DAFTAR ISI

Document Sample
DAFTAR ISI Powered By Docstoc
					DAFTAR ISI


Halaman

KATA PENGANTAR ........................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................... ii


BAB I PENDAHULUAN .................................................................. 1


A. Latar Belakang................................................................... 1


B. Tujuan................................................................................ 2


C. Sasaran............................................................................... 2


D. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ......................................... 2


E. Sistematika Penulisan Laporan ........................................... 2


BAB II LANDASAN TEORITIS ........................................................ 4


A. Pengertian dan Tipe-tipe Kegagapan .................................. 4


B. Tanda-tanda Kegagapan ..................................................... 6


C. Faktor-faktor Penyebab Kegagapan.................................... 7


BAB III IDENTIFIKASI KASUS ........................................................ 10


A. Identitas Anak.................................................................... 10
B. Riwayat Anak..................................................................... 11


BAB IV PELASANAAN BIMBINGAN KONSELING ....................... 13


A. Diagnostik Kasus ............................................................... 13


B. Treatment dan Layanan Yang Diberikan............................. 13


C. Hasil Treatment dan Layanan ............................................. 14


BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................... 15


A. Kesimpulan........................................................................ 15


B. Saran.................................................................................. 16


DAFTAR PUSTAKA ............................................................................ 17
I.PENDAHULUAN
       Anak adalah tunas bangsa yang sangat berharga dan menjadi tumpuan
harapan di masa depan. Melihat tunas-tunas itu tumbuh dengan baik, pastilah amat
membahagiakan. Akan tetapi pada kenyataannya banyak ditemukan juga bahwa
tidak semua hal berjalan sesuai dengan harapan dan rencana apalagi ketika mulai
muncul berbagai masalah / gangguan yang tidak diharapkan.
       Salah satu masalah dalam gangguan komunikasi adalah gagap, yaitu cara
bicara yang ditandai dengan adanya pengulangan suara atau perpanjangan suku
kata, atau pengulangan seperti orang gugup atau terhenti sehingga mengganggu
irama alur bicara. Meskipun tidak ada penyebab jelas yang dapat menerangkan
munculnya gagap, faktor keturunan disinyalir memberikan kontribusi yang cukup
besar, yaitu sebesar 71% dalam terjadinya gangguan ini.
       Gagap muncul secara bertahap antara usia 2 hingga 7 tahun, memuncak pada
saat anak berusia 5 tahun, dan biasanya akan membaik dengan sendirinya seiring
bertambahnya usia. Meski begitu, kadang-kadang gangguan gagap menjadi
kronik atau semakin berat, jika penderita mengalami gangguan kejiwaan yang lain
seperti gangguan kepercayaan diri atau percaya diri turun, gangguan perilaku atau
menghindar secara sosial.
       Gangguan gagap juga bisa bertambah berat apabila penderita mendapat
tanggapan atau perlakuan buruk dari lingkungan sosialnya, seperti sering diolokolok
dan dibuat menjadi cemas. Karena itu diperlukan penanganan secara dini
agar gangguan gagap ini tidak terbawa hingga anak menjadi besar. Diperlukan
motivasi dan dedikasi yang tinggi dari penderita maupun orang-orang di
sekitarnya untuk mengatasi gangguan ini.
II. LANDASAN TEORITIS
A. Pengertian dan Tipe-Tipe Kegagapan
        Gagap atau stuttering merupakan salah satu bentuk kelainan bicara yang
ditandai dengan tersendatnya pengucapan kata-kata. Wujudnya secara umum,
tiba-tiba anak kehilangan ide untuk mengucapkan apa yang ingin dia ungkapkan
sehingga suara yang keluar terpatah-patah dan diulang-ulang seperti ”i-i-ibu....”,
sampai tidak mampu mengeluarkan bunyi suara sedikit pun untuk beberapa lama.
Reaksi ini bersamaan dengan kekejangan otot leher dan diafragma yang
disebabkan oleh tidak sempurnanya koordinasi otot-otot bicara. Bila ketegangan
sudah berlaku, akan meluncur serentetan kata-kata sampai ada kekejangan otot
lagi.
        Menurut Tri Gunardi, S.Psi., gagap merupakan suatu gangguan bicara
dimana aliran bicara terganggu tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan
pemanjangan suara, suku kata, kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak
disadari yang mengakibatkan gagalnya produksi suara. Kalau dalam komunikasi,
gagap merupakan salah satu gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan
ujaran.
        Pendapat lainnya menyatakan bahwa gagap adalah masalah gangguan bicara
yang mempengaruhi kepasihan bicara. Mereka yang mengalami kesulitan ini
ditandai pengulangan bagian pertama dari kata yang hendak diucapkannya (seperti
mmmmakan), atau menahan bunyi tunggal ditengah kata (misal begggggini).

