Docstoc

SPTL NEONATUS

Document Sample
SPTL NEONATUS Powered By Docstoc
					                        STANDAR PENATALAKSANAAN
                             BOKS NEONATUS


I. ASFIKSIA NEONATORUM
   Batasan : Kegagalan bernapas spontan dan teratur segera setelah lahir.
   Etiologi
          Faktor ibu (diabetes mellitus, hipertensi dalam kehamilan, hipertensi kronik,
           anemia, perdarahan ante partum, infeksi sistemik, gagal jantung, gagal ginjal,
           polihidramnion, oligohidramnion ).
          Faktor persalinan (persalinan dengan tindakan, korioamnionitis, kelainan
           letak,partus lama, ketuban pecah dini, inersia uteri, air ketuban bercampur
           mekoneum, penggunaan anestesi umum, penggunaan narkotik < 4jam
           sebelum persalinan ).
          Faktor janin (prematuritas postmaturitas, malformasi janin, gerakan janin
           berkurang, bradikardi janin, prolaps tali pusat, trauma lahir dsb)

   Patogenesis
   Gangguan pertukaran O2 dan CO2  hipoksia dan hiperkarbia  asidosis
   metabolik, hipoglikemia, syok, ensefalopati hipoksik iskemik, gagal ginjal, gagal
   jantung dan edema otak  defisit neurologik, kemunduran intelektual, kematian.

   Bentuk Klinik
   Berdasarkan derajat : ringan, sedang dan berat.

   Komplikasi
   Asidosis metabolik, hipoglikemia, hipokalsemia, ensefalopati hipoksik iskemik,
   gagal jantung, gagal ginjal serta defisit neurologik.

   Prognosis
   Asfiksia berat kematian + 20%, yang hidup dengan sequele : gangguan intelektual,
   defisit neurologis dan epilepsi.

   Diagnosis
   Dasar diagnosis :
   Berdasarkan nilai Apgar 1 menit :
   8 – 10 : tidak asfiksia
   5 – 7 : ringan
   3 – 4 : sedang
   0 – 2 : berat


   Langkah diagnosis :
   o Sebelum lahir / ante partum
      Keadaan ibu, masa gestasi/perkiraan persalinan, gawat janin  perkiraan asfiksia

   o   Setelah persalinan :
       Penilaian bersama dengan langkah-langkah resusitasi. Sambil melakukan
       resusitasi menilai APGAR 1 menit, 5 menit, dan 10 menit. Setelah selesai
       resusitasi dipantau fungsi vital (nadi, pernafasan, kesadaran dan pengukuran
       miksi),    mencari    komplikasi     dan    penyakit    penyerta  (anamnesia



                                           1
   kehamilan/persalinan serta pemeriksaaan fisik bayi, glukosa darah, Hb/leuko/
   diff, serta pemeriksaan lain atas indikasi : foto thoraks, ECG,USG).
   Algoritme Resusitasi : lihat lampiran.
   Ambil langkah diagnostik dan penatalaksanaan sesuai algoritme resusitasi.

Indikasi Rawat :
Semua asfiksia berat, asfiksia sedang dengan pernafasan tidak pulih menjadi normal
setelah resusitasi awal.

Tatalaksana
Sebelum melakukan langkah awal resusitasi lakukan penilaian awal :
1. Apakah cairan amnion atau kulit bersih mekoneum ?
2. Apakah bayi bernapas atau menangis ?
3. Apakah warna kulit kemerahan ?
4. Apakah tonus otot baik ?
5. Apakah bayi cukup bulan ?
Bila ada jawaban “ tidak “ dari kelima pertanyaan ini maka langkah awal resusitasi
harus dimulai, sedangkan bila semua jawaban “ ya “ maka bayi tersebut hanya
dilakukan perawatan rutin saja (jaga kehangatan, bersihkan jalan napas dan
keringkan)

Langkah awal resusitasi
 Letakkan bayi di meja resusitasi dengan alat pemancar panas, keringkan,
letakkan pada posisi yang benar, lakukan penghisapan ( bila perlu ), rangsangan
taktil dan nilai : pernapasan frekuensi jantung dan warna kulit

Ventilasi tekanan positip
 Ventilasi tekanan positip dapat diberikan dengan balon resusitasi dan sungkup
 atau dengan balon resusitasi dan intubasi endotrakheal ( ETT).
 □ Indikasi : Bila bayi apnu / megap-megap atau bernapas tetapi frekuensi
     jantung <100 kali permenit atau atau sianosis sentral menetap meskipun
    diberikan oksigen arus bebas 100 %.

  □ Ventilasi
    Lakukan ventilasi dengan frekuensi 40-60 kali permenit selama 30 detik
    dengan oksigen 100%, lalu nilai kembali pernapasan, frekuensi jantung dan
    warna kulit

   Frekuensi jantung        Tindakan :
   ■ Di atas 100 ………………       1. Bila napas spontan, VTP hentikan bertahap,
                                 lakukan stimulasi taktil dan O2 aliran bebas
                              2. Bila tidak bernapas, atau megap-megap
                             lanjutkan ventilasi.
   ■ 60-100 …………………… Lanjutkan ventilasi, periksa kesempurnaan
                               ventilasi ( gerakan dinding dada?, bunyi
                              napas adekuat ?, oksigen 100 % ? )
   ■ Di bawah 60……….……... 1. Lanjutkan ventilasi
                              2. Mulai kompresi dada

□ Evaluasi
  Terdapat 3 tanda perbaikan pada bayi yang dilakukan ventilasi, yaitu frekuensi
  jantung meningkat > 100 kali per menit, perbaikan warna kulit dan bernapas
  spontan.



                                      2
  Bila gagal lanjutkan ventilasi sambil memeriksa apakah letak sungkup sudah
  benar, posisi kepala baik dan aliran oksigen 100% dan mulailah penekanan dada,
  bila frekuensi jantung di bawah 60 kali permenit

Kompresi dada
□ Indikasi : Frekuensi jatung < 60 kali permenit setelah 30 detik mendapat VTP
            dengan oksigen 100 %.
□ Frekuensi
    Sternum ditekan sedalam 1/3 diameter antero posterior rongga dada dengan 3
    kali penekanan dan 1 kali ventilasi dalam 2 detik ( 45 kali kompresi dada dan
    15 kali ventilasi selama 30 detik )
□ Evaluasi
  Setelah 30 detik melakukan tindakkan kompresi dada dan ventilasi, periksa
  frekuensi jantung atau nadi. Bila frekuensi jantung :
    ■ Kurang dari 60 kali permenit : lanjutkan tindakan kompresi dada dan
                                             ventilasi dan pemberian epinefrin.
   ■ 60 kali permenit atau lebih : hentikan tindakan penekanan dada tetapi
                                     lanjutkan ventilasi dengan oksigen 100%.

Intubasi endotrakeal
  Ventilasi tekanan positip dapat diberikan dengan balon resusitasi dan sungkup atau
  dengan balon resusitasi dan intubasi endotrakheal ( ETT) bila VTP dengan balon
  dan sungkup kurang efektif


□ Indikasi intubasi endotracheal adalah sebagai berikut :
       ■ Bila terdapat mekoneum dan bayi mengalami depressi napas, tonus otot
       atau denyut jantung maka intubasi dilakukan pada kesempatan pertama (
       perlu melakukan penghisapan melalui trakhea untuk mengeluarkan
       mekoneum ), sebelum memulai tindakan resusitasi yang lain.
        ■ Bila VTP dengan balon dan sungkup tidak efektif ( tidak mengembangkan
       dada ) atau membutuhkan pemberian VTP agak lama, dicurigai ada hernia
       diafragmatika, pemberian surfaktan dan bayi berat sangat sangat rendah (
       berat lahir kurang dari 1000 gram ).
        ■ Bila perlu kompresi dada, intubasi memudahkan koordinasi kompresi
       dada dan ventilasi dan memaksimalkan efisiensi VTP.


Obat-obatan
Obat-obatan baru diperlukan pada resusitasi neonatus bila tidak memberikan respon
dengan pemberian ventilasi yang adekuat dengan oksigen 100 % dan kompresi dada.
□ Epinefrin
   ■ Indikasi :
         o Frekuensi jantung tetap dibawah 60 kali per menit walaupun telah
         dilakukan paling sedikit 30 detik ventilasi adekuat dengan oksigen 100 %
         dan penekanan dada
         o Frekuensi jantung nol. Bila detak jantung tidak dapat dideteksi ,
         epinefrin harus diberikan segera pada saat yang sama dengan VTP dan
         penekanan dada dimulai.
   ■ Pemberian
     Dosis 0,1 – 0,3 ml/kg BB epinefrin 1 : 10.000 intra vena atau ETT, dapat
     diulang setiap 3 - 5 menit bila frekuensi jantung kurang dari 60 kali
       permenit



                                       3
    □ Natrium bikarbonat
      ■ Indikasi : Setelah 5 menit dilakukan VTP dan kompresi dada serta pemberian
          adrenalin belum ada pernapasan spontan atau apnu lama yang
          tidak memberikan respon terhadap terapi lain
      ■ Pemberian :
        Dosis 2 mEq/kg BB, intravena, perlahan-lahan ( 1 mEq/kgBB/menit )


     Bila bayi tidak memberikan respon terhadap resusitasi dan ada bukti kehilangan
     darah maka indikasi pemberian cairan penambah volume darah, yaitu garam
     fisiologis atau ringer laktat dengan dosis 10 ml/kgBB
     Bila ibu mendapat morphin atau petidin dalam waktu 4 jam terakhir dan tidak ada
     usaha napas, tetapi frekuensi jantung dan kulit normal langsung diberikan Nalokson
     0,1 mg/kgBB intra vena melalui vena umbilikalis atau pipa endotrakeal.
     Ingatlah, walaupun didapatkan frekuensi jantung nol, penekanan dan ventilasi harus
     dilanjutkan sampai diambil keputusan medik untuk menghentikan tindakan
     resusitasi.
     Resusitasi dihentikan bila semua langkah dilakukan dengan baik selama 15 menit
     frekuensi jantung tetap nol.

