BUKU PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA PT

Document Sample
scope of work template
							                 PT RNI (Persero)




                     BUKU
PEDOMAN PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA
   PT RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA (PERSERO)
                                       LAMPIRAN SURAT KEPUTUSAN DIREKSI
                                       PT RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA (PERSERO)
                                       No. 51/SK/RNI.01/VII/2009
                                       Tanggal 7 Juli 2009




                             BUKU PEDOMAN
               PELAKSANAAN PENGADAAN BARANG DAN JASA
               PT RAJAWALI NUSANTARA INDONESIA (PERSERO)




                                     BAB I
                                KETENTUAN UMUM

                                      Pasal 1
                                     Pengertian

Dalam Surat Keputusan ini yang dimaksud dengan :
1.   Pedoman adalah Pedoman Pelaksanaan             Pengadaan    Barang   dan   Jasa
     PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero).
2.   Perusahaan adalah PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero).
3.   Anak Perusahaan adalah perusahaan yang minimal 51% (lima puluh satu persen)
     sahamnya dimiliki oleh Perusahaan.
4.   Direksi adalah Dewan Direktur Perseroan.
5.   Dewan Komisaris adalah Dewan Komisaris Perseroan.
6.   Direktur Terkait adalah anggota Direksi yang membawahi unit/satuan kerja
     Pengguna Barang dan Jasa.
7.   Pejabat yang Berwenang adalah Direksi dan Pejabat struktural 1 (satu) tingkat di
     bawah Direksi atau yang disetarakan.
8.   Anggaran Perusahaan adalah Anggaran Perusahaan tahun berjalan yang telah
     disetujui dan disyahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham.
9.   Pengadaan Barang dan Jasa adalah usaha atau kegiatan pengadaan barang dan
     jasa yang diperlukan oleh Perusahaan yang meliputi : pengadaan barang, jasa
     pemborongan, jasa konsultansi, dan jasa lainnya.
10. Pengguna adalah satuan/unit kerja Perusahaan selaku yang memanfaatkan barang
    dan/atau jasa yang dilaksanakan pengadaannya.
11. Komite Pengadaan adalah komite yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan
    Direksi yang bertugas melakukan verifikasi dan rekomendasi usulan pengadaan,
    serta distribusi pelaksanaan pengadaan.
12. Unit Pengadaan adalah unit kerja/satuan kerja dalam Perusahaan yang
    mempunyai tugas pokok dan fungsi serta bertanggung jawab terhadap proses
    pengadaan barang dan jasa.
13. Tim Lelang adalah tim ad hoc yang dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Direksi
    untuk melaksanakan pemilihan Penyedia barang dan jasa melalui pelelangan.



                                                                             Page | 1
14. Pejabat Unit Pengadaan adalah pejabat struktural yang membawahi Unit
    Pengadaan.
15. Penyedia adalah badan usaha berupa perusahaan besar (pemasok/supplier,
    importir, agen), Usaha Kecil Menengah (UKM), dan Koperasi atau orang/
    perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang atau layanan jasa.
16. Peserta adalah Penyedia yang memasukkan penawaran pengadaan barang dan
    jasa.
17. Pelaksana adalah Penyedia yang ditunjuk atau peserta yang dinyatakan sebagai
    pemenang untuk melaksanakan penyediaan barang dan jasa.
18. Rekanan adalah Penyedia barang dan jasa yang tercatat dalam Daftar Rekanan
    Mampu Perusahaan.
19. Pakta Integritas adalah surat pernyataan yang ditandatangani oleh Pejabat yang
    ditunjuk atau diberi wewenang atau kuasa untuk melaksanakan pengadaan, yaitu
    Unit Pengadaan atau Tim Lelang maupun Peserta pengadaan barang dan jasa,
    yang berisi ikrar untuk mencegah dan tidak melakukan kolusi, korupsi, dan
    nepotisme (KKN) dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.
20. Barang adalah benda dalam berbagai bentuk dan uraian, yang meliputi bahan
    baku, barang setengah jadi, barang jadi, peralatan, yang spesifikasinya ditetapkan
    oleh Pengguna barang dan jasa, di luar barang dagangan.
21. Barang dan Jasa Tertentu Yang Bersifat Substansial adalah barang dan jasa
    tertentu yang jenis dan nilainya ditetapkan oleh Direksi dengan persetujuan Dewan
    Komisaris.
22. Jasa Konsultansi adalah layanan jasa keahlian profesional dalam berbagai bidang,
    dalam rangka mencapai sasaran tertentu, yang keluarannya berbentuk piranti lunak
    dan disusun secara sistematis berdasarkan kerangka acuan kerja yang ditetapkan
    Pengguna.
23. Jasa Pemborongan adalah layanan penanganan pekerjaan bangunan, konstruksi,
    atau wujud fisik lainnya, termasuk tapi tidak terbatas pada, teknologi rancang
    bangun, yang secara teknis dan spesifikasinya ditetapkan oleh Pengguna dan
    proses serta pelaksanaannya diawasi oleh Pengguna.
24. Jasa Lainnya adalah segala pekerjaan dan/atau penyediaan jasa selain jasa
    konsultansi, jasa pemborongan dan pemasokan barang.
25. Produksi Dalam Negeri adalah berbagai jenis barang dan jasa yang dibuat dan
    atau dihasilkan di dalam negeri.
26. Cara Pengadaan adalah Pengadaan/Pembelian Langsung, Pemilihan Langsung,
    Pelelangan Terbatas, Pelelangan Terbuka, Penunjukan Langsung, Swakelola, dan
    Kerjasama Kemitraan.
27. E-Procurement adalah pengadaan barang dan jasa yang menggunakan sarana
    elektronik (internet, electronic data interchange dan e-mail).
28. Perikatan adalah hubungan formil tertulis antara Perusahaan dengan Pelaksana
    penyediaan barang dan jasa.
29. Daftar Rekanan Mampu adalah daftar dari perusahaan, koperasi, dan orang
    perseorangan yang telah melakukan registrasi dan memenuhi persyaratan
    administrasi yang ditetapkan untuk pengadaan barang dan jasa.




