JURNAL PUSJATAN-FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKANDINI PADA PERKERASAN JALAN-TJITJIK WS by hhadisi1

VIEWS: 3,218 PAGES: 19

									   FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KERUSAKAN DINI
           PADA PERKERASAN JALAN
                                Tjitjik Wasiah Suroso
                            Puslitbang Jalan dan Jembatan
                        Jl. A.H. Nasution 264 Bandung 40294
                               tjitjiksuroso@yahoo.com
                 *) Diterima : 4 Agustus 2008;  Disetujui : 19 Nopember 2008           



RINGKASAN
Suatu hal yang menjadi dasar perkerasan jalan tidak akan dapat
mempunyai umur sesuai rencana adalah apabila salah satu saja
persyaratan tidak dipenuhi. Faktor-faktor penyebab kerusakan jalan
tersebut antara lain mutu dan jumlah aspalnya, jumlah lintasan pada
pemadatan, temperatur pencampuran, temperatur pemadatan. Dikarenakan
banyaknya lokasi perkerasan yang tidak dapat melayani sesuai umur
rencana yang direncanakan, untuk itu dilakukan penelitian terhadap faktor
faktor penyebab terjadinya kerusakan perkerasan jalan. Makalah ini
merupakan hasil penelitian di laboratorium dan terhadap hasil peningkatan
jalan dibeberapa lokasi yang mengalami kerusakan dini ( kurang dari satu
tahun). Hasil penelitian menunjukkan penyebab kerusakan dini pada
perkerasan yang diambil contohnya tidak hanya kadar aspal (3.5% -
5.3%) yang sangat kurang dari hasil JMF namun juga kemungkinan
disebabkan kurangnya pemadatan sehingga kepadatan tidak sesuai yang
diharapkan pada akhirnya menghasilkan pengerasan aspal yang terlalu
cepat (nilai penetrasi aspal mendekati 20) berakibat kadar rongga yang
besar. Dari hasil penelitian dilaboratorium, apabila temperatur
pencampuran kurang dari temperatur pada viskositas 270±20cSt, serta
kepadatan campuran beraspal yang rendah akan mempengaruhi kinerja
campuran beraspal antara lain rongga diantara agregat menjadi lebih
besar, rongga terisi aspal lebih rendah sehingga faktor –faktor tersebut
juga menjadi penyebab kerusakan perkerasan jalan menjadi lebih cepat.

Kata kunci : Kadar aspal, kadar rongga, pelapukan, pengerasan aspal
SUMMARY
Early damage of pavement occurs when one of the factors does not meet
specified requirements. Factors that cause pavement damage are quantity
and quality of asphalt, numbers of passing in compaction, mixing and
compaction temperature, etc. Therefore, research on pavement damage
factors is required as early pavement damage occurred in many locations.
The paper deals with the laboratory research results and the result of road
improvement in several locations where early pavement damage occurred
(less than a year). Research result shows that the causes of pavement
damage are the lack of asphalt content (3.5 – 5.3%) and inadequate
compaction so that asphalt easily hardened (penetration value of asphalt
20) as a result of high void content and low asphalt content. Laboratory
research indicated that when mix temperature is lower than temperature
of viscosity 270 ± 20cSt and low asphalt mix temperature will influence
asphalt mix performance such as voids between aggregates are bigger,
voids filled with asphalt are low. Those factors are also the causes of early
damage.

