Docstoc

Kumpulan Kata Bijak Gede Prama

Document Sample
Kumpulan Kata Bijak Gede Prama Powered By Docstoc
					                       KATA-KATA BIJAK GEDE PRAMA
                  Sumber : Renungan Minggu Ini (blog Gede Prama)

Senin, 19 April 2010

Cara terbaik mengolah sampah kehidupan menjadi bunga indah kehidupan adalah dengan
menerapkan etika dan tata susila. Tidak kebetulan kemudian kalau kata sila dalam bahasa
Sansekerta berarti kekuatan yang membuat seseorang jadi sejuk dan lembut.

                               (Hal. 38, buku: Simfoni di dalam Diri, 2009, Gede Prama)
Rabu, 17 Maret 2010

Di tangga-tangga kebijaksanaan, kalah juga indah. Terutama karena kalah seperti amplas
yang menghaluskan kayu yang mau jadi patung mahal, seperti pisau tajam yang melobangi
bambu yang akan jadi seruling indah kemudian

                               (Hal. 28, buku: Simfoni di dalam Diri, 2009, Gede Prama)
Rabu, 3 Maret 2010

Alam ada, lebih dari sekedar membuat manusia hidup. Alam juga tanda-tanda jalan pulang
menuju kedamaian.

                          (Hal. 8, buku: Menyalakan Cahaya-cahaya Cinta, Gede Prama)

Kamis, 18 Februari 2010

Uang dapat membeli rumah, tapi hanya cinta yang bisa membuatnya menjadi rumah
kebahagiaan.

                          (Hal. 6, buku: Menyalakan Cahaya-cahaya Cinta, Gede Prama)

Senin, 1 Februari 2010

Kebahagiaan itu bisa dibeli, bukan dengan uang, melainkan dengan sikap rendah hati.

                                       (Hal. 5, buku: Menyalakan Cahaya-cahaya Cinta)

Senin, 7 September 2009

Derita bukan kutukan, ia cara sang jiwa mengetuk hati manusia.

                  (Hal. 134, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 4 September 2009

Puncak keindahan di jalan-jalan kekalahan tercapai, ketika batin manusia sudah seluas
langit. Tidak ada lagi yang bisa membuat batin menjadi asin.

                                 (Hal. 25, buku: Simfoni di dalam Diri,2009, Gede Prama)
Senin, 31 Agustus 2009

Surga bukan tempat, ia hasil dari serangkaian sikap.

                   (Hal. 124, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 28 Agustus 2009

Menyangkut alam yang sejuk kita menyukai kealamian, namun menyangkut diri banyak
yang membenci kealamian.

                                 (Hal. 18, buku: Simfoni di dalam Diri,2009, Gede Prama)
Senin, 24 Agustus 2009

Tidak ada yang namanya kebetulan. Semua telah, sedang, dan akan berjalan sempurna.

                   (Hal. 114, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 21 Agustus 2009

Lentur mengikuti aliran air. Ke laut bukan menjadi tujuan, justru perjalanan itu sendirilah
tujuannya.

 (Hal. 127, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                               Keheningan, Gede Prama)
Senin, 17 Agustus 2009

Ikhlas bisa berarti berhenti berusaha mengerti. Dan tetap aman, nyaman bahkan ketika tidak
tahu.

                    (Hal. 98, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)



Jumat, 14 Agustus 2009

In every man success, there is woman behind him
 (Hal. 119, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                               Keheningan, Gede Prama)
Senin, 10 Agustus 2009

Ketika kita belajar bersabar dan mendengar, kita tidak saja sedang membuat orang lain
bahagia, kita juga sedang membuka lapisan-lapisan diri ini yang lebih mulia.

                                 (Hal. 15, buku: Simfoni di dalam Diri,2009, Gede Prama)
Jumat, 7 Agustus 2009

Dalam kebebasan dari dualitas, cinta tidak punya hantu masa lalu dan setan masa depan,
yang ada hanya masa kini yang abadi.

                      (Hal. 96, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 3 Agustus 2009

Bagi pejalan kaki ke dalam diri, tidak saja cahaya terang yang membimbing, bahkan
kegelapan pun hanya simbol kedalaman.

                      (Hal. 94, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 31 Juli 2009

Suka-duka, tangisan-senyuman, sukses-gagal, hanyalah aliran lehidupan yang datang
dengan pesannya masing-masing.

                      (Hal. 92, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 27 Juli 2009

Faktor yang digarisbawahi buku ini bukan bahan kainnya (baca: apa yang terjadi dalam
kehidupan), namun bagaimana mengolahnya menjadi indah.

                                   (Hal. 6, buku: Simfoni di dalam Diri,2009, Gede Prama)
Jumat, 24 Juli 2009

Manusia yang multiparadigma lah yang akan mampu menjawab tantangan masa depan.

 (Hal. 107, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                                Keheningan, Gede Prama)
Senin, 20 Juli 2009

Dalam   kebahagiaan,     batin   sebenarnya   tidak   sepenuhnya    tenang-seimbang.   Ada
kekhawatiran kalau kebahagiaan mungkin bisa digantikan kesedihan.