   Tindak Lanjut
    Observasi tanda-tanda vital.
    Awasi komplikasi : hipoglikemia (jittery, iritabel  hipotonia, muntah,
      cyanosis),   asidosis     metabolik     (pernafasan   cepat      dan  dalam),
      hipokalsemia(iritabel, kejang,tremor), infeksi, gagal ginjal, edema otak dan
      SGNN. Bila ditemui tatalaksana sesuai dengan standar profesinya.
    Bila mendapat IVFD, pada asfiksia sedang dan berat dilakukan retriksi cairan
      (3/4 kebutuhan).. Jika dilakukan pernafasan dengan bag selama ½ jam tidak
      muncul pernafasan spontan, dilakukan pernafasan mekanis. Cari penyakit
      penyerta/penyebab.

   Indikasi Pulang :
   Tidak sesak, dengan frekuensi nafas 40 – 60 x/menit. Tidak ada tanda-tanda infeksi
   dan bisa minum secara adekuat.

II. PENATALAKSANAAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)
Perawatan
      Dirawat dalam inkubator, jaga jangan sampai hipotermi, suhu bayi
         36.5-37,5 0C
      Bayi dengan RDS pengobatan lihat bab RDS
      Tentukan masa gestasi
      Bayi BB > 1500 gram tanpa asfiksia dan tak ada tanda-tanda RDS
        dirawat gabung
      Bila bayi <1500 gram, pindah rawat bagian IKA dan beri ASI/LLM
      Bayi-bayi KMK(Kecil Masa Kehamilan) diberi minum lebih dini (2 Jam setelah
     lahir ).
      Periksa gula darah dengan dekstrostik bila ada tanda-tanda hipoglikemia

   Kebutuhan Cairan
    Hari ke 1                : 80 cc/kgbb/24 jam
    Hari ke 2                : 100 cc/kgbb/24 jam
    Hari ke 3                : 120 cc/kgbb/24 jam
    Hari ke 4                : 130 cc/kgbb/24 jam



                                          4
       Hari ke 5                : 135 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 6                : 140 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 7                : 150 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 8                : 160 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 9                : 165 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 10               : 170 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 11               : 175 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 12               : 180 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 13               : 190 cc/kgbb/24 jam
       Hari ke 14               : 200 cc/kgbb/24 jam

Jenis Cairan IVFD:
     BB > 2000                  : dekstrose 10% 500 cc + Ca glukonas 10%
     BB < 2000 gram : dekstrose 7½% 500 cc + Ca glukonas 10%
     Kebutuhan Ca glukonas/hari : BB x 45 cc
                                           9
      Mulai hari ke-3 baru ditambahkan NaCl 15% 6cc/kolf dan KCl sesuai kebutuhan.
      Hari ketiga diberi protein 1 gram/kgbb/hari, dinaikkan perlahan-lahan 1½ gram, 2
      gram, 2½ gram, 3 gram/kgbb/hari
      Pada bayi tanpa RDS (RR < 60 mnt) dapat langsung diberi minum peroral dengan
      menghisap sendiri atau dengan nasogastrik drip. Bila bayi tidakl mentolerir semua
      kebutuhan peroral, maka diberikan sebanyak yang dapat ditoleransi lambungnya
      dan sisanya diberikan sebanyak dengan IVFD.
      Pemberian minum tiap 2-3 jam pada bayi dengan BB<1500 gram secara sonde
      lambung, kemudian dilanjutkan dengan menghisap langsung ASI dari ibu, secara
      bertahap 1 x/hari dilanjutkan 2-3 x/hari dan seterusnya akhirnya sampai penuh
      sampai bayi dipulangkan.

Bayi dengan masa gestasi < 32 minggu diberikan:
       Theophilin per oral dosis awal 6 mg/kgbb/hari dibagi 3 dosis sampai masa
         gestasi 34 minggu
       Theophilin juga diberikan pada bayi dengan masa gestasi 33-34 minggu bila
         bayi tersebut apnoe yang disertai bradikardia da sianosis
       Bila bayi belum bisa makan peroral dapat juga diberikan aminophylin IV
         dosis awal 7-8 mg/kgbb dilanjutkan dosis 2 mg/kgbb tiap 8 jam

III. PENATALAKSANAAN INFEKSI PADA NEONATUS
1. Tersangka infeksi
   Keadaan yang merupakan predisposisi untuk infeksi adalah:
    o Suhu ibu > 380C
    o Lekosit ibu > 25.000/mm3
    o Air ketuban keruh dan bau busuk
    o Ketuban pecah >12 jam
    o Partus kasep
    o Pada bayi di atas langsung diberikan Ampisilin 100 mg/kgBB/hari i.v. dibagi 2
        dosis dan Gentamisin 2 ½ mg/kgBB/18 jam i.v. 1 dosis, untuk bayi cukup bulan
        dan 2 ½ mg/kgBB/24 jam i.v. 1 dosis,untuk bayi kurang bulan selama 3-5 hari.
        Bila selama observasi ditemukan tanda infeksi baik klinis dan laboratoris,
        antibiotika diganti dengan ceftazidime 50 mg/kgBB/hari, i.v. dibagi 2 dosis.

2. Sepsis Neonatorum
   Diagnosis secara klinis ditegakkan jika ditemukan gejala sepsis yang terdiri atas:
    o Gejala umum                : bayi tampak lemah, terdapat gangguan minum



                                             5
                            yang disertai penurunan berat badan,
                            keadaan umum memburuk hipotermi/hipertermi
    o   Gejala SSP            : letargi, iritabilitas, hiporefleks,
                            tremor, kejang,hipotoni/hipertoni,serangan apnea, gerak
                                 bola mata tidak terkoordinasi.
    o   Gejala pernafasan     : dispnu, takipnu,apnu,dan sianosis
    o   Gejala TGI            : muntah, diare,meteorismus,hepatomegali
    o   Kelainan kulit        : purpura, eritema, pustula,sklerema
    o   Kelainan sirkulasi    : pucat/sianosis, takikardi/aritmia, hipotensi,
                              edema,dingin
    o   Kelainan hematologi : perdarahan, ikterus, purpura

        Pemeriksan yang harus dilakukan:
        Darah : Hb, lekosit,Diff.Count, trombosit, mikro LED, dan kultur
        LCS : Protein , sel diff.Count, pengecatan gram dan kultur

        Hasil laboratorium yang membantu untuk diagnosis sepsis adalah bila ditemukan
        lebih dari satu hasil laboratorium di bawah ini:
                        Lekosit <5000/mm3, atau > 25.000/mm3
                        I/T ratio 0.2 atau lebih
                        Mikro LED >15 mm/jam
                        CRP (+) > 9 mg/dl

Pengobatan
Antibiotika
  Ceftazidime 50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 2 dosis. Bila dicurigai infeksi oleh karena
   stafilokokkus maka diberikan Sefalosporin generasi ke-2, 50 mg/kgbb/hari dalam 2
   kali pemberian, bila tidak ada perbaikan klinis dalam 48 jam atau keadaan umum
   semakin memburuk. Pertimbangkan pindah ke antibiotika yang lebih poten, misalnya
   meropenem 20 mg/kgbb IV, tiap 8 jam atau sesuai dengan hasil tes resistensi.
   Antibiotika diberikan 7-10 hari (setelah klinis membaik dilanjutkan 5 hari lagi)

    Pemberian Cairan
    IVFD Dekstrose 71/2% atau 10% 500 cc + Ca glukonas dengan jumlah sesuai
     dengan kebutuhan bayi. Mulai hari ke-3 baru ditambahkan NaCl 15% 6cc/kolf. Bila
     ada tanda dehidrasi atasi dehidrasi . Jika ada asidosis berikan dekstrose dan Bicnat
     (4 : 1) sampai secara klinis tidak ada tanda asidosis. Bila dapat diperiksa analisa gas
     darah, asidosis dapat dikoreksi langsung dengan pemberian Bicnat 4,2 % secara
     perlahan-lahan. Bila belum bisa makan peroral beri larutan asam amino 2-3
     g/kgbb/hari. Bila sudah bisa makan peroral beri ASI atau susu formula

   Pengobatan suportif
    Oksigen intranasal 1-2 liter/mnt bila sianosis
    Bila ada apnu disertai bradikardi dan sianosis lebih dari 2 episode sehari cari
    etiologinya, yaitu hipoglikemia, hiponatremi dll. Dapat dipertimbangkan pemberian
    pernafasan mekanik (lihat bab RDS)

3. Meningitis Neonatal
   Klinis mirip dengan sepsis. Gejala dini umumnya iritabel.
   Pemeriksan cairan serebrospinalis:
    Tes Pandy                 : + atau ++
    Jumlah sel                : umur 0 s/d 48 jam > 100/mm3
                               : umur 2 s/d 7 hari > 50/ mm3



                                             6
                                : umur        > 7 hari > 32/ mm3
    Diff.Count                 : PMN meningkat, protein meningkat
                               dan glukosa menurun
    Pengecatan gram dan kultur
   Pemeriksaan lain         : darah rutin. urin rutin, kultur darah, kultur urin,
                           dan USG transfontanella
   Pengobatan               :
   Ceftazidime 100 mg/kgbb/hari dalam 2 kali pemberian. Lama pemberian minimal 14
   hari. LP ulang dilakukan pada hari ke tujuh. Bila tidak ada perbaikan klinis
   dipertimbangkan untuk pindah antibiotika yang lebih baik antara lain Meropenem
   120 mg/kgbb/hari dalam 3 kali pemberian. Pemeriksaan USG transfontanel dilakukan
   pada kasus tersangka infeksi, sepsis neonatorum dengan kecurigaan meningitis dan
   meningitis neonatorum, diulangi pada hari ke-14, bila belum ada perbaikan klinis
   dari hasil USG pada hari ke-14, obat diteruskan sampai 3 minggu, USG diulangi lagi
   untuk melihat hasil terapi.

4. Gastroenteritis
   Pemberian cairan:
     GEAD ringan-sedang
       Diberikan oralit diminum atau dengan nasogastrik drip, bila gagal berikan
        IVFD
     GEAD berat
       Dengan asidosis : dekstrose 5% 480 cc +Bicnat 71/2% 10-20cc
       Tanpa asidosis atau asidosis telah teratasi : dekstrose 5% 500cc +
       NaCl 15 % 6 cc


 Jumlah dan kecepatan pemberian pada dehidrasi berat
    4 jam pertama 100 cc/kgbb atau 25 tetes/kgbb/mnt (mikrodrip)
    20 jam berikutnya 150 cc/kgbb atau 71/2 tetes/kgbb/mnt
      Obat-obatan:
      Antibiotika     : Ampisilin 100 mg/kgbb/hari IV dalam 3-4 dosis .
                        Gentamisin 21/2 mg/kgbb/kali IM tiap 12 jam, 18 jam atau
                24 jam tergantung umur dan berat badan bayi
      Anti jamur      : Mikostatin bila ada indikasi.

