Docstoc

Positivisme logis

Document Sample
Positivisme logis Powered By Docstoc
					                                                            1

Positivisme logis (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) adalah sebuah
filsafat yang berasal dari Lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus
mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan
apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.

Tokoh-tokoh yang menganut paham positivisme logis ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan
A.J. Ayer. Karl Popper, meski awalnya tergabung dalam kelompok Lingkaran Wina, adalah salah satu kritikus utama
terhadap pendekatan neo-positivis ini.

Asal dan Gagasan Positivisme Logis
Secara umum, para penganut paham positivisme memiliki minat kuat terhadap sains dan mempunyai sikap skeptis
terhadap ilmu agama dan hal-hal yang berbau metafisika. Mereka meyakini bahwa semua ilmu pengetahuan haruslah
berdasarkan inferensi logis yang berdasarkan fakta yang jelas. Sehingga, penganut paham ini mendukung teori-teori
paham realisme, materialisme naturalisme filsafat dan empirisme.

Salah satu teori Positivisme Logis yang paling dikenal antara lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang
menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika dan hanya jika pernyataan tersebut dapat
diverifikasi secara empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah, semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan
secara empiris, termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga
tergolong ke dalam bidang metafisika.

Kritik
Para pengkritik Positivisme Logis berpendapat bahwa landasan dasar yang digunakan oleh Positivisme Logis sendiri
tidak dinyatakan dalam bentuk yang konsisten. Misalnya, prinsip tentang teori tentang makna yang dapat dibuktikan
seperti yang dinyatakan di atas itu sendiri tidak dapat dibuktikan secara empiris. Masalah lain yang muncul adalah
dalam hal pembuktian teori. Masalah yang dinyatakan dalam bentuk eksistensi positif (misalnya: ada burung berwarna
hitam) atau dalam bentuk universal negatif (misalnya: tidak semua burung berwarna hitam) mungkin akan mudah
dibuktikan kebenarannya, namun masalah yang dinyatakan sebaliknya, yaitu dalam bentuk eksistensi negatif (misalnya:
tidak ada burung yang berwarna hitam) atau universal positif (misalnya: semua burung berwarna hitam) akan sulit atau
bahkan tidak mungkin dibuktikan.

Karl Popper, salah satu kritikus Positivisme Logis yang terkenal, menulis buku berjudul Logik der Forschung (Logika
Penemuan Ilmiah) pada tahun 1934. Di buku ini dia menyajikan alternatif dari teori syarat pembuktian makna, yaitu
dengan membuat pernyataan ilmiah dalam bentuk yang dapat dipersangkalkan (falsifiability). Pertama, topik yang
dibahas Popper bukanlah tentang membedakan antara pernyataan yang bermakna dan yang tidak, namun untuk
membedakan antara pernyataan yang ilmiah dari pernyataan yang bersifat metafisik. Menurutnya, pernyataan metafisik
tidaklah harus tidak bermakna apa-apa, dan sebuah pernyataan yang bersifat metafisik pada satu masa, karena pada saat
tersebut belum ditemukan metode penyangkalannya, belum tentu akan selamanya bersifat metafisik. Sebagai contoh,
psikoanalisis pada zaman itu tidak memiliki metode penyangkalannya, sehingga tidak dapat digolongkan sebagai ilmiah,
namun jika suatu saat nanti berkembang menjadi sesuatu yang dapat dibuktikan melalui penyangkalan, maka akan dapat
digolongkan sebagai ilmiah.