                                                                              Page | 2
30. Dokumen Pengadaan adalah seluruh dokumen baik yang disiapkan oleh
    Pengguna, Unit Pengadaan atau Tim Lelang, maupun dokumen yang disampaikan
    oleh Penyedia / Peserta terkait pelaksanaan pengadaan barang dan jasa termasuk
    tetapi tidak terbatas pada proposal, Kerangka Acuan Kerja, surat – menyurat,
    memorandum, dan berita acara.
31. Kerangka Acuan Kerja adalah dokumen yang disiapkan oleh Pengguna, Unit
    Pengadaan atau Tim Lelang sebagai pedoman dalam proses pembuatan dan
    penyampaian penawaran oleh Peserta pengadaan barang dan jasa, serta sebagai
    pedoman evaluasi penawaran oleh Unit Pengadaan atau Tim Lelang.
32. Prakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta
    pemenuhan persyaratan lainnya dari Penyedia barang dan jasa sebelum
    memasukkan penawaran.
33. Pascakualifikasi adalah proses penilaian kompetensi dan kemampuan usaha serta
    pemenuhan persyaratan lainnya dari Peserta pengadaan barang dan jasa setelah
    memasukkan penawaran.
34. Sertifikasi adalah proses penerbitan tanda bukti pengakuan kompetensi dan
    kemampuan usaha serta pemenuhan persyaratan lainnya dari Penyedia barang dan
    jasa yang dikeluarkan Perusahaan.
35. Beauty Contest adalah salah satu proses penilaian atau evaluasi atas penawaran
    yang disampaikan oleh peserta pengadaan jasa, melalui presentasi teknis dan
    tanya jawab.
36. Surat Jaminan adalah jaminan tertulis yang dikeluarkan oleh Bank/Lembaga
    Keuangan lainnya yang diberikan oleh Penyedia/Peserta/Pelaksana pengadaan
    barang dan jasa kepada Perusahaan maupun dari Perusahaan kepada Pelaksana
    penyediaan barang dan jasa untuk menjamin terpenuhinya persyaratan/kewajiban
    masing-masing pihak.
37. Sanggahan adalah hak Peserta pengadaan barang jasa yang merasa dirugikan
    untuk mengajukan keberatan secara tertulis atas hasil pengumuman pemenang
    Pelaksana penyediaan barang dan jasa.


                                       Pasal 2
                                   Prinsip Umum

Pengadaan barang dan jasa dilaksanakan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.   Efisien berarti pengadaan barang dan jasa harus diusahakan untuk mendapatkan
     hasil yang optimal dan terbaik dalam waktu yang cepat dengan menggunakan dana
     dan kemampuan seminimal mungkin secara wajar dan bukan hanya didasarkan
     pada harga terendah dan dapat dipertanggungjawabkan.
2.   Efektif berarti pengadaan barang dan jasa harus sesuai dengan kebutuhan yang
     telah ditetapkan dan dapat memberikan manfaat yang sebesar-besarnya sesuai
     dengan sasaran yang ditetapkan Perusahaan.
3.   Kompetitif berarti pengadaan barang dan jasa harus terbuka bagi Penyedia barang
     dan jasa yang memenuhi persyaratan dan dilakukan melalui persaingan yang sehat
     diantara Penyedia barang dan jasa yang setara dan memenuhi syarat/kriteria
     tertentu berdasarkan ketentuan dan prosedur yang jelas dan transparan.




                                                                             Page | 3
4.   Transparan berarti semua ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang/
     jasa, termasuk syarat teknis dan administrasi pengadaan, tata cara evaluasi, hasil
     evaluasi, penetapan calon penyediaan barang dan jasa, sifatnya terbuka bagi
     peserta penyediaan barang dan jasa (peserta pelelangan, pemilihan langsung,
     penunjukan langsung) yang berminat, serta bagi Unit Pengadaan dan Tim Lelang
     yang terkait di Perusahaan.
5.   Adil/Tidak Diskriminatif berarti memberikan perlakuan yang sama bagi semua calon
     Penyedia barang dan jasa dan tidak mengarah untuk memberikan keuntungan
     kepada pihak tertentu, dengan cara dan atau alasan apapun.
6.   Akuntabel berarti harus mencapai sasaran dan dapat dipertanggungjawabkan
     sehingga menjauhkan dari potensi penyalahgunaan dan penyimpangan sesuai
     dengan prinsip-prinsip serta ketentuan yang berlaku dalam pengadaan barang dan
     jasa.
7.   Mengutamakan penggunaan produksi dalam negeri, rancang bangun,
     perekayasaan nasional, serta perluasan kesempatan bagi Usaha Kecil dan
     Menegah dan Koperasi sepanjang kualitas, harga, dan tujuannya dapat
     dipertanggungjawabkan.
8.   Mengutamakan sinergi antar BUMN dan/atau Anak Perusahaan sepanjang barang
     dan jasa tersebut merupakan hasil produksi BUMN dan/atau Anak Perusahaan
     sepanjang kualitas, harga, dan tujuannya dapat dipertanggungjawabkan.


                                       Pasal 3
                                  Kebijakan Umum

Kebijakan umum dalam pengadaan barang dan jasa adalah sebagai berikut:
1.   Meningkatkan profesionalisme, kemandirian dan tanggung jawab Unit Pengadaan,
     Tim Lelang atau pejabat yang berwenang lainnya.
2.   Meningkatkan penggunaan barang dan jasa produksi dalam negeri sepanjang
     memenuhi kriteria dan terpenuhinya standard mutu barang/jasa.
3.   Upaya meningkatkan peran serta Usaha Kecil dan Menegah, Koperasi, dan
     Masyarakat setempat dalam pengadaan barang dan jasa.
4.   Meningkatkan akuntabilitas, effektivitas dan effisiensi Unit Pengadaan barang dan
     jasa.
5.   Mempercepat proses pengambilan keputusan dalam pelaksanaan pengadaan
     barang dan jasa berdasarkan prinsip – prinsip tata kelola perusahaan yang baik.


                                      Pasal 4
                                 Maksud dan Tujuan

1.   Maksud diberlakukannya Pedoman ini adalah untuk memperjelas tugas,
     tanggungjawab, hak dan kewenangan dari para Pengguna/Unit Pengadaan serta
     Penyedia barang dan jasa, dalam proses pengadaan barang dan jasa bagi
     perusahaan.
2.   Tujuan Pedoman ini adalah untuk memperoleh barang dan jasa yang dibutuhkan
     dalam jumlah yang cukup, dengan kualitas dan harga yang dapat dipertanggung
     jawabkan, dalam waktu dan tempat tertentu, secara efektif dan efesien,
     berdasarkan ketentuan yang berlaku.

                                                                               Page | 4
                                      Pasal 5
                                   Ruang Lingkup

Pedoman ini berlaku untuk semua pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa yang
dilakukan oleh Perusahaan yang pembiayaannya bersumber dari Anggaran
Perusahaan.


                                       Pasal 6
                                  Etika Pengadaan

Para Pihak Terkait dalam pengadaan barang/jasa wajib mematuhi etika pengadaan
barang dan jasa, yaitu:
1. Melaksanakan tugas secara tertib, penuh rasa tanggung jawab, demi kelancaran
   dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan barang/jasa.


