Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATERI STRUKTUR DAN FUNGSI JARINGAN by xld14276

VIEWS: 5,530 PAGES: 48

konsep-pengembangan-bahan-ajar pdf

More Info
									PENGEMBANGAN BAHAN AJAR MATERI STRUKTUR DAN
 FUNGSI JARINGAN TUMBUHAN DENGAN PENDEKATAN
           JELAJAH ALAM SEKITAR (JAS)




                            skripsi:
                disusun sebagai salah satu syarat
       untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi


                              Oleh
                           Iramawati
                           4401404534




                     JURUSAN BIOLOGI
  FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
            UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                              2009
                  PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI


   Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi saya yang berjudul
“Pengembangan Bahan Ajar Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)” disusun berdasarkan hasil
penelitian saya dengan arahan dosen pembimbing. Sumber informasi atau kutipan
yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir skripsi ini. Skripsi ini
belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar dalam program sejenis
diperguruan tinggi manapun.




                                                Semarang, Januari 2009


                                                Iramawati
                                                4401404534




                                      ii
                                PENGESAHAN

Skripsi dengan judul: “Pengembangan Bahan Ajar Materi          Struktur dan Fungsi
Jaringan Tumbuhan dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)”


Telah dipertahankan di depan sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Biologi FMIPA
UNNES pada:
Hari          :
Tanggal       :


                                  Panitia Ujian


Ketua                                             Sekretaris




Drs. Kasmadi Imam S., M.S.                        Aditya Marianti, M.Si.
NIP 130781011                                     NIP 132046851


                                  Penguji Utama




                             Dr. Enni Suwarsi R, M.Si
                             NIP. 131568906



Dosen Pembimbing I                                Dosen Pembimbing II




Drs. Sumadi, M.S.                                    Dra. Ely Rudyatmi M.Si
NIP. 130686735                                       NIP. 131754161




                                        iii
                                    ABSTRAK


Iramawati, 2009. Pengembangan Bahan Ajar Materi Struktur dan Fungsi
Jaringan Tumbuhan dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). Skripsi,
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang. Drs. Sumadi, M. S dan
Dra. Ely Rudyatmi M. Si.

          Guru biologi di SMA Negeri se Kota Semarang belum pernah
mengembangkan bahan ajar untuk kegiatan belajar mengajar. Bahan ajar merupakan
sarana penting dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui kelayakan bahan ajar materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
dengan pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) yang diterapkan di SMA Negeri I
Semarang.
          Penelitian dilaksanakan dengan rancangan Research and Development
(R&D) di SMA Negeri 1 Semarang (kelas XI IA1 dan XI 1A3) dengan jumlah
peserta didik 69 orang. Data kelayakan modul diukur dengan instrumen penilaian
buku teks dari BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan) dengan kriteria BSNP
dan umum, tanggapan peserta didik, tanggapan guru, hasil belajar peserta didik (yang
diukur dengan laporan praktikum dan tugas) dan aktivitas peserta didik (yang diukur
dengan lembar observasi). Data dianalisis secara deskriptif persentase.
          Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan kriteria BSNP modul
dinilai belum layak, sedangkan berdasarkan kriteria umum, tanggapan peserta didik
dan guru menunjukkan modul telah layak digunakan sebagai bahan ajar. Modul
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS dinilai menarik, isi
dan tata bahasa mudah dipahami, sistem penyajian runtut dan sistematis dan ada
kesesuaian antara SK (Standar Kompetensi) dengan KD (Kompetensi Dasar). Secara
klasikal hasil belajar yang menggunakan modul tersebut telah memenuhi standar
ketuntasan dengan aktivitas peserta didik tinggi.
          Simpulan penelitian ini adalah secara umum modul materi struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS telah layak digunakan sebagai
bahan ajar, tetapi untuk memenuhi standar BSNP masih perlu diperbaiki.

Kata kunci: bahan ajar, Jelajah Alam Sekitar (JAS), struktur dan fungsi jaringan
             tumbuhan.




                                         iv
                                      KATA PENGANTAR

      Segala puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis diberikan ijin dan
kemudahan dalam menyelesaikan skipsi yang berjudul “Pengembangan Bahan Ajar
Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan dengan Pendekatan Jelajah Alam
Sekitar (JAS)”. Penulis menyadari bahwa skripsi ini tidak dapat tersusun dengan
baik tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberi kesempatan untuk
   menuntut ilmu.

2. Dekan FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberi ijin penelitian.

3. Ketua Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang yang telah memberi
   kemudahan dalam administrasi dalam penyusunan skripsi.

4. Drs. Sumadi, M.S dan Ely Rudyatmi, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah
   dengan sabar berkenan membimbing dan memberi petunjuk serta pengarahan
   selama penyusunan skripsi ini.

5. Dr. Enni Suwarsi R, M.Si sebagai dosen penguji yang telah memberikan banyak
   masukan bagi penyempurnaan skripsi ini.

6. Noor Aini Habibah, M.Si sebagai dosen kolaborasi yang telah dengan sabar
   menemani dan membimbing selama pelaksanaan penelitian.

7. Drs. Krispinus Kedati Pukan, M.Si; Dra. Endah Peniati, M.Si; Drs. Eling
   Purwsantoyo, M.Si sebagai dosen penilai.

8. Suprihadi SE, M.Pd, kepala sekolah SMA Negeri 1 Semarang yang telah
   berkenan membantu dan bekerjasama dengan penulis dalam melaksanakan
   penelitian.

9. Dra. Hj. Siti Nurrochmi, guru biologi SMA Negeri 1 Semarang yang telah
   berkenan memberikan pengarahan dan kerjasamanya yang baik.

                                       v
10. Guru dan staf karyawan SMA Negeri 1 Semarang yang telah membantu peneliti
   selama penelitian.

11. Peserta didik kelas XI IA1 dan XI IA3 yang telah berkenan menjadi sampel
   dalam penelitian.

12. Bapak dan ibu tecinta, atas doa dan keringat yang kalian kucurkan untuk penulis.

13. Aby tersayang, adik-adikku Irfan dan Ira, serta seluruh keluarga di Comal
   terimakasih atas doanya.

14. Bio-04 dengan Parallel Communitynya, Trio Comal, teman-teman kolaborasi
   Hibah A2 Dewi dan Ana, Lukman, Dira, anak Garintrya dan KinKin kos
   terimakasih atas semangat dan bantuannya.

15. Semua pihak yang telah berkenan membantu penulis selama penelitian dan
   penyusunan skripsi ini baik moril maupun materiil, yang tidak dapat penulis
   sebutkan satu persatu.

       Tidak ada sesuatu yang dapat penulis berikan sebagai imbalan kecuali untaian
doa dan ucapan terimakasih dan semoga amal baik yang telah diberikan berbagai
pihak kepada penulis mendapatkan imbalan yang lebih dari Allah SWT. Akhirnya
penulis mengharapkan skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis pada khususnya dan
pembaca pada umumnya.




                                                   Semarang, Januari 2009




                                                   Penulis




                                         vi
                                                   DAFTAR ISI
                                                                                                           Halaman
HALAMAN JUDUL ............................................................................................ i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ............................................................... ii
PENGESAHAN .................................................................................................... iii
ABSTRAK .......................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR .......................................................................................... v
DAFTAR ISI ......................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ x
DAFTAR LAMPIRAN ......................................................................................... xi


BAB I             PENDAHULUAN ........................................................................... 1
                  A. Latar Belakang Masalah ............................................................. 1
                  B. Perumusan Permasalahan ........................................................... 4
                  C. Penegasan Istilah ........................................................................ 4
                  D. Tujuan Penelitian ....................................................................... 6
                  E. Manfaat Penelitian ..................................................................... 6


BAB II            TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS..................................... 7
                  A. Tinjauan Pustaka ......................................................................... 7
                        1. Belajar dan Pembelajaran ................................................ ..... 7
                        2. Bahan Ajar ...................................................................... ..... 7
                        3. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) .......................... ..... 10
                        4. Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan ............ ..... 11
                  B. Hipotesis .................................................................................... 11


                                                           vii
BAB III          METODE PENELITIAN ................................................................. 13
                 A. Lokasi dan Waktu Penelitian ................................................ ..... 13
                 B. Faktor yang Diteliti ............................................................... ..... 13
                 C. Rancangan Penelitian ............................................................ ..... 13
                 D. Alat Penelitian            .................................................................... .... 13
                 E. Prosedur Penelitian ................................................................ ..... 13
                 F. Data dan Analisis Data........................................................... ..... 14


BAB IV           HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 19
                 A. Hasil Penelitian ...................................................................... ..... 19
                      1. Hasil Penilaian Dosen Terhadap Modul .......................... ..... 19
                      2. Hasil Belajar Peserta Didik ............................................. ..... 20
                      3. Aktivitas Peserta Didik Selama Pembelajaran ................ ..... 20
                      4. Tanggapan Peserta Didik terhadap Modul....................... ..... 21
                      5. Tanggapan Guru terhadap Modul .................................... ..... 22
                 B. Pembahasan              ............................................................................. 24


BAB V            SIMPULAN DAN SARAN ........................................................ ..... 33
                 A. Simpulan ............................................................................... ..... 33
                 B. Saran ..................................................................................... ..... 33


DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... ..... 34
LAMPIRAN-LAMPIRAN




                                                          viii
                                          DAFTAR TABEL
                                                                                          Halaman
1. Rekapitulasi Rata-rata Hasil Penilaian Dosen Terhadap Modul...............                       19
2. Ringkasan Hasil Belajar Peserta Didik .....................................................      20
2. Ringkasan Data Aktivitas Peserta Didik...................................................        21
3. Ringkasan Tanggapan Peserta Didik Terhadap Kelayakan Modul ..........                            21
4. Ringkasan Tanggapan Guru Terhadap Kelayakan Modul........................                        22
5. Macam-macam Tipe Bunga ......................................................................    94




