Pekembangan dan Bimbingan Peserta Didik

Document Sample
Pekembangan dan Bimbingan Peserta Didik Powered By Docstoc
					                                     BAB I


                               PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang


           Peserta didik selalu berada dalam proses perubahan, baik karena

pertumbuhan maupun perkembangan. Pertumbuhan terutama karena pengaruh

faktor internal sebagai akibat kematangan dan proses pendewasaan. Sedangkan

faktor perkembangan terutama karena pengaruh lingkungan. Kedua hal tersebut

sebenarnya hanya dapat dibedakan namun tak dapat dipisahkan. Karena hal itu

perubahan dalam peserta didik tersebut dapat disebut sebagai tumbuh kembang

manusia.


           Hal tersebut terjadi pula terhadap intelegensi dan bakat dari peserta

didik. Keduanya harus dapat dipahami, dimengerti dan dikenali oleh peserta didik.

Intelegensi dan bakat merupakan potensi luar biasa sebagai anugrah dari Tuhan

Yang Maha Esa. Pengoperasionalan kedua hal tersebut dapat memberi dampak

yang luar biasa terhadap perkembangan peserta didik.


           Setiap peserta didik dianugerahi intelegensi dan bakat yang berbeda-

beda. Kesuksesan masa depan peserta didik tersebut sangat ditentukan oleh

pertumbuhan dan perkembangan kedua hal tersebut. Menyadari akan hal tersebut

sebagai upaya dalam perkembangan peserta didik, para pendidik, orang tua harus

mengetahui tentang bagaimana konsep mengenai perkembangan antara intelegensi

dan bakat tersebut. Dengan demikian para pendidik ataupun orang tua memilki

landasan untuk mengembangkan harapan-harapan yang realistik mengenai


                                                                               1
intelegensi dan bakat yang dimilki oleh peserta didiknnya dan juga supaya para

pendidik dan orang tua mengetahui bagaimana mengarahkan perkembangan akan

intelegensi dan bakat tersebut demi mencapai perkembangan yang optimal.


         Hal tersebut yang telah dikemukakan tersebut, menjadi daya tarik

tersendiri bagi penyusun untuk dapat mengkaji permasalahan tersebut dalam

sebuah makalah yang berjudul “Perkembangan Intelek dan Bakat.”


1.2 Identifikasi Masalah


         Dengan beragamnya informasi dan pengetahuan yang penyusun

dapatkan melalui sumber-sumber literatur yang sesuai dengan judul makalah ini,

penyusun mengidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut :


         1.   Bagaimana perkembangan dari intelek itu sendiri ?

         2.   Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi perkembangan

              intelek ?

         3.   Usaha-usaha apa sajakah guna membantu perkembangan intelek

              dalam proses pengajaran ?

         4.   Bagaimana perkembangan bakat itu sendiri ?

         5.   Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi perkembangan

              bakat ?

         6.   Upaya-upaya apa sajakah yang dilakukan dalam pengembangan

              bakat dalam penyelenggaraan pendidikan ?




                                                                            2
                                        BAB II


                              TINJAUAN TEORITIS


2.1 Pengertian Intelek


           Menurut English & English dalam bukunya “A Comprehensive

Dictionary of Phychological and Phychoanalitical Terms”, istilah intelek berarti

antara lain : (1) kekuatan mental di mana manusia dapat berfikir ; (2) suatu

rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktifitas yang berkenaan

dengan berfikir (misalnya menghubungkan, menimbang dan memahami) ; dan (3)

kecakapan, terutama kecakapan tinggi untuk berfikir.


           Menurut kamus Webster New World Dictinionary of American

Language, istilah intellect berarti :


           1.   Kecakapan untuk berfikir, mengamati, atau mengerti ; kecakapan

                untuk mengamati hubungan – hubungan, perbedaan – perbedaan,

                dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari

                kemauan dan perasaan.

