Docstoc

JURNAL PUSJATAN-EKSTRAKSI ASPAL ASBUTON UNTUK CAMPURAN BERASPAL PANAS-FURQON

Document Sample
JURNAL PUSJATAN-EKSTRAKSI ASPAL ASBUTON UNTUK CAMPURAN BERASPAL PANAS-FURQON Powered By Docstoc
					      EKSTRAKSI ASPAL ASBUTON UNTUK CAMPURAN
                   BERASPAL PANAS
                                       Oleh :
                                   Furqon Affandi


RINGKASAN
Asbuton merupakan kekayaan alam Indonesia dengan jumlah deposit yang cukup besar
dan belum termanfaatkan secara optimal, padahal disisi lain kita secara nasional
mengimpor aspal dari luar negeri sebanyak sekitar 650.000 ton pertahunnya.
Peningkatan teknologi untuk menghasilkan aspal Asbuton yang bisa efektif dalam
campuran maupun dalam penggunaan kadar aspalnya sendiri, perlu dilakukan secepat
mungkin.
Dalam tulisan ini diuraikan sifat sifat aspal Asbuton hasil teknologi ekstraksi yang
mempunyai kadar mineral sudah sangat kecil ( < 1 % ), juga diuraikan sifat sifat
campuran beraspal berdasarkan pengujian Marshall yang menggunakan aspal Asbuton
dan aspal minyak penetrasi 60.
Pada sifat sifat campuran beraspal juga diperiksa stiffness modulusnya pada berbagai
temperatur, dan ketahanannya terhadap deformasi atau total regangan akibat beban
berulang. Hasil pengujian menunjukkan ekstraksi aspal Asbuton dan campuran beraspal
yang menggunakan ekstraksi aspal Asbuton, mempunyai sifat yang baik umumnya
dibandingkan aspal minyak biasa, terutama untuk daerah dimana temperaturnya cukup
tinggi seperti Indonesia.