       Minum : Langsung diberikan ASI begitu bayi dapat minum, bila bayi
         mendapat PASI di rumah diberikan susu yang sama dengan
pengenceran setengah kemudian penuh.

5. Ompalitis
     Dasar diagnosis : indurasi, eritema sekitar umbilikus bau busuk kadang ada pus
     Terapi lokal       : bersihkan pusat dengan alkohol 70% dan betadine
     Terapi sistemik : Ampisilin 100 mg/kgbb/hari 3-4 dosis
                          Gentamisin 21/2 mg/kgbb/kali I M tiap 12,18,24 jam
     Lama pemberian 3-5 hari dan bisa lebih bila ada tanda-tanda sepsis dan dosis obat
     disesuaikan dengan dosis sepsis

6. Bronkopneumonia
     Dasar diagnosis : sesak nafas, takipnu, dan biru, retraksi, ekspirasi grunting
       Auskultasi : bunyi nafas vesikuler meningkat dapat terdengar ronki basah halus
                     nyaring , segera dilakukan pemeriksaan foto toraks



                                          7
      Penatalaksanaan
           IVFD dekstrose 71/2 % atau 10 % + NaCl 15% 6 cc + Ca glukonas diberikan
       ¾ kebutuhan. Kebutuhan Ca glukonas/hari : BB x 45 cc
                                                      9
      Antibiotika
             Ampisilin        : 100 mg/kgbb/hari dalam 3-4 dosis
             Gentamisin       : 2 1/2 mg/kgbb/18 jam bila BB> 2000 gram
             Gentamisin       : 2 1/2 mg/kgbb/24 jam bila BB < 2000 gram
                               Bila umur > 7 hari berikan tiap 12-18 jam
       Lama pemberian antara 7-10 hari
       Bila tak ada perbaikan dalam 2 hari, ganti antibiotika dengan Ceftazidime
       dosis 50 mg/kgBB/hari dibagi 2 dosis

7. Opthalmia Gonorrhoika Neonatorum
   Infeksi terjadi melalui kontak jalan lahir atau kontak setelah lahir
   Klinis       : timbul setelah 2-5 hari
   Pada mata ditemukan : sekret kuning, edema kelopak mata, palpebra/konjunctiva
                                injection. Biasanya mengenai satu mata.
   Diagnosis : pengecatan gram dari sekret mata ditemukan kuman gram negatif
                   diplokokus (bentuk biji kopi) intra dan ekstra sel.
   Terapi       : Isolasi, diberikan ceftriaxon, dosis tunggal 25-50 mg/kg BB. (max 125
   mg/iv)
   Profilaksis : tetrasiklin salep mata diberikan segera pada semua bayi baru lahir.


8. Malaria
   Etiologi : dapat karena semua spesies malaria. Dapat menyebabkan abortus, lahir
   mati, dan kematian neonatus. Plasenta banyak mengandung parasit malaria selama
   kehamilan. Adanya kerusakan plasenta dapat menyebabkan malaria kongenital dan
   jarang terjadi tanpa ada riwayat serangan selama kehamilan.
   Klinis :
         Masa inkubasi pasca natal 8-30 hari tergantung spesies plasmodium dan
         imunitas. Gejala dapat berupa demam, pucat dan kuning, Gejala saluran cerna,
         saluran nafas dan SSP
   Diagnosis :
         Ditemukan parasit malaria dalam darah tepi/plasenta.
   Terapi :
         Obat terpilih klorokuin dengan dosis 5 mg/kgbb/hari dalam dekstrose atau
         NaCl fisiologis, dosis diulang setelah 12-24 jam secara IV atau peroral dengan
         dosis 10 mg/kgbb/hari dilanjutkan 5 mg/kgbb/hari setelah 6, 24, 48 jam. Jika
         resisten dengan kloroquin seperti P.falsifarum diberikan kuinin peroral 20-30
         mg/kgbb/hari dibagi 3 dosis selama 7-10 hari atau IV 10 mg/kgbb dilarutkan
         dalam NaCl 0.9 % diulang setelah 24 jam. Pemberian peroral lebih disukai
         karena efek toksik obat kurang.


9. Bayi Lahir dari Ibu Hepatitis
    Setelah lahir segera dilakukan imunisasi hepatitis B secara aktif dan pasif.
     Pasif : pemberian hepatitis immunoglobulin (Hb Ig) 0.5 cc (200 mg) IM sebelum
                 bayi berumur 24 jam
     Aktif : Vaksin Hepatitis B (Hbs Ag) 0.5 cc (10 Ug), ulang vaksinasi dengan dosis
                 yang sama pada umur 1 bulan dan 6 bulan



                                           8
10.Bayi lahir dari Ibu TBC
        Ibu berobat teratur dan BTA (-)
           Dilakukan rawat gabung dan foto toraks serta tes mantoux segera setelah
           lahir. Diulang setelah umur 6 minggu. Bila hasil negatif dilakukan BCG, bila
           positif diberikan INH profilaksis 10 mg/kgbb/hari
        Ibu tidak berobat/ berobat tidak teratur dan BTA (+)
           Bayi diisolasi dari ibu dan dilakukan foto toraks dan tes mantoux segera
           setelah lahir . Diulang setelah 6 bulan, bila hasil ulangan BTA negatif beri
           BCG, isolasi sampai 6 minggu setelah pengobatan ibu dan hasill BTA
           negatif. Bila hasil ulangan positif berikan INH 10 mg/kgbb/hari.
        Ibu dengan TBC Milier
       1. Anak secara klinis baik :
        Isolasi dari ibu
        Foto toraks dan tes mantoux segera setelah lair
        Aspirasi cairan lambung, lakukan pengecatan dan lultur
        INH 10 mg/kgbb/hari selama 3 bulan
        Ulang foto toraks dan tes mantoux setelah terapi INH. Bila (-) lakukan
           vaksinasi BCG
       2. Anak secara klinis tampak sakit :
        Isolasi dari ibu
        Foto toraks dan tes mantoux segara setelah lahir
        Aspirasi cairan lambung lakukan pengecatan dan kultur
        INH 15-20 mg/kgbb/hari selama 1 tahun

IV. SINDROMA GAWAT NAFAS PADA NEONATUS
    Pengobatan supportif pada SGN pada umumnya sama :
     Pemberian oksigen intranasal sampai nasofaring atau dengan head box
     IVFD dektrose 71/2 atau 10 % + NaCl 15 % 6 cc
     Antibiotika
        Ampisilin 100 mg/kgbb/hari dalam 3-4 dosis
        Gentamisin 21/2 mg/kgbb/18 jam bila BB >2000 gram
        Gentamisin 21/2 mg/kgbb/24 jam bila BB< 2000 gram
     Mencari penyebab SGN dengan melakukan foto toraks cito
     Pemberian makanan peroral ditunda sampai frekuensi pernafasan
      <60 x/mnt
     Terapi khusus diberikan sesuai dengan penyebab SGN

 1. Pneumotoraks
    Klinis : didapatkan tanda-tanda SGN, bradikardi dengan isi dan tegangan kurang,
      toraks asimetrik
    Tindakan : Transiluminasi toraks, Foto toraks AP/Lateral
    Jika keadaan kritis diagnosis dan terapi dengan torakosintesis menggunakan wing
      needle 21 dan spuit 5 cc serta three way stopcock, dilakukan aspirasi.
    Kalau terjadi tension peneumotoraks dilakukan pemasangan continuous suction
      dengan pemasangan kateter interkostal.
    Kalau tidak ada tension pneumotoraks diberikan oksigen 100% selama 12jam.
    Antibiotika polifragmasi




                                           9
2. Penyakit Membran Hialin (PMH)
    Klinis :
     Terjadi pada bayi 1000-2000 gram atau masa gestasi < 36 minggu, jarang terjadi
        pada bayi lebih dari 2500 gram.
     Sering disertai dengan riwayat asfiksia pada waktu lahir dan tanda-tanda gawat
        janin pada akhir kerhamilam
     Tanda-tanda gangguan pernafasan ini muncul 6 s/d 8 jam pertama setelah lahir
        dan gejala karakteristik mulai tampak pada umur 24-72 jam
     Dispnu, hiperpnu, sianosis
     Retraksi suprasternal, interkostal, epigastrium, dan respirasi grunting serta bunyi
        nafas melemah.
     Jika berat dapat terjadi bradikardi ,hipotoni,kardiomegali,hipotermi dan tonus
        otot menurun
    Radiologi :
        Grade I : gambaran bintik retikulogranular
        Grade II        : gambaran bintik retikulogranular disertai air bronkogram
        Grade III       : gambaran grade II disertai hilangnya batas jantung
        Grade IV        : gambaran white lung
    Terapi
     Memberikan lingkungan yang optimal
     Oksigen intranasal 1- 2 liter/mnt atau head box dengan konsentrasi oksigen
       30-60 %
     IVFD Dekstrose 71/2 % atau 10% + NaCl 15% 6 cc
     Antibiotika polifragmasi (Ampisilin dan gentamisin/Netilmisin)
     Pemberian pernafasan bantu dengan CPAP atau ventilasi mekanik

3. Takipnu Sementara pada Neonatus (TSN)
    Defenisi : adalah kesulitan bernafas yang disebabkan oleh lambatnya reabsorpsi
                 cairan paru fetal bersifat sementara
    Diagnosis dibuat dengan menyingkirkan penyebab gangguan nafas lainnya
    Faktor resiko :
     Bayi lair dengan operasi Caesar
     Bayi dari ibu yang mendapat sedasi berlebihan atau mendapat cairan bebas
        natrium
     Bayi laki-laki
     Polisitemia
     Makrosomia
     Persalinan yang lama
  Manifestasi klinis :
     Sianosis, merintih, nafas cuping hidung, retraksi, takipnu, pada bebarapa jam
        pertama setelah lahir
     Perbaikan respirasi dan gambaran radiologik lebih dari 12-72 jam dan penyakit
        sembuh sendiri dalam 2-3 hari
    Gambaran radiologik : corak perihiler (“sunburst pattern) dengan cairan         pada
                                fissure dan prominen interlobaris.
    Penatalaksanaan: tidak ada terapi spesifik.
        Antibiotika Ampisilin dosis 10 mg/kgbb/hari IV dibagi 2 dosis dan
        Netilmisin 3 mg/kgbb tiap 12 jam, diberikan selama 3 hari, jika tidak ada infeksi
        antibiotika distop
        Pemberian O2 intranasal 1- 2 liter/mnt atau dengan head box dengan konsentrasi
        oksigen 30-60%