2. Bekerja secara profesional dengan menjunjung tinggi kejujuran, kemandirian dan
   menjaga informasi yang bersifat rahasia.
3. Tidak saling mempengaruhi baik langsung maupun tidak langsung, yang
   mengakibatkan persaingan yang tidak sehat, penurunan kualitas proses pengadaan
   dan hasil pekerjaan.
4. Bertanggung jawab terhadap segala keputusan yang ditetapkan sesuai dengan
   kewenangannya.
5. Mencegah terjadinya pertentangan kepentingan (conflict of interest) pihak-pihak yang
   terlibat langsung maupun tidak langsung dalam proses pengadaan.
6. Mencegah terjadinya kebocoran keuangan dan kerugian perusahaan.
7. Tidak menyalahgunakan wewenang dan melakukan kegiatan bersama dengan
   tujuan untuk keuntungan pribadi, golongan atau pihak lain yang secara langsung
   atau tidak langsung merugikan perusahaan.
8. Tidak menerima, tidak menawarkan atau tidak berjanji akan memberi hadiah,
   imbalan atau berupa apa saja kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat
   diduga berkaitan dengan pengadaan barang/jasa.


                                       Pasal 7
                                    Pihak Terkait

Pihak Terkait yang terkait dalam pelaksanaan pengadaan barang dan jasa adalah
sebagai berikut :
1.   Direksi.
2.   Pejabat yang berwenang.
3.   Bagian Anggaran atau Unit Kerja yang mengelola administrasi anggaran.
4.   Pengguna.
5.   Komite Pengadaan.
6.   Tim Lelang.
7.   Unit Pengadaan.
8.   Penyedia.



                                                                               Page | 5
                                      Pasal 8
                             Tugas dan Tanggungjawab

1.   Komite Pengadaan
     a. Keanggotaan Komite Pengadaan yang dibentuk dengan Surat Keputusan
        Direksi berjumlah ganjil sekurang–kurangnya 5 (lima) orang yang berasal dari
        unit–unit kerja di Perusahaan dengan masa tugas 1 (satu) tahun.
     b. Tugas:
           i.   Melakukan review proposal pengadaan.
          ii.   Melakukan evaluasi atas hasil proses pengadaan, kecuali Pengadaan/
                Pembelian Langsung dan Penunjukan Langsung.
         iii.   Mengajukan usulan pembentukan Tim Lelang.
         iv.    Merekomendasikan pengadaan barang dan jasa non rutin kepada Direksi
                terkait aspek teknis dan keuangan.
     c. Tanggungjawab:
        Memastikan pelaksanaan proses Pemilihan Langsung dan Lelang sesuai
        dengan Pedoman.

2.   Tim Lelang
     a. Keanggotaan Tim Lelang yang dibentuk dengan Surat Keputusan Direksi
        berjumlah ganjil sekurang-kurangnya 5 (lima) orang, yang terdiri dari Ketua
        merangkap Anggota, Sekretaris merangkap Anggota dan Anggota.
     b. Tugas:
          i. Membuat laporan proses dan hasil pelelangan kepada Direksi.
         ii. Melakukan pengarsipan dan menyimpan semua dokumen pelelangan
             selama masa tugas.
     c. Tanggung jawab:
           i. Melaksanakan pengadaan barang dan jasa dengan cara Pelelangan
              Terbatas dan Pelelangan Terbuka.
          ii. Menyiapkan Kerangka Acuan Kerja, termasuk kriteria dan tata cara
              penilaian penawaran serta dokumen lainnya.
         iii. Mengumumkan pelelangan melalui papan pengumuman resmi Perusahaan,
              dan atau media cetak serta jika memungkinkan melalui media elektronik.
         iv. Menyusun dan menetapkan jadwal pelaksanaan serta lokasi pelelangan.
          v. Mengundang peserta pelelangan pengadaan barang dan jasa.
         vi. Memberikan penjelasan mengenai dokumen pelelangan termasuk syarat-
              syarat penawaran, cara penyampaian penawaran dan tata cara
              evaluasinya.
        vii. Membuka dokumen penawaran dan membuat berita acara pembukaan
              penawaran.
        viii. Menilai seluruh penawaran yang masuk, mengadakan klarifikasi, dan
              mengusulkan pemenang lelang.
         ix. Menyelenggarakan beauty contest apabila diperlukan dalam pengadaan
              jasa.
          x. Melakukan negosiasi.
         xi. Mengumumkan hasil pelelangan yang telah ditetapkan oleh Pejabat yang
              Berwenang kepada Peserta.



                                                                            Page | 6
3.   Unit Pengadaan
     a. Tugas:
          i. Menyusun rencana kerja pengadaan berdasarkan Rencana Kerja dan
             Anggaran Perusahaan tahun berjalan.
         ii. Menyelenggarakan kegiatan prakualifikasi atau sertifikasi kepada calon
             Penyedia.
        iii. Memonitor dan menyusun Daftar harga barang dan jasa secara berkala,
             sekurang-kurangnya dua kali dalam satu tahun.
        iv. Menyimpan semua dokumen pengadaan.
         v. Membuat rekam jejak (track record) Penyedia Barang dan Jasa.
        vi. Menyiapkan draft Kontrak dalam hal pengadaan dilaksanakan dengan cara
             Pemilihan Langsung, Penunjukan Langsung, dan Kerjasama Kemitraan.
       vii. Menyampaikan hasil pengadaan kepada Pengguna atau Direktur Terkait.
       viii. Menyampaikan laporan pelaksanaan pengadaan secara triwulan kepada
             Direksi.
     b. Tanggung jawab:
         i. Melaksanakan pengadaan barang dan jasa dengan cara Pengadaan/
            Pembelian Langsung, Pemilihan langsung, Penunjukan Langsung, dan
            Kerjasama Kemitraan.
         ii. Dalam hal pengadaan dilaksanakan dengan cara Pengadaan/Pembelian
             Langsung, Penunjukan Langsung, dan Kerjasama Kemitraan:
            - Memeriksa Spesifikasi barang dan jasa yang akan diadakan.
            - Melakukan pengadaan/pembelian langsung terhadap barang dan jasa
              yang langsung tersedia di pasaran atau yang ditunjuk.
        iii. Dalam hal pengadaan dengan cara Pemilihan Langsung:
            -   Memeriksa Spesifikasi barang dan jasa yang akan diadakan.
            ‐   Menyusun Harga Perkiraan Sendiri (HPS) atau Owner Estimate (OE).
            ‐   Melakukan pemilihan Rekanan yang sesuai dari Daftar Rekanan.
            ‐   Menyiapkan Kerangka Acuan Kerja.
            ‐   Meminta penawaran dari Rekanan, atau jika jumlah Rekanan tidak
                memenuhi atau tidak ada maka mengundang Penyedia yang tidak masuk
                dalam Daftar Rekanan untuk memberikan penawaran.
            ‐   Apabila diperlukan memberikan penjelasan mengenai spesifikasi barang
                dan jasa yang disyaratkan.
            ‐   Melakukan pembandingan/penilaian terhadap penawaran yang masuk
                dan membuat Berita Acara hasil penilaian.
            ‐   Menyelenggarakan beauty contest apabila diperlukan dalam pengadaan
                jasa.
            ‐   Melakukan negosiasi.
            ‐   Menetapkan urutan dan mengusulkan Pelaksana pengadaan barang dan
                jasa.
            ‐   Mengumumkan Pelaksana pengadaan barang dan jasa yang telah
                ditetapkan oleh Pejabat yang berwenang.




