copyan perilaku hidup sehat by sulato

VIEWS: 1,425 PAGES: 59

More Info
									                                    BAB I

                              PENDAHULUAN




1.1 Latar Belakang

      Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang

   disebabkan oleh empat serotipe virus dengue dan ditandai dengan empat

   gejala klinis utama yaitu demam yang tinggi, manifestasi perdarahan,

   hepatomegali, dan tanda-tanda kegagalan sirkulasi sampai timbulnya renjatan

   (Sindrome Renjatan Dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat

   menyebabkan kematian.(Soegeng Soegijanto, 2001)

      Program pencegahan DBD yang tepat guna harus dilaksanakan secara

   integral mencakup surveilance laboratory based, penyuluhan dan pendidikan

   pengelolaan penderita bagi dokter dan para medis, dan pemberantasan sarang

   nyamuk dengan peran serta masyarakat.(Sri Rejeki, 2004) Banyak faktor yang

   mempengaruhi kejadian penyakit DBD, antara lain:

   1. Faktor hospes (host), yaitu kerentanan (susceptability) dan respon imun.

   2. Faktor lingkungan (environment), yaitu kondisi geografis (ketinggian dari

      permukaan laut, curah hujan, angin, kelembaban, musim), kondisi

      demografis (kepadatan, mobilitas, perilaku, adat istiadat, sosial ekonomi,

      penduduk).

   3. Faktor virus (agent), yaitu virus dengue serotipe 1, 2, 3 dan 4 yang

      diperantarai oleh nyamuk Aedes aegepti.(Sujoko Hariadi, Soegeng Soegianto,

      2001)
   Penyakit DBD pada saat ini masih merupakan salah satu masalah

kesehatan di Indonesia yang penderitanya terus meningkat serta semakin luas

penyebarannya. Hal ini karena masih tersebarnya nyamuk Aedes aegepti

(penular penyakit DBD) diseluruh pelosok tanah air, kecuali pada daerah

dengan ketinggian lebih dari 1000 meter di atas permukaan laut.(Sri Rejeki,

2004)   Untuk memberantas penyakit ini diperlukan pembinaan peran serta

masyarakat yang terus menerus dalam memberantas nyamuk dengan cara

metode 3M Plus yaitu:

1. Menguras tempat penyimpanan air (TPA).

2. Menutup TPA dan mengubur/menyingkirkan barang bekas yang dapat

   menampung air hujan dan membubuhkan larvasida.

3. Memelihara ikan pemakan jentik dan mencegah gigitan nyamuk.

   Cara pencegahan tersebut juga dikenal dengan istilah PSN (Pemberantasan

Sarang Nyamuk). (Sri Rejeki, 2004)

   Upaya memotivasi masyarakat untuk melaksanakan 3M plus secara terus-

menerus telah dan akan dilakukan pemerintah melalui kerjasama lintas

program dan lintas sektoral termasuk tokoh masyarakat dan swasta. Namun

demikian penyakit ini masih terus-menerus endemis, dan angka kesakitan

cenderung meningkat di berbagai daerah. Oleh karena itu upaya untuk

membatasi angka kematian ini sangat penting (Sri Rejeki, 2004).

   Pada kurun waktu 6 bulan terakhir, terjadi kejadian luar biasa DBD

dengan meninggalnya seorang penderita DBD di desa Seketi kecamatan

Balongbendo kabupaten Sidoarjo. Oleh karena hal inilah, yang mendorong
   kami untuk melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Perilaku (Hidup)

   Sehat Masyarakat Terhadap Timbulnya Kejadian Demam Berdarah Dengue

   (DBD) di Desa Seketi Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo”.



1.2 Perumusan Masalah

      Dari apa yang telah diuraikan di atas dapat dirumuskan masalah

   penelitian, sebagai berikut:

   a. Bagaimana hubungan tingkat pendidikan masyarakat terhadap kejadian

      Demam Berdarah Dengue?

   b. Bagaimana hubungan keadaan sosial ekonomi masyarakat terhadap

      kejadian Demam Berdarah Dengue?

   c. Bagaimana tingkat pemahaman masyarakat terhadap penyakit Demam

      Berdarah Dengue?

   d. Upaya-upaya apa saja yang telah dilaksanakan masyarakat, dalam usaha

      untuk mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue?

   e. Upaya-upaya apa saja yang   telah dilakukan petugas kesehatan dalam

      mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue?



1.3 Tujuan Penelitian

   A. Tujuan Umum

      Untuk mengetahui hubungan perilaku (hidup) sehat masyarakat terhadap

      timbulnya kejadian Demam Berdarah Dengue (DBD) di desa Seketi

      kecamatan Balongbendo kabupaten Sidoarjo.
   B. Tujuan Khusus

      a. Untuk mengetahui hubungan tingkat pendidikan masyarakat terhadap

         kejadian Demam Berdarah Dengue.

      b. Untuk mengetahui hubungan keadaan sosial ekonomi masyarakat

         terhadap kejadian Demam Berdarah Dengue.

      c. Untuk mengetahui tingkat pemahaman masyarakat terhadap penyakit

         Demam Berdarah Dengue.

      d. Untuk mengetahui upaya apa saja yang telah dilakukan masyarakat

         dalam mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue.

      e. Untuk mengetahui upaya apa saja yang telah dilakukan petugas

         kesehatan dalam mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue.



1.4 Manfaat Penelitian

   A. Bagi Masyarakat

      Dapat menambah informasi dan pengetahuan tentang Demam Berdarah

      Dengue, untuk bisa meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit Demam

      Berdarah Dengue.

   B. Bagi Peneliti

      Peneliti dapat memahami lebih dalam tentang penyebaran kasus Demam

      Berdarah Dengue yang berkaitan dengan perilaku hidup masyarakat.
C. Bagi Instansi Terkait

   Merupakan suatu masukan untuk memecahkan masalah terutama pada

   program pemberantasan penyakit Demam Berdarah Dengue di daerah

   penelitian.
                                    BAB II

                           TINJAUAN PUSTAKA




2.1 Batasan

      Demam Berdarah Dengue atau dengue hemorrhagic fever (DHF) ialah

   penyakit demam akut yang terutama menyerang anak-anak disertai dengan

   manifestasi perdarahan dan bertendensi menimbulkan sok yang dapat

   menyebabkan kematian.

      Penyebab penyakit ini ialah virus dengue yang sampai sekarang dikenal

   ada 4 type (type 1, 2, 3 dan 4) yang termasuk dalam grup B Arthropod Bone

   Viruses (Arbovirus). Keempat type virus tersebut telah ditemukan di berbagai

   daerah di Indonesia antara lain Jakarta dan Yogyakarta.

      Penyakit ini ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti dan

   mungkin juga Aedes albopticus. Kedua jenis ini terdapat hampir di seluruh

   pelosok Indonesia, kecuali di tempat-tempat dengan ketinggian lebih dari

   1000 meter di atas permukaan air laut.

      Kasus DHF pertama kali di Indonesia dilaporkan di Surabaya pada tahun

   1968, akan tetapi konfirmasi serologis baru didapatkan pada tahun 1972.

   Sejak itu penyakit ini menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun

   1983 seluruh Propinsi di Indonesia kecuali Timor-Timor telah terjangkit

   penyakit ini.

      Jumlah penderita menunjukkan kecenderungan naik dari tahun ke

   tahun. Penyakit ini banyak terjadi di kota-kota yang padat penduduknya, akan
   tetapi dalam beberapa tahun terakhir ini Demam Berdarah Dengue juga

   berjangkit di daerah pedesaan (rural). Penyebaran penyakit biasanya dimulai

   dari sumber-sumber penularan di kota, kemudian menjalar ke daerah-daerah

   pedesaan. Makin ramai lalu lintas manusia di suatu daerah makin besar pula

   kemungkinan penyebaran penyakit ini.(Soegeng Soegijanto, 1999)



2.2 Etiologi

       Virus Dengue dahulu termasuk group B Artropod Borne Virus

    (Arbovirus), adalah virus RNA, genus flavivirus, termasuk famili

    Flaviviridae. Sampai saat ini dikenal ada 4 serotipe: DEN-1, DEN-2, DEN-3,

    dan DEN-4. Infeksi dengan salah satu serotipe akan menimbulkan antibodi

    protektif seumur hidup untuk serotipe yang bersangkutan, tetapi tidak untuk

    serotipe yang lain. Keempat serotipe virus tersebut di ketemukan di berbagai

    daerah di Indonesia. Serotipe DEN-3 merupakan serotipe yang dominan di

    Indonesia dan ada hubungannya dengan kasus-kasus berat pada saat terjadi

    Kejadian Luar Biasa.(Soegeng Soegijanto,1999)



2.3 Morfologi

       Masa pertumbuhan dan perkembangan nyamuk Aedes aegypti dapat

    dibagi menjadi 4 tahap, yaitu: telur, larva, pupa dan dewasa, sehingga

    termasuk metamorfosis sempurna.
A. Telur

  Telur nyamuk ini berbentuk ellips atau oval memanjang, warna hitam

  dengan ukuran 0,5-0,8 mm, permukaannya polygonal, tidak memiliki

  alat pelampung dan cangkoknya mengandung chitine.

B. Larva

  Bagian kepala dan thorax besar, antena hampir tak berambut kecuali

  rambut tunggal yang pendek. Ada sepasang kait dari chitine di setiap sisi

  thorak. Setiap sisi pada 8 segmen perut berbentuk bulu-bulu membentuk

  jajaran garis. Larva ini tubuhnya langsing dan bergerak sangat lincah,

  waktu istirahat membentuk sudut hampir tegak lurus dengan bidang

  permukaan air.

