PUTAU LEBIH DARI SEKADAR HEROIN

					    PUTAU LEBIH DARI SEKADAR HEROIN




Serbuk maut yang di kalangan pemakai disebut putau itu sebenarnya sejenis heroin tapi tidak
murni. Ia dibuat oleh pabrik-pabrik ilegal yang biasanya mengambil lokasi di kebun candu atau
opium di kawasan Segi Tiga Emas ataupun Asia Barat. Apa dan mengapa sangat berbahaya bagi
kesehatan si pemakai?


Penyalahgunaan obat di Indonesia akhir-akhir ini semakin meluas melanda generasi muda. Obat-
obat yang disalahgunakan mulai dari ganja atau hashish, pil koplo, kokain, hingga ekstasi.
Bahkan akhir-akhir ini muncul sabu-sabu (sejenis amfetamin) serta putau (sejenis heroin). Ganja
atau hashish, kokain, dan putau termasuk narkotik. Sedangkan pil koplo, ekstasi, dan sabu-sabu
tergolong psikotropika.


Putau adalah sejenis heroin yang tidak murni dan sangat berbahaya bagi kesehatan pemakainya.
Korban-korban ketagihan, sakit, dan kematian akibat heroin sudah cukup banyak. Belum ada
data resmi berapa jumlah korban di Indoensia, karena keluarga korban enggan melaporkan. Ada
rasa malu dan keluarga berupaya menutup-nutupi.
Bahan dasar pembuatan heroin adalah getah buah candu (opium) dari Papaver somniferum,
keluarga Papaveraceae, yang sudah tua tetapi belum masak. Dari getah kering ini diperoleh
candu. Kandungan candu adalah alkaloida golongan narkotik, misalnya morfin, kodein, tebain,
narsein, dan alkaloida non-narkotik, misalnya papaverin, narkotin, apomorfin.
Sedangkan morfin adalah kandungan standar dari candu dan sediaannya yang lain seperti
ekstrak, tingtur, serbuk, dll. Tahun 1805, seorang apoteker Jerman bernama Sertuerner berhasil
mengisolasi morfin (berasal dari bahasa Yunani Morpheus, yang tidak lain adalah Dewa Mimpi).
Kandungan morfin dari candu sampai 10%. Tahun 1874, pabrik Bayer berhasil mensintesis
heroin (diasetilmorfin atau diamorfin) dari bahan baku morfin menggunakan asam asetat atau
cuka anhidrat. Nama heroin diambil dari bahasa Jerman, yakni heroic yang artinya pahlawan.
Heroin yang pertama kali dibuat ini dicoba untuk obat penekan batuk (antitusif) dan penghilang
rasa sakit (analgesik).
Namun, baru tahun 1898 diuji manfaat dan bahayanya pada hewan dan manusia. Ternyata
bahaya heroin jauh lebih besar daripada manfaatnya. Karena itu pada tahun 1924 di Amerika
Serikat dilarang diproduksi dan digunakan.




                     Laboratorium primitif di Amerika Selatan.


Dulu heroin dibuat oleh pabrik legal. Namun sejak adanya larangan produksi tersebut heroin
dibuat oleh industri gelap (Clandestine). Industri gelap ini sering mengambil lokasi di kebun
candu, misalnya di daerah Segi Tiga Emas (Myanmar, Thailand, dan Laos), Asia Barat (Turki,
Iran, Irak, Afghanistan, Pakistan). Hal ini terlihat, dari setiap operasi aparat kepolisian atau
militer ditemukan asam cuka dalam jumlah besar. Heroin harganya lebih mahal daripada morfin;
efek adiktif (kecanduan) dan halusinasinya lebih kuat daripada morfin.


Konon penggunaan morfin di kalangan remaja meningkat. Dahulu remaja kita umumnya
menyalahgunakan obat legal yang diizinkan beredar di Indonesia seperti serbuk atau ekstrak
candu, morfin injeksi. Namun bersamaan dengan kemudahan transportasi, komunikasi, dan
jaringan sindikat narkotik yang lebih rapi, maka heroin akhirnya dapat juga masuk ke Indonesia.
Beberapa cara penyelundupan yang nekat dilakukan anggota sindikat misalnya lewat kondom
atau kapsul yang ditelan dan terdeteksi di perut. Kasus seperti ini pernah terungkap oleh aparat
Bea Cukai Jakarta beberapa waktu yang lalu.