           2.   Kecakapan mental yang besar, sangat intelligecence, dan

           3.   Pikiran atau inteligensi


           Wechler (1958) merumuskan bahwa inteligensi sebagai “keseluruhan”

kemampuan individu untuk berfikir dan bertindak secara terarah serta kemampuan

mengolah dan menguasai lingkungan secara efektif. Secara umum, dapat

disimpulkan bahwa inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan



                                                                              3
proses berfikir secara rasional. Oleh karena itu intelegensi tidak dapat diamati

secara langsung, tetapi harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang

merupakan perwujudan (manifestasi) dari proses berfikir secara rasional tersebut.


          Intelek merupakan bagian makna dari akal. Akal merupakan

perimbangan antara intelek dan intuisi, antara pikiran dan emosi manusia. Intelek

adalah alat untuk memperoleh pengetahuan untuk alam nyata. Dalam membentuk

pengetahuan, intelek terikat oleh yang konkrit.


          Pada umumnya, inteligensi diukur disekolah serta lembaga pendidikan

tinggi dan pengukuran yang dilakukan cenderung bersifat skolastik. Dalam artian

bahan pengujian      mengukur inteligensi merupakan pengukuran kemampuan

sebagai hasil belajar-mengajar di sekolah. Adapun satuan angka yang diperoleh

dari tes tersebut atau hasil pengukuran tersebut tersaji dalam satuan IQ

(intelligence Quotient). Artinya IQ merupakan satuan skor yang menunjukkan

taraf kemampuan seseorang.


2.2 Jenis Intelegensi


          Gardner (1983) misalnya menyebutkan bahwa inteligensi buka

merupakan suatu bentuk unit tunggal namun merupakan konstruk sejumlah

kemampuan yang masing-masing berdiri sendiri. Menurutnya setidak-setidaknya

ada 10 bentuk inteligensi :


          1.   Inteligensi Bahasa (Linguistik)

          2.   Inteligensi Logika Matematika (Logic Mathematical)

          3.   Inteligensi Keruangan (Spatial)


                                                                                    4
          4.   Inteligensi Musical (Musical)

          5.   Intelegensi Kinestetik (Bodily Kinesthetic)

          6.   Inteligensi Interpersonal

          7.   Inteligensi Intrapersonal

          8.   Inteligensi Naturalis

          9.   Inteligensi Spiritual

          10. Inteligensi Eksistensial


2.3 Pengertian Bakat


          Bakat dapat diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan

potensi (potential ability) yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.


          Bakat merupakan kemampuan alamiah untuk memperoleh pengetahuan

dan keterampilan yang relatif bersifat umum (misalnya bakat intelektual umum)

atau khusus (bakat akademis khusus). Bakat khusus disebut talent . (Conny

Semiawan, dkk., 1987:2).


          Guilford (Sumadi S, 1991:169) megemukakan bahwa bakat itu

mencakup 3 dimensi psikologis, yaitu (1) dimensi perseptual, (2) dimensi

psikomotor, dan (3) dimensi intelektual.


          Macam bakat akan sangat tergantung pada konteks kebudayaan dimana

seseorang tersebut hidup dan dibesarkan. Bakat dapat memungkinkan seseorang

untuk mencapai prestasi dalam bidang tertentu tetapi harus disertai dengan

latihan, pengetahuan, pengalaman dan dorongan motivasi agar bakat tersebut

dapat terwujud


                                                                           5
                                    BAB III


                                PEMBAHASAN


3.1 Perkembangan Intelek


          Perkembangan intelek individu berlangsung secara teratur dan

berurutan sesuai dengan perkembangan umurnya. Piaget mengemukakan proses

anak mampu berfikir seperti orang dewasa melalui empat tahap perkembangan,

yakni :


          1.   Tahap Sensori Motor (0.0-2.0 tahun)

               Kegiatan intelektual pada tahap ini hampir seluruhnya mencakup

               segala yang diterima secara langsung melalui indra. Pada saat anak

               mencapai kematangan dan mulai memperoleh keterampilan

               berbahasa, mereka mengaplikasikannya dengan menerapkannya

               pada objek-objek yang nyata. Anak mulai memahami hubungan

               antara benda dengan nama yang diberikan kepada anak tersebut.