        Sebagian orang yang gagap malah lebih parah, tidak ada satu suara pun yang
keluar, tertahan semua di kerongkongan. Gagap atau orang Inggris menyebutnya
stammering merupakan kelainan yang kompleks dan dapat berdampak pada
kemampuan bicara dengan cara yang beragam.

        Ada tiga tipe gagap berdasarkan derajat beratnya gangguan, yaitu :
1. Gagap Perkembangan
        Ini biasa terjadi pada anak-anak usia 2-4 tahun dan remaja yang sedang
memasuki masa pubertas. Kondisi gagap pada periode usia 2-4 tahun
merupakan keadaan yang masih wajar terjadi sebagai bagian dari proses
perkembangan bicara anak. Gagap biasanya muncul karena kontrol emosinya
yang masih rendah dan antusiasme anak untuk mengemukakan ide-idenya
belum dibarengi dengan kematangan alat bicaranya. Sementara pada anak
remaja biasanya disebabkan karena rasa kurang percaya diri dan kecemasan
akibat perubahan fisik, mental dan sosial yang sedang dialaminya.
2. Gagap Sementara/Gagap Ringan
        Anak-anak usia 6-8 tahun sering mengalami gagap sementara, hal ini biasanya
hanya berlangsung sebentar. Umumnya disebabkan oleh faktor psikologis,
misalnya anak mulai memasuki lingkungan baru yang lebih luas, seperti
lingkungan sekolah dan pergaulan, sehingga anak memerlukan waktu untuk
menyesuaikan diri baik secara mental maupun sosial.
3. Gagap Menetap
        Gagap ini dapat terjadi pada anak usia 3-8 tahun. Biasanya lebih banyak
disebabkan oleh faktor kelainan fisiologis alat bicara dan akan terus
berlangsung, kecuali dibantu dengan terapi wicara (speech therapy).

B. Tanda-tanda Kegagapan
        Sebenarnya gagap tidaknya seorang anak sudah bisa dideteksi sejak fase true
speech (bicara benar) di usia 18 bulan. Kegagapan ini akan tampak jelas di usia 45
tahun, karena pada usia ini seharusnya perkembangan bahasa anak sudah baik,
pemahamannya sudah bagus, pembentukan kalimat, bahasa ekspresif, dan
kelancaran bicaranya juga sudah bagus, serta sosialisasi anak pun sudah lebih
luas.
        Kondisi gagap pada anak bervariasi dari yang ringan sampai berat. Pada
gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan
huruf awal b, d, s, dan t. Huruf b, d, s, t adalah huruf yang membutuhkan tenaga
pada saat mengucapkannya dan justru kata-kata yang diawali dengan huruf itulah
yang sering mengalami gangguan pengucapan pada penderita gagap.
        Penderita gagap umumnya juga sering diikuti oleh gerakan berulang pada
bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan. Namanya tics, yang terjadi pada wajah
atau gerak-gerak kecil pada bagian punggung yang berulang dan tak terkendali.
Gerakan ini merupakan representasi perjuangan dari dalam dirinya yang berat
untuk dapat berbicara lancar. Napasnya pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini
dapat terjadi setiap saat dan pada situasi-situasi tertentu seperti harus berbicara di
hadapan orang-orang yang dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
        Sementara pada gagap yang ringan, anak dalam keadaan tertentu dapat
bicara normal dan lancar saat sedang sendiri, berbisik, menyanyi, dan di antara
orang-orang yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya.
Serangan gagap bisa dialami bila ia merasa malu, rendah diri atau terlampau
menyadari kondisi dirinya.
        Secara umum tanda-tanda kegagapan yang harus diwaspadai oleh orangtua
maupun guru menurut Dr. Ehud Yairi, Ph.D. dari Department of Speech and
Hearing Science, Universitas Illinois, Amerika Serikat adalah sebagai berikut :