SUMMARY
Asbuton is Indonesian natural resource with a large amount of deposit, but has not been
effectively utilized. On the other hand Indonesia imports asphalt about 650,000 tonnes
per annum. Technology improvement to produce Asbuton with can be effectively used
both in mixture and in asphalt content is immediately required.
This article describes the properties of Asbuton resulted from extraction technology with
has little mineral content ( < 1% ) and also describes properties of bituminous mixtures
using bitumen Asbuton and asphalt cement pen grade 60 by Marshall method.
The stiffness modulus properties of bituminous mixtures, resistance against deformation
or accumulative strain due to repeated loading were examined in various temperatures.
The test results show that bitumen of Asbuton extraction and asphalt mixes using bitumen
Asbuton, generally has good performance compared to conventional asphalt cement
especially for tropical area such as Indonesia.
I.   PENDAHULUAN                         terlindung,     bahkan masih sering
                                         didapati ukuran Asbuton yang
Asbuton sebagai sumber kekayaan          diterima dalam ukuran bongkahan
alam di Indonesia yang jumlahnya         bongkahan yang cukup besar. Hal ini
sangat     besar,    dengan    deposit   merupakan salah satu keengganan
diperkirakan lebih dari 200 juta ton,    para pengguna untuk menggunakan
sampai saat ini belum termanfaatkan      Asbuton tersebut, karena perlu
secara optimal, hal ini dikarenakan      penanganan yang cukup berat serta
antara lain oleh teknologi produksi      mengolah kembali Asbuton tersebut
yang sudah dikembangkan sampai           sebelum dipergunakan dengan jalan
saat ini belum memberikan efektifitas    menyaringnya        kembali   bahkan
dalam campuran beraspal maupun           memecahnya kembali.
dalam pengangkutannya, disebabkan        Pengembangan teknologi produksi,
Asbuton     yang     diangkut   masih    untuk       mendapatkan       kualitas
mengandung mineral sebagaimana           campuran beraspal dengan meng
adanya yaitu sekitar 75 – 80 %.          gunakan Asbuton terus dikembang
Sudah     sejak    lama,   kelemahan     kan, dan sampai saat ini pengem
produksi Asbuton terletak pada           bangannya ditekankan pada Asbuton
ukuran butir yang besar sehingga         butir dengan memperkecil ukuran
bahan pelunak susah masuk dan            butir serta cara pengemasan guna
melunakkan bitumen yang ada dalam        mencagah perubahan kadar air pada
Asbuton, kadar air yang tinggi, dan      bahan hasil produksi.
kandungan mineral dalam Asbuton          Permasalahan ini dicoba untuk diatasi
yang masih tinggi sebagai mana           dengan membuat produksi Asbuton
disebutkan diatas.                       yang lebih mudah penggunaanya,
Padahal disatu sisi untuk memenuhi       yaitu dengan memperkecil ukuran
kebutuhan aspal secara nasional tiap     maksimum butirannya, mengirimnya
tahunnya, kita harus melakukan           dalam kemasan karung plastic yang
impor dari beberapa negara asing         tahan air, yang dikenal dengan
sebanyak sekitar 650.000 ton,            produk produk yang disebut seperti
dikarenakan produksi aspal dalam         Asbuton halus, Asbuton mikro dan
negeri yang masih terbatas.              Buton Granular Aspal.
Produk pertama yang dibuat sejak         Penggunaan produk produk seperti
jaman Belanda dulu yaitu yang            ini dalam campuran beraspal relative
disebut      Asbuton     konvensional,   sedikit, hal ini dikarenakan pertama,
dimana Asbuton yang diproduksi           bitumen Asbuton yang terkandung
ialah dari daerah Kabungka dengan        dalam produk tersebut bersifat keras
ukuran butir maksimum 12,7 mm dan        sehingga proporsi penggunaanya
dikirim dalam bentuk curah, sehingga     harus dibatasi, dan yang kedua
kadar air sulit terjaga, diperlukan      kandungan mineral yang tinggi dalam
tempat penampungan yang luas dan         Asbuton      tersebut    akan    mem
pengaruhi       jumlah      kandungan      akses jalan ke daerah tersebut pada
material halus dalam campuran              waktu itu sudah ada. Sedangkan
beraspal, dan jika terlalu banyak          untuk daerah Lawele, pada umumnya
akan menyebabkan gradasi agregat           aspalnya bersifat lebih lunak dimana
yang disyaratkan dalam spesifikasi         teknologi untuk mengolah aspal jenis
bisa tidak terpenuhi.                      ini dirasa masih sulit selain fasilitas
Guna mengatasi masalah masalah             jalan dan dermaga untuk peng
tersebut, baik dari segi teknis kualitas   angkutannya belum baik.
produk Asbuton, maupun pemenuhan           Secara umum karena Asbuton ini
kebutuhan aspal dalam negeri setiap        merupakan aspal alam, maka varia
tahunnya maka diperlukan inovasi           bilitas dalam kandungan bitumen
teknologi produk Asbuton yang bisa         serta sifat sifat teknisnya pun
memberikan jawaban atas perma              bervariasi antara satu deposit ke
salahan tersebut diatas.                   deposit yang lainnya dan hal ini akan
