POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) INDUSTRI KAYU OLAHAN BANK INDONESIA

Document Sample
POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK) INDUSTRI KAYU OLAHAN BANK INDONESIA Powered By Docstoc
					POLA PEMBIAYAAN USAHA KECIL (PPUK)




            INDUSTRI KAYU OLAHAN




                 BANK INDONESIA
         Direktorat Kredit, BPR dan UMKM

Telepon : (021) 3818043 Fax: (021) 3518951, Email : tbtlkm@bi.go.id
                                                 DAFTAR ISI


1. Pendahuluan ......................................................................................................... 2

2. Kemitraan Terpadu............................................................................................ 4
   a. Organisasi ............................................................................................................ 4
   b. Pola Kerjasama .................................................................................................. 6
   c. Penyiapan Proyek .............................................................................................. 7
   d. Mekanisme Proyek............................................................................................ 8
   e. Perjanjian Kerjasama ...................................................................................... 9

3. Aspek Pemasaran ............................................................................................. 11
   a. Industri Kayu Olahan..................................................................................... 11
   b. Perkembangan Ekspor .................................................................................. 12
   c. Permintaan Meubel ......................................................................................... 13
   d. Negara Tujuan Ekspor................................................................................... 14

4. Aspek Produksi .................................................................................................. 15
   a. Lokasi & Bangunan Produksi ...................................................................... 15
   b. Bahan Baku serta Bahan Penunjang ....................................................... 16
   c. Tahap dalam Proses Produksi..................................................................... 17
   d. Pemilihan Mesin Produksi serta Tata Letaknya ................................... 19

5. Aspek Keuangan ............................................................................................... 21
   a. Contoh Proyek Kemitraan Terpadu .......................................................... 21
   b. Rincian Perhitungn Biaya dan Dana Kredit ........................................... 21
   c. Rincian Kelayakan Usaha Kecil .................................................................. 22

LAMPIRAN .................................................................................................................. 24




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                                                                       1
1. Pendahuluan

Potensi produksi jenis-jenis kayu keras maupun lunak di Indonesia berkisar
antara 45 s/d 50 juta m3 per tahun. Secara keseluruhan jenis-jenis kayu
komersial tercatat di Indonesia sebanyak 120 jenis. Produksi kayu bulat
(logs) mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dan diperkirakan
kebutuhan kayu bulat pada tahun 2000 sekitar 60 juta m3. Oleh karena itu,
Pemerintah merencanakan untuk meningkatkan hasil produksi kayu dengan
melaksanakan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Dalam bidang industri pengolahan kayu, maka industri penggergajian kayu
merupakan pengolahan kayu bulat mentah untuk dijadikan barang setengah
jadi atau bahan baku, yang selanjutnya diolah oleh perusahaan industri kayu
hilir menjadi barang jadi.

Konsumen kayu gergajian dalam negeri yang terbesar adalah sektor
perumahan dan sektor kostruksi. Kemudian sejak 1986 industri hilir baru
mulai didirikan, misalnya industri perabot rumah dari kayu "moulding dan
laminating" dsb. Konsumsi kayu olahan dalam negeri lebih besar
dibandingkan dengan produk kayu yang diekspor, meskipun ekspor produk
kayu olahan sangat potensial untuk dikembangkan.

Industri kayu olahan untuk pasar ekspor mulai dikembangkan oleh
perusahaan di Indoensia pada tahun 1986 sesuai dengan kebijaksanaan
Pemerintah yang melarang ekspor kayu bulat dan hanya mengizinkan ekspor
kayu gergaji maupun kayu olahan lainnya, seperti "furniture, laminating
board, wood panel" dll. Pengembangan industri meubel dapat dilihat dari nilai
ekspor barang jadi kayu yang pada tahun 1986 berjumlah US $ 99 juta dan
pada setiap tahun berikut baik menjadi US $ 527 juta pada tahun 1997.

Permintaan di luar negeri atas perabot rumah tangga maupun barang
komponen dari kayu, cukup mantap dan meningkat dari tahun ke tahun.
Pada periode krisis ekonomi yang melanda Indonesia masa kini, peningkatan
ekspor barang-barang dengan nilai tambah tinggi adalah salah satu langkah
untuk mengatasi krisis. Industri kayu olahan yang padat tenaga kerja dapat
menciptakan peluang kerja dan dapat pula menahan daya beli (konsumsi) di
daerah di mana perusahaan ekspor tersebut berada.

Subsektor industri kayu olahan yang memproduksi perabot maupun
komponen kayu untuk pasar ekspor mempunyai prospek bisnis yang sangat
baik, karena bahan baku, tenaga kerja maupun sebagian besar dari faktor
produksi lain berasal dari dalam negeri.

Hampir seluruh hasil produksi barang ekspor dari industri tersebut dikirim ke
para pembeli di luar negeri dari pelabuan-pelabuhan di kota besar pulau
Jawa, yaitu dari Jakarta, Cirebon, Semarang dan Surabaya. Sasaran utama




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                     2
pasar domestik produk kayu olahan tersebut adalah rumah tangga serta
perusahaan dan lembaga di pulau Jawa.

Sebagian besar dari perusahaan yang bergerak di subsektor kayu olahan
adalah perusahaan skala kecil dan menengah. Sekitar 80% dari perusahaan
tersebut berada di pulau Jawa bagian utara, karena tenaga kerja tersedia
dengan jumlah besar dan biaya upah memadai. Oleh karena kapasitas
produksi terbatas dan peluang pasar lebih besar dari kapasitas produksinya,
produsen barang jadi kayu olahan skala UM/UB yang mengekspor
produksinya, sudah lama bekerjasama dengan kelompok-kelompok
pengarajin kayu.

Sejak pemerintah meluncurkan Program Kemitraan antara usaha
menengah/besar dengan usaha kecil, peluang untuk menciptakan proyek
kemitraan terpadu antara kedua pihak menjadi fokus instansi pemerintah
maupun dunia usaha industri kayu olahan.




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   3
2. Kemitraan Terpadu

a. Organisasi

Proyek Kemitraan Terpadu (PKT) adalah suatu program kemitraan terpadu
yang melibatkan usaha besar (inti), usaha kecil (plasma) dengan melibatkan
bank sebagai pemberi kredit dalam suatu ikatan kerja sama yang dituangkan
dalam nota kesepakatan. Tujuan PKT antara lain adalah untuk meningkatkan
kelayakan plasma, meningkatkan keterkaitan dan kerjasama yang saling
menguntungkan antara inti dan plasma, serta membantu bank dalam
meningkatkan kredit usaha kecil secara lebih aman dan efisien.

Dalam melakukan kemitraan hubunga kemitraan, perusahaan inti (Industri
Pengolahan atau Eksportir) dan petani plasma/usaha kecil mempunyai
kedudukan hukum yang setara. Kemitraan dilaksanakan dengan disertai
pembinaan oleh perusahaan inti, dimulai dari penyediaan sarana produksi,
bimbingan teknis dan pemasaran hasil produksi.

Proyek Kemitraan Terpadu ini merupakan kerjasama kemitraan dalam bidang
usaha melibatkan tiga unsur, yaitu (1) Petani/Kelompok Tani atau usaha
kecil, (2) Pengusaha Besar atau eksportir, dan (3) Bank pemberi KKPA.

