Docstoc

Pusjatan Jurnal-PEMANFAATAN MINERAL ASBUTON SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH-Neni

Document Sample
Pusjatan Jurnal-PEMANFAATAN MINERAL ASBUTON SEBAGAI BAHAN STABILISASI TANAH-Neni Powered By Docstoc
					     PEMANFAATAN MINERAL ASBUTON SEBAGAI
           BAHAN STABILISASI TANAH
                                      Neni Kusnianti
                             Puslitbang Jalan dan Jembatan
                         Jl. A.H. Nasution 264 Bandung 40294
                                  kusnianti@yahoo.com
                 *) Diterima : 20 Agustus 2008;  Disetujui : 19 Nopember 2008           



RINGKASAN
Asbuton merupakan aspal alam dari di Pulau Buton dengan deposit yang
sangat besar dapat dimanfaatkan sebagai bahan jalan karena disamping
mengandung bitumen, mineralnya pun memiliki kandungan kapur (CaCO3)
yang cukup tinggi. Dengan dikembangkannya produk asbuton murni
sebagai hasil pemisahan antara bitumen dengan mineralnya, maka mineral
asbuton tersebut dimasa yang akan datang apabila tidak dimanfaatkan akan
mengganggu lingkungan. Oleh karena itu perlu adanya penelitian untuk
memanfaatkan mineral tersebut sebagai alternatif bahan stabilisasi tanah.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi karakteristik
tanah setelah distabilisasi mineral asbuton melalui pengujian di
laboratorium, sehingga didapatkan proporsi mineral asbuton yang sesuai
untuk meningkatkan daya dukung tanah. Pada penelitian ini, karakteristik
tanah hasil stabilisasi tanah dengan mineral asbuton dibandingkan dengan
tanah aslinya untuk mengetahui perubahan karakteristik yang terjadi.
Karakteristik yang diuji adalah: batas Atterberg, gradasi, kepadatan
berdasarkan standar Proctor, CBR dan kuat tekan bebas (Unconfined
Compressive Strength, UCS).

Kata kunci: mineral asbuton, stabilisasi tanah, karakteristi tanah, CBR,
           kuat tekan bebas.


Summary
Asbuton is natural asphalt from Buton Island with great deposits and can be
utilized, as a road material because it contains not only bitumen but also
mineral with high lime content (CaCO3). The development of pure asbuton
product, as a result of separation between bitumen and its mineral, so that
mineral asbuton will be an environmental problem, if it is not utilized
properly. Therefore, research is required to utilized the asbuton mineral as
an alternative material for soil stabilization. The purpose of this research is
to evaluate soil characteristics by laboratory test after stabilized with
mineral asbuton and to find out the right proportion of mineral asbuton to
improve soil support. In this research, soil characteristics stabilized mineral
asbuton is compare with unstabilized soil to find out soil characteristics
changes. The characteristics tested are Atterberg limit, gradation, density
based on standard proctor density, CBR and unconfined compressive
strength (UCS).

Key words : asbuton mineral, soil stabilisation, soil characteristics, CBR,
           UCS