                                                                             Page | 7
                                    BAB II
                      KETENTUAN PELAKSANAAN PENGADAAN

                                        Pasal 9
                                 Persyaratan Pengadaan

Setiap permohonan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa yang diajukan oleh
Pengguna harus memenuhi salah satu syarat berikut :
1.   Tercantum dalam RKAP pada tahun anggaran berjalan, atau
2.   Barang dan jasa tersebut diperlukan untuk kepentingan kelancaran kegiatan
     perusahaan.


                                       Pasal 10
                               Pengajuan dan Persetujuan

1.   Setiap pengajuan Pengadaan Barang dan Jasa harus melampirkan penjelasan atau
     uraian teknis.
2.   Pengadaan dapat dilaksanakan setelah mendapat persetujuan Direksi atau Pejabat
     yang Berwenang.


                                        Pasal 11
                              Prakualifikasi dan Sertifikasi

1.   Untuk mengetahui kemampuan dasar dari Penyedia barang dan jasa dilakukan
     dengan prakualifikasi dan sertifikasi.
2.   Sertifikasi dilaksanakan oleh Unit Pengadaan dan/atau Tim Lelang yang dilakukan
     secara berkala tanpa harus selalu diikuti dengan proses pengadaan barang dan
     jasa.
3.   Surat Keterangan Terdaftar (SKT) diberikan kepada Penyedia yang memenuhi
     syarat prakualifikasi dan dimasukkan dalam Daftar Rekanan Mampu.
4.   Prinsip-prinsip umum sertifikasi/prakualifikasi:
     a. Persyaratan sertifikasi/prakualifikasi harus merupakan persyaratan yang
        dibutuhkan untuk pelaksanaan pengadaan yang menciptakan persaingan yang
        sehat secara luas.
     b. Dalam proses sertifikasi/prakualifikasi, Unit Pengadaan dan Pihak terkait tidak
        boleh melarang, menghambat dan membatasi keikutsertaan calon peserta.
     c. Penyedia barang dan jasa wajib menandatangani surat pernyataan di atas
        meterai bahwa semua informasi yang disampaikan adalah benar dan apabila
        ditemukan ketidaksesuaian atas informasi yang disampaikan, akan dikenakan
        sanksi administrasi berupa pembatalan SKT.


                                        Pasal 12
                                 Harga Perkiraan Sendiri

1.   Harga Perkiraan Sendiri (HPS)/Owner                Estimate   (OE)   merupakan     dasar
     perhitungan atas Nilai Pengadaan.


                                                                                      Page | 8
2.   HPS/OE disusun oleh Unit Pengadaan atau Tim Lelang atau pihak lain
     berdasarkan keahlian dan disetujui oleh Direksi.
3.   Dalam pembuatan HPS/OE dilakukan pengumpulan informasi yang seluas –
     luasnya tentang perkembangan harga barang dan jasa di pasaran.
4.   HPS/OE bersifat rahasia dan baru dapat diumumkan kepada                    Peserta
     pengadaan/lelang pada saat pengumuman hasil pengadaan/lelang.


                                     Pasal 13
                              Batasan Nilai Pengadaan

Batasan Nilai pengadaan berdasarkan nilai yang diperoleh dari perhitungan Harga
Perkiraan Sendiri (HPS) / Owner Estimate (OE):
1. Sampai dengan Rp.100.000.000,- (seratus juta rupiah) dilakukan Pengadaan/
   Pembelian Langsung.
2. Di atas Rp.100.000.000,- s/d Rp.250.000.000,- (seratus juta rupiah s/d dua ratus lima
   puluh juta rupiah) dilakukan Pemilihan Langsung.
3. Di atas Rp.250.000.000,- s/d Rp.2.500.000.000,- (dua ratus lima puluh juta rupiah s/d
   dua milyar lima ratus juta rupiah) dilakukan Pelelangan Terbatas.
4. Di atas Rp.2.500.000.000,- (dua milyar lima ratus juta rupiah) dilakukan Pelelangan
   Terbuka.


                                      Pasal 14
                                  Cara Pelaksanaan

Pengadaan barang dan jasa dilaksanakan dengan cara sebagai berikut :
1. Pengadaan/Pembelian Langsung, dengan menunjuk 1 (satu) Penyedia atau
   melakukan pembelian langsung terhadap barang dan jasa yang terdapat di pasar
   dengan berdasarkan harga umum di pasaran.
2. Pemilihan Langsung, dengan membandingkan beberapa penawaran.
3. Pelelangan Terbatas, dengan mengundang beberapa Penyedia yang setara
   berdasarkan kerangka acuan kerja.
4. Pelelangan Terbuka, dengan mengundang beberapa Penyedia yang setara
   berdasarkan kerangka acuan kerja secara terbuka melalui pengumuman di media
   massa.
5. Penunjukan Langsung, untuk barang dan jasa dengan kriteria tertentu, dengan
   menunjuk langsung 1 (satu) atau lebih Penyedia.
6. Swakelola, untuk barang dan jasa dengan persyaratan tertentu yang dilakukan
   sendiri oleh Pengguna mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengawasan,
   sampai dengan pelaporan.
7. Kerjasama Kemitraan, melalui kerjasama dengan Rekanan yang telah terbukti
   mempunyai kinerja yang memuaskan dan diklasifikasikan sebagai rekanan
   partisipatif yang perlu dikembangkan untuk mempercepat proses pengadaan barang
   dan jasa yang bersifat rutin.




                                                                                Page | 9
                                   Pasal 15
                         Pengadaan/Pembelian Langsung

Pengadaan/pembelian langsung dilaksanakan dengan menunjuk 1 (satu) Penyedia
barang dan jasa berdasar Surat Pesanan (SP)/Purchase Order (PO) atau Surat Perintah
Kerja (SPK) atau Surat Perjanjian, atau melakukan pembelian langsung terhadap barang
dan jasa yang terdapat di pasar dengan berdasarkan harga umum di pasaran.


                                     Pasal 16
                               Pemilihan Langsung

1.   Pemilihan Langsung dilaksanakan dengan membandingkan penawaran dari
     minimal 3 (tiga) penawar.
2.   Pemilihan Langsung dilaksanakan berdasarkan Surat Perintah Kerja (SPK) atau
     Surat Perjanjian.


