Docstoc

Daya Dukung Kawasan dan Pertubuhan Udang Rostris_2005

Document Sample
Daya Dukung Kawasan dan Pertubuhan Udang Rostris_2005 Powered By Docstoc
					       Daya Dukung Kawasan dan Pertubuhan Udang Rostris (Litopenaeus
    stylirostris) pada Tambak Intensif di Pantai Patebon, Kabupaten Kendal 1
          (Coastal’s Carrying Capacity and the Growth of Rostris shrimp
    (Litopenaeus stylirostris) on the intensive brackish water shrimp pond in
                         Patebon Beach, Kendal District).
                                       Oleh :
               ZULHAMSYAH IMRAN2 dan A.A. YUDHO SULISTYO3

                                         ABSTRAKS

        Penelitian ini memperkenalkan udang rostris (Litopenaeus stylirostris)
sebagai alternative jenis udang yang memiliki prospek pasar yang baik di dunia
baik secara kualitas maupun kuantitas. Tujuan penelitian ini adalah
menerangkan kondisi umum daya dukung kawasan lahan tambak di daerah
penelitian; mempelajari hubungan parameter kualitas air dengan pertumbuhan
udang rostris pada tambak intensif bersubstrat tanah; mempelajari kepadatan
tebar optimum untuk pertumbuhan maksimum udang rostris pada tambak
intensif bersubstrat tanah; dan mempelajari pengaruh kegiatan usaha budidaya
intensif udang rostris terhadap lingkungan perairan. Analisi statitik diskriptif dan
regresi digunakan dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
kawasan Pantai Patebon sudah tidak layak dikembangkan untuk kegiatan
budidaya tambak udang rostris. Walaupun demikian kegiatan budidaya tambak
yang dikelola secara bisnis masih berproduksi, karena menggunakan teknologi
untuk mengelola kualitas air. Tambak udang rostris dengan kepadatan 43-60
PL/m2 memiliki pertumbuhan lebih baik dibandingkan dengan kepadatan 84-91
PL/m2. Disamping itu pada kepadatan tersebut juga menghasilkan limbah
organic yang lebih sedikit, seitar 0,057 mg/l N. Diperkirakan tambak udang
rostris yang dikelola secara bisnis hanya tinggal tiga siklus lagi untuk dapat
berproduksi.

Kata kunci: daya dukung kawasan, udang rostris, pertumbuhan


                                         ABSTRACT

        The research which has been conducted, try to introduce a species of
rostris shrimp as an alternative species which is wished able to fulfil the market
world’s demand in both the quality and the quantity. The objective of the
research, as follow : to describe of the carrying capacity in the study area; the
condition of the environmental quality of culture period in September 2004 until
January 2005; and also the condition of the environmental quality of the year
before culture period in the same season; besides information about rostris
shrimp’s characteristic and shrimp culture technology; and to study of
relationship between rotris’s growth and the key environmental parameters.
Experimental analysis’s used the mathematic formula and the scoring
comparison for the coastal zone carrying capacity; the description such as

1
  Makalah disampaikan pada seminar nasional perikanan tanggal 30 Juli 2005 di UGM
2
  Staf Pengajar Manajemen Sumberdaya Perairan, IPB. Email:enzim31@yahoo.com
3
  Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, IPB


                                                                                    1
either the narration or provide on the table and the graph; and also used the
statistical method to assay the quality environmental parameters which are
monitored. The result of the research shown the aquatic environmental in the
study area is not suitable as an area for the brackish water shrimp pond.
Nevertheless, the shrimp culture business there, still can give a good production
if their using the high technology (especially the intensive system). The
brackish water shrimp pond with the stocking density 43-60 PL/m2 has more
better growth than the it with stocking density 84-91 PL/m2. It is also go out just
little organic waste to the estuary than it was stocking density 84-91 PL/m2.
Based on Total Ammonia Nitrogen containing in the pond that it show the linear
growth, can be prediction that the pond just remain three cycles again.

Key words: Coastal’s carrying capacity, aquatic environmental quality, culture
           technology, rostris shrimp (Litopenaeus stylirostris)


                                  PENGANTAR

       Permintaan produk perikanan untuk pasar dunia sampai tahun 2010
diperkirakan FAO masih akan kekurangan pasokan 2 juta ton/tahun (FAO
website). Hal ini tidaklah mungkin bisa dipenuhi oleh usaha penangkapan saja,
namun juga harus dipasok oleh usaha budidaya. Dengan demikian peluang
untuk mengembangkan budidaya udang di Indonesia masih sangat besar guna
memenuhi kebutuhan pasar dunia. Sedangkan tantangan yang akan terus
dihadapi pada pasar dunia bagi komoditi ekspor udang budidaya adalah
menyangkut mutu dan sanitasi seperti masalah kandungan bakteri patogen,
hormon dan antibiotik, racun hayati laut (biotoxyn), dan pestisida.
       Semenjak udang rostris atau udang biru (Litopenaeus stylirostris)
dinyatakan legal utuk dikembangkan sebagai salah satu komoditi budidaya
perikanan di Indonesia sesuai surat keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan
No 15/Men/2002 tanggal 15 Mei 2002 silam, telah memperlihatkan popularitas
yang tinggi (Suara Merdeka 2002 dan agritekno website). Budidaya udang
rostris telah dilakukan di Indonesia, khususnya di Kecamatan Patebon,
Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Namun dalam pengembangannya,
penelitian yang mengarah pada pengoptimalan produksi usaha budidaya dan
kelestarian lingkungan masih sangat langka. Tujuan penelitian ini adalah: (1)
Menerangkan kondisi umum daya dukung kawasan lahan tambak di daerah
penelitian; (2) Mempelajari hubungan parameter kualitas air dengan
pertumbuhan udang rostris pada tambak intensif bersubstrat tanah; (3)


                                                                                 2
Mempelajari kepadatan tebar optimum untuk pertumbuhan maksimum udang
rostris pada tambak intensif bersubstrat tanah; (4) Mempelajari pengaruh
kegiatan usaha budidaya intensif udang rostris terhadap daya dukung
lingkungan.