PENDAHULUAN                               daya dukungnya atau tanah yang
                                          distabilisasi dan bisa juga untuk
     Ruas-ruas jalan yang dibangun
                                          meningkatkan ketahanan erosi
diatas tanah dasar dengan daya
                                          pada permukaan jalan tanah.
dukung rendah (CBR < 6%)
                                              Asbuton       merupakan   aspal
umumnya lebih cepat mengalami
                                          alam yang terdapat di Pulau Buton
kerusakan terutama pada musim
                                          dengan deposit sangat besar yang
penghujan. Begitu juga untuk
                                          dapat       dimanfaatkan    sebagai
ruas-ruas jalan tanpa penutup
                                          bahan jalan karena disamping
aspal atau jalan tanah, seperti
                                          mengandung bitumen, mineralnya
jalan-jalan di kawasan pulau kecil
                                          pun memiliki kandungan kapur
terpencil dan jalan di kawasan
                                          (CaCO3) yang cukup tinggi yaitu
Indonesia Timur. Untuk mengatasi
                                          sekitar 70% - 80%. Saat ini ada
hal    ini   diperlukan    alternatif
                                          beberapa         produsen      yang
penanganan yang tersedia antara
                                          mengembangkan Produk asbuton
lain     dengan        menggunakan
                                          murni (kandungan mineralnya < 1%)
teknologi      stabilisasi    tanah.
                                          yang          diharapkan      dapat
Sehingga untuk daerah-daerah
                                          menggantikan        aspal   minyak.
yang kekurangan agregat dapat
                                          Untuk      itu,   mineral   asbuton
mengganti       pondasi     agregat
                                          tersebut apabila tidak dimanfaatkan
dengan tanah yang ditingkatkan
akan mengganggu lingkungan             kadar mineral rata-rata 80%,
dimasa yang akan datang.               sedangkan deposit asbuton di
    Dengan permasalahan tersebut       Lawele diperkirakan 62,5 juta ton
di atas, perlu penelitian tentang      dengan kadar mineral rata-rata
pemanfaatan mineral asbuton            78% (Alberta, 1989).
sebagai alternatif bahan stabilisasi       Mineral asbuton pada umumnya
untuk meningkatkan daya dukung         terdiri dari batuan dasar batu
tanah guna dijadikan lapis pondasi     kapur. Berdasarkan jenis mineralnya
jalan.                                 asbuton dapat dibedakan menjadi
                                       dua, yaitu:
                                       a) mineral dari kapur globegerine
KAJIAN PUSTAKA                             (fosil binatang laut): bentuk
                                           seperti batu warna hitam,
Aspal Batu Buton (Asbuton)
                                           pada udara dingin rapuh dan
    Aspal alam yang terdapat di            mudah pecah dan pada udara
Pulau Buton merupakan campuran             panas agak plastis sukar
antara bitumen dan mineral.                dipecah.
Aspal alam tersebut terbentuk          b) mineral dari kapur mergel
akibat proses geologi dalam                (kapur mengandung lempung):
periode waktu yang lama dan                benda plastis berwarna hitam
berlangsung secara alamiah, yang           dan sifatnya plastis sukar
disebabkan oleh minyak bumi                ditambang.
yang        terdorong       muncul
                                           Mineral      asbuton       pada
kepermukaan, menyusup di antara
                                       umumnya (hampir 85%) terdiri
batuan yang porus. Jenis aspal
                                       dari batuan dasar batu kapur
alam yang terdapat di Pulau Buton
                                       (limestone) yang berasal dari
ini adalah aspal batu (rock
                                       endapan binatang laut, sangat
asphalt) yang terdapat di daerah
                                       porous     dan     relatif  ringan,
Kabungka dan aspal lunak yang
                                       sedangkan         unsur        yang
terdapat di daerah Lawele.
                                       mempengaruhi kekerasan butir
    Total deposit aspal alam Pulau
                                       mineral asbuton adalah Fe2O3,
Buton diperkirakan tidak kurang
                                       Al2O3, SiO2 (Anon, 1931).
dari sekitar 150 hingga 300 juta
ton.    Laporan    rinci   pertama
                                       Lapis Pondasi Perkerasan Jalan
mengenai geologi Buton disusun
oleh Hetzel pada tahun 1936.               Lapis pondasi atas pada
Deposit asbuton di Kabungka            perkerasan lentur biasanya terdiri
diperkirakan 60 juta ton dengan        atas lapisan hasil pemadatan batu
pecah, kerikil atau slag yang        dapat mempunyai mutu yang
bergradasi tertentu, atau bahan      rentang batas-batasnya lebar,
hasil stabilisasi. Sedangkan lapis   sejauh persyaratan tebal dapat
pondasi bawah dapat terdiri atas     dipenuhi.
bahan yang sama seperti untuk
lapis pondasi atas, tetapi dengan    Stabilisasi
mutu yang lebih rendah. Untuk
memastikan bahwa tanah dasar             Salah satu persoalan yang
tidak menerima tegangan berlebih,    mungkin dihadapi oleh para
maka lapis pondasi atas dan lapis    perencana          dan     pelaksana
pondasi bawah harus mempunyai        pembangunan jalan adalah cara
tebal yang memadai.                  menangani tanah atau bahan yang
     CBR yang harus dipenuhi bahan   jelek agar dapat digunakan
lapis pondasi atas biasanya          sebagai bahan perkerasan. Dalam
ditetapkan 100 persen. Namun         cakupan yang lebih luas, stabilisasi
demikian, lapis pondasi pada         mengandung arti perbaikan bahan
perkerasan yang melayani lalu-       perkerasan yang tersedia agar
lintas rendah mungkin tidak          dapat dijadikan lapis pondasi
menuntut bahan bermutu tinggi,       bawah, lapis pondasi atas, atau
tetapi cukup bahan yang bermutu      pada beberapa kasus yang jarang,
lebih rendah. Lapis pondasi yang     sebagai bahan lapis permukaan.
terdiri     atas     bahan    yang       Secara          umum        dapat
distabilisasi aspal atau semen       dikemukakan          bahwa     tujuan
dapat menghemat biaya, karena        stabilisasi adalah untuk meningkatkan
lapis pondasi dengan bahan           kinerja perkerasan. Karena kinerja
tersebut akan menjadi lebih tipis.   perkerasan tidak semata - mata
     Untuk lapis pondasi bawah       menyangkut         kekuatan,    maka
dapat digunakan bahan pilihan,       dalam rangka memilih cara
misal kerikil alam. Agar dapat       stabilisasi     yang    tepat   perlu
dijadikan lapis pondasi bawah,       diketahui alasan perlunya stabilisasi.
bahan pilihan perlu distabilisasi        Adapun        beberapa     alasan
atau langsung digunakan dalam        konvensional yang melatarbelakangi
kondisi aslinya. Tujuan pemasangan   perlunya stabilisasi adalah:
lapis pondasi bawah adalah untuk     a. Kondisi tanah dasar yang jelek.
mendapatkan perkerasan yang             Stabilisasi tanah dasar adalah
relatif tebal tetapi dengan biaya       untuk meningkatkan mutunya
yang lebih murah. Oleh karena itu,      sehingga tebal perkerasan
bahan untuk lapis pondasi bawah         dapat dikurangi.
b. Bahan lapis pondasi yang              lapis pondasi beton aspal,
   terbatas.                             sering kali diperlukan, baik
