Docstoc

SP IRD

Document Sample
SP  IRD Powered By Docstoc
					STANDAR PENATALAKSANAAN


TUNJANGAN HIDUP DASAR
A. Definisi
   Tindakan utama dalam intervensi dini pada kegawatan
B. Tindakan
   1. Periksa respon
          Stimulasi dan berikan pertanyaan
           Bayi atau anak yang sudah dicurigai cidera medulla spinalis tidak boleh
           diguncang
   2. Jika ada respon dengan jawaban atau gerakan:
          Letakan anak dalam posisi aman (cegah bahaya lebih lanjut)
          Periksa keadaannya dan minta bantuan jika dibutuhkan
       Jika tidak ada respon
              Minta bantuan
              Buka jalan napas dengan metode head tilt dan chin lift:
                   Letakan tangan penolong di dahi penderita dan tekan perlahan ke
                       arah posterior
                   Pada saat yang sama letakan jari tanganyang lain pada tulang
                       rahang bawah tepat diujung dagu dan dorong keatas untuk
                       membuka jalan napas. Jangan menekan jaringan lunak dibawah
                       dagu karena dapat menyumbant jalan napas
              Jangan melakukan tindakan head tilt jika diduga trauma pada leher. Jika
               diduga trauma pada leher dilakukan tindakan dengan metode jaw thrust
               untuk membuka jalan napas
    3. Sambil mempertahankan jalan napas terbuka lakukan parasat look, listan, dan feel
       untuk memeriksa pernapasan dengan meletakan muka pemeriksa di muka
       penderita sambil melihat gerakan dinding dada.
              Lihat gerakan dinding dada dan gerakan abdomen pada bayi
              Dengar suara napas dari mulut dan hidung penderita



                                                                                     1
        Rasakan gerakan udara pada pipi
        Parasat ini dilakukan selama 10 detik
4. Jika anak tidak bernapas:
        Bersihkan sumbatan jalan napas bila ada
        Berikan 2 bantuan napas untuk melihat gerakan dinding dada
        Sambil memberikan bantuan napas periksa refleks batuk
 Untuk anak:
        Kepala dalam posisi head tilt dan chin lift, berikan oksigen melalui balon
         resusitasi (bagging dengan aliran o2)
        Bila balon resusitasi tidak ada:
              Jepit hidung dengan jari telujuk dan ibu jari
              Buka mulut sedikit sambil mempertahankan posisi chin lift
              Ambil napas dan lakukan pernapasan mouth to mouth
        Pemberian napas dilakukan diberikan selama 1-1,5 detik sambil
         memperhatikan gerakan dinding dada
        Tindakan dapat diulang sampai 5 kali (minimal 2 kali)
  Untuk bayi:
        Kepala dalam posisi head tilt dan chin lift, berikan oksigen melalui balon
         resusitasi ( bagging dengan aliran O2)
        Bila balon resusitasi tidak ada:
         Bantuan napas diberikan dengan mulut penolong menutupi lobang hidung
         dan mulut penderita. Bila sulit coba dengan cara mouth to nose sambil
         menutup mulut penderita untuk mencegah keluarnya udara yang diberikan
        Pemberian napas dilakukan lebih dari 1-1,5 detik
        Tindakan dapat diulang sampai 5 kali (minimal 2 kali)


 Jika pemberian napas tidak efektif maka curiga adanya sumbatan jalan napas
        Periksa mulut penderita dan hilangkan sumbatan bila ada
        Periksa apakah head tilt dan chin lift yang diberikan adekuat atau tidak
        Pemberian bantuan napas sampai 5 kali dan paling sedikit 2 kali



                                                                                    2
      Jika masih tidak berhasil, maka dilakukan tindakan untuk menghilangkan
       sumbatan jalan napas
5. Periksa tanda sirkulasi
      Lihat semua gerakan yang ada termasuk batuk dan pernapasan
      Periksa denyut nadi
            Anak-anak: pada denyut karotis di leher
            Bayi: pada denyut a. Brachialis pada bagian dalam lengan atas
      Periksa selama lebih dari 10 detik
6. Jika teraba denyut nadi:
      Berikan bantuan pernapasan, jika mungkin sampai anak bernapas spontan
      Periksa kembali denyut nadi selama lebih dari 10 detik
      Jika anak mulai bernapas spontan secara normal tertapi masih tidak sadar,
       letakan dalam posisi pulih. Berikan bantuan napas kembali bila napas
       berhenti kembali.
Jika tidak teraba denyut nadi:
      Berikan kompresi dada dan bantuan napas
Untuk anak:
      Pijatan dilakukan dengan pangkal telapak tangan terbuka pada ½ tulang
       dada dengan kedalaman ½-1/3 tebal dinding dada pada usia kurang dari 8
       tahun
      Pijatan dilakukuan kira-kira 100 kali/menit
      Setelah 5 kali pijatan berikan sekali bantuan napas (5:1)
Pada usia lebih dari 8 tahun kompresi dada dilakukan dengan telapak tangan
terbuka dibantu tangan lain diatasnya
      Lokasi dilakukan pada 1/3 bawah dinding dada dengan kedalaman ½-1/3
       tebal dada
      Pijatan dilakukuan kira-kira 100 kali/menit
      Setelah 15 kali pijatan berikan 2 kali bantuan napas (15:2)
Untuk bayi:
      Pijatan dilakukan dengan ibu jari atau dua jari pada 1/3 bawah sternum
       dengan kedalaman ½-1/3 tebal dada