bahan yg lain

I. Pendahuluan
Positivisme adalah paham atau aliran filsafat ilmu pengetahuan modern yang memicu pesatnya perkembangan sains di
satu sisi dan menandai krisis pengetahuan dan kemanusiaan Barat di sisi lain. Aliran ini menyatakan bahwa ilmu alam
adalah satu-satunya sumber pengetahuan yang benar. dan menolak aktivitas yang berkenaan dengan metafisik.Paham ini
memandang bahwa paradigma positivisme adalah satu-satunya paradigma yang diterapkan untuk menyatakan kesahihan
ilmu pengetahuan. Maka dari itu segala sesuatu yang dinyatakan oleh para ilmuwan dapat dikatakan sebagai ilmu
pengetahuan jika mengikuti paradigma tersebut. Suatu pernyataan dapat dikatakan ilmu pengetahuan apabila
kebenarannya dapat dibuktikan secara empiris.
Aliran positivisme walaupun dalam beberapa segi mengandung beberapa kebaruan namun sebenarnya ia tidak benar-
benar baru, karena sebelumnya telah berkembang paham empirisme yang dalam beberapa segi memiliki kesamaan
dengannya dimana keduanya sama-sama memberikan tekanan pada pengalaman. Hanya saja paham positivisme
                                                            2

membatasi pengalaman pada hal-hal objektif saja sementara paham empirisme menerima pengalaman subjektif atau
batiniah. (F.Budi Hardiman, 2003 : 54).
II. Pembahasan
Paradigma Positivisme
Positivisme dirintis oleh seorang filsuf asal Prancis bernama Auguste Comte pada abab ke 19. Walau pun pendiri paham
ini yang sesungguhnya adalah Henry de Saint Simin (tokoh sosialis utopis) sebagai gurunya sekaligus menjadi teman
diskusinya.
Auguste Comte lahir pada tanggal 19 Januari di Montpellier Prancis bagian selatan tahun 1798 dan meninggal dunia di
kota Paris, 5 September tahun 1857. Ayahnya adalah seorang katolik taat dan termasuk kaum „royalis‟ yang menentang
revolusi. Pada saat ia berusia 14 tahun Comte menyatakan diri bahwa secara alamiah ia berhenti percaya pada Tuhan
dan ia menjadi seorang „republikan.‟
Ketidak percayaannya pada Tuhan berlangsung sampai meninggal istrinya bernama Clotilde pada tahun 1846. Namun
disebabkan kesedihannya setelah ditinggalkan leh istrinya tercinta ia memunculkan gagasan tentang agama humanism
universal yang kemudian ia namakan „agama humanis,‟ yaitu agama yang ajarannya didasarkan pada pandangan
positivism dan nilai-nilai kemanusiaan.
Semboyan Comte yang sangat terkenal adalah, “love is our principle; order our basis; and progress our end.” Gagasan
Comte banyak berperan dalam membentuk dunia ilmiah dan masyarakat Eropa menjadi masyarakat yang paling maju di
dunia.
Aliran ini ditandai oleh penilaiannya yang sangat positif terhadap ilmu pengetahuan dan peran nilai-nilai humanism
dlam pengembangan masyarakat dan kebudayaan yang diidamkan. fakta positivis adalah adalah fakta real atau fakta
nyata. Hal positif adalah sesuatu yang dapat dibenarkan oleh setiap orang yang mau membuktikannya.
