SKRIPSI INI MILIK ROIF HARDANI C54103076 by xld14276

VIEWS: 753 PAGES: 10

hasil-tangkapan-ikan pdf

More Info
									SKRIPSI INI MILIK ROIF HARDANI
            C54103076
                                  1 PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

      Hasil tangkapan, terutama ikan, merupakan sumber bahan pangan
berprotein yang dibutuhkan oleh masyarakat; selain itu juga sebagai bahan baku
bagi industri pengolahan hasil perikanan. Hasil tangkapan yang didaratkan di
suatu pelabuhan perikanan berperan sebagai salah satu sumber pemasukan
pendapatan bagi pelabuhan perikanan itu sendiri dan pemerintah daerah setempat.
Semakin tinggi jumlah produksi hasil tangkapan, maka secara tidak langsung
kesejahteraan nelayan dan pendapatan pelabuhan perikanan serta pemerintah
daerah akan turut meningkat.
      Jumlah produksi hasil tangkapan di suatu pelabuhan perikanan merupakan
salah satu indikator ketersediaan fasilitas di pelabuhan perikanan tersebut (Lubis,
2005), karena dengan meningkatnya jumlah produksi hasil tangkapan didaratkan
akan semakin meningkatkan aktivitas-aktivitas yang memanfaatkan hasil
tangkapan seperti aktivitas penanganan, pemasaran, pendistribusian dan aktivitas-
aktivitas lainnya, sehingga diperlukan pengadaan dan atau pengembangan fasilitas
untuk mendukung aktivitas-aktivitas yang memanfaatkan hasil tangkapan,
misalnya cool room, cool storage, pabrik es, dan gedung tempat pelelangan ikan
(TPI), serta fasilitas lainnya.
      Keberadaan pelabuhan perikanan sebagai prasarana perikanan tangkap
selain berperan mendukung kegiatan perikanan tangkap juga dalam upaya
mempertahankan mutu hasil tangkapan dan meningkatkan harga jual. Salah satu
kegiatan mempertahankan mutu hasil tangkapan yang penting di pelabuhan
perikanan adalah pemindahan hasil tangkapan yang tidak menyebabkan rusaknya
mutu hasil tangkapan mulai dari palkah kapal ke dermaga, dermaga ke gedung
TPI hingga sampai sebelum hasil tangkapan didistribusikan; tidak kalah
pentingnya      juga    adalah     selama   ikan   berada    di   dalam     proses
pelelangan/pemasaran.
        Di dalam proses kegiatan-kegiatan di atas, selain pentingnya penggunaan
bahan es untuk mempertahankan mutu ikan, penggunaan wadah tempat ikan
                                                                               2



(basket) adalah juga penting. Basket tidak hanya penting sebagai wadah yang
merupakan bagian dari proses pemindahan/pengangkutan ikan, tetapi juga penting
dalam mempertahankan mutu ikan. Dengan demikian, secara umum, basket hasil
tangkapan digunakan sebagai alat untuk tempat menampung dan mengangkut
ikan, mulai dari proses pendaratan, tempat pelelangan ikan sampai sebelum ikan
didistribusikan, namun secara khusus basket juga digunakan untuk tujuan
mempertahankan mutu ikan.
      Akan tetapi, peran penting basket hasil tangkapan dalam penanganan ikan,
kadang kurang disadari, baik oleh para nelayan, pedagang ataupun oleh pihak
pelabuhan   perikanan,   sehingga   masih    banyak    nelayan   dan   pedagang
menggunakan wadah “ala kadarnya” untuk mengangkut dan menanampung ikan
selama di pelabuhan. Hal tersebut akan semakin memperburuk mutu ikan yang
akan didistribusikan, sehingga akan mempengaruhi harga jual ikan tersebut.
Selain itu, wadah hasil tangkapan yang digunakan saat ini tidak mampu
menampung ikan yang berukuran besar.
      Basket hasil tangkapan, selain berpengaruh terhadap aspek mutu, juga
terhadap aspek volume, dan aspek teknis. Ditinjau dari aspek mutu, kebersihan
basket hasil tangkapan mempengaruhi mutu ikan karena sifat ikan yang cepat
berlendir sehingga mudah busuk. Ditinjau dari aspek volume, ikan dengan
berbagai macam ukuran dan jenis seharusnya bisa masuk dalam basket, atau
basket yang ada seharusnya dapat menampung ikan dalam berbagai ukuran,
sekurang-kurangnya volume ukuran dari jenis-jenis ikan dominan yang ada.
      Ditinjau dari aspek teknis, ikan diangkut dari kapal pada saat pembongkaran
menuju dermaga dan tempat pelelangan ikan, digunakan basket hasil tangkapan
agar lebih memudahkan kerja dan mempertahankan mutu. Dilihat dari pengaruh
basket hasil tangkapan tersebut, maka ketersediaan basket hasil tangkapan sangat
penting bagi kelancaran aktifitas perikanan di TPI. Namun, masih banyak pihak
pelabuhan yang kurang memperhatikan konstruksi wadah hasil tangkapan yang
digunakan, sehingga peran penting wadah hasil tangkapan terhadap aspek mutu
dan aspek volume tidak tercapai.
                                                                             3