          2.   Tahap Praoperasional (2.0-7.0)

               Pada tahap ini perkembangan intelektual berkembang secara pesat.

               Lambang-lambang bahasa yang dipergunakan untuk menunjukkan

               benda-benda nyata bertambah dengan pesatnya. Keputusan yang

               diambil hanya berdasarkan intuisi, bukannya berdasarkan analisis

               rasional.




                                                                               6
          3.   Tahap Operasional konkrit (7.0-11.0)

               Kemampuan berfikir logis muncul pada tahap ini. Mereka dapat

               berfikir secara sistematis untuk mencapai pemecahan masalah.

               Pada    tahap   ini   permasalahan     yang     dihadapinya   adalah

               permasalahan yang konkret.

          4.   Tahap Operasional Formal (11.0-15.0)

               Tahap ini ditandai dengan pola fikir orang dewasa. Mereka dapat

               mengaplikasikan cara berfikir terhadap permasalahan dari semua

               kategori, baik yang abstrak maupun yang konkret. Pada tahap ini

               anak sudah dapat memikirkan buah pikirannya, dapat membentuk

               ide-ide, berfikir tentang masa depan secara realistis.


          Selain tahap-tahap perkembangan tersebut, terdapat juga aspek-aspek

pada tahap perkembangan intelektual terutama pada usia kanak-kanak, antara lain:


          1.   Perkembangan Kognitif : Tahap Operasi Konkret Piaget

               Menurut Piaget kadang-kadang anak usia antara usia 5-7 tahun

               memasuki tahap operasi konkret yaitu pada waktu anak dapat

               berfikir secara logis mengenai segala sesuatu. Pada umumnya

               mereka pada tahap ini berusia sampai kira-kira 11 tahun.

          2.   Berfikir Operasional

               Menurut Piaget pada tahap ketiga, anak-anak mampu berfikir

               operasional:    mereka   dapat    menggunakan      berbagai   simbol,

               melakukan berbagai bentuk operasional, yaitu kemampuan aktifitas

               mental sebagai kebalikan dari aktifitas jasmani yang merupakan


                                                                                  7
     dasar untuk mulai berfikir dalam aktifitasnya. Anak-anak yang ada

     pada tahap operasional konkret lebih baik daripada anak-anak .


3.   Konservasi

     Merupakan salah satu kemampuan yang penting yang dapat

     mengembangkan berbagai operasi pada tahap konkret. Dengan kata

     lain konservasi    adalah kemampuan untuk mengenal               atau

     mengetahui bahwa dua bilangan yang sama akan tetap sama dalam

     substansi berat atau volume selama tidak ditambah atau dikurangi.

     Anak-anak mengembangkan perbedaan berbagai tipe (bentuk)

     konservasi dalam waktu yang berbeda. Pada usia 6 atau 7 tahun

     mereka dapat mengkonservasi substansi pada usia 9 atau 10

     mampu mengkonservasi berat; dan pada usia 11 atau 12

     mengkonservasi volume.

4.   Bagaimana konservasi dikembangkan

     Piaget menekankan bahwa perkembangan kemampuan anak-anak

     untuk mengkonservasi akan lebih baik apabila secara nalar telah

     cukup matang. Piaget berpendapat bahwa konservasi hanya sedikit

     sekali dapat dipengaruhi oleh pengalaman. Sekalipun demikian

     terdapat   faktor-faktor   lain   dari   kematangan   yang   dapat

     mempengaruhi konservasi. Anak-anak yang belajar konservasi

     sejak dini akan mampu mencapai tingkat yang lebih dalam hal: IQ,

     kemampuan verbal dan tidak didominasi oleh ibunya (Almy,

     Chitenden & Miller,1966; Goldsmid & Bentler, 1968)



                                                                         8
            Inteligensi pada masa remaja tidak mudah diukur, karena tidak terlihat

perubahan kecepatan perkembangan kemampuan terhadap inteligensi. Pada

umunya pada usia 3-4 tahun masa remaja menunjukkan perkembangan

kemampuan yang hebat, selanjutnya akan terjadi perkembangan biasa. Pada masa

remaja, kira-kira pada umur 12 tahun anak berada pada masa ynag disebut dengan

“masa operasi formal” (berfikir abstrak).