Keywords : Asphalt Content, Void Content, Asphalt Hardening


PENDAHULUAN                                  Aspal sebagai bahan pengikat
                                         agregat untuk perkerasan jalan
    Banyak ditemui kerusakan             dimana mutu dan jumlahnya
perkerasan jalan rusak secara dini
                                         mempunyai andil besar terhadap
yang mana hal tersebut dapat
dikaitkan dengan kesalahan umum          terjadinya     kerusakan      jalan.
pada pelaksanaan jalan yang              Kurangnya tebal lapisan aspal /
menjadi penyebab banyaknya               kadar aspal dalam campuran
kerusakan jalan sebelum umur             dapat mengakibatkan pengerasan
pelayanan dilalui. Kesalahan –           aspal secara cepat.
kesalahan tersebut antara lain               Banyak faktor - faktor yang
penentuan jenis aspal yang               menjadi    penyebab      kerusakan
digunakan, kadar aspal, rongga           jalan. Untuk itu penelitian ini
dalam     campuran,    temperatur        dilakukan untuk mencari penyebab
pencampuran atau pemadatan.              penyebab     kerusakan     tersebut
dengan melihat hubungan kadar           sebagai       akibat       kurangnya
aspal dan pengerasan jalan,             pemadatan (jumlah lintasan), atau
pengaruh temperatur pencampuran         tipe pemadat yang tidak sesuai
dan       kepadatan    campuran         dengan kebutuhan, maka rongga
terhadap      kinerja  campuran         antara agregat menjadi besar
beraspal.                               sehingga oksidasi/ polimerisasi
                                        lebih cepat dibandingkan dengan
                                        perkerasan yang semua faktor-
KAJIAN PUSTAKA                          faktor yang disyaratkan terpenuhi.
                                        Sebagai      ilustrasi     terjadinya
     Bahan perkerasan jalan terdiri     kerusakan jalan yang diakibatkan
dari aspal dan agregat dimana           kurangnya kadar aspal            yang
jumlah dan mutunya sangat               melapisi    agregat,      temperatur
menentukan mutu perkerasan              pencampuran yang rendah serta
jalan disamping beberapa faktor         kepadatan campuran beraspal
antara lain temperatur pencampuran,     yang rendah diperlihatkan pada
temperatur            penghamparan,     Gambar 1.
temperatur        pemadatan      dan        Setiap disain dan pelaksanan
                                        suatu struktur perkerasan jalan
lainnya. Aspal merupakan bahan
                                        akan menghasilkan perkerasan
pengikat agregat apabila kadarnya
                                        yang tahan terhadap pengerasan
kurang dari kebutuhan maka aspal
                                        (hardening) aspal di perkerasan.
yang melapisi agregat menjadi           Hal yang menyangkut pada disain
tipis, yang berakibat pengerasan        adalah    tebal     lapisan     aspal,
lebih besar yang pada akhirnya          rendahnya        rongga        udara,
mudah        retak     atau   terjadi   pemadatan yang sesuai akan
pengelupasan        sebagai   akibat    menghasilkan perkerasan dengan
terjadinya oksidasi yang terjadi        kepadatan yang tinggi, dengan
pada aspal. Oksidasi terjadi pada       demikian terjadinya oksidasi bisa
tebal lapisan 5 micron sehingga         lebih lambat yang pada akhirnya
apabila lapisan aspal sama atau         perkerasan dapat mempunyai
hanya sedikit lebih besar dari 5        umur pelayanan sesuai rencana.
micron maka aspal akan cepat                Kepadatan             perkerasan
menjadi lapuk yang pada akhirnya        berhubungan       dengan      rongga
mudah terjadi deformasi antara          diantara agregat maupun rongga
lain pengelupasan dan retak.            dalam campuran (The Shell
     Demikian        pula    apabila    Bitumen,    1995)      menunjukkan
kepadatan perkerasan tidak terpenuhi    besarnya rongga berhubungan
dengan     pengerasan atau nilai            aspal (Aging Index), makin tipis
penetrasi aspal, makin besar                tebal    lapisan   aspal      yang
rongga maka makin kecil nilai               diakibatkan rendahnya kadar aspal
penetrasi sebagai hasil terjadinya          maka indek pelapukan menjadi
oksidasi dan polimerisasi aspal.            besar, umur pelayanan menjadi
    Tebal lapisan aspal akan                lebih rendah seperti diperlihatkan
mempengaruhi               terhadap         pada Gambar 3.
kecepatan terjadinya pelapukan

                                             Penurunan:           Indek Pelapukan
 • Kadar aspal rendah       Tebal lapisan    • Penetrasi tinggi   besar
   dan atau                 tipis,           • kenaikan titik
 • Temperatur rendah                           lembek tinggi
   dan atau
 • Kepadatan rendah


                                             Rongga besar         • Kerusakan
                                                                    secara dini
                                                                  • Umur
                                                                    pelayanan
                                                                    rendah



           Gambar 1 . Skema penyebab kerusakan dini perkerasan jalan




  Gambar 2. Pengaruh Kadar rongga dalam campuran terhadap penetrasi aspal
                      (Sumber The Shell Bitumen ,1995)
      Gambar 3. Pengaruh tebal lapisan aspal terhadap pelapukan aspal
                    (Sumber : The Shell Bitumen, 1995)




   Gambar 4. Pelapukan aspal yang terjadi selama pencampuran di AMP dan
           pada saat pelayanan. (Sumber The Shell Bitumen, 1995)

   Aspal pada perkerasan jalan              Gambar 4 ini menunjukkan
akan mengeras dari waktu ke             pelapukan yang terjadi pada saat
waktu yang secara otomatis akan         pencampuran antara aspal dan
                                        aggregat, transportasi dan masa
menaikkan    stiffness  modulus
                                        pelayanan.     Pelapukan   yang
(kekakuan) perkerasan yang pada         terbesar   terjadi   pada   saat
akhirnya perkerasan jalan akan          pemanasan aspal dan pencampuran
mengalami retak.                        aspal dan agregat. Pada saat
pemanasan aspal terjadi oksidasi /      1) Mutu dan gradasi agregat
penguapan fraksi ringan sehingga        2) Mutu aspal
terjadi     pengerasan        aspal,    3) Kadar    aspal    yang    akan
sedangkan pada saat pelayanan di            mempengaruhi tebal lapisan
perkerasan jalan pelapukan aspal            aspal
sangat     tergantung     besarnya      4) Pemadatan (jumlah lintasan dan
rongga     sebagai     hasil    dari        tipe     pemadat)        akan
pelaksanaan pemadatan.                      mempengaruhi         besarnya
    Aspal pada perkerasan akan
                                            rongga udara
mengalami      pengerasan      cepat
                                        5) Kurang sesuainya tipe aspal
apabila     setelah    pemadatan,
                                            yang digunakan untuk daerah
perkerasan mempunyai rongga
                                            dan jumlah / tipe kendaraan
udara yang besar. Besarnya rongga
                                            yang lewat.
udara (air void) menunjukkan
                                            Agar perkerasan dapat tahan
bahwa pemadatan kurang sesuai,
                                        lama maka diusahakan hardening
kadar     aspal     yang     rendah
                                        diperlambat yaitu dengan :
menyebabkan tipisnya lapisan
                                        1. Tebal lapisan aspal yang
aspal pada agregat yang memicu
                                            sesuai dengan hasil Job Mix
cepatnya pengerasan (hardening)
                                            Formula
sehingga menurunkan kemampuan
                                        2. Rongga udara kecil ini dapat
kelekatan aspal terhadap agregat
                                           diperoleh apabila kepadatan
dan pada akhirnya terjadi retak
                                           lebih    besar    dari    95%
    Faktor - faktor penyebab
                                           kepadatan di laboratorium.
terjadinya kerusakan perkerasan
jalan adalah :