                                BAHAN DAN METODE


     Penelitian ini dilakukan mulai dari September 2004 hingga Februari 2005.
Lokasi penelitian bertempat pada tambak udang intensif bersubstrat tanah yang
dikelola oleh PT PQR di Kelurahan Wonosari, Kecamatan Patebon, Kabupaten
Kendal, Provinsi Jawa Tengah. Penelitian dilakukan dengan mengintegrasikan
antara studi daya dukung kawasan dengan kondisi kualitas lingkungan tambak
dan pengelolaannya pada periode budidaya siklus ke-6, serta kondisi kualitas
lingkungan musim pemeliharaan tahun sebelumnya pada bulan yang sama
(periode budidaya siklus ke-4). Penelitian ini menggunakan beberapa metode
atau bersifat multi-metode. Metode kerja yang dilakukan dalam penelitian ini,
pertama adalah dengan memilih enam petak secara acak dari petak tambak
udang rostris yang dianggap homogen dari segi ukuran benih udang/benur
yang ditebar. Untuk mengetahui kepadatan tebar optimum untuk pertumbuhan
udang maksimum, maka tiap petak dikelompokan ke dalam dua kelas.
     Dua kelompok padat tebar udang rostris tersebut yaitu padat tebar 43-60
ekor/m2 dengan rata-rata padat tebar 53 ekor/m 2 (diinisialkan sebagai Y, yang
terdiri dari petak C3, C46, B46) dan padat tebar 84-91 ekor/m2 dengan rata-rata
padat tebar 88 ekor/m2 (diinisialkan sebagai X, yang terdiri dari petak C1, C2,
B5). Analisis yang digunakan yaitu: (1) Analisis daya dukung kawasan, terdiri
dari perbandingan dengan baku mutu Ditjen Perikanan tahun 1997 tentang
katagori daya dukung lahan pantai untuk pertambakan, dan analisis aspek
kuantitas perairan; (2) Analisis deskriptif parameter yang diamati dalam bentuk
tabel, grafik, maupun narasi; (3) Analisis dengan uji mengenai nilai tengah
untuk mengetahui persamaan/perbedaan kondisi parameter kualitas air di
kedua padat penebaran; (4) Analisis dengan korelasi dan regresi untuk
menentukan faktor kualitas air dan pengelolaan yang berpengaruh terhadap
pertumbuhan udang rostris, dan untuk meramal usia produktif budidaya udang


                                                                                  3
PT PQR; (5) Analisis rancangan lingkungan dengan menggunakan General
Linear Model untuk menunjukkan hubungan pertumbuhan (yang digambarkan
dari Mean Body Weight/MBW) udang rostris pada dua kelompok padat tebar.


                             HASIL DAN PEMBAHASAN


Deskripsi Dan Teknologi Budidaya Di PT PQR

      Berdasarkan tingkat teknologi yang dimiliki dengan mengacu pada
kriteria yang diberikan Sunaryanto (1989), maka PT PQR termasuk ke dalam
katagori tambak intensif. Total kolam pembesaran yang dimiliki PT PQR adalah
sebanyak 30 petak bersubstrat dasar tanah seluas 11,82 ha dengan dua buah
treatment pond dimana tiap treatment pond digunakan untuk mengairi 15 kolam
pembesaran. Lay out lokasi dan tata letak tambak PT PQR tersaji pada
Gambar 1.




              Gambar 1. Lay out lokasi dan tata letak tambak PT PQR

     Budidaya udang dilakukan dengan menggunakan sistem pengambilan air
dari sungai pada saat pasang. Air dari sungai dengan bantuan pompa
kemudian dialirkan ke treatment pond untuk mendapat perlakuan kimiawi dan
fisika sebelum diteruskan ke canal supply dengan maksud yaitu untuk
membasmi organisme kompetitor, predator, inang dari virus maupun bakteri,



                                                                            4
dan juga virus maupun bakteri itu sendiri.                Limbah tambak dari kolam
pembesaran baik itu dari aktivitas sipon maupun ganti air dibuang langsung ke
luar menuju sungai tanpa diolah terlebih dahulu.               Skedul proses budidaya
udang rostris pada tambak tanah disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Skedul proses budidaya tambak tanah PT PQR

    Deskripsi       Hari   1   100   105     110   120   130   140   150   160   Periode

 Periode budidaya   120                                                           1-120
 Periode panen
                    15                                                           105-120
 Pengeringan
                     7                                                           112-127
 dasar tambak
 Pembalikan
                    15                                                           113-128
 lumpur kering
 Tilling dasar
                     8                                                           114-129
 tambak
 Pengapuran,
                     5                                                           115-130
 pengeringan
 Tilling cross
                     8                                                           130-138
 dasar tambak
 Pengeringan
                     7                                                           137-144
 dasar tambak
 Pengisian air       7                                                           138-145
 Persiapan air      10                                                           146-155
                                     Total                                        155
       Sumber : PT PGR, 2004

       Selama pemeliharaan di kolam, udang rostris menerima pakan buatan
dengan kandungan protein minimal 42% (tabel komposisi proksimat pada
kemasan). DOC 0-30 hari udang rostris diberi pakan dengan frekuensi tiga kali
sehari. DOC 31-75 hari sebanyak empat kali sehari. DOC 76-90 udang diberi
pakan sebanyak lima kali sehari, dan DOC 91-panen udang diberi pakan
sebanyak enam kali dalam satu harinya. Udang rostris menerima pakan buatan
dengan dosis pakan pada hari kesatu sampai ke-30 berdasarkan blind feeding.
Dosis pakan tersebut ditingkatkan antara 500-2000 gr setiap hari. Mulai hari
ke-31 sampai saat menjelang panen dosis pakan yang diberi berdasarkan hasil
sampling bobot populasi udang yang dilakukan setiap sepuluh hari yang
disesuaikan dengan skor cek anco.
       Pemanenan dilakukan setelah udang rostris berumur kurang lebih 105-
120 hari dan besarnya layak untuk dipanen yaitu 17-30 gr. Sehari sebelum
panen kondisi udang dikontrol untuk melihat seberapa banyak udang yang
mengalami moulting (ganti kulit), ekor geripis (ekor buntung), dan lumutan.