C. Pupa

  Bentuk tubuhnya bengkok dengan bagian kepala sampai dada lebih besar

  bila dibandingkan dengan perutnya, sehingga seperti tanda baca ”koma”.

  Pada bagian punggung dada terdapat corong pernafasan seperti trompet.

  Pada ruas perut ke-8 terdapat sepasang alat pengayuh yang berguna untuk

  berenang. Gerakannya lebih lincah daripada larva. Waktu istirahat, posisi

  pupa sejajar dengan bidang permukaan air.

D. Dewasa

  Tubuhnya tersusun dari 3 bagian, kepala, dada dan perut. Pada kepala

  terdapat sepasang mata majemuk dan antena yang berbulu. Alat mulut

  nyamuk betina tipe penusuk-penghisap dan termasuk lebih menyukai

  manusia, sedang nyamuk jantan bagian mulutnya lebih merah sehingga
      tidak mampu menembus kulit manusia, karena itu tergolong lebih

      menyukai cairan tumbuh-tumbuhan. Dadanya tersusun atas 3 ruas, setiap

      ruas terdapat sepasang kaki yang terdiri dari paha, betis dan tampak tarsus.

      Pada bagian perut terdiri dari 8 ruas dengan bintik-bintik putih.

      Daur hidup nyamuk ini, sekali bertelur maksimum 37, rata-rata 20,5-8,3,

   telurnya disimpan tidak hanya di permukaan air, tapi juga pada pinggiran di

   atas permukaan air. Telurnya resisten terhadap lingkungan yang tidak baik

   dan akan menetas setelah beberapa bulan lamanya di tempat yang

   kering.(Soegeng Soegijanto,1999)



2.4 Siklus Hidup

      Seperti halnya pada semua nyamuk, perkembangan dari telur sampai

   menjadi nyamuk dewasa melalui metamorfosa. Perkembangan telur menjadi

   jentik rata-rata memerlukan waktu 2-3 hari, dari kepompong hingga menetas

   menjadi nyamuk dewasa diperlukan waktu antara 7-14 hari. Perkembangan

   dari telur menjadi kepompong berlangsung di dalam air.

       Segera setelah keluar dari kepompong, nyamuk dewasa siap untuk

   menghisap darah dan melakukan perkawinan. Darah yang dihisap nyamuk

   betina diperlukan untuk mematangkan telurnya sehingga dapat dibuahi oleh

   benih jantan.

      Sepanjang hidupnya nyamuk betina cukup sekali melakukan perkawinan

   guna membuahi telurnya. Di laboratorium nyamuk dewasa dapat hidup

   beberapa bulan. Sifat nyamuk sebagai berikut:
a. Sangat domestik, senang tinggal di ruangan, senang beristirahat di kamar

  gelap dan lembab serta senang hinggap pada benda-benda bergantung

  seperti pakaian, kelambu, dan lain-lain.

b. Jarak terbang rata-rata 40-100 m.

c. Athropophylic, khususnya nyamuk betina, yang berarti lebih menyukai

  darah manusia daripada darah binatang. Menggigit pada pagi, siang dan

  sore hari. Secara diam-diam nyamuk ini mencari mangsanya dan mengigit

  berulang kali, yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam

  waktu singkat. Hal ini disebabkan Aedes aegypti sangat sensitif dan

  mudah terganggu. Tempat perindukkan nyamuk Aedes aegypti adalah di

  air misalnya seperti berikut :

    Tempat penampungan air yang bersifat tetap pada umumnya untuk

       keperluan rumah tangga seperti bak mandi, tempayan, vas bunga dan

       lainnya.

      Barang-barang bekas yang terisi air hujan, kaleng-kaleng bekas, botol

       bekas, ban bekas, dan lain-lain.

      Tempat perindukan alami seperti bekas potongan bambu, lubang

       pagar, pelepah daun, lubang pohon yang kesemuanya terisi air.


   Berbeda dengan Aedes albopictus, nyamuk Aedes aegypti lebih

menyukai perindukan dalam rumah daripada di luar rumah. Aedes albopictus

kebanyakan hidup dan bertelur di kebun atau hutan terlindung.


   Aktifitas nyamuk Aedes aegypti menurut Soedarto, pada temperatur

dibawah 17°C Aedes aegypti tidak aktif menghisap darah. Kelembapan
   optimum bagi kehidupan Aedes aegypti adalah 80% dan suhu udara optimum

   antara 28-29°C. Pada suhu yang tinggi meningkatkan metabolisme tubuh,

   sehingga masa inkubasi ekstrinsik menjadi lebih pendek. Diperkirakan pada

   musim hujan frekuensi gigitan akan meningkat, karena kelembaban yang

   tinggi memungkinkan dapat memperpanjang umur nyamuk. Untuk daerah

   yang beriklim dingin, Aedes aegypti tidak aktif mengigit. Aedes aegypti

   mengigit pada pagi, siang dan sore hari.(Soegeng Soegijanto,1999)




2.5 Cara Penularan

      Penyakit ini ditularkan lewat gigitan nyamuk Aedes. Ada beberapa

   spesies: Aedes aegypti, Aedes albopticus, Aedes polynesiensis dan Aedes

   scutelarris yang dapat berlaku sebagai vektor. Nyamuk Aedes dapat

   menularkan virus Dengue kepada manusia, baik secara langsung (setelah

   menggigit orang yang sedang dalam fase viremia), maupun secara tidak

   langsung, setelah melewati masa inkubasi dalam tubuhnya selama 8-10 hari

   (extrinsic incubation period). Masa inkubasi di dalam tubuh manusia (intinsic

   incubation period) antara 4-6 hari. Manusia infektif hanya pada saat viremia

   saja (5-7 hari), tetapi nyamuk dapat infektif selama hidupnya.(Soegeng

   Soegijanto,1999)
2.6 Epidemiologi

      Menurut riwayatnya, pada tahun 1779, David Bylon pernah melaporkan

   terjadinya letusan Demam Dengue (Dengue Fever/DF) di Batavia. Penyakit

   ini disebut penyakit demam 5 hari yang dikenal dengan knee trouble atau

   knokkel koortz. Wabah Demam Dengue terjadi pada tahun 1871-1873 di

   Zanzibar kemudian di pantai Arab dan terus menyebar ke Samudra India.

      Sekitar 2,5 milyar orang (2/5 penduduk sedunia) mempunyai resiko untuk

   terkena infeksi virus dengue. Lebih dari 100 negara tropis dan subtropis

   pernah mengalami letusan Demam Dengue dan Demam Berdarah Dengue,

   lebih kurang 500.000 kasus setiap tahun dirawat di rumah sakit dengan

   ribuan orang diantaranya meninggal dunia. Letusan/wabah penyakit ini

   mempunyai dampak pada bidang sosial-ekonomi termasuk kerugian sebagai

   dampak dari berkurangnya devisa dari sektor pariwisata.(Sri rezeki, 2004)

      Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan dan penyebaran kasus

   DBD sangat komplek, yaitu: (Aryatmo, 2005)

   a. Pertumbuhan penduduk yang tinggi.

   b. Urbanisasi yang tidak terencana dan terkendali.

   c. Tidak adanya control vektor nyamuk yang efektif di daerah endemis.

   d. Peningkatan sarana transportasi.


      Vektor utama dengue di Indonesia adalah nyamuk Aedes aegypti,

   disamping pula Aedes albopticus. Vektor ini bersarang di bejana-bejana yang

   berisi air jernih dan tawar seperti bak mandi, drum penampung air, kaleng

   bekas dan lain-lainnya.
   Adanya vektor tersebut berhubungan erat dengan beberapa faktor,

antara lain: (Aryatmo, 2005)

a. Sanitasi lingkungan yang kurang baik.

b. Penyediaan air bersih yang langka.

c. Kebiasaan masyarakat menampung air bersih untuk keperluan sehari-hari.

   Daerah yang terjangkit DHF adalah wilayah yang terdapat penduduknya,

hal ini dikarenakan: (Aryatmo, 2005)

a. Antar rumah jaraknya berdekatan, yang memungkinkan penularan karena

   jarak terbang Aedes aegypti 40-100 meter.

b. Aedes aegypti betina mempunyai kebiasaan menggigit berulang (multiple

   biters), yaitu menggigit beberapa orang secara bergantian dalam waktu

   singkat.

   Kasus DHF cenderung meningkat pada musim hujan, hal ini

kemungkinan disebabkan oleh: (Soegeng, Soegijanto, 2006)

a. Perubahan musim mempengaruhi frekuensi gigitan nyamuk: karena

   pengaruh musim hujan, puncak jumlah gigitan terjadi pada siang dan sore

   hari.

b. Perubahan musim mempengaruhi manusia sendiri dalam sikapnya

   terhadap gigitan nyamuk, misalnya dengan lebih banyak berdiam di rumah

   selama musim hujan.
2.7 Patogenesis

      Virus merupakan mikroorganisme yang hanya dapat hidup di dalam sel

   hidup. Maka demi kelangsungan hidupnya, virus harus bersaing dengan sel

   manusia sebagai penjamu (host) terutama dalam mencukupi dalam

   mencukupi kebutuhan akan protein. Persaingan tersebut sangat bergantung

   pada daya tahan penjamu, bila daya tahan baik maka akan terjadi

   penyembuhan dan timbul antibodi, namun bila daya tahan rendah maka

   perjalanan penyakit menjadi makin berat dan bahkan dapat menimbulkan

   kematian.