                                           10
V. KEJANG
    Kejang pada neonatal banyak penyebabnya, antara lain :
     Kelainan metabolik: hipoglikemi, hipomagnesemi, hiponatremi, defisiensi B6,
       kern icterus
     Infeksi : meningitis, sepsis
     Perdarahan intracranial, anoksia serebri

   Untuk menegakkan diagnosa dilakukan pemeriksaan dekstrostik, elektrolit darah,
   lumbal pungsi, Hb, dan Ht berkala, darah rutin, kultur darah, bilirubin total, EKG,
   foto tulang kepala dan USG
    Bila ada hipoglikemia diberi dekstrose yang sebelumnya diperiksa dekstrostik
    Bila ada hipokalsemi, kalsium glukonas 10% 3 cc/kgbb diberikan secara
       perlahan-lahan melalui drip (10 cc Ca glukonas + 90 cc dekstrose 10 % + NaCl
       15% 6 cc)
    Bila ada kejang umum tonik klonik, berikan phenobarbital loading dose          20
       mg/kgbb IM kemudian dilanjutkan dengan 3 mg/kgbb/kali setiap 12 jam per
       oral/IM, kalau dosis awal kejang belum teratasi bisa diberikan lagi dosis 10
       mg/kgBB.
       Bila masih kejang berikan phenobarbital 10 mg/kgBB (max 40 mg/kgBB)
       Bila masih kejang berikan phenytoin 15-20 mg/kgBB intravena selama 30 menit
       dilanjutkan maintenance 3-5 mg/kgBB/hari ( 2 kali pemberian)
       Bila gagal, berikan lorazepam 0,05-0,1 mg/kgBB intravena ulangi 2-3 dosis tiap
       15 menit (dosis maksimal 2-5 mg) atau diazepam 0,1-0,3 mg/kgBB/kali
       intravena.
    Pada bayi tanpa ikterus atau umur > 7 hari dapat diberikan valium dengan dosis
       awal 0.5 mg/kgbb dan dilanjutkan dengan 0.2 mg/kgbb/kali
    Bila hipomagnesemi MgSO4 0.25 cc/kgbb IM
    Bila dicurigai defisiensi piridoksin diberikan piridoksin 25-50 mg IV (Bila
       semasa hamil ibu banyak makan B6)

VI. NEONATAL HIPOGLIKEMIA
    Untuk menentukan adanya hipoglikemi dilakukan pemeriksaan dekstrostik
     Klinis : dapat asimptomatik atau simptomatik berupa apatis, hipotoni, muntah,
       sianosis, apnu, twitching/kejang, nistagmus dan temperatur tidak stabil.
     Diagnosis : Bayi : cukup bulan kadar glukosa darah <40 mg%
                   Bayi : prematur kadar glukosa darah < 30 mg%

      Terapi :
       Bila hipoglikemia asimptomatik pemberian makanan sedini mungkin, bila dua
       kali pemberian makan dini (interval 2 jam) tidak berhasil berikan IVFD dekstrose
       10%
       Bila hipoglikemia simptomatik berikan dekstrose10% dengan inisial                2
       cc/kgbb diboluskan selama 5 menit (8-10 mg/kgBB/menit) dilanjutkan IVFD
       dekstrose 10% (jumlah cairan sesuai umur dan berat badan). Monitor kadar gula
       darah setiap 2 jam dalam 6 jam pertama, selanjutnya setiap 4 jam. Bila 2 kali
       pemeriksaan kadar gula darah stabil tidak perlu dimonitor lagi. Bila kadar gula
       darah normal tidak tercapai dalam 4 jam, maka diberi dekstrose 12-15 %. Bila 4
       jam belum tercapai kadar gula darah normal, maka ditambahkan hidrokortison 5
       mg/kgbb dalam cairan infus setiap 12 jam atau prednison 2 mg/kgbb dibagi 3
       dosis . Dalam keadaan lanjut (menjadi progresif) baru dipertimbangkan penyebab
       yang jarang seperti “inborn error of metabolism”, tumor pankreas, dan lain-lain.




                                          11
VII. JEJAS AKIBAT PERSALINAN

1. Paralisis Ducchene Erb
   Kelainan ini terjadi karena trauma jaringan syaraf yang keluar dari segmen vertebrae
   servilkalis V - VI. Trauma ini dikarenakan adanya kesukaran pada waktu
   mengeluarkan bahu pada presentasi verteks.
   Pemeriksaan fisik :
        Lengan adduksi dan endorotasi
        Ekstensi sendi bahhhu
        Pronasi sendi bahu
        Fleksi pergelangan tangan
        Tidak didapat refleks moro , bisep maupun radius.
   Tindakan : Immobilasi selama 2-3 minggu dengan posisi tangan diletakkan diatas
   Perut.
   Mulai fisioterapi setelah 2 minggu

2. Paralisis Klumke
    Kelainan ini terjadi karena persalinan sungsang atau presentasi verteks dengan
    kesukaran pengeluaran bahu/pundak.
    Gambaran klinis : pergelangan tangan lumpuh, parese otot –otot tangan
                        Refleks memegang kurang dan biasanya terdapat gangguan
                sensorik.
    Tindakan : pergelangaan tangan diletakkan dalam posisi netral, diberi
                 genggaman.Dalam keadaan ringan dapat sembuh sendiri dalam 3-6
                 minggu. Bila tidak sembuh perlu pemeriksaan saraf bedah ortopedi



3. Paralisis N. Phrenikus
   Diagnosis ditegakkan dengan:
     Pemeriksaan klinis
     Pemeriksaan fluoroskopi atau USG akan terlihat gerakan yang tertinggal      pada
        diafragma yang mengalami paralise
   Gambaran klinis :
     Ditemukan pada bayi dengan trauma pleksus brakialis
     Jam-jam pertama setelah lahir terjadi kesukaran bernafas
     Takipnu
     Kasus yang berat gejala dapat tiba-tiba
     Pernafasan paradokdal atau gerakan see saw
     Pemeriksaan fisik didapatkan gerakan terhambat pada diagfragama
     Redup pada perkusi di hemidifragma yang terkena
     Suara nafas melemah pada auskultasi pada hemidiafragma yan terkena
    Foto thoraks: tampak hemidiafragma yang lumpuh elevasi (lebih tinggi)
    Diagnosis banding :
     Hernia diafragmatika
     Eventrasi diafragma kongenital

   Penatalaksanaan
    Tidak ada penatalaksanaan khusus
    Bayi ditidurkan miring pada posisi yang sakit
    Diberi oksigen
    Cairan nutrisi parenteral



                                          12
       Rangsangan listrik perkutaneus pada N. Frenikus
       Antibiotika diberikan bila ada indikasi
       Tindakan bedah dilakukan bila terdapat gangguan pernafasan yang berat
        dan terapi konservatif tidak ada perbaikan selama 3-4 bulan

4   Parese Saraf Fasialis Perifer
    Trauma lahir N. fasialis perifer terjadi akibat penekanan yang keras pada syaraf
    tersebut. Penekanan ini dapat terjadi karena jepitan daun cunam sekitar foramen
    stylomastoideum atau pada waktu serabut saraf melewati ramus mandibula. Dapat
    juga terjadi penekanan oleh os sacrum pada persalinan yang lama.
    Gejala klinis :
    Gambaran klinis tergantung dari berat ringannya kerusakan saraf
     Dapat terlihat segera setelah lahir , lebih jelas lagi pada hari kedua atau ketiga
     Bila ringan tampak muka asimetri saat menangis
     Pada kerusakan yang berat atau komplit , kelopak mata terbuka pada waktu
        menangis mata akan terbuka lebih lebar pada sisi yang sakit pada keadaan
        istirahat dan plika nasolabialis mendatar serta muka tampak asimetris
    Diagnosis :
    Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis yang ditemui dan adanya riwayat
    trauma pada persalinan
    Pengobatan
     Tidak ada terapi spesifik
     Bila paralise komplit pengobatan terutama ditujukan agar kornea mata tidak
        mengalami kekeringan dengan memberikan tetes metilselulose 1% secara
        berkala setiap 4 jam
     Fungsi N. Fasialis harus diobservasi ketat, bila tidak ada menunjukkan perbaikan
        sampai hari ke 7-10 dilakukan tes elektrodiagnostik untuk melihat Apakah ada
        syaraf yang mengalami degenerasi atau terputus. Bila ada, maka harus dilakukan
        bedah syaraf. Pada parese yang ringan biasanya akan sembuh sendiri dalam
        beberapa hari.

VIII. BAYI KEMBAR
       Pengelompokan bayi kembar antara lain:
       Indentifikasi : kelamin , berat badan, apakah bayi berasal dari satu/dua telur
       Laboratorium : Hb, Ht,dekstrostik
       Klinis          : Apakah ada fetofetal tranfusi.