                                                     ix
                                          DAFTAR GAMBAR


                                                                                                    Halaman
1. Jaringan Meristem Primer.................................................................................. 76
2. Jaringan Meristem Sekunder.............................................................................. 77
3. Sel-sel Parenkim ................................................................................................ 78
4. Jaringan Kolenkim dan Sklerenkim................................................................... 79
5. Struktur Berkas Pengangkut .............................................................................. 80
6. Tipe Berkas Pengangkut .................................................................................... 80
7. Struktur Jaringan Sekretoris............................................................................... 82
8. Jaringan Gabus................................................................................................... 82
9. Gambaran Umum Transport pada Tumbuhan .................................................. 83
10. Transport Mineral dan Air dalam Akar............................................................ 83
11. Peranan Kohesi dan Adhesi dalam Kenaikan Getah Xilem............................. 84
12. Perbedaan Ciri Tumbuhan Monokotil dan Dikotil .......................................... 86
13. Modifikasi Akar .............................................................................................. 87
14. Penampang Melintang Akar Dikotil dan Monokotil ....................................... 88
15. Sistem Jaringan pada Batang Dikotil dan Monokotil ...................................... 90
16. Pertumbuhan Sekunder Batang Dikotil ........................................................... 91
17. Anatomi Daun Dikotil...................................................................................... 93
18. Anatomi Daun Jagung..................................................................................... 93
19. Struktur Bunga Sempurna ............................................................................... 94
20. Tahapan-tahapan dalam Kultur Jaringan ......................................................... 98
21. Peserta Didik Menggunakan Modul dalam Pembelajaran............................... 156
22. Peserta Didik Melakukan Pengamatan Mikroskopis ....................................... 156
23. Peserta Didik Mengambar Hasil Pengamatan.................................................. 157
24. Salah Kelompok Mempresentasikan Hasil Praktikum..................................... 157



                                                           x
                                            DAFTAR LAMPIRAN
                                                                                                                Halaman
1. Silabus ............................................................................................................. 37
2. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan 1 ........................................... 39
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan 2 ........................................... 53
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan 3 ........................................... 59
5. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan 4 ........................................... 64
6. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan 5 ........................................... 69
7. Modul Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan.................................. 73
8. Kisi-kisi Angket Tanggapan Peserta Didik...................................................... 120
9. Rekapitulasi Tanggapan Peserta Didik ............................................................ 123
10. Kisi-kisi Wawancara Guru .............................................................................. 125
11. Lembar Observasi Aktivitas Peserta Didik ..................................................... 127
12. Silabus dari BSNP ........................................................................................... 130
13. Instrumen Penilaian ........................................................................................ 131
14. Rekapitulasi Hasil Penilaian Dosen ................................................................. 145
15. Rekapitulasi Nilai Tugas ................................................................................. 147
16. Rekapitulasi Nilai Laporan Praktikum ............................................................ 148
17. Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Didik ........................................................ 149
18. Rekapitulasi Aktivitas Peserta Didik perPertemuan ....................................... 150
19. Hasil Observasi Aktivitas Pertemuan 1 .......................................................... 151
20. Hasil Observasi Aktivitas Pertemuan 2 .......................................................... 152
21. Hasil Observasi Aktivitas Pertemuan 3 ........................................................... 153
22. Hasil Observasi Aktivitas Pertemuan 4 ........................................................... 154
23. Hasil Observasi Aktivitas Pertemuan 5 .......................................................... 155
24. Dokumentasi Penelitian .................................................................................. 156
                                                             xi
xii
                                  BAB I
                           PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah
       Sudah sering dikeluhkan sejak lama sistem pendidikan di Indonesia masih
bersifat verbalistik, lebih berisi ceramah, teori-teori yang abstrak dan sedikit
sekali bersinggungan dengan realita atau kenyataan sesungguhnya. Hal ini tidak
menciptakan kondisi yang memadai agar rasa ingin tahu peserta didik dapat
berkembang dengan kuat.
       Kondisi seperti ini tidak memberdayakan para peserta didik untuk mau
dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do)
dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungannya, sehingga tidak akan dapat
membangun pengetahuannya terhadap lingkungan sekitar (learning to know).
Selain hal tersebut peserta didik juga tidak mempunyai kesempatan untuk
membangun kepercayaan diri (learning to be), maupun kemampuan berinteraksi
dengan berbagai individu atau kelompok yang beragam (learning to live to
together).(Budimansyah 1999: 4)
       Seiring dengan berlakunya kurikulum baru yaitu Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai penyempurna kurikulum 2004 (KBK)
diharapkan dapat mendorong perubahan sistem pendidikan. Sehingga upaya
mengkondisikan lingkungan yang menciptakan peserta didik tumbuh dengan rasa
ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitar dan perkembangan IPTEK
yang dapat menempa manusia Indonesia yang mampu menghadapi tantangan di
bidang sosial, ekonomi, dan lingkungan sekitar secara simultan. Hal yang perlu
ditekankan adalah perhatian yang lebih besar pada pengembangan pendidikan,
salah satunya adalah pengembangan materi mulai dari pendidikan tingkat dasar
sampai tingkat menengah.
       Setelah KTSP mulai dilaksanakan, sekolah dan guru diberi wewenang
untuk merancang, mengembangkan dan mengimplementasikan kurikulum
tersebut sesuai dengan situasi, kondisi, dan potensi keunggulan lokal yang dapat
dimunculkan oleh sekolah. Sekolah dan guru dapat mengembangkan standar


                                     1
yang lebih tinggi dari standar isi dan standar kompetensi lulusan.
       Faktor-faktor yang dapat menghambat keberhasilan proses pembelajaran
sangat kompleks, antara lain adalah kurangnya sarana penunjang seperti
laboratorium dan buku pelajaran yang digunakan guna menunjang proses
pembelajaran terutama buku ajar yang memenuhi syarat sebagai bahan
pembelajaran. Buku merupakan sarana yang penting bagi peserta didik maupun
guru dalam pembelajaran, yang tidak dapat dipisahkan dengan kurikulum. Di
lapangan, buku-buku ajar yang digunakan di dalam kegiatan pembelajaran,
umumnya cenderung berisikan informasi bidang studi saja dan tidak terorganisasi
dengan baik. Kualitas buku ajar yang rendah dengan pembelajaran konvensional
akan berakibat rendahnya perolehan prestasi belajar peserta didik (Kustiono
1998:11).
       Menurut pedoman memilih dan menyusun bahan ajar (2006:1) berkenaan
dengan pemilihan bahan ajar ini, secara umum masalah yang dimaksud meliputi
cara penentuan jenis materi, kedalaman, ruang lingkup, urutan penyajian,
perlakuan (treatment) terhadap materi pembelajaran dan sebagainya. Masalah
lain yang berkenaan dengan bahan ajar adalah memilih bahan ajar. Ada
kecenderungan sumber bahan ajar dititik beratkan pada satu buku. Padahal
banyak sumber bahan ajar lain yang dapat digunakan.
       Salah satu ciri buku yang baik adalah mudah dipahami dan dimengerti
oleh pembaca, baik menyangkut maksud maupun arti fisis dari pernyataan yang
ada di dalamnya, sehingga pembaca mampu memahami konsep dan memecahkan
permasalahan yang ada secara individual tanpa mengabaikan peran guru dalam
proses pembelajaran. Tetapi sebagaimana diketahui, kemampuan pemerintah
dalam hal ini Depdiknas untuk menyediakan sarana tersebut sangat terbatas.
       Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan merupakan salah satu materi
pelajaran biologi kelas XI semester I. Materi ini mengkaitkan antara struktur,
fungsi dan berbagai proses di dalamnya seperti proses transportasi tumbuhan
maupun sifat totipotensi tumbuhan yang kaitannya dengan kultur jaringan. Materi
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan penting dikuasai karena merupakan dasar
dari penerapan pemanfaatan tumbuhan bagi kehidupan manusia.
       Berdasarkan hasil observasi, kegiatan pembelajaran biologi di SMA-SMA

                                       2
Negeri Semarang diperoleh gambaran salah satu masalah penting yang sering
dihadapi guru adalah memilih bahan ajar yang tepat dalam rangka membantu
peserta didik mencapai kompetensi. Guru-guru biologi menyadari jarang sekali
bahkan belum pernah mencoba untuk mengembangkan bahan ajar yang dapat
dipakai untuk membantu peserta didik dalam belajar. Hal ini karena sebagian
guru hanya memanfaatkan apa yang sudah ada tanpa berusaha untuk
menciptakan bahan ajar baru.
        Pembelajaran di SMA pada umumnya cenderung masih bersifat teacher
oriented dan text book oriented. Guru belum sepenuhnya menunjukkan usaha
memanfaatkan lingkungan sekitar dalam rangka menjelaskan dan memberikan
contoh fenomena biologi. Dalam pembelajaran guru menggunakan buku dari
penerbit Erlangga dan ESIS yang secara umum cukup baik. Tetapi materi tentang
kultur jaringan yang merupakan bagian dari materi struktur dan fungsi jaringan
tumbuhan masih sangat kurang sehingga guru perlu mencari referensi dari buku-
buku lain. Aktivitas peserta didik dalam praktikum, presentasi, dan mengenal
lingkungan sekitar masih kurang. Praktikum masih terbatas pada pengenalan
jaringan dan transportasi pada tumbuhan, pengenalan tentang kultur jaringan
sebatas definisi karena dalam hal ini pengetahuan guru juga masih sangat
terbatas.
        Oleh karena itu untuk dapat menciptakan peserta didik tumbuh dengan
rasa ingin tahu yang tinggi terhadap lingkungan sekitar dan perkembangan
IPTEK maka dikembangkan bahan ajar dengan pendekatan jelajah alam sekitar
(JAS). Pendekatan Jelajah Alam Sekitar adalah suatu pendekatan pembelajaran
yang memanfaatkan lingkungan fisik, sosial, teknologi, dan budaya sehingga
obyek belajar biologi dan fenomenanya dapat dipelajari melalui kerja ilmiah
(Marianti 2006). Bahan ajar ini tidak hanya berisi materi struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan dan materi tentang kultur jaringan yang erat kaitannya dengan
sifat totipotensi sel. Tetapi juga berisi tugas-tugas serta lembar kerja sehingga
dapat meningkatkan aktivitas peserta didik. Peserta didik mempunyai banyak
kesempatan untuk mengeksplorasi dan berinteraksi dengan lingkungan
sekitarnya. Seperti browsing internet, jelajah ke toko pupuk untuk mencari pupuk
majemuk sebagai media alternatif pengganti medium MS (Murashige and

                                      3
Skoog), atau belajar mengenali dan memperhatikan lingkungan seperti jenis
tumbuhan dan jaringan apa yang terdapat di dalamnya. Uraian materi didukung
gambar-gambar yang jelas disertai ilustrasi yang lengkap harapannya dapat
meningkatkan pemahaman peserta didik. Ilustrasi memegang peranan penting,
karena ilustrasi dapat memperjelas konsep, pesan, gagasan atau ide yang ingin
disampaikan dalam bahan ajar. Dalam penelitian ini bahan ajar dengan
pendekatan JAS diterapkan di SMA Negeri 1 Semarang. Alasan penelitian
dilaksanakan di SMA Negeri 1 Semarang dikarenakan kondisi sarana dan
prasarananya sudah cukup lengkap, serta input peserta didik yang baik sehingga
dapat memberikan data secara optimal.