                                                                                           5
          Apabila jumlah udang yang mengalami moulting banyak maka tambak
diberi kapur dan tunggu dua sampai tiga hari sampai kulit mengeras. Namun
jika jumlah udang yang mengalami ekor geripis dan lumutan banyak maka
tambak diberi saponin dengan dosis 20-30 ppm untuk merangsang udang ganti
kulit.
Kondisi Umum Kawasan Studi
         Kabupaten Kendal terletak di jalur utama Pantai Utara Jawa atau yang
lebih dikenal sebagai Pantura. Secara geografis Kabupaten Kendal terletak
pada posisi 109o40’ - 110o18’ Bujur Timur dan 6o32’ - 7o24’ Lintang Selatan
(BAPEDA 2002). Daerah studi terletak di Kecamatan Patebon, luas wilayahnya
adalah 44,30 km2 atau 4430 ha yang merupakan 4,42% dari luas wilayah
Kabupaten Kendal (BPN Kendal 2003).            Lokasi pertambakan PT PQR
bersebelahan dengan sungai kecil yang bermuara langsung ke Laut Jawa, yaitu
Sungai Biru.      Berdasarkan pengamatan di lapang, Sungai Biru mempunyai
kecepatan aliran antara 0,1-0,2 m/dt dengan rata-rata alirannya sebesar 0,14
m/dt. Pengamatan TBC (Total Bacteria Count) dan TVC (Total Vibrio Count) di
perairan Sungai Biru selama periode budidaya siklus ke-6 menunjukkan rata-
rata sebesar 3 694 727 CFU/ml untuk TBC, dan 456 872 CFU/ml untuk TVC.
Jumlah ini telah melewati batas baku mutu apabila digunakan sebagai media
pemeliharaan udang rostris yaitu < 10000 CFU/ml untuk TBC dan < 1000
CFU/ml untuk TVC. Berdasarkan formula Formzahl, didapat F = 1,67, dengan
demikian Kabupaten Kendal mempunyai tipe pasang surut campuran dominasi
tunggal (DISHIDROS TNI AL 2004).
         Kondisi hutan bakau (mangrove) sepanjang pantai Kabupaten Kendal saat
ini hanya tersisa 31,7 ha (Suara Merdeka 2004), sedangkan luas tambak yang
ada yaitu 3291,87 ha (PemKab. Kendal website).        Berdasarkan data Dinas
Perikanan Jawa Tengah (2002) kondisi hutan bakau di Kabupaten Kendal yaitu
seluas 34,55 ha, dimana hanya 0,05 ha dalam kondisi baik sedangkan 34,50 ha
hutan bakau lainnya dalam kondisi kritis.      Hasil verifikasi di daerah studi
menunjukkan bahwa kondisi hutan bakau yang ada banyak dikonversi menjadi
areal pertambakan udang oleh masyarakat setempat. Dari data Pemerintah
Kabupaten Kendal (website) diperoleh informasi luasan tambak yang ada di
Kecamatan Patebon saat ini telah mencapai 700,68 ha.


                                                                              6
       Dari wawancara terbuka yang dilakukan dengan beberapa petambak
tradisional yang berlokasi di pinggir pantai, para petambak tersebut sudah tidak
membudidayakan udang lagi semenjak kira-kira tiga tahun terakhir dikarenakan
selalu mengalami kegagalan.                    Para petambak tersebut mengganti komoditi
budidayanya menjadi budidaya ikan bandeng yang relatif lebih tahan terhadap
kondisi kualitas perairan yang ada sekarang. Bahkan ada sebagian petambak
yang membiarkan lahan tambaknya kosong ditelantarkan tanpa ada kegiatan
pemanfaatan.
Nilai kelayakan daerah studi
         Hasil penilaian daerah studi berdasarkan perbandingan baku mutu Ditjen
Perikanan tahun 1997 in Widigdo (2003) tentang katagori daya dukung lahan
pantai untuk pertambakan disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil penilaian kelayakan kawasan pantai untuk pertambakan
 No.            Tolok ukur                   Kondisi aktual                 Acuan nilai              Nilai
                                                                     sangat landai-terjal
                                      landai berpasir dan sedikit                                 Rendah-
  1.    Tipe dasar pantai                                            berpasir atau sedikit
                                      berlumpur, terbuka                                          Sedang
                                                                     berlumpur-tebal, terbuka
  2.    Tipe garis pantai              labil, bukan teluk/laguna     labil, bukan teluk/laguna    Sedang
                                       antara 0,1 - 1,2 m, rata-rata
  3.     Amplitudo pasang                                            < 8 dm dan >29 dm            Rendah
                                       0,65 m
                                       dapat diairi cukup pada saat  dapat diairi cukup pada
                                       pasang tinggi rataan, dan     saat pasang tinggi rataan,
  4.     Elevasi                                                                                  Sedang
                                       dikeringkan total pada saat   dan dikeringkan total pada
                                       surut rendah rataan           saat surut rendah rataan
                                       bersebelahan dengan Sungai dekat sungai tetapi tingkat
  5.     Air tawar                     Biru,                         siltasi tinggi atau air      Rendah
                                       pengendapan tinggi            gambut
                                       banyak dikonversi menjadi     tipis/tanpa jalur hijau
  6.     Jalur hijau                   areal pertambakan, hanya                                   Rendah
                                       tersisa sekitar 31,7 ha
                                       pada data BMG 2004 yaitu
  7.     Curah hujan                                                 < 2000 (mm/th)               Tinggi
                                       1874 mm/th
                                       sepanjang Sungai Biru
                                       berupa lokasi pertanian,      jauh dari sumber
  8.     Tata ruang                                                                               Rendah
                                       perkebunan, dan               pencemar
                                       pertambakan
 Total penilaian : Tinggi = 1, Sedang = 2, Rendah-Sedang = 1, Rendah = 4



         Dari Tabel 2 di atas menunjukkan bahwa daerah studi mempunyai nilai
katagori daya dukung tinggi untuk tolok ukur curah hujan, dan nilai katagori
daya dukung sedang untuk tipe garis pantai, tipe dasar pantai, dan elevasi.
Sedangkan nilai katagori daya dukung rendah untuk tolok ukur amplitudo
pasang, air tawar, jalur hijau, dan tata ruang. Untuk tolok ukur tipe dasar pantai
memiliki kisaran nilai dari rendah sampai sedang. Dengan demikian daerah




                                                                                                             7
studi termasuk ke dalam kawasan dengan daya dukung dominasi rendah untuk
dibuat sebagai areal pertambakan.




