Hasil

Document Sample
Hasil Powered By Docstoc
					       PENGGUNAAN GAYA BAHASA PERBANDINGAN
      PADA NOVEL PEREMPUAN BERKALUNG SORBAN
             KARYA ABIDAH EL-KHALIEQY
               (TINJAUAN STILISTIKA)




                      SKRIPSI




                       Oleh :

                  ITA YULI ASTUTIK
                    NIM: 99340067




PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
        JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SENI
      FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
        UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
                        2003
                           LEMBAR PENGESAHAN


              Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi
                  Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
                   Universitas Muhammadiyah Malang
            dan Diterima untuk Memenuhi sebagian Persyaratan
       Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
                           Tanggal, 19 Juli 2003



                                Mengesahkan
                    Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
                     Universitas Muhammadiyah Malang
                                   Dekan,




                           Drs. Ahsanul In’am, M.M.




Dewan Penguji                                               Tanda Tangan

1. Dra. Ribut Wahyu, Eriyanti. M.P.d.                       1..…………….

2. Dra. Tuti Kusniarti, M. Si.                              2.……………..

3. Drs. Sudjalil, M. Si.                                    3.……………..
                             DAFTAR PUSTAKA


Aminuddin. 1995a. Stilistika Pengantar Memahami Bahasa dalam Karya Sastra.
  Semarang: IKIP Semarang Press.

Arikunto, Suharsimi. 1992. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis.
   Jakarta: Bina Angkasa.

Hartoko, Dick. 1986. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia.

Khalieqy, El Abidah. 2001. Perempuan Berkalung Sorban. Yogyakarta: Yayasan
   Kesejahteraan Fatayat.

Keraf, Gorys. 1988. Diksi dan Gaya Bahasa Komposisi Lanjutan. Jakarta:
   Gramedia.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka
   Utama.

Nurgiantoro, Burhan. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
   University Press.

Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: Rineka Cipta.

Pradopo, Rahmat Djoko. 2000. Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajah Mada
   University Press.

Sudjiman, Panuti. 1995. Bunga Rampai Stilistika. Jakarta: Grafiti Pustaka Utama.

Surana, FX. 1984. Gaya Bahasa. Solo: Tiga Serangkai.

Sukada, Made. 1993. Pembinaan Kritik Sastra Indonesia. Bandung: Angkasa.

Soedjito. 1992. Kosa Kata Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Tarigan, Henry Guntur.1984a. Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Angkasa.

Tarigan, Henry Guntur. 1986b. Pengajaran Semantik. Bandung: Angkasa.

Teeuw, A. 1991. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka
   Utama.

Wellek Rene dan Austin Werren. 1993. Di Indonesiakan oleh Melani Budianta.
   Teori     Kesusastraan.    Jakarta:    Gramedia      Pustaka    Utama.
                      Penggunaan Gaya Bahasa Metafora pada Novel Perempuan Berkalung Sorban