       • Mengulang-ulang bunyi lebih dari dua kali, seperti i-i-i-ini.
       • Anak tampak tegang dan berjuang untuk bicara (tampak dari otot-otot wajah,
       terutama di sekitar mulut)
       • Nada suara mungkin naik seiring pengulangan
       • Kadang suara anak seperti tercekat, udara atau suara tertahan selama beberapa
       detik.
       • Jika anak mengalami kegagapan dalam 10% lebih pembicaraannya, maka
       kegagapannya dianggap cukup parah.


C. Faktor-faktor Penyebab Kegagapan
        Secara umum gagap disebabkan oleh dua faktor, yaitu faktor fisiologis dan
faktor psikologis. Faktor fisiologis berkaitan dengan masalah genetik atau
gangguan organis. Sedangkan faktor psikologis, pada intinya berkaitan dengan
kecemasan. Berikut penulis uraikan kedua faktor tersebut :
1. Faktor Fisiologis
a. Keturunan atau Genetik
        Sebagian kecil gagap disebabkan faktor keturunan yang berarti anak
membawa kecenderungan kondisi saraf yang membuat mereka rentan sulit
bicara. Bila kedua orangtua sehat dan normal dalam bicara, tetapi ada salah
seorang paman atau kakek yang gagap, maka anak membawa kecenderungan
kerentanan ini.
b. Faktor saraf
        Beberapa ahli dalam ilmu saraf berpendapat, adanya gangguan saraf
menyebabkan gangguan koordinasi dari fungsi motorik untuk bicara.
Gangguan saraf ini bisa disebabkan luka otak akibat proses persalinan yang
sulit. Bisa juga karena kepala anak pernah terbentur, anak pernah kejang, atau
pernah menderita infeksi serius, dan lainnya. Pada saat tersebut, terjadi proses
penurunan kekuatan fungsi saraf secara menyeluruh.
2. Faktor Psikologis
        Gagap bisa terjadi pada situasi-situasi tertentu terutama saat ada kecemasan.
Pada saat bicara dalam situasi tersebut, terjadi spasmodik atau pemblokan
suara terutama pada kata yang berawalan huruf b, d, s, dan t, yang butuh
adanya penekanan. Jadi, gagap di sini bukan gangguan dalam organ bicara,
melainkan wujud kondisi ketidakmatangan emosi yang tercerminkan pada
gangguan berbicara. Biasanya ini dialami oleh anak-anak yang kurang percaya
diri atau memiliki self esteem yang rendah. Berikut beberapa faktor psikologis
yang dapat mempengaruhi kegagapan :
a. Reaksi terhadap stres
        Banyak anak maupun remaja yang mengalami gagap sebagai reaksi terhadap
stres atau tekanan mental yang dirasakannya. Misalnya kondisi menegangkan
ketika diminta berbicara di muka kelas, kondisi-kondisi sosial yang
menegangkan pada remaja yang belum percaya diri, kondisi rumah dan
lingkungan yang membuat anak tertekan, tegang dan takut dapat pula
menghambat anak berbicara secara benar. Misalnya hubungan dalam keluarga
yang kurang harmonis yang ditandai dengan pertengkaran-pertengkaran. Juga
stres akibat perceraian orangtua, pindah rumah, pindah sekolah maupun
perasaan-perasaan tegang lainnya seperti anak yang masih mengompol, sangat
pemalu dan penakut, suka mengisap jempol atau kidal yang dipaksa keras
untuk mengubah kebiasaannya.
b. Target orangtua/lingkungan yang terlalu tinggi
        Harapan orangtua yang terlalu tinggi dan kurang realistik terhadap
perkembangan bicara anak dengan menuntut anak berbicara selancar orang
dewasa. Sehingga anak yang baru berumur 2 tahun digembleng agar bisa
mengucapkan sekian banyak kata dan kalimat dengan fasih. Dampaknya anak
justru merasa cemas dan tertekan. Untuk anak yang sudah sekolah dan remaja,
target orangtua yang terlalu tinggi terhadap prestasi sekolah yang harus
dicapai anak, sementara kemampuan yang dimiliki anak tidak memadai sering
pula menjadi faktor pencetus gagap ini.
c. Ekspresi dari konflik atau ketegangan
        Emosi yang ditekan, kecemasan akibat perubahan fisik, sosial maupun
psikologis pada remaja yang sedang mengalami pubertas (akil baliq) dan rasa
percaya dirinya sedang berkembang, konflik yang tidak terselesaikan sehingga
mengakibatkan kecemasan di bawah sadar anak maupun ketegangan yang
sedang dialaminya sering berperan bagi munculnya kondisi gagap ini.