   Diantara kasus bahan lapis            pada perkerasan beton aspal
   pondasi       marjinal    yang        maupun perkerasan beton
   kemungkinan sering dijumpai           semen. Lapis pondasi tersebut
   di lapangan adalah tingginya          dapat        menyumbangkan
   platisitas bahan. Dalam hal           kekakuan      yang      berarti
   tersebut,    plastisitas dapat        terhadap perkerasan, sehingga
   diturunkan dengan menambahkan         perkerasan     lebih     tahan
   kapur atau semen ke dalam             terhadap keruntuhan lelah.
   bahan.
                                          Dengan memperhatikan kondisi
c. Pengendalian debu.
                                      dewasa      ini,    maka   perlunya
   Meskipun sejauh ini penggunaan
                                      stabilisasi      nampaknya     tidak
   bahan       stabilisasi  untuk
                                      semata-mata karena alasan di
   mengendalikan debu belum
                                      atas,     tetapi    juga   terdapat
   populer di Indonesia, namun
                                      beberapa alasan lain, diantaranya
   beberapa       negara     telah
                                      adalah:
   menggunakannya.
                                       - Makin meningkatnya beban
d. Pengendalian kadar air.
                                          kendaraan.
   Beberapa bahan kimia dapat
                                       - Makin canggihnya peralatan
   menahan air dalam tanah                untuk stabilisasi.
   sehingga pada musim kemarau         - Makin meningkatnya kesadaran
   memungkinkan tanah mudah               terhadap lingkungan.
   untuk dipadatkan. Pada kasus
   yang ekstrim, kemungkinan              Seringkali dihadapi persoalan
                                      bahwa dalam keadaan aslinya,
   tanah dalam keadaan yang
                                      tanah tidak dapat digunakan
   sangat basah sehingga sulit
                                      sebagai bahan bangunan yang
   dipadatkan. Untuk mengatasi
                                      mempunyai persyaratan tertentu.
   hal tersebut, dapat digunakan      Dalam memecahkan persoalan
   bahan stabilisasi yang dapat       tersebut dapat diambil beberapa
   “mengeringkan” tanah.              keputusan, diantaranya adalah
e. Mendapatkan        bahan   lapis   merubah sifat-sifat tanah yang
   pondasi yang lebih unggul.         ada sehingga diperoleh tanah
   Penggunaan lapis pondasi           yang mempunyai sifat-sifat yang
   yang unggul, misal lapis           memenuhi       persyaratan  yang
   pondasi distabilisasi semen        ditetapkan, yang dikenal sebagai
   (cement treated base) dan          stabilisasi.
    Sifat-sifat tanah dapat diubah      Stabilisasi Kapur (Lime
melalui beberapa cara, diantaranya      Stabilization)
adalah melalui proses kimia,                Kapur merupakan bahan yang
pemanasan atau mekanis. Namun           efektif untuk stabilisasi tanah
demikian, perlu diperhatikan bahwa      plastis sehingga tanah tersebut
karena variabilitas tanah, tidak        mempunyai kemudahan pengerjaan
ada satu carapun yang dapat             (workability) yang lebih baik serta
berhasil untuk semua jenis tanah,       kekuatan yang meningkat. Namun
maka pemilihan bahan stabilisasi        demikian, kapur tidak efektif
sering kali tergantung pada jenis-      digunakan untuk stabilisasi tanah
jenis     tanah     dimana    bahan     yang tidak berkohesi atau tanah
stabilisasi tersebut dapat berfungsi    berkohesi rendah, apabila tidak
efektif. Stabilisasi yang tepat akan    disertai    dengan     penambahan
menuntut pemahaman tentang              bahan pozzolanik.
sifat-sifat    tanah    yang    perlu       Pada umumnya kapur yang
diperbaiki. Tuntutan teknis tersebut    digunakan sebagai bahan stabilisasi
                                        adalah kapur mati atau kalsium
merupakan faktor penting dalam
                                        hidroksida (Ca(OH)2) dan kapur
memutuskan perlu-tidaknya tanah
                                        hidup atau kalsium oksida (CaO).
distabilisasi. Tabel 1 menunjukkan
                                        Kalsium oksida (CaO) lebih efektif
beberapa jenis bahan stabilisasi        untuk      kasus-kasus    tertentu,
serta jenis tanah yang dipandang        sedangkan dalam pelaksanaan
cocok       dan    pedoman     untuk    stabilisasi yang sering digunakan
pemilihan bahan stabilisasi.            adalah       kalsium     hidroksida
    Faktor-faktor      yang     perlu   (Ca(OH)2). Untuk kalsium karbonat
dipertimbangkan dalam memilih           (CaCO3) kurang efektif sebagai
bahan stabilisasi adalah:               bahan stabilisasi kecuali sebagai
a. Cuaca dan drainase                   bahan pengisi (Ingles dan Metcalf,
b. Penyelidikan perkerasan              1992).
c. Pengambilan         contoh    dan
    pengujian bahan                     Reaksi  Bahan         Perkerasan
d. Penilaian awal terhadap jenis        dengan Kapur
    stabilisasi yang diperlukan              Karena oksida cepat bereaksi
e. Pemilihan akhir jenis stabilisasi    dengan air untuk membentuk
Pada Tabel 2 ditunjukkan pedoman        hidroksida, maka reaksi utama
                                        semua jenis kapur dengan bahan
untuk pemilihan bahan stabilisasi.
                                        yang distabilisasi adalah sama.
   Beberapa             keuntungan        Peningkatan kekuatan dalam
penambahan      kapur     terhadap    jangka panjang (reaksi pozolanik)
tanah adalah:                         berlangsung        pada    lingkungan
- Menimbulkan pengaruh yang           alkali tinggi (pH > 12,3) sehingga
                                      mengakibatkan penguraian lempung,
  cepat terhadap tanah, sehingga
                                      terutama pada ujung-ujung pelat
  melalui penggumpalan butir-
                                      (partikel)         lempung        dan
  butir    (flocculation)   akan
                                      memungkinkan             terbentuknya
  memperbaiki gradasi dan sifat-      kalsium silikat dan aluminat pada
  sifat yang diperlukan untuk         daerah tersebut. Bahan sementasi
  kemudahan pengerjaan. Besarnya      tersebut mempunyai komposisi
  pengaruh tersebut bervariasi        yang sama dengan yang terdapat
  menurut     kandungan    aktual     pada pasta semen. Proses di atas
  mineral yaitu tergantung pada       berlangsung relatif lambat, karena
  bahan      pozzolanik    dalam      kapur yang ada harus menyebar
  lempung: besar dengan lempung       melalui matrik bahan dan bahan
  kelompok lempung montmorillonit     sementasi yang awal terbentuk.
  dan kecil dengan kelompok           Reaksi stabilisasi tidak dapat
  lempung kaolinit.                   berlangsung terus, karena ada
                                      lempung atau sejumlah bahan
- Mempunyai pengaruh jangka
                                      pozolanik      di     dalam     bahan
  panjang terhadap kekuatan,
                                      perkerasan yang akan bereaksi
  sehingga terjadi peningkatan
                                      dengan kapur. Reaksi antara
  kekuatan yang menerus.              kapur dengan bahan perkerasan
- Memungkinkan         pengurangan    diperlambat oleh suhu yang lebih
  tebal perkerasan, karena bahan      rendah (di bawah 15oC) dan
  yang distabilisasi dapat dianggap   terhambat         oleh     kandungan
  sebagai lapis pondasi bawah.        organik yang tinggi.
                                Tabel 1.
  Penggunaan beberapa jenis bahan stabilisasi (Sumber: Austroads Inc. 1998)

