Docstoc

Seahad Kereta Api Mampir Di Bandung (1)

Document Sample
Seahad Kereta Api Mampir Di Bandung (1) Powered By Docstoc
					Seahad Kereta Api Mampir Di Bandung (1)

Setelah Unta & Keledai Tak Berdaya Dikirimlah
Lokomotip Ke Tanah Jawa
OLEH : HARYOTO KUNTO
PENG ANT AR: Hari ini, tepat seabad kereta api mampir di kota Bandung. Pada mulanya, pembuatan jaringan
kereta api yang melintas Bandung itu memiliki tujuan ganda. Untuk membuka isolasi daerah pedalaman dan untuk
kepen-tingan militer. Memperingati seabad kehadiran kereta api di Bandung itu, kita turunkan tulisan Haryoto Kunto
secara bersambung mulai hari ini.
REDAKSI.
'Besuk yen wis ana feereta mUku tanpa jaran, prau mla-ku inc duvvur auanii-awane.
Xanali Jawa bakal kalungan \vesi!".
(Kelak bila telah ada kereta berjalan dihela kuda, perahu laju di angkasa, maka Pulau Jawa akaii meinakai kalung
besi.!}.
Ramalan Jayabaya,
IANAM-PAKSA (Cultuur-stelsei di Nusantara (1831-18 70) yang konsepnya diusulkan oleh Van den Bosh
kepada Ra ja Belanda Willem I, telah meudataugkau keuntungan ti nansiil yang melimpah-lim-pah bagi Negeri
Belanda. Pa da gilirannya "uang perasan" dari negeri terjajah Nusanta-
ra ini dapat membiayai negeri Holland memasuki zaman in-dustrialisasi.
Sejarah kapitalisme dan ko lonialisme menunjukkan, bahwa industri di Eropa (Negeri Belanda) sangat
memerlukan "bahan mentah" dari tanah ja jahannya. Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku olahan industri
inilah, maka Pemerin tan Kolonial Belanda sejak tahun 1835 telah memikirkan ide untuk membuka daerah
pedalaman Pulau JaWa dan Sumatra dengan suatu sistem jaringan transportasi yang efisien. Upaya ini dimaksud-
kan untuk memperlancar arus
(Bersambung Ke Hal 4 Kol 5)