  Gambar 5 .Besarnya rongga udara Vs penetrasi aspal pada perkerasan jalan
    Gambar       5     menunjukkan      pelaksanaan         juga       akan
besarnya          rongga       akan     mempengaruhi              kecepatan
mempengaruhi              kecepatan     pengerasan      aspal    (kecepatan
pengerasan aspal yang ditunjukkan       penurunan nilai penetrasi aspal)
dengan rendahnya nilai penetrasi        pada      perkerasan       sehingga
aspal. Perkerasan dengan rongga         perkerasan jalan akan cepat
udara      yang       besar    akan     mengalami kerusakan.
menghasilkan penurunan penetrasi            Hal tersebut tidak akan terjadi
yang     besar      sebagai   akibat    apabila    pelaksanaan pekerjaan
terjadinya oksidasi dan polimerisasi.   pengaspalan sesuai Job Mix
Perkerasan dengan rongga yang           Formula (JMF) dan pemadatannya
baik oksidasi akan berjalan lebih       sesuai (contoh A). Sebaliknya
lama karena sinar matahari lebih        pada contoh C cepat sekali
susah menembus sehingga aspal           mengalami       penurunan       nilai
akan mempunyai nilai penetrasi          penetrasi atau dengan kata lain
aspal yang masih tinggi dengan          cepat    mengalami      pengerasan
demikian        perkerasan dapat        akibat oksidasi dan polimerisasi
berumur lama.                           aspal sebagai akibat rendahnya
    Dari Gambar 6 tersebut terlihat     kadar aspal, besarnya rongga
bahwa      selain     kadar   aspal,    pada     perkerasan           akibat
temperatur         maupun       cara    pelaksanaan yang kurang sesuai.




 Gambar 6. Pengaruh penetrasi aspal terhadap waktu pelayanan pada keadaan
                                 A,B,C,D
Keterangan:                                                                   akan perubahan temperatur yaitu
                                                                              aspal yang mempunyai titik
A = perkerasan yang sesuai
                                                                              lembek tinggi atau mempunyai
  dengan hasil dari JMF dan
                                                                              tipe Penetrasi rendah atau PG
  pelakasanaannya yang baik
                                                                              tinggi.
B = Perkerasan dengan kadar
                                                                                  Aspal dengan nilai PG tinggi
  rongga yang besar sebagai
                                                                              akan mempunyai nilai tempertur
  akibat dari rendahnya kadar
                                                                              tinggi apabila diuji dengan alat
  aspal
C = Campuran beraspal yg tidak                                                DSR (Dinamic Shear Rheometer).
  memenuhi persyaratan baik                                                   Persyaratan aspal berdasarkan
  kadar      aspal       maupun                                               Performance Grade lebih sesuai
  pelaksanaannya                                                              karena      akan     menghasikan
D = Perkerasan dengan tem-                                                    temperatur aspal yang sesuai
  peratur yang terlalu panas.                                                 dengan temperatur daerah yang
                                                                              kita inginkan. Sehingga apabila
Pengaruh      NilaiPenetrasi/                                                 temperatur udara atau temperatur
Performance     Grade    (PG)                                                 perkerasan pada temperatur yang
terhadap terjadinya alur pada                                                 tertinggi = 64 C maka pilihlah
perkerasan.                                                                   aspal dengan minimum PG 64-27
   Pemilihan tipe aspal dapat juga                                            jangan memilih aspal dengan PG
memicu       kurang        awetnya                                            56-26 karena akan mudah terjadi
perkerasan jalan, sebagai contoh                                              alur karena kurang tahannya aspal
apabila pada daerah yang panas                                                tersebut terhadap temperatur
dan lalu lintas tinggi maka                                                   tertinggi pada daerah tersebut.
sebaiknya dipilih aspal yang tahan
                B aha n A sp al