B. Perumusan Masalah
       Berdasarkan uraian diatas, dirumuskan permasalahan: Apakah bahan ajar
materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan yang dikembangkan dengan
pendekatan JAS layak diterapkan dalam pembelajaran?


C. Penegasan Istilah
1. Kelayakan
       Kelayakan bahan ajar yang dimaksud dalam penelitian ini mengacu pada
Instrumen Penilaian Tahap II Buku Teks Pelajaran Biologi SMA/MA dari BSNP
(Badan Standar Nasional Pendidikan ). Instrumen Penilaian tersebut terdapat tiga
butir komponen penilaian yaitu kelayakan isi, bahasa, dan penyajian. Kelayakan
isi meliputi: cakupan materi, akurasi materi, kemutakhiran, mengandung
wawasan produktivitas, merangsang keingintahuan (curiosity), mengembangkan
kecakapan hidup (Life Skills), mengembangkan wawasan kebhinekaan (sense of
diversity), dan mengandung wawasan kontekstual.
       Kebahasaan meliputi: sesuai dengan perkembangan peserta didik,
komunikatif, dialogis dan interaktif, lugas, koherensi dan keruntutan alur pikir,
kesesuian dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar, penggunaan istilah dan
simbol/lambang. Terkait penyajian adalah teknik penyajian,pendukung penyajian
materi, dan penyajian pembelajaran. Selain mengacu pada Instrumen Penilaian
Tahap II Buku Teks Pelajaran Biologi SMA/MA dari BSNP bahan ajar dikatakan

                                      4
layak apabila indikator keberhasilan dalam penelitian ini dapat tercapai
semuanya.


2. Pengembangan Bahan Ajar
        Yang dimaksud pengembangan bahan ajar adalah pengemasan kembali
informasi dengan memanfaatkan buku-buku teks SMA maupun di perguruan
tinggi yang telah beredar dipasaran. Selain dari buku-buku teks informasi juga
dapat diperoleh dari internet, majalah ilmiah maupun lingkungan sekitar tempat
tinggal yang berhubungan dengan materi. Informasi-informasi tersebut kemudian
dikemas dalam bentuk modul yang relevan dengan Standar Kompetensi (SK) dan
Kompetensi Dasar (KD) yang tercantum dalam kurikulum 2006. Diharapkan
modul yang berisi materi, info web dan tugas-tugas ini lebih sempurna dan
memenuhi karakteristik bahan ajar yang baik dari sekedar buku teks biasa karena
lebih melibatkan lingkungan sekitar sebagai objek belajar peserta didik.


3. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)
        Pendekatan Jelajah Alam Sekitar memanfaatkan alam sekitar kehidupan
peserta didik baik lingkungan fisik, sosial, budaya sebagai objek belajar biologi,
dengan mempelajari fenomenanya melalui kerja ilmiah. Pendekatan ini
menekankan pada kegiatan pembelajaran yang dikaitkan dengan situasi nyata,
sehingga selain dapat membuka wawasan berfikir yang beragam dari seluruh
peserta didik, pendekatan ini memungkinkan peserta didik dapat mempelajari
berbagai konsep dan cara mengaitkan dengan kehidupan nyata sehingga hasil
belajarnya lebih berdaya guna. Dalam penelitian ini JAS direfleksikan melalui
pembelajaran dengan metode kontruktivisme, bioedutaiment dan eksplorasi
lingkungan sekitar.


4. Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
        Materi   struktur   dan    fungsi   jaringan   tumbuhan     dengan    KD
mengidentifikasi struktur jaringan tumbuhan dan mengkaitkanya dengan
fungsinya, serta menjelaskan sifat totipotensi sebagai dasar kultur jaringan. SK
memahami     keterkaitan    antara struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dan

                                      5
hewan, serta penerapannya dalam konteks salingtemas tercantum dalam
kurikulum 2006 pada mata pelajaran biologi kelas XI semester I.


D. Tujuan Penelitian
       Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan modul materi
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS sebagai bahan
ajar di kelas XI semester 1 SMA Negeri I Semarang.


E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Guru
    a. Sebagai tambahan informasi bagi guru tentang bahan ajar yang baik.
    b. Mempermudah penyampaian materi struktur dan fungsi jaringan
        tumbuhan
    c. Meningkatkan kreativitas dan kualitas guru, karena guru dituntut dapat
        menggunakan dan menerapkan bahan ajar secara efektif.
2. Bagi Peserta Didik
    a. Meningkatkan aktivitas peserta didik selama pembelajaran
    b. Meningkatkan motivasi peserta didik untuk belajar.
    c. Meningkatkan pemahaman peserta didik pada konsep struktur dan fungsi
        jaringan tumbuhan dan kaitannya dengan sifat totipotensi.
    d. Menambah pengalaman belajar peserta didik tentang teknik kultur
        jaringan, pembuatan media kultur jaringan, sterilisasi media dan eksplan
        serta perbanyakan plantlet.
3. Bagi Sekolah
          Sebagai tambahan referensi bagi sekolah contoh bahan ajar materi
       stuktur dan fungsi jaringan tumbuhan.




                                      6
                                           BAB II
                    TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS


A. Tinjauan Pustaka
1. Belajar dan Pembelajaran
        Pembelajaran adalah suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru
sedemikian rupa, sehingga tingkah laku peserta didik berubah ke arah yang lebih
baik (Darsono 2000: 24). Ciri-ciri pembelajaran adalah:
   a. Pembelajaran dilakukan secara sadar dan direncanakan secara sistematis.
   b. Pembelajaran dapat menumbuhkan perhatian dan motivasi peserta didik
       belajar.
   c. Pembelajaran dapat menyediakan bahan belajar yang menarik dan
       menantang bagi peserta didik.
   d. Pembelajaran dapat menggunakan alat bantu belajar yang tepat dan
       menarik.
   e. Pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar yang aman dan
       menyenangkan bagi peserta didik.
   f. Pembelajaran dapat membuat peserta didik siap menerima pelajaran, baik
       secara fisik maupun psikologis (Darsono 2000: 25).
        Tujuan pembelajaran adalah membantu peserta didik agar memperoleh
berbagai pengalaman dan dengan pengalaman itu tingkah laku peserta didik
bertambah baik kuantitas maupun kualitas (Darsono 2000: 26). Tingkah laku
yang dimaksud meliputi pengetahuan, ketrampilan dan nilai atau norma yang
berfungsi sebagai pengendali sifat dan perilaku peserta didik.


2. Bahan Ajar
        Bahan ajar merupakan seperangkat materi pelajaran (Teaching Material)
yang disusun secara sistematis, menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang
akan dikuasai peserta didik dalam kegiatan pembelajaran (Sofyan 1997: 117)
        Bahan ajar merupakan salah satu sumber belajar yang penting bagi
peserta didik. Bahan ajar seharusnya dirancang sedemikian rupa sehingga


                                       7
menarik untuk dibaca, dipahami dan digunakan sebagai sumber belajar yang
utama.
  a. Bentuk bahan ajar atau materi pembelajaran antara lain dapat berupa:
     1) bahan cetak seperti: hand out, buku, modul, lembar kerja peserta didik
          (LKS), brosur, leaflet, wallchart.

     2) audio Visual seperti: video/film,VCD.

     3) audio seperti: radio, kaset, CD audio, PH.

     4) visual: foto, gambar, model / maket.

     5) multi media: CD interaktif, Computer Based, Internet.
  b. Bahan ajar berfungsi sebagai:
     1) pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktifitasnya dalam
          proses pembelajaran, sekaligus merupakan subtansi kompetensi yang
          seharusnya diajarkan pada peserta didik.
     2) pedoman bagi peserta didik yang akan mengarahkan semua
          aktifitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan subtansi
          kompetensi yang harus dikuasainya.
     3) alat evaluasi pencapaian/penguasan hasil pembelajaran.
  c. Bahan ajar yang baik harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
     1)    subtansi   yang    dibahas       harus   mencakup   sosok   tubuh   dari
          kompetensi/subkompetensi yang relevan dengan profil kemampuan
          tamatan.
     2)    subtansi yang dibahas harus benar, lengkap dan aktual meliputi
          konsep fakta, prosedur, istilah dan notasi serta disusun berdasarkan
          hierarki/step penguasan kompetensi
     3)    tingkat keterbacaan, baik dari segi kesulitan bahasa subtansi harus
          sesuai dengan tingkat kemampuan peserta didik
     4)    sistematika penyusunan bahan ajar harus jelas, runtut, lengkap dan
          mudah dipahami.
         Format atau bentuk bahan ajar yang sesuai untuk pembelajaran
kompetensi dengan pendekatan tuntas (mastery learning) adalah modul yang



                                        8
bersifat fleksibel. Pengemasan bahan ajar ke dalam format modul bukan berarti
mengarah pada pembelajaran individual yang menghilangkan pesan guru, tetapi
justru lebih mengefektifkan peran guru dan peserta didik dalam pembelajaran
(Sofyan 1997: 119).
       Dengan bahan ajar tersebut memungkinkan peserta didik dapat
mempelajari suatu kompetensi secara runtut dan sistematis sehingga secara
akumulatif mampu menguasai semua kompetensi secara utuh dan terpadu pula.
Sebuah bahan ajar yang baik harus mencakup: (1) petunjuk belajar (petunjuk
guru dan peserta didik); (2) kompetensi yang akan dicapai; (3) informasi
pendukung; (4) latihan-latihan; (5) petunjuk kerja, dapat berupa lembar kerja
(LK); (6) evaluasi. Menurut BSNP bahan ajar yang layak diterapkan adalah
bahan ajar yang telah memenuhi kriteria kelayakan dari tiga komponen yaitu
komponen kelayakan isi, komponen bahasa, dan komponen penyajian. Apabila
rata-rata skor ketiga komponen tersebut ≥ 95% telah terpenuhi maka bahan ajar
tersebut dapat dikatakan layak untuk diterapkan dalam pembelajaran.
       Menurut Sudjana dan Rivai (2003: 132) modul merupakan jenis kesatuan
kegiatan yang terencana, dirancang untuk membantu peserta didik secara
individual dalam mencapai tujuan-tujuan belajarnya. Modul bisa dipandang
sebagai paket program pengajaran yang terdiri dari komponen-komponen yang
berisi tujuan belajar, bahan pelajaran, metode belajar, alat atau media, serta
sumber belajar dan sistem evaluasinya. Bahan ajar berbentuk modul merupakan
paket belajar mandiri yang meliputi serangkaian pengalaman belajar yang
direncanakan dan dirancang secara sistematis untuk membantu peserta didik
mencapai tujuan belajar (Mulyasa, 2004: 43).
       Gagne dan Berliner dalam Darsono (2000) mengemukakan beberapa
pertimbangan dalam memilih bahan ajar, yaitu:
   a. Tingkat kemampuan peserta didik.
      Menurut Piaget tingkat perkembangan berpikir ada 4, yaitu :
       1) periode sensomotorik (lahir sampai usia 1,5-2 tahun).
       2) periode pra-operasional (2-3 tahun sampai 7-8 tahun).
       3) periode operasional (7-8 tahun sampai 12-14 tahun).
       4) periode formal (usia diatas 14 tahun).