                                                                               3
      Pijatan dilakukuan kira-kira 100 kali/menit
      Setelah 5 kali pijatan berikan sekali bantuan napas (5:1)
7. Lanjutkan resusitasi sampai:
      Penderita menunjukan tanda kehidupan (napas spontan dan denyut nadi
       ada)
      Bantuan datang
      Penolong menjadi lelah


Posisi pulih:
Posisi anak yang tidak sadar dengan jalan napas yang bersih dan bernapas spontan
diletakan dalam posisi pulih. Ini untuk mencegah sumbatan jalan napas akibat
jatuhnya lidah ke belakang dan mengurangi resiko aspirasi isi lambung. Secara
prinsip psisi pulih adalah sebagai berikut:
      Anak dalam posisi true lateral
      Paisis harus stabil dengan mamberikan ganjalan pada punggung penderita
      Cegah adanya tekanan pada dinding dada
      Observasi jalan napas mudah dilakukan


Sumbatan jalan napas.
Intervensi dilakukan jika pernapas tidak efektif dan tidak adekuat
1. Lakukan tindakan block blow sampai 5 kali (pada bayi dan anak kecil)
      Pegang anak dalam posisi tekungkup kepala lebih rendah diatas lengan
       bawah. Topang dagu dan leher dengan lengan bawah dan lutut penolong
      Tangan lainnya melakukuan pukulan punggung diantara kedua tulang
       belikat secara hati-hati dan cepat sebanyak 5 kali
      Jika gagal lakukan dengan chest trusht
2. Lakukan chest trusht sampai 5 kali
      Anak dalam posisi telentang dengan kepala lebih rendah dari dada dengan
       jalan napas terbuka
      Berikan hentakan pada dada
            Tindakan ini mirip kompresi dada


                                                                              4
            Tindakan dilakukan kira-kira 20 kali/menit
3. Periksa mulut
      Setelah 5 kali block blow dan chest trusht periksa mulut penderita
      Secara hati-hati bersihkan benda asing yang terlihat
4. Buka jalan napas
      Kembalikan jalan napas dalam posisi head tilt dan chin lift (jaw trusht)
      Nilai kembali pernapasan
5. Jika anak bernapas
      Kembalikan anak dalam posisi pulih
      Observasi pernapasan
   Jika anak tidak bernapas:
      Berikan 5 kali bantuan napas
      Jika jalan napas masih tersumbat lakukan tindakan sebagai berikut:
   Untuk anak:
          Ulangi secara bergantian abdominal trusht dan chest trusht
             Abdominal trusht dilakukan dengan hentakan keatas pada
                 diapragma
             Lakukan dalam posisi berdiri pada anak sadar
             Pada anak tidak sadar dilakukuan dalam posisi telentang dengan
                 tangan diletakan ditengah abdomen bagian atas
          Lakukan sampai jalan napas berhenti atau napas spontan
   Untuk bayi:
          Abdominal trhust tidak direkomendasikan
          Tindakan dilakukan 5 kali back blow dan 5 kali chest trhust secara
           bergantian
          Alkukan sampai jalan napas bersih atau napas spontan




                                                                                  5
                 ALGORITME TUNJANGAN HIDUP DASAR

 Stimulasi dan periksa
        respon



 Buka jalan napas head
tilt, chin lift (jaw trhust)




  Periksa pernapasan           ada   Jika bernapas, letakan
   Look, listen, feel                  dalam posisi pulih



     Tidak ada
                                     Jika tidak ada gerakan dinding
                                                    dada:
                                               - periksa posisi jalan
 Bantuan pernapasan 2                                   napas
         kali                                 -berikan bantuan napas
                                                     sampai 5 kali
                                            Jika tidak berhasil:
                                     Dilakukan tindakanuntuk jalan
                                                   napas
Periksa sirkulasi, denyut
           nadi
  (maksimal 10 detik)




    Kompresi dada
5 kali kompresi : 1 kali                Lihat algoritma tunjangan
   ventilasi atau 100
  kompresi per menit




  Lanjutkan resusitasi



                                                                        6
                      ALGORITME TUNJANGAN HIDUP LANJUT

                               Algoritme tunjangan hidup
                                         dasar


                                  Ventilasi/oksigenasi



                               Pasang defribilator/monitor


                                       Nilai ritme




                                    Periksa nadi +/-

                                                              Fibrilasi
                           Selama resusitasi kardiopulmoner   ventrikel/ventrikel
     Fibrilasi                  Pasang: intubasi trakea      takikardi (-)
ventrikel/ventrikel                        Jalur intravena    Asistole: aktivitas
     takikardi                 intraosseus                    elektrik nadi
                                Periksa: posisi elektroda    kurang/(-)
                                Berikan: epinefrin tiap 3
                                   menit
                                Pertimbangkan antiaritmia
   Defibrilasi                  Pikirkan asidosis:
                                   pertimbangkan pemberian          epinefrin
                               bikarbonet
                                Koreksi penyebab:
                                   Hipoksia
                                   Hipovolemi
                                   Hiper/hipokalemia
    Resusitasi                     Hipotermi                      Resusitasi
kardiopulmoner 1                   Tension pneumotoraks       kardiopulmoner 3
      menit                        Tamponade                        menit
                                   Tromboemboli
                                   Komplikasi obat/toksis