                 H u b un g a n g ra d e a sp a l vs ke d a la m a n a lu r




          Gambar 7. Jenis aspal (PG) Vs besarnya alur (Ruth Depth)
     Makin tinggi tipe aspal (PG       rendah dibandingkan dengan aspal
aspal) maka terjadinya alur di         dengan penetrasi rendah. Hal ini
perkerasan jalan akan lebih kecil,     disebabkan aspal dengan nilai
hal ini disebabkan aspal yang          penetrasi rendah akan lebih cepat
mempunyai         temperatur   yang    mencapai nilai pen 20 sebagai
tinggi, tidak mudah terpengaruh        batas terjadinya pelapukan aspal
oleh          temperatur     udara/    (Yeament, 9) sehingga memicu
perkerasan sehingga perkerasan         terjadinya retak.
lebih kuat terhadap beban lalu
lintas, seperti diperlihatkan pada     Pengaruh Indek Penetrasi
Gambar 7. Aspal yang mempunyai         (Kepekaan Aspal terhadap
nilai titik lembek tinggi maka aspal   Perubahan Temperatur)
tersebut mempunyai nilai stiffness
                                            Aspal    dengan       kepekaan
modulus yang tinggi. Oleh karena
                                       terhadap temperatur (PI) tinggi
itu pemilihan jenis aspal salah
                                       dan PI rendah maka pada
satunya harus tepat sesuai dengan
                                       temperatur 25°C akan mempunyai
temperatur udara pada lokasi
                                       kemungkinan               terjadinya
dimana aspal digunakannya.
                                       kerusakan berupa deformasi dan
                                       resiko terjadinya retak dengan
                                       tren      sama,     namun       pada
                                       temperatur      rendah         resiko
                                       terjadinya retak aspal dengan PI
                                       rendah adalah lebih rendah
                                       dibandingkan      aspal dengan PI
                                       tinggi, namun pada temperatur
                                       tinggi akan mempunyai resiko
                                       terhadap terjadinya retak dan
                                       resiko terjadinya deformasi. Hal ini
                                       dapat terlihat pada hubungan
 Gambar 8. Pengaruh type aspal Vs
          Temperatur
                                       kekakuan aspal maupun kekakuan
                                       campuran         beraspal       yang
       Dari hasil yang ditunjukkan     merupakan fungsi dari temperatur
oleh Gambar 8 terlihat bahwa nilai     dan Indek penetrasi aspal , seperti
penetrasi aspal apabila tinggi,        terlihat pada rumus dibawah ini.
maka kecepatan terjadinya resiko            Rumus     untuk    menetukan
deformasi lebih tinggi tapi resiko     Stifness Modulus Aspal Sb seperti
terhadap terjadinya retak lebih        pada rumus 1.
Sb = 1,157x10-7x t-0,368 x 2,718-Pr                             Sb = Stiffness modulus aspal
x(TL - T )5           ..............(1)                         Smix = Stiffness modulus campuran
   Formula/   rumus         untuk                                     beraspal
menetukan    Stiffness Modulus                                  n =0,83{log 4 x 104 / Sb }
campuran Sc seperti pada rumus 2.
                                                                    Dari uraian diatas dapat
Smix = Sb{1+257,5 – 2,5VMA}n
                                                                disimpulkan    bahwa : Ketidak
             n ( (VMA - 3 )
                      ……………(2)                                  awetnya suatu perkerasan jalan
Dengan :                                                        atau sering disebut dengan
t = waktu pembebanan                                            kerusakan secara dini , terjadi
Pr = Penetrasi Indek Aspal x 0,35                               antara lain sebagai akibat hal-hal
TL = Titik lembek aspal                                         seperti tertera pada Tabel 1 :
T = Temperatur perkerasan jalan                                 (Bahan rapat koordinasi       Dep
      dimana aspal digunakan.                                   Kimbangwil,    Surabaya     2000)
VMA = Rongga diantara agregat

             Bahan A spal
           K ep eka an T erhad ap T em peratu r




                    Resi ko
                   Def orm asi                                              D (PI rend ah)
                                 Log Penetrasi




                                                                             C (PI tin gg i)




                    Resi ko
                    Ret ak


                                                 15 o C     25 o C       65 o C
                                                          Temp eratu r


                                                     Pada Pen Sam a



          Gambar 9. Nilai Penetrasi Indek Vs Kecepatan Deformasi dan
                            resiko terjadinya retak
                              Tabel 1.
       Beberapa faktor penyebab kerusakan perkerasan secara dini

No   KESALAHAN/ KELALAIAN YANG          AKIBAT YANG TERJADI/ MASALAH                 CARA MEMPERBAIKI /
            DILAKUKAN                           YANG TIMBUL                              MENGATASI

1    Penggunaan aspal dengan nilai      Campuran aspal menjadi keras/           Digunakan aspal yang sesuai
     penetrasi rendah                   lebih getas                             spesifikasi