                      Data                      Kode        Aspek                      Deskripsi
No.                    (1)                       (2)          (3)                          (4)
1.    Ku buka dadaku seluas-luasnya untuk   B5/ H184    Metafora       Kata “dada” adalah metafora yang
                                                                       berhubungan dengan diri manusia yaitu,
      menampung harapan dan perubahan
                                                                       bagian organ tubuh manusia untuk bernafas.
      masa depan.                                                      Kata “dada” merupakan kiasan persamaan
                                                                       antara benda yang diganti namanya dengan
                                                                       benda yang menggantikannya. Seharusnya
                                                                       harapan itu dihubungkan dengan “pikiran”
                                                                       dan “akal”. Akan tetapi di sini pengarang
                                                                       menyamakan “dada” dengan “pikiran”
                                                                       yang diungkapkan dengan peristiwa yang
                                                                       dialami oleh Anisa untuk merubah masa
                                                                       depan tokoh. Jadi dapat disimpulkan
                                                                       suntingan teks di atas merupakan gaya
                                                                       bahasa yang berupa kiasan persamaan
                                                                       antara benda yang diganti namanya dengan
                                                                       benda yang menggantikannya, yaitu kata
                                                                       “dada” disamakan dengan “pikiran dan
                                                                       akal”.
2.    Justru pikiranku tengah berjalan      B4/ H 147   Metafora       “Pikiranku tengah berjalan sendiri
     sendiri mngikuti irama hatiku yang                         mengikuti irama hatiku”. Bagaimana jika
                                                                seseorang memikirkan sesuatu, maka akan
     sedang gelisah menunggu kapan Lek
                                                                memikirkan hal-hal yang akan diperbuat
     Khudhori masuk ke ruang tengah                             atau dilakukan. “Mengikuti irama hatiku”
                                                                merupakan metafora yang berkaitan dengan
     memanggilku untuk bercaka-cakap.
                                                                diri manusia, suatu hal yang berhubungan
                                                                dengan diri manusia yakni pikirannya,
                                                                pengalaman, dan perasaannya. “Irama hati”
                                                                dapat dibandingkan dan diasosiasikan
                                                                dengan unsur-unsur yang ada pada diri
                                                                manusia, yaitu hati yang bisa merasakan,
3.   Tunggulah sampai lidahku fasih       B5/H 158   Metafora
                                                                berdetak lambat dan cepatnya sesuai dengan
     menjawab semua persoalan dunia.                            perasaan yang dialami oleh manusia
                                                                Lidahku fasih, “otakku menjadi panah”,
     Ketika otakku menjadi panah dan
                                                                dan “hatiku bagai baja”. Kata-kata di atas
     hatiku bagai baja.                                         mengandung dua ide, yang satu adalah
                                                                suatu kenyataan dan merupakan sesuatu
                                                                yang dipikirkan dan menjadi objek, dan
                                                                yang satu merupakan perbandingan
                                                                terhadap kenyataan tersebut. Metafora di
                                                                sini adalah metafora yang berkaitan dengan
                                                                diri manusia misalnya: buah hati, mulut
                                                                sungai dan lain-lain. “ Lidahku fasih, otakku
                                                                menjadi panah, dan hatiku bagai baja”,
                                                                lidah merupakan bagian dari organ tubuh
                                                                manusia letaknya di daerah mulut, alat
                                                                untuk berbicara. Seseorang yang berbicara
                                                                lancar dapat dikatakan fasih. Jadi kata
4.   Tubuh yang beku itu, menyiratkan                   Metafora   “lidahku fasih” di sini diumpamakan
                                            B7/ H 303              dengan seseorang yang dapat membaca, dan
     senyum dan wajah kemenangan,
                                                                   berbicara secara fasih.
     menegaskan sikapnya dalam hidup                               Wajah kemenangan” merupakan metafora
                                                                   yang berkaitan dengan diri manusia yaitu
     yang pantang menyerah oleh
                                                                   wajah merupakan bagian tubuh manusia di
     gempuran dan fitnah dan cobaan.                               bagian depan kepala. “Kemenangan
                                                                   mempunyai sifat merdeka, senang, berhasil
                                                                   dalam suatu kehidupan dan usaha. Sifat
                                                                   kemenangan itu juga dapat diasosiasikan
                                                                   dengan “wajah” yang memancarkan atau
5.   Keinginan itu terus mengedor pintu                 Metafora
                                            B1/ H7                 mencerminkan suatu kemenangan
     yang disekat oleh batasan-batasan di                          keberhasilan, senang, gembira karena segala
                                                                   keinginan tercapai dan sebagainya.
     ruangan hatiku.
                                                                   Mengedor pintu” yang terdapat pada
                                                                   kalimat di atas merupakan metafora yaitu
                                                                   (keinginan disamakan dengan sebuah pintu
                                                                   yang dapat digedor). “Mengedor”
