STUDI GENANGAN AIR TERHADAP KERUSAKAN JALAN DI KOTA GORONTALO
Document Sample


Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
STUDI GENANGAN AIR TERHADAP KERUSAKAN JALAN
DI KOTA GORONTALO
Nurhudayah (1) Abdul Karim Dato (2) ) Herman Parung (3)
(1) Staf Dinas Pekerjaan Umum Kota Gorontalo
(2) Karyasiswa Program Magister Teknik Perencanaan Transportasi Angkatan 2008, Kerjasama Pusbiktek
BPKSDM Dep.PU dan Universitas Hasanuddin.
(3) Pengajar Program Magister Transportasi Bidang Teknik Perencanaan Transportasi, PPS Universitas
Hasanuddin - Makassar.
Abstract
Research in joint streets of Cendrawasih Sub-District Of Heledulaa South Town of Gorontalo representing area is
often suffused and floods gristle. This Research type is descriptive qualitative explaining : (1) cause factors the
happening of water pond, (2) influence of pond irrigate to damage of road, and (3) formulating alternative handling
of damage of road effect of water pond. In the reality cause factor the happening of pond irrigate is local rainfall
height and consignment floods, overflowing irrigate river, superficiality of channel from other side, channel function
and dimension, gorong-gorong which stuff up, condition of road contour and topography, level and situation
inclination of channel. Construction walke Cendrawasih is pavement flexible which is have opportunity to water to
carve a way through to pore surface of asphalt following can destroy aggregate tying and asphalt till to hard coat
below. Wide of damage that happened reach 1.242,38 m2 or equal to 26,10% from totalizeing wide of road ossifying.
This matter of indication that condition of damage of the road pertained middle category. Thereby solution handling
of damage of this road can be executed with activity of periodic conservancy.
Keywords : Factors the happening of pond, form damage of road, alternative handling of damage of road effect of
water pond.
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Genangan air yang terjadi di Kota Gorontalo berdampak pada kondisi sosial dan ekonomi
masyarakat terutama pada sarana transportasi darat. Ada beberapa infrastruktur jalan dalam kota
Gorontalo yang terkena dampak genangan dan limpasan air di badan jalan. Dampak pada
konstruksi jalan yaitu perubahan bentuk lapisan permukaan jalan berupa lubang (potholes),
bergelombang (rutting), retak-retak dan pelepasan butiran (ravelling) serta gerusan tepi yang
menyebabkan pelayanan kinerja jalan menjadi menurun.
Komperhensifitas perencanaan prasarana jalan di suatu wilayah perkotaan mulai dari
tahapan pra survey, survey, perencanaan dan perancangan teknis, pelaksanaan pembangunan
fisiknya hingga pemeliharaan harus integral dan tidak terpisahkan sesuai kebutuhan saat ini dan
prediksi umur pelayanannya di masa mendatang agar tetap terjaga ketahanan fungsionalnya.
Kondisi topografi Kota Gorontalo terdiri dari dataran yang dilalui oleh tiga aliran sungai besar.
Dengan tingkat curah hujan berkisar 3 sampai 257 mm/tahun menyebabkan kondisi Kota
Gorontalo rawan terhadap banjir dan genangan air.
Dalam pengamatan empiris menunjukan bahwa timbulnya genangan air di atas
permukaan jalan dominan di sebabkan oleh sistim drainase jalan yang tidak terintegrasi dengan
sistim tata air spasial areal sekitar jalan serta semakin kecil luas catchment area akibat penataan
185
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
ruang yang tidak terkendali. Penilitian dilakukan di Kecamatan Kota Timur, yaitu pada ruas
jalan Cendrawasih Kelurahan Heledulaa Selatan.
Yang menjadi hulu permasalahan ini adalah pada aspek makro antara lain kebijakan
pengelolaan penataan ruang wilayah yang belum optimal dan konsisten. Untuk itu dalam
merencanakan pembangunan drainase sepanjang tepi jalan raya diperlukan bangunan-bangunan
pelengkap drainase seperti gorong-gorong, jembatan, talang air atau bangunan lainnya, terutama
pada perpotongan jalan dengan sungai, saluran banjir atau saluran irigasi dan saluran air baku.
Untuk mengatasi genangan dan banjir yang menyebabkan kerusakan jalan, pemerintah
Kota Gorontalo telah melakukan upaya optimalisasi penanggulangan genangan air, banjir dan
penanganan jalan perkotaan sebagai prioritas awal sehingga tercapai tujuan perbaikan lingkungan
permukiman. Atas kondisi demikian kini pemerintah Kota Gorontalo telah membuat master plan
drainase perkotaan sebagai acuan dalam penyelenggaraan pembangunan drainase. Berbagai
kendala pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan di daerah secara struktural belum optimal
dan efektif. Kondisi demikian menggugah perhatian kami untuk meneliti terhadap beberapa
permasalahan kerusakan jalan akibat genangan air di Kota Gorontalo.
B. Permasalahan
Penelitian ini kami rumuskan tiga permasalahan penting yang ditemukan demikian :
1. Faktor – faktor apakah yang menyebabkan terjadinya genangan air?
2. Bagaimanakah pengaruh genangan air terhadap kerusakan jalan?
3. Bagaimanakah alternatif penanganan kerusakan jalan akibat genangan air?
C. Tujuan
Tujuan dilakukan kajian ini adalah :
1. Untuk menjelaskan faktor-faktor penyebab terjadinya genangan air di badan jalan.
2. Untuk menjelaskan pengaruh genangan air terhadap kerusakan jalan.
3. Untuk merumuskan alternatif penanganan kerusakan jalan yang terjadi akibat genangan
air.