2    Kadar     aspal kurang dari        Lapisan aspal terhadap agregat          Gunakan kadar aspal yang sesuai
     jumlah yang diperoleh dari JMF     kecil/ tipis , aspal akan cepat         dengan    hasil   perencanaan
                                        mengalami pengerasan , pelapukan        campuran ( JMF)
                                        aspal , perkerasan cepat retak,
3    Temperatur    di   AMP   terlalu   Penyelimutan agregat oleh aspal         Laksanakan pencampuran sesuai
     rendah                             tidak merata                            spesifikasi,  tergantung      jenis
                                                                                aspal .
4    Temperatur pemadatan terlalu       Pemadatan tidak sempurna, rongga        -Lindungi campuran beraspal
     rendah                             udara besar sehingga cepat terjadi      dengan terpal agar penurunan
                                        pengerasan aspa, cepat terjadi          temperatur tidak terlalu tinggi.
                                        retak                                   -Jarak AMP dengan lokasi harus
                                                                                paling lama 2 jam
                                                                                -Jangan lakukan        pemadatan
                                                                                pada saat hujan
5    Temperatur pemadatan terlalu       Terjadi alur pada perkerasan            Laksanakan sesuai temperatur
     tinggi                                                                     pemadatan yang sesuai
6    Temperatur         pencampuran     Target pemadatan tidak dipenuhi         -lakukan pencampuran sesuai
     tidak sesuai dengan hasil dari                                             dengan hasil dari pengujian
     laboratorium                                                               laboratorium
7    Jumlah       lintasan     tidak    -Lintasan kurang, target tidak          -lakukan jumlah lintasan sesuai
     ditetapkan       dengan hasil      tercapai                                yang disyaratkan
     percobaan                          -lintasan berlebih akan terjadi retak
8    Menggunakan material yang          Kelekatan aspal terhadap agregat        Material yang digunakan harus
     tidak bersih                       kurang sehingga kualitas campuran       selalu bersih dan memenuhi
                                        tidak bisa dipertanggung jawabkan       persyaratan.
9    Resep      campuran     sangat
     penting pengaruhnya terhadap       Persyarat material tidak dipenuhi       Dalam pembuatan Job Mix
     mutu     campuran     beraspal.    sehingga kualitas tidak dipenuhi        sejauh mungin menggunakan
     Resep      campuran      (JMF)     sehingga kualitas tidak seperti yang    materials yang ada dilokasi
     ditetapkan               tanpa     diharapkan.                             pekerjaan.
     mempertimbangkan
     ketersediaan material, cara
     pelaksaanaan dan harga
10   Menggunakan      batu    kerikil    Batu kerikil bulat tidak bisa saling   Gunakan batu        kerikil   yang
     (bukan batu pecah) tanpa           mengunci(interlocking)      sehingga    memenuhi syarat
     pengawasan ketat                   stabilitas    campuran       menjadi
                                        rendah.
11   Tidak          menggunakan
     thermometer          untuk         Kualitas campuran tidak terkontrol      Gunakan thermometer dan ukur
     pemantauan hasil campuran,                                                 pada setiap tahapan agar sesuai
     penghamparan dan pemadatan                                                 persyaratan
HIPOTESA                                3) 2 dari kota M
                                        4) 7 dari kota P
    Dengan    tidak    dipenuhi
                                        5) 5 dari kota BT
persyaratan mutu dan jumlah
bahan, pelaksanaan temperatur
                                        Pelaksanaan
pencampuran aspal dan agregat,
temperatur       penghamparan,          1. Dari perkerasan di
pemadatan yang tidak sesuai,               lapangan
akan menghasilkan perkerasan                a) Pengambilan        contoh
jalan yang tidak awet (rusak                   perkerasan di beberapa
sebelum     umur     perkerasan                lokasi
dilampaui).                                 b) Ekstraksi
                                            c) Distilasi
METODOLOGI                                  d) Pengujian mutu aspal
                                               - Penetrasi
    Penelitian ini dilaksanakan                - Titik lembek
dilaboratorium       dan       pada            - Daktilitas.
perkerasan jalan pada lokasi-lokasi
yang terjadi rusak secara dini/         2. Percobaan laboratorium
sebelum        umur     perkerasan      •   Variasi temperatur pencampuran
dilampaui. Pelaksanaan adalah           •   Variasi kepadatan campuran
dengan memeriksa contoh-contoh              beraspal
yang diambil dari perkerasan-
perkerasan yang masih baik dan          Hasil Pengujian
yang mengalami kerusakan yaitu
                                            Untuk mengetahui salah satu
dengan cara ekstraksi untuk
                                        faktor    penyebab     kerusakan
menentukan kadar aspal, distilasi
                                        dilakukan penentuan kadar aspal
untuk mentukan mutu aspalnya
(penetrasi, titik lembek, daktilitas)   campuran      beraspal     untuk
dengan cara merecovery pelarutnya.      mengetahui apakah sesuai dengan
                                        kadar aspal pada job mix formula
Bahan Percobaan:                        Pengambilan contoh dilakukan
   Sebagai     bahan    percobaan       pada daerah - daerah yang
diambil contoh perkerasan dari          perkerasan jalannya mengalami
beberapa kota dan lokasi.               kerusakan.
1) 4 contoh dari Kota S
2) 2 dari kota B
1. Lokasi S                             lokasi B-1 kadar aspal lebih rendah
                                        dari pada lokasi B-2 sehingga
        Pada lokasi S ini dilakukan
                                        lapisan aspal terhadap agregat
4 contoh perkerasan. Ternyata
                                        lebih tipis dari pada pada lokasi B-
dari empat contoh aspal tersebut
                                        2 yang pada akhirnya memicu
mempunyai nilai kadar aspal
                                        terjadinya kerusakan lebih cepat
antara 4,4% sampai 5,9%,
                                        dari perkerasan pada lokasi B-2.
dimana kadar aspal yang diproleh
dari JMF adalah 5,7%. Sehingga
hanya pada perkerasan dengan
kadar aspal 4,4% yang tidak
memenuhi persyaratan, terlihat
pada kondisi dilapangan yang
sedah terjadi retak, pengelupasan
sebagai akibat tipisnya lapisan
aspal yang menyelimuti agregat          Gambar 11. Pengaruh kadar aspal
yang pada akhirnya            terjadi    Vs penetrasi aspal pada lokasi B
pengerasan aspal yang terlihat
dari nilai perbandingan penetrasi
asli dan penetrasi aspal hasil          3. Lokasi M
ekstraksi yang mengGambarkan                    Demikian juga pada lokasi
tingkat pelapukan aspal seperti         M-1 pengerasan aspal lebih cepat
tertera pada Gambar 8.                  terjadi dibandingkan pada lokasi
                                        M-2 sebagai akibat rendahnya
                                        kadar aspal pada lokasi M-1,
                                        sedangkan pada lokasi M-2 kondisi
                                        masih baik dibandingkan dengan
                                        lokasi M-1