                                     Pasal 17
                               Pelelangan Terbatas

1.   Pelelangan Terbatas dilaksanakan dengan Pascakualifikasi.
2.   Pelelangan Terbatas dilaksanakan dengan seleksi terhadap minimal 5 (lima)
     penawar sah.
3.   Pelelangan Terbatas dilaksanakan berdasarkan Surat Perjanjian.


                                     Pasal 18
                               Pelelangan Terbuka

1.   Pelelangan terbuka dilaksanakan dengan Pascakualifikasi yang diumumkan
     melalui media massa.
2.   Jumlah penawar yang sah minimal 7 (tujuh) penawar.
3.   Pelelangan Terbuka dilaksanakan berdasarkan Surat Perjanjian.


                                    Pasal 19
                              Penunjukan Langsung

1.   Penunjukan langsung dilaksanakan dengan menunjuk langsung 1 (satu) atau lebih
     Penyedia.
2.   Penunjukan langsung harus memenuhi minimal salah satu dari persyaratan:
     a. Barang dan Jasa yang dibutuhkan bagi operasi perusahaan dan tidak dapat
        ditunda keberadaannya (business critical asset).
     b. Penyedia hanya satu-satunya (barang spesifik);
     c. Barang dan Jasa yang bersifat knowledge intensive di mana untuk
        menggunakan dan memelihara produk tersebut membutuhkan pengetahuan
        khusus dari Penyedia.


                                                                           Page | 10
     d. Bila pelaksanaan pengadaan Barang dan Jasa dengan menggunakan cara
        pemilihan langsung, atau pelelangan terbatas dan pelelangan terbuka yang
        telah dilaksanakan 2 (dua) kali tidak ada yang memenuhi kriteria atau tidak
        terdapat pihak yang mengikuti seleksi.
     e. Barang dan Jasa yang dimiliki oleh pemegang Hak Atas Kekayaan Intelektual
        (HAKI) atau yang memiliki jaminan atau warranty dari original equipment
        manufacture.
     f.   Penanganan darurat dalam hal menjaga keamanan, keselamatan karyawan,
          dan aset strategis perusahaan.
     g. Barang dan Jasa yang merupakan pembelian berulang (repeat order)
        sepanjang harga yang ditawarkan menguntungkan dengan tidak
        mengorbankan kualitas Barang dan Jasa.
     h. Penanganan darurat akibat bencana alam, baik yang bersifat lokal maupun
        nasional.
     i.   Barang dan Jasa lanjutan yang secara teknis merupakan satu kesatuan yang
          sifatnya tidak dapat dipecah-pecah dari pekerjaan yang sudah dilaksanakan
          sebelumnya.
     j.   Penyedia barang dan jasa adalah BUMN sepanjang barang dan jasa yang
          dibutuhkan merupakan produk atau layanan dari BUMN dimaksud, dengan
          ketentuan apabila terdapat Penyedia BUMN lebih dari satu, maka harus
          dilakukan secara pemilihan langsung.
     k. Apabila Penyedia adalah Anak Perusahaan.
     l.   Pengadaan yang bersifat khusus.

3.   Penunjukan langsung dilaksanakan dengan Surat Pesanan (SP) / Purchase Order
     (PO) atau Surat Perintah Kerja (SPK) atau Surat Perjanjian.


                                        Pasal 20
                                       Swakelola

1. Swakelola dilaksanakan dengan persetujuan Direksi atas suatu pekerjaan yang
   memenuhi salah satu dari namun tidak terbatas pada kriteria sebagai berikut:
     a. Pekerjaan yang bertujuan untuk meningkatkan dan memanfaatkan kemampuan
        teknis sumber daya manusia dan sesuai dengan fungsi dan tugas pokok
        Pengguna.
     b. Pekerjaan yang operasi dan          pemeliharaannya     memerlukan    partisipasi
        masyarakat setempat.
     c. Pekerjaan tersebut dilihat dari segi besaran, sifat, lokasi atau pembiayaannya
        tidak diminati oleh Penyedia.
     d. Pekerjaan yang secara rinci/detail tidak dapat dihitung/ditentukan terlebih
        dahulu, sehingga apabila dilaksanakan oleh Penyedia akan menanggung risiko
        yang besar.
     e. Penyelenggaraan     diklat,   kursus,   penataran,   seminar,   lokakarya,   atau
        penyuluhan.




                                                                                Page | 11
      f.     Pekerjaan untuk proyek percontohan atau pilot project yang bersifat khusus
             untuk pengembangan teknologi/metode kerja yang belum dapat dilaksanakan
             oleh Penyedia.
      g. Pekerjaan khusus yang bersifat pemrosesan data, perumusan kebijakan,
         pengujian di laboratorium, pengembangan sistem tertentu dan penelitian oleh
         perguruan tinggi atau lembaga ilmiah.
      h. Pekerjaan yang bersifat rahasia bagi Perusahaan.

2.   Swakelola dilaksanakan oleh Pengguna dan/atau Unit Pengadaan.


                                        Pasal 21
                                  Kerjasama Kemitraan

1.   Kerjasama kemitraan adalah kerjasama dengan Rekanan Mampu yang telah
     terbukti mempunyai kinerja yang memuaskan dan diklasifikasikan sebagai rekanan
     partisipatif yang perlu dikembangkan untuk mempercepat proses pengadaan barang
     dan jasa yang bersifat rutin dibutuhkan oleh Perusahaan.
2.   Kerjasama kemitraan diprioritaskan untuk Koperasi dan UKM.
3.   Kerjasama kemitraan dilaksanakan berdasarkan Surat Perjanjian.


                                      Pasal 22
                 Pengadaan Untuk Barang dan Jasa yang Bersifat Khusus

1.   Pengadaan yang dilaksanakan terhadap barang dan jasa yang karena sifat dan
     karakteristiknya memerlukan perlakuan tersendiri.

2.   Jenis barang dan jasa yang termasuk kategori barang dan jasa yang bersifat
     khusus adalah:
      i.     Konsultan Perorangan atau Tenaga Ahli tertentu.
      ii.    Advokat dan Konsultan Hukum.
      iii.   Notaris.
      iv.    Konsultan Keuangan dan Manajemen.
      v.     Lembaga Pendidikan Perkebunan.
      vi.    Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI)
      vii.   Tanah dan atau bangunan untuk keperluan operasional perusahaan yang
             berupa kantor, rumah dinas, gudang, dan pabrik.

3.   Pelaksanaan pengadaan atas barang dan jasa yang bersifat khusus dengan cara
     Penunjukan Langsung, ditetapkan oleh Direksi setelah memperoleh rekomendasi
     dari Komite Pengadaan.

4.   Syarat–syarat Penyedia jasa ayat 2      butir i sampai dengan butir iv, antara lain
     namun tidak terbatas pada:
      i. Memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP).
      ii. Memiliki sertifikat keahlian/profesi dan atau surat ijin praktek yang masih
          berlaku sesuai bidangnya yang diterbitkan oleh Lembaga Sertifikasi atau
          institusi yang berwenang.