Penentuan Luas Tambak Lestari
      Dengan mengetahui status kelayakan kawasan pantai daerah studi yang
memiliki daya dukung dominasi rendah, sebenarnya pengukuran kuantitas air
laut yang masuk ke pantai tidak diperlukan lagi dalam studi ini. Hal ini terkait
dengan daerah studi yang tidak begitu mendukung untuk dijadikan areal
pertambakan yang pada akhirnya berujung pada selisih antara biaya produksi
(cost) dan pendapatan hasil produksi (income) usaha budidaya yang bernilai
negatif. Namun dari segi ekologis, pengukuran volume/kuantitas air laut yang
masuk ke pantai masih diperlukan untuk mengetahui luasan maksimum tambak
udang yang diperbolehkan agar tetap lestari.
      Dengan menggunakan formula yang disarankan Pariwono (1985) in
Widigdo dan Pariwono (2003), luas tambak intensif maksimum di daerah studi
yang diperbolehkan seharusnya adalah seluas 149,17 ha. Perbandingan luas
tambak maksimum daerah studi dan Kabupaten Kendal secara keseluruhan
yang diperbolehkan agar perairan tetap lestari tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Perbandingan luas tambak maksimum lestari yang diperbolehkan
           Luas tambak maksimum                    Luas tambak maksimum
    Kecamatan Patebon yang boleh (ha)        Kabupaten Kendal yang boleh (ha)
                              ekstensif                                ekstensif
  Intensif     semi intensif              intensif       semi intensif
                                plus                                      plus
  149,17        522,10         1392,27    571,61         2000,64        5335,03



Kualitas Lingkungan Perairan Periode Budidaya Siklus ke-6
      Periode budidaya siklus ke-6 dilaksanakan mulai dari 26 September 2004
sampai dengan 23 Januari 2005 mempunyai rata-rata padat tebar yaitu 88
ekor/m2 (X) dan 53 ekor/m2 (Y). Padat tebar X terdiri dari petak C1, C2, B5
yang mempunyai padat tebar masing-masing secara urut yaitu 84 ekor/m2, 91
ekor/m2, dan 88 ekor/m 2. Sedangkan padat tebar Y terdiri dari petak C3, C46,
B46 yang masing-masing padat tebarnya secara urut adalah 60 ekor/m2, 43
ekor/m2, dan 55 ekor/m2.



                                                                                   8
                                       Pada umumnya rerata parameter-parameter yang diukur di dalam kolam-
kolam pembesaran kedua padat tebar berada dalam kisaran yang baik untuk
pertumbuhan udang rostris, walaupun masih ada (maksimum/minimum) yang
berada di luar batas optimal pertumbuhan yang ditentukan. Kisaran parameter
yang diukur tiap petak disajikan pada Gambar 2-13.
                      40                                                                                                                                          40
 Salinitas - psu




                                                                                                                                                Suhu - oC
                      30                                                                                                  Optimal                                 30
                      20                                                                                                  20-35 psu                               20
                                                                                                                                                                                                                                     Optimal
                      10                                                                                                                                          10                                                                      o
                                                                                                                                                                                                                                     25-29 C
                                 0                                                                                                                                  0
                                          X (C1)        X (C2)        X (B5)      Y (C3)   Y (C46) Y (B46)                                                                  X (C1)    X (C2)   X (B5)    Y (C3) Y (C46) Y (B46)
                                                                      Pdt tbr (petak)                                                                                                          Pdt tbr (petak)

                                                                       Max          Min      Ave                                                                                               Max        Min       Ave


Gambar 2. Kisaran salinitas tiap petak                                                                                                Gambar 3. Kisaran suhu tiap petak




                                                                                                                                                 Kecerahan - cm
                                                                                                                                                                  150
                       100%
                                                                                                      M erah                                                      100
                                 80%                                                                  Putih
                                                                                                      Coklat tua                                                    50                                                               Optimal
                                 60%                                                                  Coklat                                                                                                                         30-45 cm
                                                                                                      Coklat muda                                                       0
                                 40%                                                                  Hijau coklat                                                           X (C1)   X (C2)    X (B5)   Y (C3) Y (C46) Y (B46)
                                                                                                      Hijau tua
                                 20%                                                                  Hijau
                                                                                                                                                                                                Pdt tbr (petak)

                                 0%                                                                                                                                                             Max       Min       Ave
                                          C1        C2           B5          C3      C46     B46


Gambar 4. Persentase warna yang tampak tiap petak                                                                                     Gambar 5. Kisaran kecerahan tiap petak


                                                                                                                                                                  200
                                                                                                                                      Alkalinitas - mg/l




                                 150
               Tinggi air - cm




                                                                                                                     Optimal                                                                                                        Optimal
                                                                                                                                                                  150                                                               120-180
                                                                                                                     120-160 cm
                                                                                                                                           CaCO3




                                 100
                                                                                                                                                                  100                                                               mg/l
                                                                                                                                                                                                                                         3
                                     50                                                                                                                                                                                             CaCO
                                                                                                                                                                   50
                                     0                                                                                                                              0
                                               X (C1)     X (C2)        X (B5)     Y (C3) Y (C46) Y (B46)                                                                   X (C1)    X (C2)    X (B5)   Y (C3) Y (C46) Y (B46)
                                                                       Pdt tbr (petak)                                                                                                          Pdt tbr (petak)

                                                                       Max          Min       Ave                                                                                              Max        Min       Ave


Gambar 6. Kisaran tinggia air tiap petak                                                                                          Gambar 7. Kisaran alkalinitas tiap petak


                                   3                                                                                                                              2.5
                                 2.5
               TAN - mg/l




                                                                                                                                           Nitrit - mg/l




                                                                                                                                                                   2
                                   2
                                 1.5                                                                                                                              1.5                                                               Optimal
                                                                                                                     Optimal
                                   1                                                                                                                                1                                                               < 1,0
                                                                                                                     < 1,5 mg/l
                                 0.5                                                                                                                              0.5                                                               mg/l
                                   0                                                                                                                               0
                                            X (C1)        X (C2)        X (B5)     Y (C3) Y (C46) Y (B46)                                                                   X (C1)    X (C2)   X (B5)    Y (C3)   Y (C46) Y (B46)
                                                                        Pdt tbr (petak)                                                                                                        Pdt tbr (petak)

                                                                      Max          Min       Ave                                                                                               Max       Min       Ave


Gambar 8. Kisaran TAN air tiap petak                                                                                              Gambar 9. Kisaran nitrit tiap petak




                                                                                                                                                                                                                           9
                   9.5                                                                                        80
                     9




                                                                                                 TOM - mg/l
                                                                                                              60                                                             Optimal
                   8.5
                                                                                                                                                                             < 55
   pH