 Donor twin                                   Resipien twin
  Anemi, takikardi                            Phletora
  Hipotensi                                   Hipotensi dan payah jantung
  Ht turun, anemi hipokrom mikrositer         Ht darah vena meningkat
                                                   hipoviskositas (Ht > 6%)
  Retikulosit                                 Polisitemia
 Pengobatan
  Anemia berat tranfusi PRC                Bila Ht > 65 % serta terdapat gejala
  Anemia        ringan    beri   preparat   polisitemia lakukan tranfusi ganti partial
    besi/sulfas ferosus 3 x 10 mg            dengan plasma
                                            Bila      terjadi     hiperbulirubinemia
                                             pertimbangkan foto terapi atau tranfusi
                                             ganti




                                            13
    RUMUS MENGHITUNG JUMLAH DARAH PADA TRANSFUSI TUKAR
    PARTIAL

             Ht sekarang - Ht yang diinginkan
     X=                                                X BB (Kg) X 85
                          Ht sekarang




IX. IKTERUS (grafik : lihat lampiran 2)
    Dasar diagnosis : terlihat kuning pada sklera dan badan.
    Tentukan ikterus fisiologis atau patologis dan kadar bilirubin total saat itu. Indikasi
    foto terapi sesuai dengan kadar bilirubin total, umur dan berat badan (lihat table yang
    terlampir). Foto terapi dihentikan bila kadar bilirubin tidak meningkat lagi dan
    kadarnya separoh dari kadar tranfusi tukar, bila bilirubin < 13-14 mg/dl. Tranfusi
    tukar dilakukan dengan golongan darah yang sesuai dengan golongan darah ibu dan
    anak. Jumlah darah diberikan 2 kali volume darah bayi. Sebelum dan sesudah
    tranfusi tukar lakukan terapi sinar. Cholestiramin diberikan pada semua kasus yang
    dapat terapi sinar, dosis 240 mg/kgbb/hari dibagi 3 dosis
    Indikasi tranfusi tukar
     Hb tali pusat < 10 gr%, kadar bilirubin tali pusat > 5gr/dl diatas garis grafik.
     Bilirubin total meningkat > 5 gr/dl.
     Atau bila bayi menunjukkan tanda-tanda ensefalopati bilirubin akut (hipotoni,
         kaki melengkung, retrocolis, panas, tangis melengking tinggi)
     Anemia dengan “ early jaundice “ dengan HB 10-13 gr% dan kecepatan
         peningkatan bilirubin 0.5 mg %/jam
     Atau “mild moderate” anemia dengan bilirubin > umur bayi (jam) setelah umur
         24 jam pertama
     Bilirubin total >25 mg/dl.
     Anemia progresif pada waktu pengobatan hiperbilirubinemia

    Indikasi tranfusi tukar ulang
     Bilirubin meningkat lagi > 1mg%/jam setelah tranfusi tukar
     Bilirubin meningkat lagi lebih dari 25 mg %
     Persisten hemolitik anemia

Inkompatibilitas ABO
    Diagnosis inkompatibilitas ABO ditegakkan bila terdapat tanda-tanda anemia
hemolitiik dan direct comb”s test (+) pada darah tali pusat, gambaran darah tepi
menunjukkan retikulositosis, pada blood film ditemukan mikrosferosit. Penanganan
ikterus sama dengan penanganan hiperbilirubinemia secara umum. Pada tranfusi tukar
darah donor adalah golongan darah yang kompatibel dengan serum ibu dan anak.


Inkompatibilitas Rhesus
    Secara umum penanganannya sama dengan inkompatibilitas ABO. Foto terapi
langsung diberikan begitu bayi lahir dan darah untuk tranfusi sudah disiapkan sebelum
bayi lahir. Donornya rhesus negatif dengan golongan darah yang kompatibel dengan




                                            14
serum ibu dan anak . Sebelum anak lahir biasanya dipilih golongan darah rhesus (-)
(golongan darah O) dengan titer anti A dan B yang rendah


      Pakai bilirubin total
      Faktor risiko : “isoimmnue hemolytic disease”, defisiensi G6PD, asfiksia, letargi,
       temperatur tidak stabil, sepsis, asidosis, atau albumin < 3,0 gr/dl
      Pada bayi yang sehat kehamilan 35-37 6/7 minggu, suatu pilihan untuk intervensi
       penurunan TSB untuk bayi antara 35-37 6/7 minggu.
      Suatu pilihan untuk menyediakan fototerapi konvensional di Rumah Sakit/rumah
       dengan level TSB 2-3 mg/dl (35-50 mmol/L), akan tetapi penggunaaan fototerapi
       di rumah jangan digunakan pada bayi yang ada faktor risikonya.
      Garis yang terputus-putus pada 24 jam pertama mengindikasikan hubungan yang
       tidak bermakna antara gejala klinis dan respon terhadap fototerapi.
      Transfusi tukar direkomendasikan bila bayi menunjukkan ensefalopati bilirubin
       akut (hipotoni, kaki melengkung, retrocolis, panas, tangis melengking tinggi) atau
       bila TSB > 5 mg/dL (85 umol/L) di atas garis.
      Faktor risiko : “isoimmnue hemolytic disease”, defisiensi G6PD, asfiksia, letargi,
       temperatur tidak stabil, sepsis, asidosis, atau albumin < 3,0 gr/dl
      Periksa kadar albumin dan hitung rasio B/A
      Pakai bilirubin total
      Bila bayi sehat dengan umur kehamilan 35-37 6/7 minggu (risiko sedang) dapat
       dilakukan transfuse tukar berdasarkan umur kehamilan

X. NEONATAL HEPATITIS
     Adalah keadaan dimana terjadi peningkatan bilirublin terkonjugasi yang bukan
disebabkan oleh adanyan obstruksi billiaris
  1. Etiologi
     a. Infeksi (virus, bakteri,syphilis )
      b. Defisiensi alfa 1 antitrypsin
      c. Galactosemia
      d. Penyakit hemolitik
      e. Fibrosis kistik
  2. Gejala klinik:
     a. Ikterus lebih dari 2 minggu (“prolong joundice)
     b. hepatomegali dan atau splenomegali
  3. Pemeriksaan laboratorium
     a. Bilirubin total, bilirubin terkonjugasi
     b. Tes fungsi hati
     c. Biopsi
     d. Tergantung etiologi : serologi TORCH , kultur darah
  4. Terapi
       a. Tergantung pada etiologinya
       b. Mengobati infeksi bila oleh karena penyakit infeksi
       c. Luminal : 3-5 mg/kgbb/hari
       d. Kolestiramin 240 mg/kgbb/hari

XI. LABIOPALATOSCIZIS
    Cacat celah bibir dapat dikoreksi dini (umur 3 bulan) bahkan beberapa center
    melakukannya sebelum bayi dipulangkan. Selanjutnya dibuat protese oleh bagian
    gigi. Cacat celah langit dikoreksi sebelum anak belajar bicara (umur 18 bulan)




                                          15
XII. MECONEUM PLUG SYNDROME
    Hal ini disebabkan oleh obstruksi akibat sumbatan mekoneum.
    Barium in loop menunjukkan :
     Kolon distal menyempit
     Gambaran segmen yang ditempati mekoneum
     Di atasnya gambaran kolon yang membesar dan setelah 24 jam pelebaran kolon
        maju ke distal
        Penatalaksanaan :
     Dengan colok dubur dimana plug bisa dikeluarkan
     Irigasi dengan H2O2 3 % 10 cc + 10 cc garam fisiologis

XIII. ATRESIA ESOFAGUS + FISTULA ESOFAGUS
   Gejala klinik:
    Kehamilan /kelahiran sering dijumpai adanya polihidramnion
    Hipersalivasi
    Regurgitasi
    Pemasangan kateter ke dalam esopagus tidak dapat masuk lebih dari10 cm
    Adanya SGN yang hilang sementara pada pengisapan lendir dari faring. dan
       akan bertambah waktu dicoba minum per oral.
   Radiologis :
    Pada foto lateral dan frontal toraks/abdomen tampak ujung kateter nasogastrik
       yang bersifat radio opaque, melingkar/berhenti pada ujung sumbatan esofaglus
       dan udara mengisi usus/gaster
    Jika perlu lakukan pemasukan bahan kontras ke kantong atresia sebanyak 2 ml
       dengan bantuan floroskopis untuk menentukan tinggi dan jenis atresia cum fistula
       tersebut.
   Penatalaksanaan :
       Perawatan pre operatif
       Pasang kateter ke dalam kantong atresia dan lakukan penghisapan lendir secara
       berkala setiap ½ - 1 jam , letakkan bayi dalam inkubator dengan posisi kepala
       lebih tinggi dengan kemiringan 600 atau anak dibaringkan dengan posisi
       tengkurap untuk mencegah regurgitasi cairan lambung. Pemberian cairan dan
       kalori secara IVFD, makanan peroral distop dan pemberian antibiotika profilaksis
       mengobati aspirasi pneumoni
       Lakukan kerja sama dengan bagian bedah untuk tindakan paliatif dan definitif.


XIV. PENATALAKSANAAN ENTEROKOLITIS NEKROTIKANS (EKN)
     Faktor predisposisi
      Asfiksia neonatoruom
      BBL < 1500 gram, premature
      Renjatan
      Sindroma kesulitan bernafas
      Apnu berulang
      Kehamilan multiple
      Perdarahan ante partum
      Kateterisasi pembuluh darah umbilikus
      Tranfusi tukar
      Ketuban pecah dini
      Kelainan jantung bawaan
      PDA
      Septikemia
      Polisitemia



                                          16
  Faktor kecurigaan EKN
    Klinis
    1.     Tanda sistemik : suhu tidak stabil, apnu, letargi, atau iritabel, bradikardi,
           dan tanda sepsis
    2.     Tanda intestinal : anoreksia , residu lambung meningkat atau warna hijau,
           muntah, distensi abdomen, perdarahan tersembunyi pada feses atau
           perdarahan segar peranum
    Laboratorium
    1. Feses : guayak tes (+) atau makroskopis darah segar
    2. Radiologis: BNO 3 posisi normal atau dilatasi intestinal, ileus ringan
Pengobatan atau tindakan
1. Puasa
2. IVFD 71/2 % atau D10% 500cc + NaCl 15% 6 cc, jumlah sesuai kebutuhan
    aminofusin 1-3 gram/kgbb/hari
3. Antibiotika Ampisilin 200 mg/kgbb/hari dibagi 3-4 dosis
                 Netromisin 5 mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis selama 3 hari
4. Dekompresi dengan pemasangan nasogastrik tube dan penghisapan secara
    berkala
5. BNO diulang 3 posisi telentang sinar vertikal dan telentang atau tidur sisi kiri
    sinar horizontal setelah 3 hari atau bila ada perburukan klinis
6. Apabila 3 hari tidak ada progresifitas dan pemeriksaan radiologist normal maka
    peroral/ASI dapat diberikan
Faktor diagnosis EKN Definitif
1. klinis :
 tanda sistemik : sda + asidosis metabolik ringan
 tanda intestinal : sda + peristaltik lemah dan negatif, nyeri tekan selulitis,
    abdominal dan benjolan pada kwadran kanan atas
2. laboratorium :
 feses : sda
 darah : trombositopenia ringan (100.000-150.000)
 radiologis : BNO 3 posisi, dilatasi usus, ileus , pneumotosis intestinalis
                udara v.porta, ascites

Pengobatan atau tindakan :
a. Puasa minimal 7 hari
b. IVFD 71/2% atau D 10% dan aminofusin pediatrik, jumlah sesuai kebutuhan bila
   asidosis koreksi dengan bikarbonat.
c. Antibiotika : Ampisilin, netromisin

