adalah kebakaran
yang dapat membunuh semua vegetasi yang ada di atasnya, sulit untuk dikendalikan
dan menghasilkan banyak asap. Upaya untuk mencegah kebakaran pada lahan
gambut harus dilakukan dengan menghentikan kegiatan konversi hutan gambut,
menghentikan pembangunan saluran air pada rawa gambut dan mengawasi
praktek tradisional sonor yang membakar lahan gambut untuk pertanian. Selain itu,
sejalan dengan peraturan yang ada, setiap unit pengelolaan hutan yang ada di lahan
gambut harus melengkapi dengan peralatan yang cukup dan petugas yang terlatih
untuk mengendalikan kebakaran hutan.

Kata kunci: Hutan gambut, pengendalian kebakaran


Wibowo, Ari
Dampak kebakaran hutan dan lahan terhadap polusi udara = Impact of forest and land
fires to air pollution / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.3 ; Halaman 153-160 ,
2005

         Di Indonesia, kejadian kebakaran hutan dan lahan setiap tahun cenderung
semakin meningkat dengan akibat yang sangat merugikan. Salah satu akibat buruk
adalah terjadinya polusi udara. Polusi yang berupa asap sangat mengganggu aktivitas
karena mempengaruhi jarak pandang dan mengganggu kesehatan masyarakat karena
asap akibat kebakaran juga mengandung zat-zat beracun yang berbahaya bagi
kesehatan. Selain itu, kebakaran hutan dan lahan akan menghasilkan karbon yang
dilepaskan ke atmosfer, sehingga berpengaruh buruk terhadap lingkungan dengan
meningkatnya pemanasan global karena efek rumah kaca. Dengan kejadian kebakaran
yang berulang, termasuk terjadinya kebakaran dengan besaran sangat besar pada tahun
1997/1998, maka Pemerintah Indonesia harus lebih bersungguh-sungguh dalam upaya
pencegahan dan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Dalam hubungannya
dengan polusi udara, kegiatan monitoring tingkat pencemaran udara akibat kebakaran
hutan perlu diintensifkan, terutama untuk memberikan informasi pada tahap dini, sehingga
akibat merugikan terhadap masyarakat dapat dikurangi.



                                                                                            65
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Kebakaran hutan dan lahan, polusi udara, polusi asap


Wibowo, Ari
Masalah penebangan liar dan upaya penanggulangannya = The issue of illegal logging
and its control effort / Ari Wibowo. -- Info Hutan : Volume II No.4 ; Halaman 291-298 ,
2005

          Di Indonesia masalah penebangan liar merupakan ancaman terhadap kelestarian
hutan. Secara ekonomi, kerugian akibat penebangan liar mencapai Rp 30,42 trilyun per tahun
yangberupa 50,7 jutam3kayu ilegal. Maraknya penebangan liar disebabkan oleh lemahnya
supremasi hukum, kesenjangan antara produksi lestari hutan dengan kebutuhan bahan baku,
kondisi sosial ekonomi masyarakat yang masih rendah, masalah pengelolaan hutan, serta
sebab-sebab lainnya. Penebangan liar dapat dilakukan secara sederhana oleh masyarakat untuk
bertahan hidup sampai dengan penebangan liar dalam skala besar yang terorganisir dan
melibatkan banyak pihak. Akibat dari penebangan liar ini tidak hanya merugikan secara
ekonomis tetapi jugamengakibatkan kerusakan lingkungan dan kerugian lain
yaituterjadinyadegradasi moral dan sosial budaya masyarakat. Upaya penanggulangan
penebangan liar memerlukan komitmen yang kuat dari pemerintah, penegakan supremasi
hukum, perbaikan sistem pengelolaan hutan, dan kegiatan lain yang perlu diprogramkan
untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Kata kunci: Penebangan liar, kelestarian hutan


Widyati, Enny
Rehabilitasi lahan bekas tambang batubara melalui perbaikan kualitas tanah dengan
metode bioremediasi / Enny Widyati. -- Prosiding Ekspose Hasil Litbang Hutan dan
Konservasi Alam : Halaman 157-168 , 2005

         Sampai saat ini keberhasilan rehabilitasi lahan bekas tambang batubara
masih sangat rendah. Hal ini karena kondisi tanah pada lahan tersebut sangat berat
untuk mendukung pertumbuhan tanaman akibat adanya fenomena acid mine
drainage (AMD) yang mengakibatkan tanah menjadi sangat masam. Rendahnya
pH ini akan menghambat ketersediaan unsur-unsur hara makro akan tetapi bahkan
meningkatkan kelarutan logam-logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi
AMD sehingga dapat meningkatkan pH dan KTK serta menurunkan konsentrasi sulfat
dan beberapa logam berat dengan memanfaatkan limbah industri kertas (sludge,).
Penelitian juga dilakukan untuk mengetahui siapa yang berperan dalam proses
bioremediasi, mikrob atau komponen sludge lain, dengan cara sterilisasi sludge
dibandingkan dengan sludge yang tidak steril. Sterilisasi tanah dilakukan untuk
mengetahui apakah ada interaksi antara mikrob pengkoloni sludge dengan mikrob
tempatan indigenous,) tanah. Perlakuan yang diberikan adalah sludge
(bioremediasi), fopsoil sebagai standard operational procedure (SOP) dan tanah



                                                                                             66
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tanpa. perlakuan (kontrol). Percobaan dilakukan dalam rancangan acak lengkap
(RAL) dengan 3 kali ulangan. Untuk memelihara kondisi anaerob maka dilakukan
penjenuhan air setiap tiga hari sekali. Variabel yang diukur meliputi pH, KTK, kandungan
N, P, K serta Fe, Mn, Zn, dan Cu yang diamati setiap 5 hart selama 15 hari. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlakukan bioremediasi memberikan hasil yang
paling balk pada peningkatan ketersediaan unsur hara makro (N 3150 %, P 4533
%, K 400 %) diikuti oleh SOP meningkatkan N (800 %) dan P (200 %) dibanding
kontrol (100 %). Bioremediasi juga dapat menurunkan konsentrasi kandungan Fe, Mn,
Zn dan Cu dengan efisiensi berturut-turut sebesar 98,86 %; 48,05 %; 78,39 % dan
62,51 %. Sedangkan SOP menurunkan konsentrasi Fe (69,02 %), Zn (34,80 %) dan
Cu (31,09 %). Namun demikian perlakuan SOP dapat meningkatkan konsentrasi Mn
(194,49 %) dibanding kontrol 100 %. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sludge
sebagai bahan organik dapat memodifikasi Hngkungan yang memungkinkan
berlangsungnya proses bioremediasi dan mikrob yang mengkoloni di dalamnya
memacu proses tersebut menjadi lebih cepat. Selama poses bioremediasi tidak
terdapat interaksi antara mikrob dalam sludge dengan mikrob tempatan tanah. Dari
hasil penelitian ini direkomendasikan bahwa sludge industri kertas mempunyai prospek
yang baik untuk dikembangkan sebagai agen pembenah tanah pada persiapan lahan
dalam kegiatan revegetasi lahan bekas tambang batubara.

Kata kunci: Rehabilitasi, lahan bekas tambang batubara, bioremediasi


Widyati, Enny
Pemanfaatan sludge industri kertas sebagai agen pembenah tanah pada lahan bekas
tambang batubara = The use of pulp and paper sludge as a soil amendment agent on ex-
coal mining site / Enny Widyati...(et.al). -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam :
Vol.II No.2 ; Halaman 127-134 , 2005

         Menumbuhkan bibit pada lahan bekas tambang batubara dihadapkan pada
berbagai macam kendala akibat kondisi lahan bekas tambang ini yang kurang
mendukung karena pH lahan rendah, kandungan bahan organik tanah (BOT) rendah,
kapasitas tukar kation (KTK) rendah, kurang seimbangnya unsur hara dan terjadi
akumulasi logam berat. Penelitian ini ditujukan untuk memanfaatkan limbah industri
kertas {sludge) sebagai agen pembenah tanah untuk memperbaiki kondisi lahan bekas
tambang batubara sehingga menjadi lebih optimum untuk menumbuhkan bibit. Diambil 2 kg
tanah dari lahan bekas tambang batubara dan ditempatkan pada polibag kemudian
dicampur secara homogen dengan masing-masing 0 %, 25 %, dan 50 % dengan sludge
dan sludge yang sudah dikomposkan (v/v). Diberi penyiraman setiap 3 hari sekali untuk
menirukan kondisi di lapangan. Setelah 2 minggu dilakukan pengukuran pH, KTK, S total,
dan kandungan sulfat tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sludge 50 %
memberikan hasil yang paling baik, meningkatkan pH 103 %, KTK 167 %, S total dan SO4
diturunkan sebanyak 87,05 % dibanding kontrol. Penelitian ini menunjukkan bahwa
sludge industri kertas mempunyai prospek yang baik untuk dikembangkan sebagai agen
pembenah tanah.


                                                                                              67
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Sludge industri kertas, agen pembenah tanah, lahan bekas tambang
            batubara


Widiarti, Asmanah
Kajian kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat sekitar taman hutan rawa Wan
Abdul Rachman Lampung = Study on socio economic and cultural condition of local
peple surrounding grand forest park Wan Abdul Rachman Lampung / Asmanah Widiarti. -
- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 215-226 ,
2005

         Tujuan penelitian ini adalah mempelajari kondisi sosial-ekonomi dan budaya
masyarakat setempat dalam rangka mencari pendekatan yang paling sesuai untuk
pengelolaan kawasan pelestarian. Kajian dilakukan dengan metoda studi deskriptif dan
mengambil kasus di empat lokasi desa-desa sekitar Tahura WAR yaitu Sungai Langka,
Beringin, Gebang, dan Kateguhan. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterbatasan
kemampuan masyarakat yaitu hanya di bidang usahatani menjadi masyarakat sangat
tergantung pada sumberdaya hutan. Sudah sejak lampau masyarakat membuka
kawasan hutan untuk kegiatan pertanian. Rata – rata kepemilikan lahan dalam kawasan
bervariasi antara 0,5 – 4 ha per keluarga. Umumnya kepemilikan lahan bersifat warisan
atau turun temurun sehingga cenderung mengakibatkan kawasan hutan yang digarap
semakin bertambah. Dari lahan dalam kawasan rata – rata memberikan penghasilan
sebesar 4.708.637,- atau sumbangannya terhadap pendapatan total keluarga sebesar
62,24%. Ketergantungan masyarakat pada sumberdaya hutan tidak dipengaruhi oleh
tingkat pendidikan, status sosial, jarak dari kawasan, status kekayaan, memiliki
pekerjaan atau tidak, tetapi lebih ditujukan oleh sistem pewarisan lahan. Pembangunan
Social Forestry di areal Tahura telah disambut baik oleh masyarakat setempat karena
program ini memberikan keleluasaan dan kepastian hukum pada masyarakat untuk
memasuki kawasan dan mengambil hasilnya. Namun demikian pelaksanaan Social
Forestry masih membutuhkan pembinaan, pengawasan, dan evaluasi yang terus
menerus dari instansi terkait setempat berkaitan dengan sistem budidaya pertanian dan
jenis komoditi yang dikembangkan dalam kawasan pelestarian sehingga tidak
mengganggu fungsi utamanya. Di samping itu diperlukan aturan – aturan untuk
membangun model Social Forestry yang paling sesuai untuk kawasan pelestarian.
Upaya mempertahankan kawasan pelestarian dan sekaligus memberikan kesejahteraan
masyarakat setempat tidak bisa dipisahkan disebabkan adanya interaksi yang sangat
kuat antara masyarakat setempat dengan sumberdaya hutan di sekitarnya.

Kata kunci: Sosial-ekonomi, masyarakat setempat, pelestarian, hutan


Widyati, Enny
Keanekaragaman hayati dan efektivitas cendawan mikoriza arbuskula (CMA) pada lahan
bekas tambang batubara = Biodiversity and effectiveness of arbuscular mycorrchizal
fungi (AMF) isolated from Ex-Coal mining area / Enny Widyati... [et.al]. -- Jurnal
Penelitian Hutan dan Konservasi Alam : Volume II No.3 ; Halaman 295-302 , 2005


                                                                                          68
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




         Peranan cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dalam membantu pertumbuhan
dan ketahanan tanaman yang tumbuh pada lahan marginal seperti lahan bekas tambang
sangat penting. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi keanekaragaman
hayati CMA pada lahan bekas tambang batubara dan isolat yang paling efektif untuk
membantu pertumbuhan bibit/4cac/a crassicarpa. Isolasi dan pemurnian dilakukan menurut
metode Brundett et al. dengan inang Prueariajavanica. Sedangkan uji kompatibilitas
dilakukan dengan bibit A. crassicarpa umur 7 hari. Pertumbuhan diamati melalui
pengukuran tinggi setiap bulan selama 3 bulan. Setelah 3 bulan bibit dipanen dan diamati
nodulasi, biomassa, dan persentase akar terinfeksi CMA. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa pada lahan bekas tambang batubara di Sumatera Selatan ditemukan Scutelospora
sp., Acaulospora sp., dan Glomus sp. Jenis yang mendominasi adalah Glomus sp. Isolat
13 (Glomus sp.) yang diisolasi dari A. auriculiformis merupakan isolat yang paling
kompatibel dan efektif, terbukti isolat ini dapat meningkatkan tinggi, biomas, dan nodulasi
tanaman^. crassicarpa berturut-turut sebesar 38 %, 201 %, dan 108 %. Isolat ini juga
mempunyai produktivitas yang tinggi (256 spora/10 g inokulum) dan infektif (84 %). Dengan
demikian, isolat ini dapat dikembangkan sebagai inokulum A. crassicarpa pada kegiatan
revegetasi lahan bekas tambang batubara.

Kata kunci: Keanekaragaman hayati, cendawan mikoriza arbuskula, isolat efektif dan
            kompatibel, lahan bekas tambang batubara


Yafid, Bugris
Permudaan Pinus merkusii Jungh et de Vriese Galur Kerinci, Potensi dan Komposisi
Tegakan di Kawasan Hutan Bukit Tapan, Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi =
Seedlings of Pinus merkusii et de Vriese Kerinci Strain, Potential and Stand Composition
in the Bukit Tapan Forest, Kerinci Seblat National Park, Jambi / Bugris Yafid dan Yusuf
S. Jafarsidik. -- Info Hutan : Volume II No.2 ; Halaman 145-152 , 2005

         Pengamatan anakan Pinus merkusii Jungh et de Vriese galur Kerinci, potensi dan
komposisi tegakan hutan di Bukit Tapan (Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi)
dilaksanakan dalam rangka konservasi in-situ. Pengamatan dimaksudkan untuk memverifikasi
keadaan anakan Pinus merkusii galur Kerinci tersebut Metoda jalur digunakan dalam
inventarisasi di bawah tegakan non-Pinus. Plot 20 m x 20 m diletakkan sepanjang jalurlOO
m (5 plot) dan pohon > 10 cm dbh dicatat spesies dan diametemya setinggi dada. Belta
dicatat      jurnlah      dan       jenisnyadalamkwadrat        5mx5mdalamtiap           plot.
Semaidengandiameter<1 cm dicatat dalam kwadrat 1 m x 1 m dalam tiap plot. Jalur yang lain
sepanjang 40 m (2 kwadrat 20 x 20 untuk pohon atau = 800 m2) dibuat di bawah tegakan
campuran. Spesimen yang tidak teridentifikasi dikoleksi dan diidentifikasi di herbarium Pusat
Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam(P3HKA), Bogor. Tidak didapati
semai Pinus di bawah kedua tegakan non-Pinus dan tegakan campuran Pinus. Sejumlah
individu danjenis belta didapati di dalam plot di bawah kedua tegakan. Delapanbelasjenis
dan 59 individu pohon diperoleh di bawah tegakan non-Pinus (setara dengan 295 ha1)
dengan bidang dasar seluas 15,7 m2 ha1. Jenis Beilschmiedia dictyoneura merupakan


                                                                                               69
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



jenis yang dominan. Delapanjenis pohon dengan 36 individu diperoleh di bawah tegakan
campuran, setara dengan 450 ha1 dan l7,7 ha1. Lapaiacea subintegerrima adalah jenis
yang dominan di bawah tegakan campuran. Luas bidang dasar di bawah kedua tegakan
tersebut jauh di bawah luas bidang dasar rata-rata hutan tropis sebesar 36 m2 ha1. Penelitian
lebih lanjut perlu dilakukan mengenai pertumbuhan semai Pinus galur Kerinci dalam kaitannya
dengan konservasi in-situ maupun ex-situ. Staf Taman Nasional Kerinci Seblat Resor
Bukit Tapan menginformasikan bahwa penanaman semai Pinus galur Kerinci tersebut selalu
gagal bahkan mati total.

Kata kunci: Pinus merkusii Jungh et de Vriese galur Kerinci, semai, inventarisasi, Taman
           Nasional Kerinci Seblat


Yuliana, Sarah
Respon pemberian pakan pada tukik kura-kura perut merah (Emydura subglobosa
subglobosa Kreff, 1876) di penangkaran BPPKPM Manokwari = Feeding responses of
red-bellied short necked turtle (Emydura subglobosa subglobosa Krefft, 1876) at Juvenile
Stage in BPPKPM captivity Manokwari / Sarah Yuliana...(et.al). -- Info Hutan : Volume II
No.3 ; Halaman 215-221 , 2005

          Terbatasnya informasi biologis akan pengelolaan fauna Papua menyebabkan
seluruh penelitian di bidang ekologi menjadi penting. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui aspek morfologi dan pemberian pakan pada tukik Kura-kura Perut Merah
(Emydura subglobosa subglobosa Krefft, 1876) di penangkaran BPPKPM, Manokwari.
Metode pengamatan digunakan untuk mengumpulkan data pada respon tukik pada
pemberian pakan, terutama aspek pertambahan ukuran tubuh dan perilaku konsumsi.
Hasil yang diperoleh menunjukkan ciri tukik tampak pada warna kemerahan, agak oranye,
atau kuning kecoklatan di bagian plastron. Terdapat garis lebar berwarna kuning yang
dimulai dari bagian hidung, melewati mata, sampai dengan bagian belakang mata
sampai bagian tympanum, bagian atas mulut kekuningan dan bagian bawahnya merah,.
Bentuk kerapas agak lonjong, agak melebar pada bagian bawah. Variasi tampak pada
individu berukuran lebih kecil yang berwarna lebih cemerlang. Panjang maksimum
kerapas 76,00-113,30 mm, lebar maksimum 61,25-93,00 mm, panjang maksimum
plastron 58,60-98,35 mm, dan berat badan 48,50-139,50 gram. Secara umum perlakuan
pakan yang berbeda-beda menyebabkan peningkatan ukuran tubuh, misalnya pada
panjang dan lebar kerapas, panjang plastron, serta bobot tubuh. Pertumbuhan tubuh
kura-kura dalam penelitian ini berjalan sangat lambat. Pengamatan terhadap perilaku
konsumsi tukik menunjukkan adanya pemilihan pakan, mulai dari jenis yang sudah
dikenali kemudian beralih ke jenis pakan hijauan selanjutnya ke pakan hewani.

Kata kunci: Respon, pakan, tukik, Emydura subglobosa subglobosa Krefft, 1876,
            penangkaran




                                                                                              70
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Yuliana, Sarah
Pendugaan Asosiasi Interspesifik dan Pengelompokan Tipe Habitat Beberapa Jenis
Amfibi (Ordo: Anura Rafinesque, 1815) = The Estimation of Interspesific Association and
Habitat Grouping on Some Amphibian (Ordo:Anuran Rafinesque,1815 / Sarah Yuliana,
Mirza Dikari Kusrini, dan Herman Remetwa. -- Jurnal Penelitian Hutan dan Konservasi
Alam : Vol.II No.2 ; Halaman 189-196 , 2005
         Interaksi antar spesies mahluk hidup merupakan dasar awal dari banyak
karakteristik dalam komunitas ekologi. Interaksi ini akan mempengaruhi distribusi dan
keadaan internal suatu populasi. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan asosiasi
interspesifik dan pengelompokan terhadap tipe habitat pada sejumlah jenis amfibi (ordo
anura). Metode yang digunakan untuk pengumpulan data adalah Visual Encounter
Survey, sedangkan pendugaan asosiasi dan pengelompokan habitat satwa dilakukan
dengan perhitungan Indeks Asosiasi Interspesifik dan Indeks Similaritas Jaccard.
Hasil yang diperoleh menunjukkan adanya 13 jenis anura yang tersebar di hampir
seluruh lokasi pengamatan. Pendugaan terhadap asosiasi interspesifik menghasilkan 4
kelompok jenis yang berasosiasi berdasarkan kesamaan lokasi perjumpaan, yaitu
kelompok yang dijumpai di areal persawahan, kelompok yang sering mengunjungi daerah
pemukiman manusia dan daerah yang terganggu walau dapat hidup di hutan primer dan
sekunder, kelompok jenis yang sering ditemukan di daerah hutan primer atau sekunder,
atau pada badan-badan air alami seperti sungai, kolam atau rawa alarni, serta kelompok
jenis yang hanya dijumpai di daerah tegakan (dalam kasus ini arboretum Fahutan).
Pendugaan terhadap pengelompokan tipe habitat yang diamati menunjukkan 3
kelompok tipe habitat berdasarkan kesamaan sifat fisik, yaitu kelompok lokasi berupa
badan air permanen, kelompok badan air temporal, dan kelompok lokasi tanpa badan
air. Dari hasil penelitian, jenis Rhacoporus reindwardtii Schlegel (1840) menunjukkan
lokasi dengan tingkat gangguan manusia yang rendah, jenis Bufo melanostictus
Schneider (1799) menjadi indikator adanya pengaruh manusia yang kuat dalam habitat.

Kata kunci : Asosiasi interspesifik, pengelompokan habitat, anura




                                                                                           71
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005


                            HUTAN TANAMAN


Adinugraha, Hamdan A
Keberhasilan tumbuh beberapa klon jenis ekaliptus dengan penerapan dua teknik
sambungan = The Growing success fullness of several clones of eucalypt species by
applying two grafting techniques / Hamdan Adinugraha; Budi Leksono; Frido Halang. --
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.2 ; Halaman 96-102 , 2005

          Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mempelajari tingkat keberhasilan
penyambungan dengan menggunakan 2 teknik sambungan yaitu rind graft dan veneer
graft, serta mempelajari respon pertumbuhan bibit hasil sambungan dari 10 klon E.
pellita. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok yang disusun dengan
perlakuan petak terbagi yang terdiri atas 2 faktor yaitu Petak Utama menggunakan 2 teknik
sambungan dan faktor Anak Petak terdiri atas 10 klon E. pellita. Perlakuan diulang 3 kali dan
setiap ulangan terdiri atas 2 sampel, sehingga jumlah pengamatan seluruhnya 2 x
10x3x2=120 bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik rind graft lebih baik untuk
diterapkan pada klon-klon E. pellita. Klon yang memberikan respon terbaik adalah klon
nomor WNG1007134, WNG2711085 dan WNG2813026. Interaksi antara perlakuan teknik
sambungan dengan klon E. pellita memberikan hasil yang terbaik pada klon WNG2711085
dan klon WNG2813026 dengan teknik yang digunakan adalah rind graft.

Kata kunci: Eucalyptus pellita, keberhasilan tumbuh, klon, teknik sambungan


Adinugraha, Hamdan A.
Keberhasilan stek akar tanaman sukun dari beberapa populasi di Indonesia = The
success of root cutting of bread fruit trees from several population in Indonesia / Hamdan
A. Adinugraha; Dedi Setiadi; N.K.Kartikawati. -- Wana Benih : Volume 6 Suplemen
No.01 ; Halaman 92-99 , 2005


         Untuk mengetahui tingkat keberhasilan tumbuh stek akar tanaman sukun
sebagai bahan tanaman maka dilakukan evaluasi terhadap pembuatan bibit stek akar
dari beberapa populasi yaitu Manokwari, Lampung, Bali dan Yogyakarta. Penelitian ini
disusun dengan menggunakan rancangan acak lengkap terdiri atas 5 ulangan dengan
setiap ulangan terdiri atas 10 bibit. Respon yang diamati adalah panjang tunas,
diameter tunas, jumlah tunas, jumlah daun dan kekokohan bibit. Pengamatan
dilakukan secara periodik setiap bulan sekali. Hasil pengamatan menunjukkan adanya
perbedaan yang nyata antar populasi pada respon jumlah tunas, panjang tunas, jumlah
daun dan kekokohan, sedangkan pada diameter tunas tidak berbeda nyata stek akar
yang dikoleksi dari Yogyakarta menunjukkan pertumbuhan terbaik sebagai bahan tanaman.

Kata kunci: Artocarpus altilis, populasi, stek akar



                                                                                                72
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Akbar, Acep
Potensi tanaman revegetasi lahan reklamasi bekas tambang batubara dalam mendukung
suksesi alam = Potential of revegetation of coal mining reclamation area in supporting
natural succession / Acep Akbar; Eko Priyanto; Hendra Ambo Basiang. -- Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.3 ; Halaman 131-140 , 2005

           Indikator utama dalam lingkungan setiap pembangunan tanaman reklamasi bekas
tambang batubara adalah adanya invasi tumbuhan alami di bawah tegakkan tanaman secara
suksesi. Keberadaan tumbuhan bawah dapat meningkatkan kestabilan tanah, kesuburan tanah
dan produkti vitas lahan kritis menuju hutan aslinya, serta jenis yang telah ditanam
memperlihatkan keragaman morfologi antara lain jenis tajuk dan fungsi akar. Bentuk dan tebal
tajuk menentukan besarnya penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap fotosintesis
tumbuhan bawah hutan tanaman. Regenerasi tumbuhan bawah, tegakan A. mangium, A.
auriculiformis, P. falcataria di Paringin dan P. falcataria di Binuang telah diteliti. Hasil
menunjukkan bahwa tegakan A. auriculiformis, A. mangium, P. falcataria di Paringin dan P.
falcataria di Binuang telah diinvasi masing-masing 14,12,12 dan 11 jenis pohon tingkat semai dan
semak. Jenis semakdidominasi C. odorata, Melastoma sp dan Glibadium sp sedangkan jenis
pohon didominasi Neonauclea sp, V. cofassus, A.auriculiformis, Combretocarpus sp,
Rubiaceae dan Lohidion sp. Indeks kesamaan komunitas dari tertinggi keterendah adalah A.
auriculiformis dengan P. falcataria (37,0), A. auriculiformis dengan A. mangium (28,6), A.
auriculiformis dengan P. falcataria Paringin (28,6), P. falcataria Binuang dengan P. falcataria
Paringin 26,1 dan A. mangium dengan P. falcataria (25,1).

Kata kunci    : Reklamasi, re-vegetasi, suksesi, tanaman, tumbuhan bawah


Charomaini, M
Aplikasi atonik pada stek cabang bambu kuning = Atonic application on yellow bamboo
branch cutting / M.Charomaini; Sri Hariyanti. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman :
Volume 2 No.1 ; Halaman 1-11 , 2005

         Penelitian ini bertujuan meneliti pengaruh lama perendaman dan konsentrasi
atonik pada pertumbuhan awal stek cabang bambu kuning. Penelitian dilakukan di
Arboretum Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan Yogyakarta. Metode
penelitian dilakukan menggunakan disain faktorial 3 x 3 yang diatur dalam disain acak
lengkap yang terdiri dari 2 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan. Faktor pertama
adalah konsentrasi atonik 250 ppm (Al), 500 ppm (A2) dan 750 ppm (A3). Faktor kedua
adalah lama perendaman dalam larutan atonik yaitu: 30 menit (Tl); 60 menit (T2); 90 menit
(T3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan di antara konsentrasi
atonik 500 ppm dan lama perendaman 30 menit adalah perlakuan terbaik untuk
pertumbuhan stek cabang bambu kuning/gading {Bambusa vulgaris var. striata).



                                                                                                73
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Atonik, bambu kuning/gading, konsentrasi larutan, lama perendaman, stek
            cabang


Charomaini,M.
Penggunaan air dan pertumbuhan stek bambu kuning dari berbagai asal Propagul =
Water application and growth of yellow bamboo culm cuttings from several propagul
sources / M. Charomaini. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.1 ;
Halaman 51-59 , 2005

         Bambu banyak dikenal sebagai bahan pengganti kayu untuk bangunan, lantai
dan kerajinan tangan. Di daerah pedesaan, bambu sangat berguna dan banyak
bermanfaat untuk penahan erosi tanah, rebungnya dapat dimakan dan batang tua
digunakan sebagai bahan bangunan, kerajinan tangan dan perkakas rumah tangga.
Sekitar 12 jenis bambu telah ditentukan sebagai jenis yang harus diteliti dan dikembangkan
di Indonesia. Bambu kuning/gading adalah salah satunya yang berprospek bagus untuk
dikembangkan. Jenis ini sangat jarang ditanam masyarakat karena keterbatasan sumber
rumpun di alam. Telah dikumpulkan propagul vegetatif dari beberapa sumber tumbuh rumpun
yang terbatas dan tersebar yaitu di Bagelen, Purworejo, Jawa Tengah dan Kalasan,
Sleman, Yogyakarta dan telah ditanam di persemaian. Propagul stek batang ditanam
secara mendatar dengan perlakukan tidak dan diisi dengan air. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa sumber propagu dari Kalasan menunjukkan pertumbuhan lebih
bagus dalam hal jumlah batang per rumpun, jumlah rumpun, pertumbuhan tinggi,
persentasi pertumbuhan rumpun, persen jadi batang dan rumpun. Perlakuan pengisian
air ke dalam buluh stek batang menghasilkan pertumbuhan yang cepat.

Kata kunci: Bambu kuning/gading, penggunaan air, stek batang, sumber propagul


Charomaini, M.
Peningkatan daya kecambah benih balsa melalui perendaman dalam air dan larutan
kimiawi = Improving balsa seeds germination rate by means of immersion in water and
chemical solution / M. Charomaini; Sri Rukun dan Diana Windiasih. -- Jurnal Penelitian
Hutan Tanaman : Volume 2 No.2 ; Halaman 68-73 , 2005

          Balsa {Ochroma sp.) berasal dari Amerika Latin, ditanam sebagai tanaman
introduksi di Indonesia. Jenis ini tumbuh sangat cepat, kayuriya berwarna cerah, sangat
ringan jika dipanen sebelum umur 5 tahun. Setelah umur tersebut, kayu akan berwarna
semakin gelap dan keras atau berat, sehingga kualitasnya menurun untuk keperluan
tertentu seperti pelampung, sol sepatu, bahan rangka pesawat dan perahu model.
Penelitian ini dimaksudkan guna meneliti pengaruh perendaman benih dalam air panas,
kalium nitrat (KNO3) dan asam sulfat (H2SO4) terhadap daya berkecambah. Penelitian ini
dilakukan di Pusat Litbang Hutan Tanaman (P3HT) Yogyakarta. Penelitian terdiri dari faktor


                                                                                             74
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tunggal yang diatur dalam desain Acak Lengkap CRD menggunakan 4 perlakuan sebagai
berikut: 1) benih tidak diberi perlakuan, kontrol; benih direndam air panas selama 6, 9 dan
12 jam. 2) benih direndam dalam larutan kalium nitrat 0,2% selama 20, 30 dan 40 menit; 3)
benih direndam dalam larutan asam sulfat 95% selama 10, 15, 20, 25 dan 30 menit. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perendaman benih dalam air panas selama 6 jam sampai
12 jam dan dalam larutan asam sulfat 95% selama 30 menit dapat meningkatkan
perkecambahan benih.

Kata kunci: Dormansi, Ochroma sp., skarifikasi


Charomaini, M.
Skarifikasi benih dan penggunaan atonik dalam peningkatan pertumbuhan semai balsa =
Seed scarification and application of atonik in escalating the balsa seedling growth / M.
Charomaini; Nana Kusumatuti W.. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.2 ;
Halaman 80-87 , 2005

         Balsa (Ochroma sp.) menghasilkan kayu yang sangat ringan berwarna cerah.
Kayunya sangat berguna sebagai bahan baku kotak, pelampung, kerajinan tangan dan sol
sepatu. Sambil menunggu kegiatan pemuliaan, beberapa penelitian telah dilakukan dan salah
satunya adalah peningkatan pertumbuhan semai dengan penggunaan atonik dan skarifikasi
biji dengan perendaman benih dalam air panas dan larutan kalium nitrat (KNO3).
Percobaan dibagi dalam 2 bagian, pertama adalah penggunaan air panas dan larutan
kalium nitrat dalam skarifikasi biji dengan disain faktorial AcakLengkap menggunakan 4
ulangan perlakuan. Percobaan kedua adalah pengujian pengaruh larutan atonik
terhadap pertumbuhan menggunakan percobaan faktorial 4x3 dalam disain Acak Lengkap
dengan 3 ulangan perlakuan. Keempat perlakuan skarifikasi adalah 1) benih direndam dalam
air panas selama 12 jam; 2) dalam kalium nitrat 0,1%; 3) dalam kalium nitrat 0,2% dan 4)
dalam kalium nitrat 0,3% selama 30 menit. Tiga perlakuan atonik adalah 1) Kontrol, 0 ppm;
2) 500 ppm; 3) 1000 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman dalam air
panas selama 12 jam terbukti efektif meningkatkan persentase perkecambahan benih.
Perendaman biji dalam air panas selama 12 jam dan dikombinasi dengan penggunaan atonik
500 ppm pada bibit terbukti meningkatkan pertumbuhan tinggi, panjang akar dan berat
kering semai.

Kata kunci: Atonik, balsa, pertumbuhan semai, skarifikasi


Hakim, Lukman
Eksplorasi ulin di Kalimantan untuk konservasi ex-situ = Explorations of ulin in
Kalimantan for ex-situ conservation / Lukman Hakim; Prastyono; Abdurrahman Syakur. --
Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.1 ; Halaman 21-31 , 2005

       Eksploitasi kayu ulin semakin tidak terkendali seiring dengan perkembangan
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun tidak diiringi dengan upaya konservasi dan


                                                                                              75
                                                        Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



budidaya. Kegiatan ini merupakan kegiatan awal upaya konservasi ulin oleh Tim P3BPTH
dengan kegiatan eksplorasi dan penanganan materi genetik berupa biji di persemaian. Jumlah
biji yang berhasil dikumpulkan sebanyak 1330 buah dari 4 sebaran alam di Kalimantan yaitu
Sepaku Kalimantan Timur (PT. ITCIKU), Seruyan Hulu Kalimantan Tengah (PT. SBK),
Nanga Tayap Kalimantan Barat (PT. SJM), dan Sumber Barito Kalimantan Tengah
(PT.SSP). Kegiatan lanjutan yang dilakukan di persemaian adalah skarifiaksi,
perkecambahan, penyapihan dan pengukuran yang dianalisis secara statistik melalui
perhitungan nilai rata-rata dan jumlah frekuensi kelas. Data tersebut disajikan dalam bentuk
tabulasi. Hasil analisis data sebagai berikut: rata-rata persen biji yang viable sebesar 74%; rata-
rata persen berkecambah sebesar 84%; Rata-rata tinggi bibit ulin setinggi 36,90 cm; rata-rata
jumlah daun Sebanyak 9,89 buah. Sebaran tinggi berada pada 31 cm - 40 cm dan 41 cm - 50
cm; sedangkan kecenderungan pada kelas jumlah daun 6-10 buah sebesar 45%.

Kata Kunci: Eksplorasi benih, konservasi, ulin


Hardi TW, Teguh
Serangan karat puru pada tanaman sengon = Gall rust diseases on albizian trees /
Teguh Hardi T. -- Wana Benih : Volume 6 No.2 ; Halaman 67-73 , 2005

        Penelitian penyakit karat puru pada tanaman sengon di Lumajang telah
dilaksanakan pada bulan Juni 2005. Gejala serangan penyakit terlihat dengan terjadinya
benjolan pada ranting, cabang atau dahan tanaman sengon yang menyerupai bentuk
mozaik. Berdasarkan hasil observasi di lapangan dan identifikasi di laboratorium
diketahui bahwa patogen penyebab penyakit karat puru pada sengon di Lumajang adalah
jamur Uromycladium sp. Intensitas serangan mencapai 100% pada persemaian dan
mencapai 50% pada tanaman di lapangan dengan umur diatas 3 tahun.

Kata kunci: Benjolan, gejala, karat puru, tanaman sengon, Uromycladium sp.


Hardi TW, Teguh
Hama pada tanaman cendana = Pests attacked on sandalwood tree / Teguh Hardi T. --
Wana Benih : Volume 6 No.2 ; Halaman 75-81 , 2005

         Tanaman cendana yang ditanam di Arboretum Pusat Litbang Hutan
Tanaman Yogyakarta telah terserang dua hama potensial, yaitu hama kutu hitam
Saissetia sp. (Homoptera: Coccidae) dan ulat pemakan daun Delias sp. (Lepidoptera,
Pieridae). Akibat serangan kedua jenis hama tersebut dapat menghambat pertumbuhan.
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa terjadinya serangan hama ini sangat dipengaruhi
oleh musim kemarau dan tanaman inang sekunder berupa perdu yang banyak tumbuh
disekitar tanaman cendana. Pengamatan di laboratorium diketahui bahwa siklus hidup
hama Saissetia sp. berlangsung sekitar 45 hari di dataran rendah dan mencapai 65 had
pada dataran tinggi dengan kepadatan populasi mencapai 44.74 ± 17.36 cangkang per 30


                                                                                                  76
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



cm cabang cendana. Hama kutu hitam menyerang daun cendana dan buah cendana yang
masih muda maupun yang telah masak. Di lapangan populasi kutu hitam dikendalikan oleh
musuh alami yang ada dan sampai sekarang masih dalam penelitian.

Kata kunci: Cendana, hama, musuh alami, serangan hama


Hardi TW, Teguh
Daya kecambah dan daya tumbuh biji sengon yang disimpan selama tiga belas tahun
dalam tempat penyimpanan dingin kering = Viability and vigor of Albizian seed during
thirteen years on dry cold storag / Teguh Hardi T. -- Wana Benih : Volume 6 Suplemen
No.01 ; Halaman 116-125 , 2005

         Pengujian pengaruh penyimpanan biji sengon dalam DCS (T:0°C, Kr: 98%)
selama 13 tahun telah dilaksanakan. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui
daya kecambah dan daya tumbuh biji sengon setelah disimpan selama 13 tahun. Penelitian
menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok, dengan perlakuan pendahuluan (A)
direndam dengan air panas; (B) direndam dengan air dingin; dan (C) tanpa
perendaman telah dilaksanakan di ruang Kelti KSDG Pusat Litbang Hutan Tanaman
Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan perendaman dengan air panas
dapat memacu proses perkecambahan biji sengon dengan persentase rata-
ratapertumbuhanmencapai 75.5%. Perkecambahan tertinggimencapai 93,3% berasal dari
Getas Anyar, Magetan Jawa Timur, sedangkan persentase terendah sebesar 40.0%
berasal dari Woga-woga, Papua.

Kata Kunci: Biji, daya kecambah, daya tumbuh, sengon


Hariyanto, Liliek
Variasi pertumbuhan cendana dari berbagai provenans pada umur delapan bulan =
Growth variation of Santalum album Linn seedlings from several provenances at eight
months / Liliek Hariyanto; Tri Pamungkas. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume
2 No.2 ; Halaman 88-94 , 2005

         Menurut Nyland (1996) kesehatan dan kondisi fisik (vigour) bibit tanaman akan
menentukan laju awal pertumbuhan dan kemampuan hidup bibit setelah ditanam di
lapangan. Adanya perbedaan genetik antar provenans diduga mempengaruhi perbedaan
kemampuan adaptasi tanaman terhadap kondisi tempat tumbuh. Tujuan dari penelitian
ini adalah untuk mengetahui variasi pertumbuhan cendana tingkat semai dari berbagai
provenans. Keragaman pertumbuhan bibit merupakan informasi penting untuk seleksi di
masa mendatang. Rancangan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Lengkap
(Completely Random Design) dengan 40 famili dengan 3 ulangan, tiap ulangan terdiri
dari 8 bibit sehingga jumlah bibit yang digunakan sebanyak 960 bibit. Hasil pengukuran
menunjukkan terdapat variasi pertumbuhan tinggi dan diameter. Variasi terjadi antar




                                                                                             77
                                                       Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



provenans dan famili dalam provenans. Provenans yang menunjukkan pertumbuhan
terbaik berasal dari Werena (Sumba) dengan tinggi 27,68 cm dan diameter 3,77 mm.

Kata kunci: Diameter, famili, provenans, Santalum album Linn, tinggi, variasi


Herawan, Toni
Kultur jaringan tiga species murbei hasil persilangan = In-vitro tissue culture of three
species of hybrid mulberry / Toni Herawan; Teguh Hardi T. -- Wana Benih : Volume 6
No.1 ; Halaman 17-24 , 2005

         Penelitian tentang perbanyakan vegetatif 3 jenis murbei hybrid, yaitu hybrid
antara Morus australis x M indica (ASI), M. nigra x M indica (NI) dan M. multicaulis x M.
indica telah dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Pusat Litbang Hutan
Tanaman Yogyakarta. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh
penggunaan konsentrasi zat pengatur tumbuh 6-benzyl-amino-purine (BAP) pada
perbanyakan 3 jenis bibit murbei hasil persilangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa
bahwa perlakuan BAP dengan konsentrasi 0,5 mg/1 air memacu pertumbuhan tunas
aksiler yang paling tinggi pada species murbei, hybrid Asi (hasil persilangan M. australis
x M. indica).

Kata Kunci: Hormon pertumbuhan, konsentrasi, kultur jaringan, murbei, persuteraan
            alam


Herawan, Toni
Pengaruh media dan inang primer pada aklimatisasi cendana = The effect of media and
primary host plant in aclimatization sandal wood / Toni Herawan. -- Jurnal Penelitian
Hutan Tanaman : Volume 2 Suplemen No.01 ; Halaman 166-173 , 2005

          Pengaruh media dan inang primer pada aklimatisasi cendana {Santalum album
Linn.), bertujuan untuk mengetahui pengaruh komposisi media, jenis inang primer dan
pengaruh kombinasi komposisi media dan jenis inang primer terhadap pertumbuhan
cendana yang diaklimatisasi di rumah kaca. Penelitian difokuskan pada penggunaan media
Ml (debu vulkanik: top soil - Purwobinangun: pupuk kandang) ( 3 : 1 : 1 , v/v/v), M2 (debu
vulkanik: top soil - Playen, Gunung Kidul: pupuk kandang) ( 3 : 1 : 1 , v/v/ v) dan M3 (debu
vulkanik: top soil-Kaliurang: pupuk kandang) ( 3 : 1 : 1 , v/v/v). Faktor kedua adalah inang
primer (T), terdiri dari Tl = kaliandra {Caliandra callotirsus), T2 = krokot (Crotalariajuncea),
dan T3 = Cabe rawit = (Capsicum annum L.) pada aklimatisasi cendana di rumah kaca. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa pengaruh dari media maupun inang primer responnya
rendah terhadap aklimatisasi cendana di rumah kaca.

Kata kunci: Aklimatisasi, cendana, inang primer



                                                                                                 78
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Herawan, Toni
Pengembangan perakaran organ kultur pada Cendana = Root development of organ
culture in sandalwood / Toni Herawan; Mohammad Na'iem. -- Jurnal Penelitian Hutan
Tanaman : Volume 2 Suplemen No.01 ; Halaman 180-185 , 2005

         Pengembangan perakaran organ kultur pada cendana (Santalum album
Linn.) bertujuan untuk mengetahui respon jenis media, konsentrasi zat pengatur
tumbuh kinetin dan kombinasi perlakuan jenis media dan konsentrasi zat pengatur
tumbuh kinetin yang dapat memberikan respon terbaik terhadap perakaran cendana.
Secara umum protokol kultur jaringan cendana telah diketahui, akan tetapi masih
terdapat permasalahan dalam perakarannya. Dengan demikian penelitian ini difokuskan
pada aplikasi media Vi MS, '/2 GD dan 14 WPM ditambah zat pengatur tumbuh IBA 20
mg/l, IAA 1 mg/l dan berbagai konsentrasi kinetin (0; 0,25; 0,50; 0,75 dan 1 mg/l) pada
perakaran cendana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media dasar '/•> MS yang
ditambah dengan IBA 20 mg/l, IAA 1 mg/l dan konsentrasi kinetin 0,75 mg/l memberikan
respon terbaik terhadap pertumbuhan dan perakaran cendana.