      Kondisi tersebut yang mendasari perlunya diadakan penelitian mengenai
hubungan antara hasil tangkapan dengan konstruksi basket hasil tangkapan di
Pelabuhan Perikanan Nusantara Palabuhanratu.
      Terpilihnya lokasi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Palabuhanratu
karena pelabuhan ini merupakan salah satu PPN di Pulau Jawa, dimana produksi
perikanannya cukup besar. Tahun 2004 volume produksi hasil tangkapan ikan
yang didaratkan di PPN Palabuhanratu sebesar 6.404 ton dengan nilai
produksinya Rp.31.566.769.254 dan pada tahun 2005, yaitu sebesar 12.473 ton
dengan nilai Rp.66.185.976.723 (Anonymous, 2006).
      Dengan kondisi tersebut diperlukan suatu penanganan khusus agar dapat
mempertahankan mutu ikan, sehingga walaupun ikan yang didaratkan banyak
tetapi mutu ikan dan kebersihan pelabuhan tetap terjaga. Sebagaimana telah
disebutkan sebelumnya, pengadaan basket yang tepat akan pentung untuk
membantu mempertahankan mutu hasil tangkapan di pelabuhan perikanan.
      Hasil pengamatan awal memperlihatkan bahwa di PPN Palabuhanratu,
basket/wadah yang digunakan beragam bentuknya, seperti: trays yang berbentuk
seperti limas terpotong, berlubang-lubang dan terbuat dari plastik; wadah
berbentuk balok panjang terbuat dari bahan styrofoam, khusus untuk ikan layur
tujuan ekspor, tertutup (tidak berlubang-lubang); berbentuk silinder mengembung
di bagian tengah yang disebut “blong” dan lain-lain.
      Sebagian besar bentuk atau model basket/wadah hasil tangkapan yang ada
di PPN ini, belum adaptable terhadap kebutuhan basket hasil tangkapan yang
sesungguhnya, kecuali wadah khusus untuk ikan layur tujuan ekspor yang telah
sesuai bentuknya. Dengan demikian, ceceran lendir, darah ikan dan potongan-
potongan ikan mudah kita temui di PPN ini pada saat proses pendaratan dan
pemasaran ikan berlangsung.
      Gambaran-gambaran dan kondisi-kondisi yang telah dikemukakan di atas
kiranya mendasari perlunya diadakan penelitian mengenai basket hasil tangkapan
di PPN Palabuhanratu yang berhubungan dengan dihasilkannya ukuran basket
yang sesuai dengan kebutuhan yang seharusnya.
                                                                             4



