Docstoc

exp mark3

Document Sample
exp mark3 Powered By Docstoc
					BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Pemasaran adalah kombinasi unik dari individu dengan organisasi, keinginan dengan kebutuhan. Semua elemen itu merupakan hal yang penting akhir-akhir ini, dan dinamika ini disebut sebagai ilmu pemasaran (Marketing). Kebutuhan individu untuk memenuhi kebutuhannya juga menjadi salah satu faktor pendukung berjalannya proses pemasaran (Marketing), dalam hal ini terbagi menjadi dua bagian yaitu “Traditional Marketing & Experiential Marketing”. Secara umum “Traditional Marketing” menggambarkan jenis pemasaran yang menganut sistem tradisional atau cara lama. Sedangkan “Experiential Marketing” akan menggambarkan jenis pemasaran yang menganut sistem berdasarkan pengalaman. Kedua sistem tersebut akan dibahas secara lebih mendetail pada makalah ini. 1.2 Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini antara lain sebagai berikut. Memahami materi yang dipelajari pada mata kuliah manajemen pemasaran. Menambah pengetahuan Marketing”. mengenai materi “Traditional & Experential

Membantu menjelaskan isi materi secara lebih mendetail kepada para pembacanya.

BAB II
2.1 Traditional Marketing 

Keistimewaan dan keuntungan di setiap waktu
Pemasar tradisional ( traditional marketer ) mengasumsikan bahwa yang diinginkan dan diharapkan oleh semua pelanggan mereka tidak lain adalah keistimewaan dan keuntungan. Dengan demikian dalam seluruh proses pembuatan barang atau jasa (pelayanan), kita harus berpusat pada kedua hal itu.



Definisi baru dari kategori produk dan kompetisi produk
Dalam kalangan pemasaran tradisional dipercaya bahwa ada banyak perusahan yang mempunyai pesaing dari kategori produk yang diproduksi misalnya : Coca cola dan Pepsi Cola, Aqua dan Ades, Pizza Hut dan Papa Ron.



Para pelanggan memutuskan sesuatu secara rasional
Pada pemasaran tradisional dinyatakan bahwa para pelanggan mengikuti seluruh proses dari pembuatan keputusan, yakni dimulai dari mengenali kebutuhan mereka hingga proses evaluasi setelah membeli.



Segala sesuatu yang diberikan ke konsumen adalah hal yang bersifat kuantitatif, analitik dan terang-terangan.
Kita harus mempelajari cara-cara untuk mempelajari dan mengerti kebiasaan dari para pelanggan, motivasi pembelian dan tes produk baru. Apakah penelitian pemasaran untuk mengetes produk baru itu dapat di percaya? Apakah yang didiskusikan oleh kelompok dapat cukup diandalkan untuk mempertahankan wawasan atau pengetahuan yang ada dari persoalanpersoalan mengenai pemasaran ?

2.2 Experiential Marketing Experiential marketing merupakan sebuah pendekatan dalam pemasaran yang sebenarnya telah dilakukan sejak jaman dulu hingga sekarang oleh para pemasar. Pendekatan ini dinilai sangat efektif karena sejalan dengan perkembangan jaman dan teknologi, para pemasar lebih menekankan diferensiasi produk untuk membedakan produknya dengan produk kompetitor. Dengan adanya experiential marketing, pelanggan akan mampu membedakan produk dan jasa yang satu dengan lainnya karena mereka dapat merasakan dan memperoleh pengalaman secara langsung melalui lima pendekatan (sense, feel, think, act, relate), baik sebelum maupun ketika mereka mengkonsumsi sebuah produk atau jasa. Experiential marketing sangat efektif bagi pemasar untuk membangun brand awareness, brand perception, brand equity, maupun brand loyalty hingga purchasing decision dari pelanggan. Oleh karena itu pemasar juga harus berhati-hati dalam memilih sarana yang benar dan media yang tepat agar tujuan pemasaran dapat tercapai seperti yang diharapkan. Karakteristik dari experiential marketing adalah sebagai berikut.