                 Metronidazol dosis BB < 2000 gr, 10 mg/kgbb/24 jam
                                      BB > 2000 gr , 10 mg/kgbb/12 jam
d. Dekompresi dan penghisapan secara berkala
e. BNO serial 2 posisi diulang setiap 6-8 jam pada kasus berat dan 12 jam pada
   kasus ringan/sedang atau atas indikasi
f. Konsul ke bagian bedah

EKN Lanjut dan Indikasi Operasi
Klinis :
1. Klinis yang makin memburuk dengan gejala apnu, letargi,hipotermi,
    oliguri,bradikardi,hipotensi, dan asidosis menetap
2. Rangsangan peritoneum yang menetap
3. Edema dan kemerahan kulit abdomen yang terfiksasi khusus sekitar umbilikus
    punggung dan genitalia



                                        17
   4.   Masa infiltrat pada dinding abdomen yang terfiksasi
   5.   Perdarahan GIT bagian bawah banyak
   6.   Pengobatan medikal gagal (setelah pengobatan 1 hari)

   Radiologis:
   1. Adanya pneumoperitoneum (indikasi mutlak)
   2. Adanya dilatasi loop usus yang menetap selama >24 jam
   3. Udara dalam usus dengan tanda-tanda asites
   4. Adanya tanda peritonitis pada umumnya

   Laboratorium
   1. Trombositopenia berat (100.000/mm3)
   2. Parasentese rongga peritoneum positif adanya kemungkinan gangrene usus yaitu
      bila dapat dikeluarkan cairan rongga peritoneum 0.5 cc atau lebih berwarna
      coklat dan berisi bakteri pada pemeriksaan apus


XV. SPINA BIFIDA
   Kelainan ini terjadi pada gangguan penutupan dari kanalis spinalis yang
   menyebabkan gangguan medulla spinalis, meningen atau kedua-duanya.


   Pendekatan diagnosis
    Menentukan jenis spina bifida:
    Spina bifida non sistika
        Sering terjadi di lumbosakral
        Sering dijumpai kelainan lain di daerah tersebut berupa hemangioma, rambut,
            lipoma,dimple atau sinus.
    Spina bifida sistika
        Menentukan jenis :
          Meningocele: tidak dijumpai defisit neurologi ,transiluminasi(+)
          Meningomyelocele: ada defisit neurologi, transiluminasi (-)
        Menentukan diagnosis
   Bila kiste ditekan ubun-ubun besar menonjol diagnosis pasti dengan eksplorasi bedah

   Pengobatan :
        Konservatif dengan kompres NaCl fisiologis dan antibiotika profilaksis
        Koreksi bedah


XVI. KELAINAN PADA SENDI DAN EKSTREMITAS
   1. Kontraktur Sendi
      Gambaran klinik :
      Terbatasnya gerakan aktif dan pasif dengan sedikit rasa sakit bila sendi besar
      digerakkan secara bebas serta gerakan terhenti oleh rintangan yang keras dan tak
      elastis. Persendian terfiksir dalam posisi fleksi atau ekstensi
      Penatalaksanaan :
      Konservatif dengan melakukan manipulasi peregangan atau pemasangan gips
      secara serial, dilanjutkan dengan pemasangan splin pada malam hari dan untuk
      berjalan dipakai brace sampai usia 6 tahun. Fisioterapi untuk jangka panjang
      dengan tujuan untuk mencegah deformitas lanjut.




                                          18
    2. Dislokasi sendi panggul
    Gambaran klinis
    Dislokasi sendi panggul dapat di tes dengan pemeriksaan
     Ortolani : bayi dibaringkan telentang dengan tungkai dan lutut 900. Tangan
        pemeriksa memegang tungkai bayi dengan jari tangan pada trokanter mayor dan
        tungkai diangkat untuk mengeluarkan kaput femoris dari posisi dislokasi, Secara
        bersaama-sama dan perlahan-lahan dilakukan abduksi tungkai. Disebut (+) bila
        pemeriksaan mendengar dan merasakan adanya gerakan kaput femoris
     Barlow : Satu tangan memegang panggul bayi dengan ibu jari pada simpisis
        pubis sementara jari-jari yang lain pada os koksigeus.Tangan yang lain
        memegang tungkai bayi dan dilakukan adduksi perlahan-lahan. Dislokasi akan
        terasa dengan keluarnya kaput femoris dan acetabulum ke arah posterior

    Pemeriksaan radiologis :
    Tidak rutin dilakukan pada bayi baru lahir. Dislokasi akan tampak lebih jelas setelah
    terjadi osifikasi pada epifise femur yaitu pada usis 3-4 bulan
    Penatalaksanaan :
    Immobilisasi sendi panggul dalam posisi adduksi selama 2-3 bulan. Secara sederhana
    dapat digunakan double napkins atau dapat dipasang abductions splint. Pada
    dislokasi sendi panggul yang kaku yang tidak berhasil dengan terapi konservatif
    dilakukan terapi operatif

    3. Talipes Equino varus
    Gambaran klinis :
    Kaki tertekuk ke dalam dengan belakang dalam posisi talipes dan kaki depan dalam
    posisi equinovarus
    Penatalaksanaan :
    Deformitas yang ringan dapat dikoreksi dengan peregangan pasif dan fisioterapi.
    Pada deformitas yang lebih berat dilakukan pemasangan gips secara serial,
    dilanjutkan dengan fisioterapi. Kelainan yang tidak dapat dikoreksi secara konservatif
    dilakukan terapi operatif. Operasi sebaliknya dilakukan sebelum anak berjalan atau
    sebelum usia 2 tahun.


XVII. HIDROP FETALIS
   Gejala klinis:
    Anemia, pucat
    Tanda dekompensasi kordis (hepatosplenomegali, kesulitan bernafas)
    Edema anasarka, kolaps sirkulasi
   Biasanya meningggal dalam kandungan atau beberapa saat setelah lahir
   Etiologi :
    Hematologik             : Rh Inkompatibility, alfa thalasemia, feto-fetal tranfusi
    Infeksi                 : Lues, toxoplasmosis, leptospirosis
    Kardiovascular : CHF, a-v malformasi, trombosis vena umbilikalis
    Tumor                   : Neurobalstoma congenital, chorioangioma
    Pulmoner                : Hipoplasia, limfangiectasis pulmoner
    Hepatorenal           : Hepatitis,nefrosis, trombosis vena renalis, atresia
                             uretra
    Metabolik               : Maternal DM, gaucer disease
    Idiopatik




                                           19
   Penatalaksanaan :
   Konseling genetik dan diagnosis prenatal diterangkan kepada keluarga untuk
   menghindari terjadinya hidrop fetalis.


XVIII. FETUS HARLEQUIN
   Etiologi :
   Penyebab pasti belum diketahui, bersifat herediter

   Manifestasi klinik:
   Kulit bayi keras seperti pohon atau mirip kulit buaya, kakunya kulit tampak terutama
   di sekitar mata, telinga kecil atau tidak terbentuk, demikian juga kuku tidak
   terbentuk, Biasanya timbul sejak lahir dan hampir selalu mengenai seluruh
   permukaan tubuh. Tampak pembentukan skuama yang tebal dan pecah-pecah pada
   seluruh tubuh.

   Diagnosis:
   Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan histopatologi

   Penatalaksanaan
   Penatalaksanaan sangat sulit dan sampai saat ini belum ada pengobatan yang efektif.
   Prinsip pengobatan:
   Mencegah seringnya infeksi pada kulit dan paru
    Pengobatan topikal dengan lanolin
    Pengobatan sistemik dengan menggunakan etinoid sisntetik, etertinat dan
       acitretin
    Pengobatan suportif : pemberian nutrisi adekuat, menjaga keseimbangan cairan
       dan elektrolit, pemberian oksigen dan inkubator.

XIX. LUKA BAKAR
     Diagnosis:
     Luas luka bakar adalah prosentase dari luas permukaan tubuh Menurut rule of
     nine’s
          Perineum                                       :1%
          Kepala,muka, leher               2 x 45 %      : 9%
          Ekstremitas superior             2x9%          : 18 %
          Dada,perut depan/belakang        2 x 18 %      : 36 %
          Ekstremitas inferior             2 x 18 %      : 36 %

     Kedalaman luka bakar :
         Derajat Satu         :   hanya epidermis
         Derajat dua          :   sampai koreum
         Derajat tiga         :    keseluruhan ketebalan kulit mengalami kerusakan



 Pengobatan :
   1. Resusitasi elektrolit
       Formula Evans, 1 ml whole blood/kgbb dikalikan luas luka bakar dan 1 ml
          saline/kgbb dikalikan luas luka bakar dan ditambah glukosa 5 %
       Formula Brooke : jumlah cairan yang diperlukan
           Elektrolit : 1.5 ml/kgbb dikalikan luas luka baker



                                           20
           Koloid      : 0.5 ml/kgbb dikalikan luas luka baker
       Pemberian elektrolit dan koloid diberikan dalam 24 jam pertama, 8 jam pertama
       separo kebutuhan dan 16 jam kemudian sisanya
   2. Pengobatan lokal:
        perawatan tertutup
        perawatan terbuka
        gabungan keduanyaa

       Syarat-syarat obat topikal
        tidak toksis
        mempunyai efek antibakteri cukup kuat dan luas
        dapat melunakkkan dan menembus scar

       Obat yang sering dipakai:
        Silver sulvadiazine (silvadine)
        Silver nitrat 0.5 ml/kgbb dalam bentuk kompres
        Mefenide asetat (sulfamylon)
       Bulla yang besar tidak boleh dipecahkan, cukup diaspirasi dengan jarum steril.
       Pada jaringan yang nekrotik dilakukan debridement

XX. ANOMALI ANOREKTAL
Insidens          : 1 ; 3000 kelairan
 Harus dicari kelainan lain dari vertebra, anal, cor, trakea,esophagus,
    ren, linfe.
 Klasifikasi :
     Anomali anorektal letak rendah : apabila ujung rektum terletak di bawah
         muskulus levaor ani.
     Anomali anorektal letak tinggi : apabila ujung rektum terletak di atas muskulus
         levaor ani.
 Diagnosis :
     Gejala klinik :
        Tidak dijumpai lubang anus
         Bila tanpa fistula, distensi abdomen segera timbul dalam 24 jam pertama dan
         diikuti dengan muntah berwarna kehijauan
         Bila dengan fistula, gejala distensi abdomen dan tanda-tanda obstruksi timbul
         lebih lambat
 Pemeriksaan radiologis
    Dilakukan foto “lithotomi” position dengan maker 24 jam setelah lahir
 Penatalaksanaan
    Anomali anorektal letak rendah dengan fistula dilakukan dilatasi dan selanjutnya
    dilakukan operasi definitive/rekonstruksi
    Anomali anoektal letak tinggi dengan atau tanpa fistula dilakukan kolostomi. Operasi
    definitive dilakukan pada usia 2 tahun atau bila berat badan bayi minimal 10 kg



