Dinginnya ruangan di dalam kereta api yang membawa kami menuju

Document Sample
Dinginnya ruangan di dalam kereta api yang membawa kami menuju Powered By Docstoc
					                     Asiknya di Yogyakarta

      Dinginnya ruangan di dalam kereta api yang membawa kami menuju
Semarang membuat kami semua terjaga. Rasa kantuk dan dingin berlomba-
lomba menguasai kami pada pukul satu pagi dini hari itu. Delapan jam telah
terlewati di kereta. Kami   bersembilan yang semula seaktif anak-anak yang
sedang berlompat-lompat kegirangan, kini diam tenang melipat tubuh rapat-rapat
di sudut kursi dengan selimut yang tebalnya tidak sepadan dengan dinginnya
semprotan udara dari air conditioner di badan kereta itu. Setelah delapan jam
antara terlelap dan sadar akhirnya kami sampai di stasiun Semarang. Perasaan
lega sedikit hinggap saat itu, lega karena kami semua bisa merasakan kembali
udara normal dan pergi jauh dari kedinginan yang cukup menyiksa dalam badan
kereta tadi. Perjalanannya belumlah usai, tujuan kami adalah Yogyakarta. Untuk
mencapai Yogyakarta, kami harus mengikuti perjalanan kurang lebih selama dua
jam dari Semarang. Setelah mengumpulkan kembali semua pecahan-pecahan
tubuh saat di kereta tadi dan yakin badan kami sudah menyatu kembali, kami
melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta dengan mini bus tempo dulu berkapasitas
sepuluh penumpang plus seorang supir.
      Seperti yang telah diperkirakan sebelumnya, setelah kurang lebih dua jam
perjalanan -perjalanan antara terlelap dan sadar, antara rasa senang dan rasa
capai karena karena tubuh berhimpitan di dalam bus-, akhirnya kami menginjak
tanah Yogyakarta, itupun setelah supir mini bus kami memberitahu bahwa mini
bus telah melintas di tanah Yogyakarta. Kami semua membuka mata lebih lebar,
walaupun saat itu yang terlihat hanya lampu-lampu dan plang-plang jalan di
dalam gelap. Tapi di bagian paling bawah beberapa poster dan banner jalan,
kami dapat melihat tulisan „YOGYAKARTA‟.
      Saat itu sekitar pukul lima pagi dan tempat pertama yang akan kami
datangi di Yogyakarta adalah asrama putri “Dong Cha”, yang terletak di daerah
Condong Catur Yogyakarta, itulah asal mula nama “Dong Cha” kami pikir. Dong
cha akan menjadi tempat pertama kami akan merasakan sejuknya air di
Yogyakarta dan Yogyakarta merasakan hembusan lelap tidur kami. Leganya...
      Jauh di pagi hari sesaat setelah menginjakkan kaki di Dong Cha, kami
semua sepakat akan mulai menghitung luasnya Djogja –seperti tercetak di kaus
Dagadu- pukul sembilan pagi. Tapi saat jarum pendek jam dinding di ruang
utama Dong Cha menunjuk ke angka sembilan dan jarum panjangnya menunjuk
ke angka enam, kami semua masih di sana dan sibuk dengan persiapan diri
masing-masing. Tepat jam sepuluh, akhirnya kami lepas landas juga.
      Melintasi jalan-jalan kota Yogyakarta mengingatkan kembali pada study
tour di waktu SMU. Saya sudah lupa bentuk dan paras kota Yogya waktu itu,
yang masih lekat sedikit dalam ingatan hanya jalan panjang dan terang
Malioboro. Sekilas jalan-jalan di Yogya tidak jauh berbeda dengan jalan-jalan di
Jakarta, yang berbeda hanyalah latar yang melatarbelakangi jalan tersebut, yaitu
bukanlah gedung-gedung pencakar langit seperti di kawasan segitiga emas –
Thamrin, Sudirman dan Kuningan milik Jakarta-, melainkan langit biru dengan
sepuan putih bergumpal-gumpal. Dalam mobil panther kami saling menunjuk
tempat-tempat yang terlintas dalam ingatan, atau nama-nama yang tiba-tiba saja
muncul saat melihat sesuatu bangunan atau apapun di sepanjang jalan. Hari itu
sangat cerah, matahari terik menyinari Yogyakarta, wajah-wajah khas penduduk
Yogyakarta terterangi sangat jelas, wajah-wajah ibu-ibu dengan bakul di
pundaknya dan lampu-lampu kota dengan bentuk khas.