                                                                                7
GAGAL NAPAS (RESPIRATORY FAILURE)


1. Definisi
   Suatu keadaan dimana kecepatan pertukaran gas antara atmosfir dan darah tidak dapat
   mencukupi kebutuhan metabolik tubuh


2. Etiologi
   Penyebab gagal napas tersering pada anak antara lain:


A. Jalan napas ekstratorakal
Lesi didapat                                Lesi kongenital
      Infeksi                                     Stenosis subglotis
   Abses retrofaring                               Kista atau web subglotis
   Ludwig’s angina                                 Laringomalasia
   Laringotrakeobronkitis                          Trakeomalasia
   Trakeitis periotonsiler                         Vaskular ring
   Abses peritonsiler                              Higroma kistik
      Traumatik                                   Anomali kraniofasial
   Croup pasca ekstubasi
   Luka bakar
   Aspirasi benda asing
      Lain-lain
   Hipertropi tonsil/adenoid


B. JALAN NAPAS INTRATORAKAL DAN PARU-PARU
      ARDS
      Asma
      Aspirasi
      Bronkiolitis
      Bronkomalaisia


                                                                                    8
      Abnormalita valvular leftsided
      Kontusi paru
      Hampir tenggelam
      Pneumonia
      Edema paru
      Emboli paru
      Sepsis
C. POMPA NAPAS
      Dinding dada
       Evetrasi diafragma
       Herniadiafragmatik
       Flail chest
       Kiposkoliosis
      Otot napas
       Distropi muskuler dhucenne
       Sindroma guillain barre
       Myastenia gravis
       Trauma medula spinalis
       Atropi muskular spinal
      Kontrol sentral
       Infeksi SSP
       Apnea tidur
       Stroke
       Trauma otak
3. Manifestasi Klinis
   a. Gejala dan tanda keadaan yang akan menjadi tanda gagal napas
          Takipnea
          Upaya napas meningkat : retraksi berat, naps cuping hidung, adanya stridor
           danaps wheezing, napas merintih, head bobing pada bayi
          Kesadaran menurun, penurunan respon termasuk terhadap sakit, letargi,
           iritabel


                                                                                   9
        Pergerakan udara yang inadekuat: tangis lemah, pengembangan dada, bunyi
         napas menurun
   b. Gejala dan telah terjadi gagal napas
        Apnu dan gasping
        Bradicardi, perfusi sistemik menurun
        Hipoksemia meskipun telah diberikan suplemen oksigen ( pao2<75 mmhg
         dengan fio2 1,0)
        Adanya tanda peningkatan shunt intrapulmoner
        Peninglatan gradien oksigen alveolus/arteri (>25-50 mmhg)
        Penurunan rasio pao2/ fio2 (<180-240 mmhg)
        Peningklatan indeks oksigen (>10)
        Penurunan pergerakan udara, tangis lemah


4. PENATALAKSANAAN
   1. Membebaskan dan mempertahankan jalan napas tetap paten dengan posisi
        kepala yang benar dan bila perlu memasukan orofaringeal. Bila perlu dilakukan
        intubasi endotrakeal
   2. Pertahankan oksigenasi adekuat, diberikan oksigen untuk mempertahankan
        pao2>60 mmhg dan saturasi oksigen arteri > 90% (lihat tabel)
        Pemberian oksigen dapat diberikan nasal kanul: mampu memberikan fio2
        sebanyak 24%-44% dengan kecepatan aliran 1-6 L/menit, digunakan apabila
        hanya terjadi sedikit abnormalitas pertukaran gas dan hanya membutuhkan
        sedikit lebih banyak fio2. Sungkup memberikan O2 dengan flow dan fio2 yang
        lebih besar
   3. Mempertahankan ventilasi yang cukup ( harus dipertahankan agar ph arteri
        dapat tetap dalam kadar yang aman ). Apabila perlu, pernapasan dapat
        dilakukan dengan ventilasi mekanik
   4. Mengobati penyakit mendasari




                                                                                  10
Cara pemberian oksigen, aliran oksigen yang digunakan dan hasil fio2 yang didapat
 Cara pemberian                   Aliran oksigen yang diberi %FiO2 yang didapat
                                  (L/menit)
 Sistem aliran rendah
 Kanul nasal                      1/8-2 (bayi)                     24-44
                                  1-6 (anak)
 Sungkup       oksigen    tanpa 5-8*                               24-44
 reservoar
 Sungkup dengan reservoar         6-10*                            60-99
 Sistem aliran tinggi
  Sungkup venturi                 Sesuai aliran klep               24-50
  Nebulizer                       8-10                             30-100
  Oxygen tent                     15                               24-100
  Oxygen hood                     10-14                            24-40