                                     9
   b. Keterkaitan dengan pengalaman peserta didik.
   c. Menarik tidaknya bahan ajar.
   d. Tingkat aktualisasi bahan ajar.


3. Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)
         Ridlo dan Santoso (2005: 1) menjelaskan bahwa JAS merupakan suatu
pendekatan pembelajaran yang memanfaatkan alam sekitar kehidupan peserta
didik baik lingkungan fisik, sosial, budaya sebagai objek belajar biologi, dengan
mempelajari fenomenanya melalui kerja ilmiah. Harapannya peserta didik dapat
mencapai kecakapan kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga mempunyai
penguasan ilmu ketrampilan, penguasaan berkarya, penguasaan mensikapi dan
penguasaan masyarakat.
         Pendekatan ini menekankan pada kegiatan pembelajaran yang dikaitkan
dengan situasi nyata, hal ini selain dapat membuka wawasan berfikir yang
beragam dari seluruh peserta didik. Pendekatan ini memungkinkan peserta didik
dapat mempelajari berbagai konsep dan cara mengaitkan dengan kehidupan
nyata.
         Ciri-ciri pembelajaran JAS menurut Ridlo dan Santoso (2005) adalah:
         a. Selalu dikaitkan dengan alam sekitar secara langsung, tidak langsung,
            maupun menggunakan media.
         b. Selalu ada kegiatan berupa peramalan, pengamatan dan penjelasan.
         c. Ada laporan untuk dikomunikasikan baik secara lisan, tulisan,
            gambar, foto atau audiovisual.
         Banyak    keuntungan     yang    diperoleh   dari   kegiatan     mempelajari
lingkungan dalam proses belajar-mengajar adalah:
         a. Kegiatan lebih menarik dan tidak membosankan sehingga motivasi
           belajar peserta didik akan lebih tinggi.
         b. Hakekat belajar akan lebih bermakna sebab peserta didik dihadapkan
           dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
         c. Bahan-bahan yang dipelajari lebih kaya serta lebih faktual.
         d. Kegiatan peserta didik lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat
           dilakukan dengan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya

                                         10
          atau wawancara, mendemonstrasikan, menguji fakta dan lain-lain.
        e. Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dipelajari
          bisa beraneka ragam.
        Peserta didik dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan
yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing
dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk rasa cinta lingkungan.
(Sudjana 1989)
        Anita (2008) membuktikan bahwa proses pembelajaran materi struktur
dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS lebih mengajarkan peserta
didik untuk mengembangkan ketrampilan proses. Pembelajaran dengan
pendekatan JAS menghasilkan tingginya pemahaman peserta didik yang semula
tidak paham menjadi paham dan didukung aktivitas peserta didik yang tinggi
pula.


4. Materi Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan
        Materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan tercantum dalam
kurikulum 2006 pada mata pelajaran biologi kelas XI semester I dengan SK dan
fungsi jaringan tumbuhan dan hewan, serta penerapannya dalam konteks
salingtemas. Pada materi ini, memahami keterkaitan antara struktur KD yang
harus dicapai peserta didik adalah peserta didik dapat mengidentifikasi struktur
jaringan tumbuhan dan mengkaitkanya dengan fungsinya, menjelaskan sifat
totipotensi sebagai dasar kultur jaringan. Sifat totipotensi adalah kemampuan sel
tumbuhan untuk berkembang menjadi individu yang lengkap jika ditanam pada
medium yang sesuai. Dengan adanya sifat totipotensi pada jaringan tumbuhan
maka manusia memanfaatkan untuk pelestarian tanaman langka, memperoleh
anakan yang seragam dalam jumlah yang banyak dan waktu yang cepat melalui
teknologi kultur jaringan.


B. Hipotesis
        Untuk menyusun hipotesis, disusun kerangka berpikir berdasarkan latar
belakang dan tinjauan pustaka sebagai berikut:



                                     11
Berlakunya KTSP sebagai          Guru diberi wewenang         Buku merupakan sarana
 penyempurna dari KBK          mengembangkan kurikulum      penting dalam pembelajaran




                                        Tindakan:
                    Mengembangkan dan menerapkan bahan ajar materi
                 struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan



    Bahan ajar layak diterapkan dengan indikator:
     • Penilaian dosen menunjukkan bahan ajar layak diterapkan dapat dalam proses
       pembelajaran
     • ≥ 65% aktivitas peserta didik tinggi
     • Tuntas klasikal ≥ 85%
     • Tanggapan guru dan peserta didik menunjukkan bahan ajar tersebut layak
       diterapkan dapat dalam proses pembelajaran


              Berdasarkan kerangka berpikir di atas, hipotesis yang diajukan dalam
       penelitian ini adalah pengembangan bahan ajar materi struktur dan fungsi
       jaringan tumbuhan dengan pendekatan jelajah alam sekitar (JAS) layak
       diterapkan di SMA Negeri 1 Semarang.




                                              12
                                          BAB III
                              METODE PENELITIAN


A. Lokasi dan Waktu Penelitian
        Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Universitas
Negeri Semarang kampus Sekaran Gunungpati Semarang dan Laboratorium
Biologi SMA Negeri 1 Semarang Jalan Taman Menteri Supeno No 1 Semarang
dimulai Januari 2007-Desember 2008.


B. Faktor yang Diteliti
        Faktor-faktor yang diteliti adalah: kelayakan modul, hasil belajar peserta
didik berupa lembar jawaban dan laporan praktikum, aktivitas peserta didik
selama pembelajaran dan tanggapan peserta didik dan guru terhadap kelayakan
modul sebagai bahan ajar.


C. Rancangan Penelitian
        Rancangan penelitian ini adalah Research and Development (R&D)
dengan produk berupa modul materi stuktur dan fungsi jaringan tumbuhan.


D. Alat Penelitian
        Alat yang digunakan dalam penelitian adalah: modul sebagai bahan ajar,
perangkat pembelajaran seperti RPP dan silabus, instrumen penilaian tahap II
buku teks pelajaran biologi SMA/MA dari BSNP, lembar tugas dan laporan hasil
praktikum untuk memperoleh hasil belajar, lembar observasi aktivitas peserta
didik, angket dan pedoman wawancara untuk menjaring tanggapan peserta didik
dan guru terhadap kelayakan modul.


E. Prosedur Penelitian
        Langkah-langkah penelitian pengembangan bahan ajar materi struktur
dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)
dapat dilihat pada bagan berikut:


                                     13
                          STUDI PENDAHULUAN

               a. Studi pustaka
               b. Observasi awal
               c. Mempersiapkan perangkat pembelajaran
               d. Penyusunan draf produk
               e. Penilaian oleh dosen pembimbing
               f. Revisi I
               g. Penilaian oleh pakar
               h. Revisi II



                               TAHAP PENGEMBANGAN



                     Uji coba modul di SMA Negeri 1 Semarang
                              kelas XI IA1 dan XI IA3




                                 PENGUJIAN
               a. Pengumpulan data uji coba
               b. Analisis data uji coba
               c. Revisi III
               d. Hasil akhir


      Bagan 1 Langkah-langkah penelitian (dimodifikasi dari langkah-langkah
                 penelitian dan pengembangan Sukmadinata 2005)


F. Data dan Analisis Data
   1. Jenis Data dan Cara Pengambilan Data
    a. Data kelayakan modul oleh: dosen biologi menggunakan instrumen
        BSNP dengan kriteria BSNP dan kriteria umum (Ali). Dosen penilai
        terdiri dari Drs. Krispinus Kedati Pukan, M.Si; Dra. Endah Peniati,
        M.Si; Drs. Eling Purwsantoyo, M.Si. Dosen-dosen ini merupakan dosen
        biologi yang sering melakukan penilaian buku-buku teks SMA maupun

                                    14
     buku perkuliahan (lampiran 14).
 b. Data tanggapan peserta didik terhadap kelayakan modul sebagai bahan
     ajar diukur dengan angket (lampiran 9).
 c. Data tanggapan guru terhadap kelayakan modul sebagai bahan ajar
     diukur dengan wawancara (lampiran 10).
 d. Data hasil belajar peserta didik diukur dengan nilai laporan praktikum
     dan nilai tugas peserta didik (lampiran 17).
 e. Data aktivitas peserta didik diukur dengan menggunakan lembar
     observasi terhadap keaktifan peserta didik selama proses pembelajaran
     (lampiran 18).


2. Metode Analisis Data
   a. Data hasil uji kelayakan modul dianalisis dengan deskriptif persentase
      dengan rumus sebagai berikut: (Ali, 1994)
             k
       N=       × 100%
             Nk

     Keterangan:
      N = ∑ persentase aspek

      K = ∑ nilai dari aspek

      Nk = ∑ nilai yang harus dicapai

        Hasil perhitungan dimasukkan dalam tabel persentase sesuai dengan
  kriteria penerapan. Cara menentukan kriteria penerapan adalah dengan
  menentukan persentase tertinggi dan persentase terendah terlebih dahulu
  menggunakan rumus sebagai berikut: (Ali, 1994)
      Persentase tertinggi:
      ∑     item X  ∑   responden X skor nilai tertinggi
                                                           × 100 %
      ∑     item   X∑   responden X skor nilai tertinggi

      Persentase terendah:

      ∑   item X ∑ responden X skor nilai terendah
                                                           × 100%
      ∑     item X ∑ responden X skor nilai tertinggi


                                   15
       Setelah memperoleh persentase terendah dan tertinggi dan terendah,
langkah selanjutnya adalah menentukan interval kelas.
   Interval kelas

       % tertinggi - % terendah
   =
       kelas. yang.dikehendaki

       100 - 25
   =
          4

   = 18,75

   Nilai 18,75 kemudian dibulatkan menjadi 19.