                      (Hal. 90, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 17 Juli 2009

Keagungan dan kesempurnaan juga bisa ditemukan di puncak gunung yang ada di dalam
diri

                                  (Hal. 3, buku: Simfoni di dalam Diri,2009, Gede Prama)
Senin, 13 Juli 2009

Ketika marah, benci, dendam berhasil diolah menjadi cahaya-cahaya menerangi, bukankah
kita tidak lagi perlu mewariskan kebencian pada generasi-generasi berikutnya?

           (“Buah Manis Teroris”, buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede Prama)
Jumat, 10 Juli 2009

Bagi setiap jiwa yang telah bertumbuh jauh, mulai sadar baik kebahagiaan maupun
kesedihan memiliki akar yang sama: keinginan. Bukankah keinginan ibunya penderitaan?

                      (Hal. 88, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 6 Juli 2009

Kesedihan dan kebahagiaan adalah permainan bagi jiwa yang sedang bertumbuh jadi
dewasa. Bagi jiwa yang sudah dewasa tahu kalau keduanya bersifat sama: tidak pasti,
datang dan pergi.

                      (Hal. 86, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 3 Juli 2009

Bertemu orang marah adalah kesempatan untuk membuat yang bersangkutan kagum akan
kesabaran kita.

                      (Hal. 84, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 29 Juni 2009

Rumah bukan tempat. Ia adalah proses ketika manusia semakin dekat dengan hati dan
jiwanya.

                      (Hal. 82, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
The real leader adalah mereka yang pegang the right question.
   (Hal. 95, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                                Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 26 Juni 2009

Jangan merasa anda telah gagal, yang anda perlukan sebenarnya hanyalah banyak latihan
dan kegigihan.

  (Hal. 87, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                              Keheningan, Gede Prama)
Tidak ada kupu-kupu yang bisa terbang hanya bermodalkan sayap semata. Ia
membutuhkan persahabatan dengan alam dan kehidupan.

                      (Hal. 80, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 22 Juni 2009

Bagi orang kebanyakan luka itu mematikan. Hanya bagi manusia mengagumkan luka itu
mempersehat jiwa.

                      (Hal. 78, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Ketrampilan memimpin orang lain adalah bagaimana memimpin orang lain tapi orang
tersebut tidak merasa bahwa dirinya sedang dipimpin.

  (Hal. 79, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                              Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 19 Juni 2009

Penderitaan dan cacian orang ternyata sejenis vitamin jiwa yang membuatnya jadi menyala.

   (“Merubah Cacian jadi Kekaguman”, buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede
                                                                                  Prama)
Kebahagiaan adalah apa yang terjadi di dalam diri ketika membuat orang lain bahagia.

                      (Hal. 64, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 15 Juni 2009

Namun tatkala pikiran sudah dikenali batas-batasnya, didudukkan di tempat semula sebagai
pembantu bukan sebagai penguasa, di sana tugas menemukan pikiran pandangan terang
menjadi teramat mudah sekaligus indah.

     (“Lentera dalam Lentera”, buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede Prama)
Ciri orang berhasil salah satunya selalu menjadikan kegagalan sebagai vitamin dan obat
yang memperkuat.

  (Hal. 71, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                              Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 12 Juni 2009

Bila masih ada orang yang bisa membuat kita bahagia/ menderita, itu tandanya saklar
kebahagiaan dipegang orang lain. Seorang master memegang saklarnya sendiri.

                      (Hal. 62, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Saya yakin sekali bahwa hanya kebebasan cara berpikirlah yang membuat orang akan
kembali kepada bibitnya.

   (Hal. 67, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                                     Keheningan, Gede Prama)
Senin, 8 Juni 2009

Ketidakacuhannya pada perbedaan hasil, membuat manusia pandai bersyukur atas hal
yang terjadi padanya.

   (Hal. 61, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                                     Keheningan, Gede Prama)
Kebijaksanaan tidak memilih positif atau negatif. Mirip listrik, ketika kedua kutub positif-
negatif terkelola baik, ada cahaya yang menyala.

                      (Hal. 60, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 5 Juni 2009

Kesuksesan yang kadang datang, kadang pergi adalah tanda bahwa pikiran masih jadi
penguasa.

                      (Hal. 56, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
The art of leading is the art of asking the right question at the right time.
   (Hal. 31, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                                     Keheningan, Gede Prama)
Langkah evolusi terpenting adalah melampaui pikiran. Bukan berarti tidak berpikir, hanya
semata-mata berhenti dimiliki oleh pikiran.

                      (Hal. 58, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)



Senin, 1 Juni 2009

Air di sungai melewati semua penghalang. Satu-satunya sebab kenapa air sungai demikian
perkasa karena sifatnya yang lentur.

                      (Hal. 52, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Ilmu lentur yang bisa menerima dan diterima banyak pihak, plus lagi ilmu sampah yang bisa
membuat sampah menjadi pupuk, harus diikat dengan kebaikan dan kejujuran.