Masing-masing pihak memiliki peranan di dalam PKT yang sesuai dengan
bidang usahanya. Hubungan kerjasama antara kelompok petani/usaha kecil
dengan Pengusaha Pengolahan atau eksportir dalam PKT, dibuat seperti
halnya hubungan antara Plasma dengan Inti di dalam Pola Perusahaan Inti
Rakyat (PIR). Petani/usaha kecil merupakan plasma dan Perusahaan
Pengelolaan/Eksportir sebagai Inti. Kerjasama kemitraan ini kemudian
menjadi terpadu dengan keikut sertaan pihak bank yang memberi bantuan
pinjaman bagi pembiayaan usaha petani plasma. Proyek ini kemudian dikenal
sebagai PKT yang disiapkan dengan mendasarkan pada adanya saling
berkepentingan diantara semua pihak yang bermitra.

1. Petani Plasma

Sesuai keperluan, petani yang dapat ikut dalam proyek ini bisa terdiri atas
(a) Petani yang akan menggunakan lahan usaha pertaniannya untuk
penanaman dan perkebunan atau usaha kecil lain, (b) Petani /usaha kecil
yang telah memiliki usaha tetapi dalam keadaan yang perlu ditingkatkan
dalam untuk itu memerlukan bantuan modal.

Untuk kelompok (a), kegiatan proyek dimulai dari penyiapan lahan dan
penanaman atau penyiapan usaha, sedangkan untuk kelompok (b), kegiatan
dimulai dari telah adanya kebun atau usaha yang berjalan, dalam batas
masih bisa ditingkatkan produktivitasnya dengan perbaikan pada aspek
usaha.




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   4
Luas lahan atau skala usaha bisa bervariasi sesuai luasan atau skala yang
dimiliki oleh masing-masing petani/usaha kecil. Pada setiap kelompok
tani/kelompok usaha, ditunjuk seorang Ketua dan Sekretaris merangkap
Bendahara. Tugas Ketua dan Sekretaris Kelompok adalah mengadakan
koordinasi untuk pelaksanaan kegiatan yang harus dilakukan oleh para
petani anggotanya, didalam mengadakan hubungan dengan pihak Koperasi
dan instansi lainnya yang perlu, sesuai hasil kesepakatan anggota. Ketua
kelompok wajib menyelenggarakan pertemuan kelompok secara rutin yang
waktunya ditentukan berdasarkan kesepakatan kelompok.

2. Koperasi

Parapetani/usaha kecil plasma sebagai peserta suatu PKT, sebaiknya menjadi
anggota suata koperasi primer di tempatnya. Koperasi bisa melakukan
kegiatan-kegiatan untuk membantu plasma di dalam pembangunan
kebun/usaha sesuai keperluannya. Fasilitas KKPA hanya bisa diperoleh
melalui keanggotaan koperasi. Koperasi yang mengusahakan KKPA harus
sudah berbadan hukum dan memiliki kemampuan serta fasilitas yang cukup
baik untuk keperluan pengelolaan administrasi pinjaman KKPA para
anggotanya. Jika menggunakan skim Kredit Usaha Kecil (KUK), kehadiran
koperasi primer tidak merupakan keharusan

3. Perusahaan Besar dan Pengelola/Eksportir

Suatu Perusahaan dan Pengelola/Eksportir yang bersedia menjalin kerjasama
sebagai inti dalam Proyek Kemitraan terpadu ini, harus memiliki kemampuan
dan fasilitas pengolahan untuk bisa menlakukan ekspor, serta bersedia
membeli seluruh produksi dari plasma untuk selanjutnya diolah di pabrik dan
atau diekspor. Disamping ini, perusahaan inti perlu memberikan bimbingan
teknis usaha dan membantu dalam pengadaan sarana produksi untuk
keperluan petani plasma/usaha kecil.

Apabila Perusahaan Mitra tidak memiliki kemampuan cukup untuk
mengadakan pembinaan teknis usaha, PKT tetap akan bisa dikembangkan
dengan sekurang-kurangnya pihak Inti memiliki fasilitas pengolahan untuk
diekspor, hal ini penting untuk memastikan adanya pemasaran bagi produksi
petani atau plasma. Meskipun demikian petani plasma/usaha kecil
dimungkinkan untuk mengolah hasil panennya, yang kemudian harus dijual
kepada Perusahaan Inti.

Dalam hal perusahaan inti tidak bisa melakukan pembinaan teknis, kegiatan
pembibingan harus dapat diadakan oleh Koperasi dengan memanfaatkan
bantuan tenaga pihak Dinas Perkebunan atau lainnya yang dikoordinasikan
oleh Koperasi. Apabila koperasi menggunakan tenaga Penyuluh Pertanian
Lapangan (PPL), perlu mendapatkan persetujuan Dinas Perkebunan setempat
dan koperasi memberikan bantuan biaya yang diperlukan.




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   5
Koperasi juga bisa memperkerjakan langsung tenaga-tenaga teknis yang
memiliki keterampilan dibidang perkebunan/usaha untuk membimbing
petani/usaha kecil dengan dibiayai sendiri oleh Koperasi. Tenaga-tenaga ini
bisa diberi honorarium oleh Koperasi yang bisa kemudian dibebankan kepada
petani, dari hasil penjualan secara proposional menurut besarnya produksi.
Sehingga makin tinggi produksi kebun petani/usaha kecil, akan semakin
besar pula honor yang diterimanya.

4. Bank

Bank berdasarkan adanya kelayakan usaha dalam kemitraan antara pihak
Petani Plasma dengan Perusahaan Perkebunan dan Pengolahan/Eksportir
sebagai inti, dapat kemudian melibatkan diri untuk biaya investasi dan modal
kerja pembangunan atau perbaikan kebun.

Disamping mengadakan pengamatan terhadap kelayakan aspek-aspek
budidaya/produksi yang diperlukan, termasuk kelayakan keuangan. Pihak
bank di dalam mengadakan evaluasi, juga harus memastikan bagaimana
pengelolaan kredit dan persyaratan lainnya yang diperlukan sehingga dapat
menunjang keberhasilan proyek. Skim kredit yang akan digunakan untuk
pembiayaan ini, bisa dipilih berdasarkan besarnya tingkat bunga yang sesuai
dengan bentuk usaha tani ini, sehingga mengarah pada perolehannya
pendapatan bersih petani yang paling besar.

Dalam pelaksanaanya, Bank harus dapat mengatur cara petani plasma akan
mencairkan kredit dan mempergunakannya untuk keperluan operasional
lapangan, dan bagaimana petani akan membayar angsuran pengembalian
pokok pinjaman beserta bunganya. Untuk ini, bank agar membuat perjanjian
kerjasama dengan pihak perusahaan inti, berdasarkan kesepakatan pihak
petani/kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan memotong uang hasil
penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang disepakati bersama
untuk dibayarkan langsung kepada bank. Besarnya potongan disesuaikan
dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada waktu perjanjian kredit
dibuat oleh pihak petani/Kelompok tani/koperasi. Perusahaan inti akan
memotong uang hasil penjualan petani plasma/usaha kecil sejumlah yang
disepakati bersama untuk dibayarkan langsung kepada Bank. Besarnya
potongan disesuaikan dengan rencana angsuran yang telah dibuat pada
waktu perjanjian kredit dibuat oleh pihak petani plasma dengan bank.

b. Pola Kerjasama

Kemitraan antara petani/kelompok tani/koperasi dengan perusahaan mitra,
dapat dibuat menurut dua pola yaitu :

a. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani mengadakan
perjanjian kerjasama langsung kepada Perusahaan Perkebunan/ Pengolahan
Eksportir.