Kata kunci: Cendana, kinetin, kultur jaringan, zat pengatur tumbuh


Ismail, Burhan
Pengaruh asal sumber benih dan jarak tanam terhadap pertumbuhan sengon = Effect of
the plant origin of seed source and spacing on Albizia growth / Burhan Ismail; Hidayat
Moko. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.1 ; Halaman 43-50 , 2005

         Pembangunan hutan tanaman sengon masih dihadapkan pada kendala asal
sumber benih dan jarak tanam yang kurang optimal sehingga produktivitas tanaman
masih rendah. Penelitian dengan tujuan untuk menguji asal sumber benih dan jarak
tanam sengon telah dilakukan di areal Perum Perhutani di Jumo, Temanggung, Jawa
Tengah, sejak September 2003 sampai Desember 2004. Penelitian menggunakan
Rancangan Petak Terpisah dengan 7 perlakuan asal sumber benih dan 3 perlakuan
jarak tanam dengan 5 ulangan dan 5 tanaman setiap ulangan. Perlakuan asal sumber
benih sebagai petak utama yaitu Biak, Wamena, Ciamis, Subang, Candiroto, Kediri
dan Wonogiri, sedangkan perlakuan jarak tanam sebagai anak petak yaitu (2x2) m2,
(2x3) m2 dan (2x4) m2. Pengamatan dilakukan terhadap tinggi tanaman dan diameter
batang setiap bulan dari 6-9 bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal sumber
benih berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman dan diameter batang tetapi tidak pada
perlakuan j arak tanam. Asal sumber benih dari Kediri menunjukkan perlakuan paling baik
dilihat dari tinggi tanaman dan diameter batang dibandingkan asal benih yang lain,
sedangkan jarak tanam (2x3) m2 memberikan pertumbuhan tanaman yang paling baik.

Kata kunci: Asal sumber benih, jarak tanam, Paraseanthes falcataria, sengon



                                                                                           79
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Jayusman
Perbanyakan stek pada teknik penyiapan bahan klonal Gmelina = Cutting propagation of
Gmelina arborea for a clonal material preparation technique / Jayusman. -- Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.3 ; Halaman 103-108 , 2005

          Percobaan penyiapan bahan klonal Gmelina arborea dilakukan dengan
menggunakan coppice (trubusan) dari pohon terseleksi. Teknik pengakaran material stek
dilakukan dengan cara penambahan hormon Natrium Acetid Acid (NAA) dengan
konsentrasi (0 ppm/kontrol; 400 ppm; 1200 ppm; 2400 ppm dan 4000 ppm) pada media
perbanyakan modifikasi sistem NMS - Non Mist System (Longman, 1993) yang
merupakan tcknologi sederhana tanpa berkabut. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan
perlakuan terbaik dalam kegiatan produksi masal bahan klonal Gmelina. Hasil percobaan
menunjukkan bahwa produksi trubusan sangat baik untuk semua pohon yang diuji ( 7 - 1 5
tunas per pohon induk). Persentase tumbuh dan berakar stek (54,3 % - 92,3%), jumlah
tunas (2 - 2,67 tunas), jumlah daun stek (15,3 - 19,67), jumlah akar primer (4,3 - 9),
panjang akar primer (8,13 mm - 53,13 mm) dan nisbah tunas dan akar (1,62 - 3,06). Hasil
analisis keragaman menunjukkan bahwa aplikasi NAA menghasilkan pengaruh yang sangat
nyata (P = 0,001), dengan nilai terbesar dihasilkan oleh konsentrasi 2400 ppm. Namun
secara statistik aplikasi NAA kurang memberikan respon nyata terhadap parameter
jumlah tunas, jumlah daun, jumlah akar primer, panjang akar primer dan nisbah pucuk
dan akar.

Kata Kunci:    Gmelina arborea, klonal, NAA, teknik propagasi tanpa pengkabutan,
               trubusan


Jayusman
Perbanyakan gaharu melalui stek = Cutting propagation of A. malaccesis LAMK) /
Jayusman. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.3 ; Halaman 117-124 ,
2005

          Perbanyakan stek gaharu telah dilakukan untuk mengidentifikasi bentuk stek dan
konsentrasi hormon Rootone-F yang sesuai. Penelitian menguji stek pucuk dan stek
batang pada konsentrasi hormon pertumbuhan Rootone yaitu 0 g (kontrol), 0,5 gr/40 ml,
1 gr/40 ml, 1,5 gr/40 ml, 2 gr/40 ml dan bentuk tepung. Hasil pengujian menunjukkan
bahwa stek pucuk memberikan nilai terbesar pada persen jadi stek, jumlah daun dan
kekokohan semai gaharu masing- masing 56,7% - 76,8%, 12,6 - 2,9 dan 0,012 - 0,042,
dibandingkan stek batang dengan nilai 23,4% - 36,7%, 1 , 5 3 - 3 dan 0,017 - 0,024.
Rootone-F pada konsentrasi 1,5 gr/40 ml cukup sesuai untuk perbanyakan stek
gaharu karena menghasilkan nilai terbesar untuk semua parameter yang diuji pada
penelitian ini. Kesimpulan yang dapat dikemukakan bahwa teknik yang digunakan pada
penelitian ini dapat dimanfaatkan untuk produksi bibit gaharu secara masal.

Kata kunci: Aquillaria malaccensis, hormon pertumbuhan, stek pucuk dan stek batang


                                                                                            80
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Jayusman
Penyiapan bibit gaharu melalui stump dan cabutan anakan alam = Seedling preparation
of A. malaccensis LAMK using stump and wilding / Jayusman. -- Wana Benih : Volume 6
Suplemen No.01 ; Halaman 82-90 , 2005


       Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi bahan perbanyakan cabutan anakan
alam dan stump gaharu pada Rootone-F dan Atonik. Persen jadi bibit dan jumlah daun
terbesar ditunjukkan oleh bahan perbanyakan cabutan pada Rootone-F sebesar 86,7% dan
2,6 diikuti cabutan pada Atonik sebesar 71,7% dan 2,2 serta kontrol sebesar 75% dan
1,9. Hasil serupa ditunjukkan bahan perbanyakan stump pada Rootone-F sebesar 81,7
% dan 1,9 diikuti stump denganAtonik sebesar 80% danl,8 serta perlakuan kontrol 65%
dan 1,4. Pengujian menunjukkan bahwa Rootone-F memberikan nilai persen jadi bibit dan
jumlah daun terbesar dibandingkan Atonik. Berdasarkan pengujian ini dapat disimpulkan
bahwa teknik stump dan cabutan sesuai diterapkan untuk penyiapan bibit gaharu secara
masal.

Kata kunci: Aquillaria malaccensis LAMK, cabutan, hormon, pertumbuhan stump


Jayusman
Pengujian nilai perkecambahan surian berdasarkan daerah sumber benih = Germination
value test of Toona spp from several seed source / Jayusman; Wendra S. Manik. --
Wana Benih : Volume 6 Suplemen No.01 ; Halaman 100-107 , 2005

          Pengujian sumber benih surian difokuskan pada karakter nilai kecambah dan
persentase kecambah dilakukan terhadap sumber benih yang berasal dari Sipolha-
Simalungun, Ambarita - Samosir dan Tarutung - Tapanuli Utara, Propinsi Sumatera Utara.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa persentase kecambah tertinggi dihasilkan sumber benih
dari Tarutung (95,5%), diikuti Sipolha (94,4%) dan Ambarita (93,3%). Nilai kecambah tertinggi
dihasilkan sumber benih dari Ambarita (0,49), Sipolha (0,46) dan Tarutung (0,45). Hasil sidik
ragam terhadap persentase kecambah dan nilai kecambah menunjukkan hasil berbeda
tidak nyata di antara tiga sumber benih yang diuji. Hasil pengujian menunjukkan bahwa
benih surian yang diuji memiliki nilai kecambah kriteria menengah

Kata kunci: Nilai kecambah, persentase kecambah, sumber benih, surian


Kartikawati, Noor Khomsah
Tingkat inkompatibilitas bersilang sendiri pada tanaman kayu putih = self-incompatibility
level on Cajuput / Kartikawati, Noor Khomsah. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman :
Volume 2 No.3 ; Halaman 141-147 , 2005

       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat inkompatibilitas pada
tanaman kayu putih. Penyerbukan terkendali dilakukan pada kebun benih uji keturunan



                                                                                               81
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



kayu putih di Paliyan, Gunungkidul, Yogyakarta. Sembilan pohon plus dipilih sebagai pohon
induk berdasarkan potensi pembungaannya. Pohon induk disilangkan secara resiprokal
dengan menggunakan desain full diallel. Penyerbukan sendiri juga dilakukan untuk
mengetahui tingkat inkompatibilitas bersilang sendiri pada tanaman ini. Hampir semua
buah hasil penyerbukan sendiri gugur sedangkan hasil penyerbukan silang berhasil.
Hasil penelitian menunjukkan tingkat inkompatibitas bersilang sendiri pada tanaman kayu
putih sangat rendah, yaitu 0.05 sehingga termasuk tanaman yang tidak kompatibel
bersilang sendiri. Ini menggambarkan usaha peningkatan produksi benih hasil
penyerbukan terbuka sudah aman dari kemungkinan selfing sehingga tidak ada
penurunan kualitas akibat kawin kerabat.

Kata kunci: Geitonogamy, inkompatibilitas bersilang sendiri, kayu putih, penyerbukan
            sendiri


Leksono, Budi
Evaluasi uji peningkatan genetik mangium = Evaluation of the genetic gain trial of
mangium / Budi Leksono, Teguh Setyaji, Nur Hidayati. -- Jurnal Penelitian Hutan
Tanaman : Volume 2 No.2 ; Halaman 60-67 , 2005

         Uji peningkatan genetik Acacia mangium di Wonogiri di bangun tahun 2001
dengan tujuan untuk memprediksi perolehan genetik yang sesungguhnya dari kebun
benih generasi pertama dibandingkan dengan tegakan benih. Desain menggunakan
Rancangan Acak Lengkap Berblok (RCBD), 4 ulangan, 8 sumber benih, 100 pohon/plot
(10 pohon x 10 pohon) dan jarak tanam 4 m x 2 m. Sumber benih terdiri atas 6 kebun
benih semai (KBS) dan 2 areal produksi benih sebagai kontrol. Hasil uji pada tingkat
semai menunjukkan persen tumbuh 96% dan berbeda nyata pada sifat diameter dengan
semai KBS Grup A yang terbaik. Pertumbuhan tanaman menunjukkan adanya
perbedaan yang nyata pada umur 12 bulan setelah tanam. Tanaman dari kebun benih
semai lebih baik dari pada tegakan benih dengan peningkatan perolehan genetik sebesar
20,8 % - 22,8 % (tinggi), 19,6 % - 25,8 % (diameter) dan 22,4% (bentuk batang). Urutan
kebun benih yang terbaik adalah KBS Group B, KBS Wonogiri dan KBS Group A dengan
asal benih dari Papua New Guinea (PNG).

Kata kunci: Acacia mangium, areal produksi benih, kebun benih, uji peningkatan genetic


Mahfudz
Pengaruh penggunaan biostimulan, jenis dan volume media terhadap pertumbuhan
semai jati = The effect of biostimulant application, type and media volume on the growth
of teak seedling / Mahfudz ...[et al] . -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2
Suplemen No.01 ; Halaman 156-164 , 2005




                                                                                            82
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



         Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh penggunaan biostimulan, jenis
dan volume media terhadap pertumbuhan semai jati. Penelitian terdiri atas 3 faktor, yaitu
faktor pertama (tanpa biostimulan dan dengan biostimulan), faktor kedua (tanah, campuran
tanah dan sekam padi, campuran tanah dan pupuk kandang sapi, campuran tanah dan
kompos) dan faktor ketiga (volume media 0,28 1 dan 0,37 1). Rancangan penelitian
adalah rancangan petak-petak terbagi. Parameter yang diamati adalah tinggi, diameter,
kekokohan, berat kering pucuk, berat kering akar serta berat kering total semai. Hasil
penelitian menunjukkan penggunaan biostimulan memberikan pengaruh yang positif
terhadap pertumbuhan semai jati dan secara nyata mempengaruhi parameter berat
kering total semai sebesar 12,25%. Media yang terbaik dalam meningkatkan
pertumbuhan semai jati adalah campuran tanah dan kompos. Penggunaan volume
media tumbuh 0,37 1 menghasilkan pertumbuhan yang lebih baik pada parameter
diameter dan semua berat kering semai dibandingkan dengan volume media 0,28 1.

Kata kunci: Aquastore, biostimulan, semai jati


Mahfudz
Pengaruh kedewasaan jaringan dan posisi cabang pada tajuk pohon induk terhadap
keberhasilan stek pucuk jati = The effect of maturity and branch position in mother tree
on shoot cutting methods of steak / Mahfudz dan Mohammad Na’iem. -- Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 Suplemen No.01 ; Halaman 186-193 , 2005

      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedewasaan jaringan pada
berbagai kelas umur dan posisi tajuk dari pohon induk yang berbeda terhadap
keberhasilan stek pucuk jati. Penelitian dilakukan mulai bulan April 2003 sampai
Nopember 2003. Rancangan yang digunakan adalah RCBD dengan pola faktorial 4x2,
yang terdiri atas 4 faktor kelas umur (IIJII, IV dan V) dan 2 faktor posisi cabang (tajuk
atas dan tajuk bawah) pada pohon induk. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh
kedewasaan jaringan terhadap keberhasilan stek pucuk jati. Pohon induk dengan kelas
umur II dan III memberikan prosentase keberhasilan stek pucuk yang lebih tinggi yaitu
78,5% dan 72,0%. Materi vegetatif yang diambil dari cabang pada tajuk bagian bawah
pohon induk memberikan keberhasilan sebesar 73,5%. Perbedaan kelas umur pohon
induk juga berpengaruhnyata pada terhadap pertumbuhan tanaman terutama pada
pertumbuhan tinggi dan diameter serta semua parameter pada stek pucuk. Posisi tajuk
juga berpengaruh pada pertumbuhan diameter dan jumlah akar tanaman hasil stek pucuk.
Pohon induk dengan kelas umur II memberikan hasil tertinggi untuk diameter 6,18 mm
dan jumlah akar stek 3,92 buah.

Kata kunci: Jati, kedewasaan jaringan, perbanyakan vegetatif




                                                                                            83
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Mashudi
Aplikasi variasi media perkecambahan pada persemaian pulai = Application of
germination media variation of pulai nursery / Mashudi; Dedi Setiadi, Surip. -- Jurnal
Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.1 ; Halaman 13-19 , 2005

         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui media perkecambahan yang bagus untuk
persemaian pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.J. Penelitian dilaksanakan di rumah kaca
Pusat Litbang Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Yogyakarta mulai Februari
sampai April 2004. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap dengan 6 perlakuan dan 3 ulangan, dimana setiap ulangan terdiri dari 100 benih.
Parameter yang diukur meliputi persen berkecambah, kecepatan berkecambah, persen
tumbuh dan tinggi semai. Berdasarkan hasil analisis, dari beberapa parameter yang
diamati berbeda nyata. Media campuran pasir + kompos ( 3 : 1 ) merupakan media terbaik
sebagai media perkecambahan.

Kata kunci: Alstonia scholaris, media perkecambahan, persemaian


Mashudi
Aplikasi media sapih dan dosis pupuk terhadap pertumbuhan bibit di persemaian =
Application of growth media and fertilizer dosage on Alstonia scholaris (L) R. Br. seedling
growth at Nursery / Mashudi ...[et al] . -- Wana Benih : Volume 6 No.1 ; Halaman 31-40
, 2005

         Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis media sapih dan dosis pupuk
yang baik untuk persemaian pulai (Alstonia scholaris (L.) R. Br.). Penelitian dilaksanakan
di persemaian Pusvat Litbang Hutan Tanaman, Yogyakarta mulai bulan Maret sampai
September 2004. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak
Lengkap yang disusun secara faktorial dengan 2 faktor (media sapih dan dosis pupuk) dan
4 taraf untuk masing – masing faktor, sehingga seluruhnya terdapat 16 perlakuan. Ulangan
yang digunakan sebanyak 4 kali dan masing – masing ulangan terdiri dari 5 bibit. Media
tumbuh yang digunakan adalah top soil (A1), campuran top soil dan kompos (A2),
campuran top soil dan sabut kelapa (A3), dan campuran top soil, kompos dan sabut kelapa
(A4). Sedangkan dosis pupuk yang digunakan adalah tanpa pupuk (B1), o,5 gr (B2), 1,0 gr
(B3) dan 1,5 gr (B4). Parameter yang diamati adalah persen hidup, tinggi bibit, diameter
bibit dan jumlah daun. Berdasarkan hasil analisis karakter tinggi dan diameter bibit berbeda
nyata, sedangkan karakter persen hidup dan jumlah daun tidak berbeda nyata. Secara
berturut – turut 3 perlakuan terbaik adalah media top soil dan pupuk 0,5 gr (A1, B2), media
campuran top soil, kompos dan pupuk 1 gr (A2, B3), serta media tanah tanpa pupuk (A1,
B1).


Kata Kunci: Alstonia scholaris, pemupukan, media sapih, persemaian



                                                                                              84
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Noorhidayah
Studi kualitas bibit kayu kuku dari tegakan benih teridentifikasi = Study on Pericopsis
mooniana seedling quality from indentified seed stand / Noorhidayah. -- Wana Benih :
Volume 6 No.2 ; Halaman 47-57 , 2005

         Penelitian ini dilakukan untuk menetukan kualitas benih dan bibit kayu kuku.
Benih yang digunakan berasal dari 5 pohon induk pada tegakan benih teridentifikasi di
desa Bunati Kalimantan Selatan, yakni pohon nomor 73, 83, 87, 92 dan 96. Penentuan
kualitas benih dilakukan dengan mengecambahkan 100 benih dari tiap pohon induk.
Metode yang digunakan untuk mengetahui kualitas bibit adalah rancangan acak lengkap
dengan 5 perlakuan dan 10 ulangan. Waktu penelitian selama 4 bulan. Persentase
perkecambahan daft laju perkecambahan merupakan parameter yang diamati untuk
kualitas benih, sedangkan persentase tumbuh, tinggi bibit, diameter dan jumlah daun
merupakan parameter untuk kualitas bibit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
persentase perkecambahan tertinggi benih dari pohon nomor 96 (58%) dan terendah
nomor 73 (28%), laju perkecambahan tertinggi benih dari pohon nomor 83 (14,41 hari)
dan terendah nomor 92 (29,64 hari). Bibit yang berasal dari pohon nomor 96
menunjukkan hasil terbaik pada semua parameter yang diamati.

Kata kunci: Kayu kuku, kualitas benih, kualitas bibit, tegakan benih teridentifikasi


Pudjiono, Sugeng
Heterosis pada beberapa jenis murbei hibrid hasil persilangan terkendali = Heterosis on
some hybrids mulberries of control pollination originated / Sugeng Pudjiono, Mohammad
Na'iem. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2 No.1 ; Halaman 33-41 , 2005

         Tujuan penelitian ini adalah mengetahui adanya hybrid vigor/heterosis pada
murbei hibrid dari nilai produksi daun dan kandungan protein daunnya. Penelitian
dilakukan selama 14 bulan mulai Agustus 2003 sampai September 2004. Pengukuran
dilakukan terhadap tanaman murbei hibrid yang ditanam di lapangan umur 4 bulan berupa
pengukuran jumlah daun, berat daun, produksi daun dan kandungan protein daun.
Metode penghitungan heterosis menggunakan rumus h = Fl—(P1+ P2)/2 dari Hallauer
dan Miranda 1981. Hasil menunjukkan bahwapersilangan tetua betina dan jantan yang
berbeda menghasilkan heterosis yang berbeda. Jumlah individu yang mempunyai nilai
heterosis produksi daun adalah sebanyak 98 dari 392. Heterosis yang terbaik ditunjukkan
oleh persilangan M. multicaulis x M. atropurpurea. Rata-rata nilai Fl hibrid hasil
persilangan dengan tetua jantan M. atropurpurea menghasilkan hibrid vigor/heterosis,
sedangkan persilangan seluruh induk betina dengan tetua jantan M. bombycis maupun
M. alba var kanva 2 tidak menunjukkan heterosis. Hal ini menunjukkan bahwa tetua M.
atropurpurea mempunyai kecenderungan untuk menghasilkan hibrid yang heterosis.
Individu heterosis pada kandungan protein daun adalah sebanyak 49 dari 98. Fl rata-rata
yang menunjukkan heterosis kandungan protein terbesar adalah silangan antaraM alba
x M. atropurpurea.



                                                                                               85
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci : Heterosis, hibrid, murbei, persilangan terkendali


Pudjiono, Sugeng
Pertumbuhan beberapa tanaman murbei hibrid hasil persilangan terkendali = Growth of
mulberries hybrid from control pollination / Sugeng Pudjiono. -- Jurnal Penelitian Hutan
Tanaman : Volume 2 No.2 ; Halaman 74-79 , 2005

         Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pertumbuhan murbei hibrid hasil
persilangan terkendali di persemaian. Waktu penelitian selama 2,5 bulan mulai Desember
2003 sampai dengan Pebruari 2004. Bahan tanaman yang digunakan sebanyakl5 jenis
semai murbei hibrid. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap berblok (RCBD)
dengan 4 ulangan masing-masing 10 unit. Karakter pertumbuhan yang diukur adalah
persentase hidup semai, tinggi, diameter dan jumlah daun pada semai. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa persentase hidup semai, tinggi, diameter dan jumlah daun
dipengaruhi oleh induk betina dan interaksi induk betina dan jantan. Persentase hidup,
tinggi dan jumlah daun dipengaruhi oleh induk jantan. Murbei hibrid M. alba x Tosawase
merupakan hibrid terbaik dalam hal pertumbuhannya.

Kata kunci: Hibrid, persemaian, persilangan terkendali, pertumbuhan


Pudjiono, Sugeng
Pengaruh pupuk organik limbah udang terhadap pertumbuhan murbei setelah pangkasan
kedua = Effect of organic fertilizer from shrimp waste on mulberry growth after second
hedging / Sugeng Pudjiono ...[et al] . -- Wana Benih : Volume 6 No.1 ; Halaman 9-16 ,
2005

         Mutu daun murbei dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain kesesuaian
tanah, bentuk pangkasan, penyinaran, pemupukan dan pengairan. Tujuan penelitian
adalah untuk mengetahui pengaruh pupuk organik limbah udang terhadap pertumbuhan
tanaman murbei. Penelitian dilaksanakan di daerah Palem Purwobinangun Pakem
Sleman Yogyakarta pada ketinggian tempat 500 m dpl. Penelitian dilakukan selama 4
bulan menggunakan rancangan RCBD. Perlakuan yang diujikan adalah takaran pupuk
limbah udang padat yaitu 0 (kontrol) gr/tanaman, 250 gr/tanaman, 500 gr/tanaman dan
1000 gr/tanaman. Masing-masing perlakuan diulang 3 kali, tiap ulangan terdiri dari 25
unit tanaman. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk limbah udang
membantu dalam proses fisiologi tanaman murbei dan berpengaruh nyata pada
parameter pertumbuhan, jumlah daun dan jumlah cabang pada takaran 1000
gr/tanaman. Pemberian pupuk limbah udang mempunyai kecenderungan meningkatkan
pertumbuhan lebih baik pada pertumbuhan tinggi, diameter, jumlah daun, jumlah cabang,
berat daun dan berat cabang seiring dengan peningkatan pemberian dosis pupuk.

Kata kunci: Pupuk organik, limbah udang, murbei




                                                                                             86
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Rimbawanto, Anto
Identifikasi klon jati dengan penanda scar = Identification of teak clone using scar marker
/ Anto Rimbawanto, Suharyanto. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2
Suplemen No.01 ; Halaman 148-155 , 2005

          Pembangunan bank klonal jati {Tectona grandis L.) merupakan faktor penting
dalam program clonal forestry. Permasalahan yang dihadapi dalam pembuatan kebun
klonal skala besar adalah kurangnya kepastian informasi asal-usul genetik ataupun
tingginya kesalahan pelabelan dari klon-klon yang dihasilkan. Pada saat ini telah
berkembang metode yang akurat dalam identifikasi klon jati dengan menggunakan
penanda DNA. Penanda SCAR (Sequence Characterized Amplified Region) yang
merupakan modifikasi dari metode RAPD, digunakan dalam penelitian ini untuk
mengidentifikasi kebenaran klon diantara dua klon jati, dengan masing-masing klon
terdiri dari 10 ramet dan 1 ortet. Delapan polimorfik primer SCAR jati yang digunakan
mampu menghasilkan 9 marker. Berdasarkan hasil amplifikasi, tipe genotipe masing-
masing klon dapat diketahui dan kesamaan genetik kemudian dihitung berdasarkan Nei
dan Li, sedangkan analisis dendogram dihitung berdasarkan metode UPGMA. Hasil analisis
kesamaan genetik dan dendogram menunjukkan bahwa klon 1 mempunyai tipe genotipe a
dan tergabung dalam satu kluster sehingga dapat dikatakan tidak terdapat kesalahan
pelabelan. Sedangkan pada klon 2, terdapat dua tipe genotipe, dimana ortet dan ramet
no.4 mempunyai tipe genotipe yang sama dengan tipe genotipe dari klon 1 dan
sembilan ramet yang lainnya mempunyai tipe genotipe b. Hal ini berarti bahwa telah
terjadi kesalahan pengambilan sampel dari ortet klon 2 dan juga ramet no.4 yang
sebenarnya merupakan anggota klon 1. Analisis kekuatan diskriminasi (KD)
menunjukkan bahwa tiga dari 9 penanda (T002-1, T044 dan T061) memiliki kemampuan
yang optimal dalam mengidentifikasi 2 klon jati.

Kata kunci: Identifikasi klon, jati, penanda SCAR


Setiadi, Dedi
Pengaruh tinggi pangkasan induk terhadap kemampuan bertunas tanaman sukun pada
kebun pangkas = The effect of height of cutting on sprouting ability of sukun at hedging
stock / Dedi Setiadi, Hamdan A. Adinugraha. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman :
Volume 2 No.3 ; Halaman 109-116 , 2005

          Tanaman sukun merupakan tanaman yang bersifatpartenocarphy sehingga tidak
dapat menghasilkan biji, maka pembiakan tanaman sukun dilakukan secara vegetatif.
Penelitian pengaruh tinggi pangkasan terhadap produktivitas stek pucuk sukun pada
kebun pangkas dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (CRD)
dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan di mana masing-masing perlakuan 5 bibit sehingga
jumlah bibit seluruhnya 60 bibit. Perlakuan yang digunakan dengan tinggi pangkasan
masing-masing, yaitu Tl = 50 cm, T2 = 40 cm, T3 = 30 cm dan T4 = 20 cm. Parameter
yang diukur adalah tinggi tunas, diameter tunas, jumlah tunas, jumlah tunas siap stek


                                                                                              87
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dan persen hidup 1 bulan. Perlakuan tinggi menyebabkan respon pertumbuhan panjang
dan diameter tunas yang berbeda nyata. Pada respon pertumbuhan jumlah tunas, jumlah
tunas siap stek dan persentase hidup tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Tinggi
pangkasan 50 cm merupakan perlakuan tinggi pangkasan terbaik terhadap pertumbuhan
jumlah tunas dengan menghasilkan tunas sebanyak 29,4 tunas dan jumlah tunas siap
stek dengan menghasilkan tunas siap stek sebanyak 22,73 stek

Kata kunci: Kebun pangkas, sukun, tinggi pangkasan


Setiadi, Dedi
Perendam air dingin sebagai perlakuan perkecambahan benih jenis araukaria = Cold
water soaking pretreatment on the germination process of araucaria cunninghamii seeds
/ Dedi Setiadi; susanto; Alin Maryati. -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman : Volume 2
No.3 ; Halaman 125-129 , 2005

          Araucaria cunninghamii merupakan salah satu jenis konifer yang tumbuh pada
hutan tropis dan sangat potensial sebagai kayu perdagangan. Penelitian penanganan
benih serta pengaruhnya terhadap mutu bibit Araukaria dengan menggunakan rancangan
acak lengkap kelompok (CRD) dengan 5 perlakuan dan 3 ulangan, dengan masing-
masing perlakuan 15 butir benih sehingga benih seluruhnya 225 butir benih. Perlakuan
yang digunakan yaitu Tl = Perendaman dengan air dingin selama 24 jam, T2 =
Perendaman dengan air dingin selama 18 jam, T3 = Perendaman dengan air dingin selama
12 jam, T4 = Perendaman dengan air dingin selama 6 jam dan TO = Tanpa perendaman
(kontrol), kemudian masing-masing perlakuan diperam pada kantong plastik hitam selama
48 jam. Parameter yang diukur adalah daya kecambah dan kecepatan berkecambah. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perendaman air dingin selama 18 jam merupakan
perlakuan terbaik untuk meningkatan daya kecambah sebesar 55% dan rata-rata
kecepatan berkecambah selama 16 hari.

Kata kunci: Araucaria cunninghamii, biji, perlakuan perkecambahan


Setiadi, Dedi
Variasi pertumbuhan bibit sukun dari beberapa sumber benih = The growth variation of
breadfruit from several seed sources / Dedi Setiadi, Hamdan A. Adinugraha, Prastyono. -
- Wana Benih : Volume 6 No.2 ; Halaman 59-66 , 2005

        Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variasi pertumbuhan bibit sukun dari
beberapa sumber benih. Parameter yang diamati dari 9 sumber benih meliputi tinggi bibit,
diameter bibit, jumlah tunas, jumlah daun dan kekokohan bibit. Penelitian ini dirancang
dalam pola rancangan acak lengkap kelompok. Setiap sumber benih terdiri 5 ulangan
masing-masing 10 bibit untuk parameter yang diamati. Pengamatan dilakukan pada umur



                                                                                            88
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



bibit 4 bulan setelah penyapihan. Berdasarkan ke- 5 parameter pengamatan, diantara
sumber benih menunjukan perbedaan yang nyata. Secara berurutan sumber benih
Sesaot merupakan sumber benih sukun yang menghasilkan bibit dengan kualitas yang
paling baik dan diikuti sumber benih Condong Catur. Denpasar Selatan, Banyuwangi,
Sukaraja, Doom Barat/Timur, Tacipi, Bongaya dan Sanggeng.

Kata kunci: Sukun, sumber benih, variasi pertumbuhan


Siagian, Y. Togu
Pengaruh tinggi pangkasan terhadap pertunasan dan daya perakaran Stek pucuk jenis
Hopea = The effect of Hedging Treatment to thesSprouting and rooting of leafy cutting of
hopea species / Y. Togu Siagian; Hamdan Adma Adinugraha. -- Wana Benih : Volume 6
No.1 ; Halaman 25-30 , 2005

         Teknik rejuvenasi dengan cara pemangkasan pada jenis H. odorata diperlukan
untuk mendapatkan trubusan sebagai bahan stek. Dalam percobaan ini dilakukan
pemangkasan dengan 5 tingkat ketinggian yaitu 10 cm, 20 cm, 30 cm, 40 cm dan 100 cm
diatas tanah dengan tujuan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kemampuan
bertunas dan pertumbuhan stek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tinggi pangkasan dan
diameter batang menyebabkan terjadinya variasi pada pertunasan. Pemangkasan 100
cm menghasilkan jumlah tunas dan panjang tunas terbaik yaitu 19,6 tunas dengan panjang
13,3 cm. Batang tanaman H. odorata yang berukuran. lebih besar memproduksi tunas lebih
banyak dari pada yang berukuran lebih kecil. Tunas yang diambil dari pangkasan setinggi 20
cm menunjukkan pertumbuhan stek pucuk terbaik yaitu 45,6 % stek berakar dengan persen
hidup sampai umur 6 minggu mencapai 89,7 %.

Kata kunci: Hopea odorata, pemangkasan, persen hidup stek, pertunasan


Sunarti, Sri
Pengujian viabilitas serbuk sari murbei pada berbagai tahapan bunga dan lama
penyimpanan = Pollen viability test of mulberry at stages of flower and storage period /
Sri Sunarti; Sugeng Pudjiono. -- Wana Benih : Volume 6 No.1 ; Halaman 1-7 , 2005

          Uji viabilitas serbuk sari murbei jenis Moms alba var Kanva 2 telah dilakukan
di laboratorium P3HT, Yogyakarta. Media yang digunakan dalam pengujian tersebut
adalah media Brewbakers yang telah dimodifikasi oleh Owens (1991). Perlakuan yang
diterapkan adalah tahapan bunga, yaitu tahap bunga sebelum reseptif, saat reseptif dan
setelah reseptif, kemudian dilanjutkan dengan periode penyimpanan selama 1 hari - 3
hari. Hasil pengujian menunjukkan bahwa bunga pada tahapan reseptif yang paling tinggi
viabilitas serbuk sarinya (38,13%) dan serbuk sari tidak dapat disimpan walaupun sehari
pada suhu 0°C.




                                                                                             89
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Moms alba var Kanva 2, tahapan bunga, viabilitas serbuksari


Sunarti, Sri
Produksi benih mangium berdasarkan posisi tajuk di plot uji persilangan interspesifik
Mangium x formis = Seed production of mangium based on crown position observed at
interspecific crossing plot test of Mangium x formis / Sri Sunarti; Sumaryana; Marlan. --
Wana Benih : Volume 6 No.2 ; Halaman 41-45 , 2005

         Keberhasilan produksi benih suatu tanaman dipengaruhi oleh banyak faktor
antara lain musim pembungaan. Kelimpahan bunga pada setiap bagian tajuk berbeda.
Bagian tajuk yang mendapat penyinaran cahaya matahari yang penuh akan berbunga
lebih banyak dibandingkan dengan bagian lain yang kurang mendapatkan penyinaran
matahari. Hasil penelitian produksi benih A. mangium berdasarkan posisi tajuk ini
menunjukkan bahwa bagian tajuk paling atas dan sisi tajuk sebelah timur akan
memproduksi benih paling banyak, sedangkan tajuk bagian bawah memproduksi benih
paling sedikit.

Kata-kata kunci: Acacia mangium, posisi tajuk, produksi benih


Yelnititis
Perbanyakan meranti secara in vitro = Multiplication of meranti (Shorea leprosula)
through in vitro method / Yelnititis ...[et al] . -- Jurnal Penelitian Hutan Tanaman :
Volume 2 Suplemen No.01 ; Halaman 174-179 , 2005

          Meranti {Shorea leprosula Miq.) merupakan salah satu tanaman hutan yang
termasuk ke dalam spesies asli Indonesia yang mempunyai prospek untuk dikembangkan
hutan tanaman. Perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan telah dilakukan di
Laboratorium Kultur Jaringan, Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Tanaman,
Yogyakarta. Batang satu buku dijadikan sebagai eksplan. Sterilisasi eksplan dilakukan
secara bertingkat dengan menggunakan alkohol, HgCl, dan bayclin serta terakhir dibilas
dengan akuades steril sebanyak tiga kali. Media dasar Murashige dan Skoog (MS)
digunakan sebagai media tumbuh. Perlakuan yang diuji adalah penambahan zat pengatur
tumbuh BA (0,0 — 3,0 mg/1). Penelitian disusun dengan menggunakan Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dengan 10 kali ulangan. Pengamatan dilakukan terhadap waktu
inisiasi tunas, jumlah tunas dan penampakan biakan secara visual. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa perlakuan media MS + BA.2,0 mg/1 merupakan perlakuan terbaik
untuk inisiasi. Rata-rata jumlah tunas yang diperoleh dari perlakuan ini adalah 5,5. Tunas
yang dihasilkan berwarna hijau segar, agak gemuk dengan laju pertumbuhan lambat.

Kata kunci: Kultur in vitro, meranti, Shorea leprosula




                                                                                             90
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Yuliah
Uji keturunan semai cendana umur enam bulan di persemaian = The sixth month
seedling Santalum album Linn. progeny trial in nursery / Yuliah, Liliek Hariyanto. -- Wana
Benih : Volume 6 Suplemen No.01 ; Halaman 108-114 , 2005

          Populasi cendana saat ini mengalami penurunan yang tinggi. Untuk
merehabilitasi hutan cendana diperlukan benih dengan kualitas yang baik. Uji keturunan
merupakan langkah awal untuk membuat kebun benih. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kemampuan hidup bibit cendana di persemaian dan mengetahui variasi sifat
tinggi dari berbagai asal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap Berblok
dengan 18 famili sebagai perlakuan, 4 replikasi terdiri dari 4 bibit sehingga total bibit 288.
Hasilnya menunjukkan cendana memiliki kemampuan hidup tinggi dipersemaian mencapai
91.67% dan adanya variasi terhadap sifat tinggi diantara famili yang diuji. Pada umur 6 bulan,
famili yang memiliki sifat tinggi terbaik dari Fenun (P.Timor) dengan tinggi 20.47 cm.

Kata Kunci: Famili, provenans, Santalum album Linn, tinggi, variasi




                                                                                               91
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



                              H ASIL HUTAN


Abdurachman
Kekuatan dan kekakuan balok lamina dari dua jenis kayu kurang dikenal = The strength
and stiffiness of glugam made from two lesser known wood species / Abdurachman,
Nurwati Hadjib. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 87-100 ,
2005

         Balok lamina 3 dan 5 lapis berukuran 5 cm x 5 cm x 120 cm yang dibuat dari
kayu kaya (Khaya Senegalensis (Desr.) A. Juss) dan kayu bipa (Pterygota alata
(Roxb.)R. Br.) dengan perekat phenol formadehida (PF) telah diuji sifat fisik dan
mekaniknya di Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bogor.
Susunan pelaminasinya didasarkan pada nilai kekakuan (E) dari bilah penyusunnya.
         Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan balok lamina 3 lapis lebih besar
dari balok lamina 5 lapis maupun kayu solidnya. Rata – rata MOE, MOR, dan MCS kayu
kaya lebih besar dari kayu bipa. Balok lamina 3 lapis maupun 5 lapis setara dengan
kelas kuat III-II.

Kata Kunci: Kekuatan, kekakuan, balok lamina


Abdurrohim, Sasa
Pengawetan kayu tusam segar secara sel penuh dengan bahan pengawet CCB / Sasa
Abdurrohim. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri
Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan :
Halaman 67-70 , 2005

         Kayu tusam (Pinus merkusi Jungh. et de Vr.) termasuk kayu yang mudah
diawetkan dengan proses rendaman dan sel penuh pada kadar air kering udara
sampai titik jenuh serat. Namun demikian belum diketahui apakah kayu tusam dapat
diawetkan dalam keadaan segar. Pada penelitian ini diamati kwalitas pengawetan kayu
tusam dalam keadaan segar dengan menggunakan bahan pengawet CCB.
         Sebanyak 22 contoh uji berukuran panjang antara 39,5 - 41,6 cm, lebar 4,9 -
22,2 cm dan tebal 2,4 cm dalam keadaan segar diawetkan dua tahap secara sel penuh
dengan konsetrasi larutan CCB 3%. Pada kedua tahap pengawetan digunakan vakum
awal dan akhir sebesar 55 cm Hg, serta tekanan hidrolik sebesar 9 atm. Lama vakum
awal masing-masing selama 30 menit dan satu jam, vakum akhir selama 15 menit,
serta lama tekanan masing-masing satu dan dua jam. Selang pengawetan tahap
pertama dan kedua selama satu minggu. Hasil uji coba menunjukkan bahwa kayu tusam
segar tidak dapat diawetkan secara sel penuh. Setelah diangin-anginkan selama satu
sampai dua minggu dapat dengan mudah diawetkan.

Kata kunci: Kayu tusam segar, sel penuh, baluin pengawet CCB



                                                                                            92
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Abdurrohim, Sasa
Pengawetan lima jenis kayu secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF /
Sasa Abdurrohim. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan
Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil
Hutan : Halaman 71-78 , 2005

       Bagan pengawetan kayu secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF
(tembaga-khrom-fluor) diperlukan dalam pengawetan kayu untuk perumahan dan
gedung. Penelitian ini bertujuan menentukan prosedur pengawetan kayu secara
rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF pada lima jenis kayu dalam berbagai
ukuran yang lazim digunakan untuk perumahan dan gedung.
       Lima jenis kayu dalam keadaan kering udara berukuran balok, kaso dan reng
diawetkan secara rendaman dingin memakai bahan pengawet CCF. Lama rendaman
dingin yang digunakan 3, 5 dan 7 hari dengan konsentrasi larutan 5% dan 10%.
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa dan lima jenis kayu yang diteliti hanya
satu jenis yang dapat diawetkan memakai bagan yang digunakan dalam penelitian ini,
yaitu kayu meranti ukuran balok untuk pemakaian di baiuah atop tanpa kontak dengan
tanah. Bagan yang dianjurkan adalah rendaman dingin selama 7 hari dengan konsentrasi
larutan CCF 10%.

Kata kunci: Pengawetan, bagan pengawet, CCF


Barly
Pengawetan bagian lunak batang kelapa basah dengan cara tekanan = Preservation of
green soft tissue coconut wood by pressure methode / Barly, Didik A Sudika. -- Jurnal
Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 111-117 , 2005

         Tulisan ini mengemukakan hasil penelitian metode tekanan pada dua varietas
kelapa dengan bahan pengawet senyawa boron. Bagian lunak batang kelapa basah
pada dolok kesatu, kedua dan ketiga berukuran 5 cm x 10 cm x 100 cm diawetkan
dengan cara proses sel penuh (FCP) dan metode tekan berganti (APM). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa semua varietas dan letak dolok dalam batang
kelapa dapat diawetkan dengan cara tekanan. Dari penelitian ini dapat diketahui
bahwa retensi bahan pengawet yang dihasilkan dengan cara tekan berganti (APM)
(11,06 kg/m3 dan 9,44 kg/m3), berbeda dengan yang dihasilkan dengan cara sel penuh
(FCP) (4,45 kg/m3 dan 4,74 kg/m3) pada kelapa dalam dan kelapa hibrida.

Kata kunci: Pengawetan, bagian lunak dan basah batang kelapa, metode tekanan


Basri, Efrida
Mutu kayu mangium dalam beberapa metode pengeringan = The quality of mangium
wood in several drying methods / Efrida Basri. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume
23.No.2 ; Halaman 119-129 , 2005



                                                                                            93
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



      Masalah serius yang dikeluhkan dalam pengolahan kayu mangium (Acacia
mangium Willd,) adalah proses pengeringannya karena berlangsung lama dengan
kecenderungan cacat bentuk dan pecah dalam. Penelitian telah dilakukan dengan
metode pengeringan shed; metode kombinasi tenaga surya dan enerji biomas (panas
dari tungku kayu bakar); metode shed dan kombinasi tenaga surya dan enerji biomas;
kombinasi perlakuan pendinginan dan metode pengeringan shed. Hasilnya
menunjukkan pengeringan dengan metode shed dan kombinasi tenaga surya dan
enerji biomas dapat mempercepat pengeringan tanpa menimbulkan pecah dan cacat
bentuk pada kayu mangium namun dari segi warna agak pucat. Mutu warna kayu
mangium yang terbaik diperoleh dari hasil pengeringan shed dengan contoh uji dari
ruang pendingin, walaupun dari segi waktu lebih panjang dibandingkan dengan
ketiga metode yang lain.

Kata kunci: Mangium, mutu, metode pengeringan, pendinginan


Basri, Efrida
Bagan pengeringan dasar 16 jenis kayu Indonesia = Basic drying schedules of 16
Indonesian wood species / Efrida Basri. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1
; Halaman 23-33 , 2005

    Indonesia memiliki sekitar 4000 jenis kayu yang baru sebagian kecil diketahui
bagan pengeringannya, sehingga sering terjadi kesalahan dalam penerapan bagan.
Selama ini bagan yang digunakan untuk mengeringkan suatu jenis kayu mengadopsi
bagan kayu yang sudah dikenal dengan hanya berdasarkan kesamaan warna,
kekerasan serta tekstur dari kayu tersebut. Akibatnya kayu yang dikeringkan
mengalami penurunan mutu. Tujuan dari penelitian adalah metietapkan bagan
pengeringan dasar 16 jenis kayu Indonesia berdasarkan sifat pengeringannya.
Penetapan bagan pengeringan diawali dengan pengujian sifat pengeringan kayu
menggunakan metode suhu tinggi (suhu 100 °C).
    Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap jenis kayu memiliki respon yang
berbeda terhadap perlakuan suhu tinggi. Pada 16 jenis kayu yang diteliti, kayu
sengon buto memiliki sifat paling tahan terhadap pemakaian suhu tinggi dan kayu
sampora serta kumia batu sangat peka terhadap suhu tinggi. Berdasarkan sifat
pengeringan tersebut, maka 16 jenis kayu yang diteliti telah diklasifikasikan ke dalam
10 kelompok bagan pengeringan.