                                                                   merupakan kata kerja, sedangkan
                                                                   “keinginan” merupakan kata sifat,
                                                                   sehinggga keinginan yang semakin kuat
6.   Kuedarkan seluruh pandangan,                       Metafora   tersebut disamakan dengan ketika seseorang
                                                                   mengedor pintu yang tentunya tindakan
     menyapu ladang dan pematang.
                                            B1/ H 3                tersebut terburu-buru terasa keras terdengar
                                                                   gedorannya.
                                                                   “Pandangan dapat menyapu ladang dan
                                                                   pematang”, (pandangan disamakan dengan
                                                                   sapu yang digunakan untuk menyapu
7.   Mengukur kemampuan lengkingan                  Metafora   membersihkan sampah). Akan tetapi
                                                               metafora yang hidup ini dapat diartikan
     suaraku, aku pesimis mendapat
                                          B1/H 3               dengan pandangan yang dapat melihat
     pertolongan jika mengandalkan                             seluruh ladang dan pematang sawah yang
                                                               ada di depan pandangan Anisa.
     teriakan.
                                                               Mengukur kemampuan” (disamakan dengan
                                                               suatu benda yang dapat diukur misalnya
                                                               kain, jalan dan sebagainya). Jadi, di sini
                                                               metafora tersebut mempunyai denotasi baru,
                                                               sehingga metafora ini merupakan metafora
                                                               dari kata kerja ke kata sifat. “Mengukur”
                                                               merupakan kata kerja, sedangkan
                                                               “kemampuan” merupakan kata sifat.
                                                               “Mengukur kemampuan”artinya bagaimana
8.   Setelah memeras akal, kuambil                  Metafora
                                                               kemampuan seseorang tersebut apakah
     sepotong kayu dan megulurkannya ke                        berani, takut, lemah, optimis, dan pesimis
                                          B1/ H 3              terhadap sesuatu hal yang dialami
     arah Rizal.
                                                               seseorang.
                                                               Kata “memeras akal” merupakan gaya
                                                               bahasa metafora, karena (akal disamakan
                                                               dengan seseorang yang berpikir panjang dan
                                                               berusaha menemukan ide). Bentuk kiasan
                                                               persamaan antara benda yang diganti
9.   Tetapi mulut kami terkunci.                    Metafora
                                                               namanya dengan benda yang
                                                               menggantikannya, disini yaitu kata
                                                               memeras akal diumpamakan dengan
                                                               seseorang yang berpikir panjang dan
                                                               berusaha menemukan ide.
                                                                     Kata “mulut kami terkunci” merupakan
                                                                     metafora yang berkaitan dengan diri
                                                                     manusia. Bagaimana dengan pintu dalam
                                                                     keadaan terkunci rapat, tentunya tidak dapat
                                                                     dibuka. Sama halnya dengan “mulut yang
                                                                     terkunci” artinya di sini mulut yang tidak
                                                                     dapat mengeluarkan sepatah kata apa pun,
                                                                     apalagi bersuara. “Mulut dibandingkan
10.   Ketika telinga kami menangkap suara               Metafora
                                                                     dengan pintu yang terkunci, karena
      langkah, pastilah langkah kaki bapak.             Sinestetik   merupakan bagian dari tubuh manusia yang
                                                                     berfungsi untuk berbicara. Jika mulut atau
                                              B1/ H 5                bibir tidak bergerak membisu disamakan
                                                                     dengan pintu yang terkunci rapat dan tidak
                                                                     dapat dibuka.
                                                                     Ketika telinga kami menangkap suara
                                                                     langkah”, merupakan metafora sinestetik,
                                                                     yaitu metafora yang didasarkan pada
                                                                     perubahan kegiatan dari indra satu ke indra
                                                                     yang lain. Misalnya dari indra pendengaran
                                                                     ke indra perasa yang menghasilkan kalimat
                                                                     di atas,” ketika telinga kami menangkap
                                                                     suara langkah”. Telinga digunakan untuk
                                                                     mendengar suara, dalam hal ini untuk
                                                                     “mendengar suara langkah kaki bapak”.
                                                                     Sehingga “suara langkah” tersebut dapat
                                                                     dirasakan apakah halus, keras, nyaring yang
                                                                     mengacu kepada seseorang yang dapat
                                                                     mendengar suara langkah kaki dengan jelas.
adi dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa ,
di atas merupakan gaya bahasa metafora
sinestetik, yaitu suara langkah metafora
pendengaran, sedangkan menangkap suara
langkah metafora indra perasa.
                       Penggunaan Gaya Bahasa Personifikasi pada Novel Perempuan Berkalung Sorban