 Menciptakan sebuah terobosan pengalaman yang unik untuk pelanggan Pelanggan mengharapkan sesuatu yang unik yang lebih dari sekedar berbelanja sesuatu. Pengalaman yang dapat menghubungkan pelanggan ke sebuah brand atau perusahaan itu harus diciptakan melalui pancaindera, hati, dan pikiran mereka.  Kebangkitan dari marketing experiential Saat ini, pelanggan mengambil keuntungan dan keistimewaan yang fungsional, produk yang berkualitas dan image yang positif dari sebuah brand. Yang sesungguhnya mereka harapkan adalah produk, komunikasi, dan pemasaran yang menarik yang dapat mempesona (menarik) pancaindera mereka, menyentuh hati mereka, serta menstimulasi (mempengaruhi) pemikiran mereka. Mereka menginginkan produk, komunikasi, dan pemasaran yang menarik yang dapat berhubungan dan bergabung (menyatu) dengan gaya hidup mereka. (Bernd H. Shmitt, p.22)  Mengidentifikasi pada saat situasi pengkomsumsian Untuk mengenali pengalaman apa yang ditawarkan ke pelanggan, seseorang harus bisa menganalisa situasi konsumsi yang menjelaskan lingkungan di mana konsumen mengkonsumsi produk atau jasa yang diberikan.  Pelanggan merupakan seseorang yang emosional Di samping pemikiran pelanggan yang rasional, pelanggan dapat dipengaruhi oleh emosi mereka. Hal ini menghubungkan sifat dasar dari pelanggan sebagai umat manusia.  Metode dan peralatan berasal dari berbagai macam sumber Pemasar harus bisa eksploratif dan tidak hanya berfokus pada apa yang bisa diandalkan sekarang, validitas, dan seterusnya. Pengalaman (experience) merupakan suatu kejadian pribadi yang terjadi sebagai akibat dari adanya beberapa rangsangan. Pengalaman biasanya tidak dimunculkan sendiri melainkan dimunculkan oleh adanya suatu penyebab. Sebagai seorang pemasar, kita harus bisa menawarkan rangsangan yang dapat berakibat pada munculnya pengalaman pelanggan. Pengalaman dapat dilihat sebagai sesuatu yang kompleks. Pertanyaan strategis yang lebih penting adalah jenis pengalaman apa yang ingin kamu tawarkan dan bagaimana kamu dapat menawarkan itu semua dengan daya tarik yang tak henti-hentinya. Experience providers (ExPros) merupakan alat / taktik dalam experiential marketing. Experience providers terdiri dari : - orang – orang - komunikasi - identitas visual/verbal - kehadiran produk - Co-branding

- Lingkungan spasial - Website dan media elektronik Strategic experiential models (SEMs) merupakan yang membentuk fondasi dari experiential marketing. SEMs terdiri dari : a. Sense Dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dan produk serta untuk memotivasi pelanggan dan untuk menambah nilai ke produk. Sense marketing berhubungan dengan 5 indera, yakni penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan sentuhan. Tujuan dari sense marketing, yaitu memberikan kebahagiaan dari segi estetis, kegembiraan, kecantikan dan kepuasan melalui rangsangan dari pancaindera. Corporate expressions berfokus pada pelanggan dan konstitusi lainnya dari sebuah organisasi melalui elemen – elemen dasar tertentu, gaya hidup, dan tema – tema tertentu yang dapat berakibat pada munculnya kesan – kesan tertentu. Corporate or brand expression menunjukkan diri mereka melalui elemenelemen identitas tertentu Elemen – elemen yang berhubungan dengan pancaindera (sensory elements), yaitu : a. Properti : bangunan, tanaman, kantor, dan kendaraan perusahaan b. Produk : aspek pancaindera dari roduk secara fisik dan dari pelayanan yang diberikan. c. Presentasi : pengepakan, tas untuk berbelanja, seragam pelayanan dan aspek lainnya yang mengelilingi produk dan pelayanan secara langsung. d. Publikasi : brosur, kartu bisnis, materi promosi, dan periklanan. Tujuan strategis dari sense, yaitu : a. Untuk membedakan dirinya (produk) dalam pasar. b. Untuk memotivasi pelanggan membeli produk yang ditawarkan. c. Untuk memberikan nilai tertentu kepada pelanggan Sense sebagai pembeda : merupakan suatu kebiasaan (cara) yang spesial atau tidak seperti biasanya di mana ini bisa melebihi standar pelaksanaan dari desain sebuah produk, komunikasi, maupun retail – retail yang ada. Sense sebagai motivator : berusaha untuk memotivasi pelanggan untuk mencoba dan membeli produk mereka. Kunci utama yang harus bisa ditangani adalah : Bagaimana kita bisa mempengaruhi pelanggan tanpa harus terlalu memaksa ataupun meremehkan mereka.