Tujuan di atas bermaksud agar dapat mengetahui dan menentukan perencanaan dan
pembangunan jalan yang komperhensif guna mengantisipasi kerusakan jalan akibat genangan
air.
D. Manfaat
Manfaat yang diharapkan dari tulisan ini adalah :
1. Dapat menjadi masukan pemerintah daerah Gorontalo guna perumusan kebijakan
perencanaan, pembangunan dan pemeliharaan jalan baik secara rutin maupun berkala.
2. Membantu menambah wawasan dan pengetahuan kepada masyarakat umum dan
akademis guna penelitian dan kajian selanjutnya.
E. Ruang Lingkup
Agar pembahasan tidak meluas maka penulis membatasi ruang lingkup kajiannya :
1. Mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor terjadi genangan air berikut pengaruh
genangan air tersebut terhadap kerusakan jalan.
2. Mengidentifikasi jenis kerusakan dan alternatif penanganan perbaikannya.
3. Penilitian ini dilakukan di Kota Gorontalo tepatnya di Kecamatan Kota Timur, yaitu pada
ruas jalan Cendrawasih Kelurahan Heledulaa Selatan.
186
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Lokasi
penelitian
Gambar 1. Lokasi Penelitian
F. Metode Pendekatan
Kajian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan
data sekunder. Data sekunder yang dikumpulkan dapat berasal dari data internal dan data
eksternal (Bogdan dan Taylor, 1975). Data internal berupa dokumen dan arsip-arsip perencanaan,
pembangunan fisik dan pemeliharaan jalan Kota Gorontalo diperoleh dari Dinas Pekerjaan
Umum Kota Gorontalo serta data dukung lainnya dari Bappeda dan Dinas Perhubungan.
Sedangkan data eksternal berupa publikasi data yang diperoleh melalui pihak lain seperti
textbook jurnal, makalah hasil seminar maupun artikel-artikel.
Jenis penelitian ini adalah non-eksperimental dan analisis bersifat deskriptif kualitatif
yang menjelaskan karakteristik objek yang di teliti serta metode atau teori-teori yang relevan
dengan judul dan ruang lingkup permasalahan penelitian.
Untuk lebih jelas pengaruh genangan air terhadap kerusakan jalan secara skematis dapat dilihat
pada flow chart berikut :
187
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Faktor-faktor penyebab genangan air
• Hujan lokal dan banjir kiriman
• Pendangkalan saluran samping
• Dimensi saluran dan fungsi
• Pipa gorong-gorong pecah dan aliran air
tersumbat
• Luapan Air Sungai
• Topografi dan Kontur Jalan
• Letak dan tingkat kemiringan sungai
Genangan air
• Lamanya
• Tinggi
• Volume
Kerusakan jalan
• Deformasi Faktor non lalu
• Retak lintas
Sistem drainase • Kerusakan • Kekuatan tanah
Tekstur dasar
Permukaan • Lingkungan
• Kerusakan
lubang
• Kerusakan di
pinggir
perkerasan
Alternatif
penanganan
Gambar 2. Kerangka pikir penelitian
188
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
II ANALISA DAN PEMBAHASAN
A. Kebijakan pembangunan wilayah
Kebijakan pemerintah daerah perlu dibuat secara detail dan terstruktur terkait dengan
aspek pembangunan infrastruktur jalan dan bangunan pelengkapnya sebagaimana di
amanatkan dalam UU No. 38 Tahun 2004 Tentang Jalan. Keterbatasan dana/anggaran
pemeliharaan jalan dan jembatan sering menjadi kendala di daerah, untuk itu perlu di lakukan
perencanaan dan pembahasan yang intensif bersama penentu kebijakan lainnya agar dapat
dipahami secara mendasar. Hal lain yang juga sangat berpengaruh adalah keterlibatan
masyarakat pengguna infrastruktur dalam hal pemeliharaan infrastruktur jalan dan bangunan
pelengkap mutlak di perlukan. Kebijakan pemerintah senantiasa mengarahkan kepada
manajemen SDM dan tertib hukum serta mengintensifkan sosialisasi pentingnya pemanfaatan
dan pemeliharaan infrastruktur.
B. Kondisi sistem drainase dan prasarana jalan di Kota Gorontalo
Peranan Kota Gorontalo sebagai pusat pelayanan menuntut adanya sarana dan
prasarana yang memadai untuk menunjang kegiatan perekonomian dan pembangunan di
wilayahnya.
1. Jenis dan tipe saluran drainase
Pada sebagian besar wilayah Kota Gorontalo telah dibangun saluran drainase kota,
terdiri dari saluran pembuang, saluran induk, saluran sekunder dan saluran tersier. Pada
umumnya bentuk saluran drainase yang ada di Kota Gorontalo membentuk pola linier
terhadap jalan dan pemukiman penduduk.
2. Prasarana jalan
Ditinjau dari fungsinya sebagai pembentuk struktur ruang, jaringan jalan di Kota
Gorontalo terdiri dari :
a. Jalur regional.
