KARAKTERISTIK, NILAI DAN PRINSIP DALAM IMPLEMENTASI

Document Sample
KARAKTERISTIK, NILAI DAN PRINSIP DALAM IMPLEMENTASI Powered By Docstoc
					                           BAB VI
        KARAKTERISTIK, NILAI DAN PRINSIP
             DALAM IMPLEMENTASI
          RENCANA STRATEGIS LAPAN
                  2005 - 2009



                                           43
RENSTRA LAPAN, JUNI 2005
    PEMAHAMAN UMUM


Budaya adalah suatu pola dari keseluruhan keyakinan dan harapan yang dipegang teguh secara
bersama oleh semua anggota organisasi dalam pelaksanaan pekerjaan yang ada dalam organisasi
tersebut. Dengan demikian, budaya dalam suatu organisasi adalah menjadi pengikat semua
karyawan secara bersama dalam organisasi tersebut dan sekaligus sebagai pemberi arti dan
maksud dalam keterlibatan karyawan tersebut dalam pekerjaan sehari-hari dari organisasi. Dalam
kaitan ini, Shein (1985-1990) – pakar dalam “Applied Strategic Planning” – telah mengemukakan
definisi yang lebih komprehensif tentang budaya, yaitu : “Budaya adalah suatu pola dari asumsi-
asumsi dasar (keyakinan dan harapan) yang ditemukan ataupun dikembangkan oleh suatu
kelompok tertentu dari organisasi, dan kemudian menjadi acuan dalam mengatasi
persoalan-persoalan yang berkaitan dengan adaptasi keluar dan integrasi internal, dan
karena dalam kurun waktu tertentu telah berjalan/berfungsi dengan baik, maka dipandang
sah, karenanya dibakukan bahwa setiap anggota organisasi harus menerimanya sebagai
cara yang tepat dalam pendekatan pelaksanaan pekerjaan-pekerjaan dalam organisasi”.

Nilai, dengan menggunakan definisi Rokeah (1973-1993) – juga ahli dalam “Applied Strategic
Planning” – dapat didefinisikan sebagai berikut : “Nilai adalah suatu keyakinan yang
berlangsung terus/relatif tetap bahwa suatu cara khusus mengenai perilaku atau keadaan
akhir dari keberadaan adalah lebih baik secara pribadi atau secara sosial dibandingkan
dengan cara yang berlawanan dengan cara khusus tersebut”. Sedangkan “Sistem Nilai
adalah suatu rangkaian kesatuan dari nilai-nilai yang relatif penting dalam organisasi”.
Berdasarkan definisi-definisi ini, maka nilai yang dianut oleh organisasi akan membawa organisasi
tersebut kepada suatu tujuan tertentu yang dianggap benar, dan tujuan lainnya adalah salah.
Demikian pula halnya, nilai yang dianut organisasi akan membawa organisasi tersebut kepada
cara-cara tertentu yang tepat dalam mencapai tujuan organisasi, dan cara-cara lainnya adalah
salah, dengan kata lain nilai menentukan norma-norma ataupun prinsip-prinsip (standar tindakan)
dalam organisasi.

Nilai umumnya meliputi :

•   Nilai-nilai yang dianut oleh anggota tim penyusun rencana strategis;
•   Nilai-nilai organisasi yang lebih berorientasi pada wujud tujuan yang ingin dicapai;
•   Filosofi operasi yang lebih berorientasi pada cara-cara pendekatan pelaksanaan
    kegiatan/pekerjaan (the way we do things around here);
•   Nilai-nilai yang terkandung dalam stakeholders.

Sehubungan dengan lingkup substansi nilai dan kaitannya dengan budaya, maka dapatlah
dinyatakan bahwa suatu orgtanisasi yang mempunyai budaya kuat/mapan adalah organisasi
dengan misi dan prinsip yang diterapkannya cukup jelas, dan lebih lanjut dapat dipahami setiap
anggota organisasi dan stakeholders. Untuk pemahaman ini, organisassi dituntut untuk
mengembangkan “culture network”.

Dari definisi budaya dan nilai tersebut di atas, dapatlah dinyatakan bahwa budaya adalah
himpunan sentral dari asumsi-asumsi dasar dan nilai-nilai, di mana nilai-nilai akan menurunkan
prinsip-prinsip. Lebih lanjut penerapan prinsip-prinsip akan menjadi upaya validasi bagi budaya
tersebut. Oleh karena itu dalam suatu organisasi selalu terjadi proses siklus budaya: keyakinan -
nilai - prinsip - keyakinan.


                                                                                              44
RENSTRA LAPAN, JUNI 2005
Asumsi-asumsi dasar yang dinyatakan dalam definisi budaya tersebut di atas sangat ditentukan
oleh karakter-karakter internal dan eksternal dari kegiatan/pekerjaan yang akan dilakukan dalam
rangka implementasi rencana strategis. Karakter eksternal tersebut meliputi antara lain : kondisi
lingkungan strategis dan nilai/perilaku stakeholders. Sehubungan dengan ini, maka dalam
menentukan budaya (lebih lanjut nilai dan prinsip), terlebih dahulu akan dikenali karakteristik dari
kegiatan dalam rangka implementasi Rencana Strategis LAPAN, 2005-2009.