   Berdasarkan rumus di atas, maka kriteria yang diterapkan untuk
   kuesioner adalah: (Ali, 1994)

    1) Sangat layak      = 83,5%-100%
    2) Layak             = 64%-83%
    3) Cukup layak       = 44,5%-63%
    4) Tidak layak       = 25%-44%
Sedangan kriteria kelayakan menurut BSNP adalah:

    1) Layak             = ≥ 95%-100%

    2) Tidak layak       = < 95%

b. Data tanggapan peserta didik terhadap kelayakan modul materi struktur
   dan fungsi jaringan tumbuhan sebagai bahan ajar dianalisis dengan
   rumus berikut: (Sudjiono, 2003)

             F
        P=     × 100
             N


    Keterangan:
    P = persentase

    F = banyaknya responden yang memiliki jawaban ya / tidak

    N = banyaknya responden yang menjawab kuesioner



                              16
c. Data hasil observasi aktivitas peserta didik dianalisis dengan rumus:
  (Mulyasa, 2004 )

    Nilai =
              ∑ skor. yang.diperoleh x100
               ∑ skor.maksimal
   Nilai tersebut kemudian ditafsirkan dengan rentang kualitatif yaitu:
   81,25% - 100%          = sangat tinggi
   62,5% - 81,25%         = tinggi
   43,75% - 62,5%         = cukup tinggi
   25% - 43,75%           = rendah
d. Data hasil wawancara guru dianalisis secara deskriptif kualitatif.
e. Data hasil belajar dianalisis dengan rumus:

       NA = 2 A + B
                3
    Keterangan:
    NA        = Nilai akhir (hasil belajar peserta didik)
    A         = Nilai lembar jawaban peserta didik
    B          = Rata-rata nilai laporan praktikum
              Kemudian menentukan batas ketuntasan tiap individu, yaitu
  apabila telah mencapai nilai ≥70 yang merupakan batas ketuntasan
  berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) yang telah
  ditetapkan pada mata pelajaran Biologi di SMA Negeri 1 Semarang.
  Sedangkan untuk menentukan persentase ketuntasan secara klasikal
  dengan rumus berikut: (Ghofur dkk, 2005)

     P =
           ∑ ni x100
           ∑ n
  Keterangan:
   P          = Ketuntasan belajar secara klasikal
  ∑ni          = Jumlah peserta didik yang tuntas secara individual (nilai ≥
                70)
   ∑n         = Jumlah total peserta didik




                                17
3. Penentuan kelayakan modul diterapkan dalam pembelajaran.
  Pengembangan modul dikatakan layak apabila:
   a. Hasil pengukuran kelayakan modul menunjukkan bahwa modul
      tersebut layak diterapkan dalam pembelajaran.
   b. Hasil belajar peserta didik secara klasikal menunjukkan ≥ 85% dari
      jumlah peserta didik memperoleh nilai ≥ 70.
   c. Apabila ≥ 65% aktivitas peserta didik dalam kegiatan pembelajaran
      tinggi.




                               18
                                             BAB IV
                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Penelitian
         Penelitian dengan judul “Pengembangan Bahan Ajar Materi Ajar Struktur
dan Fungsi Jaringan Tumbuhan dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS)”
telah dilaksanakan dan terkumpul berbagai data yang diperlukan dalam
penelitian. Data-data ini kemudian dianalisis untuk mengetahui layak tidaknya
modul diterapkan dalam pembelajaran materi struktur dan fungsi jaringan
tumbuhan.
         Hasil penelitian meliputi hasil penilaian kelayakan modul oleh dosen,
peserta didik dan guru, hasil belajar peserta didik serta aktivitas peserta didik
selama pembelajaran. Berikut adalah uraian hasil penelitian:


1. Hasil Penilaian Dosen Terhadap Kelayakan Modul
         Data hasil penilaian dosen terhadap kelayakan modul berpendekatan JAS
diperoleh dengan menghitung skor jawaban pada lembar Instrumen Penilaian
Tahap II Buku Teks Pelajaran Biologi SMA/MA. Hasil perhitungan deskriptif
penilaian dosen terhadap kelayakan modul berpendekatan JAS dapat diamati
pada Tabel 1.
Tabel 1 Rekapitulasi Rata-rata Penilaian Dosen Terhadap Kelayakan Modul
  No        Komponen            Persentase (%)       Kriteria Ali (1994)   Kriteria BSNP
   1    Kelayakan Isi                86,23              Sangat layak       Belum layak
   2    Kebahasaan                   80,00                  layak          Belum layak
   3    Penyajian                    83,82              Sangat layak       Belum layak
   4    Rata-rata                    83,35              Sangat layak       Belum layak
Keterangan: Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 14 hal 145

         Berdasarkan Tabel 1 dapat dilihat bahwa penilaian dosen terhadap modul
berpendekatan JAS menggunakan kriteria Ali ditinjau dari komponen kelayakan
isi sangat layak yaitu 86,23%. Ditinjau dari komponen kebahasaan menunjukkan
hasil yang layak yaitu 80,00%. Ditinjau dari komponen penyajian didapatkan
hasil sangat layak 83,82%. Rata-rata masing-masing komponen adalah 83,35%

                                             19
yang artinya masuk kriteria sangat layak diterapkan dalam pembelajaran.
Sedangkan penilaian dosen terhadap modul berpendekatan JAS menggunakan
kriteria BSNP baik ditinjau dari komponen kelayakan isi, kebahasaan dan
penyajian modul belum layak digunakan sebagai bahan ajar


2. Hasil Belajar Peserta Didik
        Hasil belajar dalam penelitian ini meliputi nilai tugas dan nilai laporan
praktikum peserta didik. Nilai tersebut kemudian dianalisis dan diperoleh nilai
hasil belajar peserta didik seperti disajikan pada Tabel 2 di bawah ini:
Tabel 2 Ringkasan Hasil Belajar Peserta Didik dengan Menggunakan Modul
  No                                   Hasil                           Nilai   Jumlah
   1     Nilai tertinggi                                                88         1
   2     Nilai terendah                                                 69         1
   3     Rata-rata nilai                                                82         -
   4     Jumlah peserta didik yang tuntas belajar (orang)                -         68
   5     Jumlah peserta didik yang belum tuntas belajar (orang)          -         1
   6     Ketuntasan klasikal (%)                                       98,5        -
Keterangan: Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 17 hal 150
        Berdasarkan Tabel 2 dapat diketahui bahwa pembelajaran dengan
menggunakan modul materi Struktur Dan Fungsi Jaringan pada Tumbuhan
dengan pendekatan JAS menunjukkan hasil yang positif. Hal tersebut terlihat dari
jumlah peserta didik yang tuntas belajar sebanyak 68 orang dengan ketuntasan
belajar peserta didik secara klasikal adalah 98,5% dan rata-rata nilai kelas 82.


3. Aktivitas Peserta Didik Selama Pembelajaran
        Data ini menggambarkan aktivitas peserta didik selama pembelajaran.
Data aktivitas peserta didik seperti disajikan pada Tabel 3 dibawah ini:




                                         20
Tabel 3 Ringkasan Data Aktivitas Peserta Didik Selama Pembelajaran
  No                              Kriteria                             Jumlah       %
   1    Peserta didik dengan kriteria aktivitas rendah                   0          0
   2    Peserta didik dengan kriteria aktivitas cukup                    0          0
   3    Peserta didik dengan kriteria aktivitas tinggi                  67         97,1
   4    Peserta didik dengan kriteria aktivitas sangat tinggi            2         2,9
  Keaktifan peserta didik secara klasikal                                -         100
Keterangan: Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 18 hal 152
        Berdasarkan Tabel 3 terlihat bahwa peserta didik dengan “aktivitas
tinggi” 67 orang (97,1%), “aktivitas sangat tinggi” 2 orang (2,9%), sedangkan
peserta didik dengan “aktivitas rendah” dan” aktivitas cukup” 0%. Sehingga
dapat diketahui keaktifan peserta didik secara klasikal adalah 100% dengan rata-
rata aktivitas peserta didik tinggi.


4. Tanggapan Peserta Didik Terhadap Kelayakan Modul
        Data ini untuk menjaring pendapat peserta didik tentang kelayakan modul
materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan yang telah digunakan dalam
pembelajaran. Hasil analisis angket dapat dilihat pada Tabel 4 sebagai berikut:
Tabel 4 Ringkasan Tanggapan Peserta Didik Terhadap Kelayakan Modul
 No       Kriteria Tanggapan Peserta Didik Terhadap Kelayakan             Jumlah   (%)
                                   Modul
  1    Peserta didik berpendapat modul termasuk sangat tidak                 0      0
       layak digunakan sebagai bahan ajar.
  2    Peserta didik berpendapat modul termasuk tidak layak                  0      0
       digunakan sebagai bahan ajar.
  3    Peserta didik berpendapat modul termasuk kurang layak                 0      0
       digunakan sebagai bahan ajar.
  4    Peserta didik berpendapat modul layak digunakan sebagai               51    73,9
       bahan ajar.
  5    Peserta didik berpendapat modul termasuk sangat layak                 18    26,1
       digunakan sebagai bahan ajar.
Keterangan: Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 9 hal 123
         Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa, peserta didik berpendapat
modul materi struktur dan fungsi jaringan termasuk sangat tidak memenuhi


                                             21
kriteria kelayakan sebagai bahan ajar 0%. Peserta didik yang berpendapat modul
termasuk tidak memenuhi kriteria kelayakan 0%, kurang memenuhi kriteria
kelayakan 0%, memenuhi kriteria kelayakan 73,9%, dan yang berpendapat
modul sangat memenuhi kriteria kelayakan sebagai bahan ajar 26,1%.


5. Tanggapan Guru Terhadap Kelayakan Modul
        Untuk mengetahui kelayakan modul, selain menjaring pendapat peserta
didik melalui angket juga menjaring pendapat guru melalui wawancara. Hasil
dari analisis wawancara dengan guru dapat dilihat dari Tabel 5 sebagai berikut:
Tabel 5 Ringkasan Pendapat Guru Tentang Kelayakan Modul
No                      Indikator                                    Hasil
  1   Kesan guru terhadap pembelajaran           Sangat menarik karena disertai gambar-
      materi struktur dan fungsi jaringan        gambar yang berwarna, materinya
      tumbuhan menggunakan modul                 ringkas tapi lengkap terutama karena
      sebagai bahan ajar dengan                  adanya penjelasan dengan kultur
      pendekatan JAS.                            jaringan yang dibuku-buku SMA sangat
                                                 terbatas.
 2    Pendapat guru tentang modul                Modul mudah dimengerti, terstruktur
      dengan pendekatan JAS apakah               dan isinya bagus.
      mampu membantu dan
      mempermudah dalam mengajar
      materi stuktur dan fungsi jaringan
      tumbuhan.
 3    Pendapat guru tentang isi atau cakupan     Ya, cakupan materinya sudah sesuai
      materi dalam modul.                        untuk mencapai SK dan KD yang telah
                                                 ada.
 4    Pendapat guru tentang tata bahasa dan      Ya, tata bahasanya mudah dan dapat
      ejaan yang ada dalam modul.                dipahami.
 5    Pendapat guru tentang komposisi            Ya, gambarnya juga sudah sesuai dengan
      gambar dan tulisan yang tertera            materi.
      dalam modul.
 6    Pendapat guru tentang penggunaan           Cukup proposional, tulisannya juga
      huruf cetak atau ukuran huruf yang         sudah jelas sehingga mudah dibaca.
      ada dalam modul.