     * dibutuhkan aliran oksigen > 5 L/menit untuk mengeluarkan udara ekspirasi dari
         sungkup




SYOK
1. Definisi
   Syok adalah sindrom klinik akibat kegagalan sistem sirkulasi dalam mencukupi
   kebutuhan nutrien dan oksigen dari segi pasokan maupun penggunaannya untuk
   metabolisme selular jaringan tubuh, sehingga terjadi defisiensi akut oksigen seluler
2. Etiologi Syok Menurut Jenisnya
   a. Syok Hipovolemik
       Jenis syok ini paling sering terjadi pada anak. Terjadi kekurangan volume
       intravaskuler. Aliran darah ke jaringan dan organ menurun
   b. Syok Kardiogenik
       Syok terjadi akibat disfungsi miokard. Terjadi kegagalan pompa jantung
   c. Syok Distributif


                                                                                          11
        Syok distributif disebabkan oleh maldistribusi aliran darah. Venous return
        menjadi tidak mencukupi oleh karena darah terkumpul di ekstremitas
        menyebabkan penurunan preload, akibat cardiac output turun dan perfusi jaringan
        berkurang
        Terdapat 3 jenis syok distributive:
        1. Syok anafilaktik, terjadi akibat adanya reaksi alegi, ditandai vasodilatasi akut
            nasif dan peningkatan permeabilitas kapiler
        2. Syok neurogenik, terjadi apabila tonus simpatis menjadi hilang, menyebabkan
            vasodilatsi arteri dan vena massif
        3. Syok septic, terjadi karena infeksi
     d. Syok Obstruktif
        Hambatan aliran darah ke jantung. Contohnya coartasio aorta
3. Manifestasi Klinis
     secara klinik syok terbagi 3 fase yaitu: fase kompensasi, dekompensasi dan
     irreversibel
Gejala klinis           kompensasi               dekompensasi         irreversibel
Kehilangan darah %      Sampai dengan 25         25-40                >40
Frekuensi jantung       Takikardi +              Takikardi ++         Takikardi/bradikardi
Volume nadi             Normal/menurun           Menurun +            Menurun ++
Pengisian kapiler       Normal/meningkat         Meningkat +          Meningkat--
Kulit                   Dingin, pucat            Dingin, mottled      Pucat mati
RR                      Takipnu +                Takipnu +            Sighing respiration
Tingkat kesadaran       Agitasi ringan           berkooperasi         Bereaksi       hanya
                                                                      kepada rasa sakit
                                                                      atau tidak responsif


4. Diagnosis
     1. Dari riwayat penyakit, riwayat kehilangan darah/trauma dapat diperoleh dugaan
        dan penyebab syok. Sebagian penyebab syok adalah syok hipovolemik karena
        dehidrasi atau perdarahan (trauma) diikuti oleh sepsis dan jantung bawaan
     2. Pemeriksaan klinis


                                                                                        12
      Tentukan status kardiovaskuler antara lain frekuensi jantung, kualitas nadi
      kecepatan kapiler (capilery refill), kaki tangan dingin, gangguan perfusi kulit
      (pucat, mottled, sianosis) dan tekanan darah
      Pengaruh gangguan sirkulasi terhadap organ vital lain yaitu frekuensi dan tipe
      pernapasan, tingkat kesadaran dan produksi urin


5. Penatalaksanaan
   Resusitasi awal
   1. Airway
      Bersihkan jalan napas bila ada sumbatan, letakan dalam posisi tubuh-leher-kepala
      dalam satu garis kesatuan
   2. Breathing
      Berikan oksigen (fio2 100%) , bila perlu ventilatory support
   3. Circulation
      Pasang akses vaskuler secepatnya untuk resusitasi cairan dan berikan cairan
      kristaloid 10-20 cc/kgbb atau koloid sebanyak 5-10 cc/kgbb
Pemantauan awal
   1. Nilai respon penderita terhadap pemberian fluid challenge (loading) dengan
      memantau status kardiovaskuler/tanda vital dan perfusi perifer
   2. Pasang kateter urin untuk menilai respon perbaikan sirkulasi dengan memantau
      produksi urin
   3. Ambil pemeriksa urin darah cito untuk darah tepi, analisa gas darah, kadar
      glukosa dan elektrolit ( bila perlu kultur, resistensi dan golongan darah)
Resusitasi lanjutan
   1. Bila syok teratasi penderita dikirim ke bangsal sesuai diagnosa
   2. Bila syok tidak teratasi penderita dikirim ke picu