Kata kunci: Kayu, suhu tinggi, sifat pengeringan, bagan pengeringan, mutu


Endom, Wesman
Suatu tinjauan peningkatan efisiensi pemanenan hutan tanaman / Wesman Endom,
Dulsalam dan Marolop Sinaga. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan:
Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi
Produk Hasil Hutan : Halaman 43-55 , 2005



                                                                                            94
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



          Pemanenan kayu sebagai salah satu mata rantai pengelolaan Pembangunan
Hutan Tanaman penting mengingat besar pengaruhnya bagi kelancaran iisalta kegiatan
lainnya. Oleh karena itu diperlukan pengelolaan yang tepat agar senantiasa tnatnpu
menghasilkan peningkatan produksi kayu (kuantitas dan kualitas) seraya menjamin
efisiensi kerja dan sarana kerja, sehingga benar-benar dapat dicapai suatu produktivitas
kerja yang layak dan bermanfaat untnk semua pihak.
          Di sebagian besar pengusaha hutan tanaman, peralatan berat yang digunakan
umumnya berupa peninggalan pengusahan hutan alam yang ukurannya besar-besar
dan sudah tua, sehingga tidak efisien dan produktif. Untuk menggantikannya dengan
peralatan yang baru, disamping harganya mahal juga dikhawatirkan bila alat
mengalami kerusakan maka pemeliharaannya akan terkendala akibat tekanan politik
internasional yang mengakibatkan terjadinya embargo peralatan suku cadang. Oleh
karena itu, sudah pada saatnya perlu dibangun dan dikembangkan rekayasa peralatan di
dalam negeri sebagai antisipasinya.
          Alat bantu pemanenan liasil rekayasa dari prototipe P3THH20 secara
ekonomi disimpulkan layak untuk dioperasikan untuk pengeluaran kayu di hutan yang
mempunyai dimensi relatif kecil dengan produktwitasnya mencapai 3,5 m3/jam dan
biaya operasi sebesar Rp 16.515/m3. Nilai Pay Back Period 1,39 tahun, NPV Rp
75.175.045, IRR 66,4% dan benefit cost ratio 2,51.
          Untuk prototip Exp-2000 yang semula hanya di rancang untuk alat pemuat kayu,
saat ini sudah dapat dioperasikan untuk pengumpulan kayu dengan cara disarad di
atas tanah, menggantung dengan sistem endless pada ketinggian yang terbatas (1,5m)
dan menggantung dengan cara skyline. Secara bertahap sejak tahun 2000 alat tersebut
terus dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Prestasi kerja untuk pengumpulan
kayu antara 5-6 m3hm/jam dan biaya operasi sebesar Rp 45.850 dan biaya per m3
sebesar Rp 8.327,27.

Kata kunci: Pemanenan, efisiensi, pengelolaan, hutan lestari, alat Exp-2000


Endom, Wesman
Pengumpulan kayu hasil hutan rakyat dengan cara pikul pada lapangan curam / Wesman
Endom, Yayan Sugilar dan Agus Hidayat.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ;
Halaman 145-151 , 2005

          Pengumpulan kayu hasil hutan rakyat dengan cara dipikul pada kemiringan
lapangan ± 45° mengikuti jalan setapak sejauh kurang lebih 150 meter, secara praktis
tidak efisien. Cara ini di camping lambat, ongkosnya juga mahal. Prestasi kerjanya saat
kondisi tenaga masih segar bugar sebesar 0,49 m3.hm/jam/2 orang dan semakin siang
kemampuan daya angkut dan pikulnya menurun daengan prestasi hanya tinggal separuh
± 0,25 m3.hm/jam/2 orang. Karena itu untuk tujuan bisnis, penggunaan cara mekanis
seperti pemakaian sistem kabel layang, unimos, tractor atau Exp-2000 merupakan
pilihan teknis yang perlu dipertimbangkan.

Kata kunci: Pengupulan, cara pikul, mahal, tidak efisien



                                                                                             95
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Endom, Wesman
Rekayasa alat pemotong dahan pohon tinggi dengan alat rantai tipe-I / Wesman Endom.-
- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 113-127 , 2005

          Arboretum merupakan bagian dari kegiatan penelitian yang keberadaannya
diperlukan untuk mengetahui sifat pertumbuhan, hama penyakit, kualitas, dan
dampaknya bagi lingkungan. Namun, keberadaannya perlu ditinjau ulang terutama bila
tegakannya tumbuh berdekatan dengan bangunan sehingga perlu dipotong.
          Rantai tipe-1 merupakan alat bantu sederhana yang dirancang untuk memotong
dahan – dahan pohon tinggi tanpa harus memanjat. Hasil uji coba menunjukkan banyak
sekali faktor yang mempengaruhi kinerja alat seperti tinggi dahan, kemiringan lapangan,
panjang lereng, bentuk tajuk, dan kelebatan daun. Dari analisis data diketahui bahwa
nilai kumulatif tingkat kesulitan diperoleh rata–rata sebesar 36,7 yang artinya penggunaa
alat masih menghadapi kendala cukup sulit karena berbagai hal tadi, sehingga perlu
penyempurnaan lebih lanjut.

Kata kunci: Pemotong dahan, pohon tinggi, tanpa panjat


Endom, Wesman
Proporsi volume kayukowakan jenis pohon tusam / Wesman Endom, Yayan Sugilar dan
Hasan Basri.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 97-103 , 2005

         Pohon tusam adalah salah satu jenis penghasil getah. Penyadapan getah
dilakukan dengan cara membuat kowakan. Hasil studi memperlihatkan jumlah kowakan
tiap pohon bervariasi 2 – 7 buah dengan panjang 0,30 – 3,5 meter. Hasil sadapan getah
ini mempunyai nilai ekonomi tinggi, namun di sisi lain mengurangi volume kayu
pertukangan sebesar 7,2 – 38,1% dengan rata – rata 18,1%. Agar tujuan pengusahaan
hutan tusam sebagai penghasil kayu pertukangan tidak terlalu banyak terkurangi maka
diperlukan teknik penyadapan getah yang lain agar getah yang dihasilkan tidak banyak
berkurang.

Kata kunci: Kayu kowakan, penyadapan getah, pengurangan kayu, kayu produk


Edriana, E
Teknologi penyulingan minyak atsiri untuk industri kecil dan menengah / E. Edriana,
Totok K Waluyo dan E. Suwardi S. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil
Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan
Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 153-157 , 2005

          Minyak atsiri (minyak eteris, essential oil) adalah minyak yang mudah menguap
yang dihasilkan dari sumber hayati dengan cara isolasi terutama dengan cara penyulingan.
Digunakan sebagai bahan pewangi, penyedap dan obat-obatan. Beberapa contoh minyak
atsiri antara lain : minyak cendana, minyak kayu putih, minyak nilam, minyak sereh,


                                                                                            96
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



minyak gaharu, minyak daun cengkeh, minyak atsiri terutama diproduksi dengan cara
penyulingan.
        Penyulingan merupakan pemisahan komponen kimia yang mudah menguap
berdasarkan perbedaan tekanan uap masing-masing kimia yang terkandung di dalam
bahan. Penyulingan dapat dilakukan dengan 3 cara yaitu 1) penyulingan dengan air, 2)
peyulingan dengan air dan uap, 3) penyulingan langsung dengan uap.
        Untuk pengembangan minyak atsiri sebagai salah satu komoditi HHBK,
sebaiknya dipromosikan cara penyulingan yang sederhana, mudah dilaksanakan oleh
masyarakat, industri kecil dan menengah, serta berharga murah. Tulisan ini
menyajikan beberapa cara penyulingan yang umum digunakan untuk memisahkan
minyak atsiri.

Kata kunci: Minyak atsiri, hasil hutan bukan kayu (HHBK), teknik penyulingan, industri
            kecil dan menengah


Gusmailina
Pengolahan nilam hasil tumpang sari di Tasikmalaya = Processing of nilam cultivated
under intercroping system in Tasikmalaya / Gusmailina ... [et.al]. -- Jurnal Penelitian Hasil
Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 1-14 , 2005

     Peran hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam menunjang kegiatan dan
kesejahteraan masyarakat sekitar hutan perlu dikembangkan. Pengelolaan hutan
perlu diarahkan tidak hanya sebagai penghasil kayu tetapi juga sebagai penghasil
HHBK yang dapat membuka lapangan perkerjaan dan penghasilan bagi masyarakat
lokal dengan tetap memperhatikan faktor ekologis. Salah satu program untuk memcapai
partisipasi aktif masyarakat dalam pengelolaan hutan yang lestari adalah
meningkatkan peran HHBK yang mampu meningkatkan kegiatan dan kesejahteraan
masyarakat lokal sekitar hutan. Salah satu komoditi HHBK yang perlu dikembangkan
adalah pengusahaan nilam secara tumpang sari terutama pada lahan kawasan
hutan, sehingga dapat mendukung optimalisasi penggunaan lahan.
     Data, informasi serta contoh uji (daun dan minyak nilam) dikumpulkan dari
kampung Pager Ageung, Desa Pager Sari, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat yang
ditanam secara tumpang sari dengan tanaman pertanian dan perkebunan pada
kebun campuran. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa produktivitas
nilam yang ditanam secara tumpang sari di Tasikmalaya sebesar 4
kg/rumpun/panen dengan hasil DNB (daun nilam basah) sekitar 75-100 ton/ha atau
sama dengan 15-20 ton DNK (daun nilam kering) per hektar sekali panen lalu dijual ke
pedagang dengan harga Rp 500/kg basah, dan Rp 2.500/kg kering, dengan nilai jual
sekitar Rp 37,5-50 juta/ha. Usaha ini dikelola oleh Kelompok Tani Mitra Usaha Jaya,
proses penyulingan dengan cara uap panas.
     Kualitas dan rendemen minyak yang ditanam secara tumpang sari tidak kalah
bagus dengan kualitas minyak yang ditanam secara monokultur. Kadar Patchouli
berkisar antara 26-39,5%, bahkan yang disuling di laboratorium berkisar antara 41-
49,7%, dengan rendemen berkisar antara 2,4-5%. Masyarakat sekitar kota


                                                                                               97
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Tasikmalaya semakin berminat untuk memperluas areal penanaman nilam terutam
sejak adanya pabrik penyulingan di Pager Ageung, demikian juga pihak kehutanan
dan PT Perhutani. Oleh sebab itu pengusahaan nilam secara tumpang sari di lahan
kawasan hutan perlu dijadikan bahan pertimbangan kebijakan bagi pengelola dan
pengusahaan hutan tanaman.

Kata kunci: Nilam, tumpang sari, rendemen dan kualitas


Gusmailina
Prospek dan permasalahan ylang-ylang / Gusmailina, Zulnely dan E. Suwardi
Sumadiwangsa. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan
Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil
Hutan : Halaman 165-171 , 2005

         Ylang-ylang (Cananga odoratum forma genuina) merupakan tanaman
berbentuk pohon yang menghasilkan minyak atsiri. Tanaman ini sekerabat dengan
kenanga (Cananga odoratum forma macrophylla,), ke duanya termasuk familia
Annonaceae. Pertumbuhan tanaman ylang-ylang relatif cepat. Bila pertumbuhan
normal, tanaman ini mulai berbunga pada umur 2,5 - 4 tahun setelah tanam. Di
Jawa Barat pertanaman ylang-ylang terdapat di Sukamulya (Sukabumi), Ciminyak
(Sukabumi), Subang, Sumedang, Cirebon, dan Kuningan. Pertanaman ylang-ylang yang
paling luas adalah yang terletak di Malimping, Kabupaten Lebak, Propinsi Banten milik
Perhutani (502 Ha).
         Pada awal berbunga setiap pohon dapat menghasilkan 0,25 - 1 kg setiap
pohonnya. Sebagai komoditi kayu dan non kayu, ylang-ylang mempunyai prospek untuk
dikembangkan. Kayunya dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan rumah
tangga, namun yang menjadi komoditi andalan adalah minyak yang dihasilkan dari
penyulingan bunga, yang disebut minyak ylang-ylang. Aroma minyak ylang-ylang lebih
lembut dan wangi dibanding minyak kenanga. Kualitas minyak ylang-ylang lebih baik
dari minyak kenanga, sehingga harganyapun jauh lebih tinggi dari minyak kenanga. Di
Amerika dan Perancis, minyak ylang-ylang digunakan sebagai bahan parfum yang
bermutu tinggi.
         Tulisan ini menyajikan informasi dan ulasan berdasarkan hasil survey yang
dilakukan pada bulan November 2004. Data yang diperoleh berupa data primer hasil
wawancara dan pengamatan langsung, sedangkan data sekunder berupa informasi
diperoleh dari KPH Serang dan BKPH Malimping.

Kata kunci: Ylang-ylang, atsiri, prospek, masalah




                                                                                              98
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Hadjib, Nurwati
Sifat fisis mekanis kayu damar mata kucing bekas sadapan dan kemungkinan
pemanfaatannya untuk kayu konstruksi = Physical and mechanical properties of damar
mata kucing tapped wood and its possibility asconstruction materials / Nurwati Hadjib,
Abdurachman. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 177-185 ,
2005

     Penelitian sifat fisis dan mekanis kayu damar mata kucing bekas sadapan
bertujuan untuk memanfaatkan kayu bekas sadapan yang sudah tidak produktif lagi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata berat jenis (BJ) kering udara kayu bekas
sadapan adalah sebesar 0,521, sedangkan kayu yang tidak disadap 0,522. Rata-rata
keteguhan lentur maksimum (MOR) kayu bekas sadapan adalah 409,590 kg/cm2,
modulus elastiskas (MOE) sebesar 62.820 kg/cm2, sedangkan MOR dan MOE kayu tidak
disadap masing-masing sebesar 537,693 kg/cm2 dan 106.869 kg/cm2. Kayu damar mata
kucing baik yang disadap maupun tidak disadap tergolong kelas kuat HI, dimana kayu
tersebut hanya sesuai untuk digunakan sebagai bahan konstruksi ringan, mebel, peti
kemas, kerajinan, venir plywood, dan papanpartikel.

Kata kunci: Sifat fisis, mekanis, sadapan, damar mata kucing


Hidayat, Asep
Kajian efisiensi pemanenan kayu mangium : studi kasus di hutan tanaman di Pulau Laut
Kalimantan Selatan = Study on harvesting efficiency of mangium: case study at forest
plantation in Pulau Laut South Kalimantan / Asep Hidayat, H. Hendalastuti R. -- Jurnal
Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 131-142 , 2005

      Pemanenan harus mampu memproduksi kayu sesuai dengan target, ramah
lingkungan, efektif dan efisien sehingga keuntungan perusahaan maksimal.
Pelaksanaan sistem pemanenan yang akan atau telah dilakukan dapat diukur tingkat
efisiensinya melalui tiga indikator yaitu indeks tebang, indeks sarad dan indeks
angkut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya indeks tebang, indeks sarad
dan indeks angkut serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhinya.
      Jumlah contoh untuk penetapan indeks tebang dan sarad sebanyak 52 pohon
dipilih secara purposive dengan memperhatikan penyebaran kelas diameter.
Sedangkan jumlah contoh penetapan indeks angkut dilakukan dengan cara acak
terhadap 22 trip pengangkutan. Pengolahan data indeks tebang dilakukan dengan cara
pengelompokan kelas diameter dan dianalisa dengan menggunakan rancangan acak
lengkap (RAL) dilanjutkan dengan uji Duncan’s.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata – rata, indeks tebang sebesar 0,824,
indeks sarad sebesar 0,874 dan indeks angkut sebesar 0,997. Berdasarkan ketiga
indeks tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa sistem pemanenan yang dilakukan
menghasilkan volume aktual sebesar 81,37 m3/ha dengan limbah sebesar 31,96 m3/ha
dari potensi tegakan sebesar 113,33 m3/ha.



                                                                                            99
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Pemanenan, indeks tebang, indeks sarad, indeks angkut


Iskandar, M.I
Pemanfaatan serbuk gergaji sebagai bahan pengisi dalam campuran perekat tipe dua
pada pembuatan kayu lapis / M.I Iskandar. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil
Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan
Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 91-94 , 2005

         Bahan pengisi dalam campuran perekat yang biasa digunakan adalah tepung
tempurnng kelapa. Hnrgnnya mahal dan rnakin sidit diperoleh sehingga perlu dicarikan
penggantinya. Bahan yang diingkin dapat digunakan adalah serbuk gergaji.
         Venir kayu sengon (Paraserianthes falcataria (L) Nielsen) berukuran 40 x 40
cm x 1,5 mm, sebanyak 75 lembar direkat urea fornialdehida (UF), yang dicampur
serbuk gergaji kayu meranti mcrah (Shoroa platyclados V.Sl) dan johar (Cassia
siamea Lamk) menjadi 25 lembar kayu lapis. Herat serbuk gergaji terhadap UF adalah 0,
10, 20, 30, dan 40%. Dari setiap lembar kayu lapis dibuat masing-masing sebuah contoh uji
kadar air dan kerapatan berukuran 10 x 10 cm, serta 4 buah contoh uji keieguhnn rekat
berukuran 8 x 2,5 cm. Kadar air dan kerapatan, contoh uji merupakan kadar air dnn
kerapatan setiap lembar kayu lapis, sedangkan keteguhan rekat setiap lembar kayu
lapis merupakan rata-rata dari 4 kali pengukuran.
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan keteguhan rekat bahan
pengisi dapat ditambahkan sampai 20%. Penambahan bahan pengisi sebesar ini
menghasilkan kayu lapis dengan kadar air di bawah 14%, tetapi kerapatannya meningkat
5,9% sehingga dapat meningkatkan biaya angkut. Untuk itu diperlukan pertimbangan
ekonomis dalam menentukan berat bahan pengisi yang dinnjurkan.

Kata kunci: Serbuk gergaji, bahan pengisi, perekat, kayu lapis


Komarayati, Sri
Pembuatan pupuk organik dari limbah padat industri kertas = Manufacturing organic
fertilizer from paper insdustry's sludge effluent / Sri Komarayati, Ridwan A Pasaribu. --
Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 35-41 , 2005

     Dalam tulisan ini disajikan hasil penelitian pembuatan pupuk organik dari limbah padat
industri kertas. Untuk pemacu proses digunakan penggiat (aktivator) hayati. Penelitian ini
berlangsung selama satu bulan.
     Dari penelitian yang dilakukan diperoleh pupuk organik dengan kandungan unsur hara
sebagai berikut: Kadar air 29,5 persen; pH 6,70; KTK 31,74 meq/gr; nisbah C/N 32,00;
kandungan C 23,6 persen; N 0,9 persen; P 0,4 persen; K 0,5 persen; Mg 0,6 persen dan Ca 1,9
persen. Tekstur berupa pasir 0,1 persen; debu 59,6 persen dan liat 40,2 persen.
    Ditinjau dari hasil analisis kimia, ternyata pupuk yang dihasilkan belum dapat digolongkan
sebagai pupuk organik, tetapi masih sebagai pembangun kesuburan tanah (soil conditioner).


                                                                                             100
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Kata kunci: Pupuk organik, limbah padat dan industri kertas


Krisdianto
Anatomi dan kualitas serat tujuh jenis kayu kurang dikenal dari Jawa Barat = Anatomy
and fiber quality of seven lesser-known wood species from West Java / Krisdianto. --
Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 259-282 , 2005

      Salah satu alternatif sumber bahan baku kayu untuk industri perkayuan nasional
adalah memanfaatkan kayu dari hutan tanaman dan menggunakan kayu dari jenis
yang kurang dikenal. Dalam pemanfaatan kayu kurang dikenal diperlukan informasi
struktur anatomi dan kualitas seratnya untuk keperluan pengenalan jenis dan pemanf
aatannya sebagai pulp dan kertas.
Untuk keperluan identifikasi, ciri utama dari ketujuh jenis tersebut adalah:
1. Kayu Hymenaea courbaril keras, berwarna agak kemerahan dengan corak bergaris-
    garis, memiliki susunan parenkim bersayap dan lingkaran tumbuh yang dibentuk oleh
    parenkim pita konsentris.
2. Kayu Tamarindus indica keras, berwarna kuning keputihan. Parenkim bersayap dan
    lingkaran tumbuh dibentuk oleh parenkim pita konsentris dan adanya lapisan yang
    tidak berpembuluh.
3. Kayu Ehretia accuminata agak lunak dengan warna coklat pucat dengan pembuluh
    membentuk susunan pori tata lingkar.
4. Kayu Litsea odorifera agak lunak dengan warna coklat kekuningan, dengan bau
    yang khas. Parenkimnya selubung sebagian dan parenkim pita konsentris. Terdapat
    sel minyak.
5. Kayu Colona javanica keras dengan warna coklat agak kemerahan. Jari-jarinya
    memiliki 2 macam ukuran, parenkim berkelompok membentuk garis-garis pendek
    antar jari-jari.
6. Kayu Melicope lunu-ankenda keras, berwarna kuning pucat. Parenkim paratrakea
    bentuk sayap yang bergabung membentuk garis konsentris yang tidak terputus,
    seperti berlapis-lapis diluar lingkaran tumbuh.
7. Kayu Pouteria duclitan keras, berwarna putih kekuningan. Parenkim tersusun
    bentuk jala dan pembuluhnya ganda radial 2 6 (9) sel.
     Kualitas serat dari ketujuh jenis kayu yang dipelajari termasuk dalam kelas kualitas
II dan III untuk produk pulp dan kertas. Kayu marasi, kendal, hum gading dan sampora
termasuk dalam kelas kualitas II, sedangkan kayu asam jawa, ki sampang dan nyatu
termasuk dalam kelas kualitas HI.

Kata kunci: Kayu kurang dikenal, anatomi, identifikasi, serat




                                                                                             101
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Krisdianto
Aplikasi teknologi gelombang mikro dalam peningkatan kualitas kayu / Krisdianto. --
Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan
Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman
13-22 , 2005

       Teknologi gelombang mikro dapat digunakan dalam meningkatkan kualitas kayu,
di antaranya dalam pengeringan dan pengawetan kayu. Di beberapa negara maju
telah diterapkan dalam pengeringan kayu karena hemat energi dan ramah lingkungan.
Di Makasar telah ada instalasinya tctapi energi yang digunakan niasih terlalu mahal
karena belum terintegrasi dalam pengolahan kayu.
       Gelombang mikro mengakibatkan struktur anatomi rusak, seperti sel jari-jari,
noktah yang beraspirasi dan tilosis, sehingga permeabilitas kayu meningkat. Dalam
mengawetkan kayu yang sukar diawetkan dengan persyaratan retensi tinggi, seperti
kayu untuk perkapalan, gelombang mikro mungkin dapat dimanfaatkan sebagai
perlakuan pendahuluan.

Kata kunci: Gelombang mikro,        kualitas,   pengeringan,      pengawetan,       anatomi,
            permeabilitas


Kusmiyati, Evi
Potensi burahol sebagai komoditi hasil hutan bukan kayu yang terancam punah / Evi
Kusmiyati, Poedji Hastoeti ; Gusmailina. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman
9-16 , 2005

      Burahol (Stelechocarpus burahol) termasuk keluarga Annonaceae. Kebanyakan
suku ini dilaporkan mengandung senyawa sitotoksik, antimikroba, dan juga sebagai
insektisidz. Saat ini keberadaan burahol sudah memprihatinkan karena terancam
punah dan langka serta sulit dijumpai. Hal ini disebabkan karena faktor budaya
dan kepercayaan masyarakat di masa lampau membuat tanaman ini menjadi
terlupakan. Padahal tanaman ini selain bentuknya yang unik dengan buah yang
bergantungan dan menempel di batang, juga sangat potensial dikembangkan
sebagai komoditi hasil hutan bukan kayu (HHBK), yang memanfaatkan buahnya
sebagai bahan baku industri jamu, obat dan kosmetika yaitu untuk memperhalus
kulit dan mencegah penyakit-penyakit yang merusak j aringan kulit.
      Untuk mengembangkan tanaman burahol perlu upaya pengenalan kembali
kepada masyarakat, karena selain bermanfaat sebagai komoditi HHBK, juga bentuk
pohon yang menarik cocok dikembangkan untuk tanaman peneduh, baik di
pekarangan rumah, pinggir jalan, atau lebih indah lagi kalau ditanam di taman-taman
perkotaan.
      Tulisan ini menyajikan tentang prospek burahol sebagai komoditi HHBK, berikut
analisis pendahuluan buah burahol yang berpotensi sebagai tanaman obat. Hasil
analisis pendahuluan menunjukkan bahwa buah burahol positif mengandung bahan
aktif yang berguna sebagai obat, baik buah muda, sedang atau buah yang sudah tua.



                                                                                          102
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Burahol, HHBK, analisis, potensi dan prospek


Lestari, Setyani B
Sifat papan serat sembilan kenis kayu dari Irian Jaya = Fiberboard properties of nine
wood species from Irian Jaya / Setyani B Lestari.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan :
Volume 23.No.5 ; Halaman 399-405 , 2005


       Penelitian ini bertujuan unruk mengetahui sifat pengolahan dan sifat fisik
mekanik papan serat sembilan jenis kayu yang berasal dari Irian Jaya. Penelitian
pembuatan papan serat ini dilakukan untuk mengetahui kualitas kayu tersebut
dihubungkan dengan kegunaannya dalam pengembangan industri pengolahan kayu
terutama industri papan serat. Dengan demikian penggunaannya akan lebih optimal
karena papan serat dapat digunakan sebagai bahan mebel, konstruksi, peti kemas
dan bahan bangunan lainnya. Pembuatan pulp menggunakan proses semikimia
terbuka dengan kondisi pengolahan, konsentrasi NaOH 35 g/1, perbandingan serpih
dan larutan pemasak 1 : 8 dan suhu pemasakan 100°C selama 2 jam. Setelah
pemasakan, pulp dicampur dengan bahan penolong urea formaldehida 10% dan tawas
5% w/w. Metode yang dipakai dalam pembentukan lembaran papan serat adalah
pembentukan lembaran basah menggunakan "deckle box". Selanjutnya dikempa
dingin dengan tekanan 10 kg/cm2 selama 5 menit .dan dilanjutkan dengan kempa
panas bertekanan 25 kg/cm2 pada suhu 170°C selama 10 menit.
       Pengamatan terhadap hasi] pengolahan dan sifat fisismekanis lembaran
papan serat dibandingkan dengan standar FAO (1958). Hasil penelitian
menunjukkan bahwa rendemen memenuhi standar dan konsumsi alkali termasuk
kelas rendah sampai sedang. Sifat fisismekanis papan serat sembilan jenis kayu yang
memenulii standar FAO ialah kerapatan dan keteguhan patah 8 jenis kayu, kecuali
Trichandenia Philippinensis Merr. keteguhan lentur Timelodendrom amboinicum
Hassk, Gmelina moluccana (BL) Beaker, Celtis rigesans (Miq) Planch, dan keteguhan tank
sejajar pcrmukaan Timelodendrom amboinicum Hassk. Sedangkan daya serap air dan
pengembangan tebal tidak memenuhi standar FAO.

Kata kunci: Irian Jaya, proses soda panas terbuka, sifat fisis papan serat.


Lempang, Mody
Sifat fisik dan mekanik kayu sama-sama (Pouteria firma) = Physical and mechanical
properties of Sama-sama (Pouteria firma) wood / Mody Lempang.-- Jurnal Penelitian
Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 407-415 , 2005

        Penelitian ini dilaksanakan untuk mengidentifikasi sifat fisik dan mekanik kayu
sama-sama {Pouteria firma). Sifat fisik dan mekanik kayu sampel yang diidentifikasi
terdiri dari kadar air, berat jenis, penyusutan, keteguhan lentur, keteguhan tekan,
keteguhan geser, dan keteguhan pukul. Kayu contoh uji diambil dari hutan produksi
alam di I-Calukku Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Selatan. Pengujian sifat fisik
dan mekanik kayu dilaksanakan mengikuti Standar Industri Jepang
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa kayu sama-sama mengandung kadar air
basali rata-rata 113,84%, berat jenis kering udara 0,60 dan penyusutan tangensial dari


                                                                                           103
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



basali ke kering udara 4,63%. Kayu sama-sama memiliki keteguhan lentur mutlak rata-
rata 551,99 kg/cm2, keteguhan tank sejajar serat 408,85, keteguhan tekan sejajar serat
230,13 kg/cm2, keteguhan tekan tegak lurus serat 127,11 kg/cm2, keteguhan geser
sejajar serat 64,40 kg/cm2 dan keteguhan pukul 7,67 kg/cm2. Kayu sama-sama dapat
digolongkan ke dalam kayu kelas kuat III sampai IV dan berdasarkan sifat fisik dan
mekaniknya, kayu tersebut cocok digunakan untuk bahan bangunan, moulding, vinir
dan pallet.

Kata kunci: Kayu sama-sama, fisis, mekanis, kegunaan


Lelana, Neo Endra
Pengawetan bagian luar kayu kelapa secara rendaman dingin dengan bahan pengawet
CCB / Neo Endra Lelana.--Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 139-143 , 2005

         Kayu kelapa (Cocos nucifera L.) banyak digunakan untuk berbagai macam
keperluan, seperti van konstruksi, furniture dan barang kerajinan. Kayu kelapa rentang
terhadap serangan jamr dan serangga perusak kayu, sehingga perlu diawetkan terlebih
dahulu sebelum digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui retensi bahan
pengawet CCB pada bagian luar kayu kelapa dari tiga kelas kerapatan yang berbeda.
Contoh uji berukuran 1 cm x 100 cm direndam dalam larutan bahan pengawet CCB 3%
masing – masing 24, 48, dan 96 jam. Hasil penelitian menunjukkan, kerapatan dan lama
perendaman mempengaruhi retensi bahan pengawet CCB. Perendaman kayu kelapa
yang mempunyai kerapatan rendah selama 48 jam sudah dapat mencapai estándar
retensi yang disyaratkan.

Kata kunci: Kayu kelapa, bahan pengawet CCB, rendaman dingin, retensi


Malik, Jamaludin
Produksi komponen mebel skala kecil dari limbah pembalakan hutan tanaman /
Jamaludin Malik. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 27-39 , 2005

      Pengolahan kayu limbah pembalakan hutan tanaman menjadi komponen mebel
merupakan salah satu alternatif dalam rangka optimalisasi pemanfaatan sumber daya kayu
yang semakin terbatas dan diharapkan dapat memberikan nilai tambah. Data dan informasi
aspek teknis maupun finansial proses produksinya masih terbatas, sehingga diperlukan
penelitian pembuatan komponen mebel skala kecil dari limbah tersebut.
      Penelitian dilakukan melalui uji coba pembuatan komponen mebel dari kayu limbah
pembalakan hutan tanaman. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara,
pengamatan dan pengukuran di hutan tanaman serta pengamatan pada proses pembuatan
produk. Bahan yang digunakan berupa dolok tiga jenis kayu, yaitu agatis, tusam dan gmelina
yang berdiameter 9 -19,5 cm. Produk yang dibuat dibandingkan dengan standar pabrik.
      Hasil pengamatan menunjukkan bahwa pemanfaatan kayu jati di Jawa Barat lebih
efisien. Ketiga jenis kayu yang diteliti mungkin dapat mengikuti pola pemanfaatannya.
Rendemen komponen mebel hasil uji coba sebesar 18,81% dengan mutu lokal.


                                                                                           104
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Perbandingan biaya bahan baku dan overhead adalah 52:48. Biaya bahan baku dapat ditekan
dengan membangun industri komponen mebel di dekat lokasi bahan baku.

Kata kunci: Hutan tanaman, limbah pembalakan, komponen mebel


Malik, Jamaludin
Keteguhan lentur statis balok lamina dari tiga jenis kayu limbah pembalakan hutan
tanaman = Statis bending of laminated wood assembled from logging wood waste of
three species plantantion forests / Jamaludin Malik, Adi Santoso.-- Jurnal Penelitian Hasil
Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 385-397 , 2005


       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sifat keteguhan lentur dan patah
(MOE dan MOR) balok lamina dari kayu limbah pembalakan hutan tanaman dengan
menggunakan tiga jenis perekat yaitu lignin resorsinolformaldehida (LRF), tanin
resorsinolformaldehida (TRF) dan phenol resorsinoi formaldehida (PRF). Kayu lamina
dibuat dari komposisi tiga jenis kayu yaitu tusam (Pinus merkusii), damar {Agathis
sp.) dan gmelina (Gmelina arbored).
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kempa 8 jam menghasilkan nilai
MOE lebih besar sedangkan masa kempa 12 jam meningkatkan MOR. Komposisi jenis
terbaik dari kayu lamina berdasarkan nilai MOE dartMOR-nya adalah agatis-agatis-
agatis pada masa kempa 8 jam.
       Ketiga jenis kayu limbah pembalakan memiliki sifat perekatan yang baik dan
cocok dibuat produk kayu rekonstitusi khususnya kayu lamina tipe eksteriot untuk
keperluan struktural.

Kata kunci: Keteguhan lentur, MOE dan MOR, balok lamina, kayu limbah pembalakan


Mandang, Yance I
Aplikasi program komputer SQL server untuk identifikasi jenis-jenis kayu Asia Tenggara /
Yance I Mandang. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 65-85 , 2005

      Identifikasi kayu merupakan langkah awal dalam proses pengolahan dan pemanfaatan
kayu yang rasional. Namun identifikasi secara manual adakalanya memerlukan waktu yang
sangat lama dan tidak jarang dengan hasil yang hampa. Dengan program komputer diharapkan
pekerjaan identifikasi kayu ini dapat dilakukan dengan cepat dan akurat. Dalam makalah ini
disajikan suatu petunjuk membuat basis data anatomi kayu dan merangkainya dengan SQL
Server untuk digunakan dalam proses identifikasi contoh kayu tidak dikenal. Data anatomi
kayu ditransformasikan ke dalam kode IAWA (International Association of Wood Anatomist)
kemudian disusun dalam tabel dengan format tertentu lalu diimpor ke dalam SQL Server
yang sudah diinstal ke dalam komputer. Identifikasi contoh kayu tidak dikenal dilakukan
dengan menggunakan kode dan kata-kata pelacak baku. Cara identifikasi disajikan melalui
beberapa contoh aplikasi.


                                                                                            105
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Kata kunci: Anatomi kayu, identifikasi kayu, program komputer, SQL Server


Muslich, Mohammad
Keawetan 200 jenis kayu Indonesia terhadap penggerek di laut = Durability of 200
Indonesia wood species againts marine borers / Mohammad Muslich, Ginuk Sumarni. --
Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 163-176 , 2005

      Contoh representative dua ratus jenis kayu yang berasal dari beberapa daerah di
Indonesia diteliti sifat keawetannya terhadap serangan penggerek di laut. Masing-
masing jenis kayu dibuat contoh uji berukuran 30x5x2,5 cm, dirakit dengan tali plastik dan
dipasang di perairan Pulau Rambut serta diamati setelah 6 bulan. Dari hasil penelitian
tersebut dibuat lima klasifikasi keawetan berdasarkan intensitas serangan pada
masing-masing contoh uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hampir semua contoh
uji mendapat serangan berat oleh Pholadidae dan Teredinidae. Lima jenis (2,5 persen)
tahan terhadap penggerek di laut, dimasukkan ke dalam katagori kelas awet I dan 10 jenis
(5 persen) dimasukkan ke dalam kelas awet II. Sementara itu, sisanya 26 jenis (13 persen)
termasuk kelas awet HI, 50 jenis (25 persen) termasuk kelas IV, dan 109 jenis (54,5 persen)
termasuk kelas V

Kata kunci: Keawetan, jenis-jenis kayu Indonesia, penggerek kayu di laut


Muslich, Mohammad
Retensi dan penetrasi bahan pengawet CCB pada bambu tallang dengan metode
"Stepping" / Mohammad Muslich, Ginuk Sumarni. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil
Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi,
Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 61-65 , 2005

      Bambu tallang (Schizotachyium brachydadum Kurz.) merupakan salah satu
jenis bambu yang banyak digunakan untnk barang kerajinan dan alat musik. Produk
tersebut rentan terluidap organisme perusak. Untuk meningkatkan umur pakainya,
bambu segar sebagai bahan baku produk dnpat diaivetnn dengan metode "siepping".
     Dua puluh tujuh batang bambu tallang yang berasal dari Tana Toraja, diaxuetkan
dengan CCB (tembaga-khrom-boron) dengan metode "stepping". Konsentrasi bahan
pengawet yang dipakai 3%, 5% dan 7% sedangkan lama rendaman 3, 6 dan 9 liari.
       Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi dan lama rendaman yang
dianjurkan masing-masing 5% dan enam hari, karena persyaratan yang ditetapkan telah
dicapai.

Kata kunci: Bambu tallang, tembaga-khrom-boron, "stepping", retensi, penetrasi




                                                                                              106
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Novriyanti, Eka
Bambu, tanaman multimanfaat pelindung pinggir sungai / Eka Novriyanto. -- Info Hasil
Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 1-8 , 2005

      Bambu sejak dulu sudah diketahui merupakan tanaman multimanfaat. Mulai
akar sampai pucuk tanaman dapat dimanfaatkan secara luas, meski umumnya
masyarakat lebih familiar dengan batangnya. Dewasa ini, bambu juga dimanfaatkan
sebagai tanaman konservasi, terutama untuk perlindungan tanah di tebingan sungai.
Selain itu, dalam periode tertentu dapat dipanen hasil, baik batang maupun rebungnya.

Kata kunci: Bambu, sifat-sifat, konservasi tanah, pemanfaatan


Pasaribu, Ridwan Achmad
Teknologi pemanfaatan limbah pembalakan dan industri untuk peningkatan nilai tambah /
Ridwan Achmad Pasaribu. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan:
Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi
Produk Hasil Hutan : Halaman 23-41, 2005

       Potensi limbah pembalakan hutan alam produksi dan hutan tanaman serta
industri kayu cukup tinggi, tetapi pemanfaatannnya sampai saat ini kebanyakan digunakan
sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan arang. Pemanfaatan limbah kayu
tersebut selain menghasilkan nilai tambah yang relatif rendah, juga memberikan
dampak negatif terhadap lingkungan berupa abu dan asap yang tertiup angin serta
pemberosan pemanfaatan areal sumber daya hutan.
      Alternatif yang dapat ditempuh oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Hasil Hutan Bogor adalali mengoptimalisasikan pemanfaatan limbah tersebut
dengan teknologi inovatif yang sederhana, murah, dapat diaplikasikan pada masyarakat
dan mampu memproduksi produk jadi yang memberikan nilai tambah tinggi. Teknologi
pemanfaatan inovatif seperti ini sangat cocok dikembangkan untuk mendukung
pengembangan program social forestry, zero waste, restrukturisasi industri hasil hutan
dalam pemanfatan bahan baku dan produk hasil hutan serta pelestarian lingkungan.
       Teknologi yang cukup strategis untuk dikembangkan penelitiannya oleh Pusat
Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil Hutan Bogor dan disampaikan hasil-
hasil penelitiannya secara ringkas pada makalah ini adalah teknologi pemanfaatan limbah
pembalakan dan industri pengolahan kayu skala kecil untuk karton rakyat, pupuk organik
mikoriza, media budidaya jamur yang dapat dimakan, komponen mebel, kayu lamina,
arang kompos, arang aktifdan cuka kayu.

Kata kunci: Limbah pembalakan, limbah industri kayu, nilai tambah, sosial forestry,
            zero waste, restrukturisasi industri




                                                                                          107
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Pari, Gustan
Pengaruh lama aktivasi terhadap struktur kimia dan mutu arang aktif serbuk gergaji
sengon = Effect of activation time on chemical structure and quality of sengon sawdust
activated charcoal / Gustan Pari [et.al] . -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3
; Halaman 207-218 , 2005

     Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh lama aktivasi terhadap
perubahan struktur kimia dan mutu arang aktif. Arang aktif dibuat di dalam retor baja
tahan karat yang dilengkapi dengan pemanas listrik pada suhu 850°C dengan lama
waktu reaksi 30,60,90 dan 120 menk dengan menggunakan uap air sebagai bahan
pengaktif. Evaluasi strukur kimia arang aktif dilakukan dengan menggunakan
spektrofotometri infra merah (FTIR), X-ray difraksi (XRD dan elektron mikroskop
(SEM). Mutu arang aktif terbaik dihasilkan pada arang yang diaktivasi selama 90 menit.
      Rendemen yang dihasilkan sebesar 13,75 persen, kadar air 3,03 persen, abu 23,57
persen, zat terbang 11,12 persen, karbon terikat 65,31 persen. Daya serap terhadap
iodin sebesar 1003,9 mg/g, benzena 19,10 persen, formaldehida 40,55 persen dan
metilina biru 282,19 mg/g. Mutu arang aktif yang dihasilkan ini, terutama apabila dilihat
dari besarnya daya serap terhadap iodin dan metilina biru memenuhi persyaratan
Standar Indonesia. Hasil pengkajian struktur arang aktif dengan menggunakan XRD
menunjukkan tinggi (Lc) dan jumlah (N) lapisan aromatik meningkat dengan makin
lamanya waktu aktivasi, sedangkan lebar (La) lapisan aromatik dan derajat
kristalinitasnya (X) menurun dengan jarak antar lapisan (d) stabil. Hasil analisis FTIR
menunjukkan bahwa permukaan arang aktif mengandung ikatan C-O dan C-H, dan
hasil analisis SEM menunjukkan jumlah dan diameter pori meningkat dengan makin
lamanya waktu aktivasi dan didominasi oleh makropori.

Kata kunci: Arang aktif, sengon, struktur, serbuk gergaji, XRD, FTIR, SEM


Prabawa, Sigit Baktya
Sifat fisik dan dimensi serat kayu mangium berumur empat tahun dari daerah Sebulu,
Kalimantan Timur = The physical and fiber dimension properties of 4 year old mangium
wood from Sebulu of East Kalimantan / Sigit Baktya Prabawa .-- Jurnal Penelitian Hasil
Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 339-348 , 2005

      Acacia mangium Wild termasuk famili Leguminoceae. Jenis iiii umumnya di
Indonesia dikenal sebagai mangium, sedangkan di luar negeri dikenal juga dengan nama
sabah salwood, black wattle, hickory wattle atau brown salwood. Pohon ini merupakan
species asli dari Maluku, Papua Barat, Papua Nugini, Australia and Queensland. Untuk
tujuan komersial, sangat beralasan memilili mangium sebagai jenis yang perlu
dikembangankan di areal Hutan Tanaman Industri di Indonesia karena sifat-sifatnya
yang cukup istimewa.
      Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa sifat fisik dan
dimensi serat dari kayu mangium berumur 4 tahun yang berasal dari Sebulu,
Kalimantan Timur dan mencoba mengkaitkan dengan kemungkinan penggunaannya.


                                                                                            108
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



       Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa kerapatan kering udara, berat jenis
kering tanur, dan kadar air kerihg udara dari kayu mangium berumur 4 tahun berturut-
turut adalah 0,48 gr/cm3, 0,40 dan 19%; Nilai rataan dari panjang serat, diameter
serat, diameter lumen dan tebal dinding berturut-turut adalah 782,4 u, 21,7 u, 16,3 u.
and 2,8 u.

Kata kunci: Sifat fisik, dimensi serat dan kayu mangium


Purnomo
Potensi dan peluang usaha perlebahan di Propinsi Riau / Purnomo. -- Prosiding
Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui
Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 133-141 ,
2005

       Nilai tambah dari sumber daya perlebahan sudah tidak disangsikan lagi bahkan
upaya pengembangannya sejalan dengan program pemerintah dalam rangka
pemberdayaan ekonomi rakyat dan pelestarian hutan.
       Peluang usaha di bidang perlebahan sangat menjanjikan khususnya apabila dilihat
dari potensi yang mendukungnya. Ketersediaan pakan lebah seperti didaerah Riau
sangat melimpah. Dari dua areal HPHHTI yang berlokasi di Riau tersedia kawasan
tanaman Acacia mangium seluas 250.000 Ha dan mampu mensekresi nektar,
ekstrakflora sebesar 83,25 liter/Ha/hari.
       Sedangkan dari sejumlah 20.000 koloni lebah hutan (Apis dorsata) yang berada di
Riau, sekitar 9.650 Koloni sampai dengan saat ini belum tersentuh dengan tangan
tnanusia. Apabila koloni lebah ini dikelola dan dimanfaatkan maka ratusan ribu liter
madu dapat diproduksi dari lebah Apis dorsata tersebut.