-

-

-

b. Feel Merupakan daya tarik untuk perasaan dan emosi dari pelanggan dengan tujuan untuk menciptakan pengalaman secara efektif yang berkisar

antara suasana hati yang agak positif hingga emosi kuat dari sebuah jenis produk yang membanggakan dan menyenangkan. Merupakan strategi dan pengimplementasian dari pemberian pengaruh untuk perusahaan dan brand melalui experience provider. Membutuhkan pengertian yang jelas mengenai bagaimana caranya untuk menciptakan kesan (rasa) selama konsumsi berlangsung. Untuk menciptakan kebahagiaan dan menghindari sesuatu yang tidak mengenakan, untuk merasakan sesuatu yang baik dan menghindari perasaan yang buruk. Pengalaman berpengaruh yang dirasakan sangat bervariasi dimulai dari yang suasana hati agak positif atau negatif guna mempengaruhi suasana hati yang ada. Moods (suasana hati) merupakan sesuatu bagian dari perasaan yang tidak spesifik. Moods dapat didatangkan oleh rangsangan spesifik tetapi pelanggan sering tidak menyadari semua itu. Emosi merupakan sesuatu bagian spesifik yang berpengaruh. Emosi – emosi itu biasanya disebabkan oleh sesuatu atau seseorang (orang – orang, kejadian, perusahaan, produk, komunikasi). Emosi dasar : merupakan komponen dasar dari kehidupan yang berpengaruh. Emosi yang kompleks : merupakan campuran atau kombinasi dari emosi dasar. Kebanyakan marketing dihasilkan dari emosi yang kompleks. Contohnya : nostalgia (rasa rindu). Feeling (perasaan) merupakan sesuatu yang sangat kuat ketika hal itu terjadi dalam konsumsi. Perasaan yang kuat dihasilkan dari kontak dan interaksi dan itu terjadi sepanjang waktu. Dalam situasi konsumsi, interaksi face to face (tatap muka) merupakan suatu penyebab utama terbentuknya perasaan yang kuat (strong feeling).

-

-

-

-

c. Think Bertujuan untuk menciptakan pengalaman untuk mengatasi masalah yang mengajak pelanggan secara kreatif. Tujuan dari pemikiran (think) adalah menganjurkan pelanggan untuk menggunakan pemikiran yang kreatif yang akan berakibat pada reevaluasi dari perusahaan dan produk. Konvergen : Pemikiran yang probabilistik dan pemberian alasan yang analitikal meliputi juga permasalahan rational yang didefinisikan secara jelas. Divergen : meliputi : a. kemampuan untuk menghasilkan banyak ide b. kemampuan untuk menganti perspektif dengan mudah c. kemampuan untuk menciptakan ide – ide yang tidak biasa

-

-

d. Act Bertujuan untuk memperngaruhi pengalaman melalu media jasmani, gaya hidup dan interaksi - interaksi. Act marketing memperkaya kehidupan pelanggan dengan mempertinggi pengalaman jasmani mereka. Strategi act marketing didesain untuk menciptakan pengalaman pelanggan yang berhubungan dengan jasmani secara fisik, pola jangka panjang dari perilaku dan gaya hidup, serta pengalaman – pengalaman tertentu. Act experience providers: a. Reasoned act; b. Flesh c. Motor actions d. Interact e. Lifestyles f. Nonverbal behavior g. Self-perceptions h. Behavioral modification e. Relate Terdiri dari berbagai aspek, yaitu sense, feel, think, dan act marketing. Relate marketing memperluas melalui diri individu itu sendir dan perasaan pribadi masing-masing, di mana kesemuanya itu menambah pengalaman individual dan menghubungkan individu dengan diri mereka sendiri, orang – orang lain dan budaya. Relate marketing memperluas melalui perasaan pribadi masing – masing individu, perasaan (feeling), kesadaran (pengertian), dan tindakan (action). Relate experience providers: a. Social roles b. Kin relations c. Cultural values d. Group membership e. Brand communities f. Social identity g. Social categorization h. Social influence