      Patogenesis   terjadinya   sok   berdasarkan   hipotesis   the   secondary

   heterologous infection yang dirumuskan oleh suvatte tahun 1977. Sebagai

   akibat infeksi sekunder oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang

   pasien, respon antibody anamnestik yang akan        terjadi   dalam    waktu

   beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan

   menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi

   virus dengue terjadi juga dalam limfosit yang bertranformasi dengan akibat

   terdapatnya virus dalam jumlah banyak. Hal ini akan mengakibatkan

   terbentuknya virus komplek antigen-antibodi yang selanjutnya akan

   mengakibatkan aktivasi system komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat

   aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding

   pembuluh darah dan merembesnya plasma dari ruang intravascular ke ruang

   ekstravascular. Pada pasien dengan sok berat, volume plasma dapat berkurang

   sampai lebih dari 30% dan berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan
plasma ini terbukti dengan adanya peningkatan kadar hematokrit,

natrium dan terdapatnya cairan di rongga serosa (efusi pleura, ascites). Syok

yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan menyebabkan asidosis dan

anoksia yang dapat berakhir fatal, oleh karena itu pengobatan syok sangat

penting guna mencegah kematian.

   Sebagai tanggapan terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-

antibodi selain mengaktivasi sistem komplemen.          juga       menyebabkan

agregasi trombosit dan mengaktivasi sistem koagulasi melalui kerusakan sel

endotel pembuluh darah. Kedua faktor tersebut akan menyebabkan

perdarahan pada DBD. Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari

perlekatan    kompleks     antigen-antibodi    pada    membran        trombosit

mengakibatkan pengeluaran ADP (Adenosine DiPhosphate), sehingga

trombosit    ini   akan   menyebabkan    pengeluaran    platelet     factor   III

mengakibatkan      koagulopati   konsumtif    (KID/Koagulasi       Intravascluar

Disseminata), ditandai dengan peningkatan FDP (Fibrinogen Degradation

Product) sehingga terjadi penurunan faktor pembekuan.

   Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan gangguan fungsi trombosit

sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup banyak, tidak berfungsi

baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan menyebabakan aktivasi faktor

Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kini sehingga memacu peningkatan

permeabilitas kapiler yang dapat mempercepat terjadinya sok. Jadi

perdarahan masih pada DBD diakibatkan oleh trombositopenia, penurunan

faktor pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi trombosit, dan kerusakan
    dinding endotel kapiler. Akhirnya, perdarahan akan memperberat sok yang

    terjadi. (Depkes RI, 2004, Soegeng Soegijanto, 2006)



2.8 Kriteria Diagnosis

       Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut WHO

    tahun 1997 terdiri dari kriteria klinis dan laboratories. Penggunaan kriteria ini

    dimaksudkan untuk mengurangi diagnosis yang berlebihan (overdiagnosis).

    A. Kriteria Klinis:

       Demam tinggi mendadak, tanpa sebab jelas, berlangsung terus menerus

       selama 2-7 hari.

       a. Terdapat manifestasi perdarahan ditandai dengan:

                 Uji tourniquet positif.

                 Petechiae, ekimosis, puerpura.

                 Perdarahan mukosa, epistaksis, perdarahan gusi.

                 Hematemesis dan atau melena.

       b. Pembesaran hati

       c. Sok, ditandai nadi cepat dan lemah serta penurunan tekanan nadi ,

            hipotensi, kaki dan tangan dingin , kulit lembab dan pasien tampak

            gelisah.

    B. Kriteria Laboratories:

               Trombositopenia (100.000/uI atau kurang)

               Hemokonsentrasi, dapat dilihat dari peningkatan hematokrit 20% atau

                lebih.
      Dua kriteria pertama ditambah trombositopenia dan hemokonsentrasi

   atau peningkatan hematokrit cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD.

   Efusi pleura dan atau hipoalbumnemia dapat memperkuat diagnosis terutama

   pada pasien anemia dan atau terjadi perdarahan. Pada kasus sok, peningkatan

   hemotokrit dan adanya trombositopenia mendukung diagnosis DBD.

   Derajat penyakit Demam Berdarah Dengue dapat diklasifikasikan dalam

   4 derajat: (WHO,1997)

   1. Derajat I: demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi

      perdarahan ialah uji tourniquet.

   2. Derajat II: Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau

      perdarahan lainnya.

   3. Derajat III: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lambat ,

      tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang) atau hipotensi, sianosis di

      sekitar mulut, kaki dingin dan lembab dan tampak gelisah.

   4. Derajat IV: sok berat, nadi tidak dapat diraba dan tekanan darah tidak

      terukur.



2.9 Penatalaksanaan

      Berdasarkan kenyataan di masyarakat penatalaksanaan kasus DBD

   dapat dilakukan dengan berobat jalan atau dianjurkan rawat tinggal. Bila

   penderita hanya mengeluh panas, tetapi keinginan makan dan minum masih

   baik, maka tatalaksana dapat diberikan dirumah. Untuk mengatasi panas

   tinggi diperkenankan memberikan obat panas paracetamol 10-15 mg/kgBB
setiap 3-4 jam diulang jika gejala panas masih diatas 38,5°C. Obat

panas salisilat tidak dianjurkan karena mempunyai resiko terjadinya

penyulit perdarahan dan asidosis. Sebagian besar kasus DBD yang berobat

jalan adalah kasus DBD yang menunjukkan manifestasi panas pada hari

pertama dan hari kedua tanpa menunjukkan penyulit            lainnya. Apabila

penderita   DBD ini     menunjukkan manifestasi penyulit hipertermi dan

konvulsi sebaiknya kasus ini dianjurkan untuk dirawat inap.

   Pada hari ke 3, 4 dan 5 panas dianjurkan rawat inap karena penderita

ini mempunyai resiko terjadinya sok. Untuk mengantisipasi kejadian sok

tersebut, penderita ini disarankan diinfus cairan kristaloid. Pada saat fase

panas penderita dianjurkan banyak air minum buah atau oralit yang biasa

dipakai untuk mengatasi diare.

Apabila hematokrit meningkat lebih dari 20% dari harga normal merupakan

indikator adanya kebocoran plasma dan sebaiknya penderita dirawat di ruang

observasi di pusat rehidrasi selama kurun waktu 12-24 jam.

   Volume dan macam cairan pengganti pemderita DBD sama seperti pada

kasus diare dengan dehidrasi sedang (6-10% kekurangan cairan) tetapi tetesan

harus hati-hati. Kebutuhan cairan sebaiknya diberikan dalam waktu kurun

waktu 24-48 jam saat kebocoran plasma terjadi.

   Dengue Shock Syndrome termasuk kegawatan yang membutuhkan

penanganan secara cepat dan perlu memperoleh cairan pengganti secara

cepat. Biasanya dijumpai
kelainan asam basa dan elektrolit (hiponatremi). Dalam hal ini perlu

difikirkan kemungkinan dapat terjadi DIC. Terkumpulnya asam dalam darah

mendorong terjadinya DIC       yang    dapat    menyebabkan      terjadinya

perdarahan hebat dan renjatan yang sukar diatasi. Penggantian secara

cepat untuk plasma yang hilang dapat digunakan larutan garam isotonic

dengan jumlah 10-20 ml/kg/1 jam.

   Pada kasus yang sangat berat (derajad IV) dapat diberikan bolus 10 ml/kg

(1 atau 2X). Jika syok berlangsung terus dengan hematokrit yang tinggi,

larutan koloid dapat diberikan dengan jumlah 10-20 ml/kg/jam.

   Pada umumnya 48 jam sesudah terjadi kebocoran atau renjatan tidak

lagi membutuhkan cairan. Reabsorsi plasma yang telah keluar dari

pembuluh darah membutuhkan waktu 1-2 hari sesudahnya. Jika pemberian

cairan berlebihan dapat terjadi hipervolemi, kegagalan jantung dan edema

paru. Dalam hal ini hematokrit yang menurun pada saat reabsorbsi jangan

diinterpretasikan sebagai perdarahan dalam organ. Pada fase reabsorbsi ini

tekanan nadi kuat (20 mmHg) dan produksi urine cukup dengan tanda-tanda

vital yang baik.

   Semua penderita dengan renjatan adalah suatu keadaan gawat darurat dan

keadaan gawat darurat sebaiknya diberikan oksigen sebagai terapi suportif.

Penderita yang menunjukkan gejala perdarahan seperti hematemesis dan

melena diindikasikan untuk memperoleh tranfusi darah. Darah segar sangat

berguna mengganti volume massa sel darah merah agar menjadi normal.
   Pada keadaan terjadinya renjatan, kadar elektrolit dan gas dalam darah

sebaiknya ditentukan secara teratur terutama pada kasus yang berulang.

   Pada kasus dimana penderita sangat gelisah dapat diberikan Valium

0,3-0,5 mg/kg/kali (bila tidak terjadi gangguan sistem pernafassan) atau

Largactil 1mg/kg/hari.