                                                                               Page | 12
      iii. Terdaftar pada asosiasi profesi sesuai bidangnya.
      iv. Memiliki pengalaman sesuai bidangnya.

5.   Pengadaan tanah dan/atau bangunan dilaksanakan dengan cara pemilihan
     langsung oleh Tim Pengadaan Tanah yang dibentuk Direksi.

6.   Syarat minimal dan cara pengadaan tanah dan/atau bangunan:
        i. Tanah harus memiliki dokumen legalitas yang sah atau bersertifikat, dan untuk
           bangunan memiliki Ijin Mendirikan Bangunan serta Ijin Penggunaan Bangunan
           dan/atau Kelayakan Menggunakan Bangunan.
       ii. Tidak dalam kondisi sengketa hukum.
      iii. Peruntukan tanah berdasar ketentuan Rencana Umum Tata Ruang sesuai
           dengan rencana kebutuhan.
     iv. Pemeriksaan dan evaluasi atas pemenuhan syarat–syarat dilakukan oleh Tim
           Pengadaan Tanah.
       v. Penilaian harga tanah dan atau bangunan dilakukan oleh Tim Penilai internal
           atau oleh konsultan penilai independen.
     vi. Penetapan harga beli dilakukan oleh Direksi.
     vii. Perjanjian jual beli dilaksanakan dihadapan Pejabat Pembuat Akta Tanah.


                                  Pasal 23
            Pengadaan Barang dan Jasa Yang Tidak Ada Anggarannya

Pengadaan barang dan jasa yang tidak ada anggarannya dapat dilakukan setelah
mendapat persetujuan pihak yang berwenang sesuai mekanisme Pedoman
Pelaksanaan RKAP.


                                    Pasal 24
                      Pengadaan Jangka Panjang (multi-years)

1. Untuk pekerjaan yang memiliki jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun atau multi-
   years, maka Perusahaan dapat melakukan pengadaan barang dan Jasa 1 (satu) kali
   untuk jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun yang disesuaikan dengan kebutuhan
   spesifik dari Perusahaan, sepanjang kualitas, harga, dan tujuannya dapat
   dipertanggungjawabkan.

2. Dalam hal pengadaan jangka panjang atau multi-years, Direksi perlu membuat
   formula penyesuaian harga tertentu (price adjustment) baik untuk kenaikan maupun
   penurunan yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan best practice yang berlaku.


                                    Pasal 25
                       Pengulangan Pengadaan (repeat order)

Pengulangan pengadaan barang/jasa (repeat order) berdasarkan hasil pengadaan
sebelumnya dapat dilaksanakan dengan persyaratan :
1. Tidak ada perubahan spesifikasi barang dan jasa.
2. Nilai pengadaan tidak berubah atau tidak lebih besar untuk jumlah yang sama.
3. Repeat order dapat dilaksanakan sebanyak – banyaknya untuk 2 (dua) kali.



                                                                               Page | 13
                                      Pasal 26
                              Pekerjaan Tambah Kurang

Pekerjaan tambah kurang dapat dilakukan sepanjang :
1.   Jangka waktu Kontrak masih berlaku.
2.   Spesifikasi barang dan jasa tambahan tidak berubah, atau apabila terdapat
     tambahan barang dan jasa dengan spesifikasi baru harus merupakan kelengkapan
     dari paket barang dan jasa yang diadakan.
3.   Nilai pekerjaan tambah kurang tidak melebihi 10% dari nilai kontrak.


                                         Pasal 27
                                      E-Procurement

1.   Pengadaan barang dan jasa dengan sarana E-procurement dilaksanakan berdasar
     persetujuan Direksi atas rekomendasi Komite Pengadaan apabila sarana dan
     prasarana elektronik sudah tersedia baik dari sisi intern maupun ekstern.
2.   Pengadaan barang dan jasa dengan sarana E-procurement dilaksanakan dengan
     Prakualifikasi.
3.   Seluruh tahapan pengadaan mulai dari permintaan, pencarian penyedia/sumber,
     pemilihan penyedia, pelaksanaan cara pengadaan, negosiasi dan penetapan
     pelaksana/pemenang serta penyusunan kontrak/PO dilakukan secara elektronis.
4.   Barang dan Jasa yang diadakan dapat berasal dari sumber lokal maupun luar
     negeri (impor).
5.   Dalam hal pengadaan barang dan jasa oleh Perusahaan menggunakan sarana e-
     procurement, wajib dihubungkan dengan portal utama Kementerian Negara BUMN.


                                      Pasal 28
                                 Dokumen Pengadaan

1.   Dokumen yang disiapkan dan diterbitkan oleh Pengguna antara lain namun tidak
     terbatas pada:
     a. Surat/memorandum/formulir permohonan pengadaan yang telah diverifikasi
        anggarannya oleh Bagian Keuangan.
     b. Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau Term of Reference (TOR) Teknis.
           i.Latar Belakang.
          ii.Jenis dan kriteria barang atau jasa.
         iii.Spesifikasi dan Volume (untuk barang).
         iv. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) atau Owner Estimate (OE).
          v. Studi Kelayakan terutama untuk pengadaan yang bersifat Capital
             Expenditures termasuk usulan khusus untuk swakelola.
         vi. Mitigasi Risiko.
     c. Surat Perintah Mulai Kerja.
     d. Berita acara kemajuan pelaksanaan pengadaan barang dan jasa.
     e. Berita Acara Serah Terima barang dan jasa.



                                                                            Page | 14
2.   Dokumen yang disiapkan oleh Komite Pengadaan antara lain namun tidak terbatas
     pada:
     a. Surat/memorandum rekomendasi atas usulan pengadaan/lelang.
     b. Surat/memorandum rekomendasi atas hasil lelang.

3.   Dokumen yang disiapkan dan diterbitkan oleh Unit Pengadaan atau Tim Lelang
     antara lain namun tidak terbatas pada :
     a. Kerangka Acuan Kerja (KAK) atau Term of Reference (TOR) Administrasi.
     b. Harga Perkiraan Sendiri (HPS) atau Owner Estimate (OE).
     c. Jadual (time schedule).
     d. Draft Kontrak.
     e. Surat undangan kepada Peserta pengadaan barang dan jasa.
     f. Berita Acara penjelasan (aanwijzing).
     g. Berita Acara pemasukan dan pembukaan penawaran.
     h. Berita Acara evaluasi penawaran.
     i. Surat/memorandum hasil lelang.
     j. Berita Acara negosiasi.
     k. Surat pemberitahuan dan penetapan pelaksana/pemenang pengadaan barang
        dan jasa.
     l. Berita Acara selesai masa sanggah.

4.   Dokumen yang diterbitkan oleh Peserta pengadaan barang dan jasa meliputi :
      a.   Surat Penawaran Harga.
      b.   Dokumen persyaratan administrasi dan teknis.
      c.   Surat jaminan.
      d.   Surat kesanggupan.
      e.   Pakta integritas.