Nilai dan prinsip yang dikemukakan berikut ini berlaku untuk tingkat organisasi LAPAN sesuai
dengan karakteristik yang telah ditetapkan. Sedangkan nilai dan prinsip untuk masing-masing
program kegiatan akan dispesifikasi lebih lanjut sesuai dengan karakteristik khusus dari program/
kegiatan yang bersangkutan.


      KARAKTERISTIK

Beberapa karakteristik yang disebutkan di sini tentunya tidak hanya berlaku bagi kegiatan
kedirgantaraan LAPAN, tetapi bersifat universal. Karakteristik kegiatan kedirgantaraan LAPAN ke
depan (yang bersifat universal dan spesifik), meliputi :
•   Upaya kedirgantaraan bersifat internasional/global;




•   Kedirgantaraan, utamanya kean-
    tariksaan, saat ini dan masih akan
    tetap dalam waktu panjang ke
    depan, adalah sector yang beresiko
    tinggi, mempunyai kelangsungan
    ekonomi yang rentan (vulnerable), walaupun potensi aplikasinya terus meningkat;

•   Keputusan bangsa Indonesia mempunyai kapasitas yang memadai merupakan kemauan
    politik (political will) yang direfleksikan dalam besarnya investasi, dan terwujud dalam struktur
    industri yang berkualitas tinggi dan mempunyai akses terhadap teknologi kunci dengan
    memperhatikan hal-hal :

    Ø Strategis  : Industri dirgantara harus sejalan dengan litbang, menjamin kemandirian
                   dalam sektor-sektor penting di bidang kedirgantaraan dan sekaligus akses
                   terhadap dirgantara.
    Ø Dual       : Mencakup pasar sipil dan militer.
    Ø Katalistik : Pengaruh yang menjalar ke luar sektor kedirgantaraan dapat menghasilkan
                   multiplier effects lebih dari 10 kali.
•   Investasi dalam kedirgantaraan adalah besar dan penuh dengan resiko, memerlukan perioda
    perencanaan dan implementasi jangka panjang, sehingga pembangunan kerangka kerja yang


                                                                                                  45
RENSTRA LAPAN, JUNI 2005
    mengatur keterbukaan dan konsistensi untuk memotivasi pengambilan keputusan dan
    investasi adalah amat penting.




                                                                            Struktur Bus INASAT 1

•   Bisnis dalam sektor kedirgantaraan adalah pasar “pioneer” strategis yang mempunyai resiko
    teknis dalam finansial secara ekstrim, dan umumnya memerlukan biaya yang amat besar bagi
    pendatang baru (pemula), sehingga dalam hal ini diperlukan justifikasi peranan pasar dan
    penguasa publik.
•   Dalam kurun waktu masih relatif panjang ke depan, pendanaan bagi upaya kedirgantaraan
    terutama litbangnya masih bersumber dari pemerintah.
•   Teknologi dirgantara relatif mengalami keusangan (obsolescence) yang cepat, sehingga
    memerlukan kearifan dalam pemilihan penggunaannya.
•   Proyek-proyek kedirgantaraan yang berjangka panjang dan sifatnya yang spesifik sangat
    sensitif terhadap transfer pengetahuan dan informasi antar generasi, hingga perlu ditetapkan
    kebijakan yang dapat memberikan insentif bagi generasi muda untuk tertarik dalam
    kedirgantaraan.
•   Titik berat upaya kedirgantaraan oleh LAPAN terletak pada program riset dan demonstrasi
    teknologi (technology demonstration) dengan luaran sebagai jasa yang dilayankan bagi
    pengambil keputusan di tingkat kebijakan dan pengelolaan bidang-bidang pembangunan
    nasional.