Bukan tergolong obat


Heroin dan sejenisnya, termasuk putau, tidak memenuhi kriteria sebagai obat, karena:
a) Heroin atau putau merupakan bahan kimia yang bahayanya jauh lebih besar daripada
manfaatnya. Bahan kimia ini dilarang diproduksi, diedarkan, dan digunakan serta dibuat oleh
pabrik ilegal. Inilah yang berbeda dengan obat-obatan resmi yang diproduksi oleh pabrik legal
dan diedarkan oleh distributor yang legal pula.
Pelanggaran produksi, distribusi, dan penggunaannya dapat dikenai sanksi sesuai dengan UU
Narkotika no.9/1976. Penggunaan heroin hanya diizinkan bila digunakan untuk penelitian.
Sanksi hukumnya cukup berat bagi pelanggarnya.
Anna (24) dari Frankfurt, Jerman, pecandu berat yang sudah tak punya daya untuk
menyuntikkan heroin lewat intravena.


b) Heroin atau putau yang beredar di pasar gelap tidaklah murni heroin. Bila dari pabrik
gelapnya bisa 80% kadarnya, namun setelah sampai ke pengedarnya (lewat 5 - 10 jalur), kadar
heroinnya turun sampai 1 - 15%. Hal ini wajar karena mereka yang terlibat memalsu atau
mencampur heroin kadar tinggi dengan bahan tambahan seperti kuinin, manitol (pencahar),
kafein, laktosa, dll. Dengan demikian mereka akan mendapatkan keuntungan yang jauh lebih
besar. Heroin atau putau biasanya diedarkan dalam bungkus-bungkus kecil.
c) Rute penggunaan yang salah sering berakibat fatal. Dosis 3 mg setara dengan kekuatan 10 mg
morfin. Penggunaan serbuk ini dilakukan dengan melarutkan serbuk dalam wadah atau sendok
dicampur air yang tidak steril, disaring dengan kapas, dan disuntikkan ke intravena (lewat
pembuluh darah) atau subkutan (lewat bawah kulit). Kadang-kadang juga diisap seperti rokok,
atau disedot.
Cara lain dengan chasing, yaitu serbuk diletakkan di atas aluminium foil dan dipanaskan bagian
bawahnya. Uapnya dialirkan lewat sebuah lubang dari kertas rol atau pipa, dihirup lewat hidung
untuk diteruskan ke paru-paru.
Pada kasus kelebihan dosis dapat terjadi abses paru-paru. Chasing dilakukan oleh pemakai
karena serbuk yang dibeli tidak murni heroin. Pada penggunaan parenteral (intravena, subkutan
maupun dengan melukai) akan terjadi abses, tertular beberapa penyakit seperti HIV/AIDS,
hepatitis, rematik jantung, emboli, tetanus, selulitis/tromboflebitis.


Bahayanya


Heroin selain menyebabkan ketergantungan psikis dan fisik, juga dapat menyebabkan euforia,
badan terasa sakit, mual dan muntah, miosis, mengantuk, mulut kering, berkeringat, depresi
pernapasan, hipotermia, tekanan darah turun, konstipasi, kejang saluran empedu, sukar buang air
kecil. Kematian biasanya terjadi bila dosis yang digunakan berlebihan. Pemakai yang sudah
menjadi pemadat cenderung untuk menggunakan obat dengan dosis berlebihan. Hal ini
disebabkan oleh terjadinya batas toleransi tubuh yang makin meninggi.
Jarum suntik bekas yang harus diamankan karena takut disalahgunakan.


Di samping itu pemakai sering menggunakan obat lain seperti alkohol, kokain, dll. dan tidak tahu
dosis pasti, sehingga sering terjadi kasus kelebihan dosis. Heroin dengan dosis 3 mg bila
diberikan secara parenteral, terutama intravena, bisa menyebabkan gangguan kompulsif.
Kekuatannya tiga kali morfin. Karena sifatnya lebih lipofil daripada morfin, maka heroin lebih
cepat menembus saraf otak dibandingkan dengan morfin. Dengan demikian kerja heroin lebih
cepat daripada morfin. Heroin sendiri akan diubah menjadi morfin di dalam tubuh.
Obat-obat antidotum (penawar) untuk mengobati korban penyalahgunaan obat terutama morfin
dan heroin sudah tersedia di tanah air, terutama di rumah rakit ketergantungan obat. Namun,
upaya mencegah ataupun menghindari penggunaan obat terlarang akan lebih baik daripada harus
masuk rumah sakit itu dulu.


STOP DRUGS!!! NOW!!!

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:295
posted:4/22/2010
language:Indonesian
pages:5