 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                    6
Dengan bentuk kerja sama seperti ini, pemberian kredit yang berupa KKPA
kepada petani plasma dilakukan dengan kedudukan Koperasi sebagai
Channeling Agent, dan pengelolaannya langsung ditangani oleh Kelompok
tani. Sedangkan masalah pembinaan harus bisa diberikan oleh Perusahaan
Mitra.

b. Petani yang tergabung dalam kelompok-kelompok tani, melalui
koperasinya mengadakan perjanjian yang dibuat antara Koperasi (mewakili
anggotanya) dengan perusahaan perkebunan/ pengolahan/eksportir.




Dalam bentuk kerjasama seperti ini, pemberian KKPA kepada petani plasma
dilakukan dengan kedudukan koperasi sebagai Executing Agent. Masalah
pembinaan teknis budidaya tanaman/pengelolaan usaha, apabila tidak dapat
dilaksanakan oleh pihak Perusahaan Mitra, akan menjadi tanggung jawab
koperasi.

c. Penyiapan Proyek

Untuk melihat bahwa PKT ini dikembangkan dengan      sebaiknya dan dalam
proses kegiatannya nanti memperoleh kelancaran dan   keberhasilan, minimal
dapat dilihat dari bagaimana PKT ini disiapkan.      Kalau PKT ini akan
mempergunakan KKPA untuk modal usaha plasma,         perintisannya dimulai
dari :

   a. Adanya petani/pengusaha kecil yang telah menjadi anggota koperasi
      dan lahan pemilikannya akan dijadikan kebun/tempat usaha atau
      lahan kebun/usahanya sudah ada tetapi akan ditingkatkan
      produktivitasnya. Petani/usaha kecil tersebut harus menghimpun diri
      dalam kelompok dengan anggota sekitar 25 petani/kelompok usaha.
      Berdasarkan persetujuan bersama, yang didapatkan melalui


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                  7
      pertemuan anggota kelompok, mereka bersedia atau berkeinginan
      untuk    bekerja    sama     dengan    perusahaan perkebunan/
      pengolahan/eksportir dan bersedia mengajukan permohonan kredit
      (KKPA) untuk keperluan peningkatan usaha;
   b. Adanya perusahaan perkebunan/pengolahan dan eksportir, yang
      bersedia menjadi mitra petani/usaha kecil, dan dapat membantu
      memberikan pembinaan teknik budidaya/produksi serta proses
      pemasarannya;
   c. Dipertemukannya kelompok tani/usaha kecil dan pengusaha
      perkebunan/pengolahan dan eksportir tersebut, untuk memperoleh
      kesepakatan di antara keduanya untuk bermitra. Prakarsa bisa dimulai
      dari salah satu pihak untuk mengadakan pendekatan, atau ada pihak
      yang akan membantu sebagai mediator, peran konsultan bisa
      dimanfaatkan untuk mengadakan identifikasi dan menghubungkan
      pihak kelompok tani/usaha kecil yang potensial dengan perusahaan
      yang dipilih memiliki kemampuan tinggi memberikan fasilitas yang
      diperlukan oleh pihak petani/usaha kecil;
   d. Diperoleh dukungan untuk kemitraan yang melibatkan para
      anggotanya oleh pihak koperasi. Koperasi harus memiliki kemampuan
      di dalam mengorganisasikan dan mengelola administrasi yang
      berkaitan dengan PKT ini. Apabila keterampilan koperasi kurang, untuk
      peningkatannya dapat diharapkan nantinya mendapat pembinaan dari
      perusahaan mitra. Koperasi kemudian mengadakan langkah-langkah
      yang berkaitan dengan formalitas PKT sesuai fungsinya. Dalam
      kaitannya dengan penggunaan KKPA, Koperasi harus mendapatkan
      persetujuan dari para anggotanya, apakah akan beritndak sebagai
      badan pelaksana (executing agent) atau badan penyalur (channeling
      agent);
   e. Diperolehnya rekomendasi tentang pengembangan PKT ini oleh pihak
      instansi pemerintah setempat yang berkaitan (Dinas Perkebunan,
      Dinas Koperasi, Kantor Badan Pertanahan, dan Pemda);
   f. Lahan yang akan digunakan untuk perkebunan/usaha dalam PKT ini,
      harus jelas statusnya kepemilikannya bahwa sudah/atau akan bisa
      diberikan sertifikat dan buka merupakan lahan yang masih belum jelas
      statusnya yang benar ditanami/tempat usaha. Untuk itu perlu adanya
      kejelasan dari pihak Kantor Badan Pertanahan dan pihak Departemen
      Kehutanan dan Perkebunan.

d. Mekanisme Proyek

Mekanisme Proyek Kemitraan Terpadu dapat dilihat pada skema berikut ini :




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                      8
Bank pelaksana akan menilai kelayakan usaha sesuai dengan prinsip-prinsip
bank teknis. Jika proyek layak untuk dikembangkan, perlu dibuat suatu nota
kesepakatan (Memorandum of Understanding = MoU) yang mengikat hak
dan kewajiban masing-masing pihak yang bermitra (inti, Plasma/Koperasi
dan Bank). Sesuai dengan nota kesepakatan, atas kuasa koperasi atau
plasma, kredit perbankan dapat dialihkan dari rekening koperasi/plasma ke
rekening inti untuk selanjutnya disalurkan ke plasma dalam bentuk sarana
produksi, dana pekerjaan fisik, dan lain-lain. Dengan demikian plasma tidak
akan menerima uang tunai dari perbankan, tetapi yang diterima adalah
sarana produksi pertanian yang penyalurannya dapat melalui inti atau
koperasi. Petani plasma melaksanakan proses produksi. Hasil tanaman
plasma dijual ke inti dengan harga yang telah disepakati dalam MoU.
Perusahaan inti akan memotong sebagian hasil penjualan plasma untuk
diserahkan kepada bank sebagai angsuran pinjaman dan sisanya
dikembalikan ke petani sebagai pendapatan bersih.

e. Perjanjian Kerjasama

Untuk meresmikan kerja sama kemitraan ini, perlu dikukuhkan dalam suatu
surat perjanjian kerjasama yang dibuat dan ditandatangani oleh pihak-pihak
yang bekerjasama berdasarkan kesepakatan mereka. Dalam perjanjian
kerjasama itu dicantumkan kesepakatan apa yang akan menjadi kewajiban



 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   9
   dan hak dari masing-masing pihak yang menjalin kerja sama kemitraan itu.
   Perjanjian tersebut memuat ketentuan yang menyangkut kewajiban pihak
   Mitra Perusahaan (Inti) dan petani/usaha kecil (plasma) antara lain sebagai
   berikut :

   1. Kewajiban Perusahaan Perkebunan/Pengolahan/Eksportir sebagai mitra
   (inti)

      a. Memberikan bantuan pembinaan budidaya/produksi dan penaganan
         hasil;
      b. Membantu petani di dalam menyiapkan kebun, pengadaan sarana
         produksi (bibit, pupuk dan obat-obatan), penanaman serta
         pemeliharaan kebun/usaha;
      c. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca
         panen untuk mencapai mutu yang tinggi;
      d. Melakukan pembelian produksi petani plasma; dan
      e. Membantu petani plasma dan bank di dalam masalah pelunasan kredit
         bank (KKPA) dan bunganya, serta bertindak sebagai avalis dalam
         rangka pemberian kredit bank untuk petani plasma.