                     8                                                        Optimal                         40
                   7.5                                                        7,8-8,2                                                                                        mg/l
                                                                                                              20
                     7                                                        mg/l
                   6.5                                                                                         0
                         X (C1)   X (C2)    X (B5)   Y (C3) Y (C46) Y (B46)                                         X (C1)    X (C2)   X (B5)   Y (C3)   Y (C46) Y (B46)
                                            Pdt tbr (petak)                                                                            Pdt tbr (petak)

                                           Max       Min      Ave                                                                      Max       Min      Ave


Gambar 10. Kisaran pH air tiap petak                                                    Gambar 11. Kisaran TOM tiap petak




                    2                                                                                    1500




                                                                                          TVC - CFU/ml
   Fosfor - mg/l




                   1.5                                                                                                                                                     Optimal
                                                                                                         1000
                    1                                                                                                                                                      < 1000
                                                                                                              500                                                          CFU/ml
                   0.5
                                                                              Optimal
                    0                                                         0,2-0,5                          0
                         X (C1)   X (C2)    X (B5)   Y (C3) Y (C46) Y (B46)   mg/l                                   X (C1)   X (C2)   X (B5)   Y (C3) Y (C46) Y (B46)
                                            Pdt tbr (petak)                                                                            Pdt tbr (petak)

                                           Max       Min      Ave                                                                      Max      Min       Ave



Gambar 12. Kisaran total fosfor air tiap petak                                          Gambar 13. Kisaran TVC tiap petak



                     Secara umum uji nilai tengah rerata parameter pada kedua padat tebar
yang diamati dengan t-Student tidak menunjukkan perbedaan, kecuali pada
tinggi air, TAN (Total Ammonia Nitrogen), dan TVC. Rerata tinggi air kedua
padat penebaran berbeda pada taraf nyata 0,10, tetapi tidak berbeda pada taraf
nyata 0.05 (t hit = -2,42). Pada hakekatnya ini berarti bahwa rerata tinggi air
kemungkinan besar memang berbeda, namun perbedaannya tidak cukup besar
untuk pertambahan volume air tiap petak.
                     Kandungan rerata TAN untuk kedua padat penebaran berbeda pada taraf
nyata 0,05 (t hit = 3,69). Kandungan TAN maksimum pada kolam pembesaran
berpadat tebar X (84-91 ekor/m2) berkisar antara 1,5-2,5 mg/l dengan rerata
sebesar 0,57-0,93 mg/l.
                     Sedangkan pada kolam pembesaran berpadat tebar Y (43-60 ekor/m2)
berkisar antara 1-1,3 mg/l dengan rerata sebesar 0,31-0,4 mg/l. Karena nilai t hit
jatuh di wilayah kritis bagian kanan, maka dapat disimpulkan bahwa kandungan
TAN pada kolam berpadat tebar X lebih besar daripada padat tebar Y. Hal ini
disebabkan padat penebaran yang lebih tinggi akan menyumbang sisa pakan
maupun kotoran udang ke dalam kolom perairan tambak juga akan lebih besar.



                                                                                                                                                                10
       TVC di keenam kolam pembesaran berkisar antara 0-1300 CFU/ml.
Pada kedua padat penebaran menunjukkan perbedaan kandungan rerata TVC
pada taraf nyata 0,10, tetapi tidak berbeda pada taraf nyata 0,05 (t hit = 2,22).
Rerata kandungan TVC untuk kedua padat tebar yaitu sebesar 174,79 CFU/ml
dan 103,90 CFU/ml. Pada hakekatnya ini juga berarti bahwa rerata TVC
kemungkinan besar memang berbeda, namun perbedaannya tidak cukup besar
jika dibagi dengan volume air tiap petak.


Hubungan parameter yang diamati terhadap pertumbuhan
       Berdasarkan uji statistika korelasi linear dari keseluruhan rerata parameter
tiap-tiap kolam pembesaran terhadap pertumbuhan (MBW) akhir udang rostris
maka dapat diketahui parameter kualitas lingkungan manakah yang
berpengaruh kuat terhadap pertumbuhan udang rostris. Perhitungan yang
dilakukan menunjukkan hasil bahwa tinggi air, TAN, dan TVC sangat
berpengaruh kuat terhadap pertumbuhan udang rostris dengan koefisien
korelasi masing-masing secara berurutan adalah 0,851, -0,916, dan -0,835.
Keeratan hubungan ini dituangkan dalam persamaan regresi linear bebas
satuan dengan model : MBW = 5,5 + 0,083 Tinggi air – 2.63 TAN – 0.0017
TVC.
Produksi udang rostris
Tingkat kelangsungan hidup/Survival Rate (SR)            Sampai pada saat
pemanenan hasil, SR udang rostris pada pengamatan ini masih cukup tinggi,
yaitu sebesar 72,37-86,92% untuk padat penebaran X (84-91 ekor/m2), dan
52,17-71,75% untuk padat penebaran Y (43-60 ekor/m2). Jika dibandingkan
antara SR pada petak dengan padat tebar X terhadap padat tebar Y, didapat
bahwa SR pada petak padat tebar Y lebih rendah daripada SR pada petak
padat tebar X.
        SR pada petak padat tebar Y lebih rendah daripada petak pada padat
tebar X dikarenakan nilai salinitas minimum pada petak berpadat penebaran Y
terlalu rendah yaitu antara 10-8 psu (lihat kembali Gambar 2). Toleransi nilai
salinitas terendah pada udang rostris agar masih bisa bertahan hidup, yaitu 9
psu di musim hujan dan tertinggi 39 psu di musim kemarau (agritekno website).
Pada salinitas 8 psu diperoleh udang rostris masih dapat hidup, namun


                                                                                    11
diperkirakan udang tersebut telah mengalami stres sehingga tingkat
kelangsungan hidupnya rendah.
Tingkat pertumbuhan udang rostris di kolam pembesaran
                  Bobot rata-rata (MBW) udang rostris yang terus bertambah dari waktu ke
waktu selama pemeliharaan merupakan perwujudan dari pertumbuhan.
Sampling pertumbuhan udang mulai dilakukan ketika DOC ke-34 atau udang
telah berumur 34 hari di kolam pembesaran sampai DOC ke-114. MBW pada
akhir pemeliharaan mencapai 20,748 gram (DOC 106-111) dengan kisaran
20,181-21,222 gram pada padat penebaran X, sedangkan pada padat
penebaran Y sebesar 24,775 gram (DOC 115-119) dengan kisaran 24,456-
25,197 gram.
                  Pola pertumbuhan udang rostris pada padat penebaran X dan Y dapat
dilihat pada Gambar 14.