            Pada masa ini remaja telah berfikir dengan mempertimbangkan hal

yang “mungkin” disamping hal yang nyata. (Gleitman, 1986: 475-476).


            Pada usia remaja anak sudah dapat berfikir abstark dan hipotek. Dalam

berfikir operasional formal setidak-tidaknya mempunyai dua sifat penting, yakni

sifat deduktif hipotesis dan sifat berfikir operasional dan juga berfikir

kombinatoris


            Sementara itu, Schaine mengemukakan bahwa perkembangan intelek

merupakan transisi dari “apa yang ingin saya ketahui” yang merupakan

penguasaan keterampilan berfikir pada masa anak-anak dan remaja, menjadi

“bagaimana sebaiknya saya menggunakan apa yang saya ketahui” yang

merupakan integrasi keterampilan berfikir pada kerangka kehidupan praktis

kemudian menjadi “mengapa saya perlu tahu” yang merupakan pencarian tujuan

dan makna yang berpuncak pada dikuasainya “kebijaksanaan” pada usia itu.

Proses-proses transisi tersebut dibagi menjadi 5 tahap berikut :


       1.    Tahap Pemerolehan (Aquisitive)

       2. Tahap Penguasaan (Achieving)


                                                                                9
        3. Tahap Tanggung Jawab (Responsible)

        4. Tahap Eksekutif (Executive)

        5. Tahap Reintegrasi (Reintegrative)


3.2 Faktor-faktor Intelek


            Intelegensi dipengaruhi oleh berbagai faktor-faktor, yakni sebagai

berikut :


            1. Faktor Bawaan atau Keturunan


              Faktor genetik dapat mempengaruhi taraf inteligensi seseorang.

              Artinya jika orang tua memilki taraf inteligensi tinggi, besar

              kemungkinan anaknya memiliki taraf inteligensi tinggi pula. Namun

              hal ini pun tidak selalu mutlak terjadi demikian. Sebagian pakar

              berpendapat bahwa pengaruh orang tua dalam perkembangan

              intelegensi lebih dipengaruhi oleh upaya orang tua itu sendiri dalam

              memperdayakan anaknya.


            2. Faktor Lingkungan


              Walaupun ada ciri-ciri yang membuktikan bahwa kemampuan

              inteligensi sudah dibawa sejak lahir, ternyata lingkungan mampu

              menimbulkan perubahan-perubahan pada kemampuan inteligensi

              seseorang. Inteligensi tersebut tentunya tdak bisa terlepas dari otak

              dan perkembangan otak sangat dipengaruhi oleh gizi yang

              dikonsumsi. Selain itu, rangsangan-rangsangan yang lebih bersifat



                                                                                 10
             kognitif emosional dari lingkungan juga memegang peranan yang

             sangat penting.


          3. Inteligensi dan Bakat


             Inteligensi merupakan suatu konsep mengenai kemampuan umum

             individu dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam

             kemampuan yang umum ini, terdapat kemampuan-kemampuan yang

             sangat spesifik. Kemampuan-kemampuan yang spesifik inilah yang

             memberikan setiap individu suatu kondisi yang memungkinkan

             tercapainya pengetahuan, kecakapan, atau keterampilan tertentu

             setelah melalui latihan. Inilah yang disebut dengan bakat atau

             aptitude. Winner (1997) mengemukakan bahwa sekalipun seseorang

             memilki bakat tertentu, ia perlu mengasahnya dengan usaha keras.