   2. Kewajiban petani peserta sebagai plasma

      a. Menyediakan lahan pemilikannya untuk budidaya;
      b. Menghimpun diri secara berkelompok dengan petani tetangganya yang
         lahan usahanya berdekatan dan sama-sama ditanami;
      c. Melakukan pengawasan terhadap cara panen dan pengelolaan pasca-
         panen untuk mencapai mutu hasil yang diharapkan;
      d. Menggunakan sarana produksi dengan sepenuhnya seperti yang
         disediakan dalam rencana pada waktu mengajukan permintaan kredit;
      e. Menyediakan sarana produksi lainnya, sesuai rekomendasi budidaya
         oleh pihak Dinas Perkebunan/instansi terkait setempat yang tidak
         termasuk di dalam rencana waktu mengajukan permintaan kredit;
      f. Melaksanakan pemungutan hasil (panen) dan mengadakan perawatan
         sesuai petunjuk Perusahaan Mitra untuk kemudian seluruh hasil panen
         dijual kepada Perusahaan Mitra ; dan

Pada saat pernjualan hasil petani akan menerima pembayaran harga produk
sesuai kesepakatan dalam perjanjian dengan terlebih dahulu dipotong sejumlah
kewajiban petani melunasi angsuran kredit bank dan pembayaran bunganya.




    Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                  10
3. Aspek Pemasaran
a. Industri Kayu Olahan

Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai wilayah hutan
yang cukup luas. Produksi hutan selain menghasilkan kayu sebagai hasil
utama, juga menghasilkan produk lainnya dari hutan seperti arang,
tengkawang, kopul, minyak atsiri kayu gaharu dsb. Hasil produksi hutan
Indonesia merupakan produk unggulan komparataif terhadap negara-negara
lain dan sebagian dari hasil produksi produk hutan diekspor ke negara lain
dan produk kayu merupakan penghasil devisa nomor satu dari sektor non
migas.

Industri yang menghasilkan produk dengan bahan baku dari hutan
diorganisir dalam sembilan asosiasi dibawah payung Masyarakat Perhutanan
Indonesia. Pada bulan Mei 1998, sembilan asosiasi serta anggotanya sbb.

         No Nama Asosiasi                     Jumlah Anggota
         1. Himpunan Asosiasi Pengusaha           166 perusahaan
             Flora dan Fauna Indonesia
         2. (HAPFFI)                                3 perusahaan
             Himpunan Konsultan Kehutanan
         3. Indonesia (HIKKINDO)                   27 perusahaan
         4. Jumlah Anggota Perusahaan Mitra        77 perusahaan
         5. Kerja                                  60 perusahaan
         6. Asosiasi Pulp dan Kertas               60 perusahaan
         7. Indonesia (APKI)                      382 perusahaan
         8. Asosiasi Industri Formalin dan                   HPH
         9. Thermosetting Adhesives (AIFTA) 78 perusahaan HTI
             Asosiasi Pengawetan Kayu                  15 Komda
         10. Indonesia (APKIN)                    130 perusahaan
             Asosiasi Hutan Indonesia                   9 Komda
         11. Asosiasi Panel Kayu Indoensia      1.645 perusahaan
             (APKINDO)                                 17 Komda
                                                  591 perusahaan
             Asosiasi Pengusaha Kayu                   15 Komda
             Gergajian/Olahan Indonesia (ISA)
             Asosiasi Industri Permeubelan
             dan Kerajian Indonesia
             (ASMINDO)

Disamping perusahaan formil skala menengah dan besar, anggota 9 asosiasi
tersebut, yang semua memiliki Akte Badan Usaha, masih ada ribuan
perusahaan kecil bersifat industri rumah tangga/usaha pengrajin yang
membuat barang jadi dari kayu. Oleh karena itu industri kayu di Indonesia
belum dapat diketahui secara rinci perkembangannya. Hal ini juga




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                 11
disebabkan karena bentuk/jenis produk yang dihasilkan sangat beraneka
ragam.

Produk industri pengolahan kayu mempertahankan posisinya sebagaiindutri
unggul di bidang ekspor karena "local content" produk kehutanan
menghasilkan devisa sebesar US $ 7,425 miliar pada tahun 1997, maka pada
tahun 1998 devisa yang diperkirakan bisa diraup naik 7,75 % menjadi US $
8,001 miliar. Kendala ekspor yang dihadapi perusahaan ekspor produk kayu
adalah keterbatasan peti kemas saat ini.

Daftar realisasi nilai ekspor pada tahun 1996 dari tahun 1997 serta proyeksi
tahun 1998 dapat dilihat dalam Tabel 1.

b. Perkembangan Ekspor

Realisasi ekspor perabot dan barang jadi kayu lain meningkat cepat dalam
volume maupun nilai sejak tahun 1986 sampai dengan tahun 1997 seperti
dilihat dalam Tabel 2. Jumlah nilai ekspor menurun dari US$ 547 juta tahun
1996 menjadi US$ 531 juta pada tahun 1997. Penurunan tersebut terjadi
karena krisis ekonomi makin berat, pada tahun 1998 ekspor barang kayu
jadi sampai sekarang cukup stabil dan mempunyai peluang untuk
ditingkatkan bilamana peti kemas tersedia tepat waktu dengan jumlah sesuai
dengan kebutuhan para eksportir.

Nilai ekspor dalam US dollar dapat dipertahankan selama krisis berjalan.
Oleh karena sebagian besar dari biaya produksi barang jadi kayu berasal dari
dalam negeri dan dibayar dengan rupiah, nilai tambah yang diciptakan oleh
perusahaan eksportir kayu olahan sangat tinggi, bilamana dihitung dalam
rupiah.

Nilai ekspor perabot dan barang jadi kayu hanya sekitar 6 persen dan jumlah
nilai ekspor industri kayu. Kapasitas produksi di perusahaan menengah yang
berjalan terbatas dan para pemilik perusahaan tersebut tidak mau
memperbesar usaha milik sendiri, melainkan pengusaha tersebut ingin
membangun kawasan indutri kayu terpadu yang dijual kepada para pengrajin
kayu.

Pola ini dimana banyak usaha kecil memproduksi barang jadi sesuai dengan
sistem produksi pabrik modern dapat menghemat biaya overhead maupun
biaya finansial untuk perusahaan menengah/besar. Akan tetapi hasil
produksi dan kualitas produk yang dibuat oleh para pengrajin dan dijual
kepada mitra usaha jauh lebih besar dan lebih menguntungkan untuk kedua
pihak yang bermitra dalam proyek industri kayu olahan tersebut.

Kesediaan bahan baku, yaitu kayu bulat dan kap gergaji maupun bahan
pembantu dan bahan penolong untuk industri ekspor barang jadi cukup
terjamin dan pasokan bahan tersebut dapat ditingkatkan saat ini, karena
permintaan produk kayu jadi dalam negeri lesu selama krisis ekonomi.