      Kami sudah sampai di satu tempat khas Yogyakarta yang pertama, yaitu
Taman Sari. Taman Sari adalah tempat permandian para sultan Yogyakarta
pada jaman dahulu. Saat mendekati gerbang masuk Taman Sari, kami disambut
oleh seorang bapak yang kelihatannya adalah seorang yang mengenali Taman
Sari dengan baik, mari kita sebut saja bapak ini seorang tour guide. Bapak ini
terlihat sangat berpengalaman, bahkan menawarkan apakah akan menggunakan
bahasa Indonesia atau bahasa Inggris saat menjelaskan mengenai Taman Sari.
Kami memutuskan agar ia menggunakan bahasa Inggris, karena dalam
rombongan kami terdapat beberapa orang dari India dan Singapura yang tentu
saja akan bengong bila si bapak bercerita dalam bahasa Indonesia. Dari gerbang
masuk kami berjalan sampai mencapai tangga utama yang menurun. Dari titik ini
kita sudah dapat melihat dua buah kolam besar, mungkin seukuran dengan
kolam berenang yang ada di hotel-hotel di Jakarta. Sepanjang bapak
menjelaskan mengenai sejarah Taman Sari, kami menuruni tangga tersebut.
Setelah sampai di dasar tangga, kami telah berada pada suatu area segi empat
yang dibatasi tembok tinggi pada keempat sisinya dan dua buah kolam besar di
tengah area yang tersusun secara horizontal. Di tengah masing-masing kolam
terdapat sebuah air mancur dengan arsitektur jaman dahulu. Menurut bapak,
pada jamannya, air mancur-air mancur tersebut memancurkan air yang berasal
dari gunung berapi di mana airnya tidak pernah berhenti memancur, kemudian si
bapak menunjuk sebuah gunung yang tertutup kabut dan terlihat samar-samar
dari tempat kami berdiri. Pada tembok di sisi kiri dan kanan terdapat pintu yang
bila dimasuki akan membawa kita pada suatu area segi empat lain yang dipagari
oleh tembok tinggi. Pada area tersebut juga terdapat kolam tetapi dengan ukuran
yang lebih kecil, pula dengan air mancur di tengah-tengah kolam. Pada satu sisi
kolam terdapat satu ruangan dengan bale-bale besar menempel ke tembok,
saya sempat melihat sesaji berupa bunga-bunga dan minuman kotak disana.
Konon menurut bapak, kolam ini adalah tempat permandian sultan dengan istri-
istrinya dan ruangan di sisi kiri kolam tersebut adalah ruang ganti pakaian para
istri sultan. Sesaat setelah mendengar kisah itu, salah seorang teman laki-laki
dalam rombongan berkomentar „Enaknya jadi sultan‟. Kami semua tertawa.
      Melihat strukturnya, area permandian Taman Sari ini berada lebih rendah
dibandingkan area pemukiman penduduk yang tepat berada di sekelilingnya.
Mungkin sengaja dibiarkan seperti sedia kala, tanpa ada pengurukkan. Restorasi
yang dilakukan hanya untuk perbaikan gedung asalnya dan penyempurnaan
bentuk-bentuk yang rusak termakan waktu. Di dekat permandian, terdapat suatu
masjid yang bentuknya sangat unik. Masjid ini juga merupakan peninggalan dari
jaman dahulu. Masjid ini terdiri dari dua tingkat. Bentuknya seperti terowongan
yang melingkar dengan area di tengah-tengah lingkaran di isi dengan tangga
yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai di atasnya. Pada lingkaran
terowongan bagian tengah terdapat pintu-pintu yang membawa ke tangga-
tangga tadi. Pada beberapa titik di sepanjang lingkaran bagian luar, terdapat
pintu yang menutupi suati ruangan kecil. Ruangan kecil ini menjadi tempat di
mana para dai berkothbah pada jamannya menurut bapak. Bangunan masjid itu
sudah mengalami banyak kerusakan pada bentuknya. Dinding-dinding dan atap
sudah banyak yang pecah, demikian juga dengan tangga-tangga.            Setelah
mengelilingi dua lantai masjid, kami semua berfoto di lantai bawah di salah satu
sisi dinding masjid yang melingkar. Sepanjang jalan keluar dari masjid, kami
bertemu dengan sekelompok orang dengan kotak sumbangan meminta dana
untuk pembangunan masjid. Beberapa dari kami merogoh kocek dan
memasukkannya ke kotak sumbangan tersebut.