 Gambar 10. Pengaruh kadar aspal
  Vs penetrasi aspal pada lokasi S

2. Lokasi B
   Pada lokasi B terlihat bahwa
pada B-1 aspal akan mengalami
pengerasan lebih cepat dari              Gambar 12. Pengaruh kadar aspal
contoh B-2 Hal ini karena pada             Vs penetrasi aspal pada lokasi
4. Lokasi P                            besar akibat kurang padatnya
     Pada lokasi ini contoh diambil    perkerasan    sehingga  oksidasi
pada lokasi perkerasan yang rusak      berjalan lebih cepat dari pada
dan yang masih baik, dari hasil        perkerasan dengan rongga kecil.
pengujian ekstraksi, diperoleh nilai
kadar aspal dan dari mutu aspal-                     Tabel 2.
nya diperoleh nilai penetrasi aspal.   Hasil pengujian Ekstraksi contoh dari
                                                     lokasi P
Dari hasil penentuan kadar aspal
terlihat bahwa apabila kadar aspal      No    KA,
                                                     pen    Kondisi   Kepadatan
rendah maka akan menghasilkan                 %

nilai penetrasi yang rendah,            P-1   3.03     36   Rusak     C ukup Baik

namun nilai penetrasi tidak hanya       P-2    4.1     30   Rusak     C ukup Baik
dipengaruhi oleh kadar aspal            P-3    4.3     25   Rusak     Kurang Baik
(pada contoh P-7) hal ini               P-4   4.42     31   Rusak     C ukup Baik
kemungkinan              disebabkan
                                        P-5   4.75     26   Rusak     C ukup Baik
pemadatan yang kurang atau
                                        P-6   4.79     32   Rusak     C ukup Baik
material agregat yang kurang
sesuai kotor atau gradasi yang          P-7    5.2     36   Rusak     C ukup Baik