BAHAN STABILISASI                      PROSES                               PENGARUH                   TANAH YANG COCOK

   Semen                  -   Sementasi, sehingga terjadi       -   Kandungan bahan stabilisasi        -   Tidak terbatas,
                              ikatan antara butir                   rendah (<20%): menurunkan              kecuali dengan
                                                                    kerentanan terhadap perubahan          komponen yang
                                                                    kadar air                              mengganggu
                                                                -   Kandungan bahan stabilisasi            (bahan organik,
                                                                    tinggi: meningkatkan modulus           sulfat dan bahan
                                                                    dan kuat tarik secara nyata,           lain yang
                                                                    sehingga menghasilkan bahan            menghalangi rekasi
                                                                    terikat                                dengan semen)
                                                                                                       -   Cocok untuk tanah
                                                                                                           granular, tetapi
                                                                                                           tidak efisien tanah
                                                                                                           berbutir seragam
                                                                                                           dan lempung berat
  Kapur, termasuk         -   Ikatan sementasi antara           -   Meningkatkan sifat-sifat tanah     -   Cocok untuk tanah
  kapur mati dan              butiran, tetapi tingkat               kohesif                                kohesif
  kapur hidup                 pencapaiannya lebih rendah        -   Kandungan bahan stabilisasi        -   Dalam tanah perlu
                              daripada semen                        rendah (<20%): menurunkan              terdapat komponen
                          -   Reaksinya tergantung pada             kerentanan terhadap perubahan          lempung yang akan
                              suhu dan memerlukan                   kadar air, meningkatkan                bereaksi dengan
                              keberadaan pozolan                    kekuatan sehingga menghasilkan         kapur (yaitu
                          -   Apabila pozolan tidak ada             bahan modifikasi atau bahan            mengandung
                              dalam tanah, maka kapur dapat         terikat                                pozolan)
                              dicampur dengan pozolan           -   Kandungan bahan stabilisasi        -   Bahan organik akan
                                                                    tinggi: meningkatkan modulus           menghalangi reaksi
                                                                    dan kuat tarik, menghasilkan
                                                                    bahan terikat
  Campuran bahan          -   Kapur dan pozolan merubah         -   Umumnya mirip semen, tetapi        -   Sebagaimana
  pengikat                    gradasi dan menumbuhkan               tingkat pencapaian kekuatan            halnya stabilisasi
  pemantapan lambat:          ikatan sementasi                      mirip kapur                            dengan semen
  slag/kapur, abu                                               -   Juga memperbiki kemudahan          -   Dapat digunakan
  terbang/kapur dan                                                 pengerjaan                             apabila tanah tidak
  slag/kapur/aba                                                -   Umumnya mengurangi retak               bereaksi dengan
  terbang                                                           penyusutan                             kapur
  Aspal: aspal busa,      -   Penggumpalan (anglomeration)      -   Menurunkan permeabilitas dan       -   Cocok untuk bahan
  aspal bentur tinggi         butir-butir halus                     meningkatkan kekuatan kohesi           granular yang
  (high impact), aspal                                          -   Menurunkan kepekaan terhadap           mempunyai kohesi
  cair dan aspal emulsi                                             kadar air melalui penyelimutan         dan platisitas
                                                                    butir halus                            rendah
  Campuran                -   Penggumpalan (anglomeration)      -   Menurunkan permeabilitas dan       -   Cocok untuk bahan
  aspal/semen                 butir-butir halus yang disertai       meningkatkan kekuatan                  granular yang
                              dengan ikatan sementasi           -   Semen membantu perolehan dini          mempunyai kohesi
                                                                    kekuatan                               dan platisitas
                                                                                                           rendah
  Bahan granular          -   Mencampur dua atau lebih          -   Peningkatan terbatas kekuatan,     -   Tanah bergradasi
                              bahan, untuk mendapatkan              permeabilitas, stabilitas volume       jelek, tanah
                              gradasi yang diperlukan               dan kemudahan dipadatkan               granular yang tidak
                                                                -   Bahan tetap berbentuk granular         memiliki butir
                                                                                                           berukuran tertentu
  Bahan kimia lain        -   Penggumpalan                      -   Secara tipikal mening-katkan       -   Secara tipikal tanah
                                                                    kekuatan dalam keadaan kering          bergradasi jelek
                                                                -   Merubah permeabilitas dan
                                                                    stabilitas volume
                                   Tabel 2.
                    Pedoman umum untuk pemilihan bahan stabilisasi

                                   LEBIH DARI 25% LOLOS #0,075 mm       KURANG DARI 25% LOLOS #0,075 mm
                    JENIS BAHAN
                     STABILISASI                                           PI<6
                                   PI<10      10<PI<20       PI>20                    PI<10     PI>10
                                                                       PI*#0,075<60

                 SEMEN & BAHAN
                 SEMENTASI LAIN

                 KAPUR


                 ASPAL

                 CAMPURAN ASPAL/
                 SEMEN

                 GRANULAR

                 BERBAGAI BAHAN
                 KIMIA*

                      BIASANYA     MERAGUKAN                BIASANYA          *HARUS DIPANDANG
                         COCOK                           TIDAK COCOK           SEBAGAI PEDOMAN KASAR



Catatan:Jenis bahan stabilisasi di atas dapat digunakan dalam kombinasi; misal, stabilisasi dengan
kapur adalah untuk mengeringkan bahan serta untuk mengurangi plastisitasnya; dengan demikian,
hal tersebut cocok juga untuk stabilisasi yang lain.



Kondisi yang Cocok                         untuk                     lain yang ditentukan. Namun
Stabilisasi Kapur                                                    demikian, tingkat pelekatan yang
                                                                     dapat     diberikan  oleh    kapur
    Sebagaimana halnya dengan
                                                                     dibatasi oleh volume bahan yang
stabilisasi yang lain, keberhasilan
                                                                     dapat bereaksi.
stabilisasi kapur ditentukan oleh
                                                                         Takaran kapur yang diperlukan
faktor bahan, yaitu: menyangkut
                                                                     untuk memenuhi kebutuhan awal
komposisi bahan yang akan
                                                                     tanah yang distabilisasi harus
distabilisasi  serta    perilakunya
                                                                     dievaluasi     untuk   mengetahui
terhadap kapur. Agar kapur yang
                                                                     tambahan kapur yang diperlukan
digunakan pada stabilisasi dan
                                                                     setelah reaksi awal selesai, yaitu
dapat berfungsi secara efektif,
                                                                     untuk mendapatkan sifat-sifat
maka       bahan     yang      akan
                                                                     jangka panjang yang akan digunakan
distabilisasi harus mengandung
                                                                     pada disain. Dibandingkan dengan
partikel lempung atau bahan
                                                                     stabilisasi semen, keuntungan
pozzolanik. Secara umum dapat
                                                                     stabilisasi kapur makin meningkat
dikatakan bahwa makin plastis dan
                                                                     dengan makin tingginya plastisitas
makin tinggi kandungan lempung,
                                                                     dan kandungan partikel halus.
maka makin tinggi pula takaran
                                                                     Tanah dengan PI<10 umumnya
kapur yang diperlukan untuk
                                                                     akan mempunyai respon yang
mendapatkan kekuatan atau sifat
lebih baik terhadap kapur daripada        atas telah diterapkan secara luas
terhadap semen. Namun demikian,           dan berhasil. Dengan kandungan
pembandingan hasil pengujian              kapur kurang dari sekitar 3%,
dipandang lebih baik.                     resiko terjadinya retak susut yang
    Untuk menurunkan indeks               tidak dikehendaki adalah rendah,
plastis       dan       meningkatkan      dan dalam kaitannya dengan hal
kemudahan         pengerjaan      pada    tersebut, jarang dilakukan upaya
stabilisasi kapur, kapur hendaknya        untuk mengatasi retak refleksi.
ditambahkan         dalam      takaran
secukupnya, agar penambahan               Persyaratan Campuran
lebih      lanjut      kapur      tidak
                                                  Perencanaan dilakukan di
mengakibatkan perubahan lebih
jauh terhadap nilai indeks plastis.       laboratorium untuk mendapatkan
    Pada        stabilisasi     kapur,    kadar kapur yang menghasilkan
pengujian pH untuk mengetahui             kekuatan campuran maksimum.
dapat-tidaknya tanah bereaksi             Kriteria kekuatan stabilisasi tanah
dengan       kapur      serta    untuk    dengan     kapur   harus      sesuai
memperkirakan takaran kapur,              dengan Tabel 3.
yang ditunjang dengan pengujian
kuat tekan bebas pada umur 28                           Tabel 3.
hari, akan menentukan takaran              Persyaratan stabilisasi tanah dengan
optimum kapur. Takaran atau                     kapur (SNI 03-3638-1994)
kandungan optimum kapur untuk
disain dapat diperoleh dengan                                             BATAS-BATAS
                                                     PENGUJIAN            SIFAT (Setelah
cara     menggambar          hubungan                                      Dirawat 7 hr)
antara kuat tekan bebas dengan             Kuat Tekan Bebas (kPa),
takaran      kapur.      Penambahan         SNI 03-6887-2002