                                                                                   13
ASMA BRONKIAL


Dasar diagnosis:
Batuk, dan sesalk napas yang proksimal dengan atau tidak ada faktor pencetus dan ada
atau tidak ada gejala atopi dalam keluarga, ekspirasi memanjang dan wheezing ekspirasi
Penatalaksanaan:
   Mencari dan menghindari faktor pencetus untuk itu perku kerjasama dengan orang
    tua penderita
   Mencegah serangan asma dengan pemberain obat untuk mempertahankan sel-sel
    mediator tidak pecah. Obat-obat yang dipakai adalah sodium kromoglikat dan
    ketotifen. Bila serangan diduga akibat faktor elergi dan serangan lebih dari 3 kali
    dalam sebulan diberikan ketotifen dosis 0,025 mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis diberikan
    selama 6 bulan atau lebih
   Pengelolaan serangan akut/status asmatikus berikan ventolin nebulizer (0,5-1 ampul)
    serangan ringan (1x nebulisasi) -> pulang dengan obat oral (pulvus asma)
    Serangan sedang (2-3x nebulisasi) -> rawat sehari -> oksigen, steroid oral, tiap 2 jam
    nebulisasi, nilai 8-12 jam:
            Bila perbaikan -> pulang
            Bila gagal -> rawat bangsal, pasang IVFD
    Serangan berat (3x nebulisasi) -> gagal -> status asmatikus -> rawat bangsal


PENATALAKSANAAN KEJANG
Tujuan pengelolaan kejang:
    1. Menjaminoksigenasi jaringan otak, serta fungsi jantung dan paru
    2. Mengatasi kejang secepat mungkin dan mencagah berulangnya kejang
    3. Memperbaiki gangguan metabolisme dan keseimbangan air dan elektrolit
    4. Mencegah komplikasi sistemik
    5. Mengenal dan mengobati penyebab naiknya suhu


Untuk mencapai tujuan tersebut diatas maka langkah pertolongan yang akan dilakukan
adalah:


                                                                                       14
1. Mengatasi dan mencegah berulangnya kejang. Semua anak yang dalam keadaan
   kejang pada saat pemeriksaan, apapunpenyebabnya, abat pilihan adalah diazepam,
   baik secara parenteral atau perektal
2. Perawatan umum
   Sementara mengatsi kejang, diberi pertolongan untuk memperbaiki dan menjamin
   oksigenasi otak dengan jalan:
   a. Memperbaiki oksigen
   b. Melonggarkan pakaian padat
   c. Membersihkan jalan napas, menghisap cairan dari rongga mulut dan saluran
       pernapasan
   d. Anak diletakan dalam posisi semi trendelenberg
   e. Untuk mencegah aspirasi sebaiknya posisi kepala anak dimiringkan
   f. Menurunkan suhu bila panas dengan cara:
        Meniupkan udara dingin
        Mendinginkan udara seitarnya
        Kompresi dengan es atau alkohol
        Antipiretik : parasetamol 30-50 mg/kgbb/hari dibagi dalam 3 dosis atau
           parasetamol 60 mg/tahun umur/kali, 3 kali sehari
3. Bila kejang lebih dari 30 menit, maka untuk mengatasi edema otak yang dapat
   terjadi diberikan kortikosteroid : deksametason 0,2-0,3 mg/kgbb/kali, 3 kali sehar,
   lama pemberian 4-5 hari. Bila ada tanda herniasi: pernapasan tidak teratur,
   bradipnu, kesadaran makin menurun, diberikan manitol 20% dengan dosis 0,25-1
   gram/kgbb/kali intravena. Diberikan dalam waktu ½ jam dapat diulang tiap 8 jam.
   Berikan cairan dengan kadar natrium yang rendah yaitu cairan 2:1 dan jumlah
   cairan pada hari pertama 70% dari kebutuhan maintenence. Kalau tidak tersedia
   manitol dapat juga diberikan gliserol 10% dengan dosis 0,5-1 gram?kgbb/hari
   peroral diberikan 4 dosis
4. Mencari dan mengobati penyebab panas
5. Setelah kejang teratasi penderita dikirim ke bangsal




                                                                                   15
Tingkat Keparahan

The paediatric triage assessment
    Penilaian awal : melihat cepat dan menilai keadaan pasien.
    Keluhan utama : dinyatakan oleh orang tua atau keluarga
    Validasi dan pemeriksaan fisiologi pada keluhan utama

a) evaluasi subjektif: onset, course dan duration
     kapan gejala bermula?
     Apa yg dikerjakan saat gejala muncul
     Berapa lama gejala
     Apakah gejala muncul dan hilang?
     Apakah gejala masih ada?
     Dimana letaknya? Jelaskan karakternya dan beratnya. Jika nyeri, gunakan skala
       nyeri.
     Apakah menyebar?
     Adakah faktor yang menyertai?
     Apakah mengganggu nafsu makan?
     Apakah mengganggu aktivitas harian?
     Apakah pernah dialami sebelumnya? Jika ya, apakah diagnosisnya?
     Apa yang dipikirkan orang tua atau pengasuh mengenai penyebab masalah atau
       eksaserbasi?

b) evaluasi Objectif :
    Beberapa bagian dapat dilewatkan jika pasien membutuhkan intervensi cepat.
     Physical appearance: colour, skin, activity.
     Degree of distress: severe distress, moderate distress, no acute distress.
     Emotional response: anxious, indifferent.
     Complete vital signs are necessary for triage level determination (Levels III,
       IV,V).
     Adakah indikasi child abuse atau neglected?
     Adakah tanda spousal abuse?
     General physical assessment.

c) Informasi tambahan
     Allergi?
     Obat yang telah diberikan?
     Riwayat keluarga atau penyakit yang serupa?
     Kontak infeksi atau perjalanan.
     Riwayat imunisasi
     Riwayat kesehatan terdahulu dan tumbuh kembang?