   Tanda vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara

teratur untuk menilai hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada

monitoring adalah sebagai berikut:

a. Nadi, tekanan darah, respirasi dan temperature harus dicatat setiap 15-30

   menit atau lebih sering, sampai sok dapat teratasi.

b. Kadar hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sampai keadaan klinis

   pasien stabil.

c. Setiap pasien harus mempunyai formulir pemantauan, mengenai jenis

   cairan, jumlah dan tetesan untuk menentukan apakah cairan yang

   diberikan sudah mencukupi.

d. Jumlah dan frekuensi diuresis.


   Ada beberapa kriteria yang dapat pakai sebagai acuan saat memulangkan

pasien, yaitu bila penderita:


a. Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik.

b. Nafsu makan membaik.

c. Tampak perbaikan secara klinis.

d. Hematokrit stabil.

e. Tiga hari setelah sok teratasi.
   f. Jumlah trombosit > 50.000 /ml.

   g. Tidak dijumpai distress pernafasan.



2.10 Pencegahan

      Untuk memutuskan rantai penularan, pemberantasan vektor dianggap cara

   paling memadai saat ini. Vektor dengue khususnya Aedes aegypti sebenarnya

   mudah diberantas karena sarang-sarangnya terbatas di tempat yang berisi air

   bersih dan jarak terbangnya maksimum 100 meter. Tetapi karena vektor

   tersebar luas, untuk keberhasilan pemberantasan diperlukan total coverage

   (meliputi seluruh wilayah) agar nyamuk tidak dapat berkembang biak lagi.

   Ada 2 cara pemberantasan vektor:

   A. Menggunakan Insektisida

           Yang lazim digunakan adalah malathion untuk membunuh nyamuk

      dewasa dan temephos (abate) untuk membunuh jentik. Cara menggunakan

      malathion ialah dengan pengasapan (thermal fogging) atau pengobatan

      (cold fogging).

           Penyemprotan       insektisida    dilakukan     jika     ditemukan

      penderita/tersangka penderita DBD lain atau sekurang-kurannya tiga

      penderita panas tanpa sebab jelas dan jentik Aedes aegypti di lokasi

      tersebut. Penyemprotan dilakukan 2 siklus dengan interval 1 minggu.

      Penyemprotan ini diikuti penyuluhan dan gerakan PSN DBD oleh

      masyarakat.
        Untuk pemakaian rumah tangga dapat digunakan berbagai

  insektisida yang disemprotkan ke dalam kamar/ruangan, misalnya

  golongan organofosfat, karbamat atau prethoid.

        Cara penggunaan abate ialah dengan pasir abate (sand granules) ke

  dalam sarang nyamuk Aedes yaitu bejana tempat penampungan air. Dosis

  yang digunakan ialah 1 ppm atau 1 gram abate SG 1% per 10 liter air atau

  1 sendok makan peres (10 gram) abate untuk 100 liter air.(Aryatmo, 2005)

B. Tanpa insektisida

  Caranya adalah:

   a. Menguras bak mandi, tempayan dan tempat penampungan air minimal

       1X seminggu (perkembangan telur ke nyamuk lamanya 7-10 hari).

   b. Menutup tempat penampungan air rapat-rapat.

   c. Membersihkan halaman dari kaleng-kaleng bekas, botol-botol

       pecah dan benda lain yang memungkinkan nyamuk bersarang.


       Isolasi pasien agar pasien tidak di gigit vektor untuk ditularkan kepada

   orang lain sulit dilaksanakan lebih awal dari perawatan di rumah sakit

   karena kesulitan praktis.


       Mencegah gigitan nyamuk dengan cara memakai obat gosok/repellant

   maupun pemakaian kelambu memang dapat mencegah gigitan nyamuk.

   Tetapi cara ini dianggap kurang praktis.


       Penyuluhan      dan   penggerakan   masyarakat    dalam    PSN    DBD

   (gerakan 3M). Kegiatan ini dilakukan selama 1 bulan, pada saat sebelum
      perkiraan peningkatan jumlah kasus yang ditentukan berdasarkan data

      kasus bulanan DBD dalam 3-5 tahun terakhir.


          Pemantauan Jentik Berkala (PJB) dilakukan setiap 3 bulan di rumah

      dan tempat-tempat umum. Untuk pemantauan jentik berkala di rumah

      dilakukan    pemeriksaan sebanyak 100 rumah sample untuk setiap

      desa/kelurahan. Diharapkan angka bebas jentik setiap    kelurahan/desa

      mencapai >95% akan dapat menekan penyebaran penyakit DBD. (Aryatmo,

      2005)




2.11 Faktor-Faktor Yang Berpengaruh Pada Kejadian DHF

   A. Faktor Sosial Ekonomi

      Penderita penyakit DBD jika tidak mendapat perawatan yang memadai

      dapat mengalami perdarahan yang hebat, sok dan dapat mengakibatkan

      kematian. Oleh karena itu semua kasus DBD sesuai dengan kriteria WHO

      harus mendapat perawatan di tempat pelayanan kesehatan ataupun rumah

      sakit. Keterbatasan perawatan dan penanganan penderita yang sering

      terjadi berpengaruh buruk terhadap pasien.

      1. Tingkat pendidikan kepala keluarga yang rendah mengakibatkan

          rendahnya kepedulian terhadap pencegahan penyakit DBD seperti

          mangakibatkan higiene atau sanitasi lingkungan, mengabaikan gejala-

          gejala penyakit DBD, terlambat membawa pasien ke rumah sakit.
   2. Demikian pula dengan jenis pekerjaan kepala keluarga, bila kepala

      keluarga dapat         mengalokasikan     waktu      yang    baik     dalam

      memperhatikan       kebersihan lingkungan         di sela-sela   kesibukan

      mencari      nafkah,     hal   ini    sangat   membantu dalam         usaha

      pencegahan       penyakit      DBD.     Lingkungan       pekerjaan     yang

      memperhatikan       sanitasi/kebersihan    akan    berpengaruh      terhadap

      sikap      dan perilaku masyarakat di luar lingkungan kerja. (Depkes

      RI,2004)

B. Faktor Pemahaman tentang DBD

  Rendahnya pemahaman masyarakat desa Seketi tentang penyakit DBD

  menyebabkan semakin sulitnya pencegahan tentang penyakit DBD itu

  sendiri antara lain meliputi:

  1. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit demam berdarah pada

     masyarakat      desa Seketi yang meliputi gejala-gejala apa saja yang

     terjadi pada pasien DBD.

  2. Kurangnya pemahaman tentang bahaya akan penyakit Demam

     Berdarah sehingga masyarakat kurang mengetahui bahwa penyakit

     Demam Berdarah bisa menyebabkan kematian yang pada akhirnya

     masyarakat banyak yang memandang penyakit DBD seperti penyakit

     ringan yang tidak perlu penanganan segera.

  3. Kurangnya pengetahuan tentang tempat perindukan nyamuk Aedes

     aegypti sebagai vektor penyakit Demam Berdarah misalnya kurang
   memperhatikan kebersihan lingkungan, tidak melaksanakan program

   3M untuk memberantas penyakit DBD. (Depkes RI, 2004)

C. Faktor Kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

  Siklus hidup dari nyamuk dari telur-larva-pupa-nyamuk butuh waktu 7-

  14 hari, dengan demikian penting untuk memahami siklus hidup

  nyamuk Aedes aegypti sehingga dapat ditentukan saat yang tepat untuk

  memberantas larva dan nyamuk dewasa. (Depkes RI, 2004)

D. Faktor Pelayanan Kesehatan Masyarakat

   1. Masih rendahnya pemahaman tentang penyakit DBD menuntut

      pelayanan kesehatan masyarakat dan puskesmas antara lain:

      Penyuluhan oleh tenaga kesehatan tentang gejala-gejala, tempat

      perindukan nyamuk penyebab penyakit DBD, dan bahaya akan

      kematian akibat penyakit DBD.

   2. Pemberian fogging yang dilakukan oleh petugas kesehatan setiap

      ada kasus DBD sampai radius 200 m akan mengurangi penularan

      penyakit DBD.

   3. Pemberian abate oleh tenaga kesehatan untuk membunuh

      larva/jentik   nyamuk   Demam      Berdarah   akan   mengurangi

      perkembangbiakan vektor. (Depkes RI, 2004)
                                    BAB III

                   OBYEK DAN METODE PENELITIAN



3.1 Jenis Penelitian

       Penelitian ini bersifat deskriptif   yang   akan menggambarkan tentang

    hubungan perilaku (hidup) sehat masyarakat terhadap timbulnya demam

    berdarah dengue (DBD).



3.2 Obyek Penelitian

    Objek penelitian adalah Kepala Keluarga di Desa Seketi yang tersebar dalam

    9 RW. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 100 responden yang kami

    ambil secara acak pada seluruh RT.



3.3 Waktu dan Tempat Penelitian

    Penelitian ini akan dilaksanakan pada tanggal 02 Juni 2008 – 14 Juni 2008 di

    Desa Seketi Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo.
3.4 Cara Pengumpulan, Pengolahan dan Analisa Data

   A. Cara Pengumpulan Data

      1. Jenis Data

           Data Primer

            Dikumpulkan dengan teknik wawancara menggunakan acuan

            kuesioner dengan responden kepala keluarga di Desa Seketi

            Kecamatan Balongbendo Kabupaten Sidoarjo.

           Data Skunder

            Meliputi gambaran umum daerah penelitian yang didapat dari

            kantor Desa Seketi maupun dari Puskesmas pembantu.