1.2 Permasalahan Penelitian

   1)   Belum dilakukannya identifikasi hasil tangkapan dan basket/wadah hasil
         tangkapan mengakibatkan belum diketahuinya karakteristik keduanya,
         yang diperlukan tidak hanya untuk tujuan kebutuhan basket yang
         sebenarnya yang terkait dengan mempertahankan mutu ikan didaratkan,
         namun juga diperlukan antara lain bagi pihak pembeli ikan (pedagang
         ikan eceran, pengolah ikan) di PPN Palabuhanratu;
   2) Belum diketahuinya hubungan antara hasil tangkapan dengan konstruksi
        basket hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu, mengakibatkan nelayan dan
        pedagang ikan di PPN Palabuhanratu menggunakan wadah hasil
        tangkapan “alakadarnya” dan kotornya lantai dermaga pendaratan dan
        lantai TPI;
   3) Belum diketahuinya ukuran basket yang diperlukan hasil tangkapan sesuai
        jenis ikan dominan didaratkan di PPN Palabuhanratu, mengakibatkan
        nelayan dan pedagang ikan menggunakan bermacam-macam jenis dan
        ukuran wadah yang belum sesuai dengan ukuran ikan yang didaratkan.


1.3 Tujuan Penelitian

   1) Mendapatkan karakteristik hasil tangkapan dan basket hasil tangkapan di
        PPN Palabuhanratu
   2) Mengetahui hubungan antara ukuran dan jenis hasil tangkapan yang
        didaratkan dengan ukuran basket hasil tangkapan yang diperlukan untuk
        PPN Palabuhanratu;
   3) Mendapatkan ukuran basket yang diperlukan sesuai jenis ikan dominan
        yang didaratkan di PPN Palabuhanratu
                                                                          5



1.4 Manfaat Penelitian

   1) Diharapkan dapat memberikan masukan tentang pengaruh penggunaan
      konstruksi basket yang digunakan, terhadap hasil tangkapan baik bagi
      pihak pelabuhan, nelayan atau pengusaha penangkapan (pengguna basket),
      maupun pihak-pihak lain yang terkait dalam penggunaan basket hasil
      tangkapan di PPN Palabuhanratu;
   2) Diharapkan pula dapat memberikan informasi tentang syarat basket yang
      baik bagi pihak pelabuhan, nelayan atau pengusaha penangkapan
      (pengguna basket) maupun pihak-pihak lain yang terkait dalam
      penggunaan basket hasil tangkapan di PPN Palabuhanratu.
                        2 TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Hasil Tangkapan di Pelabuhan Perikanan

      Hasil tangkapan yang didaratkan di suatu pelabuhan perikanan atau
pangkalan pendaratan ikan, merupakan “sumber utama” adanya aktivitas-aktivitas
atau yang merupakan “daya tarik utama dan awal” untuk kegiatan-kegiatan di
PP/PPI. Ketiadaan hasil tangkapan yang didaratkan di PP/PPI, membuat “mati”-
nya suatu PP/PPI, sekurang-kurangnya menjadikan PP/PPI hanya berfungsi
minimalis yaitu hanya sebagai penjual atau pelayanan jasa kebutuhan melaut saja
(Pane, 2005).

2.1.1 Pendaratan dan Pelelangan Hasil Tangkapan

      Produksi hasil tangkapan merupakan aspek penting yang harus diperhatikan
dalam memanfaatkan fasilitas pelabuhan kerena produksi sebagai salah satu
indikasi tingkat fungsionalisasi suatu pelabuhan perikanan (PP) atau pangkalan
pendaratan ikan (PPI) (Lubis, 2007). Selain itu, hasil tangkapan juga berperan
sebagai salah satu sumber pemasukan bagi pendapatan pelabuhan perikanan.
Pendapatan tersebut diperoleh dari retribusi yang dikenakan terhadap hasil
tangkapan yang didaratkan dan biaya jasa tambat labuh kapal perikanan yang
masuk ke pelabuhan.
   • Pendaratan Hasil Tangkapan:
      Pendaratan ikan merupakan suatu proses yang dilakukan setelah kapal
bertambat di dermaga pelabuhan dan setelah menyelesaikan perizinan bongkar
(Nurjannah, 2000). Salah satu kegiatan dalam pendaratan hasil tangkapan adalah
pembongkaran ikan dari palkah ke dek kapal. Kegiatan pembongkaran ini harus
segera dilakukan tanpa penundaan waktu. Muatan hasil tangkapan harus segera
dibongkar dengan cara hati-hati, cermat, beraturan, higienik dan tetap
memperhatikan suhu ikan serendah mungkin (Ilyas, 1983). Dalam pembongkaran
ikan digunakan wadah hasil tangkapan untuk menampung ikan.
                                                                               7