  (Hal. 21, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                               Keheningan, Gede Prama)
Baik terlihat karena ada buruk. Sukses menyala karena gelapnya kegagalan. Naik indah
kalau pernah turun. Kesucian bergetar karena keluar dari kekotoran.

                     (Hal. 54, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 29 Mei 2009

Uang dapat membeli rumah, tapi hanya cinta yang bisa membuatnya menjadi rumah
kebahagiaan.

                     (Hal. 48, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Inti hidup adalah perubahan. Saya bisa sampai pada hidup seperti sekarang ini adalah
karena perubahan. Bahkan sebagian besar perubahan-perubahan yang dilakukan itu adalah
perubahan radikal

    (Hal. 9, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                               Keheningan, Gede Prama)
Setiap kebahagiaan yang bergantung dari luar, ia berumur pendek. Hanya pohon
kebahagiaan yang berakar ke dalam yang bisa abadi.

                     (Hal. 50, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 25 Mei 2009

Orang yang tidak pernah membuat kesalahan, ia tidak pernah membangun rumah
kebahagiaan

                     (Hal. 44, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Berbeda dengan kesombongan dan keberhasilan yang lapar dengan sebutan positif,
keheningan tidak lagi terlalu hirau dengan sebutan. Hening bukan lawannya riuh. Hening
bukan musuhnya ribut. Hening bukan juga atribut yang haus pujian. Hening adalah hening.
Ia tidak berlawankan apa-apa.

   (Hal. xi, buku: Meninggalkan Keangkuhan, Bersahabatkan Keberhasilan, Memasuki
                                                               Keheningan, Gede Prama)
Kebahagiaan itu bisa dibeli, bukan dengan uang, melainkan dengan sikap rendah hati.

                     (Hal. 46, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Jumat, 22 Mei 2009

Tatkala keseharian kita tenang dan biasa, semua hari adalah hari pencerahan.

                     (Hal. 30, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Di sebuah waktu di malam musim dingin yang pekat, Rumi hanya mengenal berdoa, berdoa,
dan berdoa. Dalam kedalaman doa, ia berurai air mata. Dan ketika pagi menjelang, yang
tersisa hanya seorang pendoa yang kumis dan janggutnya sudah membeku jadi es. Adakah
yang bisa menemukan cerita air mata berguna di sana?

        (“Cerita-cerita Air Mata”, buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede Prama)
Mengamati sifat utama pikiran yang selalu bergerak dalam negasi (baik-buruk, benar-salah)
mudah membuat manusia jadi tuan.

                     (Hal. 34, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Senin, 18 Mei 2009
Hidup mirip dengan sekolah. Ketika badai datang, itu tandanya sedang ulangan umum.
Begitu selesai, kita naik kelas.
                     (Hal. 22, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Terlihat beda jauh wajah, penampilan, bahkan rumah-rumah manusia di mana belas kasih
kerap dilaksanakan. Ada kesejukan, ada keteduhan, ada kedamaian. Jangankan menyakiti
hati manusia, menginjak rumput pun dipikirkan berulang-ulang.
          (“Kelaparan Spiritual”, buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede Prama)
Pendidikan terbaik hanya membuka sebagian pintu kebahagiaan. Sikap hidup terbaik, ia
membuka semua pintu kebahagiaan.
                     (Hal. 26, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Kamis - 14 Mei 2009
Kita hidup dari apa-apa yang diperoleh. Dan Menghidupi dari apa-apa yang di beri.

                     (Hal. 14, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
”Kerja adalah bentuk doa yang paling nyata. Melalui kerja tangan-tangan Tuhan menjadi
terlihat oleh mata manusia. Lentera kerja bertutur nyata ke kita, kalau mau”

     (“Negara Langka Cahaya”, buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede Prama)
Alam mengajari hidup tanpa Kriteria (baik-buruk, benar-salah). Ini yang membuatnya
berumur lebih abadi.

                     (Hal. 18, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Selasa – 12 mei 2009
Hidup adalah sebuah Karya seni. Kita melukisnya melalui tindakan, pikiran dan kata-kata.

                      (Hal. 6, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama)
Tidak mungkin mendalami kehidupan tanpa mendalami kematian. Ia mirip mau mengerti
siang tanpa mau mengerti malam. Mau tahu rasa manisnya sukses tanpa tahu bagaimana
pahitnya gagal.

(”Bercakap-Cakap dengan Kematian”,buku: Kebahagiaan yang Membebaskan, Gede
prama)
Sehat adalah waktu untuk bersyukur pada kehidupan, sakit adalah momentum untuk
memurnikan jiwa.

                     (Hal. 10, buku: Kesedihan, Kebahagiaan, Keheningan, Gede Prama




Kunjungi sumber aslinya di sini :   http://adf.ly/26qb

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:20384
posted:4/20/2010
language:Indonesian
pages:9
Description: Kumpulan kata-kata bijak Gede Prama yang dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi positif. artikel ini saya dapatkan dari blog pribadinya, bersama ini saya mohon ijin untuk di share secara gratis dalam bentuk format dokumen pdf.