             25                                                                                 30
             20
  MBW - gr




                                                                               MBW (gr)




             15                                                                                 20

             10
                                                                                                10
             5
             0
                                                                                                 0
                  0   34   44   54    64     74      84       94   104   114                         C1/111 C2/106 B5/110 C3/119 C46/115 B46/118
                                     DOC - hari                                           MBW Panen 21.222 20.181 21.075 25.197 24.672 24.456
                                                                                                                     Petak - hari
                                 pdt tbr X        pdt tbr Y



Gambar 14. Pola pertumbuhan udang rostris dan MBW panen pada padat
           penebaran X dan padat penebaran Y

              Dari Gambar 14 terlihat bahwa kenaikan pertumbuhan udang rostris pada
padat penebaran Y lebih besar daripada padat penebaran X. Perbedaan antara
padat penebaran terhadap pertumbuhan udang rostris sangat nyata (p =
0,0001; α = 0,01).                           Hal ini karena pada padat penebaran tinggi (X) akan
meningkatkan kompetisi dalam mendapatkan makanan, ruang tempat hidup,
dan juga oksigen.
              Udang rostris mempunyai laju pertumbuhan yang relatif sama dengan
udang windu, dan bahkan dengan kelangsungan hidup di tambak yang cukup
tinggi (Adiwidjaya et al. 2003). Bobot 30 gram bisa dicapai dalam tempo empat
bulan; memiliki SR di tambak yang tinggi yaitu mencapai rata-rata 76,76%
selama empat bulan masa pemeliharaan. Menurut direktur Perikanan Brunei,
uji coba budidaya udang rostris yang pernah dilakukan menunjukkan SR yang


                                                                                                                                                   12
tinggi yaitu rata-rata mencapai 80-90% dengan laju pertumbuhan yang tinggi
dan masa pemeliharaan yang hanya 100 hingga 130 hari (vacch website).
Udang rostris memiliki harga jual yang cukup baik dipasaran internasional dan
dapat diterima pasar meskipun dalam ukuran yang lebih kecil dibandingkan
udang windu (size dari 60 sampai 100 ekor/kg), serta harga jual yang lebih
tinggi di Amerika Serikat jika dibandingkan dengan udang windu maupun
vannamei (Kokarkin et al. 2002).
       Pada periode budidaya siklus ke-6 yang dilakukan, diperoleh MBW udang
rostris berkisar antara 20,181-25,197 gram (size 39-49 ekor/kg) dengan SR
sebesar 52,17-86,92% dengan lama periode yaitu 106-119 hari (lihat Gambar
14). SR udang rostris yang lebih kecil dari 70% disebabkan karena nilai
salinitas air media yang rendah. Pada kondisi normal, pertumbuhan udang
rostris relatif sama dengan udang windu, dan tingkat kelangsungan hidup yang
tinggi di atas 70%. Dengan demikian, udang rostris bisa dijadikan alternatif
komoditi unggulan usaha budidaya di Indonesia. Gambaran produksi udang
rostris terhadap udang komersial lainnya secara lengkap disajikan pada
Tabel 5.

Tabel 5. Perbandingan hasil produksi udang windu, udang vannamei, dan
         udang rostris di beberapa tempat budidaya Intensif
  Parameter                         Windu               Vannamei               Rostris              Rostris XYZ
  Market weight (gr)                35                  16,91 - 19,61          16,67 - 20           20,181 - 25,197
  Padat tebar (ekor/m2)             26                  60                     100                  43 – 91
  SR (%)                            70                  84,49 - 99,72          80 - 85              52,17 - 86,92
  Luas petak (m2)                   10000               5040                   8400                 4270 – 8060
  Panen (kg/luas)                   6300                4644 - 5572            16900                20,181 - 25,197
  Yield (kg/ha)                     6300                9288 - 11146*          20119*               5491 - 15937*
  FCR (kg/kg udang)                 1,90                1,21 - 1,33            Unknown              1,44 - 2,29
  Food protein (%)                  35 - 40             32 (irawan)            Unknown              42 (goldstein)
  Waktu budidaya                    Unknown             April - Aug            Unknown              Sep – Jan
  Lama periode (hari)               Unknown             115 - 123              120                  106 -119
  Jenis tipe substrat               Unknown             Full plastik           Unknown              Tanah
  Asal benur                        Unknown             Suak Lampung           BBPBAP Jepara        BBPBAP Jepara
                                                                                                    Standard + inokulan
  Additional tech                   Unknown             Standard               Unknown
                                                                                                    plankton
Sumber : Windu (tambak di Philippina by Anon 1988 in Ace4all website)
           Vannamei (tambak penelitian di PT ABC Bratasena Lampung tahun 2002, lihat Lampiran 7)
           Rostris (Produktivitas tambak PT Alamanda Tjandra, Jawa Timur in Dinas Perikanan Budidaya website)
           Rostris XYZ (penelitian di PT PQR Kecamatan Patebon, Kabupaten Kendal 2004-2005)
           *) hasil konversi dari luas


Limbah yang dihasilkan periode budidaya siklus ke-6
       Banyak dari petambak udang mengira bahwa limbah air buangan tambak
tidak mengandung banyak nitrogen dan fosfor organik (Furwoko 2001a). Hal ini
berbeda dengan pendapat Boyd (1999) in Furwoko (2001a) yang menghitung