                                           menyulitkan dalam perencanaan cam
                                           puran maupun penggunaanya. Dalam
II.   PERKEMBANGAN ASBUTON                 mengatasi hal ini, produk Asbuton
                                           konvensional dibeda bedakan atas
Aspal secara garis besarnya dapat          kandungan bitumennya, sehingga
dibedakan atas dua macam tipe,             dikenal dengan istilah B16,B18, B20
yaitu aspal yang dihasilkan dari           dimana angka 16, 18 dan 20
proses penyulingan minyak bumi dan         menunjukkan      prosentase     kadar
aspal alam. Aspal alam ini dapat           bitumen yang dikandungnya, dengan
dibedakan lagi atas aspal danau (          demikian diharapkan ketepatan peren
lake asphalt ) dan “rock asphalt”.         canaan akan lebih baik lagi.
Salah satu negara yang mempunyai           Berdasarkan hal hal tersebut, aspal
deposit rock asphalt di dunia ialah        dari daerah Kabungka lah yang
Indonesia. Asbuton yang ada di             diproduksi dan umumnya orang
Indonesia    ini  termasuk   dalam         mengetahui bahwa Asbuton itu hanya
katagori jenis aspal alam “rock            dari daerah Kabungka saja. Asbuton
asphalt”, karena aspal dan mineral         pertama kali diproduksi pada tahun
pada Asbuton ini sudah merupakan           1926, dan terus dipergunakan untuk
suatu kesatuan.                            bahan perkerasan jalan dengan nama
Secara umum deposit Asbuton ini            Asbuton konvensional dengan ukuran
dapat terletak di dua daerah yang          butir maksimum 12,7 mm. Asbuton
berbeda yaitu Kabungka dan Lawele,         konvensional ini mencapai jumlah
dimana aspal dari Kabungka ini yang        produksi yang paling besar pada
pertama tama kali dikembangkan,            tahun 1978 dan sesudah itu terus
dikarenakan aspal dari daerah              menurun, bahkan produksinya ter
tersebut cukup keras sehingga lebih        henti pada tahun 1987. Hal ini
mudah untuk dipecah disamping              dikarenakan kinerja perkerasan yang
menggunakan Asbuton pada umum            Percobaan yang telah dilakukan oleh
nya kurang bisa bersaing dengan          Dairi (1992 ) menunjukkan bahwa
aspal minyak (hot mix). Pada waktu       waktu yang dibutuhkan bahan
tersebut, produk Asbuton konven          peremaja bisa masuk ke dalam
sional banyak digunakan pada             butiran Asbuton adalah 254 hari.
campuran beraspal dingin seperti         Karena itu Purwadi (1998) menya
Lasbutag (Lapis Buton Agregat) dan       rankan untuk menggunakan bahan
Latasbum (Lapis Tipis Asbuton            peremaja yang lebih encer lagi
Murni).                                  sehingga     lebih    mudah    masuk
Pada campuran Lasbutag maupun            kedalam butiran Asbuton tersebut
Latasbum, Asbuton dicampur dengan        serta melunakan aspal yang ada
bahan peremaja, dimana yang sering       didalamnya. Percobaan yang dilaku
dipergunakan kala itu ialah Flux Oil     kan oleh Zamhari yang disampaikan
atau Bunker Oil yang dimaksudkan         oleh Purwadi (1998), dimana butiran
agar bahan tersebut bisa masuk dan       Asbuton dicampur dengan kerosin
meresap kedalam butiran Asbuton,         pada perbandingan 67% Asbuton dan
dan selanjutnya diharapkan dapat         33% kerosin, yang kemudian diaduk
melunakan dan bahkan menge               selama satu jam pada temperatur
luarkan aspal yang ada dalam             90 ºC, dimana hanya sekitar 60 %
Asbuton, serta tetap menjaga bitu        aspal yang bisa keluar dari butiran
men Asbuton yang keras itu menjadi       tersebut. Hal ini membuktikan
lunak sesuai dengan kebutuhan            bahwa memobilisir bitumen yang
perkerasan jalan. Akan tetapi hal ini    ada dalam butiran Asbuton tersebut
tidak berjalan sebagai mana yang         sangat sulit sekali.
diharapkan, karena bahan pelunak         Teknologi pengurangan kandungan
tersebut      sulit masuk     kedalam    mineral dalam Asbuton, merupakan
butiran Asbuton dan melunakan            salah satu cara untuk meningkatkan
aspal yang ada didalamnya. Hal           efektifitas   penggunaan      Asbuton
ini     dikarenakan    ukuran    butir   dalam campuran beraspal, namun
Asbuton nya sendiri yang masih           kadar mineral yang masih cukup
terlalu     besar, disamping    kadar    tinggi akan menyulitkan dalam
airnya yang cukup tinggi sehingga        proses      pembuatan       campuran
mengakibatkan menambah sulitnya          beraspal di AMP nya, antara lain
bahan peremaja masuk kedalam             akan menimbulkan masalah penyum
butiran Asbuton tersebut. Pada           batan dalam pipa penyalur aspal dan
akhirnya keadaan seperti ini meng        kualitas aspal bisa tidak seragam
akibatkan perkerasan dengan cam          dikarenakan adanya sebagian mine
puran beraspal dengan Asbuton            ral Asbuton yang mengendap dalam
seringkali menunjukkan kegagalan         tanki aspal tersebut.
dibanding keberhasilannya.
III. METODOLOGI PENELITIAN                 maupun dalam     bentuk   campuran