                                            22
7    Pendapat guru apakah penyajian             Ya.
     materi dalam modul sudah runtut dan
     sistematis.
8    Pendapat guru tentang tugas-tugas          Sangat bagus karena dapat membantu
     dan pertanyaan-pertanyaan yang             sekaligus memaksa peserta didik untuk
     tertera dalam modul.                       selalu belajar sehingga mereka paham.
                                                Untuk peta konsep memang banyak
                                                peserta didik yang mengalami kesulitan
                                                karena masih baru bagi mereka, karena
                                                sangat jarang digunakan guru.
9    Pendapat guru tentang aktivitas            Rata-rata meningkat, mereka sangat
     peserta didik dalam pembelajaran           antusias apalagi dengan adanya
     materi struktur dan fungsi jaringan        praktikum kultur jaringan yang
     tumbuhan menggunakan modul.                sebelumnya belum pernah dilakukan di
                                                SMA N 1 Semarang.
10   Pendapat guru apakah mengalami             Sebenarnya saya tidak terlalu
     kesulitan menggunakan modul dalam          menggalami kesulitan karena selama
     pembelajaran.                              praktikum selain modul juga ada
                                                petunjuk kerja, hanya saja karena
                                                praktikum kultur jaringan belum pernah
                                                dilakukan jadi masih perlu banyak
                                                bertanya sehingga sering kekurangan
                                                waktu.
11   Pendapat guru tentang pembelajaran         Saya rasa lebih bagus karena dalam
     menggunakan modul dengan                   pembelajarannya dengan JAS peserta
     pendekatan JAS dibandingkan                didik diajak untuk melihat dan
     dengan pembelajaran sebelumnya             memperhatikan sekeliling mereka.
     tanpa menggunakan modul.                   Internet memang bukan sesuatu yang
                                                baru, tetapi pergi ke toko pupuk untuk
                                                mencari media pengganti MS adalah
                                                sesuatu yang baru dan sangat menantang
                                                walaupun saya rasa tidak yakin semua
                                                mau melaksanakannya. Apalagi ada
                                                praktikum kultur jaringannya yang



                                           23
                                             memberikan pengalaman baru.
12   Pendapat guru adakah kelebihan          Lebih menarik karena disertai gambar-
     yang dapat ditemukan selama proses      gambar yang berwarna, ilustrasinya juga
     pembelajaran menggunakan modul          menarik dan mudah dipahami. Dan yang
     dengan pendekatan JAS.                  membedakan modul ini dengan buku
                                             atau bahan ajar sejenis adalah adanya
                                             informasi tentang kultur jaringan yang
                                             jauh lebih lengkap.
13   Pendapat guru adakah kekurangan         Lebih bagus apabila modul dan petunjuk
     dalam modul yang perlu                  kerja dijadikan satu bendel sehingga
     disempurnakan.                          tidak terpisah.
14   Pendapat guru apakah tertarik           Ya, saya sangat tertarik sekaligus
     menerapkan modul dengan                 tertantang untuk dapat membuat dan
     pendekatan JAS pada materi biologi      menerapakan modul yang serupa untuk
     lain.                                   materi lain.
15   Pendapat guru tentang kelayakan         Saya rasa bahan ajar ini sudah layak
     modul materi struktur dan fungsi        diterapkan dalam pembelajaran.
     jaringan tumbuhan dengan pendekatan
     sebagai bahan ajar.


       Berdasarkan hasil wawancara dengan guru biologi SMA Negeri 1
Semarang yaitu Ibu Siti Nurrochmi modul sudah menarik, isinya lengkap, tata
bahasanya mudah dipahami, penyajiannya runtut dan sistematis sesuai dengan
SK dan KD, dapat meningkatkan aktivitas peserta didik sehingga sudah layak
diterapkan dalam pembelajaran.


B. Pembahasan
       Penyusunan modul sebagai bahan ajar materi struktur dan fungsi jaringan
tumbuhan dengan pendekatan JAS telah mengalami 3 tahap revisi untuk
menghasilkan modul yang layak diterapkan dalam pembelajaran. Revisi pertama
dilakukan berdasarkan masukan-masukan dosen pembimbing. Pada tahap
pertama ini modul mengalami beberapa perbaikan yaitu perbaikan tata tulis,
ukuran gambar dan tulisan, penyesuaian isi materi dengan SKKD dan indikator


                                        24
yang ada, penyesuaian antara gambar dengan teori, komposisi antara gambar
dengan materi, penyesuaian tugas dengan tingkat kemampuan peserta didik,
penambahan glosarium dan pengemasan yang lebih menarik. Hasil koreksi
dianalisis kemudian dilakukan perbaikan untuk menyempurnakan modul. Setelah
revisi pertama selesai, langkah selanjutnya menyerahkan modul ke dosen penilai.
Penilaian para pakar ini penting dilakukan untuk menilai apakah modul sudah
layak diterapkan pada pembelajaran.
       Berdasarkan hasil penilaian dosen diketahui modul sudah layak
digunakan sebagai bahan ajar. Hal ini ditunjukkan dengan hasil perhitungan
kelayakan pada komponen kelayakan isi sebesar 86,23%, komponen kebahasaan
80,00%, komponen penyajian 83,83% dengan rata-rata 83,35%. Artinya menurut
kriteria Ali modul sangat layak diterapkan dalam pembelajaran. Sedangkan
menurut kriteria BSNP modul belum layak digunakan sebagai bahan ajar karena
rata-rata tiga komponen penilaian belum mencapai ≥ 95%. Penilaian para dosen
ini penting dilakukan untuk menilai apakah modul sudah layak diterapkan pada
pembelajaran. Pakar atau ahli bidang studi penting digunakan sebagai sumber
bahan ajar. Pakar tadi dapat dimintai konsultasi mengenai kebenaran materi atau
bahan ajar, ruang lingkup, kedalaman, urutan, dan sebagainya (Anonim 2006c).
Hasil penilaian dianalisis sebagai dasar melakukan revisi kedua. Berdasarkan
hasil analisis revisi tersebut kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan, setelah itu
barulah modul dapat diterapkan dalam pembelajaran.
       Komponen kelayakan isi meliputi 8 aspek yaitu: cakupan materi, akurasi
materi, kemutakhiran, mengandung wawasan produktivitas, merangsang
keingintahuan, mengembangkan kecakapan hidup, mengembangkan wawasan
kebhinekaan, dan mengandung wawasan kontekstual. Pada komponen kelayakan
isi ada empat poin yang mendapat nilai berbeda dari ketiga penilai. Pada poin
“keluasan materi” penilai A dan B memberikan nilai 3 dan penilai C memberi
nilai 4. Setelah dikonfirmasikan, penilai A dan B memberikan nilai 3 karena ada
beberapa bagian pada modul yang materinya dianggap masih kurang dan harus
diperbaiki. Sedangkan penilai C memberi nilai 4 karena menurut beliau subtansi
materi pada modul sudah mencerminkan subtansi materi yanmg terkandung
dalam SKKD.

                                      25
       Pada poin “kebenaran konsep” penilai A dan B memberi nilai 3 dan
penilai C memberi nilai 4. Penilai A dan B memberi nilai 3 karena kebenaran
konsep yang menyangkut akurasi materi masih terdapat beberapa kesalahan
sehingga dapat menimbulkan banyak penafsiran. Penilai C memberi nilai
sempurna yaitu 4 karena menurut beliau konsep-konsep yang terdapat pada
modul sudah benar. Adapun beberapa kesalahan yang terdapat di dalamnya itu
karena tata bahasanya saja yang harus diperbaiki. Hasil penilaian berbeda juga
terdapat pada poin “menumbuhkan rasa ingin tahu”. Penilai A dan B memberi
nilai 4 karena modul struktur dan fungsi jaringan tumbuhan sudah menampilkan
pertanyaan-pertanyaan dan tugas-tugas yang dapat merangsang peserta didik
untuk berpikir jauh dan mencari informasi lebih lanjut. Penilai C memberi nilai 3
karena menganggap baik pengantar maupun pertanyaan dan tugas yang diberikan
masih kurang sehingga perlu ditambah.
       Komponen kebahasaan meliputi 7 aspek yaitu: aspek kesesuaian dengan
perkembangan peserta didik, komunikatif, dialogis dan interaktif, lugas,
koherensi dan keruntutan alur pikir, kesesuaian dengan kaidah Bahasa Indonesia
yang benar, serta aspek penggunaan istilah dan simbol atau lambang. Dalam
komponen kebahasaan hasil penilaian ketiga dosen sama dari berbagai poin
dengan rata-rata 80,00%. Menurut penilaian para dosen, komponen ini terdapat
kesalahan yang menyangkut ketepatan struktur kalimat serta penggunaan
symbol/lambang yang kurang konsisten sehingga ketiga penilai memberikan nilai
yang cukup rendah yaitu 2. Beberapa kesalahan juga terdapat pada tata bahasa
dan ejaan sehingga penilai sepakat memberi nilai 3. Penilai sebagian besar
memberi nilai 3 karena bahasa dalam modul masih dianggap kurang menciptakan
komunikasi interaktif dengan peserta sehingga pesan kurang dapat dipahami
peserta didik. Ilustrasi dengan subtasi pesan masih perlu diperbaiki sehingga
dapat memotivasi peserta didik untuk merespon pesan dalam modul. Untuk
kebakuan istilah, keutuhan makna dalam bab/subbab/alinea, ketertautan
antarbab/subbab/alinea/kalimat, ketetapan penulisan nama ilmiah/asing penilai
sepakat memberi nilai 4. Rata-rata skor komponen kebahasaan adalah 80,00%
yang berarti masuk kriteria layak digunakan dalam pembelajaran.
       Komponen penyajian meliputi 3 aspek yaitu: teknik penyajian,