      2. Variabel penelitian

           Tingkat pendidikan kepala keluarga

           Jenis Pekerjaan kepala keluarga

           Tingkat pendapatan keluarga

           Frekuensi adanya penyuluhan tentang penyakit Demam Berdarah

           Pengetahuan tentang pengertian, gejala-gejala dan bahaya penyakit

            Demam Berdarah.

           Pengetahuan tentang ciri-ciri nyamuk Aedes aegypti dan tempat

            perindukannya.

           Frekuensi menguras tempat penampungan air.

           Pengetahuan dan penggunaan bubuk abate.

           Penggunaan ikan dalam bak mandi.

           Keadaan tempat untuk menyimpan air bersih.
               Cara membuang botol dan kaleng bekas.

               Keadaan ventilasi rumah.

               Kebiasaan menyimpan baju/menggantung baju di rumah.

    B. Cara Mengolah Data

         Data mentah berupa kuesioner yang telah diisi menurut karakteristik

         responden. Data mentah tersebut diedit dan bila telah lengkap kemudian

         ditabulasi untuk memperoleh tabel distribusi frekuensi yang digunakan

         sesuai dengan tujuan analisa deskriptif.

    C. Cara Analisa Data

         Analisis sesuai dengan jenis penelitian deskriptif dilakukan dengan

         interpretasi data dari tabel distribusi frekuensi untuk memberikan

         gambaran hasil penelitian sesuai dengan tujuan penelitian.



3.5 Definisi Operasional

         Objek penelitian adalah warga desa Seketi di wilayah Kecamatan

   Balongbendo Kabupaten Sidoarjo yang diambil secara acak.

    1.    Tingkat pendidikan adalah pendidikan formal terakhir yang pernah

          diterima oleh responden (kepala keluarga), dibagi menjadi:

          a. Tidak ada pendidikan s/d tamat SD

          b. Tamat SD

          c. Tamat SMP

          d. Tamat SMA

          e. Tamat perguruan tinggi
2.    Jenis pekerjaan adalah jenis pekerjaan dari responden (kepala keluarga)

      tersebut, yang terdiri atas:

      a. Pegawai Negeri

      b. Wiraswasta

      c. Pekerjaan tidak tetap

3.    Tingkat penghasilan keluarga adalah jumlah penghasilan keluarga setiap

      bulan yang dapat mempengaruhi perilaku hidup masyarakat, yang terdiri

      atas:

      a. < 500 ribu per bulan

      b. 500 ribu – 1 juta per bulan

      c. > 1 juta per bulan

4.    Responden mengetahui pengertian tentang Demam Berdarah, yaitu

      pengetahuan yang menyangkut:

      a. Penyakit yang ditandai demam tinggi selama 2-7 hari

      b. Penyakit yang ditandai oleh timbulnya bintik-bintik kemerahan

         pada kulit yang tidak hilang bila direnggangkan

      c. Penyakit yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti

     Responden disebut tahu bila dapat menyebutkan > 2 sifat penyakit DBD.

     Responden disebut tidak tahu bila hanya menyebutkan < 1 sifat penyakit

     DBD
5.    Gejala spesifik dari penyakit DBD yang memerlukan penanganan segera

      adalah:

     a. Adanya tanda-tanda perdarahan seperti mimisan, muntah darah dan

       berak darah (hitam).

     b. Gelisah, keluar keringat dingin, nyeri perut dan mual.

     c. Adanya penurunan kesadaran.

     Responden disebut paham, bila dapat menyebutkan > 2 gejala spesifik

     DBD yang membutuhkan penanganan segera.

     Responden disebut tidak paham, bila menyebutkan < 1 gejala spesifik

     DBD yang membutuhkan penanganan segera.

6.    Ciri-ciri dari nyamuk Demam Berdarah yang perlu diketahui oleh

      masyarakat adalah:

      a. Pada bagian perut nyamuk beruas-ruas dengan bintik-bintik putih.

      b. Senang tinggal di ruangan, terutama di kamar gelap dan lembab.

      c. Senang hinggap pada benda-benda tergantung seperti pakaian dan

         kelambu.

      d. Senang menggigit pada pagi, siang dan sore hari.

     Responden dianggap tahu, bila dapat menyebutkan > 3 ciri-ciri dari

     nyamuk Demam Berdarah.

     Responden dianggap tidak tahu, bila menyebutkan < 3 ciri-ciri dari

     nyamuk Demam Berdarah.
7.    Frekuensi   penyuluhan tentang DBD yang diikuti oleh masyarakat

      dalam 6 bulan terakhir minimal adalah 1X untuk meningkatkan

      pemahaman tentang penyakit DBD.

8.    Pengetahuan tentang perindukan/breeding place nyamuk Demam

      Berdarah:

      a. Telur dan larva hidup pada genangan air bersih

      b. Waktu    berkembangbiak      dari    telur   sampai   menjadi   nyamuk

         membutuhkan waktu 7 hari.

      c. Menyukai tempat-tempat yang lembab seperti pada baju yang

         tergantung.

      d. Hanya nyamuk Aedes aegypti betina yang menghisap darah, untuk

         membantu perkembangbiakannya.

     Responden disebut tahu jika dapat menyebutkan 2 - 4 sifat nyamuk Aedes

     aegypti.

     Responden disebut tidak tahu jika menyebutkan 1 atau < 1 sifat nyamuk

     Aedes aegypti.

9.    Frekuensi menguras tempat penampungan air di rumah adalah frekuensi

      menguras atau membersihkan air pada bak mandi, gentong dan

      tempat air minum burung peliharaan yang dilakukan minimal seminggu

      sekali.

10. Pemberian bubuk abate adalah pemberian larvisida kepada masyarakat

      secara gratis dalam 6 bulan terakhir.
11. Memelihara ikan di bak mandi adalah salah satu cara untuk mengurangi

    jentik dan mencegah gigitan nyamuk.

12. Membuka jendela dan ventilasi rumah pada pagi dan siang hari adalah

    salah satu cara untuk mengurangi kelembaban rumah.

13. Keadaan gentong tempat penyimpan air yang benar adalah ditutup agar

    tidak menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk DBD.

14. Cara membuang botol, kaleng bekas adalah menghindarkan barang-

    barang tersebut sebagai tempat berkembangbiaknya nyamuk Aedes

    aegypty, yaitu dengan cara menimbun barang-barang tersebut dengan

    posisi terbalik.

15. Cara menyimpan pakaian yang sudah dipakai di dalam rumah yang

    benar adalah dengan menyimpannya di dalam lemari.

16. Waktu nyamuk Aedes aegepty biasa menggigit korbannya adalah pada

    pagi, siang dan sore hari.
3.6 Kerangka Konsep Perilaku (Hidup) Sehat Masyarakat Terhadap

   Timbulnya Kejadian DBD



    Faktor sosial ekonomi                 Faktor peran serta masyarakat
                                          dalam mencegah timbulnya DBD
    a. Tingkat pendidikan KK
    b. Jenis pekerjaan KK                 d. Frekuensi menguras bak mandi
    c. Tingkat penghasilan KK             e. Penggunaan bubuk abate.
                                          f. Penggunaan ikan dalam bak
                                             mandi.
                                          g. Frekuensi menguras
                                             gentong/tempat air minum.
                                          h. Frekuensi mengganti air
                                             minum burung peliharaan.
                                          i. Cara membuang botol dan
                                             kaleng bekas.
                                          j. Keadaan ventilasi rumah.
                                          k. Perlakuan terhadap tempat
                                             penyimpanan air minum.
                                          l. Kebiasaan menyimpan
                                             baju/menggantung baju di
                                             rumah.



                                Kejadian DBD




   Faktor pemahaman tentang DBD           Faktor pelayanan kesehatan
                                          masyarakat
   m. Pengetahuan tentang DBD
   n. Pengetahuan tentang gejala          r. Frekuensi penyuluhan tentang
      spesifik penyakit DBD yang             penyakit DBD
      memerlukan penanganan
      segera..
   o. Pengetahuan tentang ciri-ciri
      nyamuk DBD.
   p. Pengetahuan tentang
      perindukan jentik nyamuk
   q. Pengetahuan waktu nyamuk
      Aedes aegypty mengigit
      korbannya.
                                    BAB IV

                            HASIL PENELITIAN




4.1 Gambaran Umum Desa……..??

  A. Data Desa

     1. Desa         : Seketi

     2. Kecamatan : Balongbendo

     3. Kabupaten : Sidoarjo

     4. Provinsi     : Jawa Timur

  B. Keadaan Geografi

        Desa Seketi merupakan salah satu wilayah pemerintah desa yang

     ada di puskesmas Balongbendo. Desa Seketi merupakan daerah dataran

     rendah yang termasuk wilayah desa, dekat pusat pembelanjaan, sekolah

     SMP/MTs swasta, transportasinya cukup lancar sehingga hubungan

     antar daerah dapat terjangkau dengan cepat, semua jenis kendaraan dapat

     dipergunakan. Secara geografis wilayah desa Seketi memiliki karakteristik

     wilayah berupa lahan persawahan dan pemukiman penduduk, yang terdiri

     dari 9 RW dan 38 RT.