Status jalan yang ada di Kota Gorontalo terdiri dari jalan nasional, jalan propinsi, dan
jalan kota. Ditinjau dari fungsinya ruas jalan nasional adalah jalan yang menghubungkan
wilayah Propinsi Gorontalo dengan Propinsi Sulawesi Utara dan Sulawesi Tengah. Ruas
jalan propinsi merupakan salah satu jalan yang menghubungkan wilayah Kota Gorontalo
dengan Ibukota Kabupaten Gorontalo dan Kabupaten Bone Bolango.
b. Pergerakan internal
Pola jaringan jalan di Kota Gorontalo membentuk pola linier yang hanya memiliki 3
jalur utama sebagai pintu masuk dan keluar Kota Gorontalo. Tingkat utilitas tertinggi terjadi
di jalur tengah dengan rasio kapasitas diperkirakan mencapai 60%. Untuk itu perlu
pengembangan sistem jaringan jalan dengan pembangunan outer ring road sehingga fungsi
jalan dapat lebih memberikan akses yang relatif sama dan merata ke semua wilayah
perkotaan.
Berdasarkan data tahun 2007 dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Gorontalo, bahwa
prasarana jalan di wilayah kota Gorontalo terdiri dari ruas jalan nasional 13,869 km (Sesuai
SK Menteri Pekerjaan Umum No. 236.A / KPTS/1997 Tanggal 10 Juni 1997), jalan propinsi
27,584 km (sesuai SK Mendagri & Otonomi Daerah No. 55 Thn 2000 Tgl. 22 Desember
2000) dan jalan kota sepanjang 210,426 km. Namun dari total panjang ruas jalan tersebut,
yang belum diaspal masih terdapat 19,352 km terdiri dari permukaan telford dan berkerikil
10,604 km dan jalan tanah sepanjang 8,748 km.
189
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
C. Faktor – faktor penyebab terjadi genangan air
Jaringan seluruh drainase perkotaan harus mampu melayani pembuangan kelebihan
air pada suatu kota, mengalirkan melalui muka tanah atau bawah tanah dan harus terpadu
dengan sanitasi, sampah, pengendalian banjir dan lain-lain, Hasmar (2002; 19).
Menurut Sosrodarsono, S. (1976; 59) bahwa faktor-faktor yang berpengaruh pada
sistem drainase adalah : 1) intensitas curah hujan, 2) catchment area, 3) pertumbuhan daerah
perkotaan (pertumbuhan fisik kota, keseimbangan pembangunan antar kota dan dalam kota
serta faktor sosial, ekonomi dan budaya), 4) faktor medan dan lingkungan (topografi,
kestabilan tanah dan pengempangan).
Kota Gorontalo dilihat dari kondisi topografis berada pada ketinggian 0 – 500 meter
di atas permukaan laut. Kondisi permukaan tanah umumnya relatif datar. Sumber air sungai
di Kota Gorontalo berasal dari tiga buah sungai besar yaitu Sungai Bone, Sungai Bolango,
dan Sungai Tamalate yang ketiganya bermuara di Teluk Tomini. Berdasarkan hasil penelitian
di lapangan diketahui beberapa faktor teknis yang menyebabkan terjadinya genangan air
adalah :
1. Hujan lokal dan banjir kiriman
Data meteorologi Kota Gorontalo menyatakan curah hujan rata-rata sekitar 175 mm
per tahun. Intensitas hujan tertinggi terjadi pada bulan November sampai Desember. Tinggi
genangan mencapai 25 cm sampai 50 cm, dengan lama genangan kurang lebih empat hari
sampai satu minggu. Penyebab genangan lainnya adalah banjir kiriman akibat luapan Sungai
Tamalate yang dapat menggenangi hingga ke daerah disekitarnya.
2. Timbunan sedimentasi
Data empiris diperoleh volume pendangkalan saluran samping mencapai 20% sampai
30% dari kapasitas tampung saluran jalan Cendrawasih. Pendangkalan umumnya terjadi
karena endapan sedimentasi dan timbulan sampah. Dengan demikian maka fungsi saluran
tersebut tidak dapat mengalirkan air dengan baik dan kapasitas saluran menjadi berkurang.
3. Dimensi saluran yang terbatas
Dimensi saluran meliputi lebar penampang, panjang serta tinggi saluran merupakan
salah satu faktor yang dominan menyebabkan terjadinya genangan air di daerah drainase
jalan. Drainase pada kontur jalan yang cekung tentu berbeda konstruksi dan dimensinya
dengan drainase pada kontur jalan yang rata atau landai. Kondisi demikian tidak mampu
untuk menampung berikut menyalurkan jumlah debit air yang besar pada saat hujan
maksimum.