                                                                                                                          13
limbah yang dihasilkan secara ekologis berdasarkan perbandingan bahan
kering. Hasil perhitungan dengan menggunakan formula Boyd disajikan pada
Tabel 6.
          Tabel 6 menunjukkan bahwa berdasarkan perbandingan bahan kering
biomassa udang terhadap limbah yang dihasilkan dari total pakan yang diberi,
petak Y(C46) menyumbang limbah terbanyak yaitu sebesar 1 banding 7,06 dan
terkecil pada petak X(B5) yaitu sebesar 1 banding 4,07. Hal ini berarti bahwa
dari total pakan yang diberikan pada petak Y(C46) sebesar 5486,8 kg
menghasilkan 600 kg (2400x25%) bahan kering biomassa udang dan
menimbulkan limbah ke perairan sebesar 4236 kg, dan dari 1975 kg
(7900x25%) bahan kering biomassa udang pada petak X(B5) telah
menimbulkan limbah sebesar 8038,25 kg. Namun jika berdasarkan kuantitas
total limbah yang dihasilkan dari total pakan, maka petak Y(C3) menyumbang
limbah terbanyak sebesar 11952 kg. Sedangkan petak Y(C46) menyumbang
total limbah terkecil sebesar 4236 kg. Banyaknya limbah (kg) yang dihasilkan
tiap petak secara kuantitas berbanding lurus dengan jumlah pakan yang
diberikan, sedangkan jumlah pakan yang diberikan berbanding lurus dengan
kuantitas benur yang ditebar selama kondisi kualitas lingkungan tambak
normal/optimal.
Tabel 6. Perbandingan biomassa udang rostris terhadap limbah berdasarkan
         perhitungan bahan kering
                               ∑ padat tebar
   Petak        Luas (m2)                           Pakan (kg)      Biomassa (kg)   FCR       Rasio   Limbah (kg)
                                  (ekor/m2)
 X (C1)         8060           84                  17883            10400           1,72   1 : 5,05   13130
 X (C2)         7153           91                  16685            11400           1,46   1 : 4,14   11799
 X (B5)         5688           88                  11385,5          7900            1,44   1 : 4,07   8038,25
 Y (C3)         7670           60                  15957            8300            1,92   1 : 5,76   11952
 Y (C46)        4370           43                  5486,8           2400            2,29   1 : 7,06   4236
 Y (B46)        5642           55                  10599            5300            2,00   1 : 6,04   8003
Limbah = kolom lima dikali 25% kemudian dikali faktor pembanding pada kolom tujuh


          Dari label uji proksimat pada kemasan pakan udang Goldstein diketahui
bahwa pakan mengandung minimal 42% protein kasar. Protein kasar dihitung
sebagai persentase nitrogen dikalikan dengan konstanta 6,25 sehingga pakan
mengandung 6,72% N. Dengan demikian berdasarkan kuantitas limbah yang
dihasilkan, kandungan nitrogen yang dibuang ke perairan tambak dapat
dihitung. Kandungan N tiap petak disajikan dalam Tabel 7.



                                                                                                                14
Tabel 7. Kandungan limbah N tiap petak yang dihasilkan periode siklus ke-6

 Petak                                 Limbah (kg)                           N (kg)              N (mg/l)
 X (C1)                                13130                                 882,3               0,097
 X (C2)                                11799                                 792,9               0,098
 X (B5)                                8038,25                               540,2               0,084
 Y (C3)                                11952                                 803,2               0,092
 Y (C46)                               4236                                  284,7               0,057
 Y (B46)                               8003                                  537,8               0,084
Kandungan N = Limbah (kg) dikali 6,72%; N (mg/l) : Kandungan N dibagi dengan volume tiap petak


                  Dari Tabel 7 diketahui bahwa limbah total nitrogen yang dihasilkan dari
pakan selama budidaya periode siklus ke-6 berkisar antara 0,057 - 0,098 mg/l.
Dalam sebuah kolam pembesaran, kandungan N akan lepas/hilang dari air
media ke udara melalui penguapan gas ammonia dan bakteri denitrifikasi.
Sedangkan sebagian N yang terdapat dalam bahan organik akan diendapkan
ke dasar tambak (Furwoko 2001a).
                  N yang mengendap seiring bertambahnya umur siklus, akan
meningkatkan kandungan N secara bertahap karena proses akumulasi. Hal ini
akan lebih berdampak negatif jika pengolahan tanah pada tahap persiapan
kurang baik. Pertambahan rerata kandungan N yang diwakili oleh TAN dari
periode budidaya siklus ke-4 sampai dengan siklus ke-6 disajikan pada
Gambar 15.

                 2


                1.5
   TAN (mg/l)




                                               y = 0.2894 x - 0.2654
                 1                                   2
                                                   R = 0.9797


                0.5


                 0
                      4                    5                             6
                               Periode budidaya (siklus)




Gambar 15. Pertambahan rerata kandungan N

                  Dengan mengasumsikan pengelolaan budidaya PT PQR tidak ada
peningkatan teknologi yang signifikan untuk periode-periode budidaya siklus
selanjutnya (7, 8, dan seterusnya), dan jenis udang yang dibudidayakan adalah
jenis udang rostris maka bisa dipastikan lamanya usia kegiatan produksi
budidaya PT PQR yang akan berjalan. Melalui penyelesaian persamaan
regresi TAN (peubah Y) terhadap periode siklus budidaya(peubah X), bagi


                                                                                                            15
periode siklus budidaya(peubah X), maka diperoleh X = 5 + (Y –
0,3133)/0,2894. Dengan memasukan nilai ambang batas optimal pertumbuhan
untuk TAN sebesar 1,5 mg/l sebagai Y, maka didapat nilai periode siklus
budidaya (X) sebesar 9,1. Dengan demikian, usia produksi lahan tambak PT
PQR hanya mampu bertahan dengan baik sampai periode siklus budidaya ke-
9, atau dengan kata lain produksi hanya bisa maksimal memberikan hasil
sampai periode budidaya siklus yang ke-9.




                            KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
     Suatu kawasan pantai yang tidak begitu mendukung untuk dijadikan areal
pertambakan udang masih bisa memberikan hasil produksi yang baik apabila
diberi masukan teknologi budidaya yang tinggi (tambak sistem intensif).
Produksi udang rostris periode budidaya siklus ke-6 (26 September 2004 - 23
Januari 2005) sebesar 5491-15937 kg/ha. Dalam memproduksi udang rostris
(Litopenaeus stilyrostris) secara intensif perlu memperhatikan kepadatan benih
udang yang ditebar. Pada kolam pembesaran dengan padat penebaran X (84-
91 ekor/m2) bisa menghasilkan bobot rata-rata (MBW) pada DOC 104 hari
rerata sebesar 19,313 gram, sedangkan pada padat penebaran Y (43-60
ekor/m2) rerata sebesar 21,641 gram pada DOC yang sama. Padat penebaran
udang berpengaruh terhadap kualitas air media budidaya terutama Total
Ammonia Nitrogen (TAN) (thit = 3,69; α = 0,05) yang pada akhirnya berpengaruh
terhadap produksi udang yang dihasilkan.
     Pada kolam pembesaran yang memiliki nilai salinitas rendah sampai 8 psu
(di bawah 9 psu) udang rostris yang dipelihara mempunyai tingkat
kelangsungan hidup (SR) yang rendah yaitu di bawah 70%. Pertumbuhan
udang rostris sangat dipengaruhi oleh keadaan tinggi air kolam pembesaran (r
= 0,851) dan juga keberadaan kandungan TAN (r = -0,916), dan Total Vibrio
Count (TVC) (r = -0,835).
     Secara umum kolam-kolam pembesaran pada padat penebaran X
memiliki MBW yang lebih rendah daripada kolam-kolam pembesaran pada



