Docstoc

Kebakaran Hutan Merapi akibat Ulah Manusia

Document Sample
Kebakaran Hutan Merapi akibat Ulah Manusia Powered By Docstoc
					Kebakaran Hutan Merapi akibat Ulah Manusia
Senin, 11 Agustus 2008 | 06:19 WIB




Kompas/M Syaifullah
Balai Taman Nasional Gunung Palung, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Sabtu
(9/8), melakukan pemantauan kegiatan pembakaran lahan di sekitar taman nasional
tersebut menggunakan pesawat ultra light. Dengan cara ini dapat diketahui lokasi lahan-
lahan yang terbakar. Pembakaran lahan dilakukan warga untuk membuka areal pertanian
pada musim kemarau seperti saat ini.


Hutan Merapi Kebakaran

       BOYOLALI- Kebakaran di Taman Nasional Gunung Merapi, Desa Wonodoyo,
Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, diduga akibat ulah manusia. Api
yang berkobar sejak Sabtu (9/8) dan padam Minggu sore ini menghanguskan sekitar 30
hektar hutan dan merusak 500 meter pipa saluran air bersih warga.
       Kepala Balai Taman Nasional Gunung Merapi Seksi II Boyolali Ngusman,
Minggu (10/8), mengatakan, titik api dari bagian bawah tebing anak Gunung Merapi itu
dipastikan disebabkan oleh manusia, tetapi belum diketahui karena kelalaian atau
kesengajaan.
       Titik api di Wonodoyo muncul dari Petak 61 dan 62 Gunung Bibi, anak Gunung
Merapi, Sabtu pagi. Penanganan awal diambil alih petugas Balai Taman Nasional
Gunung (BTNG) Merbabu karena pada saat bersamaan petugas BTNG Merapi masih
berupaya memadamkan kebakaran di Desa Tlogolele, Kecamatan Selo, yang
menghanguskan sekitar 23 hektar hutan di Gunung Merapi.
       Setelah api di Tlogolele padam Sabtu siang, pemadaman api di Wonodoyo
kembali ditangani BTNG Merapi. Dari penyelidikan sementara, kata Ngusman, titik api
di Tlogolele juga akibat ulah manusia. Tidak jauh dari lokasi kebakaran, petugas
menemukan sisa pembakaran arang.
       Kebakaran di Gunung Bibi, Wonodoyo, juga membakar sekitar 500 meter pipa
paralon yang menuju Dusun Wonopedut, Kecamatan Cepogo, dan Desa Suroteleng,
Kecamatan Selo.
       Pemulihan kondisi TNG Ciremai di Jawa Barat diperkirakan perlu waktu minimal
10 tahun. Kebakaran yang melalap 236 hektar lahan itu menghanguskan semak dan
pepohonan. Pepohonan untuk penghijauan di Desa Setianegara, Kecamatan Cilimus,
Kabupaten Kuningan, hangus terbakar. Sebagian lagi kering kepanasan. Bekas kebakaran
dua tahun lalu juga belum pulih.
       ”Penanaman butuh tenaga ekstra karena wilayah bekas kebakaran hutan sebagian
tidak terjangkau kendaraan bermotor. Untuk menumbuhkan pohon pinus tidak cukup
waktu 5 tahun,” kata Kepala Seksi Pengelola TNG Ciremai Wilayah I Linggarjati Maman
Surahman.
       Menurut Maman, sebagian wilayah Gunung Ciremai yang terdiri atas semak-
semak memang rawan kebakaran. ”Kebakaran terakhir yang kami tangani disebabkan
bekas perapian perkemahan yang tidak dipadamkan secara sempurna. Sebelumnya karena
pembakaran sampah dan puntung rokok,” ujarnya.
       Pemadaman bukan hal yang mudah. Petugas hanya mempunyai satu kendaraan
pemadam. Untuk memadamkan hutan, mereka harus bolak-balik naik turun gunung untuk
menyedot air. Beratnya medan membuat kecepatan kendaraan terbatas, 30 kilometer per
jam. Di sisi lain, api sangat mudah menjalar karena angin kencang. (NIT)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:567
posted:4/22/2010
language:Indonesian
pages:2