                                       Pasal 29
                           Evaluasi dan Penilaian Penawaran

1.   Kriteria serta tatacara evaluasi dan penilaian penawaran dicantumkan dalam
     dokumen pengadaan dan dijelaskan pada waktu pemberian penjelasan.
2.   Dalam melakukan evaluasi atas penawaran harga, HPS/OE merupakan acuan
     utama untuk menilai kewajaran harga terhadap penawaran yang masuk dan tidak
     dapat dijadikan dasar untuk menggugurkan penawaran.
3.   Apabila dalam dokumen pengadaan diatur kemungkinan calon Penyedia barang
     dan jasa menyampaikan penawaran alternatif, maka penawaran alternatif yang
     ternyata baik dari segi teknis maupun harga lebih menguntungkan bagi Perusahaan
     (harga lebih rendah dari penawaran utama), dapat diusulkan sebagai calon
     pemenang lelang dengan ketentuan penawaran alternatif yang dievaluasi hanya
     penawaran alternatif dari calon penyedia barang dan jasa yang harga penawaran
     utamanya merupakan harga terendah.
4.   Metode Evaluasi Penawaran
     Evaluasi penawaran oleh Unit Pengadaan atau Tim Lelang dilaksanakan dengan :




                                                                            Page | 15
     a. Metode Gugur
        Metode ini dapat dilakukan untuk hampir seluruh pengadaan barang dan jasa
        pemborongan/jasa lainnya, serta digunakan dalam menilai komponen teknis dari
        penawaran dimana pekerjaan yang dilelangkan memenuhi kriteria :
           i. Lingkup dan volume pekerjaan jelas dan pasti.
          ii. Spesifikasi teknis terinci, lengkap, jelas dan pasti
         iii. Jadwal pelaksanaan sudah pasti.
        Penawaran yang tidak memenuhi kriteria tersebut dinyatakan gugur.

     b. Metode Nilai
        Metode Nilai digunakan dengan pendekatan kuantitatif yaitu dengan
        memberikan nilai/angka pembobotan terhadap unsur-unsur yang dinilai, sesuai
        dengan kriteria yang ditetapkan dalam dokumen pengadaan.
          i. Unsur yang diberi nilai, sekurang-kurangnya meliputi:
             (1)   Lingkup pekerjaan.
             (2)   Volume pekerjaan.
             (3)   Jenis, jumlah dan spesifikasi material/peralatan dominan
             (4)   Tenaga kerja.
             (5)   Pengalaman kerja di bidang usahanya.
             (6)   Jadwal pelaksanaan.
         ii. Besarnya bobot untuk setiap aspek tersebut diatur dalam dokumen
             pengadaan termasuk ambang batas bawah Nilai Kelulusan.
         iii. Kelulusan dengan ambang batas nilai kelulusan
             Penawaran dinyatakan gugur/tidak lulus apabila nilai penawaran teknis
             tidak mencapai ambang batas nilai kelulusan.
        iv. Kelulusan dengan Merit Point
             Kelulusan dihitung berdasar kombinasi dari nilai penawaran teknis yang
             memenuhi ambang batas nilai kelulusan dan nilai penawaran harga.

     c. Kombinasi metode Gugur dan Nilai
        Metode yang menggabungkan antara evaluasi metode gugur dan evaluasi
        metode nilai.


                                         Pasal 30
                                        Sanggahan

1.   Untuk menjamin adanya transparansi dan perlakuan yang sama (equal treatment)
     dalam setiap Pengadaan Barang dan Jasa, maka pihak yang kalah pada saat
     pengumuman pemenang berhak untuk mengajukan sanggahan.
2.   Sanggahan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 hanya yang berkaitan dengan
     kesesuaian pelaksanaan pelelangan dengan prosedur atau tata cara pelelangan.
3.   Sanggahan dapat diterima apabila diajukan dalam waktu selambat-lambatnya 3
     (tiga) hari kerja sejak diumumkannya pemenang atau sebelum Surat Perjanjian
     ditandatangani, mana yang lebih dahulu.



                                                                              Page | 16
4.   Direksi atau pejabat yang ditunjuk oleh Direksi wajib menyampaikan keputusan atas
     sanggahan tersebut selambat-lambatnya 10 (sepuluh) hari kerja dari tanggal
     diterimanya pengajuan sanggahan.
5.   Direksi atau pejabat yang ditunjuk menangani dan memeriksa sanggahan dapat
     melibatkan pihak lain.
6.   Pihak yang menyanggah wajib menyetorkan uang jaminan sanggahan sebesar
     maksimum nilai jaminan penawaran (bid bond) atau pencairan jaminan penawaran
     (bid bond), dan melampirkan pembuktian sanggahan.
7.   Uang jaminan sanggahan tersebut dikembalikan kepada penyanggah apabila
     sanggahannya terbukti benar sesuai ketentuan dan peraturan yang berlaku;
     sebaliknya apabila terbukti tidak benar maka akan menjadi hak Perusahaan.
8.   Keputusan Direksi atau pejabat yang ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat 4
     bersifat final.


                                     Pasal 31
                                Jaminan dan Garansi

1.   Jaminan Penawaran (Bid Bond) dari Peserta Lelang berupa surat jaminan yang
     dikeluarkan oleh Bank Umum / Lembaga Keuangan yang terdaftar di Departemen
     Keuangan, sebesar 1% sampai dengan 3% dari nilai penawaran.
2.   Jaminan Uang Muka (Advance Payment Bond) wajib diberikan oleh Pelaksana
     (kecuali Advokat/Konsultan Hukum) berupa surat jaminan yang dikeluarkan oleh
     Bank Umum sebesar uang muka yang dibayarkan oleh Perusahaan kepada
     Pelaksana.
3.   Jaminan Pelaksanaan (Performance Bond) berupa surat jaminan yang dikeluarkan
     oleh Bank Umum yang diberikan oleh Pelaksana kepada Perusahaan, minimal
     sebesar 5% dari nilai kontrak.
4.   Jasa konsultan tidak diperlukan Jaminan Pelaksanaan.
5.   Jaminan Pemeliharaan atau Retensi adalah nilai pembayaran yang ditahan oleh
     Perusahaan untuk waktu tertentu yang diatur dalam Kontrak sesuai jenis
     pekerjaannya minimal sebesar 5% dari nilai kontrak.
6.   Garansi adalah jaminan yang diberikan oleh Pelaksana pengadaan barang terhadap
     kualitas dan mutu barang dalam masa tertentu.