                                           beraspalnya.
Metodologi yang dilakukan pada
penelitian ini ialah berupa peng           IV. SIFAT ASPAL EKSTRAKSI
ujian di laboratorium terhadap sifat           ASBUTON DAN CAMPURAN
sifat ekstraksi aspal Asbuton serta            BERASPALNYA
aspal minyak dan kinerja campuran
beraspal       yang      menggunakan       4.1 Fungsi    Aspal         Dalam
ekstraksi aspal Asbuton maupun                 Campuran Beraspal
aspal minyak.                              Aspal merupakan bahan pengikat dan
Pengujian sifat sifat aspal didasarkan     sekaligus bahan pengisi rongga
atas pengujian yang disyaratkan            dalam campuran beraspal tersebut,
pada spesifikasi pekerjaan jalan           sehingga aspal harus bisa menye
pada umumnya dan analisanya                limuti semua permukaan agregat
ditekankan pada pengaruhnya ter            dengan merata dan mengikatnya
hadap     sifat    campuran      seperti   antara satu agregat dengan agregat
sumbangannya terhadap ketahanan            yang lainnya.
alur    dan     ketahanan     terhadap     Karena itu pada campuran beraspal
perubahan tem peratur, terutama            dikenal temperatur pencampuran
untuk tem peratur yang tinggi.             dan temperatur pemadatan, dimana
Pengujian terhadap campuran ber            aspal harus    dipanaskan terlebih
aspal pertama tama dilakukan               dahulu (bila diperlukan) sampai
dengan metoda Marshall guna                mencapai tingkat keenceran tertentu
mendapatkan         campuran        yang   agar dapat      dicampur    dengan
optimal. Selanjutnya campuran yang         mudah dan menyelimuti seluruh
optimal ini diuji ketahanannya di          permukaan agregat secara merata.
laboratorium      terhadap     stiffness   Begitu pula pada waktu pema
modulus dan pengaruhnya ter                datan aspal masih cukup encer
hadap      temperatur,       ketahanan     sehingga pemadatan masih dapat
terhadap       alur melalui pengujian      dilakukan     dengan mudah guna
deformasi        atau total regangan       mencapai kepadatan maksimal.
(creep) akibat beban berulang pada
berbagai tempertur pengujian dan           Aspal    walaupun   penggunaanya
ketahanan       campuran       beraspal    sedikit dalam campuran beraspal,
tersebut terhadap pelepasan butir          yaitu   kadarnya   hanya   sekitar
yang dilakukan dengan metoda               5 sampai 6 % terhadap berat cam
Cantanbro.                                 puran, namun mempunyai pengaruh
Selanjutnya      dilakukan     evaluasi    yang sangat besar terhadap kinerja
dengan cara membandingkan kinerja          campuran tersebut maupun terha
kedua jenis aspal tersebut, baik           dap kinerja perkerasannya sendiri.
dilihat    dari     aspalnya     sendiri   Karena itu fungsi aspal dalam
campuran harus bisa                   dipenuhi           suatu campuran beraspal maupun
semaksimal mungkin.                                      dalam jumlah penggunaannya.
                                                         Saat ini telah dihasilkan produk
4.2 Aspal Buton Hasil Ekstraksi                          Asbuton    yang dihasilkan dengan
Berdasarkan     penjelasan    diatas,                    cara ekstraksi dimana kandungan
maka    peningkatan        efektifitas                   mineralnya sudah lebih kecil dari
Asbuton sangat perlu ditingkatkan                        1% walaupun masih dalam skala
terus,  baik    dari segi efektifitas                    uji coba, belum sampai pada skala
fungsi bitumen dalam campuran                            produksi masal.
beraspal maupun efektifitas jumlah                       Bahan Asbuton yang diperguna
penggunaan      kadar aspal yang                         kan ialah     Asbuton dari daerah
ada dalam Asbuton tersebut. Dari                         Lawele yang mempunyai sifat aspal
segi   penggunaan Asbuton dalam                          yang lebih lunak dibandingkan aspal
campuran beraspal, diperkirakan                          Asbuton     dari Kabungka sebagai
jumlah “sumbangan” aspal dari                            mana disebutkan didepan.
Asbuton      yang    dapat diterima,                     Produk    ekstraksi     Asbuton    ini,
hanya sekitar 2 % dari 6 %                               mempunyai      sifat     sifat  teknis
bitumen yang dibutuhkan pada                             sebagaimana        ditunjukkan pada
umumnya.                                                 Tabel 1, dan sebagai gambaran
                                                         untuk perbandingan dengan aspal
Berdasarkan    hal  hal  tersebut,                       minyak yang mempunyai penetrasi
ekstraksi Asbuton merupakan suatu                        yang kurang lebih sama, maka
cara untuk memanfaatkan dan                              pada Tabel yang sama disajikan
mengefektifkan penggunaan Asbuton                        pula persyaratan persyaratan sifat
ini baik dalam segi fungsi dalam                         aspal minyak pen 40 / 50.