XXI.   ATRESIA DUODENUM
       Merupakan suatu keadaan adanya obstruksi yang komplit dari lumen duodenum
      Insiden : 1/500-10.000 kelahiran
      Harus dicari kelainan seperti atresia esophagus, anomali anorektal, 25-30 %
       ditemukan pada sindroma Down
      Diagnosis:



                                           21
           Gejala klinik:
             Biasanya ibu dengan polihidramnion
             Muntah berwarna hijau
             Dinding abdomen biasanya skapoid karena tidak adanya gas/cairan yang
               masuk ke dalam usus dan kolon
           Pemeriksaan radiologis
             Pada foto polos yang terlihat gambaran gelembung ganda (double bubble
               appearance) dengan baris batas udara dan cairan yang jelas.
           Penatalaksanaan
             Suportif : pemberian cairan parenteral
                           Dekompresi lambung (gastric suction)
             Terapi bedah


XXII. OMFALOKEL
   Omfalokel merupakan hernia/protusi isi abdomen ke dasar tali pusat.
    Insiden : 1 dalam 5000 – 10.000 kelahiran , lebih sering pada prematur
    Gejala klinik :
        Isi abdomen yang keluar diliputi peritoneum tanpa kulit. Besarnya kantong
           tergantung dari isinya, bila isinya hanya usus (kantong kecil), namun bila isi
           terdiri atas usus + hati + limpa (kantong besar). Tali pusat di ujung kantong.
           Sering bersama dengan kelainan kongenital yang lain seperti kelainan
           kongenital jantung dan hernia difragmatika (25 %- 40 %)
    Terapi
       1. Konservatif :
            puasa, pasang pipa lambung
            makan parenteral
            kantong dioles dengan povidone iodine setiap hari sampai kantong
               menjadi keras dan kering, digantung dengan bantuan kaos kaki.
       2. Operasi
            operasi segera bila terjadi rupture
            bila tidak terjadi rupture maka operasi dilakukan setelah kantong menjadi
               keras dan kering tergantung pada berat badan bayi dan adanya kelainan
               kongenital yang lain

XXIII. TERATOMA
       Merupakan neoplasma yang mengandung jaringan yang berasal dari ektoderm,
       mesoderm, dan entoderm
        teratoma sering terdiagnosis pada waktu lahir dan lebih kurang 50% dalam
          satu bulan pertama kehidupan
        lebih dari 50% berlokasi di daerah sakrokoksigeal lebih jarang ditemukan di
          retroperitoneal
        teratoma biasanya besar, kistik atau padat namun dapat pula merupakan
          campuran bagian kistik dan padat



        Teratoma Sakrokoksigeal
         Insiden 1 dalam 40.000 kelahiran
         Sering ditemukan pada waktu lahir
         Biasanya tampak sebagai tumor yang besar berkapsul dan berlobus serta
           menonjol ke luar dari koksik




                                           22
           Terapi utama berupa pembedahan dan diusahakan pengangkatan tumor yang
            menyeluruh
           Pada pengangkatan yang tidak lengkap perlu diberi radiasi dengan kombinasi
            kemoterapi


XXIV. EMPYEMA TORAKS
Etiologi
1) Bakteri aerob: Staphylococcus, H. influenza, Staphylococcus pyogenes
                  P.aerogenosa, E. Coli, Straptococcus viridans, S. pneumonia
2) Bakteri anaerob : Fusobakterium, Eubacterium, Peptococcus, Lactobacillus,
             Bacteroides melaninogenicuas, Bacterioides fragilis, Pepto
             streptococcus, Vielonella.
3) Organisme lain: Aspergilus fungiutus, Actinomycosisi, Sterptomycosis,
             Blastomycosia

Mekanisme terjadinya efusi di dalam rongga pleura:
1. Peningkatan tekanan hidrostatik pada sirkulasi mikrovascular pembuluh darah.
2. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah akibat suatu proses peradangan.
   Penjalaran penyakit
    perkontinuitatum, misalnya pada bronkopneumoni,
    Secara hematogen dari fokus lalin
    infeksi dari luar dinding toraks yang menjalar ke dalam dinding pleura, mis: pada
       trauma, dan abses dinding toraks.


Manifestasi klinis
   Demam, kesulitan bernafas, malise, nafsu makan menurun, berat badan menurun

Pada pemeriksaan fisik:
   Toraks asimetris bagian yang sakit menonjol pergerakan nafas tertinggal sela iga
   melebar , perkusi pekak, jantung dan mediastinum terdorong ke sisi yang sehat,
   bising nafas melamah.

Radiologis
   Foto toraks dijumpai perselubungan homogen , penebalan pleura, sinus kostofrenikus
   menghilang, sela iga melebar

Diagnosis :
   Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinik, foto toraks, dan pungsi pleura

Pengobatan :
   Prinsip pengobatan pada empiema adalah dengan mengeluarkan pus sebanyak-
   banyaknya dengan pemasangan WSD
   Antibiotika diberikan Cefurox 50 mg/kgbb sebelum hasil kultur datang. Terapi
   diberikan selama 7-10 hari. Dosis disesuikan dengan berat badan dan umur.


XXV. MENGATASI PROBLEM LAKTASI
  1. Asi kurang
      Dilakukan peragaan cara merawat payudara dan dinasehati agar hanya
      menggunakan ASI saja pada bayinya.
  2. Puting susu lecet



                                           23
      Merangsang payudara agar ASI mengalir dengan lancar
      Keluarkan ASI sedikit dengan tangan sebelum menyusui
      Mulai menyusui dengan payudara yang sedikit lecetnya
      “Latch on” yang benar sebagian aerola harus masuk mulut bayi.
      Olesi putting susu dengan ASI untuk mempercepat sembuhnya lecet dan
       menghilangkan rasa pedih setiap habis menyusui
      Biarkan putting susu kering sendiri di udara terbuka

   Nasehat perawatan lainnya
    Letakkan es yang dibungkus handuk bersih di sekeliling putting susu untuk
     mengurangi rasa sakit
    Lihat mulut bayi, bila curiga moniliasis diobati, pikirkan juga moniliasis pada
     putting susu ibu yang lecet. Bila perlu dilobati dengan anti jamur

   Nasehat pencegahan
    Jangan memberikan payudara dengan sabun atau krem yang dapat
    menyebabkan putting susu kering sehingga mudah lecet

3. Mammae bengkak
Mammae bengkak berarti sakuran susu terganggu sehingga ASI yang dihasilkan lebih
banyak dari yang dihisap bayi. Untuk mengatasinya:
 Teknik menyusui yang benar
 Tidak memberi “ prelakteal feeding” makanan tambahan terlalu dini
 Apabila bayi pilek ibu diajarkan cara membersihkan lubang hidung
 Bila mulut sakit sariawan/ moniliasis beri pengobatan
 Bila ASI kurang lancar, menyusui lebih sering dan lama serta pada waktu
   menyusui posisi kepala bayi lebih didekatkan ke payudara. Tangan ibu menahan
   kepala bayi agar tetap pada posisinya. Dengan demikian ASI dapat keluar dengan
   sempurna.
 Bila mammae terlalu keras, keluarkan ASI sedikit sebelum menyusui, baru
   kemudian disusukan
 Berikan lebih banyak kesempatan pada ibu untuk merawat bayinya sendiri agar
   lebih mengenal sifat dan cirinya.

4. Mastitis
 Ibu dianjurkan agar tetap menyusui bayinya agar tidak terjadi stasis dalam
   payudara yang dapat menyebabkan terjadinya komplikasi abses
 Ibu diberi antibiotika dan bila perlu analgetik.
 Bila mungkin ibu dianjurkan melaksanakan senam laktasi yaitu menggerakkan
   lengan secara berputar sehingga persendian bahu ikut bergerak ke arah yang
   sama. Gerakan ini akan membantu memperlancar peredaran darah limfe di
   daerah payudara sehingga stasis dapat dihindarkan yang berarti mengurangi
   terjadinya abses payudara.

5. Puting susu terbenam
Kelainan putting susu tersebut seharusnyaa sudah dapat diketahui sejak hamil atau
sebelumnya. Sehingga dapat diperbaiki dengan melakukan gerakan menurut Hoffman
yaitu dengan meletakkan kedua jari telunjuk atau ibu jari di daerah aerola mammae.
Kemudian dilakukan urutan menuju ke arah berlawanan. Perlu diketahui bahwa tidak
semua kelainan tersebut dapat diatasi dengan cara Hoffman. Cara lain adalah dengan
bantuan alat untuk menarik putting susu (nipple puller)




                                      24
    Bila dengan cara ini juga tidak membantu dianjurkan untuk mengekuarkan ASI nya
    dengan manual/pompa. Kemudian diberi dengan sendok/gelas/pipet

    6. Bayi tidur terus
     Buka pakaiannya
     Bangunkan bayi dengan frekuensi sesering mungkin
       Hindarkan pemakaian sedatif pada ibu dan anak

XXVI. PERDARAHAN PARU
       Perdarahan paru adalah terdapatnya darah di saluran nafas yang disertai
perburukan klinis penderita dan bukan disebabkan oleh trauma.

Insiden :
    Diperkirakan 1,2% dari seluruh kelahiran hidup, 6,4% dari bayi dengan berat lahir
    <1700 gram dan 9,5% dari bayi baru lahir dengan masa gestasi <30 minggu.

Etiologi :
    a. Meningkatnya tekanan kapiler paru : gagal jantung, hipoksia, transfusi,
pemberian lemak IV, meningkatnya aliran darah paru, hiperplasia paru.
    b. Menurunnya tekanan onkotik intravaskular : prematuritas, hidrops, overload
cairan, hipoproteinemia (kehilangan melalui usus, ginjal, malnutrisi).
    c. Menurunnya aliran limfe : edema jaringan intersisial paru, fibrosis paru,
CVP meningkat.
    d. Meningkatnya permeabilitas kapiler paru : sepsis, emboli, keracunan oksigen.

