agama by samehada

VIEWS: 948 PAGES: 9

									AGAMA HINDU
DEWA YADNYA




Nama : I Dewa Gede Agung Pranasiwi

             No : 07

           Kelas : XIIA3




 SMA NEGERI 1 GIANYAR
          2009/2010
                                      PENDAHULUAN



       Yadnya menurut ajaran agama Hindu, merupakan satu bentuk kewajiban yang harus
dilakukan oleh umat manusia di dalam kehidupannya sehari-hari. Sebab Tuhan menciptakan
manusia beserta makhluk hidup lainnya berdasarkan atas yadnya, maka hendaklah manusia
memelihara dan mengembangkan dirinya, juga atas dasar yadnya sebagai jalan untuk
memperbaiki dan mengabdikan diri kepada Sang Pencipta yakni Hyang Widhi (Tuhan Yang
Maha Esa).

  Sahayajñáh prajah strishtva
  puro vácha prajápatih
  anena prasavishya dhvam
  esha va stv ishta kámadhuk (Bh. G. III.10)

  Dahulu kala Hyang Widhi (Prajapati), menciptakan manusia dengan jalan yadnya, dan
bersabda: "dengan ini (yadnya) engkau akan berkembang dan mendapatkan kebahagiaan
(kamadhuk) sesuai dengan keinginanmu".

  Deván bhávayatá nena

  te devá bhávayantuvah

  parasparambhávayantah

  sreyah param avápsyatha. (Bh. G. III.11)


 Dengan ini (yadnya), kami berbakti kepada Hyang Widhi dan dengan ini pula Hyang Widhi
memelihara dan mengasihi kamu, jadi dengan saling memelihara satu sama lain, kamu akan
mencapai kebaikan yang maha tinggi.


Tanpa penciptaan melalui yadnya-Nya Hyang Widhi maka alam semesta berserta segala isinya
ini, termasuk pula manusia tidak mungkin ada. Hyang Widhilah yang pertama kali beryadnya
menciptakan dunia dengan segala isinya ini dengan segala cinta kasih-Nya. Karena inilah
pelaksanaan yadnya di dalam kehidupan ini sangat penting artinya dan merupakan suatu
kewajiban bagi umat manusia di dunia. Karena itu pula kita dituntut untuk mengerti, memahami
dan melaksanakan yadnya tersebut di dalam realitas hidup sehari-hari sebagai salah satu amalan
ajaran agama yang diwahyukan oleh Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa).
Pengertian Yadnya.

Kalau ditinjau secara dari ethimologinya, kata yadnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu dari
kata "yaj" yang artinya memuja atau memberi penghormatan atau menjadikan suci. Kata itu juga
diartikan mempersembahkan; bertindak sebagai perantara. Dari urat kata ini timbul kata yaja
(kata-kata dalam pemujaan), yajata (layak memperoleh penghormatan), yajus (sakral, retus,
agama) dan yajna (pemujaan, doa persembahan) yang kesemuanya ini memiliki arti sama dengan
Brahma.


Yadnya (yajna), dapat juga diartikan korban suci, yaitu korban yang didasarkan atas pengabdian
dan cinta kasih. Pelaksanaan yadnya bagi umat Hindu adalah satu contoh perbuatan Hyang
Widhi yang telah menciptalan alam semesta dengan segala isinya dengan yadnya-Nya. Yadnya
adalah cara yang dilakukan untuk menghubungkan diri antara manusia dengan Hyang Widhi
beserta semua manifestasinya untuk memperoleh kesucian jiwa dan persatuan Atman dengan
Paramatman. Yadnya juga merupakan kebaktian, penghormatan dan pengabdian atas dasar
kesadaran dan cinta kasih yang keluar dari hati sanubari yang suci dan tulus iklas sebagai
pengabdian yang sejati kepada Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa).


Dengan demikian jelaslah bahwa yadnya mempunyai arti sebagai suatu perbuatan suci yang
didasarkan atas cinta kasih, pengabdian yang tulus iklas dengan tanpa pamerih. Kita beryadnya,
karena kita sadar bahwa Hyang Widhi menciptakan alam ini dengan segala isinya termasuk
manusia dengan yadnyanya pula. Penciptaan Hyang Widhi ini didasarkan atas korban suci-Nya,
cinta dan kasih-Nya sehingga alam semesta dengan segala isinya ini termasuk manusia dan
mahluk-mahluk hidup lainnya menjadi ada, dapat hidup dan berkembang dengan baik. Hyang
Widhilah yang mengatur peredaran alam semesta berserta segala isinya dengan hukum kodrat-
Nya, serta perilaku kehidupan mahluk dengan menciptakan zat-zat hidup yang berguna bagi
mahluk hidup tersebut sehingga teratur dan harmonis. jadi untuk dapat hidup yang harmonis dan
berkembang dengan baik, maka manusia hendaknya melaksanakan yadnya, baik kepada Hyang
Widhi beserta semua manifestasi-Nya, maupun kepada sesama makhluk hidup. Semua yadnya
yang dilakukan ini akan membawa manfaat yang amat besar bagi kelangsungan hidup makhluk
di dunia.