Comte disebut juga sebagai bapak sosiologi, karena ia yang mendirikan sosiologi atas dasar metode empiris dengan
mencontoh kepada metode ilmu-ilmu alam. Diharapkan ilmu masyarakat harus mampu memprediksi masa depannya.
Ajaran Positivisme
Diantara ajaran dasar positivism adalah berikut ini :
a) Di dalam alam terdapat hukum-hukum yang dapat diketahui
b) Penyebab adanya benda-benda dalam alam tidak diketahui
c) Setiap pernyataan yang secara prinsip tidak dapat dikembalikan pada fakta tidak mempunyai arti nyata dan tidak
masuk akal
d) Hanya hubungan fakta-fakta saja yang dapat diketahui
e) Perkembangan intelektual merupakan sebab utama perubahan sosial.[1]
Dari kelima prinsip dasar di atas dapat dipahami bahwa segala sesuatu yang dapat dilihat oleh indra manusia
memungkinkan untuk dipelajari dan dikaji menjadi sebuah ilmu pengetahuan dengan menggunakan metode ilmiah yang
disepakati oleh para ilmuwan sehingga menghasilkan hokum-hukum yang memberikan kemaslahatan bagi kehidupan
umat manusia.
Hukum-hukum yang dihasilkan oleh para intelektual melalui pengkajian-pengkajian terhadap gejala-gejala alam yang
terlihat oleh indra manusia itulah yang menjadi sebab utama adanya perubahan-perubahan yang terjadi pada manusia.
Hukum Kemajuan Manusia
Aliran positivisme memiliki pandangan bahwa pengindraan dan akal budi manusia sama di mana saja dan
perkembangannya dikuasai oleh hokum universal (tahap-tahap) yang sama pula.
Sebagai pencetusnya Comte mengemukakan ada tiga tahapan perkembangan pemikiran individu, masyarakat atau
kebudayaan, yaitu:
Pertama: tahap teologi atau fiktif Pada tahap ini manusia mencari sebab pertama dan tujuan akhir dari segala sesuatu.
Dalam semua peristiwa alam diyakini bahwa ada kekeuatan supernatural yang mengatur dan menyebabkan semua gejala
alam. Semua permasalahan dan jawaban terhadap fenomena alam dikembalikan kepada kepercayaan teologis.
Kedua, tahap metafifis (abstrak), Pada tahap ini manusia merumuskan jawaban atas fenomena alam dengan mencari
sebab-sebab pertama dan tujuan akhir. Penjelasn rasional berupa abstraksi adalah metode yang diandalkan untuk
menemukan hakekat dari segala sesuatu yang metafisis itu. Tahap ini kehidupan manusia sudah mengalami kemajuan
disbanding pada tahap sebelumnya.
Ketiga, tahap positif; yaitu tahap berfikir real, factual dan nyata sebagai dasar pengetahuan. Tahap ini menurut Comte
merupakan puncak dari perkembangan pemikiran manusia.[2]
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa kemajuan manusia menurut paham positivisme disebabkan oleh kepercayaan
manusia terhadap akal budi dengan kemampuan berpikirnya secara real dan factual serta meninggalkan dogma-dogma
teologi agama yang bersifat abstrak bahkan fiktif yang kebenarannya tidak dapat diuji oleh bukti-bukti empiris.
                                                            3