                                                                              16
padat penebaran Y (p = 0,0001; α = 0,01). Pertumbuhan udang rostris relatif
sama dengan udang windu dengan SR yang tinggi pada kondisi kualitas
lingkungan yang normal.
     Usaha budidaya PT PQR menimbulkan dampak berupa limbah bahan
organik yang tinggi di Sungai Biru. Hal ini tercermin dari konsentrasi bakteri
Vibrio yang telah melebihi ambang batas kemampuan udang untuk hidup yaitu
sebesar 456872 CFU/ml. Pada FCR yang besar memiliki rasio perbandingan
antara biomassa udang yang dihasilkan terhadap limbah berdasarkan bahan
kering juga besar. Kuantitas limbah yang dihasilkan berbanding lurus dengan
jumlah pakan yang diberikan, sedangkan jumlah pakan yang diberikan
berbanding lurus dengan kuantitas benur yang ditebar selama kondisi kualitas
lingkungan tambak normal/optimal.
     Pada periode budidaya siklus ke-4 (24 Oktober 2003 - 9 Desember 2003)
terjadi panen premateur, sehingga periode ini tidak bisa dijadikan pembanding
produktivitas bagi periode budidaya siklus ke-6. Pada periode budidaya siklus
ke-4 diduga terkena SEMBV.
     Berdasarkan kandungan TAN yang dihasilkan pada periode budidaya
siklus ke-4 sampai ke-6, maka usia produksi lahan tambak PT PQR diramalkan
hanya mampu bertahan memberikan hasil yang maksimal hingga siklus ke-9
(asumsi tidak ada peningkatan penerapan teknologi/kenaikan TAN besifat linear
mengikuti waktu).
Saran
     Penelitian yang dilakukan ini memang belum bisa menghasilkan produk
udang yang eco-labelled, clean, dan green product untuk menjawab tantangan
pasar dunia. Namun paling tidak arahan untuk menuju kepada produk tersebut
sudah ada, yaitu pembudidayaan udang di laut. Oleh karena itu, untuk
mendapatkan informasi yang lebih lengkap dan komprehensif tentang
parameter lingkungan udang rostris dan teknologi budidayanya, maka
penelitian lebih lanjut perlu dilakukan dengan penekanan pada musim dan
substrat dasar yang berbeda, di samping penelitian penggunaan pakan dan
probiotik yang efektif, serta uji organoleptik (uji rasa) untuk mengetahui kualitas
produk udang yang dihasilkan dari segi rasa. Hasil dari gabungan penelitian ini
diharapkan bisa menjawab tantangan pasar dunia.


                                                                                 17
                            DAFTAR PUSTAKA

Adiwidjaya, D., Triyono, Herman, Prayitno, H., Supramono, A. 2003. Petunjuk
    Teknis Budidaya Udang Rostris (Litopenaeus stylirostris) Sistem Tertutup.
    BBPBAP Jepara. Jepara.
[BAPEDA]. 2002. Laporan Akhir Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten
    Kendal. BAPEDA Kendal. Kendal.
[BPN Kendal]. 2003. Sumber Data Kantor Pertanahan Kabupaten kendal.
    Badan Pertanahan Nasional Kendal. Kendal.
[Dinas Perikanan dan Kelautan Jateng]. 2002. Pedoman Petunjuk Teknis
    Pengelolaan dan Pemanfaatan di Wilayah Pesisir dan Laut Propinsi Jateng.
    Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi Jawa Tengah. Semarang.
[Dishidros TNI-AL]. 2004. Daftar Pasang Surut Kepulauan Indonesia Tahun
    2004. Dishidros TNI-AL. Jakarta.
Furwoko, A. 2001a. Manajemen Tambak Udang dalam Mengurangi Potensial
    Eutrofikasi. Terjemahan bebas dari artikel di GAA Magazine tahun 1999
    oleh Boyd CE dengan judul Management of shrimp pond to reduce the
    eutrofication potential. Tidak dipublikasikan. Lampung.
Kokarkin, C.D., Adiwidjaya, E., Sutikno, dan Pudjatno. 2002. Budidaya Udang
    Rostris (Litopenaeus stylirostris) Berwawasan Lingkungan dengan Sistem
    Tertutup. Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau. Jepara.
[Suara Merdeka]. 2002. Udang Varietas Unggul Disahkan. Rubrik Ekonomi.
    Suara Merdeka, 8 Juni 2002.
[Suara Merdeka]. 2004. Hutan Bakau di Kabupaten Kendal Tinggal Satu
    Persen. Suara Merdeka 1 Juni 2004. Semarang.
Sunaryanto, A. 1989. Penilaian Lokasi Tambak. BBAP Jepara. Jepara.
Widigdo, B. 2003. Perencanaan dan Pengelolaan Budidaya Perairan Wilayah
    Pesisir. Materi kuliah semester tujuh, Departemen Manajemen Sumberdaya
    Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Widigdo, B dan Pariwono, J. 2003. Daya Dukung Perairan di Pantai Utara Jawa
    Barat untuk Budidaya Udang (Studi kasus di Kabupaten Subang, teluk
    Jakarta dan Serang) In Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia.
    Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan. Institut Pertanian Bogor.
    Bogor.
http://vacch.org/../rim_011401.htm. (diakses pada 29 September 2004).
http://www.ace4all.com/Resources.htm. (diakses pada 26 April 2005).
http://www.agritekno.tripod.com/membenihkan_rostris.htm. (diakses pada 29
    September 2004).
http://www.perikanan-budidaya.go.id. (diakses pada 17 Mei 2005).
http://www.fao.org. (diakses pada 30 Januari 2005).
http://www.kab-kendal.go.id/perikanan.php. (diakses pada 30 Januari 2005).




                                                                          18

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:561
posted:4/20/2010
language:Indonesian
pages:18