                                                                                       16
PaedCTAS berdasarkan waktu yang dibutuhkan untuk bereaksi intervensi agresif
(contoh: intubasi endotrakeal pada gagal nafas, bronkodilator untuk asma berat, cairan
intravena pada shock septik, dll.




"fractile response" adalah proporsi kunjungan pasien. Contoh : jika 85% pasien level III
dilihat dokter dalam 30 menit bulan sebelumnya, maka fractile response untuk periode
waktu ini adalah "85%."

Triage merupakan proses dinamik
Pasien berada dalam proses dinamis dimana dilakukan pemeriksaan dokter, pengobatan,
atau dalam ruang observasi menunggu respon pengobatan.
Sistem tiage mendefinisikan:
Sebagaimana cepat provider melihat pasien dengan tipe keluhan spesifik
Seberapa sering pasien diperiksa ulang dan informasi didokumentasikan
Bagaimana gejala dan tanda pasien dikategorikan
Tipe intervensi awal
Tipe pemeriksaan ulangan yang seharusnya dilakukan




Proses Keperawatan
Dibutuhkan proses triase yang cepat dan akurat karena pasien pediatri berpotensi
deteriorasi cepat.
Diagnosis tidak sepenting pengenalan deteriorasi cepat berdasarkan pemeriksaan fisik
dan riwayat penyakit. Penting untuk mengumpulkan informasi yang cukup dan
menentukan perawatan yang akan dilakukan segera.
     Interview 2-5 menit
     Pemeriksaan cepat, pakai segitiga PAT




                                                                                         17
      Riwayat triage
      Pemeriksaan fisik triage

1. Vital signs
harus diketahui nilai normal vital sign pediatri

2. Demam
Alasan masuk IGD terbanyak adalah demam




                                                   18
3. Skala nyeri
Skala nyeri tidak absolut, biarkan pasien mengemukakan intensitas nyeri menurut
mereka. Skala yang lebih intensif (8-10/10) mengharuskan provider mempertimbangkan
kebutuhan perawatan dan mengeksklusi penyakit berat dan serius.
Tachycardia, pucat, berkeringat dan tanda lain berguna untuk evaluasi nyeri.

4. Perencanaan
intervensi keperawatan, prosedur medik, dan protokol diagnostik.

5. Implementasi
menempatkan pasien pada area pengobatan yang efektif dan sebenarnya.

6. Evaluasi
semua pasien yang menunggu membutuhkan pemeriksaan ulangan.

7. Dokumentasi


Penilaian pada Pasien Paediatri
Anak sering dinilai tampak lebih sedikit mempunyai keadaan mengancam jiwa. Gejala
dan tanda anak sering subtle atau memburuk lebih cepat.
Pemeriksaan ulangan sangat penting untuk memastikan keselamatan pasien anak dan
dapat menenangkan orang tua.

Banyak masalah yang dapat dikategorikan dalam beberapa level tergantung respon
fisiologis anak.

Pemeriksaan fisiologis adalah:
a. pemeriksaan level kesadaran dan interaksi
b. respiratory rate dan usaha nafas
c. heart rate dan perfusi.

Triage assignment
Level I
Typical Level I : pasien mempunyai satu atau lebih tanda dan gejala:
     Non responsive
     Vital signs absent atau unstable
     Dehydration berat
     Severe respiratory distress
     Luka bakar mayor
     Septic shock
     Anaphylaxis
Initial impression
Kondisi yang mengancam jiwa
Anak atau bayi dengan kegagalan pernafasan, , shock, coma atau cardiopulmonary arrest.



                                                                                    19
Anak atau bayi yang membutuhkan pemeriksaan berkelanjutan dan intervensi dalam
menstabilkan keadaan vital.
Presenting conditions
Contoh : status epilepticus, severe respiratory distress, unconsciousness, luka bakar
mayor, trauma, perdarahan masif, dan cardiopulmonary arrest.
Physiologic assessment
    Unresponsive.
    Respiratory rate lebih atau kurang dari 2 standard deviations.
    Severe respiratory distress atau nafas inadequate.
    Heart rate lebih atau kurang dari 2 standard deviations
    Cardiac arrest atau shock atau cyanosis.