Kata kunci: Potensi, peluang usaha, lebah hutan


Rochmayanto, Y
Suplai-diman serat sutera di Riau dan Sumatera Barat / Y. Rochmayanto, T Sasmita. --
Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan
Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman
177-184 , 2005

       Besaran suplai diman serat sutera di Riau adalah nihil. Adapun besaran suplai
aktual dari petani sutera alam di Sumatera Barat adalah 1406,5 kg/tahun untuk kokon
dan 3 kg untuk benang sutera (pada tahun 2003-2004). Sedangkan secara potensial dari
90 petani dan 60 ha kebun murbei pada 4 sentra produksi sutera alam di Sumbar (Solok
Utara, Solok Selatan, Tanah Datar dan Batu Sangkar) dapat menghasilkan kokon
sebanyak 75.600 kg/tahun dan benang sutera sebanyak 10.800 kg/tahun. Adapun
demand aktual di Sumatera Barat untuk kokon sebesar 2.400 kg/tahun dan untuk
benang sutera sebesar 300 kg/tahun. Diman potensial benang sutera diprediksi
sebanyak 16.918 kg/tahun dan kokon sebanyak 118.428 kg/tahun. Besaran tersebut


                                                                                          109
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



belum termasuk kebutuhan dari Sumatera Utara dan ekspor. Rendahnya suplai
dibandingkan diman disebabkan oleh harga kokon yang rendah di tingkat petani akibat
(1) monopoli pembelian oleh satu perusahaan sutera di Medan dan (2) kualitas pakan
yang tidak mendukung.
       Berdasarkan situasi demikian dapat direkomendasikan: (1) perlunya peningkatan
kapasitas dan skala produksi pada sentra produksi sutera alam di Sumatera Barat,
(2) dapat dilakukan pengembangan dan perluasan usaha sutera alam di Riau, (3) untuk
pengembangan di Riau yang merupakan dataran rendah diperlukan rekayasa alat dan
lingkungan untuk memenuhi persyaratan umum suhu, kelembaban dan ketinggian
tempat.

Kata kunci: Suplai-diman, kokon, benang sutera


Roliadi, Han
Kemungkinan pemanfaatan tandan kosong kelapa sawit sebagai bahan baku pembuatan
papa serat berkerapatan sedang = Possible utilization of empty oil-palm bunches as raw
material for manufacturing medium-density fiberboard / Han Roliadi, Widya Fatriasari. --
Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 101-109 , 2005

      Tanda kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah padat industri minyak
kelapa sawit dengan potensi cukup besar (2,5 juta ton per tahun), yang dewasa ini
hanya dibuang di tempat, atau dibakar sehingga menimbulkan pencemaran
lingkungan. Salah satu usaha dalam mengatasi hal tersebut adalah
memanfaatkannya untuk pembuatan papan serat berkerapatan sedang (MDF),
sebagaimana dilakukan melalui percobaan skala laboratoris secara batch. Pengolahan
pulp TKKS untuk MDF menggunakan proses semi-kimia soda panas terbuka, diikuti
dengan perendaman dalam larutan alkali pada suhu kamar, dan sesudahnya
diolah secara mekanis menjadi pulp. Sebelum pembentukan lemabara MDF,
pada TKKS ditambahkan bahan pengikat / penerkat fenol formaldehida (PF).
Pembentukan lembaran menggunakan proses basah.
      Hasil percobaan menunjukkan bahwa perendaman alkali menghasilkan pulp
TKKS dengan diameter serat dan lumen lebih besar, dan dinding serat lebih tipis,
dibandingkan dengan tanpa perlakuan rendaman. Selanjutnya, perendalam alkali
ternyata berinteraksi dengan penggunaan perekat PF, sehingga menghasilkan
lembaran MDF dengan kerapatan dan sifat kekuatan lebih tinggi; dan penyerapan
air dan pengembangan tebal yang lebih rendah, dibandingkan dengan tanpa
perendaman. Beberapa sifat MDF memenuhi persyaratan standar FAO, yaitu
kerapatan, modulus patah, dan kekuatan rekat internal. Yang belum memenuhi
adalah pengembangan tebal, penyerapan air, modulus elastisitas, dan kekuatan
memegang sekerup. Diharapkan bisa diperbaiki dengan penggunaan bahan
penolak air dan lebih banyak bahan perekat.

Kata Kunci: MDF, TKKS, rendaman alkali, perekat PF, dan cara basah




                                                                                          110
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Roliadi, Han
Removal of residual creosote in out-of-service utility poles using steam treatment =
Pengeluaran sisa kreosot dalam tiang listrik bekas pakai menggunakan perlakuan uap /
Han Roliadi, Elvin T Choong. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ;
Halaman 197-205 , 2005

       Keberadaan sisa-sisa kreosot dalam produk kayu bekas pakai dan tak lagi digunakan,
diantaranya tiang listrik bekas, dapat mengakibatkan kesulitan/masalah dalam
pemanfaatannya menjadi produk berguna lain seperti: papan blok, papan partikel, papan
serat, dan pulp/kertas. Maka, sisa kandungan kreosot tersebut harus dihilangkan atau
diturunkan menggunakan perlakuan khusus yang efektif. Sebelum perlakuan uap, tiang
listrik tedsebut perlu dibuat menjadi partikel-partikel berukuran kecil, antara lain
serbukgergaji sehingga memudahkanpenguapan kreosot oleh uap.
       Perlakuan uap terhadap tiang listrik bekas pakai telah dicoba keefektifannya dalam
menghilangkan/menurunkan sisa kandungan kreosotnya. Hasil menunjukkan bahwa
perlakuan uap dapat menurunkan kandungan kreosot hingga 1,31 persen, untuk
kandungan awal kreosotnya yang berbeda-beda. Tiang listrik dengan kandungan kreosot
lebih tinggi membutuhkan waktu perlakuan uap lebih lama. Pada kandungan awal kreosot
tertentu atau sama, penurunan/pengeluaran kreosot pada batang/tiang listrik bekas yang
berumur pakai lebih lama ternyata lebih sulit dari pada tiang listrik berumur lebih muda.
Pada berbagai umur, selanjutnya baik pada tiang listrik berumur lebih muda ataupun lebih
tua, penurunan/pengeluaran kresosote juga lebih sulit pada bagian dalam batang/tiang
dibandingkan dari bagian yang lebih dekatpermukaan batang/tiang.
       Perlakuan uap merupakan cara yang murah dan efisien menurunkan kandungan
kreosot. Penurunan lebih lanjut kreosot yang tersisa dalam batang dapat dilakukan
dengan cara lain, seperti dengan pelarut organik yang memerlukan biaya mahal dan
penggunaan mikororganisme tertentu yang memerlukan waktu lebih lama.

Kata kunci: Perlakuan uap, sisa kreosot, tiang listrik bekas pakai, keausan, dan tiang listrik
             baru/segar diawetkan


Roliadi, Han
Uji coba mesin serpih mudah dipindahkan untuk produksi serpih dari limbah industri
pengergajian kayu = Trial test on portable chipper for chip production from wood sawmill-
generated wastes / Han Roliadi, Ridwan A Pasaribu. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan :
Volume 23.No.3 ; Halaman 219-227 , 2005

     Limbah industri penggergajian kayu dengan potensi 7,8 juta m3 per tahun belum
banyak dimanfaatkan. Salah satu pemanfaataanya adalah pembuatan pulp untuk kertas
dan papan serat, tetapi sebelumnya limbah tersebut perlu dijadikan serpih dengan alat
layak teknis dan ekonomis/finansial, diantaranya mesin serpih mudah dipindahkan
(SMD).
     Hasil percobaan mesin SMD terhadap limbah penggergajian dari campuran lima
jenis kayu (Manii, Pinus, Jeunjing, Duren, dan Jengkol): kapasitas penyerpihan (1,432 ±


                                                                                             111
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



0,089) m3 atau 1548,48 kg (berat basah) atau 854,76 kg (berat kering) per jam,
ternyata secara teknis setara dengan penyerpihan kayu konvensional: 1,5 - 2,0 m'
per jam atau 870,28 kg (berat kering) per jam. Produktifitas mesin SMD (bruto/serpih
belum disaring): 1542,18 kg (berat basah) atau 854,88 kg (berat kering) per jam.
Produktifitas serpih tersaring: 732,29 kg serpih kering per jam atau 2933,16 kg per hari,
atau 880 ton per tahun. Rendemen serpih: 98,22 persen (belum disaring) atau 84,25
persen (sudah disaring).
      Hasil penelaahan finansial/ekonomis: harga pokok produk Rp 263.343,00 per ton
serpih kering tersaring; BEP (titik impas) 938,51 ton produksi serpih per tahun di mana
lebih besar dari perhitungan produktifitasnya (880 ton serpih kering per tahun); pay-
back period singkat (dua tahun); dan nilai layak bersih positif (+ Rp 5.734.964,77).
Nilai-nilai tersebut mengindikasikan kelayakan finansial ekonomis pengoperasion mesin
SMD untuk limbah industri penggergajian.

Kata kunci: Limbah penggergajian, mesin SMD, serpih, kelayakan, teknis dan finansial
            / ekonomis


Roliadi, Han
Uji coba portable chipper untuk produksi serpih dari limbah industri penggergajian kayu /
Han Roliadi, Ridwan A Pasaribu dan Rena M Siagian. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil
Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi,
Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 79-84 , 2005

       Limbah industri penggergajian kayu dewasa ini belum banyak dimanfaatkan dan
potensinya tnencapai 7,8 juta m3 per tahun. Limbah tersebut perlu diberi nilai
tambah menjadi produk bermanfaat diantaranya pulp untuk kertas dan untuk papan
serat/MDF. Hal tersebut merupakan salah satu usaha dalam rangka menciptakan
efisiensi pemanfaatan bahan baku kayu, mendorong pengernbangan industri skala kecil,
dan restrukturisasi industri kayu (kehutanan). Sebelum limbah penggergajian tersebut
diolah menjadi pulp, namun perlu diubah dulu menjadi bentuk serpih kayu, dengan
menggunakan alat yang layak teknis dan ekonomis/finansial, yaitu portable chipper.
       Uji coba portable chipper terhadap limbah industri penggergajian yang terdiri dari
campuran lima jenis kayu (manii, pinus, sengon, duren, dan jengkol) telah
dilakukan di Pusat Litbang Teknologi Hasil Hutan (Bogor), dan hasilnya adalah sbb:
Kapasitas penyerpihan portable chipper (input) adalah 1.548,48 kg linibah (berat basah)
per jam, atau 854,76 kg limbah (berat kering) per jam, atau 1,432 m3 limbah per jam, yang
mana secara "teknis" masih komparabel dengan kapasitas penyerpihan kayu regular
yaitu: 1,5 - 2,0 m 3 per jam atau 870,28 kg berat kering per jam. Sedangkan
produktifitas portable chipper (output) adalah 1.542,18 kg serpih (berat basah) bruto
(belimi disaring) atau 854,88 kg serpih (berat kering bruto) per jam. Rendemen serpih
bruto adalah 98.22 persen (dasar berat kering), sedangkan rendemen serpih tersaring
adalah 84,25 persen (dasar berat kering). Produktifitas portable chipper yang melibatkan
alat penyaringan/fraksionasi serpih adalah 732,29 kg serpih tersaring (dasar berat
kering) per jam atau 2.933,16 kg serpih kering tersaring per hari, atau 880 ton serpih
kering tersaring per tahun.


                                                                                          112
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



        Selanjutnya, penelaahan finansial/ekonomis terhadap portable chipper mini berikut
alat penyaring/fraksionasi serpih adalah sebagai berikut: Harga pokok produk = Rp.
263.343,- per ton serpih tersaring (berat kering); BEP (break even point atau titik impas)
dicapai pada produksi serpih sebesar 938,51 ton yang ternyata lebih besar dari
perhitungan produktifitasnya yaitu 880 ton serpih kering per tahun; Pay-back period relatif
singkat yaitu pada tahun ke dua (atau dua tahun); dan Net-present value (NPV) yang
"positif (+ Rp. 5.734.964,77). Nilai-nilai: Harga pokok produk (serpih tersaring), BEP,
Pay-back period, NPV tersebut memberi indikasi akan "kelayakan" finansial ekonomis
pengoperasian portable chipper mini berikut alat penyaring/fraksionasi dalam memproduksi
serpih tersaring dari limbah industri penggergajian.

Kata kunci: Limbah, penggergajian kayu, portable chipper, teknis, dan finansial


Roliadi, Han
The utilization of sludge waste mixed with old newsprint and Abaca fibers as raw material
for pulp/paper manufacture = Pemanfaatan campuran limbah sludge, kertas koran bekas
dan serat abaka sebagai bahan baku pembuatan pulp kertas / Han Roliadi, Rena M
Siagian.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 417-430 , 2005

       Industri pulp kertas Indonesia kebanyakan masih tergantung pada kayu
konvensional. Salah satu mengurangi ketergantungan ini adalah mencari sumber serat
ligno selulosa lain yang dapat dimanfaatkan seperti: Umbah sludge, kertas koran bekas,
dan serat abaka (Musa textiles Nee), sebagaimana dilakukan dalam percobaan ini
menjadi pulp untuk kertas karton. Mula-mula, sludge dibersihkan sehingga bebas dan
bahan asing berukuran relatif besar, kertas bekas dibuang tintanya dan diolah menjadi
pulp, dan kulit batang abaka diolah menjadi pulp dengan proses semi-kimia soda panas.
Selanjutnya, bubur serat disiapkan dengan variasi komposisi campuran sludge bersih (0
- 30 persen), pulp koran bekas (55 - 100 persen), dan pulp abaka (0 - 15 persen).
Pada tiap komposisi tersebut, ditambahkan bahan aditif (alum pengikat dan perekat
pati, masing-masing 1,5 persen). Selanjutnya, lembaran pulp dibentuk secara manual
bertarget gramatur 125 gram per m2, dan diuji sifai kekuatan dan derajat kecerahannya.
       Hasil percobaan menunjukkan bahwa menurunnya porsi sludge, dan
meningkatnya pulp kertas koran bekas ataupun pulp abaka meningkatkan kekuatan
lembaran pulp. Derajat kecerahan lembaran pulp juga mengalami hal serupa, tetapi
menurun dengan meningkatnya porsi pulp abaka. Kualitas lembaran pulp campuran dari
0-10 persen sludge berserat pendek, 75-100 persen kertas koran bekas, dan 0-15
persen pulp abaka dapat menyamai kertas karton komersial bergramatur 125 gram per
m2. Penggunaan sludge lebih dari 10 persen masih mungkin dengan pemakaian lebih
banyak bahan pengikat perekat (pati, dekstrin, dan resin).

Kata kunci: Kertas koran bekas, Umbah sludge berserat pendek, kulit batang abaka,
             kertas karton, dan pulp




                                                                                           113
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Santoso, Adi
Aplikasi kopolimer tanin resorsinol formaldehida untuk meningkatkan sifat fisis mekanis
bagian lunak kayu kelapa = Application of tannin resorcinol formaldehyde copolymer for
physical mechanical improvement of coconut wood inner part / Adi Santoso, Barly. --
Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 79-86 , 2005

      Impregnasi kopolimer merupakan salah satu upaya dalam peningkatan kualitas
kayu. Dalam penelitian ini digunakan kopolimer tanin resorsinol formaldehida (TRF)
terhadap bagian lunak kayu kelapa. Polimer diimpregnasikan dengan menggunakan
vakum pada tekanan awal 11 atm. Sifat fisis dan mekanis contoh diuji sebelum dan
sesudah perlakuan.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan mampu meningkatkan
karakteristik fisis dan mekanis bagian lunak kayu kelapa tersebut.

Kata kunci: Kayu kelapa, sifat fisik-mekanis, impregnasi, tannin


Santoso, Adi
Pengaruh tipe sambungan ujung sisi terhadap kualitas kayu sambungan mangium / Adi
Santoso, Osly Rachman dan Abduachman. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ;
Halaman 51-56 , 2005

     Kayu sambung ujung-sisi (edge-to-edge-grain joints wood) pada dua bilah kayu pada
umumnya membentuk sudut. Produk papan sambung ini digunakan untuk kayu
pertukangan seperti daun pintu, kusen, laci dan kotak. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh lima tipe sambungan ujung-sisi dari papan sambung mangium
yang direkat dengan PVAc terhadap sifat fisis dan mekanisnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar air bilah sambung mangium rata-rata.
kurang dari 14%, dan memenuhi persyaratan SNI (2000), dengan kerapatan tergolong
rendah sampai sedang (0,53-0,62 g/cm2). Keteguhan lentur maupun keteguhan
patah kayu sambung tertinggi dicapai oleh produk bertipe sambungan sudut dengan
dua lidah (tipe B) (1.417,71 kg/cm2 dan 83,69 kg/cm2), dan yang terendah adalah
produk dengan tipe sambungan setengah dengan rongga (tipe E) (197,289 kg/cm2 dan
61,47 kg/cm2). Sifat perekatan dari kelima tipe sambungan kayu tergolong sedang
(4,41-7,43 kg/cm2) dan hanya tipe setengah sambungan pada satu sisi (tipe C) yang
memenuhi persyaratan. Kayu sambung dengan karakter seperti tersebut di atas
cocok untuk pemakaian kusen dan daun rangka pintu atau jendela.

Kata kunci: Kayu sambung, mangium, hutan tanaman




                                                                                           114
                                                       Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Santoso, Adi
Keteguhan rekat papan lantai lamina kombinasi kayu dan batang kelapa dengan perekat
lignin resorsinol formaldehida / Adi Santoso, Barly. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil
Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi,
Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 85-89 , 2005.

         Penelitian pembuatan kayu lamina dengan bahan baku campuran kayu
mangium (acacia mangium), damar (agathis sp), gmelina (Gmelina arborea) dan batang
kelapa (Cocos nusifera) telah dilakukan menggunakan perekat lignin resorsinol
fotrmaldehida (LRF), diuji berdasarkan standar Jepang.
         Hasil penelitian menunjukkan bahwa kerapatan tertinggi dicapai pada produk
yang dibuat dari bagian batang kelapa dalam (local) (0,83 g/an3) da terendah dicapai
oleh produk yang dibuat dari kombinasi kayu mangiu dan bagian lunak batang kelapa
(0,40 g/cm3). Kualitas terbaik keteguhan rekat lantai lamina dicapai pada produk yang
dibuat dari kombinasi bagian lunak batang kelapa dalam dengan kayu damar (52,80-
60,48 kg/cml), kombinasi bagian lunak dan keras kelapa hibrida (52,80-68,48 kg/cm2)
serta kombinasi bagian lunak kelapa hibrida dengan kayu magium (57,32-80,44 kg/cm2).

Kata kunci: Papan lantai lamina kombinasi kayu-batang kelapa, LRF, keteguhan
            rekat, kerapatan


Santoso, Adi
Pengaruh jenis perekat dan kombinasi jenis kayu terhadap keteguhan rekat kayu lamina
= Effect of glue and combined wood species on the strength of laminated wood / Adi
Santoso, Jamaludin Malik.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman
375-384 , 2005

        Penelitian ini bertujuan mengetahui penganih penggunaan tiga jeins perekat,
yaitu lignin resorsinol formakleliida (LRF), tanin resorsinol formaldehida (TRF) dan
fenol resorsiiiol formalderhida (PRF) dengan lama peiigempaan yang berbeda terhadap
keteguhan rekat kayu lamina dari kombinasi tiga jenis kayu, yaitu: tusam (Pinus merkusii),
damar (Agathis sp.), dan gmelina (Gmelina arborea).
        Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis perekat, jenis kayu dan interaksinya
maupun lama pengempaan masing-masing' berpengaruh terhadap ketegulian rekat
kayu lamina. Demikian pula interaksi antara jenis perekat dengan susunan jenis kayu,
jenis perekat dengan masa kempa, jenis
        kayu dengan masa kempa, serta jenis perekat dengan susunan jenis kayu
berpengaruh terhadap keteguhan rekat kayu lamina. Hasil uji kering menunjukkan
bahwa keteguhan rekat tertinggi (110,88 kg/cm2) diperoleh dari kayu lamina yang dibuat
dari kombinasi jenis kayu tusam, gmelina dan damar dengan perekat LRF yang dikempa
selama 8 jam. Kayu lamina yang dibuat dari kombinasi jenis kayu tersebut yang diuji
pada kondisi basah, memiliki keteguhan rekat tertinggi (43,73 kg/cm2) dengan
menggunakan perekat PRF dan dikempa selama 15 jam.

Kata kunci: Perekat kayu, lignin, tanin, kayu lamina


                                                                                               115
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Santoso, Adi
Kualitas rekatan bilah sambung jari pada lima jenis kayu dengan perekat lignin dan
tannin = Bonding quality of finger jointed board on fove wood species using lignin and
tannin based adhesives / Adi santoso, Osly Rachman dan Jamaludin Malik. -- Jurnal
Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 187-195 , 2005

      Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa komponen senyawa dalam lignin dan
tanin dapat dibuat kopolimer dengan resorsinol dan formaldehida membentuk resin
lignin- dan tanin formaldehida untuk produksi kayu lamina eksterior.
      Penelitian ini bertujuan mengetahui kualitas lignin resorsinol formaldehida dan tanin
resorsinol formaldehida dalam pembuatan bilah sambung jari dari lima jenis kayu untuk
bangunan perkapalan, yaitu: tempeas (Teysmanniodendron sympliciodes Kosterm), waru
(Hibiscus tiliaceus L), bunyo (Trioma malaccensis Hook F.), gambir (Trigonopheura
malayana Hook F.), dan rasamala (Altingia excelsa Noronha) terhadap sifat
mekanisnya.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak dijumpai adanya delaminasi bilah
sambung jari pada kelima jenis kayu. Sifat mekanis dari bilah sambung jari dipengaruhi
secara nyata oleh jenis kayu, jenis perekat dan interaksi kedua faktor tersebut.

Kata kunci: Lignin, tanin, resorsinol, jenis kayu, bilah sambung


Sinaga, Marolop
Produktivitas dan biaya produksi penebangan hutan tanaman industri di PT Inhutani II
Pulau Laut = Productivity and cost of felling forset plantation in PT Inhutani II Pulau Laut /
Marolop Sinaga. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 69-78 ,
2005

     Penelitian penebangan hutan tanaman industri telah dilaksanakan di areal hutan
tanaman industri PT Inhutani II Semaras, Pulau Laut. Jenis pohon yang ditebang
adalah mangium (Acacia mangium). Penebangan dilakukan dengan sistim tebang
habis sesuai dengan tujuan pengusahaan hutan tanaman industri, sehingga contoh uji
yang diamati terdiri dari 97 pohon. Perlakuan dalam penelitian ini yaitu penebangan
dilakukan dengan meninggalkan tunggak serendah mungkin, dan menggunakan
gergaji rantai berukuran kecil mengingat diameter pohon yang kecil tidak seperti
diameter pohon pada hutan alam. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui
produktivitas dan biaya produksi penebangan hutan tanaman industri. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa produktivitas penebangan berkisar antara 0,738 -
11,645 m'/jam dengan rata-rata 3,12 mVjam. Besarnya biaya penebangan berkisar
antara Rp 814/m3 - Rp 18.868/m3 dengan rata-rata Rp. 4.411/m3. Produktivitas
penebangan dapat ditingkatkan dengan mengefisienkan waktu kerja dan apabila
produktivitas meningkat maka biaya produksi penebangan dapat diperkecil sehingga
lebih murah. Untuk itu keterampilan ipara pekerja penebang pohon perlu
ditingkatkan sehingga dapat menggunakan waktu seefektif mungkin.


                                                                                             116
                                                       Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Kata kunci: Hutan tanaman industri, produktivitas, biaya penebangan


Sudradjat, R
Teknologi pembuatan biodisel dari minyak biji tanaman jarak pagar = Manufacturing
technology of biodisel from jarak pagar plant seed oil / R Sudradjat... [et.al] . -- Jurnal
Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 53-68 , 2005

      Jarak pagar (Jatropha curcas L.) adalah tanaman cepat tumbuh dan sangat toleran
terhadap iklim tropis dan jenis tanah, sehingga sesuai untuk dikembangkan sebagai tanaman
konservasi. Selain itu, minyak dari bijinya dapat digunakan sebagai bahan energi. Bahkan
bagian lain dari tanaman ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai tujuan khusus.
      Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan biodisel dari minyak biji
jarak pagar. Biodisel adalah bahan bakar minyak (BBM) dari minyak nabati untuk otomotif
(mobil) dan disel generator. Pembuatan biodisel dilakukan dengan proses 2 tahap, tahap
pertama adalah proses esterifikasi yaitu untuk mengubah asam lemak bebas menjadi metil
ester. Tahap kedua adalah proses transesterifikasi yaitu untuk mengubah trigliserida menjadi
metil ester. Proses 2 tahap ini dapat menurunkan kadar asam lemak bebas dari minyak jarak
pagar dengan proses esterifikasi yang mana asam lemak bebas tersebut dapat menghambat
konversi trigliserida menjadi metil ester pada proses transesterifikasi. Proses esterifikasi
menggunakan metanol sebanyak 20% (v/v) secara konstan untuk setiap perlakuan, sebagai
katalis digunakan H2SO4 2%. Proses transesterifikasi menggunakan metanol dalam jumlah
yang bervariasi yaitu : 10, 20, 30, 40, 50, 60% (v/v) dan katalis yang digunakan adalah KOH
0,3%. Kedua tahap reaksi tersebut dilakukan pada suhu 60C dan lama reaksi 90 menit. Sifat
fisika kimia minyak jarak pagar yang diuji adalah bilangan asam, bilangan penyabunan,
bilangan ester, kerapatan dan kekentalan.
      Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses 2 tahap yang dinamakan proses "estrans",
dibandingkan dengan proses satu tahap, mampu mengkonversi trigliserida menjadi metil
ester dalam jumlah yang lebih banyak. Hal tersebut ditunjukkan oleh rendahnya bilangan
asam dan kekentalan, yaitu pada konsumsi metanol optimum sebesar 40% (v/v). Angka
konsumsi metanol sebesar 40% (v/v) tergolong tinggi, oleh karena itu diperlukan penelitian
lebih lanjut yang lebih fokus pada upaya untuk menurunkan konsumsi metanol pada
pembuatan biodisel dengan menggunakan proses "estrans".

Kata kunci:   Jatropha curcas L., biodisel, proses 2 tahap, esterifikasi, transesterifikasi, asam
              lemak bebas


Sudradjat, R
Pembuatan arang aktif dari tempurung biji jarak pagar = Manufacturing of activated
charcoal from jatropha seed shell / R. Sudradjat, D. Tresnawati dan D Setiawan. -- Jurnal
Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.2 ; Halaman 143-162 , 2005

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan dan sifat arang aktif
yang dihasilkan dari tempurung biji jarak pagar {Jatropha curcas L.). Proses penelitian


                                                                                               117
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dilakukan dengan pembuatan arang dari tempurung biji jarak pagar pada suhu 500°C
selama 5 jam. Kemudian arang tersebut direndam dalam larutan asam fosfat 1
persen, 2 persen dan 3 persen selama 24 jam. Selanjutnya arang diaktivasi pada
suhu 650, 750 dan 850°C dan disemprot uap panas selama 60 menit dengan suhu
125°C, laju alir uap panas 0,27 kg/jam dan tekanan 0,025 mb.
      Parameter yang diuji adalah rendemen, kadar air, kadar zat terbang, kadar abu,
kadar karbon terikat, daya serap terhadap yodium dan benzena, peningkatan
kejernihan warna minyak jarak pagar dan minyak goreng kelapa sawit yang
dijernihkan menggunakan arang aktif dari tempurung biji jarak.
      Hasil optimum diperoleh pada kondisi aktivasi menggunakan suhu 850°C.
Penggunaan bahan kimia H3PO4 tidak berpengaruh terhadap sifat fisiko-kimia arang
aktif. Oleh karena itu, pembuatan arang aktif dari tempurung biji jarak pagar hanya
memerlukan suhu tinggi dan aliran uap panas.
      Hasil optimum dari penelitian ini menunjukkan rendemen 80,8 persen; kadar air
1,7 persen; kadar zat terbang 3,2 persen; kadar abu 3,5 persen; kadar karbon terikat
91,6 persen; daya serap terhadap iodium 1.061,2 mg/g; daya serap terhadap
benzena 24,8 persen; peningkatan kejernihan minyak jarak pagar 1,8 persen, sedang
untuk minyak kelapa sawit 6,2 persen. Seluruh sifat fisiko-kimia memenuhi standar SNI
untuk arang aktif serbuk (SNI 06-3730-95).

Kata kunci: Tempurung biji jarak pagar, arang aktif, daya serap terhadap iodium, daya
            serap terhadap benzena


Sudradjat, R
Optimalisasi proses estrans pada pembuatan biodisel dari minyak jarak pagar (Jatropha
curcas L) = Estrans process optimalization in biodiesel manufacturing from Jatropha
curcas L oil / R Sudradjat, Indra Jaya dan D Setiawan. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan :
Volume 23.No.4 ; Halaman 239-257 , 2005

     Pembuatan biodisel dilakukan dengan 2 tahap yaitu tahap pertama proses
esterifikasi dan pada tahap kedua proses transesterifikasi. Perlakuan yang digunakan
dalam penelitian ini adalah katalis HCl (1 persen dan 2 persen), persentase metanol
terhadap minyak 0; 5 ; 10; 15 dan 20 persen (v/v) dan lama reaksi (1 jam dan 2 jam), suhu
diatur konstan pada 60°C. Dalam proses transesterifikasi perlakuannya adalah:
persentase metanol terhadap minyak 0 ; 5 ; 7,5 ; 10; 15 dan 20 persen (v/v), lama reaksi
0,5 jam dan 1 jam. Pada tahap ini katalis yang-digunakan adalah NaOH dan suhu
konstan pada 60°C. Parameter yang diamati adalah yang merupakan respons terhadap
perlakuan yang diberikan dalam penelitian yaitu : bilangan asam, kekentalan dan
kerapatan biodisel. Konversi maksimum asam lemak menjadi metil ester ditunjukkan
dengan rendahnya bilangan asam, kekentalan dan kerapatan.
     Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses esterifikasi menggunakan metanol
10 persen da] menurunkan bilangan asam secara nyata sampai persyaratan standar
ASTM PS-121 (< 0,8 mg KOH minyak). Pada proses transesterifikasi menggunakan
metanol 10 persen kekentalannya menurun samj memenuhi persyaratan standar ASTM
PS-121 (< 6,0 cSt). Meskipun kerapatan tidak menurun sec; signifikan, tetapi nilainya


                                                                                          118
                                                      Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



memenuhi standar Eropa yaitu 0,87 - 0,90 g/ml. Hasil analisa lengkap si fisiko-kimia
biodisel dari sampel yang diolah pada kondisi optimum menunjukkan seluruh sifatn
memenuhi persyaratan ASTM PS-121.

Kata kunci: Biodisel, jarak pagar, estrans, esterifikasi, transesterifikasi


Sudradjat, R
Pembuatan arang aktif dari kayu jarak pagar (Jatropha curcas L) = Manufacture of
activated charcoal from Jatropha curcas L wood / R Sudradjat, Anggorowati dan D
Setiawan. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 299-315 , 2005

     Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi proses yang optimum pada
pembuatan arang aktif dari kayu jarak pagar (Jatropha curcas L.) dan mengetahui
konsentrasi optimum dari penggunaan arang aktif jarak untuk pemucatan minyak jarak.
Faktor perubah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu : konsentrasi H3PO4 (5, 10 dan
15 persen) dan suhu aktifasi (650, 750 dan 850°C). Parameter yang diamati adalah
rendemen, kadar air, abu, zat terbang, karbon terikat, daya serap iod dan benzena.
Untuk pemucatan minyak jarak parameternya adalah : rendemen, kejernihan, bilangan
asam dan bilangan peroksida.
     Hasil penelitian menunjukkan, bahwa konsentrai H3PO4 meningkatkan daya serap
iod dan benzena secara nyata, tetapi pengaruh suhu hanya nyata terhadap peningkatan
daya serap iod. Sifat fisiko-kimia yang optimum dari arang aktif dihasilkan dengan
menggunakan suhu aktifasi 750°C dan konsentrasi H3PO415 persen. Kondisi optimum ini
memberikan rendemen arang aktif 52,5 persen, kadar air 4 persen, zat terbang 11,8
persen, abu 19,29 persen, karbon terikat 68,91 persen, daya serap iod 1039,2 mg/g dan
benzena 13,5 persen. Kecuali daya serap benzena, semua sifat arang aktif lainnya
memenuhi SNI06-3730-1995.
     Karbon aktif yang dibuat dengan kondisi optimum, berhasil dengan baik
digunakan sebagai absorben untuk pemucatan minyak jarak pagar kasar, karena
berhasil meningkatkan kejernihan minyak tersebut hingga 92 -105 persen dan
mengurangi bilangan asam hingga 27 - 32 persen.

Kata kunci: Arang aktif, Jatropha curcas L., daya serap iod, daya serap benzena


Suhartana, Sona
Peningkatan produktivitas dan efisiensi pemanfaatan kayu melalui penebangan serendah
mungkin dengan timber hasvester di satu HTI Riau / Sona Suhartana, Djaban
Tinambunan. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri
Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan :
Halaman 95-103 , 2005

     Tulisan ini mengetengahkan hasil penelitian tentang prodnktivitas dan biaya
penebangan serta L'fiswnsi penebangan dengan teknik serendah mungkin dan
dengan teknik konvensional wenggunakan Timber harvester lengkap. Penelitian


                                                                                              119
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dilakukan di satu perusahaan Hutan Tanaman hidnsln (HTI) di Riau pada tahun 2004.
Titjuan penelitian ini adalah untuk mengetahid pengamh penebangan serendah mungkin
dengan timber harvester terliadap produktwitas dan efisiensinya. Sasarau penelitian
adalali meminimalkan tinggi tunggak yang terjadi serta memaksimalkan diameter yang
dapat dimanfaatkan sarnpai 5 cm yang pada akhirnya akan meningkatkan produksi kayu.
       Data yang dikumpidkan adalah waktu kerja, hasil kerja dan biaya
penebangan. Data dianalisis dengan menggunakan uji-t.
       Hasil penelitian menunjukkan bahxva dengan menerapkan teknik penebangan
serendah mungkin: (1) Produktivitas penebangan meningkat sebesar 2,505 m^/jam (tidak
berbeda nyata); (2) Efisiensi penebangan meningkat sebesar 7,3% (sangat berbeda
nyata pada taraf 99%) yang setara dengan 0,003 mJ per pohon berasal dari cabang
dan 3,78 cm berasal dari tunggak; (3) Biaya penebangan berkurang sebesar Rp 1.638
(tidak berbeda nyata); dan (4) Rata-rata tinggi tunggak yang dicapai oleh penebangan
serendah mungkin adalah 11,32 cm dan oleh konvensional sebesar 15,10 cm.

Katu kunci: Penebangan serendah mungkin, timber                    harvester       lengkap,
            produktivitas, efisiensi pemanfaatan kayu


Suhartana, Sona
Peningkatan pemanfaatan kayu rasamala dengan perbaikan teknik penebangan dan
sikap tubuh penebang : studi kasus di KPH Cianjur Perhutani Unit III Jawa Barat =
Increasing the utilization of Rasamala wood by improving felling techniques and feller
posture : case study at Cianjur forest district Perhutani Unit III West Java / Sona
Suhartana, Yuniawati, Djaban Tinambunan.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume
23.No.5 ; Halaman 349-361 , 2005

       Penelitian ini dilaksanakan di KPH Cianjur Jawa Barat pada tahun 2005. Tujuan
penelitian adalah untuk mengetahui penmgkatan pemanfaatan kayu rasamala yang
dihasilkan dan penerapan teknik penebangaa serendah mungkin dan konvensional sett
a sikap tubuh penebang (jongkok dan membungkuk).
       Data yang dikumpulkan adalah: waktu kerja, volume kayu, produktivitas,
efisiensi, tinggi tunggak dan biaya penebangaii. Data dianalisis dengan Rancangan Acak
Lengkap faktorial split plot.
       Hasil penelitian menunjukkan: (1) Dengan menerapkan teknik serendah mungkin
dapat meningkatkan efisiensi sebesar 28.5% (jongkok) atau 28.2% (membungkuk); (2)
Teknik penebangan dan sikap tubuh penebang berpengaruh nyata terhadap
produktivitas dan biaya penebangan; (3) Rata-rata tinggi tunggak untuk teknik
penebangan serendah mungkin adalah 9.18 cm (jongkok) dan 9.64 cm (membungkuk);
sedangkan untuk teknik konvensional adalah 15.83 cm (jongkok) dan 16.41 cm
(membungkuk).

Kata kunci: Teknik penebangan, jongkok, membungkuk dan pemanfaatan kayu




                                                                                         120
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Suhartana, Sona
Meningkatkan produktivitas kayu pinus melalui penebangan serendah mungkin: studi
kasus di KPH Sumedang, Perum Perhutani Unit III Jawa Barat / Sona Suhartana,
Yuniawati.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 87-96 , 2005

          Tulisan ini mengetengahkan hasil penelitian tentang produktivitas dan biaya
penebangan serta efisiensi pemanfaatan kayu dengan teknik serendah mungkin dan
teknik konvensional yang menggunakan gergaji rantai. Efisiensi dan efektivitas teknik
yang digunakan pada kegiatan penebangan akan menentukan efisiensi pemanfaatan
kayu secara keseluruhan. Perlu adanya penyempurnaan teknik penebangan. Penelitian
dilakukan di Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Sumedang, Perum Perhutani III Jawa
Barat pada tahun 2004. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui produktivitas dan
efisiensi penebangan serendah mungkin. Sasaran penelitian adalah berkurangnya tinggi
tunggak yang terjadi dan meningkatnya produksi kayu melalui pemanfaatan kayu sampai
diameter minimal 5 cm. Data yang dikumpulkan adalah waktu kerja, hasil kerja dan
biaya penebangan. Data dianalisa dengan menggunakan uji-t.
          Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menerapkan teknik penebangan
serendah mungkin: (1) Produktivitas penebangan meningkat sebesar 2,635 m3/jam; (2)
Efisiensi pemanfaatan kayu meningkat sebesar 16,3% yang setara dengan 0,56 m3
(16,08%) per pohon yang berasal dari cabang dan 0,013 m3 (0,22%) per pohon berasal
dari tunggak; (3) Biaya penebangan berkurang sebesar Rp. 622,71 /m3; dan (4) Rata –
rata tinggi tunggak yang dicapai adalah 13,05 cm pada teknik penebangan serendah
mungkin dan 21,97 pada penebangan secara konvensional.

Kata Kunci: Penebangan serendah mungkin, tusam, produktivitas, efisiensi


Sukartana, P
A Laboratory trial on applying entomopathogenic fungus Metarhizium anisopliae as
barrier for subterranean termite Coptotermes curvignathus = Percobaan laboratoris
mengenai pengunaan cendawan patogen serangga metarhizium anisopiae sebagai
penyekat rayap tanah Coptotermes curvignathus / Paimin Sukartana ... [et.al] . -- Jurnal
Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.3 ; Halaman 229-237 , 2005

      Pengendalian rayap selama ini lebih tergantung pada penggunaan insektisida kimia
yang pada umumnya tidak ramah lingkungan. Pengendalian secara biologis, misalnya
menggunakan cendawan patogen serangga, sedang dikembangkan untuk mengurangi
penggunaan bahan-bahan kimia beracun tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk
menentukan efektivitas 6 strain cendawan patogen serangga, Metarhizium anisopliae
(Metschnikoff) Sorokin, yang diperoleh dari berbagai lokasi, sebagai penyekat serangan
rayap tanah Coptotermes curvignathus. Beberapa tingkat ketebalan cendawan yang
dibiakkan dalam media beras digunakan sebagai penyekat yang disusun bersama-sama
dengan media pasir dan umpan blok kayu tusam (Pinus merkusii,) dalam tabung reaksi.
Rayap tanah sebanyak 50 ekor terdiri dari 45 ekor rayappekerja dan 5 ekor rayapperajurit
dimasukkan ke dalam masing-masing tabung reaksi, dan kemudianpercobaan disimpanpada
suhu kamar selama 9 hari.


                                                                                          121
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



     Hasil percobaan menunjukkan bahwa rayap pada umumnya mampu menembus
cendawan penyekat, tetapi hanya rayap yang berhasil menembus penyekat dengan
ketebalan 2 cm atau kurang dapctt menyerang kayu umpan. Persentase kematian rayap
pada umumnya tinggi pada perlakuan dengan ketebalan penyekat 4 dan 5 cm. Strain
cendawan yang berasal dari Pakem (Yogyakarta) tampak paling menjanjikan, sementara
peringkat di bawahnya secara berurutan adalah dari Jombang Jawa Timur), Universitas
Gadjah Mada (UGM) 1 (Yogyakarta), Bogor Jawa Barat), Semarang Jawa Tengah) dan UGM 2
(Yogyakarta). Ketebalan cendawan penyekat 4 sampai dengan 5 cm pada umumnya dapat
menyebabkan kematian rayap yang tinggi, antara 80 sampaidengan 100 persen.

Kata kunci: Cendawan penyekat, penembusan, serangan dan kematian rayap


Sukadaryati
Produktivitas dan biaya penyaradan kayu dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat
bantu = Productivity and cost of log skidding using agriculture tractor with auxiliary
equipment / Sukadaryati, Dulsalam dan Djaban Tinambunan. -- Jurnal Penelitian Hasil
Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 283-297 , 2005

     Penelitian produtivitas dan biaya penyaradan kayu dengan traktor pertanian yang
dilengkapi alat bantu dilakukan di hutan tanaman kayu mangium dl KPH Bogor.
Tujuannya adalah untuk mendapatkan informasi teknis finansial tentang penyaradan
kayu dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu. Data panjang dan diameter
kayu yang disarad, waktu kerja dan biaya penyaradan dikumpulkan.
     Hasil penelitian penyaradan menggunakan traktor pertanian yang dilengkapi alat
bantu sederhana mampu menyarad 3 batang/rit atau 2,075 m3.hm/jam. Traktor
pertanian yang dilengkapi alat bantu winch menghasilkan produktivitas penyaradan
yang lebih baik, yaitu sebesar 2,328 m3.hm/jam. Biaya penyaradan dengan traktor
pertanian yang dilengkapi alat bantu sederhana sedikit lebih rendah dibanding biaya
penyaradan dengan traktor pertanian yang dilengkapi alat bantu winch. Disarankan
bahwa alat bantu taktor pertanian perlu disempurnakan. Di samping itu penyaradan pada
areal dimana penyaradan secara manual tidak mungkin dapat dilakukan, traktor
pertanian yang dilengkapi alat bantu dapat dijadikan salah satu alternatif.

Kata kunci: Traktor pertanian, produktivitas, biaya, alat bantu sederhana, winch


Sukadaryati
Potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangium sebagai bahan serpih
= Potency and harvesting cost of wastes from mangium-stand felling as raw material for
wood chip / Sukadaryati, Dulsalam dan Osly Rachman. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan :
Volume 23.No.4 ; Halaman 327-337 , 2005

     Pemanfaatan kayu di hutan sampai saat ini masih dirasakan belum optimal,
terbukti masih tingginya limbah kayu dari kegiatan pemanenan. Limbah yang terjadi
dari pohon yang ditebang sampai dengan diameter batang minimum 15 cm adalah


                                                                                          122
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



sebesar 57 persen. Oleh karena itu langkah - langkah pengelolaan hutan menuju zero
waste      perlu     dilakukan.     Salah    satu    cara      untuk     meningkatkan
pemanfaatan hutan tanaman adalah memanfaatkan limbah penebangan hutan tanaman
menjadi bahan baku serpih.
     Penelitian potensi dan biaya pemungutan limbah penebangan kayu mangium (Acacia
mangium) telah dilakukan di BKPH Parungpanjang, KPH Bogor pada tahun 2002.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata potensi dan biaya pemungutan limbah
penebangan kayu mangium sebagai bahan baku serpih adalah 0,079 mVpohon atau
15,4 persen dan Rp 15.250/sm. Potensi limbah penebangan mangium sebagai bahan
baku serpih yang layak diusahakan adalah sebesar 8,33 sm/ha atau 4,44 mVha.
Sementara itu harga pokok limbah kayu mangium adalah sebesar Rp 23.375/sm.
     Dukungan pemerintah sangat diperlukan dalam bentuk kebijakan yang dapat
mendorong kembali masyarakat sekitar hutan untuk memanfaatkan limbah penebangan
kayu dari hutan tanaman sebagai bahan baku serpih. Kebijakan tersebut berupa
kemudahan dalam memperoleh limbah kayu dengan harga sesuai besarnya biaya
eksploitasi dan menetapkan harga dasar serpih yang tidak terlalu tinggi.