                                    Tabel 1.
 Sifat sifat aspal ekstraksi Asbuton dan Persyaratan aspal minyak pen 40/50

 No           Jenis Pengujian                 Metoda        Nilai pengujian    Syarat     Satuan
                                             Pengujian      ekstraksi aspal   Aspal pen
                                                                Asbuton         40/50
 1    Penetrasi pada 25C, 100g , 5 detik   SNI 06-2456-91        43,6           40-50     0,1 mm
 2    Titik Lembek                         SNI 06-2434-91        57,3             -          ºC
 3    Titik nyala (COC)                    SNI 06-2433-91        245            > 232        ºC
 4     Daktilitas 25C, 5cm/mnt             SNI 06-2432-91       > 140           > 100       Cm
 5    Berat Jenis                          SNI 06-2441-91       1.032             -           -
 6    Kelarutan dalam C2HCl3               SNI 06-2438-91         99             >99         %
 7    Kehilangan berat (TFOT)              SNI 06-2440-91       0,175           < 0,8        %
 8    Penetrasi setelah TFOT               SNI 06-2456-91       66,51            >58         %
 9    Titik lembek setelah TFOT            SNI 06-2434-91        60,3             -          ºC
 10   Daktilitas setelah TFOT              SNI 06-2432-91       > 140             -         Cm
Dilihat dari hasil pengujian tersebut      memberikan petunjuk bahwa kelen
ada beberapa hal yang dapat ditarik:       turan aspal ini cukup baik.
Titik lembek aspal ekstraksi Asbuton       Kelarutan aspal ekstraksi Asbuton
ini cukup tinggi dibandingkan dengan       yang dihasilkan sebagaimana ditun
aspal minyak yang biasa dipegunakan        jukkan pada Tabel 1 lebih besar atau
di Indonesia, dimana dalam per             sama dengan 99%, hal ini menun
syaratan aspal minyak pen 60 titik         jukkan sudah setara dengan aspal
lembeknya minimum 49ºC . Hal ini           minyak yang biasa dipergunakan.
akan       memberikan       keuntungan     Kehilangan berat merupakan suatu
berupa ketahanan terhadap alur             indikasi mengenai jumlah kandungan
akibat lalu lintas berat dan tem           minyak ringan yang terkandung
peratur tinggi, sehubungan dengan          dalam suatu jenis aspal. Kandungan
penggunaanya untuk daerah dengan           minyak ringan yang terlalu tinggi
iklim yang cukup panas.                    akan berakibat kurang baik terhadap
Penetrasi dari ekstraksi aspal Asbuton     kinerja perkerasan, karena itu dalam
ini lebih rendah dari aspal pen 60,        aspal dibatasi tidak boleh lebih besar
dan ini menunjukkan kekerasan aspal        dari 0,8 %. Kehilangan berat yang
tersebut, sekali lagi akan membantu        terdapat pada jenis produk ekstraksi
ketahanan terhadap alur pada iklim         Asbuton ini jauh lebih kecil dari
panas seperti Indonesia ini.               0,8%, sehingga pengaruh kandungan
Berdasarkan nilai nilai Penetrasi dan      minyak ringan terhadap kinerja
Titik Lembek nya tersebut, aspal           perkerasan dikemudian hari tidak
ekstraksi Asbuton      ini mempunyai       akan menjadikan maslah.
nilai Penetrasi Index ( P.I) sebesar       Bila dibandingkan antara sifat sifat
+ 0,144        untuk aspal ekstraksi       ekstraksi Asbuton dengan persya
Asbuton. Nilai P.I ini menunjukkan         ratan aspal minyak pen 40 / 50 ini,
”temperature      susceptibility”   dari   terlihat  bahwa      aspal    ekstraksi
aspal tersebut, dimana semakin             Asbuton ini memenuhi persyaratan
tinggi nilai tersebut, semakin tidak       aspal minyak pen 40 / 50.
sensitif terhadap pengaruh peru
bahan temperatur. Sebagai gam              4.3 Campuran Beraspal Dengan
baran umum, nilai P.I dari aspal               Menggunakan       ekstrasi
minyak pen 60 sekitar – 0,7.                   aspal Asbuton
Daktilitas dari ekstraksi aspal Buton      Guna mengetahui kinerja campuran
tersebut menunjukkan nilai lebih           beraspal yang menggunakan aspal
besar dari 140 cm, dimana untuk            ekstraksi Asbuton, maka dilakukan
batas     minyak,     nilai    minimum     pembuatan benda uji campuran
nya 100 cm. Begitu juga sifat              beraspal yang mempunyai gradasi
daktilitas setelah Thin Film Oven Test     agregat yang sama dengan metoda
(TFOT) masih diatas 140 cm. Hal ini        Marshall,   dimana   aspal   yang
dipergunakannya ialah aspal ekstraksi                                   pengaruh      masing-masing   jenis
Asbuton dan aspal minyak pen 60.                                        aspal     pada kinerja campuran
Spesifikasi yang     diacu     untuk                                    tersebut.
percobaan ini ialah ” spesifikasi                                       Berdasarkan penggabungan agregat
pembangunan jalan dan jembatan                                          dari sumber yang ada didapat
Departemen Pekerjaan Umum ”                                             gradasi agregat campuran seperti
dengan     memilih   jenis   Asphalt                                    yang terlihat pada Tabel 2 dan
Concrete – Wearing Course (AC –                                         Gambar 1, dimana juga disajikan
WC).                                                                    garis     Fuller    serta   daerah
Dengan     demikian dapat dilihat                                       larangannya