sekitar 1% terhadap takaran
                                           - Lapis pondasi atas              Min. 2200
                                           - Lapis pondasi bawah             Min. 600
optimum biasanya dilakukan untuk           CBR (%),SNI 03-1744-1989
mengganti kapur yang mungkin               - Lapis pondasi atas               Min. 80
hilang atau untuk mengatasi                - Lapis pondasi bawah              Min. 20

variasi pencampuran.
                                          Kriteria    untuk   perbaikan     tanah   pondasi
    Kapur      merupakan         bahan
stabilisasi yang efektif untuk            disesuaikan     dengan      keperluan     menurut

menurunkan plastisitas tinggi pada        ketentuan yang berlaku, yaitu :
bahan lapis pondasi bawah dan             - Kuat tekan bebas : untuk tanah kohesif
lapis pondasi atas. Dalam praktek,        - CBR              : untuk tanah berbutir

modifikasi bahan lapis pondasi
MAKSUD     DAN              TUJUAN        mineral       asbuton        terhadap
PENELITIAN                                karakteristik campuran.

    Maksud penelitian ini adalah          KEGIATAN PENELITIAN
untuk      mendapatkan      proporsi
mineral asbuton yang sesuai untuk            Uraian dan penjelasan dari
meningkatkan daya dukung tanah            program kerja penelitian ini adalah
untuk lapis pondasi.                      sebagai berikut:
    Tujuan dari penelitian ini            a. Tahap Persiapan
adalah        untuk     mengevaluasi      b. Pengujian tanah asli dan
karakteristik       tanah    setelah         mineral asbuton
distabilisasi dengan mineral asbuton      c. Perencanaan campuran untuk
melalui pengujian di laboratorium.           stabilisasi
                                          d. Pengujian kekuatan tanah
METODOLOGI                                   yang distabilisasi
                                          e. Analisis
     Untuk mencapai tujuan dari
kegiatan      ini,   maka      sebagai    Tahap Persiapan Contoh
pendekatannya        yaitu     dengan
melakukan pengujian dilaboratorium            Contoh tanah yang diambil
melalui percobaan - percobaan.            adalah       dari    lokasi    daerah
Metoda pengujian yang digunakan           Tanjungsari, untuk selanjutnya di
dalam      penelitian     disesuaikan     laboratorium dilakukan persiapan
dengan         Standar        Nasional    bahan, yaitu dengan melakukan
Indonesia (SNI). Teknik analisis          pengeringan di udara terbuka
terhadap data-data yang diperoleh         sampai mencapai kering udara.
dari      hasil      pengujian       di   Gumpalan - gumpalan tanah
laboratorium adalah            metoda     dipecahkan dengan cara sedemikian
deskriptif yaitu suatu cara dengan        rupa untuk menghindari hancurnya
membandingkan perubahan yang              butiran tanah asli kemudian tanah
terjadi dari setiap parameter yang        disaring.      Tanah     yang     lolos
ditinjau, seperti: perubahan nilai        saringan no. 4 (4,76 mm),
IP (Indeks Plastisitas), nilai CBR        digunakan dalam percobaan ini
dan kuat tekan bebas (UCS) dari           dimasukkan kedalam karung dan
tanah asli dengan tanah setelah           selanjutnya dilakukan pengujian
distabilisasi, selain itu dilihat juga    sifat-sifat fisik tanah seperti, berat
pengaruh dari variasi penambahan          jenis,     batas-batas      atterberg,
klasifikasi tanah dan pengujian                       fisik tanah asli yang diambil dari
analisa kimia.                                        daerah Tanjungsari dan mineral
                                                      asbuton, terlihat pada Tabel 4.
Pengujian Tanah             asli        dan                  Pengujian     analisa    kimia
Mineral Asbuton                                       dilakukan      untuk     mengetahui
      Mineral asbuton merupakan                       unsur-unsur yang terkandung
hasil dari ekstraksi asbuton yaitu                    dalam tanah asli dan mineral
pemisahan         bitumen       dan                   asbuton yang akan mempengaruhi
mineralnya      di    laboratorium.                   sifat-sifat campuran (tanah dengan
Pengujian yang dilakukan pada                         mineral asbuton). Pengujian ini
mineral asbuton adalah analisis                       dilakukan di Laboratorium Balai
saringan, berat jenis dan analisis                    Besar Keramik, Badan Penelitian
kimia mineral asbuton. Pengujian                      dan      Pengembangan        Industri,
analisis saringan dimaksudkan                         Departemen Perindustrian.
untuk mengetahui susunan butir                             Hasil analisa kimia unsur-unsur
tanah asli maupun susunan butir                       yang terkandung dalam tanah asli
mineral asbuton.                                      dan mineral asbuton tertera pada
      Hasil     pemeriksaan       di                  Tabel 5 .
laboratorium terhadap sifat-sifat