            NILAI


Nilai dalam organisasi LAPAN adalah kepuasan LAPAN yang bersumber dari kepuasan
stakeholders atas pelayanan yang diberikan dan kemajuan yang dicapai LAPAN. Dalam kaitan ini
dan dengan memperhatikan karakteristik tersebut di atas, maka nilai bagi LAPAN harus :
•   Menciptakan keyakinan dasar bagi setiap karyawan LAPAN bahwa keberhasilan LAPAN yang
    terus meningkat dari waktu ke waktu merupakan aset bangsa yang bersifat strategis untuk
    terciptanya kemandirian bangsa Indonesia di bidang kedirgantaraan (access to space) dan
    sekaligus dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan;
•   Menciptakan keyakinan dasar bahwa setiap pelaku iptek kedirgantaraan berbudaya pelayanan
    (service culture);
•   Memusatkan setiap pelaku iptek kedirgantaraan pada model perilaku bersama;
                                                                                                46
RENSTRA LAPAN, JUNI 2005
•   Menekankan kepuasan pelanggan/pengguna, pengelolaan dan perbaikan mutu secara
    berkelanjutan, pemberdayaan semua karyawan dan hubungan kerja sama dengan semua
    pengguna yang berkelanjutan;
•   Menekankan pada permintaan dan kebutuhan pengguna (application pull);
•   Konsentrasi pada “core competencies”;
•   Peka (responsive) terhadap “real life problems” dalam bidang-bidang pembangunan nasional
    yang dapat diatasi dengan dukungan upaya kedirgantaraan;
•   Mempertanggungjawabkan dampak sosial upaya kedirgantaraan: “Siapa yang akan
    menanggung beban dana dan siapa yang akan memperoleh manfaatnnya?.
•   Meningkatkan perencanaan dan praktek pengelolaan :
    Ø menciptakan keunggulan manajemen dan kelembagaan sesuai dengan upaya perwujudan
      LAPAN sebagai pusat-pusat keunggulan teknis di bidang kedirgantaraan.
    Ø “committed” untuk secara terus menerus menyempurnakan proses, produk dan jasa yang
      akan diberikan kepada pihak pengguna.
    Ø mampu mengelola resiko dan biaya program yang dilaksanakan;
    Ø dapat mempertanggungjawabkan secara terbuka kinerja dan dana yang akan digunakan.
    Ø secara terus-menerus meningkatkan      kemampuan individu dan “teamwork” dalam
      pelaksanaan kegiatan/program kedirgantaraan LAPAN.


          PRINSIP


Dengan memperhatikan karakteristik tersebut di atas, prinsip (standards of action) dalam
implementasi Rencana Strategis LAPAN meliputi:
•   Upaya kedirgantaraan oleh LAPAN adalah untuk maksud damai;
•   Kemauan politik (political will) dari bangsa Indonesia (pemerintah. legislatif dan masyarakat
    sipil) sangat diperlukan dalam upaya kedirgantaraan ke depan;
•   Program riset dan demonstrasi teknologi dirgantara diupayakan dengan biaya rendah dan
    tepat waktu, dan penggunaannya pun juga harus dimungkinkan dengan biaya rendah;
•   Litbang dan industri kedirgantaraan harus berjalan bersama-sama secara bersinergi;
•   Pendanaan upaya kedirgantaraan oleh LAPAN hendaknya tidak menimbulkan ”opportunity
    costs” yang berlebihan terhadap pembangunan bidang-bidang penting lainnya.
•   Kerja sama/kemitraan di tingkat nasional dan internasional merupakan “hallmark” dalam upaya
    kedirgantaraan oleh LAPAN;
•   Percepatan proses transfer teknologi dari program riset dan demonstrasi teknologi ke sektor
    komersial harus secepat mungkin dengan jalan mendorong investasi swasta melalui komitmen
    jangka panjang oleh pemerintah.
•   Dalam rangka pemanfaatan teknologi penginderaan jauh satelit, perlu lebih ditingkatkan dari
    tahap demonstrasi/percontohan ke tahap operasional. Khusus dalam penanganan bencana
    alam juga harus beralih secara operasional dari “post-event relief and recovery” ke “pre-
    disaster preparedness, planning and mitigation”. Pergeseran dan peralihan seperti ini
    tentunya harus didukung oleh (i) suatu mekanisme penyampaian informasi/data akurat dan
    tepat waktu melalui suatu sistem yang “multitier” untuk maksud pengambilan keputusan, dan
    (ii) suatu jaringan komunikasi darurat (emergency communication network).

                                                                                              47
RENSTRA LAPAN, JUNI 2005
   KARAKTERISTIK, NILAI DAN PRINSIP TURUNAN DALAM PENCAPAIAN
    TUJUAN STRATEGIS DARI MASING-MASING MISI LAPAN, 2005-2009


Karakteristik, nilai dan prinsip yang telah dikemukakan di atas adalah karakteristik, nilai dan prinsip
secara universal pada tingkat organisasi LAPAN dalam rangka implementasi Rencana Strategis
LAPAN, 2005-2009. Mengingat bahwa misi-misi termasuk tujuan strategis yang terkandung di
dalamnya mempunyai karakteristik yang berbeda dan mempunyai kekhasan tersendiri, maka
sudah tentu mengakibatkan adanya nilai dan prinsip yang berbeda dalam mencapai tujuan
strategis dari masing-masing misi tersebut. Perbedaan tersebut dapat berupa perbedaan bobot
penekanan dari nilai dan prinsip (umum) tersebut di atas atau nilai dan prinsip spesifik yang hanya
berlaku bagi tujuan strategis dari misi tersebut.




Karakteristik, nilai dan prinsip turunan baik bersifat penekanan yang signifikan dari karakteristik,
nilai dan prinsip (umum) tersebut di atas maupun bersifat spesifik untuk tujuan strategis dari
masing-masing misi dituangkan dalam matriks sebagaimana ditunjukan dalam lampiran.




                                                Litbang SKEA menghasilkan multiplier effects
                                                         di luar sektor kedirgantaran


                                                                                                    48
RENSTRA LAPAN, JUNI 2005