                                             Tabel 2. Gradasi agregat gabungan

 No Saringan                            Gradasi         Gradasi Fuller             Daerah         Titik kontrol
                                       Gabungan                                   Larangan
     ¾”                                   100                    100                                     100
     ½”                                  90,6                    82,2                                  90 – 100
     3/8”                                81,5                    73,2                                  Maks 90
     No 4                                54,2                    53,6
     No 8                                37,7                    39,1                39,1              28 – 58
    No 16                                25.0                    30,1             31.6 -25.6
    No 30                                17,9                    21,1             19,1 – 23,1
    No 50                                12,3                    15,5                15,5
    No 100                                9,6                    11,9
    No 200                                6,8                     8,3                                   4 – 10


                                                    GRADASI. SPEC. AC - WEARING


                       100.0
                        90.0
                        80.0
             olos (%




                        70.0
                        60.0
     Prosen L




                        50.0
                        40.0
                        30.0
                        20.0
                        10.0
                         0.0
                               0,075          0,6         2,36           4,75            9,5    12,7
                                                                                                             19,0
                                       0,3
                                                            Ukuran Saringan (mm)


                               Gambar 1. Gradasi agregat gabungan untuk AC – WC


Dari hasil pengujian benda uji dengan                                   campuran   yang    optimal    yang
alat Marshall, didapat karakteristik                                    menggunakan     aspal     ekstraksi
Asbuton   maupun dari benda uji                      ekstraksi   aspal    Asbuton   yang
dengan aspal minyak pen 60,                          dilakukan dengan menggunakan alat
sebagaimana  diperlihatkan pada                      UMATTA. Hasil pengujian Stiffness
Tabel 3.                                             Modulus dengan berbagai temperatur
                                                     pengujian diperlihatkan pada Tabel 4
                  Tabel 3.                           dan Gambar 2.
      Karakteristik campuran beraspal
                                                                  Tabel 4.
                                Jenis Campuran       Pengaruh temperatur terhadap Stiffness
 No      Karakteristik        Aspal      Ekstraksi        Modulus campuran beraspal
          Campuran           minyak        aspal
                             pen 60      Asbuton
 1     Kadar aspal (%)         5,85         5,9                                                       Stiffness Modulus
 2     Stabilitas ( kg)       1110         1230             Temperatur                                      ( MPa )
 3     Pelelehan ( mm)         3,25         3,7                (C)                                  Aspal        Ekstraksi
 4     Marshall Quotient      341,6         347                                                    minyak           aspal
       (kg/mm)                                                                                     pen 60        Asbuton
 5     Stabilitas sisa (%)    92,7         91,8
 6     Stabilitas dinamis     1953         2625
                                                                                35                  1124            4180
       (lint/mm)                                                                45                   449            1983
                                                                                55                   304            1131

Dari hasil percobaan Marshall diatas
                                                     Dari Tabel 3 tersebut terlihat,
terlihat bahwa campuran beraspal
                                                     Stiffness Modulus pada temperatur
dengan menggunakan ekstraksi aspal
                                                     yang lebih tinggi pada campuran
Asbuton mempunyai kadar aspal
                                                     beraspal       yang      menggunakan
optimum yang dapat dikatakan sama
                                                     ekstraksi aspal Asbuton selalu lebih
serta nilai stabilitas yang lebih tinggi
                                                     tinggi    dari    Stiffness  Modulus
dari campuran beraspal dengan aspal
                                                     campuran          beraspal      yang
minyak penetrasi 60.
                                                     menggunakan aspal minyak pen 60.
Salah satu sifat campuran beraspal
yang     penting      ialah   ”Stiffness
Modulus” nya, dimana hal ini akan
                                                                           Pengaruh Temperatur Terhadap Stiffness Modulus


mempengaruhi kinerja perkerasan,                                         5000

antara lain berpengaruh terhadap
                                                                         4500
                                                                         4000
                                                      Stiffness ( MPa)




ketebalan rencana lapisan perkerasan                                     3500
                                                                         3000
dan juga mempengaruhi penyebaran                                         2500
                                                                         2000
tegangan akibat beban kendaraan ke                                       1500
                                                                                     Asmin

lapisan tanah dasar dibawahnya.
                                                                         1000
                                                                                     Asbuton
                                                                          500