      Setelah ikan dibongkar dari palkah ke dek kapal, kemudian ikan diturunkan
ke dermaga pendaratan dan selanjutnya diangkut ke ruang pelelangan (TPI) untuk
mengikuti proses pelelangan.
      Setiap melakukan pendaratan hasil tangkapan sebaiknya menggunakan
wadah standar, kuat dan bersih. Setelah didaratkan, ikan sebaiknya dibersihkan
dengan cara menyiramnya dengan air bersih untuk menghilangkan kotoran yang
ada, termasuk darah dan lendir. Ikan yang fisiknya rusak sebaiknya dipisahkan.
Perlakuan-perlakuan yang mengakibatkan kerusakan fisik seperti terinjak,
tergencet dan perlakuan kasar serta terpaan panas matahari harus dihindari
(Wibowo dan Yunizah, 1998 vide Kutipah, 2002). Ikan yang berukuran kecil
ataupun besar tidak boleh bersentuhan dengan air kolam pelabuhan, lantai atau
benda lainnya, kecuali hanya dengan wadah pengangkut (basket) dan es.
      Menurut Moeljanto (1982), langkah-langkah yang harus diperhatikan dalam
pembongkaran pada pendaratan ikan adalah sebagai berikut:
      1)   Bongkar dengan hati-hati dan sedapat mungkin jangan memakai sekop
           atau garpu, untuk menghindari luka/memar pada ikan;
      2)   Pisahkan es dari ikan, sehingga memudahkan penimbangannya.
           Setelah ditimbang, ikan harus segera diberi es kembali;
      3)   Wadah (container), sebaiknya dibuat dari bahan-bahan yang mudah
           dibersihkan seperti alumunium; plastik keras tetapi tidak mudah pecah;
           atau peti kayu yang ringan, kuat dan mudah dibersihkan;
      4)   Hindari ikan-ikan tersebut dari sinar matahari langsung dan selalu
           menambahkan es pada saat pelelangan, pengangkutan atau pengolahan.
   • Pelelangan Hasil Tangkapan:
      Setelah hasil tangkapan mengalami proses pembongkaran dan penyortiran
berdasarkan jenis, ukuran dan kualitas ikan. Hasil tangkapan tersebut kemudian
dibawa menuju gedung TPI untuk dilelang. Mekanisme pelelangan ikan diatur
dalam Peraturan Daerah Jawa Barat Nomor 8 Tahun 2000 diacu oleh Silalahi
(2006). Mekanisme pelelangan ikan di TPI diikuti oleh beberapa pihak, yaitu
nelayan pemilik ikan atau yang mewakilinya (pengurus), bakul, pengusaha selain
bakul. Dalam pelaksanaan pelelangan diatur atau dipandu oleh petugas TPI.
Seluruh hasil tangkapan ikan di laut harus dijual secara lelang di TPI.
                                                                                8



