Docstoc

Ilmu munasabah

Document Sample
Ilmu munasabah Powered By Docstoc
					                    ILMU MUNASABAH AL-QUR’AN


A. Pengertian Ilmu Munasabah
        Secara etimologis, al-munasabah berarti al musyakalah dan al muqarabah
   yang berarti “saling menyerupai” dan “saling mendekati”. Secara termilogis,
   al munasabah berarti adanya keserupaan dan kedekatan diantara berbagai ayat,
   surat dan kalimat yang mengakibatkan adanya hubungan. Hubungan tersebut
   bisa berbentuk keterkaitan makna ayat-ayat dan macam-macam hubungan atau
   keniscayaan adalam pikiran, seperti hubungan sebab dan musabbab, hubungan
   kesetaraan dan hubungan perlawanan, munasabah juga dapat dalam bentuk
   penguatan, penafsiran dan penggantian.
B. Eksistensi Munasabah
        Para ulama sepakat bahwa tertib ayat-ayat dalam Al Qur‟an adalah
   tauqifi (tergantung pada petunjuk Allah dan Nabi-Nya). Mengenai tertib sura-
   surat Al-Qur‟an pada ulama berbeda pendapat. Mayoritas ulama berpendapat
   bahwa tertib surat-surat Al-Qur‟an sebagaimana yang dijumpai dalam
   mushhaf yang sekarang adalah tauqifi. Pendapat ini didasarkan atas keadaan
   Nabi SAW, yang setiap tahunya melakukan mu‟aradhah (mendengarkan
   bacaanya) kepada Jibril AS. Termasuk yang diperdengarkan Rasul itu tertib
   surat-suratnya. Pada mu‟aradhah terakhir, Zaid ibn Tsabit hadir saat Nabi
   membacakan ayat-ayat Al-Qur‟an sesuai dengan teritib surat yang sama kepaa
   kita sekarang.
        Sebagaimana ulama memandang tertib ayat-ayat Al-Qur‟an masuk dalam
   ijtihad. Pendapat ini didasarkan atas beberapa alas an. Pertama,mushhat pada
   catatan para sahabat tidak sama. Kedua, sahabat pernah mendengar Nabi
   membaca Al-Qur‟an berbeda dengan pendapat tertib surat yang terdapat dalam
   Al-Qur‟an. Ketiga, adanya perbedaan pendapat dalam masalah tertib surat Al-
   Qur‟an ini ditunjukan tidak adanya petunjuk yang jelas atas tertib dimaksud.
   Selain itu, ada pula yang berpendapat bahwa seagianya tauqifi dan lainya
   ijtihad. Pendapat inijuga mengajukan beberapa alasan. Menurut pendapat ini,
   tidak semua nama surat Al-Qur‟an diberikan oleh Allah, tetapi sebagian
   diberikan oleh Nabi SAW, dan lainya diberikan oleh para sahabat. Usman



                                      1
pernah ditanya mengapa surat Al Barasah tidak dimulai dengan basmalah. Ia
menjawab bahwa ia melihat isinya yang sama dengan surat sebelumnya, surat
al-Anfal. Nabi tidak sempat menjelaskan tempat surat tersebut sampai
wafatnya. Karena itu, saya kata usman meletakkanya setelah surat al-Anfal.
     Meski ketiga pendapat di atas memiliki alasan, tetapi alasan-alasan yang
dikemukakan itu tidak semuanya memiliki tingkat keabsahan yang sama.
Alasan pendapat yang mengatakan tertib surat sebagai ijtihad tampak tidak
kuat. Riwayat tentang sebagian sahabat pernah mendengar Nabi membaca Al-
Qur‟an berbeda dngan tertib mushhaf yang sekarang dan adanya catatan
mushhaf sahabat yang berbeda bukalah riwayat mutawatir. Tertib mushhaf
sekarang berdasarkan khabar mutawatir. Kemudian, tidak ada jaminan bahwa
semua sahabat yang memiliki catatan mushhaf itu hadir bersama Nabi setiap
saat turun ayat Al-Qur‟an. Karena itu, kemungkinan tidak utuhnya tertib
mushhaf sahabat sangat besar. Demikian juga alasan pendapat yang
mengatakan    sebagai surat tauqifi dan sebagian lainya ijtihadi tidak kuat.
Keterangan bahwa Nabi tidak sempat menjelaskan letak surat al-Barasah
sehingga Usman tidak menempatkannya sebelum surat al-Anfal adalah
riwayat yang lemah, baik dari segi sanad maupun matan, sebab perriwayat,
Yazid pada sanadnya dinilai majbul oleh al-Bukhari dan Ibn Katsir. Dari segi
matan juga riwayat ini lemah karena nabi wafat tiga tahun setengah setelah
turunya surat al-Baraah. Tentunya dalam waktu demikian panjang sulit
dibayangkan Nabi tidak sempat menjelaskan letak sebuah surat, sedang Nabi
setiap tahun membacakan Al-Qur‟an kepada Jibril. Sementara itu, riwayat
tentang mu‟aradhah nabi akan bacaannya kepada Jibril setiap tahun adalah
riwayat sahih. Karena itu, pendapat mayoritas lebih kuat dari pada kedua
pendapat lainya.
     Terlepas dari kontroversi pendapat tentang keberadaan munasabah, ilmu
ini termasuk yang kurang mendapat perhatian dari para mufasir. Buku-buku
ulumul Qur‟an, terutama buku-buku dalam bahasa Indonesia jarang memuat
bahasan ini, sebab ilmu munasabah sebagaimana ditegaskan oleh al-Suyuthi
termasuk ilmu yang rumit.