      Data                               Kode        Aspek           Deskriptif


No.   (1)                                (2)          (3)            (4)
1.    Sungai-sungai kecil                B 1 /H 1    Personifikasi       “Sungai-sungai” melengkungkan tubuhnya
                                                                        seperti sabit para petani”. Jadi, sungai di sini
      melengkungkan tubuhnya seperti
                                                                         diumpamakan dengan tubuh manusia yang
      sabit para petani.                                               melengkung. Sungai tidak mempunyai tubuh,
                                                                        seperti layaknya manusia. Akan tetapi sungai
                                                                       yang arah aliran air berkelok-kelok, sehingga
                                                                        seperti lengkungan tubuh manusia. Yang arti
                                                                        sebenarnya arah aliran air bergerak dan dan
                                                                       berkelok-kelok seperti gerakan tubuh manusia
                                                                          yang melengkung. Jadi dapat disimpulkan
                                                                     kutipan di atas merupakan gaya bahasa metafora
                                                                      yang melukiskan “tubuh” manusia dengan aliran
2.    Semilir angin selalu datang dan    B/ 1 H 1    Personifikasi          air sungai yang berkelok-kelok seperti
                                                                                 “lengkungan tubuh manusia”.
      pergi, tak pernah bosan menghias
                                                                     “Angin selalu datang dan pergi, tak pernah bosan
      diri.                                                          menghias diri”. Angin diumpamakan atau dilukiskan
                                                                    dengan diri manusia yang dapat berjalan, sehingga
                                                                    ada kata “datang dan pergi”. Angin dilukiskan
                                                                    dengan manusia yang dapat datang dan pergi kapan
                                                                    saja dan dimana saja. Jadi, di sini “semilir angin
                                                                    selalu datang dan pergi”, yaitu angin yang sepoi-
3.   Di balik rimbunan perdu yang       B/ 1 H 1    Personifikasi
                                                                    sepoi sehingga menambah suasana terasa sejuk angin
     agak tersembunyi, di antara dua                                tersebut terkadang bertiup terkadang tidak.
                                                                    Pohon jati yang selalu menengadahkan wajahnya
     pohon jati yang selalu
                                                                    kelangit”. Yang dapat menengadahkan wajah
     menengadahkan wajahnya ke                                      hanyalah manusia. Jadi, di sini dua pohon jati
                                                                    diumpamakan dengan diri manusia yang bisa
     langit.
                                                                    menengadahkan wajahnya ke langit. Seakan-akan
                                                                    pengarang sengaja memberikan efek gaya bahasa
                                                                    personifikasi ini, agar dua pohon jati yang dilukiskan
                                                                    seperti manusia itu terasa lebih hidup. Jadi dapat
                                                                    disimpulkan kutipan teks di atas merupakan gaya
                                                                    bahasa personifikasi yang melukiskan benda mati
                                                                    yaitu dua pohon jati yang diumpamakan dengan diri
4.   “Yang ku tahu hanyalah piramida    B/ 1 H 29   Personifikasi   manusia yang dapat menengadahkan wajah, artinya
                                                                    dua pohon jati itu tinggi menjulang, sehingga
     bumi persawahan di depanku yang
                                                                    dikatakan dapat menengadahkan wajahnya kelangit.
     menghijau, berundak-undak                                      “ persawahan yang berundak-undak Melengkung
                                                                    bagai tatanan permata safir para ratu”. Dikatakan
     melengkung bagai tatanan permata
                                                                    berundak-undak melengkung bagai tatanan permata
     safir para ratu”.                                              safir para ratu”, Yang dapat melengkung hanyalah
                                                                    manusia, jadi di sini kata “melengkung”
                                                                    diumpamakan dengan manusia. Persawahan yang
5.   Serasa tersengat aliran listrik.   B 7 H 302   Personifikasi   menghijau berundak-undak melengkung bagai
     Darahku mendesir dan seluruh                                    tatanan permata safir, dapat terlihat dari kejauhan
                                                                     seperti lengkungan tubuh.
     energi di tubuhku bangkit untuk
                                                                     “Energi di tubuh bangkit”, yang dapat bangkit
     meneriakkan pemberontakan dari                                  hanyalah manusia akan tetapi, di sini kata bangkit
                                                                     digunakan untuk tubuh, Seluruh kemampuan dan
     semua kondisi yang tengah
                                                                     tenaga yang ada di tubuh terasa semakin kuat untuk
     berlangsung.                                                    meneriakkan pemberontakan dari semua kondisi yang