190
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Tabel 1. Kapasitas daya tampung saluran drainase ruas Jalan Cendrawasih
Daya
Panjang saluran (m’) Lebar Tinggi
tampung
Stasiun rata-rata rata-rata
saluran
Sisi kiri Sisi kanan (m2) (m)
(m3)
0+000 – 0+100 0 100 0,30 0,32 4,80
0+100 – 0+200 0 100 0,30 0,42 6,30
0+200 – 0+300 0 100 0,30 0,55 8,25
0+300 – 0+400 100 100 0,90 0,77 69,30
0+400 – 0+500 100 100 0,95 0,85 80,75
0+500 – 0+600 100 100 0,90 0,90 81,00
0+600 – 0+700 100 100 0,85 0,45 38,25
0+700 – 0+800 100 100 0,45 0,50 22,50
0+800 – 0+900 100 100 0,50 0,60 30,00
1+000 – 1+100 100 100 0,45 0,50 22,50
1+100 – 1+190 90 90 0,50 0,55 24,75
Jumlah 890 1.190 0,58 0,58
388,40
Sumber : Hasil olahan data Tahun 2008
Gambar 3. Kondisi fisik saluran drainase Jalan Cendrawasih
4. Gorong-gorong pecah dan aliran air tersumbat.
Gorong-gorong pecah berikut runtuhan materialnya merupakan hal yang sering
dijumpai dalam persoalan genangan pada drainase jalan di Kota Gorontalo. Hal ini
menyebabkan tersumbatnya aliran air yang melintasi gorong-gorong sehingga terjadi
genangan air hingga meluap ke badan jalan.
5. Kontur jalan
Kontur jalan pada ruas Jalan Cendrawasih yang ditinjau menunujukkan adanya
daerah cekungan yaitu pada sta 0+400 sampai 0+800. Cekungan mencapai 20% terhadap
areal umumnya.
6. Letak dan kemiringan saluran
Beberapa kenyataan menunjukkan letak saluran tersier di bawah ketinggian
saluran sekunder dan saluran sekunder di bawah ketinggian saluran primer dan
pembuang.
191
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Selain faktor teknis diatas, ada juga faktor sosial yang berkontribusi terhadap
terjadinya genangan dan banjir antara lain :
1. Adanya perubahan guna lahan dalam Bagian Wilayah Kota (BWK) yakni dari
persawahan dan atau ruang publik menjadi perumahan/permukiman sehingga
mengurangi luas areal resapan air.
2. Pola hidup masyarakat yang belum berorientasi pada pemeliharaan infrastruktur
permukiman yang bersih, sehat dan ramah lingkungan.
3. Terdapat hunian liar di wilayah bantaran sungai dan saluran primer yang berpotensi
terjadi pencemaran lingkungan dan pendangkalan sungai dan saluran.
D. Pengaruh genangan terhadap kerusakan jalan
Menurut Suripin (2004; 266), salah satu aspek terpenting dalam perencanaan jalan
raya adalah upaya melindungi jalan dari air permukaan dan air tanah. Jalan Cendrawasih
berfungsi sebagai jalan lokal sekunder dengan status jalan kota. Titik awal pengamatan
terletak pada sta 0+000, pada simpang Jalan Ahmad Yani dan berakhir pada sta 1+0190
yang terletak pada simpang tiga Jalan Sultan Botutihe. Kondisi geometrik Jalan
Cendrawasih pada lokasi penelitian adalah sebagai berikut :
a. Lebar perkerasan : 4,00 m
b. Lebar bahu jalan : 1,50 m
c. Panjang ruas : 1.190 m
d. Kelandaian : 3,00 %
e. Tipe Jalan : 2 lajur, 2 arah tak terbagi (2/2 UD)
f. Lapisan perkerasan: HRS (3cm), ATB (4cm), Agregat kelas A (15 cm) dan agregat
kelas B (20cm) serta urugan pilihan 15cm
Ditemukan juga bahwa konstruksi jalan ini belum seluruhnya dilengkapi dengan
bangunan drainase pada sisi badan jalan. Pada beberapa stasiun pengamatan terdapat
saluran yang tidak saling terhubung/menerus.
Kajian teoritis dan fakta dilapangan menunjukan bahwa secara umum kerusakan
struktural perkerasan jalan di pengaruhi tiga faktor penting, yaitu: 1) repetisi beban
kendaraan, 2) kondisi drainase permukaan jalan dan 3) mutu pelaksanaan konstruksi
jalan.
Penelitian ini menilik khusus pada pengaruh genangan air terhadap kondisi jalan
Cendrawasih adalah :
1. Kondisi kerusakan jalan
Survei kerusakan perkerasan ini adalah kompilasi dari berbagai tipe kerusakan,
tingkat keparahan kerusakan, lokasi dan luas penyebarannya. Identifikasi kondisi
permukaan jalan pada ruas Jalan Cendrawasih dilakukan secara visual pada jarak tiap 50
m, sehingga diharapkan dapat diperoleh variabel jenis (distress type) dan luas kerusakan
(distress amount).
192
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Tabel 2. Jenis kerusakan Jalan Cendrawasih berdasarkan luas kerusakan
dan persentase kerusakan jalan.
Luas terhadap
Luas Kerusakan Persentase
No Distress Type panjang jalan
(m2) 2 kerusakan (%)
(m /km)
1. Lubang 194,40 163,36 4,08
2 Retak-retak 719,28 604,44 15,11
3 Amblas 129,60 108,91 2,72
4 Alur 151,20 127,06 3,18
5 Pelepasan Butiran 47,90 40,25 1,01
6 Kondisi baik 0,00 0,00 73,90
Total 1.242,38 1.044,02 100,00
Sumber : Data olahan 2008
Gambar 4. Diagram persentase jenis kerusakan Jalan Cendrawasih
2. Kondisi genangan air
Genangan air pada lokasi ruas Jalan Cendrawasih sering diakibatkan oleh sisa air
banjir hujan lokal dan luapan air yang berasal dari sungai Tamalate.