-

-

-

-

2.3 ARTIKEL 1 Archive for the ‘Marketing & Sales’ Agar Produk atau Jasa Anda Diingat Sepanjang Hayat November 21, 2007 By: cipto Dahulu, ketika kita memasarkan suatu produk atau jasa, maka kita cukup mengandalkan feature (karakteristik, sifat atau ciri-ciri) dan benefit (manfaat atau kegunaan) agar produk atau jasa kita bisa laku dan tetap dibeli oleh pelanggan kita. Tapi, sekarang feature dan benefit saja terkadang kurang cukup agar kita tetap exist di pasar, karena ternyata para pesaing kita bisa meniru bahkan menyamai produk yang kita jual ke pasar. Lalu muncullah hal-hal yang intangible seperti pelayanan atau service agar feature dan benefit produk bisa hadir „lebih bermakna‟ di benak customers. Itupun saat ini seringkali masih belum cukup juga, mengingat semakin hari tingkat kompetisi semakin severe dan kompleks. Lalu apa lagi yang bisa kita lakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan market share dan profitabilitas ? Jawabannya adalah menyangkut customer‟s memory. Apakah produk atau jasa kita memorable (menciptakan kenangan yang indah) bagi customers kita ? Apakah produk atau jasa kita bisa lengket di heart (hati) & mind (pikiran) para customers. Dari situlah maka muncul istilah Experiential Marketing, yaitu suatu pendekatan pemasaran yang mengupayakan agar para customers memiliki suatu pengalaman yang tak terlupakan ketika akan, sedang atau telah membeli produk atau jasa kita. Caranya adalah dengan menyentuh sisi emosional customers lebih dalam lagi, bukan lagi sekedar sisi rasionalnya. Bernd H. Schmitt, pakar pemasaran dan guru besar dari Columbia Business School, USA, dalam bukunya Experiential Marketing : How to Get

Customers to Sense, Feel, Think, Act & Relate to Your Company and Brands, mengupas dengan sangat menarik apa dan bagaimana Experiential Marketing (EM) itu.
Ia mengemukakan adanya 5 unsur penting dalam EM, yaitu sense, feel, think, act dan relate. Unsur-unsur ini perlu kita ketahui lebih detail agar kita bisa memilih dan memastikan unsur yang mana saja yang bisa kita terapkan ke produk atau jasa kita. Mungkin tidak semua unsur dapat diaplikasikan secara bersama-sama. Mungkin hanya satu atau dua unsur saja yang bisa kita pakai. Semuanya tergantung kepada jenis barang atau jasa Anda, struktur persaingan, segmen pasar yang dibidik dan sebagainya.

Unsur yang pertama, sense adalah bagaimana agar produk atau jasa kita bisa dirasakan oleh panca indra kita (mata, telinga, hidung, lidah dan kulit). Ini adalah unsur yang paling sederhana yang bisa diterapkan. Semakin banyak indra yang bisa merasakannya, maka semakin besar kemungkinan produk kita menjadi memorable. Mengapa ? Karena setiap orang memiliki preferensi yang berbeda dalam menyampaikan informasi ke otak lewat panca indra. Dalam NLP (Neuro Linguistic Programming), dikenal ada orang yang bertipe visual (lebih peduli pada apa yang dilihat), auditory (lebih peduli pada apa yang didengar) dan kinestetik (lebih peduli pada apa yang mereka sentuh atau rasakan). Jadi,

dengan melibatkan semakin banyak indra, maka semakin banyak orang yang bisa kita jangkau (untuk masuk ke memori mereka). Apakah Anda pernah antri untuk membeli roti di Bread Talk atau donat JCo ? Lalu mengapa orang-orang rela ngantri hanya demi untuk sepotong roti ? Penyebabnya adalah karena mereka sukses menyampaikan pesan produknya ke otak Anda melalui beberapa indra yang terlibat. Pertama, dari jarak yang agak jauh Anda sudah membaui (dengan hidung) aroma roti yang „harum‟ dan mengundang Anda untuk mendekat. Semakin dekat semakin merangsang baunya. Setelah dekat, Anda bisa melihat dengan mata kepala Anda sendiri proses pembuatan roti (melalui kaca transparan) untuk menggugah Anda bahwa roti mereka fresh from the oven. Kemudian Anda masuk ke gerai mereka dan sebelum membeli-pun lidah Anda akan dibuat ngiler dengan berbagai bentuk roti yang di-display dengan sangat menarik. Satu lagi, bagi Anda yang kinestetik, barangkali tindakan mengantri, mengambil nampan, memilih roti, mengantri lagi dan membayar di kasir menciptakan sebuah pengalaman yang tak terlupakan. Ini adalah sebuah proses emosional, karena secara logika koq mau-maunya Anda dikerjain oleh si Break Talk. Unsur kedua, feel adalah bagaimana menciptakan perasaan enak (feel good) bagi para customers, yaitu dengan melibatkan mood dan emosi secara lebih intens lagi. Beberapa acara reality show di televisi seperti AFI, Indonesian Idol atau MamaMia adalah beberapa contoh produk yang sukses memanfaatkan emosi para penonton agar mereka terus mengingat dan menontonnya kembali. Sebagian dari Anda mungkin juga pernah mengirim SMS dukungan ke salah satu kontestan, padahal barangkali Anda tidak mengenal kontestan itu, hanya karena emosi Anda bangkit dan menggerakkan Anda untuk melakukan sesuatu.