       Selesai mengunjungi Taman Sari, jarum pendek pada jam tangan saya
sudah menunjuk ke pukul setengah dua belas siang. Kami memutuskan untuk
menikmati makan siang dan kami memutuskan memilih gudeg untuk makan
siang pertama di kota pelajar ini.
       Sesudah “recharging” selesai, dua mobil yang kami tumpangi menuju ke
Keraton. Sepanjang jalan menuju keraton, kami melewati beberapa pasar
tradisional. Salah satunya adalah Pasar Burung. Teman kami dari India sangat
menikmati pemandangan di Pasar Burung itu. Selain itu juga, kami melewati
beberapa deretan toko yang menjual aneka ragam topeng. Dari pandangan di
dalam mobil, sepanjang jalan itu kelihatan sangat menarik hati dan memancing
kami untuk mengunjunginya satu persatu. Tetapi karena pertimbangan waktu,
kami diharapkan untuk puas dengan melihatnya dari kejauhan saja.
       Baru kali ini saya melihat pertunjukkan wayang secara live di depan para
dalang dan iringan musiknya. Beberapa dari kami duduk di kursi menikmati
pertunjukan wayang yang berada persis di depan kami. Angin sepoi-sepoi yang
menerpa wajah kami sangat berarti pada hari yang cukup panas di area keraton
yang kering berpasir itu. Terdapat beberapa aula di area keraton. Yang pertama
kali akan kita lihat adalah aula di mana pertunjukkan wajang tadi dilangsungkan.
Bersebelahan dengan aula itu, terdapat aula lainnya yang berisi benda-benda
kuno tempo dulu yang digunakan oleh kerajaan di Yogyakarta. Terdapat
gendang, tandu, tempat duduk raja dan lain sebagainya. Benda-benda itu
kelihatan terawat di sana. Memasuki pintu yang lebih dalam di area keraton,
terdapat bangunan keraton itu sendiri. Bangunan ini berupa rumah dan juga
aula, yang di jaga secara ketat. Kami sebagai pengunjung tidak diperbolehkan
untuk masuk ke dalamnya atau bahkan menginjakkan kaki di ubinnya. Bangunan
keraton terlihat megah, dengan beberapa ornamen emas pada tiang-tiang
penyangga gedung. Lampu-lampu bergaya Belanda juga masih tergantung di
pelafon bangunan. Di posisi yang berhadapan dengan bangunan keraton,
terdapat suatu pintu yang mempertemukan kita dengan suatu gedung lain, yang
sepertinya berfungsi sebagai galeri. Di dalam gedung ini diperlihatkan keramik-
keramik yang sudah berumur puluhan sampai ratusan tahun dalam lemari-lemari
kaca. Yang menarik adalah satu obyek berupa jam dinding yang terbuat dari
keramik berwarna putih, berbentuk bundar dengan dua belas angkanya dalam
huruf jawa. Di teras gedung itu di jual kartu pos khas Yogyakarta dan juga
cerutu. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul setengah tiga sore. Kami
meninggalkan area keraton dengan diikuti oleh penjajah souvenir berbentuk
wayang dan miniatur borobudur dari batu. Para penjajah ini merapatkan langkah
pada kami sepanjang jalan menuju area parkir. Akhirnya salah seorang teman
tak tega juga, dan membeli wayang-wayang itu. Kami bermain dengan wayang-
wayang itu di dalam mobil yang membawa kami ke jalan Malioboro.
      Selama matahari masih bersinar, sepertinya bukan menjadi waktu yang
tepat untuk berbelanja di Malioboro. Kami sampai di Malioboro sekitar pukul 3
sore. Panasnya terik matahari masih sangat terasa di atas kepala kami. Tapi
apalah artinya panas matahari jika melihat tumpukan barang-barang di
Malioboro. Kami memutuskan untuk memasuki area perbelanjaan yang agak ke
dalam untuk menghindari matahari. Sepanjang mata memandang, batik yang
kami temukan. Saya puas sekali menciumi bau batik kali ini setelah sekian lama
tidak menemukannya di Jakarta. Kami semua berbelanja dan menawar,
menawar dan berbelanja. Tempat terakhir yang kami kunjungi di Malioboro untuk
kesempatan kali adalah pasar Beringharjo. Letaknya memang agak ke dalam.