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   12
Dengan menciptakan proyek kemitraan terpadu antara produsen UM/UB
dengan kelompok pengrajin barang jadi kayu, bank maupun instansi
Pemerintah dapat membantu sektor industri ini menjadi industri modern
yang mampu mengekspor hasil produksinya. Kerjasama dengan pola
kemitraan yang saling menguntungkan kedua pihak mendorong proses
pembaruan industri kecil serta proses reformasi di bidang usaha

c. Permintaan Meubel

Angka realisasi ekspor perabot dan barang jadi kayu lain yang sebelum krisis
ekonomi naik sangat pesat dari tahun menunjukkan bahwa permintaan luar
negeri atas barang tersebut cukup tinggi dan tidak dapat dipenuhi oleh
produsen barang kayu Indonesia. Peluang untuk meningkatkan nilai maupun
volume ekspor perabot dan barang jadi kayu dapat diproyeksikan secara
sederhana untuk periode 1998-2003 dengan penggunaan garis lurus
berdasarkan data realisasi nilai ekspor pada periode 1993 - 1997.

Proyeksi Nilai Ekspor pada periode 1998-2003 dengan garis lurus :

      Y = bx + a = 58,3 x + 333,8

Proyeksi nilai ekspor dalam jutaan US $

Tahun          1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003
Nilai ekspor   402 458 547 532 625 684 742 800 858 917

Angka yang diproyeksi adalah indikator tentang potensi ekspor. Untuk
merealisasikan ekspor yang lebih tinggi daripada tingkat ekspor tahun 1996,
perusahaan ekspor harus mempromosikan produknya kepada para pembeli
di luar negeri. Disamping itu biaya produksi maupun biaya lainnya atas
barang ekspor tersebut harus setinggi atau lebih rendah dibandingkan
dengan produk sejenis yang dibuat di negera lainnya.

Proyeksi permintaan meubel dan barang jadi dengan garis lurus memberikan
hasil bahwa permintaan di luar negeri naik sekitar 60 juta dollar per tahun
pada lima tahun yang akan datang. Indikator tersebut memberikan hasil
yang cukup realistis, meskipun peluang riil untuk mengekspor barang jadi
kayu jauh lebih tinggi dariapada angka proyeksi pertumbuhan nilai ekspor
tersebut.

Pasar dalam negeri merupakan pasar yang lebih besar kalau dihitung dalam
nilai maupun volume produksi barang daripada pasar ekspor. Faktor-faktor
yang menentukan permintaan atas meubel dan barang jadi kayu dalam
negeri adalah antara jumlah unit rumah yang dibangun per tahun, tingkat
pendapatan atau daya beli di segmen segmen konsumen barang jadi kayu,
yaitu rumah tangga, lembaga maupun perusahaan . Sebelum krisis ekonomi,
indikator tersebut naik antara 8 s/d 15 persen per tahun, akan tetapi selama
masa krisis, indikator tersebut mengalami kontraksi, meskipun permintaan


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   13
produk kayu olahan masih relatif besar dalam negeri. Oleh karena kendala
yang dialami di dalam negeri, laporan KPKT ini mengusulkan ke bank untuk
membiayai PKT yang mengekspor sebagian dari hasil produksi barang kayu
olahan.

d. Negara Tujuan Ekspor

Berdasarkan data dalam Tabel 3 di bawah negara Masyarakat Eropa adalah
pasar paling besar untuk barang kayu olahan tersebut. Pada tahun 1996
negera ME mengimpor produk kayu tersebut dengan nilai sekitar US $ 190
juta, atau hampir 35 persen dari total ekspor RI. Amerika Serikat adalah
negara importir kedua Jepang pasar ekspor ketiga, bilamana dinilai atas
pendapatan penjualan maupun kubikase barang yang diekspor.

Faktor-faktor yang mempengaruhi ekspor kayu olahan dari Indonesia antara
lain

      Peraturan pemerintah yaitu, deregulasi di bidang ekspor kayu olahan,
       pencegahan organisasi ekspor yang bersifat monopoli atau kartel, tarif
       pajak ekspor dll.
      Sikap konsumen diluar negeri terhadap produk kayu olahan berasal
       dari hutan tropis, yaitu hal-hal yang terkait dengan masalah eco-
       labeling serta pelestarian hutan tropis "rain forest protection".
      Cara memasarkan hasil produksi kepada pembeli di luar negeri, yaitu
       kegiatan sales promotion, penetapan harga jual FOB, kemampuan
       memenuhi kontrak ekspor tepat waktu dengan kualitas produk
       terjamin.

Faktor maupun masalah yang disebut di atas adalah hal-hal yang hanya
dapat diatasi melalui kerjasama antara produsen dengan Pemerintah RI
dibantu oleh negara lain maupun oleh para perusahaan importir di negara
tersebut. Industri perabot dan barang jadi kayu yang terdiri dari perusahaan
produsen/eksportir modern yang cukup besar dapat berhasil sebagai
eksportir. Sebagian besar dari para pengrajin tidak mampu mengekspor
produknya sendiri, meskipun ada pengrajin yang telah mengekspor hasil
produksinya dengan nilai cukup tinggi. Melalui pola kemitraan yang diusulkan
dalam Model KPKT ini para pengrajin akan menghasilkan produk berkualitas
ekspor yang dipasarkan kepada para pembeli di luar negeri oleh perusahaan
UM/UB. Para pengrajin yang bermitra dengan UM/UB menjadi "indirect
exporters" / eksportir tidak langsung. Penghasilan mereka akan lebih tinggi
dibandingkan dengan penghasilan sebelum menjadi anggota proyek
kemitraan terpadu. (Tabel 3).




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                    14
4. Aspek Produksi
a. Lokasi & Bangunan Produksi

Secara umum proyek kemitraan terpadu yang memproduksi meubel, perabot
dan barang jadi kayu untuk ekspor maupun pasar dalam negeri harus
memilih lokasi untuk bangunan produksi berdasarkan faktor-faktor sebagai
berikut

   a. Lokasi perusahaan dipilih relatif dekat pelabuhan ekspor. Selain
      produk jadi yang diekspor dalam peti kemas, sebagian dari bahan
      baku, maupun bahan pembantu diangkut antar pulau atau diimpor
      melalui pelabuhan.
   b. PKT industri meubel dan barang jadi kayu biasanya padat tenaga kerja
      yang cukup terampil sebagai buruh di bidang kayu olahan. Lokasi
      industri tersebut biasanya terletak di kota besar atau ibukota
      Kabupaten, yang dekat pelabuahn internasional.
   c. PKT industri meubel dan dan barang jadi kayu tidak memberikan
      dampak negatif terhadap lingkungan. Sebagian besar dari sampah,
      yaitu sisa bahan baku dibakar atau dijual kepada pengusaha kecil lain.
   d. Kebutuhan prasarana khusus seperti alat untuk mengelola limbah
      berbahaya tidak ada, sumber tenaga listrik dapat berupa genset atau
      PLN, lokasi harus mempunyai akses ke jalan raya, jalan dari lokasi
      proyek ke jalan raya harus dapat dipakai oleh truk yang mengangkut
      peti kemas bilamana jalan tersebut dikonstruksi oleh UM/UB.
   e. Status tanah proyek harus jelas. Bilamana perusahaan peserta UK
      direncanakan akan dibiayai dengan KKPA, para UK harus memperoleh
      hak guna usaha atau hak milik atas tanah dan bangunan produksi
      tersebut.