Tabel 3. Data genangan air ruas jalan Cendrawasih
Panjang Tinggi rata-
Lebar rata-rata Volume Persentaseg
Stasiun genangan rata genangan
genangan (m) genangan (m3) enangan (%)
(m) (m)
0+000 – 0+100 0 0,00 0,00 0,00 0,00
0+100 – 0+200 50 4,50 0,04 8,00 1,21
0+200 – 0+300 100 5,00 0,11 49,50 7,49
0+300 – 0+400 100 5,00 0,15 75,00 11,34
0+400 – 0+500 100 5,00 0,25 125,00 18,90
0+500 – 0+600 100 5,00 0,33 165,00 24,95
0+600 – 0+700 100 5,00 0,27 135,00 20,42
0+700 – 0+800 100 5,00 0,14 70,00 10,59
0+800 – 0+900 75 4,50 0,10 33,75 5,10
1+000 – 1+100 0 0,00 0,00 0,00 0,00
1+100 – 1+190 0 0,00 0,00 0,00 0,00
Jumlah 725 4,75 0,17 661,25 100,00
Sumber : Dinas Pekerjaan Umum Kota Gorontalo Tahun 2008
193
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Kondisi volume genangan air pada ruas jalan ini mencapai 661,25 m3. Lama
genangan yang terjadi pada lokasi ini sangat bergantung pada kondisi cuaca setelah daerah
ini terendam banjir yakni antara satu sampai empat minggu.
3. Daya rusak genangan terhadap kerusakan jalan
Pengaruh genangan air terhadap kerusakan konstruksi jalan dapat menyebabkan
perlemahan daya dukung tanah dasar berikut mempercepat proses peretakan perkerasan.
a. Perlemahan tanah dasar
Adanya sejumlah genangan air pada permukaan jalan baik diakibatkan oleh air
hujan maupun perluapan saluran drainase dan banjir, akan sangat berpengaruh
mengurangi kekuatan konstruksi jalan tersebut. Ketika dasar perkerasan jalan jenuh
sempurna atau sebagian, adanya gaya dinamis menyebabkan kenaikan tekanan air pori.
Hal ini mereduksi gesek minimal, sehingga tahanan geser menjadi lebih rendah. Kondisi
ini menjadikan kekuatan pada struktur perkerasan semakin lemah.
b. Mempercepat proses retakan/kerusakan
Air yang meresap masuk ke dalam perkerasan jalan dapat mengakibatkan retakan
pada struktur perkerasan jalan. Hal ini diakibatkan karena lemahnya daya dukung tanah
dasar akibat fluktuasi kadar air tanah di lokasi tersebut. Lemahnya daya dukung tanah ini
terjadi akibat pengembangan volume tanah pada tanah dasar perkerasan.
Survei kerusakan jalan dilakukan untuk mengidentifikasi dan mencatat kerusakan
permukaan jalan dengan mengumpulkan informasi yang dibutuhkan.
194
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Tabel 4. Deskripsi Kerusakan Jalan Cendrawasih
Identifikasi
Jenis Kerusakan Kondisi Kerusakan Faktor Penyebab Faktor Pengaruh
Kerusakan
Kerusakan dengan lebar celah bervariasi Retak yang terjadi
antara 3mm sampai 6mm. Daerah kerusakan - Kurangnya gesek internal dalam base Pengaruh tegangan bervariasi dari retak kecil
Retak rambut banyak dijumpai di antara sta 0+100 sampai sehingga tanah dasar kurang stabil. thermal akibat perubahan dengan area penyebaran
(hair crack) 0+300 dan sta 0+850 sampai 1+050. Total - Adanya penyusutan pada lapis suhu atau karena sepanjang permukaan
2
luas kerusakan 87,5 m . dibawahnya kurangnya pemadatan. perkerasan.
Kondisi retak bersegi banyak dan membentuk Retak kulit buaya terjadi
Bahan lapis pondasi dalam
jaringan (poligon) pada lapis permukaan -Gerakan lapisan pondasi dalam pola jaringan
keadaan jenuh air, karena
Retak Kulit Buaya dengan lebar celah > 3mm. Daerah kerusakan -Kelelahan dari permukaan retakan sehingga pecahan
genangan atau kondisi air
(alligator crack) banyak dijumpai di antara sta 0+200 sampai -Modulus lapis pondasi rendah retakan dapat terlihat jelas
tanah yang naik ke
0+450 dan sta 0+800 sampai 1+000. Total -Lapis pondasi terlalu getas dan terjadi gompal
2 permukaan.
luas kerusakan 150,1 m . (pecahan material).
Jenis retak ini paling sering dijumpai pada
Rembesan air dalam lapis
jalan ini. Retak terjadi sejajar dengan pinggir
pondasi. Retak yang terjadi
perkerasan serta memanjang dengan cabang
-Kurangnya dukungan bahu jalan bervariasi dari retak kecil
mengarah ke bahu jalan, denag jarak retakan
-Kembang susut tanah sekitar Konsentrasi lalu lintas dengan lebar 1 cm sampai
Retak Pinggir sekitar 0,3 – 0,6m, lebar celah mencapai 2 cm.