     1. Luas Daerah : ±221.990 Ha

     2. Batas Wilayah:

            Utara                  : Desa Kemangsen kecamatan Balongbendo

            Timur                  : Desa tropodo Kecamatan Krian

            Selatan                : Desa Watu tulis Kecamatan Prambon
        Barat                : Desa Watesari Kecamatan Balongbendo

  1. Pembagian Desa :

        Dusun                : 4 dusun

        RW                   : 9 RW

        RT                   : 38 RT

C. Kependudukan

  1. Jumlah Penduduk Desa

        Laki-laki            : 2.563

        Perempuan            : 2.446

  2. Jumlah Penduduk desa menurut tingkat pendidikan

        Belum tamat SD       : 474

        Tamat SD             : 1580

        Tamat SMP            : 879

        Tamat SMA            : 586

        PT                   : 30

  3. Jumlah Penduduk menurut mata pencaharian

        Karyawan PNS         : 37


                     ABRI     : 20


                     Swasta   : 594


        Wiraswasta           : 312

        Petani               : 263

        Buruh Tani           : 115
          Pertukangan           : 12

          Pensiunan             : 75

          Jasa                  : 60

   4. Jumlah Penduduk menurut agama

          Islam              : 1640

          Kristen           :3

          Hindu             :4


D. Sarana Dan Tenaga Kesehatan


   1. Sarana Kesehatan

          Puskesmas Pembantu : 1

          Posyandu Balita       :4

          Posyandu Lansia       :1

          Klinik KB             :1

   2. Sarana Tenaga Kesehatan

          Bidan                 :1

          Perawat               :1

          Kader Lansia          :5

   3. Upaya Kesehatan Rujukan

       Upaya kesehatan rujukan Desa seketi mempunyai 5 tempat rujukan

       yaitu:

          Puskesmas Balongbendo ± 9 Km

          RSU Krian Husada ± 2 Km
               RSU Anwar Medika ± 5 Km

               RSU Al-Islam ± 2 Km

               Puskesmas Krian ± 2,5 Km

  E. Sarana Pendidikan

     1. TK : Darma Wanita (1)

     2. RA : Nurul Ulum (1)

     3. SDN 1

     4. SDN 2

     5. MI Nurul Ulum

  F. Sarana Ibadah

     1. Masjid                       :1

     2. Musholla                     : ± 20



4.2 Karakteristik Responden

   1. Tingkat Pendidikan Masyarakat


      Tabel 1: Distribusi Tingkat Pendidikan Masyarakat (Kepala Keluarga)


       No.        Pendidikan Terakhir         Jumlah              %
       1.       Tidak Sekolah/Tamat SD
       2.       Tamat SD
       3.       Tamat SMP
       4.       Tamat SMA
       5.       Perguruan Tinggi
                      Total
      Sumber : Hasil Survei di Desa……??
2. Jenis Pekerjaan Kepala Keluarga

  Tabel 2: Distribusi Jenis Pekerjaan Masyarakat (Kepala Keluarga)

   No.              Pekerjaan            Jumlah                 %
   1.    Pegawai Negeri
   2.    Wiraswata
   3.    Pekerjaan tidak tetap
                 Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




3. Tingkat Penghasilan Keluarga

  Tabel 3: Distribusi Tingkat Penghasilan Keluarga rata-rata dalam 1 bulan

   No.       Penghasilan/bulan           Jumlah                 %
   1.    < 500 rb
   2.    500 rb – 1 Juta
   3.    > 1 Juta
                 Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




4. Pengetahuan Tentang Demam Berdarah

  Tabel 4: Distribusi Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Demam

  Berdarah

   No.    Pengetahuan tentang DBD           Jumlah              %
   1.    Tahu
   2.    Tidak Tahu
                    Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
5. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Gejala Spesifik Penyakit DBD

  Yang Memerlukan Penanganan Segera

  Tabel 5: Tingkat Pemahaman Masyarakat Terhadap Gejala Spesifik

  Penyakit DBD Yang Memerlukan Penanganan Segera

   No.   Pengetahuan gejala spesifik    Jumlah             %
   1.    Tahu
   2.    Tidak Tahu
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




6. Pengetahuan Masyarakat Terhadap Ciri-Ciri Nyamuk Demam Berdarah

  Tabel 6: Tingkat Pengetahuan Masyarakat Terhadap Ciri-Ciri Nyamuk

  Demam Berdarah

           Pengetahuan tentang ciri-
   No.                                  Jumlah             %
          ciri nyamuk Aedes Aegypti
   1.    Tahu
   2.    Tidak Tahu
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
7. Frekuensi Penyuluhan Tentang Demam Berdarah.

  Tabel 7: Frekuensi Penyuluhan Tentang Demam Berdarah

   No.       Frekuensi Penyuluhan       Jumlah            %
   1.    Tidak Pernah
   2.    Pernah, 1x
   3.    Pernah, > 1x
                  Total
   Sumber : Hasil Survei di Desa……??




8. Pengetahuan Masyarakat Tentang Perindukan Jentik Nyamuk Aedes

  aegypti.

  Tabel 8: Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Tempat Hidup Jentik

  Nyamuk Aedes aegypti

               Pengetahuan tentang
   No.                                   Jumlah           %
             perindukan Aedes aegypti
   1.    Tahu
   2.    Tidak Tahu
                   Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
9. Frekuensi Menguras Bak Mandi

  Tabel 9: Frekuensi Responden Dalam Menguras Bak Mandi

          Frekuensi menguras bak
   No.                                 Jumlah               %
                    mandi
   1.    > 1 minggu
   2.    < 1 minggu
   3.    Tidak Pernah
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??



10. Pengetahuan Masyarakat Tentang Penggunaan Bubuk Abate

   Tabel 10: Pengetahuan Masyarakat Tentang Penggunaan Bubuk Abate

           Pengetahuan terhadap
   No.                                 Jumlah               %
          pemberian bubuk Abate
   1.    Tidak tahu
   2.    Tahu, cara pemakaian (-)
   3.    Tahu, cara pemakaian (+)
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




11. Penggunakan Bubuk Abate Oleh Masyarakat Desa Seketi

   Tabel 11: Penggunaan Bubuk Abate Oleh Masyarakat Desa Seketi

   No.     Penggunaan bubuk abate        Jumlah             %
   1.    Pernah
   2.    Tidak pernah
                   Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
12. Pendapat Masyarakat Jika Bak Mandi Diberi Ikan.

   Tabel 12: Pendapat Masyarakat Jika Bak Mandi Diberi Ikan

   No.     Bak mandi diberi ikan        Jumlah                %
   1.    Tidak masalah
   2.    Jijik
   3.    Jawaban lain
                 Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




13. Frekuensi Masyarakat Yang Memelihara Ikan Di Bak Mandi

   Tabel 13: Frekuensi Masyarakat Yang Memelihara Ikan Di Bak Mandi

            Memelihara ikan di bak
   No.                                     Jumlah             %
                     mandi
   1.    Ya
   2.    Tidak
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




14. Keadaan Ventilasi Rumah Warga Masyarakat

   Tabel 14: Distribusi Masyarakat Yang Membuka Jendela atau Ventilasi

   No.    Membuka jendela/ventilasi        Jumlah             %
   1.    Ya
   2.    Tidak
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
15. Perlakuan Terhadap Tempat Penyimpanan Air Minum

   Tabel 15: Perlakuan Masyarakat Terhadap Tempat Penyimpanan Air

   Minum

         Perlakuan Terhadap Tempat
   No.                                  Jumlah             %
               Penyimpanan Air
   1.    Selalu ditutup
   2.    Kadang-kadang ditutup
   3.    Tidak pernah ditutup
   4.    Tidak punya
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




16. Frekuensi Menguras Gentong/Tempat Air Minum

   Tabel 16: Frekuensi Menguras Gentong/Tempat Air Minum

               Frekuensi menguras
   No.                                   Jumlah            %
           Gentong/Tempat Air Minum
   1.    < 1 minggu
   2.    > 1 minggu
   3.    Tidak pernah dikuras
                    Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
17. Frekuensi Mengganti Air Minum Burung Peliharaan.

   Tabel 17: Frekuensi Mengganti Air Minum Burung Peliharaan

             Mengganti air minum
   No.                                     Jumlah              %
               burung peliharaan
   1.    < 1minggu
   2.    > 1minggu
   3.    Tidak pernah ganti
   4.    Tidak punya
                  Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




18. Cara Membuang Botol, Kaleng bekas, Ban bekas, dll.

   Tabel 18: Cara Membuang Botol, Kaleng bekas dan Ban bekas

          Cara membuang botol, kaleng
   No.                                      Jumlah             %
                 bekas, ban bekas
   1.    Di tempat sampah
   2.    Ditimbuni
   3.    Jawaban lain
                    Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
19. Cara Menyimpan Baju yang Sudah Dipakai

   Tabel 19: Cara Menyimpan Baju yang Sudah Dipakai

           Cara menyimpan baju yang
   No.                                   Jumlah       %
                  sudah dipakai
   1.    Langsung di cuci
   2.    Digantung di dalam rumah
   3.    Jawaban lain
                    Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??