                                      Tabel 4.
    Hasil Pemeriksaan Sifat-sifat Fisik Tanah Tanjungsari dan Mineral Asbuton
                                                Hasil Pemeriksaan
              No     Jenis Pemeriksaan                                     Satuan
                                          Tanjungsari    Mineral asbuton
               1    Berat Jenis             2,763              2,46          -
               2    Atterberg Limit
                     Batas cair                71               -            -
                     Batas plastis             34               -            -
                     Indeks plastis            37               -            -
               3    Analisa Saringan
                    3/8 “
                    No. 4                      100             100           %
                    No. 8                     99,38           99,10          %
                    No. 10                    99,00             -            %
                    No. 16                    98,51             -            %
                    No. 20                    98,19             -            %
                    No. 30                    97,73           89,10          %
                    No. 40                    97,18             -            %
                    No. 50                    94,70           49,30          %
                    No. 80                    94,57             -            %
                    No. 100                   93,91           32.20          %
                    No. 200                   90,38           10.00          %
               4.   Klasifikasi tanah
                    USC                        CH               -
                    AASHTO                    A–7-5             -
               Tabel 5.                               a. Hasil Pengujian Atterberg
    Hasil Analisa Kimia Tanah Asli                       Limit dan berat Jenis
                  Hasil Pengujian (% berat)               Sesuai     dengan        variasi
  Komponen                         Mineral
                Tanjungsari
                                   asbuton            persentase penambahan mineral
     SiO2
    Al2O3
                   46,44
                   26,33
                                    33,55
                                     2,38
                                                      asbuton dalam campuran, hasil
    Fe2O3          7,47              0,24             pengujian tanah terhadap batas
     TiO2          0,11              0,04
     CaO           1,12             42,51             Atterberg, dapat dilihat pada Tabel
     MgO
    Na2O
                   0,54
                   0,47
                                     0,65
                                     0,47
                                                      6.
     K2O           0,21              0,28
 Hilang Pijar      17,31            19,88
                                                      b. Hasil Pengujian Pemadatan
                                                         Proctor
Pengujian Campuran
Stabilisasi Tanah                                         Dari pengujian pemadatan
                                                      proctor standar ini diperoleh kadar
    Contoh tanah yang diambil dari
                                                      air optimum (ωopt) dan berat isi
lokasi Tanjungsari, selanjutnya
                                                      kering maksimum (γdmaks) dari
dibuat campuran dengan berbagai
variasi   penambahan      mineral                     tanah asli dan tanah asli + mineral
asbuton adalah 3%; 6%; 9%; dan                        asbuton.     Hasil    pengujiannya
12% untuk masing-masing tanah.                        seperti yang tertera pada Tabel 7.

                                        Tabel 6.
                     Hasil pengujian batas Atterberg dan berat jenis
                  Tanah           % Variasi      LL      PL    PI      Berat
                                                                       Jenis
                                T+0% min.asb     71      34    37      2,763
                                T+3% min.asb     59      34    25      2,606
                Tanjungsari     T+6% min.asb     67      36    31      2,649
                                T+9% min.asb     66      28    38      2,610
                                T+12% min.asb    65      30    35      2,608


                                           Tabel 7.
                                  Hasil pengujian pemadatan
                  Tanah            % Variasi      ωopt (%)     γd maks (t/m3)
                                 T+0% min.asb      34,60           1,36
                                 T+3% min.asb      34,10           1,58
                 Tanjungsari     T+6% min.asb      35,00           1,36
                                 T+9% min.asb      33,30           1,37
                                 T+12% min.asb     31,80           1,38
c. Hasil Pengujian CBR                                      Tabel 9.
     Pengujian     CBR      dilakukan                 Hasil Pengujian UCS
hanya pada CBR Soaked (CBR
                                                                          UCS (kg/cm2)
Rendaman),          karena       pada         Tanah         % Variasi     7 hari    28
pengujian      ini    dapat     dilihat                                            hari
kekuatan daya dukung tanah yang                           T+0% min.asb
                                                          T+3% min.asb
                                                                          4,06
                                                                          5,20
                                                                                   4,33
                                                                                   5,55
distabilisasi     dengan      mineral       Tanjungsari   T+6% min.asb    5,45     6,10

asbuton tersebut setelah direndam.
                                                          T+9% min.asb    5,80     6,44
                                                          T+12% min.asb   6,05     7,05
CBR soaked diuji pada tanah
dengan        waktu     perendaman
selama 4 hari. Hasil pengujiannya          PEMBAHASAN DAN ANALISA
terlihat pada Tabel 8.                     Klasifikasi Tanah
                                               Klasifikasi tanah asli menurut
d. Hasil pengujian Kuat Tekan
                                           “Unified Soil Classification, USC”,
    Bebas (UCS)
                                           untuk tanah dari Tanjungsari
    Pada      percobaan       UCS,
                                           termasuk jenis CL (tanah berbutir
campuran diisi ke dalam cetakan
                                           halus       mengandung        lempung
berukuran diameter 7,15 cm dan
                                           dengan kompresibility tinggi),
tinggi   14,30     cm    kemudian
                                           sedangkan         klasifikasi    tanah
dipadatkan. Setelah dipadatkan,
                                           menurut “AASHTO System” contoh
benda     uji   dikeluarkan    dari
                                           tanah asli dari Tanjungsari adalah
cetakan,    selanjutnya    diperam
                                           A-7-5 (tanah kelempungan).
sebagaimana pemeraman untuk
uji    CBR.    Pemeriksaan     UCS             Dari hasil pengujian terhadap
dilakukan pada umur 7 dan 28               sifat-sifat    fisik     tanah     asli,
hari dengan menggunakan alat uji           menunjukkan bahwa contoh tanah
UCS        dengan        kecepatan         yang diambil adalah termasuk
pembebanan 0,5% regangan/menit.            tanah yang berbutir halus dan
Hasil pengujian UCS dapat dilihat          termasuk tanah lempung yang
pada Tabel 9.                              lebih bersifat plastis, sehingga
                 Tabel 8.                  tanah ini mempunyai perubahan
           Hasil pengujian CBR             volume yang besar. Pengujian
                                           batas Atterberg dari contoh tanah
   Tanah         % Variasi       CBR (%)
                                           tersebut      menghasilkan         nilai
               T+0% min.asb        4,7
               T+3% min.asb        5,7     Indeks Plastis (IP) 19, sehingga
 Tanjungsari   T+6% min.asb
               T+9% min.asb
                                   5,8
                                   6,6
                                           tanah tersebut mempunyai sifat
               T+12% min.asb       7,2     plastisitas yang tinggi.
     Berdasarkan hasil pengujian                        Berdasarkan      hasil   pengujian
laboratorium terhadap sifat-sifat                       analisa kimia tanah asli, mineral
fisik tanah asli tersebut dapat                         asbuton seperti yang tertera pada
dikatakan bahwa contoh tanah                            Tabel 5 dan Gambar 1, terlihat
yang      diambil   dari    daerah                      bahwa untuk contoh tanah asli
Tanjungsari, dapat digunakan                            yang     diambil    dari   daerah
untuk stabilisasi tanah dengan                          Tanjungsari, mempunyai unsur
kapur,       karena    berdasarkan                      yang paling dominan adalah Silika
pemilihan bahan untuk stabilisasi                       (SiO2) yaitu sekitar 46%. Untuk
contoh      tanah   asli   tersebut                     mineral asbuton, unsur yang
mempunyai IP > 10           dengan                      paling dominan yaitu kapur (CaO)
butiran tanah > 25% lolos                               sekitar 43%. Mineral dengan
saringan No. 200 sehingga tanah                         unsur    kapur    yang    dominan
tersebut mengandung komponen                            mempunyai karakteristik material
lempung yang akan bereaksi                              yang porus sehingga terdapat pori
dengan kapur (yaitu mengandung                          yang banyak dalam materialnya.
pozzolan).                                              Hal tersebut menyebabkan mineral
                                                        asbuton      mempunyai        sifat
Analisa Kimia Tanah Asli dan                            sementasi yang baik dengan tanah
Mineral Asbuton                                         lempung.