                                    2
C. Urgensi Munasabah
        Pengetahuan    tentang munasabah Al-Qur‟an terutama bagi seorang
   mufasir sangat urgen. Diantara urgensinya adalah sebagai berikut:
   1. Menemukan makna yang tesirat dalam susunan dari urutan kalimat-
      kalimat, ayat-ayat, dan surat-surat Al-Qur‟an sehingga bagian-bagian dari
      Al-Qur‟an saling berhubungan dan tampak menajadi satu rangkaian yang
      utuh dan integral.
   2. Mempermudah pemahaman Al-Qur‟an. Misalnya ayat enam dari surat al-
      Fatihah yang artinya, „tunjukanlah kami kepada jalan yang lurus‟
      disambung dengan ayat ketujuh yang artinya „yaitu jalan orang-orang yang
      Engkau anugrahi nikmat atas mereka. “Antara keduanya terdapat
      hubungan penjelasan bahwa jalan yang        lurus dimaksud adalah   jalan
      orang-orang yang telah mendapatkan nikmat dari Allah SWT.
   3. Memperkuat atas keyakinan dan kebenaranya sebagai wahyu dari Allah.
      Meskipun Al-Qur‟an yang terdiri dari atas 6236 ayat dam ditulis runkan,
      ditempat, keadaan, dan kasus yang berbeda dalam rentang waktu dua
      puluh tahun lebih, namun dalam susunanya terdapat makna yang dalam
      berupa hubungan yang kuat antar satu bagian dengan bagian lainya.
   4. Menolak tuduhan bahwa susunan Al-Qur‟an kacau. Tuduhan misalnya
      muncul karena penempatan surat al-Fatihah pada awal Mushhaf sehingga
      surat inilah yang pertama dibaca. Padahal, dalam sejarah, lima ayat
      pertama surat al Alaq sebagai ayat-ayat pertama turun kepada Nabi SAW.
      Akan tetapi Nabi menetapkan letak al Fatihah diawal mushhaf yang
      kemudian disusul dengan surat al Baqarah. Setelah didalami, ternyata
      dalam urutan ini terdapat munasabah. Surat al Fatihah mengandung unsur-
      unsur pokok dari syariat Islam dan pada surat ini termuat doa manusia
      untuk memohon petunjuk ke jalan yang lurus. Surat al-Baqarah diawali
      dengan petunjuk al kitab sebagai pedoman menuju jalan yang lurus.
      Dengan demikian, surat al Fatihah merupakan titik bahasan yang akan
      diperinci pada surat surat berikutnya, al Baqarah. Dengan menemukan
      munasabah tesebut, ternyata susunan ayat-ayat dan surat-surat al qur‟an
      tidak kacau melainkan mengandung makna yang dalam.