             Intelegensi semata-mata tidak cukup meramalkan bahwa seseorang

             dengan bakat tertentu akan mampu meramalkan bahwa seseorang

             akan mampu meraih sukses dikemudian hari tanpa usaha dan latihan.


3.3 Usaha-Usaha Mengembangkan Intelek dalam Proses Pembelajaran


          Melatih intelegensi anak sedini mungkin mungkin sangat berpengaruh

bagi kecerdasannya. Pasalnya, kecerdasan merupakan suatu kemampuan mental

yang dibawa oleh individu sejak dini dan menyesuaikan diri dengan lingkungan

yang baru, serta memecahkan masalah-masalah secara cepat dan tepat.


          Guna mengembangkan intelek diperlukan rangsangan-rangsangan

kognitif emosional, salah satunya melalui tes intelegensi atau lebih kenal dengan


                                                                              11
IQ. Menurut Brunner, siswa pada usia belajar menggunakan bentuk-bentuk

simbol dengan cara yang semakin canggih. Pendidik bisa membantu peserta didik

dengan melakukan hal tersebut dengan menggunakan pendekatan keterampilan

proses dan dengan memberikan penekanan pada penguasaan konsep-konsep dan

abstraksi-abstraksi terutama terhadap peserta didik yang dikategorikan anak-anak.


          Selain itu, pendidik harus memberikan bagaimana menginterpretasi ide-

ide peserta didik dalam proses pembelajaran, mendorong perserta didik terutama

remaja untuk mulai merangsang kemampuan berfikirnya dengan memberikan

kesempatan untuk mengadakan diskusi secara baik dan dengan memberikan

tugas-tugas penulisan makalah.


3.4 Perkembangan Bakat


          Dalam perkembangan bakat pentingnya pengakuan dan perhatian

(Tannenbaum, 1986), pemberian kesempatan mengembangkan minat (Renzuli,

1986), kerja keras, keuletan, serta latihan (Dammon, 1995) merupakan hal yang

perlu memperoleh perhatian dari peserta didik untuk mengembangkan bakat yang

dimilki oleh peserta didik. Setiap individu dan setiap bakat perlu memperoleh

perhatian khusus.


          Stenberg (1977) mengemukakan bahwa hakikatnya kemampuan

seseorang dapat terus berkembang sepanjang kehidupan individu bersangkutan,

masalah penyesuaian diri ini juga merupakan hal yang penting dalam

pengembangkan bakat seseorang.




                                                                               12
3.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bakat


          Adapun sebab atau faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan

bakat-bakatnya secara optimal, antara lain :


          1.   Anak itu sendiri. Misalnya anak itu tidak atau kurang berminat

               untuk mengembangkan bakat-bakat yang ia miliki atau kurang

               termotivasi untuk mencapai prestasi yang tinggi atau mungkin juga

               mempunyai kesulitan atau masalah pribadi sehingga ia sulit untuk

               mengembangkan bakatnya tersebut.

          2.   Lingkungan anak. Misalnya orang tuanya kurang mampu untuk

               menyediakan kesempatan dan sarana pendidikan yang ia butuhkan

               atau ekonominya cukup tinggi tetapi kurang memberi perhatian

               terhadap pendidikan anak. Pola asuh keluarga juga merupakan hal

               terpenting dalam perkembangan bakat anak. Jika orang tua

               mengetahui bakat apa yang dimilki oleh anaknya kemudian

               menciptakan pola asuh keluarga yang sesuai dengan bakat anak,

               tentu saja perkembangan bakat anak tersebut semakin pesat.


3.6 Upaya-Upaya Pengembangan Bakat dalam Penyelenggaraan Pendidikan


          Pendidikan merupakan salah satu upaya yang dilakukan guna

membantu peserta didik untuk dapat mencapai prestasi tertinggi tentunya dengan

bakat yang dimiliki. Pengetahuan orang tua akan bakat yang dimiliki oleh




                                                                             13
anaknya menjadi hal yang penting guna dapat menyesuaikan pendidikan atau

lembaga pendidikan yang sesuai dengan bakat anak-anak tersebut.