      Dalam proses pelelangan, terdapat beberapa tata tertib yang harus dipatuhi.
Tata tertib ini mengatur keberlangsungan pelelangan. Adapun tata tertib yang
harus ditaati adalah sebagai berikut:
      1) Kapal perikanan yang mendarat atau membongkar hasil tangkapannya
          diwajibkan:
          a. melaporkan kedatangannya ke Tim Terpadu
          b. meminta nomor urut pelelangan
      2) Pembongkaran dan pemuatan ikan dilakukan oleh awak kapal;
      3) Tempat ikan yang akan dilelang adalah trays milik pelabuhan
          perikanan;
      4) Pengangkutan ikan dari bibir dermaga ke lantai pelelangan dilaksanakan
          oleh TKBM (Tenaga kerja Bongkar Muat);
      5) Pelaksanaan pelelangan hanya untuk:
          a. petugas
          b. nelayan
          c. peserta lelang
      6) Peserta lelang yang berhak mengikuti adalah peserta lelang yang
          menyimpan uang jaminan;
      7) Jumlah hasil lelang tidak diperkenankan melebihi jumlah uang yang
          dijaminkan;
      8) Peserta lelang yang akan mengangkut ikan hasil lelang keluar lokasi TPI
          harus memperlihatkan tanda bukti pembayaran kepada petugas.
      Selain tata tertib yang harus dipatuhi, dalam suatu kegiatan pelelangan ikan
harus terdapat pula elemen-elemen sebagai berikut: 1) Juru lelang yang bertugas
melelangkan ikan hasil tangkapan nelayan; 2) Juru catat yang bertugas
mendampingi juru lelang dan mencatat setiap transaksi yang dihasilkan; 3) Juru
timbang yang bertugas menimbang ikan yang akan dilelang; 4) Nelayan selaku
penjual ikan; dan 5) Pembeli ikan.
      Adapun beberapa tahapan yang harus dijalani dalam proses pelelangan ikan.
Tahapan tersebut adalah sebagai berikut:
      1) Ikan ditimbang oleh juru timbang dan diberi label yang berisi data
          tentang nama kapal, berat ikan dan jenis ikan;
                                                                                9



      2) Pembeli ikan/bakul yang ingin ikut dalam lelang harus menyimpan uang
         jaminan kepada juru karcis. Uang yang disimpan paling sedikit Rp.
         500.000,00;
      3) Juru karcis memberikan identitas kepada penyimpan uang kepada juru
         lelang;
      4) Ikan dilelang sesuai jenis ikan dan pelelangan dilakukan secara terbuka
         dengan kebebasan dalam persaingan harga. Siapa pembeli/bakul yang
         berani    membeli   dengan    harga    tertinggi,   maka   dialah   yang
         memenangkan lelang;
      5) Setelah ikan terjual, juru lelang memberikan laporan kepada juru karcis;
      6) Bakul membayar tagihan kepada juru karcis dengan nilai: Nilai Lelang
         + (3% x Nilai Lelang) – Uang Jaminan;
      7) Nelayan mengambil uang hasil penjualan ikan ke juru karcis dengan
         jumlah: Nilai Lelang – (2% x Nilai Lelang)
      Satu kali pelelangan hanya dilakukan terhadap hasil tangkapan satu kapal
saja dan proses pelelangan harus disaksikan oleh wakil dari nelayan/penjual. Bila
nelayan menetapkan harga yang tinggi dan tidak ada pembelinya, maka ikan akan
dikembalikan kepada nelayan (opow) dan nelayan dikenakan biaya retribusi
sebesar 5% dari nilai lelang yang diinginkan oleh nelayan tersebut dan nelayan
dapat menjual hasil tangkapannya kepada siapapun.
      Kegiatan pelelangan di pelabuhan perikanan biasanya dilakukan pada pagi
hari, akan tetapi kini kegiatan pelelangan di PPN Palabuhanratu sudah tidak
berjalan lagi. Hal tersebut sudah lama berlangsung sejak KUD Mina Mandiri
Sinar Laut mengambil alih operasional kegiatan pelelangan dari Dinas Perikanan
Palabuhanratu pada tahun 2005. Berdasarkan informasi yang diperoleh, setelah
operasional kegiatan pelelangan “dipegang” oleh KUD, kegiatan pelelangan
hanya dilakukan beberapa kali saja, selanjutnya tidak berjalan lagi sampai
sekarang. Ikan yang dilelang didominasi oleh ikan cakalang, cucut, layaran,
tongkol, layur, peperek, tembang maupun bawal. Ikan-ikan tersebut dibongkar
dari kapal penangkapan ikan yang mengoperasikan alat tangkap jaring rampus,
pancing, payang, gill net, bagan, rawai dan purse seine (Anonymous, 2006).

								
To top