                                       3
D. Langkah-langkah untuk menemukan munasabah
        Adapun langkah-langkah yang ditempuh untuk menemukan munasabah
   antara lain adalah sebagai berikut
   1. Melihat tema sentral dari surat tertentu
   2. Melihat premis-premis yang diperlukan untuk mendukung tema sentral
   3. Mengadakan kategoristik terhadap premis-premis berdasarkan jauh dan
      dekatnya kepada tujuan
   4. Melihat kalimat-kalimat yang saling mendukung didalam premis
E. Macam-macam munasabah
        Munasabah terbagi kepada beberapa macam, yaitu munasabah antara
   surat dengan surat, munasabah antara surat dengan kandungannya, munasabah
   antara kalimat dengan kalimat, munasabah antara ayat-ayat dalam satu surat,
   munasabah antara penutup ayat dengan isi ayat, munasabah antara awal uraian
   dengan akhir uraian surat, dan munasabah antara akhir surat dengan awal surat
   berikutnya.
   1. Munasabah antara surat dengan surat
      Surat-surat yang ada di dalam Al Qur‟an mempunya munasabah, sebab,
      surat yang dating kemudian menjelaskan sebagai hal yang jelas disebutkan
      secara global pada surat sebelumnya (al-Suyuthi). Sebagai contoh, surat al
      Baqarah menberikan perincian dan menjelaskan bagi surat al Fatihah.
      Surat Ali Imran yang merupakan surat berikutnya member penjelasan
      lebih lanjut bagi kandungan surat al-Baqarah. Selain itu munasabah dapat
      membentuk tema sentral dari berbagai surat misalnya ikrar ketuhanan,
      kaidah-kaidah agama dan dasar-dasar agama merupakan tema-tema sentral
      dari surat al Fatihah, al Baqarah, dan ali Imran. Ketiga surat ini saling
      mendukung tema sentral tersebut.
   2. Munasabah Antara nama Surat dengankandunganya
      Nama-nama surat yang ada di dalam Al-Qur‟an memiliki kaitan dengan
      pembahasan yang ada pada isi surat. Surat al Fatihah disebut juga Umm al
      kitab karena memuat berbagai tujuan Al Qur‟an.




                                        4
 3. Munasabah antara kalimat dengan kalimat dalam satu surat
    Munasabah antara kalimar dalam Al Qur‟an ada kalanya memakai huruf
    athaf (kata hubungan) dan ada kalanya tidak. Munasabah yang memakai
    huruf athaf (kata hubung) biasanya mengabil teknik tadhad (berlawanan).
    Misalnya pada ayat :
                                       
                  
     “Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar
    darinya” (QS. Al-Hadid (57):4)
    dan ayat:
         
    “Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki)” (QS. Al-Baqarah
    (2): 245)
    Kata                 (masuk) dengan  (keluar) dan
                    (menyempirkan)    dengan      
    (melapangkan) dinilai sebagai „aqalah (hubungan) berupa perlawanan.
    Sementara itu munasabah yang tidak memakai huruf „athaf (penghubung),
    sandarannya adalah qarinah manawiyyah (indikasi maknawi). Aspek ini
    bisa muncul dalam beberapa bentuk sebagai berikut:
    a. At-Tanzhir (membangingkan dua hal yang sebanding menurut
        kebiasaan orang yang berakal). Misalnya:
  
  
                                                               
        “Sebagaimana Tuhamu menyuruh pergi dari rumahmu dengan
        kebenaran” (QS. Al-Anfal(8):5)




                                     5
       Ayat sebelumnya adalah:
                               
             
       “Mereka itulah orang-orang mukmin dengan sebenarnya” (QS Al-
       Anfal (8) : 4)


       Disini ada dua keadaan yang sebanding. Sebagaimana mereka
       sungguh-sungguh benti atas keluarganya Nabi memenuhi perintah
       Allah, demikian pula meteka sungguh-sunggu tidak menentang Rasul
       lagi setelah benar-benar beriman.
  b. Al-Mudhaddah (berlawanan). Misalnya


                                             
                                
                                           
                        
                                           
                                           
       “Sesungguhnya orang-orang kafir sama saja engkau beri ingat
       mereka atau tidak engkau beri ingat mereka tidak adakan beriman”
       (QS Al-Baqarah (2) :6)
       Munasabahnya adalah bahwa ayat ini menerangkan watak orang kafir,
       sedangkan ayat sebelumnya menerangkan watak orang mukmin.


  c. Al-Istihrad (peralihan kepada penjelasan lain). Misalnya
                                 
                              
                                   
         
                                
          