tidak hal ini terlihat kadar aspal      P-8   5.35     42   Baik      Baik
masih cukup, nilai penetrasi masih
lebih besar dari 30 (batas             Pengaruh        kadar     aspal
terjadinya pelapukan aspal).           terhadap nilai daktilitas aspal
        Kotornya agregat atau          hasil ekstraksi
gradasi yang kurang sesuai dapat
menjadi penyebab seperti terlihat          Pada lokasi P, kadar aspal hasil
pada contoh P-1 yang masih             Job Mix Formula adalah 5,5%
mempunyai penetrasi yang cukup         sehingga terlihat apabila kadar
tinggi walau kadar aspal kecil         aspal tinggi serta pelaksanaan baik
namun sudah terjadi kerusakan.         maka aspal masih cukup elastis
        Nilai penetrasi aspal yang     karena adanya pelapukan akan
masih cukup tinggi diperkerasan        menjadikan       penetrasi    aspal
hal ini bisa disebabkan pemadatan      menjadi rendah atau keras sampai
yang      cukup,     baik    jumlah    kaku. Pada hasil ini juga terlihat
lintasannya maupun tipe pemadat        kadar aspal yang rendah (3,03%)
yang digunakan demikian pula           menghasilkan nilai daktilitas yang
sebaliknya, apabila nilai penetrasi    lebih besar (82 cm) apabila
aspal diperkerasan menjadi kecil       pemadatannya sesuai persyaratan
hal ini disebabkan rongga yang         dibandingkan        dengan      dari
perkerasan dengan kadar aspal              percobaan        ini       temperatur
4,3% (26,3 cm) dapat disebabkan            pencampuran aspal adalah 152 °C.
temperatur pencampuran yang                (temperatur pada Viskositas aspal
terlalu      tinggi     sehingga           270 ± 20oc St )
menyebabkan berubahnya sifat                    Dari hasil penelitian tersebut
rheologi aspal (kaku).                     terlihat    bahwa      makin       kecil
                                           temperatur pencampuran makin
               Tabel 3.
                                           kecil pula Marshall Quotion (nilai
Hasil pengujian Kadar aspal dan nilai
                                           bagi Stabilitas Marshall terhadap
   daktilitas aspal hasil ekstraksi.
                                           kelelehan). Hal ini disebabkan
  KA     Daktilitas
 (%)       (cm)
                      Kondisi perkerasan   pada temperatur rendah viskositas
  3.03      82            Agak rusak       aspal     makin     tinggi    (kental)
  4.1       35           Rusak parah
                                           sehingga aspal kurang dapat
                                           menyelimuti dan mengisi rongga
  4.3      26.3          Rusak parah
                                           sehingga rongga menjadi besar
  4.42      85           Rusak ringan
                                           (Gambar 11), stabilitas Marshall
  4.75      30           Rusak parah       menjadi       rendah,        kelelehan
  4.79      40              rusak          campuran akan menjadi besar.
  5.2      56.2          Rusak ringan      Dengan demikian hasil bagi
  5.35      140              baik
                                           Stabilitas     Marshall      terhadap
                                           kelelehan menjadi lebih kecil
                                           demikian pula dengan rendahnya
Pengaruh temperatur
                                           temperatur akan mempengaruhi
pencampuran terhadap
                                           rongga terisi aspal karena aspal
rongga campuran beraspal.
                                           yang kental akan lebih sulit untuk
    Dari   penelitian   mengenai           mengisi rongga sehingga rongga
Pengaruh temperatur pencampuran            yang terisi aspal akan lebih kecil
aspal dengan agregat terhadap              dibandingkan       dengan         pada
nilai rongga dalam campuran,               temperatur campuran yang lebih
menunjukkan bahwa temperatur               tinggi.
aspal mempengaruhi nilai rongga                 Dengan     rendahnya         aspal
campuran baik rongga diantara              menyelimuti       agregat        maka
agregat (VMA) maupun rongga                campuran / perkerasan akan lebih
dalam campuran. Makin rendah               cepat      mengalami        kerusakan
temperatur aspal untuk campuran            karena pelapukan akan lebih cepat
beraspal, diperoleh nilai rongga           terjadi akibat terjadinya oksidasi,
yang makin besar dan nilai                 serta      mudahnya         terjadinya
kepadatan makin kecil. Untuk               pelepasan ikatan antara agregat.
 Gambar 13. Pengaruh Temperatur
  pencampuran terhadap Rongga          Gambar 15. Pengaruh kepadatan
        diantara agregat               terhadap Rongga dalam Campuran