                                                                     ada. Jadi, di sini energi yang ada di tubuh Anisa
6.   Besoknya kami bangun kesiangan      B5/ H 220   Personifikasi
                                                                     terasa bangkit dan meneriakkan pemberontakan. Kata
     dan mandi junub terburu-buru saat                               meneriakkan diumpamakan dengan manusia yang
                                                                     dapat berteriak.
     matahari telah mengintip
                                                                     Kata “mengintip” yang dapat mengintip hanyalah
     peraduan.                                                       manusia. Jadi, di sini “saat matahari telah mengintip
                                                                     peraduan” digambarkan dengan diri manusia yang
                                                                     dapat melakukan tindakan “mengintip” suatu hal.
                                                                     Bagaimana bayangan seseorang jika mengintip
                                                                     sesuatu, tentunya hanyalah separuh saja dari benda
                                                                     atau sesuatu yang diintip tersebut dapat terlihat. Sama
7.   Ku hitung detak jam yang berlari    B5/ H 220   Personifikasi   halnya dengan “matahari telah mengintip peraduan”,
                                                                     yaitu sinar matahari yang berlahan-lahan menyinari
     kencang di tengah kebahagiaan.
                                                                     sebagian ruang kamar tidur Anisa.
     Aku memburu di antara diktat                                    “Detak jam yang berlari kencang”, yang dapat
                                                                     berlari hanyalah manusia. Jadi, di sini “detak jam
     kuliah pakaian dan sarapan.
                                                                     yang berlari kencang diumpakan, dilukiskan dengan
                                                                     diri manusia yang dapat berlari. Sehingga detak jam
                                                                     itu terasa hidup dapat berlari seperti halnya manusia.
8.   Sampailah malam ke sepuluh saat     B5/ H 217   Personifikasi
                                                                     Bagaimana jika orang berlari kencang terasa cepat,
     purnama di langit memamerkan                                    dan berlalu begitu saja. Sama halnya dengan detak
      wajah pangerannya.                                             jam yang tarasa cepat kita rasakan, terasa cepat waktu
                                                                     berlalu.
                                                                     Kata “purnama memamerkan wajah pengerannya”,
                                                                     yang mempunyai wajah atau yang bisa memamerkan
                                                                     wajahnya hanyalah manusia. Karena tindakan
                                                                     tersebut hanya dapat dilakukan oleh manusia. Jadi, di
                                                                     sini “purnama di langit memamerkan wajah
                                                                     pengerannya”, dilukiskan dengan manusia yang
                                                                     mempunyai wajah sehingga dapat diperlihatkan. Jadi
                                                                     seolah-olah “purnama di langit yang memamerkan
                                                                     wajahnya” tersebut bertindak dan berbuat seperti
9.    Darahku seolah mengalir kesatu     B5/ H 219   Personifikasi
                                                                     layaknya manusia. “Purnama di langit memamerkan
      titik, menyerbu, dan                                           wajah pengerannya” artinya bulan purnama
                                                                     kesepuluh telah nampak di langit dan menerangi
      menggempurnya.
                                                                     seluruh jagad raya.
                                                                     Darah dilukiskan dengan manusia yang bisa berbuat
                                                                     dan bertindak seperti manusia, yaitu melakukan
                                                                     tindakan “menyerbu dan menggempur”. Yang dapat
10.   Jiwaku melayang-layang merasuk     B4/ H 150   Personifikasi   melakukan tindakan “menyerbu” dan menggempur”,
                                                                     hanyalah manusia, misalnya “ menyerbu
      ke dalam jiwanya dan kami
                                                                     segerombolan perampok, menggempur pertahanan
      tergagap ketika mendengar suara                                lawan. Jadi, di sini darah yang mengalir ke satu titik
                                                                     tersebut menyerbu dan menggempur tubuh Anisa.
      langkah kaki menuju ruang makan.
                                                                      “Jiwaku melayang-layang merasuk ke dalam
                                                                     jiwanya”. Jiwa melayang-layang” dilukiskan dengan
                                                                     manusia yang dapat melayang.. Jadi, di sini jiwa
                                                                     diumpamakan dengan manusia yang dapat melayang.
                                                                     Dapat disimpulkan kutipan teks di atas merupakan
gaya bahasa personifikasi yang melukiskan benda
mati yaitu jiwa manusia seolah-olah dapat berbuat
dan bertindak seperti manusia yaitu, melayang-
layang. Artinya jiwa yang melayang-layang disini
jiwa seseorang yang menerawang jauh sehingga
seakan-akan melayang.
           Penggunaan Gaya Bahasa Sinisme, Ironi, dan Sarkasme pada Novel Perempuan Berkalung Sorban