  Agnim ile purohitam yajnasya devam rtvijam,

  hotaram ratna dhatanam (R.V.I.1.1)


 Hamba menuja Agni, pendeta agung upacara yadnya, yang suci, penganugrah, yang
menyampaikan persembahan (kepada para Dewa), dan pemilik kekayaan yang melimpah.


  Ishtân bhogaân hi vo devâ
  dâsyante yahjna bhâvitâh

  tair dattân apradâyai byo

  yo bhunkte stena eva sah. (Bh. G.III.12)


  Sebab dengan yadnyamu (pujaanmu) Hyang Widhi (dewata) akan memberkahi kebahagiaan
bagimy, dia yang tidak membalas rakhmat ini kepada-Nya, sesungguhnya adalah pencuri.


  Yâjna sishtâsinah santo

  muchyante sarva kilbishaih

  bhunjate te ty agham pâpâ

  ye paehamty atma karanat. (Bh. G.III.13)


 Yang baik makan setelah upacara bakti akan terlepas dari segala dosa, tetapi menyediakan
makanan lezat hanya bagi diri sendiri, mereka ini, sesungguhnya makan dosa.


Sesorang hendaknya menyadari , bahwa sesuatu yang dimakan, dipakai maupun yang digunakan
dalam hidup ini pada hakikatnya adalah karunia Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Kuasa).
Berdosalah ia yang hanya suka menerima namun tidak mau memberi. Setiap orang ingin terlepas
dari segala dosa, maka itu setiap orang patut beryadnya. Dengan yadnya, Hyang Widhi akan
memberkahi kebahagiaan dan kesempurnaan hidup. Dia yang tidak beryadnya, yang tidak
membalas rahmat yang ia terima sebagaimana yadnya dan anugrah yang diberikan oleh Hyang
Widhi, sesungguhnya ia itu adalah pencuri.


Jadi dengan memperhatikan beberapa sloka di atas, maka jelaslah bahwa yadnya adalah suatu
amal ibadah agama yang hukumnya adalah wajib atau setidak-tidaknya dianjurkan untuk
dilaksanakan oleh umat manusia yang iman terhadap Hyang Widhi. Seseorang hendaknya
mengabdikan diri kepada-Nya dengan penuh kesujudan dan rasa bakti dengan mengadakan
pemujaan dan persembahan yang dilakukan secara tulus iklas.


  Patram pushpam phalam toyam

  yo me bhaktya prayachchati

  tad aham bhaaktypahritam
  asnami prayatatmanah. (Bh. G.IX.26)


  Siapa yang sujud kepada-Ku dengan persembahan setangkai daun, sekuntum bunga, sebiji
buah-buahan atau seteguk air, Aku terima sebagai bakti persembahan dari orang yang berhati
suci.


Biasanya pemujaan dan persembahan itu dapat dilakukan dalam bentuk upacara yadnya, yaitu
persembahan berupa banten atau sajen-sajen, yang terdiri dari bahan-bahan seperti bunga, daun-
daun, air dan buah-buahan. Semuanya ini adalah persembahan yang bersifat simbolik. Yang
terutama adalah hati suci, pikiran terpusatkan dan jiwa dalam keseimbangan tertuju kepada
Hyang Widhi.


  Ye yatha mam prapadyante

  tams tathai va bhajamy aham

  mama vartma nurvartante

  manushyah partha sarvatah (Bh. G. IV.11)


 Jalan manapun ditempuh manusia ke arah-Ku semuanya Ku terima dari mana-mana semua
mereka menuju jalan-Ku oh Parta.


Hyang Widhi akan menemui setiap orang yang mengharapkan karunia daripada-Nya. Hyang
Widhi tidak menghapus harapan setiap orang yang melaksanakan yadnya menurut cara dan
kepercayaannya masing-masing. Disini tidak harus satu cara atau jalan tertentu untuk mencapai
hubungan dengan Hyang Widhi, sebab semuanya menuju kepada-Nya.


Didalam pelaksanaan upacara yadnya, hal-hal yang patut diperhatikan adalah Desa, kala, Patra.
Desa adalah menyesuaikan diri dengan bahan-bahan yang tersedia ditempat yang bersangkutan,
di tempat mana upakara yadnya itu dibuat dan dilaksanakan, karena biasanya antara tempat yang
satu dengan tempat yang yang lainnya mempunyai cara-cara yang berbeda. Kala adalah
penyesuaian terhadap waktu untuk beryadnya, atau kesempatan di dalam pembuatan dan
pelasksanaan yadnya tersebut. Sedangkan Patra adalah keadaan yang harus menjadi perhitungan
di dalam melakukan yadnya. Orang tidak dapat dipaksa untuk membuat yadnya besar atau yang
kecil. Yang penting disini adalah upakara dan upacara yang dibuat tidak mengurangi tujuan
yadnya itu dan berdasarkan atas bakti kepada Hyang Widhi, karena di dalam bakti inilah letak
nilai-nilai dari pada yadnya tersebut.
Yang dimaksud dengan Panca Yadnya adalah : Panca artinya lima dan Yadnya artinya
upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan Tuhan yang dalam istilah Bali
masyarakat Hindu menyebutkan Ida Sanghyang Widi Wasa.