Unta & Keledai
(Sambungan Dari Hal 1 Kol 6) ________
•angkutan "bahan baku" Indus tri dari wilayah pedalaman, agar secepatnya dapat sampai ke pelabuhan2 pantai.
Untuk selanjutnya diangkut dengan Kapal Laut ke Negeri Belan. da.
Adapun sistem transportasi ini merupakan pembangunan jaringan rel yang bisa dilalui Lori, dihela kerbau, kuda
atau sapi. Atas saran dan usaha Menteri Kerajaan Belanda Jean Chretien Baud di akhir tahun 1830-an telah
didatang kan 40 ekor unta dari Tana rffe (Aitrika) isebagai blina-tang penghela lori di Pulau Jawa.
Dasar unta — "lain padang lain binatang", belum setahun kedatangannya di Pulau Jawa, satu persatu pada
binasa. Mungkin iklim-cuaca di sini ti dak cocok. Bahkan mungkin, para unta yang terbiasa hi-dup di padang
tandus, kelewat rakus tak bisa menahan sele ra, melalap hijau dedaunan Pulau Jawa nan loh jinawi. Mati
kekenyangan barangkali! ifUntuk menggantikan sang TjjCita, lebih dari 100 pasang ke Iflai dikirim pula ke
Jawa, na mith...... tak tersisa seekor
pun! Maka tak ada cara lain, selain mengirim Lokomotip all as "hulu kareta" kata Urang Sunda dari Eropa, buat
meng hela gerbong dan lori.
Jaringan Kereta Apt Di Jawa
SELAIN untuk membuka iso lasi daerah pedalaman dan memudahkan angkutan "ba-han mentah" ke bandar-ban
dar di pantai Jawa dan Suma tera, pemasangan jalur rel ke reta-api sangat penting arti-irya dari segimiliter.
Atasusul Kolonel Genie Van der Wijck, Pemerintah Kolonial Belancta dihimbau agar segera memba ngun
jaringan kereta api dari Surabaya melalui Jogya - Su rakarta sampai ke wilayah Plriangan (baca f'Staatsspoor en
Tramwegen in Nederlandsch Indie 1875-1925").
Sehubungan dengan usul Kol. Van der Wijck ini, turun lah Surat Penetapan Raja tanggal 28 Mei 1842 No. 270,
yang menyatakan bahwa pe-riode tahun 1842-1862 ditetap kan sebagai masa persiapan pemasangan jaringan
kereta api di Pulau Jawa. Dalam Su rat penetapan Raja tersebut dinyatakan pula untuk mem bangun jalur rel dari
Sema-rang melewati Daerah Kedu, menuju Wilayah Kerajaan Ja wa ("Vorstenlanden") yang terkenal banyak
menghasilkan gula dan tembakau (lihat bu ku: "Gedenkboek der Sema-rang-Joana Stoomtram Maats chappij",
1907).
Pelaksanaan rencana pema. sangan jalur rel kereta api di Jawa dan Sumatera banyate mengalami hambatan. Di
Par lemen Belanda timbul perde batan tentang instansi mana kah yang patut menyelengga rakan pembangunan
jaringan kereta api di Hindia Belan da (Nusantara). Instansi res mi pemerintah ataukah pihak swasta ? Golongan
Liberal di Parlemen Belanda tentu saja condong kepada pihak Swasta sebagai pengusaha kereta api di Nusantara.
Perteutaugan. pendapat di Parlemen Belan da itu terasa dampaknya sam pai ke tanah jajahan di sebe rang-lautan
sini.
• K,0ndati beberapa "maats-chappij" perusahaan swasta menyanggupi untuk mengerja kan pembangunan
jaringan ke reta api di Jawa, namun pada tahun 1846 Gubernur Jendral Rochussen mengusulkan kepa da
Pemerintah Kerajaan Belanda agar menolak semua per mohonan kpnsesi dari pihak swasta. Bahkan Rochussen
minta disediakan anggaran se Jumlah 2V2 juta gulden (Ned. Crt.) untuk -pemasangan rel Negara dari Batavia
(Jakarta) ke Buitenzorg alias Bogor
•sekarang (lihat R. Oerip Simeon, "Sejarah Kereta Api Ne gara (S.S./DKA) di Indonesia", 1953).
Kebalikan dari Rochussen, Gubernur Jendral Duymer van Twist mengusulkan kepa da Pemerintah Agung di Ne
jjeri Belanda pada tahun 1851, agar pihak swasta diberi izin konsesi untuk mengelola usa ha perkeretaapian di
Nusanta
ra. Ternyata usul Van Twist ini mendapat persetujuan bu lat dari Pemerintah Kerajaan di Nederland pada tahun
1852.
Namun tatkala Eks Gubernur Jendral Rochussen terpi-lih sebagai Menteri Kerajaan (1860), keputusan yang con-
dong memihak usaha swasta habis diberantas. Agar kebijak annya benar-benar ditaati, Menteri Rochussen
mengirim tuan-tuan Stieltjes dan Dixon ke Indonesia untuk mengada kan penyelidikan tentang alat pengangkutan
di Jawa dan mengupayakan perbaikan.
Karena kebijakan perkereta apian yang selalu berubah-ubah tanpa kepastian ini, mengakibatkan pembangunan
jalur kereta api Batavia - Bo gor - Bandung - Kroya sam pai ke Surabaya tersendat-sen dat penyelesaiannya.
Selang-seling, sepotong jalur digarap pemerintah untuk kemudian disambung dengan jalur rel kereta yang
dikerjakan peru "sahaan swasta .
Pihak swasta yang mendapat konsesi kereta api di abad ke 19 itu adalah Perseroam Poolman. Perseroan ini, di ta
hun 1862 mulai melakukan pe masangan rel kereta api dan Semarang ke Jogya dan Sura karta. Dua tahun
kemudian, Perseroan Poolman mendapat konsesi dari Pemerintah untuk mengerjakan pemasangan jalur rel KA
dari Jakarta ke Bogor. ,
Ternyata risiko mengalami kerugian dalam usaha pembangunan jalur KA ini demikian besarnya sehingga
mematikan inisiatif swasta!
Sebuah "maskape" (perusahaan) baru dengan nama "De Nederlandsh Indische Spoor-weg Maatschappij"
(NISM> didirikan untuk membeli kon sesi yang dimiliki Perseroan Poolman. Peristiwa ini mem perkuat