                                     26
pendukung penyajian materi, dan penyajian pembelajaran. Komponen ini
berhubungan     dengan      komponenpenyajian     dan    pemakaiannya      modul
pembelajaran. Rata-rata skor komponen penyajian adalah 83,35% yang berarti
masuk kriteria sangat layak digunakan dalam pembelajaran. Walaupun sudah
masuk kategori sangat layak, modul masih perlu mengalami perbaikan-perbaikan
seperti pada sistematika sajian dalam bab yang kurang konsisten, keruntutan
konsep, keseimbangan substansi antarbab/subbab, kesesuaian/ketepatan ilustrasi
dengan materi, penyajian teks, tabel, gambar, dan lampiran disertai dengan
rujukan/sumber acuan. Perbaikan-perbaikan juga perlu dilakukan pada penyajian
ilustrasi dan umpan balik sehingga dapa mendorong peserta didik berpikir lebih
dalam. Nilai terendah pada komponen ini terdapat pada poin “Advance organizer
(pembangkit motivasi belajar) pada awal bab” yaitu 2. Menurut penilai modul
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan advance organizer pada awal bab masih
sangat kurang sehingga kurang memotivasi peserta didik untuk belajar.
       Dilihat dari rata-rata skor ketiga komponen di atas 83,35%, modul
struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS mengacu pada
kriteria kelayakan BSNP maka modul belum layak diterapkan dalam
pembelajaran. Berdasarkan penilaian dari para dosen, modul masih terdapat
beberapa kekurangan dan kesalahan pada ketiga komponen sehingga perlu
diperbaiki atau direvisi.     Menurut standar BSNP modul dikatakan layak
diterapkan dalam pembelajaran apabila rata-rata skor komponen kelayakan isi,
kebahasaan dan penyajian ≥ 95%. Adanya masukan-masukan dari para penilai
digunakan sebagai bahan revisi. Setelah tahap revisi selesai modul dapat
diterapkan dalam pembelajaran sebagai bahan ajar pada materi struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan. Namun apabila mengacu pada kriteria Ali rata-rata
skor ketiga komponen 83,35% dapat dikatakan modul sudah sangat layak
diterapkan sebagai bahan ajar.
       Hasil penerapan modul materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
dengan pendekatan JAS dapat dilihat dari nilai hasil belajar dan aktivitas peserta
didik dalam pembelajaran. Hasil belajar digunakan untuk menjaring data dalam
ranah kognitif yang diperoleh dengan teknik nontest melalui tugas dan laporan
praktikum. Perolehan data hasil belajar melalui teknik non-test ini mempunyai

                                     27
kekurangan antara lain kemampuan peserta didik secara individu belum diketahui
dengan sebenar-benarnya. Perolehan nilai melalui praktikum dan pemberian
tugas masih memungkinkan peserta didik untuk bekerja sama. Berbeda dengan
penilaian dengan teknik test yang pengerjaannya dibawah pengawasan guru
sehingga dapat diketahui kemampuan peserta didik secara individu. Penelitian ini
tetap menggunakan teknik nontes karena alasan untuk menghemat waktu.
Penilaian dari laporan praktikum digunakan untuk mengetahui hasil kinerja
peserta didik selama pembelajaran yaitu praktikum. Laporan praktikum diperoleh
setiap akhir praktikum karena dalam praktiknya pembelajaran materi struktur dan
fungsi jaringan tumbuhan adalah praktikum.
        Nilai tertinggi yang dicapai peserta didik adalah 88, nilai terendah 69,
rata-rata kelas 82. Nilai tersebut berasal dari nilai tugas dan nilai rata-rata laporan
praktikum    sehingga     diperoleh   nilai   akhir   dengan     rumus    NA    (Nilai
Akhir)={(2Nilai Tugas)+(Nilai Rata-rata Laporan Praktikum)}:3. Rata-rata
kelas nilai praktikum adalah 91, nilai tertinggi 95 dan terendah 82. Nilai tugas
diperoleh di akhir pertemuan dari lembar jawaban dari “Tugas Kamu” yang
terlampir dalam modul. Peserta didik diminta untuk mengerjakan tugas yang ada
seperti menjawab soal essay, membuat peta konsep, dan mencari artikel dari
internet. Seperti tujuan dalam pembuatan modul dengan pendekatan JAS, bahwa
modul ini mengandung ciri-ciri dari pendekatan JAS yaitu konstruktivisme,
bioedutainment dan eksplorasi. Hal ini diaplikasikan dalam bentuk tugas untuk
menjelajahi dan mengenal lingkungan sekitar serta pertanyaan-pertanyaan yang
mengajak peserta didik berfikir kritis sebagai wujud dari konstruktivisme. Dari
tugas tersebut diperoleh nilai rata-rata kelas 77, tertinggi 88 dan nilai terendah
61.
        Secara klasikal hasil belajar peserta didik sudah baik yaitu 98,5%. Dari
keseluruhan jumlah peserta didik (69 orang) hanya ada satu peserta didik yang
belum tuntas karena memperolah nilai 69. Sedangkan 68 peserta didik lainnya
memperoleh nilai ≥ 70 sehingga masuk kategori tuntas. Indikator keberhasilan
peserta didik adalah ≥ 85 % peserta didik memperoleh nilai ≥ 70. Nilai ≥ 70
sesuai dengan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) mata pelajaran biologi di
SMA Negeri 1 Semarang yang merupakan salah satu SBI (Sekolah Bertaraf

                                        28
Internasional).
        Secara umum dilihat dari nilai hasil belajar, bahan ajar dalam bentuk
modul tersebut sudah layak. Karena mudah dipahami sehingga dapat membantu
peserta didik menguasai konsep-konsep pada materi struktur dan fungsi jaringan.
Rata-rata peserta didik memperoleh nilai 82 yang berarti telah mencapai KKM di
SMA Negeri 1 Semarang. Selain mudah dipahami pengemasan bahan ajar yang
menarik mendorong peserta didik mau membaca. Ditunjang dengan materi yang
lengkap dan tugas eksplorasi lingkungan sekitar yang melibatkan pengalaman
sehari-hari serta pembuatan peta konsep yang menguji seberapa jauh tingkat
pemahaman peserta didik.
        Kelayakan bahan ajar ini tidak hanya diukur dari hasil belajar saja tetapi
juga dari aktivitasnya peserta didik, karena antara aktivitas dan hasil belajar
keduanya saling mendukung. Sardiman (2001) menjelaskan bahwa salah satu ciri
terjadinya proses belajar adalah ditandai dengan adanya aktivitas peserta didik.
Aktivitas peserta didik hendaknya juga mencangkup aktivitas yang bersifat fisik
dan mental. Pengamatan terhadap keaktifan peserta didik digunakan untuk
mengukur keterlibatan peserta didik selama pembelajaran. Berdasarkan hasil
observasi aktivitas peserta didik dapat dikatakan bahwa hasilnya cukup
memuaskan. Hasil pengamatan diperoleh data keaktifan peserta didik secara
klasikal adalah 97,1% dengan kategori tinggi. Hal ini dapat disebabkan karena
bahan ajar materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan tidak hanya berisi materi
saja tetapi tugas-tugas yang mendorong dan memotivasi peserta didik untuk aktif
dalam pembelajaran.
        Aktivitas peserta didik selama pembelajaran sangat tinggi, membuktikan
bahwa peserta didik antusias mengikuti pembelajaran menggunakan modul
sebagai bahan ajar. Modul yang dikembangkan dengan pendekatan JAS mampu
mendorong peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuannya dengan
kehidupan sehari-hari seperti mengamati lingkungan sekitar. Selain hal tersebut,
modul dengan pendekatan JAS yang digunakan sebagai bahan ajar juga berisi
pengetahuan baru tentang kultur jaringan yang kemudian diaplikasikan dalam
pembelajaran dengan praktikum. Hasil observasi menunjukkan saat pembelajaran
menggunakan modul peserta didik aktif bertanya dan mencoba menjawab

                                     29
pertanyaan dari guru atau peserta didik lainnya. Peserta didik memperhatikan
penjelasan guru dan mencatat poin-poin penting baik di catatan maupun langsung
di modul, serta mengerjakan tugas-tugas dalam modul.
       Praktikum kultur jaringan meliputi pembuatan dan sterilisasi medium,
sterilisasi dan penanaman eksplan dilanjutkan perbanyakan plantet. Pembelajaran
tentang kultur jaringan dapat dilakukan lebih maksimal karena ditunjang dengan
adanya modul dan petunjuk kerja. Selama ini di SMA Negeri 1 Semarang
pengetahuan tentang kultur jaringan yang ditransferkan guru ke peserta didik
sangat minim karena guru kesulitan menemukan referensi di buku-buku SMA.
Praktikum kultur jaringan sendiri termasuk baru untuk pembelajaran materi
struktur dan fungsi jaringan, bahkan baru pertama kali dilakukan di SMA Negeri
1 Semarang. Dan ketika modul dengan pendekatan JAS yang memuat materi
secara lengkap diterapkan baik guru maupun peserta didik sangat antusias.
Keantusiasan tersebut memotivasi peserta didik untuk belajar dan bersungguh-
sungguh pada saat mengikuti pembelajaran sehingga meningkatkan pemahaman
peserta didik. Kualitas pemahaman peserta didik terhadap materi tercermin
dalam hasil belajarnya. Peserta didik antusias melakukan kegiatan eksplorasi,
tanya jawab, menyampaikan pendapat maupun, pengamatan dan kerjasama
dalam praktikum. Seperti yang dikatakan Sudjana (1998) bahwa ada banyak
keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses
belajar mengajar antara lain kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik dan
tidak membosankan sehingga motivasi belajar peserta didik akan lebih tinggi
serta hakekat belajar akan lebih bermakna sebab peserta didik dihadapkan
dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami
       Setelah pembelajaran materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
menggunakan modul dengan pendekatan JAS sebagai bahan ajar selesai,
dilanjutkan pengambilan data untuk menjaring pendapat peserta didik. Untuk
memperoleh data pendapat peserta didik terhadap kelayakan modul, dilakukan
dengan cara pembagian angket pada seluruh peserta didik. Wawancara tidak
dilakukan pada peserta didik karena jumlah peserta didik sebagai sampel banyak
sehingga akan menyita waktu. Selain itu dikhawatirkan peserta didik kurang
leluasa dalam memberikan jawaban dan mengungkapkan pendapatnya, jawaban