Dengan adanya pemahaman tersebut di atas maka manusia terutama kaum intelektual berupaya melakukan eksploitasi
terhadap alam sebagai objek penelitian dan pengkajian sehingga pada tahap tertentu hal itu dapat merugikan manusia itu
sendiri sebagai subjek. Dalam arti di satu sisi manusia mengalami kemajuan di bidang sains dan teknologi namun di sisi
lain terjadi kegersangan rohani mentalitas manusia bahkan berani meninggalkan keyakinan adanya Tuhan yang maha
pencipta, seolah-olah akal budi manusia lah yang menjadikan segala-galanya.
Perkembangan positivisme
Ada tiga tahap dalam perkembangan positivisme, yaitu:
1) Tempat utama dalam positivisme pertama diberikan pada Sosiologi, walaupun perhatiannya juga diberikan pada teori
pengetahuan yang diungkapkan oleh Comte dan tentang Logika yang dikemukakan oleh Mill. Tokoh-tokohnya Auguste
Comte, E. Littre, P. Laffitte, JS. Mill dan Spencer.
2) Munculnya tahap kedua dalam positivisme – empirio-positivisme – berawal pada tahun 1870-1890-an dan berpautan
dengan Mach dan Avenarius. Keduanya meninggalkan pengetahuan formal tentang obyek-obyek nyata obyektif, yang
merupakan suatu ciri positivisme awal. Dalam Machisme, masalah-masalah pengenalan ditafsirkan dari sudut pandang
psikologisme ekstrim, yang bergabung dengan subyektivisme.
3) Perkembangan positivisme tahap terakhir berkaitan dengan lingkaran Wina dengan tokoh-tokohnya O.Neurath,
Carnap, Schlick, Frank, dan lain-lain. Serta kelompok yang turut berpengaruh pada perkembangan tahap ketiga ini
adalah Masyarakat Filsafat Ilmiah Berlin. Kedua kelompok ini menggabungkan sejumlah aliran seperti atomisme logis,
positivisme logis, serta semantika. Pokok bahasan positivisme tahap ketiga ini diantaranya tentang bahasa, logika
simbolis, struktur penyelidikan ilmiah dan lain-lain.
Positivisme logis
Dalam perkembangannya positivisme mengalami perombakan pada beberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran
yang bernama Positivisme Logis. Istilah lain untuk Positivisme logis adalah empirisme logis, empirisme rasional, dan
juga neo-positivisme.
Positivisme logis adalah sebuah filsafat yang berasal dari lingkaran Wina pada tahun 1920-an. Dimana ia berpendapat
bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat
untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme logis merupakan aliran pemikiran dalam filsafat yang membatasi pikirannya pada segala hal yang dapat
dibuktikan dengan pengamatan. Tujuan akhir dari penelitian yang dilakukan pada positivisme logis adalah untuk