Kata kunci: Potensi hutan, limbah kayu, hutan tanaman, biaya, serpih


Sulastiningsih
Pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina = Effect of wood layer on the
laminated bamboo board properties / I.M Sulastiningsih, Nurwati dan Adi Santoso. --
Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ; Halaman 15-22 , 2005

     Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang relatif
pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup menjanjikan
sebagai bahan pengganti kayu untuk bahan bangunan. Masalah pemanfaatan
bambu sebagai bahan bangunan adalah keterbatasan bentuk dan dimensinya.
Pembuatan produk bambu lamina merupakan salah satu cara untuk mengatasi
masalah tersebut.
     Penelitian pengaruh lapisan kayu terhadap sifat bambu lamina (3 lapis) telah
dilakukan di laboratorium produk majemuk Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Hasil Hutan, Bogor. Bambu yang digunakan adalah bambu andong
(Gigantochloapseudoarundinacea), sedangkan perekatnya adalah tanin resorsinol
formaldehida (TRF). Kayu yang digunakan adalah mangium (Acacia mangium) dan
tusam (Pinus merkusii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa lapisan kayu sangat
berpengaruh terhadap sifat fisis dan mekanis bambu lamina. Bambu lamina yang
semua lapisannya terdiri dari bambu, kerapatannya lebih tinggi (0,8 g/cm3) dibanding
bambu lamina yang lapisan tengahnya dari kayu mangium (0,7 g/cm3) dan tusam
(0,64 g/cm3). Bambu lamina yang lapisan tengahnya kayu tusam mempunyai sifat
kestabilan dimensi yang paling rendah dibanding bambu lamina lainnya. Sifat mekanis
bambu lamina menurun dengan adanya lapisan kayu dalam komposisi lapisan
penyusunnya.

Kata kunci: Bambu lamina, lapisan kayu, sifat fisis dan mekanis


                                                                                           123
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




Sulastiningsih, I.M
Pemanfaatan bambu untuk lantai / I.M Sulastiningsih. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil
Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi,
Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 3-12 , 2005

          Bambu yang termasuk tanaman cepat tumbuh dan mempunyai daur yang
relatif pendek (3-4 tahun) merupakan salah satu sumber daya alam yang cukup
menjanjikan sebagai bahan pengganti (substitusi) kayu khususnya untuk bahan
bangunan. Pada tahun 2003 Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Hasil
Hutan telah berhasil membuat alat pembelah bambu yang mengliasilkan bilah bambu
yang lums dan mudah direkat kearah lebar. Dengan alat tersebut serta dengan perekat
tertentu, bambu dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan khususnya untuk
lantai.
        Tanaman bambu khususnya yang berdiameter besar dan dinding bambunya
tebal dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bambu lamina untuk lantai sehingga dapat
diperoleh nilai tambah yang tinggi. Bambu lamina dari bilah bambu andong sangat
cocok untuk lantai karena mempunyai sifat kekerasan sisi yang lebih tinggi (443 kg/cm2)
dibanding kayu jati (428 kg/cm2). Di samping itu bambu lamina dari bilah bambu andong
mempunyai kestabilan dimensi yang cukup tinggi, hal ini terlihat dari nilai
pengembangan tebal (1,03%), pengembangan lebar (0,76%) dan pengembangan
panjang (0,46%) yang sangat kecil setelah produk tersebut direndam dalam air dingin
selatna 24 jam. Sifat ini sangat mendukung kesesuaian bambu lamina dari bilah bambu
andong untuk lantai.
        Pengembangan pemanfaatan bambu untuk lantai perlu terns disosialisasikan
karena dapat menunjang usaha pemerintah dalam meningkatkan ekonomi kerakyatan.
Dalam proses pembuatan lantai bambu kegiatan pembuatan bilah hams dilakukan di
hutan atau daerah sekitar hutan sehingga biaya angkutnya murah, limbah yang terjadi
dapat dikembalikan ke hutan dan masyarakat sekitar hutan dapat terlibat dalam proses
produksi lantai bambu.
        Perlu dilakukan rekayasa alat belah bambu portable sehingga alat yang
dihasilkan dapat langsung dicoba di lapangan dan disosialisasikan kepada masyarakat
luas khususnya di daerah yang mcmiliki potensi tanaman bambu cukup besar.
Pengembangan industri lantai bambu hams didukung oleh tersedianya pasokan bambu
secara berkesinambungan dan kegiatan penelitian perlu diarahkan untuk meningkatkan
teknologi pembuatan lantai bambu.

Kata kunci: Pemanfaatan, bambu, lantai, alat belah bambu, nilai tambah


Sumadiwangsa, E Suwardi
Peningakatan produktivitas dan kualitas HHBK / E Suwardi Sumadiwangsa. -- Prosiding
Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui
Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 117-131 ,
2005


                                                                                          124
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



       Hasil hutan bukan kayu (HHBK) bila dikelola secara seksama dapat berperan besar
dalam meningkatkan nilai lahan hutan dan pendapat masyarakat sekitar hutan.
Paradigma baru kehutanan bila telah dilaksanakan, dapat memacu perkembangan
HHBK bernilai tinggi sesuai lahan hutan setempat. Sampai sekarang teknik budidaya,
pemanenan dan pengolahan masih dilakukan secara tradisional belum ditunjang IPTEK
tepatguna yang memadai. IPTEK tepatguna yang diperlukan mencakup pemilihan jenis
bernilai tinggi yang akan ditanam, seleksi bibit, teknik pemanen dan pemeliharaan,
panen, pasca panen, pengolahan dan diversifikasi produk.
       Beberapa komoditi HHBK seperti rotan, bambu, gaharu, kemeyan, sagu,
jernang, nilam, gondorukem, damar, kopal, kemiri, kilento dan ipuh kebanyakan masih
dikelola secara lokal sehingga belum dapat menghasilkan produktivitas dan kualitas
yang tinggi. Tulisan ini disusun untuk mengungkap IPTEK dasar yang diperlukan untuk
meningkatkan produktivitas dan kualitas HHBK. Selain itu juga diperlukan mengenai
diversifikasi produk yang dapat meningkatkan nilai tambah HHBK.

Kata kunci: HHBK, teknologi, lokal, IPTEK tepat guna, peningkatan


Suwandi
Prospek pengembangan sutera alam dan permasalahannya di Riau dan Sumatera Barat
/ Suwandi , Rochmayanto, E. Novriyanti. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil
Hutan: Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan
Diversifikasi Produk Hasil Hutan : Halaman 143-148 , 2005

       Prospek pengembangan persuteraan alam di Propinsi Riau dan Sumatera Barat
masih memiliki potensi yang cukup besa. Kebutuhan benang sutera di dalam dan luar
negeri cukup tinggi sedangkan produksi masih sangat rendah dan hingga kini belum
tercukupi. Riau memiliki sumberdaya alam dan lahan produktif yang luas
memungkinkan untuk pengembangan sutera alam di masa mendatang. Hasil ujicoba
penanaman murbei jenis Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana, M. khumpai, dan M. alba
var kanva-2 memberikan hasil yang baik. Di samping itu perlakuan pemeliharaan ulat
sutera dengan teknik rekayasa suhu dan kelembaban pada ruangan pemeliharaan,
menunjukan renspon yang nyata, rata-rata persentase hidup ulat 97%, kokon, 96%
dan kulit kokon 35,1%. Sumatera Barat memiliki kondisi alam yang lebih ideal dengan
ketinggian tempat berkisar antara 400 - 1.200 m dpi. Persuteraan alam di propinsi ini
sudah berkembang di beberapa daerah antara lain Solok, Gunung Talang, Muara
Labuh, Sungai Tarab, Tanah Datar, dan Payakumbuh. Kebutuhan benang sutera di
beberapa sentra pengrajin songket membutuhkan benang 25 kg/bulan, lebih besar dari
kemampuan produksi daerah ini.

Kata kunci: Prospek, produksi, sutera alam, peluang usaha




                                                                                          125
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Tinambunan, Djaban
Kajian implementasi pemanenan hutan ramah lingkungan / Djaban Tinambunan,
Dulsalam. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan: Penguatan Industri
Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi Produk Hasil Hutan :
Halaman 105-116 , 2005

         Adanya isu sentral ramah lingkungan merupakan bukti semakin tingginya
tuntutan yang hams dipenuhi oleh Pemerintah (Departemen Kehutanan) untuk
menyongsong era globalisasi. Dalatn pengelolaan hutan lestari, praktek pemanenan
hutan dikendalikan dan dikaitkan dengan praktek silvikultur untuk mempertahankan
atau meningkatkan nilai tegakan secara berkelanjutan. Untuk itu perlu dikaji
implementasi pemanenan hutan yang ramah lingkungan. Aspek yang dikaji adalah
teknis, ekonomis dan lingkungan. Kajian ini bertujuan mendapatkan informasi tentang
pemanenan hutan ramah lingkungan yang dapat diimplementasikan di lapangan.
Hasil kajian adalah sebagai berikut:
1. Pemanenan ramah lingkungan (RIL), baik di Sumatera Selatan maupun di
     Kalimantan Timur, sebagian besar telah diimplementasikan oleh para pengusaha
     hutan.
2. Peta pemanenan kayu yang merupakan perlengkapan penting dalam
     pemanenan kayu belum diberikan kepada penebang dan penyarad.
3. Petunjuk teknis penebangan dan penyaradan belum diberikan kepada penebang
     dan penyarad.
4. Kegiatan pasca pemanenan kayu yaitu penutupan jalan, penutupan jalan
     sarad, penutupan penyebrangan sementara, penutupan tambang dan
     penutupan TPn belum banyak yang dilakukan.
5. Implemantasi pemanenan hutan ramah lingkungan perlu ditingkatkan.

Kata kunci: Pemanenan hutan, ramah lingkungan, implementasi


Wibowo, Santiyo
Teknik pengolahan gambir di desa Siambaliang , kabupaten Dairi Sumatera Utara =
Technique of gambir processing on Siambaliang villagr, Diari distric North Sumatera /
Santiyo Wibowo, Totok K Waluyo. -- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.1 ;
Halaman 43-52 , 2005

     Gambir (Uncaria gambir Roxb.) merupakan salah satu hasil hutan bukan kayu yang
penting di Indonesia, digunakan secara tradisional untuk berbagai tujuan seperti campuran
makan sirih, obat, industri tekstil dan kulit. Salah satu sentra produksi gambir di Indonesia
adalah Kabupaten Dairi, Propinsi Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan mendapatkan
informasi tentang teknik pengolahan gambir di Desa Siambaliang, Kabupaten Dairi, Sumatera
Utara yang dilaksanakan pada bulan Desember 2002 dengan menggunakan metode deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan gambir dilakukan dengan teknik yang



                                                                                             126
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



sederhana dan tradisional, rendemen yang dihasilkan antara 4,2 - 4,8 persen dengan rata-rata
4,6persen.

Kata kunci: Gambir, Uncaria gambir Roxb., teknik pengolahan


Wibowo, Santiyo
Pengusahaan kulit kayu medang landit di desa Bulu Mario Sipirot Tapanuli Selatan
Sumatera Utara / Santiyo Wibowo.-- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 105-
112 , 2005

      Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengusahaan kulit kayu medang langit
(Persea spp) di desa Bulo Mario, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Data yang
dikumpulkan meliputi potensi, cara pemanenan, penanganan pasca panen, tata niaga,
dan kendala pengusahaan melalui teknik observasi dan wawancara. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa potensi pohon medang landit adalah 14 pohon/ha. Cara
pemanenan kulit medang landit dilakukan dengan menebang pohon, kayu belum
dimanfaatkan secara optimal, dan belum ada budidaya tanaman. Pohon medang langit
yang dipanen merupakan tanaman yang tumbuh di kawasan hutan baik hutan rakyat
maupun kawasan hutan Negara. Kulit kayu medang landit dimanfaatkan sebagai bahan
campuran pembuatan obat anti nyamuk bakar dan dupa (hio).

Kata kunci: Kulit kayu medang landit, pemanenan, obat anti nyamuk, dupa


Wibowo, Santiyo
Kajian pengolahan dan sistem pemasaran gula merah aren di desa Kuta Raja, Tiga
Binanga-Tanah Karo, Sumatera Utara / Santiyo Wibowo, Sentot Adi Sasmuko. -- Info
Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 41-49 , 2005

     Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengolahan dan sistem pemasaran gula
aren (Arenga pinnata Merr.) dilaksanakan di Desa Kuta Raja, Tiga Binanga, Tanah
Karo, Sumatera Utara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengolahan gula aren
dilakukan secara tradisional dengan teknik dan peralatan sederhana. Pohon aren
yang disadap merupakan tanaman yang tumbuh secara alami di lahan masyarakat
atau di kawasan' hutan dan belum dibudidayakan. Rantai pemasaran melibatkan
petani produsen, pedagang pengumpul dan pengecer. Perlu adanya
pembudidayaan aren dengan menggunakan bibit yang berkualitas, pembentukan
Koperasi Unit Desa (KUD) untuk memperbaiki sistem pemasaran dan membangun
kerjasama antara produsen dan perusahaan industri makanan.

Kata kunci: Gula aren, teknik pengolahan, sistem pemasaran




                                                                                             127
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Winarni, Ina
Beberapa catatan pohon penghasil biji tengkawang / Ina Winarni, E.S Sumadiwangsa
dan Dendi Setiawan. -- Info Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 17-25 , 2005

      Tengkawang merupakan maskot propinsi Kalimantan Barat tetapi manajemen
pohon tengkawang di hutan alam masih belum maksimal sehingga potensinya
menurun dengan tajam. Tulisan ini mengungkap manfaat pohon tengkawang
sebagai penghasil biji tengkawang ditinjau dari kualitas, produktivitas dan nilai
ekonomisnya. Mutu biji. tengkawang ditentukan kandungan lemak dan kandungan
asam lemak bebas (FFA). Semakin tinggi kandungan lemak dan semakin rendah
kandungan FFA, semakin tinggi pula mutunya. Pada periode tahun 1985 1989,
ekspor tengkawang Indonesia telah menghasilkan devisa sebesar $ 7.439.167,75 yang
berasal dari biji tengkawang sebanyak 10.677,01 ton. Nilai setiap ton biji tengkawang
yang diekspor bervariasi yaitu dari US$ 400 - 1400. Selain bijinya, kayu tengkawang
pada umumnya merupakan jenis meranti yang bernilai ekonomi cukup tinggi.
Apabila dinilai, maka dalani 1 ha pohon tengkawang akan menghasilkan
pendapatan sebesar Rp 82,5 juta (biji tengkawang) dan Rp 24-48 juta (kayu meranti)
yaitu apabila pohon tersebut sudah tidak mampu memproduksi buah tengkawang
lagi.
Manajemen pohon tengkawang di hutan alam akan maksimal yaitu, apabila
masyarakat menanam pohon tengkawang, manfaat yang diperoleh adalah secara
ekonomis meningkatkan pendapatan masyarakat dan dari aspek lingkungan turut
menjaga kelestarian hutan.

Kata kunci: Biji tengkawang, mutu tengkawang, nilai ekonomi, jenis meranti


Winarni, Ina
Produksi integrasi arang dan wood vinegar dari limbah kayu kaliandra / Ina Winarni,
Tjutju Nurhayati dan Dadang S. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan:
Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi
Produk Hasil Hutan : Halaman 159-164 , 2005

          Kebutuhan kayu di Indonesia semakin meningkat seiring dengan
bertambahnya jumlah penduduk dan kemajuan IPTEK. Sementara itu bahan baku kayu
semakin menurun akibat eksploitasi hutan yang tidak disertai dengan pengelolaan
hutan secara lestari. Salah satu upaya pemerintah adalah dengan adanya kebijakan
restrukturisasi sektor kehutanan yaitu pemenuhan kayu bukan dari hutan akan tetapi
berasal dari limbah/peremajaan atau hasil hutan bukan kayu lainnya.
          Kaliandra (Calliandra callothyrsus Meissn.) merupakan salah satu jenis
tanaman cepat tumbuh yang multiguna untuk pemecahan masalah tersebut.
Beberapa keunggulan kaliandra adalah : (1) mudah bertunas apabila dipangkas; (2)
menekan pertumbuhan alang-alang; (3) menyuburkan tanah; (4) mencegah terjadinya
erosi; (5) tahan terhadap naungan dan kekeringan; (6) tempat lebah untuk memproduksi
madu.


                                                                                          128
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



         Potensi dan manfaat kaliandra bagi masyarakat sekitar hutan adalah dari
keseluruhan bagian pohonnya, mulai dari perakaran sampai bagian daun dapat berguna
bagi yang menanamnya. Selain itu bagian limbah kayunya dapat menghasilkan arang
dan cuka kayu yang dapat digunakan maupun dijual untuk menambah pendapatan
masyarakat, begitu pula dengan madu yang dihasilkan oleh lebah yang berada pada
pohon tersebut.
         Kaliandra dapat menghasilkan kayu bakar sekitar 35-65 meter kubik per
ha/thn dengan berat jenis 0,67 g/cm3 dengan nilai kalor arang mencapai 6.500 kalf gr
berat kering. Selain itu secara bersamaan dalam produksi arang dapat diproduksi cuka
kayu sebagai hasil kondensasi dari asap buangan/limbah dari pembuatan arang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa produksi cuka kayu yang berasal dari kaliandra adalah
sebesar 229,57 kg/m.3. Sedangkan dari segi budidayanya kayu ini dapat memberi nilai
tambah yaitu dari bunga yang dapat dimanfaatkan oleh lebah penghasil madu. Sehingga
dapat dikatakan potensi kayu kaliandra bagi masyarakat sangat besar dan dapat
meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.

Kata kunci: Restrukturisasi kehutanan, kaliandra, arang, cuka kayu, madu


Winarni, Ina
Sekilas tentang jernang sebagai komoditi yang layak dikembangkan / Ina Winarni, Totok
K Waluyo, Poedji Hastoeti. -- Prosiding Ekspose Hasil-Hasil Litbang Hasil Hutan:
Penguatan Industri Kehutanan Melalui Peningkatan Efisiensi, Kualitas dan Diversifikasi
Produk Hasil Hutan : Halaman 177-184 , 2005

      Jernang sebagai salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu merupakan salah satu
andalan bagi masyarakat anak dalam (kubu) untuk memperoleh pendapatan. Jernang
sebagai penghasil resin berasal dari buah rotan jenis Daemonorops sp.
      Penyebaran rotan jernang meliputi Sumatera (Jambi) dan di Kalimantan, dan
komoditi ini telah diusahakan oleh masyarakat suku kubu secara intesif di Jambi.
Rendemen getah yang dihasilkan sekitar 20%, dengan harga jual pada para pengumpul
seharga Rp 250.000 s/d Rp 300.000, yang kemudian oleh pengumpul dijual kepada
pedagang besar seharga Rp 350.000 s/d Rp 450.000, yang selanjutnya diekspor ke
Singapura.
      Tulisan ini memuat sekilas tentang jernang yang layak dikembangkan untuk
meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat sekitar hutan.

Kata kunci: Jernang, penyebaran, rendemen


Yuniarti, Karnita
The effect of compression levels and sampling's position on log on rubinate uptake by
microwave-heated sitka spruce (Picea sitchensis (Bong) Carr) = Pengaruh tingkat
penekanan dan posisi pengambilan sampel pada dolok terhadap penyerapan rubinate
oleh sitka spruce yang dipanaskan dahulu dengan microwave / Karnita Yuniarti, Jeff Han.
-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.4 ; Halaman 317-325 , 2005


                                                                                         129
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



     Penggunaan energi mikrowave pada tingkat cukup tinggi dapat menyebabkan
perubahan dimensi kayu akibat patahnya beberapa struktur kayu yang lemah. Modifikasi
lebih lanjut dengan resin diikuti penekanan kayu selama proses fiksasi resin dapat
memperbaiki kualitas kayu tersebut. Penelitian ini benujuan untuk menganalisis pengaruh
penekanan selama proses fiksasi resin rubinate dan faktor posisi pengambilan sampel
kayu terhadap penyerapan rubinate oleh Sitka spruce yang sebelumnya dipanaskan
dengan mikrowave. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyerapan akhir dipengaruhi
oleh tingkat penekanan yang digunakan selama proses fiksasi resin dan kurang
dipengaruhi oleh faktor posisi pengambilan sampel kayu. Penyerapan akhir rubinate juga
dipengaruhi oleh interaksi antara kedua faktor tersebut.

Kata kunci: Tingkat penekanan, sitka spruce, mikrowave, rubinate


Yuniarti, Karnita
The effect of soaking period and sample's side surfaces on copper sulphate retention in
oven dried Radiata pine = Pengaruh lama perendaman dan bidang permukaan sampling
uji terhadap retensi tembaga sulfat pada kayu Pinus radiata kering oven / Karnita
Yuniarti, Jeff Hann.-- Jurnal Penelitian Hasil Hutan : Volume 23.No.5 ; Halaman 363-374
, 2005

       Penelitian bcrtujuan untuk menganalisa pengaruh lama perendaman dalam larutan
pengawet tembaga sulfal dan bidang permukaan samping yang terekspos terbadap nilai
retensi tembaga sulfat pada kayu Pinus radiata D.Donnj/atig dikeringkan dengan oven.
Hasilpenelitian menunjukkan nilai retensi tembaga sulfat dipengaruhi dengan sangat
nyata oleh faktor waktu rendam dan bidang permukaan samping contoh uji yang
terekspos selama proses nndaman. Nilai retensi tembaga sulfat tertinggi (91,10 kg/ m3)
dihasilkan melalui proses rendaman selama 1800 detik (30 me nit) dengan bidang
permukaan samping contoh uji yang terekspos adalah tangensial atas. Perendaman
selama 10 detik dengan membiarkan permukaan samping radial contoh uji yang
terekspos menghasilkan nilai retensi tembaga sulfat terendah (6,26 kg/m3).

Kata kunci; bidang permukaan samping, lama perendaman, tembaga sulfat, Pinus radiata


Yuniawati
Pemadatan tanah akibat lalu lintas traktor dalam pemanenan hutan / Yuniawati. -- Info
Hasil Hutan : Volume 11.No.1 ; Halaman 57-64 , 2005

    Pemadatan tanah adalah peningkatan berat isi dan pemampatan partikel tanah akibat
adanya beban dinamik, seperti traktor. Penggunaan traktor dalam pemanenan hutan dapat
menimbulkan pemadatan tanah yang menghambat pertumbuhan tanaman karena
pernapasan, penyerapan air dan hara oleh akar, serta aktivitas jasad hidup yang
menggemburkan tanah terhambat.



                                                                                            130
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



      Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa pemadatan tanah dipengaruhi oleh berat
dan banyak lintasan traktor yang melintas serta jenis dan kandungan air tanah. Berat
traktor yang sampai ke tanah bergantung kepada bidang tekanan roda traktor dalam
lintasan dan sifat tanah. Kepadatan tanah dapat dikurangi dengan menggunakan pola
lintasan yang sama, mengganti ban dengan rantai dan mengoperasikan pada saat tanah
kering.

Kata kunci: Traktor, pemadatan tanah, pemanenan hutan


Yuniawati
Beban kerja, keselamatan dan kesehatan kerja dalam pemanenan hutan / Yuniawati.--
Info Hasil Hutan : Volume 11.No.2 ; Halaman 129-137 , 2005


        Kegiatan pemanenan hutan merupakan salah satu hubungan kerja antara
manusia, peralatan, dan lingkungan kerja. Ketidak seimbangan hubungan antara ketiga
hal tersebut dapat menimbulkan kecelakaan kerja, yaitu: kematian, cacat atau penyakit,
kerusakan harta, penurunan produktivitas, turunnya citra perusahaan, dan kerusakan
lingkungan. Tulisan ini bertujuan untuk membahas tentang kecelakaan kerja yang sering
terjadi dalam pemanenan hutan serta upaya untuk mengatasinya. Data dan informasi
dalam pembahasan diperoleh dari rangkuman hasil – hasil penelitian dan rujukan
pustaka.
        Makin berat kerja yang dilakukan oleh otot semakin besar pula energi yang
dibutuhkan. Pekerjaan yang melebihi kemampuan tubuh menimbulkan kelelahan.
Kelelahan sebagai keadaan menurunnya kondisi fisik tubuh dan berkurangknya kekuata
dibedakan atas kelelahan psikologi dan fisiologi. Kelelahan adalah penyebab terjadinya
kecelakaan kerja disamping faktor lain seperti sikap tubuh dalam bekerja dan beban
tambahan dari lingkungan kerja.
        Tulisan ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang kecelakaan kerja
dalam pemanenan hutan dan upaya untuk mengatasinya sehingga keselamatan dan
kesehatan kerja dapat meningkatkan produktivitas pemanenan hutan.

Kata kunci: Pemanenan hutan, beban kerja, kelelahan, kecelakaan




                                                                                          131
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




                  SOSIAL BUDAYA DAN EKONOMI KEHUTANAN



Astana, Satria
Daya saing ekspor hasil hutan andalan setempat = Export competitiveness of local
mainstay forest products / Satria Astana. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 27-37 , 2005

        Permintaan hasil hutan, termasuk hasil hutan andalan setempat (H2AS), hingga
kini masih relatif tinggi. Kondisi demikian mengharuskan adanya upaya pengembangan
hasil hutan yang bersangkutan. Upaya pengembangannya memerlukan informasi
mengenai keunggulan komparatif dan kompetitif serta stabilitas daya saing ekspornya.
Selaras dengan masalah tersebut, penelitian bertujuan untuk mengkaji: 1) daya saing
ekspor, terutama keunggulan komparatif dan kompetitif H2AS, dan 2) stabilitas daya
saing ekspor H2AS. Penelitian dilakukan di Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur,
Jawa Timur dan Sulawesi Selatan pada bulan Nopember dan Desember 2002.
Keunggulan komparatif dan kompetitif berturut-turut diukur berdasarkan koefisien Biaya
Sumberdaya Domestik (k) dan Private Cost Ratio (PCR). Stabilitas daya saing ekspor
H2AS dianalisis berdasarkan kepekaan PCR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa H2AS
memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif serta stabilitas daya saing ekspor yang
tinggi. Ekspor minyak cendana belum tergoncang jika harga inputnya meningkat atau
harga outputnya menurun berturut-turut sampai 30% dan 20% dan untuk kerajinan kayu
cendana sampai 100% dan 40%, sedangkan ekspor kemiri mulai terguncang jika harga
inputnya meningkat atau harga outputnya menurun berturut-turut lebih dari 29% dan 20%
dan untuk buah tengkawang lebih dari 35% dan 23%. Dengan demikian, kebijakan
pengembangan beberapa hasil hutan tersebut dapat diarahkan masuk ke dalam kelompok
pengembangan budidaya tanaman ekspor daerah setempat.

Kata kunci: hasil hutan, keunggulan komparatif, keunggulan kompetitif, daya saing
            ekspor


Astana, Satria
Sistem tataniaga dan ketergantungan penduduk lokal dan ekonomi daerah pada hasil
hutan andalan setempat = Marketing system and dependency of local people and
regional economy on local mainstay forest products / Satria Astana. -- Jurnal Penelitian
Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 39-59 , 2005

       Kegiatan pengusahaan hasil hutan andalan setempat dimulai sejak penduduk
lokal mengenal sifat istimewa dan alamiah hasil hutan yang bersangkutan.
Pengusahaannya menjadi mata pencaharian utama atau kedua penduduk lokal hingga
kini. Seiring dengan tingginya permintaan Hasil Hutan Andalan Setempat (H2AS),
sementara potensi produksinya terus menurun, maka perlu upaya pengembangan.


                                                                                          132
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Untuk memahami permasalahan dalam pengembangannya, maka penelitian dilakukan.
Penelitian bertujuan untuk mengkaji: 1) sistem tataniaga hasil hutan andalan setempat, 2)
posisi tawar petani terhadap sistem tataniaga hasil hutan andalan setempat, dan 3)
tingkat ketergantungan penduduk lokal dan ekonomi daerah terhadap hasil hutan andalan
setempat. Penelitian dilakukan di Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur dan
Sulawesi Selatan pada bulan Nopember dan Desember 2002. Efisiensi sistem tataniaga
H2AS dianalisis berdasarkan tiga ukuran, yaitu: 1) panjang pendeknya rantai tataniaga,
2) struktur pasar, dan 3) besarnya marjin tataniaga. Ukuran ketergantungan penduduk lokal
pada H2AS menggunakan besarnyapendapatan yangdihasilkan dari H2AS,jumlah tenaga
kerja kegiatan produksi ke konsumsi, sedangkan ketergantungan ekonomi daerah pada
H2AS diukur menggunakan besarnya kontribusi H2AS terhadap Pendapatan Domestik
Regional Bruto (PDRB) dan Provisi Sumberdaya Hutan (PSDH) terhadap Pendapatan Asli
Daerah (PAD). Hasil penelitian menunjukkan ketergantungan penduduk terhadap H2AS
adalah tinggi, adapun kontribusi H2AS terhadap PDRB bervariasi dan terhadap PAD
adalah rendah. Sistem tataniaga H2AS tidak eflsien karena distfibusi laba memusat di
salah satu lembaga niaga. Kebijakan pengembangan H2ASdapatdilakukan melalui
upaya-upayaantaralain: l)budidayatanaman,2) pengembangan pasar, dan 3) penurunan
inefisiensi tataniaga melalui penyebaran informasi pasar dan perbaikan infrastruktur
(transportasi, komunikasi).

Kata kunci: Tataniaga, hasil hutan, penduduk lokal, ekonomi daerah


Astana, Satria
Mengukur peta potensi kekuatan politik: ilustrasi proses pengambilan kebijakan kasus
larangan eksport kayu bulat / Satria Astana. -- Info Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman
61-68 , 2005

       Kajian peta kekuatan politik di bidang kehutanan jarang jika tidak boleh dikatakan
belum pernah dilakukan. Tulisan ini memberikan ilustrasi dan implikasi bagi kepentingan
kelestarian hutan atau politik 'hijau". Kekuatan politik "hijau" bergantung pada politikus,
voters, grup penekan dan birokrasi. Wawasan lingkungan mereka menentukan
seberapa jauh aspirasi "hijau" diwujudkan ke dalam keputusan politik riil. Peran
pemerintah perlu ditempatkan untuk menjaga keseimbangan dalam permainan politik
stakeholders sehingga proses perubahan menuju pemanfaatan hutan lestari bisa
dikendalikan. Kebijakan pemerintah perlu berlandaskan pada process-based dan
bukan output-based. Kepentingan kelestarian hutan dapat terwujud jika proses
penguatan wawasan lingkungan di semua tingkatan berjalan efektif.

Kata Kunci: Kekuatan politik, kelestarian hutan, kebijakan ekspor, hutan alam, kayu
            bulat




                                                                                            133
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Astana, Satria
Analisis kebijakan ekspor kayu bulat dari hutan tanaman Acacia mangium = Export policy
analysis of log from plantation forest of Acacia mangium / Satria Astana.-- Jurnal
Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.2 ; Halaman 115-135 , 2005

        Lambannya pembangunan hutan tanaman disebabkan oleh banyak faktor.
Salah satunya adalah rendahnya harga kayu bulat di dalam negeri akibat kebijakan
larangan ekspor. Terdapat kekhawatiran yang luas terhadap harga kayu bulat yang
terus rendah. Kenyataannya, harga kayu bulat yang rendah bukan hanya menyebabkan
nilai pengembalian investasi dalam pembangunan hutan tanaman khususnya Acacia
mangium lebih rendah dari harga kapital yang digunakan tetapi juga mencegah
masuknya investasi baru. Ini pada gilirannya akan menyebabkan pembangunan hutan
tanaman mengalami stagnasi. Upaya mencegah dampak buruk yang lebih jauh dapat
dilakukan melalui intervensi kebijakan mengijinkan produksi kayu bulat dari hutan
tanaman khususnya Acacium mangium diekspor. Dalam kaitan ini, dampak kebijakan
ekspor kayu bulat perlu dikaji. Diukur dengan surplus produsen dan konsumen, hasil
penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria Kaldor-Hicks dampak kebijakan
ekspor kayu bulat dari hutan tanaman khususnya Acacium mangium tanpa atau dengan
pengenaan pajak ekspor non-prohibitive adalah lebih baik dibanding kebijakan
larangan ekspor.

Kata kunci: Kebijakan ekspor, kebijakan larangan ekspor, hutan tanaman,
            surplus produsen, suplus konsumen, Acacia mangium.


Astana, Satria
Dampak kebijakan pengurangan subsidi harga bahan bakar minyak terhadap kinerja
industri hasil hutan kayu = Impact of oil price subsidy reduction policy on performance of
wood products industry / Satria Astana ...[et al] . – Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan : Volume 2 No.4 ; Halaman 367-398 , 2005

       Sebagai suatu upaya meningkatkan efisiensi ekonomi, pemerintah secara
bertahap telah mengurangi subsidi harga bahan bakar minyak (SH-BBM). Tetapi
pelaksanaannya telah menimbulkan kontroversi. Dengan menggunakan model
ekonometrika, tujuan penelitian adalah mengkaji dampak kebijakan pengurangan
SH-BBM terhadap kinerja industri hasil hutan kayu, termasuk dampak kesejahteraan
sosialnya. Industri kayu olahan hulu yang dikaji adalah kayu bulat, kayu gergajian dan
kayu lapis. Model diduga dengan metode three-stage least squares, menggunakan data
sekunder rangkaian waktu tahun 1980-1996. Data dikumpulkan dari publikasi statistik
Departemen Kehutanan, Food and Agriculture Organization, International Monetary
Fund, dan Badan Pusat Statistik. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa pengurangan
SH-BBM menurunkan kinerja industri hasil hutan kayu, yang menyebabkan penurunan
dalam kesejahteraan sosialnya.




                                                                                           134
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Subsidi BBM, hasil hutan kayu, kebijakan, ekonometrika.



Cahyono, S. Andy
Tinjauan faktor kelayakan, keuntungan, dan kesinambungan pada pengembangan hutan
rakyat / S. Andy Cahyono, Nunung Puji Nugroho; Nur Ainun Jariyah. -- Info Sosial
Ekonomi : Volume 5 No.2 ; Halaman 99-107 , 2005

        Pengembangan hutan rakyat telah berlangsung lama dan memberikan manfaat
secara lingkungan, kesejahteraan dan keamanan hutan dan masyarakat sekitarnya.
Namun, pengembangan hutan rakyat yang hanya didasarkan pada aspek biofisik dan
silvikultur seringkali mengalami kegagalan. Hasil beberapa penelitian mengindikasikan
bahwa aspek kelayakan, keuntungan dan keberlanjutan menentukan suksesnya
pengembangan hutan rakyat. Tetapi, penelitian belum berhasil untuk mengoreksi
hasilnya untuk tujuan pengembangan hutan rakyat.

Kata kunci: hutan rakyat, kelayakan, keuntungan, kesinambungan


Dewi, Indah Novita
Kajian Sosial Ekonomi Budaya dan Persepsi Masyarakat sekitar Danau Tempe = Social
Economic Cultural Study and Perception of Community Around the temple Lake / Indah
Novita Dewi, Iwanuddin. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume
2.No.3 ; Halaman 259-268 , 2005

       Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November sampai dengan Desember
2002 dengan lokasi di lingkungan masyarakat sekitar danau tempe, terdiri dari 7
kelurahan/desa, yang tersebar dalam 3 kabupaten secara purposive. Tujuan penelitian
ini adalah untuk mengetahui karakteristik dan faktor sosial ekonomi dan budaya
masyarakat di sekitar Danau Tempe. Pengambilan sampel dilakukan secara acak
sederhana dengan jumlah responden 158 orang. Pengumpulan data dilakukan
dengan cara orientasi lapangan, wawancara maupun duplikasi data skunder. Analisis
data dilakukan dengan metode deskriptif kualitatif dan analisis Chi-kuadrat. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa masyarakat sekitar danau tempe memiliki karakteristik ;
mayoritas bermata pencaharian sebagai nelayan dan petani palawija, tingkat pendidikan
penduduk rendah, pendapatan tergantung musim. Hasil analisis Chi-kuadrat
menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap kelestarian Danau Tempe tidak
dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan maupun pendapatan masyarakat.

Kata kunci: Sosial Ekonomi Budaya, Persepsi, Danau Tempe, Chi-kuadrat




                                                                                        135
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Diniyati, Dian
Dinamika kelompok tani hutan rakyat: studi kasus di desa Kertayasa, Oja dan Sukorejo =
The dynamics of community forest farmer groups: cases study in villages of Kertayasa,
Boja and Sukorejo / Dian Diniyati. – Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan :
Volume 2 No.4 ; Halaman 333-347 , 2005

       Penelitian dinamika kelompok tani hutan rakyat ini dilaksanakan pada bulan
Nopember sampai Desember 2003 pada tiga desa di tiga kecamatan yaitu : Desa Boja,
Desa Kertayasa dan Desa Sukorejo. Jumlah petani yang bergabung didalam
kelompoktani diambil sebanyak 18 orang untuk dijadikan sebagai responden untuk
setiap desa dan ditentukan secara sengaja. Dinamika kelompok diidentifikasi dengan
menggunakan delapan faktor. Nilai kumulatif dari faktor sosial menunjukkan tingkat
kedinamikaan kelompok, dimana semakin tinggi nilai faktornya semakin dinamis
kelompok tersebut. Hasil penelitian menunjukkan kelompok tani di Desa Kertayasa
dan Desa Sukorejo tergolong kelompok yang dinamis, sementara kelompok tani di
Desa Boja termasuk kurang dinamis.

Kata kunci: Kelompok Tani, Dinamika Kelompok, Kategori


Dwiprabowo, Hariyatno
Kajian luas unit pengelolaan hutan produksi di luar Pulau Jawa = An analysis on forest
management unit size of production forest in outer Java / Hariyatno Dwi Prabowo. --
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 75-88 ,
2005

        Pengusahaan hutan produksi yang selama ini dilaksanakan dengan sistem Hak
Pengusahaan Hutan (HPH) diperkirakan tidak mampu lagi menghadapi tantangan yang
dihadapi sub sektor kehutanan untuk memenuhi kebutuhan kayu bulat di masa depan
mengingat menurunnya potensi hutan alam produksi. Kondisi hutan yang ada pada saat
ini adalah bersifat campuran antara hutan primer, bekas tebangan, dan lahan tidak
produktif dengan kecendrungan dua yang terakhir bertambah luas. Oleh karena itu perlu
dicari jalan keluar untuk menghadapi perubahan dan tantangan yang akan datang. Salah
satu alternatif adalah pembentukan unit-unit pengelolaan hutan sebagai pengganti sistem
HPH yang lebih fleksibel dalam hal luas serta sistem silvikulturnya. Tujuan kajian ini
adalah mencari luas minimal unit pengelolaan hutan yang secara finansial layak untuk
dikelola dengan sistem silvikultur tebang pilih dan tebang habis. Metoda yang digunakan
adalah program linear dengan kriteria finansial NPV dan IRR. Hasil kajian menunjukkan
bahwa secara umum luasan (minimal) unit pengelolaan hutan yang ekonomis dicapai
jika luas hutan primer di dalam unit pengelolaan sekurang-kurangnya sama atau lebih
besar daripada luasan non hutan primer (bekas tebangan dan tanah tidak produktif)
sedangkan luasan hutan primer di dalam unit pengelolaan sekurang-kurangnya 30 000 ha.

Kata kunci: Unit pengelolaan hutan, hak pengusahaan hutan, luas hutan minimum


                                                                                         136
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Ekawati, Sulistya
Kelembagaan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah pada tingkat mikro DAS,
kabupaten dan propinsi di era otonomi daerah = Land rehabilitation and conservation
institution at micro watershed, regency and province levels in the decentralization era /
Sulistya Ekawati ...[et al]. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume
2.No.2 ; Halaman 195-206 , 2005

           Selama ini penyelenggaraan Rehabilitasi Lahan dan Konservasi Tanah
(RLKT) dilakukan secara sentralistik, namun sejak adanya otonomi daerah,
kelembagaan RLKT mengalami restrukturisasi, karena kewenangan dan
pemanfaatan sumberdaya alam (termasuk penyelenggaraan RLKT) menjadi
wewenang daerah. RLKT merupakan salah satu kegiatan pengelolaan DAS yang utama
dan strategis. Pengelolaan DAS dilakukan melalui pendekatan ekosistem berdasarkan
prinsip satu sungai, satu rencana dan satu pengelolaan. Karena DAS tidak
mempunyai batas yang bertepatan (co-incided) dengan batas administrasi, maka
untuk DAS lintas kabupaten atau lintas propinsi memerlukan pendekatan khusus dalam
penyelenggaraan RLKT. Tujuan kajian adalah menyediakan informasi mengenai
kelembagaan (jenis dan mekanisme kerja) serta tata nilai yang ada dalam
penyelenggaraan RLKT pada tingkat Mikro DAS, kabupaten dan propinsi di era otonomi
daerah. Metode yang dipergunakan adalah dengan pendekatan partisipatif
dengan melakukan diskusi dan wawancara secara mendalam kepada partisipan.
Hasil kajian menunjukkan bahwa organisasi yang terlibat dalam penyelenggaraan
RLKT pada kategori penyelenggaraan RLKT pada kategori DAS lokal dan mikro DAS
dilakukan pemerintah kabupaten. Mekanisme kerja lembaga dalam penyelenggaraan
RLKT pada level DAS lokal, regional maupun nasional belum berjalan dengan baik.
Koordinasi antar lembaga dalam penyelenggaraan RLKT di DAS Progo sudah mulai
dirintis, namun demikian aplikasi lapangan belum berjalan dengan baik.Pandangan dan
komitmen kabupaten hulu, tengah dan hilir DAS terhadap RLKT adalah baik, karena
mereka sebenarnya sudah memahami manfaat dari pelaksanaan kegiatan RLKT.
Walaupun demikian masyarakat di daerah hulu, tengah dan hilir DAS belum bersedia
untuk melakukan sharing dalam pembiayaan RLKT.

Kata kunci: Kelembagaan, RLKT, otonomi daerah, jenis organisasi, mekanisme kerja

Ekawati, Sulistya
Monitoring dan evaluasi kondisi sosial ekonomi dalam pengelolaan daerah aliran sungai:
studi kasus di sub DAS Progo hulu = Monitoring and evaluation on socio economic
condition for watershed management: a case study on upper Progo sub watershed /
Sulistya Ekawati ...[et al] . -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume
2.No.2 ; Halaman 207-214 , 2005

       Pendekatan DAS sebagai satuan monitoring dan evaluasi (monev) saat ini
telah menjadi konsep yang universal, namun demikian monev yang banyak dilakukan
lebih ditekankan pada aspek biofisik. Aspek sosial ekonomi (sosek) masih dalam



                                                                                          137
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tahap monitoring dan belum pada tahap evaluasi (memberikan penilaian).Dengan
melakukan monev kondisi sosek suatu DAS, kita dapat mengetahui parameter sosek
mana yang lemah dan perlu untuk dibenahi, agar kegiatan pengelolaan DAS dapat
berkelanjutan.
        Kajian ini bertujuan untuk mengadakan monitoring dan evaluasi sosial ekonomi
masyarakat pada suatu DAS (Sub DAS Progo Hulu). Kajian dilakukan secara
partisipatif dengan diskusi kelompok (focus group discussion). Data yang terkumpul
ditabulasi untuk kemudian diberi skoring. Kriteria kesehatan DAS (dari aspek
sosial ekonomi) diklasifikasikan berdasarkan skor rata-rata.
        Hasil kajian Monitoring dan Evaluasi Kondisi Sosial Ekonomi DAS adalah :
1. Indikator sosial ekonomi DAS Progo Hulu mempunyai nilai rata-rata 2,05 (dari
     selang 1 = buruk sampai 3 = baik), berarti termasuk dalam kriteria baik.
2. Penyebab kondisi tersebut, ternyata berasal dari norma tentang konservasi tanah
     dan air, kepemilikan lahan yang sempit, konflik terhadap pemanfaatan sumberdaya
     alam DAS dan ketergantungan terhadap lahan pertanian.
3. Usulan pengelollan DAS ke depan untuk aspek sosial ekonomi sebaiknya
     dikonsentrasikan pada norma, kepemilikan lahan, konflik terhadap pemanfaatan
     sumberdaya alam DAS dan ketergantungan terhadap lahan pertanian.