Unsur ketiga, think adalah upaya yang perlu diciptakan agar customer mau ber-positive thinking kepada produk atau jasa Anda setelah customer Anda merasa baik (feel good). Ini dapat menciptakan customer satisfaction yang lebih berjangka panjang. Dengan demikian diharapkan akan timbul word of mouth (promosi dari mulut ke mulut) yang baik bagi produk Anda. Kampanye iklan Apple Computer ‘think different’ adalah contoh iklan untuk menggugah orang agar mau „positive thinking‟ kepada produk Apple. Unsur keempat, act adalah upaya yang diarahkan bagi terciptanya pengalaman melalui perilaku tertentu dari customers, baik berupa tindakan individual maupun hidup seseorang. Tindakan yang diambil seseorang dipengaruhi oleh faktor luar dan opini di dalam dirinya. Tugas Anda sebagai experiential marketer adalah menggabungkan pengaruh eksternal dengan feel dan think agar customer melakukan tindakan dan punya pengalaman tersendiri. Iklan Oreo di televisi „diputar, dijilat dan dicelupkan‟ barangkali merupakan upaya agar calon customer selalu terkenang dengan Oreo dengan tindakan „diputar, dijilat dan dicelupkan‟ tadi. Contoh lain, kalau Anda pernah ke Jogja, cobalah mampir ke Bakmi Mbah Mo. Dengan datang kesana, maka Anda akan memiliki pengalaman yang tak terlupakan karena tindakan Anda yang telah berjuang masuk ke pelosok terpencil di daerah Bantul sana, mungkin lebih dari 10 KM dari Jogja, masuk ke jalan tak beraspal lagi. Warungnya juga relatif sederhana, memasak mie pakai arang tapi koq tetap exist setelah puluhan tahun. Unsur yang terakhir adalah relate, yaitu bagaimana sensasi, feeling, thinking & action seseorang tadi, jauh diperbesar lagi ke arah konteks sosial dan budaya. Jadi relate menghubungkan customers secara individual dengan masyarakat atau budaya tertentu. Ini merupakan daya tarik yang paling dalam