mengorganisasikan kembali pengetahuan ilmiah di dalam suatu sistem yang dikenal dengan ”kesatuan ilmu” yang juga
akan menghilangkan perbedaan-perbedaan antara ilmu-ilmu yang terpisah. Logika dan matematika dianggap sebagai
ilmu-ilmu formal.
Istilah positivism logis muncul dari diskusi-diskusi sekelompok filsuf dan ilmuwan radikal yang menamakan
kelompoknya denganDer wiener kreis atau lingkaran wina. Buku Language, Truth and logic yang dikarang oleh Alfred
Jules Ayer seorang filsuf kelahiran London adalah salah satu yang menjadi dasar bagi keyakinan positivistic lingkaran
Wina.[3]
Adapun tokoh-tokoh yang menganut paham ini antara lain Moritz Schlick, Rudolf Carnap, Otto Neurath, dan A.J. Ayer.
Karl Popper, meski pun awalnya tergabung dalam kelompok lingkaran Wina adalah salah satu kritikus utama terhadap
pendekatan neo-positivis ini.
Beberapa arah pemikiran yang memberi pengaruh terhadap lahirnya positivism logis adalah pertama, empirisme dan
positivisme yang dikembangkan oleh J. Lock, August Comte, dan lainya; kedua, metode ilmu-ilmu empiris yang
dikembangkan oleh Helmholtz, Ernst Mach, dan lainnya; ketiga, perkembangan logika simbolik dan analisa bahasa
yang dikembangkan oleh Gottlob Frege.[4]
Empirisme menjadi salah satu dasar positivism logis adalah bahwa obsevasi dijadikan sebagai satu-satunya sumber yang
terpercaya bagi ilmu pengetahuan. Hanya ada satu bentuk pengetahuan, yaitu yang didasarkan kepada pengalaman dan
dapat ditemukan dalam bahasa logis dan matematis.
Salah satu teori Positivisme Logis yang paling populer antara lain teori tentang makna yang dapat dibuktikan, yang
menyatakan bahwa sebuah pernyataan dapat disebut sebagai bermakna jika pernyataan tersebut dapat diverifikasi secara
empiris. Konsekuensi dari pendapat ini adalah semua bentuk diskursus yang tidak dapat dibuktikan secara empiris,
termasuk di antaranya adalah etika dan masalah keindahan, tidak memiliki makna apa-apa, sehingga tergolong ke dalam
bidang metafisika.
Ada beberapa pokok pemikiran positivism logis, khususnya mengenai bahasa ideal. Diantaranya sebagai berikut:
a) Filsafat merupakan analisis logis terhadap konsep dan pernyataan ilmu pengetahuan.
b) Pemikiran seseorang dapat diuji melalui bahasa, selama pemikiran itu diungkapakan memalui bahasa. Hanya bahasa
yang sempurna , bersifat universal dan logislah yang disebut sebagai bahasa ilmiah.
                                                              4