                     50
                          SiO2                                                     CaO


                     40
                                                             SiO2

                          Al2O3
                     30
           % berat




                                                                                            Hilang Pijar

                                              Hilang Pijar
                     20      Fe2O3

                                                                    Al2O3
                     10                                                              M gO
                                       M gO                           Fe2O3
                                 TiO2 CaO Na2O                                           Na2O
                                                                            TiO2
                     0
                                              K2O
                           Tanjungsari                              Mineral asbuton K2O



           Gambar 1. Susunan kimia tanah asli dan mineral asbuton
Pengaruh Mineral Asbuton                     Penurunan nilai berat jenis
terhadap Nilai Berat Jenis dan         terbesar terjadi pada penambahan
Batas Atterberg                        mineral asbuton 3% yaitu sebesar
       Dari hasil uji berat jenis      6 % terhadap tanah asli.
dengan penambahan 3%; 6%;              Hasil uji batas Atterberg seperti
9% dan 12 % mineral asbuton            terlihat pada Tabel 6 dan Gambar
seperti yang tertera pada Tabel 6      3, menunjukkan penambahan
dan, Gambar 2, menunjukkan             mineral asbuton pada tanah asli
adanya kecenderungan penurunan         mempunyai            kecenderungan
nilai berat jenis seiring dengan       menurunkan          nilai   Indeks
bertambahnya        kadar    mineral   Plastisitas (PI). Penurunan nilai PI
asbuton pada campuran. Hal ini         terbesar terjadi pada penambahan
disebabkan karena bercampurnya         mineral asbuton 3% yaitu sebesar
dua bahan dengan berat jenis           32 %. Indeks plastisitas adalah
yang berbeda, yaitu berat jenis        batas cair dikurangi batas plastis,
mineral asbuton sebesar 2,46,          hubungan tersebut menunjukkan
sedangkan berat jenis tanah asli
                                       bahwa nilai PI sangat tergantung
sebesar 2,763, sehingga terjadi
                                       pada nilai batas cair dan batas
penurunan berat jenis campuran.
                                       plastis. Penambahan persentase
Selain itu proses sementasi pada
tanah dan mineral asbuton,             mineral         asbuton      dapat
menyebabkan               terjadinya   menurunkan nilai batas cair dan
penggumpalan yang merekatkan           menaikkan batas plastis, sehingga
antar partikel, rongga-rongga pori     nilai PI akan menurun. Nilai PI ini
yang telah ada sebagian akan           sangat menentukan klasifikasi
dikelilingi bahan sementasi yang       potensi pengembangan tanah.
lebih keras dan lebih sulit            Semakin besar nilai PI dari
ditembus air. Rongga pori yang         campuran tanah dan mineral
terisolasi oleh lapisan sementasi      asbuton, akan semakin besar
kedap air akan terukur sebagai         potensi pengembangan tanah
volume        butiran,     sehingga    tersebut. Semakin menurun nilai
memperbesar volume butiran yang        PI dari campuran tanah dan
akhirnya akan menurunkan nilai         mineral asbuton maka potensi
berat jenis campuran tanah dan         pengembangan akan semakin
mineral asbuton.                       berkurang.
                                        2.80

                                        2.75

                                        2.70




                 berat jenis
                                        2.65

                                        2.60

                                        2.55

                                        2.50
                                               0      3         6         9      12
                                                    kadar m ineral asbuton (%)


           Gambar 2. Pengaruh mineral asbuton pada berat jenis

                                        40


                                        30
                   indeks plastisitas




                                        20


                                        10


                                         0
                                               0     3         6         9       12
                                                   kadar m ineral asbuton (%)


    Gambar 3. Pengaruh mineral asbuton pada nilai indeks plastisitas (PI)


Pengaruh Mineral Asbuton                                                 Pada Gambar 4 dan Gambar 5
terhadap Kadar Air Optimum                                          terlihat    bahwa       pengaruh
dan     Kepadatan    Kering                                         penambahan mineral asbuton
Maksimum                                                            terhadap tanah asli mempunyai
                                                                    kecenderungan menurunkan kadar
    Selain ditunjukkan pada Tabel                                   air optimum dan menaikkan
7, kadar air optimum dan                                            kepadatan     kering   maksimum
kepadatan kering maksimum hasil                                     tanah. Hal ini disebabkan karena
                                                                    terjadinya pengecilan rongga-
percobaan pemadatan proctor
                                                                    rongga antara partikel campuran
standar ditunjukkan juga pada                                       tanah      akibat     pemadatan.
Gambar 4 dan Gambar 5.                                              Pengecilan rongga yang terjadi
menyebabkan berkurangnya pori-                                              yang terbesar, yaitu sebesar 8 %.
pori tanah yang dapat diisi air,                                            Sedangkan pengaruh penambahan
sehingga akan terjadi penurunan                                             mineral      asbuton     terhadap
kadar air optimum. Penambahan                                               kepadatan     kering    maksimum
mineral asbuton sebesar 12%                                                 terbesar terjadi pada penambahan
terhadap tanah asli memberikan                                              mineral    asbuton    3%,    yaitu
penurunan nilai kadar air optimum                                           peningkatan sebesar 16%.