bagi customers Anda. McDonald dan juga Starbucks adalah dua perusahaan yang telah berhasil menerapkan unsur relate. Contoh lain, banyak orang memakai motor Harley Davidson, bukan karena kualitas motornya yang bagus melainkan karena HD sudah menggambarkan gaya hidup tententu bagi pemakainya apalagi dengan adanya komunitas HDCI yang cukup fanatik dengan segala atribut HDnya, termasuk juga kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukannya. Itulah sekilas tentang 5 unsur EM ala Bernd H. Schmitt. Anda perlu mulai memikirkan jenis yang mana dari kelima jenis pengalaman (experiences) diatas yang bisa diaplikasikan untuk produk atau jasa Anda. Harapannya adalah agar customers Anda selalu ingat, mau kembali lagi dan tidak pindah ke lain hati. Jadi, sudah saatnya untuk menawarkan suatu pengalaman yang tak terlupakan bagi customers Anda, sesuatu yang memorable, sesuatu yang bakal diingat pelanggan Anda sepanjang hayatnya. Tapi ingat ! Jangan sekali-kali melupakan feature, benefit dan intangible. Karena ketiganya juga merupakan prasyarat agar produk atau jasa Anda benar-benar bisa disebut berkualitas. 2.4 ARTIKEL 2 Marketing Tradisional Diprotes Monday, 02 June 2008 JAKARTA – Sosok Tung Desem Waringin selalu lekat dengan aksi-aksi mengejutkan. Mantan karyawan BCA yang banting setir jadi motivator itu kemarin menggelar aksi hujan uang sebesar Rp 100 juta dalam rangka peluncuran buku terbarunya, Marketing Revolution. Mungkin pembaca masih ingat, saat Tung meluncurkan buku pertamanya, Financial Revolution, dengan cara yang sangat heboh. Dia berkuda membelah kemacetan Jalan Sudirman, Jakarta. Tak sia-sia, buku itu memecahkan rekor penjualan Harry Potter I untuk Indonesia, yaitu mencapai 10.511 eksemplar hanya dalam waktu sehari. ”Buku itu (Financial Revolution, Red) hanya laku sepuluh ribu sekian eksemplar karena memang dicetak segitu. Kita sama sekali tidak menyangka. Sehari diluncurkan langsung habis, stok di semua toko kosong selama 15 hari,” cerita pria kelahiran 22 Desember 1967 tersebut, kemarin (1/6). Kemarin, alumnus UNS Surakarta itu kembali menggelar acara sensasional untuk pre-launching buku keduanya, Marketing Revolution. Dia menggelar acara hujan uang senilai Rp 100 juta di lapangan Desa Drangong, Kecamatan Taktakan, Serang, Banten. ”Apakah Tung sudah terlalu kaya sampai akhirnya menyebar uang? Apa hujan uang ini aksi sosial? No, no. Ini sebuah protes marketing,” tuturnya. Protes marketing? ”Ya, ini protes marketing tradisional. Selama ini banyak perusahaan yang mengeluarkan biaya besar untuk marketing, tapi hasilnya tidak jelas, nggak bisa diukur. Akhirnya uang perusahaan itu terbuang, ya mirip hujan uang ini,” ujarnya dengan gaya yang khas, senyum selalu mengembang dan tubuh tingginya terasa seperti akan melompat. Pria yang pernah mendapat gelar Top 10 Eksekutif di Indonesia dari Grup Jawa Pos dan Lions Club Surabaya itu mengemukakan, biaya marketing

perusahaan lebih banyak terbuang karena mereka tak mengerti filosofi marketing. ”Mereka seperti memasukkan uang ke kawah berapi, tentu uang itu tak pernah kembali,” tutur peraih The Most Powerfull People and Idea in Business 2005 versi Majalah SWA tersebut. Filosofi marketing, kata dia, sebenarnya sederhana saja. Yaitu, mengingatkan dan menawarkan. ”Banyak perusahaan yang hanya berpikir soal branding, mengingatkan, tanpa mencari cantolan produknya. Itu yang membuat banyak baliho, iklan-iklan di media, tidak sesuai sasaran,” terangnya. Yang paling penting dalam proses marketing adalah bagaimana membuat pembeli merasa untung terlebih dahulu sebelum mengeluarkan uangnya. ”Urusan untung penjual belakangan, pasti mengikuti,” ujarnya. Dia menyatakan, sebenarnya cara memasarkan barang dan jasa sangat mudah. ”Sederhana saja, tapi shocking, unik, sehingga diingat seumur hidup,” ucapnya. ”Persis seperti hujan uang ini, orang pasti akan selalu teringat. Belum pernah ada, kan?” sambungnya. Tung yang kemarin berada di atas pesawat Jabiru, berangkat dari Lapangan Udara Pondok Cabe, Jakarta. Di badan pesawatnya, tertulis judul bukunya, Marketing Revolution, dengan huruf kapital berwarna biru. Acara tersebut semula dijadwalkan dihelat di Parkir Timur, Senayan. Karena tak mendapatkan izin kepolisian, lantas dipindahkan ke Serang, Banten. Tung berencana memindahkan acaranya ke Kepulauan Seribu, namun juga tidak mendapatkan izin dari Polda Metro Jaya. Pantauan koran ini di lapangan, ratusan warga sudah menunggu aksi heboh tersebut sejak pukul 08.30. Padahal, Tung dengan pesawatnya baru berputar-putar di langit Serang sekitar pukul 09.20. Tak hanya warga desa setempat yang mencoba peruntungan. Sejumlah warga dari desa tetangga juga berduyun-duyun di lapangan sepak bola tersebut. ”Lumayan, semoga bisa dapat rezeki sebelum jualan bakso nanti siang (kemarin siang),” ujar Pardianto, penjual bakso asal Desa Taman, tetangga desa tempat dijatuhkannya uang. Sekitar pukul 09.20, pesawat Tung sudah tampak di langit Serang yang kemarin cerah berawan. Uang Rp 100 juta dengan pecahan Rp Rp 1.000, Rp 5.000, dan Rp 10.000, dibagi ke dalam 10 kantong. Lima menit kemudian, pesawat tersebut melintas di atas lapangan. Ratusan warga sudah riuh, saling berlari dan bersorak. Tapi, kantong uang tak jua disebarkan. ”Pesawat masih mencari arah angin yang tepat,” terang seorang aparat keamanan yang memegang pengeras suara. Akhirnya, tepat pukul 09.25, kantong pertama dijatuhkan. Blur…dan uang-uang itu pun berhamburan. Warga langsung berebut. Sayang, angin yang berembus kencang membuat uang-uang itu mengarah ke luar lapangan. Warga langsung berlari, memanjat pagar lapangan. Bahkan, ada yang memanjat rumah. Sawah-sawah becek diterjang. Sepuluh menit kemudian, kantong kedua diterjunkan. Kali ini, pesawat terbang lebih rendah. Sehingga, uang terpusat di lapangan. Aksi saling berebut tak terelakkan. Puluhan orang saling menindih, panitia pontang-panting meredakan ketegangan. Ada satu kejadian yang memilukan. Tatik Rusmiyati, 43 tahun, pada sebaran kantong keempat berlari sekuat tenaga menuju pusat sebaran uang. Dia