pendapat bahwa peng usahaan Kereta Api oleh Pe merintah, merupakan cara ter baik untuk menghindarkan ri
siko kerugian akibat kesulitan finansiil.
Jalur KA Jakarta. - Bogor ., SURVAI pendahuluan dan penyusunan rencana pemasangan rel Jakarta ke Bogor di
serahkan kepada seorang Let
nan I Genie Militer Belanda bernama David Maarschalk pa da tahun 1851. Mengapa peker Jaan ini diserahkan
kepada se orans militer?
. Ya tentu saja, karena "trace" (lintasani antara Jakarta -Bogor di pertengahan abad 19 masih tergolong "werit"
dan gawat. Gawat bukan karena hutan lebat penuh binatang buas saja, akan tetapi di dae rah pinggiran Kota
Batavia "zaman baheula" itu banyak gerombolan orangZ Jahat. Me reka umumnya para "budak belian" yang
kabur dari tuan pemiliknya.
Selain itu lahan antara Bo-gor-Batavia; seperti di Len-teng Agung, Depok, Cisalak, Pondokoina, hampir semua-
nya menjadi milik para Tuan Tanah kaya yang tidak suka tanah miliknya "ketabrafc" rel kereta!
Jadi dalam menjalankan tu gasnya, si Maarschalk (Jendral Besar!) yang berpangkat Letnan ini mesti membawa
pa srkan bersenjata lengkap bu at menghadapi segala mara bahaya.
Kesulitan yang dialami pa ra pekerja pemasang rel kere ta di Jawa, tak banyak berbe da dengan hambatan yang
di alami rekannya para comboys "Wild-West" tatkala merintis jaringan kereta api di Ameri ka sana! Kalau di
Amerika £ara pekerja diganggu orang2 Suku Indian, para bandit kela paran, gerombolan binatang Bisson dan
sengat mentari pa dang rumput; maka di Jawa dan Sumatra banyak pekerja yang menjadi kprban diter-kam
macan, disraduk badak, diinjak gajah (Sumatra!), ter serang penyakit tropis seperti malaria dan tidak kurang pu
la yang mati.......... dice-
kek "jurig" si Setan Alas! Pern fcaca tidak percaya? Sabarlah menunggu kisahnya!
Pada masa itu, yang nama-nya harimau atau macan tidak cuma berkeliaran di hutan sa ja, tapi sering juga masuk
ko ta, seperti terjadi di Bandung (1921) atau di Kota Bogor. Sebuah catatan mengungkap-kan: "Pada 17 April
1857 pagi, Endek yang bekerja dikebun
Thung Slang Thiauw di Kota Bogor, telah diserang seekor harimau yang mengaumnya me mang telah
terdengar beberapa hart terdahulu, tetapi tidak di fcetahui binatangnya sembunyl di mana. Melawan
mati.ma.ti an Endek dapet beberapa luka, sukur tidak berat dan akhirnya ia dapet melarikan diri. Orang
banyak, dibantu bebera pa orang Eropa bersenjata be dil, mengepung harimau itu yang dapet tertembak
mati. Se ekor macan-loreng (Koningstij get) 8 kaki panjangnya" ("J» V4 Bode", 22 April 1857, lewat
terjemahan Tio le Soei).
Nah, kalau di dalam Kota Bogor saja masa itu terbilang "gawat", apalagi daerah ping giran kotanya!
Pokoknya, dengan mengatasi berbagai rintangan, akhirnya tugas yang dibebankan kepada Letnan David
Maarschalk, ditu naikan dengan baik. Sebagai kesimpulan, Letnan kita ini me ngusulkan kepada Pemerintah
Kolonial Belanda agar; "pema sangan rel dikerjakan oleh Ne gara, pemakaian atau eksplota si disewakan kepada
swasta (partikulir). Tiap tahun diha ruskan membayar bunga 3% dari biaya pemasangan, diser tai angsuran dari
biaya ini.ha rus selesai dalam waktu 30 ta hun" (lihat Perquin. "Nederlandsch Indische Staatsspoor en
Tramwegen", 1981).
Karena konsesi Perseroan Poolman telah dibeli oleh "De Nederlandsch Indische Spoor-weg Maatschappij"
(N.I.S.M.), maka menurut Surat Keputus an Pemerintah tanggal 27 Ma ret 1864 No. 1, "NJ.S.M." dibe rikan
konsesi untuk mengeks-plotasi jalur kereta api Jakar ta - Bogor.
Pemasangan rel K.A. Jakarta-Bogor diserahkan kepada insi-nyur kepala J.P. de Bordes yang mengalami banyak
kesulitan.
Berbeda dengan pembangunan "Jalan Pos" di Jaman De andels yang mudah mengerah kan pekerja-rodi,
pemasangan rel Jakarta-Bogor Justru kesuli tan mendapatkan tenaga peker ja bebas, bukan rodi (kerja pak sa).
Apalagi sejak tahun 1860, "perbudakan" telah dinapus-kan dari wilayah Hindia Be* landa, sehingga tak mudah
mendapatkan "kuli" rhurah. Sedang orang "bumi-putera" (sinonim dari "pribumi"!) di Priangan, tidak tertarik
untuk bekerja di proyek pembangun an jalur kereta ini.
Maka untuk memenuhi tena ga pekerja yang dibutuhkan, di kerahkanlah orang-orang "pe-rantaian" yang terdiri
dari pa ra penj ahat yang dibui atau mereka yang terkena hukuman "kerja paksa".
Tahun 1872 Jalan kereta api Jakarta - Bogor selesai dikerja kan dan dibuka untuk umum pada tanggal 31 Januari
1873. Empat puluh tahun kemudian, tepatnya 1 Nopember 1913 peru sahaan kereta api ini diserahkan dari
"N.I.S.M." kepada Ja watan Kereta Api Negara atau "Staats Spoorwegen" ("S.S").
Untuk mengabadikan jasa-jasa David Maarschalk, sebuah patung dada si Letnan, meng-. hiasi peron Stasion
Bogor tern po doeloe.
Dengan usainya jaringan rel K.A. yang menghubungkan Ja karta - Bogor, maka awal ceri ta dari Ramalan
Jayabaya yang mengatakan; Pulau Jawa bakal memakai "kalung besi" alias "jaringan rel baja, mulai menjadi
kenyataan!
(BEBSAMBUNG)

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:45
posted:4/20/2010
language:Indonesian
pages:3
Lingjuan Ma Lingjuan Ma
About