 Gambar 14. Pengaruh temperatur
  pencampuran dengan kepadatan
       campuran beraspal.              Gambar 16. Pengaruh kepadatan
                                       terhadap Rongga diantara agregat
Pengaruh kepadatan
campuran beraspal terhadap            Pengaruh Kepadatan terhadap
karakteristik Marshall.               Rongga Terisi Aspal (VFB)
    Besar    kecilnya     kepadatan      Campuran      beraspal    yang
campuran        beraspal       akan   mempunyai kepadatan rendah
mempengaruhi        nilai    rongga   maka rongga terisi akan rendah
diantara agregat, rongga dalam        sebaliknya   apabila    kepadatan
campuran makin kecil kepadatan        campuran beraspal tinggi maka
campuran maka rongga dalam            rongga terisi aspal makin tinggi
campuran dan rongga diantara          sehingga perkerasan akan lebih
agregat makin besar hal ini akan      tahan terhadap terjadinya oksidasi
menyebabkan oksidasi lebih cepat      pada akhirnya perkerasan akan
terjadi sehingga terjadi pelapukan    dapat berumur lebih lama.
aspal.
                                    kadar aspal dan penetrasi = 0,311
                                    ½
                                        = 0,5577 disini terlihat bahwa
                                    korelasi penetrasi dan kadar aspal
                                    = 55,8% , ini menunjukkkan ada
                                    faktor lain yang menyebabkan
                                    turunnya nilai penetrasi aspal pada
                                    perkerasan jalan yaitu pemadatan,
                                    besarnya rongga, bersih tidaknya
 Gambar 17. Pengaruh kepadatan      agregat,
   terhadap Rongga Terisi Aspal         tipe aspal yang digunakan,
                                    gradasi     agregat,     temperatur
                                    pelaksanaan dan lain sebagainya.
Pembahasan/ Analisa data.           Namun terlihat bahwa kadar aspal
    Untuk mengetahui seberapa       menyumbang         paling       besar
besar        hubungan     antara    terhadap kecepatan pengerasan
pengerasan / turunnya nilai         aspal sehingga nilai penetrasi
penetrasi dengan kadar aspal        aspal turun dengan cepat yang
dilakukan analisa berdasarkan       pada akhirnya dapat memicu
persamaan garis untuk menentukan    terjadinya pelapukan aspal (pen =
nilai korelasi tersebut.            20 sebagai batas kritis pelapukan
                                    aspal )“ (Yeaman,1996).
                                        Dari       hasil       pengaruh
                                    temperatur pencampuran maupun
                                    nilai kepadatan campuran beraspal
                                    akan      sangat     mempengaruhi
                                    kinerja     campuran        beraspal,
                                    temperatur pencampuran pada
                                    saat pelaksanaan yang tidak
                                    sesuai      dengan       temperatur
  Gambar 18. Hubungan antara        pencampuran rencana           sangat
   kadar aspal terhadap penetrasi   mempengaruhi               terhadap:
                                    kepadatan campuran beraspal,
   Dari data data tersebut diatas   rongga       diantara        agregat,
menunjukkan penetrasi dan kadar     pelapukan aspal, rongga terisi
aspal     diperoleh    hubungan     aspal.
potensial dengan persamaan log          Makin     rendah     temperatur
pen = 0,06X² - 0,451X + 2,25,       pencampuran makin kecil rongga
dengan faktor korelasi(r) antara    yang terisi aspal demikian juga
kepadatan campuran beraspal            5. Kebersihan bahan (material)
makin kecil, sehingga campuran            akan mempengaruhi kelekatan
akan lebih cepat mengalami                aspal terhadap batuan
pelapukan.                             6. Besarnya kepadatan campuran
    Demikian    juga    kepadatan         beraspal         mempengaruhi
campuran       beraspal      akan         kinerja campuran beraspal
mempengaruhi      rongga    dalam         antara lain Rongga diantara
campuran atau rongga diantara             agregat,      rongga       dalam
agregat, serta rongga terisi aspal
                                          campuran dan rongga terisi
sehingga akan mempengaruhi
                                          aspal, makin kecil kepadatan
kecepatan oksidasi yang memicu
                                          makin       rendah        kinerja
terjadinya pelapukan aspal pada
perkerasan jalan.                         campuran beraspal \ sehingga
                                          dapat       diprediksi      akan
KESIMPULAN                                mempercepat pelapukan.
                                       7. Rongga dalam campuran akan
    Agar      perkerasan       jalan      mempengaruhi           kecepatan
mempunyai        umur     pelayanan       terjadinya pelapukan
sesuai dengan rencana maka hal-               Dengan      memperhatikan
hal     yang     perlu    mendapat
                                       dan melaksanakan pelaksanaan
perhatian adalah :
                                       pekerjaan pengaspalan sesuai
1. Kadar aspal harus sesuai
                                       persyaratan    maka     diperlukan
    dengan rencana campuran
                                       ketepatan dan kesesuaian antara
    (JMF).
                                       persyaratan dan pelaksanaan,
2. Gradasi agregat harus sesuai
                                       agar nilai pengerasan dan rongga
    dengan persyaratan.
                                       tidak terlampau besar sehingga
3. Pelaksanaan         pencampuran
                                       untuk mencapai nilai batas kritis
    antara agregat dan aspal harus
                                       pelapukan bisa lebih lama dengan
    pada temperatur pencampuran
                                       demikian       umur     pelayanan
    maupun               temperatur
                                       perkerasan jalan dapat mendekati
    pemadatan yang diperoleh
                                       umur rencana.
    dilaboratorium.
4. Jumlah lintasan pemadatan,
                                       Ucapan terima kasih
    tipe pemadat yang digunakan
    akan             mempengaruhi      Terima kasih kami sampaikan
    kepadatan dan kinerja dari         pada pihak-pihak yang membantu
    perkerasan.                        terlaksananya tulisan ini.
DAFTAR PUSTAKA                       Madi Hermadi dan Nono, 2004,
                                          Pengaruh tingkat kepadatan
Bahan Rapat koordinasi Dep.               terhadap          Volumetrik
    Kimpraswil, 2000, Kesalahan           campuran     Beton      aspal
     Umum      Pada    Pelasanaan         dengan analisa Jalur , Jurnal
     Jalan     Dan      Jembatan,         Litbang Jalan , Vol 21, No 4,
    Surabaya 2-3 Maret 2000               Nopember 2004
Departemen Pekerjaan Umum, P3J       Proceeding Association of Asphalt
    &     Japan     International         Paving Technologist, 1979,
    Cooperation Agency, 2007,               Discussion on Temperatur
    Bahan      Kuliah      Aspal,           Viscosity  properties   of
    Bandung, 5 Nopember 2007.               Asphalt.
Departemen Pekerjaan Umum,           Shell, 1999, The Shell Bitumen
    2005, Divisi 6 Perkerasan               Hand Book
     Jalan seksi 6.3 Campuran        Tjitjik WS, 1990, Pelapukan aspal,
     Beraspal Panas, Spesifikasi         KTTJ ke I, Bandung
     Umum, Jakarta.                  Yeaman,       1996,    Asphalt
Kurniaji, 2007, Kerusakan bleeding        Management hand Book
     pada Lapisan Asphalt akibat
     temperatur    aspal     saat
     pencampuran, Jurnal Litbang
     Jalan , Vol 24, No 2, Nop
     2007

								
To top