Level II
Initial impression
Kondisi yang berpotensi mengancam jiwa, dan membutuhkan intervensi medis yang
cepat.
     Semua anak dengan keadaan fisiologis tidak stabil seperti moderate respiratory
         distress, perubahan kesadaran, dehydration.
     Demam (<36°C or >=38.0°C ) pada pasien <3 bulan.
     Bayi usia <7 hari dengan penyakit serius
Presenting conditions
Contoh : sepsis, toxic ingestion, severe asthma, DKA, child abuse,
purpuric rash (petechiae), fractur terbuka, violent patients, testicular pain, lacerations atau
orthopedic injuries dengan neurovascular compromise, dental injury dengan avulsed
permanent tooth, penderita yang menerima chemotherapy atau pasien immunosuppressed
dengan demam.
Physiologic assessment
     Perubahan kesadaran atau lethargic.
     Respiratory rate kurang atau lebih dari 1 standard deviation
     Moderate respiratory distress atau stridor.
     Heart rate kurang atau lebih dari 1 standard deviation
     Capillary refill >4 detik.

Level III
Initial impression
Kondisi yang berpotensi berkembang menjadi masalah serius dan membutuhkan
intervensi emergensi
Berhubungan dengan ketidaknyamanan atau fungsi.
Bayi atau anak yang sadar, dengan perubahan tingkah laku dan vital sign minor
Anak demam usia 3-36 bulan dengan T >38.5°C.
Presenting conditions
Contoh: luka bakar derajat ringan, fractur, moderate asthma, pneumonia tanpa distress,
riwayat kejang, ide bunuh diri, ingestions requiring observation only, trauma kepala,
(sadar dengan muntah) , moderate dehydration, physical assault, alleged sexual abuse.
Physiologic assessment
     Bayi, tidak dapat menyusui


                                                                                            20
      Respiratory rate dalam batas normal.
      Mild respiratory distress or stridor.
      Heart rate dalam batas normal.
      Capillary refill >2 detik.

Level IV
Initial impression
Kondisi yang berhubungan dengan usia pasien, distress, atau potensi deteriorasi atau
komplikasi yang dapat dicegah dengan intervensi atau pengobatan. Tidak ditemukan
potensi deteriorasi cepat.
Presenting conditions
Contoh : asthma ringan, vomiting atau diarrhea tanpa dehidrasi, trauma minor, otitis
media
Physiologic assessment
     Tenang, tingkah laku masih baik, namun ada riwayat tingkah laku atipik.
     Respiratory rate dalam batas normal.
     Heart rate dalam batas normal.

Level V
Initial impression
Kondisi yang akut namun tidak urgen, dapat menjadi bagian dari proses kronis dengan
atau tanpa bukti deteriorasi.
Investigasi dan intervensi dari penyakit atau injuri dapat ditunda atau dirujuk.
Presenting conditions
Contoh: kongesti nasal, angkat jahitan
Physiologic assessment
     Tidak ada riwayat tingkah laku atipik.
     Respiratory rate dalam batas normal.
     Heart rate dalam batas normal.




                                                                                       21
Table 1. CTAS Level and Hemodynamic Stability

CTAS level                             Description
I (shock)                              Evidence of severe end-organ hypoperfusion :
                                       marked pallor, cool skin, diaphoresis, weak or
                                       thready pulse, hypotension, postural syncope,
                                       significant tachycardia or bradycardia,
                                       ineffective ventilation or oxygenation, decreased
                                       level of consciousness. Could also appear as
                                       flushed, febrile, toxic, as in septic shock.
II ( Hemodynamic compromise)           Evidence of borderline perfusion: pale, history of
                                       diaphoresis, unexplained tachycardia, postural
                                       hypotension, by history (feeling faint on sitting
                                       or standing) or suspected hypotension (lower
                                       than normal blood pressure or expected blood
                                       pressure for a given patient).
III                                    Vital signs at the upper and lower ends of normal
                                       as they relate to the presenting complaint,
                                       especially if they differ from the usual values for
                                       the specific patient.
IV                                     Normal vital signs


Table 2. CTAS level and Hypertension

CTAS level                    Blood pressure, mmHg              Other symptoms
II                            SBP > 220 or DBP > 130            Any symptoms
III                           SBP > 220 or DBP > 130            No symptoms
III                           SBP 220-200 or DBP 130-110        Any symptoms
IV                            SBP 220-200 or DBP 130-110        No symptoms
SBP = systolic blood pressure: DBP = diastolic blood pressure




                                                                                       22
Table 3. Temperature and CTAS level


Temperature, age, condition                                              CTAS level
Low temperature
0 – 3 mo (<36oC)                                                         II
> 3 mo ( 31 oC)                                                         II
> 3 mo (32 o – 35 oC)                                                    III

Elevated temperature
0-3 mo ( > 38 oC)                                                        II
3 mo to 3 yr ( > 38,5 oC)
   Immunocompromised*                                                    II
   Looks unwell                                                          II
   Looks well                                                            III
>3 yr ( > 38,5oC)
   Immunocompromised*                                                    II
   Looks unwell †( use other modifiers)                                  II or III
   Looks well ‡ ( use other modifiers)                                   III or IV
Adults  16 yr ( > 38,5 oC)
   Immunocompromised*
   Looks septic ( hemodynamic compromise)                                II
                                                                         II
   Looks unwell †
                                                                         III
   Looks well ‡                                                          IV



Neutropenia, transplant, steroid
† Fever and looks unwell ( CTAS level III) means lloks flushed, is in a hyperdynamic
state ( rapid, bounding pulse with a widened pulse pressure) and is anxious, agitated
or confused.
‡Fever and looks well (CTAS level IV) means looks comfortable, in no distress,
with normal pulse quality, and is alert and oriented.