20. Pemahaman Tentang Waktu Nyamuk Aedes aegypti Menggigit

   Korbannya

   Tabel 20: Pemahaman Tentang Waktu Nyamuk Aedes aegypti

   Menggigit Korbannya

            Pemahaman tentang waktu
   No.                                       Jumlah   %
           nyamuk menggigit korbannya
   1.    Tidak tahu
   2.    Tahu
                      Total
  Sumber : Hasil Survei di Desa……??
                                     BAB V

                                  PEMBAHASAN



       Berdasarkan hasil interpretasi data yang diperoleh dari penelitian

sebagaimana yang telah disajikan dalam BAB IV, maka ditinjau dari tingkat

pendidikan masyarakat desa Seketi, didapatkan hanya 30% responden yang

memiliki   tingkat   pendidikan    yang   cukup (SMA/sederajat). Hal ini dapat

mempengaruhi tingkat pemahaman masyarakat dalam upaya pencegahan dan

penatalaksanaan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dapat

ditunjukkan pada Tabel 4 dimana sebagian besar responden (77%) mengaku

sudah mengetahui tentang demam berdarah, akan tetapi sebesar 83% responden

ternyata tidak mengetahui gejala spesifik atau kegawatdaruratan dari penyakit

DBD yang membutuhkan penanganan segera (Tabel 5). Selain itu masyarakat

setempat yang memiliki tingkat pendidikan di bawah SMP/sederajat juga masih

tinggi, 17% responden tamat SMP/sederajat dan 50% responen tamat

SD/sederajat.   Faktor   rendahnya   tingkat   pendidikan   diatas   akan   dapat

menyebabkan keterlambatan dalam penanganan kegawatdaruratan penyakit DBD,

sehingga dapat mengakibatkan dampak yang fatal bahkan sampai kematian.


        Dengan tingkat pendidikan masyarakat yang cukup rendah tersebut,

masyarakat menjadi kurang optimal dalam memahami lebih lanjut tentang hal-hal

yang berkaitan dengan penyakit DBD. Hal ini ditunjukkan dengan kenyataan

bahwa 57% responden mengaku tidak mengetahui ciri-ciri nyamuk demam

berdarah, sehingga dapat mempengaruhi tingkat kewaspadaan masyarakat
terhadap demam berdarah menjadi lebih rendah (tabel 6). Dan adanya kenyataan

bahwa 40% responden masih belum paham mengenai tempat hidup/breeding

place jentik nyamuk demam berdarah (Tabel 8) akan menyebabkan meningkatnya

kembali     perkembangbiakan    nyamuk    demam    berdarah.   Hal   ini    dapat

mempengaruhi tingginya angka kejadian demam berdarah di desa Seketi.


         Ditinjau dari segi jenis pekerjaan (Tabel 2), sebagian besar responden

memiliki pekerjaan tetap sebagai Pegawai Negeri (3%)           dan Wiraswasta

(60%). Hal ini akan memberikan kecenderungan pengaruh negatif terhadap

perilaku masyarakat untuk membentuk pola hidup bersih dan sehat,           karena

kurangnya waktu untuk memelihara lingkungan tempat tinggal khususnya untuk

mencegah dan menanggulangi penyakit DBD.


         Ditinjau dari tingkat penghasilan masyarakat (Tabel 3), 77% responden

mempunyai penghasilan yang cukup yaitu lebih dari 500 ribu per bulan,

dengan     kenyataan    tersebut diharapkan dapat membentuk perilaku positif

masyarakat dalam hal kebersihan lingkungan dalam upaya pencegahan penyakit

demam berdarah.


         Dari kenyataan tersebut secara sosial diharapkan dapat dikembangkan

kehidupan kebersamaan dalam suasana saling membantu (gotong royong)

dengan      menjadikan masyarakat     yang memiliki tingkat pendidikan dan

kemampuan yang lebih tinggi sebagai motivator bagi masyarakat setempat lainnya

untuk tujuan pemberantasan penyakit DBD, misalnya sebagai penggerak program

Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), yang cepat tanggap terhadap kejadian
kasus DBD dan segera menghubungi Puskesmas untuk mendapatkan fogging

di sekitar kediaman penderita sampai radius 200 meter, sehingga dapat mencegah

terjadinya penularan. Pembentukan badan-badan kesehatan, pemantauan jentik

dan sebagainya, perlu lebih ditingkatkan dengan memilih masyarakat dengan

tingkat pemahaman yang cukup melalui pendekatan personal oleh tenaga dari

Puskesmas secara intensif.


       Ditinjau dari faktor pemahaman tentang upaya pencegahan dan

pemberantasan penyakit DBD, didapatkan 60% responden mengetahui tentang

breeding place/tempat hidup jentik   nyamuk     demam    berdarah.   Hal   ini

digambarkan dari perilaku masyarakat untuk menguras air bak mandi lebih dari

sekali dalam seminggu sebanyak 53% responden (Tabel 9), selain itu 88,3%

responden selalu menguras gentong air minum < 1 minggu sekali (Tabel 16), 37%

responden dari 40 responden yang memiliki burung peliharaan selalu mengganti

air minum burungnya < 1 minggu sekali (Tabel 17). Akan tetapi karena

pemahaman yang kurang tentang penyakit DBD mengakibatkan mereka tidak

mengerti penyebab lain yang bisa mengakibatkan perkembangbiakan nyamuk

demam berdarah sehingga penerapan pola hidup bersih dan sehat belum tercapai

secara maksimal. Hal ini ditunjukkan dengan kurangnya pengetahuan masyarakat

dalam penggunaan bubuk abate pada air bak mandi yang dibuktikan dengan 70% -

80% responden yang tidak tahu dan tidak pernah menggunakan bubuk abate di

bak mandi (Tabel 10-11). Hal ini kemungkinan disebabkan kurangnya respon

masyarakat dalam penyerapan informasi dari petugas kesehatan. Selain itu,

kurangnya    pemahaman tentang    penyakit    DBD ditunjukkan pula     dengan
kurangnya kesadaran masyarakat dalam memperlakukan botol, kaleng, atau ban

bekas. Hal ini dibuktikan dengan 63% responden yang mengumpulkan kaleng,

botol, atau ban bekas sebelum dijual (Tabel 18) sehingga rentan tergenang air dan

menjadi tempat perkembangbiakan jentik nyamuk demam berdarah. Dan

kebiasaan masyarakat yang suka menggantung baju yang sudah dipakai di dalam

rumah sebanyak 47% responden (Tabel 19) yang mana hal ini dapat menjadi

tempat peristirahatan nyamuk (resting place). Hal ini menunjukkan bahwa

sebagian besar masyarakat desa Seketi hanya mengetahui bahwa nyamuk DBD

hanya menyukai tempat-tempat genangan air saja tanpa mengetahui bahwa pola

hidup atau kebiasaan mereka sehari-hari ada yang berpotensi menjadi tempat

perindukan ataupun tempat peristirahatan nyamuk sehingga kebiasaan ini secara

tidak sengaja meningkatkan populasi nyamuk baru.


         Oleh karena itu agar masyarakat terhindar dari penyakit Demam Berdarah

Dengue (DBD) tenaga kesehatan perlu melakukan upaya-upaya penyuluhan

kepada     masyarakat tentang    pencegahan    penyakit    DBD,    gejala,   dan

penatalaksanaannya. Masyarakat perlu diberikan penjelasan tentang pengertian

penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dan bahaya komplikasi pada

penyakit Demam Berdarah Dengue yang dapat berakibat fatal, serta perlunya

dilakukan ”3M” secara rutin agar bisa terhindar dari penyakit DBD dan

menjelaskan pula bagaimana upaya mengantisipasi tempat perindukan nyamuk

DBD.


         Dari upaya pemberantasan sarang nyamuk yang masih sangat kurang

tersebut sebaiknya perlu dilakukan pembenahan terutama dalam bidang
penyuluhan kepada setiap kepala keluarga agar menyadari dan mengetahui

mengenai pentingnya mencegah penularan penyakit Demam Berdarah Dengue

(DBD), dimana cara            paling   efektif untuk memotong siklus hidup

perkembangbiakan nyamuk adalah melalui kegiatan 3M (menutup, menguras, dan

menimbun). Barang-barang bekas yang dapat menampung genangan air seperti:

botol, kaleng, ban, plastik bekas, dan lain-lain sebaiknya di timbun, pakaian yang

sudah dipakai hendaknya dilipat agar tidak menjadi tempat perindukan

nyamuk      yang    berpotensi menimbulkan penyakit Demam Berdarah Dengue

(DBD), karena hal itu dapat menjadi salah satu       tempat    perkembangbiakan

nyamuk sehingga meningkatkan kemungkinan penularan penyakit DBD. Selain

itu dapat juga dilakukan upaya-upaya lain, seperti memelihara ikan pemakan

jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur, memasang

kasa, menyemprot dengan insektisida, memasang obat nyamuk, menggunakan

lotion anti nyamuk, melakukan pemeriksaan jentik secara berkala, dan lain-lain

sesuai dengan kondisi wilayah setempat, sehingga angka kejadian penyakit

Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat ditekan seminimal mungkin. Hal ini harus

dapat dilakukan baik di jajaran unsur kesehatan sendiri maupun bekerjasama

dengan berbagai pihak yang terkait secara langsung maupun tidak langsung.


         Adapun upaya lain yang dapat dilakukan dalam pengendalian vektor

dalam hal     ini    adalah   nyamuk   dewasa     yaitu   dengan    dilakukannya

pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion) yang

berguna untuk mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu

tertentu. Dengan kegiatan tersebut diharapkan upaya pemberantasan sarang
nyamuk ini dapat berfungsi secara optimal. Selain itu kegiatan pemberian

bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air seperti: gentong air, vas bunga,

kolam, dan lain-lain, perlu lebih ditingkatkan penggunaannya. Dosis yang

digunakan adalah 1 ppm atau 1 gram bubuk abate SG 1% untuk 10 liter air atau 1

sendok makan peres (10 gram) bubuk abate untuk 100 liter air.