Yang kami incar adalah tas-tas rajutan dari akar atau rotan yang sering kita
temukan di mal-mal Jakarta. Pusat tas-tas ini ternyata ada di tingkat dua gedung
pasar.    Sekalipun   berdesak-desakan,    akhirnya   kami   sampai    di   tujuan.
Wah...semua jenis tas dengan modelnya yang unik-unik ada di sini, bahkan yang
sering kita lihat di mal-mal mewah di Jakarta. Dan mengenai harganya, tidak ada
bandingnya dengan harga di Jakarta. Bisa saya simpulkan, untuk suatu tas
tangan, harganya bisa empat sampai lima kali lipat lebih murah di bandingkan
dengan harga yang di jual di Jakarta. Tidak heran jika Yogyakarta disebut-sebut
sebagai salah satu daerah asal benda-benda tradisional Indonesia. Waktu cepat
berlalu di Malioboro dan uang pun cepat berlalu di Malioboro. Kami tiba di Dong
Cha sekitar pukul setengah tujuh malam.
         Semua pasti menbayangkan bahwa kami akan mandi, kemudian makan
malam dan selanjutnya pergi ke peraduan. Ternyata yang terjadi tidak demikian.
Sekitar pukul setengah delapan malam, kami melaju kembali ke jalan panjang
Malioboro. Beberapa dari kami, termasuk saya menikmati makan malam di
lesehan Malioboro. Ramai sekali malam itu dan suasananya sangat „hidup‟.
Akhirnya salah seorang teman dari Singapura dapat mengeja kata „Malioboro‟
dengan benar saat saya menunjukkan tulisan „Malioboro‟ pada salah satu
dinding gedung di jalan itu. Seusai makan malam, kami berjalan di dua sisi jalan
Malioboro, dan kembali menawar dan berbelanja.
         Malam sudah cukup larut bagi sebagian orang. Pukul sepuluh saat itu,
tetapi bagi pemuda-pemudi Yogyakarta ternyata malam masihlah sangat muda.
Terbukti dari keramaian pada alun-alun keraton. Setidaknya keramaian orang di
alun-alun yang kami lihat dari dalam mobil mengatakan hal itu. Kami
memutuskan untuk mampir di alun-alun. Alun-alun adalah salah satu cerita unik
di Yogyakarta. Alun-alun ini seperti sebuah lapangan sepak bola, tetapi bukan
bergawang besi yang berjaring, melainkan bergawang dua buah pohon besar,
yang nyana sudah beratus-ratus tahun tumbuh di sana. Dua buah pohon ini
terletak di area alun-alun. Dua pohon ini berjenis sama, dengan besar yang
sama dan tumbuh berdampingan satu sama lain. Terdapat jarak antara dua
pohon ini, yaitu sekitar sepuluh meter. Dan menurut cerita, barang siapa dengan
mata tertutup oleh kain hitam, dari suatu jarak tertentu yang tegak lurus terhadap
posisi pohon dan berhasil melewati pohon dengan cara berjalan lurus di antara
pohon, maka semua keinginan orang tersebut akan terkabul. Semua orang di
sana tertawa, dan semakin terbahak saat menyaksikan teman-teman mereka
berjalan semakin condong ke kiri, ke kanan atau bahkan melingkar, bukannya
berjalan lurus. Entah apa yang membuat kita sulit untuk berjalan lurus di alun-
alun itu. Karena penasaran, sebagian besar dari rombongan kami mencobanya
termasuk saya. Kebanyakan dari kami gagal, tetapi salah seorang teman dari
India setelah mencoba tiga kali, akhirnya berhasil melewati pohon tersebut.
Amazing...
      Pukul dua belas tengah malam kami sampai kembali di Dong Cha. Kali
benar-benar akan berakhir di peraduan. Sweet dream sweet dream...

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:26
posted:4/17/2010
language:Indonesian
pages:7
Jun Wang Jun Wang Dr
About Some of Those documents come from internet for research purpose,if you have the copyrights of one of them,tell me by mail vixychina@gmail.com.Thank you!