                                    6
                                            
          
       “Hai anak Adam, sesungguhanya Kami telah menurunkan kepadamu
       pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan.
       Dan pakaian takwa adalah yang paling baik. Demikian itu merupakan
       sebagian dari tanda-tanda Allah mudah-mudahan kamu selalu ingat”
       (QS Al-A‟raf (7):26)
       Ayat ini menjelaskan nikmat Allah, sedang ditengahnya dijumpai
       sebutan pakaian takwa yang mengalihkan perhatian untuk menoleh
       kepada banyaknya unsur takwa dalah berpakaian.
   d. Al Takhallusb (peralihan). Peralihan disini adalah peralihan yang terus-
       menerus dan tidak kembali kepada pembicaraan pertama. Misal dalam
       surat Al-A‟araf mulai dari ayat 59 sampai 157. Ayat-ayat ini mulai
       mengisahkan umat-umat dan nabi-nabi terdahulu secara bertahap
       beralih terus sampai kepada kisah Nabi Musa As dan berakhir pada
       orang-orang pengikut Nabi yang Ummi, Muhammad SAW.
4. Munasabah antara ayat dengan ayat dalam satu surat
   Munasabah dalam bentuk ini secara jelas dapat dilihat dalam surat-surat
   pendek. Misalnya: Al-Ikhlas, masing-masing ayat pada surat itu
   menguatkan tema pokoknya tentang keesaan Tuhan.
5. Munasabah antara penutup ayat dengan isi ayat
   Munasabah disini bisa bertujuan:
   a. Tamkim (peneguhan). Misalnya
         
                                          
                             
                                  
                                          
                              
         
              


                                      7
     “Dan Allah menghalau orang-orang kafir yang keadaan mereka
     penuh kejengkelan, meraka tidak memperoleh keuntungan apa pun.
     Dan Allah menghindarkan orang-orang Mukmin dari peperangan.
     Dan Allah adalah Maha Kuat lagi Maha Perkasa” (QS Al-Ahzab
     (33):25)
          Sekiranya ayat ini terhenti pada “Dan Allah menghindarkan
     orang-orang mukmin dari peperangan”, niscaya maknanya bisa
     dipahami orang-orang lemah sejalan dengan pendapat orang-orang
     kafir yang mengira bahwa mereka mundur dari perang karena angin
     yang kebetulan bertiup. Padahal, bertiupnya angin bukan suatu
     kebetulan, tetapi atas rencana Allah mengalahkan musuh-musuh-Nya
     dan musuh kamu Muslim. Karena itu, ayat-ayat ini ditutup dengan
     mengingatkan kekuatan dan kegagahan Allah SWT menolong kaum
     Muslim
  b. Tashdir (pengembalian). Misalnya
                                  
                     
                            
                  
     “Dan mereka memikul dosa-dosa mereka di atas punggung mereka.
     Ingatlah amat buruk apa yang mereka pikul itu” (QS Al-An‟am
     (6):31)
     Ayat ini ditutup dengan kata                     untuk
     membuatnya sejenis kata                      dalam
     ayat tersebut
  c. Tausyib (penyelepangan) Misalnya
                          
  
             



                                8
        “Satu tanda (kekuasaan Allah) bagi mereka adalah malam Kami
        tanggalkan siang dan malam itu, maka tiba-tiba mreka berada dalam
        kegelapan” (QS Yasin (36):37)
        Dalam permulaan ayat ini terkandung penutupnya. Sebab kandungan
        awal ayat telah menunjukan akhirnya sehingga awal ayat seolah-olah
        memakai selempangan pertanda bagi akhirnya.




    d. Idhal (penjelasan tambahan dan penajaman makna). Misalnya
                                       
                      
  
                
        “Sesunggunya, kamu tidak dapat menjadikan orang-orang mati
        mengdengar dan tidak pula orang-orang tuli mendengar panggilan,
        apabila telah berpaling membelakang” (QS Al-Naml (27):80)
        Kandungan ayat ini sebenarnya sudah jelas sampai kata al-du‟a
        (panggilan). Akan tetapi untuk lebih mempertajam dan mempertandas
        makna ayat diberi sambungan lagi sebagai penjelasan tambahan.
 6. Munasabah antara awal surat dengan akhir surat
           Munasabah ini dapat dilihat misalnya pada surat Al-Qashash.
    Permulaan surat menjelaskan perjuangan Nabi Musa, diakhir surat
    memberikan kabar gembira kepada Nabi Muhammad SAW yang
    menghadapi tekanan dari kaumnya, dan akan mengembalikannya ke
    Mekkah. Di awal surat ,larangan menolong orang yang berbuat dosa dan
    di akhir surat larangan menolong orang kafir. Munasabah disini terletak
    pada kesamaan situasi yang dihadapi dan sama-sama mendapatkan
    jaminan dari Allah SWT. Misal lain adalah awal surat Al Mukminun




                                     9

				
DOCUMENT INFO