         Dalam     pelaksanaannya     pendidik    memberikan      pengetahuan,

keterampilan terhadap peserta didik yang dapat merangsang perkembangan bakat

dari anak tersebut. Selain itu pendidik harus menerima peserta didiknya

sebagaimana mestinya, tanpa ada syarat dengan segala kekuatan dan

kelemahannya serta dapat memberi kepercayan kepada peserta didiknya bahwa

dia baik dan mampu. Pendidik harus bisa memberikan pengertian dalam arti dapat

memahami pemikiran, perasaan, dan perilaku anak, dapat menempatkan diri

dalam situasi anak dan melihat dari sudut pandang anak. Dalam suasana ini anak

merasa aman untuk mengungkapkan bakatnya.




                                                                           14
                                     BAB IV


                         KESIMPULAN DAN SARAN


4.1 Kesimpulan


          Inteligensi adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses

berfikir secara rasional. Oleh karena itu intelegensi tidak dapat diamati secara

langsung, tetapi harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan

perwujudan (manifestasi) dari proses berfikir secara rasional tersebut. Bakat dapat

diartikan sebagai kemampuan bawaan yang merupakan potensi (potential ability)

yang masih perlu dikembangkan atau dilatih.


          Perkembangan intelek individu berlangsung secara teratur dan

berurutan sesuai dengan perkembangan umurnya Inteligensi pada masa remaja

tidak mudah diukur, karena tidak terlihat perubahan kecepatan perkembangan

kemampuan terhadap inteligensi. Perkembangan intelegensi dipengaruhi oleh

faktor bawaan atau keturunan faktor lingkungan dan inteligensi dan bakat.


          Guna mengembangkan intelek diperlukan rangsangan-rangsangan

kognitif emosional. Melatih intelegensi anak sedini mungkin mungkin sangat

berpengaruh bagi kecerdasannya


          Perkembangan bakat setidaknya harus memperhatikan akan pentingnya

pengakuan    dan   perhatian   (Tannenbaum,     1986),   pemberian     kesempatan

mengembangkan minat (Renzuli, 1986), kerja keras, keuletan, serta latihan

(Dammon, 1995).



                                                                                15
            Perkembangan bakat dipengaruhi oleh faktor anak itu sendiri dan juga

oleh faktor lingkungan anak. Sebagai upaya pengembangan bakat dalam proses

pembelajaran dalam        pelaksanaannya    pendidik     memberikan        pengetahuan,

keterampilan terhadap peserta didik yang dapat merangsang perkembangan bakat

dari anak tersebut.


4.2 Saran


            Sebagai akhir dari bagian makalah ini penyusun memberikan saran-

saran yang terkait dengan tema ataupun masalah dalam makalah ini. Adapun

saran-saran yang tersirat dalam makalah ini antara lain :


            1.   Orang tua harus mengenal, mengetahui akan intelegensi dan bakat

                 yang dimilki oleh anaknya guna dalam berlanjutan proses

                 pendidikan anak disesuaikan dengan intelegensi dan bakat yang

                 dimiliki oleh anak tersebut. Dan orang tua tidak memaksakan anak-

                 anak mereka untuk mengikuti pendidikan yang belum tentu sesuai

                 dengan intelegensi dan bakat-bakat teesebut.

            2.   Sekolah sebagai sarana paling penting dalam perkembangan

                 intelegensi dan bakat peserta didik harus dapat memberikan

                 rangsangan   kognitif,   keterampilan      yang   dapat     membantu

                 membangun perkembangan kedua aspek tersebut dan tidak

                 mengekang akan potensi inteligensi dan bakat tersebut.




                                                                                    16

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:2933
posted:4/30/2010
language:Indonesian
pages:16