c) Bahasa sehari-hari menyesatkan, karena itu bahasa sehari-hari harus direduksi (diterjemahkan) ke dalam bahasa
atifisial atau bahasa ideal/formal.
d) Tugas utama filsafat adalah memeperbaiki bahasa dengan menjadikan bentuk gramatika dan sintaksisnya sesuai
dengan fungsi logika aktualnya.
e) Metafisika didasarkan pada kepercayaan entitas non empiris dan relasi internal ditolak (tidak dapat diverifikasi).
Realitas yang dapat diterima adalah realitas dan relasi eksternal, dapat diobservasi dan/atau merupakan entitas logis.
f) Definisi haruslah bersifat operasional.[5]
Prinsip Verifikasi
Prinsip verifikasi dijadikan kriteria keilmiahan adalah bahwa “makna suatu proposisi adalah metode
verifikasinya”. Makna verifikasi adalah:
a) Suatu proposisi hanya berarti bila proposisi itu dapat dibuktikan benar-salahnya.
b) Ada bentuk-bentuk kebenaran logis dan bentuk-bentuk kebnaran factual.
c) Kebenaran factual hanya dapat dibuktikan melalui pengalaman (verifikasi)[6]
Asumsi-asumsi positivism Logis
Beberapa asusmsi yang terkandung dalam positivisme logis, diantaranya:
1) Naturalisme, artinya positivis komit pada kesamaan fenomena alam; karena metode ilmu alama dapat diterapkan
pada ilmu social buadaya. Maka implikasinya adalah ilmu hanya bertolak dari tingkah laku, dan institusi masyarakat
yang teramati. Dalam cara yang sama manusia dapat diteliti sebagai proses kimia atau biologi. Ilmu alam menjadi model
untuk penelitian social budaya.
2) Fenomenalisme,,artinya Ilmu pengetahuan hanya bersumber dari fenomena yang dapat diamati, hal yang abstrak dan
metafisik di luar ilmu pengetahuan. Maka implikasinya adalah relaitas dibatasi pada yang dapat dilihat, diraba,
ddisentuh, didengar dan dicium saja. Kesadaran, motivasi, tujuan hidup/kebahagiaan adalah hal yang subjektif 9ada
dalam pikiran saja).
3) Nominalisme adalah konsep universal sebagai gambaran murni sulit diterima karena hanya didasarkan pada fakta
individual. Konsep adalah suatu nama/sebutan kebahasaa yang disepakati. Maka implikasinya adalah semua konsep dan
ide yang tidak didasarkan atas pengamatan langsung tidak bernakna. Konsep: kesadaran, keadilan, jiwa, makna/tujuan
hidup dinyatakan tidak bermakna.
4) Atomisme adalah pendekatan khusus untuk mendefinisikan objek studi. Objek yang diteliti dapat dipecah dalam
bagian-bagian kecil. Objek merupakan jumlah total dari komponen atomiknya. Maka implikasinya adalah unit terkecil
yang dapat diobservasi menjadi fokus riset. Dalam penelitian sosiologi ia bertolak dari individu; masyarakat dipandang
tidak lain dari kumpulan individu-individu.
5) Tujuan ilmu pengetahuan adalah menemukan hukum-hukum ilmiah. Bertolak dari observasi terhadap fenomena
alam dicari “empirical-regularity”. Hukum ilmiah adalah pernyataan umum yang dapat menjelaskan keberaturan
pengalaman pada tempat dan waktu yang berbeda. Maka implikasinya adalah pencarian hukum ilmiah diadopsi oleh
ilmuwan social dengan asumsi keteraturan empiris, misalnya: merokok menyebabkan kanker paru-paru. Biasanya
dirumuskan: jika p maka q.
6) Fakta dan nilai dilihat sebagai dua hal yang berbeda/terpisah. Fakta dapat diobservasi, diukur dan diverifikasi. Nilai-
nilai termasuk penilaian subjektif, tuntutan tentang apa yang seharusnya tidak boleh masuk dalam wilayah ilmu
pengetahuan. Maka implikasinya adalah para ilmu social budaya yang menerima asumsi ini menyatakan bahwa
proposisi ilmiah bebas dari nilai.[7]
Siklus Empiris
Istilah siklus empiris ini dikenalkan oleh Walter L. Wallace adalah proses penelitian yang termuat pada lima komponen
informasi dan enam komponen metodologis.
Lima komponen informasi yaitu: 1.Hipotesa 2.pengujian hipotesa 3.keputusan untuk menerima atau menolah hipotesa
4.generalisasi empiris 5.logika penarikan kesimpulan.          Adapun enam metodologis yaitu: 1.Pengamatan
2.Pengukuran, ringkasan sampel dan perkiraan parameter 3.Pembentukan konsep, pembentukan proposisi, dan
penyusunan proposisi 4.Teori 5.Deduksi logis 6.Penjabaran insturmentasi, pembentukan skala, penentuan sampel.[8]
Sifat model penelitian ini mencerminka kerumitan, seni, vitalitas, kemampuan intuitif dan kreatif dalam suatu kegiatan
ilmiah dalam ilmu social dan humaniora. Objektivitas, sistematika dan rasionalitas hasil penelitian ditentukan oleh
proses penelitian yang tercermin dalam lima kompomen informasi dan enam komponen metodologis tersebut di atas.
Paradigma positivisme berkeyakinan bahwa penerapan tahapan penelitian yang ketat dan terpercaya akan dapat
menemukan pengetahuan yang benar.
Kritik terhadap Positivisme Logis
                                                             5