Salah satu pengukuran Stiffness                                             0
                                                                                20           30          40          50   60
Modulus campuran beraspal ialah                                                                   Temperatur ( C )

dengan Indirect Tensile Stiffness                            Gambar 2. Pengaruh temperatur
Modulus ( ITSM ). Berikut ini                                     terhadap stiffness
diperlihatkan pengaruh temperatur
terhadap campuran beraspal, baik                     Hal ini sejalan dengan sifat sifat
yang menggunakan aspal minyak pen                    bitumen dari aspal minyak dan
60 maupun yang menggunakan                           ekstraksi aspal Asbuton sebagaimana
ditunjukkan pada Tabel 1 didepan,                                             Hubungan regangan dan temperatur pada 35 C

yaitu nilai titik lembek dan penetrasi                            45000

indek yang lebih tinggi dari ekstraksi                            40000
                                                                  35000
                                                                                         Asmin
                                                                                         Asbuton

aspal Asbuton memberikan stiffness




                                                 Total regangan
                                                                  30000

modulus campuran yang lebih tinggi                                25000
                                                                  20000
juga.     Sifat     sifat   ini sangat                            15000

menguntungkan           untuk   daerah                            10000

dengan temperatur tinggi seperti
                                                                   5000
                                                                          0
Indonesia.                                                                    0     1000     2000     3000       4000    5000   6000   7000
                                                                                                   Pengulangan beban


4.4 Ketahanan Campuran Ber
    aspal Terhadap Deformasi                                  Gambar 3. Ketahanan deformasi
    Akibat Beban Berulang                                   (regangan) campuran beraspal pada
                                                                    temperatur 35 ºC
Salah satu sifat campuran beraspal
yang diperlukan sehubungan dengan                                         Hubungan regangan dan temperatur pada 55C
ketahanan terhadap pembebanan lalu                                70000
lintas ialah ketahanan terhadap alur,                             60000
                                                                                   Asmin

yang bisa dinyatakan dengan besar
                                                                                   Asbuton
                                                                  50000


                                           Total regangan
total deformasi atau besar total                                  40000


regangan regangan ( accumulatif                                   30000


strain ) akibat beban berulang. Hal ini                           20000


bisa dilihat dari pengujian Creep
                                                                  10000

                                                                     0
dengan       beban    dinamis    yang                                     0       1000   2000      3000   4000    5000   6000   7000   8000


menggunakan alat UMATTA pada
                                                                                                 Pengulangan beban



berbagai      temperatur    campuran
beraspal. Dari hasil pengujian Creep                          Gambar 4. Ketahanan deformasi
yang telah dilakukan pada benda                             (regangan) campuran beraspal pada
uji dengan ekstraksi aspal Asbuton                                   temperatur 55ºC
dan aspal minyak pada temperatur
pengujian yang berbeda yaitu 35ºC;        Dari Gambar tersebut terlihat bahwa
dan 55ºC diperlihatkan pada Gambar        regangan      yang    terjadi   pada
3, dan Gambar 4                           campuran beraspal dengan meng
                                          gunakan aspal konvensional, akan
Terlihat bahwa ketahanan terhadap         mengalami kenaikan total regangan
deformasi atau regangan yang              yang lebih cepat untuk jumlah
terjadi pada campuran beraspal yang       pengulangan beban yang sama
menggunakan       ekstraksi    aspal      dibandingkan campuran beraspal
Asbuton lebih baik dari campuran          yang menggunakan ekstraksi aspal
beraspal yang menggunakan aspal           Asbuton, untuk setiap temperatur
minyak pen 60 untuk berbagai              pengujian. Selanjutnya terlihat pula
temperatur pengujian.                     dari    grafik hasil pengujian ter
sebut, bahwa penambahan defor                                           Hubungan antara jumlah putaran
masi atau regangan yang meningkat                                           dan kehilangan berat

secara tajam, yang ditunjukkan                                 14

dengan      sudut kemiringan grafik
                                                               12




                                         Kehilangan berat (%
                                                                                Asmin
                                                               10
yang     lebih   terjal, terjadi pada
                                                                                Asbuton

                                                                8
jumlah pengulangan yang lebih                                   6
rendah pada contoh benda uji                                    4
dengan     aspal minyak dibanding                               2