Kata kunci: DAS, monitoring, evaluasi, sosial ekonomi


Ekawati, Sulistya
Efektivitas kelompok tani dalam pengelolaan hutan rakyat : studi kasus hutan rakyat
Wonogiri / Sulistya Ekawati; Nana Haryanti, Dewi Subaktini. -- Info Sosial Ekonomi :
Volume 5 No.2 ; Halaman 197-207 , 2005

        Hutan rakyat merupakan bagian kehidupan dart masyarakat di Kabupaten
Wonogiri. Hutan rakyat tidak hanya dipandang sebagai suatu komoditas kayu yang
bernilai ekonomi, namun disadari keberadaannya sebagai penjaga keseimbangan
ekosistem. Pembangunan hutan rakyat sangat tergantung pada dukungan
kelembagaan yang kuat dan stabil. Penelitian ini dilakukan pada tiga kelompok tani,
yang mewakili jenis tanaman hutan rakyat yang dominan di lokasi kajian, seperti jati,
mahoni dan pinus. Pengumpulan data pada kajian ini dilakukankan dengan metode
partisipatif. Hasil kajian menunjukkan bahwa kelompok tani hutan rakyat merupakan
organisasi statis, karena kurang dukungan sarana dan prasarana yang memadai.
Kegiatan kelompok yang mengarah pada upaya peningkatan produksi kayu belum
nampak, hal ini disebabkan karena hutan rakyat merupakan usaha tani sampingan.
Pengelolaan hutan rakyat mulai dari pembibitan sampai dengan pemasaran
dilakukan secara perorangan, belum terkoordinasi secara kelompok. Oleh karena
kelompok tani hutan rakyat perlu mendapat bimbingan dan pelatihan dalam rangka
pengembangan kelompok, baik yang menyangkut aspek teknisfpengelolaan
tanaman) maupun aspek kelembagaan (penataan organisasi).




                                                                                         138
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci: Hutan rakyat, kelembagaan, kelompok tani hutan rakyat


Ginoga, Kirsfianti
Karbon dan peranannya dalam meningkatkan kelayakan usaha hutan tanaman jati
(Tectona grandis) di KPH Saradan, Jawa Timur = Carbon and its role in enhancing
economic value of teak (Tectona grandis) plantation in Saradan forest resort, East Java /
Kirsfianti Ginoga, Yuliana C. Wulan, Deden Djaenudin.-- Jurnal Penelitian Sosial dan
Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.2 ; Halaman 149-167 , 2005

       Penelitian ini bertujuan untuk menghitung karbon dan pengaruh nilai karbon pada
kelayakan hutan tanaman Jati (Tectona grandis). Penelitian dilakukan di KPH
Saradan, Perum Perhutani Unit II, Jawa Timur. Metode perhitungan karbon
menggunakan model alometrik Biomasa (Brown dan Vademikum Kehutanan) karena
model ini sangat sederhana serta mengakomodasi variabel yang lebih banyak. Dengan
kondisi tanah yang relatif kurang subur, pada akhir daur (60 tahun), Jati menghasilkan
karbon per hektar berturut-turut sebesar 348,08 (Brown, 1997) dan 520,46 ton C/ha
(Vademecum Kehutanan, 1976). Perkiraan biaya karbon berdasarkan pembuatan
hutan tanaman per ton adalah sebesar Rp. 22.194 dihitung berdasarkan pembuatan
hutan tanaman. Ditambahkannya nilai karbon akan meningkatkan kelayakan hutan
tanaman, yang diindikasikan dengan meningkatnya IRR perusahaan sebesar 2%, dan
NPV sebesar 73%. Implikasinya adalah dengan kondisi sekarang (daur panjang,
resiko tinggi) pembangunan hutan tanaman jati layak untuk diusahakan terutama
apabila nilai karbon dimasukan, karena itu perlu diteruskan.

Kata Kunci: Hutan Tanaman Jati,, Diskon Faktor, Penyerapan Karbon, Harga Karbon


Ginoga, Kirsfianti
Kajian kebijakan pengelolaan hutan lindung = Policy analysis of protection forest
management / Kirsfianti Ginoga, Mega Lugina, Deden Djaenudin.-- Jurnal Penelitian
Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.2 ; Halaman 169-194 , 2005

        Permasalahan hutan lindung Indonesia sudah sangat kritis, penurunan luas dan
kerusakan hutan lindung sejak 1997 sampai 2002 dua kali lebih besar dari kerusakan
hutan produksi. Melihat kondisi yang demikian, muncul beberapa pertanyaan mendasar,
seperti sejauh mana kebijakan dan peraturan perundangan yang ada mendukung ke arah
pengelolaan hutan lindung yang berkelanjutan? Adakah dampak kebijakan ini terhadap
pengelolaan hutan lindung? Sudah tepatkah kebijakan dan peraturan perundangan yang
ada sehingga mendukung ke arah tujuan dari peruntukkan kawasan hutan lindung
tersebut? Kajian tentang kebijakan pengelolaan hutan lindung ini selain bertujuan untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, juga bertujuan untuk mengkaji kebijakan
dan peraturan perundangan terkini yang berkaitan dengan pengelolaan hutan
lindung. Secara lebih khusus, penelitian ini bertujuan untuk (i) mengidentifikasi



                                                                                          139
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



kebijakan dan peraturan perundangan yang mengatur secara langsung maupun tidak
langsung hutan lindung, mulai tingkat pusat sampai daerah, (ii) menelaah kebijakan dan
peraturan perundangan, termasuk mengkaji konsistensi dan sinkronisasi kebijakan tersebut,
(iii) mengetahui kondisi hutan lindung saat ini, dan (iv) merekomendasikan kebijakan
pengelolaan hutan lindung yang diperlukan untuk mencapai pembangunan hutan
lindung yang berkelanjutan.
         Hasil kajian terhadap 83 peraturan yang mengatur hutan lindung, menunjukkan
masih belum jelas dan terarahnya kebijakan pengelolaan hutan lindung yang berkelanjutan.
Walaupun berbagai perundangan mulai dari UU No. 41/1999, PP 44/2004, PP 34/2002,
Keppres 32/1990 sudah secara jelas menyebutkan fungsi, peranan dan kriteria hutan
lindung, serta bentuk pemanfaatan yang dapat dilakukan di atasnya. Tetapi
perundangan yang sama masih mengijinkan perubahan penggunaan areal hutan lindung
untuk kepentingan penggunaan di luar kehutanan, termasuk pertambangan tertutup.
Sehingga keberadaan hutan lindung menurut peraturan perundangan masih dilematis.
Secara lebih rinci persoalan dalam kebijakan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama,
masih terdapat perbedaan mendasar antar perundangan tentang istilah-istilah yang
berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan lindung. Kedua, adanya dualisme
kebijakan pemerintah, dimana di satu sisi berupaya untuk melindungi kawasan lindung
dan menetapkan aturan-aturan untuk melestarikannya, tapi di sisi lain membuka
peluang kawasan hutan lindung tersebut untuk dieksploitasi. Ketiga, belum terlihatnya
harmonisasi kebijakan yang dapat menjadi dasar dan acuan dalam pengelolaan hutan
lindung di daerah. Keempat, adanya kebijakan yang overlapping dan membingungkan
pelaksana Iapangan. Kelima, kurangnya apresiasi pemerintah kabupaten terhadap fungsi
ekologis dari hutan lindung sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk
mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, dan mencegah intrusi air laut.
Keenam, tidak mengacunya kebijakan yang lebih rendah kepada peraturan yang
berkaitan erat yang berada diatasnya. Penelitian ini menyarankan perlunya
meningkatkan kebijakan terutama dalam hal : (i) mewujudkan persamaan persepsi
tentang fungsi hutan lindung antar instansi yang terkait dalam pengelolaan hutan lindung,
dan (ii) kebijakan yang komprehensif, integrated, dan tidak overlapping.

Kata Kunci: Kebijakan, Peraturan perundangan, Instrumen Kebijakan, Hutan Lindung,
            Konsistensi dan Sinkronisasi, Reklamasi


Handadhari, Transtoto
Analisis pungutan rente ekonomi kayu bulat hutan tanaman industri di Indonesia =
Economic rent analysis of timber estate log production in Indonesia / Transtoto
Handadhari ...[et al] .-- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.2
; Halaman 137-148 , 2005

      Rendahnya perolehan pungutan kayu bulat hutan tanaman industri, di samping
karena lambatnya pembangunan hutan tanaman, juga dikarenakan sistem
pemungutan rente ekonomi yang lemah. Kebijakan pengurangan produksi kayu bulat


                                                                                          140
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



hutan alam, dan rencana pembangunan hutan tanaman ke depan mendorong perlunya
dilakukan perbaikan sistem pungutan rente ekonomi kayu bulat hutan tanaman.
Kata kunci: Hutan tanaman, keuntungan usaha, pungutan kayu bulat dan rente
             ekonomi


Hakim, Ismatul
Penguatan kelembagaan dalam pengelolaan DAS Solo / Ismatul Hakim. -- Info Sosial
Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman 209-217 , 2005

        Daerah Aliran Sungai (DAS) Solo merupakan sumber kehidupan bagi
masyarakat di Pulau Janva baik yang berada di bagian hulunya, bagian tengahnya
maupun bagian hilirnya. DAS Solo memberikan manfaat bagi pengairan lahan
pertanian (sawah), pemenuhan hajat hidup masyarakat sehari-hari (mandi, cuci,
kakus) bagi masyarakat pedesaan, dan bagi pemenuhan kebutuhan industri danjasa
(air) di perkotaan. Akan tetapi kondisi DAS Solo saat ini sudah sangat kritis sejalan
dengan kemampuan daya dukungnya sebagai penampung saluran air di musim hujan
dan kekeringan di musim kemarau. Hal ini akibat kondisi land use (penggunaan
lahan) yang sudah over capacity, sehingga mengakibatkan tingginya tingkat
sedimentasi dan erosi tanah di bagian atasnya di sepanjang aliran DAS Solo.
Sehingga pengelolaan DAS Solo harus tetap memperhatikan kondisi fisik
ekosistemnya dari hulu sampai hilir. Oleh karena itu, penanganan DAS Solo mulai dari
tahap perencanaan, pengelolaan, penggunaan lahan sekitarnya dan monitoring-
evaluasinya harus terintegrasi. Pengelolaan DAS Solo dari sisi teknologi, management
dan kelembagaannya sudah relatif lebih intensif dibandingkan dengan DAS-DAS
lainnya di tanah air, dimana sudah besar investasi dalam bentuk proyek dan Bantuan
Luar Negeri yang dikeluarkan sejak peristiwa banjir tahun 1966 yang melanda
karesiden Surakarta. Dengan adanya desentralisasi pembangunan, maka terdapat
kecenderungan adanya tarik menarik kepentingan antara berbagai instansi yang
terlibat dalam pengelolaan DAS Solo pada setiap sektor dan tingkatan pemerintahan
(pusat dan daerah). Setelah keluarnya UU Kehutanan No. 41 Tahun 1999,
pengelolaan DAS tidak memiliki payung hukum dan peraturan yang mengaturnya.
Sehingga kecenderungannya setiap sektor dan instansi bekerja sendiri-sendiri
tergantung kepentingannya, meskipun saat ini sudah ada pembagian kerja antara
instansi seperti Departemen Kehutanan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen
Dalam Negeri (di pusat). Akan tetapi banyak muncul permasalahan di daerah dalam
kaitannya dengan batasan wilayah administratif (propinsi dan kabupaten), sehingga
perlu dikembangan sistim kolaborasi dalam pengelolaan DAS dan sistim koordinasi
yang baik antara berbagai instansi terkait (multi-stakeholder). Oleh karena itu, kunci
utama keberhasilan dalam pengelolaan DAS Solo adalah penguatan kelembagaannya
sehingga antara instansi terkait terjadi kesepahaman, sinergitas dan kebersamaan
dalam pengelolaan DAS Solo. Dalam kaitannya dengan kondisi kekritisan yang
meningkat di banyak DAS di seluruh tanah air, dengan mengambil contoh
pengelolaan DAS Solo sudah saatnya di tingkat pusat dibentuk Badan Khusus yang
bertanggung jawab dalam pengelolaan DAS yang sifatnya lintas instansi dan pada


                                                                                         141
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



setiap tingkat dengan menggabungkan bagian/kegiatan yang ada kaitannya
dengan Pengelolaan DAS seperti Dep. Kehutanan, Dep. Pertanian, Dep. Pekerjaan
Umum, Dep. Dalam Negeri dan Kantor Meneg Lingkungan Hidup. Jika setiap instansi
berjalan sendiri-sendiri maka masyarakat akan terkotak-kotak, sehingga menjadi tidak
berdaya. Keberhasilan kita merehabilitasi lahan dan hutan tergantung dari sampai
dimana tingkat partisipasi masyarakat didalamnya, terutama dalam kaitannya dengan
kesinambungan kegiatannya setelah proyek selesai. Untuk itu salah satunya adalah
dengan memberdayakan potensi SDM lembaga-lembaga yang mengakar di pedesaan
seperti pondok pesantren, kelompok tani, kelompok swadaya masyarakat (KSM) dan
lain-lain.

Kata Kunci: Kelembagaan, Pengelolaan, Daerah Aliran Sungai, DAS Solo


Hakim, Ismatul
Sentralisasi sektor kehutanan menghadapi reformasi birokrasi; suatu telaahan bagi
agenda penelitian kebijakan / Ismatul Hakim. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ;
Halaman 233-256 , 2005

        Proses desentralisasi sektor kehutanan yang terhambat selama ini disebabkan
oleh belum jelasnya kegiatan dan program prioritas kehutanan apa yang harus
dilaksanakan. Yang dipahami oleh masyarakat saat ini bahwa : kerusakan hutan dan
lahan pencurian kayu terjadi dimana-mana, sedangkan laju perbaikan dan
penanaman tanaman hutan masih sarat dengan masalah. Hal ini disebabkan oleh
terlalu lamanya kita berada dalam suasana yang sentralistis di masa Pemerintahan
Orde Baru yang dicirikan beberapa hal diantaranya arogansi kekuasaan (birokrasi),
ketertutupan dan tidak transparanan dalam manajemen (pengelolaan), polat
pendekatan struktural (kaku) dari atas ke bawah, statis dan monolog, serta
berorientasi pada target keproyekan. Sementara itu, proses dan dinamika
masyarakat dan kelembagaannya kurang diperhatikan dengan baik. Oleh sebab itu,
beberapa prioritas kegiatan dan program dalam pembangunan kehutanan yang
menonjol sesuai dengan kondisi dan permasalahan saat ini adalah :
1. Pola Tataguna dan Penataan hutan sebagai prakondisi pembangunan
     (kehutanan) harus sudah jelas dan mudah dipahami oleh semua pihak
     (stakeholder). Di masa depan, sudah saatnya harus ditetapkan mana yang
     kawasan hutan dan mana yang bukan kawasan hutan yang harus dipertahankan.
     Pola Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) harus dikaji ulang oleh semua
     stakeholder. Penggunaan istilah Hutan Alam yang digenjot untuk produksi hasil
     hutan (kayu) selama ini harus jelas kapan akan kita akhiri. Eksploitasi dan
     penebangan hanya dapat dilakukan oleh siapa saja pengelola yang menanam pada
     hutan/lahan yang ditanami sendiri. Jika masih ada hutan (alam) yang dieksploitasi
     maka harus terbuka dan transparan kepada publik, karena ada hak- hak
     masyarakat di dalamnya. Ke depan kita hanya harus bangga dengan sebutan
     Departemen Penanaman Hutan, daripada Kerusakan Hutan dan Illegal
     Logging. Tentang kawasan hutan yang akan dan sudah dikonversi sudah



                                                                                         142
                                               Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



     saatnya dikonsolidasikan dan dikoordinasikan dengan Rancangan Umum Tata
     Ruang Nasional (RUTRN dan RTRWP) dengan instansi terkait seperti Bappenas,
     Badan Pertanahan Nasional (BPN) dan Bappeda di tingkat propinsi/kabupaten.
2.   Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti Perum Perhutani di Pulau Jawa dan PT.
     Inhutani di Luar Jawa harus menjadi contoh (teladan) dalam hal
     keberhasilannya membangun Hutan Tanaman (Kebun Kayu) dan produksi hasil
     hutan (kayu) kepada swasta dan masyarakat luas.          BUMN harus dapat
     membina dan membimbing usaha swasta seperti perusahaan HTI dan
     masyarakat dalam mengembangkan Hutan Rakyatnya terutama dari segi
     ilmu pengetahuan dan teknologi, manajemen dan kelembagaannya. Di Pulau
     Jawa, Hutan Rakyat telah banyak berhasil menggerakkan roda ekonomi dan usaha
     masyarakat terutama di kelompok usaha kecil, menengah dan kelompok
     tani/koperasi hutan di pedesaan.         Pemerintah dan BUMN harus dapat
     merangsang dan memfasilitasi kemudahan di bidang Iptek, manajemen dan
     kelembagaan pengelolaan-Hutan Rakyat,
3.   Yang termasuk dalam kategori Hutan (alam), lebih-lebih yang saat ini kita
     kenal sebagai Hutan lindung, Hutan/Kawasan Konservasi, Suaka Alam, Cagar
     Alam atau Suaka Marga satwa harus dijaga dan dilindungi oleh semua pihak
     terutama Pimpinan Nasional, Pimpinan Daerah dan masyarakat luas. Perlu
     membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya fungsi lindung dan
     fungsi konservasi (public awareness) hutan.         Masyarakat akan dapat
     membangun kelembagaan dan hukumnya sendiri dengan penuh kesadaran akan
     eksistensi hutan dan koservasi alam. Hutan dan kawasan konservasi menjadi
     tanggung jawab semua pihak (multi-stakeholder). Pemerintah (pusat dan
     daerah) harus membangun kepercayaan baru kepada semua pihak dan
     masyarakat karena selama ini terkesan Pemerintah seperti pemilik hutan, bukan
     pengatur, pengurus dan penata hutan. Selama ini hutan/kawasan hutan adalah
     monopoli dalam penguasaan hutan/kawasan hutan.
4.   Penanganan lahan kritis dan Daerah Aliran Sungai (DAS) sudah saatnya
     dibuat kelembagaan khusus (otonom) di tingkat pusat (dan daerah) yang
     melibatkan semua pihak terkait dari hulu sampai ke hilir dalam kerangka
     Pengelolaan Sumber Daya Air secara terpadu untuk mengembalikan fungsi
     ekologis dan hidroorologis dari hutan/lahan bagi kelestarian ekosistem
     kehidupan manusia. Embrio kelembagaan baru dalam Pengelolan DAS atau
     Sumber Daya Air terdiri dari unsur Departemen Pertanian, Departemen
     Kehutanan, Departemen Perikanan dan Kelautan, Departemen Pekerjaan Umum,
     Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral serta Kementerian Lingkungan
     Hidup. Pendekatan multi-pihak secara kolaboratif dalam pengelolaan DAS atau
     Sumber Daya Air (SDA) harus semakin ditingkatkan.
5.   Proses desentralisasi dalam pembangunan sektor kehutanan baru dapat
     berjalan setelah adanya kemauan dan kesanggupan semua pihak terutama
     Pemerintah (pusat, propinsi dan daerah) untuk berkolaborasi dalam mengelola
     Sumber Daya Hutan atas dasar kesadaran, komitmen dan pemahaman yang
     sama terhadap fungsi dan peran Sumber Daya Alam (Hutan). Jika belum ada
     kesamaan antara para pihak, maka percuma saja kita bicara tentang
     pemberdayaan masyarakat. Di lain pihak, sebaliknya pemerintah akan


                                                                                       143
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



   tertinggal oleh masyarakat di desa dan di sekitar hutan yang sudah banyak
   berhasil membangun hutan rakyat. Dan sudah saatnya, justru pemerintah
   harus belajar dari masyarakat dalam mengelola lahan dan hutan.
6. Dalam menuju desentralisasi sektor kehutanan secara terarah, maka
   berbagai kebekuan yang masih tersisa dalam birokrasi terutama di tingkat pusat
   yang masih bernuansa kekuasaan, memusat, tertutup, monolog, kaku dan
   statis dalam pola kepemimpinan, pengambilan keputusan, rekrutmen pejabat,
   struktur organisasi dan kultur kerjanya harus segera dicairkan. Pola pendekatan
   fungsional lebih diperlukan dalam rangka reformasi birokrasi di sektor
   kehutanan, karena sudah terlalu banyaknya permasalahan yang muncul di
   permukaan. Sebagai konsekwensinya, maka setiap orang dituntut untuk dapat
   meningkatkan kinerjanya dan prestasi kerjanya dalam menangani berbagai
   permasalahan dan melaksanakan suatu program di lapangan. Dengan cara
   ini, dapat dibedakan antara akuntabilitas perorangan dan akuntabilitas pimpinan
   instnasi. Jabatan, proyek maupun kegiatan ditawarkan secara terbuka. Pola
   seperti ini yang akan dapat membersihkan berbagai bentuk manipulasi dan
   korupsi di birokrasi (KKN) akibat sudah terlalu bernuansa politis. Tidak perlu
   terjadi diskriminasi antara tenaga struktural dan tenaga fungsional di birokrasi, akan
   tetapi kepemimpinan dan kelembagaan kehutaan diisi atas dasar kapasitas
   dan kemampuan seseorang (profesionalisme). Oleh karena itu, peran tenaga
   fungsional seperti peneliti, widyaiswara, penyuluh dan dosen serta aktivis
   LSM harus lebih difungsikan dalam melakukan reformasi birokrasi di bidang
   kehutanan. Dengan demikian tidak ada lagi kesan kumuh di birokrasi.

Kata Kunci:    Desentralisasi,    pemberdayaan     masyarakat,     kelembagaan,
               multi-stakeholder, public awareness, forest for people, reformasi
               birokrasi.


Haryanti, Nana
Kondisi sosial masyarakat Merawu dan sub DAS Batang Bungo = Social condition of
community at Merawu and Batang Bungo Sub Watersheds / Nana Haryanti; Paimin,
Sukresno. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.3 ;
Halaman 231-244 , 2005

        Fungsi daerah aliras sungai (DAS) sebagai suatu ekosistem tidak hanya
bertumpu pada kawasan hutan saja, namun juga meliputi kawasan budidaya tanaman
dan kawasan pemukiman. Oleh karena itu pengelolaan DAS perlu memberikan
perhatian pada manusia dan aktivitasnya sebagai bagian dari sistem DAS. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kondisi sosial masyarakat di sub DAS
Merawu dan Bungo, dan pola bagaimana mereka mengelola sumber daya alamnya.
Penelitian dilakukan di sub DAS Merawu dan Batang Bungo. Metode observasi
dan interview digunakan untuk mengurapulkan data. Tujuan dari observasi dan
interview adalah untuk mengeksplorasi kondisi sosial dari petani dan
mengembangkan kejadian-kejadian, aktivitas, dan persepsi dari subyek penelitian.


                                                                                          144
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Data kemudian dianalisa secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan kondisi sosial pada masyarakat sub DAS Merawu dan Batang
Bungo, yang dipengaruhi oleh interaksi antara kondisi sosial dan alam. Hulu sub DAS
Merawu adalah lahan kering dan dimanfaatkan untuk pertanian tanaman semusim, dan
lahan di hilir sub DAS Merawu adalah persawahan. Lahan di sub DAS Bungo
dimanfaatkan untuk perkebunan karet, keadaan ini disebabkan lahan tidak
memungkinkan dimanfaatkan untuk pertanian tanaman semusim secara intensif.
Kegiatan dasar wilayah baik di sub DAS Merawu dan Bungo adalah sektor pertanian.
Tingkat pendidikan responden umumnya masih rendah, berakibat pada rendahnya
praktek konservasi tanah karena rendahnya pengetahuan dan pemahaman mengenai
konservasi terutama di sub DAS Bungo. Sementara itu rendahnya praktek
konservasi tanah di sub DAS Merawu lebih disebabkan oleh pertanian lahan kering.
Kontribusi pertanian pada pendapatan rumah tangga di sub DAS Merawu adalah 95%
berasal dari pertanian lahan kering, sedangkan di sub DAS Bungo kontribusi sektor
pertanian mencapai 68% berasal dari perkebunan karet. Jumlah petani besar dengan
kepemilikan lahan lebih dari 1 Ha di Sub DAS Merawu sebesar 33,3%, dan jumlah
petani besar dengan kepemilikan lahan lebih dari 3 Ha di sub DAS Bungo adalah
36,2%. Luas kepemilikan lahan di Jawa akan berpengaruh pada status sosial dalam
masyarakat, sedangkan di Sumatra status sosial dalam masyarakat lebih dipengaruhi
oleh kemampuan dan kecakapan.

Kata kunci: Aktivitas manusia, pemanfaatan lahan, kondisi sosial dan alam


Hastanti, Baharinawati W.
Kajian sosial ekonomi dan budaya masyarakat Suku Moi di sekitar C.A. Peg. Cyclolps di
Jayapura / Baharinawati W. Hastanti, Iga Nurapriyanto. -- Info Sosial Ekonomi : Volume
5 No.3 ; Halaman 271-281 , 2005

       Penduduk di kawasan Cagar Alam Pegunungan Cycloops dikhawatirkan akan
memberi ancaman terhadap kelestariannya, terutama akibat pemenuhan
kebutuhan hidup masyarakat, sehingga dibutuhkan penelitian untuk mengetahui
kondisi sosial ekonomi dan budaya masyrakat di sekitarnya. Hasil penelitian
menunjukkan penduduk di kawasan C.A. Peg. Cycloops dikawatirkan merupakan
ancaman tekanan terhadap kawasan hutan. Akibat pemenuhan kebutuhan sehari-hari
seperti lahan pertanian, kebutuhan pangan yang akan meningkatkan kerusakan
kawasan C.A. Peg Cycloops. Pada kawasan tersebut terdapat masyarakat adat yang
hidupnya masih tergantung pada hutan, dengan tingkat kehidupan yang relatif
sederhana baik ekonomi, teknologi maupun pengetahuan.

Kata kunci: Sosial, ekonomi, budaya, masyarakat Suku Moi




                                                                                         145
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Hayati, Nur
Kearifan tradisional masyarakat adat dalam pengelolaan hutan adat Rumbio di
Kabupaten Kampar, Propinsi Riau / Nur Hayati. -- Info Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ;
Halaman 81-91 , 2005

         Penelitian ini dilakukan terhadap masyarakat adat yang tinggal di sekitar hutan
adat Rumbio, Propinsi Riau. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kearifan
tradisional masyarakat adat Rumbio dalam mempertahankan hutan adat dan
menginformasikan keberadaan unsur-unsur budaya konservatif yang dimiliki
masyarakat adat sehingga dapat diberdayakan dalam pelaksanaan pengelolaan hutan
adat/rakyat. Metode pengambilan data dilakukan dengan wawancara langsung dan
berdasarkan kuisioner untuk mengumpulkan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
masyarakat adat Rumbio memiliki kearifan lokal dalam memanfaatkan dan mengelola
sumberdaya alam yang ada di sekitar mereka, baik yang berkaitan dengan flora,
fauna maupun ekosistem secara keseluruhan disamping itu juga masih terdapat nilai-
nilai budaya konservasi di dalam masyarakat Rumbio yang ditunjukkan oleh aturan
adat yang melarang penebangan tanaman yang ada di hutan ulayat, sanksi yang berat
kepada para penebang kayu, dan inisiatif adat untuk melakukan penanaman
kembali tanaman yang ditebang untuk keperluan khusus

Kata kunci: Kearifan tradisional, masyarakat adat Rumbio, hutan adat Rumbio


Irawanti, Setiasih
Rehabilitasi mangrove secara swadaya : belajar dari masyarakat Sinjai / Setiasih
Irawanti, Kuncoro Ariawan. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.2 ; Halaman 187-196 ,
2005

       Tekanan terhadap keberadaan hutan mangrove berlangsung sejalan dengan taju
pertumbuhan penduduk, karenanya pengelolaan hutan mangrove seyogyanya
memenuhi persyaratan ekologis, disamping menguntungkan secara ekonomis serta
diterima oleh masyarakat setempat. Ada berbagai faktor alam yang perlu diperhatikan
untuk mendukung keberhasilan budidaya mangrove, seperti jenis tanah, ombak air laut,
kalender musim dan Iain-lain. Rehabilitasi mangrove seyogyanya dilaksanakan pada
musim angin bertiup dari arah darat, sehingga diperlukan sumber pembiayaan yang
luwes yang secara administratif dapat digunakan pada musim tanam. Tanaman muda
mangrove membutuhkan sentuhan tangan pencintanya, setidaknya setiap 3 (tiga) hari
sekali selama 3 tahun pertama sejak penanaman, sampai akar nafas yang tumbuh
dari samping telah menancap ke dalam lumpur. Kebersamaan diantara anggota
masyarakat merupakan modal dasar keberhasilan rehabilitasi mangrove secara
swadaya, sehingga dapat dibakukan dalam bentuk kelompok. Ekosistem mangrove di
Kabupaten Sinjai merupakan hasil rehabilitasi yang awalnya dilakukan secara
swadaya oleh masyarakat setempat untuk tujuan pengamanan lingkungan, melindungi
pemukiman dari gempuran ombak dan tiupan angin kencang. Dalam
perkembangannya, masyarakat berharap mendapatkan manfaat ekonomi dari tanaman



                                                                                          146
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



mangrove, yang ditempuh dengan cara mengkonversinya menjadi tambak untuk
budidaya udang dan bandeng, namun masyarakat selalu membangun tanaman -
bakau baru di sempadan pantai sehingga tercapai ketebalan sekitar 600 m sebagai
green belt yang dipandang mampu mengamankan dari gempuran ombak. Dalam
puluhan tahun, proses tersebut akan menghasilkan daratan baru di kawasan pesisir
berupa daerah pertambakan. Pemerintah Daerah (PEMDA) memberikan insentif
kepada masyarakat berupa kepastian hak atas lahan tambak dalam bentuk Surat
Keterangan Tanah (SKT) dan wajib membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB).

Kata kunci: Mangrove, rehabilitasi, Sinjai, swadaya


Jariyah, Nur Ainun
Study ketersediaan kayu rakyat di kabupaten Wonogiri = A study on potential supply of
private forest in Wonigiri district / Nur Ainun Jariyah, S Andi Cahyono. -- Jurnal Penelitian
Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 61-74 , 2005

        Pasokan kayu dari hutan alam mengalami penurunan dan tidak akan mampu lagi
sebagai pemasok utama kebutuhan industri kayu. Pada masa mendatang Pasokan kayu
diharapkan berasal dari HTI, hutan rakyat dan perkebunan. Tujuan dari kajian adalah
untuk memberikan informasi kondisi hutan rakyat dan ketersediaan kayu rakyat di
Kabupaten Wonogiri. Metode yang digunakan adalah stratifikasi random sampling. Lokasi
kajian di Desa Karangtengah, Desa Ngelo dan Desa Sumberejo.
        Analisa yang digunakan adalah deskriptif. Hasil kajian adalah 1) Pemilihan
tanaman kayu dan kombinasinya sangat berpengaruh terhadap potensi hutan rakyat
yang dimiliki, 2) Hutan Rakyat di Wonogiri beragam dilihat dari jenis tanaman, kombinasi
tanaman, potensi dan penguasahaannya, 3) Kerapatan pohon tertinggi diperoleh pada
strata 2 di Desa Karangtengah sebesar 413 pohon/ha, 4) Rata-rata potensi riap hutan rakyat
di Kabupaten Wonogiri sebesar 8.36 m'/ha, ketersedian kayu di Kabupaten Wonogiri
sebesar 138 745.74 mVth.

Kata kunci : Hutan rakyat, permintaan kayu, pasokan kayu


Jariyah, Nur Ainun
Peranan pendapatan dari penyadapan getah Pinus merkusii terhadap pendapatan rumah
tangga : Studi kasus di Desa Burat, RPH Gebang, BKPH Purworejo, KPH Kedu Selatan,
Propinsi Jawa Tengah = Share of Pinus merkusii Resin tapping earning to household
income : A case study at the Burat Village, RPH Gebang, BKPH Purworejo, KPH South
Kedu, Central Java Province / Nur Ainun Jariyah. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi
Kehutanan : Volume 2.No.3 ; Halaman 269-277 , 2005

      Petani di sekitar hutan mempunyai banyak sumber pendapatan salah satunya
adalah dari upah penyadapan pinus. Meskipun demikian masih sedikit informasi



                                                                                             147
                                                          Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



tentang pendapatan dari penyadapan getah pinus. Kajian ini dilaksanakan di Desa
Burat, RPH Gebang, BKPH Purworejo, KPH Kedu Selatan, Propinsi Jawa Tengah.
Upah penyadapan Pinus merkusii meningkatkan pendapatan rumah tangga sebesar
61,5%. Pendapatan rumah tangga tanpa upah penyadapan sebesar Rp.
371.100,00/tahun dan dengan upah penyadapan pinus menjadi Rp. 963.660,00/tahun.
Berdasarkan hasil analisis regresi, variabel yang berpengaruh dengan penyadapan
pinus adalah jumlah pohon yang disadap dan jarak dari rumah ke hutan.

Kata Kunci: Penyadapan getah, pendapatan rumah tangga, ekonomi rumah tangga


Kadir W, Abd
Analisis finansial pengolahan nira aren (Arenga pinnata) menjadi produk Nata pinnata =
A financial analysis of Nata pinnata processing made from aren sap / Abd Kadir W. --
Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 17-26 ,
2005

         Nira aren adalah cairan yang keluar dari tandan bunga jantan pohon aren setelah
tandan bunga tersebut dipotong dan disadap. Nira aren yang telah disadap oleh petani
aren memiliki peluang untuk dikembangkan menjadi produk nata pinnata karena secara
fisik nira aren tidak jauh berbeda dengan air kelapa. Produk nata pinnata adalah salah satu
jenis makanan penyegar atau pencuci mulut (food dessert) yang terbuat dari nira aren
yang telah mengalami proses fermentasi. Untuk mengembangkan pengolahan nira aren
menjadi produk nata pinnata sebagai suatu usaha industri skala rumah tangga, perlu
dilakukan analisis finansial untuk mengetahui layak atau tidaknya usaha pengolahan nata
pinnata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan finansial pengolahan
nira aren menjadi produk nata pinnata sebagai salah satu upaya peningkatan pendapatan
masyarakat sekitar hutan. Metode yang digunakan untuk menilai kelayakan usaha ini
yaitu, Benefit-Cost Ratio (BCR), Payback Period (PP) dan Break Even Point (BEP). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa usaha pengolahan nira aren menjadi produk nata pinnata
sebagai suatu usaha skala rumah tangga layak dikembangkan dimana nilai BCR selama
satu tahun produksi sebesar 1,112 (BCR > 1), payback period yang dihasilkan 6 bulan
dan break event point sebesar 193 kg nata/bulan atau setara dengan Rp. 579.000,-/bulan.

Kata kunci: Nira aren, nata pinnata, analisis finansial


Kadir W. Abdul
Kegiatan penghijauan dan peranannya terhadap peningkatan pendapatan masyarakat:
studi kasus kecamatan Mallawa kabupaten Maros / Abd. Kadir W. . -- Info Sosial
Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman 69-79 , 2005

      Salah satu upaya pemulihan lahan kritis di luar kawasan hutan adalah kegiatan
penghijauan. Manfaat kegiatan penghijauan disamping untuk mencegah erosi,


                                                                                                  148
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



pengaturan tata air, perbaikan kesuburan tanah dan perbaikan kualitas udara adalah
juga sebagai sumber pangan dan sumber pendapatan bagi masyarakat baik berupa
upah kerja maupun hasil tanaman penghijauan (buah, kayu dan hasil tumpangsari).
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak kegiatan penghijauan
terhadap pendapatan masyarakat di Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa rata-rata total pendapatan petani di Kecamatan
Mallawa adalah Rp. 3.732.798/tahun dan kontribusi kegiatan penghijauan terhadap
total pendapatan petani dalam bentuk upah adalah Rp. 99.996 atau 2,65 %. Disamping
itu manfaat penghijauan dalam jangka panjang sebagai sumber pangan, perbaikan
tata air, perbaikan kesuburan tanah dan perbaikan kualitas udara sebagian besar
masyarakat kurang mengetahuinya. Lembaga yang terlibat dalam kegiatan
penghijauan adalah dinas PKT, dinas pertanian, aparat desa, dan LKMD. Diketahui
bahwa keterlibatan lembaga-lembaga tersebut semakin berkurang seiring dengan
selesainya kegiatan proyek penghijauan. Peranan kepala desa dan tokoh-tokoh
masyarakat sebagai motivator sangat penting untuk meningkatkan motivasi
masyarakat dalam kegiatan penghijauan.

Kata kunci: Kontribusi Penghijauan, Pendapatan Masyarakat, Penghijauan


Kadir W, Abdul
Pengembangan sosial forestry di SPUC Borisallo : Analisis sosial ekonomi dan budaya
masyarakat / Abdul Kadir W. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman 297-309
, 2005

       Stasiun Penelitian dan Ujicoba (SPUC) Borisallo memiliki peluang untuk
dikembangkan sebagai show window pengembangan social forestry. Hal ini karena
potensi sumberdaya alam dan sumberdaya manusia yang dibutuhkan dimilikinya
untuk pengembangan social forestry. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui
kondisi sosial-ekonomi dan budaya masyarakat setempat sebagai bahan informasi dan
pertimbangan bagi instansi terkait dan stakeholder lainnya dalam merumuskan kebijakan
pengembangan social forestry di SPUC Borisallo. Hasil penelitian menujukkan
bahwa faktor yang dapat mendukung pengembangan social forestry di kawasan
tersebut adalah tingginya persentase usia kerja produktif masyarakat, pekerjaan utama
petani, potensi tenaga kerja keluarga, persepsi masyarakat terhadap kawasan, dan
adanya partisipasi masyarakat dalam menjaga kawasan hutan. Namun demikian
pendapatan yang diperoleh masyarakat dari meggarap lahan di SPUC Borisallo belum
mampu mangangkat masyarakat dari garis kemiskinan sehingga diperlukan upaya-
upaya yang dapat meningkatkan produktivitas lahan garapan mereka.

Kata kunci: SPUC Borisallo, social forestry, sosial-ekonomi dan budaya masyarakat




                                                                                        149
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Karyono, O.K
Peran masyarakat adat Sepuhan Cipta Gelar dalam mendukung kelestarian hutan di
kawasan Taman Nasional Halimun -Salak / O.K.Karyono dan Tuti Herawati. -- Info
Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman 1-8- , 2005

       Masyarakat Kasepuhan Ciptagelar membagi hutan dalam 3 (tiga) bagian sesuai
dengan fungsinya yaitu ; Leuweung Titipan, Leuweung Tutupan dan Leuweug Garapan,
       Leuweung tutupan berfungsi untuk melindungi leuweung awisan, yang dilindungi
oleh hokum negara sebagai sumber mata air. Leuweung titipan adalah hutan yang
akan dijadikan tempat pemukiman masyarakat kasepuhan di masa yang akan datang.
       Leuweung garapan adalah lahan di Kawasan Taman Nasional Halimun-Salak
mengelola sumberdaya alam dengan kearifan tradisional yang mereka anut. Kawasan
hutan dibagi menjadi 4 (empat) bagian sesuai dengn fungsinya, yaitu; leuweung (hutan)
awisan, titipan, tutupan, dan garapan. Pemanfaatan hutan terbatas untuk kepentingan
pribadi dan adat, sehingga tidak ada komersialisasi dalam pemanfaatan hasil hutan.
Masyarakat adat mengelola kebun dengan sistem agroforesty khas Jawa Barat, yaitu
kebun telun yang terdiri dari tanaman kayu dan buah yang variatif dan banyak memuat
keanekaragaman hayati. Keyakinan bahwa segala sumber daya alam adalah milik Sang
Pencipta menjadi pegangan bagi masyarakat adat untuk mengelola alam sesuai dengan
aturan Sang Pemilik, sehingga hasil yang diperoleh dapat bermanfaat dan dapat
dinikmati dengan baik. Hal ini berdampak positif terhadap kelestarian hutan di kawasan
ekosistem Halimun.

Kata kunci: Masyarakat adat, kawasan hutan, kelestarian hutan, agroforestry (talun)


Karyono, O.K
Dampak pengelolaan taman nasional terhadap sosial ekonomi masyarakat desa hutan:
study kasus Taman Nasional Gunung Halimun Sukabumi Jawa Barat / O.K.Karyono. --
Info Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman 9-23 , 2005

       Tujuan pengelolaan Taman Nasional selain menjaga hutan tetap lestari juga
membantu meningkatkan sosial ekonomi masyarakat. Ketergantungan masyarakat desa
sekitar hutan terhadap taman nasional Gunung Halimun cukup tinggi, selain
memanfaatkan jasa lingkungan (air, udara segar, pemandangan indah) juga
memanfaatkan kawasan untuk tanaman pertanian. Mayarakat di sekitar kawasan
taman nasional Ginning Halimun adalali bertani. Luas pemilikan lahan responden untuk
pertanian 0 - 1,5 liektar, rata-rata pendapatan responden Rp.
2.828.771/capita/tahun atau Rp 85.720,35/capita/bulan.
       Jumlah anggota keluarga responden kurang dari 5 orang ada 20 orang,
sedangkan jumlah anggota keluarga yang lebih dari 5 orang tercatat 12 Orang.
dengan pendidikan responden mayoritas SD (85%).
       Ketergantungan masyarakat desa sampel terhadap kawasan Taman
Nasional Gunung Halimun cukup tinggi baik untuk daerah pertanian maupun untuk
pemanfaatan air dari kawasan ini.



                                                                                         150
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kata kunci : Pengelolaan Taman Nasional, Sosial Ekonomi, Masyarakat desa hutan


Karyono, O.K
Prospek budidaya buah merah (Pandanus conodicus Lamk) di bawah tegakan hutan
rakyat di Wamena / O.K. Karyono dan Subarudi. -- Info Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ;
Halaman 93-98 , 2005

       Buah merah sebagai sumber hayati mudah dibudidayakan di bawah tegakan
hutan rakyat dengan umur pohon antara 2 s/d 3 tahun. Tanaman buah merah mampu
tumbuh di lahan-lahan bawah tegakan hutan dan mempunyai beberapa keunggulan,
yaitu: (i) budidayanya sederhana, (ii) kandungan minyaknya cukup tinggi, dan (iii)
berkhasiat untuk pencegah penyakit degeneratif, serta (iv) mudah pemasarannya
karena bernilai ekonomi tinggi.
       Keuntungan yang diperoleh petani dalam usaha budidaya tanaman buah
merah oleh petani di Wamena, mendapatkan keuntungan sebesar Rp. 3.100.000 per
hektar per tahun.
       Jika buah merah diolah menjadi minyak, nilai jual di daerah Wamena Rp. 800.000
s/d Rp. 1 juta per botol dengan isi 640 ml . Nilai jual minyak buah merah di luar Wamena
seperti Jakarta dan Bali mencapai Rp. 1 s/d Rp. 2 juta per botol dengan isi 640 ml.
Oleh sebab itu buah merah mempunyai prospek yang cerah untuk dibudidayakan oleh
masyarakat baik di bawah tegakan hutan rakyat maupun dikebun-kebun milik
masyarakat dan produk ini dapat dijadikan produk andalan di daerah Jayawijaya,
propinsi Papua

Kata kunci: Prospek budidaya, buah merah, keuntungan dan hutan rakyat


Karyono, O.K.
Pengaruh biaya dan tarif masuk taman wisata alam terhadap tingkat kunjungan dan
pendapatan, Studi kasus Karangnini Ciamis Jawa Barat = The Effect of Entrance Fee on
Number of Visitors and Income of Recreation forest, Case Study at Karangnini, Ciamis,
West Java) / O.K.Karyono. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume
2.No.4 ; Halaman 301-312 , 2005

      Setiap pengunjung dan atau kendaraan yang masuk ke hutan wisata diwajibkan
membayar pungutan masuk untuk negara. Tarif pungutan pada pengunjung yang
masuk ke taman wisata berkisar antara Rp. 500 s/d Rp. 1.000,- (SK Menhut
878/Kpts-II/1992). Besarnya tarif pungutan masuk ke hutan wisata berpengaruh
terhadap jumlah pengunjung dan pendapatan pengusahaan ekowisata. Hasil analisis
menunjukkan, semakin tinggi tarif pungutan masuk ke hutan wisata jumlah
pengunjung semakin menurun. Sesuai dengan analisa ekonomi, kurva demand dari
obyek hutan wisata dipengaruhi oleh tarif pungutan masuk yang ditentukan oleh
pengelola. Kurva demand akan menurun dari sebelah kiri atas ke sebelah kanan
bawah, yang berarti setiap penurunan harga/tarif masuk akan berakibat pada



                                                                                          151
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



kenaikan permintaan pasar. Derajat kunjungan (Vi) terhadap biaya perjalanan (Tci)
dengan hasil perhitungan regresi = 72149.42642 - 130.02555 x, atau Vi = 72,14- 0,13
Tci. Dengan demikian menunjukkan bahwa derajat kunjungan cenderung menurun
dengan meningkatnya biaya perjalanan, walaupun nilai koefisien korelasi (r2 - 68%)
dan nilai koefisien determinasinya rendah (r2 = 0,004630).