       Tinjauan pembahasan dari faktor pelayanan kesehatan masyarakat, dalam

waktu 6 bulan terakhir (Tabel 7), 77% responden tidak pernah mendapat

penyuluhan dari tenaga kesehatan tentang penyakit Demam Berdarah Dengue

(DBD), sehingga berdampak pada minimnya pengetahuan masyarakat desa

Seketi tentang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD). Hal ini mempengaruhi

upaya-upaya pencegahan dan penanganan yang cepat terhadap peningkatan kasus

Demam Berdarah Dengue (DBD) di desa Seketi. Dari kenyataan tersebut di atas

perlu dilakukan upaya pembenahan dan penggerakan kegiatan dari tenaga

kesehatan kepada masyarakat tentang penyakit Demam Berdarah Dengue secara

optimal. Penyuluhan sebaiknya dilakukan secara rutin untuk meningkatkan

pengetahuan dan pemahaman tentang pengertian, gejala umum maupun gejala

spesifik dari penyakit Demam Berdarah Dengue yang membutuhkan penanganan

segera, serta tentang bahaya dan komplikasi yang dapat terjadi hingga dapat

menyebabkan kematian. Tenaga kesehatan juga dapat mengadakan kegiatan

sosialisasi dengan penyebaran pamflet/brosur tentang pentingnya mencegah dan

memberantas penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD), misalnya sosialisasi

tentang kegiatan 3M (menutup, menguras, dan menimbun), kegiatan Fogging oleh

petugas kesehatan yang dilakukan setiap ada kasus Demam Berdarah Dengue
(DBD) sampai radius 200 meter dari rumah penderita. Selain itu perlunya

diadakan pertemuan warga untuk merekrut juru pemantau jentik (Jumantik)

guna memantau angka bebas jentik yang terjadi, agar kewaspadaan terhadap

penyebaran penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di desa Seketi dapat

ditingkatkan. Diharapkan dengan adanya pengetahuan dan pemahaman          serta

kewaspadaan yang tinggi terhadap penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD),

apabila terjadi kejadian luar biasa (KLB) di desa Seketi tersebut, dapat

segera dilaporkan ke Dinas Kesehatan setempat, sehingga hal ini dapat secara

langsung ditangani dan mendapat perhatian yang cepat dari tenaga kesehatan yang

ada, dan diharapkan masyarakat desa Seketi akan mendapatkan pertolongan serta

penanggulangannya sedini mungkin, sehingga angka kematian pada kasus

penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) dapat ditekan.
                                      BAB VI

                                  PENUTUP




6.1 Kesimpulan

      Dari hasil pembahasan dapat disimpulkan bahwa hubungan antara perilaku

   hidup masyarakat terhadap kejadian demam berdarah di desa Seketi adalah

   sebagai berikut:

   A. Hubungan tingkat pendidikan masyarakat terhadap kejadian demam

       berdarah dengue.

         Tingkat pendidikan responden di desa Seketi, dengan hanya 30% yang

          lulus SMA, cenderung menjadi faktor dari kejadian luar biasa demam

          berdarah oleh karena kurangnya pemahaman masyarakat akan gejala

          spesifik kegawat-daruratan demam berdarah.

   B. Hubungan keadaan sosial ekonomi masyarakat terhadap kejadian Demam

       Berdarah Dengue.

         Dengan besarnya jumlah responden yang memiliki pekerjaan dengan

          jam kerja yang relatif tetap (60% wiraswasta dan 3% Pegawai

          Negeri) diharapkan dapat memberikan pengaruh yang positif dalam

          membentuk perilaku hidup bersih dan sehat       bagi   lingkungan

          sekitarnya serta dapat membagi waktu dalam upaya memelihara

          lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan

          waktu yang lebih teratur.
      Dengan pendapatan 77% responden yang relatif cukup (> 500 Ribu)

       diharapkan dapat membentuk perilaku positif masyarakat dalam

       hal kebersihan lingkungan dalam upaya pencegahan penyakit demam

       berdarah.

C. Tingkat pemahaman masyarakat terhadap penyakit Demam Berdarah

   Dengue.

      Meskipun sebagian besar responden mengaku tahu tentang demam

       berdarah, akan tetapi 83% responden ternyata tidak mengetahui gejala

       spesifik ke gawat daruratan dari penyakit demam berdarah. Hal inilah

       yang dapat menyebabkan keterlambatan dalam penanganan ke gawat

       daruratan penyakit demam berdarah.

      Sebagian responden (57%) tidak mengetahui ciri-ciri nyamuk Aedes

       aegypti sehingga mempengaruhi     kewaspadaan     masyarakat   akan

       bahaya penyebaran demam berdarah.

      Sebagian besar responden mengetahui tempat perindukan nyamuk

       Aedes aegypti serta lama waktu perkembangbiakannya, sehingga

       tingkat kesadaran masyarakat dalam hal menguras bak mandi atau

       gentong tempat air minum cukup tinggi.

      Masih banyaknya responden yang menggantung baju yang sudah

       dipakai, hal ini dapat terjadi oleh karena pemahaman yang masih

       kurang dari masyarakat.

D. Upaya-upaya yang telah dilaksanakan masyarakat, dalam usaha untuk

   mencegah terjadinya Demam Berdarah Dengue.
          Masih banyak masyarakat yang belum tahu serta memanfaatkan

           bubuk abate, dan hanya 37% responden yang mau memanfaatkan

           ikan pemakan jentik nyamuk.

          Sebagian besar responden sudah menutup tempat air minum dan

           mengurasnya < 1 minggu sekali, begitu juga mengganti air minum

           burung peliharaan < 1 minggu.

          Masih banyak masyarakat yang mengumpulkan botol, kaleng bekas,

           ban bekas, dan lainnya sebelum dijual, sehingga dapat menjadi

           tempat perindukan nyamuk Aedes aegypti.

E. Upaya-upaya yang telah dilakukan petugas kesehatan dalam mencegah

   terjadinya Demam Berdarah Dengue.

         Dengan tingginya jumlah responden (77%) yang mengaku tidak

          pernah mendapatkan penyuluhan tentang demam berdarah. Hal ini

          dapat   mempengaruhi   tingkat   pamahaman   masyarakat   tentang

          kegawatdaruratan demam berdarah.

         Dilakukannya fogging setelah terjadi kejadian luar biasa demam

          berdarah hanya untuk memberantas nyamuk dewasa.

         Rendahnya pengetahuan masyarakat terhadap bubuk abate serta

          penggunaannya merupakan indikasi kurangnya sosialisasi terhadap

          masyarakat.
6.2 Saran

      Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, kami dapat memberikan

   saran untuk membantu program pencegahan dan pemberantasan penyakit

   Demam Berdarah Dengue:

   A. Memberikan pendidikan dini sejak usia sekolah tentang kebersihan serta

       penyakit-penyakit yang dapat disebabkan oleh lingkungan yang kotor,

       terutama dalam hal ini adalah penyakit DBD dengan cara menambah

       kegiatan kerja bakti kebersihan sekolah dan penyuluhan-penyuluhan

       tentang penyakit-penyakit tersebut terutama penyakit DBD.

   B. Menggiatkan kembali kerja bakti gerakan minggu bersih, terutama di

       musim hujan.

   C. Mengadakan sosialisasi dengan cara menyabarkan pamflet/brosur

       tentang     pentingnya mengadakan gerakan 3M (menutup, menguras,

       mengubur/menimbun).

   D. Melakukan penyuluhan secara rutin tentang demam berdarah serta

       pencegahannya oleh tenaga kesehatan dan melatih kepala keluarga

       yang      berpendidikan   cukup   untuk   dapat membantu    memotivasi

       masyarakat setempat lainnya akan pentingnya lingkungan yang bersih

       dan sehat sebagai upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue.

   E. Melakukan penyuluhan secara rutin tentang kegawatdaruratan demam

       berdarah       serta penanganannya oleh tenaga kesehatan sehingga

       masyarakat paham tentang dampak dan akibat dari penyakit Demam

       Berdarah Dengue yang dapat mengakibatkan kematian.
F. Menggiatkan dan memberikan dukungan terhadap para kader juru

   pemantau    jentik (Jumantik) untuk lebih tanggap terhadap penyakit

   Demam Berdarah Dengue.

G. Membentuk    kelompok    binaan   khusus   yang   berkaitan   dengan

   pemberantasan sarang nyamuk secara swadaya masyarakat.
                            DAFTAR PUSTAKA



Dokter Spesialis Anak dan Dokter Spesialis Penyakit Dalam dalam Tatalaksana

Kasus DBD, FKUI, 2005 : 1-20


DepKes RI, Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan

Lingkungan. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta, 2004 :

2-12


Prijanto Juni. Atlas Parasitologi Kedokteran. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta,

1999 :


183-186


Soegijanto, Soegeng. Epidemiologi dan Manifestasi Klinik Demam Berdarah

Dengue, Diktat Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas

Airlangga, surabaya,


1999


Soegijanto Soegeng, Sujoko Hariadi. Penatalaksanaan Demam Berdarah Dengue.

Airlangga University Press. Surabaya, 2001 :32, 45-52


Soegijanto Soegeng. Demam Berdarah Dengue. Airlangga University Press, Edisi

ke-2006 : 133-140


Sri Rejeki. Tatalaksana Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Departemen

kesehatan
Republik Indonesia. Jakarta, 2004.


World Health Organization. Demam Berdarah Dengue, Diagnosis, Pengobatan,

pencegahan dan Pengendalian. EGC, edisi Ke-2, Jakarta, 1997 : 99-106

								
To top