                                  BAB III
                    PENETAPAN PELAKSANA DAN PERIKATAN

                                    Pasal 32
                         Kewenangan Penetapan Pelaksana

Penetapan Pelaksana dilakukan Pejabat yang berwenang sesuai batasan kewenangan
masing – masing :

1.   Pengadaan/Pembelian Langsung oleh Pejabat penanggungjawab Unit Pengadaan.
2.   Pemilihan langsung oleh Direktur Terkait.
3.   Pelelangan Terbatas oleh Direksi.
4.   Pelelangan Terbuka oleh Direksi.

                                                                             Page | 17
5. Penunjukan Langsung oleh Direksi.
6. Kerjasama Kemitraan oleh Direktur Terkait.
7. Pengadaan Khusus oleh Direksi.


                                       Pasal 33
                                  Perikatan/Kontrak

1.   Setiap pelaksanaan pengadaan, dibuatkan Perikatan atau Kontrak yang dapat
     berbentuk sebagai berikut:
     a. Surat Pesanan (Purchase Order).
     b. Surat Perintah Kerja (SPK).
     c. Surat Perjanjian.

2.   Surat Pesanan sekurang-kurangnya memuat syarat dan ketentuan sebagai berikut:
     a. Identitas yang meliputi nama, jabatan, alamat badan usaha masing-masing dan
        ditandatangani oleh pihak yang bersangkutan.
     b. Pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis
        dan jumlah barang dan jasa.
     c. Hak dan kewajiban para pihak.
     d. Nilai atau harga pekerjaan, serta syarat-syarat pembayaran.
     e. Persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terinci.

3.   Surat Perintah Kerja (SPK) sekurang-kurangnya memuat syarat dan ketentuan
     sebagai berikut:
     a. Identitas yang meliputi nama, jabatan, alamat badan usaha Pelaksana atau
        Pemenang.
     b. Pokok Pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis
        dan jumlah barang dan jasa yang diperjanjikan.
     c. Nilai atau harga pekerjaan, serta syarat-syarat pembayaran.
     d. Persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terinci sebagai Lampiran SPK.
     e. Keluaran atau hasil (output) dari pengadaan barang dan jasa.
     f. Jadwal pelaksanaan dan kondisi serah terima.
     g. Jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan dan/atau ketentuan
        mengenai kelayakan.
     h. Cidera janji dan sanksi dalam hal Pelaksana atau Pemenang tidak memenuhi
        kewajibannya.

4.   Surat Perjanjian sekurang-kurangnya memuat syarat dan ketentuan sebagai
     berikut:
     a. Identitas yang meliputi nama, jabatan, alamat badan usaha masing-masing dan
        ditandatangani oleh pihak yang bersangkutan.
     b. Pokok pekerjaan yang diperjanjikan dengan uraian yang jelas mengenai jenis
        dan jumlah barang dan jasa yang diperjanjikan.
     c. Hak dan kewajiban para pihak yang terikat di dalam Surat Perjanjian.
     d. Nilai atau harga pekerjaan, serta syarat-syarat pembayaran.
     e. Persyaratan dan spesifikasi teknis yang jelas dan terinci.
     f. Keluaran atau hasil (output) dari pengadaan barang dan jasa.
     g. Jadwal pelaksanaan dan kondisi serah terima.
     h. Jaminan teknis/hasil pekerjaan yang dilaksanakan dan/atau ketentuan
        mengenai kelayakan.


                                                                              Page | 18
     i. Cidera janji dan sanksi dalam hal Pelaksana atau Pemenang tidak memenuhi
        kewajibannya.
     j. Pemutusan kontrak secara sepihak.
     i. Keadaan memaksa (force majeure).
     j. Penyelesaian sengketa yang mengutamakan penyelesaian melalui musyawarah
        dan alternatif penyelesaian sengketa.
     k. Jangka waktu berlakunya kontrak.
     l. Pakta Integritas (letter of undertaking) yang ditandatangani oleh Pelaksana
        Pengadaan Barang dan Jasa.
     m. Kepastian adanya jaminan terhadap barang dan/atau jasa yang diperjanjikan.


                                  Pasal 34
                      Kewenangan Penandatangan Perikatan

Penandatanganan perikatan/kontrak dilaksanakan sebagai berikut :
1. Surat Pesanan (SP) atau Purchase Order (PO) ditandatangani oleh Pejabat
   Penanggungjawab Unit Kerja Pengadaan barang dan jasa.
2. Surat Perintah Kerja (SPK) ditandatangani oleh Pejabat yang ditunjuk atau diberi
   kuasa.
3. Surat Perjanjian ditandatangani oleh Direktur Utama atau Direktur terkait atau
   Pejabat yang ditunjuk atau diberi kuasa.


                                    Pasal 35
                           Penerimaan Barang dan Jasa

1.   Untuk memastikan bahwa barang dan jasa yang diterima sesuai spesifikasi yang
     disyaratkan maka harus dilakukan verifikasi atas setiap penerimaan barang dan
     jasa hasil pengadaan yang dituangkan dalam surat tanda terima atau Berita Acara
     Penerimaan Barang dan Jasa.

2.   Penerimaan barang dan jasa yang pengadaannya dilakukan oleh Unit Pengadaan,
     verifikasinya dilakukan oleh Bagian Umum atau pihak lain yang ditunjuk.

3.   Penerimaan barang dan jasa yang pengadaannya dilakukan oleh Tim Lelang,
     verifikasinya dilakukan oleh Bagian Umum atau pihak lain yang ditunjuk.

4.   Berita Acara Serah Terima diterbitkan oleh Pejabat yang menandatangani Perikatan
     Pengadaan setelah Pengguna menerima barang dan jasa yang diminta.


                                   BAB IV
                         UANG MUKA DAN PEMBAYARAN

                                      Pasal 36
                                     Uang Muka

Uang Muka (Advance Payment) dapat diberikan kepada Pelaksana atau Pemenang
setinggi-tingginya 20% (dua puluh persen) dari Nilai Kontrak, apabila besarnya Uang
Muka lebih dari 20% (dua puluh persen) harus mendapat persetujuan terlebih dahulu
dari Direksi.

                                                                            Page | 19
                                     Pasal 37
                                   Pembayaran

Pembayaran atas pengadaan barang dan jasa dilaksanakan dengan ketentuan yang
diatur dalam Perikatan/Kontrak.


                                     BAB V
                                    LAIN-LAIN

                                    Pasal 38
                         Laporan Pelaksanaan Pengadaan

Unit Pengadaan dan Tim Lelang wajib membuat dan melaporkan pelaksanaan
pengadaan/lelang barang dan jasa kepada Direksi setiap 3 (tiga) bulan.


                                     Pasal 39
                                 Aturan Peralihan

Sebelum ditetapkannya jenis dan/atau nilai barang dan jasa yang bersifat substansial
oleh Direksi dan Dewan Komisaris, maka seluruh pelaksanaan pengadaan barang dan
jasa menggunakan tatacara sebagaimana diatur dalam Pedoman ini.


                                    -----end-----




                                                                            Page | 20

						
Related docs