melompat, dan tangan mungilnya berhasil meraih segepok uang. Sayang, sedetik kemudian, puluhan orang mengerubutinya dan menindihnya. Puluhan orang tadi berusaha merebut uang dari dekapannya. Tatik menindih uang dengan badannya. Dia menjerit. Panitia berusaha menghentikan aksi tersebut. Suasana sesaat reda, tapi ada sejumlah perempuan yang masih berusaha merebut. ”Itu uang saya! Sini!” ujarnya setengah menangis. Sang perempuan yang merebut tak mau kalah, tetap ngotot merebut uang. Akhirnya, seorang petugas keamanan datang melerai. Tatik langsung mencopot kerudungnya, lantas memasukkan uang ke kerudung kuning itu. ”Saya senang sekali. Alhamdulillah, bisa membantu bapak. Sekarang zaman susah,” ujarnya dengan terisak. Sejumlah warga mengalami luka. Namun, hanya lecet-lecet. Di akhir acara, seorang gadis pingsan. Lutut dan mata kakinya berdarah. Dia langsung dilarikan ke rumah sakit dengan mobil petugas keamanan.

BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan Pada traditional marketing, ketika kita memasarkan suatu produk atau jasa, maka kita cukup mengandalkan feature (karakteristik, sifat atau ciri-ciri) dan benefit (manfaat atau kegunaan) agar produk atau jasa kita bisa laku dan tetap dibeli oleh pelanggan kita. Tapi, sekarang feature dan benefit saja terkadang kurang cukup agar kita tetap exist di pasar, karena ternyata para pesaing kita bisa meniru bahkan menyamai produk yang kita jual ke pasar. Untuk itu timbullah experiential marketing, pendekatan ini dinilai sangat efektif karena sejalan dengan perkembangan jaman dan teknologi, para pemasar lebih menekankan diferensiasi produk untuk membedakan produknya dengan produk kompetitor. Dengan adanya experiential marketing, pelanggan akan mampu membedakan produk dan jasa yang satu dengan lainnya karena mereka dapat merasakan dan memperoleh pengalaman secara langsung melalui lima pendekatan (sense, feel, think, act, relate), baik sebelum maupun ketika mereka mengkonsumsi sebuah produk atau jasa. DAFTAR PUSTAKA http://202.152.33.84/index.php?option=com_content&task=view&id=11946&Itemid =34 http://www.binus.ac.id http://en.wikipedia.org/wiki/Experiential_marketing http://suciptoajisaka.com/category/marketing-sales/ http://www.petra.ac.id/~puslit/journals/articles.php?PublishedID=MAR07020101


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:484
posted:1/17/2009
language:English
pages:11