No. Data                            Kode            Aspek       Deskriptif
     (1)                            (2)             (3)         (4)
1.   “Nggak pantas, anak            B 1/ H 6        Sinisme,    Pencilaan dan keluyuran, kata “pencilaan” dari
                                                                bahasa Jawa yaitu anak gadis yang selalu meloncat-
     perempuan kok naik kuda,                       dan Ironi
                                                                loncat kesana kemari, tidak diam sebagaimana
     pencilaan, apalagi keluyuran                               layaknya seorang permpuan. “Keluyuran” artinya
                                                                selalu berjalan, dan keluar tidak ada tujuan yang
     mengelilingi ladang”.
                                                                jelas ke tempat-tempat tongkrongan atau kemana
                                                                saja ke tempat yang disukai. Jadi, di sini gaya
                                                                bahasa sinisme yang diucapakan Bapak Anisa
                                                                ketika Anisa keluar dari pondok pesantren tanpa
                                                                seizin Bapaknya. Kata-kata sinis tersebut diucapkan
                                                                dengan nada agak kasar seperti tampak pada
                                                                kalimat di atas tersebut. Kalimat tersebut jika
                                                                dirubah menjadi gaya bahasa ironi menjadi “bagus
                                                                benar sikapmu, sehingga kau pintar naik kuda,
                                                                pencilaan apalagi keluyuran mengelilingi ladang”.
                                                                Jadi dapat disimpulkan gaya bahasa sinisme yang
                                                                diucapkan tokoh cerita disini merupakan bentuk
                                                                gaya bahasa sindiran. Terdapat pada kata
                                                               pencilaan, dan keluyuran.
                                                               “Ia anak perempuan seorang pedagang kelontong
2.   Ia anak perempuan seorang       B 11/ H 123   Sinisme,
                                                               kaya raya sehingga bau rupiah membuat ia
     pedagang kelontong dan bau                    dan Ironi   ketagihan”. Jadi dapat disimpulkan kutipan teks di
                                                               atas merupakan gaya bahasa sinisme yang
     rupiah membuat hidungnya
                                                               pengucapannya dengan nada agak kasar yaitu, bau
     mendengus seperti kucing di                               rupiah membuat hidungnya mendengus seperti
                                                               kucing di antara persembunyian para tikus.
     antara persembunyian para
                                                               Maksud dari sindiran kasar tersebut langsung
     tikus.                                                    diucapkan secara langsung kepada seseorang.