                                                35
                        kadar air optimum (%)
                                                34


                                                33


                                                32


                                                31


                                                30
                                                       0     3         6         9      12
                                                           kadar m ineral asbuton (%)

      Gambar 4. Pengaruh mineral asbuton terhadap kadar air optimum

                                                1.60

                                                1.55

                                                1.50
                γ d max (gr/cm 3)




                                                1.45

                                                1.40

                                                1.35

                                                1.30

                                                1.25
                                                       0      3         6         9     12
                                                           kadar m ineral asbuton (%)


                  Gambar 5. Pengaruh mineral asbuton dan
                    terhadap kepadatan kering maksimum
Pengaruh Mineral Asbuton               Pengaruh Mineral Asbuton
terhadap Nilai CBR Rendaman            terhadap Nilai Kuat Tekan
(Soaked)                               Bebas (UCS)
    Pengaruh penambahan mineral            Hasil pengujian Kuat Tekan
asbuton terhadap nilai CBR yang        Bebas (Unconfined Compressive
direndam       selama      4    hari   Strength, UCS) pada umur 7 hari
diperlihatkan pada Tabel 8 dan         dan 28 hari diperlihatkan pada
Gambar 6. Terlihat kecenderungan       Tabel     9    dan     Gambar     7
adanya peningkatan nilai CBR           Kecenderungan kuat tekan bebas
seiring dengan bertambahnya            tanah akibat penggunaan mineral
persentase mineral asbuton. Hal        asbuton adalah mirip dengan
ini disebabkan karena terjadinya       kecenderungan nilai CBR, yaitu
sementasi akibat penambahan            nilai UCS akan meningkat seiring
mineral asbuton, sehingga terjadi      dengan prosentase penambahan
penggumpalan          yang     akan    mineral asbuton.
meningkatkan daya ikat antar               Pengaruh pemeraman pada
butiran,    dan     akhirnya   akan    nilai kuat tekan bebas mengalami
meningkatkan kemampuan saling          peningkatan      sejalan    dengan
mengunci      (interlocking)  antar    bertambahnya umur pemeraman
butiran. Rongga-rongga pori yang       yaitu pada umur 7 hari dan 28
telah ada akan dikelilingi bahan       hari. Peningkatan pada penambahan
sementasi yang lebih keras,            12% mineral asbuton untuk
sehingga      akan     menghasilkan    pemeraman 7 dan 12 hari adalah
campuran yang lebih tahan              sebesar 49% dan 63% terhadap
terhadap perubahan bentuk akibat       tanah asli.
pengaruh air.                              Berdasarkan uraian tersebut,
    Penambahan 12% mineral             maka stabilisasi tanah asli dengan
asbuton      akan      meningkatkan    penggunaan mineral asbuton 12%
sekitar 53% terhadap nilai CBR         memenuhi persyaratan untuk lapis
tanah asli. Dengan kecenderungan       pondasi bawah, yaitu hasil uji kuat
tersebut, ada kemungkinan bahwa        tekan bebas adalah 605 kPa pada
tanah      yang      telah   selesai   umur 7 hari, sedangkan nilai kuat
dipadatkan di lapangan, semakin        tekan bebas yang dipersyaratkan
lama akan semakin kuat.                sebesar minimal 600 kPa atau 6
                                       kg/cm2.
                                  8


                                  6




                       CBR (%)
                                  4


                                  2


                                  0
                                       0     3         6            9       12
                                           kadar m ineral asbuton (%)


       Gambar 6. Pengaruh mineral asbuton terhadap nilai CBR soaked



                                 800

                                 700
                                 600
                 UCS (kPa)




                                 500

                                 400
                                 300

                                 200
                                 100

                                  0
                                       0         3         6            9    12
                                            kadar m ineral asbuton (%)


             Gambar 7. Pengaruh mineral asbuton pada nilai UCS


KESIMPULAN                                                     2.   Penambahan mineral asbuton
                                                                    pada tanah asli (lempung)
      Sesuai pembahasan yang                                        dapat memperbaiki sifat-sifat
telah diuraikan di atas, dapat                                      fisik tanah asli tersebut.
ditarik   beberapa  kesimpulan                                 3.   Penambahan mineral asbuton
sebagai berikut:                                                    terhadap nilai CBR soaked
                                                                    pada        stabilisasi     tanah
1.   Unsur kimia yang dominan
                                                                    mempunyai         kecenderungan
     dari tanah asli adalah SiO2,
                                                                    yang      semakin       meningkat
     sedangkan mineral asbuton
                                                                    sejalan dengan meningkatnya
     adalah CaO.
                                                                    prosentase           penggunaan
     mineral asbuton tersebut.        DAFTAR PUSTAKA
     Penggunaan 12% mineral
     asbuton akan meningkatkan        AUSTROAD,       1998, “Guide to
     nilai   CBR     sekitar   53%         Stabilization in Road Works”,
     terhadap CBR tanah asli.             Austroad Publication No.AP-
4.   Peningkatan nilai kekuatan           60/98, Sydney.
     tanah (UCS) untuk mineral        Badan   Standardisasi   Nasional
     asbuton     pada     campuran,       (BSN), 1996, “Spesifikasi
                                           Kapur   Untuk   Stabilisasi
     terjadi pada umur 7 hari dan
                                           Tanah”, SNI 03-4147-1996,
     28 hari, yaitu peningkatan           Departemen Pekerjaan Umum,
     sekitar 49% dan 63% dari             Jakarta.
     nilai UCS tanah aslinya.         Badan   Standardisasi  Nasional
5.   Penambahan 12% mineral               (BSN), 1998, ”Tata Cara
     asbuton pada stabilisasi tanah        Pembuatan          Rencana
     dari     Tanjungsari     dapat        Stabilisasi Tanah dengan
     memenuhi persyaratan untuk            Kapur Untuk Jalan”, SNI 03-
                                          3437-1994,        Departemen
     penggunaan hasil campuran
                                          Pekerjaan Umum, Jakarta.
     tersebut sebagai lapis pondasi   INGLES, O. G. and METCALF, J.
     bawah.                               B., (1972), “Soil Stabilization-
                                          Principles and Practice”,
                                          Butterworths, Australia