Gagasan positivism logis dan pengaruhnya terhadap dunia ilmiah sangat luas dan mendalam sampai tahun 1960-an.
Ilmu pengetahuan bagi para pemikir positivism logis adlah kejelasan/ kelugasan bahasa. Kejelasan bahasa ilmiah dapat
dicapai jika ilmu pengetahuan menggunakan metode empiris-eksperimental dan bahasa factual dan logis/matematis.
Pengaruh perkembangan fisika mempengaruhi banyak ilmuwan, termasuk Karl R. Popper, yang kemudian
memunculkan pemikiran menolak pandangan positivism logis terutama pada ilmu pengetahuan social-budaya.
Ada beberapa ciri dan kelemahan pandangan positivism ilmiah, diantaranya:
a) Menyingkirkan hegemoni agama pada abad pertengahan dengan menggantinya dengan hegemoni ilmu pengetahuan.
b) Positivism telah menciptakan satu model rasionalitas ilmiah dengan menyingkirkan rasionalitas lain.
c) Positivisme tidak mengakui sifat kontingensi, relativitas, dan historitas pikiran (rasio) manusia. Pendukung
positivism seakan memposisikan dirinya sebagaimana Tuhan melihat realitas dengan transparan apa adanya.
d) Pandangan evolusionisme, pandangan keseragaman serta kesatuan hokum alam tidak mampu menjelasakan
keberagaman budaya dan keunikan manusia.
e) Kepercayaan bahwa ilmu pengetahuan akan membawa pada kemajuan ternyata di sisi lain juga menimbulkan hal-hal
negative bagi kehidupan seperti persaingan senjata, perang, kesenjangan antara Negara kaya dan Negara miskin, dan
lain-lain.[9]
kritikan filsuf ilmu pengetahuan baru terhadap paradigma positivisme dapat dimasukan dalam dua sisi, yaitu: kritik
internal dan eksternal.[10]
Kritik internal antara lain:
a) Penekanan pada generalisasi dan universalitas teori.
b) Postivisme mengabaikan makna dan tujuan penelitian, sementara penelitian tentang tingkah laku manusia tidak dapat
dipahami tanpa mengacu pada makna, tujuan, motivasi.
c) Positivism menekankan teori agung sehingga mengabaikan konteks local.
d) Paradigm positivism menekankan pencarian hokum alam, sementara ilmu social-budaya lebih bersifat pencarian
keunikan suatu peristiwa.
e) Positivism menekankan konteks pembenaran sehingga mengabaikan konteks penemuan.
Adapun kritik eksternal, diantaranya adalah:
a) Ketergantungan fakta terhadap teori
b) Kritik terhadap metode induksi
Adapun kritik Karl R Popper terhadap positivimse logis adalah tentang metode Induksi, ia berpendapat bahwa Induksi
tidak lain hanya khayalan belaka, dan mustahil dapat menghasilkan pengetahuan ilmiah melalui induksi. Tujuan Ilmu
Pengetahuan adalah mengembangkan pengetahuan ilmiah yang berlaku dan benar, untuk mencapai tujuan tersebut
diperlukan logika, namun jenis penalaran yang dipakai oleh positivisme logis adalah induksi dirasakan tidak tepat sebab
jenis penalaran ini tidak mungkin menghasilkan pengetahuan ilmiah yang benar dan berlaku, karena elemahan yang bisa
terjadi adalah kesalahan dalam penarikan kesimpulan, dimana dari premis-premis yang dikumpulkan kemungkinan tidak
lengkap sehingga kesimpulan atau generalisasi yang dihasilkan tidak mewakili fakta yang ada. Dan menurutnya agar
pengetahuan itu dapat berlaku dan bernilai benar maka penalaran yang harus dipakai adalah penalaran deduktif.
Penolakan lainnya adalah tentang Fakta Keras, Popper berpendapat bahwa fakta keras yang berdiri sendiri dan terpisah
dari teori sebenarnya tidak ada, karena fakta keras selalu terkait dengan teori, yakni berkaitan pula dengan asumsi atau
pendugaan tertentu. Dengan demikian pernyataan pengamatan, yang dipakai sebagai landasan untuk membangun teori
dalam positivisme logis tidak pernah bisa dikatakab benar secara mutlak.
III. Kesimpulan
Positivisme merupakan salahsatu aliran filsafat imu pengetahuan yang memandang bahwa suatu pernyataan seorang
ilmuwan dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan apabila dapat dibuktikan secara empiris. Tokohnya yang paling
popular adalah Augus Comte (1798-1857)
Ajaran utama dari positivism diantaranya: a. di dalam alam terdapat hukum-hukum yang dapat diketahui, b.penyebab
adanya benda-benda dalam alam tidak diketahui, c.setiap pernyataan yang secara prinsip tidak dapat dikembalikan pada
fakta tidak mempunyai arti nyata dan tidak masuk akal, d.hanya hubungan fakta-fakta saja yang dapat diketahui,
e.perkembangan intelektual merupakan sebab utama perubahan social.
Dalam perkembangannya positivisme mengalami perombakan pada beberapa sisi, hingga munculah aliran pemikiran
yang bernama Positivisme Logis. Istilah lain untuk Positivisme logis adalah empirisme logis, empirisme rasional, dan
juga neo-positivisme.
Paradigma positivism banyak mempengaruhi dunia ilmu pengetahuan yang di satu sisi paham ini memicu kemajuan
industry dan teknologi namun di sisi lain ia memiliki kelemahan-kelemahan dan mendapatkan kritikan dari para filsuf
dan ilmuwan baru pada tahun 1960-an seperti Karl R. popper, dan lainnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:7285
posted:4/14/2010
language:Indonesian
pages:5