BAB IV
PELAKSANAAN BIMBINGAN KONSELING


A. Diagnostik Kasus
Dari observasi yang dilakukan, kasus ini memang mempunyai masalah
kegagapan. Ia sering mengulang-ulang kata dan dan kesulitan mengucapkan
huruf-huruf tertentu ketika berbicara.

B.
Treatment dan Layanan Yang Diberikan
Berikut adalah beberapa treatment / layanan yang diberikan dalam
menangani kasus ini :

a.
Menyediakan waktu khusus selama beberapa menit sebelum anak pulang
sekolah untuk untuk melatih kelancaran berbicara anak dalam keadaan santai
dan suasana rileks, dorong agar anak mau bicara seakan-akan tidak ada
masalah;
b.
Ketika sedang berbicara dengan anak, menggunakan bahasa yang sederhana,
kalimat yang pendek, dan sedikit jeda sebelum merespon anak;
c.
Menatap mata anak saat berbicara dengannya, jangan melihat kearah lain dan
jangan pula menunjukkan kekecewaan kita didepan anak.
d.
Saat bicara dengan anak, selalu diusahakan dalam posisi sejajar, mata saling
berhadapan, yang dapat dilakukan dengan cara jongkok atau berlutut. Hal ini
memudahkan anak untuk bicara dengan kita. Beri perhatian pada apa yg ia
utarakan.
e.
Ketika anak berbicara, mendengarkan apa yang dikatakan oleh anak tanpa
menginterupsi atau menyelesaikan kalimat untuknya;
f.
Pada saat anak berbicara gagap, tidak menyuruh anak untuk mengulangi katakatanya,
tetapi kita yang mengulangi apa yang dikatakannya;
g.
Menunggu sampai anak selesai bicara saat ia mengungkapkan sesuatu,
kemudian memberikan tanggapan atas apa yang ia ceritakan, bukan tentang
cara bicaranya.
h. Tidak memaksa anak berbicara di depan kelas jika anak tidak mau;
i. Tidak mengkritik anak dengan ucapan seperti ”pelan-pelan saja” atau
semacamnya. Komentar semacam ini, walaupun diucapkan dengan niat baik,
hanya akan membuat anak merasa semakin tertekan;
j. Menjadi contoh yang baik bagi anak dengan selalu berbicara dengan jelas;