                                    30
kurang mengarah serta cenderung berbelit-belit. Data yang terkumpul kemudian
dianalisis. Menurut peserta didik, modul materi struktur dan fungsi jaringan
tumbuhan dengan pendekatan JAS masuk kategori memenuhi kriteria. Yang
dimaksud memenuhi kriteria dalam penelitian ini adalah memenuhi kriteria
kelayakan. Hal ini dapat dilihat dari 73,9% berpendapat modul masuk kriteria
layak dan 26,1 % berpendapat bahan ajar masuk kriteria sangat layak.
       Dari analisis angket dapat terlihat bahwa bahan ajar sudah baik, menarik,
mudah dipahami, jelas, materinya cukup lengkap, dapat memotivasi peserta didik
untuk belajar dan meningkatkan aktivitas peserta didik selama pembelajaran.
Tetapi sebagian besar peserta didik berpendapat bahwa tugas-tugasnya agak sulit
seperti tugas mebuat peta konsep. Rangkuman hasil angket peserta didik
selengkapnya terdapat dalam lampiran 31 hal 140. Adanya kritik dan saran dari
peserta didik digunakan sebagai masukan dalam perbaikan bahan ajar
selanjutnya. Dengan harapan dapat bermanfaat untuk peningkatan kualitas dan
hasil belajar peserta didik dalam pembelajaran materi struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan.
       Berdasarkan hasil wawancara guru, diketahui bahwa pendapat guru
terhadap kelayakan modul secara keseluruhan sudah baik. Guru berpendapat
modul menarik, isinya dan tata bahasanya mudah dipahami, penyajiannya runtut
dan sistematis, sesuai dengan SK dan KD, dapat meningkatkan aktivitas peserta
didik sehingga sudah layak diterapkan dalam pembelajaran. Modul dapat
membantu mempermudah guru dalam mengajar. Modul dapat digunakan sebagai
referensi baru karena khusus untuk materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan
lebih lengkap dan menarik dibandingan dengan buku-buku SMA lain yang biasa
digunakan guru. Modul juga dapat digunakan sebagai referensi baru dalam
menyusun bahan ajar sendiri pada materi lain. Saran dari guru adalah bahan ajar
dan petunjuk kerja dijadikan satu bendel sehingga tidak hilang. Tugas-tugas yang
diberikan masih proporsional untuk tingkatan SMA kelas XI, hanya saja untuk
pemberian tugas peta konsep selama ini jarang diberikan guru sehingga peserta
didik belum terbiasa. Dalam pembelajaran menggunakan modul sebagai bahan
ajar dengan pedekatan JAS memerlukan waktu yang lebih banyak karena
sebagian besar adalah praktikum, sehingga menuntut guru untuk memanfatkan

                                    31
waktu secara efektif. Praktikum kultur jaringan baru pertama kali dilakukan di
SMA Negeri 1 Semarang maka guru masih sering merasa kesulitan, sehingga
banyak waktu yang terbuang. Semoga dengan adanya saran dari guru tersebut
bahan ajar JAS ini dapat menjadi lebih baik dan bermanfaat.
       Berdasarkan uraian di atas kelayakan modul materi struktur dan fungsi
jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS yang diterapkan di SMA Negeri 1
Semarang dapat dilihat dari penilaian dosen, hasil belajar, aktivitas peserta didik,
dan tanggapan peserta didik dan guru terhadap modul. Apabila mengacu pada
kriteria Ali maka modul struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan
pendekatan JAS layak diterapkan dalam kegiatan pembelajaran karena rata-rata
skor komponen kelayakan isi, komponen kebahasaan dan komponen penyajian
telah mencapai 83,35%. Tetapi, apabila mengacu pada kriteria BSNP modul
masih perlu mengalami perbaikan sampai rata-rata skor komponen kelayakan isi,
komponen kebahasaan dan komponen penyajian ≥ 95%.
       Kelayakan dari modul ini ditinjau dari hasil belajarnya telah mencapai
indikator yang ditentukan. Menurut data yang diperoleh hasil belajarnya telah
memenuhi target yaitu 98,5% tuntas belajar. Hasil belajar yang telah memenuhi
target tersebut sudah dapat dilihat dari aktivitas peserta didik yang tinggi
(97,1%). Hal ini juga didukung dari hasil tanggapan peserta didik (73,9%)
berpendapat modul termasuk layak dan tanggapan guru yang positif terhadap
penggunaan modul sebagai bahan ajar. Karena hasil belajar, aktivitas peserta
didik, tanggapan peserta didik dan guru telah mencapai indikator yang ditentukan
maka modul materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan
JAS layak diterapkan SMA Negeri 1 Semarang.




                                      32
                                          BAB V
                            SIMPULAN DAN SARAN


A. Simpulan
       Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa
bahan ajar materi struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dengan pendekatan JAS
layak diterapkan di SMA Negeri 1 Semarang. Penilaian dosen menyatakan
bahwa, apabila menggunakan kriteria umum (Ali, 1994) modul layak diterapkan
karena telah sesuai dengan standar buku ajar menurut BSNP sebesar 83,35%.
Apabila menggunakan kriteria BSNP modul belum layak diterapkan. Dalam
pembelajaran menggunakan bahan ajar yang telah dikembangkan dengan
pendekatan JAS, ketuntasan hasil belajar secara klasikal sebesar 98,5% dengan
rata-rata nilai 82 dan semua peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran.


B. Saran
       Berdasarkan simpulan di atas, dapat disarankan sebagai berikut:
1. Modul struktur dan fungsi jaringan tumbuhan dapat digunakan di SMA Negeri
  1 Semarang dan SMA-SMA yang mempunyai kriteria setara dengan SMA
  Negeri 1 Semarang.
2. Guru membuat modul untuk materi lain dengan pendekatan JAS.
3. Modul-modul yang digunakan dalam pembelajaran sebaiknya dilakukan uji
   kelayakan menggunakan standar dan kriteria BSNP.




                                     33
                            DAFTAR PUSTAKA

Ali M. 1994. Prosedur Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Anita. 2008. Pengembangan Model Pembelajaran Guide Discovery Inqury
        Laboratory Lesson dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) Materi
        Struktur dan Fungsi Jaringan Tumbuhan di SMA Negeri 1 Semarang.
        (Skripsi). Semarang: Universitas Negeri Semarang.

Anonim. 2004. Kurikulum 2004 SMA. Jakarta: Depdiknas.

       . 2006. Panduan Penyusunan KTSP Jenjang Pendidikan Dasar dan
         Menengah. Jakarta: DepDikNas.

       . 2006b. Instrumen Penilaian Tahap II Buku Teks Biologi SMA/MA.
         www.bsnp_indonesia.org. pada 23 Januari 2008.

       . 2006c. Pedoman Memilih dan Menyusun Bahan Ajar. Jakarta: Departemen
          Pendidikan Nasional.

Budimansyah D. 2003. Model Pembelajaran Berbasis Portofolio. Bandung: PT.
        Gesindo.

Campbell NA, Reece JB, Mithchell LG. 1999. Biology,third edition. Benjamin
        Cummings Publishing Company, Inc,Redwood City.

Campbell NA & Reece JB. 2005. Biology Seventh Edition. Benjamin Cummings
        Publishing Company, Inc Redwood City.

Darsono, Sugandhi, Martensi, Rusda, & Nugroho. 2000. Belajar dan Pembelajaran.
         Semarang: IKIP Semarang Press.

Fahn, A. 1992. Anatomi Tumbuhan Edisi ketiga. Yogyakarta: Universitas Gadjah
         Mada Press (diterjemahkan oleh Ahmad Koesoemaningkrat dkk).

Ghofur A, Mardapi dan Tim Pengembang. 2005. Tim Pengembang Pedoman Umum
         Pengembangan Penilaian. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Hidayat E. B.1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB

http://bima.ipb.ac.id/~tpb-ipb/materi/bio100/Gambar/vegetatif_tnm/xilem_floem.jpg
         [acceced 04 Mei 2007].

http://bima.ipb.ac.id/~tpbipb/materi/bio100/Gambar/vegetatif_tnm/anatomi_akar.jpg
          [acceced 04 Mei 2007].


                                       34
http://bima.ipb.ac.id/~tpb-ipb/materi/bio100/Gambar/vegetatif_tnm/dikotil_mono.jpg
        [acceced 04 Mei 2007].

Jamil A. 2006. Pengembangan Bahan Ajar Elektronik Mandiri (self e-learning
      materialas) Berbasis Web Mata Kuliah Ilmu Pengetahuan Bumi Dan
      Antariksa Pokok Bahasan Sistem Tata Surya. (Skripsi). Semarang:
      Universitas Negeri Semarang.

Katuuk J. 1989. Teknik Kultur Jaringan dalam Mikropropagasi Tanaman. Jakarta:
       depdikbud dikti Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga
       Kependidikan (P2LPTK).

Kustiono. 1998.Pengembangan Bahan Ajar Kajian Teoritik dan Praktek. Semarang:
         FIP UNNES.

Marianti A. 2006. Bunga Rampai Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS). Semarang:
         Biologi FMIPA UNNES.

Mulyasa E. 2004. Kurikulum Yang Disempurnakan. Bandung: PT Remaja
        Rosdakarya.

Pratiwi DA, Maryati S, Srikini, Suharno & Bambang. 2000. Buku Penuntun Biologi
         untuk SMU Kelas 2.Jakarta: Erlangga
          . 2004. Buku Penuntun Biologi SMA untuk Kelas XI.Jakarta: Erlangga

Ridlo S. & Santoso K.2005. Jelajah Alam Sekitar. Makalah (tidak diterbitkan)
         Disajikan dalam Seminar Lokakarya Pengembangan Kurikulum dan Disain
         Inovasi Inovasi Pembelajaran Biologi Program Studi Pendidikan Biologi
         dengan Pendekatan Jelajah Alam Sekitar (JAS) 13-14 Februari 2005.
         Semarang: Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang.

Sardiman. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja
         Grafindo Persada.

Setjo S, Kartini E, Saptasari M, Sulisetijono. 2004. Common Textbook (Edisi Revisi)
          Anatomi Tumbuhan. Malang: Jurusan Biologi FMIPA.

Sudjana N. 1998. Media Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sudjana N & Rivai A. 2003. Teknologi Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algesindo.

Sudjana. 2002. Metode Statiska. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatf, Kualitaif,
         dan R&D).Bandung: Alfabeta.


                                        35
Sukmadinata NS. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Remaja
        Rosdakarya

Susilowarno G. 2005. Biologi SMA untuk Kelas XI. Jakarta: Grasindo.

Sofyan H. 1997. Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar Sekolah Menengah
        Kejuruan.Yogyakarta: Fakultas Pendidikan Teknologi & Kejuruan Institut
        Keguruan & Ilmu Pendidikan.

Syamsuri   I, Suwarno H, Ibrahim, Sulisetijono, Sumberartha IW, & Rahayu S.
         BIOLOGI 2000 Jilid 2a untuk SMU Kelas 2. Jakarta: Erlangga.
Wetter LR, Constabel. 1982. Plant Tissue Culture Methods. Terjemahan Mathilda B.
         Widianto, 1991. Bandung: ITB.




                                       36

								
To top