-Bahu jalan turun berat dekat pinggir dengan 5 cm dengan
(edge crack) Daerah kerusakan banyak dijumpai di antara
-Adhesi permukaan lemah perkerasan. pecahan butiran lepas
sta 0+300 sampai 0+600 dan sta 0+700
-Terjadi erosi pada bahu jalan memanjang sepanjang tepi
sampai 0+800. Total luas kerusakan 192,9
2 Adanya pohon besar di perkerasan.
m .Umumnya retak ini disertai dengan
Retak dekat pinggir perkerasan
terjadinya amblas.
(Cracking) Kondisi retak berbentuk memanjang, Retak yang terjadi
Terjadi gerakan vertikal dan horisontal
melintang,diagonal dan membentuk blok dan dikelilingi dengan retakan
pada lapisan dibawah lapis tambahan, Retak pada perkerasan
Retak refleksi lebar celah mencapai 1 cm. Daerah kerusakan acak dengan lebar retakan
yang timbul akibat ekspansi dan jalan lama tidak diperbaiki
(reflection cracks) banyak dijumpai di antara sta 0+350 sampai bervariasi antara 1 cm
kontraksi saat terjadi perubahan sebelum dilakukan overlay,
0+550 dan sta 0+850 sampai 0+950. Total sampai 2,5 cm, terjadi pula
2 temperatur dan kadar air.
luas kerusakan 120,3 m pecah-pecah pada retakan.
- Perubahan volume campuran aspal Banyak terjadi retakan
Retak yang saling bersambungan membentuk
yang mempunyai kadar agregat halus dengan kombinasi ukuran
kotak-kotak besar, celah retak rata-rata 2cm,
tinggi dari aspal penetrasi rendah dan lebar retakan mencapai >
dengan ukuran sisi blok berkisar antara 0,2 Pengaruh siklus harian dan
Retak susut / blok agregat yang mudah menyerap. 3cm, pecahan retakan luas
sampai 3m dan dapat membentuk sudut yang pengerasan aspal.
(shrinkage/block cracks) - Sambungan pada lapisan yang tersebar di permukaan
tajam. Daerah kerusakan banyak dijumpai di
berada dibawahnya. dengan pola yang lebih
antara sta 0+450 sampai 0+650 dan sta 1+050
2 - Akibat kelelahan dalam lapisan aus besar dari retak kulit buaya
sampai 1+150. Total luas kerusakan 168,5 m 2
aspal. yang mencapai 3m .
Terjadinya penurunan perkerasan aspal - Kurangnya pemadatan pada lapis Alur yang terjadi terlihat
memanjang pada lintasan jalur roda pondasi (base). Tanah dasar lemah atau jelas pada saat tergenang,
Alur kendaraan dengan kedalaman mencapai 2 - Kualitas campuran aspal yang rendah agregat pondasi kurang kedalaman alur terjadi
(rutting) cm. Daerah kerusakan banyak dijumpai di - Gerakan lateral dari satu atau lebih tebal, pemadatan kurang, antara 15mm sampai
antara sta 0+450 sampai 0+550 dan sta 0+650 komponen pembentuk lapis terjadi infiltrasi air. 20mm pada beberapa
2
sampai 0+850. Total luas kerusakan 151,2 m perkerasan kurang padat. lokasi sisi badan jalan.
195
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Penurunan di lokasi tertentu pada lapis
Kedalaman ambles rata-
permukaan yang mempunyai elevasi lebih Ambles yangterjadi akibat
Penurunan sebagian dari kondisi rata terjadi dengan
rendah dengan variasi 2,5 – 5 cm. terdeteksi genangan air dalam jangka
Amblas (grade- perkerasan akibat lapisan di bawah kedalaman 2,5 cm sampai
oleh adanya genangan air. Daerah kerusakan waktu yang lama dapat
depressions) perkerasan (base) yang lemah dan tidak 5 cm. Lokasi kerusakan
banyak dijumpai di antara sta 0+700 sampai mengakibatkan terjadinya
stabil. terjadi pada pinggir median
0+750 dan sta 0+800 sampai 0+850. Total hydroplaning
2 perkerasan jalan
luas kerusakan 129,6 m .
Berbentuk cekung seperti mangkuk dengan Kondisi lubang yang terjadi
- Campuran material yang kurang baik.
ukuran bervariasi dari diameter 0,2 – 0,4 m, Masuknya air pada retakan menyebar pada lokasi yang
- Beban lalu lintas yang terjadi
dan kedalaman 2 cm– 10 cm. Daerah permukaan ke dalam lapis sering tergenang dan pada
Lubang menyebabkan desintegrasi lapis
kerusakan banyak dijumpai di antara sta pondasi lewat retakan di titik tertentu. Kondisi
(potholes) pondasi.
0+300 sampai 0+450 dan sta 0+500 sampai permukaan yang tidak lubang berdiameter rata-
- Terkelupasnya aspal dari lapis aus
0+800. Total luas kerusakan mencapai luas segera ditutup. rata 1 meter , dengan
akibat melekat pada ban kendaraan.
Distorsi 2
194,4 m . kedalaman rata-rata 10 cm.
(Distortion)
Terjadi disintegrasi permukaan perkerasan Agregat dan pengikat
Pelapukan dan akibat pelepasan partikel agregat secara terus Lemahnya bahan pengikat terkelupas, pada
- Campuran material yang kurang baik.