k.
Menjaga anak dari ejekan dan tertawaan orang lain atau temannya;
l.
Mengajari anak tentang pemecahan masalah tanpa kekerasan fisik dengan
metode mendongeng dan bermain peran.
m.
Menyarankan orangtua agar membawa anaknya kepada ahli terapi atau dokter
anak untuk penanganan yang lebih memadai.
C.
Hasil Treatment dan Layanan
Mengatasi masalah kegagapan pada anak membutuhkan kesabaran dan
kedisiplinan serta proses yang tidak sebentar. Dari serangkaian treatment /
bimbingan yang diberikan, anak sudah menunjukkan suatu perubahan positif,
meskipun memang kadang-kadang masih menunjukkan kegagapan tetapi sudah
jauh berkurang frekwensinya.
KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
        Gagap merupakan suatu gangguan bicara dimana aliran bicara terganggu
tanpa disadari dengan adanya pengulangan dan pemanjangan suara, suku kata,
kata atau frasa, serta jeda atau hambatan tak disadari yang mengakibatkan
gagalnya produksi suara. Kalau dalam komunikasi, gagap merupakan salah satu
gangguan irama kelancaran (disritmia) dalam tatanan ujaran.
        Kondisi gagap pada anak bervariasi dari yang ringan sampai berat. Pada
gagap yang berat, selain sulit atau bahkan tak mampu mengucapkan kata dengan
huruf awal b, d, s, dan t, juga sering kali diikuti oleh gerakan berulang pada
bagian tubuh yang tak bisa dia kendalikan yang terjadi pada wajah atau gerakgerak
kecil pada bagian punggung yang berulang dan tak terkendali. Napasnya
pun relatif lebih cepat. Serangan gagap ini dapat terjadi setiap saat dan pada
situasi-siatuasi tertentu seperti harus berbicara di hadapan orang-orang yang
dianggapnya memiliki kelebihan daripada dirinya.
        Sementara pada gagap yang ringan, anak dalam keadaan tertentu dapat
bicara normal dan lancar saat sedang sendiri, berbisik, menyanyi, dan di antara
orang-orang yang dia anggap lebih rendah posisi atau usianya dibanding dirinya.
Serangan gagap bisa dialami bila ia merasa malu, rendah diri atau terlampau
menyadari kondisi dirinya.
        Gagap tidak akan berlanjut sampai dewasa bila anak diterapi dengan baik
dan segera. Selain itu juga dibutuhkan dukungan dari lingkungan keluarga dan
sekitarnya. Untuk masalah kecemasannya bisa dikonsultasikan ke psikolog,
masalah wicaranya ke terapis wicara, dan masalah performance/kinerjanya ke
terapis okupasi.

B.
Saran
Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan baik oleh orangtua ataupun guru
dalam menghadapi anak yang gagap :

•
Menjadi contoh penutur yang baik yaitu dengan berbicara jelas, perlahan,
tidak memburu-buru diri sendiri.
•
Tidak memberi label/cap apapun tentang cara bicara anak (seperti "gagap",
"tidak lancar").
•
Tidak memberi perhatian khusus terhadap pengulangan-pengulangan yang
dilakukan anak.
•
Tidak mengatakan "Pelan-pelan bicaranya, Sayang" atau "Tenang, Nak...
Tenang" pada anak.
•
Beri anak kesempatan seluas-luasnya untuk bicara tanpa interupsi.
•
Tidak membantu mengucapkan kata-kata untuk anak ketika ia sedang bicara,
juga melarang orang lain melakukan hal itu untuk anak.
•
Mencegah orang lain (terutama saudaranya) mengejek atau meniru-niru cara
bicara anak.
•
Sering-sering menyediakan waktu khusus untuk mengobrol, membacakan
buku, atau bermain dengan anak.
DAFTAR PUSTAKA


Anonim. Artikel: Menangani Gagap Pada Anak. http://www.e-smartschool.
com/uot/UOT0010045.asp.htm

Anonim. 25 Oktober 2001. Artikel: Bila Si Kecil Gagap. http://cyberwoman.
cbn.net.id/cbprtl/cyberwoman/

Anonim. 17 Maret 2008. Artikel : Gagap Pada Anak, TipsUntuk Orang Tua.
http://blog.bangjo.com/

Anonim. 08 Januari 2009. Artikel : Anak Gagap Jangan Digertak. http://www.
diskes.jabarprov.go.id/download.php?title=Anak%20Gagap%20Jangan%20
Digertak%20&source=data/artikel/attachment/200918161936.doc

Anonim. 10 November 2002. Artikel : Gagap Sejak Masuk Playgroup.
http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2002/11/10/cermin.html

Nasyith Majidi. 2005. Artikel : Belum Lancar Bicara Atau Gagap? http://www.
parentsguide.co.id/

Singgih D. Gunarsa, Dra. 1978. Psikologi Anak Bermasalah. Jakarta : BPK
Gunung Mulia.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:193
posted:4/16/2010
language:Indonesian
pages:12