pada contoh dengan campuran                                     0

ekstraksi aspal Asbuton. Hal ini                                    0     100    200      300   400      500   600
                                                                                   Jumlah putaran
berarti bahwa ”umur terhadap
keruntuhan” dari campuran beraspal
akibat beban berulang ditinjau dari                            Gambar 5. Grafik hasil pengujian
segi ketahanan terhadap deformasi                                       Cantanbro
atau regangan pada campuran
dengan ekstraksi aspal Asbuton          Kehilangan berat atau lepasnya
akan lebih lama dari pada campuran      sebagian agregat dari benda uji
dengan aspal minyak.                    menunjukkan ketahanan benda uji
                                        tersebut terhadap durabilitas. Dari
4.5 Pengujian Cantanbro pada            hasil pengujian yang telah dilakukan
    campuran beraspal                   terhadap contoh dengan jenis aspal
Pengujian ini dimaksudkan untuk         yang berbeda ini, terlihat bahwa
melihat     ketahanan     campuran      campuran         beraspal       yang
terhadap pelepasan butir, dimana        menggunakan        aspal      minyak
contoh     yang berbentuk briket        mempunyai ketahanan durabilitas
hasil pemadatan       dengan alat       yang    lebih   baik,  dibandingkan
Marshall   dimasukkan    ke dalam       terhadap contoh yang menggunakan
alat      pengujian    abrasi “Los      ekstraksi   aspal   Asbuton,    yang
Anggeles” dan diputar sebanyak          ditunjukkan oleh kehilangan berat
500 putaran tanpa menggunakan           yang lebih sedikit dibandingkan
bola bola     besi yang biasanya        contoh yang menggunakan aspal
dipergunakan untuk        pengujian     minyak, sebagaimana ditunjukkan
abrasi agregat.                         pada Gambar 5.
V.   KESIMPULAN                                bituminous mixture for roads and
                                               other paved areas.
Dari hasil pengujian dan pembahasan       2.   Dairi,    G.      (1992)      Review
diatas,    dapat     ditarik  beberapa         pemanfaatan Asbuton sebagai
kesimpulan sebagai berikut :                   bahan perkerasan jalan” ( Review
a. Teknologi        ekstraksi     untuk        of Asbuton as roads materials),
   menghasilkan        aspal    Asbuton        Research Report, Institute of
   dengan kadar mineral yang sangat            Road     Engineering,      Bandung,
   kecil ( < 1% ) dipandang sudah              Indonesia.
   berhasil, tinggal meningkatkan         3.   James, E.M. (1996)” The Use
   kepada skala produksi masal.                of Asbuton in Roads Construction
b. Efektifitas fungsi dan penggunaan           and Life Time Cost Implications”,
   kadar      aspal     Asbuton    pada        Proceeding of One day Seminar
   campuran beraspal hasil proses              on Asbuton Technology, Volume
   ekstraksi, menunjukkan efektifitas          1.
   yang maksimal, yang ditandai           4.   Kadarsin, K., Lisminto and
   dengan prosentasi penggunaan                Zamhari,K.A. (1998) “ Blend
   kadar aspal bisa mencapai seratus           of Retona 60 and petroleum
   persen dari kebutuhan aspal yang            Bitumen,      its    characteristics,
   diperlukan dalam campuran.                  properties & impact to asphalt
c. Aspal Asbuton hasil ekstraksi,              industry        in       Indonesia”,
   akan bisa meningkatkan kinerja              Proceedings of the 9th , Road
   perkerasan jalan di daerah yang             Engineering Association of Asia
   beriklim       panas        termasuk        and           Australia Conference
   Indonesia.                                  (REAAA), Volume I, Wellington
Penerapan ekstraksi aspal Asbuton,             New Zealand.
akan bisa turut memenuhi kebutuhan        5.   Kreamers, J.W. (1989 )”
aspal di Indonesia dan sekaligus               Asbuton resources of Buton
menghemat devisa negara.                       Island, Feasibility study for
                                               refining of Asbuton”, Alberta
                                               research and council, Edmonton,
DAFTAR PUSTAKA                                 Canada.
                                          6.   Lees, G. (1982) “ Properties,
1. Standard Institution (1995)                 design       and      testing      of
   BS 598 Part 111: “ Method for               bituminous”,        University     of
   determination of resistance to              Birmingham,           Internatioanal
   permanent     deformation     of            publication.
   bituminous mixtures subject to         7.   Nottingham Asphalt Tester
   unconfined   uniaxial  loading”,            Manual. (1994) ” NAT Manual”,
   Sampling and examination of                 Windows Software; 1st Version.
8. O’Flaherty,      C.A.     (1988).    11. Wallace, D.(1989)” Physical
    Highways        –        Highway        and chemical characteristics of
    Engineering”, Volume 2, Third           Asbuton”,     Alberta   research
    Edition.                                council, Edmonton, Canada.
9. Purwadi, A., Zamhari, K.,            12. Whiteoak, D. (1990) “ The
    Akoto,B. (1998) ” Review of             Shell bitumen hand book”.
    technical / economic of natural
    asphalt” Agency for Research and
    Development, Institute of Road
    Engineering, Indonesia.
                                        Penulis :
10. Republik              Indonesia,
    Departemen             Pekerjaan    Dr. Ir. Furqon Affandi, MSc. Peneliti
    Umum.       “Spesifikasi   Umum     Utama pada Puslitbang Jalan dan
    Bidang Jalan dan Jembatan, Divisi   Jembatan, Badan Litbang Departemen
    6 – Perkerasan Aspal”               Pekerjaan Umum.