Kata kunci: Tarif pungutan, Pengunjung, Hutan wisata


Kusumedi, Priyo
Kajian kelembagaan mangrove dengan pendekatan sosial budaya setempat = Study of
mangrove institute with local social culture approach / Priyo Kusumedi. -- Jurnal
Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 89-101 , 2005

        Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aspek-aspek tentang kelembagaan
rehabtlitasi mangrove berbasiskan masyarakat dan bahan formulasi kebijakan rehabilitasi
mangrove dengan pendekatan sosial-budaya setempat. Metode penelitian yang dipakai
mengikuti petunjuk teknis penelitian sosial ekonomi SSEKI, dengan pendekatan non
survei, yaitu RRA. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan
wawancara. Data yang diperoleh dianalisis dengan metode: 1) Analisis deskriptif
kualitatif dan kuantitatif dan 2). Analisis SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kelembagaan yang ada di lokasi penelitian bersifat keswadayaan (inisiatif masyarakat).
Kelembagaan yang ada merupakan format organisasi yang modern, dengan struktur
kepengurusan dan elemen organisasi yang sangat komplek, lengkap dan tertatarapi,
serta didukung pranata hukum formal, baik legalisasinya maupun legitimasinya.
Rekomendasi untuk pembuatan bahan kebijakan rehabilitasi hutan mangrove di
masa mendatang, yaitu ; Perubahan cara pandang melalui kegiatan penyuluhan,
sosialisasi, pendampingan kelompok tani yang intensif, berkelanjutan dan membangun
kemitraan dengan pihak luar melalui mediasi lembaga terkait seperti PT maupun LSM
serta pembuatan kesepakatan dengan masyarakat tentang tata guna lahan, baik dengan
penggunaan sistem hukum formal maupun penegakan aturan yang ada dalam masyarakat.

Kata kunci: Kelembagaan, rehabilitasi mangrove, sosial-budaya


Kusumedi, Priyo
Potensi sengon pada hutan rakyat di desa pacekelan kabupaten Wonosobo = Potential
of sengon community forestry in pacekelan village of Wonosobo regency / Priyo
Kusumedi. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ;
Halaman 103-114 , 2005

       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya potensi hutan rakyat sengon
yang ada di desa Pacekelan. Penelitian ini dilaksanakan di desa Pacekelan, kecamatan
Sapuran, kabupaten Wonosobo, provinsi Jawa Tengah, mulai bulan Januari 2000 sampai
April 2000. Data-data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan metode analisis


                                                                                         152
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa volume actual
standing stock rata-rata anggota kelompok sebesar 106,661 m3. Volume actual standing
stock seluruh anggota kelompok tani di desa Pacekelan adalah 14.825,58 m3 22.099,81
m3.Berdasarkan hasil pengukuran dari lahan tegalan responden, bahwa di desa
Pacekelan setiap tahunnya dapat menghasilkan kayu sengon sebesar 2.965,12 m3 -
4.419,96 m3 yang terdiri dari kayu bakar 296,51 m3 - 441,99 m3 sedangkan kayu perkakas
2.668,61 m3-3.977,964 m3.

Kata kunci: Potensi, hutan rakyat, desa pacekelan.


Kusumedi, Priyo
Pemetaan partisipatif di KHDTK Borisallo = Participatory Mapping in KHDTK Borisallo /
Priyo Kusumedi. – Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2 No.4 ;
Halaman 349-365 , 2005

        Pemetaan partisipatif merupakan sebuah pendekatan yang telah menjadi sebuah
kebutuhan lazim di berbagai kawasan hutan. Pendekatan tersebut dikembangkan
dalam kerangka mewujudkan adanya pengelolaan sumberdaya alam yang lebih
menjamin pengembangan social forestry. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
proses pemetaan partisipatif yang melibatkan semua stakeholder dan peran masing-
masing stakeholder dalam pemetaan partisipatif. Metode penelitian yang dipakai adalah
RRA {Rapid Rural Appraisal), PRA {Participatory Rural Appraisal) dan input data spasial,
interprestasi citra landsat, input data non-spasial pada tabel atribut peta, pembuatan
layout peta dengan software Arc View dari data spasial dan data non-spasial serta
pembuatan peta digital. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis deskriptif kualitatif
dan kuantitatif, serta sistem informasi geografis yaitu PC Arc/View dan PC ARC/Info.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pemetaan berlangsung melalui proses
yang lama dari tahap inisiasi sampai pelaksanaan di lapangan sehingga didapatkan peta
partisipatif penggarap lahan, tata batas panggarap lahan, tata batas kelompok tani,
sebaran pemukiman serta peta tata guna lahan. Selain itu dalam pemetaan partisipatif
harus ada pembagian peran dan tanggung jawab antar stakeholder untuk
mendorong pembelajaran bersama dalam perkembangan pemetaan atau
penyediaan informasi "keruangan yang akurat dan diakui oleh semua stakeholder.

Kata kunci: social forestry, pemetaan partisipatif, stakeholder, KHDTK Borisallo


Mairi, Kristian
Studi Sosial Budaya Masyarakat adat Toraja dalam rangka Pelestarian Sumber Daya
Hutan = Socia-Cultural Study of Toraja Custom Society In Relation with The
Sustainability of Forest Resources / Kristian Mairi. -- Jurnal Penelitian Sosial dan
Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.3 ; Halaman 245-258 , 2005




                                                                                             153
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



       Tradisi dan budaya masyarakat adat Toraja sangat erat kaitannya dengan
pengamanan dan pelestarian sumberdaya hutan. Hal ini mendasari timbulnya kesadaran
yang membudaya untuk mengelola hutan adat yang dimiliki secara kolektif. Tujuan dari
kegiatan ini adalah untuk mengetahui pola keterkaitan adat dan budaya masyarakat
Toraja dalam rangka pelestarian sumberdaya hutan serta merumuskan skema
pengelolaan hutan lestari yang didasari oleh nilai-nilai budaya masyarakat adat.
Pengumulan data dilakukan secara porpusive sampling dengan wawancara
terstruktur dan survey. Intensitas sampling 10% dengan asumsi bahwa 80% dari
penduduk adalah masyarakat adat. Total sampel adalah 60 responden. Data yang
terkumpul di analisis secara qualitative descriptive, diterjemahkan dalam bentuk
skema/bagan, uraian, penjelasan, serta kesimpulan tentang kondisi sebenarnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa:
1. Adanya kebutuhan ritual adat budaya yang tinggi terhadap hasil hutan telah
     membentuk pola perilaku dan sikap pandang yang baik sehingga mereka memiliki
     kesadaran yang tinggi memelihara dan mempertahankan hutannya.
2. Pendapatan usahatani masyarakat adat yakni Rp. 2.490.279/kk/tahun atau Rp.
     622.570/kapita/tahun.
3. Salah satu upaya urgen dilakukan oleh pemerintah untuk mendorong masyarakat
     dalam pelestarian hutan adalah menyediakan bibit yang memadai di setiap
     dusun atau desa supaya petani bisa menjangkaunya.

Kata Kunci: Adat budaya, hutan adat, sosial-ekonomi


Mile, Yamin
Potensi pengembangan hutan kemasyarakatan melalui pola wanatani berbasis sereh
wangi, studi kasus usahatani sereh wangi di desa Salebu, Cilacap, Jawa Tengah) =
Potential development of social forestry through sereh wangi based agroforestry model :
a case study of sereh wangi farming at Salebu, Cilacap, Central Java / M. Yamin Mile,
Achdiat Bastari. -- Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.3 ;
Halaman 291-300 , 2005

         Usaha sereh wangi (Cimbopogon nodus) merupakan salah satu bentuk
usahatani dengan tanaman utamanya adalah sereh wangi.(tanaman penghasil minyak
astiri). Tanaman ini biasanya ditanam di bawah tegakan pohon seperti Jati, Mahoni,
Sengon. Melihat potensi dan kemungkinan penerapannya dalam program Hutan
Kemasyarakatan (HKM), penelitian dilakukan. untuk mengetahui seberapa jauh
kelayakan usaha sereh wangi dalam meningkatkan pendapatan petani melalui studi
kasus kegiatan usahatani sereh wangi di Desa Salebu Kecamatan Majenang, Cilacap,
Jawa Tengah Pengumpulan data dilaksanakan dengan metode sampling melalui
wawancara dengan petani sample dan pihak investor yang terkait dan pengamatan
langsung di lapangan Hasil penelitian menunjukan bahwa usahatani serah wangi
sebagai bagian dari sistim wanatani cukup layak diusahakan dengan Net Present Value
(NPV) (+) Rp 2.969.513, dan IRR = 64,69 % sedangkan BC Ratio = 2,029 (>1).
Keuntungan diperoleh sejak tahun pertama penanaman dengan 4 kali panen dalam


                                                                                         154
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



setahun. Keuntungan lebih besar akan diperoleh apabila nilai kayu ikut diperhitungkan
yang biasanya dimulai pada tahun ke empat saat diadakan penjarangan secara
bertahap. Melalui pengembangan Hutan Kemasyarakatan dengan pola wanatani
berbasis sereh wangi, permasalahan utama yang dihadapi masyarakat seperti di
Desa Salebu yakni kekurangan lahan untuk pengembangan usahatani dapat diatasi dan
masyarakat memperoleh kesempatan untuk meningkatkan pendapatan mereka. Pada
saat yang sama kayu dapat diproduksi dan wilayah hutan dapat ditingkatkan
keamanannya.

Kata kunci: Social forestry, Cetronella oil, Wanatani Sereh wangi


Nurapriyanto, Iga
Sistem Pengusahaan beberapa hasil hutan bukan kayu dan alur tataniaganya di
Jayapura, Papua / Iga Nurapriyant, Abdullah Tuharea, Naris Arifin. -- Info Sosial Ekonomi
: Volume 5 No.2 ; Halaman 135-144 , 2005

       Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) dewasa ini menjadi perhatian dalam
pengembangan dan peningkatan nilai hasil hutan di Papua terutama pada jenis-jenis
komoditi HHBK yang mempunyai nilai ekonomi potensial, mengingat semakin
menurunnya potensi hutan berupa kayu. Salah satu aspek penting dalam
pengembangan HHBK adalah aspek tataniaganya. Penelitian ini menggambarkan
bagaimana sistem pengusahaan beberapa HHBK serta alur tataniaganya di Jayapura.
Hasil penelitian menunjukkan rantai tataniaga beberapa komoditi HHBK relatif
pendek sejak dari sumber hingga konsumen/pasar. Bagi pengusahaan non gaharu
terutama sagu dan rotan relatif masih sangat terbatas pada pemenuhan kebutuhan
konsumsi lokal sedangkan gaharu maupun Kamendangan lebih banyak dilakukan oleh
pengusaha dengan skala usaha yang lebih besar yang berorientasi pada pasar nasional
maupun ekspor.

Kata Kunci: Kajian, sistem, Pengusahaan, Tataniaga, Hasil Hutan Bukan Kayu


Rochmayanto, Yanto
Peluang dan hambatan pengembangan HKM di Koto Panjang, Riau : pendekatan
sosiologis = Opportunity and constraint in CF development at Koto Panjang, Riau
sociological approach / Yanto Rochmayanto, Tateng Sasmita. -- Jurnal Penelitian Sosial
dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.3 ; Halaman 279-289 , 2005

      Tulisan ini menganalisis respon masyarakat terhadap pola pemanfaatan ruang
HKm melalui pengembangan jenis andalan setempat. Respon sosial yang diukur
adalah (1) persepsi tentang sistem pertanian menetap, (2) prospek pengembangan
gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk.) dan pulasan (Nephelium mutabile BL.), dan (3)
mengidentifikasi kendala teknis di lapangan. Analisis dilakukan melalui segmentasi


                                                                                          155
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



berdasarkan kelompok peran dalam masyarakat, usia dan tingkat pendidikan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat Tanjung Alai mengenai sistem
pertanian menetap sangat lemah. Keadaan ini berlaku untuk semua kelompok pada
setiap segmen. Prospek pengembangan HKm cukup baik, karena 66,53 % masyarakat
menunjukkan sikap tertarik terhadap gaharu dan 69,53 % tertarik terhadap pulasan.
Sebagian besar masyarakat (95,69 %) menyatakan terbuka akan inovasi. Hal yang perlu
mendapat perhatian diantaranya adalah hama gajah dan babi, jarak pemukiman dengan
lahan yang relatifjauh serta lahan tak tergarap masih banyak. Berdasarkan hasil
tersebut, untuk pengembangan HKm diperlukan sosialisasi mendalam tentang sistem
pertanian menetap, yang ditujukan ke seluruh kelompok masyarakat.

Kata kunci: HKm, pengembangan, persepsi, prospek, gaharu, pulasan


Rochmayanto, Yanto
Analisis sistem kelembagaan pada hutan kemasyarakatan Koto Panjang, Riau / Yanto
Rochmayanto, Edi Nurrohman, Dodi Frianto. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.2 ;
Halaman 121-133 , 2005


         Aspek kelembagaan mempakan prasyarat penting untuk meningkatkan
kemampuan teknis dan manajerial masyarakat dalam pengelolaan hutan
kemasyarakatan. Hasil analisis pada hutan kemasyarakatan Koto Panjang, Riau,
menunjukkan organisasi HKm berbentuk lini (garis) dengan pengorganisasian
kawasan dalam bentuk petak (departementasi berdasarkan wilctyah). Rentang
pengendaliannya masih tergolong lebar dan sangat lebar, ditunjukkan dengan rata-rata
jumlah hubungan organisatoris sebesar 571,92 (di kelompok tani Tanjung Alai) dan
1.447,5 (di kelompok tani Tanjung). Kelembagaan lain yang tersedia di masyarakat, baik
formal maupun informal, dapat digunakan sebagai wahana untuk menjembatani
pemahaman dan aplikasi hutan kemasyarakatan, antara lain koperasi, KUB dan Sistem
Tigo Tungku Sejarangan. Banyaknya lembaga yang stagnan dan lumpuh menuntut
adanya metode penguatan kemampuan manajemen organisasi.

Kata kunci: Kelembagaan, hutan kemasyarakatan, organisasi, manajemen


Sianturi, Apul
Pengelolaan hutan produksi alam lestari dengan sistem HPH = Sustained yield for
production forest management by forest concessionaires / Apul Sianturi. -- Jurnal
Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.1 ; Halaman 1-16 , 2005

       Adanya isu sentral tentang pengelolaan hutan produksi alam yang lestari adalah
bukti semakin tingginya tuntutan yang harus dipenuhi oleh Pemerintah untuk
menyongsong era globalisasi. Kenyataan di lapangan menunjukkan betapa tingginya
tingkat pemborosan pemanfaatan hutan dan kerusakan tegakan tinggal yang terjadi



                                                                                         156
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



sebagai akibat kegiatan pengelolaan hutan yang kurang memperhatikan dampak
terhadap lingkungan. Dalam pengelolaan hutan lestari, praktek pemanenan hutan
seharusnya dikendalikan dan dikaitkan dengan praktek silvikultur untuk mempertahankan
atau meningkatkan nilai tegakan secara berkelanjutan, tetapi kenyataan pemanenan
hanya dikaitkan dengan target tebangan.
         Di samping itu, terdapat kesenjangan antara ketersediaan kayu dan" hutan produksi
alam dengan kebutuhan industri pengolahan yang menuntut pasokan kayu dari hutan
alam. Pemerintah telah mengeluarkan beberapa kebijakan tentang pengelolaan hutan
produksi alam. Untuk itu telah dikaji kebijakan-kebijakan mengenai pengelolaan hutan
produksi alam.
         Kajian ini bertujuan mendapatkan informasi sebagai bahan untuk mengambil
kebijakan dalam pengelolaan hutan produksi alam. Sedangkan sasarannya adalah
bentuk pengelolaan hutan produksi alam guna mendukung perkembangan industri hasil
hutan lestari.
         Hasil kajian menunjukkan bahwa pengelolaan hutan yang selama ini dilakukan
belum dapat memberikan kelestarian hutan. Oleh karena itu perlu adanya kepastian
hukum dalam pengelolaan hutan agar pemanenan hasil hutan dapat berlangsung secara
lestari. Untuk itu pengelolaan hutan yang dilakukan dengan sistim HPH harus dilaksanakan
secara baik dan benar. Sistim HPH dari sudut pembiayaan negara adalah lebih
menguntungkan. Pada sistim ini dapat digunakan sistim TPTI untuk hutan alam, dan
sistim THPB untuk areal hutan yang sudah rusak atau lahan kosong. THPB atau hutan
tanaman terdiri dari hutan tanaman penghasil pulp dan hutan tanaman penghasil kayu
perkakas dengan perbandingan luas areal 2 banding 3. Dengan demikian dalam satu unit
HPH akan ditemukan hutan produksi alam dan hutan produksi tanaman.
         Produksi kayu bulatdari hutan produksi pada tahun 2005 sampai 2012 adalah
sekitar8,5 juta m3, 10 juta m3, dan 11,4 juta m3 per tahun bila kebenaran data luas areal
hutan produksi primer yang dilaporkan diasumsikan sebesar 60%, 70%, dan 80% secara
berurutan. Pada tahun 2013 sampai 2039 produksi kayu bulat meningkat menjadi 53 juta
m3, 61,8 juta m3, dan 70 juta m3.Selanjutnyatahun 2040dan seterusnya produksi kayu
bulatmenjadi 93 juta m3, 107juta m3, dan 122 juta m3 per tahun bila riap hutan bekas
tebangan 1 m3/ha/tahun dan menjadi 98 juta m3, 112 juta m3, dan 128 juta m3 per tahun
bila riap hutan bekas tebangan menjadi 1,5 m3/ha/tahun masing-masing untuk kebenaran
data luas hutan produksi dari yang dilaporkan sebesar 60%, 70%, dan 80%.

Kata kunci : Kebijakan, pengelolaan, hutan produksi, lestari, tebang pilih, tebang habis


Siarudin, M
Evaluasi program pengembangan usaha ekonomi pedesaan (USPED) masyarakat
daerah penyangga. studi kasus: resort Cisarua, seksi konservasi wilayah II Bogor,
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango = Evaluation of buffer zone village economic
development programme. case study: resort Cisarua, conservation section II Bogor,
Gede Pangrango National Park / M. Siarudinm, M. Yamin Mile. -- Jurnal Penelitian Sosial
dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2.No.3 ; Halaman 215-229 , 2005




                                                                                           157
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



        Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar kawasan Taman
Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) serta meningkatkan kepduliannya terhadap
upaya pelestarian kawasan, telah dilakukan program: "Pengembangan Usaha Perekonomian
Pedesaan Masyarakat Daerah Penyangga", yang lebih dikenal dengan istilah USPED. Sejak
tahun 1993/1994, program ini diimplementasikan dalam bentuk pemberian bantuan bib it
tanaman multiguna (Multy Purpose Trees Species/MPTS), permodalan untuk kelompok
wirausaha, ternak kelinci, ternak domba, dll. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi
pelaksanaan program bantuan ternak domba serta pengaruhnya terhadap program
konservasi hutan di kawasan TNGP. Penelitian ini dilaksanakan di dua lokasi: Desa
Sukagalih Kecamatan Megamendung, dan Desa Citeko Kecamatan Cisarua,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Responden berasal dari para anggota kelompok tani
penerima bantuan, serta masyarakat di luar kelompok penerima bantuan. Metode
pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan kuisioner. Data yang
terkumpul kemudian dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan: 1)
Perkembangan usaha secara fisik dari program bantuan tergolong cukup baik, dilihat
dari rata-rata tingkat pertumbuhan domba 1,04 ekor per tahun dan perguliran domba
yang telah mencapai 34,63 %; 2) Program bantuan cukup berhasil membantu
peningkatan pendapatan bersih para anggotanya rata-rata Rp 233.295,-per jiwa per
tahun, serta adanya kontribusi bantuan domba terhadap pendapatan bruto per tahun
rata-rata sebesar 19,25 %; 3) Masyarakat menunjukkan sikap yang positif terhadap
program bantuan yang diterimanya; 4) Program bantuan memiliki dampak positif
terhadap keamanan kawasan. Hal ini dapat dilihat dari partisipasi masyarakat
terhadap upaya pelestarian hutan cukup baik, ditandai dengan kesediaan yang tinggi
untuk bergabung patroli dengan petugas, memberikan infonnasi positif kepada petugas
ketika melihat gangguan kawasan, serta mempengaruhi masyarakat disekitarnya
untuk turut menjaga kelestarian hutan. Beberapa saran untuk pelaksanaan program ini
ke depan antara lain: pemilihan bibit domba yang berkualitas, perlu dibuat peraturan
dasar kelompok petani, komunikasi antara petugas TNGP, aparat desa dan masyarakat
perlu ditingkatkan lagi.

Kata Kunci: Daerah Penyangga, Taman Nasional, konservasi hutan, tingkat
            pertumbuhan, program bantuan, perguliran domba


Subarudi
Restrukturisasi kelembagaan : sebuah gagasan dalam pemberdayaan Badan Litbang
Kehutanan / Subarudi. -- Info Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman 39-50 , 2005

       Restrukturisasi kelembagaan Badan litbang kehutanan adalah suatu tuntutan
yang perlu direspon sebagai upaya organisasi pembelajaran (learning organization)
dan penyusuaian diri dengan tuntutan re-organisasi lembaga-lembaga pemerintah di
tingkat pusat semenjak diterapkannya otonomi daerah tahun 2000. Tujuan penulisan
paper ini adalah menganalisis kemiingkinan melakukan restrukturisasi kelembagaan
Badan litbang dengan melihat kondisi dan posisi kelembagaan Badan litbang saat ini
berikut alasan dibalik restrukturisasi kelembagaannya yang kemudian dibandingkan


                                                                                          158
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



dengan suatu kelembagaan riset yang ideal. Dari studi perbandingan antara kedua
kondisi kelembagaan tersebut diperoleh hasil sebagai berikut: (I) Pusat-Pusat Litbang
Kehutanan yang saat ini terdiri dari 4 (empat) unit direstrukturisasi menjadi 3 unit
yang terdiri dari: (i) Pusat kajian Kebijakan Teknologi Hutan dan Hasil Hutan, (ii) Pusat
Kajian Kebijakan Hutan Tanaman, dan (Hi) Pusat Kajian Kebijakan Sosial, Budaya dan
Ekonomi Kehutanan; (2) Koordinasi antara ketiga Puslitbang dengan UPT-UPTnya
dapat lebih terarah danjelas, (3) Riset terpadu (integrated), menyeluruh
(comprehensive), efektif (effective) dan efisien (efficient) lebih mudah untuk dicapai
melalui koordinasi yang intensif (4) publikasi ilmiah dapat diterbitkan oleh masing-
masing Puslitbang sesuai dengan Surat Edaran LIPI, dan (5) Konflik antara Badan
Litbang Kehutanan dengan Badan Litbang daerah dapat dihindari.

Kata kunci: Restrukturisasi, Kelembagaan, Badan Litbang


Subarudi
Evaluasi pelaksanaan kontrak pembangunan hutan rakyat: studi kasus di propinsi Jawa
Timur / Subarudi. -- Info Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman 51-60 , 2005

       Pola kemitraan dalam pembangunan hutan rakyat yang berada di Jawa Timur
dapat dikatakan sebagai sistem kontrak pembangunan hutan rakyat karena dalam
pelaksanaannya dilakukan dengan membuat kontrak perjanjian kerjasama antara petani
hutan rakyat dengan pengusaha/mitra usaha pembangunan hutan rakyat. Dalam
pelaksanaannya, kontrak pembangunan hutan rakyat belum sepenuhnya berjalan
sesuai dengan rencana karena pembentukan kelompok tani dilakukan hanya pada saat
proyek kerjasama muncul dan belum melembaga di lokasi tempat pembangunan
hutan rakyat. Hasil analisa rugi laba untuk pelaksanaan kontrak hutan rakyat
menunjukkan bahwa tingkat keuntungan lebih banyak diperoleh pengus aha/mitra
usaha dibandingkan dengan petaninya sendiri sehingga pelaksanaan kontrak
hendaknya diperhitungkan dan ditinjau dari berbagai aspek pengelolaan. Jalan keluar
lerbaik adalah menggunakan sistem penyertaan modal bersama antara mitra usaha
(pendanaan) dan petani (penyediaan lahan dan tenaga) sehingga prosentase
pembagian keuntungan dapat diperhitungkan sesuai dengan kontribusi modal dari
masing-masing pihak yang terlibat dalam pembangunan hutan rakyat.

Kata Kunci: Evaluasi, Pelaksanaan Kontrak, dan Pembangunan Hutan Rakyat


Supratman
Analisis sistem kelembagaan pengelolaan DAS Jeneberang = Analysis of institutional
system of Jeneberang watershed management / Supratman, C.Yudilastiantoro. – Jurnal
Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan : Volume 2 No.4 ; Halaman 323-331 , 2005

        Penerapan otonomi daerah dalam pengelolaan sumberdaya hutan menyebabkan
terjadinya perubahan sistem penyelenggaraan kehutanan dari sentralistik menjadi


                                                                                          159
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



desentralistik. Perubahan tersebut berimplikasi kepada adanya kewenangan yang lebih
besar kepada daerah provinsi dan kabupaten/kota dalam penyelenggaraan kehutanan.
Pada sisi yang lain, desentralisasi kehutanan dapat berdampak sosial-ekonomi negatif
terhadap pengelolaan sumberdaya hutan. Penelitian dilaksanakan selama lima bulan,
yaitu pada bulan Agustus sampai Desember 2003. Lokasi penelitian adalah di
Kabupaten Gowa dan Kota Makassar. Di Kabupaten Gowa di pilih Kecamatan Tinggi
Moncong (mewakili wilayah hulu DAS) dan Kecamatan Parangloe (mewakili wilayah
tengah DAS). Pada kedua kecamatan tersebut dipilih lima desa untuk disurvei intensif,
yaitu Desa Manimbahoi, Bulutana, Parigi, Manuju, dan Desa Borisallo. Data yang
dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer
terdiri atas data kondisi bio-fisik dan sosial ekonomi masyarakat di wilayah DAS
Jeneberang. Data sekunder diperoleh melalui survei, wawancara dengan masyarakat
setempat dan dinas-dinas yang terkait, serta diskusi kelompok terfokus (Focus Group
Discussion), analisis data yang digunakan adalah Qualitative - Descriptive Analysis
dan Quantitative - Descriptive Analysis serta analisis tabulasi frekwensi dan tabulasi
silang Hasil penelitian adalah perlunya dibangun suatu sistem kelembagaan
perencanaan dan pengelolaan DAS yang terinterkoneksi antara hulu-hilir. Sistem
kelembagaan perencanaan dan pengelolaan DAS Jenneberang yang terinterkoneksi
mensyaratkan adanya peran yang jelas dan saling terkait antara kelembagaan
pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, pemerintah
desa, masyarakat setempat, dan lembaga penyangga seperti swasta, perguruan tinggi,
dan LSM.

Kata kunci: Institusi/lembaga, otonomi daerah, DAS Jeneberang


Syahadat,Epi
Kajian pelaksanaan pelelangan kayu hasil sitaan dan temuan : studi kasus di kabupaten
Barito Utara Propinsi Kalimantan Tengah / Epi Syahadat dan Hendro Prahasto. -- Info
Sosial Ekonomi : Vol.5(1) ; Halaman 25-37 , 2005

       Provisi Sumber Daya Hutan (PSDH) dan Dana Reboisasi (DR) merupakan
Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang berasal dari sektor kehutanan. Nilai
PSDH-DR tergantung dari tingkat produksi dan besarnya tarif untuk setiap jenis kayu,
semakin banyak produksi kayu (yang legal) semakin besar PSDH-DR yang dapat
dipungut. Sedangkan PSDH dan DR dari kayu hasil illegal logging hanya dapat di
pungut apabila kayu tersebut laku terjual melalui proses pelelangan tahap pertama
sampai dengan ketiga. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengevaluasi
mengenai pelaksanaan pelelangan di Propinsi Kalimantan Tengah khususnya di
Kabupaten Barito Utara. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pelaksanaan pelelangan
di Kabupaten Barito Utara masih banyak kelemahan dan kebijakan yang ada sangat
tidak kondusif dan berpotensi merugikan keuangan negara. Kelemahan tersebut
diantaranya adalah dalam menentukan batas harga dasar (yang terlalu rendah), peserta
lelang (sebagian besar perseorangan), dokumen lelang (tidak sesuai dengan ketentuan
yang berlaku), penawar lelang (umumnya hanya satu dan sekaligus ditetapkan sebagai


                                                                                         160
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



pemenang lelang), biaya lelang dan biaya pengganti tidak sesuai dengan ketentuanyang
berlaku dalam hal ini adalah Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 319/Kpts-
II/1997 dan atau Surat Keputusan lainnya mengenai petunjuk pelaksanaan lelang.

Kata kunci : PSDH-DR, lelang kayu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP),
             kayu illegal


Syahadat, Epi
Upaya penanganan lahan kritis di Propinsi Jawa Barat / Epi Syahadat. -- Info Sosial
Ekonomi : Volume 5 No.2 ; Halaman 109-120 , 2005

       Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan Dan Lahan (GERHAN) merupakan
gerakan moral secara nasional untuk tnenanam pohon di setiap kawasan hutan dan
lahan kosong. Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK) merupakan penjabaran dari
GERHAN yang lebih dikhususkan pada gerakan rehabilitasi lahan yang dilakukan oleh
Pemerintah Daerah Propinsi Jawa Barat dan diprioritaskan untuk lahan kritis milik
negara maupun milik masyarakat. Sasaran dari kegiatan tersebut adalah : a)
terehabilitasinya lahan-lahan kritis baik milik negara maupun milik masyarakat, b)
terlaksananya alih profesi eks para perambah hutan di hutan negara maupun di
zona inti hutan negara, c) lancarnya operasional pembinaan dan pengendalian dalam
rangka menunjang keberhasilan gerakan rehabilitasi lahan kritis (GRLK), d) pulihnya
daya dukung dan daya tampung lingkungan di seluruh wilayah Jawa Barat. Kegiatan
tersebut dicapai melalui berbagai upaya diantaranya; penyediaan bantuan bibit
tanaman buah-buahan untuk per Kabupaten / Kota; penyediaan bantuan bibit tanaman
perkebunan untuk per Kabupaten / Kota; penyediaan bantuan bibit tanaman siap tanam
khusus untuk Kota Bandung dan penyediaan bantuan ternak domba untuk alih profesi
eks perambah hutan negara maupun perambah hutan di zona inti hutan negara. Biaya
yang diperlukan untuk kegiatan GRLK ini sebesar Rp 11 Milyar.

Kata kunci: Lahan kritis, rehabilitasi lahan, pengendalian dan pembinaan masyarakat


Syahadat, Epi
Pengembangan pariwisata alam nasional di kawasan hutan / Epi Syahadat. -- Info Sosial
Ekonomi : Volume 5 No.2 ; Halaman 153-169 , 2005

       Pembangunan Kepariwisataan Nasional (PKN) Indonesia merupakan bagian
integral dari pembangunan nasional. Selain daripada itu pembangunan kepariwisataan
nasional ini memiliki arti yang sangat penting dan strategis bagi bangsa Indonesia
dalam mendukung kelangsungan dan keberhasilan pembangunan nasional.
Kegiatan ini merupakan salah satu penopang atau pengganti komoditas andalan
berupa minyak bumi yang potensi semakin berkurang. Sehubungan dengan hal
tersebut maka pelaksanaan pembangunan kepariwisataan nasional harus mampu


                                                                                         161
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



menjadi sarana untuk mengejawantahkan cita-cita dan tujuan nasional dalam rangka
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Keberhasilan
penyelenggaraan pembangunan kepariwisataan nasional dapat dicapai atau di raih
berkat keterpaduan dan kesinergian antara kekuatan masyarakat, pemerintah, media
masa, dan pelaku usaha pariwisata. Dalam pengembangan pariwisata alam perlu
memperhatikan beberapa aspek, yaitu : pariwisata nasional, perencanaan kawasan,
pengelolaan lingkungan, sosial ekonomi dan budaya, penataan ruang serta peraturan
perundangan. Adapun strategi pengembangan Obyek dan Day a Tarik Wisata Alam
meliputi pengembangan : aspek perencanaan pembangunan, aspek kelembagaan,
aspek sarana dan prasarana, aspek pengelolaan, aspek pengusahaan, aspek
pemasaran, aspek per an serta masyarakat dan penelitian dan pengembangan.

Kata kunci : Pembangunan pariwisata, kawasan hutan, wisata alam, Kesejahteraan
             masyarakat, kelestarian alam


Sylviani
Studi kemungkinan pengembangan sosial forestry di kawasan hutan Lindung Nanggala,
Sulawesi Selatan / Sylviani. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.2 ; Halaman 145-152
, 2005

        Kawasan Hutan Lindung Nanggala berpotensi untuk dikembangkan program
sosial forestry melalui penggalian potensi sumber daya alam melalui peningkatan
kualitas dan produktivitas lahan melalui berbagaijenis tanaman lokal dan kearifan
tradisional setempat, Produk tanaman perkebunan andalan seperti Vanili, kopi, lada dan
coklat. Sedang tanaman kehutanan antara lainjenis kayu Uru ( ElmerMia Sp ) dan
Buangin serta Matoa ( Pometia Pinnata ) dan bambu perlu dibudidayakan. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa perlu dilakukan pemberdayaan yang lebih intensif
dalam membangun potensi diri, potensi alam, keinginan dan motovasi untuk
memperbaiki pola pikir yang telah tertanam oleh budaya yang telah berakar cukup
lama dan hal ini akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan serta
penguatan kelembagaan. Pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan melalui kordinasi
antara pemerintah daerah atau Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa dengan
instansi terkait melalui pelatihan-pelatihan untuk fasilitator daerah seperti pelatihan
penyuluhan, pelatihan metode PRA.

Kata kunci: Social forestry, hutan lindung



Sylviani
Kajian sistem penguasaan dan pemanfaatan lahan adat / Sylviani. -- Info Sosial Ekonomi
: Volume 5 No.2 ; Halaman 171-185 , 2005




                                                                                         162
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



        Luas hutan adat (331,17 ha di Kecamatan Kajang Kabupaten Bulukumba Propinsi
Sulawesi Selatan berada di kawasan hutan produksi yang dikelola sudah sejak lama
secara turun temurun oleh sekelompok masyarakat adat/komunal yang diketuai oleh
seorang ammatoa. Sedangkan di Kabupaten Sanggau Propinsi Kalimantan Timur
pengelolaannya berdasarkan hak kepemilikan dan diakui oleh seorang tumenggung /
kepatihan. Persepsi masyarakat adat ammatoa tentang fungsi hutan yaitu sebagai
suatu wilayah yang sakral karena berbagai upacara adat dilakukan di dalam hutan, dan
berfungsi sebagai ekologis yaitu sebagai pengatur tata air, penghasil kayu, pelindung
tumbuh-tumbuhan dan satwa. Sedangkan masyarakat dayak hutan sebagai sumber
kehidupan baik sebagai petani sawah, peladang, pencari ikan, berburu dan sebagainya.
Penggolongan hutan oleh masyarakat ammatoa terdiri atas ; hutan keramat (hutan
lindung yang dijaga kelestariannya), hutan tebangan (hutan produksi adat yang bisa
dimanfaatkan kayunya), hutan rakyat (baru terbentuk dengan jenis tanaman kapas,
coklat kopi dan merica ). Sedangkan masyarakat dayak mengelompokkan lahan hutan
menjadi : lahan laman (pekarangan), lahan Ladang, lahan bawas (bekas ladang), lahan
tembawang, lahan pekuburan dan lahan rimbah untuk berburu ). Kelembagaan adat
masyarakat ammatoa ada 4 yaitu : organisasi masyarakat adat di dalam kawasan
hutan, organisasi masyarakat adat di luar kawasan hutan, organisasi khusus
penjaga hutan keramat dan organisasi formal kepemerintahan. Sedangkan pada
masyarakat dayak ada tiga yaitu: organisasi tingkat. rumah tangga, organisasi sosial
tingkat kampung dan organisasi sosial tingkat desa.

Kata kunci: Lahan Adat, Kelembagaan, Ammatoa, Fungsi dan Pemanfaatan Hutan


Tuharea, Abdullah
Kajian pengembangan kegiatan pariwisata di kepulauan Padaido / Abdullah Tuharea
...[et al] . -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman 311-322 , 2005

        Provinsi Papua dengan segala keanekaragaman sumberdaya alamnya,
termasuk hutan dan kawasan konservasi lainnya, di era reformasi ini banyak mengalami
"tekanan-tekanan" terutama dari masyarakat setempat. Tekanan-tekanan tersebut
terjadi karena masih tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya alam
yang ada di sekitar mereka. Hal ini tanpa disadari mengakibatkan rusaknya kawasan
konservasi tersebut, termasuk yang memiliki nilai wisata. Begitu pula yang dialami oleh
Kepulauan Padaido yang ditunjuk sebagai salah satu kawasan konservasi oleh
Pemerintah. Pengembangan kegiatan pariwisata yang bersifat partisipatif sudah
sangat perlu diterapkan guna mengurangi tekanan-tekanan tersebut. Penelitian ini
bertujuan untuk memperoleh data dan informasi terakhir tentang pengembangan
pariwisata yang berwawasan lingkungan (ekowisata) di Kepulauan Padaido sejak
ditetap-kannya sebagai kawasan Taman Wisata Alam Laut. Penelitian yang berlokasi di
Kecamatan Padaido, Kabupaten Biak Numfor ini dilakukan dengan menggunakan
metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa potensi wisata yang ada di
Kepulauan Padaido tidak hanya wisata alamnya, tapi juga wisata budaya dan wisata
sejarah. Kegiatan kepariwisataan di Kepulauan Padaido hanya berlangsung dari tahun


                                                                                         163
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



1997 sampai dengan pertengahan tahun 1998. Karena dalam pengelolaannya tidak
optimal, sehingga pemerintahan desa dan masyarakat di lokasi wisata tidak merasakan
kontribusi nyata dari kegiatan pariwisata tersebut.

Kata kunci: Pengembangan, Pariwisata, Partisipatif


Yeny, Irma
Struktur Sosial Budaya Masyarakat Dofonsoro: Sebuah tinjauan Budaya dalam
Pengelolaan Sumberdaya Alam di Sekitar Danau Sentani / Irma Yeny; Hidayat Alhamid. -
- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman 257-270 , 2005

       Keragaman suatu budaya amat dipengaruhi oleh keragaman ekologi dan
ekosistem dimana kelompok masyarakat tersebut berdiam. Beragamnya keadaan
tersebut mengkondisikan masyarakat meragamkan pemanfaatan sumberdaya
alam sesuai kebutuhan hidup mereka. Untuk melahirkan sikap mendukung dan
menghargai dari masyarakat terhadap usaha rehabilitasi lahan kritis pada DAS
sentani, sudah selayaknya bila informasi tentang struktur budaya masyarakat sentani
diinventarisir. Penelitian dilakukan pada tiga desa, yang berada disekitar Daerah
Tangkapan Air (DTA) Sentani Jayapura, yaitu meliputi kampung Asai Kecil (Kleublou)
yang mewakili ekosistem danau sentani, Kampung Amay yang mewakili ekosistem laut
and Kampung Buper yang mewakili ekosistem pegunungan dofonsoro. Penelitian ini
bertujuan menyajikan informasi dan pemahaman tentang struktur budaya
masyarakat Sentani dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam.
Metode penelitian yang digunakan adalah secara deskriptif dengan teknik survey.
Dari hasil penelitian menunjukkan ditemukan tatanan kehidupan masyarakat yang
memegang posisi kunci dalam menggerakkkan masyarakat. Tidak terjadi struktur sosial
antara masyarakat pendatang (suku Dani dari Lembah Baliem). Rehabilitasi yag
dilakukan selama ini tidak menunjukkan hasil akibat pemerintah tidak menjawab
kebutuhan dasar dari masyarakat. Perubahan sosial terjadi pada semua sendi
kehidupan di Sentani baik perubahan positive maunpun perubahan negative yang
menimbulkan menurunnya kualitas hidup.

Kata kunci: Struktur Sosial Budaya, Management Pengelolaan, Masyarakat Sentani


Yeny, Irma
Kajian hukum adat Suku Mooi dalam pemanfaatan sumberdaya alam di Sorong / Irma
Yeny; Wilson Rumbiak; Arif Hasan. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman
283-295 , 2005

      Beberapa wilayah di Papua aturan adat masih diakui keberadaannya dan
dianggap mempunyai kekuatan hukum yang dapat membuat jera dan cukup efektif.
Sehingga untuk dapat mengakomodir potensi adat dalam penegakan sanksi adat maka


                                                                                        164
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



kajian hukum adat perlu dilakukan. Penelitian dilakukan pada masyarakat sekitar hutan
produksi di kabupaten Sorong provinsi Irian Jaya Barat. Penelitian ini bertujuan
mengkaji dan mengelompokkan adat istiadat dalam mengatur masyarakat adat dalam
pemanfaatan sumberdaya alam di Papua. Pengumpulan data dilakukan dengan
metode survey, yang terdiri dari 2 (dua) kegiatan pokok berupa pencarian fakta dan
penafsiran data/ fakta tersebut dengan tepat (Whitney, 1960 dalam Nazir, 1988). Hasil
penelitian menunjukkan adanya paranata adat yang hidup sampai saat ini dan mampu
mewadahi segala kepentingan adat yang dapat memperkuat kedudukan hutan adat
dalam hukum formal. Selanjutnya Hukum adat Suku Mooi terdiri dari norma dan
aturan adat (hukum adat). Sebagaimana hak-hak adat yang ada di Indonesia hukum
adat tersebut tidak tertulis dan tidak statis, sehingga hukum adat waktu lampau berbeda
isi dan sanksinya dengan hukum adat dimasa sekarang.

Kata kunci: Hukum Adat, Pemanfaatan, Sumberdaya Alam


Yudilastiantoro, C.
Partisipasi masyarakat terhadap pengelolaan hutan lindung di DAS Palu (Hulu), Sulawesi
Tengah / C. Yudilastiantoro. -- Info Sosial Ekonomi : Volume 5 No.3 ; Halaman 219-231
, 2005

       Hutan lindung merupakan kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir,
mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut dan memelihara kesuburan tanah.(UU
41/1999). Pemanfaatannya dapat berupa pemanfaatan kawasan, jasa lingkungan dan
pemungutan hasil hutan bukan kayu Penelitian ini dilakukan di tiga desa, yaitu desa
Toro, Matauwe dan Bolapapu; di Kecamatan Kulawi, Kabupaten Donggala, Propinsi
Sulawesi Tengah. Pelaksanaan penelitian pada bulan Januari - Desember 2003.
Penentuan responden secara "purposive sampling", dengan jumlah sample 75
responden. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekunder; kemudian
dianalisis dengan menggunakan metode analisis kuantitatif dan Chi Square (X"). Hasil
penelitian menunjukan bahwa kontribusi pemungutan hasil bukan kayu di hutan
lindung terhadap pendapatan kelaurga antara 25% - 33%. Hasil uji Chi Square (X2) dan
uji koefisien keeratan hubungan (nilai C) menunjukan bahwa faktor sosial ekonomi,
yaitu: umur, tingkat pendidikan, jumlah tanggungan keluarga dan jumlah pendapatan
tidak berpengaruh nyata terhadap partisipasi pengelolaan hutan lindung; tetapi luas
lahan (kebun) berpengaruh nyata terhadap partisipasi mengelola hutan lindung. Nilai
keeratan hubungannya sangat rendah sampai rendah. Model partisipasi masyarakat
setempat bernuansa gotongroyong dengan dasar kearifan lokal. Masyarakat
berpartisipasi aktif dalam menjaga, melindungi dan melestarikan hutan lindung,
karena adanya motivasi menggunakan sebagian kawasan lindung untuk berkebun.