                                                                                     23
Table 4. Glasgow Coma Scale (GCS) score and CTAS level


GCS score                    Description                                         CTAS
                                                                                 level
3-9                          Unconscious: unable to protect airway, response     I
                             to pain or loud noise only and without purpose
                             (ie. Abnormal posturing or withdrawal activity),
                             continuous seizure or progressive deterioration
                             in level of consciousness.
10-13                        Altered level of consciousness: response            II
                             inappropriate to verbal stimuli ( localizes to pain
                             only or confused/ garbled speech); loss of
                             orientation to person, place, or time (
                             confusion); new impairment of recent memory (
                             amnesia); altered behaviour ( agitation,
                             restlessness)
14-15                        Other modifiers should be used to define level      III-V



Table 5. Respiratory distress and CTAS level


Level of         Description of patient                 O2           PEFR         CTAS
distress                                                Saturation   predicted    level
severe          Fatiguing from excessive work of        < 90 %       -            I
                breathing, cyanosis, single-word
                speech, unable to speak, upper
                airway obstruction, lethargic or
                confused
Moderate        Increased work of breathing,            < 92 %       < 40 %       II
                speaking phrases or clipped                          predicted
                sentences, significant or worsening
                stridor but airway protected
Mild / moderate Dyspnea, tachypnea, shortness of        92 % to      40 % to      III
                breath on exertion, no obvious          94 %         60 %
                increased work of breathing, able to                 predicted
                speak in sentences, stridor without
                any obvious airway obstruction
PEFR = Peak Expiratory Flow Rate




                                                                                         24
Table 6. Assessment of pain and CTAS level
 Pain severity     Pain score      Location of           Acute v.          CTAS level
                                      pain             chronic pain
Severe                8-10       Central              Acute                     II
                                                      Chronic                  III
                                    Peripheral        Acute                    III
                                                      Chronic                  IV
Moderate                4-7         Central           Acute                    III
                                                      Chronic                  IV
                                    Peripheral        Acute                    IV
                                                      Chronic                   V
Mild                    0-3         Central           Acute                    IV
                                                      Chronic                   V
                                    Peripheral        Acute                     V
                                                      Chronic                   V
On a 10-point Likert scale


Table 7. Mechanism of injury and CTAS level
Risk Level Mechanism of injury and examples                                          CTAS level
High        General trauma                                                           II
            Auto accident :ejection from vehicle, rollover, extrication time >
            20 min, significant intrusion into passenger’s space, death in the
            same passenger compartment, impact >40 km/h (unrestrained) or
            impact >60 km/h (restrained)
            Motorcycle accident where impact with a car >30 km/h, especially
            if rider is separated from bike
            Pedestrian or bicyclist run over or struck by vehicle at >10 km/h
            Fall of >6 m
            Penetrating injury to head, neck, torso, or extremities proximal to
            elbow and knee
High        Head trauma                                                              II
            Auto accident : ejection from vehicle, unrestrained passenger
            striking head on windshield
            Pedestrian struck by vehicle
            Fall from >3 feet or 5 stairs
            Assault with blunt object other than first or feet
High        Neck trauma                                                              II
            Auto accident : ejection from vehicle, roll-over, high speed (esp.if
            driver unrestrained)
            Motorcycle accident
            Fall from >3 feet or 5 stairs
            Axial load to the head
Low         General trauma                                                           Use other
            Auto accident: car-on-car rear-end collision, while coming to stop,      modifier
            or impact <30 km/h and driver restrained


                                                                                          25
Low          Head trauma                                                           Use other
             Auto accident: low impact (<30 km/h) and driver restrained            modifier
             Fall or trip while standing on the ground
             Fist fight or blow to head (excluding with pointed or heavy object)
             with no loss of consciousness
Low          Neck trauma                                                           Use other
             Simple rear end collision (car on car), driver ambulatory after       modifier
             injury (driver not intoxicated or confused due to head injury) or
             delayed onset of neck pain


Table 8. Blood glucose and CTAS level
Blood glucose       Symptoms                                                       CTAS level
level
<3 mmol/L           Confusion, diaphoresis, behavioral change, seizure             II
                    None                                                           III
>18 mmol/L          Dyspnea, dehydration, weakness                                 II
                    None                                                           III


Table 9. Pregnancy-related presenting complaint (>20wk gestation) and CTAS level
Presenting complaint                                                      CTAS level
Presenting fetal parts or prolapsed cord                                  I
                    rd
Vaginal bleeding, 3 semester (other than show)                            I
Active labour (contractions <2 min apart                                  II
No fetal movement                                                         II
Complex of hypertension +/- headache +/- edema +/- abdominal pain         II
Post-delivery (mother and child)                                          II
Possible leaking amniotic fluid (>24 h)                                   III




                                                                                         26
27
28
29
30

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:1458
posted:4/27/2010
language:Indonesian
pages:30
Description: Standar Penatalaksanaan Anak di RSMH Palembang