3.   “Ia menatapku seperti musang    B.6 /H.228    Sinisme,
                                                               “Ia menatapku seperti musang lapar yang
     lapar dan menyembunyikan                                  menyembunyikan taringnya di balik senyum yang
                                                               menawan”. Apabila gaya bahasa sinisme di atas
     taringnya di balik senyum dan
                                                               diubah menjadi gaya bahasa ironi maka, akan
     menawan”.                                                 dijumpai gaya yang berlainan dari maksud yang
                                                               sebenarnya. “Senyumnya yang menawan dan tatap
                                                               matanya seperti musang lapar yang
4.   Inikah yang kau dapat setelah   B5/ H 159     Sinisme,    menyembunyikan taringnya”.
                                                               Bila kata sinis “inikah yang kau dapat setelah
     sekian buku kau kunyah-                       dan Ironi
                                                               sekian buku kau kunyah-kunyah dengan bangganya
     kunyah dengan bangganya itu                               itu? Ibu berang ini, diubah menjadi ironi, maka
                                                               akan dijumpai gaya yang berlainan dari makna
     ? Ibu berang.
                                                               sebenarnya. Yaitu, “bagus sekali ucapanmu setelah
                                                               sekian lama engkau memperoleh ilmu sehingga
                                                               tingkahmu saja tetap seperti dulu.
5.   Ia menginjak-injak hukum                      Sinisme,
                                                               Gaya bahasa sinisme yang dimaksud, jika dijadikan
     dengan kaki penuh dosa.                         dan        gaya bahasa sarkasme menjadi “ia menginjak-injak
                                                                hukum dengan kaki penuh dosa. Tidak Bu. Ia laki-
     Tidak Bu. Ia laki-laki sakit. Ia                Sarkasme
                                                                laki gila, ia binatang berwajah manusia. Dapat
     bukan manusia.                                             disimpulkan kutipan teks di atas merupakan bentuk
                                                                gaya bahasa sinisme yang sekaligus bisa dijadikan
                                                                gaya bahasa sarkasme. Yaitu kalimat ia laki-laki
                                                                sakit ungkapan sinis, yaitu orang gila, sedangkan ia
                                                                bukan manusia ungkapan kasar, yaitu bisa diartikan
                                                                binatang, jin, setan dan sebagainya.
6.   Mungkin gadis dewasa,              B 5/ H 160   Ironi      Gadis dewasa berambut sepinggang berkulit
                                                                kuning langsat merupakan gaya bahasa ironi,
     berambut sepinggang berkulit
                                                                sedangkan seperti Orator Demonthenses Zaman
     kuning langsat dan berlidah                                Romawi merupakan sindiran agak kasar (sinisme).
     pedas seperti Orator
     Demonthenses Zaman
     Romawi.
                                                                “Hentikan penjagal”, merupakan gaya bahasa
7.   Hentikan penjagal ! Kau            B 5/ H 202   Sarkasme
                                                                sarkasme cukup tepat digunakan untuk memberi
     bukan Lek Khudhori yang                                    gambaran bahwa, gaya bahasa sarkasme adalah
                                                                gaya bahasa sindiran yang paling kasar. Memaki
     dapat membuatku merasa
                                                                orang dengan kata-kata yang kasar dan tidak sopan
     nikmat ! Kau hanya seorang                                 didengar ditelinga, “kau hanya seorang penjagal
                                                                bodoh!”, bagaimana layaknya seorang penjagal
     penjagal bodoh.
                                                                tidak mengenal belas kasihan dan kejahatannya
8.   Terpujulah para suami yang         B 1/ H 104   Ironi      nampak di raut mukanya yang bodoh.
                                                                Kalimat “terpujilah para suami yang gagah
     gagah perkasa dan berhasil
                                                                perkasa” merupakan ironi dari “ yang telah
     menghabisi kemerdekaan                                      berhasil menghabisis kemerdekaan istrinya pada
                                                                 malam pernikahannya”. Selain itu kata,
     istrinya pada malam pertaman
                                                                 “terpujilah” para istri yang sabar dan tersenyum
     pernikahannya. Sementara                                    merupakan ironi dari kalimat berikutnya, “di bawah
                                                                 kekuasaan para suami sebiadab apapun”.
     untuk para istri, terpujilah para
     istri yang sabar dan tetap
     tersenyum di bawah
     kekuasaan para suami
     sebiadap apapun.
9.   Ia tahu benar bahwa Samsudin        B 3/ H 110   Sarkasme
                                                                 Kata “mursal” di sini termasuk dalam gaya bahasa
     bukan anak yang patut
                                                                 sarkasme. Artinya orang yang tidak berbudi, tidak
     dibanggakan sebagaimana                                     penurut, dan tidak pernah mematuhi keluarganya,
                                                                 gila dan berbuat seenaknya sendiri hanya untuk
     anak-anaknya yang lain,