Untuk menampung kegiatan produksi meubel dan barang jadi kayu di
lingkungan industri kayu terpadu, fasilitas gedung tempat usaha dihasilkan
melalui kerjasama dengan arsitek dan insinyur konstruksi bangunan. Tata
letak ruangan produksi kayu olahan mempengaruhi tingkat efisisensi hasil
produksi serta proses anggota kelompok UK maupun kerjasama antara
kelompok-kelompok UK maupun antara UK dengan UM/UB. Faktor-faktor
yang perlu diuraikan berkaitan dengan tata letak ruangan produksi yang
dibangun untuk para pengrajin kayu olahan adalah sebagai berikut :

   a. Ruangan produksi untuk masing-masing peserta UK harus sesuai
      dengan kebutuhan usahannya dengan memperhitungkan jarak angkut
      bahan baku maupun barang setengah jadi dan barang jadi yang
      minimum.
   b. Alur kerja antara satu UK dengan UK lainnya maupun satu kelompok
      UK dengan kelompok lainnya harus berjalan lancar secara berurut-
      urutan.
   c. Sistem ventilasi faktor kenyamanan kerja, keselamatan serta
      keamanan dari lintas bahan harus sesuai dengan prinsip produksi


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   15
      modern maupun sesuai dengan peraturan yang berlaku di Industri
      kayu olahan.
   d. Tata letak mesin produksi maupun lini produksi tidak boleh
      memboroskan ruang produksi, dan harus cukup luwes untuk
      menampung berbagai bentuk perubahan proses produksi yang
      menggunakan mesin produksi yang bersifat serba guna.

b. Bahan Baku serta Bahan Penunjang

Bahan baku yang dipakai oleh produsen meubel dan barang jadi kayu adalah
kayu keras "tropical hardwood", misalnya kayu jati, kayu mahoni asal Jawa,
kayu sungkai, kayu keruing dan kayu keras lainnya asal Kalimantan maupun
kayu lunak "soft wood" seperti kayu sengon, kayu pinus, kayu pohon kelapa,
dan kayu pohon karet untuk membuat produk yang dijual dengan harga
relatif murah dibanding harga jual barang jadi kayu olahan dari kayu keras.

Bahan baku kayu bulat dipasok oleh para pedagang pengumpul maupun
dibeli oleh produsen di tempat lelang kayu BUMN Perhutani. Sebagian besar
pengrajin kayu membeli papan atau kayu hasil gergajian dari pedagang kayu
olahan maupun langsung dari perusahaan gergaji "sawmill".

Menurut laporan dari Menteri Kehutanan produksi kayu bulat (gelondongan)
tahun 1996 sebesar 25,07 juta meter kubik naik 2,4 % dari tahun 1995.
Produksi gelondongan tahun 1997 sekitar 23 juta meter kubik menurun dari
tahun sebelumnya oleh karena kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera
tahun 1997 dan sebagai akibat dari krisis ekonomi yang dimulai pada bulan
Juli 1997. Permintaan kayu gergaji seperti papan menurun juga sejak
semester kedua tahun 1997. Permintaan dalam negeri akan rendah selama
sektor konstruksi, sektor perumahan dan real estate mengalami krisis total.

Harga bahan baku ditentukan sesuai dengan ukuran kayu gelondongan
maupun papan. Harga bahan baku meningkat dari tahun ke tahun dengan
cepat sejak tahun 1997, terutama harga jenis gelondongan yang diukur
dengan tingkat harga internasional, yang berkisar antara US $ 150 s.d. US $
250 per meter kubik. Harga kayu bulat di dalam negeri yang dulu berada
pada tingkat Rp 300.000 s.d. Rp 500.000 per meter kubik sekarang naik ke
tingkat Rp 2 juta s.d. Rp 3 juta per meter kubik, oleh karena kenaikan kurs
rupiah dari Rp. 2.500 sampai Rp. 15.000 terhadap dollar Amerika Serikat.

Meskipun harga bahan baku tinggi dalam rupiah, meubel dan barang jadi
lain, yang dibuat dari bahan baku tersebut dapat dijual dengan valuta asing
ke luar negeri dengan harga jual yang menguntungkan.

Berdasarkan proses serta pengalaman produksi perhitungan rendemen oleh
para produsen meubel kayu bervariasi antara satu persen dengan produsen
lainnya. Secara rata-rata rendemen penggunaan kayu sbb




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                  16
   A. Rendemen kayu sengon dan kayu lunak lain dari kayu bulat sampai
      barang jadi 55 %.
   B. Rendemen kayu keras asal Kalimantan dari kayu bulat sampai barang
      jadi 50 %.

Bahan pembantu yang digunakan oleh produsen meubel kayu adalah politur,
cat, lem, sekerup, engsel, paku dan barang lain-lain sesuai dengan
spesifikasi masing-masing produk jadi. Bahan kemasan yang digunakan
untuk memproteksi barang jadi adalah plastik dan karton. Barang pembantu
tersebut dapat dibeli oleh produsen kecil dari pedagang lokal, bilamana
jumlahnya tidak terlalu banyak. Sedangkan produsen skala menengah
maupun skala besar membeli bahan pembantu dari grosir atau langsung dari
produsen dalam negeri.

c. Tahap dalam Proses Produksi

Dalam proses produksi meubel kayu maupun komponen kayu, para produsen
memakai berbagai macam mesin produksi. Selain mesin produksi
perusahaan membutuhkan sarana dan prasarana penunjang yang sangat
penting dalam kelancaran proses produksi. Sarana penunjang terdiri dari alat
transportasi seperti truk, forklift, conveyer belt, gardu listrik yang semuanya
menunjang kelancaran proses produksi, Prasarana penunjang terdiri dari
perkerasan jalan, sumur air, pagar tembok, satpam dsb.

Proses produksi dapat berbeda dari satu perusahaan produsen jadi kayu
dengan produsen lain berdasarkan bahan baku yang dibutuhkan, jenis
produk yang dibuat serta alat produksi yang dipakai dalam proses produksi.
Meskipun begitu, tahap tahap utama dalam proses produksi adalah sbb

   a. Bahan baku, yaitu kayu gelondongan maupun papan ditentukan
      kualitasnya (disortir) sesuai dengan kebutuhan produk jadi, yaitu
      sesuai jenis-jenis kayu serta ukuran panjang, tebal dan lebar kayu
      yang dibutuhkan dalam proses produksi.
   b. Kayu gelondongan dibelah menjadi papan dengan menggunakan
      mesin Band saw/Dimension saw ukuran besar.
   c. Selanjutnya kayu papan dikeringkan. Proses pengeringan kayu dapat
      dilakukan melalui dua cara, yaitu pengeringan secara alam atau
      pengeringan melalui klin dryer.
   d. Sebelum kayu dikeringkan di dalam kiln dryer kedua ujung kayu
      biasanya ditutup dengan lapisan (coating), yaitu campuran antara lem
      kayu dan semen putih, supaya kayu tersebut tidak melengkung pada
      proses pengeringan.
   e. Kayu yang dilapis selanjutnya masuk dalam ruang pengeringan (kiln
      dryer) kurang lebih selama tiga sampai tujuh hari sampai mencapai
      kadar basah kayu (moister content) antara 10 s.d. 14 %.
   f. Kayu yang sudah keluar dari kiln dryer kemudian disiapkan di gudang
      dan dibiarkan untuk beberapa waktu agar ada penyesuaian dengan
      udara di luar kiln dryer.