Kata Kunci: distribusi pendapatan, partisipasi, faktor sosial ekonomi



                                                                                          165
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Yudilastiantoro, C.
Kelembagaan pengelolaan DAS dalam konteks desentralisasi di DAS Saddang dan
Bilawalanae, Sulawesi Selatan = Watershed management institution in the context of
decentralization in Saddang and Bilawalanae Watersheds, South Sulawesi /
C.Yudilastiantoro; Iwanuddin. – Jurnal Penelitian Sosial dan Ekonomi Kehutanan :
Volume 2 No.4 ; Halaman 313-322 , 2005

        Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dan Peraturan Pemerintah Nomor 25
Tahun 2000 memberikan kewenangan pengelolaan sumber daya alam (termasuk
sumber daya alam di wilayah DAS) kepada daerah, baik di tingkat propinsi maupun
kabupaten/kota. Akibatnya muncul ego sektoral dari masing-masing daerah dalam
pengelolaan sumber daya alamnya yang menimbulkan dampak negatif terhadap
kelestarian sumber daya alam, khususnya sumber daya hutan. Oleh karena itu
diperlukan upaya-upaya guna menentukan suatu kelembagaan pengelolaan Daerah
Aliran Sungai yang mantap dalam rangka desentralisasi dengan cara melakukan
identiflkasi tugas pokok dan fungsinya. Selanjutnya dianalisis dan ditelaah untuk dapat
menyusun suatu pemantapan kelembagaan pengelolaan DAS dengan mengkaji
kekurangan dan kelebihan dari kelembagaan pengelolaan DAS yang sudah ada. Lokasi
penelitian di DAS Saddang dan DAS Bilawalanae di Propinsi Sulawesi Selatan. Hasil
kajian : seluruh instansi/lembaga yang terkait dengan pengelolaan DAS di tingkat
Kabupaten, setuju dengan upaya pengembangan kelembagaan pengelolaan DAS
Tingkat Propinsi sebagai koordinator pengelolaan DAS Lintas Kabupaten/Kota untuk
DAS Bilawalanae yang terdiri dari beberapa kabupaten.Untuk DAS Saddang; semua
instansi terkait di tingkat kabupaten, setuju bila Balai Pengelolaan DAS Saddang ditunjuk
sebagai Koordinator Pengelolaan DAS Saddang ( sebagai leading sector DAS
Saddang). Diperlukan SK Menteri atau Gubernur, untuk mendukung tugas pokok dan
fungsi suatu Badan Pengelolaan DAS Tingkat Propinsi sebagai koordinator pengelolaan
DAS lintas kabupaten. Diperlukan Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan
Daerah Aliran Sungai Lintas Kabupaten.

Kata kunci: Desentralisasi, Kelembagaan, Daerah Aliran Sungai, Para pihak




                                                                                          166
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



                   ANALISIS KEBIJAKAN KEHUTANAN



Dwiprabowo, Hariyatno
Analisa kebijakan skema kredit dan pembiayaan usaha tani hutan = An analysis on credit
scheme and funding policy of smallholder private forests / Hariyatno Dwiprabowo. --
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.2 ; Halaman 89-100 , 2005

         Kredit usaha tani hutan merupakan suatu upaya untuk melaksanakan
penghijauan pada lahan milik berupa kebun kayu dan atau aneka usaha kehutanan lain,
disamping untuk tujuan konservasi melalui partisipasi masyarakat. Departemen
Kehutanan menyelenggarakan Kredit Usaha Hutan Rakyat (KUHR) yang dimulai sejak
tahun 1997. Kredit ini berakhir dengan dihentikannya pemberian kredit pada tahun 1999.
Meskipun demikian dimasa mendatang kredit usaha bagi petani tetap perlu mendapat
perhatian sebagai salah satu alternatif untuk mendukung program di sektor
kehutanan.Tujuan dari kajian ini adalah untuk melihat faktor-faktor penyebab kegagalan
kredit hutan rakyat, perbaikannya di masa mendatang, serta sumber pembiayaannya.
Kajian bersifat sintesis dari berbagai sumber laporan, data primer dan sekunder, dan
forum diskusi dengan pelaku kredit seperti bank dan mitra kelopok tani. Hasil kajian
menunjukkan kredit usaha tani dimasa mendatang perlu memperhatikan, antara lain: (i)
Pemberian paket kredit perlu disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi wilayah; (ii)
Mitra kelompok tani perlu dipilih secara lebih selektif; (iii) Peranan bank dalam
penyaluran kredit perlu dilihat secara lebih proporsional; (iv) Sumber pembiayaan selain
berasal dari dana reboisasi, juga berasal dari perbankan nasional, dan sumber dana dari
luar negeri.

Kata kunci: Skema kredit, usaha tani hutan, hutan rakyat


Malik, Jamaludin
Kajian efisiensi pemanfaatan kayu merbau dan relokasi industri pengolahannya bagian 1:
propinsi Papua sebagai penghasil kayu merbau dan tujuan relokasi = Evaluation on
utilization efficiency of merbau and relocation of its wood industry part 1: a case study in
Papua province as merbau wood resource and destination of relocation / Jamaludin
Malik ...[et al] . -- Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.1 ; Halaman 59-76
, 2005

         The processing of Merbau wood (Intsia spp.) has become an important issue as
Papua Province asked the Central Government for log export dispensation. However, in
order to keep the value added of the log, Indonesian Government through Presidential
Decree No. 7, 2002 offered industries that handling Merbau's wood to relocate from
East Java to Papua.
         In the aim of evaluating objective condition of wood merbau utilization and
merbau wood based industries relocation urgency, The comprehensive study has to be


                                                                                            167
                                                     Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



done on raw material potency, recent log distribution, relevant regulation and labour
involved in industries. The study is divided into two parts. Part one of this study focused
on recent condition in Papua, includes data collecting of merbau wood potency and
reviewing merbau wood industries. While, the second part, which will publish in different
paper, concerning about merbau wood industries in East Java that will be relocated.
The result of part one study shows that merbau's potency in Papua is large. The potency
is about 2.662 million m3/year from natural forest. The wood industries in Papua is
relatively sufficient for merbau wood utilization. The industries contain 9 large wood mills
and 66 units of small-medium scale wood-mills, which process merbau wood. Mostly,
they sawed merbau wood into sawn timber type S2S and S4S. It is also noted, that there
are a lot of small sawmill in forest area that saws merbau wood into balken using
chainsaw. In fact, the industries in Papua lacks of merbau wood as raw material. Based
on evaluation, it can be concluded that the relocation of merbau wood industry is not
sufficient alternative. Merbau wood still can be utilized by local industry. The important
thing to do is improving the technical ability of local industry to increase wood yield and
improvement of merbau wood products marketing.

Key words: Merbau wood, utilization, industry, relocation, Papua


Noorhidayah
Keanekaragaman tumbuhan berkhasiat obat di Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur
= Diversity of Medicinal Plant Species in Kutai National Park, East Kalimantan /
Noorhidayah, Kade Sidiyasa. -- Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.2 ;
Halaman 115-128 , 2005

         Sebagian besar (49%) dari tumbuhan obat yang teridentifikasi ada di kawasan
Taman Nasional Kutai tersebut adalah berupa jenis pohon, sedangkan herba yang
selama ini sudah banyak dikenal sebagai sumber utama produksi bahan obat-obatan
tradisional hanya mencapai 10%. Dilihat dari bagian tumbuhan yang digunakan maka
penggunaan daun merupakan yang terbanyak yakni dihasilkan oleh 53 jenis, diikuti oleh
penggunaan kulit batang (37 jenis) dan akar atau umbi (35 jenis). Kegiatan sosialisasi
dan pengembangan tumbuhan obat di kawasan Taman Nasional dan sekitarnya dengan
melibatkan semua instansi terkait, terutama masyarakat setempat dapat merupakan satu
upaya positif dalam mendukung program konservasi.

Kata kunci : Tumbuhan berkhasiat obat, masyarakat, Taman Nasional Kutai, Kalimantan
              Timur


Pudjiharta, Ag.
Permasalahan aspek hidrologis hutan tusam dan upaya mengatasinya = problem of pine
forest hydrological aspects and their possible solutions / Ag. Pudjiharta. -- Jurnal Analisis
Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.2 ; Halaman 129-144 , 2005




                                                                                             168
                                                    Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



         Tusam adalah jenis pohon pionir yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Jenis ini
telah berkembang dan telah ditanam secara meluas, terutama setelah tusam menjadi
jenis pohon reboisasi. Daerah tanaman tusam telah berkembang meluas di beberapa
daerah, yang menimbulkan beberapa isu kontroversi di beberapa daerah di mana tusam
ditanam. Pengaruh isu kontroversi mengenai tusam menyebabkan masyarakat
mengajukan beberapa keluhan mengenai keberadaan hutan tanaman tusam di
daerahnya. Keluhan mengatakan bahwa hutan tanaman tusam mempunyai pengaruh
merugikan pada keseimbangan hidrologi dan tusam bukan jenis pohon asli setempat.
Beberapa pendapat mengenai pengaruh penanaman dan penebangan hutan termasuk
tusam pada hidrologi telah muncul sejalan dengan perkembangan dan meluasnya
penanaman tusam dan meningkatnya kebutuhan sumber mata air pada musim kemarau
yang panjang. Respon yang proposional dan pendekatan secara kelembagaan
dibutuhkan untuk mitigasi masalah di atas.

Kata kunci: Tusam, aspek hidrologis, sisi baik, sisi buruk


Pudjiharta, Ag.
Strategi pengamanan jangka panjang penggunaan lahan dan air = long term strategy for
sustaining land and water utilization / Ag. Pudjiharta. -- Jurnal Analisis Kebijakan
Kehutanan : Volume 2 No.1 ; Halaman 27-44 , 2005

         Air adalah bagian dari lingkungan dan tidak dapat dipisahkan dari sumber daya
alam lainnya, seperti lahan, iklim, sumber daya hutan dan lingkungan sosial budaya
masyarakat. Dari kenyataan tersebut perencanaan mengenai penggunaan dan
pengelolaan sumber daya lahan dan air tidak dapat dipisahkan dari perencanaan tata
ruang dan penataan kawasan pada sistem daerah aliran sungai yang didasarkan atas
karakteristik biofisik, hidrologi, iklim, sosial budaya dan persediaan serta kebutuhan akan
sumber daya alam. Penggunaan terpadu lebih diutamakan untuk pengendalian banjir,
konservasi dan rehabilitasi daerah resapan air dan daerah hulu, pembangunan
pedesaan, perhutanan sosial, fasilitas penyediaan air, dan fasilitas drainase.

Kata kunci : Pengelolaan, penggunaan, lahan, air


Puspitojati, Triyono
Kajian persaingan usaha antar industri kecil mebel rotan di kabupaten kota Palu,
Sulawesi Tengah = Study on business competition among small furniture rattan
industries in kota Palu regency, Central Sulawesi / Triyono Puspitojati. -- Jurnal Analisis
Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.1 ; Halaman 1-12 , 2005

          The aims of this study were to find out how business competition among 5 small
rattan furniture indutries in Kota Palu Regency, Central Sulawesi influence the income of
the owners and the development of the industries. Results of the study showed that
market of ratan furniture was limited. At normal demand, production of rattan furniture
was around 40 - 50 set per month and increased to become 150 - 200 set per month at


                                                                                            169
                                                   Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



high demand. In addition, the business competition among industries was high. As a
result, the income obtained by the owners was low, around Rp 393,095 - Rp 1,836,604
per industry per month. In the future, the business competition among them will still be
high and the development of the industries is difficult to be conducted. Regional
government can help the development of the industry by enlarging the market of rattan
furniture through increasing regional budget for rattan furniture.

Keywords: Business competition, furniture rattan industry, limited market


Subarudi
Analisis kebijakan pengelolaan hutan lindung : kemungkinan penyadapan getah pinus di
hutan lindung = Policy analysis on protected forest management : the possibilities to tap
pine resin in protection forest / Subarudi, Ngaloken Gintings, Suwardi Sumadiwangsa. --
Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.2 ; Halaman 101-113 , 2005

          Penghentian sementara kegiatan penyadapan getah pinus oleh Perum
Perhutani karena perubahan status dari hutan produksi menjadi hutan lindung (sekitar
30%). Hal ini membawa dampak kepada penurunan luas sadapan getah pinus dan
sekaligus kepada kesejahteraan masyarakat sekitar hutan, dimana kegiatan penyadapan
ini telah membudaya dan menjadi pekerjaan utama dan sampingan. Oleh karena itu
kajian kebijakan tentang kemungkinan pemanfaatan hutan lindung untuk penyadapan
menjadi sangat penting. Hasil kajian menunjukkan bahwa: (1) penyadapan getah pinus di
Hutan Lindung dapat dikatagorikan sebagai salah satu upaya pemanfaatan hutan dalam
bentuk pemungutan hasil hutan bukan kayu (HHBK) oleh masyarakat setempat dengan
binaan oleh Perhutani; (2) dari segi yuridis formal, penyadapan getah diperkenankan dan
dapat dilakukan hanya pada blok pemanfaatan dengan tidak melakukan penebangan
pohon; (3) dari segi teknis penyadapan, penyadapan getah hanya dapat dilakukan
dengan metoda penyadapan sersan terbalik (riil method) yang secara teknis tidak akan
menyebabkan pohon roboh/rebah; (4) dari segi konservasi tanah dan air, penyadapan
getah diperkenankan sepanjang tidak mengabaikan faktor-faktor penyebab terjadinya
aliran permukaan dan erosi, seperti lereng lapangan, lapisan tajuk, tanaman bawah, jenis
tanah, curah hujan, serasah dan daerah-daerah yang rawan longsor; dan (5) dari segi
teknis pelaksanaan, penyadapan getah dapat dilakukan oleh masyarakat atau koperasi.
Hal ini tentunya dapat diwujudkan dalam kerangka PHBM dengan sistem bagi hasil yang
proporsional antara Perhutani dengan masyarakat.

Kata kunci: Kebijakan, penyadapan pinus, dan pengelolaan hutan lindung


Suhaendi, Hendi
Kajian konservasi Pinus merkusii strain Tapanuli di Sumatera = Investigation on
conservation of Pinus merkusii strain Tapanuli at Sumatera / Hendi Suhaendi. -- Jurnal
Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.1 ; Halaman 45-57 , 2005




                                                                                           170
                                                  Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



         Di Indonesia, Pinus yang tumbuh secara alami hanyalah Pinus merkusii di
Sumatera yang terdiri dari strain Tapanuli, strain Kerinci dan strain Aceh. Berdasarkan
persebarannya, strain Tapanuli tidak banyak dijumpai karena tercampur dengan jenis-
jenis kayu daun lebar. Secara alami, strain Tapanuli ditemukan di Cagar Alam Dolok
Sipirok dan Cagar Alam Dolok Saut. Dalam bentuk hutan tanaman, strain Tapanuli dibuat
oleh masyarakat atau rakyat dengan anakan alam dan diambil secara cabutan di
Tegakan Benih Dolok Tusam, dan sekarang sudah habis ditebang karena digantikan
oleh tanaman kopi. Di wilayah kerja Dinas Kehutanan Propinsi Sumatera Utara hampir
tidak pernah didapatkan informasi tentang keberadaan strain Tapanuli. Konservasi in situ
dalam bentuk Cagar Alam perlu dilengkapi dengan konservasi ex situ. Sebagai langkah
awal konservasi, terlebih dahulu perlu dikaji permudaan alamnya. Di samping itu, analisis
kebijakan berkaitan dengan pentingnya eksplorasi dengan metode sensus pada semua
kawasan konservasi di Sumatera perlu dipertimbangkan, dan pertemuan formal antar
pengambil kebijakan di Departemen Kehutanan perlu direkomendasikan.

Kata kunci : Pinus merkusii strain Tapanuli, cagar alam, permudaan alam, kebijakan


Suryandari, Elvida Yosefi
Peluang usaha ekowisata Cagar Alam/Taman Wisata Alam Kawah Ijen di Kawasan
Taman Nasional Alas Purwo = The opportunity of ecoturism business at Kawah Ijen
Nature Preserve and Nature Conservation Parks, in Alas Purwo National Park / Elvida
Yosefi Suryandari. -- Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.1 ; Halaman
13-26 , 2005

          Cagar Alam/Taman Wisata Alam Kawah Ijen di Taman Nasional Alas Purwo
memiliki kekayaan dan daya tarik yang beranekaragam sehingga dapat dijadikan modal
besar dalam pengembangan ekowisata dengan obyek yang dapat dipasarkan kepada
konsumen baik dalam maupun luar negeri. Analisa SWOT dilaksanakan untuk menyusun
strategi peluang usaha ekowisata di kawasan konservasi ini.
Membangun kerjasama antara pengelola taman nasional, pemerintah daerah dan
pengusaha swasta, sangat diperlukan dalam meningkatkan peluang usaha ekowisata.
Disamping itu adanya kebijakan khusus diharapkan dapat mendukung usaha ekowisata,
sehingga menciptakan keseimbangan yang positif antara tujuan komersial usaha,
lingkungan yang baik dan peningkatan nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.

Kata kunci : Ekowisata, CA/TWA Kawah Ijen, analisa SWOT, kebijakan khusus


Tinambunan, Djaban
Penggunaan alat dan mesin besar-besar dalam pembangunan Hutan : Keuntungan,
kerugian dan upaya mengoptimalkannya = The use of Large Machineries and equipment
in Forest development : advantages and Optimalization efforts / Djaban Tinambunan :
Yuniawati. -- Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan : Volume 2 No.2 ; Halaman 77-87 ,
2005



                                                                                          171
                                                 Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




          Alat dan mesin berkekuatan 50 HP atau lebih masuk dalam kategori alat dan
mesin besar. Oleh karena sebagian besar alat dan mesin dalam pembangunan hutan
(alsinhut) di Indonesia berkekuatan di atas 50 HP maka mereka pun termasuk kategori
alat dan mesin yang besar.
Penggunaan alsinhut yang besar-besar telah terbukti memberi banyak keuntungan,
namun sekaligus juga membawa banyak kerugian yang sulit untuk diatasi. Oleh karena
itu, untuk masa datang, upaya pengoptimalannya perlu diusahakan dengan cara
melakukan analisa krisis terhadap berbagai aspek pengoperasian alsinhut besar tersebut
seperti aspek-aspek teknis, ekonomi, sosial, lingkungan, kelembagaan dan sumberdaya
manusia dan kemudian mengelola pengoperasiannya secara profesional.
Pengambil kebijakan dan pelaksana pembangunan hutan perlu memahami semua aspek
pengoptimalan penggunaan alsinhut di atas dan merealisasikannya dalam praktek di
lapangan agar pembangunan hutan dapat berjalan baik dengan dampak negatif yang
minimal.

Kata kunci : Alat dan mesin besar, pembangunan hutan, keuntungan, kerugian dan
             pengoptimalan




                                                                                         172
                                            Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




                                 INDEKS PENULIS



Abdurachman, p. 93, 100                    Hendromono, p. 14, 15
Abdurrohim, Sasa, p. 93, 94                Herawan, Toni, p. 79, 80
Adinugraha, Hamdan A, 73                   Herawati, Tuti, p. 16, 17
Akbar, Acep, p. 74                         Heriansyah, Ika, p. 18
Andadari, Lincah, p. 1                     Heriyanto, N.M, p. 19
Antoko, Bambang S, p. 2, 5                 Hidayat, Asep, p. 100
Anwar, Chairil, p. 2                       Imanuddin, Rinaldi, p. 19
Astana, Satria, p. 133, 134, 135           Intari, Sri Esti, p. 20, 21, 22
Aswandi, p. 3, 4                           Irawanti, Setiasih, p. 147
Barly, p. 94, 115, 116                     Iskandar, M.I, p. 101
Basri, Efrida, p. 94, 95                   Iskandar, Sofian, p. 22, 23
Bismark, M., p. 5                          Ismail, Burhan, p. 80
Cahyono, S. Andy, p. 136                   Jariyah, Nur Ainun, p. 148
Charomaini, M, p. 74, 75, 76               Jayusman, p. 81, 82
Charomaini,M., p. 75                       Kadir W, Abd, p. 149
Darwiati, Wida, p. 6, 7                    Kadir W, Abdul, p. 150
Dewi, Indah Novita, p. 136                 Kadir W.,Abdul, p. 149
Diniyati, Dian, p. 137                     Kalima, Titi, p. 24, 25
Dwiprabowo, Hariyatno, p. 137, 168         Karlina, Endang, p. 26
Edriana, E, p. 97                          Kartikawati, Noor Khomsah, p. 82
Ekawati, Sulistya, p. 138, 139             Karyono, O.K, p. p. 151, 152
Endom, Wesman, p. 95, 96, 97               Kayat, p. 26
Garsetiasih, R, p. 7, 8                    Komarayati, Sri, 101
Ginoga, Kirsfianti, p. 140                 Kosasih, A Syafari, p. 27,28
Gintings, A. Ngaloken, p. 12               Krisdianto, p. 102, 103
Gunawan, Hendra, p. 8, 9, 10, 11           Kuntadi, p. 29
Gusmailina, p. 98, 99, 103                 Kusmiyati, Evi, p. 103
Hadisoesilo, Soesilowati, p. 13            Kusumedi, Priyo, p. 153, 154
Hadjib, Nurwati, p. 100                    Kuswanda, Wanda, p. 29, 30, 31
Hakim, Ismatul, p. 13, 142, 143            Kuswandi, R, p. 32
Hakim, Lukman, p. 76                       Kwatrina, Rozza Tri, p. 32, 33
Handadhari, Transtoto, 141                 Langi, Liafrida Tangke, p. 34
Hardi TW, Teguh, p. 77, 78                 Lekitoo, Krisma, p. 34, 35, 36, 37
Hariyanto, Liliek, p. 78                   Leksono, Budi, p. 83
Haryanti, Nana, p. 145                     Lelana, Neo Endra, p. 105
Hastanti, Baharinawati W., p. 146          Lempang, Mody, p. 104
Hayati, Nur, p. 147                        Lestari, Setyani B, p. 104
Hendalastuti R, Henti, p. 14               Mahfudz, p. 83, 84


                                                                                    173
                                       Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Mairi, Kristian, p. 154               Subarudi, p. 152, 159, 160, 171
Malik, Jamaludin, p. 105, 106, 168    Sudradjat, R, p. 118, 119, 120
Mandang, Yance I, p. 106              Suhaendi, Hendi, p. 171
Mashudi, p. 4, 85                     Suhartana, Sona, p. 120, 121, 122
Mile, Yamin, p. 155                   Suharti, Sri, p. 52, 53, 54
Mindawati, Nina, p. 37, 38, 39, 40    Suharti, Tati, p. 53, 55
Murniati, p. 41, 42, 52               Sukadaryati, p. 123
Muslich, Mohammad, p. 107             Sukartana, P, p. 122
Nazif, M, p. 43                       Sulastiningsih, p. 124, 125
Noorhidayah, p. 50, 86, 169           Sumadiwangsa, E Suwardi, p. 125
Novriyanti, Eka, p. 43, 108           Sumarhani, p. 55, 56
Nurapriyanto, Iga, p. 156             Sunarti, Sri, p. 90, 91
Pari, Gustan, p. 109                  Supratman, p. 160
Pasaribu, Ridwan Achmad, p. 108       Suryanto, p. 57
Prabawa, Sigit Baktya, p. 109         Susanty, Farida Herry, p. 58
Prameswari, Diana, p. 44              Susila, I Wayan Widhana, p. 59
Pratiwi, p. 45, 46                    Sutiyono, p. 60
Pudjiharta, A, p. 46                  Suwandi, p. 60, 126
Pudjiharta, Ag., p. 169, 170          Syahadat, Epi, 161, 162
Pudjiono, Sugeng, p. 86, 87           Sylviani, p. 13, 163
Purnomo, p. 110                       Tinambunan, Djaban, 127, 172
Puspitojati, Triyono, p. 170          Triantoro, R.G.N, 62
Rimbawanto, Anto, p. 88               Tuharea, Abdullah, p. 164
Rochmayanto, Y, p. 110                Wahyono, Rachmat, p. 62
Rochmayanto, Yanto, p. 156, 157       Wibowo, Ari, p. 63, 64, 65, 66
Roliadi, Han, p. 111, 112, 113, 114   Wibowo, Santiyo, p. 127, 128
Rostiwati, Tati, p. 47                Widiarti, Asmanah, p. 68
Santoso, Adi, p. 115, 116, 117        Widyati, Enny, p. 66, 67, 69
Santoso, Erdi, p. 48                  Winarni, Ina, p. 129, 130
Sawitri, Reny, p. 48, 49              Yafid, Bugris, p. 69
Setiadi, Dedi, p. 88, 89              Yelnititis, p. 91
Siagian, Y. Togu, 90                  Yeny, Irma, p. 165
Sianturi, Apul, p. 157                Yudilastiantoro, C., p. 166, 167
Siarudin, M, p. 158                   Yuliah, p. 92
Sidiyasa, Kade, p. 49                 Yuliana, Sarah, p. 70, 71
Sinaga, Marolop, p. 117               Yuniarti, Karnita, p. 130, 131
Siregar, Chairil Anwar, p. 50         Yuniawati, p. 121, 122, 131, 132, 172
Sofyan, Agus, p. 51




                                                                               174
                                                Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005




                                   INDEKS KATA KUNCI



A                                             Bambu, 37, 43, 44, 60, 74, 106, 107,
A. squamosa, 22                                   123, 124
Acacia mangium, 15, 37, 38, 43, 44,           Banteng, 31
    45, 50, 51, 54, 55, 64, 65, 82, 90, 94,   Bekantan, 6, 49, 50
    108, 109, 116, 123, 134                   benang sutera, 109, 110, 125
Acacia mangium Willd, 37, 38, 43, 44,         benih, 12, 17, 18, 27, 28, 74, 75, 76, 79,
    45, 54, 55, 94                                81, 82, 84, 85, 88, 89, 90, 91
Adat budaya, 154                              bibit kemiri, 12
Agathis alba Foxw, 46, 47                     Biji tengkawang, 128
air, hutan, 9                                 bilah sambung, 114, 116
alang-alang, 41, 50                           Biodisel, 117, 119
alat pemotong dahan, 96                       Biomassa, 33, 34
Alnus nepalensis Don, 46, 47                  bioremediasi, 66, 67
Alstonia scholaris, 36, 84                    biostimulan, 82, 83
Amfibi, 71                                    Bombyx mori L, 1
analisa SWOT, 171                             Bos javanicus d'Alton, 1832. See
Annona glabra, 22                                 Banteng, buah merah, 151
Aphis cassivora, 21                           Burahol, 102, 103
Apis cerana, 13, 28, 29                       C
Apis nigrocincta, 13                          cagar alam, 29, 30, 32, 33, 34, 35, 171
Aquastore, 83                                 Cagar Alam Dolok Sibual-buali, 29, 30
Aquillaria malaccensis. See Gaharu,           Cagar Alam, Dolok Tinggi Raja, 33
    See Gaharu                                Calliandra callothyrsus Meissn.. See
arang aktif, 108, 117, 118, 119                   Kaliandra
Arang aktif, 108, 119                         Cassia siamea. See Johar
Araucaria cunninghamii, 88                    Castanopsis argentea A.DC, 46, 47
Arenga pinnata. See Nira Aren                 cendana, 76, 77, 78, 79, 91, 97, 132
Artocarpus altilis, 41, 72                    Cendana, 77, 79
Asam humat, 14                                Cendawan penyekat, 122
asam lemak bebas, 117, 128                    Cetronella oil, 155
asam oksalat, 14                              Coccinellidae, 21
B                                             Coelophora inaequalis, 21
Bacilus thuringiensis, 20, 21                 Collocalia maxima Hume 1878, 6, See
bagan pengeringan, 94                             Walet Sarang Hitam
bahan pengawet, 92, 93, 104, 106              Conventional Logging, 49
balok lamina, 92, 105                         cuka kayu, 129
balsa, 74, 75                                 cuka kayu pinus, 20, 21
Balsa, 74, 75


                                                                                        175
                                            Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



D                                         herbisida, 42, 43
daerah aliran sungai, 8, 9, 137, 169      Heterosis, 85, 86
Daerah Penyangga, 158                     HHBK, 125, See Hasil Hutan Bukan
damar mata kucing, 99                        Kayu, See Hasil Hutan Bukan Kayu,
Danau Tempe, 135                             See Hasil Hutan Bukan Kayu, See
daya saing ekspor, 132                       Hasil Hutan Bukan Kayu, See Hasil
Desentralisasi, 144, 166                     Hutan Bukan Kayu, See Hasil Hutan
dinamika hutan, 57, 58                       Bukan Kayu, See Hasil Hutan Bukan
Diptera, 21                                  Kayu, See Hasil Hutan Bukan Kayu,
Dipterocarpaceae, 32, 58                     See Hasil Hutan Bukan Kayu, See
E                                            Hasil Hutan Bukan Kayu, See Hasil
Ekologi, 19                                  Hutan Bukan Kayu, See Hasil Hutan
ekowisata, 23, 24, 27, 151, 164, 171         Bukan Kayu, See Hasil Hutan Bukan
Ekowisata, 171                               Kayu, See Hasil Hutan Bukan Kayu,
Ekowisata Otak Kokok, 27                     See Hasil Hutan Bukan Kayu, See
Emydura subglobosa subglobosa Kreff,         Hasil Hutan Bukan Kayu, See Hasil
   1876. See Kura-Kura Perut Merah           Hutan Bukan Kayu, See Hasil Hutan
erosi, 44, 45, 74, 140, 141, 149, 165        Bukan Kayu, See Hasil Hutan Bukan
Estuaria, 52                                 Kayu, See Hasil Hutan Bukan Kayu,
Eucalyptus grandis, 33, 34                   See Hasil Hutan Bukan Kayu, See
Eucalyptus pellita, 44, 72                   Hasil Hutan Bukan Kayu, See Hasil
Evapotranspirasi, 46, 47                     Hutan Bukan Kayu
F                                         Hidrologi, 9
Fagraea fragrans Roxb. See Tembesu        Hopea odorata, 89
Flora rotan, 25                           Hukum Adat, 165
forest for people, 144                    Hutan rawa-gambut, 15
fungsi taper, 3, 4                        hutan adat, 154
G                                         hutan adat Rumbio, 146
gaharu, 156                               hutan bekas tebangan, 15, 58, 157
Gaharu, 80                                Hutan Campuran, 64
Gambir, 126, 127                          Hutan gambut, 65
Gmelina arborea, 4, 14, 80, 115           hutan kemasyarakatan, 156
Gorontalo, 8, 9                           hutan lestari, 53, 56, 95, 126, 133, 154,
gua Sungai Pinang, 5, 6                      157
Gula aren, 127                            hutan lindung, 162
H                                         Hutan Penelitian, 18, 25, 27, 28, 38,
hak pengusahaan hutan, 137                   40, 53
hama, 77                                  hutan primer, 15, 36, 39, 58, 71, 136
hara tanah, 39, 51                        hutan rakyat, 16, 95, 127, 135, 136,
Harga Karbon, 139                            138, 139, 144, 147, 151, 152, 153,
hasil hutan, 132, 133                        159, 163, 167
hasil hutan bukan kayu, 16, 29, 97,       hutan rawa, 4, 5, 15, 63, 68
   102, 126, 128, 129, 155, 165, 170      hutan tanaman, 4, 7, 12, 18, 19, 20, 39,
Hasil Hutan Bukan Kayu, 155                  45, 50, 54, 55, 59, 62, 63, 64, 65, 73,
Haurbentes, 18, 25, 27, 28, 38, 40, 53,      79, 90, 94, 95, 98, 99, 101, 104, 105,
   54


                                                                                    176
                                              Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



    107, 114, 116, 122, 123, 134, 140,       Kayu kowakan, 96
    169, 171                                 Kayu kuku, 85
Hutan tanaman, 18, 62, 64, 105, 117,         Kayu kurang dikenal, 101
    141                                      kayu lamina, 115
Hutan Tanaman Industri, 44, 55, 108          kayu mangium, 93, 94, 99, 108, 109,
Hutan Tanaman Jati, 139                         115, 122, 123
Hutan wisata, 152                            kayu pertukangan, 3, 62, 96, 114
Hymenoptera, 21                              kayu putih, 81, 82, 97
I                                            Kayu sama-sama, 104
Identifikasi klon, 87                        Kayu sambung, 114
indeks tebang, 99, 100                       Kayu tusam, 92
industri kecil, 170                          keanekaragaman hayati, 23, 24, 69,
inokulasi, 2, 41                                150
Insektisida, 1                               Keanekaragaman hayati, 69
J                                            Keanekaragaman jenis burung air, 23
Jambi, 25, 30, 44, 63, 69, 129               keanekaragaman jenis hayati, 52
jarak pagar, 117, 118, 119                   Keanekaragaman tumbuhan, 26, 168
jarak tanam, 38, 79, 82                      Kearifan tradisional, 146
jati, 51, 52, 55, 56, 82, 83, 87, 104, 124   Keawetan, 106
Jati, 51, 83, 154                            kebakaran hutan, 56, 63, 64, 65
Jatropha curcas L., 117, 119                 Kebakaran hutan, 64, 66
Jawa Tengah, 11, 22, 26, 74, 79, 122,        Kebijakan, 140
    147, 148, 153, 154                       Kebijakan ekspor, 134
Jenis bambu, 34                              kebijakan ekspor, 133, 134
Jenis burung, 9                              kebun benih, 82, 91
jenis perdu, 25, 26                          Kebun pangkas, 88
jenis pohon, 15, 16, 25, 27, 28, 30, 35,     kedawung, 19
    38, 39, 41, 44, 45, 46, 50, 73, 96,      kelembagaan, 11, 14, 17, 42, 137, 138,
    168                                         139, 141, 143, 144, 152, 156, 158,
jenis-jenis kayu Indonesia, 106                 160, 162, 169, 172
Jernang, 129                                 Kelembagaan, 137, 142, 152, 156, 159,
Johar, 59                                       163, 166
K                                            Kelompok Tani, 97, 136
kali Waramui, 37                             keragaman jenis, 2, 32, 33
kaliandra, 78, 128, 129                      Keragaman jenis tumbuhan, 2, 32
Kalimantan Timur, 28, 38, 39, 49, 50,        Keragaman manfaat, 25, 26
    58, 76, 108, 126, 163, 168               kesejahteraan masyarakat, 17, 42,
karakteristik pengunjung, 22, 23, 26            52, 53, 54, 68, 97, 129, 158, 170
karat puru, 76                               keteguhan rekat, 100, 115
karbon, 18, 33, 34, 50, 65, 108, 118,        kokon, 1, 109, 110, 125
    119, 139                                 konservasi ex-situ, 25, 28, 40, 75
kawasan esensial, 23                         konservasi hutan, 158
kayu hasil hutan rakyat, 95                  konservasi jenis, 23
kayu illegal, 161                            Konservasi tanah dan air, 46
Kayu jaha, 27                                Kontribusi Penghijauan, 149
Kayu kelapa, 104, 114                        Kriteria dan indikator, 10, 32


                                                                                      177
                                             Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Kulit kayu medang landit, 127               mortality, 5
Kultur in vitro, 90                         Morus spp.. See Murbei
kupu-kupu, 33                               multipihak, 53
kura-kura perut merah, 70                   multi-stakeholder, 144
L                                           murbei, 1, 60, 78, 85, 86, 89, 109, 125
Lahan Adat, 163                             Murbei, 2, 86
lahan bekas tambang batubara, 66,           mutu benih, 18
    67, 68, 69                              N
lahan kritis, 15, 17, 40, 46, 73, 143,      Nasalis larvatus Wurmb. See Bekantan
    149, 161                                nilai ekonomi, 24, 26, 27, 51, 55, 96,
Lahan kritis, 161                               128, 155, 168, 171
Lak, 16, 17                                 Nilam, 98
lalat rumah, 22                             nira aren, 148
lapisan kayu, 124                           Nira aren, 148
lebah hutan, 109                            O
lelang kayu, 161                            obat, bahan baku industri, 17
Lembah Harau, 33                            Ochroma sp.. See Balsa
Lepidoptera, 21                             Orang utan, 29, 30
Licuala tilifera Becc. See Palem, See       otonomi daerah, 137, 160
    Palem, See Palem, See Palem             P
lignin, 115                                 pakan rusa, 8
Lignin, 116                                 palem, 36
limbah, 113                                 Pandanus conodicus Lamk. See Buah
Limbah, 113                                     Merah
limbah industri kayu, 107                   pantai utara, 11, 23
limbah kayu, hutan tanaman, 123             Paraseanthes falcataria, 79
limbah pembalakan, 104, 105, 107            Paraserianthes falcataria, 16, 21, 100
Limbah pembalakan, 107                      Pariwisata, 164
Limbah penggergajian, 112                   Parkia roxburghii G Don. See
limbah udang, 86                                Kedawung
M                                           pasokan kayu, 147
mahoni, 7, 19, 20, 41, 59                   pemadatan tanah, 130, 131
Mahoni, 60, 154                             Pemanenan, 5, 19, 95, 99, 100, 126
Mangrove, 3, 11, 147                        Pemanenan hutan, 131
Masyarakat adat, 150                        Pemanfaatan bambu, 124
Masyarakat Sentani, 164                     pemanfaatan lahan, 145
masyarakat Suku Moi, 145                    pembangunan hutan, 172
masyarakat tradisional, 25, 26              Pembangunan Hutan Rakyat, 159
meranti, 3, 4, 6, 27, 28, 31, 38, 90, 93,   Pembangunan pariwisata, 162
    100, 128                                pembibitan, 3, 12, 28
Meranti, 15, 28, 90                         pemetaan partisipatif, 153
Merbau wood, 168                            Pemilihan jenis, 40
mikoriza, 1, 2, 41, 69, 107                 pemuliaan bibit, 28, 29
minyak atsiri, 7, 17, 18, 96, 97, 98        Pendapatan Masyarakat, 149
Minyak atsiri, 96, 97                       Penebangan liar, 66
Moms alba var Kanva 2, 89, 90


                                                                                     178
                                            Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



Penebangan serendah mungkin, 120,         R
   121                                    ramin, 15, 47
pengawetan, 92, 93, 102                   Ranca Upas, 8
Pengawetan, 92, 93, 104                   Reduced Impact Logging, 49
Pengelolaan Taman Nasional, 151           rehabilitasi, 2, 3, 11, 15, 17, 39, 40, 42,
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai,             46, 47, 48, 54, 56, 66, 137, 146, 147,
   138, 142, 166                              152, 161, 169
Pengelolaan Hutan, 32, 52, 57             Rehabilitasi, 67
pengelolaan hutan lindung, 166            Rehabilitasi hutan dan lahan, 42
Pengendalian hama, 20, 21                 rente ekonomi, 141
penggerek pucuk Hypsiphylla, 7            Rhophalosivum maydis, 21
penggunaan lahan dan air, 169             robusta Moore, 7
penyadapan pinus, 170                     rosot karbon, 34
Penyaradan Kayu, 122                      rotan, 25, 31, 37, 125, 129, 155
Penyerapan Karbon, 139                    Rusa Totol, 7, 8
Penyu, 62                                 S
perekat, 92, 100, 105, 110, 113, 115,     Santalum album Linn, 77, 78, 79, 91
   116, 124                               satwaliar, 10, 19, 22, 26, 29, 30, 32, 33,
Perekat kayu, 115                             49
perladangan berpindah, 2                  Sebaran alam, 25
Persepsi Masyarakat, 135                  sengon, 21, 56, 76, 77, 79, 94, 100,
persilangan terkendali, 85, 86                108, 112, 152, 153
persuteraan alam, 1, 78, 125              Sentani Barat, 34
pestisida, 7, 17                          serangga, 16, 17, 20, 21, 104, 121
Pestisida nabati, 7                       Serbuk gergaji, 100
PHBM, 13, 14, 42, 52, 56, 170             Shorea leprosula. See Meranti
Pinus merkusii, 15, 24, 25, 26, 63, 69,   Shorea spp., 4, 20, 21, 27, 28
   70, 105, 115, 121, 123, 147, 148,      Shorea stenoptera, 18, 38
   170, 171                               sifat fisis dan mekanis, 124
Pinus merkusii Jungh. et de Vriese, 24,   sifat pengeringan, 94
   25, 63                                 Sinjai, 147
Pinus radiata, 130                        sisa kreosot, 111
polinator, 21                             sistem silvikultur, 15
polusi asap, 66                           sitka spruce, 129, 130
polusi udara, 65, 66                      skarifikasi, 27
Pongo abelii Lesson 1827. See ORang       Skema kredit, 167
   Utan, See ORang Utan, See ORang        Sludge industri kertas, 68
   Utan                                   social forestry, 149
Potensi hutan, 123                        Social forestry, 155
Potensi sumberdaya hutan, 31              Social Forestry, 46, 52, 53, 54, 68
program komputer, 105, 106                Sonneratia caseolaris, 49, 50
Proses Hiraki Analitik, 16                Sosial ekonomi, 69
Pulau Moor, 35                            sosial ekonomi masyarakat, 49, 54, 66,
pupuk NPK, 51                                 138, 150
Pupuk organik, 86, 101                    spora, 41, 69
                                          stek akar, 72


                                                                                    179
                                             Abstrak Hasil-Hasil Penelitian Kehutanan 2005



stek batang, 74, 80                        tanaman inang, 17
stek cabang, 43, 44, 73, 74                Tanduk Rusa, 61
Struktur Sosial Budaya, 164                Tapanuli, 24, 25, 81, 127, 170, 171
struktur tegakan, 5, 58                    Tataniaga, 133, 155
suaka margasatwa, 35                       Tectona grandis. See Jati
suaka margasatwa Jamursba Medi, 61         Tectona grandis I.. See Jati
suaka margasatwa Langkat Timur Laut,       tegakan tinggal, 58
   52                                      Teknik penebangan, 120
Subsidi BBM, 135                           teknik sambungan, 72
sukun, 41, 72, 87, 88                      tembaga-khrom-boron, 106
Sukun, 89                                  tembesu, 51
Sulawesi Selatan, 3, 9, 12, 103, 132,      Terminalia bellerica Roxb., 27
   133, 162, 163, 166                      timber harvester lengkap, 120
Sulawesi Tenggara, 9, 10, 11, 12           Tinggi tegakan, 20
Sumatera Selatan, 3, 51, 69, 126           Toksisitas, 22
Sumatera Utara, 3, 4, 5, 24, 29, 30, 32,   Tumbuhan berkhasiat obat, 168
   33, 52, 81, 110, 126, 127, 171          tumpang sari, 97, 98
Sumatra Utara, 25                          Tusam, 169
Suplai-diman, 109, 110                     U
Sweitenia macrophylla King. See Mahoni     ulin, 76
T                                          Uncaria gambir Roxb. See Gambir
tabel volume, 4                            V
Taman Nasional Bukit Tigapuluh, 2, 30,     vegetasi, 2, 8, 9, 10, 15, 19, 26, 28, 29,
   31                                          33, 34, 35, 36, 49, 65, 73
Taman Nasional Kerinci Seblat, 69, 70      Volume pohon, 4
Taman Nasional Kutai, 168                  W
Taman Nasional Meru Betiri, 19             Walet sarang hitam, 5, 6
Taman Nasional Rawa Aopa, 9, 10, 11        wanafarma, 54
Taman Nasional Rawa Aopa                   wanariset, 9
   Watumohai, 10, 11, 12                   Wanatani Sereh wangi, 155
Taman Nasional Ujung Kulon, 23, 31         wisata alam, 162
Taman Nasional. Ujung Kulon, 24            Y
taman wisata alam, 32, 33, 49, 151         Ylang-ylang, 98
Taman wisata alam, 23                      Z
Taman Wisata Alam Pananjung                zero waste, 107, 123
   Pangandaran, 49




                                                                                     180

								
To top