                                                                 memenuhi keegoisan dan hawa nafsu belaka.
     dalam keluarga Samsudin
     adalah kekecualian. Ibu yakin,
     hanya kaulah yang bisa
     membuatnya berubah. Ia
     benar-benar mursal. Aku yang
     bodoh dan naif ini harus
     berhadapan dengan seorang
      anak laki-laki mursal dari
      sebuah keluarga santri yang
      telah merasa gagal
      mendidiknya menganggapnya
      sebuah fitnah dan cobaan
      untuk keluarga.
10.   Dasar perempuan gila jika     B 3/ H 112   Sarkasme
      kukatakan keinginanku, yang
                                                            Dasar perempuan gila”. Jika kukatakan
      mendengarpun akan menjadi                             keinginanku, yang mendengar pun akan jadi
                                                            gila.“Apa kau siap menjadi gila”, dan “persetan
      gila. Apa kau siap menjadi
                                                            dengan ancamanmu!”. Kata-kata kasar tersebut
      gila? Persetan dengan                                 dijadikan sebagai bentuk gaya bahasa sarkasme
                                                            oleh pengarang agar dialog yang digunakan tokoh
      ancamanmu ! Katakan apa
                                                            benar-benar dirasakan oleh pembaca. Sehingga
      yang kau inginkan.                                    tercapailah tujuan estetik dari sebuah karya sastra
                                                            sebagai makna total dari ide-ide, dan bahasa yang
11    Mulut-mulut usil itu seakan   B 3/ H 115   Sarkasme
                                                            khas digunakan pengarang untuk menghasilkan
      mulut burung menco yang                               sebuah karya sastra yang apik.
                                                            Mulu-mulut usil tersebut diartikan dengan sindiran
      tengah kekenyangan
                                                            kasar yaitu dengan mulut burung menco, yang
      menyantap bagkai dan hendak                           selalu berkicau dan bersuara walaupun belum
                                                            makan. Apalagi pada saat makan maka mulut
      mengurangi beban perutnya
                                                            menco tersebut terdengar lebih nyaring. Sehingga
      dengan gunjingan dan gosip                            gaya bahasa sarkasme ini digunakan oleh
      murahan.                                                      pengarang untuk mewakili perasaan tokoh yang
                                                                    benar-benar marah.
12.   Para lelaki perkasa yang       B 1/ H 7            Sarkasme
      membeo anak ayam di
                                                                    Laki-laki perkasa yang selalu membeo” yaitu ikut
      belakang ekor anaknya.
                                                                    kemana saja induknya pergi, Bagaimana jika anak
                                                                    ayam yang selalu ikut di belakang ekor induknya,
                                                                    yaitu selalu ikut kemana saja induknya pergi. Di
                                                                    sini pengarang sengaja mengungkapkan bagaimana
13.   Hentikan ocehanmu!             B 1/ H 99           Sarkasme   “seorang dengan menggantikan manusia dengan
                                                                    nama binatang yaitu ayam.
      Perilakumu seperti bukan
      manusia.                                                      “Bukan manusia” merupakan sindiran yang
                                                                    terdengar kasar di telinga. Jadi dapat dismpulkan
                                                                    suntingan teks yang terdapat pada kalimat di atas
14.   Baunya membuatku mual                              Sarkasme   merupakan gaya bahasa sindiran yang paling kasar.
                                            B 3/ H 100              Memaki orang dengan kata-kata yang kasar dan tak
      ingin muntah. Jika sebuah
                                                                    sopan didengar telinga, seperti yang terdapat pada
      mimpi buruk mendatangi                                        kalimat perilakumu seperti bukan manusia.
                                                                    Suntingan teks ini merupakan gaya bahasa
      tidurnya, ia akan menggekiat
                                                                    sarkasme, terdapat pada kalimat “baunya
      dan kakinya yang besar kasar                                  membuatku mual ingin muntah. Jika sebuah mimpi
                                                                    mendatanginya kakinya yang besar kasar dan
      dengan kuku-kuku hitamnya
                                                                    kukunya yang hitam akan menyepak badanku,
      akan menyepak badanku atau                                    sambil mulutnya mengeluarkan geraman seperti
                                                                    harimau”.
      kakinya dengan keras sambil
      mulutnya mengeluarkan
      geraman seperti harimau
      kelaparan.
      Bukankah dia seorang sarjana,              Ironi
15.
      putra seorang Kiai ternama.
                                      3/ H 101
      Sama sekali tak perlu petu                                                                           .

                                                         Jadi, di sini sindiran yang mengatakan sebaliknya
                                                         dari yang sebenarnya terjadi. Yaitu seorang sarjana
                                                         seperti Samsudin tidak perlu diberi petuah,
                                                         walaupun sikap dan prilakunya mursal dan tidak
                                                         bermoral.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:532
posted:4/27/2010
language:Malay
pages:21