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                      17
   g. Selanjutnya papan kering tersebut dipotong-potong sesuai dengan
      ukuran dan arah yang diinginkan yaitu : pemotongan vertikal dengan
      mesin belah (rip-saw) dan pemotongan horisontal dengan mesin
      potong (cross cut saw).
   h. Tahap berikut dalam proses produksi adalah proses pembuatan
      macam-macam komponen untuk meubel kayu yang diproduksi.
      Pembuatan kompo-nen dilakukan dengan menggunakan beberapa
      mesin seperti mesin planner, mesin tenonner, mesin morticer, mesin
      spidle moulder, mesin router, mesin lathe, mesin bubut, mesin auto
      shaping, mesin circular saw, mesin rip saw, mesin radial arm saw,
      mesin cut off saw, laminating flat press, frame press, rotary frame
      press maupun mesin lain.
   i. Beberapa usaha kecil produsen meubel membuat ukiran pada jenis-
      jenis komponen yang ditetapkan pada permukaan atau bagian depan
      produknya. Biasanya ukiran tersebut dibuat oleh tenaga ahli yang
      berpengalaman di bidang ini.
   j. Sesudah semua komponen selesai dibuat, tahap berikutnya adalah
      penghalusan komponen-komponen oleh tenaga yang memakai
      ber"agai jenis mesin planner dan sander.
   k. Sebagian dari meubel akan dilapis dengan cat, vernis maupun lacquer.
      Proses pelapisan dapat dilaksanakan pada komponen maupun pada
      perabot dan barang jadi sebelum maupun setelah semua komponen
      dirakit.
   l. Proses perakitan komponen-komponen menjadi barang jadi adalah
      satu tahap yang cukup penting. Pada tahap ini para produsen harus
      melakukan Inspeksi pengendalian mutu "quality control", yaitu
      mencek berulang-ulang komponen maupun barang jadi yang dibuat.
      Dalam rangka mempertahankan kualitas atas produk yang dibuat
      pengendalian kualitas harus dilakukan pada setiap tahap dalam proses
      produksi, mulai dengan pemilihan bahan baku, pemilihan papan
      maupun melakukan inspeksi atas komponen-komponen di masing-
      masing tahap atau "work station" akan tetapi inpeksi terakhir atas
      barang jadi merupakan inspeksi yang tidak boleh diabaikan.
   m. Proses terakhir pada tahap "finishing" adalah untuk memberikan merk
      "label" serta membungkus produk jadi untuk melindungi produknya
      dari air, kotoran udara maupun kerusakan selama meubel disimpan
      dalam gudang atau selama diangkut dari produsen kepada para
      pembeli di dalam maupun di luar negeri.

Kalau ditinjau dari tata letak mesin produksi dan alat produksi proses
produksi dapat dilakukan dengan tiga bentuk bentuk :

   a. Proses produksi fungsional dimana mesin-mesin dan alat-alat produksi
      yang mempunyai fungsi yang sama dikelompokkan dan ditempatkan
      dalam suatu ruang tertentu. Tata letak proses fungsional digunakan
      oleh perusahaan pengrajin yang bekerja berdasarkan pesanan dimana
      banyak terdapat pesanan-pesanan yang tidak berbeda dalam bentuk
      dan kuatitas.


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                 18
   b. Proses produksi produk/lini dimana susunan mesin dan alat produksi
      berdasarkan urutan operasi dalam proses produksi bagi produk yang
      dibuat. Proses produksi lini digunakan oleh pabrik yang memproduksi
      beberapa produk sejenis dengan jumlah besar.
   c. Proses produksi kelompok meletakan suatu kelompok mesin-alat
      produksi yang membuat serangkaian komponen/produk yang
      memerlukan pemrosesan yang sama di suatu ruang. Setiap
      komponen/produk diselesaikan diruang kelompom tersebut.

d. Pemilihan Mesin Produksi serta Tata Letaknya

Bilamana kualitas produksi menjadi perhatian dan sasaran utama dari
perusahaan barang kayu jadi, maka tidak ada kompromi untuk tidak memilih
mesin-mesin utama bermutu tinggi, meskipun harga perolehannya lebih
mahal. Hal-hal yang dinilai sebelum mesin dibeli antara lain, harga beli, mutu
serta umur teknis mesin produksi, kesedian suku cadang di daerah lokasi
produsen barang kayu, tingkat kerewelan atau kerusakan mesin serta fungsi
maupun kapasitas produksi masing-masing jenis mesin. Pertimbangan lain
untuk menggunakan mesin-mesin produksi adalah tingkat otomatik yaitu
apakah mesin produksi "semi" atau "full-automatik" yang mempengaruhi
kebutuhan serta tingkat keahlian tenaga kerja. Konfigurasi dan fleksibilitas
mesin dan alat produksi harus lengkap supaya proses produksi efisien
dengan rendemen produksi cukup tinggi.

Tata letak mesin mesin-mesin maupun tempat kerja lainnya di gedung pabrik
ditentukan melalui beberapa pendekatan sbb :

   a. Bahan baku yang keseluruhannya berupa papan, komponen kayu,
      triplex, cat dll diatur sedemikian rupa sehingga masing-masing berada
      pada tempat yang tepat/sesuai, mulai dari bahan baku yang berada
      pada tempat awal proses produksi, sampai bahan pembantu seperti
      cat, engsel yang berada pada tempat perakitan produk jadi.
   b. Mesin-mesin serta alat yang dipergunakan terutama alat berat diatur
      penempatannya mengikuti alur produksi dan dipasang secara
      permanen. Diantara satu mesin dengan mesin lainnya harus ada ruang
      sela "space" yang memungkinkan gerakan memindahkan papan atau
      komponen yang agak longgar, sehingga kegiatan produksi bisa lancar.
      Berbagai jenis alat dan mesin yang sering dipakai oleh perusahaan
      industri kayu olahan serta fungsinya dijelaskan secara singkat sbb :

      Kiln Dryer adalah satu ruang "chamber" dipakai untuk mengeringkan
      kayu papan, yaitu bahan baku untuk industri kayu olahan. Kapasitas
      satu ruang kiln dryer antara 20 s.d. 60 m3. Dinding ruang dikelilingi
      pipa-pipa yang dialiri dengan uap air panans dari satu ketel uap
      "boiler". Biasanya perusahaan kayu olahan menggunakan bara api
      untuk pemanasan ketel uap dan limbah (sisa-sisa kayu produksi).




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                     19
     Band Saw digunakan untuk menggergaji/membelah kayu bulat
     menjadi kayu papan maupun untuk memotong kayu bulat/kayu papan
     sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan.

     Rip Saw digunakan untuk membelah/memotong               papan   dan
     komponen kayu olahan ukuran sedang dan kecil.