Adapun pelaksanaan Panca Yadnya terdiri dari :

1. Dewa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para dewa-dewa.
2. Butha Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan unsur-unsur
alam.
3. Manusa Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada manusia.
4. Pitra Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas bagi manusia yang telah
meninggal.
5. Rsi Yadnya, yaitu upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kehadapan para orang suci
umat Hindu.
                                    DEWA YADNYA
        Upacara dewa yadnya adalah upacara pemujaan dan persembahan sebagai wujud bakti
kehadapan Hyang Widhi dan segala manifestasi-Nya, yang diwujudkan dalam bermacam-macam
bentuk upakara. Upacara ini bertujuan untuk pengucapan terima kasih kepada Hyang Widhi atas
kasih, rahmat dan karunia-Nya sehingga kehidupan dapat berjalan damai.

Upacara dewa yadnya umumnya dilaksanakan di sanggah-sanggah, pamerajan, pura, kayangan
dan tempat suci lainnya yang setingkat dengan itu. Upacara dewa yadnya ada yang dilakukan
setiap hari dan ada juga yang dilakukan secara periodik atau berkala. Contoh dari upacara dewa
yadnya yang dilakukan setiap hari adalah puja tri sandya dan yadnya cesa. Sedangkan upacara
dewa yadnya yang dilakukan pada hari-hari tertentu seperti: Galungan, Kuningan, Saraswati,
Ciwaratri, Purnama dan Tilem, dan piodalan lainnya.

"Brahma rpanam brahma havir,
brahmagnau bahmana hutam,
brahmai va tena gantavyam,
brahma karma samadhina" (Bh Gt IV.24)

"Dipujanya Brahman, persembahannya Brahman,
oleh Brahman dipersembahkan dalam api Brahman,
dengan memusatkan meditasinya kepada Brahman,
dalam kerja ia mencapai Brahman".
Foto 1 :




Dalam gambar di atas ditampilkan seorang ibu-ibu yang memberikan persembahan
berupa canang sari kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa.Canang
sari dihaturkan di setiap pelinggih di Pamerajan atau Sanggah. Biasanya persembahan
berupa canang ini dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa saat hari-hari
besar agama Hindu seperti Rahina Tilem, Rahina Purnama, juga pada hari-hari besar
agama Hindu yang datangnya setiap enam bulan atau 210 hari akan dipersembahkan
sarana berupa banten yang lebih besar dari hari-hari biasanya. Memberikan
persembahan atau diistilahkan aturan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tidak hanya
pada hari-hari besar saja umat Hindu di Bali setiap haripun bisa menghaturkan
persembahan berupa canang sari, biasanya dihaturkan dengan rarapan berupa jajan
atau permen. Seperti telah diketahui pelaksanaan mebanten dilakukan dengan menaruh
canang sari di setiap Pelinggih dengan diisin dupa, lalu diperciki tirta atau air suci dan
dibacakan mantra-mantra. Setelah dilaksanakan mebanten dilanjutkan denga
dilaksanakan persembahyangan atau mebakti untuk meminta berkat kehadapan Ida
Sang Hyang Widhi Wasa.
Foto 2 :




Foto di atas menggambarkan prosesi dalam pelaksanaan Piodalan atau Rerahinan di
suatu Pura. Piodalan adalah upacara pemujaan ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Waça
dengan segala manifestasinya lewat sarana pemerajan, pura, kahyangan, dengan nglinggayang
atau ngerekayang (ngadegang) dalam hari- hari tertentu. Kata piodalan berasal dan kata wedal
yang artinya ke luar, turun atau dilinggakannya dalam hal ini Ida Sang Hyang Widhi Waça
dengan segala manifestasinya menurut hari yang telah ditetapkan untuk pemerajan, pura,
kahyangan yang bersangkutan. Piodalan disebut juga petirtayan, petoyan, dan puja wali.
Biasanya Piodalan dimulai dengan dihadirkannya topeng di pura denga tipeng Sidakarya sebagai
pemuput piodalan, dilanjutkan dengan ngatur piodalan dengan Pedanda melakukan hatur-
haturan dengan mantara-mantra kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Lalu dilakukan
Meideran yaitu melakukan iring-iringan dalam rangka nedunang atau menstanakan Ida Bhatara
di Palinggih masing-masing, pelaksanaan ini juga disuguhkan tarian-tarian seadanya oleh para
pengayah yang melakukan iring-iringan tersebut.

								
To top