Patogenesis :
    Peningkatan tekanan kapiler paru / menurunnya tekanan onkotik intravaskular /
menurunnya aliran limfe / meningkatnya permeabilitas kapiler paru  peningkatan cairan
intersisial paru  distensi  kerusakan sel endotel & alveolar paru  cairan dan darah
masuk ke alveoli  perdarahan paru.

Gejala Klinis:
    Ada 2 gejala klinis yaitu perburukan yang tiba-tiba dan bersamaan dengan sekresi
darah dari jalan nafas bayi melalui ETT atau dari laring hingga mulut pada bayi yang
tidak diintubasi.
     Bayi biasanya hipotensi, pucat, tampak lemah, dan tidak respon.
     Gejala gagal jantung : takikardi (HR >160 kali/menit), terdengar murmur pada
         DAP, hepatosplenomegali, irama gallop, edema perifer
     Dispnu, sianosis, pada auskultasi paru didapatkan krepitasi yang meluas dengan
         menurunnya suara nafas.

Diagnosis Banding :
   Dibedakan dengan perdarahan dari ETT akibat trauma. Pada perdarahan paru terjadi
   perburukan klinis yang tiba-tiba tanpa sebab yang jelas selama 1-2 jam sebelum
tampak perdarahan dari jalan nafas.

Diagnosis
    Hematologi : Hb turun menjadi < 10 g/dl, tidak ada perubahan spesifik pada
       lekosit.
    Biokimia : terdapatnya problem yang sama dengan SGN berat hipoglikemia,
       hipokalsemia, dan gagal ginjal.
    Foto Thoraks : tampak putih pada seluruh lapangan paru.



                                           25
      Bakteriologi : skrining terhadap sepsis harus dilakukan secepatnya, lumbal
       pungsi.
      Analisis gas darah : PaCO2 mungkin meningkat hingga >10kPa (75 mmHg) yang
       merupakan petunjuk asidosis metabolik dengan defisit basa minimal 10 mmol/L.
       Kombinasi asidosis metabolik dan asidosis respiratorik menyebabkan pH <7,1.
       Monitor gas darah dilakukan dengan memasang kateter arteri umbilikalis.

Penatalaksanaan :
Bertujuan untuk mengontrol edema paru dan gagal jantung.
     Keseimbangan cairan : input cairan sebaiknya direstriksi menjadi 60-80
        ml/kgBB/24 jam, khususnya jika ada DAP. Tekanan darah dipertahankan dengan
        infuse darah, tetapi terutama dengan menggunakan inotropik.
     Diuretik : bayi dengan gagal ventrikel kiri dan edema paru. Furosemid 1
        mg/kgBB sebaiknya diberikan secepatnya sesudah perdarahan dan diulang jika
        perlu untuk mengobati overload cairan.
     IPPV : seluruh bayi dengan perdarahan paru sebaiknya diintubasi dan diberi
        bantuan ventilasi mekanik dengan PIP > 30 cm H2O dan PEEP yang tinggi
        (hingga 6-7 cm H2O)
     Surfaktan : walaupun surfaktan mungkin mencetuskan perdarahan paru, sesudah
        stabilisasi bayi dengan IPPV sesudah perdarahan, dosis tunggal surfaktan akan
        memperbaiki oksigenasi.
     Antibiotika : sepsis diyakini sebagai penyebab perdarahan, antibiotika sebaiknya
        dimulai sesudah kultur. Jika bayi sudah menerima antibiotika lebih baik diganti
        dengan antibiotika yang melindungi terhadap Staphylococci dan spesies
        Pseudomonas.

Komplikasi
    - BPD merupakan sekuele tersering
    - GMH/IVH, perdarahan serebral 2 kali lipat pada bayi yang menderita
perdarahan paru.
    - Kejang meningkat pada bayi dengan perdarahan paru.

XXVII.HIGROMA KISTIK (LIMFANGIOMA KISTIK)

Batasan:
 Kantung abnormal ,unilokuler atau multilokuler, berisi cairan diakibatkan oleh
suatu blockade / sumbatan system limfatik

Etiologi:
Belum diketahui secara pasti, tapi kemungkinan disebabkan oleh faktor-faktor
berikut:
1.Faktor lingkungan:
  -infeksi virus (Parvovirus)
  -maternal alcohol abuse
2.Faktor genetik:
  -anomali kromosom:-sindroma Turner (45-50%)
                       -trisomi 21
                       -trisomi 18
                       -trisomi 13
                       -trisomi 22



                                          26
  -single gen anomali:-Familial pterigium colli
                      -Multiple pterigium syndroma
                      -Cowchock syndroma
                      -Roberts syndroma
3.Faktor yang tidak diketahui sebabnya:
                      -Noonan’s syndroma
                      -Polysplenia
                      -Gonadal dysgenesis

Patogenesis:
1.obstruksi vasa limfatika jugularis (menyebabkan terputusnya hubungan antara
 saccus limfatikus jugularis dengan vena jugularis interna)
2.kegagalan pembentukan jaringan limfatik pada masa embryonal sehingga
  terbentuk jaringan limfatik yang abnormal
3.pertumbuhan jaringan limfatik abnormal yang terjadi pada minggu 9-16 usia
  kehamila yang menyebabkan terbentuknya kista yang berisi cairan limfa

Bentuk klinik:
Berdasarkan lokasi:
1.higroma kistik colli, terbanyak:75 %
2.higroma kistik axilla:20 %
3.higroma kistik retroperitoneum, abdominal dan viscera: 2 %
4.higroma kistik limb (eksrtemitas), tulang, dinding dada ,skrotum dan
mesenterium:1 %

Diferensial diagnosis:
1.Cervical teratoma
2.Limb body wall complex
3.Higroma kistik colli
4.Meningomyelocele
Prognosis:
1.Jika higroma kistik menghilang saat usia gestasi 18-20 mgg dan tidak terdapat
   kelainan kromosom, maka 54-80 % prognosis baik.
2.Jika sampai umur kehamilan 20 mgg tdak menghilang, prognosis baik hanya 2-
9%
3.Semakin kecil ukuran higroma kistik, maka makin besar kemungkian untuk
  menghilang
4.Bila terdapat ligohidramnion atau polihidramnion prognosis menjadi buruk
5.Jika terdapat hidrop foetalis, maka 22% -76% akan terjadi Intra uterine fetal
 death (IUFD)

Terapi:
1.Jika sudah terdiagnosis (saat prenatal), partus harus dilakukan di center
kesehatan dan     didampingi seorang neonatologist berhubumgan dengan
komplikasi neonatal (airway obstruction)
2.Partus harus dilakukan secara secsio caesaria (jika higroma colli besar) dan
diobservasi oleh neonatologist.
3.Konsul ke Bedah anak



                                        27
Hal-hal yang harus diperhatikan bila higroma kistik terdiagnosis saat
prenatal:
1.Anamnesa yang teliti untuk mencari tahu riwayat penyakit keluarga dan
kemungkinan adanya herediter sindrom
2.USG yang teliti untuk mencari penyebab higroma colli
3.Amniosintesis atau CVS(Chorionik Villus Sampling) untuk mencari
abnormalitas kromosom
4.USG secara periodik untuk mengevaluasi adanya resolusi higroma kiistik atau
perkembangan kelainan lainnya;\
5.Jika janin meninggal intra uterin, sebaiknya dilakukan autopsi untuk
menentukan faktor resiko kehamilan berikutnya.




                                      28
Lampiran I : ALGORITME RESUSITASI BAYI BARU LAHIR


                       BAYI LAHIR


                 -Tidak ada mekonium                                                 Perawatan Rutin
                 -Bernafas atau menangis?
                                                                           ya        -Beri kehangatan
                 -Tonus otot baik?                                                   -Bersihkan jalan nafas
                 -Cukup Bulan?                                                       -Keringkan
                                                                                     -Nilai warna kulit

  30 detik
                                 tidak
              -Jaga hangat
              -Posisi, bersihkan jalan nafas *(bila perlu)
              -Keringkan,rangsangan, reposisi
              -Berikan O2 (bila perlu)


                                                                       Bernafas         Perawatan suportif


               Evaluasi napas, denyut jantung dan warna kulit
                                                                         FJ>100
                Apnea atau FJ<100                 - sianosis

                                                     -Beri tambahan O2

                                                     -Tetap sianosis
                 *Ventilasi Tekanan Positif (VTP)                        Ventilasi       Perawatan Lanjut
   30 detik

                  FJ<60             FJ>60


  30 detik                           *VTP
                                  Kompresi Dada


                       FJ<60

              *Berikan epinefrin
               (dapat diulang tiap 3-5 menit)




                                                29
Lampiran 2 a :




Keterangan :
Kadar bilirubin yang digunakan adalah bilirubin total. Jangan dikurangi dengan bilirubin
direk.
Faktor risiko adalah : penyakit hemolitik isoimun, def G6PD, asfiksia, letargi yang nyata,
instabilitas suhu, sepsis, asidosis atau kadar albumin < 3 g/dl (bila diukur)
Untuk bayi usia 35-37 6/7 minggu bila keadaan umum bayi dapat dipertimbangkan kadar
bilirubin pada garis risiko sedang, trutama pada usia yang lebih mendekati batas 37 6/7.
Fototerapi dapat dilakukan sampai kadar bilirubin total 2-3 mg/dl dibawah garis
pedoman.




                                            30
Lampiran 2 b




Keterangan :
Garis putus-putus pada 24 jam pertama menunjukkan ketidakpastian tinggi oleh karena
keadaan klinis dan respon terhadap fototerapi yang sangat bervariasi.
Transfusi tukar dianjurkan segera dilakukan bila bayi menunjukkan tanda-tanda
ensefalopati bilirubin akut atau bila kadar bilirubin total ≥ 5 mg/dl diatas garis pedoman.
Faktor risiko adalah : penyakit hemolitik isoimun, def G6PD, asfiksia, letargi yang nyata,
instabilitas suhu, sepsis, asidosis .
Hitung kadar albumin serum dan hitung rasio bilirubin / albumin.
Gunakan kadar bilirubin total.




                                            31

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:3788
posted:4/27/2010
language:Indonesian
pages:31
Description: Standar Penatalaksanaan Anak di RSMH Palembang