     Mesin   Thicknessing     Planner digunakan     untuk  meratakan
     permukaan komponen dan ujung-ujungnya menjadi siku. Mesin
     Tennoner digunakan untuk membuat lubang pen atau tonjolan pada
     permukaan kayu. Mesin ini dapat dilengkapi dengan dua meja kerja
     sehingga dapat membuat dua pen sekaligus. Mesin ini sangat cocok
     untuk pembuatan kursi dan almari.

     Mesin Morticer digunakan untuk membuat lubang pada permukaan
     papan dan komponen kayu lain. Mesin ini dapat dilengkapi dengan
     "electronic control system".

     Mesin Router digunakan untuk membuat lekukan kecil serta menum-
     pulkan tepi-tepi komponen kayu yang kecil. Mesin router dapat
     dilengkapi dengan "belt drive, pneumatic control, manometer, blower
     serta mechanic break stop".

     Mesin Bubut digunakan untuk membuat bentuk berlekuk-lekuk.

     Mesin Sander digunakan untuk menghaluskan permukaan komponen
     dan produk jadi.

     Dalam menentukan kapasitas produksi industri meubel/perabot kayu
     salah satu metode yang dipakai adalah studi waktu dan gerak, yaitu
     pengukuran waktu yang digunakan dalam pengerjaan tiap-tiap
     komponen pada tiap-tiap mesin/alat produksi yang dilalui dalam
     proses produksi. Dengan mengalikan waktu pengerjaan dengan jumlah
     produk yang dihasilkan maka dapat dihitung waktu untuk
     menyelesaikan pesanan selama satu periode, yaitu bulan, triwulan.
     Hasil lain dari studi waktu dan gerak adalah untuk menentukan jumlah
     mesin dan alat produksi yang dibutuhkan oleh perusahaan untuk
     mencapai tingkat produksi "optimal".




Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                 20
5. Aspek Keuangan

a. Contoh Proyek Kemitraan Terpadu


Informasi tentang proyek termasuk data dan asumsi perhitungan yang
dipakai dalam bab ini berdasarkan satu proyek kemitraan terpadu antara 144
pengrajin kayu yang bermitra dengan satu perusahaan industri perabot dan
komponen kayu jadi untuk pasar ekspor.

Para pengrajin dibagi 8 kelompok sesuai dengan produk dan jasa yang dijual
kepada perusahaan menengah, yang berfungsi sebagai usaha mitra (INTI).
Produk-produk maupun jasa yang dijual masing-masing kelompok pengrajin
peserta PKT sbb :

Kelompok 1 memproduksi "laminating board."
Kelompok 2 memproduksi "finger joint board."
Kelompok 3 memproduksi barang jadi, misalnya kursi, meja rak-rak, pot
bunga, tempat kaset, tempat jam serta barang jadi lainnya.
Kelompok 4 memproduksi "wall panel, parquet (flooring)".
Kelompok 5 menjual jas berupa pengeboran kayu komponen ke kelom-pok
lainnya.
Kelompok 6 menjual jasa berupa ampelas "sanding" barang komponen
maupun jasa kepada kelompok lain.
Kelompok 7 membuat produk komponen kayu dengan mesin bubut, yaitu
kaki meja, kaki kursi, dowel dll, dijual kepada kelompok lain.
Kelompok 8 adalah unit bengkel pemeliharaan alat dan mesin produksi.


b. Rincian Perhitungn Biaya dan Dana Kredit

Perhitungan biaya investasi untuk setiap unit usaha kecil industri kayu
peserta Kawasan PKT maupun kebutuhan modal kerja permanen biaya
tersebut disajikan dalam Tabel 4 berikut.

                                Tabel 4.
       Rincian Kebutuhan Modal Dan Dana Kredit Per Unit Usaha Kecil
                 Modal     Modal                  Dana
                                     Jumlah                   Dana
    Kelompok Investasi     Kerja                 Sendiri
                                   Modal (Rp)              Kredit (Rp)
                  (Rp)      (Rp)                  (Rp)
    I    (60) 33.600.000 7.975.000 41.575.000 7.975.000 33.600.000

    II     (18) 34.000.000 2.443.750 36.443.750 2.443.750 34.000.000

    IIII   (24) 40.075.000 1.258.333 41.333.333 1.258.333 40.075.000




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   21
    IV     (9) 28.800.000 7.807.639 36.607.639 7.807.639 28.800.000

    V      (9) 42.650.000 609.375        43.259.375 609.375   42.650.000

    VI     (9) 45.200.000 893.750        46.093.750 893.750   45.200.000

    VII    (9) 34.825.000 2.144.063 36.969.063 2.144.063 34.825.000

    VIII   (6) 38.100.000 1.431.250 39.531.250 1.431.250 38.100.000

 Dari Tabel di atas dapat dilihat bahwa kebutuhan kredit dari bank dapat
dibiayai dengan KKPA. Jumlah modal investasi maupun modal kerja
permanen berkisar antara Rp 36 juta sampai Rp 46 juta per unit usaha
industri kecil.


UK Peserta PKT ini mempunyai modal sendiri berupa modal kerja. Seluruh
kebutuhan investasi dalam bentuk mesin dan alat produksi baru, supaya
para produsen kecil dapat meningkatkan teknologi dan proses produksi
sesuai dengan permintaan dari luar negeri.

c. Rincian Kelayakan Usaha Kecil

Indikator atau ukuran kelayakan dan segi keuangan untuk setiap jenis usaha
anggota kelompok dihitung dengan lima cara seperti dilihat dalam Tabel 5
berikut :

 Tabel 5. Analisa Kelayakan Usaha Kecil Peserta PKT Kawasan Industri Kayu
                                  Olahan
                                       Payback Laba
                     I.R.R. NPVPada df
           Kelompok                    Period Besrih per B/C
                     (%)    16%(Rp)
                                       (tahun) tahun(Rp
           I         27.86 17.037.054 3,31     7.527.276 1,41

           II        28,22 15.217.057 3,24       6.173.159 1,42

           IIII      28,25 16.824.349 3,15       6.363.500 1,41

           IV        27,50 14.327.349 3,30       6.325.468 1,39

           V         27,28 16.319.643 3,26       6.326.662 1,38

           VI        26,12 15.918.366 3,35       6.366.528 1,34

           VII       27,68 14.395.081 3,21       5.649.964 1,39

           VIII      27,34 14.879.841 3,23       5.787.124 1,38


 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                     22
Dilihat dari analisa kelayakan di atas semua jenis usaha kecil industri
pengolahan kayu layak untuk dibiayai dengan KKPA. Pengembalian investasi,
yaitu pay back period sekitar 3 tahun rata-rata dan laba bersih dari proyek,
apabila dijumlah untuk semua peserta sebesar Rp 50.519.681,-.

Semua perhitungan keuangan dihitung atas asumsi yang cukup realistis. Ada
kemungkinan untuk meraih laba yang lebih tinggi, karena perusahaan
menengah menawarkan sebagian dari saham usahanya kepada UK peserta
PKT. Semua perhitungan keuangan untuk setiap jenis usaha dan kelompok
usaha dilampirkan dalam Lampiran 1 sampai 48.




 Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan                                   23
                        LAMPIRAN




Bank Indonesia – Industri Kayu Olahan   24

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:1300
posted:5/1/2010
language:Indonesian
pages:25
Description: analisa-finansial-gaharu pdf