Pelepasan butir menerus yang berkelanjutan. Daerah aspal dengan material permukaan terjadi lubang
- Pemadatan yang kurang baik karena
(weathering and kerusakan banyak dijumpai di antara sta batuan. dengan kedalaman < 1cm
dilaksanakan pada musim penghujan.
raveling) 0+100 sampai 0+300. Total luas kerusakan dan area penyebaran
2
yang terjadi sebesar 13,5 m . setempat-setempat.
Agregat dan pengikat telah
Terkelupasnya lapisan aus secara berangsur Rembesan air terjadi lewat banyak terkelupas, pada
- Pembersihan permukaan yang
Pengelupasan angsur dari permukaan perkerasan. Daerah retakan yang ada, permukaan terjadi lubang
kurang bersih .
lapisan permukaan kerusakan banyak dijumpai di antara sta sehingga memisahkan dengan kedalaman < 1cm
- Kurangnya lapis pengikat sebelum
(delamination) 0+750 sampai 1+100. Total luas kerusakan ikatan antara permukaan dan area penyebaran
2 penempatan lapisan di atasnya.
34,4 m . dengan lapis di bawahnya menyeluruh di atas
permukaan.
196
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
Gambar 5. Deformasi dan Gambar 6. Kerusakan lubang
kerusakan tepi.
Tingkat kerusakan yang di paparkan di atas dapat berdampak pada berbagai biaya
transportasi serta kondisi sosial masyarakat. Ini berarti tingkat pelayanan jalan menjadi menurun.
Sedangkan dampak sosial adalah menurunnya kualitas kesehatan lingkungan karena sumbatan
pada saluran menyebabkan tempat bersarangnya nyamuk atau sejenisnya. Jika kondisi ini terus
berlangsung maka dapat di pastikan suatu saat kerusakan ruas jalan cendrawasih serta ruas jalan
lain di sekitarnya menjadi semakin parah atau kategori rusak berat. Hal ini bertentangan dengan
fungsi jalan sebagaimana di atur dalam Undang-Undang RI No. 38 Tahun 2004 dan Peraturan
Pemerintah Nomor 34 Tahun 2006 Tentang Jalan.
E. Alternatif penanganan perbaikan jalan yang rusak akibat genangan air
Untuk mempertahankan keutuhan fungsional konstruksi jalan maka perlu diadakan
kegiatan pemeliharaan jalan. Menurut Hary (2007; 153), Pemeliharaan perkerasan jalan
merupakan pekerjaan yang penting meliputi : 1) Pemeliharaan permukaan perkerasan, 2)
Pelapisan tambahan (overlay), 3) Penambalan dan perbaikan kerusakan kecil, 4) Pengisian
rongga di bawah pelat beton.
Petunjuk Teknis Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, (2007;
155), kegiatan pemeliharaan terdiri atas dua kategori yakni :
1. Pemeliharaan rutin
Pemeliharaan rutin mencakup pekerjaan-pekerjaan perbaikan kecil dan pekerjaan rutin,
yang umum dilaksanakan pada jangka waktu yang teratur dalam satu tahun seperti penambalan
permukaan, pemotongan rumput dan pekerjaan perbaikan ringan untuk menjaga agar kondisi
jalan tetap baik.
2. Pemeliharaan berkala/periodik
Pemeliharaan berkala merupakan pekerjaan yang mempunyai frekuensi yang terencana
lebih dari satu tahun pada satu lokasi. Untuk jalan kabupaten, pekerjaan ini terdiri dari pemberian
lapis ulang pada jalan dengan lapis permukaan dari aspal.
Sedangkan untuk mengatasi permasalahan genangan yang ada dapat dilakukan dengan langkah
langkah sebagai berikut :
1. Perlu adanya penanganan saluran pembuang khususnya pada muara.
2. Diperlukan kombinasi sistem aliran drainase secara gravitasi dan pompanisasi.
197
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
3. Pembangunan dan rehabilitasi/pemeliharaan saluran drainase dan prasarana lainnya.
4. Diperlukan PERDA mengenai tata guna lahan dan bangunan untuk mengendalikan
ketersediaan lahan peresapan air sehingga dapat mereduksi debit aliran permukaan,
menjaga keseimbangan lingkungan serta muka air tanah guna menghalangi intruisi air laut.
Untuk penanganan kerusakan jalan Cendrawasih sejelasnya dapat dilihat pada tabel 5
berikut :
Tabel 5 Penanganan kerusakan Jalan Cendrawasih
Luas Metode Perbaikan
No Jenis Keruskan Kerusakan
P1 P2 P3 P4 P5 P6
(m2)
1 Retak halus 87,50 - X - - - -
2 Retak kulit buaya 150,10 - X - - X -
3 Retak Pinggir 192,90 - X - - X -
4 Retak sambungan jalan - - - - - -
5 Retak refleksi 120,30 - X X X - -
6 Retak susut 168,50 - X - X - -
7 Retak selip - - - - - - -
8 Alur 151,20 - X - - X X
9 Keriting - - - - - - -
10 Sungkur - - - - - - -
11 Amblas 129,60 - X - - X X
12 Jembul - - - - - - -
13 Lubang 194,40 - X - - X X
14 Pelepasan butir 13,50 - X - - - X
15 Pengelupasan lapis permukaan 34,40 - X - - - X
16 Pengausan - - - - - - -
17 Kegemukan - - - - - - -
18 Penurunan pada bekas penanaman - - - - - - -
utililas
Jumlah 1.242,38 - 10 1 2 5 5
Keterangan : P1 = Penebaran pasir
P2 = Laburan aspal setempat
P3 = Penutupan/pdengan metode elapisan retak
P4 = Pengisian retak
P5 = Penambalan lubang
P6 = Perataan
Sistem penanganan kerusakan Jalan Cendrawasih sesuai dengan tingkat kerusakannya dapat
dilkategorikan dalam pemeliharaan berkala/periodik.
III PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kerusakan jalan dalam kota Gorontalo umumnya disebabkan oleh selain masa pelayanan
yang telah lewat juga disebabkan oleh genangan dan gerusan air. Letak geografis dan
kontur jalan yang rendah dan terletak dekat dengan sungai menyebabkan tingkat
kejenuhan tanah dasar semakin tinggi sehingga jika perkerasan jalan terbebani oleh
lalulintas kendaraan atau repetisi beban melebihi standar maksimum maka dengan mudah
terjadi kerusakan.
198
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
2. Selain kondisi topografi dan kontur jalan yang rendah, genangan air di badan atau daerah
manfaat jalan terjadi juga akibat curah hujan tinggi, kapasitas saluran terbatas, penampang
basah menjadi berkurang akibat sedimentasi dan timbulan sampah serta luapan sungai
Tamalate dan sungai Bone.
3. Bentuk kerusakan jalan akibat genangan air antara lain berlubang, retak-retak, terlepasnya
lapis permukaan serta kerusakan tepi perkerasan jalan. Tingkat kerusakan jalan
Cendrawasih paling besar adalah 15,11% retak-retak dan yang paling kecil 1.01%
pelepasan butiran lapis permukaan.
4. Alternatif penanganan kerusakan jalan ini yaitu dengan diadakan kegiatan pemeliharaan
jalan periodik.
B. Saran
1. Untuk mewujudkan kondisi infrastruktur jalan yang baik di Kota Gorontalo perlu di
dukung dengan kebijakan pengelolaan infrastruktur yang memadai. Beban anggaran
pemeliharaan kiranya dapat di alokasikan sesuai kebutuhan dan tingkat kerusakan jalan
(efektif dan efisien).
2. Untuk meminimalisir masalah kerusakan jalan yang terjadi, maka rancangan
pemeliharaannya perlu dilakukan survei yang lebih akurat dengan melibatkan sejumlah
instansi terkait dalam mengumpulkan data mengenai kondisi banjir, daerah tangkapan air
(catchment area), pemukiman liar di sekitar bantaran sungai, serta kapasitas dan kondisi
saluran yang ada.
3. Selain aspek kebijakan pembiayaan dan manajemen pemeliharaan, juga perlu dukungan
berbagai pihak terkait termasuk stake holders pengguna jalan agar dapat memahami
kemampuan dan daya dukung infrastruktur dan ikut bertanggungjawab dalam
memeliharanya guna keberlanjutan pelayanan yang memberikan rasa aman, nyaman dan
bermartabat.
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda Kota Gorontalo. (2007), Kota Gorontalo Dalam Angka, Kerjasama BPS dengan
Bappeda Kota Gorontalo, Gorontalo.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, (1995) Petunjuk Teknis No.
024/T/Bt/1995, Petunjuk Pelaksanaan Pemeliharaan Jalan Kabupaten.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Pemerintah Republik Indonesia
Nomor 26 Tahun 1985 tentang Jalan, Jakarta.
Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat Jenderal Bina Marga, Undang-Undang Republik
Indonesia Nomor 13 Tahun 1980 tentang Jalan, Jakarta.
Departemen Permukiman dan prasarana Wilayah, (2000), Perencanaan Drainase. Pusat
Pendidikan dan Pelatihan Balai Diklat Teknis dan Fungsional, Jakarta.
Halvorson. V. David, (2000), American Association Of State Highway and Transportation
Officials, Higway Drainage Guidelines, USA.
Hary Christady Hardiyatmo, (2007) Pemeliharaan Jalan Raya Gadjah Mada University Press.
Hasmar, (2002), Drainase Perkotaan, UII Press,Yogyakarta. 2002.
JICA, (2006), Seri Panduan Pemeliharaan Jalan kabupaten edisi II, Teknik Evaluasi Kinerja
Perkerasan Lentur. Puslitbang Jalan dan Jembatan ISBN 979-95959-7-5, Puslitbang Jalan
dan Jembatan Departemen Pekerjaan Umum, Bandung.
199
Simposium XII FSTPT, Universitas Kristen Petra Surabaya, 14 November 2009
JICA, (2006), Seri Panduan Pemeliharaan Jalan kabupaten edisi II, Teknik Bahan Kinerja
Perkerasan Lentur. Puslitbang Jalan dan Jembatan ISBN 979-95959-7-5, Puslitbang Jalan
dan Jembatan Departemen Pekerjaan Umum, Bandung.
Lavin and Shahin, (1994), Highway Maintenance and Drainage Connecting, First Edition.
Sosrodarsono, (1976). Hidrologi untuk Pengairan, PT. Pradnya Paramita Jakarta.
Suripin, (2004), Sistem Drainase Perkotaan yang Berkelanjutan, Andi Yokyakarta.
200
Get documents about "